//
you're reading...
Dunia Pendidikan

Tantangan Krisis Pendidikan Di Indonesia

Sekolah sebagai salah satu tripusat pendidikan merupakan sarana yang sengaja diciptakan oleh manusia untuk mengemban tugas memanusiakan manusia. Sekolah ini terletak dan berada di dalam lingkungan masyarakat yang menghendaki keberadaanya. Semakin tinggi pola pikiran masyarakat maka semakin sentral dan penting peran sekolah dalam masyarakat tersebut. Hal ini dikarenakan sekolah tersebut merupakan wadah penyiapan generasi muda di dalam masyarakat tersebut. Semakin mantap sekolahnya semakin mantap pula generasi mudanya.

Di tanah air, keberadaan sekolah kita sampai saat ini masih menuai kritikan akan keberadaan, proses, maupun terhadap para guru dan tenaga kependidikan. Kulminasi dari kritikan terhadap dunia pendidikan terjadi karena adanya kesenjangan atau kekontradiktifan antara tingkat pendidikan seseorang dengan perilakunya dalam kehidupan nyata. Dalam bukunya yang bertajuk Filsafat Pendidikan, Profesor Suparlan Suhartono (guru besar di Universitas Negeri Makassar) secara tegas mengatakan hal tersebut. Berikut kutipan singkatnya: “para politisi bukan lagi memperjuangkan aspirasi rakyat melainkan memperjuangkan aspirasi konglomerat. Para penegak hukum tidak berorientasi pada keadilan dan keberadaban tetapi justru kebiadaban. Penyelenggara pendidikan sudah tidak peduli lagi terhadap pengembangan bakat, tetapi lebih tertarik pada urusan pangkat. Para penyelenggara kesehatan tidak mendidik untuk hidup sehat tetapi justru sibuk dengan pemasaran obat”.

Sekiranya problema pendidikan (perbedaan kesenjangan antara tingkat pendidikan dengan perilaku kehidupan) yang telah dibeberkan di atas adalah kenyataan. Tidak perlu kita meminta bukti, lembaran koruptor yang mulai terbuka perhalaman merupakan salah satu santapan tidak sedap dari dapur pendidikan yang dinikmati bangsa Indonesia saat ini. Lalu muncul pertanyaan bagaimana seharunya pendidikan kita diselenggarakan?.Sebagai pemerhati pendidikan bangsa, guru Indonesia yang tinggal di pedalaman  berpendapat bahwa pendidikan di Indonesia belum merata dan menyeluruh. Hal ini dapat kita amati perkembangan pendidikan di Indonesia bagian Tengah dan Timur. Di wilayah tersebut banyak anak usia sekolah yang terlantar dan tidak sekolah. Banyak sekolah yang gurunya hanya satu atau dua orang sedangkan kelas belajar ada 6 lokal. Memang sangat ironis jika kita amati secara cermat ibaratnya tikus mati di lumbung padi. Tulisan ini merupakan sebuah permenungan dan opini sederhana tentang pendidikan sekolah (sekolah dasar dan sekolah menengah) diselenggarakan semestinya.

Negara Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang kaya akan sumber daya alam, tetapi kenyataanya anak bangsa dan rakyatnya masih banyak yang putus sekolah bahkan tidak sekolah. Sebagai bahan perbandingan mari kita lirik sekolah- sekolah di perbatasan Kalimantan dan Irian Jaya. Kedua Pulau ini sungguh memberikan kontribusi kepada negara yakni sumber daya alamnya. Tapi dari segi pelayan pendidikan belum secara adil dirasakan penduduk dan anak bangsa yang menghuni kedua pulau ini. Kedua pulau ini juga kita rasakan hanya imbas dari para konglomerat bangsa yakni kemelaratan dan kebodohan.Pada hal menurut berbagai pandangan pakar sosiolog Metropolitan dan dunia pendidikan dalam dialog diberbagai media elektronik mereka mengatakan bahwa Bangsa yang maju adalah bangsa yang sumber daya manusianya diperhatikan oleh Negara. Negara yang jaya adalah Negara yang rakyatnya mengalami keadilan dan pemerataan dalam berbagai aspek kehidupan. Sedangkan rakyat yang sejahtera adalah masyakat yang mengalami kemudahan dalam pelayanan dari Pemimpin bangsa. Dan bangsa yang kuat adalah bangsa yang selalu memajukan lembaga pendidikan di Negaranya.

Dengan demikian maka peran dunia pendidikan sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang cerdas, damai terbuka dan demokratis. Oleh karena itu menurut hemat kami bahwa pembaharuan pendidikan harus dimulai dan dilakukan dari pendidikan lokal, nasional baru menuju Internasional. Dan kemajuan pendidikan suatu bangsa hanya dapat dicapai melalui penataan sistem yang baik, terkoordinasi dan evaluasi secara terus-menerus serta adanya pemerataan pelayanan pendidikan secara menyeluruh mulai dari daerah perkotaan hingga ke pelosok pedesaan, pedalaman dan perbatasan.Selain guru juga pelayanan pendidikan bagi anak bangsa belum menyentuh anak pinggiran, anak jalanan, anak kolong dan anak pedalaman yang ada di seluruh wilayah Indonesia. Contohnya bangunan sekolah di kota bentuknya Permanen dan bertingkat sedangkan bangunan sekolah di pedesaan masih dari kayu dan bambu yang berlantai tanah. Dan apalagi saat ini mulai berlomba-lomba membangun Sekolah Berstandar Nasional ( SBN ).  Hemat kami Sistem Pendidikan Nasional harus secara utuh, menyeluruh dan dapat menyentuh masyarakat kecil di pedesaan. Sehingga dengan demikian dapat mengangkat harkat dan martabat manusia Indonesia secara menyeluruh dan bukan hanya berpusat di daerah perkotaan saja.Kalau diamati dan ditinjau secara baik, maka sesungguhnya pendidikan saat ini belum adil, menyeluruh dan merata secara Nasional.

Sebagai bahan perbandingan dapatlah kita telusuri dari hasil test atau ujian baik ujian sekolah maupun ujian nasional. Menurut catatan Human Development Report Tahun 2003 versi UNDP dalam Nurhadi dan Agus Gerrad Senduk,”peringkat HDI (Human Development Index) sumber daya manusia berada dalam urutan 112. Menurut Third Matemathics and Sciense Study (TIMSS) melaporkan bahwa kemampuan matematika siswa SMP di Indonesia berada diurutan 34 dari 38 negara, sedangkan dalam bidang IPA berada dalam urutan 32 dari 38 negara yang disurvei” (hal-1). Untuk itu pembaharuan pendidikan merupakan tuntutan utama.

Pembaharuan pendidikan menurut Depdiknas (2006) yang sering mendapat sorotan adalah “ Pembaharuan dalam bidang kurikulum, peningkatan kualitas pembelajaran, dan metodologi pembelajaran, dalam rangka menuju tercapainya tujuan pembelajaran yaitu siswa memiliki pengetahuan (logos), menghayati pengetahuan (etos) dan mengaktualisasi atau mengamalkan pengetahuannya (patos)” (hal-21).Setiap peserta didik yang memiliki logos, etos dan patos yang sesuai dengan tuntutan zaman digolongkan sebagai peserta didik yang memiliki prestasi belajar. Karena Prestasi belajar hanya diperoleh dari motivasi dari setiap peserta didik untuk menumbuhkan minat belajar yang harus ditumbuh kembangkan sejak dari Pendidikan Dasar, sehingga akan tertanam dalam diri setiap peserta didik. Berprestasi merupakan kemampuan untuk mengaplikasikan pengetahuan yang dimiliki dalam kehidupannya sehari-hari, sehingga terapan ilmunya akan bermanfaat dan dinikmati bagi orang banyak baik masyakat kota maupun masyakat pedesaan.

Berdasarkan pengamatan dan atau pengalaman lapangan bahwa“Sebagian besar dari siswa tidak mampu menghubungkan antara apa yang mereka pelajari sebagai pengetahuan dapat dipergunakan atau diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Peserta didik mengalami kesulitan memahami konsep akademik sebagaimana mereka biasa alami dan terima dalam pembelajaran yaitu menggunakan sesuatu ilmu yang abstrak dan ceramah. Sesungguhnya peserta didik baik di desa maupun di kota harus dituntun untuk memahami konsep yang berhubungan dengan dunia kerja dan lingkungan alam serta masyarakat pada umumnya dimana mereka akan hidup dan bekerja. Faktor internal yang sangat berpengaruh terhadap prestasi adalah rendahnya motivasi atau minat belajar siswa untuk berprestasi “.

Faktor yang juga berpengaruh terhadap minat belajar siswa di sekolah adalah lingkungan keluarga yang tidak menumbuhkan motivasi belajar. Motivasi belajar yang tinggi sungguh berkorelasi dengan hasil belajar yang baik, akan mempengaruhi peningkatkan minat belajar siswa di sekolah. Jika minat belajar siswa dapat ditingkatkan, maka kualitas peserta didik yang diharapkan akan terwujud dalam berbagai prestasi belajar siswa.Strategi untuk meningkatkan motivasi belajar siswa sering menjadi hambatan bagi para guru di sekolah karena faktor internal maupun eksternal yang mempengaruhi minat belajar setiap peserta didik.

 Dalam sistem pendidikan nasional, penyelenggaraan pendidikan dilalui melalui dua jalur yakni pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah seperti kursus-kursus luar sekolah. Jalur pendidikan sekolah merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah melalui kegiatan belajar mengajar secara berjenjang dan berkesinambungan, dimulai dari sekolah dasar, menengah, dan tinggi. Pendidikan sekolah diselanggarakan untuk memberi bekal dasar untuk hidup dalam masyarakat berupa pengembangan sikap, pengetahuan, dan keterampilan dasar.

Tujuan Pendidikan dan Pentingnya Pemahaman Tujuan Pendidikan

Secara umum tujuan pendidikan dimuat dalam UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas Bab II Pasal 3, “pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembanganya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab”.

Tujuan pendidikan nasional ini memang terasa abstrak dibandingkan dengan tujuan institusional, tujuan kurikuller, dan tujuan pembelajaran yang lebih terperinci dan kongkrit. Namun perlu dicermati dan dipahami bahwa tujuan nasional ini bersifat seperti induk yang menurunkan tujuan-tujuan berikutnya. Artinya dalam hierarki tujuan pendidikan kesemuanya harus mengacu pada tujuan nasional pendidikan. Oleh karena itu sangat penting untuk mengetahui dan memahami tujuan nasional secara benar dan tepat. Hal ini dimaksudkan agar proses pembelajaran atau penyelenggaraan pendidikan bertitik tolak dan bermuara pada tujuan nasional tersebut.

Jika kita mencermati, hampir seluruh isi tujuan nasional ini menuntut atau memuat point-point domain afektif sebagai hasil belajar yang utama. Ini yang masih kurang dipahami oleh para guru. Tidak heran kalau sekolah-sekolah hanya mampu menciptakan ladang kognitif/pengatahuan yang gersang pada otak anak tanpa adanya penanaman nilai-nilai kehidupan. Alhasil berdampak buruk bagi kehidupan karena lahir orang-orang pintar tetapi tidak cerdas yang tak berbudi. Mata pelajaran agama misalnya yang sebenarnya berupaya untuk menanamkan nilai-nilai moral kehidupan beralih pada penanaman pengatahuan agama. Pendidikan kewarganegaraan bukan menjalankan misi utamanya membudayakan nilai-nilai budaya lokal pancasila tetapi hanya sebatas pada penanaman pengatahuan kewarganegaraan. Coba saja tanyakan pada anak SD “apakah perbuatan mencuri itu baik atau buruk?” semuanya pasti akan menjawab “buruk” tetapi tidak semua anak yang mengatakan buruk itu dengan serta merta tidak mencuri. Terlalu gampang untuk mengetahui pengatahuan tetapi tidak mudah untuk menerapkanya.

Kesalahan Proses Pendidikan dan Upaya Perbaikanya

Pertama sekali yang mesti kita sepakati adalah para guru memiliki tugas utamanya yakni membelajarkan siswa (membuat siswa belajar) bukan sekedar memberi pelajaran, artinya membuat peserta didik mengalami proses pendidikan secara langsung. Hampir pasti salah satu penyebab utama gagalnya sekolah menghasilkan anak didik yang berbudi (cerdas) adalah karena kesalahan dalam proses pendidikan (pembelajaran). Kebanyakan para guru di lapangan tidak melaksanakan tugas utamanya secara tepat. Yang semestinya membuat siswa belajar malah sebaliknya gurunya yang sibuk belajar.Hadirnya Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), PAKEM, PKP, Kurikullum KTSP dan yang baru sekarang kurikullum 2013 dan berbagai macam kecenderungan-kecenderungan mutakhir dalam bidang pendidikan yang menekankan pada keterlibatan siswa masih banyak yang salah diterjemahkan oleh para penyelenggara pendidikan. Banyak guru yang mengartikannya sebagai kegiatan diskusi kelompok, kerja kelompok dan kegiatan-kigiatan yang menekankan pada keaktifan siswa tanpa adanya keaktifan guru secara langsung di dalamnya. Inilah kekeliruan lainya dalam lingkungan pendidikan khususnya kegiatan pembelajaran. Semestinya disadari bahwa semakin tinggi keaktifan siswa menuntut tingginya keaktifan guru dalam mengaktifkan siswanya. Artinya anak didik tidak akan aktif secara baik kalau gurunya tidak aktif, bukan hanya sekedar memberikan tema diskusi kemudian gurunya tinggal diam, mengurusi urusan lain, baca koran, ngobrol dengan sesama guru, pergi belanja di pasar, pergi makan bakso, dan kegiatan lainya yang sama sekali tidak membantu pengembangan potensi anak didik.Melalui keaktifan atau keterlibatan langsung dalam proses pembelajaran terbuka berbagai kesempatan untuk menghayati nilai-nilai yang perlu. Siswa dapat mengalami kedisiplinan dalam perbuatan, berbicara, kemandirian, keyakinan, ketaqwaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, penghargaan terhadap waktu, penghargaan terhadap kerja, kegairaan belajar, kedisiplinan, kesetiakawanan sosial, semangat kebangsaan, dan masih banyak yang lainya tergantung pada kompetensi guru yang membelajarkan siswa. Mari kita semua maju bersama dalam mencerdaskan anak bangsa dan semoga pendidikan kita bisa bangkit dan jaya.

Sumber:

http://www.sekolahdasar.net/2015/11/sekolah-dasar-dalam-tantangan-krisis-pendidikan.html#ixzz3tOjX0rmx
Sumber: http://www.sekolahdasar.net/2015/11/kesenjangan-pendidikan-di-indonesia.html#ixzz3tOuUNxXt
Baca juga: Pendidikan Indonesia Ada di Peringkat ke-69

*Viktor Juru. Mahasiswa PGSD FIP UNM.
[ SekolahDasar.Net | Jumat, 13 November 2015 ]

*)Yohanes Ruma S.Pd.SD, seorang guru yang saat ini mengajar di SDN 002 Tanjung Redeb Berau Kalimantan Timur.
[ SekolahDasar.Net | Kamis, 05 November 2015 ]

 

About suaidinmath

Mohon kontribusi untuk menambal retak dan menambah langkah kesempurnaan tulisan ini ...

Diskusi

One thought on “Tantangan Krisis Pendidikan Di Indonesia

  1. Tulisan yang mestinya menginspirasi stakeholder pendidikan dan segenap anak bangsa. Namun sayang, para petinggi negeri ini sibuk dengan urusan dirinya dan kelompoknya saja. Ini juga imbas gagalnya pendidikan Indonesia. Lantas kapan rakyat mendapat pelayanan dan hak2nya.

    Suka

    Posted by syafii | 5 Desember 2015, 11:28 pm

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Hari ini

Desember 2015
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Statistik Blog

  • 1,764,690 hit

Arsip blog

Award Blog Pendidikan 2012

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 259 pengikut lainnya

Dunia Pendidikan

Teratas

RSS Republika online

  • Warga Pidie Jaya Harapkan Bantuan Segera Tersalurkan 9 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, TRIENGGADENG -- Masyarakat korban gempa di Kabupaten Pidie Jaya mengharapkan bantuan dari pemerintah bisa segera tersalurkan. Seperti masyarakat Desa Kuta Pangwa, Kecamatan Trienggadeng, Kabupaten Pidie Jaya, Jumat (9/12). Dimana...
    Sadly Rachman
  • BPBD Magetan Bangun Posko Tanggap Darurat 9 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, MAGETAN -- BPBD Kabupaten Magetan, Jawa Timur, membangun sebuah pos komando (posko) tanggap darurat bencana di wilayah paling rawan tanah longsor guna memberikan penanganan cepat jika sewaktu-waktu terjadi...
    Yudha Manggala P Putra

RSS educatinalwithptk

newsalloy

NewsAlloy button

MUSIK

suara Edukasi

 

 http://radioedukasi.com/modules/mod_miniradio/mod_miniradio.swf

suara_edukasi

RADIO EDUKASI

Live Streaming AM 1251 kHz

Silahkan unduh produk audio radio Suara edukasi

[KLIK DISINI]

Zaimuttpjok/tik

BERBAGI INFORMASI PENDIDIKAN DAN KISAH HIDUP

isti

Berilah makan keyakinanmu niscaya keraguanmu mati kelaparan

ANNISA USH SHOLIHAH

ALL ABOUT CHEMIS_3 (sharing for carring)

Dinas Dikpora Kab. Dompu

Ikhlas Mendidik Untuk Martabat Bangsa dan Negara

Vox Populi

Vox Populi: A Public Sphere for Politics and Poetry

Architecture Here and There

Style Wars: classicsm vs. modernism

Stories From the Belly

A Blog About the Female Body and Its Appetites

mywordpool

"Words - so innocent and powerless as they are, as standing in a dictionary, how potent for good and evil they become in the hands of one who knows how to combine them." ~Nathaniel Hawthorne

Fusion

Championing a young, diverse, and inclusive America with a unique mix of smart and irreverent original reporting, lifestyle, and comedic content.

Whatever

LET ME STEAL THIS MOMENT FROM YOU NOW

rachel eats

stories, pictures and cooking tales from an english woman living in rome.

y

what it comes down to

tangerine drawings

scribbles and recipes from a pastry chef in paris

Extra Dry Martini

Straight up, with a twist.

Gravity and Levity

A blog about the big ideas in physics, plus a few other things

love.life.eat

living a mindful life

%d blogger menyukai ini: