//
you're reading...
Dunia Pendidikan

Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning).

540271_499973216695596_1819965662_nPembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning).
Killen (1998) pembelajaran kooperatif adalah teknik pembelajaran dan juga filosofi pembelajaran yang mendorong siswa agar dapat bekerja bersama untuk memaksimalkan pembelajarannya sendiri dan pembelajaran dengan teman sejawat mereka.
Syaiful Sagala (2004:175)juga menyebutkan pembelajaran kooperatif merupakan suatucara untuk mengatasi berbagai problematika dalam pelaksanaan pembelajaran, dalam hal ini, tentu diperlukan model-model mengajar yang dipandang mampu mengatasi kesulitan guru melaksanakan tugas mengajar dan juga kesulitan belajar peserta didik. Model dirancang untuk mewakili realitas yang sesungguhnya, walaupun model itu sendiri bukanlah realitas dari dunia yang sebenarnya.Atas dasar pengertian tersebut, maka model pembelajaran harus dipahami sebagai kerangka konseptual yang mendeskripsikan dan melukiskan prosedur yang sistematik dalam belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para guru dalam melaksanakan aktivitas pembelajaran.Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang dibentuk dalam suatu kelompok kecil dimana siswa bekerjasama dan mengoptimalkan keterlibatan dirinya dan anggota kelompoknya dalam belajar.Dalam belajar kooperatif, siswa diberikan dua macam tanggung jawab yang harus mereka laksanakan.Pertama, semua siswa terlibat dalam mempelajari dan menyelesaikan materi/tugas yang diberikan oleh guru.Kedua, meyakinkan bahwa semua anggota dalam kelompok mengerti dan memahami tentang materi/tugas yang diterimanya.Dengan demikian siswa dapat menyadari bahwa hasil yang diperoleh mempunyai manfaat bagi diri dan siswa lainnya dalam kelompok tersebut.
Jonhson &Jonhson, 1994; Padmadewi, 2008 dalam Trianto (2011:23) menyebutkanbahwa terdapat lima prinsip dalam pembelajaran kerja kelompok yang dapat dikatagorikan sebagai pembelajaran kooperatif, yaitu: 1) saling ketergantungan secara positif, 2) interaksi tatap muka, 3) akuntabilitas individu sehingga semua siswa dalam kelompok bertanggungjawab di dalam proses pembelajaran mereka, 4) penggunaan keterampilan interpersonal yang tepat, dan 5) analisis hasil belajar secara berkelompok.
Trianto (2007:42) menyebutkan pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil, saling membantu untuk memahami suatu materi pelajaran, memeriksa dan memperbaiki jawaban temannya yang salah, serta aktivitas lainnya dengan tujuan untuk mencapai prestasi belajar yang tinggi. Pembelajaran kooperatif disusun dalam sebuah usaha untuk meningkatkan partisipasi siswa, memfasilitasi siswa dengan pengalaman sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok, serta memberikan kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama siswa yang berbeda latar belakangnya Pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) sangat bermanfaat bagi siswa dalam meningkatkan kemampuan untuk bekerjasama dan berkolaborasi, melatih kepekaan diri, memahami perbedaan sikap dan perilaku dalam bekerjasama, mengurangi rasa kecemasan dan menumbuhkan rasa percaya diri, meningkatkan motivasi belajar, harga diri dan sikap perilaku positif, sehingga siswa akan tahu kedudukannya dalam belajar.Siswa dapat saling menghargai satu sama lain, meningkatkan prestasi belajar dengan menyelesaikan tugas akademik sehingga dapat memahami konsep-konsep yang sulit.Pembelajaran kooperatif menekankan pada pembelajaran kelompok kecil dimana siswa belajar dan bekerjasama untuk mencapai tujuan yang optimal.
Pembelajaran kooperatif dalam prakteknya sangat tergantung pada kondisi dan pokok permasalahan yang dipecahkan,meletakkan tanggungjawab individu sekaligus kelompok, sehingga dari siswa tumbuh dan berkembang sikap dan prilaku saling ketergantungan secara positif.Secara teknis siswa membentuk kelompoknya sendiri dengan ketentuan jumlah anggota yang telah ditetapkan oleh guru (antara 4-5 orang). Setiap individu dalam kelompok mendapat peran dan tugas serta tanggungjawab yang sama. Setiap kelompok diberikan permasalahan yang telah ditetapkan oleh guru, dan selanjutnya siswa mengorganisasikan sendiri proses kerja di dalam kelompoknya. Kondisiyangdemikian dapat mendorong siswa untuk belajar bekerjadan bertanggungjawab untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Selanjutnya Trianto (2011:67) juga menyebutkan, walaupun prinsip dasar pembelajaran kooperatif tidak berubah, terdapat variasi dari model tersebut. Setidaknya terdapat empat pendekatan yang seharusnya merupakan bagian dari kumpulan strategi guru dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif, yaitu: (1) Pembelajaran Kooperatif tipe Student Tims Achievement Division (STAD), (2) Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw, (3) Pembelajaran Kooperatif tipe Investigasi Kelompok(Tims Games Tournaments atau TGT),dan (4) Pendekatan Struktural yang meliputiThink Pair Share (TPS) dan Numberred Head Together(NHT).
Perbedaan tipe pembelajaran kooperatif tersebut di atas, antara lain sebagai berikut.
a. Pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan kelompok-kelompok kecil dengan jumlah anggota tiap kelompok 4-5 orang siswa secara heterogen. Kelompok merupakan siswa campuran menurut tingkat prestasi, jenis kelamin dan suku. Diawali dengan penyampaian tujuan,penyampaian materi, kegiatan kelompok, kuis dan penghargaan kelompok (Trianto, 2011:68).
Slavin dalam Trianto menyatakan bahwa pada STAD siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan 4-5 orang yang merupakan campuran menurut tingkat prestasi, jenis kelamin, dan suku. Guru menyajikan pelajaran dan kemudian siswa bekerja dalam tim mereka memastikan bahwa seluruh anggota tim menguasai pelajaran tersebut. Kemudian, seluruh siswa diberikan tes tentang materi, pada saat tes mereka tidak diperbolehkan saling membantu (Trianto, 2011:69).
b. Pembelajaran kooperatif tipe Investigasi Kelompok(Group Investigation/GI). Model ini dikembangkan pertama kali di Thelan. Dalam perkembangannya model ini diperluas dan dipertajam oleh Shlomo Sharan dan Yael Sharan di Universitas Tel Aviv, Israel. Dalam implementasi tipe ini, guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok dengan anggota 4-5 orang siswa yang heterogen. Selanjutnya siswa memilih topik untuk diselidiki, dan melakukan penyelidikan yang mendalam atas topik yang dipilih kemudian dipersiapkandan dipresentasikan kepada seluruh siswa (Trianto, 2011:79).
c. Pembelajaran kooperatif tipe Numberd Heads Together yaitu suatu teknik belajar bersama dengan memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk saling membagi ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Selain itu teknik ini juga mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerjasama mereka dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. Dalam pembelajaran ini, siswa dibagi atas beberapa kelompok, setiap siswa dalam kelompok tersebut diberikan nomor urut sebagai tanda pengenal, masing-masing kelompok diberikan tugas yang sama untuk dibahas bersama dalam kelompoknya.Selanjutnya setelah selesai masalah dibahas dalam kelompok guru memanggil salah satu nomor urut siswa dalam kelompok untuk menyampaikan hasil diskusinya dan kelompok lain memberikan tanggapan terhadap kesimpulan yang disampaikan oleh anggota kelompok yang ditunjuk. Dalam pembelajaran ini siswa dipandang sama kemampuannya dalam kelompok sehingga guru dapat menunjuk secara acak untuk membawakan hasil diskusinya dalam kelompok tersebut (Trianto,2011:82).
d. Pembelajaran kooperatif tipe TPS (think-pair-share) dikembangkan oleh Frang Lyman dan teman-temannya di Universitas Maryland. Model ini merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Dengan asumsi bahawa semua diskusi membutuhkan pengaturan untuk mengendalikan kelas secara keseluruhan, dengan prosedur yang digunakan memberikan siswa lebih banyak waktu berpikir, untuk merespon dan saling membantu (Trianto,2011:81).
e. Model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT), atau Pertandingan Permainan Tim dikembangkan oleh David De Vries dan Keath Edward (1995:93). Pada model ini siswa memainkan permainan dengan anggota tim lain untuk memperoleh tambahan poin untuk skor tim mereka (Trianto, 2011:83).
f. Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Model ini dikembangkan oleh Elliot Aronson dan teman-temannya di Universitas Texas. Dan diadopsi oleh slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkins.Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah sebuah model pembelajaran yang menitikberatkan pada kerja kelompok siswa dalam bentuk kelompok kecil. Hal yang mendasar pada model Jigsaw ini adalah siswa sebagai anggota kelompok asal pada dasarnya memiliki sebuah pemahaman konsep sedangkan konsep-konsep lain didapatkan melalui diskusi kelompok dengan anggota kelompoknya.Guru sebagaimotivator dan mediator pada saat diskusi kelompok asal maupun kelompok ahli berlangsung.
Dari enam model pembelajaran kooperatif di ataspada penelitian ini akan diterapkan modelpembelajaran kooperatif tipe Jigsaw.Hal ini dilakukan karena modelpembelajaran kooperatif tipe Jigsaw memiliki sejumlah keunggulan bila dibandingkan dengan tipe yang lainnya.Kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsawantara lain sebagai berikut.
1) Siswa secara individu dalam kelompok asal diberikan materi persub bab, sehingga lebih mudah memahami materi;
2) Melalui diskusi kelompok ahli, pemahaman materi menjadi lebih mendalam dan spesifik;
3) Meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain;
4) Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan pada kelompok asal, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompok yang lain, sehingga pengetahuannya jadi bertambah;
5) Meningkatkan kerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan.
Walaupun modelpembelajaran kooperatif tipe Jigsaw memiliki sejumlah keunggulan sebagaimana diuraikan di atas, modelpembelajaran kooperatif tipe Jigsaw juga memiliki beberapa kelemahan,antara lain sebagai berikut.
1) Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsawmemerlukan persiapan khusus yang menuntut guru bekerja ekstra misalnya dalam mempersiapkan LKS atau media lainnya, sehingga kurang diminati oleh guru dalam pembelajaran di kelas.
2) Membutuhkan waktu yang lebih lama, bila penataan ruang belum terkondisi dengan baik sehingga perlu waktu untuk merubah posisi yang dapat menimbulkan kegaduhan.
Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw:
a. Siswa dibagi atas beberapa kelompok (tiap kelompok anggotanya 4-5 orang).
b. Materi pelajaran diberikan kepada siswa dalam bentuk teks yang telah dibagi-bagi menjadi beberapa sub bab.
c. Setiap anggota kelompok membaca sub bab yang ditugaskan dan bertanggung jawab untuk mempelajarinya.
d. Anggota dari kelompok lain yang telah mempelajari sub bab yang sama bertemu dalam kelompok-kelompok ahli untuk mendiskusikannya.
e. Setiap anggota kelompok ahli setelah kembali ke kelompoknya bertugas mengajar teman-temannya.
f. Setiap anggota kelompok asal diharapkan memahami materi/konsep yang sama melalui diskusi dalam kelompoknya.
g. Guru memberikan tes tulis pada siswa untuk dikerjakan yang memuat seluruh konsep yang didiskusikan (Trianto, 2011:73).

About suaidinmath

Mohon kontribusi untuk menambal retak dan menambah langkah kesempurnaan tulisan ini ...

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Hari ini

Februari 2015
S S R K J S M
« Jan   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Statistik Blog

  • 1,762,190 hit

Arsip blog

Award Blog Pendidikan 2012

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 259 pengikut lainnya

Dunia Pendidikan

Teratas

RSS Republika online

RSS educatinalwithptk

newsalloy

NewsAlloy button

MUSIK

suara Edukasi

 

 http://radioedukasi.com/modules/mod_miniradio/mod_miniradio.swf

suara_edukasi

RADIO EDUKASI

Live Streaming AM 1251 kHz

Silahkan unduh produk audio radio Suara edukasi

[KLIK DISINI]

Zaimuttpjok/tik

BERBAGI INFORMASI PENDIDIKAN DAN KISAH HIDUP

isti

Berilah makan keyakinanmu niscaya keraguanmu mati kelaparan

ANNISA USH SHOLIHAH

ALL ABOUT CHEMIS_3 (sharing for carring)

Dinas Dikpora Kab. Dompu

Ikhlas Mendidik Untuk Martabat Bangsa dan Negara

Vox Populi

Vox Populi: A Public Sphere for Politics and Poetry

Architecture Here and There

Style Wars: classicsm vs. modernism

Stories From the Belly

A Blog About the Female Body and Its Appetites

mywordpool

"Words - so innocent and powerless as they are, as standing in a dictionary, how potent for good and evil they become in the hands of one who knows how to combine them." ~Nathaniel Hawthorne

Fusion

Championing a young, diverse, and inclusive America with a unique mix of smart and irreverent original reporting, lifestyle, and comedic content.

Whatever

LET ME STEAL THIS MOMENT FROM YOU NOW

rachel eats

stories, pictures and cooking tales from an english woman living in rome.

y

what it comes down to

tangerine drawings

scribbles and recipes from a pastry chef in paris

Extra Dry Martini

Straight up, with a twist.

Gravity and Levity

A blog about the big ideas in physics, plus a few other things

love.life.eat

living a mindful life

%d blogger menyukai ini: