//
you're reading...
Dunia Pendidikan

PERLUNYA MEREVITALISASI LEMBGA PENDIDIKAN TINGGI KEGURUAN UNTUK MENGHASILKAN GURU MASA DEPAN YANG BERKUALITAS

PERLUNYA MEREVITALISASI LEMBAGA PENDIDIKAN TINGGI KEGURUAN UNTUK MENGHASILKAN GURU MASA DEPAN YANG BERKUALITAS
Oleh: Warsono

Saya yakin kita semua setuju bahwa kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh sistem pendidikan. Pentingnya pendidikan juga disampaikan oleh Lyndon B Johson Presiden Amerika Serikat periode (1963-1969 ) dengan mengatakan bahwa all the problem can be solved with one word is education. Pendidikann pada hakikatnya adalah perubahan. Melalui pendidikan seseorang dikembangkan potensinya dan diubah dari tidak tahu menjai tahu, dari tidak mampu menjadi mampu, dan dari tidak mau menjadi mau.
Dalam sistem pendidikan ada hubungan kausal antara input – proses – output. Semakin baik input dan proses, maka output juga akan semakin baik. Ini merupakan asumsi yang baik. Tetapi jika input buruk, proses juga buruk, maka sudah bisa diduga bahwa output juga akan buruk. Ini asumsi yang buruk, karena tidak terjadi perubahan. Lalu bagiamana, kalau input baik, tetapi proses buruk, atau sebaliknya input buruk tetapi prosesnya baik, mana yang lebih baik?. Input buruk tetapi proses baik, atau input baik tetapi proses buruk?. Dari dua pilihan tersebut, maka. proses yang baik merupakan pilihan yang diharapkan, daripada proses yang buruk, karena dengan proses yang baik, akan menghasilkan output yang baik, minimal bisa meningkat kualitas input.
Dalam pendidikan, khususnya dalam sistem persekolahan, seringkali sekolah tidak memiliki kewenangan untuk menyeleksi input. Mereka harus menerima siswa baru (input) sebagaimana adanya. Sebagai lembaga pendidikan, sekolah melakukan proses pembelajaran untuk merubah input menjadi output yang lebih baik. Adannya perubahan input menjadi lebih baik adalah hakikat dari pembelajaran. Jika tidak terjadi perubahan (tentu yang diharapkan) yang lebih baik, maka pembelajaran itu sia-sia.
Diantara komponenen yang ada dalam proses adalah kurikulum, guru, dan sarana prasarana. Dari komponen tersbut yang paling menentukan adalah guru, sebab gurulah yang menajdi subyek pelaku (“sopir”, maaf kalau boleh membuat analogi) dari sarana prasana maupun kurikulum. Meskipun sarana prasarana bagus, kalau gurunya tidak mampu menggunakan juga tidak akan memberi kontribusi yang optimal. Begitu juga kurikulum, sebaik apapun kurikulum pelaksananya adalah para guru. Jika guru tidak memahami esensi kurikulum dan kreatif dalam mengimplementasikan, proses pembelajaran juga tidak akan efektif, yang pada gilirannnya outputnya kurang optmal.
Peran guru (sebagai “sopir”) menjadi sangat penting. Sarana prasarana bisa dianaalogikan dengan kendaraan. Sebagus apapun mobilnya, kalau sopirrnya tidak terampil mengemudi juga tidak akan bisa berjalan cepat, bahkan bisa terjadi kecelakaan, Begitu juga kurikulum, sebagai suatu arah dan sekaligus sebagai sasaran yang akan dicapai (kompetensi) bisa dianalogikan dengan jalan, sehingga meskipun tujuannya sudah jelas, jika sopirnya tidak tahun jalan, bahkan tidak tahu jalan-jalan alternatif, maka bisa tidak sampai pada tujuan yang diinginkan, atau waktu untuk mencapai bisa menjadi lama. Dengan analog terseebut, maka sopir taksi adalah orang yang sudah sangat terampil dalam mengemudi, dan sekaligus mengetahui betul karakteristik jalan, termasuk jalan-jalan alternatif, sehingga ketika dipesan oleh penumpang untuk mengantarkan ke suatu tujuan, dia akan sampai dengan cepat.
Sopir yang baik adalah sopir yang terampil mengemudi, jujur dan bertanggung jawab, menguasai kendaraan dan jalan, serta bersikap ramah terhadap penumpang. Bahkan seorang sopir harus terus belajar untuk mengenal medan dan mencari jalan-jalan altrnatif. Dengan sopir yang seperti itu, penumpang akan merasa nyaman dan percaya akan sampai ditujuan dengan cepat dan selamat. Mengapa orang cenderung memilih taksi Blue Bird, karena mereka percaya bahwa sopirnya jujur, bisa dipercaya dan bertanggung jawab. Ini yang menjadi pembeda sopir Blue Bird dibanding dengan sopir dari perusahaan taksi lain, karena dalam menejemen Blue Bird ada jaminan akan semua itu.
Sekali lagi mohon maaf untuk membuat analogi guru dengan sopir, tanpa bermaksud merendahkan status guru, tetapi semata-mata hanya untuk menganalogikan profesinya. Saya juga percaya, bahwa guru tidak bisa disamakan dengan ssopir, karena guru merupakan suatu status yang “mulia”. Namun, dalam Undang-Undang Guru dan Dosen disebutkan bahwa guru adalah profesi. Oleh karena itu, untuk menjadi guru yang professional, yang berhak memperoleh tunjangan profesi, harus menempuh pendidikan profesi, yaitu Pendidikan Profesi Guru (PPG) setelah menyelesaikan program sarjana (S1).
Jika kita mengacu kepada UU Guru dan Dosen, proses untuk menjadi guru yang profesional, membutuhkan waktu yang lama dan melalui proses yang terencana dan terprogram (kurikulum) dengan baik. Dari segi waktu, untuk menjadi guru membutuhkan waktu minimal 4 tahun setelah tamat dari Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). Namun waktu yang lama bukanlah jaminan, kalau prosesnya tidak terencana dan terprogram dengan baik. Dan untuk membuat proses yang baik membutuhkan menejemen yang baik dan visioner, yang mampu melihat kebutuhan dan tantangan ke depan serta bisa menjabarkan dalam program-program yang kongkrit dan operasional.
Beratolak dari asumsi di atas, Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), yang misi utamanya menghasilkan guru, memiliki tanggunng jawab besar bagi kemajuan bangsa ke depan. LPTK dituntut, minimal mempunyai kewajiban moral untuk menghasilkan guru-guru yang mampu membawa para peserta didik menjadi pembelajar yang sadar akan tugas dan perannya di masa depan, dengan terus mengembangkan potensi dirinya.

Sosok Guru yang diharapkan
Saat ini kita sudah memiliki acuan mengenai guru yang professional, yang dituangkan dalam UUGD, yaitu memiliki kompetensi professional, kompetensi pedagogic, kompetensi sosial, dan kompetensi personal. Keempat kometensi tersebut, yang dijaikan sebgai acuan dalam pendidikan guru dan profesi guru. Keemmpat kompetensi tersebut belum terurai secara jelas, dan belum cukup untuk menghasilkan guru yang diharapkan. Sekali lagi mohon maaf jika dianalogikan dengan sopir, maka kompetensi pedagogik bisa dianalogikan dengan keterampilan menyetir. Sedangkan kompetensi profesional, dapat dianalogikan dengan pengetahuan tentang jalan-jalan. Kompetensi personal bisa dianalogikan dengan kejujuran dan tanggungjawab, dan kompetensi sosial bisa dianalogikan dengan keramahan.
Sudah tentu, guru yang diharapkan tidak bisa disamakan dengan sopir, karena yang dihadapi bukan mobil, tetapi peserta didik yang memiliki berbagai kecerdasan dan latar belakang sosial budaya dan ekonomi yang bervariasi. Bahkan peserta didik (manusia) adalah subyek yang sadar akan keberadaannya (pour soi), yang berbeda dengan mobil, yang tidak sadar akan keberadaannya (en soi). Kesadaran akan keberadaannya ini yang membuat setiap peserta didik sebagai subyek yang “hidup”, dalam arti bisa mengubah dirinya sendiri. Hal ini berbeda dengan benda (mobil), yang tidak bisa mengubah dirinya sendiri.
Persoalannya tidak semua peserta didik sadar akan keberadaannya di masa depan. Padahal keberadaannya di masa depan harus dipersiapkan dan direncanakan. Hal ini sejalan dengan ajaran agama Islam, bahwa Allah tidak akan merubah nasib seseorang atau suatu kaum kecuali dia melakukan perubahan. Dalam kaitannya dengan kesadaran peserta didik terhadap keberadaannya di masa depan, tugas guru adalah sebagai motivator, agar peserta didik mempersiapkan dan merencanakan masa depannya dengan baik. Tugas guru adalah memotivasi agar peserta didik memiliki mimpi-mimpi (cita-cita), seperti yang telah digambarkan oleh Andreas Hirata, melalui novelnya yang kemudian difilmkan dengan judul Laskar Pelangi.
Ikon beranilah bermimpi dalam novel Laskar Pelangi mampu memotivasi (kekuatan) Andreas Hirata bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya. Memang mimpi (cita-cita) bukan hanya sekedar target sasaran yang akan dicapai, tetapi juga garis arah dan motivator. Oleh karan itu, seorang guru seharusnya adalah seorang motivator yang mampu menumbuhkembangkan kesadaran peserta didik, atas keberadaan dan peranannya di masa depan. Guru harus mamu memotivasi peserta didiknya untuk berani mengambil peran dan tugasnya di masa depan,
Seorang motivator adalah orang yang mampu menjadi penyebab seseorang untuk berubah. Seorang motivator mampu menginspirasi seseorang untuk berubah. Perubahan pada diri seseorang merupakan hakikat dari pendidikan. Mario Teguh yang secara kebetulan adalah alumni dari LPTK (IKIP Malang) adalah motivator yang handal di Indonesia. Dia mampu menginspirasi banyak orang untuk melakukan perubahan dalam rangka membangun masa depan yang lebih baik. Dan kehadiran Mario Teguh dibutuhkan banyak orang. Bagi sebagian masyarakat, terutama mereka yang membutuhkan, Mario teguh juga dianggap sebagai guru.
Di sisi lain, setiap anak dikarunia akal oleh Tuhan Yang Maha Esa sebagai alat untuk berpikir. Bahkan Allah memerintahkan manusia untuk berpikir, Perintah berpikir ini banyak ditemukan dalam Al Qur’an. Berpikir pada hakikatnya merupakan kegiatan akal untuk menjawab pertanyaan. Sebagai wujud dari kegiatan berpikir, setiap anak secara kodrati memiliki rasa ingin tahu (curiosity). Berpikir juga merupakan pembeda manusia dengan makhluk lain, sebagaimana dikatakan oleh Descartes Cogito Ergo Sum (aku ada sebagai manusia, maka aku berpikir). Meskipun demikian, kemampuan berpikir anak tidak serta merta tumbuh dengan sendirinya, tetapi perlu dibantu melalui pendidikan. Akal bukanlah sebuah “gudang”, meskipun juga memiliki kemampuan menampung, tetapi akal bagaikan “mesin” yang bisa bergerak dan memproduksi sesuatu, melalui proses berpikir. Anak bisa mengkontruksi pengetahuan sebelumnya dan pengalaman yang dimiliki menjadi pengetahuan baru, sebagaimana yang diteorikan oleh paham konstruktivisme. Oleh karena itu, tugas para guru adalah mensitumuli atau memberi rangsangan terhadap kemampuan berpikir peserta didik dengan memberi pertanyaan.
Apa dan bagaimana cara guru bertanya, akan merangsang proses berpikir anak dan sekaligus menentukan pengetahuan apa yang akan dihasilkan. Jika pertanyaan yang diajukan oleh guru hanya sekitar “apa ini’, “apa itu”, maka pengetahuan yang dihasilkan akan berbeda dengan jika pertanyaan yang diajukan adalah “bagiamana” dan “mengapa”. Oleh karena itu, guru harus memiliki kompetensi bertanya, dalam arti harus mampu merumuskan suatu pertanyaan dengan jelas dan mendalam. Tanpa memiliki kompetensi bertanya, guru tidak mampu menstimuli perkembangan intelektual peserta didik.
Kompetensi bertanya dari para guru akan sangat membantu pelaksanaan kurikulum 2013, yang menggunakan pendekatan ilmiah (scientific approach), yaitu mengamati, menanyakan, mengumpulkan data, menganalisis data, mengambil kesimpulan. Pada saat peserta didik belum mampu merumuskan pertanyaan secara jelas, maka tugas guru adalah membimbing dan melatih peserta didik membuat pertanyaaan. Bahkan dalam kurikulum 2013, guru harus mengurangi, bahkan mengganti penggunaan kata “adalah”, dengan kata tanya, karena kata adalah tidak memberi rangsangan akal untuk berpikir.
Dalam meningkatkan kualitas proses dikenal adanya model Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAIKEM). Dalam model tersebut, peran guru menjadi sangat strategis. Guru harus mampu memberi peluang dan mendorong siswa agar terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Guru juga harus mampu membuat proses pembelajaran berjalan efektif dan sekaligus menyenangkan bagi siswa. Untuk itu, dituntut guru yang kreatif dan inovatif. Guru yang tidak kreatif dan inovatif akan sulit melibatkan siswa berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Begitu juga guru yang tidak kreatif dan inovatif akan sulit untuk membuat proses pembelajaran berjalan efektif dan menyenangkan.
Dalam upaya membangun pemikiran kreatif, guru harus terlebih dahulu berpikir kritis. Salah satu ciri dari berpikir kritis adalah bertanya, semakin banyak bertanya, mengindikasikan adanya kekritisan, Kemudian pertanyaan tersebut difokuskan pada satu obyek, secara mendalam dan komprehensif. Selanjutnya adalah bagaimana guru menggunakan kata tanya secara tepat pada obyek yang sedang dibicarakan. Dan yang tidak kalah penting dalam membuat pertanyaan yang tepat dan mendalam adalah pemahaman guru tentang penggunaan masing-masing kata tanya yaitu 5 W + H. Sering kali guru kurang memperhatikan penggunaan kata tanya. Sering ditemui guru menggunakan kata tanya “bagaimana” yang tidak tepat. Misal: bagaimana pengaruh X terhadap Y?. atau bagaimana X mempengaruhi Y?. padahal yang dimaksud adalah: apakah X mempengaruhi Y?. Atau apakah X berpengaruh terhadap Y?. Pertanyaan bagaimana X mempengaruhi Y, jelas berbeda dengan pertanyaan apakah X berpengaruh terhadap Y?. Pertanyaan bagaimana X berpengaruh terhadap Y, adalah pertanyaaan mengenai bagaimana proses mempengaruhi. Dan pertanyaaan ini baru bisa ditanyakan, setelah pertanyaan: apakah X berpengaruh terhadap Y, dijawab. Artinya telah ada fakta bahwa X berpengaruh terhadap Y.
Disisi lain, para guru juga sering mengatakan bahwa pertanyaan dengan kata tanya “apa” merupakan kategori pertanyaaan tingkat rendah. Coba perhatikan dengan pertanyaan: apa hakikat kehidupan?; Apa yang akan terjadi kalau semua pohon ditebangi?. Apakah pertanyaan seperti ini termasuk kategori tingkat rendah?. Oleh karena itu, pemahaman terhadap makna kata tanya, dan kemampuan guru untuk mengartikulasikan pertanyaan terhadap suatu obyek sangat berpengaruh terhadap pemikiran peserta didik.
Setelah guru mampu berpikir kritis, kemudian akan berpikir kreatif, karena berpikir kreatif diantaraanya ditandai dengan bertanya “bagaimana”. Misal, bagaimana proses pembelajaran agar berjalan efektif?. Bagaimana agar peserta didik senang mengikuti pelajaran?, Bagaimana agar peserta didik kerassan di kelas?, bagaimana agar peserta didik tertarik dengan materi yang sedang diajarkan?. Pertanyaan-pertanyaan dengan menggunakan kata tanya “bagaimana” mendorong seseorang berpikir mencari solusi, cara pemecahan, atau jalan keluar. Kemampuan memberikan solusi, apalagi yang terbaru, merupakaan salah satu wujud kreatifitas. Dan hasil dari kreatifitas tersebut adalah inovasi.
Oleh karena itu, cara pembelajaran inovatif hanya bisa dilakukan jika guru memiliki kompetensi berpikir kritis dan kreatif. Tanpa guru yang kritis, tidak akan menghasilkan kreartifitas, dan tanpa kreatifitas, maka tidak akan ada inovasi. Ini berarti guru harus terus berrpikir yang ditandai dengan bertanya. Kompetensi bertanya dari para guru inilah yang harus dikembangkan secara terus menerus, agar mereka mampu menemukan inovasi-inovasi dalam pembelajaran. Selain itu, dengan terus bertanya, guru akan menjadi pembelajar yang baik, karena dengan bertanya mereka terus mencari jawaban atas pertanyaan yang dibuatnya sendiri. Dengan menjadi pembelajar yang baik guru mampu mendorong dan membimbing peserta didiknya menjadi pembelajar yang baik pula.
Dengan kemampuan berpikir kritis dan kreatif, guru mampu membimbing peserta didik merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang tepat dan mendalam terhadap apa yang sedang diamati. Pertanyaan-pertanyaan yang tepat dan mendalam inilah yang akan melahirkan pengetahuan baru. Tetapi jika gurunya sendiri tidak mampu berpikir kritis dan kreatif, maka guru juga tidak akan bisa membimbing peserta didik untuk membuat pertanyaan yang tepat dan mendalam. Oleh karena itu, guru harus kreatif, sehingga bisa memotivasi, menstumuli, dan sekaligus menjadi pemebalajar yang baik.
Guru yang kreatif akan mampu menyusun materi ajar dengan memanfaatkan lingkungan sebagau sumber belajar, sehiungga tidak tergantung pada buku ajar dari pemerintah. Guru yang kreatif juga mampu mengembangkan dan memilih media serta metode pembelajaran yang sesuai dengan kondisi yang sedang dihadapi. Dalam proses belajar mengajar, selalu ada dinamika, karena situasi dan kondisi selalu berubah. Antara kelas satu dengan kelas yang lain memiliki karakteristik yang berbeda. Bahkan dalam waktu yang berbeda, kelas yang samapun bisa mengalami perubahan. Oleh karena itu, kreatifitas guru sangat dibutuhkan dalam rangka menghadapi situassi dan kondisi yang selalu berubah.
Selain kemampuan untuk memotivasi (motivator) dan menstimuli (stimulator), yang berkaitan dengan intelektual (kreatifitas), serta menjadi pemebelajar, menurut M Nuh (mantan Mendikbud) guru juga harus memiliki keikhlasan, kasih sayang, dan idealisme . Dengan keikhlasan, guru akan bekerja dengan sungguh-sungguh, tanpa terpengaruh oleh besarnya gaji yang diterima. Dengan kassih sayang, guru akan dekat dengan peserta didik, sehingga mempermudah dalam transfer nilai dan pengetahuan. Dan dengan idealisme, guru memiliki cita-cita bahwa murid-muridnya nanti bisa menjadi orang-orang hebat, sehingga mereka memiliki gairah (passion) dalam mengajar.

Tugas LPTK
Membangun sosok guru sebagaimana yang diuraikan di atas merupakan tanggung jawab LPTK. Empat kompetensi guru, sebagaimana yang dituangkan dalam UUGD, perlu dijabarkan ke dalam indikator yang jelas dan terukur. Bahkan empat kompetensi guru dalam UUGD perlu ditambah dengan kompetensi sebagai motivator dan stimulator yang ditandai dengan kompetensi bertanya , dan sikap sebagai pembelajar, serta memiliki jiwa yang ikhlas, kasih sayang, dan idealisme. Sebagai lembaga yang menghasilkan guru, LPTK harus memiliki konsep dan gambaran sosok guru yang akan dihasilkan. Ketidakjelasan konsep dan indikator tentang sosok guru yang akan dihasilkan, mengakibatkan proses pendidikan tidak berjalan baik, dan pada gilirannnya output pendidikan juga tidak baik.
LPTK harus mampu merumuskan kompetensi dan indikator yang terukur, yang kemudian dijabarkan dalam kurikulum yang mampu menghasilkan guru-guru yang kreatif. Guru yang kreatif akan mampu menjadi motivator, stimulator dan sekaligus pembelajar yang baik. Sedang untuk membangun jiwa yang ikhlas, kasih sayang dan idealisme harus dibentuk melalui suatu proses pembudayaan yang disertai dengan keteladan, rasionalitas dan penerapan aturan (law inforcement). Untuk itu LPTK harus memiliki seklolah laboratorium dan asrama yang bisa dijadikan sebagai tempat untuk mengembangkan kreatifitas dan membentuk pribadi pendidik.
Keberadaan sekolah laboratorium di LPTK merupakan keharusan, sebagai tempat untuk pelatihan para mahassiswa guna meningkatkan keterampilan mengajar. Sekolah labaoratorium juga menjadi tempat untuk melakukan peneliitan untuk membangun metode, model pembelajaran dan teori baru, sekaligus juga untuk mempraktekan hasil-hassil penelitian tersebut. Tanpa adanya sekolah laboratorium, LPTK akan sulit meningkatkan keterampilan mengajar dari para calon guru dan mengujicobakan hasil-hasil penelitian.
Sedang keberadaan asrama bukan hanya sekedar sebagai tempat tinggal, tetapii merupakan sarana untuk membangun karakter dan jiwa sebagai pendidik. Pembangunan karakter membutuhkan waktu dan metode yang tepat. Diantara metode pembangunan karakter adalah pembiasaan, keteladanan, rasionalitas dan penegakan peraturan (law inforcement). Di dalam asrama tersebut, para mahasiswa dibiasakan untuk mematuhi aturan-aturan yang diturunkan dari nilai-nilai yang baik. Dengan pembiasaan bersikap dan berperilaku yang baik, akan terbentuklah karakter yang baik pula.
Meskipun demikian harus dipahami, bahwa asrama, sekolah labaoratorium, dan kurikulum hanyalah pendukung, yang lebih penting adalah ‘sopir”nya, dalam hal ini adalah para dosen. Apakah para dosen sudah memiliki kompetensi sebagai motivator, stimulator, dan pembelajar yang baik serta memiliki leikhlasan, kasih sayang, dan idealisme. Ini merupakan persoalan yang harus diatasi terlebih dulu oleh LPTK, karena tanpa didukung dengan dosen-dosen yang kreatif, dan pembelajar, serta memiliki jiwa pendidik, akan sulit membimbing mahasiswa menjadi guru yang diharapkan. Ini berarti LPTK juga harus membangun budaya akademik, yang memungkinkan tumbuhkembanynya kreatifitas.
Budaya Akademik ini berkaitan dengan budaya membaca, meneliti, menulis, dan mendiskusikan berbagai isu yang berkaitan dengan masalah pendidikan dan hasil penelitian untuk diverifikasi atau difalssifikasi, sehingga memperkuat tingkat kebenaran konsep maupun teori yang dihasilkan. Sikap akademis, yang haus akan pengetahuan baru dan keterbukaan untuk menerima kebenaran yang didasarkan pada fakta dan logika yang sehat, harus terus ditumbuhkembangkan di masyarakat kampus.
LPTK harus melakukan evaluasi diri dan sekaligus revitalisasi terhadap sumber daya yang dimiliki dengan melakukan pemetaan terhadap kompetensi para dosennya dengan menggunakan indikator seperti yang akan diterapkan kepada para guru. Bahkan para dosen harus memiliki kompetensi meneliti dan menulis. Kompetensi meneliti ini yang akan membuat dosen terus memperbaharui materi ajar dan sekaligus mengembangkan teori, konsep, atau metode pembelajaran baru.
Daftar Pustaka

Daoud Joesoef. 2008. esensi pendidikan, (Kompas, 3 September 2008).
Gutek L. Gerald. 2009. New Perspecctives on Philosophy and Education. New Jersey: Pearson Education. Inc.
Farley, E. John. 1990. Sociology. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
Freire, Paulo, 1984. Pendidikan Sebagai Praktek Pembebasan. Jakarta: Gramedia
Haralambos Michael and Holborn Martin. 2000. Sociology Themes and Perspectives. Fifth edition. London: Harper Collins Publishers Limited.
Hartoko, Dick. ((ed.). 1985. Memanusiakan Manusia Muda. Yogyakarta: Kanisius.
Illich, Ivan. 1982. Bebas dari Sekolah. Jakarta: Sinar Harapan.
Kurtines, M. Wiliam and Cerwitz, L. Jacob (ed). 1992. Moralitas, Perilaku Moral dan Perkembangan Moral. Terjemahan M.I. Soelaeman. Jakarta, UI PRESS
Lubis, Mochtar. 2001. Manusia Indonesia: Sebuah pertanggungan Jawab. Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia.
Lickona, Thomas. 1992. Educating for Character. New York: Bantam Books.
Ratna Megawangi. 2004. Pendidikan Karakter Solusi yang tepat untuk Membangun Bangsa. Jakarta: Star Energy
Santrock, W. John. 2009. Educational Psychology (fourth edition). New York: McGraw-Hill.
Schunk, H. Dale. 2004. Learning Theories An Educational perspective. United States of America. Pearson Prentice Hall.
Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

About suaidinmath

Mohon kontribusi untuk menambal retak dan menambah langkah kesempurnaan tulisan ini ...

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Hari ini

April 2015
S S R K J S M
« Feb   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Statistik Blog

  • 1,760,511 hit

Arsip blog

Award Blog Pendidikan 2012

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 259 pengikut lainnya

Dunia Pendidikan

Teratas

RSS Republika online

  • Ribuan Muslim Semarakkan Morowali Mengaji 6 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, MOROWALI—Ribuan jamaah umat Islam larut melantunkan ayat-ayat suci Alquran dalam Morowali Nusantara Mengaji.  Acara yang dimotori dan digagas oleh Bupati Morowali, Anwar Hafiz dalam rangka HUT Kabupaten ke-17 ini...
    Nasih Nasrullah
  • Ini Alasan Mantan Ketua DPR Akom Ingin 'Melawan' Putusan MKD 6 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mantan Ketua DPR Ade Komarudin, akan melakukan langkah-langkah terhadap keputusan MKD, yang pada Rabu (30/12) memberhentikannya sebagai ketua DPR. Pria yang akrab disapa Akom itu mengaku...
    Nur Aini

RSS educatinalwithptk

newsalloy

NewsAlloy button

MUSIK

suara Edukasi

 

 http://radioedukasi.com/modules/mod_miniradio/mod_miniradio.swf

suara_edukasi

RADIO EDUKASI

Live Streaming AM 1251 kHz

Silahkan unduh produk audio radio Suara edukasi

[KLIK DISINI]

Zaimuttpjok/tik

BERBAGI INFORMASI PENDIDIKAN DAN KISAH HIDUP

isti

Berilah makan keyakinanmu niscaya keraguanmu mati kelaparan

ANNISA USH SHOLIHAH

ALL ABOUT CHEMIS_3 (sharing for carring)

Dinas Dikpora Kab. Dompu

Ikhlas Mendidik Untuk Martabat Bangsa dan Negara

Vox Populi

Vox Populi: A Public Sphere for Politics and Poetry

Architecture Here and There

Style Wars: classicsm vs. modernism

Stories From the Belly

A Blog About the Female Body and Its Appetites

mywordpool

"Words - so innocent and powerless as they are, as standing in a dictionary, how potent for good and evil they become in the hands of one who knows how to combine them." ~Nathaniel Hawthorne

Fusion

Championing a young, diverse, and inclusive America with a unique mix of smart and irreverent original reporting, lifestyle, and comedic content.

Whatever

LET ME STEAL THIS MOMENT FROM YOU NOW

rachel eats

stories, pictures and cooking tales from an english woman living in rome.

y

what it comes down to

tangerine drawings

scribbles and recipes from a pastry chef in paris

Extra Dry Martini

Straight up, with a twist.

Gravity and Levity

A blog about the big ideas in physics, plus a few other things

love.life.eat

living a mindful life

%d blogger menyukai ini: