PERANAN GURU UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN

10428260_857548197606127_4298609028369524491_oUpaya peningkatan kualitas pendidikan hingga dewasa ini masih merupakan kegiatan yang terus digalakkan. Hal ini tidak saja disebabkan olej tuntutan laju perkembangan IPTEK maaupun tuntutan masyarakat kita yang sedang membangun, tetapi juga tuntutan profesionalisme dalam berbagai sektor di bidang pendidikan. Tidaklah mengherankan jika para guru termasuk dosen dituntut kemampuan profesional yang lebih memadai agar mampu mengembang berbagai tugas lembaga pendidikan. Para guru dan Dosen dewasa ini secara khusus lebih dituntut kemampuan memahami metode , pendeketan dan teknik penelitian serta kemampuan menulis karya ilmiah baik sebagai hasil penelitian , penulisan bahan ajar LKS,Modul dll sebagainya serta kemapuan menulis berbagai informasi ilmiah ataupun kemampuan transformasi ilmu dan teknologi. sebagaai dasar penilaian kinerja dan profesiolalismenya.
Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat (long Life education). Setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapan dan dimanapun ia berada. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Dengan demikian pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing, di samping memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang baik. Pendidikan itu sendiri bermakna sebagai upaya membantu peserta didik untuk mengembangkan dan meningkatkan pengetahuan, kecakapan, nilai, sikap dan pola tingkah laku yang berguna bagi hidupnya ( Kamus pendidikan menurut St. Vembriarto ; Jakarta tahun 1994 )
Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia untuk meneruskan pembangunan di negara Indonesia.
Mutu pendidikan sangat berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia. Di sisi lain, tantangan global dan internal mengharuskan kita memanfaatkan sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) Indonesia untuk menjadi negara yang kuat dan besar.Dalam konteks pendidikan, pengertian mutu pendidikan mengacu pada proses pendidikan dan hasil pendidikan. Dalam proses pendidikan yang bermutu terlibat berbagai input, seperti : bahan ajar yang bersifat kognitif, afektif dan psikomotor , metodologi yang bervariasi sesuai kemampuan guru , sarana sekolah, dukungan administrasi, sarana prasarana dan sumber daya lainnya serta penciptaan suasana yang kondusif.
Mutu dalam konteks hasil pendidikan mengacu pada prestasi yang dicapai oleh sekolah pada setiap kurun waktu tertentu ( bisa setiap akhir semester, akhir tahun, 2 tahun atau 5 tahun, bahkan 10 tahun ). Prestasi yang dicapai atau hasil pendidikan ( student achievement ) dapat berupa hasil tes kemampuan akademis ( misalnya ulangan umum dan ujian nasional ). ( Sumber : Kilas Balik Pendidikan Nasional 2006; Departemen pendidikan Nasional )
Ada dua faktor yang mempengaruhi keberhasilan pendidikan yang berkualitas . Pertama: strategi pendidikan, mencakup : penyediaan buku–buku materi ajar dan alat belajar lainnya, penyediaan sarana pendidikan, pelatihan guru dan tenaga kependidikan lainnya. dan pengelolaan pendidikan. Kedua : pengelolaan pendidikan, yang selama ini tergantung pada kebijakan pemerintah.
Ada beberapa paradigma untuk mendasari pendidikan yang berkualitas yaitu, pembahasan kurikulum, pembaruan dalam proses pembelajaran, pembenahan manajemen pendidikan nasional, pembenahan pengelolaan guru dan mencari serta mengembangkan berbagai sumber alternatif pembiayaan pendidikan. Untuk menciptakan pendidikan yang berkualitas maka sekolah harus dinamis dan kreatif dalam melaksanakan perannya untuk mengupayakan peningkatan mutu pendidikan.
Pendidikan tinggi mencetak para sarjana yang kompeten sesuai dengan bidangnya masing – masing. Sebagai contoh Guru yang mencetak profesionalisme guru, dimana lembaga penyelenggara program dan model pendidikan guru mempengaruhi keunggulan khas keguruan ( pedagogical craft knowledge ) tetapi tidak menentukan mutu guru. Derajat mutu guru ditentukan oleh kualitas program, lembaga penyelenggara program, dan proses penyelenggaraan program yang akuntabilitasnya diukur melalui akreditasi.
Peranan guru untuk meningkatkan Mutu Pendidikan lahir dari sekian proses yang syarat cerita Oemar Bhakrie, Guru penuh derita, begitu kata sebagian kalangan, tetapi itulah kenyataannya. Tetapi peran besar dibalik gelar yang begitu di nafikkan oleh sebagian kalangan adalah bukti baru, bahwa pendidikan dan mutu pendidikan tidak akan pernah lepas dari Guru – Gurunya.
Guru dalam ranah psikologis adalah kelengkapan antara kebutuhan lahir dan kebutuhan batin pendidikan, antara kemandirian ragawi dan kemajuan jiwa pendidikan, untuk bersama-sama maju membimbing, mengarahkan dan mengembangkan alur gerak kualitas pendidikan di Indonesia.
Guru yang pada akhirnya sebagai pengajar sekaligus pendidik sebenarnya adalah profesi yang paling indah di dunia. Sebagai pendidik seorang sarjana
pendidikan sangat berperan memberikan kontribusi langsung dan terukur bagi bangsa kita dan dunia dengan membantu anak–anak muda mengenal pengetahuan dan keterampilan.
Mengajar memberikan tantangan sekaligus kesempatan yang tiada habisnya untuk berkembang. Ketika seorang Guru mengajar dan mendidik akan menguji keterampilan komunikasi interpersonal, pengetahuan akademis maupun kemampuan kepemimpinan seorang Guru tersebut. Sebagai seorang pendidik dan pengajar seorang Guru berkesempatan membagi semangat untuk belajar, memberikan inspirasi, motivasi dan tantangan kepada generasi muda untuk mengembangkan bakat dan kemampuan individual kepada generasi muda. Dan akan merasakan kebahagiaan ketika salah satu atau lebih di antara mereka sukses dalam menggapai cita – cita.
Semakin jelas kiranya peran Guru bagi kemajuan pendidikan di Indonesia.
Pertama, Guru dicetak, ditumbuhkembangkan dan diarahkan untuk semata-mata menjadi penerus dan pewaris dunia pendidikan di Indonesia.
Kedua, Guru dengan mengesampingkan berbagai isyu-isyu miring seputar ketidakprofesionalannya, adalah sarjana yang paling tahu tentang kondisi pendidikan di Indonesia.
Ketiga, Guru adalah betul-betul pribadi pendidik, bukan kebetulan berpribadian sebagai pendidik, bukan pula pribadi pendidik yang tidak betul.
Keempat, Guru adalah satu-satunya oase harapan di padang tandus pendidikan Indonesia, mereka pada akhirnya akan menjadi tumpuan harapan untuk menyelamatkan dunia pendidikan, dan mereka adalah guru pendidikan terbaik di negeri tercinta ini.
Tetap Maju Pendidikan Indonesia.

APA ITU MATRIKULASI?

Program matrikulasi diartikan sebagai kegiatan pemenuhan kompetensi peserta didik agar kesenjangan antara muatan/substansi dan pengalaman belajar (learning experience) dari kurikulum yang berbeda dapat dipenuhi sesuai dengan kompetensi yang harus dipenuhi. Kegiatan ini harus dikelola satuan pendidikan secara terencana, terarah, terprogram, dan dapat dipertanggungjawabkan.

MENCIPTAKAN MUTU PENDIDIKAN MELALUI PEMBELAJARAN YANG BERBASIS PTK

10487641_10202293083273983_1051815901_n

Seorang guru merupakan arsitek dalam pembelajaran sekaligus juga sebagai pelaksana termasuk di dalamnya melakukan evaluasi. Dalam UU Sisdiknas no. 20 tahun 2003 pasal 40 dituliskan bahwa pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban: (a) menciptakan suasana pembelajaran yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis dan dialogis; (b) mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan; (c) memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikannya.
Hal ini dipertegas lagi dengan adanya UU guru dan dosen No. 14 tahun

2005 yang menuliskan bahwa guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah (UU no. 14 tahun 2005; 2). Dalam UU no 14 tahun 2005 pasal 20 ayat a dikatakan bahwa dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berkewajiban untuk merencanakan, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, menilai, dan mengevaluasi hasil pembelajaran.
Perlunya PTK

Untuk merencanakan, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, menilai, dan mengevaluasi hasil pembelajaran diperlukan sebuah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya

sendiri dengan jalan merencanakan, melaksanakan, mengamati, dan melakukan refleksi diri melalui siklus-siklus yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pembelajaran. PTK dapat membantu guru memperbaiki mutu pembelajaran, meningkatkan profesionalitas guru, meningkatkan rasa percaya diri guru, memungkinkan guru secara aktif mengembangkan pengetahuan, dan keterampilannya. Dengan melakukan PTK, guru menjadi terbiasa menulis, dan sangat baik akibatnya bila guru sekolah negeri atau PNS akan mengikuti kenaikan pangkat, khususnya dari gol. IVA ke IVB yang mengharuskan guru untuk menuliskan karya tulis ilmiahnya. Begitu pun untuk guru sekolah swasta, PTK sangat penting untuk meningkatkan apresiasi, dan profesionalisme guru dalam mengajar. Apalagi dengan adanya program sertifikasi guru yang telah dicanangkan oleh pemerintah.
Selain itu, PTK akan menumbuhkan budaya meneliti di kalangan guru yang merupakan dampak dari pelaksanaan tindakan secara berkesinambungan, maka manfaat yang dapat diperoleh secara keseluruhan yaitu label inovasi pendidikan karena para guru semakin diberdayakan untuk mengambil berbagai prakarsa profesional secara mandiri. Sikap mandiri akan memicu lahirnya ”percaya diri” untuk mencoba hal-hal baru yang diduga dapat menuju perbaikan sistem pembelajaran. Sikap ingin selalu mencoba akan memicu peningkatan kinerja dan profesionalisme seorang guru secara berkesinambungan. Sehingga proses belajar sepanjang hayat terus terjadi pada dirinya.
PTK pada saat ini berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan mutu pembelajaran di kelas. Di ruangan kelas, menurut Cohen & Manion (1980: 211).

PTK dapat berfungsi sebagai : (a) alat untuk mengatasi masalah-masalah yang didiagnosis dalam situasi pembelajaran di kelas; (b) alat pelatihan dalam jabatan, membekali guru dengan keterampilan dan metode baru dan mendorong timbulnya kesadaran diri, khususnya melalui pengajaran sejawat; (c) alat untuk memasukkan ke dalam sistem yang ada (secara alami) pendekatan tambahan atau inovasi; (d) alat untuk meningkatkan komunikasi yang biasanya buruk antara guru dan peneliti; (e) alat untuk menyediakan alternatif bagi pendekatan yang subjektif, impresionistik terhadap pemecahan masalah kelas; (f) alat untuk mengembangkan keterampilan guru yang bertolak dari kebutuhan untuk menanggulangi berbagai permasalahan pembelajaran aktual yang dihadapi di kelasnya.
Setiap hari guru menghadapi banyak masalah, seakan-akan masalah itu tidak ada putus-putusnya. Merenunglah barang sejenak, atau mengobrollah dengan teman sejawat, maka guru akan segera menemukan seribu satu masalah yang telah merepotkannya selama ini dalam proses pembelajaran di sekolah. Lalu lakukan PTK, dan temukan khasanah ilmu pendidikan baru yang belum tergali. Para guru harus menjadikan dirinya sebagai penemu metode-metode baru dalam dunia pendidikan melalui PTK.
Adanya masalah yang dirasakan sendiri oleh guru dalam pembelajaran di kelasnya merupakan awal dimulainya PTK. Masalah tersebut dapat berupa masalah yang berhubungan dengan proses dan hasil belajar siswa yang tidak sesuai dengan harapan guru atau hal-hal lain yang berkaitan dengan perilaku mengajar guru dan perilaku belajar siswa. Guru diarahkan untuk berpikir ilmiah, melalui masalah yang mereka temukan. Langkah menemukan masalah akan

dilanjutkan dengan menganalisis dan merumuskan masalah, kemudian merencanakan PTK dalam bentuk tindakan perbaikan, mengamati, dan melakukan refleksi. Namun demikian harus dapat dibedakan antara pengamatan dengan refleksi. Pengamatan lebih cenderung kepada proses, sedangkan refleksi merupakan perenungan dari proses yang sudah dilakukan. Refleksi adalah cermin dari apa yang telah dilakukan oleh guru yang merangkap sebagai peneliti.
Untuk membuat siswa menjadi lebih aktif dan potensinya dapat berkembang secara optimal diperlukan penguasaan kompetensi seorang guru yang utuh dan menyeluruh. Salah satu kompetensi yang harus dilihat dari sudut pedagogik adalah kemampuan melakukan PTK. Oleh karena itu, sudah selayaknya para guru meningkatkan mutu pembelajarannya melalui PTK.

PROSES PENELITIAN

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 Tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah berisi standar kualifikasi dan kompetensi pengawas sekolah. Standar kualifikasi menjelaskan persyaratan akademik dan nonakademik untuk diangkat menjadi pengawas sekolah. Standar kompetensi memuat seperangkat kemampuan yang harus dimiliki dan dikuasai pengawas sekolah untuk dapat melaksanakan tugas pokok, fungsi dan tanggung jawabnya.
Ada enam dimensi kompetensi yang harus dikuasai pengawas sekolah yakni: (a) kompetensi kepribadian, (b) kompetensi supervisi manajerial, (c) kompetensi supervisi akademik, (d) kompetensi evaluasi pendidikan, (e) kompetensi penelitian dan pengembangan, dan (f) kompetensi sosial. Dari hasil uji kompetensi di beberapa daerah menunjukkan kompetensi pengawas sekolah masih perlu ditingkatkan terutama dimensi kompetensi supervisi manajerial, supervisi akademik, evaluasi pendidikan dan kompetensi peneli- tian dan pengembangan

Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh Pengawas Satuan Pendidikan adalah mampu melakukan penelitian. Hal ini karena pekerjaan pengawas adalah sebuah profesi yang menuntut peningkatan pengetahuan dan keterampilan terus menerus sejalan dengan perkembangan pendidikan di lapangan.
Setiap bidang pekerjaan selalu dihadapkan pada permasalahan yang selalu berkembang, baik berupa fenomena yang mengundang tanda tanya, maupun kesenjangan antara yang diharapkan dengan kenyataan. Permasalahan tersebut menuntut jawaban dan solusi yang dapat dipertanggung jawabkan.
Kedudukan pengawas sebagai pembina para guru dan kepala sekolah, mengharuskan dia memiliki kesiapan memberikan solusi bagi permasalahan yang mereka hadapi. Ia dapat saja mengandalkan pengalaman, baik dirinya sendiri maupun orang lain, mengambil teori dari buku-buku, atau bahkan mengandalkan intuisi. Hal ini tentu tidak selamanya memuaskan, karena yang dituntut darinya adalah professional judgement yang dapat dijadikan acuan.
Penelitian merupakan suatu bentuk kegiatan ilmiah untuk mendapatkan pengetahuan atau kebenaran. Ada dua teori kebenaran pengetahuan, yaitu teori koherensi dan korespondensi. Teori koherensi beranggapan bahwa suatu pernyataan dikatakan benar apabila sesuai dan tidak bertentangan dengan pernyataan sebelumnya. Aturan yang dipakai adalah logika berpikir atau berpikir logis. Sementara itu teori korenspondensi berasumsi bahwa sebuah pernyataan dipandang benar apabila sesuai dengan kenyataan (fakta atau realita). Untuk menemukan kebenaran yang logis dan didukung oleh fakta, maka harus dilakukan penelitian terlebih dahulu. Inilah hakikat penelitian sebagai kegiatan ilmiah atau sebagai proses the acquisition of knowledge.
Salah satu tahapan penting dalam penelitian adalah proses pelaksanaan penelitian khususnya pengumpulan data. Hal ini merupakan essensi penelitian, karena hakikatnya tidak ada penelitian tanpa pengumpulan data. Lebih jauh lagi, penelitian menjadi tidak bermakna dan bahkan akan menghasilkan kesimpulan yang salah manakala data yang dihasilkannya tidak valid. Untuk memperoleh data yang valid, selain harus digunakan instrumen yang baik (valid dan reliabel), juga harus dipertimbangkan cara pengambilan sampel yang benar-benar representatif terhadap jumlah dan karakteristik populasi.

PERANAN PENGAWAS DALAM PENGEMBANGAN KERJASAMA SEKOLAH

PERANAN PENGAWAS
DALAM PENGEMBANGAN KERJASAMA SEKOLAH

10428260_857548197606127_4298609028369524491_oA. Peranan Pengawas dalam Pengembangan Kerjasama Eksternal
Dari waktu ke waktu persoalan hubungan antara sekolah daengan masyarakat semakin menuntut perhatian. Sejalan dengan tingkat pendidikan, kesejahteraan, dan kemajuan masyarakat maka apresiasi dan aspirasi mereka terhadap lembaga pendidikan juga semakin meningkat. Aspek yang paling banyak mendapat sorotan tentu saja adalah mutu pendidikan, di samping transparansi pengelolaan. Baca lebih lanjut

KESEIMBANGAN SOFT SKILS DAN HARD SKILLS DALAM KURIKULUM 2013

10510377_10202293039392886_1255471219_n

Kurikulum tahun 2013 mengakomodir keseimbangan antara soft skils dan hard skills yang meliputi aspek kompetensi sikap, ketrampilan, dan pengetahuan. kompetensi dikembangkan melalui pembelajaran tematik terpadu yang dilaksanakan dengan pendekatan sains. image Pada kurikulum 2013 pembelajaran tematik terpadu diberlakukan di seluruh kelas di sekolah dasar. Model pembelajaran tematik terpadu perlu dikupas di dalam salah satu materi diklat yang akan diawali dari pengkajian ruang lingkup berbagai mata pelajaran. Kupasan atau kajian ini tentunya masih membutuhkan motivasi, kontribusi dan adaptasi dari pengawas, kepala sekolah, guru dan siswa setempat. Karena suatu model pembelajaran sangat cocok dengan siswa A di kelas A belum tentu cocok apabila disajikan untuk siswa B di tempat B. Ruang lingkup pengembangan pembelajaran tematik meliputi seluruh mata pelajaran yaitu: Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, Seni Budaya dan Prakarya, serta Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan yang disajikan secara terpadu dengan tema sebagai pemersatu. Pembelajaran Tematik meliputi berbagai mata pelajaran yang disajikan secara terpadu dengan tema sebagai pemersatunya. Untuk menyatukan berbagai kompetensi dasar dari berbagai mata pelajaran, perlu penelaahan atau kajian yang mendalam dengan mengacu pada standar kompetensi lulusan. Pembelajaran tematik disajikan secara fleksibel, tidak dipaksakan, melainkan mengalir begitu saja keterpaduannya, saling melengkapi, saling mengkait, dan tidak terpisahkan. Pelaksanaan pembelajarannya menggunakan pendekatan saintifik

Implikasi Pembelajaran Tematik di Sekolah Dasar

10484631_10202293082913974_303273551_n

a. Bagi guru

Pembelajaran tematik memerlukan guru yang kreatif baik dalam menyiapkan kegiatan/pengalaman belajar bagi anak, juga dalam memilih kompetensi dari berbagai mata pelajaran dan mengaturnya agar pembelajaran menjadi lebih bermakna, menarik, menyenangkan dan utuh.

b. Bagi siswa

1) Siswa harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang dalam pelaksanaannya dimungkinkan untuk bekerja baik secara individual, pasangan, kelompok kecil ataupun klasikal. 2) Siswa harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang bervariasi secara aktif misalnya melakukan diskusi kelompok, mengadakan penelitian sederhana, dan pemecahan masalah

c. Terhadap sarana prasarana, sumber belajar dan media pembelajaran.

<

p style=”text-align:justify;”>1) Pembelajaran tematik pada hakekatnya menekankan pada siswa baik secara individual maupun kelompok untuk aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip secara holistik dan otentik. Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya memerlukan berbagai sarana dan prasarana belajar. 2) Pembelajaran ini perlu memanfaatkan berbagai sumber belajar baik yang sifatnya didesain secara khusus untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran (by design), maupun sumber belajar yang tersedia di lingkungan yang dapat dimanfaatkan (by utilization). 3) Pembelajaran ini juga perlu mengoptimalkan penggunaan media pembelajaran yang bervariasi untuk membantu siswa dalam memahami konsep-konsep yang abstrak. 4) Penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar menggunakan buku ajar yang sudah ada saat ini demikian pula cara guru membelajarkannya. Namun masih dimungkinkan pula untuk menggunakan buku suplemen sebagai bahan pengembangan. …. Baca Selengkapnya di : http://www.m-edukasi.web.id/2014/08/implikasi-pembelajaran-tematik-di.html#_
Copyright http://www.m-edukasi.web.id Media Pendidikan Indonesia