//
you're reading...
Dunia Pendidikan

OPTIMALISASI PENGAWASAN TERHADAP PELAKSANAAN STANDAR PROSES BERBASIS PENELITIAN TINDAKAN KELAS MENGGUNAKAN TEKNIK CAT-MOSI PADA SMA BINAAN DI KABUPATEN DOMPU

BAB I

Pendahuluan

  1. Latar Belakang

Setelah diterbitkannya Peraturan Menteri  Pendidikan  Nasional (Permendiknas)   Nomor 41Tahun 2007 kemudian diubah menjadi permendiknas Nomor 65 tahun 2013 tentang Standar Proses maka mengamanatkan kepada guru bahwa dalam melaksanakan tugasnya hendaknya memberikan pelayanan minimal sesuai dengan standar yang ditetapkan.  Standar Proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan untuk mencapai kompetensi lulusan. Standar proses meliputi perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil belajar, dan pengawasan proses pembelajaran .

Penerapan prinsip standar proses ini diharapkan pengelolaan pembelajaran berjalan efektif dan efisien. Ada standar pelayanan minimal yang harus diikuti dan dipatuhi oleh guru dalam  melaksanakan proses pembelajaran.  Karena telah dilandasi oleh peraturan menteri, diharapkan akan terjadi peningkatan kualitas sekolah apabila penerapannya sesuai dengan prosedur.

Sebelum adanya permendiknas nomor 41/2007 kemudian diubah menjadi permendiknas No.65 thn 2013 tersebut, pelaksanaan proses pembelajaran di satuan pendidikan berjalan sesuai dengan selera guru. Kadang-kadang guru mengajar tanpa persiapan apapun, baik secara administrative maupun non administrative. Guru melaksanakan pembelajaran sering tidak prosedur, mereka masuk kelas, tanpa pemberitahuan sebelumnya langsung memberikan tes, bahkan tes yang dilaksanakan dengan mendikte langsung kepada peserta didik. Di samping itu, pada akhir pembelajaran, guru tidak lagi memberikan refleksi dan tidak memberikan tugas baik mandiri tersetruktur maupun mandiri tidak terstruktur. Meskipun demikian ada juga guru yang telah melaksanakan proses pembelajaran sebagai mana mestinya, yang selalu berfikir efektivitas dan efisiensinya.

Jika diperhatikan dari tahun terbitnya Permendiknas nomor 41 yang telah di ubah menjadi pemendiknas Nomor 65 tahun 2013 tersebut sampai tahun 2015 ini, berarti telah mempunyai rentang waktu yang cukup lama, yaitu kurang lebih lima (7) tahun. Namun dalam kenyataan di lapangan proses belajar mengajar di satuan pendidikan, guru secara umum belum mampu melaksanakan ketentuan sebagaimana yang diatur dalam Permendiknas tersebut. Perencanaan proses Pembelajaran ( dalam hal mengembangkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran atau RPP) masih bersifat administrasi atau sekedar ada bahkan masih banyak guru yang belum menggunakan RPP terebut dalam Kegiatan belajar mengajar di  kelas secara efektif. Pelaksanaan Proses Pembelajaran belum mematuhi tahapan kegiatan yang dipersyaratkan ( mulai dari ; Kegiatan Pendahuluan, Kegiatan Inti dan Kegiatan Penutup). Bahkan dalam pelaksanaannya guru belum mampu mengimplementasikan kegiatan Eksplorasi, Elaborasi, dan Konfirmasi Melalui pendekatan sanitifk. Pada Standar Penilaian Hasil Belajar masih banyak ditemukan bahwa guru belum mampu menyusun tes secara baik, yaitu guru belum mampu mengembangkan alat ukur terhadap apa yang hendak diukur Sehingga sering terjadi kesenjangan nilai yang mencolok antara nilai Ujian Sekolah (U S) dengan Nilai Ujian Nasional (U N).

Untuk itu diperlukan langkah langkah kongkrit yang dapat dilakukan agar pengawasan sekolah berkualitas secara terus menerus dan berkonsentrasi penuh untuk meningkatkan kualitas dalam melaksanakan kegiatan supervisi (pemantauan, pembinaan dan Penilaian) terhadap kegiatan pembelajaran di sekolah , sehingga mutu lulusan dapat dicapai secara optimal.

Dalam rangka Peningkatan Kemampuan profesionalisme tenaga kependidikan   khususnya pengawas,kepala sekolah dan tata usaha sekolah ,,pemerintah melalui Direktorat P2TK Dikmen Kemdikbud RI telah berupaya melaksanakan  Bimtek peningkatan pengembangan karir  PTK dikmen di wilayah timur dan Sumatra barat melalui Program Kemitraan dengan swekolah berprestasi di wilayah barat   yang berlangsung  pada tanggal 20 april s.d 2 mei 2015 .Hasil pengamatan , wawancara dan studi dokumentasi di 3 ( tiga) sekolah sekolah wilayah barat binaan Bapak Drs. H. Deddy Suryana, MM meliputi SMA Negeri 1 Kota Bogor,SMAN 2 Kota Bogor,dan SMAN 5 Kota Bogor dapat disimpulkan bahwa Penampilan, Pelayanan, dan Prestasi akademik maupun non akademik sudah mencapai standar ideal dengan rata-rata peringkat Akreditasi A(+)=98,35 .Warga sekolah memiliki komitmen bersama untuk melaksanakan Pendidikan  bermutu .Salah satu aspek yang sangat berpengaruh terhadap prestasi sekolah adalah aspek kinerja guru dalam melaksanakan pengelolaan standar proses  meliputi perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil belajar, dan pengawasan proses pembelajaran .

Namun program yang dapat di adaptasi dari pembelajaran Kemitraan ini adalah : meningkatkan Minat dan Kemampuan guru melaksanakan pembelajaran Inovatif berdasarkan standar proses berbasis Penelitian Tindakan Kelas yang diyakini sebuah pengalaman terbaik dalam melaksanakan tugas , yang saya beri Judul : Optimalisasi Pengawasan Terhadap Pelaksanaan Standar Proses Berbasis Peneliian Tindakan Kelas Menggunakan Teknik Cat-Mosi Suatu Langkah Cerdas yang diyakini dapat menciptakan Model Pengelolaan Sekolah yang bermutu pada SMA Binaan Di Kabupaten Dompu”.

Kegiatan implementasi tindak Ini diharapkan munculnya motivasi-motivasi , baik instrinstik maupun ekstrinstik pada diri guru, kepala sekolah, tata usaha serta pengawas sekolah untuk lebih memacu diri menggapai prestasi dan profesionalisme dalam upaya meningkatkan mutu pengelolaan sekolah sebagaimana yang diharapkan..

  1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas dapat diidentifikasi beberapa permasalahan yang ada, yaitu:

  1. Apa sajakah factor yang mempengaruhi peningkatan kualitas SMA?
  2. Apakah substansi dari Permendiknas nomor 65 tahun 2013 tentang Standar Proses?
  3. Apakah Permendiknas nomor 65 tahun 2013 tentang Standar Proses sudah dilaksanakan?
  4. Apakah terjadi kendala dalam pelaksanaan Permendiknas nomor 65 tahun 2013  tentang Standar Proses ?
  5. Apakah dengan dilaksanakan Permendiknas nomor 65 tahun 2013 tentang Standar Proses dapat meningkatkan kualitas Sekolah Menengah ?
  6. Apakah guru sudah melaksanakan proses pembelajaran berbasis Penelitian tindakan kelas?
  7. Bagaimana Pengawasan dilakukan agar Pelaksanaan Permendiknas nomor 65 tahun 2013 tentang Sandar Proses berjalan sesuai dengan yang diharapkan?
  1. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, peneliti membatasi masalah pada pelaksanaan Standar Proses yang berbasis PTK di SMAN 1 Dompu Kabupaten Donpu Propinsi NTB, yaitu:

  1. Perencanaan Proses Pembelajaran Berbasis Penelitian Tindakan Kelas.
  2. Pelaksanaan Proses Pembelajaran aktif dan inovatif menggunakan berbagai model pembelajaran berbasis Penelitian Tindakan kelas.
  3. Penilaian Hasil Belajar
  4. Pengawasan Proses Pembelajaran
  5. Mendokumentasikan Hasil penilaian proses dan hasil belajar. Dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas
  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang telah disebutkan di atas, maka rumusan masalah dalam karya Best Practice ini adalah: Bagaimanakah Optimalisasi Pengawasan Terhadap Pelaksanaan Standar Proses Berbasis Peneliian Tindakan Kelas Menggunakan Teknik Cat-Mosi Suatu Langkah Cerdas Meningkatkan Kualitas Pengelolaan Sekolah Pada SMA Binaan Di Kabupaten Dompu?.

  1. Tujuan

Adapun tujuan kegiatan best practice hasil implementasi program kemitraan ini adalah untuk mengoptimalkan kegiatan Pengawasan Terhadap Pelaksanaan Standar Proses Berbasis Peneliian Tindakan Kelas Menggunakan Teknik Cat-Mosi Suatu Langkah Cerdas Meningkatkan Kualitas Pengelolaan Sekolah Pada SMA/SMK Binaan Di Kabupaten Dompu

  1. Manfaat

Beberapa manfaat dari kegiatan pengawasan dan atau pembinaan dengan teknik CAT-MOSI ini di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Manfaat Teoritis

Kegiatan ini diharapkan dapat menambah wawasan baru tentang strategi pelaksanaan standat proses berbasis penelitian tindakan kelas dengan teknik CAT-MOSI

 

.

  1. Manfaat Praktis
  1. Manfaat bagi guru dapat melaksanakan tugas sesuai standar proses berbasis penelitian tindakan kelas.
  2. menumbuhkan budaya meneliti di kalangan guru yang merupakan dampak dari pelaksanaan tindakan secara berkesinambungan, maka manfaat yang dapat diperoleh secara keseluruhan yaitu label inovasi pendidikan karena para guru semakin diberdayakan untuk mengambil berbagai prakarsa profesional secara mandiri. Sikap mandiri akan memicu lahirnya ”percaya diri” untuk mencoba hal-hal baru yang diduga dapat menuju perbaikan sistem pembelajaran. Sikap ingin selalu mencoba akan memicu peningkatan kinerja dan profesionalisme seorang guru secara berkesinambungan. Sehingga proses belajar sepanjang hayat terus terjadi pada dirinya.
  3. Dengan dilaksanakannya standar proses berbasis penelitian , guru akan terbiasa menulis Karya Tulis Ilmiah sekaligus menghasilan pruduk PTK sebagai bahan usul kenaikan pangkat dan jabatan setingkat lebih tinggi.
  4. Bagi sekolah tercipta kultur pembelajaran yang standar berbasis penelitian tindakan kelas sehingga dapat melaksanakan penjaminan mutu pendidikan dengan efektif, dan dengan materi pelajaran yang standar, dengan cara mengajar yang standar  dapat mengeluarkan mutu tamatan yang standar pula.
  5. Bagi pengawas sekalah dapat sebagai referensi model penjaminan pelaksanaan standar standar proses dengan efektif.
  6. Bagi Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga dapat sebagai model penjaminan mutu pelaksanaan 8 standar khususnya standar proses serta meningkatkan mutu tamatan dengan  tercapainya target lulusan  peringkat 1 di Provinsi NTB.
  7. Bagi Dinas Pendidikan dapat  terlaksananya Permen Diknas No 65 tahun 2013 dan Impres No 01 Tahun 2010 (program percepatan pembangunan pendidikan). Agar tidak bernasip  sama dengan model-model pembelajaran berbasis siswa aktif lainya  seperti CBSA, KBK, QCL, CTL PAKEM, PAIKEM, PAIKEMGEMBROT,  dan sebagainya yang dalam pelaksanaanya hapir tidak dilaksanakan guru, hal ini tidak ada yang mempermaslahkan karena bukan suatu aturan menteri maupun Impres seperti Permen Diknas No 65 Tahun 2013 dan Impres No 01 Tahun 2010, tetapi bila permen serta impres  ini tidak dilaksakan guru,  maka guru tersebut dalam melaksanakan tugasnya bisa dianggap guru telah melaksanakan Mal Praktek dalam dunia pendidikan..

Bab II

Kerangka Teori

 

  1. Hakikat Kualitas Sekolah Menengah

Pendidikan merupakan pondasi yang mendasari terbentuknya generasi bangsa yang unggul yang mampu bersaing dengan perkembangan zaman. Tanpa pendidikan, bangsa ini akan lemah dan bodoh. Untuk mewujudkan generasi bangsa yang unggul, maka perlu adanya pendidikan dan sekolah yang berkualitas.

Sekolah merupakan salah satu factor penentu SDM, melalui sekolah para peserta didik baik secara mental maupun intelektual diajar dan dididik untuk dapat mencapai suatu target yang ditetapkan sekolah.Sekolah yang berkualitas tidak terlahir dengan sendirinya dan bukan karena semata-mata fasilitas yang dimiliki. Sekolah berkualitas harus dibentuk dan direncanakan dengan baik serta dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Komitmen warga sekolah dan stakeholder merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dan merupakan lahirnya sekolah yang berkualitas.

Tinggi rendahnya kualitas sekolah ditentukan oleh banyak faktor, antara lain : kurikulum dengan semua proses dan penilaiannya, sarana dan prasarana, pengelolaan, dan tenaga pendidiknya. Kualitas sekolah tidak hanya dilihat dari tingginya Nilai Ujian Nasional atau prestasi akademik saja namun sekolah juga harus dapat menumbuhkembangkan potensi psychis, fisik, moral, agama, emosi spiritual, adversity, dan intelijensi, serta ketrampilan sesuai kompetensi keahliannya.

Sekolah merupakan salah satu tempat mewujudkan pendidikan yang benar-benar diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing serta memiliki budi pekerti yang luhur serta moral yang baik.Guna mewujudkan sekolah yang berkualitas, pemerintah membuat standar yang harus dimiliki oleh semua sekolah di Indonesia secara bertahap yang harus dicapai. Yang tercantum dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang system pendidikan nasional pasal 3 disebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, pemerintah menetapkan suatu standar pendidikan nasional yang harus dicapai oleh sekolah di seluruh Indonesia.

Untuk dapat mencapai hasil yang maksimal, sekolah harus dilaksanakan secara efektif dengan mampu mencapai tingkatan yang sama atau bahkan memiliki nilai di atas target atau standar yang ditetapkan (handout oleh Drs. Abdul Mu’id Zein M, Pd.). Sekolah efektif adalah sekolah yang mampu membawa siswa dari tingkatan penguasaan rendah menjadi tingkatan master, atau dari tingkatan sedang menjadi sukses dan mampu membawa semua siswa menjadi tingkatan memuaskan.Dengan demikian yang dimaksud dengan kualitas Sekolah Menengah adalah suatu kondisi sekolah yang mampu melakukan proses pembelajaran yang efektif dan efisien sehingga mampu meningkatkan penguasaan kompetensi secara maksimal.

  1. Hakikat Optimalisasi pengawasan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata optimalberarti terbaik; tertinggi; paling menguntungkan.Optimalisasi merupakan perihal mengoptimalkanyang berarti menjadikan paling baik; menjadikan paling tinggi. Sedangkan pengawasan atau supervise adalah pembinaan kepada seluruh staf sekolah agar mereka dapat meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik. Supervisi merupakan usaha memberikan layanan dan bantuan kepada guru-guru baik secara individual maupun secara kelompok dalam usaha memperbaiki pengajaran. Dengan demikian Optimalisasi  pengawasan adalah upaya peningkatan pengawasan terhadap guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran dengan tujuan memberikan pelayanan dan bantuan sehingga terjadi perbaikan proses pembelajaran.

  1. Standar Proses

Standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan untuk mencapai kompetensi lulusan. Standar proses meliputi;  1).  Perencanaan proses pembelajaran; 2). Pelaksanaan proses pembelajaran,; 3). Penilaian hasil belajar; 4).  Pengawasan proses pembelajaran agar dapat dilaksanakan proses belajar yang efektif dan efisien.  Adapun uraian dari masing-masing bagian dari Standar Proses tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Perencanaan Proses Pembelajaran

Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang memuat identitas mata pelajaran, Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD), indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, materi ajar, alokasi waktu, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian hasil belajar, dan sumber belajar.

  1. Pelaksanaan Proses Pembelajaran

Pelaksanaan Pembelajaran Pelaksanaan pembelajaran merupakan implementasi dari RPP. Pelaksanaan pembelajaran meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.

  1. Penilaian Hasil Pembelajaran

Penilaian dilakukan oleh guru terhadap hasil pembelajaran untuk mengukur tingkat pencapaian kompetensi peserta didik serta digunakan sebagai bahan penyusunan laporan

  1. Pengawasan Proses Pembelajaran

Pengawasan proses pembelajaran terdiri dari; a).Pemantauan . Pemantauan dilakukan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian hasil pembelajaran. Pemantauan dilakukan dengan cara diskusi kelompok terfokus, pengamatan, pencatatan, perekaman, wawancara, dan dokumentasi dan dilakukan oleh kepala satuan pendidikan dan pengawas satuan pendidikan.; b). Supervisi. Supervisi dilakukan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian hasil pembelajaran.Diselenggarakan dengan cara pemberian contoh, diskusi, pelatihan, dan konsultasi. Yang dilakukan oleh kepala satuan pendidikan dan pengawas satuan pendidikan; c).Evaluasi. Evaluasi dilakukan untuk menentukan kualitas pembelajaran secara keseluruhan, mencakup tahap perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, dan penilaian hasil pembelajaran ; d). Tindak Lanjut.Penguatan dan penghargaan diberikan kepada guru yang telah memenuhi standar.Teguran yang bersifat mendidik diberikan kepada guru yang belum memenuhi standar.Guru diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan/penataran Iebih lanjut.

  1. .Pelaksanaan Standar Proses Yang Berbasis PTK

Seorang guru merupakan arsitek dalam pembelajaran sekaligus juga sebagai  pelaksana  termasuk  di  dalamnya  melakukan  evaluasi.  Dalam  UU Sisdiknas no. 20  tahun 2003 pasal  40  dituliskan bahwa pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban: (a) menciptakan suasana pembelajaran yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis dan dialogis; (b) mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan; (c) memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikannya.Hal ini dipertegas lagi dengan adanya UU guru dan dosen No. 14 tahun 2005 yang menuliskan bahwa guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi  peserta  didik  pada  pendidikan  anak  usia  dini,  jalur  pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah (UU no. 14 tahun 2005; 2). Dalam UU no 14 tahun 2005 pasal 20 ayat a dikatakan bahwa dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berkewajiban untuk merencanakan, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, menilai, dan mengevaluasi hasil pembelajaran.

Untuk merencanakan, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, menilai, dan mengevaluasi hasil pembelajaran diperlukan sebuah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan jalan merencanakan, melaksanakan, mengamati, dan melakukan refleksi diri melalui siklus-siklus yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pembelajaran. PTK dapat membantu guru memperbaiki mutu pembelajaran, meningkatkan profesionalitas guru, meningkatkan rasa percaya diri guru, memungkinkan guru secara aktif mengembangkan pengetahuan, dan keterampilannya. Dengan melakukan PTK, guru menjadi terbiasa menulis, dan sangat baik akibatnya bila guru sekolah negeri atau PNS akan mengikuti kenaikan pangkat, khususnya dari gol. IIIb ke atas yang mengharuskan guru untuk menuliskan karya tulis ilmiahnya. Begitu pun untuk guru sekolah swasta, PTK sangat penting untuk meningkatkan apresiasi, dan profesionalisme guru dalam mengajar. Apalagi dengan adanya program sertifikasi guru yang telah dicanangkan oleh pemerintah.

Selain itu, PTK akan menumbuhkan budaya meneliti di kalangan guru yang merupakan dampak dari pelaksanaan tindakan secara berkesinambungan, maka manfaat yang dapat diperoleh secara keseluruhan yaitu label inovasi pendidikan karena para guru semakin diberdayakan untuk mengambil berbagai prakarsa profesional secara mandiri. Sikap mandiri akan memicu lahirnya ”percaya diri” untuk mencoba hal-hal baru yang diduga dapat menuju perbaikan sistem pembelajaran. Sikap ingin selalu mencoba akan memicu peningkatan kinerja dan profesionalisme seorang guru secara berkesinambungan. Sehingga proses belajar sepanjang hayat terus terjadi pada dirinya.

PTK pada saat ini berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan mutu pembelajaran di kelas. Di ruangan kelas, menurut Cohen & Manion (1980: 211).

PTK dapat berfungsi sebagai  : (a) alat untuk mengatasi masalah-masalah yang didiagnosis dalam situasi pembelajaran di kelas; (b) alat pelatihan dalam jabatan, membekali guru dengan keterampilan dan metode baru dan mendorong timbulnya kesadaran diri, khususnya melalui pengajaran sejawat; (c) alat untuk memasukkan ke dalam sistem yang ada (secara alami)  pendekatan tambahan atau inovasi; (d) alat untuk meningkatkan komunikasi yang biasanya buruk antara guru dan peneliti; (e)   alat   untuk   menyediakan   alternatif   bagi   pendekatan   yang   subjektif, impresionistik terhadap pemecahan masalah kelas; (f) alat untuk mengembangkan keterampilan guru yang bertolak dari kebutuhan untuk menanggulangi berbagai permasalahan pembelajaran aktual yang dihadapi di kelasnya.

Setiap hari guru menghadapi banyak masalah, seakan-akan masalah itu tidak  ada  putus-putusnya.  Merenunglah  barang  sejenak,  atau  mengobrollah dengan teman sejawat, maka guru akan segera menemukan seribu satu masalah yang telah merepotkannya selama ini dalam proses pembelajaran di sekolah. Lalu lakukan PTK, dan temukan khasanah ilmu pendidikan baru yang belum tergali. Para guru harus menjadikan dirinya sebagai penemu metode-metode baru dalam dunia pendidikan melalui PTK.

Adanya masalah yang dirasakan sendiri oleh guru dalam pembelajaran di kelasnya merupakan awal dimulainya PTK. Masalah tersebut dapat berupa masalah yang berhubungan dengan proses dan hasil belajar siswa yang tidak sesuai dengan harapan guru atau hal-hal lain yang berkaitan dengan perilaku mengajar guru dan perilaku belajar siswa. Guru diarahkan untuk berpikir ilmiah, melalui  masalah  yang  mereka  temukan.  Langkah  menemukan  masalah  akan dilanjutkan dengan menganalisis dan merumuskan masalah, kemudian merencanakan PTK dalam bentuk    tindakan   perbaikan, mengamati, dan melakukan refleksi. Namun demikian harus dapat dibedakan antara pengamatan dengan refleksi. Pengamatan lebih cenderung kepada proses, sedangkan refleksi merupakan perenungan dari proses yang sudah dilakukan. Refleksi adalah cermin dari apa yang telah dilakukan oleh guru yang merangkap sebagai peneliti.Untuk membuat siswa menjadi lebih aktif dan potensinya dapat berkembang secara optimal diperlukan penguasaan kompetensi seorang guru yang utuh dan menyeluruh.  Salah  satu  kompetensi  yang  harus  dilihat  dari  sudut  pedagogik adalah kemampuan melakukan PTK. Oleh karena itu, sudah selayaknya para guru meningkatkan mutu pembelajarannya melalui PTK.

Bab III

PEMBAHASAN

 

  1. Hasil Kegiatan Sebelumnya

Berawal dari sulitnya penulis melaksanakan perubahan pola menganjar yang dilaksanakan oleh guru-guru sekolah binaan, bahkan pada  tahun pelajaran  2012/2013 penulis telah berhasil melaksanakan  pembinaan pengembangan RPP berbagai model pembelajaran inovatif  dalam melaksanakan PTK berbasis BLOG sebagai kelas MAYA” pada semua sekolah binaan khusus untuk golongan IIId dan IVa karena mereka yang golongan IVa mentok sampai 6 tahun bahkan ada yang mentok sampai 15 tahun (saat itu belum ada guru golongan IVb),Berkat buah dari pembinaan tersebut ternyata hasilnya mengembirakan 82% guru golongan IV-A sudah naik pangkat golongan IV-B sampai periode april 2015 ini.  Ternyata penyebabnya adalah dalam pelaksanaan pembelajaran belum ada yang menerapkan RPP yang sudah merencanakan kegiatan awal, inti (eksplorasi, elaborasi, kompermasi dan atau saintifik) dan  penutup dengan baik dan benar. Apalagi RPP yang dibuat dalam berbagai model, Atau dengan kata lain perencanaan pembelajaran berhenti dalam perencanaan tidak sampai bahwa RPP sebagai panduan/ sekenario guru mengajar..

Salah satu tugas pengawas adalah memantau pelaksanaan standar nasional pendidikan.Seperti yang diuraikan pada bagian pendahuluan, bahwa pemantauan terhadap pelaksanaan standar proses dimulai dari: (1). Perencanaan Proses Pembelajaran. Aktivitas guru pada perencanaan proses pembelajaran adalah menyusun silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), (2). Pelaksanaan Proses Pembelajaran. Pada tahap ini guru melaksanakan proses pembelajaran di kelas berdasarkan RPP yang telah dibuat, (3). Penilaian hasil belajar. Guru hendaknya mampu menyususn tes yang dapat menggambarkan kompetensi siswa stelah mengikuti proses pembelajaran, (4). Pengawasan proses pembelajaran.

 Pada pengawasan pembelajaran perlu dilakukan secara terencana dengan instrumen yang sudah dipersiapkan .Hasil supervisi terhadap pelaksanaan standar proses pada sekolah binaan, mulai dari perencanaan proses, pelaksanaan proses, penilaian hasil belajar , serta pengawasan proses pembelajaran masih sangat memprihatinkan.

Pada perencanaan proses, guru belum mampu mengembangkan RPP  dengan berbagai model pembelajaran yang berfariasi. Seperti model pembelajaran Inquiry Based Learning, Discovery Based Learning, Problem Based Learning, dan Project Based Learning , dan model pembelajaran inovatif lainnya seperti STAD,Jugsaw dan lainnya yang dapat dikembangkan oleh guru dalam melaksanakan PTK sepajang tidak menghilangkan pendekatan ilmiah atau saintifk. Demikian pula  RPP pada umumnya copy paste sehingga tidak implementatif. Hampir semua sekolah binaan belum memiliki dokumen RPP yang dihimpun hasil kerja mandiri yang sistematis. Hal tersebut menyulitkan pengawas untuk meneliti atau mengevaluasi perencanaan proses yang dimiliki guru.

Pada pelaksanaan proses, kompetensi guru masih sangat rendah dalam memenuhi standar pelaksanaan proses pembelajaran. Pelaksanaan proses pembelajaran yang terdiri kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup belum mampu dilaksanakan secara maksimal. Hal ini tergambar pada hasil observasi kelas yang dilakukan pengawas pada tahun 2013/2014 terhadap 25 guru  mendapat Prosentase Nilai rata-rata ketercapaian 54%.

Supervisi terhadap standar penilaian proses maupun hasil belajar, diketahui bahwa masih banyak guru yang belum mampu menyusun maupun mengimplementsikan instrumen tes yang dapat mengukur proes dan hasil belajar siswa secara makasimal. Soal tes yang dibuat belum sesuai kaidah penyusunan soal, mulai dari konstruksi, bahasa, materi. Dari segi taksonomi, soal yang disusun kurang variatif, misalnya hanya mengukur ingatan saja.

Pada pengawasan proses, aspek yang dipantau belum komprehensip dan cenderung tidak terencana atau tidak diimplementasikan secara nyata di kelas. Hasil pengawasan sekedar ada dan tidak ditindaklanjuti

Berdasar kenyataan yang demikian, maka penulis mencari cara bagaimana pelaksanaan pembelajaran aktif  dapat terlaksana dengan baik dan benar, Mengingat bahwa karena  standar proses adalah peraturan menteri pendidikan No 41 Tahun 2007 di ubah menjadi permendiknas No.65 tahun 2013  dan dikuatkan oleh Impres No 01 Tahun 2010, tentang Percepatan Pembangunan Nasional dalam bidang pendidikan adalah pelaksanaan pembelajaran berbasis siswa aktif dan penerapan pendidikan karakter bangsa harus dilaksanakan sejak Inpres tersebut ditetapkan. Demi  keterlaksanaan regulasi pendidikan tersebut, maka penulis berusaha keras untuk menjamin sekolah binaan harus melaksanakan bahkan berbasis PTK , bila tidak maka bisa di Cap Mal Praktek bidang pendidikan..

Tidak lanjut dari pengembangan RPP berdasarkan standar proses ini penulis sebagai pengawas menindaklanjuti dengan mengadakan analisis untuk menjamin standar kompetensi (SK) serta kompetensi dasar (KD) benar-benar  telah dibuat RPP model pembelajaran efektif dan Inovatif dengan pendekatan Saintifik hanya 13% .Selanjutnya berdasar hasil tersebut mengingat diberlakukannya unsure PKB termasuk didalamnya Karya Ilmiah dalam bentuk PTK sebagai salah satu unsure wajib syarat naik pangkat guru golongan IIIb ke atas menjadi masalah baru bagi guru naik pangkat karena mereka pada umumnya belum melaksanakan pembelajaran yang aktif dan inofatif atau dengan kata lain saintifik,sebagai satu-satunya syarat Pembelajaran berbasis PTK. Sehingga pada kegiatan best practice kali ini penulis terinspirasi dari belajar di sekolah mitra untuk mengenjot guru melaksanakan standar proses berbasis PTK melalui “Optimalisasi Pengawasan Terhadap Pelaksanaan Standar Proses Berbasis Peneliian Tindakan Kelas Menggunakan Teknik Cat-Mosi Suatu Langkah Cerdas Meningkatkan Kualitas Pengelolaan Sekolah Pada SMA Binaan Di Kabupaten Dompu”.

.

  1. Langkah-langkah Pemecahan Masalah

       Teknik pengawasan atau pembinaan adalah cara-cara yang dipilih agar proses pengawasan dan pembinaan  tepat sasaran dalam mencapai tujuan yang ditetapkan.Jadi Formula teknik CAT-MOSI dibentuk dari unsur-unsur bahasa yang terdapat di dalam pembelajaran saintifik pada standar proses., yakni: singkatan dari Contoh, Amati,Tiru,Modifikasi dan Presentasi. . CAT-MOSI adalah teknik yang digunakan dalam meng-optimalkan pengawasan pengelolaan pembelajaran berdasarkan standar proses yang dilakukan secara teratur dan berkesinambungan sehingga mampu mengendalikan setiap tahap yang terdapat pada standar proses.

. Upaya tersebut dilakukan mulai dari tahap perencanaan proses, pelaksanaan proses, penilaian hasil pembelajaran dan pengawasan proses pembelajaran. Oleh sebab itu optimalisasi pengawasan terhadap pelaksanaan pengelolaan pembelajaran yang bermutu berdasarkan standar proses dilakukan dengan strategi tertentu, yaitu sebagai berikut :

  1. Strategi Optimalisasi Pengawasan Perencanaan Proses Pembelajaran
  1. Tahap Pertama ( IN-1).Kegiatan Formal

 Perencanaan Proses Pembelajaran merupakan awal kewajiban guru sebelum melaksanakan proses pembelajaran. Pada bagian ini guru diwajibkan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).  Untuk melengkapi komponen tersebut guru perlu juga menyusun bahan hajar, baik berupa rangkuman materi maupun lembar kerja siswa. Untuk mendorong penguasaan IT guru perlu didorong memanfaatkan teknologi informasi dalam penyusunan perencanaan proses pembelajaran.

Dalam pelaksanaan di sekolah, ada kendala yang dihadapi oleh pengawas untuk dapat membina, menilai RPP, dan bahan ajar tersebut untuk masing-masing guru di sekolah binaan secara langsung. Kendala tersebut pada umumnya disebabkan oleh keterbatasan waktu, kesibukan guru mengajar, serta dokumen yang diperiksa berupa hard copy. Untuk mengatasi hal tersebut pengawas bersinergi dengan kepala sekolah, kepala tata usaha sekolah untuk merencanakan kegiatan bersama dalam bentuk tatap muka dan Non Tatap muka yang diberi nama (IN-ON) serfice Learning dengan mewajibkan memanfaatkan teknologi computer, HP dan Email. Dengan demikian kendala tersebut di atas  dapat diatasi.

Secara rinci langka-langkah  kegiatan dalam pendampingan guru merencanakan pembelajaran  melalui Kegiatan IHT implenetasi hasil program Kemitraan (IN-1)  selama 3 ( tiga) hari dari tanggal 11 sd 13 Mei 2015 mulai puluk 08.30 -17.30, dengan kegiatan sebagai berikut:

  • Guru dikumpulkan dalam pertemuan melalukan kegiatan IHT dengan membawa RPP masing-masing dan permasalahan yang dihadapi dikelasnya untuk di identifikasi.
  • Fasilitator Menyampaiakan materi – materi  dalam bentuk tayangan.
  • Peserta diberi tugas diskusi kerja praktek terbimbing dengan teknik CAT-MOSI didampingi oleh guru senior/pendamping menyusun RPP berdasarkan standar proses . Adapun langkah-langkat teknik CAT-MOSI: meliputi Pemberian contoh langkah-langhkah berbagai model pembelajaran inovatif berbasis penedekatan saintifik.Dari contoh RPP tersebut guru meng-Amati secara utuh model RPP contoh tersebut, ,Kemudian guru Men-Tiru,Me-Modifikasi dan Mem-Presntasikan RPP tersebut sesuai situasi sekolah, kondisi peserta didik dan lingkungan sekolah nya..
  • Fasilitator dan guru pendamping (guru Senior) berkeliling membantu peserta yang mengalami masalah

Kegiatan ini berlangsung selama 2 hari , tanggal 11 sd 12 mei 2015.

  • Selanjutnya pada hari ketiga tanggal 13 mei 2015 fasilitator menyapaikan materi penulisan proposal dan Laporan PTK. Dengan cara yang sama seperti di atas peserta diberi bela contoh Proposal PTK. Peserta mendiskusikan penyususunan proposal PTK dibantu oleh guru senior Golongan IVb mennggunakan teknik CAT-MOSI sesuai tindakan yang di pilih dalam RPP.
    1. Tahap II (ON-1).Kegiatan Informal

Pada tahanp II (On-1) ini dimulai tanggal 15 Mei s.d 23 Mei 2015. Tugas Peserta adalah melanjutkan diskusi informal melakukan kegiatan mandiri dan mencobakan dalam kelas dalam bentuk kegiatan Siklus PTK (Siklus I) didampingi oleh guru senior golongan IV/b pada rumpun mata pelajaran sejenis.Peserta diberi bekal materi dan contoh-contoh RPP model pembelajaran inovatif , dan diwajibkan untuk menyelesaikan file RPP model pembelajaran inovatif dengan  pendekatan Saintifik serta menyerahkan ke guru pendamping/fasilitator/pembimbing dalam bentuk soft copy dan atau dikirim via email masing – masing guru pendamping.

  1. Tahap III (IN-2) : Kegiatan Formal.

Pada kegiatan tahap III (IN-2) kali ini peserta/guru kembali berkumpul dalam Petemuan IHT selama 1(satu) hari yaitu tanggal 25 Mei  2015 melakukan Presentasi Reel Teaching dan demonstrasi pembelajaran  oleh guru senior sebagai guru model..

  • Semua RPP yang sudah final di serahakan ke pendamping masing-masing dan di dokumentasikan untuk mendapatkan penilaian hasil.
  1. Strategi Optimalisasi Pengawasan Pelaksanaan Pembelajaran

Pada tahap ini disebut ON-2, dimana semua peserta  melakukan pembelajaran dikelas berbasis Penelitian Tindakan kelas sesuai jadwal pelajaran sekolah dengan tahapan Siklus II dan seterusnya mulai tanggal 26 Mei sd tanggal 30 mei 2015.. Dimana setiap siklus terdiri dari empat langkah, yaitu: 1)perencanaan, 2) pelaksanaan tindakan, 3) observasi, dan 4) refleksi.. Di obserfer langsung oleh guru senior golongan IV-B Yang tergabung dalam Tim penilai PKG dan kepala sekolah masing-masing .

Pelaksanaan Proses Pembelajaran merupakan implementasi dari RPP. Pelaksanaan proses pembelajaran  meliputi; (1). Kegiatan Pendahuluan; (2). Kegiatan Inti; (3). Kegiatan Penutup.

Fokus pengawasannya terletak pada rincian kegiatannya, yaitu:

  1. a. Kegiatan Pendahuluan

Dalam kegiatan pendahuluan, guru:

1)  Menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran;

2)  Mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang materi yang sudah dipelajari dan terkait dengan materi yang akan dipelajari;

3)  Mengantarkan peserta didik kepada suatu permasalahan atau tugas yang akan dilakukan untu mempelajari suatu materi dan menjelaskan tujuan pembelajaran atau KD yang akan dicapai; dan

4)  Menyampaikan  garis  besar  cakupan  materi  dan  penjelasan  tentang kegiatan yang akan dilakukan peserta didik untuk menyelesaikan permasalahan atau tugas.

  1. Kegiatan Inti

Kegiatan inti menggunakan model dan/atau metode yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran. Kegiatan inti dikembangkan dengan menggunakan pendekatan saintifik yang meliputi proses mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengomunikasikan.

1).Mengamati adalah kegiatan yang dilakukan dengan memaksimalkan pancaindra dengan cara melihat, mendengar, membaca, menyentuh, atau menyimak. Dalam pembelajaran Matematika dapat dilakukan dengan mengamati grafik, simbol-simbol, gambar, peristiwa misalnya pelampungan dadu.

2). Menanya  adalah  proses  mengkonstruksi  pengetahuan  berupa  konsep, prinsip dan prosedur hingga berpikir metakognitif melalui diskusi kelompok atau diskusi kelas. Kegiatan ini dapat dilakukan dalam diskusi kelompok atau klasikal dengan motivasi dari guru.

3). Mengumpulkan   informasi   adalah   kegiatan   untuk   meningkatkan keingintahuan siswa, mengembangkan kreativitas, dan keterampilan kerja ilmiah. Kegiatan ini mencakup merencanakan, merancang, dan melaksanakan eksperimen, serta memperoleh, menyajikan, dan mengolah data. Dalam pembelajaran Matematika, pemanfaatan sumber belajar termasuk mesin komputasi dan otomasi sangat disarankan.

4). Mengasosiasi   adalah   kegiatan   dengan   tujuan   untuk   membangun kemampuan berpikir dan bersikap ilmiah. Kegiatan dapat dirancang oleh guru melalui situasi yang direkayasa dalam kegiatan tertentu sehingga siswa melakukan aktivitas antara lain menganalisis data, mengelompokkan, membuat kategori, menyimpulkan, dan memprediksi/mengestimasi dengan memanfaatkan lembar kerja diskusi atau praktik.

5).Mengomunikasikan   adalah   sarana   untuk   menyampaikan   hasil konseptualisasi dalam bentuk lisan, tulisan, gambar/sketsa, diagram, atau grafik. Kegiatan ini dilakukan agar siswa mampu mengomunikasikan pengetahuan, keterampilan, dan penerapannya, serta kreasi siswa melalui presentasi,  membuat laporan, dan/ atau unjuk karya.

Kelima kegiatan tersebut di atas, tidak harus terjadi dalam satu kali pertemuan, tetapi setiap pertemuan fokus kepada kegiatan mana yang akan dilakukan disesuaikan dengan karakteristik materi atau IPK.

Contoh :

Jika dalam satu RPP terdapat 3 (tiga) kali pertemuan, maka ada kemungkinan sebagai berikut;

1)  pertemuan pertama fokus kepada kegiatan mengamati dan menanya,

2) pertemuan kedua fokus kepada menanya, mengumpulkan informasi, dan mengasosiasi

3) pertemuan ketiga fokus kepada kegiatan mengomunikasikan.

  1. c. Kegiatan Penutup

Dalam kegiatan penutup, guru bersama-sama peserta  didik dan/atau sendiri membuat  rangkuman/simpulan  pelajaran,  melakukan  penilaian  dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terporgram, memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran, merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk  pembelajaran remedy, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik individual maupun kelompok.

Untuk memudahkan pengawas dalam melaksanakan tugas kepengawasannya, maka pengawas cukup membuat daftar ceklist pada instrument terlampir .

  1. Strategi Optimalisasi Pengawasan Penilaian Hasil Belajar

 

Penilaian hasil belajar pada prinsipnya adalah kemampuan guru dalam mengembangkan alat ukur terhadap penguasaan pengetahuan, ketrampilan dan sikap peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran. Untuk memberikan bekal pengetahuan dan ketrampilan menyusun Tes adalah dengan melakukan bimbingan individu maupun kelompok menggunakan teknik CAT-MOSI.

 Bimbingan secara individu, pengawas langsung dapat melakukan telaah soal yang telah dibuat guru, baik soal ulangan harian, maupun ulangan semester. Sedangkan bimbingan kelompok dapat dilakukan dalam kesempatan penyusunan soal Ujian Sekolah, dengan pola WorkShop. (Acuan Materinya : Buku Teknik Penulisan Soal oleh Safari, M.A).

Mengingat waktu yang terbatas  dan momenya tidak tepat dilaksanakan pada bulan mei dan juni maka maka optimalisasi pengawas penilaian hasil belajar dilaksanakan sebagai Rencana Pengembangan kegiatan pengawasan untuk semua sekolah binaan dilaksanakan secara kelompok melalui pola Work Shop.Dengan tahapan kegiatan sebagai berikut :

  1. .Melakukan review dan revisi terhadap rancangan penilaian yang dikembangkan dalam silabus dan RPP
  2. Melaksanakan penilaian sesuai rancangan yang telah direvisi untuk mengetahui pencapaian kompetensi
  3. Melakukan analisis hasil  ulangan dan tindak lanjut  .

000

  1. Strategi Optimalisasi Pengawasan Proses Pembelajaran

 

Pengawasan proses pembelajaran pada dasarnya memantau, mensupervisi, serta mengevaluasi, serta menindaklanjuti seluruh proses yang ada, mulai dari perencanaan  proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran serta evaluasi hasil belajar peserta didik. Hasil kepengawasan ini menjadi rekomendasi dan refleksi, baik  bagi guru, kepala sekolah maupun untuk kepentingan lain.

  1. Penulisan Laporan Penelitian Tindakan Kelas

Setelah semua peserta pada tahap ini melakukan pembelajaran dikelas berbasis Penelitian Tindakan kelas sesuai jadwal pelajaran sekolah dengan tahapan terdiri dari beberapa siklus. Dimana setiap siklus terdiri dari empat langkah, yaitu: 1)perencanaan, 2) pelaksanaan tindakan, 3) observasi, dan 4) refleksi.Maka dilanjutkan Penulisan laporan PTK yang didampingi langsung oleh guru senior golongan IV-B Yang tergabung dalam Tim penilai PKG. Mengingat waktu yang terbatas  maka maka optimalisasi pengawasan standar proses berbasisis Produk PTK sedang dalam proseses . Sehingga direncanakan sebagai rencana Pengembangan kegiatan pengawasan untuk semua sekolah binaan setelah siklus II dan atau III berakir..

  1. Seminar Hasil Laporan Penelitian Tindakan Kelas.

Setelah semua guru berhasil menulis Kaporan PTK , maka dirayakan keberhasilan dalam acara “Seminar Laporan Penelitian Tindakan Kelas). Mengingat TIM Angka Kredit sampai IV/B ada di daerah, maka Peserta yang terbaik lolos penilaian APIK diberi penghargaan angka Kredit 4 dan sertifikat kegiatan seminar PKB.

  1. Instrumen yang digunakan dalam kegiatan ini adalah sebagai berikut :
  1. Instrumen Telaah RPP berdasarkan standar proses
  2. Instrumen Pengawasan pelaksanaan pembelajaran berdasarkan standar proses.
  3. Instrumen Pengawasan Proses Pembelajaran
  4. Intrumen Penilaian Proposal dan Laporan PTK

 

 

  1. Tempat Dan Waktu Pelaksanaan

Optimalisasi Pengawasan Terhadap Pelaksanaan Standar Proses Berbasis Peneliian Tindakan Kelas Menggunakan Teknik Cat-Mosi Suatu Langkah Cerdas Meningkatkan Kualitas Pengelolaan Sekolah dilakukan di SMA Negeri 1 Dompu Kabupaten Dompu sebagai implementasi tindak peningkatan mutu pengelolaan Sekolah berjumlah 59 0rang guru. Sedangkan waktu pelaksanaan Optimalisasi Pengawasan Terhadap Pelaksanaan Standar Proses Berbasis Peneliian Tindakan Kelas menggunakan teknik CAT-MOSI yang diyakini sebuah langkah cerdas meningkatkan kualitas pengelolaan sekolah Pada SMA Negeri 1 Dompu Kabupaten Dompu yang direncanakan selama 2 (dua) sampai 3 (tiga) bulan.. Namun kenyataan di lapangan berdasarkan kalender pendidikan minggu efektif belajar sampai tanggal  30 Mei 2013  sehingga praktis ada paket kegiatan optimalisasi pelaksanaan standar proses berbasis penelitian masih sedang berlangsung dan akan berlangsung  setelah IN-3 ini seperti :Pertemuan siklus II dan Siklus III, optimaliasi Pengawasan penilaian pembelajaran dalam bentuk worksop . Sehingga Paket Kegiatan yang akan dilaksanakan setelah IN-3 menjadi rencana program pengembangan kegiatan Optimalisasi Pengawasan Terhadap Pelaksanaan Standar Proses Berbasis Peneliian Tindakan Kelas menggunakan teknik CAT-MOSI meningkatkan kualitas pengelolaan sekolah Pada SMA Negeri 1 Dompu Kabupaten Dompu.

 

  1. Rencana Pengembangan Untuk Tindak Lanjut

Secara umum rencana pengembangan kegiatan Optimalisasi Pengawasan Terhadap Pelaksanaan Standar Proses Berbasis Peneliian Tindakan Kelas menggunakan teknik CAT-MOSI  untul meningkatkan kualitas pengelolaan sekolah Pada SMA/SMK binaan di Kabupaten Dompu yang akan dilakukan adalah sebagai berikut :

  1. Mengoptimalkan pengawasan penilaian pembelajaran secara kelompok melalui kegiatan Work Shop.
  2. Mengoptimalkan pelaksanaan standar proses sambil melaksanakan siklus penelitian untuk mendapatkan perbaikan perbaikan pembejaran berupa laporan PTK sebagai salah satu syarat wajib naik pangkat IIIb ke atas.
  3. Melaksanakan pembinaan, pemantauan,dan penilaian untuk semua SMA/SMK binaan di Kabupaten Dompu dengan menggunakan Teknik CAT-MOSI yang lebih terarah, dan terpadu.
  4. Dalam melaksanakan pengawasan kepada warga sekolah dengan tehnik CAT-MOSI sangat cocok diterapkan pada sekolah yang berada pada posisi “Daya Abstraksi rendah, tapi kemauan tinggi”. Untuk menjunjung tiggi nilai-nilai kebenaran , kejujuran, terbuka dan menjunjung tinggi kode etik profesi.
  5. Hasil atau dampak yang dicapai dari strategi yang dipilih

Setelah semua proses optimalisasi pengawasan terhadap Standar Proses berbasis Penelitian Tindakan Kelas dengan teknik CAT-MOSI yang dilakukan oleh pengawas pada sekolah binaan melalui strategi yang telah diuraikan di atas, dampak yang ditimbulkan adalah sebagai berikut :

  1. Semua guru/peserta berusaha dengan penuh semangat menyusun administrasi pembelajaran berbasis IT.
  2. Upaya copy paste mulai tergeser dengan modifikasi dokumen yang dimilikinya melalui teknik CAT-MOSI, sehingga lebih implementatif.
  3. Guru lebih siap melaksanakan pembelajaran dalam berbagai model pembelajaran berbasis Penelitian Tindakan Kelas sehingga berdanpak pada produk PTK yang dihasilkan untuk persiapan Usulan naik pangkat yang lebih tinggi..
  4. Sekolah berusaha melengkapi sarana dan prasarana pembelajaran.
  5. Sekolah memiliki dokumen administrasi pembelajaran (Silabus, RPP, Bahan Ajar, Bahan Tayangan / Power Point) baik soft copy maupun hard copy.
  6. Terjadinya peningkatan kualitas pelaksanaan pembelajaran dengan indikator guru melaksanakan pembelajaran berdasarkan tahapan pelaksanaan proses pembelajaran (Data Terlampir )
  7. Pengawasan melekat terjadi peningkatan pada sekolah binaan.

Bab IV

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Berdasarkan tujuan dan pembahasan yang telah dipaparkan pada bab-bab terdahulu, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan bimbingan  secara sistemik Pengawasan Standar Proses berbasis Penelitian Tindakan Kelas dengan Teknik CAT-MOSI mulai dari Optimalisasi Perencanaan pross pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian proses pembelajaran dan dan pengawasan proses pembelajaran dengan langkah-langkah sebagaimana yang diuraiakan di bab sebelumnya diyakini dapat menjamin keterlaksanaan  standar proses yang optimal,. Sehingga dapat menjamin kinerja guru dan hasil belajar siswa menjadi lebih baik.Juga dapat berdampak terhadap putusnya rantai pola mengajar berbasis guru aktif menjadi pembelajaran berbasis siswa aktif .Dan dampak positif pula pada peningkatan minat dan kemampuan guru melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas. sebagai indicator meningkatknya kualitas pengelolaan sekolah Pada SMAN 1 Dompu dan SMA/SMK binaan di Kabupaten Dompu pada umumnya.

 

  1. Saran
  2. Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah diharapkan selalu bersinergis dalam memperhatikan implementasi Standar Proses berbasis penelitian tindakan kelas pada Satuan Pendidikan yang dipimpinnya .
  3. Adanya sinergis antara pengawas sekolah, kepala sekolah dan tata usaha sekolah mempunyai peran yang sangat penting dalam mengoptimalkan pelakasanaan standar proses sebagai salah satu indicator pengelolaan sekolah yang bermutu.
  4. Pihak-pihak yang berkepentingan dibidang pendidikan hendaknya selalu memberikan porsi lebih untuk kegiatan peningkatan kemampuan guru dan kepala Sekolah dalam implementasi Standar Proses.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR  PUSTAKA  :

BSNP. 2007. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: BSNP

Depdiknas. 2007. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 Tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah. Jakarta: Depdiknas.

Permendikbud, 2013. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 65 tahun 2013 tentang Standar proses

Nana Sudjana. 2008. Penelitian Tindakan Kepengawasan. Jakarta: LPP Binamitra

Direktirat Pembinaan PTK Dikmen. 2015, Pedoman Pelaksanaan Penegmbangan Karir Pendidik dan tenaga Kependidikan melalui program Kemitraan.

Direktirat Pembinaan PTK Dikmen. 2015. Panduan BIMTEK Pengembangan Karir PTK Dikmen Melalui Program Kemitraan Tahap I dan II.

LAMPIRAN-LAMPIRAN.

 

RENCANA PENGAWASAN AKADEMIK

 

Nama Pengawas : Drs. SUAIDIN
NIP : 196301081987031013
Satuan Pendidikan : SMA. Negeri 1 Dompu
Kelas : X,XI,XII
Hari/Tanggal : Selasa, 4 September 2014
Semester/Tahun : Ganjil /2014
Sasaran : Guru-guru kelas X
  1. Materi Supervisi  :    Supervisi Perencanaan Pembelajaran dalam pelaksanaan kurikulum 2013 berdasarkan standar proses.
  2. Masalah  :     Bagaimana guru mempersiapkan pembelajaran dengan menerapkan karakteristik kurikulum 2013 berdasarkan standar proses?
  3. Tujuan;
    1. Tujuan umum:

Meningkatnya kompetensi guru dalam perencanaan pembelajaran berbasis penelitian tindakan kelas sesuai dengan standar KL, isi, proses, dan penilaian.

  1. Tujuan khusus:

Setelah melaksanakan supevisi guru-guru dapat menerapkan prinsip-pinsip dalam pengembangan perencanaan pembelajaran pada pelaksanaan kurikulum 2013 yang meliputi:

  • Mengembangkan RPP dengan menyelarasakn SKL, Silabus, Buku Guru, Buku Siswa, dan prinsip-pinsip pembelajaran
  • Menilai kesesuaian kompetensi pada SKL, KI, KD, dan indikator pada RPP
  • Mempertimbangkan keseimbangan antara sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
  • Mengembangkan sumber belajar siswa yang varitatif berbasis TIK
  • Menerapkan pembelajaran saintifik dengan pilihan model problem based learning, project based learning atau  metode inkuiri berbasis Penelitian Tindakan Kelas
  • Menerapkan instrumen penilaian otentik berbasis PAK,
  • Menghimpun data perkembangan belajar siswa untuk tiap – tiap siklus kelgiatan sebagai bahan penyususnan laporan Penelitian Tindakan kelas upaya perbaikan pembelaharan.
  1. Metode Supervisi
  • Observasi
  • Training
  • Mentoring
  • Coaching
  1. Kegiatan Supervisi

Kegiantan supervisi dilakukan dalam rangka melaksanakan kegiatan pendampingan sehingga guru-guru mendapat kesempatan untuk berkonsultasi, berdiskusi, berlatih, dan mengembangkan  model best practice tentang pelaksanaan kurikulum 2013 dengan rancangan kegiatan berikut:

Kegiatan Deskripsi Alokasi waktu
PERTEMUAN KE 1
Pra supervisi ·         Menelaah RPP yang telah guru rumuskan dengan fokus memperhatikan:

1.         Memperhatikan keseimbangan dimensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

2.         Keselarasan KI, KD, dan indikator.

3.         Keterpenuhan syarat perumusan indikator.

4.         Relevansi indikator dengan instrumen penilaian.

5.         Perumusan format penilaian otentik.

6.         Teknik pengolahan data hasil penilaian.

7.         Rencana penggunaan TIK dalam pembelajaran.

·         Mengidentifikasi kesulitan atau kendala guru dalam perencanaan pembelajaran.

·         Menentukan strantegi agar guru-guru memecahkan masalah sehingga dapat memperbaiki pelaksanaan tugasnya.

60 menit
Kegiatan Inti Supervisi ·         Mengamati:

Ø  Guru-guru menyandingkan RPP dengan kriteria perumusan sesuai dengan karakter kurikulum 2014 yang ditayangkan pada power point.

·         Menanya

Ø  Peserta menanya tentang konsep yang masih belum mereka kuasai

Merumuskan sejumlah masalah dalam bentuk pertanyaan.

·         Mencoba

Ø  Peserta dibagi dalam kelompok mata pelajaran

Ø  Peserta mengeksplorasi informasi tentang perumusan RPP dari panduan rumusan standar isi, proses, dan penilaian.

·         Menalar/Mengasosiasi

Ø  Peserta mereviu RPP dengan fokus utama pada indikator, instrumen penilaian, dan proses penerapan saintifik.

Ø  Peserta mengembangkan model RPP yang akan digunakan sebagai rujukan

Ø  Peserta mengadaptasi instrumen penilaian otentik

Ø  Peserta menguji coba instrumen.

·         Mengomunikasikan:

Ø  Mensimulasi penggunaan instrumen penilaian.

Ø  Menyajikan RPP dan data hasil simulasi penilaian otentik.

·         Melaksankan refleksi dan merayakan Keberhasilan

90 menit
Penutup ·         Menyampaikan rekomendasi tindak lanjut. 20 menit
  1. Instrumen Pengawasan  Akademik

Pengumpulan data tentang penerapan prinsip-prinsip mengembangkan perencanaan pembelajaran menggunakan instrumen berikut:

No. Uraian Catatan Hasil Pengawasan Pemenuhan Standar
Di bawah Memenuhi Di atas
1.        Mengembangkan RPP dengan  menyelarasakn SKL, Silabus, Buku Guru, Buku Siswa, dan prinsip-pinsip pembelajaran, dan penilaian Belum seluruh guru menyelaraskan SKL, silabus, buku guru dan siswa sebagai dasar penyusunan RPP x
2.        Menilai kesesuaian kompetensi pada SKL, KI, KD, dan indikator pada RPP Sebagian kecil  guru belum menilai kesesuaian SKL, KI, KD, dan indikator pada RPP x
3.        Merumuskan indikator hasil belajar sesuai dengan prinsip-prinsip konseptual Indikatorhasil belajar belum meliputi HOTS. X
4.        Mempertimbangkan keseimbangan antara sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Telah mempertimbangkan kesimbangannya x
5.        Mengembangkan sumber belajar siswa yang varitatif berbasis TIK Belum menjadi fokus khusus X
6.        Menerapkan pembelajaran saintifik Belum seluruh guru mengembangkan kegiatan pembelajaran dengan pendekatan saintifk. Sebagian masih menghadapi kesulitan dalam menerapkannya. X
7.        Menerapkan model pembelajaran based learning, project based learning atau  metode inkuiri. Sebagian guru belum memasukan unsur model pembelajaran. X
8.        Menerapkan instrumen penilaian otentik berbasis PAK, Instrumen belum tersedia sekolah masih kesulitan untuk menyediakannya. X
9.        Menghimpun data perkembangan belajar siswa. Data penilaian otentik belum terhimpun X
10.    Menghimpun hasil pekerjaan siswa dalam dokumen portofolio Dokumen belum tersusun. X
  1. Kesimpulan hasil Pengawasan:

Dari delapan komponen yang dipantau dua komponen pada umumnya telah memenuhi standar yaitu mengembangkan RPP sesuai dengan format panduan dan telah menilai keselarasan SKL, KI, KD, dan indikator hasil belajar. Satu komponen yang melebihi harapan adalah menyeimbangkan tiga dimensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Pengetahuan guru-guru dari hasil pemantauan telah cukup baik, namun belum terampil menerapkannya. Selebihnya pada tujuh komponen lain belum memenuhi standar.

Kesimpulan bahwa guru-guru dalam memenuhi sebagian besar komponen perubahan pada penerapan kurikulum 2013 masih memerlukan pendampingan agar dapat memperbaiki karya yang dibuatnya. Hasil pendampingan menunjukkan terdapat perkembangan yang sangat berarti dalam model penyusunan RPP yang lebih memenuhi kriteria.

  1. Refleksi

Perumusan RPP yang sesuai dengan karakteristik kurkulum 2013 masih perlu dikembangkan melalui kegiatan pendampingan yang dilakukan secara berkala.

  1. Rekomendasi

Untuk satuan pendidikan:  Sebaiknya guru-guru menelaah Permendikbud tentang standar SKL, isi , proses, dan penilaian secara lebih seksama dan menerapkannya dalam pelaksanaan tugas pengembangan perencanaan pembelajaran.

Untuk Dinas pendidikan: Semua sekolah sasaran penyelenggara kurikulum hendaknya mendapat pendampingan yang lebih intensif.

About suaidinmath

Mohon kontribusi untuk menambal retak dan menambah langkah kesempurnaan tulisan ini ...

Diskusi

One thought on “OPTIMALISASI PENGAWASAN TERHADAP PELAKSANAAN STANDAR PROSES BERBASIS PENELITIAN TINDAKAN KELAS MENGGUNAKAN TEKNIK CAT-MOSI PADA SMA BINAAN DI KABUPATEN DOMPU

  1. Terima kasih atas kiriman beberapa referensi Bapak semoga mendapatkan amal yang setimpal dari Allah SWT.

    Suka

    Posted by Laode Alfa | 20 Oktober 2015, 10:25 pm

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Hari ini

Oktober 2015
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Statistik Blog

  • 1,764,690 hit

Arsip blog

Award Blog Pendidikan 2012

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 259 pengikut lainnya

Dunia Pendidikan

Teratas

RSS Republika online

  • Warga Pidie Jaya Harapkan Bantuan Segera Tersalurkan 9 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, TRIENGGADENG -- Masyarakat korban gempa di Kabupaten Pidie Jaya mengharapkan bantuan dari pemerintah bisa segera tersalurkan. Seperti masyarakat Desa Kuta Pangwa, Kecamatan Trienggadeng, Kabupaten Pidie Jaya, Jumat (9/12). Dimana...
    Sadly Rachman
  • BPBD Magetan Bangun Posko Tanggap Darurat 9 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, MAGETAN -- BPBD Kabupaten Magetan, Jawa Timur, membangun sebuah pos komando (posko) tanggap darurat bencana di wilayah paling rawan tanah longsor guna memberikan penanganan cepat jika sewaktu-waktu terjadi...
    Yudha Manggala P Putra

RSS educatinalwithptk

newsalloy

NewsAlloy button

MUSIK

suara Edukasi

 

 http://radioedukasi.com/modules/mod_miniradio/mod_miniradio.swf

suara_edukasi

RADIO EDUKASI

Live Streaming AM 1251 kHz

Silahkan unduh produk audio radio Suara edukasi

[KLIK DISINI]

Zaimuttpjok/tik

BERBAGI INFORMASI PENDIDIKAN DAN KISAH HIDUP

isti

Berilah makan keyakinanmu niscaya keraguanmu mati kelaparan

ANNISA USH SHOLIHAH

ALL ABOUT CHEMIS_3 (sharing for carring)

Dinas Dikpora Kab. Dompu

Ikhlas Mendidik Untuk Martabat Bangsa dan Negara

Vox Populi

Vox Populi: A Public Sphere for Politics and Poetry

Architecture Here and There

Style Wars: classicsm vs. modernism

Stories From the Belly

A Blog About the Female Body and Its Appetites

mywordpool

"Words - so innocent and powerless as they are, as standing in a dictionary, how potent for good and evil they become in the hands of one who knows how to combine them." ~Nathaniel Hawthorne

Fusion

Championing a young, diverse, and inclusive America with a unique mix of smart and irreverent original reporting, lifestyle, and comedic content.

Whatever

LET ME STEAL THIS MOMENT FROM YOU NOW

rachel eats

stories, pictures and cooking tales from an english woman living in rome.

y

what it comes down to

tangerine drawings

scribbles and recipes from a pastry chef in paris

Extra Dry Martini

Straight up, with a twist.

Gravity and Levity

A blog about the big ideas in physics, plus a few other things

love.life.eat

living a mindful life

%d blogger menyukai ini: