//
you're reading...
Dunia Pendidikan

Belajar Berbasis Masalah

10501651_790742814292966_3853810770051347356_nBelajar Berbasis Masalah
Belajar berbasis masalah berakar dari pandangan John Dewey, yang menyatakan bahwa sekolah mestinya mencerminkan masyarakat yang lebih besaJ, dan kelas merupakan laboratorium untuk memecahkan masalah kehidupan nyata. Pandangan ini mengharuskan guru untuk mendorong siswa terlibat dalam proyek atau tugas berorientasi masalah dan membantu mereka menyelidiki masalah-masalah intelektual dan sosial. Pembelajaran di sekolah seharusnya lebih memiliki manfaat nyata daripada abstrak. Pembelajaran yang memiliki manfaat terbaik dapat dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok kecil untuk menyelesaikan proyek yang menarik yang merupakan pilihan mereka sendiri. Visi pembelajaran yang berdaya guna atau terpusat pada masalah digerakkan oleh keinginan siswa untuk menyelidiki secara pribadi masalah tersebut. Hal ini secara jelas
‘ BBM juga dikembangkan dari konsep konstruktivisme atas dasar pandangan Jean Piaget dan Lev Vygotsky. Piaget menegaskan bahwa anak memiliki r;;sa inyin tahl! bav.’aan dan secara tcru.s menerus bernsaha ingin memahami dunia di sekitamya. Rasa ingin tahu ini. menurut Piaget dapat memotivasi mereka untuk secara aktif membangun tampilan dalam otak mereka mengenai lingkungan yang mereka hayati. Pada saat mereka tumbuh semakin dcwasa dan memperoleh lebih banyak kemampuan bahasa dan memori, tampilan mental mereka tentang dunia menjadi lebih luas dan lebih abstrak. Sementara itu, pada semua tahap perkembangan, anak perlu memahami lingkungan mereka dan memotivasinya untuk menyelidiki dan membangun teori-teori yang menjelaskan lingkungan itu.
Pandangan ini lebih lanjut mengemukakan bahwa siswa dalam segala usia secara aktif terlibat dalam proses perolehan informasi dan membangun pengetahuan mereka sendiri. Pengetahuan tidak statis namun secara terus menerus tumbuh dan berubah pada saat siswa menghadapi pengalaman baru yang memaksa mereka membangun dan memodifikasi pengetahuan awal mereka. Menurut Piaget, pedagogi yang baik hams melibatkan anak dengan situasi-situasi di mana anak itu secara mandiri melakukan eksperimen, dalam arti mencoba segala sesuatu untuk melihat apa yang terjadi, memanipulasi tanda-tanda. memanipulasi simbol, mengajukan pertanyaan dan menemukan sr’.^diri jawabannya, mencocokkan apa yang mereka temukan pada suatu saat dengan apa yang ia temukan pada saat yang lain, dan membandingkan temuannya dengan temuan anak lain (dalam Ibrahim dan Nur, 2000).
Di pihak lain. Lev Vygotsky percaya bahwa perkembangan intelektual tcrjadi pada saat individu berhadapan dengan pengalaman ba– yang menantang uan k’;ti!:a m.Tek.i h,:rii:-iah;t until!;. rncmccahkan masalah yanu dimunculkan oleh pengalaman. Dala.’n npaya mendapalk;in pemahaman, individu men^kaitka pengetahuan baru dengan pengetahuan lama yang telah dimilikinya untuk membangun pengenian baru. Vygotsky memberi tempat yang lebih penting pada
aspek sosial pembelajaran. Vygotsky percaya bahwa interaksi sosial dengan eman lain memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual siswa.
Pada dasamya, baik Piaget maupun Vygotsky, sama-sama mengembangkan kontruktivisme psikologis. Namun demikiah, Piaget lebih menekankan pada kontruktivisme psikologis yang bersifat personal, sedangkan Vygotsky lebih menekankan pada kontruktivisme psikologis yang bersifat sosial.
(Supamo, 1997 : 43). Kedua konsep konstruktivisme tersebut menjadi landasan pokok model Belajar Berdasarkan Masalah.BBM juga berlandaskan pada social learning theory Albert Bandura, yang fokus pada pembelajaran dalam konteks sosial (social context). Teori ini menyatakan bahwa seseorang belajar dari orang lain, termasuk konsep dan belajar observasional, imitation, dan modeling. Prinsip umum dari social learning theory’ selengkapnya dinyatakan oleh Ormrod (1999) sebagai berikut.
General principles of social learning theory’follows:
1. People can learn by observing the behavior is of others and the outcomes of those behaviors.
2. Learning can occur without a change in behavior. Behaviorists say that learning has to he represented by a permanent change in behavior, in contrast social learning theorists say thai because people can leurn through observation alone, their learning may no! necessarily be shown in their performance. Learning may or may not result in a behavior change.
3. Cognition plays a role in learning. Over the lust 30 years social learning theory has become increasingly cognitive in its interpretation of htiiniin learning. Awareness and expectations oj f’mnre reinforcements or piifii ‘ih.ineiUs can have n major effect iin llir behaviors thai people exhibit.
4. Social learning theory can he considered a bridge or a transition between behaviorist learning theories and cognitive learning theories.

Belajar Berbasis Masalah didukung pula oleh teorinya Jerome Bruner yang dikenal dengan pembelajaran penemuan. Belajar penemuan ini merupakan suatu model pembelajaran yang menekankan pentingnya membantu siswa memahami struktur atau ide kunci dad suatu disiplin ilmu, perlunya siswa aktifteriibat dalam proses pembelajaran, dan pembelajaran yang sebenamya terjadi melalui penemuan pribadi. Tujuan pendidikan tidak hanya meningkatkan banyaknya pengetahuan siswa tetapi juga menciptakan kemungkinan-kemungkinan untuk penemuan siswa. Pembelajaran penemuan diterapkan dengan menekankan penalaran induktif dan proses-proses inkuiri yang merupakan ciri dan metode ilmiah. Belajar berdasarkan masalah pada intinya adalah melakukan proses inkuiri tersebut.
Kaitan intelektual antara pembelajaran penemuan dan belajar berbasis masalah sangat jelas. Pada kedua model ini, guru menekankan keterlibatan siswa secara aktif, orientasi induktif lebih ditekankan dari pada deduktif, dan siswa menentukan atau mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Pada belajar berbasis masalah atau penemuan, guru mengajukan pertanyaan atau masalah kepada siswa dan memperbolehkan siswa untuk menemukan ide dan teori mereka sendiri.
Belajar Berbasis Masalah (BBM) memiliki nama lain yang pada dasamya twrmak-na <sama cprvrti PmhIpm-Ricprf I pamino ^PRI ^ Prnhlpm-Racpd Instruction (PBI), Project-Based Teaching (Pembelajaran Proyek), Experienced Based Education (Pendidikan Berdasarkan Pengalaman), Authentic Learning (Belajar Autcntik), dan Anchored Instruction (Pembelajaran Berakar pada
Kehidupan Nyata).
Belajar Berbasis Masalah (BBM) adalah pembelajaran yang dirancang berdasarkan masalah kehidupan yang bersifat tidak tentu (ill-structured), terbuka, dan mendua. Masalah yang tidak tentu adalah masalah yang kabur, tidak jelas,atau belum terdefinisikan (Fogarty, dalam Arnyana, 2004). Sedangkan Boud(1985 : 1) menyatakan bahwa Belajar berdasarkan masalah merupakan pembelajaran yang dimulai dengan penyajian masalah, yang berupa pertanyaan atau teka-teki yang dapat merangsang siswa untuk menyelesaikannya. Definisi yang hampir sama dinyatakan oleh Ibrahim dan Nur (2000 : 3), bahwa BBM terdiri dari menyajikan kepada siswa situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kesempatan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri. Secara lebih spesifik, Barrows (1996 : 5) menyatakan bahwa BBM merupakan pembelajaran yang memiliki karakteristik, yakni (1) belajar berpusat pada siswa, (2) belajar terjadi dalam kelompok kecil, (3) guru berperan sebagai fasilitator atau penuntun, (4) bentuk masalah difokuskan pada pengaturan dan merangsang untuk belajar, (5) masalah merupakan saran’d untuk membangun keterampilan pemecahan masalah, (6) informasi baru diperoleh melalui self-directing learning.
Belajar Berbasis Masalah diterapkan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi siswa dalam situasi berorientasi masalah, termasuk di dalamnya belajar bagaimana belajar (Ibrahim dan Nur. 20001. Peran guru dalam pembelajaran ini adalah mcnyajikan masalah, mengajukan pertanyaan, dan memfasilitasi pcnyclidikan dan dialog. Lcbih penting lagi, guru melakukan scaffolding, yaitu
su;;ui kcningkii (.liikiiiigan yang memperkaya ketcrampilan dan pertumbuhan intcleklual siswa. BBM tidak terjadi tanpa guru mengembangkan lingkungan kclas yang memungkinkan terjadinya pertukaran ide secara terbuka.
Belajar berbasis masalah memiliki ciri – ciri sebagai berikut. (1) Mengajukan pertanyaan atau masalah. BBM mengorganisasikan pertanyaan dan masalah yang sangat penting dan secara pribadi bermakna bagi siswa. Masalah yang diajukan berupa situasi kehidupan nyata/autentik, menghindari jawaban sederhana, dan memungkinkan adanya berbagai macam solusi untuk situasi tersebut. (2) Berfokus pada keterkaitan antar disiplin. (3) Penyelidikan autentik.
BBM mengharuskan siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian masalah secara nyata. Mereka harus menganalisis dan mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis, mengumpulkan dan menganalisis infonnasi, melakukan eksperimen (jika diperiukan), membuat inferensi dan merumuskan simpulan sebagai solusi terhadap masalah yang diajukan. (4) Menghasilkan produk atau karya dan memamerkannya. BBM menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata atau artefak dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaia masalah yang mereka temukan. (5) Kerja sama. BBM juga dicirikan oleh siswa bekerja sama antara yang satu dengan lainnya dalam bentuk berpasangan .atau berkelompok (antara 4-8 siswa) dalam memecahkan masalah yang dihadapinya.
Dalam pembelajarannya, siswa bekerja sama antara satu dengan yang lain, untuk mengembangkan kelerampilan sosial dan keterampilan berpikir. (Ibrahim dan Nur, 2000 : 5-6).
Belajar berdasarkan niasalah tlikembanyk.in liimik mciiilianlu siswa mengembangkan kcmampuan berpikir, mcmccahkan masalah, dan kelerampilan intelektual. Di samping itu, BBM memberikan kesempatan belajar berbagai pe;-*A orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi serta menjadi pebelajar yang otonom dan mandiri (Ibrahim dan Nur, 2000). BBM dapat mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Hal ini didukung oleh Hastings yang mengemukakan bahwa belajar berdasarkan masalah dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan analitis serta menghadapkan
siswa pada latihan untuk memecahkan masalah (dalam Arnyana, 2004). brahim dan Nur (2000) memberikan rasional tentang bagaimana BBM membantu siswa untuk berkinerja dalam situasi kehidupan nyata dan belajar pentingnya peran orang dewasa. Mereka lebih lanjut mengungkapkan bagaimana pembelaiaran di sekolah seperti yang dipahami secara tradisional, berbeda dalam empat hal penting dari aktivitas mental dan belajar yang terjadi di luar sekolah.
Keempat hal tersebut dipaparkan seperti berikut. (1) Pembelajaran di sekolah berpusat pada kinerja siswa secara individual, semenfara di luar sekolah keria mental mclibatkan kerja sama dengan orang lain. (2) Pembelajaran di sekolah terpusat pada proses berpikir tanpa bantuan. sementara aktivitas mental di luar
sekolah selalu melibatkan alat-alat kognitif seperti kompuiei, kalkulator, dan instrumen ilmiah lainnya. (3) Pembelajaran di sekolah mengembangkan berpikir simbolik berkaitan dengan situasi hipotesis, sementara aktivitas mental di luar sekolah mengharapkan masing-masing individu berhadapan secara langsung dengan benda dan situasi yang kongkret. (4) Pembelajaran di sekolah memusatkan pada keterampilan umum, sementara di luar sekolah memerlukan kemampuan khusus.
Belajar bcrbasis masalah biasanya terdiri dari 5 tahap yang dimulai dengan (1) orientasi siswa kepada masalah, (2) mengorganisasikan siswa untuk belajar, (3) membimbing penyelidikan individual maupun kelompok, (4) mengembangkan dan menyajikan hasil karya, dan (5) menganalisis dan mengevaluasi proses
pemecahan masalah. (Nur, 2000 : 13; Arends, 2004 : 406). Jika jangkauan masalahnya sedang-sedang saja, kelima tahapan tersebut mungkin dapat diselesaikan dalam 2 sampai 3 kali pertemuan. Namun untuk masalah yang kompleks Tnuogkm akan dibutuhkan setahun penuh untuk menyelesaikannya.
Model belajar berbasis masalah, pada umumnya diterapkan pada bidang-bidang sains, untuk penerapannya pada bidang matematika, perlu adanya modifikasi.
Secara garis besar kelima langkah tersebut tetap, yang perlu sedikit penyesuaian adalah pada kegiatan guru dan kegiatan siswa. Keluna tahapan tersebut secara lengkap disajikan pada tabel 3.

Sintaks Model Belajar Berbasis Masalah

Tahap 1:Orientasi siswa kepada masalah

Kegiatan Guru

Guru menjelaskan tujuan  pembelajaran,  menjelaskan kebutuhan  yang diperlukan, dan  memotivasi siswa terlibat  pada aktivitas pemecnhan  masaJah yang dipilihnya.

Kegiatan Siswa
Siswa menginveritarisasi  dan mempersiapkan kebutuhaii yang diperlukan dalam proses pembelajaran. Siswa berada dalam kelompok yang telah ditetapkan.

Tahap 2 :Mengorganisasi siswa untuk belajar

Kegiatan Guru   :Guru membantu siswa mendefinisikan dan  mengorganisasikan tugas belajar yang

                           berl-ii;bungan  dengan masalah tersebut.
Kegiatan Siswa :Siswa membatasi permasalahan yang akan  dikaji

Tahap 3             :Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok

Kegiatan Guru :Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai,  untuk mendapatkan
penjelasan dan pemecahan masalah.

Kegiatan Siswa  :Siswa melakukan inkuiri, investigasi, dan bertanya untuk mendapatkan  jawaban atas
permasalahan yang dihadapi.

Tahap4        :Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

Kegiatan Guru  :Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan laporan, serta membantu siswa untuk berbagi tugas dalam kelompoknya

Kegiatan Siswa  :Siswa menyusun laporan dalam kelompok dan menyajikannya dihadapan kelas dan berdiskusi dalam kelas.

Tahap 5     :Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Kegiatan Guru   ;Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan  proses-proses yan^ mereka gunakan.

Kegiatan Siswa    :Siswa mengikuti tes dan menyerahkan tugas-tugas sebagai bahan evaluasi proses belajar.

About suaidinmath

Mohon kontribusi untuk menambal retak dan menambah langkah kesempurnaan tulisan ini ...

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Hari ini

Februari 2015
S S R K J S M
« Jan   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Statistik Blog

  • 1,758,171 hit

Arsip blog

Award Blog Pendidikan 2012

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 259 pengikut lainnya

Dunia Pendidikan

Teratas

RSS Republika online

  • Andik: Melawan Vietnam Menguras Tenaga 3 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Pemain sayap Tim Nasional Indonesia, Andik Vermansyah mengaku sangat senang dan puas bisa mengalahkan Timnas Vietnam dengan skor 2-1. Dia mengatakan kemenangan pada putaran pertama babak...
    Andi Nur Aminah
  • Koeman Ingin Pemainnya Tunjukkan Kekuatan Melawan MU 3 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, LONDON – Pelatih Everton, Ronald Koeman mengatakan para pemainnya harus menunjukkan kekuatan dan komitmen mereka dalam beberapa pekan mendatang. Hal tersebut dimulai dari pertandingan pada Ahad malam (4/12) melawan...
    Israr Itah

RSS educatinalwithptk

newsalloy

NewsAlloy button

MUSIK

suara Edukasi

 

 http://radioedukasi.com/modules/mod_miniradio/mod_miniradio.swf

suara_edukasi

RADIO EDUKASI

Live Streaming AM 1251 kHz

Silahkan unduh produk audio radio Suara edukasi

[KLIK DISINI]

Zaimuttpjok/tik

BERBAGI INFORMASI PENDIDIKAN DAN KISAH HIDUP

isti

Berilah makan keyakinanmu niscaya keraguanmu mati kelaparan

ANNISA USH SHOLIHAH

ALL ABOUT CHEMIS_3 (sharing for carring)

Dinas Dikpora Kab. Dompu

Ikhlas Mendidik Untuk Martabat Bangsa dan Negara

Vox Populi

Vox Populi: A Public Sphere for Politics and Poetry

Architecture Here and There

Style Wars: classicsm vs. modernism

Stories From the Belly

A Blog About the Female Body and Its Appetites

mywordpool

"Words - so innocent and powerless as they are, as standing in a dictionary, how potent for good and evil they become in the hands of one who knows how to combine them." ~Nathaniel Hawthorne

Fusion

Championing a young, diverse, and inclusive America with a unique mix of smart and irreverent original reporting, lifestyle, and comedic content.

Whatever

LET ME STEAL THIS MOMENT FROM YOU NOW

rachel eats

stories, pictures and cooking tales from an english woman living in rome.

y

what it comes down to

tangerine drawings

scribbles and recipes from a pastry chef in paris

Extra Dry Martini

Straight up, with a twist.

Gravity and Levity

A blog about the big ideas in physics, plus a few other things

love.life.eat

living a mindful life

%d blogger menyukai ini: