//
you're reading...
Dunia Pendidikan

Hakikat Pengetahuan Menurut Konstruktivisme

10342489_857890177570563_3731021843751869967_nHakikat Pengetahuan Menurut Konstruktivisme
Cukup lama diterima bahwa pengetahuan merupakan refleksi realita yang terlepas dari pengamat, artinya pengetahuan bersifal objektif. Pendapat lain dikemukakan oleh penganut realisme yang menyatakan bahwa pengetahuan adalah merupakan tiruan dari realita di dalam pikiran kita (Bodner, 1986: 874). Penganut realisme akan membenarkan pendapat bahwa pengetahuan dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran guru ke pikiran siswa. Pendapat lain juga diberikan oleh para penganut rasionalisme menyatakan bahwa pengetahuan ada secara apriori di dalam pikiran manusia. Pengetahuan diperoleh melalui berpikir dan terlepas dari pengalaman manusia.
Namun akhir-akhir ini, terlebih dalam bidang sains, diterima bahwa pengetahuan tidak lepas dari subjek yang sedang belajar. Pengetahuan lebih dianggap sebagai suatu proses konstruksi yang terus-menerus berkembang. Menurut Piaget (dalam Suparno, 1997: 18) sejarah revolusi sains menunjukkan perubahan konsep-konsep pengetahuan yang penting. Konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruk kita sendiri (Von Glasersfeld dalam Suparno, 1997: 18). Von Glaserfeld menegaskan hahwa pengetahuan bukanlah suatu tiruan kenyataan. Pengetahuan selalu merupakan akibat dari suatu konstruksi kognitif kenyataan melalui interaksi seseorang dengan lingkungan. Seseorang membentuk skema, kategori, konsep, dan struktur pengetahuan yang diperlukan untuk pengetahuan. Proses pembentukan ini berjalan terus-menerus dengan setiapkali mengadakan reorganisasi karena adanya suatu pemahaman yang baru.
Para konstruktivis menjelaskan bahvva saru-satunya alat bagi seseorang untuk mengetahui sesuatu adalah inderanya. Seseorang berinteraksi dengan objek dan lingkungan dengan melihat, mendengar, menjamah, mencium, dan merasakannya. Misalnya dengan mengamati air, bermain air, dan menimbang air seseorang membangun gambaran tentang air. Para konstruktivis percaya bahwa pengetahuan itu ada dalam diri seseorang yang sedang mengetahui. Pengetahuan itu tidak dapat dipindahkan begitu saja dari otak seseorang ke pada otak orang lain. Murid sendinlah yang harus mengartikan apa yang telah diajarkan dengan menyesuaikan terhadap pengalaman-peagalaman mereka. Konstruktivis menyatakan bahwa semua pengetahuan yang kita peroleh adalah konstruksi kita sendiri, maka mereka menolak kemungkinan transfer pengetahuan dari seseorang kepada orang lain. Pengetahuan bukanlah suatu barang yang dapat ditransfer begitu saja dari pikiran yang mempunyai pengetahuan ke pikiran orang yang belum mempunyai pengetahuan. Bahkan bila seorang guru bermaksud mentransfer konsep, ide, dan pengertian kepada seorang murid, pemindahan itu harus diinterpretasikan dan dikonstruksi oleh siswa lewat pengalamannya (Von Giasersfeld dalam Suparno, 1997: 20). Banyaknya siswa yang salah menangkap apa yang diajarkan oleh gurunya menunjukkan bahwa pengetahuan itu tidak dapat begitu saja dipindahkan, melainkan harus dikonstruksi atau paling sedikit diinterpretasikan sendiri oleh siswa.
Dalam proses konstruksi itu, menurut Von Glasersfeld (dalam Suparno, 1997: 20) diperlukan beberapa kemampuan sebagai berikut: (1) kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman, (2) kemampuan membandingkan, dan kemampuan untuk lehih menyukai pengalaman yang satu daripada yang lain. Kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman sangat penting karena pengetahuan dibentuk berdasarkan interaksi dengan pengalaman-pengalaman tersebut. Kemampuan membandingkan sangat penting untuk dapat menarik sifat yang lebih umum dari pengalaman-pengalaman khusus serta melihat kesamaan dalam perbedaannya untuk dapat membuat klasifikasi dan membangun suatu pengetahuan.
Pandangan konstrukuvisme ini akan melahirkan model konstruktivis dalam belajar dan mengaiar. Strategi pembelajaran yang berlandaskan eistemologi konstruktivis mengaku subjektivitas observasi. Apa yang kita lihat adalah suatu interpretasi terhadap pengalaman kita yang didasarkan atas struktur kognitif yang kita miliki (Sadia, 1996: 3).
Teori struktur yang dikemukakan oleh Piaget merupakan akar dari pandangan konstruktivisme. Piaget (1970: 78) menyatakan bahwa untuk mengetahui suatu objek kita harus melakukan aksi terhadap objek tersebut dan mentransformasikannya. Menurut Piaget, menjadi tahu adalah suatu proses aktif dalam mana individu berinteraksi dengan lingkungan dan mentransformasikannya di dalam pikiran dengan menggunakan struktur-struktur yang telah ada dalam pikiran.

Implikasi Model Konstruktivis dalam Pembelajaran
Ada beberapa batasan tentang belajar yang dikemukakan oleh para penganut konstruktivisme. Menurut kaum konstruktivisme, belajar merupakan proses aktif siswa mengkonstruksi-arti teks, dialog, pengalaman fisis dan lain-lain Belajar juga merupakan proses mengasimilasi dan menghubungkan informasi baru dengan pengertian yang sudah dipunyai seseorang sehingga pengertiannya dikembanykan. Jelas bahwa bagi konstruktivisme, kegiatan belajar adalah kegiatan yang aktif. Di mana siswa membangun sendiri pengetahuannya. Siswa mencari arti sendiri dan yang mereka pelajari. Ini merupakan proses menyesuaikan konsep dan ide-ide baru dengan kerangka berpikir yang telah ada dalam pikiran mereka (Dahar, 1989: 112). Menurut konstruktivisme, siswa sendirilah yang bertanggung jawab atas hasil belajarnya. Mereka sendiri yang membuat penalaran atas apa yang dipelajarinya dengan cara mencari makna, membandingkan dengan apa yang telah ia ketahui serta menyelesaikan ketegangan antara apa yang telah ia ketahui dengan apa yang ia perlukan dalam pengalaman baru. Pendapat lain dikemukakan oleh Shymansky dan Kyle (dalam Sadia, 1996: 11), bahwa belajar merupakan pengkonstruksian pengetahuan oleh individu-individu sebagai pemberian makna atas data sensori dalam hubungannya dengan pengetahuan sebelumnya. Dengan demikian, belajar dapat didefinisikan sebagai pembentukan makna secara aktif oleh pebelajar terhadap masukan sensori haru yang didasarkan atas struktur kognitif vang telah dimiliki sebelumnya. Fosnot (dalam Suparno, 1997: 62) mengemukakan bahwa bagi kaum konstruktivisme, belajar adalah sualu proses organik untuk memenuhi sesuatu bukanr suatu proses mekanik untuk mengumpulkan fakta. Belajar itu suatu perkembangan pemikiran dengan membuat kerangka pengertian yang berbeda. Pebelajar harus punya pengalaman dengan membuat hipotesis, mengetes hipotesis, memanipulasi objek, memecahkan persoalan, mengadakan refleksi, dan lain-lain untuk membentuk konstruksi yang baru. Siswa harus membentuk pengetahuan mereka sendiri dan guru membantu sebagai mediator dalam proses pembentukan itu. Belajar yang berani terjadi melalui refleksi, pemecahan konflik, pengertian, dan dalam proses selalu memperbarui tingkat pemikiran yang tidak lengkap.
Proses belajar dalam model konstruktivis bercirikan oleh hal-hal sebagai berikut (Suparno, 1997: 61).
1) Belajar berani memberi makna. Makna yang diciptakan oleh sisvva berasal dari apa yang mereka lihat, dengar, rasakan dan alami. Konstruksi ini dipengaruhi pengertian yang telah dipunyai.
2) Konstruksi arti adalah proses yang terus-menerus. Setiapkali berhadapan dengan fenomena atau persoalan yang baru akan diadakan rekonstruksi baik secara kuta maupun lemah.
3) Belajar bukanlah kegiatan mengumpulkan fakta melainkan lebih merupakan suutu pengembangan pemikiran dengan membuat pengertian yang baru. Suatu perkembangan menuntut penemuan dan pengaturan kembali pemikiran seseorang.
4) Proses belaiar yang sebenarnya terjadi pada waktu skema seseorang dalam keraguan yang merangsang pemikiran lebih lanjut.
5) Pengetahuan awal siswa sangat mempengaruhi stimulus mana yang akan diikuti atau dipilihnya.
6) Masukan vang diperhatikan dan dipilih tidak segera mempunyai makna bagi siswa bersangkutan.
7) Siswa membuat hubungan-hubungan antara masukan sensori dan gagasan-gagasan yang telah ada pada dirinya dianggap relevan.
8) Siswa mengkonstrusi makna dan hubungan-hubungan antara masukan sensori dan pengatahuan yang lelah dimilikinya.
9) Siswa mungkin menguji puakna-makna yang disusun yang berlawanan dengan memori dan pengalaman yang dirasakannya.
10) Siswa mungkin memasukkaii konstruksi-konstruksi ke dalam salah satu memori dengan menghubungkan pada gagasan-gagasan yang ada atau dengan cara melakukan restrukturisasi gagasan-gagasannya.
11) Siswa akan meletakkan beberapa status pada konstruksi baru dan akan menerima atau menolaknya.
(Tasker, 1992: 29-30)
Bertolak dan pandangan konstruktivis yang menyatakan bahwa pengetahuan dibangun dalam pikiran siswa, maka penganut konstruktivis menghendaki adanya pergeseran yang tajam dalam perspektif bagi individu-individu vang berdiri di muka kelas sebagai guru. Suatu pergeseran dari seorang yang mengajar menjadi seorang fasilitator dan mediator. Bagi kaum konstruktivis, mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru ke siswa, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengalamannya. Mengajar berarti partisipasi dengan siswa dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersifat kritis, dan mengadakan jastifikasi (Bettencourt dalam Suparno, 1996: 65). Menurut prinsip konstruktivis, seorang pengajar berperan sebagai mediator dan fasilitator yang membantu agar proses belajar siswa berjalan dengan baik. Fungsi mediator dan fasilitator dapat dijabarkan dalam beberapa tugas sebagai berikut:
a) Menyediakan pengalaman belajar yang memungkunkan siswa bertanguung jawab dalam membuat rancangan, proses, dan penelitian. Karena itu jelas memberikan ceramah bukanlah tugas utama pengajar.
b) Menyediakan sarana yang merangsang siswa berpikir secara produktif. Menyediakan kesempatan dan pengalaman yang paling mendukung proses belajar siswa.
c) Memonitor dan membantu mengevaluasi hipotesis dan kesimpulan siswa.
Menurut Sadia (1996: 27) guru dalam kapasitasnva sebayai fasilitatir atau mediator mempunyai ciri-ciri: 1) menyiapkan kondisi yang kondusif bagi berlangsungnya proses pembelajaran dengan menyajikan problem-problem yang menantang bagi siswa, 2) berupaya unmk menggali dan memahami pengetahuan awal siswa, 3) selalu menggunakan pengetahuan awal siswa baik dalam merancang maupun mengimplementasikan program pembelajaran. 4) berusaha untuk merangsang dan memberi kesempatan yang luas kepada siswa untuk mengemukakan gagasan-gagasannya, 5) lebih menekankan kepada argumentasi atas respon siswa dan pada benar salahnya, 6) tidak melakukan upaya transfer pengetahuan kepada siswa dan selalu sadar bahwa pengetahuan dibangun di dalam pikiran siswa, 7) menggunakan strategi pengubah konseptual dalam upaya mengubah miskonsepsi-miskonsepsi yang dibawa siswa menuju konsepsi ilmiah, dan 8) menyiapkan dan menyajikan pada saat yang tepat berbagai konflik kognitif dan contoh tandingan yanu dapat mengarahkan siswa dalam merekonstruksi gagasan-gagasannya menuju pengetahuan ilmiah.
Karena siswa harus membangun sendiri pengetahuan mereka, seorang pengajar harus melihat mereka bukan sebagai lembaran kertas kosong. Mereka sudah membawa pengetahuan awal. Pengetahuan yang mereka punyai adalah dasar untuk membangun pengetahuan selanjutnya, karena itu pengajar perlu mengerti pada taraf mana pengetahuan mereka. Tuga pengajar adalah membantu agar siswa mampu mengkonstruksi pengetahuannya sesuai dengan situasinya yang konkret maka strategi mengajar perlu juga disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi siswa.

Siklus Belajar Hipotesis-Deduktif
Sesuai dengan prinsip mengajar menurut model konstruktivis seperti yang telah dikemukakan di atas, di mana mengajar bukan sebagai proses di mana gagasan-gagasan pengajar diteruskan pada siswa, melainkan sebagai proses untuk mengubah gagasan-gagasan siswa yang sudah ada yang mungkin salah. Dasar pemikiran para konstruktivis ialah, bahwa pengajaran efektif menghendaki agar pengajar mengetahui bagaimana siswa memandang fenomena yang menjadi subjek pengajaran. Pelajaran kemudian dikembangkan dari gagasan yang telah ada. Salah satu strategi mengajar untuk menerapkan model konstruktivis ialah penggunaan siklus belajar (Herron dalam Dahar, 1989: 164). Siklus belajar terdiri atas tiga fase, yaitu fase ekplorasi, fase pengenalan konsep dan aplikasi konsep.

a) Fase Ekplorasi
Tahap eksplorasi konsep merupakan tahap awal siklus belajar. Tujuan dari tahap ini adalah memberikan kesempatan pada siswa untuk menerapkan pengetahuan awalnya, untuk membentuk minat dan prakarsa serta tetap menjaga keingintahuan mereka tentang topik yang sedang dipelajari. Trowbridge dan Vybee (1990: 306). Pada fase eksplorasi para siswa belajar melalui aksi dan reaksi mereka sendiri dalam suatu situasi baru. Dalam fase ini mereka kerapkali menyelidiki suatu fenomena dengan bimbingan minimal. Fenomena baru itu seharusnya menimbulkan pertanyaan-pertanyaan atau kekomplekan yang tidak dapat mereka pecahkan dengan gagasan-gagasan mereka yang ada atau dengan pola-pola penalaran yang biasa mereka gunakan. Dengan kata lain, fase ini menyediakan kesempatan bagi pra siswa untuk menyuarakan gagasan-gasan mereka yang bertentangan dan dapat menimbulkan perdebatan dan suatu analisis mengenai mengapa mereka mempunyai gagasan-gagasan demikian. Eksplorasi juga membawa para siswa pada identifikasi suatu pola keteraturan dalam fenomena yang diselidiki.
b) Fase Pengenalan Konsep
Fase pengenalan konsep dimulai dengan memperkenalkan suatu konsep yang ada hubungannya dengan fenomena yang diselidiki dan didiskusikan dalam konteks apa yang telah diamati selama fase eksplorasi, kemudian baru dikenalkan secara konseptual. Kunci fase ini adalah untuk menampilkan konsep-konsep secara sederhana, jelas dan langsung. Penjelasan diberikan dari suatu tindakan atau proses agar konsep-konsep dibuat sederhana, dapat dipahami dan jelas. Proses penjelasan memberikan suatu penggunaan umum istilah-istilah yang berkaitan dengan konsep. Perhatian siswa diarahkan pada aspek-aspek tertentu dari pengalaman eksplorasi. Konsep-konsep diperkenalkan secara formal dan langsung.
c) Fase Aplikasi Konsep
Pada fase aplikasi konsep menyediakan kesempatan bagi para siswa untuk menggunakan konsep-konsep yang telah diperkenalkan untuk menyelidiki lebih lanjut sifat-sifat lain dari fenomena yang sudah diamati. Siswa dapat mencari contoh-contoh lain sesuai dengan konsep-konsep yang telah diterima. Tujuan dari fase ini adalah agar siswa dapat melakukan generalisasi atau mentransfer ide-ide ke dalam contoh yang lain dan menguatkan kembali gagasan-gagasan siswa agar sesuai dengan konsep ilmiah..

Gambar di atas menunjukkan bahwa siklus belajar terdiri dan 3 fase yaitu: eksplorasi, pengenalan konsep, dan aplikasi konsep. Jika siklus belajar digunakan untuk merancang suatu kurikulum maka akan terbentuk kurikulum spiral. Istilah dan konsep pada pembelajaran sebelumnya sering diaplikasikan dalam bagian atau siklus helajar. Tahap eksplorasi sering membutuhkan aplikasi dari yang sebelumnya. Tahap pengenalan konsep sering mengarahkan kepertanyaan-pertanvaan dengan memberi siswa kesempatan untuk bekerja dengan pemahaman sendiri untuk mencapai aplikasi dan konsep baru.
Lawson (1995: 139) mengemukakan tiga macam siklus belajar yaitu (1) siklus belajar deskriptif. (2) siklus belajar empirik-induktif, dan (3) siklus belajar hipotesis-deduktif. Siklus belajar deskriptif dimulai dengan eksplorasi dengan menceritakan apa yang terjadi pada lingkungan dan konteks tertentu. Dalam siklus belajar Empirik-induktif para siswa juga menemukan dan memberikan suatu pola empirik dalam suaru kontek khusus eksplorasi tetapi mereka selanjutnva mengemukakan sebab-sebab yang mungkin tentang terjadinya pola itu. Hal ini membutuhkan penggunaan penalaran analogi untuk mentranfer konsep-konsep yang telah dipelajari dalam konteks-konteks lain pada konteks baru pengenalan konsep. Konsep-konsep itu dapat diperkenalkan oleh para siswa, guru, atau kedua-duanya. Dengan kata lain, pengamatan-pengamatan dilakukan secara deskriptif- tetapi bentuk siklus ini menghendaki lebih jauh yaitu mengemukakan sebab dan menguji sebab itu. Bentuk siklus belajar yang ketiga yaitu hipotesis-deduktif, dimulai dengan pertanyaan. Para siswa diminta untuk merumuskan jawaban-jawaban (hipotesis-hipotesis) yang mungkin terhadap pertanyaan itu. Selanjutnya para siswa diminta untuk menurunkan konsekuensi-konsekuensi logis dan hipotesis-hipotesis ini, dan merencanakan serta melakukan eksperimen-eksperimen untuk menguji hipotesis-hipotesis itu (eksplorasi). Analisis hasil-hasil eksperimen menyebabkan beberapa hipotesis ditolak, sedangkan yang lainnya diterima, dan konsep-konsep dapat diperkenalkan (pengenalan konsep). Akhirnya konsep-konsep yang relevan dan pola-pola penalaran yang terlibat dan didiskusikan, dapat diterapkan pada situasi-situasi lain dikemudian hari (aplikasi konsep). Merumuskan hipotesis-hipotesis melalui deduksi logis dengan hasil empirik, diperlukan dalam siklus belajar ini. Siklus belajar ini sangat cocok diterapkan pada siswa yang telah memiliki konsepsi awal dan kemampuan kognitif yang memadai untuk mengembangkan pertanyaan kausal dalam menguji dan memperbaiki konsepsi awal mereka.
Langkah-langkah dalam menggunakan siklus belajar Hipotesis-Deduktif (Lawson,1995: 141) adalah sebagai berikut:
1) Guru mengidentifikasi beberapa konsep dalam pembelajaran
2) Guru mengidentifikasi fenomena yang berkaitan dengan konsep yang dipelajari
3) Pada fase eksplorasi, siswa menggali fenomena di atas sehingga muncul beberapa pertanyaan
4) Hipotesis atau dugaan sementara siswa akan muncul, dan didiskusikan di dalam kelas yang disusun dalam kelompok-kelompok kecil dan kemudian merencanakan atau mendesain eksperimen (pengujian hipotesis)
5) Siswa melakukan eksperimen (pengujian hipotesis) sendiri
6) Pada fase pengenalan konsep, data hasil penyelidikan dibandingkan dan dianalisis istilah-istilah dan konsep diperkenalkan sehingga hipotesis yang diajukan diterima atau ditolak.
7) Pada fase aplikasi konsep, malalui diskusi kelas maka konsep yang telah dipelajari diterapkan pada situasi baru.
8) Evaluasi adalah untuk menilai perubahan-perubahan dalam situasi baru

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa siklus belajar Hipotesis-Deduktif memberikan model pembelajaran yang sedemikian rupa, sehingga para siswa mampu mengemukakan gagasan yang sudah mereka miliki dan menguji serta mendiskusikan gagasan tersebut secara terbuka. Hal ini akan membantu siswa untuk membangun konsep secara konstruktif, sehingga dapat mengurangi miskonsepsi pada diri siswa dan meningkatkan konsepsi ilmiah, yang akhirnya akan memberi kontribusi pada peningkatan prestasi belajar siswa.
Berkaitan dengan hubungan siklus belajar dengan pengetahuan, awal, Lawson (1995: 155) telah menemukan hubungan penting antara miskonsepsi dan penggunaan siklus belajar. Lawson percaya bahwa penggunaan siklus belajar memberikan keuntungan pada siswa untuk mengungkapkan pengetahuan awal atau miskonsepsi mereka dan memberi kesempatan berargumentasi dan memperdebatkan ide-ide mereka iru, dengan kata lain melalui siklus belajar memberikan kesempatan kepada siswa untuk menumbuhkembangkan sifat kritis mereka yang merupakan salah satu ciri sikap ilmiah.

Model Pembelajaran Inkuairi
Salah satu pendekatan ilmiah untuk memperoleh pengetahuan dapat dilakukan dengan cara menyelidikinya sendiri (inquiry). Pada pendekatan ini apa yang kita peroleh sebagian besar didasarkan oleh hasil usaha kita sendiri atas dasar-dasar yang kita miliki. Dalam pengajaran IPA, mengajarkan melalui model seperti ini tentunya akan membawa dampak besar bayi perkembangan mental yang positif pada siswa, sebab melalui pengajaran ini siswa mempunyai kesempatan yang luas untuk mencari dan menemukan sendiri apa yang dibutuhkannya.
Model pembelajaran inkuari adalah suatu teknik instruksional di mana dalam proses belajar-mengajar siswa dihadapkan dengan suatu masalah (Winatapura,1993: 222). Piaget (dalam Dahar dan Liliasari, 1986: 25) memberikan definisi fungsional dari pendekatan inkuiri adalah pendidikan yang mempersiapkan situasi bagi anak untuk melakukan eksperimen sendiri, dalam arti luas ingin melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, ingin menggunakan simbul-simbul, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dan mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri, menghubungkan penemuan yang satu dengan yang lain, membandingkan apa yang ditemukannya dengan yang ditemukan anak-anak lainnya.
Sedangkan Kuslan dan Stone (dalam Dahar dan Liliasari,1986: 25) memberikan definisi sebagai berikut: Pengajaran inkuiri merupakan pengajaran dimana para siswa mempelajari peristiwa-peristiwa ilmiah dengan pendekatan dan jiwa para ilmuwan. Kuslan dan Stone juga memberikan definisi operasional tentang pendekatan inkuiri. Menurut mereka proses belajar mengajar dengan pendekatan inkuiri ditandai oleh ciri-ciri sebagai berikut:
(1) Menggunakan keterampilan-keterampilan proses IPA
(2) Jawaban-jawaban yang dicari tidak diketahui lebih dahulu. Jawaban-jawaban ini tidak ditemukan dalam buku pelajaran, sebab buku-buku pelajaran yang dipilih berisi pertanyaan-pertanyaan dan saran-saran untuk menemukan jawaban, bukan memberikan jawaban.
(3) Para siswa berhasrat sekali untuk menemukan pemecahan masalah proses belajar mengajar berpusat pada pertanyaan. Suatu masalah ditemukan dipersempit hingga terlihat ada kemungkinan masalah ini dapat dipecahkan oleh siswa.
(4) Hipotesis dirumuskan oleh siswa untuk membimbing penyelidikan
(5) Para siswa mengusulkan cara-cara pengumpulan data dengan melakukan eksperimen, mengadakan pengamatan, membaca, dan menggunakan sumber lain.
(6) Para siswa melakukan penelitian secara individu atau kelompok untuk mengumpulkan data yang diperlukan untuk menguji hipotesis.
(7) Para siswa mengolah data sehingga mereka sampai pada kesimpulan sementara.
Dan uraian-uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pendekatan inkuiri lebih menekankan pada pencarian pengetahuan daripada perolehan pengetahuan. Bentuk pengajaran terutama memberi motivasi kepada siswa untuk menyelidiki masalah-masalah yang ada dengan menggunakan cara-cara, dan keterampilan ilmiah dalam rangka mencari penjelasan-penjelasannya. Maksud utama dari pengajaran ini adalah untuk menolong siswa mengembangkan keterampilan-keterampilan penemuan ilmiah (scientific inquiry). Bentuk pengajaran ini tentunya akan menarik bagi siswa untuk menyeiidiki sejumlah informasi dalam rangka mencari pemecahan masalahnya. Dalam pengajaran ini siswa dilatih mengembangkan fakta-fakta, membangun konsep-konsep dan menarik kesimpulan umum atau teori-teori vang menerangkan fenomena-fenomena yang dihadapkan kepadanya.
Pengajaran dengan model inkuari baik diberikan kepada siswa karena:
(a) Model ini akan meningkatkan potensi intelektual siswa. Sebab melalui model ini siswa diberi kesempatan untuk mencari dan menemukan keteraturan hal-hal yang saling berhubungan meialui kerangka pengamatan dan pengalamannya sendiri.
(b) Jika siswa telah berhasil dalam penemuannya, ia akan memperoleh kepuasan intelektual, yang datang dari diri siswa sendiri yang merupakan suatu hadiah intrinsik. Kegiatan kognisi siswa akan lebih dipengaruhi oleh hadiah intrinsik dari pada hadiah ekstrinsik, milatnya pujian dari guru.
(c) Belajar bagaimana melakukan penemuan hanya dapat dicapai secara efektif melalui proses melakukan penemuan.
(d) Belajar dengan model pembelajaran inkuiri akan memperpanjang proses ingatan. Inkuari dimulai dengan menimbulkan peristiwa yang membingungkan siswa.
Keadaan tentunya akan mendorong siswa untuk berusaha menemukan arti fenomena yang dihadapinya. Untuk memperoleh pengertian mengenai fenomena yang dihadapinya, siswa harus mampu menggunakan kekomplekkan proses berfikir dan harus terampil menghubung-hubungkan data menjadi konsep dan menggunakan konsep-konsep yang diperoleh untuk mengidentifikasi prinsip-pnnsip kausal. Langkah-langkah yang digunakan dalam penyajian materi dengan model inkuari adalah sebagai berikut:
(a) Phase berhadapan dengan masalah
Phase ini merupakan saat penyajian masalah. Setelah penyajian masalah siswa tentunya akan mulai bertanya-tanya pada diri sendiri, atau kepada guru. Selanjutnya tentu siswa dan guru akan mencoba memberikan jawabannya. Namun dalam hal ini dialog antara guru dan siswa harus diatur sedemikian rupa sehingga jawaban guru hanya terbatas pada jawaban ya atau tidak. Pertanyaan terbuka harus dihindarkan dan siswa tidak boleh meminta guru menjelaskan tentang fenomena yang dihadapinya.
Dalam hal ini siswa harus memusatkan, menyusun dan melacak sendiri fakta-fakta untuk menuju pemecahan masalah yang dihadapi. Jadi setiap pertanyaan yang diajukan dapat dianggap sebagai suatu hipotesis terbatas.
(b) Phase pengumpulan data pengujian
Pada phase ini siswa berusaha untuk mengumpulkan data informasi sebanyak-banyaknya, tentang masalahnya yang mereka hadapi. Data tersebut dapat diperoleh berdasarkan kondisi objek atau menguji bagaimana proses terjadinya masalah tersebut.
(c ) Phase pengumpulan data dalam eksperimen
Pada phase ini dilakukan isolasi terhadap data-data yang menjadi esensi masalah yane dihadapi. Siswa dapat mengintrogasikan elemen-elemen dari hasil isolasi ke dalam situasi masalah, untuk melihat apakah peristiwanya akan menjadi lain.
(d) Phase formulasi penjelasan
Pada phase ini guru dapat merumuskan penjelasan untuk membimbing siswa pada pemecahan masalah yang terarah bagi siswa yang menemui kesulitan dalam mengemukakan informasi yang mereka peroleh untuk memberikan uraian yang jelas, mereka dapat memberikan penjelasan yane sederhana saja dan tidak mendetail.
(e) Phase analisis proses inkuairi
Pada phase ini siswa diminta untuk menganalisis pola-pola penemuan mereka. Dengan demikian siswa akan banyak memperoleh tipe-tipe informasi, yang sebelumnya tidak dimiliki siswa. Hal ini penting bagi siswa, sebab hal tersebut dapat melengkapi dan memperbanyak data yang relevan serta menunjang untuk menentukan pemecahan masalah (Winatapura 1993: 219).
Sebagai contoh proses pembelajaran dalam sub pokok bahasan hukum Ohm seperti berikut :

Kegiatan Guru dan Siswa dalam Implementasi Model Pembelajaran Inquiri

A. Fase berhadapan dengan masalah

Kegiatan Guru
1. Mengemukakan pertanyaan/masalah yang dapat memotivasi siswa untuk mengemukakan pendapatnya, seperti:
a. Bagaimanakah hubungan antara beda potensial dengan kuat arus jika sebuah resistor dihubungkan dengan sumber GGL.

Kegiatan Siswa

1. Menjawab pertanyaan guru sesuai dengan pengetahuan awal yang mereka miliki

B. Fase pengumpulan data pengujian
Kegiatan Guru
1. Meminta siswa berusaha untuk mengumpulkan data informasi sebanyak-banyaknya tentang masalah yang mereka hadapi
2. Menyiapkan informasi yang dibutuhkan siswa

Kegiatan Siswa

1. Menggali informasi terkait dengan masalah yang dihadapi
2. Melakukan diskusi kelompok untuk merumuskan hipotesis
3. Menyampaikan hipotesis

C. Fase pengumpulan data dalam eksperimen
Kegiatan Guru
1. Meminta siswa untuk menyiapkan alat/ bahan untuk eksperimen hukum Ohm
2. Meminta siswa untuk merancang dan melakukan eksperimen hukum Ohm
3. Membimbing proses eksperimen dengan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan siswa dan mengarahkan siswa untuk menguji hipotesis melalui pertanyaan- pertanyaan penuntun

Kegiatan Siswa

1. Menyiapkan alat/bahan secara berkelompok
2. Secara berkelompok melakukan eksperimen hukum Ohm
3. Bertanya seputar masalah dan proses eksperimen yang dilakukan
4. Menguji hipotesis
5. Menganalisis data untuk membuat kesimpulan

D. Fase formulasi penjelasan
Kegiatan Guru
1. Melalui diskusi kelas guru meminta siswa untuk mengemukakan kesimpulan yang mereka peroleh
2. Meminta siswa membandingkan hasil yang mereka peroleh dan memberikan tanggapan terhadap kesimpulan siswa yang lain
3. Mengarahkan diskusi dengan cara mengklarifikasi kesimpulan yang salah, memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk membimbing siswa pada pemecahan masalah yang terarah

Kegiatan Siswa

1. Menyampaikan kesimpulan di depan kelas dan menanggapi pertanyaan siswa lain
2. Memberikan tanggapan terhadap kesimpulan siswa yang lain
3. Menjawab pertanyaan guru berdasarkan hasil eksperimen

Analisis proses inkuiri
Kegiatan Guru
1. Meminta siswa untuk menganalisis pola-pola penemuan mereka melalui membuat grafik V terhadap 1
2. Evaluasi

Kegiatan Siswa

1. Secara individu menganalisis pola-pola penemuan mereka
2. Mengerjakan soal-soal

Contoh sederhana lain penyajian materi melalui model inkuairi dalam proses belajar mengajar yaitu mengenai konsep pemuaian air pada waktu membeku. Untuk mulai proses inkuairi guru dapat melontarkan masalah: mengapa es beku terapung di air? Dari pertanyaan ini siswa tentu akan mulai bertanya dan mencoba menganalisis permasalahan tersebut. Pada proses selanjutnya siswa diharapkan mulai berusaha untuk mengumpulkan data mengenai objek yang dipermasalahkan. Mungkin siswa mempelajari dulu sifat-sitat fisik dari air dan es. Dalam hal ini juga siswa tentunya akan lebih memperhatikan bagaimana proses pembekuan air itu berlangsung dan proses perubahan apa saja yang mengenainya. Selanjutnya siswa diharapkan mampu mengidenrifikasi data penting dari berbagai data yang diperoleh sebelumnya. Pemilihan data penting tentunya didasarkan atas konsep terapung yang sudah dimilikinya. Siswa tentunya akan menyelidiki hal seperti: berat, volume, suhu dan sebagainya pada air dan es batu. Dan hasil ini guru mulai mengarahkan siswa dalam konsep yang dimiliki tentang terapung dan dipadukan dengan pengarahan yang diberikan guru, siswa tentunya akan dengan mudah memecahkan masalah yang dihadapinya.

Kelebihan model inkuairi menurut Winatapura (1993: 224) antara lain:
(a) Model pengajaran jadi berubah dari yang bersifat penyajian informasi oleh guru kepada siswa dimana proses mentalnya berkadar rendah, menjadi pengajaran yang menekankan kepada proses pengolahan informasi sebagai suatu proses mental berkadar tinggi. Dalam hal ini siswa secara aktif mencari dan mengolah sendiri informasi.
(b) Pengajaran berubah dari pengajaran yang terfokus pada guru menjadi bentuk pengajaran yang terfokus pada siswa. Guru memberi kebebasan belajar kepada siswa dan peran guru lebih banyak bersifat membimbing.
(c) Siswa akan mengeni konsep-konsep dasar dan ide-ide secara lebih baik.
(d) Membantu siswa dalam menggunakan ingatan dalam transfer konsep yang dimilikinya kepada situasi-situasi proses bejajar yang baru
(e) Mendorong siswa untuk berfikir intuitif dan merumuskan hipotesisnya sendiri.
(f) Memberi kepuasan yang bersifat intrinsik
(g) Kegiatan belajar inkuiri dapat membentuk dan mengembangkan konsep diri (self concept) pada diri siswa. Secara psikologis siswa lebih terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru, berkeinginan untuk selalu mengambil dan mengekploiasi kesempatan-kesempatan yang ada, lebih kreatif.
(h) Memungkinkan siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar yang tidak hanya menjadikan guru sebagai satu-satunya sumber belajar.
(i) Dapat memperdalam dan memperkaya materi yang dipelajari sehingga retensinya menjadi lebih baik.
Bruner (dalam Dahar dan Liliasari, 1986: 27-28) mengemukakan pendekatan inkuiri memberikan kebaikan-kebaikan sebagai berikut:
(1) Pendekatan inkuiri meningkatkan potensi intelektual siswa. Hal ini disebabkan karena siswa diberikan kesempatan untuk mencari dan menemukan keteraturan-keteraturan dan hal-hal yang berhubungan dengan pengamatan dan pengalaman sendiri.
(2) Karena siswa telah berhasil dalam penemuannya, ia memperoleh suatu kepuasan intelektual yang datang dari dalam suatu hadiah intrinsik.
(3) Siswa dapat belajar bagaimana melakukan penemuan, hanya melalui proses melakukan penemuan itu sendiri.
(4) Belajar melalui inkuiri memperpanjang proses ingatan atau dengan kata lain hal-hal yang dipelajari melalui inkuiri iebih lama dapat diingat.
Lebih jauh Trowbridge dan Bybee (1973: 210-212) pendekatan inkuiri memberikan kebaikan sebagai berikut:
(1) Pengajaran menjadi lebih berpusat pada anak (Instruction becomes student centered). Salah satu prinsip psikologi tentang belajar menyatakan bahwa makin besar keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar, makin besar kemampuan belajarnya. Kalau diperhatikan pengajaran yang menggunakan pendekatan inkuiri maka terlihat bahwa para siswa tidak hanya belajar tentang konsep-konsep atau prinsip-prinsip tetapi juga tentang pengarahan diri sendiri, tanggung jawab, komunikasi sosial, dan sebagainya.
(2) Proses belajar melalui inkuiri dapat membentuk dan mengembangkan konsep diri pada diri siswa (Inquiry learning builds the self-concept of the student). Setiap orang mempunyai konsep diri. Bila kita mempunyai konsep diri yang baik, maka secara psikologis diri kita akan merasa aman, terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru, berkeinginan untuk mencoba-coba dan menyelidiki, lebih kreaktif, bermental sehat, dan akhirnya menjadi orang yang berguna. Untuk menjadi orang yang berkonsep diri yang baik kita perlu melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan. Dengan melibatkan diri ini kita dapat lebih mengenal diri kita. Pengajaran dengan pendekatan inkuiri memberikan kesempatan-kesempatan untuk melibatkan diri, dengan demikian memberi lebih banyak kesempatan kepada siswa-siswa untuk mengenal diri mereka dan mengembangkan konsep din mereka.
(3) Tingkat pengharapan bertambah (Expectancy level increases). Bagian dan konsep din seseorang ialah tingkat pengharapannya. Ini berarti bahwa siswa mempunyai harapan bahwa ia akan dapat menyelesaikan suatu tugas tanpa tergantung pada orang lain. Dari pengalaman-pengalaman yang berhasil dalam menggunakan kemampuan-kemampuan menyelidiki ia menyadari bahwa “Saya dapat memecahkan suatu masalah tanpa pertolongan guru, orang tua, atau orang lain”.
(4) Pendekatan inkuiri dapat mengembangkan bakat (Inquiry learning develops talent). Individu memiliki suatu kumpulan lebih dari 120 bakat; salah satu bakat adalah bakat akademik. Makin banyak kebebasan dalam proses belajar mengajar, makin besar kemungkinan bagi siswa untuk mengembangkan bakal-bakatnya yang lain, misalnya bakat kreatif, bakat sosial, dan bakat-bakat lain. Mengajar dengan pendekatan inkuiri memberi banyak kebebasan kepada siswa. Dengan demikian memberi kesempatan lebih banyak untuk mengembangkan bakat-bakat selain bakat akademik.
(5) Pendekatan inkuiri dapat menghindari siswa dari cara-cara belajar dengan menghafal.
(6) Pendekatan inkuiri memberikan waktu pada siswa untuk mengasimilasi dan mengakomodasi informasi. Pada umumnya para guru ingin cepat-cepat menyelesaikan pelajaran. Mereka tidak memberi cukup waktu kepada siswa untuk berpikir dalam hubungannya dengan pelajaran yang diberikan. Siswa memerlukan waktu untuk menyerap informasi yang diberikan guru hingga menjadi bermakna baginya. Piaget percaya, bahwa tidak akan terjadi proses belajar yang sejati, apalagi siswa tidak bertindak terhadap informasi secara mental, dan mengasimilasi atau mengakomodasi apa yang dijumpainya dalam lingkungannya. Apalagi hal ini tidak terjadi, maka pelajaran itu akan cepat hilang atau dilupakan.
Sund dan Trowbridge (1973: 67-73) mengemukakan tiga macam pendekatan inkuiri yaitu: inkuiri terpimpin (Guided inquiry), inkuiri bebas (Free inquiry), dan inkuiri bebas yang dimodifikasikan (Modified free inquiry). Ciri-ciri ketiga pendekatan tersebut sebagai berikut:
Dalam proses belajar mengajar dengan pendekatan inkuiri terpimpin siswa memperoleh petunjuk-petunjuk seperlunya. Petunjuk-petunjuk itu pada umumnya berupa pertanyaan-pertanyaan yang bersifat membimbing. Pendekatan ini terutama digunakan bagi para siswa yang belum berpengalaman belajar dengan pendekatan inkuiri. Pada tahap permulaan diberikan lebih banyak bimbingan, lambat laun bimbingan itu dikurangi.
Dalam proses belajar mengajar dengan pendekatan inkuiri bebas, siswa melakukan penelitian sendiri sebagai seorang ilmuwan. Dalam proses pembelajaran melalui inkuiri bebas siswa melakukan penelitian sendiri, eksperimen dilakukan sendiri dan kesimpulan tentang hasil percobaan juga diperoleh sendiri. Peran guru sangat kecil selama proses pembelajaran. Hasil penelitian dibeberapa universitas di luar negeri untuk mahasiswa yang pintar menunjukkan bahwa manasiswa baru bisa mengikuti type pembelajaran inkuiri bebas jika diberikan arahan yang terbatas. Pada kenyataannya pendekatan inkuiri bebas yang murni sukar diterapkan pada siswa. Sebab pada umumnya para siswa itu sewaktu-waktu masih memerlukan bimbingan guru.
Dalam situasi belajar mengajar dengan pendekatan inkuiri bebas yang dimodifikasikan, guru yang menyiapkan masalah bagi siswa dan menyiapkan situasi sehingga memungkinkan siswa menemukan sendiri konsep-konsep yang sedang dipelajari, sebagai contoh pengajar bisa mempersiapkan situasi sebagai berikut.
1) Disini telah disediakan beberapa macam cermin. Cari tahu sebanyak mungkin tentang sifat bayangan.
2) Disini telah disediakan beberapa peralatan untuk mempelajari gerak. Aturlah dengan cara yang anda tentukan untuk mempelajari gerakan dari sebuah objek.
3) Telah disediakan beberapa alat untuk mempelajari rangkaian listrik. Lakukan hal-hal yang perlu untuk mengetahui sebanyak mungkin tentang hal tersebut.
4) Dengan garam ini, lakukan apa saja untuk menentukan unsur-unsur fisika dan kimianya.
Dalam pembelajaran inkuiri bebas yang dimodifikasikan siswa diberi motivasi untuk memecahkan masalah yang bisa diiakukan dalam kelompok atau perorangan. Guru adalah sebagai nara sumber yang memberikan bantuan terbatas yang diperlukan agar siswa tidak frustasi atau menemukan kegagalan. Rantuan yang diberikan guru dalam bentuk pertanyaan yang membantu siswa untuk memikirkan langkah-langkah pengamatan selanjutnya. Pertanyaan ini bisa diajukan secara tepat bisa memotivasi siswa untuk mendapatkan ide-ide investigasi kreaktif. Inkuiri bebas yanp dimodifikasikan juga telah bisa diterapkan oleh banyak pengajar dan berhasil (Sund dan Trowbriuge, 1973:71).
Berdasarkan uraian di atas maka dalam implementasi kedua model pembelajaran dalam penelitian ini dapat dijelaskan seperti berikut :

Fase dan Sintaks Model Pembelajaran Siklus Belajar Hipotesis-Deduktif dan Model Pembelajaran Inkuiri

Model Pembelajaran Siklus Belajar Hipotesis-Deduktif
1. Fase ekplorasi
2. Fase pengenalan konsep
3. Fase penanaman konsep

Sintaks

1. Identifikasi konsep oleh guru
2. Identifikasi fenomena oleh guru
3. Menggali fenomena oleh siswa terkait dengan masalah yang dihadapi
4. Perumusan hipotesis oleh siswa
5. Siswa melakukan eksperimen
6. Pengenalan konsep
7. Aplikasi konsep
8. Evaluasi

Model Pembelajaran Inkuiri

1. Fase berhadapan dengan masalah
2. Fase pengumpulan data pengujian
3. Fase pengumulan data dalam pengujian
4. Fase formulasi penjelasan
5. Fase analisis proses inkuiri

Sintaks

1. Siswa berhadapan dengan masalah dan perumusan hipotesis
2. Pengumpulan data pengujian
3. Siswa melakukan eksperimen
4. Formulasi penjelasan
5. Analisis proses inkuiri
6. Evaluasi

Kegiatan Guru dalam Pelaksanaan Perlakuan

Model Siklus Belajar Hipoteis-Deduktif
1. Menyajikan masalah/pertanyaan
2. Meminta siswa untuk membuat hipotesis terhadap pertanyaan yang diajukan guru
3. Meminta siswa untuk menyiapkan alat/bahan yang akan dipergunakan dalam percobaan
4. Meminta siswa untuk mendesain dan melakukan percobaan sesuai dengan langkah-langkah yang ada dalam petunjuk praktikum, untuk menguji hipotesis mereka
5. Meminta siswa melakukan diskusi kelompok tentang hasil percobaan mereka sehingga siswa sampai pada kesimpulan
6. Meminta siswa untuk melaporkan hasil diskusi kelompok dalam diskusi kelas dan meminta tanggapan pada kelompok yang lain
7. Memberikan penjelasan konsep-konsep yang sedang dipelajari berdasarkan masalah-masalah fisika
8. Melakukan evaluasi, jika ada siswa yang belum memahami konsep yang dipelajari akan dilakukan eksplorasi kembali

Model Pembelajaran Inkuiri
1. Mengemukakan masalah/ pertanyaan untuk memotivasi siswa mengemukakan pendapat
2. Meminta siswa berusaha untuk mengumpulkan data informasi sebanyak-banyaknya tentang masalah yang mereka hadapi
3. Menyiapkan informasi yang dibutuhkan siswa dan menjawab pertanyaan siswa
4. Meminta siswa membuat hipotesis dan menetapkan hipotesis untuk dikaji lebih lanjut
5. Meminta siswa untuk menyiapkan alat/bahan untuk percobaan
6. Meminta siswa untuk merancang dan melakukan percobaan
7. Membimbing proses percobaan dengan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan siswa dan mengarahkan siswa untuk menguji hipotesis melalui pertanyaan-pertanyaan penuntun
8. Meminta siswa untuk menyampaikan kesimpulan hasil percobaan mereka melalui diskusi kelas
9. Meminta siswa membandingkan hasil yang mereka peroleh dan memberikan tanggapan terhadap kesimpulan siswa yang lain
10. Mengarahkan diskusi dengan cara mengklarifikasi kesimpulan yang salah, memberikan pertanyaan- pertanyaan untuk membimbing siswa pada pemecahan masalah yang terarah
11. Meminta siswa untuk menganalisis pola-pola penemuan mereka
12. Melakukan evaluasi

Sikap ilmiah
Sikap ilmiah didefinisikan sebagai suatu pendirian (kccendrungan) pola tindakan terhadap suatu stimulus tertentu yang selalu berorientasi pada ilmu pengetahuan dan metode ilmiah. Yang dimaksud dengan metode ilmiah adalah cara khusus yang digunakan seorang ilmuwan unruk memecahkan masalah yang dihadapinya. Secara garis besar metode ilmiah lerdiri dua kegiatan utama yaitu; (1) observasi atau pengamatan, (2) eksperimen atau percobaan. Menurut Gega (1977: 77), sikap ilmiah mencakup aspek-aspek; rasa ingin tahu, berpikir kritis, obyektif, terbuka terhadap kritik, adanya ketekunan, dan memiliki kemampuan menyelidiki.
Beberapa contoh dari aspek sikap ilmiah:
(a) Rasa ingin tahu
Siswa yang memperhatikan suatu objek atau kejadian secara tiba-tiba berkeinginan untuk mempelajari lebih dalam tentang hal itu maka siswa tersebut mempunyai rasa ingin tahu. Mereka dapat memberikan bukti-bukti dari keingintahuan mereka dengan cara: memeriksa beberapa materi, bertanya tentang objek-objek dan kejadian, dan menunjukkan ketertarikan terhadap hasil eksperimen.
(b) Berpikir kritis
Siswa yang mengembangkan saran-saran dan kesimpulan-kesimpulan dengan bukti-bukti merupakan siswa yang berpikir secara kritis. Mereka dapat menunjukkan pikiran kritis mereka melalui pemyataan verbal yaitu: menggunakan bukti-bukti untuk membenarkan kesimpulan mereka, menunjukkan perbedaan dalam laporan dengan teman sekelasnya; merubah ide-ide respon mereka menjadi bukti.
(c) Memiliki kemampuan menyelidiki
Siswa yang mampu menghasikan ide-ide baru merupakan siswa yang memiliki kemampuan menemukan sesuatu. Siswa ini menunjukkan pemikiran orisinil mereka dalam menginterpretasikan. Mereka dapat memberikan bukti-bukti dan kemampuan menemukan sesuatu melalui pemyataan verbal atau dengan cara: menggunakan peralatan dengan cara yang tidak biasanya, contohnya voltmeter yang biasanya digunakan untuk mengukur beda tegangan digunakan untuk mengukur suhu sehingga hasil pengukuran Iebih akurat dan bisa mengatasi keterbatasan jumlah alat ukur, mengusulkan penelitian-penelitian baru.
(d) Ketekunan
Siswa yang mempertahankan sebuah ketertarikan terhadap sebuah masalah atau kejadian untuk kurun waktu yang lebih lama dibandingkan teman sekelas mereka disebut siswa yang tekun. Mereka tidak mudah jauh dari aktivitas mereka. Mereka dapat memberikan bukti-bukti dari ketekunan dengan cara: melanjutkan investigasi material setelah kesenangan mereka telah hilang, mengulang sebuah eksperimen, melengkapi atau menyelesaikan sebuah aktivitas walaupun teman sekelas mereka telah menyelesaikannya terlebih dahulu.
Menurut Ndraka (1985: 16) mengemukakan bahwa sikap ilmiah merupakan sikap yang dimiliki oleh golongan orang yang tidak menerima begitu saja tentang suatu hal, melainkan memandang hal itu menimbulkan tanda tanya, dan memerlukan suatu jawaban. Dengan kata lain bahwa sikap ilmiah merupakan sikap yang memungkinkan seseorang untuk berpikir dan bertindak secara ilmiah.
Menurut Ndraha(1985:18) ada beberapa ciri sikap ilmiah yakni:
a. Rasa ingin tahu, artinya seseorang yang selalu terdorong lebih banyak mengetahui dengan membaca, bertanya kepada orang lain, dan melalui pengamatan langsung.
b. Obyektif terhadap fakta, artinya sikap menerima sesuai dengan keadaan yang diamati.
c. Sikap teliti, artinya membiasakan diri dalam mengumpulkan data dan melakukan eksperimen untuk menghindari kesalahan atau memperkecil kesalahan.
d. Terbuka, artinya bersedia mempertimbangkan pendapat atau penemuan orang lain, sekalipun pendapat atau penemuan itu berbeda dengan penemuannya sendiri.
e. Skeptisme (kritis), artinya sikap yang selalu mengajukan pertanyaan.
f. Membiasakan diri untuk bekerjasama di dalam memecahkan masalah
g. Memiliki rasa inisiatif terhadap suatu masalah yang dihadapinya
h. Bersifat jujur, aninya mencatat hal-hal sesuai dengan kenyataan, tidak mengada-ada, meskipun terkadang menemukan hal yang tidak sesuai dengan yang diharapkan.
i. Tekun artinya tidak lekas putus asa dan tidak cepat mengambil keputusan atau kesimpulan.
j. Dapat membedakan antara fakta dan pendapat
k. Sanggup mengubah kesimpulan dari hasil eksperimen bila ada bukti-bukti yang meyakinkan benar.
Perujudan awal dari sikap ilmiah ditunjukkan dari keinginan untuk mencari jawaban terhadap permasalahan melalui pengamatan langsung, melakukan percobaan, menguji suatu hipotesis.
Lebih jauh Narendra Vidya (dalam, Sujanem 2001: 6) mengungkapkan bahwa The progress of science is marked not only by an accumulation of facts, but emergency of scientific method und of scientific attitude. Jadi dalam pembelajaran IPA(sains) tidak hanya difokuskan pada aspek kognitif saja berupa penghapalan rumus-rumus, konsep-konsep atau fakta-fakta saja, namun lebih diarahkan pada penyediaan kondisi yang kondusif, sehingga siswa mendapat pengalaman langsung untuk terlibat secara aktif dalam proses-proses ilmiah yang melekat pada pelajaran IPA itu sendiri sepeni mengamati, menggolongkan, menaksirkan, meramalkan, merencanakan meneliti suatu masalah, sehingga siswa menemukan sendiri konsep-konsep atau prinsip-prinsip IPA.
Harlen (1992: 40) membedakan dua macam sikap ilmiah yaitu (1) Sikap terhadap sains sebagai sesuatu kekuatan untuk kemajuan (2) sikap terhadap objek dan kejadian-kejadian dalam lingkup yang dipelajari sebagai aktivitas ilmiah. Agar siswa memiliki sikap positif terhadap sains maka mereka harus memiliki pandangan yang benar tentang sains. Sampai saat ini masih ada dua pandangan yang berbeda tentang sains. Disatu sisi sains dianggap sebagai sumber senjata penghancur dan teknologi yang menyebabkan kerusakan lingkungan. Di sisi lain, sains dianggap sebagai sumber keajaiban dunia modern dalam menyediakan kemajuan medis, memperluas pengalaman manusia di luar bumi, dan memungkinkan penemuan yang menuju pada teknologi komputer dan informasi. Siswa tidak mempunyai pengetahuan atau pengalaman yang cukup tentang aktivitas ilmiah. Mereka membentuk opini dan sikap terhadap sains hasil dari penerimaan prasangka orang dewasa. Menurut Harlen (1992: 39) sikap siswa mempengaruhi keinginan siswa untuk ikut dalam aktivitas tertentu dan cara mereka merespon pada seseorang, objek atau situasi. Keinginan berpartisipasi adalah modal utama dan pernbelajaran yang efektif. Kualitas sikap dan personal berikut adalah penting pada setiap tingkat pendidikan sains: rasa ingin tahu, respek terhadap fakta atau bukti, keinginan untuk mentoleransi ketidakpastian, kritis. tekun, kreatifitas dan daya cipta, terbuka, peka atau sensitif terhadap lingkungan hidup dan tak hidup, dan bekerjasama dengan siswa lain. Sikap-sikap itu berkembang melalui dukungan dan contoh. Guru harus menghindarkan siswa dari opini dan sikap negatif yang diprasangkakan oleh orang-orang dewasa terhadap sains. Hal ini dapat dilakukan dengan membangun sikap ilmiah, yang meliputi: rasa ingin tahu, respek terhadap fakta atau bukti, kemauan untuk mengubah pandangan, dan berfikir kritis (Harlen, 1992: 40).
(a) Rasa ingin tahu
Rasa ingin tahu membimbing siswa untuk mencari dan menggali pengalaman-pengalaman baru, dan itu sangat penting baginya untuk mengenal lingkungan. Keinginantahuan siswa bisa ditingkatkan dengan memperluas kesempatan mereka untuk metakukan investigasi sebagai tangan pertama. Rasa ingin tahu siswa dapat dilihat dari indikator-indikator berikut; (1) memperhatikan dan tertarik terhadap hal-hal baru, (2) menunjukkan perhatian terhadap observasi secara hati-hati dan rinci, (3) mengajukan bermacam-macam pertanyaan tentang informasi-informasi yang diperolehnya, (4) secara spontan menggunakan sumber-sumber informasi untuk mengetahui sesuatu yang baru atau tidak umum.
(b) Respek terhadap fakta atau bukti
Respek terhadap fakta atau bukti merupakan pusat aktivitas ilmiah. Walaupun beberapa gagasan baru lahir dari imajinasi, gagasan tersebut tidak akan berumur panjang tanpa dukungan bukti-bukti yang layak dan masuk akal. Sikap respek siswa terhadap fakta dapat dilihat dari indikator berikut: (1) melaporkan apa yang terjadi seeara aktual walaupun itu bertentangan dengan apa yang diharapkannya, (2) menyangsikan dan mengecek bagian-bagian fakta yang tidak cocok dengan pola dari penemuan lain, (3) meragukan kesimpulan atau interpretasi berdasarkan bukti-bukti yang belum cukup, (4) memperlakukan gagasan atau simpulan sebagai sesuatu yang bersifat sementara dan terbuka untuk ditantang dengan bukti-bukti baru.
(c) Kemauan untuk mengubah pandangan
Kemauan untuk mengubah pandangan karena adanya bukti-bukti baru yang sangat kuat untuk meruntuhkan pandangan semula, sering disebut sebagai fleksibilitas. Indikator sikap ini meliputi : (1) siap mengubah pandangannya ketika ada bukti-bukti meyakinkan bertentangan dengan pandangan semula, (2) mempertimbangkan gagasan-gagasan alternatif terhadap pandangannya sendiri, (3) secara spontan mencari gagasan-gagasan alternatif dibandingkan tetap mempertahankan pandangan semula, (4) merealisasikan pengubahan atau penghentian gagasan lama pada saat muncul gagasan baru yang lebih masuk akal terhadap fakta.
(d) Berfikir kritis
Dalam konteks aktivitas sains, berfikir kritis meningkatkan potensi belajar dari pengalaman dan aktivias kelas. Indikator-indikator tindakan siswa yang menunjukkan sikap berfikir kritis : (1) kemauan untuk meninjau apakah mereka telah mengerjakan sesuatu dengan mempertimbangkan hal-hal yang masih bisa diperbaiki. (2) mempertimbangkan penggunaan prosedur-prosedur alternatif, (3) menentang cara-cara investigasi atau hasil interpretasi yang menyimpang, (4) berfikir keras terhadap investigasi sebelumnya dalam perencanaan dan hasil-hasilnya.
Lebih jauh Harlen (1992: 97) menyatakan ada empat sikap yang perlu dipertimbangkan sebagai bagian yang tidak bisa dipisahkan dari pembelajaran sains yaitu: rasa ingin tahu, respek terhadap fakta atau bukti, keinginan untuk mengubah pandangan, dan berfikir kritis. Untuk menumbuhkembangkan atau mendorong sikap ilmiah siswa ada tiga jenis peranan utama guru yakni: memperlihatkan contoh, memberikan penguatan dengan pujian dan persetujuan, dan memberikan kesempatan untuk mengembangkan sikap.
(a) Memperlihatkan sebuah contoh
Pemberian contoh sikap yang pernah diambil guru sebagai contoh dan pandangannya sendiri yang telah diubah bisa bisa mempunyai dampak yang penting pada keinginan murid untuk mengganti pandangannya. Saya kira lebih gampang berenang pada air dalam daripada air dangkal tapi penelitian menunjukkan bahwa itu tidak menunjukkan perbedaan.
(b) Memberikan penguatan dengan pujian dan persetujuan
Siswa mengambil sikap tidak hanya dari contoh tapi juga dari perasaan mereka memperoleh persetujuan atau tidak. Kerika murid menunjukkan tanda sikap yang positif, ini penting untuk mendorong kebiasaan dengan pujian atau tanda yang lain dari persetujuan. Ini jauh lebih ditaati dan pada mengecilkan sikap negatif. Bagi siswa yang sikap ilmiahnya kurang akan mampu mengetahui dan persetujuan yang diberikan pada siswa yang lain. Sebagai contoh mengacu pada sifat kritis, jika siswa tidak membuat perbandingan yang jelas pada pengalaman mereka, guru seharusnya menyarankan siswa agar berfikir tentang itu sebelumnya atau mempelajari sesuatu yang penting tentang penelitian jenis ini sehingga penelitian terlaksana dengan baik, jelas lebih disukai untuk mendorong pengakuan kesalahan pada kesempatan mendatang.

(c) Memberikan kesempatan
Semasih siswa menunjukkan keinginan untuk berbuat, harus diberikan kesempatan untuk beraktivitas. Memberikan objek baru adalah memberikan kesempatan pada siswa untuk mengembangkan sikap ingin tahu, mendiskusikan hasil eksperimen, memberikan kesempatan kepada siswa untuk berfikir kriris. Jika kesempatan tidak diberikan kepada siswa maka sikap ilmiah tidak bisa berkembang.
Menurut Magno (dalam Karhami, 2000: 5) salah satu cara untuk mengembangkan sikap ilmiah adalah dengan memperlakukan anak seperti ilmuwan muda sewaktu anak mengikuti kegiatan pembelajaran sains. Ilmuwan adalah seorana pemecah masalah, yang terbiasa melakukan penelitian dan pengujian secara terencana sehingga diperoleh suatu temuan baru. Temuannya akan cendrung sarat dengan misteri. Karena ketekunan dan kerja keras ilmuwanlah maka rahasia alam dapat terungkap. Karena itu, seorang saintis selalu memiliki curiosity yage tinggi. Saintis selalu mempertanyakan setiap prilaku alam. Setelah itu, saintis berupaya menjawabnya melalui proses sentifik. Barangkali kejadian buah apel jatuh ke permukaan bumi tidaklah aneh karena telah sering terlihat. Tetapi pernahkah kita bertanya, mengapa buah apel itu jatuh ke bumi? Mengapa buah apel tidak jatuh ke planet yang lain? Kalau dua materi selalu memiliki gaya tarik menarik, mengapa bukan bumi yang jatuh ke buah apel? Dulu misteri alam ini bukan pertanyaan mudah untuk dijawab karena mengundang para ilmuwan pada abad ke 16 dan 17 untuk mencari jawabannya. Sir Isaac Newton, seorang saintis asal Inggris mampu menjawab teka teki itu Wospakrik (dalam Karhami, 2000: 5).
Selain itu ilmuwan selalu melakukan beberapa kegiatan saintifik, misalnya mereka terbiasa mengamati, mengaplikasikan pengetahuan, berhipotesa, merencanakan penelitian, menyusun inferensi logis, atau mengkomonikasikan temuan. Ilmuwan juga memiliki sikap ilmiah seperti jujur dalam merekam data faktual, tekun dalam menyelesaikan tugas, terbuka pada kebenaran ilmiah dan selalu mendahulukan kebenaran yang diperoleh dengan cara dan metode ilmiah, kritis dalam menanggapi setiap preposisi/pernyataan/pendapat, dan kreatif sewaktu melakukan percobaan/penelitian. Ikhwal dengan anak usia sekolah, perlakuannya tentu saja tidak terlalu menuntut persis seperti ilmuwan sekaliber Newton yang terbiasa mengumpulkan data secara lengkap dan teliti, dan yang terbiasa menarik kesimpulan secara logis dan rasional. Namun tahapan-tahapan dan kebiasaan seorang ilmuwan tetap dapat dilatihkan kepada anak-anak termasuk anak usia SD. Kalau ini dilakukan, bukan tidak mungkin prilaku ilmiah dan scientific attitude dimiliki lulusan sekolah. Sejumlah scientific attitude ini dapat dikembangkan dan ditingkatkan jika siswa diperlakukan dan dianggap sebagai seorang saintis muda di kelas. Untuk maksud ini siswa memerlukan lebih banyak doing science dari pada listening to scientific knoledge. Dengan kata lain peningkatan scientific altitude dapat berlangsung jika pengajaran IPA disajikan guru dengan mengurangi ceramah dan meningkatkan peran fasilitator melalui kegiatan aktivitas IPA yang mendorong siswa doing science seperti pengamatan, pengujian, dan penelitian.
Siswa yang memiliki sikap ilmiah yang baik akan selalu terdorong untuk terlibat secara aktif dalam proses belajar. Salah satu dari aspek sikap ilmiah adalah rasa ingin tahu. Siswa mau belajar bila dalam lubuk hatinya ada keinginan untuk mengetahui sesuatu. Dalam proses belajar mengajar, jelas kelihatan siswa yang memiliki sifat ingin tahu yang tinggi dia akan berusaha mengajukan pertanyaan-pertanyaan atau menanyakan masalah-masalah yang belum dipahami benar dan menunjukkan minat yang tinggi terhadap penstiwa-peristiwa atau obyek-obyek yang menyentuh inderanya seperti dalam kegiatan praktikum, diskusi, dsb. Pembatasan terhadap rasa ingin tahu siswa oleh guru akan mematikan kreativitas belajar siswa, dan akan berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa.
Sikap ilmiah siswa dapat ditumbuhkan dan dikembangkan melalui kegiatan laboratorium sedangkan kegiatan ini bisa dilakukan melalui penerapan model belajar inkuiri. Keterlibatan siswa secara aktif baik fisik maupun mental dalam kegiatan laboratorium akan membawa pengaruh terhadap pembentukan tindakan siswa yang selalu didasarkan pada hal-hal yang bersifat ilmiah.
Telah diketahui bahwa IPA itu mencakup dua hal yaitu IPA sebagai produk dan IPA sebagai proses. Produk IPA berupa fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip- prinsip, dan hukum-hukum. Cara kerja memperoleh produk IPA sering disebut proses IPA. Dalam proses IPA terkandung keterampilan-keterampilan dan sikap. Keterampilan-keterampilan ini disebut keterampilan proses IPA yang terdiri dari: (1) pengamatan, (2) pengklasirifikasian, (3) pengukuran, (4) pengidentifikasian dan pengendalian variabel, (5) perumusan hipotesa (6) perancangan eksperimen, (7) penyimpulan hasil eksperimen, dan (8) pengkomunikasian hasil eksperimen (Iskandar, 1997: 4). Karena itu sering dikatakan bahwa proses mendapatkan IPA merupakan bagian IPA yang tidak dapat dipisahkan dari IPA itu. IPA tidak hanya fakta tetapi juga proses.
Dalam memecahkan suatu masalah seorang ilmuwan sering berusaha mengambil sikap tertentu yang memungkinkan usaha mencapai hasil yang diharapkan, sikap itu dikenal dengan nama sikap ilmiah (Iskandar, 1997: 11).
Menurut Iskandar (1997 :12 ) ada beberapa ciri sikap ilmiah yakni:
(a) Obyektif terhadap fakta. Obyektif artinya tidak dicampuri oleh perasaan senang atau tidak senang terhadap sesuatu. Jika fakta menunjukkan bahwa sesuatu itu hitam, maka ia menyatakan hal itu hitam meskipun menurut pendapatnya seharusnya itu putih.
(b) Tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan bila belum cukup data yang menyokong kesimpulan itu. Misalnya seorang ilmuwan menemukan suatu jenis tumbuhan berbunga merah, ia tidak segera menyatakan bahwa semua tumbuhan itu berbunga merah. Bila ia mempunyai dugaan atau hipotesis bahwa semua tumbuhan jenis itu berbunga merah, maka ia harus menguji hipotesanya dengan mengumpulkan sejumlah data. Mungkin ia mencari dan berusaha mengamati bunganya. Bila telah cukup banyak tumbuhan yang diamati, dan ternyata semuanya berbunga merah, barulah ia mengemukakan suatu kesimpulan. Kesimpulan yang dikemukakan itupun biasanya dinyatakan secara berhati-hati, misalnya sepanjang yang diamati, tumbuhan jenis ini berbunga merah.
(c) Berhati terbuka, artinya bersedia mempertimbangkan pendapat atau penemuan orang lain, sekalipun pendapat atau penemuan itu bertentangan dengan penemuannya sendiri. Bila cukup data menunjukkan bahwa penemuannya sendiri salah, ia tidak ragu-ragu menolak penemuannya sendiri dan menerima penemuan orang lain.
(d) Tidak mencampuradukkan fakta dengan pendapat
(e) Bersifat hati-hati
(f) Ingin menyelidiki
Lebih jauh Iskandar (1997: 17) menyatakan, bila diajarkan menurut cara yang tepat, IPA merupakan suatu mata pelajaran yang memberikan kesempatan latihan berfikir kritis. Banyak contoh memecahkan masalah yang memerlukan daya berfikir yang kritis, menarik kesimpulan dan serangkaian percobaan juga merupakan latihan berfikir kritis. Karena itu, bila IPA diajarkan melalui percobaan-percobaan yang dilakukan sendiri oleh siswa, maka IPA tidaklah merupakan suatu pelajaran yang bersifat hafalan belaka seperti pelajaran IPA yang banyak kita jumpai di sekolah-sekolah.

DAFTAR PUSTAKA
Anastasi, A., & Urbina, S. 1998. Tes Psikologi, Edisi Bahasa Indonesia dari Psychological Testing, 7 th ed. Jakarta: PT Prenhalindo.

Anonim. 2001. Laporan Pelaksanaan Ujian Akhir Nasional Tahun Pelajaran 2000/2001. Dinas Pendidikan Kabupaten Buleleng

Anonim. 2002. Laporan Pelaksanaan Ujian Akhir Nasional Tahun Pelajaran 2001/2002. Dinas Pendidikan Kabupaten Buleleng.

Anonim. (tanpa tahun). Kalibrasi Instrumen, Pengolahan Data, dan Pemanfaatan Internet: Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta.

Bodner,G. M. 1986 Constructivism A Theory of Knowledge. Purdue University. Journal of Chemical Education. Vol. 63 No. 10

Campbell, D.T. dan Stanley, J.C. 1963. Experimental and Quasi-Experimental Designs for Research. Chicago: Rand Me Nally College Publishing Company.

Dahar, R. W. 1989. Teori-Teori Belajar. Jakarta: Erlangga.

Dahar, R. W. dan Liliasari. 1986. Interaksi Belajar Mengajar IPA. Jakarta: Universitas Terbuka.

Dantes, N. 1983. Penilaian Layanan Bimbingan Konseling. Singaraja: FKIP Unud.

Depdikbud. 1994. Kurikulum SMU: GBPP Mata Pelajaran Fisika kelas I,II, III. Jakarta: Depdikbud.

Fernandes, H. J. X. 1984. Testing and Measurement. Jakarta: Nasional Educational Planning, Evaluation and Curriculum Development.

Fraenkel, J. R. Wallen, N. E. 1993. How to Design and Evaluate Research, in Education. Second Edition. New York: Me Graw-Hill, Inc.

Furqon. 1999. Statiska Terapan untuk Penelitian. Bandung : CV Alfabeta

Gega, P. C. 1977. Science In Elementar Education. Canada: John Wiley and Sons Inc.

Guilford, J.P. 1973. Fundamental Statistic in Psychologis and Education. New York: Me Graw-Hili Book Company.

Hadi, S. 1988. Statistic. Yogyakarta: UGM

About suaidinmath

Mohon kontribusi untuk menambal retak dan menambah langkah kesempurnaan tulisan ini ...

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Hari ini

Februari 2015
S S R K J S M
« Jan   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Statistik Blog

  • 1,758,171 hit

Arsip blog

Award Blog Pendidikan 2012

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 259 pengikut lainnya

Dunia Pendidikan

Teratas

RSS Republika online

  • Andik: Melawan Vietnam Menguras Tenaga 3 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Pemain sayap Tim Nasional Indonesia, Andik Vermansyah mengaku sangat senang dan puas bisa mengalahkan Timnas Vietnam dengan skor 2-1. Dia mengatakan kemenangan pada putaran pertama babak...
    Andi Nur Aminah
  • Koeman Ingin Pemainnya Tunjukkan Kekuatan Melawan MU 3 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, LONDON – Pelatih Everton, Ronald Koeman mengatakan para pemainnya harus menunjukkan kekuatan dan komitmen mereka dalam beberapa pekan mendatang. Hal tersebut dimulai dari pertandingan pada Ahad malam (4/12) melawan...
    Israr Itah

RSS educatinalwithptk

newsalloy

NewsAlloy button

MUSIK

suara Edukasi

 

 http://radioedukasi.com/modules/mod_miniradio/mod_miniradio.swf

suara_edukasi

RADIO EDUKASI

Live Streaming AM 1251 kHz

Silahkan unduh produk audio radio Suara edukasi

[KLIK DISINI]

Zaimuttpjok/tik

BERBAGI INFORMASI PENDIDIKAN DAN KISAH HIDUP

isti

Berilah makan keyakinanmu niscaya keraguanmu mati kelaparan

ANNISA USH SHOLIHAH

ALL ABOUT CHEMIS_3 (sharing for carring)

Dinas Dikpora Kab. Dompu

Ikhlas Mendidik Untuk Martabat Bangsa dan Negara

Vox Populi

Vox Populi: A Public Sphere for Politics and Poetry

Architecture Here and There

Style Wars: classicsm vs. modernism

Stories From the Belly

A Blog About the Female Body and Its Appetites

mywordpool

"Words - so innocent and powerless as they are, as standing in a dictionary, how potent for good and evil they become in the hands of one who knows how to combine them." ~Nathaniel Hawthorne

Fusion

Championing a young, diverse, and inclusive America with a unique mix of smart and irreverent original reporting, lifestyle, and comedic content.

Whatever

LET ME STEAL THIS MOMENT FROM YOU NOW

rachel eats

stories, pictures and cooking tales from an english woman living in rome.

y

what it comes down to

tangerine drawings

scribbles and recipes from a pastry chef in paris

Extra Dry Martini

Straight up, with a twist.

Gravity and Levity

A blog about the big ideas in physics, plus a few other things

love.life.eat

living a mindful life

%d blogger menyukai ini: