Arsip Kategori: Tenaga Pendidik

Suaidin Usman, Pengawas Dompu Terbaik Nasional


Suaidin Usman, Pengawas Dompu Terbaik Nasional.

PEDOMAN LOMBA PENULISAN BEST PRACTICE PENGAWAS SEKOLAH DALAM PELAKSANAAN TUGAS PENGAWASAN


 

I PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Dalam rangka meningkatkan mutu dan profesionalisme pengawas, Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 21 tahun 2010 tertanggal 30 Desember 2010 tentang Jabatan Fungsional Pengawas sekolah dan Angka Kreditnya.

Peraturan tersebut  menjelaskan  beberapa unsur kegiatan pengawas sekolah yang dihargai angka kreditnya antara lain (1) unsur pengawasan agademik dan manajerial (2) unsur pengembangan profesi. Dalam unsur pengawasan akademik dan manajerial sub unsur kegiatannya antara lain (a) menyusun program pengawasan (b) melaksanakan pengawasan akademik dan manajerial (c) mengevaluasi hasil pelaksanaan pengawasan akademik dan manajerial (d) membimbing dan melatih profesionalisasi guru dan (e) melaksanakan tugas pengawasan di daerah khusus. Sedangkan unsur pengembangan profesi sub unsur kegiatannya antara lain (a) membuat karya tulis ilmiah di bidang pendidikan formal/pengawasan (b) membuat karya inovatif dan (c) penerjemahan/penyaduran buku. Sub-sub unsur kegiatan pengawas sekolah sebagaimana dikemukakan di atas disebut kegiatan kepengawasan.

Di antara pengalaman-pengalaman melaksanakan unsur dan sub unsur kegiatan kepengawasan di atas tentu saja ada yang diyakininya sebagai pengalaman terbaik (best practice). Bila pengalaman terbaik tersebut ditulis dan dipublikasikan, maka akan menjadi pembelajaran yang sangat berhargabagi pengawas lain, dan sekaligus juga merupakan kegiatan pengembangan profesi bagi pengawas yang menulis. Untuk mendorong dan memfasilitasi pengawas sekolah pendidikan menengah menuliskan dan mempublikasikan pengalaman terbaiknya dalam melaksanakan sub-sub unsur kegiatan di atas, maka diadakanlah kegiatan penulisan pengalaman terbaik (best practice)  pengawas sekolah dikmen. Oleh karena itu diperlukan adanya Pedoman LombaPenulisan Best Practice yang berisi informasi tentang latar belakang, tujuan, manfaat, sasaran, prosedur dan persyaratan dalam penulisan pengalaman terbaik pengawas sekolah dikmen dalam melaksanakan kegiatan kepengawasan.

 

B.  Tujuan

Tujuan penyusunan pedoman lomba penulisan pengalaman terbaik(best practice)  pengawas sekolah dikmen dalam melaksanakan kegiatan kepengawasan (sub-sub unsur kegiatan pengawas sekolah)  adalah untuk:

1.    Menyediakan rambu-rambu bagi pengawas sekolah dikmen yang berkeinginan menuliskan pengalaman terbaiknya dalam melaksanakan kegiatan kepengawasan (sub-sub unsur kegiatan pengawas sekolah).

2.    Mengarahkan pengawas sekolah dalam  menulis pengalaman terbaiknya  melaksanakan kegiatan kepengawasan sesuai dengan ketentuan yang dipersyaratkan

3.    Membantu pengawas sekolah dalam mengidentifikasi kegiatan pengawasan sebagai bahan penulisan pengalaman terbaiknya melaksanakan tugas pengawasan.

 

C.   Manfaat

Manfaatyang bisa diperoleh dari pedoman lomba penulisan pengalaman terbaiknya dalam  melaksnakan kegiatan kepengawasan antara lain:

1.    Memberikan informasi kepadapengawas, tentang latar belakang dan tujuan diadakannya kegiatan penulisan pengalaman terbaik best practice pengawas sekolah dalam melaksnakan kegiatan kepengawasan

2.    Memberikan informasi secara rinci tentang definisi, kerangka isi, bukti fisik tentang tulisan pengalaman terbaik pengawas sekolah dalam melaksanakan kegiatan kepengawasan, serta prosedur pengiriman tulisan.

 

D.   Sasaran

Sasaran dari program penulisan pengalaman terbaik (best practice) pengawas sekolah dalam melaksnakan kegiatan kepengawasan adalahpengawas sekolah pendidikan menengah dari seluruh Indonesia.

 

 

II PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP  

A.   Pengertian Best Practice

Best practice pengawas sekolah adalah praktik terbaik yang pernah dialami pengawas sekolah dalam melaksanakan kegiatan kepengawasan. Penulisan best practice pengawas sekolah artinya tulisan pengawas sekolah yang mengungkapkan pengalaman terbaiknya atau yang paling baik dalam melaksanakan kegiatan kepengawasan. Ini berarti  pengawas sekolah diminta membuat tulisan yang berisi salah satu kegiatan kepengawasan yang telah dilaksanakannya yang menurut penilaiannya paling berhasil. Bisa juga dikatakan pengawas sekolah diminta menuliskan pengalamannya melaksanakan kegiatan kepengawasan yang menurut pendapatnya bahwa kegiatan tersebut paling baik atau paling berhasil bagi dirinya. Tulisan tersebut akan diperlombakan di tingkat  nasional sehingga tulisan tentang pengalaman tersebut bisa diketahui oleh pengawas sekolah lainnya minimal oleh peserta lomba.

 

B.   Jenis Kegiatan Kepengawasan

    

Jenis kegiatan kepengawasan yang telah dilaksanakan pengawas sekolah yang akan  diungkapkan dalam bentuk tulisan bisa dipilih dari  kegiatan-kegiatan di bawah ini :

1.  Unsur Pengawasan. Kegiatan pengawas sekolah dikmen dari unsur pengawasan adalah:

    a.     menyusun program pengawasan tahunan atau semesteran

b.    melaksanakan pengawasan akademik dan pengawasan manajerial

c.    mengevaluasi hasil pelaksanaan pengawasan akademik dan pengawasan manajerial

d.    membimbing dan melatih kemampuan profesional guru atau kepala sekolah

e.   melaksanakan tugas kepengawasan di daerah khusus

2.  Unsur Pengembangan Profesi. Kegiatan pengawas sekolah dikmen dari unsur pengembangan profesi yang akan diungkapkan dalam bentuk tulisan antara lain:

a.    membuat karya tulis atau karya ilmiah di bidang pendidikan formal/pengawasan

b.    menterjemahkan atau menyadur buku atau karya ilmiah di bidang pendidikian formal/pengawasan.

Dari kegiatan-kegiatan di atas kegiatan mana yang telah dilaksanakan dan dirasakan  paling baik atau paling berhasil. Kegiatan itulah yang dipaparkan dalam bentuk tulisan.

 

C.   KetentuanPenulisan

       

Ketentuan menuliskan pengalaman terbaik dalam melaksnakan kegiatan  kepengawasan adalah sebagai berikut

1. Tema yang dijadikan bahan penulisan adala salah satu dari kegiatan kepengawasan yang dijelaskan pada butir B nomor 1b-1c-1d-1e dan nomor 2a-2b. Contoh tema lihat padai lampiran-3

2.   Isi dan sistematika tulisan adalah sebagai berikut :

      (a)    pendahuluan yang berisi latar belakang, jenis kegiatan dan manfaat kegiatan.

      (b)  proses melaksanakan kegiatan yang mencakup tujuan dan sasaran kegiatan, materi atau bahan yang diberikan, metode atau cara melaksanakan kegiatan, alat dan perlengkapan yang digunakan, waktu dan tempat pelaksanaan kegiatan dll

(c)   hasil yang diperoleh dari pelaksanaan kegiatan tersebut, masalah yang dihadapi dalam melaksanakan kegiatan dan cara-cara mengatasinya

(d)  kesimpulan dan saran.

3.   Teknis penulisan

(a)   Pengalaman terbaik (best practice) pengawas diketik dengan menggunakan huruf ARIAL font 12, spasi 1,5, menggunakan kertas ukuran A4 70 gr, tidak bolak-balik.

(b)   Jarak pengetikan bagian atas 3,0 cm dan bawah 2,5 cm, bagian tepi kiri 3,0 cm dan kanan 2,5 cm. Setiap halaman diberi nomor halaman.

(c)   Naskah dijilid rapi dengan menggunakan sampul soft cover berwarna BIRU MUDA dan format sesuai dengan yang tersaji dalam lampiran. Semua lampiran, harus dijilid menjadi satu kesatuan dengan laporannya (tidak disajikan secara terpisah).

4.   Kerangka isi penulisan disusun sebagai berikut.

(a)  Bagian Awal terdiri atas: (1) halaman judul; (2) lembaran pengesahan; (3) ringkasan (4) kata pengantar; (5) daftar isi, serta (6). daftar tabel, daftar gambar, dan daftar lampiran (bila ada). Lembar persetujuan ditandatangani Koordinator Pengawas bila yang menyusun adalah pengawas sekolah dan ditandatangani Pejabat Dinas Pendidikan bila yang menyusun adalah koordinator pengawas.

 

(b)  Bagian Isiterdiri atas beberapa bab.

1.  BabPendahuluan menjelaskan latar belakang,jenis kegiatan , dan manfaat.

2. Bab Pelaksanaan Kegiatan menjelaskan; tujuan dan sasaran, bahan atau materi kegiatan, metode atau cara melaksanakan kegiatan, alat/instrumen yang digunakan, waktu dan tempat pelaksnanaan kegiatan, dll yang diangap perlu

3. Bab Hasil Kegiatan, menjelaskan hasil yang diperoleh, masalah yang dihadapi dan cara mengatasi masalah tersebut

4. Bab Kesimplan dan Saran menjelaskan kesimpulan dari kegiatan dan saran atau rekomendasi berkaitan dengan keiatan tersebut

             Uraian ini merupakan inti tulisan best practice.

(c)   Bagian Penutp berisi sumber dan lampiran yang dianggap perlu.

5.  Prosedur Penulisan dan Pengiriman

a.  Peserta kegiatan ini adalah pengawas sekolah pendidikan menengah.

b.  Penulisan laporan best practice dilakukan perseorangan.

c.   Tulisan yang harus dikirim kepada panitia lomba adalah:

1) Naskah tulisan sebanyak 2 (dua) eksemplar dan print-out power pointuntuk pemaparan .

2)Naskah sajian (print-out) presentasi yang berupa tayangan power point, dengan jumlah slide sekitar 10—20 buah, untuk presentasi disediakan waktu maksimal 15 menit.

3)CD yang berisi naskah lengkap dalam format MS. Word dan naskah presentasi dalam bentuk power point.

 

Pengiriman Naskah Tulisan  Best Practice

 

a. Naskah yang telah selesai (dantelahmendapatpengesahan) beserta CD-nya dikirimkan ke alamat berikut.

 

PANITIA PENULISAN BEST PRACTICE PENGAWAS

Subdit Program dan Evaluasi Direktorat Pembinaan PTK Pendidikan Menengah Direktorat JenderalPendidikan Menengah

Kemdikbud Gedung D Lantai 12 , Jalan Jenderal Sudirman, Pintu 1 Senayan, Jakarta 10270

 

III. PEDOMAN DAN KRITERIA PENILAIAN

 

A. Tim Penilai

Tim penilai adalah para pakar yang relevan dengan tugas kepengawasan yang akan  ditetapkan melalui surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan u.b. Direktur Pembinaan PTK Dikmen.

 

B.  Prosedur Penilaian

            Penilaian dilakukan dalam 2 (dua) tahap yakni (a) tahap penilaian administratif dan substansi tulisan dan (b) tahap kedua penilaian presentasi tulisan.

1.  Penilaian tahap pertama penilaian administratif dan substansi tulisan. Penilaian administratif meliputi penilaian kelengkapan Lembar Pengesahan, Kata Pengantar, Daftar isi, Ringkasan, dan Bab Isi tulisan yang terdiri atas empat bab, diakhiri dengan sumber dan lampiran.Penilaian substansi meliputi penilaian isi setiap bab yang meliputi(a) kejelasan dan kebenaran  isi kegiatan, (b) ketepatan langkah melaksanakan kegiatan (c) keterkaitan isi kegiatan dengan tugas kepengawasan (d) manfaat kegiatan bagi penbembangan keprofeian pengawas sekolah. Peserta yang lolos seleksi tahap ini akan diundang untuk melakukan presentasi.

2.  Penilaian tahap kedua adalah menilai kemampuan mempresentasikan isi tulisan yang terdiri atas  (1) kesesuaian presentasi dengan isi tulisan, (b) kejelasan dan logika dalam penyajian, dan (c) unjuk kerja selama presentasi.

 

C. Penghargaan

Penulis dan penyaji Pengalaman Terbaik (Best Practice) dalam melaksanakan kegiatan kepengawasan  akan memperoleh hadiah berupa sertifikat tingkat nasional dan penghargaan lainnya

Penghargaan akan diberikan oleh Direktotrat P2TK Ditjen Pendidikan Menengah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

 

 

BAB IV

PENUTUP

 

Pedoman Lomba  Penulisan Pengalaman Terbaik Pengawas Sekolah dalam melaksanakan kegiatan kepengawasan  ini merupakan acuan bagi pengawas sekolah untuk menyusun pengalaman terbaik selama melaksanakan tugas kepengawasan di sekolah binaan masing-masing. Pedoman berisi informasi tentang latar belakang, tujuan, serta pengertian tentang apa yang dimaksudkan dengan pengalaman terbaik pengawas sekolah. Di dalamnya juga memuat bagaimana prosedur penulisan dan tata cara pengiriman laporan, serta bagaimana laporan tersebut akan dinilai.

Dengan pedoman ini diharapkan pengawas sekolah dan tim penilai dapat menggunakan pedoman ini dalam melaksanakan tugasnya masing-masing dalam usaha meningkatkan mutu pengawas sekolah dan mutu pendidikan pada umumnya.


Lampiran 1

 

Format Sampul (warna sampul BIRU MUDA, kertas ukuran A4)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BEST PRACTICE PENGAWAS SEKOLAH

DALAM PELAKSANAAN TUGAS PENGAWASAN

                `

 

 

 

Tuliskan Judul dengan huruf ARIAL

(font 22, semua dalam huruf kapital)

 

 

 

 

 oleh

(tuliskan Nama Lengkap, NIP, dan Unit Kerjanya;

misalnya Pengawas SMA/SMK pada …….. Kab/Kota…….)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DIREKTORAT PEMBINAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN PENDIDIKAN MENENGAH

DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN MENENGAH

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

TAHUN 2013

Lampiran 2

Format Lembar Pengesahan

 

 

Naskah Laporan Pengalaman Terbaik (Best Practice) Pengawas ini

Judul              : ……………………………………………..

Penulis          : ……………………………………………..

Jabatan         : Pengawas……………………………

                                     Kota ……………………………………

                                     Provinsi ……………………………….

benar-benar merupakan karya asli saya dan tidak merupakan plagiasi. Apabila di kemudian hari terbukti bahwa karya ini merupakan hasil plagiasi, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.

 

 

Meyetujui dan mengesahkan:                                           …………….., …. tanggal

Koordinator Pengawas,                                                      Penulis,        

Tanda tangan & stempel                                                     Tanda tangan

 

 

 

____________________                                                   ____________________

NIP.                                                                                        NIP.

 

Keterangan:

Apabila yang menulis koordinator pengawas yang mengesahkan adalah Pejabat Dinas Pendidikan yang bersangkutan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran 3

Contoh: Kegiatan Kepengawasan sebagai Tema penulisan Pengalaman Terbaik (Best Practice) Pengawas SekolahPendidikan Menengah

 

 

 

Kegiatan

Pengawasan Akademik

Sasaran adalah Guru

Pengawasan Manajerial

Sasaran adalah Kepala Sekolah dan Staf

Pemantauan

1. Standar kompetensi lulusan

2. Standar Isi

3. Standar proses

4. Standar penilaian

1. Standar pengelolan

2. Standar pendidik dan tenaga kependidikan

3. Standar pembiayaan

4. Standar sarana dan prasarana pendidikan

Penilaian

1. Kinerja Guru

2. Kinerja Laboran

3  dan yang lainnya

1. Kinerja Kepala Sekolah

2. Tenaga administrasi

3. dan yang lainnya

Pelatihan/Pem-bimbingan

1.  Guru dalam membuat silabus dan RPP

2.  Guru dalam Pelaksanaan Pembelajaran

3.  Guru dalam menilai kemajuan belajar siswa

4.  Guru dalam melaksanakan PTK

5.  dan yang lainnya

1. Kasek dalam menyusun RAPBS

2.  Kasek dalam mengelola BOS

3.  Kasek dalam membina kemampuan profesional guru

4.  Kasek dalam melaksnakan MBS

5.  dan yang lainnya

 

KURIKULUM 2013 SEBAGAI INSTRUMEN PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN


Secara konvensional terdapat kecenderungan bahwa upaya peningkatan mutu pendidikan selalu dikaitkan dengan ketersediaan sarana dan prasana pendidikan yang memadai, serta kompetensi guru. Pendapat tersebut tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya betul. Ada komponen lain yang jarang disentuh yaitu kurikulum. Argumentasi yang dikemukakan pada tulisan ini adalah kurikulum merupakan instrumen strategis bagi upaya peningkatan mutu pendidikan.
 
Kenapa demikian?. Kurikulum sebagai instrumen peningkatan mutu pendidikan terdiri dari tiga entitas yaitu tujuan, metode, dan isi. Peningkatan kompetensi guru dan penyediaan sarana dan prasarana pendidikan hanya akan memberikan makna bagi peserta didik jika diarahkan pada pencapaian tujuan pendidikan yang dirumuskan dalam kurikulum. Pada konteks Sistem Pendidikan Nasional rumusan tersebut dirumuskan pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Pada Peraturan Pemerintah nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Bab Ketentuan Umum SKL didefinisikan sebagai “kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan”.

  images

  KURIKULUM 2013

 
Untuk menjamin agar SKL tersebut dapat dicapai maka kegiatan belajar mengajar tersebut dilengkapi dengan tujuh standar lainnya yaitu standar isi, standar proses, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, standar penilaian pendidikan. Keberadaan standar-standar ini telah dijamin oleh Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, Pasal 2.
 
Kurikulum 2013 sebagai bagian dari intervensi peningkatan mutu pendidikan, tentu tidak bisa bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Oleh karena itu, SKL menjadi rujukan ketika Kurikulum 2013 diterapkan, termasuk tujuh standar nasional pendidikan lainnya. Demikian juga dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tetap menjadi bagian Kurikulum 2013. Satuan pendidikan tetap mempunyai kewenangan untuk mengembangkan kurikulum sendiri yang sesuai dengan kondisi satuan pendidikan tersebut. Di samping itu, Kurikulum 2013 tetap merupakan kurikulum berbasis kompetensi.
 
Namun demikian, sebagaimana dinyatakan pada UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 38, kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan dasar dan menengah ditetapkan oleh Pemerintah. Satuan pendidikan tetap harus merujuk pada kerangka dasar dan struktur kurikulum jika harus mengembangkan kurikulum sendiri. Ketentuan untuk merujuk pada kerangka dasar dan struktur kurikulum merupakan bagian dari quality assurance.
 
Dalam berbagai forum uji publik yang telah diselenggarakan dari tanggal 29 November sampai dengan 23 Desember 2012, beberapa perseta menanyakan tentang keberadaan Buku Babon. Mereka yang belum mengetahui tentang maksud Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menyediakan Buku Babon beranggapan bahwa akan keseragaman dalam kurikulum, dan bertentangan dengan ketentuan pada PP nomor 19 tahun 2005. Keberadaan Buku Babon, tidak dimaksudkan sebagai bentuk sentralisasi kurikulum dan penyeragaman, tetapi dimaksudkan untuk standarisasi dalam pelaksanaan kurikulum. Hal ini didasarkan pada adanya kecenderungan tidak setaranya kurikulum yang digunakan oleh satuan pendidikan. Kecenderungan ini terjadi karena adanya perbedaan kompetensi guru, sehingga ada satuan pendidikan yang mengadopsi kurikulum dari satuan pendidikan atau contoh dari Pusat Kurikulum dan Perbukuan, tanpa melakukan penyesuaian-penyesuaian dengan kondisi satuan pendididkan tempat guru tersebut mengajar.
 
Buku Babon didisain untuk memfasilitasi guru melakukan tugas mengajarnya dan peserta didik mengikuti kegiatan belajar mengajar. Buku Babon direncanakan untuk memuat isi mata pelajaran, metode mengajar, dan metode evaluasi. Dengan ketiga komponen tersebut, guru diharapkan dapat melakukan diagnosis terhadap kesulitan belajar peserta didik dan peserta didik diharapkan akan mengetahui pada topik bahasan yang mana dia mengalami kesulitan untuk memahaminya. Keberadaan Buku Babon merupakan standar minimum yang harus dicapai oleh setiap siswa. Jika ada satuan pendidikan yang mampu untuk mencapai lebih tinggi dari standar yang ditetapkan pada Buku Babon Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tidak melarangnya, bahkan mendorong setiap satuan pendidikan dapat mencapai target yang lebih tinggi.
 
Kurikulum 2013 merupakan intervensi peningkatan mutu yang strategis, namun sasarannya besar baik dari segi siswa yang akan menjadi subyek dari kurikulum 2013, maupun guru yang menjadi aktor utama dalam implementasinya, sehingga pelaksanaan secara serentak dengan sasaran semua satuan pendidikan secara nasional menjadi hal yang sulit untuk dilaksanakan. Wakil Presiden dalam sambutannya dalam pembukaan Rembuknas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2013, menyatakan bahwa Implementasi Kurikulum 2013 perlu dilaksanakan segera secara bertahap dan jangan molor karena yang rugi generasi muda. Begitu molor pasti ada korban, sebagian generasi muda tidak bisa menerima manfaat kurikulum baru..
 
Dalam pelaksanaan Kurikulum 2013 akan dilaksanakan secara terbatas dan berjenjang. Untuk SD akan dilaksanakan pada kelas I dan IV, sedangkan pada SMP dilaksanakan VII, dan di SMA dilaksanakan di kelas IX. Jika pada tahun ajaran 2013/14 Kurikulum 2013 dilaksanakan pada kelas-kelas tersebut, maka pada tahun ajaran 2014/15 secara berjenjang dilaksanakan pada kelas-kela berikutnya. Misalnya di SD dapat dilaksanakan pada kelas II dan V, sedangkan di SMP dapat dilaksanakan pada kelas VII dan di SMA/SMK dilaksanakan pada kelas X.
 
images (6)Keberhasilan pelaksanaan Kurikulum 2013 tidak hanya pada ketepatan dan comperehensiveness perumusan SKL dan kerangka dasar, serta struktur kurikulum, tetapi dari kepemimpinan kepala sekolah pada tingkat satuan pendidikan dan kepemimpinan guru pada tingkat kelas. Kepemimpinan kepala sekolah mempunyai peran penting dalam memfasilitasi guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar di kelas. Sedangkan kepemimpinan guru di tingkat kelas jelas menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dengan bekerhasilan dalam pelaksanaan Kurikulum 2013. Guru merupakan aktor terdepan dalam pelaksanaan Kurikulum 2013 yang berhadapan dengan peserta didik. Peran penting guru antara lain meliputi: (1) kemampuan menjabarkan topik-topik bahasan pada mata pelajaran menjadi informasi yang menarik dan mudah dipahami oleh peserta didik, (2) kemampuan untuk mengidentifikasi tingkat dan area kesulitan peserta didik dan kemampuan untuk membantunya keluar dari kesulitan tersebut, dan (3) kemampuan melakukan evaluasi kemajuan belajar siswa. Berdasarkan hasil evaluasi guru dapat menentukan strategi untuk menentukan metode pembelajaran yang lebih tepat dan kecepatan dalam memberikan informasi berupa pengetahuan kepada peserta didik.
 
Kurikulum 2013 memang merupakan instrumen peningkatan mutu pendidikan. Peran guru dan kepala sekolah menjadi pendukung utama agar Kurikulum 2013 dapat secara signifikan meningkatan mutu pendidikan dasar dan menengah.
 

Awas Terjebak, Soal UN 2013 Berbeda Antar Ruangan


Soal UN 2013 Berbeda Antar ruangan

 

sisewa nyonek_nUjian nasional kali ini memiliki perbedaan dengan tahun-tahun sebelumnya, yaitu terdapat 20 variasi soal untuk satu kelas sehingga tidak ada yang akan mendapatkan soal yang sama dalam satu kelas. Namun, ternyata tidak berhenti di situ, soal antarkelas pun dibuat berlainan.

Kepala Pusat Penerangan Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hari Setiadi mengatakan bahwa antara kelas A dan kelas B bisa jadi soalnya juga berbeda karena jumlah variasi paket soal setiap provinsi sebanyak 30 buah fariasi. Namun, dalam ruangan kelas tetap ada 20 variasi paket soal yang digunakan.

“Misalkan ada 20 orang maksimum di kelas itu, ya, 20 soal berbeda. Namunn, kan, tidak hanya 20 paket kalau untuk keseluruhannya,“Jadi, kemungkinan, satu ruang ujian dengan ruang ujian sebelahnya berbeda juga. Kalaupun sama juga tidak terlalu identik,”.

Meski naskah soal UN memiliki banyak paket, pihak penyelenggara tetap meyakinkan bahwa tingkat kesulitannya tetap sama antara satu soal dan soal yang lainnya. Komposisi soalnya sendiri terdiri dari 70 persen soal sedang, 20 persen soal sulit, dan 10 persen soal mudah. “Semuanya dibuat rata. Tidak akan ada siswa yang dapat soal banyak yang sulit, sementara yang lain dapat soal banyak yang mudah,”

 

sumber: http://edukasi.kompas.com/

Surat Edaran Nomor 89351/A4.4/KP/2012 tentang “Pengelolaan Usul Penilain dan Penetapan Angka Kredit Guru”


Surat Edaran Nomor 89351/A4.4/KP/2012 tentang “Pengelolaan Usul Penilain dan Penetapan Angka Kredit Guru”

Untuk meningkatkan pelayanan kepegawaian khususnya penilaian dan penetapan angka kredit guru golongan IV/a ke atas yang menjadi kewenangan Tim Penilai Pusat sebagaimana diatur dalam Kepmenpan Nomor 84 tahun 1993 tentang Jabatann Fungsonal Guru dan Angka Kreditnya, pada tahun 2003 telahh dibentuk Tim Penilai Pusat dan Sekretariat Tim Penila, Pusat yang berkedudukan di 16 Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan, yaitu:

  1. Jawa Barat
  2. Jawa Tengah
  3. Daerah Istimewa Yogyakarta
  4. Jawa Timur
  5. Lampung
  6. Riau
  7. Jambi
  8. Sumatera Barat
  9. Sumatera Utara
  10. Aceh
  11. Bali
  12. Nusa Tenggara Barat
  13. Sulawesi Selatan
  14. Sulawesi Utara
  15. Kalimantan Timur
  16. Kalimantan Selatan

LPMP dalam hal ini berfungsi memfasilitasi untuk penerimaan dokumen berkas usul penilalan perencanakan jadwal penilalan dan menyelenggarakan penilaian. Selain 16 propinsi tersebut, berkas usul penilaian dlsampaikan kepada Menten Pendidikan dan Kebudayaan melalui Kepala Biro Kepegawaian selaku Sekretaris Tim Penilai Pusat, dengan alamat Gedung C Lantai 5 Kemdikbud, Jalan Jendral Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat. Seiring dengan akan berakhirnya pemberlakuan Kepmenpan Nomor 84 Tahun 1993 beserta peraturan pelaksanaanya pada akhir tahun 2012, dalam 1 (satu) tahun terakhirini jumlah berkas usul penilalan meningkat tajam, termasuk banyak disampaikan kepada kami usulan yang seharusnya disampaikan kepada Kepala LPMP setempat

Berdasarkan hal tersebut di atas dan pentingnya penetapkan target penyelesalan penilaian dan penetapan angka kredit guru berdasarkan Keprnenpan Nomor 84 Tahun 1993, perlu diatur hal-hal sebagai berikut :

  1. Bagi guru-guru golongan IV/a ke atas pada 16 propinsi sebagaimana tersebut di atas, penyampaian berkas usul penilaian dan penetapan angka kredit berdasarkan Kepmenpan Nomor 84/1993 disampaikan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan melalul Kepala LPMP dengan alamat LPMP setempat. Dalam hal ini, berkas usul tidak lagi dikirimkan ke alamat Gedung C Lantai 5 Kemdikbud, Jalan Jenderal Sudirman Senayan, Jakarta Pusat.
  2. Bagi guru-guru golongan IV/a ke atas yang berkedudukan selain di 16 propinsi sebagaimana tersebut di atas, penyampaian berkas usul penilaian dan penetapan angka kredit berdasarkan Kepmenpan Nomor 84/1 993 disampaikan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan melalui Kepala Biro Kepegawaian dengan alamat Gedung C Lantai 5 Kemdibud, Jalan Jendral Sudirman
    Senayan, Jakarta Pusat.
  3. Batas akhir penyampaian berkas usul guru golongan IV/a sebagaimana dimaksud pada angka 1 dan 2 adaIah tanggal 30 September 2012 Stempel Pos. Hal inii penting agar kami dapat menyelesaikan penilaian dan penetapan angka kredit guru baik untuk layanan periode kenaikan pangkat Oktober 2012 maupun April 2013. OIeh karena itu, berkas usul yang disampaikan kepada kami sesudah tanggal 30 September 2012 tidak akan dinilal dan kami tidak mengembalikan berkas tersebut kepada unit pengusul.
  4. Pengajuan berkas usul penilaian harus lengkap I (satu) set terdiri atas:
    1. DUPAK dengan batas akhir masa penilalan sampai dengan 30 Juni 2012 serta bukti fisik pelaksanaan tugas guru baik unsur utama maupun unsur penunjang
    2. PAK terakhir
    3. SK Pangkat terakhir
    4. DP3 1 tahun terakhir
    5. Karpeg/konversi NIP
    6. Ijazah pendidikan terakhir yang belum pernah diajukan penilalan angka kreditnya dilengkapi dengan surat izin belajar. Bagi yang tugas belajar dilengkapi dengan :
      1. SK Tugas Belajar belajar;
      2. SK pembebasan sementara dan jabatan fungsional guru; dan
      3. SK pengaktifan kembali dalam jabatan guru.
  5. Berkaitan dengan batas akhir penyampaian berkas usul pada tanggal 30 September 2012 pelaksanaan tugas guru mulai 1 Juli 2012 sampai dengan 31 Desember 2012 Tetap di perhitungkan angka kreditnya dengan menggunakan Kepmenpan Nomor 84/1993. Namun, pengajuan angka kredit untuk guru golongan IV/a disampaikan kepada pejabat penetap angka kredit masing masing melalui Sekretariat Tim Penilai instansi/Daerah. Sedangkan guru golongan IV/b ke atas diajukan kepada Menteri Pendidikan dan Kepegawaian Kemdikbud melalui kepala biro kepegawaian selaku Kepala Sekretariat Bersama Tim Penilai Pusat Jabatan Fungisonal Guru.

Apabila pengajuan usul penilaian pelaksanaan tugas guru sampai dengan 31 Desember 2012 diajukan bersamaan dengan pengajuan usul pelaksanaan tugas guru berdasarkan Permenegpan dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, maka berkas usul dimaksud dilengkapi dengan DUPAK dan bukti fisik yang terpisah sesuai dengan peraturan masing-masing.

  1. Mulal tanun 2013, guru yang akan naik pangkat setingkat lebih tinggi pada periode oktober sudah menerapkan sistem angka kredit berdasarkan Permenegpan dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009. OIeh karena itu, terhitung mulai 1 Oktober 2012, Sekretariat Tim Penilai Pusat yang berkedudukan di Biro Kepegawaian Kemdikbud atau di 16 LPMP tersebut di atas tidak lagi menerima usul penilaian dan penetapan angka kredit guru golongan IV/a yang akan naik ke golongan IV/b, karena hal tersebut menjadi kewenangan Saudara sesual dengan pasal 22 ayat (1) huruf e dan f Permenegpan dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009.
  2. Berkas usul penilaian dan penetapan angka kredit guru golongan IV/b yang akan naik pangkat setingkat Iebih tinggi ke golongan IV/c sampal dengan golongan IV/e pada bulan Oktober 2013, daat diajukan kepada kami mulai 1 Juli 2013 s.d. 31 Juli 2013 dan disampaikan kepada:

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan

melalui Kepala Sekretariat Bersama Tim Penilai Pusat Angka Kredit Guru

Gedung A Lantal Dasar Kemdikbud

Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat

Berkenaan dengan hal hal tersebut di atas, kami mohon bantuan Saudara untuk memberitahukan layanan penilaian dan penetapan angka kredit guru mi kepada Kepala Sekolah di lingkungan Saudara. Atas perhatian dan kerjasama yang baik, kami ucapkan terima kasih.

 

SILABUS DAN RPP KURIKULUM 2013


imagesPerbedaan yang mendasar  antara Kurikulum 2006 (KTSP) dengan Kurikulum 2013 yaitu berkaitan dengan perencanaan pembelajaran. Dalam Kurikulum 2006, kegiatan pengembangan silabus merupakan kewenangan satuan pendidikan, namun dalam Kurikulum 2013 kegiatan pengembangan silabus beralih menjadi kewenangan pemerintah, kecuali untuk mata pelajaran tertentu yang secara khusus dikembangkan di satuan pendidikan yang bersangkutan.

Walaupun  silabus sudah di buat oleh pemerintah pusat , namun  guru tetap saja dituntut untuk dapat memahami seluruh pesan dan makna yang terkandung dalam silabus, terutama untuk kepentingan operasionalisasi pembelajaran. Oleh karena itu, kajian silabus tampak menjadi penting, baik dilakukan secara mandiri maupun kelompok (khususnya melalui kegiatan bedah silabus dalam forum KKG/MGMP), sehingga diharapkan para guru dapat memperoleh perspektif yang lebih tajam, utuh dan komprehensif dalam memahami  seluruh isi silabus yang telah disiapkan tersebut.

Sedangkan untuk penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) tampaknya masih tetap menjadi kewenangan dari guru yang bersangkutan, yaitu dengan berusaha mengembangkan dari Buku Babon (termasuk silabus) yang telah disiapkan pemerintah.

Memperhatikan contoh silabus dan RPP yang diajukan dalam Seminar Kurikulum 2013 yang diselenggarakan oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) di Surabaya, 17 Maret 2013 ini, terdpat beberapa berbeda dengan RPP yang dikembangkan selama ini, diantaranya:

  • Langkah-langkah pembelajaran tidak lagi mencantumkan secara eksplisit dan detil tentang siklus eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi, tetapi telah terbingkai secara utuh, dengan merujuk pada metode pembelajaran yang dipilih.
  • Nilai-nilai dalam pendidikan karakter tidak hanya sekedar “ditempelkan” dalam rumusan tujuan atau langkah-langkah pembelajaran.
  • Dan yang paling utama, pendekatan pembelajaran yang hendak dikembangkan telah menggambarkan sebuah proses pembelajaran yang lebih mengedepankan peran aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya. Sementara guru  lebih banyak menampilkan perannya sebagai pembimbing dan fasilitator belajar siswa (lihat langkah-langkah dalam kegiatan inti).

Menurut Pak Achmad Sudrajat, M.Pd meski model RPP ini untuk kepentingan pembelajaran IPA di SMP,  tetapi beliau melihat esensi tentang sistematika penyusunannya (bukan substansi dan sasaran kelasnya) sangat mungkin untuk diadaptasi dalam pembelajaran lainnya.

Ingin mengunduh Model Silabus dan RPP tersebut? Silahkan klik tautan di bawah ini:

contoh-silabus-dan-rpp-kurikulum-2013

SUMBER INFORMASI :http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2013/04/08/silabus-dan-rpp-kurikulum-2013/

images (27)images (2)images (4)images (5)images (6)

 

Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Matematika melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw pada Siswa Kelas XII IPA SMA Negeri 1 Dompu Semester 1 Tahun Pelajaran 2012/2013


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah menyatakan bahwa proses pembelajaran perlu direncanakan, dilaksanakan proses pembelajaran untuk setiap mata pelajaran harus fleksibel, bervariasi dan memenuhi standar. Proses pembelajaran pada setiap satuan pendidikan dasar dan menengah harus interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa,kreatifitas dan kemandirian sesuai dengan bakat,minat dan perkembangan fisik serta psikilogis peserta didik.

Standar proses meliputi perencanaan proses pembelajaran,pelaksanaan proses pembelajaran ,penilaian hasil pembelajaran dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien.

Mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah, Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh . Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah serta Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah

Kenyataannya dalam pembelajaran pada pendidikan formal dewasa ini masih terdapat permasalahan seperti masih rendahnya hasil belajar siswa, aktivitas dan motivasi siswa dalam pembelajaran rendah. Secara empiris rendahnya hasil belajar siswa disebabkan karena proses pembelajaran didominasi oleh pembelajaran tradisional yakni berpusat pada guru (teacher-centrered) sehingga siswa menjadi pasif.

Berdasarkan observasi awal yang dilakukan di SMA Negeri 1 Dompu, menggunakan teknik wawancara dengan teman sejawat, observasi terhadap pembelajaran yang dilakukan oleh beberapa orang guru, dan menganalisis hasil ulangan harian mata pelajaran matematika dijumpai kondisi-kondisi sebagai berikut.

1) Sebagian besar guru masih dominan menggunakan metode ceramah dalam pengelolaan pembelajaran di kelas.

Hal ini disebabkan karena masih minimnya pemahaman guru terhadap berbagai metode pembelajaran, serta metode ceramah tidak memerlukan persiapan khusus seperti menyiapkan media pembelajaran yang dianggap merepotkan guru.

2) Komunikasi dalam pembelajaran cenderung hanya satu arah yaitu dari guru ke siswa saja, sehingga siswa tidak dilibatkan secara aktif dalam pembelajaran bahkan cenderung hanya menjadi pendengar (aktivitas dan kreativitas siswa dalam pembelajaran masih rendah).

3) Motivasi dan minat belajar siswa kurang karena belajar hanya sekedar untuk mendapatkan nilai rapor serta kurangnya pemahaman siswa terhadap tujuan pendidikan.

4) Persentase ketuntasan belajar dan hasil belajar siswa relatif masih rendah terlihat dari rata-rata hasil ulangan harian pada kompetensi sebelumnya baru mencapai 65 sedangkan kriteria ketuntasan minimalnya 75.

Apabila kondisi ini dibiarkan, akan menyebabkan pemahaman siswa terhadap pelajaran matematika semakin rendah. Siswa akan menganggap pelajaran matematika merupakan pelajaran yang tidak penting, membosankan, dan tidak disukai, sehingga sulit untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa.

Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan adanya solusi yang diharapkan dapat meminimalkan dampak negatif yang ditimbulkan. Pada penelitian ini, solusi yang ditawarkan adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipeJigsaw untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa sehingga diharapkan dapat mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut.

Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar matematika siswa kelas XII IPA SMA Negeri 1 Dompu semester 1 tahun pelajaran 2012/2013?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah Untuk mengetahui peningkatan aktivitas dan hasil belajar matematika melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw pada siswa kelas XII IPA SMA Negeri 1 Dompu semester 1 tahun pelajaran 2012/2013.

D. Manfaat Penelitian

Dari hasil yang diperoleh dalam penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat berupa sumbangan informasi ilmiah yang dapat dijadikan sebagai salah satu referensi, bahan perbandingan bagi peneliti atau guru dalam pengembangan model pembelajaran pada umumnya dan secara khusus diharapkan memberikan manfaat/kontribusi bagi:

1) Siswa, diharapkan penerapan model ini dapat membantu siswa menguasai dan memahami kompetensi dasar yang ditanamkan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diharapkan. Secara teoretis dapat mendorong dan mengkondisikan berkembangnya sikap dan keterampilan sosial siswa, meningkatkan hasil belajar, serta aktivitas siswa.

2) Guru, agar lebih memperhatikan faktor-faktor yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Khususnya guru mata pelajaran matematika agar mampu memilih dan menerapkan model pembelajaran kooperatif sebagai salah satu model pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

3) Sekolah, hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan dalam melakukan bimbingan dan pembinaan profesional guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.

4) Peneliti, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan untuk meningkatkan profesionalisme guru.

hal depan

BAB II

BAB III

PAKTA INTEGRITAS PEJABAT FUNGSIONAL LINGKUP DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA KABUPATEN DOMPU TAHUN 2013


389729_227451900693570_14386838_n

Tidak hanya partai politik saja yang ramai soal pakta integritas. Dinas Dikpora Kab.Dompu di nakhodai oleh H.Ihtiar yang merupakan Kadis Pertama dari unsur Guru di era otonomi juga menerapkan sebuah pakta integritas bagi kepala sekolah di Dompu NTB. Dengan komitmen tinggi dan diiringi semangat reformasi, kantor yang berlamat di Jalan Soekarno Hatta ini mengadakan penandatanganan sebuah Pakta Integritas.bagi 31 kepala sekolah yang baru di lantik.

Tiap-tiap kepala sekolah yang baru dilantik menandatangani secarik kertas berisi komitmen terhadap upaya peningktan mutu pendidikan dan pemberantasan korupsi. Tentu dengan ditandatanganinya dokumen ini, menjadi rambu-rambu bagi tiap kepala sekolah untuk lebih bersikap menjaga komitmen selaku kepla sekolah ,abdi negara.

PAKTA INTEGRITAS PEJABAT FUNGSIONAL

LINGKUP DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA

KABUPATEN DOMPU

Dengan memohon ridha Allah Swt, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dan berjanji dengan sepenuh hati akan menjalankan hal-hal sebagai berikut :

  1. Sanggup dan Komitmen untuk melaksanakan seluruh tugas, fungsi, wewenang dan bekerja keras menyukseskan penyelenggraaan pendidikan  secara jujur , adil dan bertanggung jawab, dan tidak akan melakukan kegiatan dan atau tindakan yang menyimpang dari aturan yang berlaku termasuk tindakan korupsi . serta tidak melibatkan diri dari perbuatan tercela,
  2. Komitmen meningkatkan kualitas , akseptabilitas dan kredibilitas penyelenggaraan pendidkkan untuk meningkatkan mutu secara berkelanjutan,
  3. Komitmen melayani warga sekolah maupun masyarakat ditempat bertugas dengan benar, menghadapi masalah, serta mencari solusi terbaik terhadap pemecahan masalah dengan mengedepankan pelayanan yang prima, untuk kenyamanan wagra sekolah dan senantiasa menjaga nama baik sekolah
  4. Dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab akan terus menjunjung tinggi prinsip dan kode etik serta jati diri sebagai pemimpin yang bersih, cerdas, santun, jujur, objektif, transparan dan profesional serta senantiasa adil dan tidak akan menjalankan kebijakan yang diskrimintatif
  5. Senantiasa loyal, patuh ,taat , amanah serta bertanggung jawab kepada perintah pimpinan baik secara tertulis maupun lisan.
  6. Komitmen akan mensukseskan program pemerintah dalam menggunakan dana  pendidikan, dan sumber dana lainya dan tidak mengunakan untuk kepentingan pribadi, tidak melakukan pungutan dalam penerimaan siswa baru yang tidak ada garis prtunjuknya , serta memelihara barang inventaris dengan sebaik-baiknya.
  7. Komitmen untuk menegakkan disiplin disekolah, serta memberi contoh dalam kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dan siap menghadapi konsekuensi jika melanggar
  8. Akan mengajak warga sekolah dalam mewujudkan program kebersihan dan ketertiban yang berkelanjutan di Sekolah menuju sekolah yang berwawasan Wiyata Mandal,
  9. Akan mensukseskan visi misi dinas Pendidikan dan Olhraga kabupaten dompu yakni terwujudnya insan yang cerdas, kompetitif ,komprehensif ,demokratis ,berbudaya  dan religius, melalui pelayanan pendidikan yang  berkualitas yang dilandasi semangat ” NGGAHI RAWI PAHU”
  10.  Siap menerima putusan yang diambil setelah dilakukan evaluasi selama satu semester atau enam bulan.jika tidak menjalankan tugas sebagaimana diatas, siap diberikan sangsi sesuai aturan yang berlaku

Demikian Pernyataan Pakta Integritas ini saya buat dengan sesungguhnya.dalam keadaan sehat, sadar, dan tidak ada tekanan dari pihak lain.

                                                                                                                                                                                                                          Dompu, 14 Maret 2013.

Mengetahu Kepala Dinas                                                                                                                                                                         Yang Membuat

Dikpora Kabupaten Dompu,                                                          ,

Materei 6000

            —————————–                                                —————————-

.

Konseptor: Suaidin

319967_110750459031894_1667996758_n

 14v4oxi

 10 PAKTA INTEGRITAS PEJABAT FUNGSIONAL

LAPORAN KEPENGAWASAN SMA/SMK SEMESTER GANJIL 2012/2013 KABUPATEN DOMPU


BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan adalah ditetapkannya delapan (8) Standar Nasional Pendidikan (SNP) sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Salah satu dari Standar Nasional Pendidikan adalah Standar Pendidik dan tenaga kependidikan.

Permendiknas nomor 13 tahun 2007 tentang standar kepala sekolah juga  mengamanatkan tentang tugas pokok kepala sekolah pada semua jenjang mencakup tiga bidang, yaitu: (a) tugas manajerial, (b) supervisi dan (c) kewirausahaan Tugas pokok tersebut dalam implementasinya perlu dikawal oleh pemangku kepentingan untuk mengetahui keterlaksanaannya.

Permendiknas no.41 tahun 2007 tentang standar proses mengamanatkan bahwa setiap guru wajib melaksanakan: perencanakan pembelajaran , melaksanakan pembelajaran ,melakukan penilaian dan adanya pengawasan oleh kepala sekolah dan pengawas satuan pendidikan .Guru merupakan salah satu variable yang sangat menentukan mutu pendidikan di sekolah.Untuk itu pelaksanaan standar prosesi harus dikawal oleh pemangku kepentingan yaitu pengawas sekolah .Karena hal ini merupakan teknis pendidikan yang mendasar. Kinerja guru dan kepala sekolah mewarnai kualitas pendidikan dan berujung pada mutu pendidikan di sekolah .Untuk itu peraturan – peratuturan yang telah ada wajib dikawal akan implementasi di sekolah .

  Salah satu unsur tenaga kependidikan yang dinilai penting dalam meningkatkan mutu pendidikan adalah pengawas satuan pendidikan. Pengawas satuan pendididkan bertugas melaksanakan pengawasan akademik dan pengawasan manajerial di sekolah yang ditunjuk melalui kegiatan pemantauan, penilaian, dan pembinaan serta pelaporan dan tindak lanjut.  Tanggung jawab pengawas satuan pendidikan adalah meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan. Disamping itu pengawas satuan pendidikan juga berfungsi sebagai penjamin mutu pendidikan pada sekolah binaannya.

Dalam Rangka menjamin perluasan dan pemerataan akses peningkatan mutu dan inovasi, serta tata kelola pendidikan yang baik dan akutantabilitas pendidikan yang mampu menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional dan global perlu dilakukan pemberdayaan dan peningkatan mutu dan profesionalisme pengawas yang merupakan kepanjangan tangan dari kebijakan Kepala Dinas Pendidikan Kaabupaten Dompu  untuk memberikan layanan teknis terhadap keberhasilan pendidikan di Tingkat TK/SD/SMP/SMA/SMK/SLB secara terencana, terarah, dan berkesinambungan.

Eksistensi pengawas sekolah dinaungi oleh sejumlah dasar hukum. Undang-undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2003 dan PP No.19 Tahun 2005 adalah landasan hukum yang terbaru yang menegaskan keberadaan pejabat fungsional itu. Selaian itu secara tegas dikatakan dalam Keputusan Menpan No.118 / 1996 sebagai berikut :”Pengawas sekolah adalah Pegawai Negeri Sipil  yang diberi tugas, tanggungjawab, dan wewenang  secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk  melakukan pengawasan pendidikan di sekolah dengan melaksanakan penilaian dan pembinaan dari segi teknis pendidikan dan administrasi pada satuan pendidikan prasekolah, dasar, dan menengah.”

Permendiknas nomor 12 tahun 2007 mengamanatkan bahwa seorang pengawas sekolah harus mampu dan menguasai melakukan penilaian kinerja baik kinerja guru ,kepala sekolah ,dan staf (tenaga administrasi sekolah ) merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai pengawas sekolah/madrasah. Kompetensi tersebut termasuk dalam dimensi kompetensi evaluasi pendidikan .

Peningkatan kualitas pendidikan dapat dicapai melalui peningkatan kualitas Pembelajaran  dan Peningkatan kualitas Pengelolaan . Peningkatan kualitas pembelajaran memiliki makna strategis dan berdampak positif berupa (1) peningkatan kemampuan dalam menyelesaikan masalah pendidikan dan pembelajaran yang dihadapi secara nyata, (2) peningkatan kualitas masukan, proses dan hasil belajar, (3) peningkatan profesionalitas pendidik, dan (4) penerapan prinsip pembelajaran berbasis penelitian. Sedangkan peningkatan kualitas pengelolaan pendidikan akan menciptakan pendidikan yang transparan, akuntabel, berdaya saing tinggi dan menghasilkan pencitraan yang positif.

Kemampuan sekolah dalam memberikan layanan pembelajaran secara efektif dan efisien sangat bergantung pada kualitas guru-gurunya yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran dan keefektifan mereka dalam melaksanakan tanggung jawab individual serta kelompok. Guru harus mampu berperan sebagai desainer (perancang), implementator (pelaksana), dan evaluator (penilai) kegiatan pembelajaran. Guru merupakan faktor paling dominan, karena di tangan merekalah keberhasilan pembelajaran dapat dicapai. Kualitas mengajar guru baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengarui kualitas pembelajaran  khususnya dan kualitas satuan pendidikan pada umumnya.

            Peran strategis guru tersebut menuntut pembinaan dan pengembangan yang terus-menerus melalui supervisi atau pengawasan baik akademik maupun manajerial. Supervisi pengajaran perlu diarahkan pada upaya-upaya yang sifatnya memberikan kesempatan kepada para guru untuk berkembang secara profesional, sehingga mereka lebih mampu melaksanakan tugas pokoknya, yaitu memperbaiki dan meningkatkan proses dan kualitas hasil belajar. Supervisi pengajaran merupakan kegiatan-kegiatan yang menciptkan kondisi yang layak bagi pertumbuhan profesional guru secara intensif. Kegiatan pengawasan memungkinkan pendidik memperoleh arah dalam mencapai tujuan dan belajar memecahkan masalah-masalah yang dihadapi pembelajaran dengan imajinatif, penuh inisiaftif, dan kreatifitas, bukan konformitas (Djam’an Setari, 1989).

            Berdasarkan latar belakang di atas, maka kepengawasan yang dalam implementasi dapat berupa bimbingan, pembinaan, unjuk kerja, dan monitoring hendaknya menjadi kebutuhan serta kebiasaan yang mentradisi dan dilakukan terus-menerus. Untuk mencapai hasil yang lebih maksimal maka dalam pengawasan perlu adanya pemilihan pendekatan dan metode yang tepat, terarah, dan terprogram yang meliputi aspek akademik maupun manajerial.

Dalam laporan ini,  menyajikan penilaian kinerja guru dan kinerja kepala sekolah hasil pengawasan ,sedangkan dalam administrasi pendidikan menyajikan ketercapaian pelaksanaan 8 (delapan standar nasional Pendidikan ) , monitoring ulangan akhir semester dan pelaksanaan peneriman peserta didik . Penulis berharap laporan semester ini dapat memeberikan kontribusi kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Dompu untuk memberikan pertimbangan dalam membuat kebijakan yang lebih tepat untuk meningkatkan mutu pendidikan di Kabupaten Dompu .

  1. Fokus Permasalahan

Sesuai latar belakang di atas ,focus permasalahan pada pengawasan ini adalah :

  1. Apakah tenaga pendidik telah memiliki kemampuan dalam menyususn perangkat pembelajaran/persiapan pembelajaran yang meliputi :
    1.  Program Tahunan dan Program Semester,
    2. Analisis konteks ( SI/SK-KD, SKL, Standar Proses, Standar Penilaian ),
      1.  Dokumen Analisis KKM
      2.  buku Nilai siswa,
      3.  Analisis UH lengkap dengan progran remedial dasn pengayaan, serta

instrumen penilaian ( kisi-kisi, soasl, kunci, dan pedoman sekor ).

  1. Apakah tenaga pendidik telah memiliki kemampuan dalam menyusun silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai Staansar isi dan Standar Proses?
  2. Apakah proses pembelajaran yang dilakukan guru sudah menggunakan pendekatan  CTL dan dapat menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif,  menyenangkan, gembira dan bermutu (Paikem Gembrut) ?
  3. Apakah guru telah memiki kemapuan menusun proposal PTK dan melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas  ?
  4. Apakah tenaga pendidik, kependidikan dan satuan pendidikan telah memiliki kemampuan dalam mengkaji dan mengembangkan serta menyusun Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) ?
  5. Apakah Satuan Pendidikan (sekolah) binaan sudah memiliki dokumen PSB(Penerimaan Siswa Baru), Ulangan Harian, dan Ulangaan Tengah Semester ,Ulangan Akhir Semester (UAS) secara lengkap ?
  6. Apakah sekolah sudah melaksanakan SNP ?.
    1. Apakah pengawasan (supervisi) yang dilaksanakan secara intensif dengan pendekatan dan metode yang sesuai dapat meningkatkan hasil yang optimal ?
  1. Tujuan dan Sasaran Pengawasan
  2. 1.      Tujuan

Sesuai dengan fokus permasalahan di atas, maka tujuan pengawasan ini ingin mengetahui dan mendiskripsikan :

  1. Kemampuan guru dalam menyususn administasi perangkat persiapan pembelajaran yang meliputi : Prota, Promes, Analisis konteks ( SI, SKL, Standar Proses, Standar Penilaian ), buku Nilai siswa, Analisis UH lengkap dengan progran remedial dasn pengayaan, serta instrumen penilaian ( kisi-kisi, soasl, kunci, dan pedoman sekor ).
  2. Kemampuan guru dalam menyusun silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai Staansar isi dan Standar Proses
  3. Kemampuan guru melaksanakan proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan  CTL dan dapat menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif,  menyenangkan, gembira dan bermutu (Paikem Gembrut)
  4. Kemapuan guru menyusun proposal dan melaksanakan PTK
  5. Kemapuan guru , kepala sekolah dalam mengkaji dan mengembangkan serta menyusun Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
  6. Kelengkapan dokumen UAS/UKK ,US/UN, di sekolah binaan
  7. Keterlaksanaan  SNP di sekolah binaan.
  8. Memperoleh hasil pengawasan yang optimal melalui penerapan pendekatan dan metode yang sesuai.

2.      Sasaran

Secara garis besar sasaran kepengawasan mencakup input, proses, dan output.

  1. Input meliputi segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses, seperti : sumber daya, perangkat lunak, dan harapan-harapan.
  2.  Proses merupakan berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain yang lebih baik. Faktor-faktornya meliputi : peserta didik, guru, tenaga kependidikan, kurikulum, alat, dan buku pelajaran, serta kondisi lingkungan sosial dan fisik sekolah.
    1. Out put meliputi kinerja guru, prestasi akademik dan prestasi non akademik.

Secara khusus sasaran kepengawasan meliputi :

  1.  Teknis Pendidikan

Untuk focus masalah nomor a, b, c dan d,  sasarannya adalah guru mata pelajaran dalam merencanakan persiapan dan pelaksanaan pembelajaran .

  1.   Administrasi pendidikan

Untuk focus masalah pada nomor e, f dan nomor g sasaranya pada administrasi pendidikan yang berupa bukti fisik .

  1. Ruang Lingkup Pengawasan

Sesuai tugas pokok dan fungsi pengawas sekolah ,ruang lingkup  pengawasan semester  I  tahun pelajaran 2012/2013 ini mencakup dua aspek, yaitu aspek akademik dan manajerial  meliputi : penilaian, pemantauan dan pembinaan guru dan kepala sekolah pada jenjang SMA/SMK Kabupaten Dompu.

  1. Kepengawasan Akademik

Aspek akademik menekankan pada kompetensi guru (pendidik) dalam meningkatkan kemampuannya untuk menyusun perencanaan pembelajaran dan melaksanakan pembelajaran serta evaluasi kegiatan belajar mengajar matematika .

Supervisi akademik atau pengawasan akademik adalah fungsi pengawas yang berkenaan dengan aspek pelaksanaan tugas pembinaan, pemantauan, penilaian dan pelatihan profesional guru dalam :(1) merencanakan pembelajaran;, (2)melaksanakan           pembelajaran;(3)menilai hasil pembelajaran; (4) membimbing dan melatih peserta didik, dan (5) melaksanakan tugas tambahan yang melekat pada pelaksanaan kegiatan pokok sesuai dengan beban kerja guru (PP 74/2008). Hal tersebut dapat dilaksanakan melalui kegiatan tatap muka atau non tatap muka.

 a.         Pembinaa :

Tujuan:

1)      Meningkatkan pemahaman  kompetensi guru terutama kompetensi pedagogik dan kompetensi profesionalisme (Tupoksi guru, Kompetensi guru, pemahaman KTSP).

2)      Meningkatkan   kemampuan   guru   dalam   pengimplementasian Standar Isi. Standar Proses, Standar Kompetensi Kelulusan dan Standar   Penilaian   (pola   pembelajaran   KTSP,   pengembangan silabus dan RPP, pengembangan penilaian, pengembangan bahan ajar dan penulisan butir soal)

3)      Meningkatkan  kemampuan  guru  dalam  menyusun  Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ).

    Ruang Lingkup

1)Melakukan pendampingan dalam meningkatkan kemampuan guru menyusun administrasi                             perencanaan      pembelajaran/program bimbingan.

2)Melakukan pendampingan dalam meningkatkan kemampuan guru dalam proses pelaksanaan pembelajaran/bimbingan

3)  Melakukan pendampingan membimbing guru dalam meningkatkan kemampuan melaksanakan penilaian hasil belajar peserta didik.

4)      Melakukan pendampingan dalam meningkatkan kemampuan guru menggunakan media dan sumber belajar

5)      Memberikan masukan      kepada  guru dalam memanfaatkan lingkungan  dan sumber belajar

6)      Memberikan rekomendasi kepada guru     mengenaitugas   membimbing dan melatih peserta didik.

7)      Memberi bimbingan kepada guru dalam menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk pembelajaran

8)      Memberi   bimbingan   kepada   guru   dalam   pemanfaatan   hasil penilaian untuk perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran/pembimbingan.

9)      Memberikan bimbingan kepada guru untuk melakukan refleksi hasil-hasil yang dicapainya

b.      Pemantauan :

Pelaksanaan standar isi, standar kompetensi lulusan, standar proses, dan  standar penilaian

 c.       Penilaian ( Kinerja Guru) :

1)      merencanakan pembelajaran;

2)         melaksanakan pembelajaran;

3)         menilai hasil pembelajaran;

4)         membimbing dan melatih peserta didik, dan

5)         melaksanakan   tugas   tambahan   yang   melekat   pada   pelaksanaan kegiatan pokok sesuai dengan beban kerja guru

Untuk meningkatkan profesionalisme guru dalam melaksanakan tugasnya ditindaklanjuti dengan kegiatan bimbingan dan pelatihan guru dengan tahapan sebagai berikut:

1)         menyusun   program   pembimbingan   dan   pelatihan   profesional   guru   di  MGMP/MGP dan sejenisnya

2)         melaksanakan pembimbingan dan pelatihan profesional guru

3)         mengevaluasi hasil pembimbingan dan pelatihan profesional guru

4)         melaksanakan      pembimbingan dan pelatihan professional guru dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas

Bidang peningkatan kemampuan profesional  guru    difokuskan    pada  pelaksanaan standar nasional pendidikan, yang meliputi:

1)      kemampuan guru dalam melaksanakan standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan/standar tingkat pencapaian perkembangan (bagi TK), dalam kerangka pengembangan KTSP,

2)      pembelajaran  yang  Pembelajaran  Aktif,  Inovatif,  Kreatif,  Efektif  dan Menyenangkan (PAIKEM) termasuk penggunaan media yang relevan, c.  pengembangan bahan ajar,

3)      penilaian proses dan hasil belajar

4)      PTK  untuk  perbaikan/pengembangan        metode pembelajaran,

  1. Kepengawasan Manajerial

Supervisi manajerial atau pengawasan manajerial merupakan fungsi supervisi yang berkenaan dengan aspek pengelolaan sekolah yang terkait langsung dengan peningkatan efisiensi dan efektivitas sekolah yang mencakup perencanaan,         koordinasi, pelaksanaan,     penilaian, pengembangan kompetensi sumber                  daya                     tenaga              pendidikdan kependidikan. Dalam melaksanakan fungsi manajerial, pengawas sekolah berperan sebagai: (1) fasilitator dalam proses perencanaan, koordinasi, pengembangan manajemen sekolah, (2) asesor dalam mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan serta menganalisis potensi sekolah, (3) informan pengembangan mutu            sekolah,           dan      (4)                  evaluator   terhadap hasil pengawasan.

 a.    Pembinaan:

Tujuan:

Tujuan pembinaan kepala sekolah    yaitu peningkatan pemahaman dan pengimplementasian kompetensi yang dimilik oleh kepala sekolah dalam melaksanakan tugasnya sehari- hari untuk mencapai Standar Nasional Pendidikan ( SNP )

Ruang Lingkup:

1)         Pengelolaan   sekolah   yang   meliputi   penyusunan   program   sekolah berdasarkan SNP, baik rencana kerja tahunan maupun rencana kerja 4 tahunan, pelaksanaan program, pengawasan dan evaluasi internal, kepemimpinan sekolah dan Sistem Informasi Manajemen (SIM).

2)         Membantu Kepala Sekolah melakukan evaluasi diri sekolah (EDS)   dan merefleksikan hasil-hasilnya dalam upaya penjaminan mutu pendidikan.

3)         Mengembangkan perpustakaan dan laboratorium serta sumber-sumber belajar lainnya.

4)         Kemampuan        kepala  sekolahdalam  membimbing pengembangan program bimbingan konseling di sekolah.

5)         Melakukan pendampingan terhadap kepala sekolah dalam pengelolaan dan administrasi sekolah (supervisi manajerial), yang meliputi:

a)   Memberikan masukan dalam pengelolaan dan administrasi kepala sekolah berdasarkan manajemen peningkatan mutu pendidikan di sekolah

b)   Melakukanpendampingan           dalam melaksanakan bimbingan konseling di sekolah.

c)  Memberikan  bimbingan  kepada  kepala  sekolah  untuk melakukan refleksi hasil-hasil yang dicapainya.

b.      Pemantauan:

pelaksanaan standar nasional pendidikan di sekolah dan memanfaatkan hasil- hasilnya untuk membantu kepala sekolah mempersiapkan akreditasi sekolah.

c.  Penilaian:

Penilaian kinerja kepala sekolah tentang pengelolaan sekolah sesuai dengan standar nasional pendidikan.

Metode kerja yang dilakukan pengawas sekolah antara lain observasi, kunjungan atau pemantauan, pengecekan/klarifikasi data, kunjungan kelas, rapat dengan kepala sekolah dan guru-guru dalam pembinaan.

Untuk  meningkatkan  profesionalisme  kepala       sekolah dalam  melaksanakan tugasnya ditindaklanjuti dengan kegiatan bimbingan dan pelatihan kepala sekolah dengan tahapan sebagai berikut:\

1)         menyusun program pembimbingan dan pelatihan profesional kepala sekolah di KKKS/MKKS dan sejenisnya.

2)         melaksanakan pembimbingan dan pelatihan profesional kepala sekolah.

3)         melaksanakan pembimbingan dan pelatihan kepala sekolah dalam menyusun program sekolah, rencana kerja, pengawasan dan evaluasi, kepemimpinan sekolah, dan sistem informasi dan manajemen

4)         mengevaluasi hasil pembimbingan dan pelatihan profesional kepala sekolah

5)         melaksanakan pembimbingan dan pelatihan profesional kepala sekolah dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas/sekolah

Kegiatan pembimbingan dan pelatihan profesional guru dan/atau masuk kepala sekolah oleh setiap pengawas sekolah dilaksanakan paling sedikit 3 (tiga) kali dalam satu semester secara berkelompok dalam kegiatan di sekolah binaan MGMP/MGP/KKKS/MKKS/K3SK. Kegiatan ini dilaksanakan terjadwal baik waktu maupun jumlah jam yang diperlukan untuk setiap kegiatan sesuai dengan tema  atau  jenis  keterampilan  dan  kompetensi  guru  yang  akan  ditingkatkan. Dalam  pelatihan  ini  diperkenalkan  kepada  guru  hal-hal  yang  inovatif  sesuai dengan tugas pokok guru dalam pembelajaran/pembimbingan.

Kegiatan pembimbingan  dan  pelatihan  profesionalisme  guru  ini  dapat  berupa bimbingan  teknis,  pendampingan,  workshop,  seminar,  dan  group  conference, yang ditindaklanjuti dengan kunjungan kelas melalui supervisi akademik.

Selain melaksanakan tugas kepengawasan sesuai dengan ruang lingkup di atas, setiap pengawas harus melakukan pengembangan profesi yang meliputi:

1)    pembuatan karya tulis dan/atau karya ilmiah dibidang    pendidikan formal/pengawasan.

2)   penerjemahan/penyaduran buku dan/atau karya ilmiah dibidang pendidikan formal/pengawasan.

3)   pembuatan karya inovatif.

Kegiatan penunjang tugas pengawas sekolah dapat dilakukan melalui:

1)      peranserta      dalam seminar/lokakarya       dibidangpendidikan formal /kepengawasan sekolah.

2)      keanggotaan dalam organisasi profesi.

3)      keanggotaan  dalam  tim  penilai  angka  kredit  jabatan  fungsional  Pengawas Sekolah

BAB II

KERANGKA BERPIKIR DAN PEMECAHAN MASALAH

  1. Kerangka berpikir

Siklus Kerangka berpikir pengawasan dan pemecahan masalah  dalam pelaksanaan pengawasan sekolah sebagai berikut .

  1. Diawali penyusunan program kerja yang dilandasi oleh hasil pengawasan pada tahun sebelumnya. Dengan berpedoman pada program kerja yang disusun, dilaksanakan kegiatan inti pengawasan meliputi penilaian, pembinaan, dan pemantauan pada setiap komponen sistem pendidikan di sekolah binaannya.
  2. Pada tahap berikutnya pengolahan dan analisis data hasil penilaian, pembinaan, dan pemantauan dilanjutkan dengan evaluasi hasil pengawasan dari setiap sekolah dan dari semua sekolah binaan.
  3. Berdasarkan hasil analisis data, disusun laporan hasil pengawasan yang menggambarkan sejauh mana keberhasilan tugas pengawas dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil pendidikan di sekolah binaan.
  4. Tahap akhir dari satu siklus kegiatan pengawasan  adalah menetapkan tindak lanjut untuk program pengawasan tahun berikutnya  berdasarkan hasil evaluasi komprehensif terhadap seluruh kegiatan pengawasan dalam satu periode.Dari siklus proses pengawasan inilah ,laporan kegiatan pengawasan  merupakan tahapan yang sangat penting dan strategis.

Kerangka berpikir siklus kegiatan pengawasan  digambarkan  sebagai berikut:

Gambar 2.1. Siklus Kegiatan Pengawasan Sekolah

 

  1. Pemecahan masalah

Optimalisasi pencapaian program satuan pendidikan dapat terwujud jika seluruh proses kegiatan yang mencakup perencanaan, pelaksanaan, monitoring, evaluasi, dan pelaporannya dapat terlaksana secara intens, komprehensif, dan terjadwal secara akurat.

Sekolah seyogyanya memiliki kemampuan dalam membuat kebijakan dan program yang terarah dan tepat sasaran, dengan memaksimalkan kekuatan (strenght) dan peluang (opportunity) yang dimiliki seta menanggulangi kelemahan dan ancaman yang mungkin dapat menjadi faktor penghambat.

Karenanya setiap satuan pendidikan haruslah memiliki team work  yang kompak, cerdas, dan dinamis, serta adanya partisipasi yang tinggi dari seluruh warga sekolah. Setiap mereka wajib membekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan (skill), baik akademik maupun manajerial yang dapat mereka peroleh melaui pendidikan dn latihan, work shop, maupun pengkajian pustaka, dan dokumentasi.

Sungguhpun demikian dalam kenyataannya tidak semua warga sekolah memiliki kemauan dan kesempatan untuk mengikuti kegiatan yang dimaksud. Bagitu pula dalam hal upaya pengembangan potensi diri melalui studi pustaka pun ternyata belum dapat diharap banyak dan masih membutuhkan motivasi eksternal.

Dari realita di atas, maka peran pengawas satuan pendidikan dalam membina, membimbing, dan memotivasi pendidik dan tenaga kependidikan memiliki arti yang amat urgen.  Pemberian bimbingan, pembinaan, dan dorongan yang dilakukan secara intensif berkesinambungan merupakan solusi logis pencapaian program dan acuan dalam upaya mewujudkan target secara maksimal.

BAB III

PENDEKATAN DAN METODE

Untuk mendapatkan hasil yang optimal, dan agar dalam pelaksanaan kepengawasan dapat lebih efektif, efisien, dan tepat guna, maka perlu memilih pendekatan dan metode yang sesuai.

A.   Pendekatan

Pendekatan  yang dilakukan pengawas dalam melaksanakan tugas kepengawasannya  adalah teknik supervisi yang bersifat kooperatif dan kolaboratif, karena dalam supervisi sudah mengandung makna pembinaan,  penilaian dan juga pemantauan sampai sejauh mana sasaran pembinaan sudah dilaksanakan sebagaimana diuraikan dalam siklus pengawasan pada bab sebelumnya.

  1. Kooperatif : yaitu kegiatan yang dilakukan dalam suatu kelompok untuk kepentingan bersama (mutual benefit)
  2. Kolaboratif : yaitu kerja sama dalam pemecahan masalah dan atau penyelesaian tugas dimana tiap anggota melaksanakan fungsinya yang saling mengisi dan melengkapi

B.  Metode

Metode yang digunakan dalam melaksanakan pengawasan sekolah sangat bervariasi, bergantung kepada situasi dan kondisi yang dihadapi pada saat melaksanakan pengawasan. Secara garis besar dapat penulis uraikan sebagai berikut:

  1. Observasi langsung, yaitu pengawas secara langsung mengamati objek pengawasan. Metode tersebut oleh pengawas digunakan untuk melakukan supervise kunjungan kelas untuk mengamati penampilan guru dalam pelaksanaan pembelajar
  2. Wawancara baik secara langsung maupun berbasis ICT dimaksudkan untuk memperoleh data/informasi yang lebih akurat.

Metode tersebut digunakan untuk menggali data dari beberapa stakeholder sekolah terhadap :Pemenuhan delapan standar nasional pendidikan SNP) dan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Dan data tersebut untuk cross check dengan data yang diperoleh dari pengisian kuesioner tertutup .

  1. Kunjungan kelas dilakukan pengawas khususnya untuk memperoleh gambaran nyata tentang proses pembelajaran, baik melalui supervisi kelas maupun supervisi klinis.
  2. Pemodelan dilakukan pengawas untuk memberikan gambaran nyata atau contoh langsung. Model dapat diambil dari salah satu guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan lain, atau bahkan pengawas sekolahnya.
  3. Dengar pendapat diperlukan bila menghadapi permasalahan tertentu di sekolah binaan, dimaksudkan untuk memperoleh masukan yang lebih lengkap dan akurat tentang permasalah yang sedang dibahas/dihadapi.
  4. Pendidikan dan pelatihan atau BIMTEK dimaksudkan untuk membekali guru, kepala sekolah atau tenaga kependidikan lainnya sesuai situasi dan kebutuhan.
  5. Workshop diadakan sesuai kebutuhan sekolah binaan, dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan SDM di sekolah binaan.
  6. Sharing hampir serupa dengan dengar pendapat, hanya penekanannya lebih kepada upaya untuk berbagi pengalaman dan pendapat, tidak harus ada kasus khusus di sekolah. Sharing bisa dilakukan kapan saja dan dengan media yang lebih luas.
  7. Studi dokumen dimaksudkan untuk memperoleh gambaran nyata dan bukti fisik/ autentik tentang keterlaksanaan suatu kegiatan. Jadi studi dokumenter tidak sekedar mengumpulkan dan menuliskan atau melaporkan dalam bentuk kutipan-kutipan tentang sejumlah dokumuen yang dilaporkan dalam penelitian adalah hasil analisis terhadap dokumen-dokumen tersebut. Metode tersebut digunakan untuk meneliti RPP untuk dianalisis dibandingkan dengan aturan standar proses .

Dari beberapa pendekatan dan metode diatas pada intinya digunakan untuk saling melengkapi dalam upaya mendapatkan data yang valid dan akuntabel untuk dijadikan dasar pembuatan pelaporan .

BAB IV

HASIL PENGAWASAN DAN PEMBAHASAN

  1. A.    Deskripsi Kondisi Awal Objek Pengawasan

Pengawasan dilakukan di satuan pendidikan sesuai wilayah binaan  masing-masing pengawas. Pada  Tahun Pelajaran 2011/2012, objek (guru / sekolah) yang menjadi binaan penulis meliputi 67 orang guru matematuka dan TIK di 32  SMA/SMK kabupaten Dompu .Serta ada 3 (tiga) sekolah binaan khusus.  Dari hasil pengawasan tahun sebelumnya guru-guru pada sekolah-sekolah tersebut dan sekolah binaan khusus , pada umumnya belum menunjukkan hasil yang  memuaskan, sebagaimana tabel berikut :

(TABEL : I )

Untuk peningkatan status kinerja guru maupun sekolah- sekolah  masih ada peluang  dari beberapa sekolah maupun guru  yang  mendapat kategori B menuju ke A, dari yang kategori C menuju B dan dari yang D menuju C . sedangkan yang lain ada beberapa sekolah yang kecil kemungkinan untuk dipacu menuju SSN karena berbagai kendala, terutama pada keterbatasan lahan dan sumber daya pendukung.

Berdasarkan fakta di atas maka penulis telah mencoba meningkatkan efektifitas kepengawsan melalui aplikasi pendekatan yang berbeda, sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing sekolah, dalam upaya untuk mencapai hasil yang lebih baik.

  1. A.    Deskripsi Hasil Pengawasan

Pengawasan yang dilakukan pada pada semster Gazal tahun pelajaran 2012  /2013   mengacu pada rencana pengawasan yang bersifat  akademik dan manajerial.  Pengawasan akademik difokuskan pada pencapaian kompetensi pendidik (guru), sementara pengawasan manajerial lebih difokuskan pada kemampuan kepala sekolah dan tenaga kependidikan lainnya dalam pengelolaan satuan pendidikan (Sekolah).

Kepengawasan akademik yang dilakukan ditekankan pada aspek pencapaian standar isi dan standar proses yang meliputi dokumen Administrasi perencanaan pembelajaran , silabus dan RPP dan supervisi kunjungan kelas. Sementara kepengawasan manajerial penekanannya pada aspek kelengkapan dokumen administrasi sebagai bukti fisik bahwa pengelolaan sekolah sudah dilaksanakan dengan baik. Bukti fisik dokumen terutama pada Penerimaan siswa baru (PSB), Ulangan Harian, Ulangan Tengah Semester (UTS) dan Ulangan Akhir Semester (UAS) semseter ganjil 2012/2013 , dan dokumen Kurikulum tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Waktu pelaksanaan pengawasan mengacu pada Program Tahunan (PROTA) dan Program Semester (PROMES) yang telah disusun sebelumnya.

Berikut disajikan dalam bentuk tabel / matrik diskripsi pembahasan.Hal tersebut dimaksudkan  agar mudah melihat permasalahan yang ada di setiap sekolah binaan dan tindak lanjut apa yang dilakukan .

1.      Hasil Pemantuan PSB/PPDB

a.      Tabel 2 : SMAN 1 Kempo

b.      Tabel 3 : SMA TD KOSGORO

c.       Tabel 4 : SMAN 3 WOJA

d.      Tabel 5 : Hasil Pemantauan Pelaksanaan 8 SNP

1.       Hasil Penilaian Kinerja Guru Matematika dan TIK/KKPI

      Tabel 6: Kategori dan kulaifikasi kinerja guru pada tabel berikut :

a. Tabel 7:Hasil Penilaian Kinerja Guru Merencanakan  Pembelajaran

Data hasil penilaian kinerja guru matematika dan TIK merencanakan  pembelajaran  disajikan dalam bentuk tabel berikut :

a.      Tabel 8: Hasil Penilaian Kinerja Guru Melaksanakan Pembelajaran

Data hasil penilaian kinerja guru melaksanakan  pembelajaran  disajikan dalam bentuk tabel  berikut:

Tabel 9: Hasil Penilaian Kinerja Guru Melaksanakan Penilaian Pembelajaran

Data hasil penilaian kinerja guru melaksanakan  penilaian pembelajaran  disajikan dalam bentuk tabel    berikut:

  1. Tabel 10:Nilai Akhir Kinerja Guru Matematika , TIK /KKPI Kab.Dompu
  2. Hasil Penilaian Guru Sekolah Binaan Khusus Sman 1 Kempo
  3. Tabel,11: Data Kinerja guru membuat administasi perencanaan pembelajaran  disajikan dalam bentuk tabel berikut :
  4. Tabel 12:Data Kinerja Guru Melaksanakan Pembelajaran disajikan dalam bentuk tabel  berikut
  5. Tabel 13: Data Kinerja Guru Melaksanakan Penilaian Pembelajaran disajikan dalam bentuk tabel  berikut:
  6. Tabel 14: Nilai Akhir Kinerja Guru SMAN 1 Kempo
  7. Hasil Penilaian Guru Sekolah Binaan Khusus SMA TD Kosgoro Dompu
  8. Tabel 15: Data Kinerja guru membuat administasi perencanaan pembelajaran  disajikan dalam bentuk tabel berikut :
  9. Tabel 16:Data Kinerja Guru Melaksanakan Pembelajaran disajikan dalam bentuk tabel  berikut:
  10. Tabel 17:Data Kinerja Guru Melaksanakan Penilaian Pembelajaran disajikan dalam bentuk tabel  berikut:
  11. Tabel 18:Nilai Akhir Kinerja Guru SMA TD Kosgoro Dompu
  12. Hasil Pembimbingan dan Pelatihan Profesional Guru
  13. Tabel 19 :Pra Pembinaan Minat Guru Terhadap  PTK (Evaluasi Diri)
  14. Tabel 20:Pra Pembinaan: Kemampuan Guru Melaksanakan PTK
  15. Tabel 18:Hasil Pembimbingan Penulisan Karya Tulis Ilmiah (PTK)
  16. Tabel 19: Hasil Penilaian PTK
  1. A.    Pembahasan Hasil Pengawasan
    1. 1.      Penilaian Kinerja Guru

Penilaian kinerja guru yang dimaksud adalah penilain kinerja guru dalam merencanakan pembelajaran yang meliputi administrasi pembelajaran , dan pembuatan silabus dan RPP. Serata Penampilan Guru dalam pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan Permendiknas nomor 41 tahun 2007 tentang standar Proses yang mengamanatkan seorang guru wajib merencanakan proses pembelajaran , melaksanakan proses pembelajaran , melakukan proses penilaian hasil pembelajaran dan pengawasan proses pembelajaran .

Penilaian pada RPP difokuskan pada komponen : a).Tujuan pembelajaran , b).bahan belajar , c).metode pembelajaran , d).media pembelajaran dan  e). evaluasi

Sedangkan penilaian pada penampilan guru dalam pelaksanaan pembelajaran difokuskan pada : a). Kegiatan Pendahuluan, b). Kegiatan Inti ( Eksplorasi, Elaborasi dan Komfirmasi ) dan c). Kegiatan Penutup .

Dari hasil penilaian kinerja 85 guru matematika dan TIK didapatkan hasil pengolahan data sebagai berikut :

1). Nilai rata-rata Kinerja guru pembuatan persipan pembelajaran   adalah 83,40  (termasuk dalam kategori  B, baik ), dengan  presentase kinerja kategori A 14,12%. Presentase kinerja kategori B 85.88% . Presentase kinerja kategori C dan  0% atau tidak ada guru yang mempunyai kinerja C dan D untuk komponen perencanaan pembelanjara .Dari hasil supervise kinerja guru membuat administrasi perencanaan pebelajaran disimpulnan   berada pada kategori A dan B. Dari tiap komponen perencanaan pembelajaran yang belum lengkap atau masih ditingkatkan  adalah berturut-turut : komponen Analisis SK/KD, RPP, Dokumen KKM, dan silabus.

2). Nilai rata-rata Kinerja guru dalam pelaksanaan pembelajaran   adalah 75,34  (kategori B ) dengan presentase kinerja kategori A=11,76% , Kategori B=88,24%, kategori C dan D  =0% atau tidak ada guru yang nilai kinerja C atau D pada komponen pelksanaan pembelajaran.

3). Nilai rata-rata Kinerja guru dalam penilaian  pembelajaran   adalah 82,35  (kategori B ) dengan presentase kinerja kategori A=22,35% , Kategori B=77,65%, kategori C dan D  =0% atau tidak ada guru yang nilai kinerja C atau D pada komponen penilaian  pembelajaran.

(N. Persiapan pemb) + (2 x N. pel pemb )+(N. Penilaian Pembel)

NA KG=

4

= 79,11 = Kategori Baik (B)

Dengan demikian dari rangkuman instrumen hasil supervisi diketahui indikator keberhasilan kepengawasan akademik mencapai 79,11 artinya bahwa secara umum kemampuan rata-rata guru yang telah dijadikan objek supervisi perencanaan , pelaksanaan, dan penialain pembelajaran dalak kategori BAIK. Sedangkan untuk guru yang belum sempat disupervisi pengawas, pelaksanaannya diserahkan kepada kepala sekolah masing-masing.

Berikut disajikan dalam bentuk tabel / matrik diskripsi pembahasan, agar mudah melihat permasalahan yang ada di setiap sekolah binaan dan tindak lanjut apa yang dilakukan .

Tabel 20 :Diskripsi matrik pembahasan

  1. 1.         Pemantauan 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan

Pemantauan 8 standar nasional meliputi standar Isi dan SKL , standar Proses ,standar  Pendidik dan tenaga kependidikan ,standar sarpras ,standar pengelolaan ,standar pembiayaan , standar penilaian dan Dukungan eksternal .Dari hasil pemantauan tersebut telah dipaparkan di atas dan bisa kita lihat ketercapaian 8 standar nasional pendidikan di setiap sekolah .

Berikut ini akan dibahas mengenai permasalahan atau kendala yang dihadapi sekolah sekaligus memberi alternative untuk pemecahan masalah /tindak lanjut dalam upaya tercapainya pemenuhan 8 standar nasional pendidikan .

Tabel 21:CAPAIAN SNP SMAN 1 KEMPO

Tabel 22:CAPAIAN SNP SMA KOSGORO DOMPU

Tabel 23:CAPAIAN SNP SMAN 3 WOJA

1.            Pembimbingan dan Pelatihan Profesional Guru

Melihat data Pembimbingan dan Pelatihan Profesional Guru dalam PTK  di atas, dapat disimpulkan bahwa guru banyak yang belum pernah melaksanakan penelitian tindakan kelas. Tetapi guru–guru sebagian besar kurang berani menyatakan tidak tahu atau tidak memahami tentang penelitian tindakan kelas. Alasan sementara yang diperoleh berdasarkan wawancara masih banyak tugas lain yang harus dikerjakan.

Pembahasan terhadap permasalahan penelitian tindakan kelas dan profil kelompok guru SMP/SMA/SMK  Negeri maupun Swasta di Kabupaten Dompu sebagai berikut.

Tabel 24 Berikut adalah profil guru sesudah mengikuti pembinaan tentang penelitian tindakan kelas.

Keterangan:

85,01 %  -  100 %         =  Sangat Baik

70,01 %  -  85,00%       =  Baik

56,01 %  - 70,00 %       =  Cukup

≤ 56                              =  Kurang

Pada tabel 16 merupakan gambaran kondisi yang sebenarnya karena belum mendapat pembinaan, sebagai bukti bahwa guru-guru yang menyatakan belum pernah melaksanakan penelitian tindakan kelas (PTK) cukup banyak mencapai 81,37%. Kemudian setelah menerima pembinnaan pada minat guru terhadap penelitian tindakan kelas (PTK) seperti yang terlihat pada tabel 24 menunjukkan yang “sangat berminat” 67,24 % dan 31,07 %, “sedikit berminat” dan yang “belum berminat” pun masih ada 1,70 %. Hal ini membuktikan bahwa guru-guru ada keinginan untuk melaksanakan PTK, namun masih ada beberapa kendala seperti hasil wawancara bahwa guru-guru belum pernah mengikuti pelatihan khusus tentang PTK dan banyak pekerjaan lain yang harus dikerjakan, tetapi saya berkeyakinan apabila dimotivasi dan didorong terus dengan berbagai pendekatan dan diberi peluang apalagi reward oleh kepala sekolah, lambat laun guru-guru akan termotivasi untuk melaksanakan dan akan membuahkan PTK.

Evaluasi diri setelah pembinaan tentang PTK guru-guru yang sangat memahami PTK mencapai 39,34 % dan yang memahami sebagian 57,77 % , yang tahu akan manfaat PTK 70,84% dan yang tahu sebagian 29,16% berarti tidak ada yang tidak tahu akan manfaat PTK. Tetapi tentang prinsip-peinsip PTK masih ada yang belum tahu seperti terlihat pada tabel 24.

Dari hasil pembinaan PTK  tersebut, ketercapaian rata-rata untuk minan dan evaluasi diri yang “sangat memahami PTK” 39,34 % tergolong masih sangat kurang, yang “memahami sebagian” 57,77% tergolong cukup, tetapi bila digabung hanya memahami saja tergolong “sangat baik” 97,11%. Fokus utama sebetulnya berkenaan dengan minat guru untuk melaksanakan PTK, melihat rata-rata dari 3 kali pembinaan menunjukkan “sangat berminat” 67,24  berarti baru tergolong cukup, dan yang “sedikit berminat” 31,07% , jadi bila dilihat dari sisi minatnya tergolong “sangat baik” menunjukkan 98,31%. Yang tahu tentang manfaat PTK 70,84% berarti tergolong “Baik”, tetapi bila digabungkan dengan tahu sebagian 29,16 berarti tergolong ‘sangat baik” dan yang “tahu” prinsip-prinsip PTK 38,78 % yang “tahu sebagian” 56,00 % berarti tergolong “sangat baik” 94,78 %. Bila dihitung rata-rata keseluruhan tabel 3 sesuai dengan yang diharapkan mencapai 54,05 % tergolong “Kurang”  berarti masih sangat perlu pembinaan.

Secara keseluruhan bisa dilihat pada tabel 24, dari hasil pembinaan  terbukti bahwa minat guru untuk melaksanakan PTK ada peningkatan. Peningkatan minat seperti yang tertuang pada tabel 24 di atas, memungkinkan pembinaan masih perlu terus dilaksanakan dan penelitian pun perlu ditindak-lanjuti, jangan sampai ada anggapan karena sudah 3 kali diberi bimbingan oleh pengawas, maka jawaban yang diberikan kurang cocok tujuan pembinaan. Melalui pembinaan hanya merupakan salah satu cara agar guru memiliki keinginan untuk mengembangkan kreativitasnya dalam menulis berbagai kejadian selama pembelajaran dan dituangkan menjadi sebuah penelitian tindakan kelas (PTK). Yang pasti, apabila ada kemauan pasti ada hasil walaupun tidak banyak. Pada tabel berikut menggambarkan kemampuan guru sebagai modal dasar untuk melaksanakan PTK dengan perhitungan dari siklus ke siklus dan dari jawaban yang diharapkan/benar di gabung dan dihitung rata-ratanya.

BAB V

PENUTUP

 

  1. Simpulan

Berdasarkan uraian pada bab sebelumnya dapat ditarik kesimpulan bahwa kepengawasan (supervisi) dan pembinaan yang dilakukan secara intens dan berkesinambungan melalui pendekatan dan metode yang sesuai dapat meningkatkan hasil kepengawasan baik akademik maupun manajerial.

Peningkatan kemampuan guru dalam menyusun perencanaan dan melaksanakan pembelajaran memang tidak bisa instan, serta belum mampu menjangkau semua guru di wilayah binaan. Untuk itu perlu pembinaan intens dan  terus-menerus  agar kemampuan profesional guru semakin meningkat, terutama di sekolah-sekolah swasta kecil.

Peningkatan kemampuan kepala sekolah dan tenaga kependidikan lainnya dalam mengelola sekolah sudah semakin baik, meski masih ada sekolah yang sangat sulit untuk ditingkatkan statusnya karena keterbatasan dalam segala aspek/komponen. Di sinilah peran pengawas selaku supervisor dan konsultan sangat diperlukan untuk membuat pengelolaan pendidikan menjadi semakin baik.

  1. Rekomendasi

Berdasarkan pada hasil dan kesimpulan di atas penulis menyampaikan rekomendasi kepada kepala dinas dan para pengambil kebijakan di bidang pendidikan,:

Bagi Pemangku kepentingan di tingkat Kabupaten :

  1. Untuk Peningkatan kinerja guru :
    1. Untuk meningkatkan kinerja guru , pemangku kepentingan tingkat Kabupaten perlu membuat kebijakan tentang pemenuhan standar sarana dan prasarana .Seperti yang segera dipenuhi RKB,Ruang multi media ,Lap Top , LCD .
    2. Sosialisasi Permendiknas no.41 th.2007 tentang standar proses terus dilakukan selama penyusunan RPP belum mengacu ke sana .
    3. Adanya pelatihan pemanfaatan computer mikro sebagai alat bantu / media pembelajaran .Misal dengan aplikasi software : power point ,Ms word dan Exel atau yang lain selama membantu guru dalam PBM.
  2. Untuk Pemenuhan 8 (delapan standar nasional pendidikan )
    1. Dinas pendidikan dalam upaya pemberian grant/bentuk bantuan apapun  ke sekolah agar melibatkan pengawas sekolah. Karena Pengawas sekolah yang lebih mengetahui kondisi sebenarnya di sekolah .Hal ini sangat penting karena banyak sekolah yang semestinya wajib mendapat bantuan ternyata bantuan itu diberikan ke sekolah yang mestinya tidak perlu .
    2. agar peran pengawas lebih dioptimalkan, karena  pengawaslah ujung tombak dalam melakukan pembinaan di sekolah-sekolah dalam rangka mewujudkan  pendidikan yang berkualitas, baik di bidang akademik maupun manajerial.

Bagi Kepala sekolah

  1. Meningkatkan intensitas pemeriksaan perencanaan pembelajaran yang disusun oleh guru
  2. Meningkatkan intensitas supervise akademik /kunjungan kelas untuk mengetahui penampilan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan guru sebagai bentuk implementasi penyusunan RPP.

0.COVER LAPORAN 2012

1.Laporan Kepengawasan akdmk – mnjral

2.OK. 01.Data laporan, REKAP LAPORAN SMA/smk

buku-kerja-pengawas-sekolah1

 

TANTANGAN GURU DAN PENGAWAS SEKOLAH MENGHADAPI PERKEMBANGAN PEMBELAJARAN SISWA


Oleh:Baedhowi Dosen FKIP – UNS Surakarta

Disampaikan pada acara Forum Ilmiah Guru dan Forum Komunikasi Best Practice, dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional, Bogor 27-30 Nopember 2012

Visi 2025 : “Mengangkat Indonesia menjadi negara maju dan merupakan kekuatan 12 besar dunia di tahun 2025 dan 8 besar dunia pada tahun 2045 melalui pertumbuhan ekonomi tinggi yang inklusif dan berkelanjutan

•2010
•PDB ~ US$ 700 Milyar
•Pendapatan/kap US$ 3,000 (2010)
•Terbesar ke-17 besar dunia
•2025
•PDB: 3,8 – 4,5 Trilyun US$
•Pendapatan/kap:
•13.000 – 16.100 US$
•Terbesar ke-12 dunia
•Proyeksi KEN Pendapatan/kapita ~US$ 14,900 (high income country)
•2045
•PDB ~US$ 16.6 Trilyun
•Prediksi Pendapatan/kapita ~US$  46,900
•Diprediksi menjadi terbesar ke-7 atau ke-8 dunia*)

Pencapaian Visi 2025 dan 2045 memerlukan penyiapan generasi yang mampu berperan aktif dalam kegiatan pembangunan. Dan harus dimulai sekarang dan generasi sekarang (PAUD)

Realita yang Kita Hadapi :
•Dunia semakin mengglobal. Small world with high complexity. Modernity. (perubahan geo-politik, pemanasan global,  ledakan pertumbuhan populasi dunia, perebutan sumber daya alam)
•Terjadi ledakan pertumbuhan di bidang informasi dan komunikasi (perang tarif di bidang komunikasi, model perangkat HP baru bermunculan setiap hari)
•Banyak pekerjaan-pekerjaan lama (stenografi, reparasi mesin ketik, tukang patri, dll) hilang digantikan oleh profesi baru (system integrator, genetic counselor,  hairstylist cosmetologist)
•Perbedaan pendapatan antara highly skilled labours dan low skilled labours semakin lama semakin tajam
Siapa pemenang abad – 21 ?
• Mereka yang memiliki kreatifitas di atas rata-rata
•ketrampilan analitis yang kuat
•Kerampilan melihat ke depan
•Ketrampilan bergaul

Para OTAK KANAN, yaitu :

-  Perancang, pencipta, pendengar, pemikir gambaran besar, pembuat arti, pengenal pola

– mereka yang tahu cara mengoptimalkan dan menyiasati fakta secara kreatif. Semua dilakukan sambil menguasai cara kerja yang efektif dalam tim

DSCN6882DSCN6880 DSCN6879 DSCN6878 DSCN6877 DSCN6868 DSCN6869 DSCN6870 DSCN6872 DSCN6867 DSCN6866 DSCN6864 DSCN6863 DSCN6859 DSCN6860 DSCN6861 DSCN6862 299940_4998642692646_1604004831_n(1) DSCN6856 DSCN6857 DSCN6858 154430_4998647932777_20188299_n 182354_4998656853000_1928576956_n(1) 182354_4998656853000_1928576956_n 205201_4998654732947_802895085_n 74261_4998656692996_190020068_n 74195_4998651852875_917639090_n 68865_4998641212609_1405087941_n DSCN6882
Mr.Wahid's Blog

Media Belajar Mengajar Inspirasi dan Kreativitas

SeNdiMat

Seminar Nasional Pendidikan Matematika

I Wayan Widana

This site is dedicated for mathematic learning development

Layanan Pendidik & Tenaga Kependidikan (PTK)

Laman Layanan Untuk Pendidik dan Tenaga Kependidikan

sejarahdompu

Just another WordPress.com site

SUAIDINMATH'S BLOG

Technology Based Education

tentang PENDIDIKAN

konseling, pembelajaran, dan manajemen pendidikan

SUKSES SELALU

NIKMATILAH HIDUP..BEKERJA DENGAN ENJOY...JANGAN LUPA BERDOA.

PTK THE FRONTIERS OF NEW TECHNOLOGY

Smile! You’re at the best WordPress.com site ever

educatinalwithptk

PTK The Frontiers Of New Technology

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 125 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: