MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU DALAM MENERAPKAN STRATEGI PEMBELAJARAN “THINK-TALK-WRITE” SEBAGAI ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA PADA WILAYAH SMA BINAAN DI KABUPATEN DOMPU MELALUI SUPERVISI KOLABORATIF

Oleh: Drs. Suaidin
(Pengawas SMA/SMK Kabupaten Dompu NTB )

ABSTRACT

Suaidin, Drs , Improving Teacher Skills Learning Strategies in Implementing “Think – Talk – Write” As an Alternative Mathematical Problem Solving Patronage In The Area School District Dompu Through Collaborative Supervision

This study is based on the low learning achievement in mathematics in High School (SMA Negeri 1 Dompu, SMAN 1 Kempo, SMAN 2 Kempo, SMAN 1 Woja and SMA Tri Dharma Kosgoro Dompu). This happens because students do not achieve mastery learning as seen from the results of tests, whereas subjects of mathematics is a main lesson on all levels. Contributing factors of which are in the process of learning students sometimes lack the motivation to learn, low-absorption students, many students do not understand what is delivered by teachers due to lack of teachers to manage learning and poor teacher performance. These problems can be solved with assistance to teachers through collaborative supervision in carrying out the management of teaching from planning, implementation of teaching and learning, and evaluation.
The purpose of this study is the increase in Traffic teachers in implementing the strategy of “Think-Talk-Write” which will have implications on the increase in student learning outcomes in mathematics subjects, special on aspects of communication skills and problem solving at the level of Traffic think commonly found on Achievement Indicators at least competence in curriculum KTSP 2006. The method of this research is to study the action (action research) with a collaborative approach undertaken by two cycles.
Based on the results of action research can be concluded: (1) Supervision of an individual with a collaborative approach to give effect to increase the performance of high school mathematics teacher in the target area in the district of Dompu both components or learning plan implementation component of learning, and (2) increasing the impact on teacher performance improving mathematics learning outcomes of students ..

I. PENDAHULAUN
A. Latar Belakang.
Pemecahan masalah matematis merupakan bagian dari berpikir matematis tingkat tinggi yang bersifat kompleks, karena itu pembelajaran yang berfokus pada kemampuan tersebut memerlukan prasyarat konsep dan proses dari yang lebih rendah. Artinya kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematis siswa tidak ada tanpa kemampuan pemahaman yang baik. Hal ini meliputi materi maupun cara mempelajari atau mengajarkannya.. Salah satu keputusan yang perlu diambil guru tentang pembelajaran adalah pemilihan pendekatan dan strategi yang digunakan . Masih banyak guru matematika pada sekolah-sekolah binaan penulis, yang menganut paradigma transfer of knowledge, yang beranggapan bahwa siswa merupakan objek dari belajar. Dalam paradigma ini guru mendominasi dalam proses pembelajaran.. Kenyataan ini telah diungkapkan oleh Ruseffendi (1991:328), bahwa matematika yang dipelajari siswa di sekolah sebagian besar tidak diperoleh melalui eksplorasi matematika, tetapi melalui pemberitahuan oleh guru. Walaupun dominasi guru dalam proses pembelajaran matematika tidak selamanya tidak baik, karena terdapat guru yang karena ketegasannya di kelas membuat siswa menjadi lebih bersungguh-sungguh.
Kondisi pembelajaran dimana siswa belajar secara pasif, jelas tidak menguntungkan terhadap hasil belajarnya. Untuk itu perlu usaha guru agar siswa belajar secara aktif. Sejalan dengan pendapat tersebut Sumarmo (2000) mengatakan agar pembelajaran dapat memaksimalkan proses dan hasil belajar matematika, guru perlu mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam diskusi, bertanya serta menjawab pertanyaan, berpikir secara kritis, menjelaskan setiap jawaban yang diberikan, serta mengajukan alasan untuk setiap jawaban yang diajukan. Pembelajaran yang diberikan pada kondisi ini ditekankan pada penggunaan diskusi, baik diskusi dalam kelompok kecil maupun diskusi dalam kelas secara keseluruhan. Meskipun kesimpulan tersebut diambil berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap siswa sekolah dasar, namun pengembangannya sangat mungkin untuk siswa pada jenjang sekolah yang lebih tinggi.
Dengan mempertimbangkan beberapa pendapat di atas, penulis melakukan sebuah penelitian kolaboratif bersama guru-guru matematika di lingkungan SMA binaan Dinas Dikpora Kabupaten Dompu, dengan judul : “Meningkatkan Kemapuan Guru matematika Dalam Menerapkan Strategi Pembelajaran “ Think – Talk – Write “ Sebagai Alternatif Pemecahan Masalah Matematika Pada SMA Wilayah Binaan di Kabupaten Dompu Melalui Supervisi Kolaboratif “. Strategi pembelajaran yang digunakan ini mengharuskan siswa terlibat berpikir, berbicara, dan menulis dalam proses pembelajaran. Sedangkan model yang dipilih adalah pembelajaran dalam kelompok kecil dengan anggota 4 sampai 6 orang siswa yang dikelompokkan secara heterogen menurut kemampuan matematikanya. Pengelompokkan seperti ini dimaksudkan agar semua siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.
Kenyataan rendahnya hasil belajar siswa, yang terlihat dari hasil evaluasi belajar mata pelajaran matematika pada siswa SMA wilayah binaan penulis rata-rata 5,38 sedangkan hasil Ulangan Kenaikan Kelas (UKK) hanya mencapai ketuntasan rata-tara 59,17% menunjukkan bahwa nilai mata pelajaran Matematika siswa SMA di wilayah binaan masih jauh dari standar ketuntasan belajar, yang telah ditetapkan oleh masing-masing sekolah binaan. Hal ini jelas menunjukkan bahwa diperlukan upaya-upaya pendampingan aatau bimbingan secara intensif kepada guru-guru di sekolah binaan penulis secara kolaboratif dalam upaya peningkatan proses dan hasil belajar matematika . Pendampingan Pengawas dalam bentuk supervisi kolaboratif terhadap guru matematika dalam pengelola pembelajaran matematika menjadi sangat penting sehingga guru benar-benar dapat mengelola pembelajaran dengan sebaik-baiknya mulai dari perencanaan (materi, model belajar, media belajar, metode, sumber belajar, dan evaluasi), pelaksanaan pembelajaran sampai dengan evaluasi hasil belajar siswa.

B . Perumusan Masalah
1. Apakah pembimbingan dalam bentuk supervisi kolaboratif oleh pengawas terhadap guru mata pelajaran matematika dapat meningkatkan kinerja guru matematika dalam merencanakan dan menerapkan strategi pembelajaran “think-talk-wite ‘?
2. Apakah pembelajaran dengan strategi think-talk-write dalam kelompok kecil dapat meningkatkan proses dan hasil belajar matematika siswa?

C. Hipotesis Tindakan
”Diduga bahwa pembimbingan dalam bentuk supervisi kolaboratif oleh pengawas terhadap guru mata pelajaran matematika dalam merencanakan dan menerapkan strategi pembelajaran “think-talk-write” pada kelompok kecil dapat meningkatkan kinerja guru dan hasil belajar siswa.
.
D. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui peningkatan kinerja guru matematika dalam menerapkan strategi pembelajaran ”think-talk-write” dalam kelompok kecil melalui supervisi kolaboratif
b. Untuk mengetahui peningkatan proses dan hasil belajar matematika siswa dengan menggunakan strategi pembelajaran ” think-talk-write”
c. Meningkatkan kolaborasi yang sinergis antara pengawas dan guru-guru pada sekolah binaan dalam merencanakan dan menerapkan pembelajaran dengan strategi think-talk-write pada kelompok kecil sebagai alternatif pemecahan masalah-masalah dalam pembelajaran matematika di sekolah.
2. Manfaat Penelitian
a. Guru menemukan pendekatan dan strategi pembelajaran yang sesuai ( inovatif ) sehingga dapat dijadikan alternatif pemecahan masalah peembelajaran matematika siswa di sekolah.
b. Siswa lebih bebas mengekspresikan kemampuan komunikasi matematiknya, sehingga kemampuannya dalam pemecahan masalah matematika menjadi lebih baik , (kualitas proses dan hasil belajar siswa meningkat ).
c. Sekolah mendapatkan dampak positif dari terselenggaranya penelitian ini, karena kualitas siswa, guru dan pembelajaran semakin meningkat, yang sekaligus dapat meningkatkan kinerja sekolah

II. METODOLOGI PENELITIAN
A. Desain Penelitian Tindakan
Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan disain penelitian tindakan (action research) yang dirancang melalui dua siklus melalui prosedur: (1) perencanaan (planning), (2) pelaksanaan tindakan (action), (3) pengamatan (observation), (4) refleksi (reflecsion) dalam tiap-tiap siklus.

110

Gambar 2. Desain Penelitian Tindakan (action research)

Sumber: S Kemmis and R McTaggart, 1986)
B. Subjek Tindakan
Penelitian dilaksanakan terhadap semua guru matematika pada SMA yang menjadi binaan peneliti di Kabupaten Dompu seperti pada tabel berikut.

Tabel 3. Daftar sampel penelitian tindakan
00000

C. Metode dan Pelaksanaan Tindakan
Penelitian ini akan dilaksanakan pada semester ganjil tahun pelajaran 20010/2011. Pelaksanaan penelitian dilaksanakan sebanyak 2 ( dua ) Siklus yang dilaksanakan pada bulan Juli sd Nopember 2010. Subjek penelitian ini adalah guru yang mengajar matematika pada siswa Kelas XI IPA, SMA di Wilayah sekolah binaan peneliti. Sedangkan Siswa yang menjadi obyek penelitian memiliki karakteristik yang beragam, baik dari segi kemampuan, motivasi maupun latar belakang pengetahuannya.

D. Faktor yang Diteliti
Untuk berhasilnya tujuan penelitian, maka beberapa faktor yang diteliti dalam penelitian ini adalah:
a. Faktor Guru : Karena penelitian ini bersifat kolaboratif, maka hal-hal yang diamati selama berlangsungnya pembelajaran dalam penelitian ini adalah: apakah guru berhasil dalam menyampaikan konsep, membimbing dan memotivasi siswa.
b. Faktor Pembelajaran : Faktor yang diteliti dalam hal pembelajaran adalah: apakah perencanaan, metode, Strategi atau pendekatan pembelajaran dapat berjalan sesuai yang direncanakan.
c. Faktor Siswa : Siswa menjadi sentral utama dari penelitian ini. Semua kegiatan siswa selama berlangsungnya pembelajaran diamati dan dicatat perkembangannya untuk selanjutnya dilakukan perbaikan-perbaikan pada siklus pembelajaran selanjutnya. Aktivitas siswa selama berlangsungnya pembelajaran diamati dengan menggunakan instrumen Lembar Observasi.
d. Hasil Belajar : Prosentase ketuntasan hasil belajar siswa merupakan bagian penting yang diamati dalam penelitian ini. Siswa dianggap tuntas belajar apabila penguasaan materinya lebih dari atau sama dengan KKM yang telah ditetapkan , atau sesuai dengan Kriteria Ketuntasan Minimal yang ditetapkan dalam kurikulum SMA yang menjadi binaan peneliti..

E. Tahapan Pelaksanaan Penelitian
1. Siklus I
a. Perencanaan (Planning)
Dalam tahap perencanaan disiapkan hal-hal sebagai berikut: (a) menyiapkan bahan, inventarisasi kebutuhan dan inventarisasi masalah/kesulitan guru matematika dalam mengelola pembelajaran “ Think-Talk-Write” . (b) Fokus Group Discussion tentang hal-hal yang terkait dengan pembelajaran dengan strategi “Think-Talk-Write” dalam kelompok kecil yang dapat dilakukan untuk peningkatan kualitas pembelajaran matematika. (c) menyiapkan jadwal pelaksanaan supervise pendapingan pada setiap guru disesuaikan dengan kesiapan setiap guru. (d) Menyiapkan bahan dan alat yang dibutuhkan dalam pendampingan supervise kolaboratif.
b. Pelaksanaan Tindakan (Action)
Pada tahap ini dilaksanakan supervise pada setiap guru secara kolaboratif sesuai dengan jadwal yang telah direncanakan, yaitu: (a) Bimbingan terhadap guru dalam perencanaan pembelajaran “Think-Talk-Write”, mulai dari menyusun rencana pengajaran, menyiapkan metode, membuat media belajar, menyiapkan sumber belajar, dan menyiapkan alat evaluasi. (b) Bimbingan terhadap guru saat melaksanakan kegiatan belajar mengajar baik di dalam kelas maupun di luar kelas, sesuai dengan pokok bahasan dan materi yang akan diajarkan. (c) Bimbingan terhadap guru saat mengevaluasi hasil belajar terhadap siswa.
c. Pengamatan (Observation)
Pengamatan dilakukan pada setiap tahap penelitian, mulai dari tahap perencaaan dan pelaksanaan tindakan, kejadian dan hal-hal yang terjadi direkam dalam bentuk catatan-catatan hasil observasi, dan didokumentasikan sebagai data-data penelitian.
d. Refleksi (Reflection)
Pada akhir tiap siklus diadakan refleksi berdasarkan data observasi, dengan Refleksi ini dimaksudkan agar peneliti dapat melihat apakah tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini dapat meningkatkan kinerja guru dan hasil belajar siswa, kendala-kendala apa yang menghambat, faktor apa saja yang menjadi pendorong, dan alternatif apa sebagai solusinya. Pada penelitian ini refleksi yang dilakukan adalah dari hasil pengamatan input dan output kinerja guru dan hasil belajar siswa.
Sumber data penelitian ini adalah siswa, guru matemastika, peneliti. Jenis data yang dikumpulkan berupa data kuantitatif dan kualitatf, yang mencakup (a) rencana pendampingan, (b) pelaksanaan pendampingan, (c) data hasil observasi, (d) kinerja guru, (e) hasil belajar mata pelajaran matematika, (e) perubahan guru dan sikap siswa dalam mengikuti mata pelajaran matematika.
2. Siklus II
Kegiatan tindakan pada siklus II didasarkan atas temuan-temuan hasil dari siklus I, adapun langkah-langkah tindakan yang dikalukan sama dengan pada siklus I.

F. Teknik Pengumpulan Data & Instrumen Penelitian
Teknik pengumpulan data meliputi panduan observasi, panduan wawancara, jurnal kegiatan guru dan siswa, tes kinerja guru, dan tes pengukuran hasil belajar siswa. Adapun Instrumen pengumpul data yang digunaakan meliputi:(1).Pedoman observasi dan pengamatan (observasi), sebagai data untuk melihat kondisi guru Matematika dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajarnya. (2). Instrumen penilaian kinerja guru, untuk melihat kemajuan kinerja guru. (3). Instrumen penilaian hasil belajar siswa, sebagai salah satu indikator keberhasilan belajar mengajar guru.(4). Alat-alat dokumentasi sebagai perekam data-data penelitian yang dibutuhkan.

G. Teknik Analisis Data
Data yang terkumpul dalam penelitian ini dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif dianalisis dengan menggunakan analisis kategorial dan fungsional melalui model analisis interaktif (interactive model), yakni analisis yang dilakukan melalui empat komponen analisis: reduksi data, penyandian, dan verifikasi dilakukan secara simultan. Data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif.

III. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Refleksi Awal
Berdasarkan hasil refleksi awal kemampuan / kinerja guru mata pelajaran matematika pada SMA wilayah binaan peneliti di Kabupaten Dompu sebelum dilakukan tindakan pada siklus I, didapatkan tingkat kemapuan /kinerja guru seperti pada tabel berikut.

Tabel 4. Rekap presentase Kinerja Guru Matematika sebelum dilakukantindakan

000,

Dari tabel di atas terlihat bahwa kinerja guru matematika SMA hanya mencapai 52,9 %, yang meliputi komponen perencanaan pembelajaran sebesar 50.3 dan komponen pelaksanaan pembelajaran 54. Kategori persentase kinerja guru tersebut termasuk pada kategori yang sedang, perhatikan tabel berikut.
Tabel 5. Kategori dan Kualifikasi Kinerja Guru Matematika Sebelum Tindakan
No Rentang Kategori Kualifikasi
1 0 – 20 Sangat Rendah E
2 21 – 40 Rendah D
3 40 – 60 Sedang C
4 60 – 80 Tinggi B
5 80 – 100 Sangat Tinggi A

Persentase komponen perencanaan pembelajaran guru relatif lebih rendah dari pada komponen pelaksanaanya, hal ini menunjukkan bahwa guru belum begitu baik dalam merencanaakan pembelajarannya. Komponen perencanaan pembelajaran meliputi: (1) perumusan tujuan pembelajaran , (2) pemilihan dan pengorganisasian materi ajar (3) pemilihan sumber belajar/media pembelajaran (4) metode pembelajaran , dan (5) rencana penilaian hasil belajar.
Pada komponen pelaksanaan pembelajaran didapatkan persentase rata-rata skor kinerja yang paling rendah adalah kinerja guru dalam pemanfaatan sumber belajar yang relatif rendah dan juga pada bagian penutup pelajaran..Hal ini pada umumnya guru pada akhir sesi pembelajaran tidak memberikan refleksi atau membuat rangkuman yang melibatkan peserta didik, serta kurang memberikan arahan tindak lanjut, kegiatan untuk menambah pengayaan materi yang diajarkan kepada peserta didik. Pemanfaatan sumber belajar relatif kurang, media-media yang dapat digunakan untuk pembelajaran relatif kurang banyak dimanfaatkan. Hal-hal tersebut berdampak pada rendahnya hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran matematika pada sekolah binaan penulis sebagaimana urain terdahulu.

B. Hasil Tindakan Siklus I
Hasil refleksi awal dijadikan sebagai dasar untuk melakukan supervisi kolaboratif dengan pendekatan individual terhadap guru matemaika SMA wilayah binaan di kabupaten Dompu, supervisi yang dilakukan yaitu membantu menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi guru dalam pembelajaran matematika mulai dari perencanaan menyusun silabus dan RPP, pemilihan dan pengorganisasian materi ajar, pemilihan sumber belajar media, dan perencanaan untuk penilaian hasil belajar sampai dengan pelaksanaan pembelajaran dengan strateri ” Tingk-Talk-Write ”. Setiap langkah dibimbing dan diidentifikasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi guru selanjutnya diberikan solusi-solusi pada setiap permasalahan yang dihadapi guru, diberikan arahan-arahan yang operasional dan mudah dilaksanakan oleh guru, yang selanjutnya dapat memberikan kemudahan belajar para peserta didik.Tindakan supervisi dilakukan dengan pendekatan secara kolaboratif.
Berdasarkan hasil pengamatan permasalahan yang dihadapi oleh setiap guru relatif bervariasi, namun pada umumnya hampir sama yaitu guru enggan menyiapkan media pembelajaran. Selanjutnya setiap guru disarankan untuk menggunakan media CD interaktif dan Microsoft Power Point untuk menyampaikan materi pembelajarannya, Hasil tes kinerja setelah dilakukan tindakan pada siklus I didapatkan seperti pada tabel berikut.
Tabel 4. Rekap Data Kinerja Guru Matematika sebelum dilakukan tindakan

000,

Dari tabel di atas terlihat bahwa kinerja guru matematika SMA dalam menerapkan strategi pembelajaran Think-Talk-Write setelah dilakukan supervisi melalui pendekatan kolaboratif didapatkan persentase skor kinerja guru mengalami peningkatan dari 52.9 menjadi 62.8. Kategori persentase kinerja guru tersebut termasuk pada kategori yang tinggi dengan tingkat kualifikasi B, perhatikan Tabel berikut.

Tabel 8. Kinerja Guru Matematika Pasca Tindakan siklus I
No Rentang Kategori Kualifikasi
1 0 – 20 Sangat Rendah E
2 21 – 40 Rendah D
3 40 – 60 Sedang C
4 60 – 80 Tinggi B
5 80 – 100 Sangat Tinggi A

Persentase semua aspek terjadi peningkatan , dengan hasil persentasi sebagai berikut: Komponen perencanaan pembelajaran sebesar 50.3 menjadi 69,1 dan komponen pelaksanaan pembelajaran dari 54 menjadi 60.0%. Nampak bahwa pada komponen perencanaan pembelajaran guru telah meningkat, yang berdampak langsung pada pelaksanaan proses pembelajaran yang lebih baik manum demikian hal ini masih menunjukkan bahwa persiapan guru sebelum mengajar masih lebih rendah dibandingkan dengan pelaksanaannya.
Dari data awal yang paling rendah adalah kinerja guru dalam pemanfaatan sumber belajar telah terjadi peningkatan walaupun belum memadai hal ini menunjukkan bahwa guru telah dapat memanfaatkan sumber belajar sehingga peserta didik dapat lebih optimal dalam belajarnya. Sedangakan aspek yang paling rendah lainya itu penutup pembelajaran juga telah terjadi peningkatan . Aspek yang relatif paling rendah hasil siklus I pada aspek kemampuan khusus dalam peembelajaran matematika yang meliputi mendemonstrasukan penguasaan materi dalam bentuk fakta,konsep,dan prosesdur, mendemostrasikan kemampuan penanaman konsep, rumus, atau prinsip matematika melalui strategi pembelajaran Think-Talk-Write ; mengembangkan siswa untuk berpikir kiritis, logis, dan analitis; kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dalam matematika,; membantu siswa menemukan konsep dan rumus dalam matematika; mengembangkan kemampuan siswa dalam menyampaiakan informasi melaui sombol, bilangan, diagram, tabel atau model lainnya; memupuk sikap apresiasi siswa terhadap matermatika serta membantu siswa dalam membentuk sikap cermat dan kritis.
Peningkatan kinerja guru tersebut berdampak pula pada peningkatan kualitas proses dan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran matematika. dengan nilai rata-rata yang diperoleh relatif lebih tinggi dibandingkan dengan nilai sebelummnya yang dapat dilihat seperti pada tabel berikut.

Tabel 9.Prosentase Ketercapaian Mata Pelajaran Matematika Pasca Siklus I

33 Baca lebih lanjut

Efektivitas implementasi kepemimpinan pembelajaran

10298543_854515567909390_5805961695964524397_oPeendidikan dalam kontekstual pembelajaran lebih berorientasi pada proses bagaimana kualitas pembelajaran mengalami peningkatan dari waktu ke waktu; menggerakkan siswa mencapai kompetensi dasar semaksimal mungkin; dan penumbuhan motivasi internal belajar anak didik. Ketiga orientasi tersebut tidak terjadi secara terpisah-pisah. Target akhir pembelajaran adalah guru mampu menumbuhkan motivasi (internal motivation) internal belajar anak didik, yang selanjutnya menjadi penggerak (drive) bagi anak didik secara mandiri (self motivation) berupaya dalam mencapai kompetensi dasar pada dirinya secara maksimal sebagai bentuk kualitas pembelajarannya sedang guru hanya sebagai fasilitator, mediator, reseources linker, advisor

Dalam rangka implementasi kepemimpinan pembelajaran seorang guru dituntut menguasai alat pembelajaran yang disebut kewibawaan. Kewibawaan merupakan “alat pendidikan” yang diaplikasikan oleh guru untuk menjangkau (to touch) kedirian anak didik dalam hubungan pendidikan. Kewibawaan ini mengarah kepada kondisi high touch, dalam arti perlakuan guru menyentuh secara positif, kontruktif, dan kompehensif aspek-aspek kedirian/kemanusiaan anak didik. Dalam hal ini guru menjadi fasilitator bagi pengembangan anak didik yang diwarnai secara kental oleh suasana kehangatan dan penerimaan, keterbukaan dan ketulusan, penghargaan, kepercayaan, pemahaman empati, kecintaan dan penuh perhatian (Rogers, 1969; Gordon, 1974; Smith, 1978; Barry & King, 1993; Hendricks, 1994). Sejalan dengan pengembangan suasana demikian itu, guru dengan sungguh-sungguh memahami suasana hubungannya dengan anak didik secara sejuk, dengan menggunakan bahasa yang lembut, tidak meledak-ledak (Silberman, 1970 dan Gordon, 1974).

Guru menyadari bahwa sikap guru sangat berpengaruh terhadap tingkah laku dan kegiatan belajar anak didik (Smith, 1978). Hubungan antara guru dan anak didik memang seharusnya dibuat menjadi suasana demokratis dengan pola hubungan “saya oke, kamu juga oke” (Beechhold, 1971), yaitu suasana saling membuka diri tanpa dihalangi oleh adanya sikap atau perasaan negatif ataupun permasalahan di antara kedua belah pihak.
Kewibawaan meliputi: (a) pengakuan, (b) kasih sayang dan kelembutan, (c) penguatan, (d) pengarahan, (e) tindakan tegas yang mendidik, dan (f) keteladan yang mendidik.
1. Pengakuan adalah penerimaan dan perlakuan guru terhadap anak didik atas dasar kedirian/kemanusiaan anak didik, serta penerimaan dan perilaku anak didik terhadap guru atas dasar status, peranan, dan kualitas yang tinggi.
2. Kasih sayang dan kelembutan adalah sikap, perlakuan, dan komunikasi guru terhadap anak didik didasarkan atas hubungan sosio-emosional yang dekat-akrab-terbuka, fasilitatif, dan permisif-konstruktif bersifat pengembangan. Dasar dari suasana hubungan seperti ini adalah love dan caring dengan fokus segala sesuatu diarahkan untuk kepentingan dan kebahagiaan anak didik, sesuai dengan prinsip-prinsip humanistik.
3. Penguatan adalah upaya guru untuk meneguhkan tingkah laku positif anak didik melalui bentuk-bentuk pemberian penghargaan secara tepat yang menguatkan (reinforcement). Pemberian penguatan didasarkan pada kaidah-kaidah pengubahan tingkah laku.
4. Pengarahan adalah upaya guru untuk mewujudkan ke mana anak didik membina diri dan berkembang. Upaya yang bernuansa direktif ini, termasuk di dalamnya kepemimpinan guru, tidak mengurangi kebebasan anak didik sebagai subjek yang pada dasarnya otonom dan diarahkan untuk menjadi pribadi yang mandiri.
5. Tindakan tegas yang mendidik adalah upaya guru untuk mengubah tingkah laku anak didik yang kurang dikehendaki melalui penyadaran anak didik atas kekeliruannya dengan tetap menjunjung kemanusiaan anak didik serta tetap menjaga hubungan baik antara anak didik dan guru. Dengan tindakan tegas yang menddik ini, tindakan menghukum yang menimbulkan suasana negatif pada diri anak didik dihindarkan.
6. Keteladanan adalah penampilan positif dan normatif guru yang diterima dan ditiru oleh anak didik Dasar dari keteladanan adalah konformitas sebagai hasil pengaruh sosial dari orang lain, dari yang berpola compliance, identification, sampai internalization (Musen & Rosenzweig, 1973).

PERANAN GURU UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN

10428260_857548197606127_4298609028369524491_oUpaya peningkatan kualitas pendidikan hingga dewasa ini masih merupakan kegiatan yang terus digalakkan. Hal ini tidak saja disebabkan olej tuntutan laju perkembangan IPTEK maaupun tuntutan masyarakat kita yang sedang membangun, tetapi juga tuntutan profesionalisme dalam berbagai sektor di bidang pendidikan. Tidaklah mengherankan jika para guru termasuk dosen dituntut kemampuan profesional yang lebih memadai agar mampu mengembang berbagai tugas lembaga pendidikan. Para guru dan Dosen dewasa ini secara khusus lebih dituntut kemampuan memahami metode , pendeketan dan teknik penelitian serta kemampuan menulis karya ilmiah baik sebagai hasil penelitian , penulisan bahan ajar LKS,Modul dll sebagainya serta kemapuan menulis berbagai informasi ilmiah ataupun kemampuan transformasi ilmu dan teknologi. sebagaai dasar penilaian kinerja dan profesiolalismenya.
Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat (long Life education). Setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapan dan dimanapun ia berada. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Dengan demikian pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing, di samping memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang baik. Pendidikan itu sendiri bermakna sebagai upaya membantu peserta didik untuk mengembangkan dan meningkatkan pengetahuan, kecakapan, nilai, sikap dan pola tingkah laku yang berguna bagi hidupnya ( Kamus pendidikan menurut St. Vembriarto ; Jakarta tahun 1994 )
Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia untuk meneruskan pembangunan di negara Indonesia.
Mutu pendidikan sangat berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia. Di sisi lain, tantangan global dan internal mengharuskan kita memanfaatkan sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) Indonesia untuk menjadi negara yang kuat dan besar.Dalam konteks pendidikan, pengertian mutu pendidikan mengacu pada proses pendidikan dan hasil pendidikan. Dalam proses pendidikan yang bermutu terlibat berbagai input, seperti : bahan ajar yang bersifat kognitif, afektif dan psikomotor , metodologi yang bervariasi sesuai kemampuan guru , sarana sekolah, dukungan administrasi, sarana prasarana dan sumber daya lainnya serta penciptaan suasana yang kondusif.
Mutu dalam konteks hasil pendidikan mengacu pada prestasi yang dicapai oleh sekolah pada setiap kurun waktu tertentu ( bisa setiap akhir semester, akhir tahun, 2 tahun atau 5 tahun, bahkan 10 tahun ). Prestasi yang dicapai atau hasil pendidikan ( student achievement ) dapat berupa hasil tes kemampuan akademis ( misalnya ulangan umum dan ujian nasional ). ( Sumber : Kilas Balik Pendidikan Nasional 2006; Departemen pendidikan Nasional )
Ada dua faktor yang mempengaruhi keberhasilan pendidikan yang berkualitas . Pertama: strategi pendidikan, mencakup : penyediaan buku–buku materi ajar dan alat belajar lainnya, penyediaan sarana pendidikan, pelatihan guru dan tenaga kependidikan lainnya. dan pengelolaan pendidikan. Kedua : pengelolaan pendidikan, yang selama ini tergantung pada kebijakan pemerintah.
Ada beberapa paradigma untuk mendasari pendidikan yang berkualitas yaitu, pembahasan kurikulum, pembaruan dalam proses pembelajaran, pembenahan manajemen pendidikan nasional, pembenahan pengelolaan guru dan mencari serta mengembangkan berbagai sumber alternatif pembiayaan pendidikan. Untuk menciptakan pendidikan yang berkualitas maka sekolah harus dinamis dan kreatif dalam melaksanakan perannya untuk mengupayakan peningkatan mutu pendidikan.
Pendidikan tinggi mencetak para sarjana yang kompeten sesuai dengan bidangnya masing – masing. Sebagai contoh Guru yang mencetak profesionalisme guru, dimana lembaga penyelenggara program dan model pendidikan guru mempengaruhi keunggulan khas keguruan ( pedagogical craft knowledge ) tetapi tidak menentukan mutu guru. Derajat mutu guru ditentukan oleh kualitas program, lembaga penyelenggara program, dan proses penyelenggaraan program yang akuntabilitasnya diukur melalui akreditasi.
Peranan guru untuk meningkatkan Mutu Pendidikan lahir dari sekian proses yang syarat cerita Oemar Bhakrie, Guru penuh derita, begitu kata sebagian kalangan, tetapi itulah kenyataannya. Tetapi peran besar dibalik gelar yang begitu di nafikkan oleh sebagian kalangan adalah bukti baru, bahwa pendidikan dan mutu pendidikan tidak akan pernah lepas dari Guru – Gurunya.
Guru dalam ranah psikologis adalah kelengkapan antara kebutuhan lahir dan kebutuhan batin pendidikan, antara kemandirian ragawi dan kemajuan jiwa pendidikan, untuk bersama-sama maju membimbing, mengarahkan dan mengembangkan alur gerak kualitas pendidikan di Indonesia.
Guru yang pada akhirnya sebagai pengajar sekaligus pendidik sebenarnya adalah profesi yang paling indah di dunia. Sebagai pendidik seorang sarjana
pendidikan sangat berperan memberikan kontribusi langsung dan terukur bagi bangsa kita dan dunia dengan membantu anak–anak muda mengenal pengetahuan dan keterampilan.
Mengajar memberikan tantangan sekaligus kesempatan yang tiada habisnya untuk berkembang. Ketika seorang Guru mengajar dan mendidik akan menguji keterampilan komunikasi interpersonal, pengetahuan akademis maupun kemampuan kepemimpinan seorang Guru tersebut. Sebagai seorang pendidik dan pengajar seorang Guru berkesempatan membagi semangat untuk belajar, memberikan inspirasi, motivasi dan tantangan kepada generasi muda untuk mengembangkan bakat dan kemampuan individual kepada generasi muda. Dan akan merasakan kebahagiaan ketika salah satu atau lebih di antara mereka sukses dalam menggapai cita – cita.
Semakin jelas kiranya peran Guru bagi kemajuan pendidikan di Indonesia.
Pertama, Guru dicetak, ditumbuhkembangkan dan diarahkan untuk semata-mata menjadi penerus dan pewaris dunia pendidikan di Indonesia.
Kedua, Guru dengan mengesampingkan berbagai isyu-isyu miring seputar ketidakprofesionalannya, adalah sarjana yang paling tahu tentang kondisi pendidikan di Indonesia.
Ketiga, Guru adalah betul-betul pribadi pendidik, bukan kebetulan berpribadian sebagai pendidik, bukan pula pribadi pendidik yang tidak betul.
Keempat, Guru adalah satu-satunya oase harapan di padang tandus pendidikan Indonesia, mereka pada akhirnya akan menjadi tumpuan harapan untuk menyelamatkan dunia pendidikan, dan mereka adalah guru pendidikan terbaik di negeri tercinta ini.
Tetap Maju Pendidikan Indonesia.

APA ITU MATRIKULASI?

Program matrikulasi diartikan sebagai kegiatan pemenuhan kompetensi peserta didik agar kesenjangan antara muatan/substansi dan pengalaman belajar (learning experience) dari kurikulum yang berbeda dapat dipenuhi sesuai dengan kompetensi yang harus dipenuhi. Kegiatan ini harus dikelola satuan pendidikan secara terencana, terarah, terprogram, dan dapat dipertanggungjawabkan.

MENCIPTAKAN MUTU PENDIDIKAN MELALUI PEMBELAJARAN YANG BERBASIS PTK

10487641_10202293083273983_1051815901_n

Seorang guru merupakan arsitek dalam pembelajaran sekaligus juga sebagai pelaksana termasuk di dalamnya melakukan evaluasi. Dalam UU Sisdiknas no. 20 tahun 2003 pasal 40 dituliskan bahwa pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban: (a) menciptakan suasana pembelajaran yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis dan dialogis; (b) mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan; (c) memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikannya.
Hal ini dipertegas lagi dengan adanya UU guru dan dosen No. 14 tahun

2005 yang menuliskan bahwa guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah (UU no. 14 tahun 2005; 2). Dalam UU no 14 tahun 2005 pasal 20 ayat a dikatakan bahwa dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berkewajiban untuk merencanakan, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, menilai, dan mengevaluasi hasil pembelajaran.
Perlunya PTK

Untuk merencanakan, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, menilai, dan mengevaluasi hasil pembelajaran diperlukan sebuah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya

sendiri dengan jalan merencanakan, melaksanakan, mengamati, dan melakukan refleksi diri melalui siklus-siklus yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pembelajaran. PTK dapat membantu guru memperbaiki mutu pembelajaran, meningkatkan profesionalitas guru, meningkatkan rasa percaya diri guru, memungkinkan guru secara aktif mengembangkan pengetahuan, dan keterampilannya. Dengan melakukan PTK, guru menjadi terbiasa menulis, dan sangat baik akibatnya bila guru sekolah negeri atau PNS akan mengikuti kenaikan pangkat, khususnya dari gol. IVA ke IVB yang mengharuskan guru untuk menuliskan karya tulis ilmiahnya. Begitu pun untuk guru sekolah swasta, PTK sangat penting untuk meningkatkan apresiasi, dan profesionalisme guru dalam mengajar. Apalagi dengan adanya program sertifikasi guru yang telah dicanangkan oleh pemerintah.
Selain itu, PTK akan menumbuhkan budaya meneliti di kalangan guru yang merupakan dampak dari pelaksanaan tindakan secara berkesinambungan, maka manfaat yang dapat diperoleh secara keseluruhan yaitu label inovasi pendidikan karena para guru semakin diberdayakan untuk mengambil berbagai prakarsa profesional secara mandiri. Sikap mandiri akan memicu lahirnya ”percaya diri” untuk mencoba hal-hal baru yang diduga dapat menuju perbaikan sistem pembelajaran. Sikap ingin selalu mencoba akan memicu peningkatan kinerja dan profesionalisme seorang guru secara berkesinambungan. Sehingga proses belajar sepanjang hayat terus terjadi pada dirinya.
PTK pada saat ini berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan mutu pembelajaran di kelas. Di ruangan kelas, menurut Cohen & Manion (1980: 211).

PTK dapat berfungsi sebagai : (a) alat untuk mengatasi masalah-masalah yang didiagnosis dalam situasi pembelajaran di kelas; (b) alat pelatihan dalam jabatan, membekali guru dengan keterampilan dan metode baru dan mendorong timbulnya kesadaran diri, khususnya melalui pengajaran sejawat; (c) alat untuk memasukkan ke dalam sistem yang ada (secara alami) pendekatan tambahan atau inovasi; (d) alat untuk meningkatkan komunikasi yang biasanya buruk antara guru dan peneliti; (e) alat untuk menyediakan alternatif bagi pendekatan yang subjektif, impresionistik terhadap pemecahan masalah kelas; (f) alat untuk mengembangkan keterampilan guru yang bertolak dari kebutuhan untuk menanggulangi berbagai permasalahan pembelajaran aktual yang dihadapi di kelasnya.
Setiap hari guru menghadapi banyak masalah, seakan-akan masalah itu tidak ada putus-putusnya. Merenunglah barang sejenak, atau mengobrollah dengan teman sejawat, maka guru akan segera menemukan seribu satu masalah yang telah merepotkannya selama ini dalam proses pembelajaran di sekolah. Lalu lakukan PTK, dan temukan khasanah ilmu pendidikan baru yang belum tergali. Para guru harus menjadikan dirinya sebagai penemu metode-metode baru dalam dunia pendidikan melalui PTK.
Adanya masalah yang dirasakan sendiri oleh guru dalam pembelajaran di kelasnya merupakan awal dimulainya PTK. Masalah tersebut dapat berupa masalah yang berhubungan dengan proses dan hasil belajar siswa yang tidak sesuai dengan harapan guru atau hal-hal lain yang berkaitan dengan perilaku mengajar guru dan perilaku belajar siswa. Guru diarahkan untuk berpikir ilmiah, melalui masalah yang mereka temukan. Langkah menemukan masalah akan

dilanjutkan dengan menganalisis dan merumuskan masalah, kemudian merencanakan PTK dalam bentuk tindakan perbaikan, mengamati, dan melakukan refleksi. Namun demikian harus dapat dibedakan antara pengamatan dengan refleksi. Pengamatan lebih cenderung kepada proses, sedangkan refleksi merupakan perenungan dari proses yang sudah dilakukan. Refleksi adalah cermin dari apa yang telah dilakukan oleh guru yang merangkap sebagai peneliti.
Untuk membuat siswa menjadi lebih aktif dan potensinya dapat berkembang secara optimal diperlukan penguasaan kompetensi seorang guru yang utuh dan menyeluruh. Salah satu kompetensi yang harus dilihat dari sudut pedagogik adalah kemampuan melakukan PTK. Oleh karena itu, sudah selayaknya para guru meningkatkan mutu pembelajarannya melalui PTK.

PROSES PENELITIAN

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 Tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah berisi standar kualifikasi dan kompetensi pengawas sekolah. Standar kualifikasi menjelaskan persyaratan akademik dan nonakademik untuk diangkat menjadi pengawas sekolah. Standar kompetensi memuat seperangkat kemampuan yang harus dimiliki dan dikuasai pengawas sekolah untuk dapat melaksanakan tugas pokok, fungsi dan tanggung jawabnya.
Ada enam dimensi kompetensi yang harus dikuasai pengawas sekolah yakni: (a) kompetensi kepribadian, (b) kompetensi supervisi manajerial, (c) kompetensi supervisi akademik, (d) kompetensi evaluasi pendidikan, (e) kompetensi penelitian dan pengembangan, dan (f) kompetensi sosial. Dari hasil uji kompetensi di beberapa daerah menunjukkan kompetensi pengawas sekolah masih perlu ditingkatkan terutama dimensi kompetensi supervisi manajerial, supervisi akademik, evaluasi pendidikan dan kompetensi peneli- tian dan pengembangan

Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh Pengawas Satuan Pendidikan adalah mampu melakukan penelitian. Hal ini karena pekerjaan pengawas adalah sebuah profesi yang menuntut peningkatan pengetahuan dan keterampilan terus menerus sejalan dengan perkembangan pendidikan di lapangan.
Setiap bidang pekerjaan selalu dihadapkan pada permasalahan yang selalu berkembang, baik berupa fenomena yang mengundang tanda tanya, maupun kesenjangan antara yang diharapkan dengan kenyataan. Permasalahan tersebut menuntut jawaban dan solusi yang dapat dipertanggung jawabkan.
Kedudukan pengawas sebagai pembina para guru dan kepala sekolah, mengharuskan dia memiliki kesiapan memberikan solusi bagi permasalahan yang mereka hadapi. Ia dapat saja mengandalkan pengalaman, baik dirinya sendiri maupun orang lain, mengambil teori dari buku-buku, atau bahkan mengandalkan intuisi. Hal ini tentu tidak selamanya memuaskan, karena yang dituntut darinya adalah professional judgement yang dapat dijadikan acuan.
Penelitian merupakan suatu bentuk kegiatan ilmiah untuk mendapatkan pengetahuan atau kebenaran. Ada dua teori kebenaran pengetahuan, yaitu teori koherensi dan korespondensi. Teori koherensi beranggapan bahwa suatu pernyataan dikatakan benar apabila sesuai dan tidak bertentangan dengan pernyataan sebelumnya. Aturan yang dipakai adalah logika berpikir atau berpikir logis. Sementara itu teori korenspondensi berasumsi bahwa sebuah pernyataan dipandang benar apabila sesuai dengan kenyataan (fakta atau realita). Untuk menemukan kebenaran yang logis dan didukung oleh fakta, maka harus dilakukan penelitian terlebih dahulu. Inilah hakikat penelitian sebagai kegiatan ilmiah atau sebagai proses the acquisition of knowledge.
Salah satu tahapan penting dalam penelitian adalah proses pelaksanaan penelitian khususnya pengumpulan data. Hal ini merupakan essensi penelitian, karena hakikatnya tidak ada penelitian tanpa pengumpulan data. Lebih jauh lagi, penelitian menjadi tidak bermakna dan bahkan akan menghasilkan kesimpulan yang salah manakala data yang dihasilkannya tidak valid. Untuk memperoleh data yang valid, selain harus digunakan instrumen yang baik (valid dan reliabel), juga harus dipertimbangkan cara pengambilan sampel yang benar-benar representatif terhadap jumlah dan karakteristik populasi.

PERANAN PENGAWAS DALAM PENGEMBANGAN KERJASAMA SEKOLAH

PERANAN PENGAWAS
DALAM PENGEMBANGAN KERJASAMA SEKOLAH

10428260_857548197606127_4298609028369524491_oA. Peranan Pengawas dalam Pengembangan Kerjasama Eksternal
Dari waktu ke waktu persoalan hubungan antara sekolah daengan masyarakat semakin menuntut perhatian. Sejalan dengan tingkat pendidikan, kesejahteraan, dan kemajuan masyarakat maka apresiasi dan aspirasi mereka terhadap lembaga pendidikan juga semakin meningkat. Aspek yang paling banyak mendapat sorotan tentu saja adalah mutu pendidikan, di samping transparansi pengelolaan. Baca lebih lanjut