//
you're reading...
Dunia Pendidikan

PENGEMBANGAN PENDEKATAN BELAJAR AKTIF

Pendekatan belajar aktif telah dirintis secara serius oleh Balitbang Depdiknas sejak tahun
1979 dengan proyek yang dikenal sebagai Proyek Supervisi dan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) Cianjur, Jawa Barat. Hasil-hasil proyek ini kemudian direplikasi di sejumlah daerah dan disebarkan melalui penataran guru ke seluruh Indonesia. Upaya yang dimulai pada tingkat sekolah dasar ini kemudian mendorong penerapan pendekatan belajar aktif di tingkat sekolah menengah. Hasil-hasil upaya ini secara bertahap kemudian diintegrasikan ke dalam Kurikulum 1984, Kurikulum 1994, dan Kurikulum Berbasis Kompetensi tahun 2004, yang dilanjutkan dengan Standar Isi yang lebih dikenal dengan istilah Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006 dan Kurikulum 2013.

Dari segi dokumen, muatan kurikulum yang berlaku saat ini telah memuat gagasan- gagasan belajar aktif untuk menumbuhkembangkan beragam kompetensi dalam diri peserta didik. Pendekatan yang dituntut dalam implementasi kurikulum ini pun adalah pendekatan belajar aktif. Secara umum dapatlah dikatakan bahwa pendekatan ini telah diterapkan pada sejumlah sekolah, namun secara keseluruhan realisasi pendekatan ini belum memenuhi harapan. Karena itu, pendekatan ini perlu didorong dan digalakkan dengan melibatkan berbagai stakeholders, yaitu para guru, kepala sekolah, pengawas, Tim Pengembang Kurikulum (TPK) provinsi/kabupaten/kota dan pengambil keputusan pada tingkat dinas pendidikan kabupaten/kota dan provinsi hingga ke tingkat unit-unit utama pusat.Upaya ini penting dan strategis guna mendidik peserta didik kita agar mampu berpikir dan bertindak secara kreatif. Selain itu, yang tak kalah pentingnya adalah harapan bahwa implementasi pendekatan belajar aktif akan mendorong tumbuhkembangnya kreativitas dan semangat kewirausahaan, sekaligus mendorong cita-cita pendidikan budaya dan karakter bangsa di arena pendidikan di tanah air. Tujuan ini akan berhasil dicapai jika para pendidik menitikberatkan motivasi belajar dalam diri peserta didik.

Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah masalah pembelajaran. Pendekatan pembelajaran yang seyogianya diterapkan adalah pendekatan yang memotivasi peserta didik agar dapat belajar bagaimana belajar.

A. Permasalahan Belajar-Mengajar

1. Kondisi dan Faktor Penyebab Pelaksanaan Belajar Aktif di Sekolah

Pengembangan pendekatan belajar aktif secara serius mulai dilakukan pada tahun 1979 yang dikenal dengan nama Proyek Supervisi Cianjur, Jawa Barat. Proyek ini dilaksanakan oleh Pusat Kurikulum, Balitbang Depdikbud bekerja sama dengan Ditjen Dikdasmen dan sejumlah IKIP Negeri. Proyek ini merupakan perwujudan kerja sama antara Depdikbud dengan Pemerintah Inggris, yang dikelola oleh The British Council. Cikal bakal pengembangan pendekatan belajar ini sebenarnya telah dirintis oleh P3G (Pusat Penataran Pendidikan Guru) dan sekarang menjadi P4TK, yang dimulai dari mata pelajaran IPA sekitar tahun 1970-an.

Dewasa ini secara umum dapatlah dikatakan bahwa upaya pembinaan guru, kepala sekolah, dan pengawas serta pembina di bidang pendidikan daerah dalam melaksanakan belajar aktif lebih luas dilakukan pada tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama serta madrasah. Sejalan dengan penyebaran gagasan- gagasan MBS-PAKEM, Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas telah mengintegrasikan pendekatan belajar aktif ke dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) pada tahun 2004, yang kemudian dilanjutkan dengan Standar Isi yang lebih dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mulai tahun 2006.

Di Indonesia pendekatan belajar aktif sebenarnya telah cukup lama diperkenalkan pada pendidikan formal maupun nonformal, baik sekolah maupun madrasah. Secara khusus di tingkat SMP sejak tahun 2001/2002 telah mulai diimplementasikan pendekatan belajar aktif dengan nama Contextual Teaching and Learning (CTL). Di tingkat SMA, SMK, pendidikan nonformal (Program Paket A, B, dan C) dan madrasah walaupun dengan istilah yang berbeda dan belum dikembangkan secara tersistem, namun telah menekankan pula pendekatan belajar aktif.

2. Permasalahan Proses Belajar-Mengajar
Permasalahan yang dihadapi dalam proses belajar-mengajar antara lain adalah:

x Terbentuknya opini di masyarakat bahwa nilai ujian nasional seolah-olah menggambarkan prestasi belajar secara utuh. Demikian pula kemenangan dalam olimpiade, kontes idol, atau perlombaan olahraga dipandang sebagai cermin prestasi belajar yang utuh. Apakah ukuran-ukuran ini valid dan dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi karakter, budaya dan kemajuan bangsa serta memberikan bekal bagi anak-anak kita untuk menghadapi kehidupan di masa depan?

x Belajar yang terpisah-pisah baik antarmata pelajaran maupun antara satu kompetensi dengan kompetensi lainnya.

x Proses belajar-mengajar tidak berpusat pada peserta didik.

x Proses belajar-mengajar yang belum mampu mendorong timbulnya kreativitas peserta didik.

x Terbatasnya sumber daya yang tersedia.

x Banyak peserta didik berasal dari keluarga atau orang tua yang masih menunjukkan rendahnya kesadaran mengenai pentingnya pendidikan, sehingga dukungan pada peserta didik masih terbatas.
x Banyak guru belum terlatih secara baik dalam melaksanakan belajar aktif.

x Kemampuan membaca, menulis, dan berhitung (Calistung) peserta didik di SD dan MI umumnya masih lemah, demikian pula keterampilan berbahasa peserta didik pada jenjang pendidikan menengah tampaknya juga masih banyak masalah.
x Banyak peserta didik yang watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian serta sistem berpikirnya belum sejalan dengan moral dan norma keindonesiaan.

x Terbatasnya sumber daya yang tersedia.

x Banyak peserta didik berasal dari keluarga atau orang tua yang masih menunjukkan rendahnya kesadaran mengenai pentingnya pendidikan, sehingga dukungan pada peserta didik masih terbatas.
x Banyak guru belum terlatih secara baik dalam melaksanakan belajar aktif.

x Kemampuan membaca, menulis, dan berhitung (Calistung) peserta didik di SD dan MI umumnya masih lemah, demikian pula keterampilan berbahasa peserta didik pada jenjang pendidikan menengah tampaknya juga masih banyak masalah.
x Banyak peserta didik yang watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian serta sistem berpikirnya belum sejalan dengan moral dan norma keindonesiaan.

x Proses belajar-mengajar tidak berpusat pada peserta didik.

x Proses belajar-mengajar yang belum mampu mendorong timbulnya kreativitas peserta didik.

x Terbatasnya sumber daya yang tersedia.

x Banyak peserta didik berasal dari keluarga atau orang tua yang masih menunjukkan rendahnya kesadaran mengenai pentingnya pendidikan, sehingga dukungan pada peserta didik masih terbatas.
x Banyak guru belum terlatih secara baik dalam melaksanakan belajar aktif.

x Kemampuan membaca, menulis, dan berhitung (Calistung) peserta didik di SD dan MI umumnya masih lemah, demikian pula keterampilan berbahasa peserta didik pada jenjang pendidikan menengah tampaknya juga masih banyak masalah.
x Banyak peserta didik yang watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian serta sistem

berpikirnya belum sejalan dengan moral dan norma keindonesiaan.

Guna menanggulangi permasalahan tersebut, salah satun perlu diterapkan pendekatan belajar aktif. Melalui pendekatan ini diharapkan peserta didik memiliki bekal kemampuan kreatif dan inovatif serta berbudaya yang pada gilirannya menggambarkan karakter bangsa. Melalui upaya ini, kita berusaha menciptakan citra baru tentang satuan pendidikan berprestasi sebagai sekolah yang mampu membuat para peserta didiknya kreatif dan inovatif, berbudaya serta mampu menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan yang kesemuanya itu merupakan pengembangan karakter bangsa yang diinginkan bersama.
Guna meningkatkan kemampaun profesional guru, pengawas, dan para pembina pendidikan di semua lini diperlukan pelatihan secara berkesinambungan agar mereka lebih kreatif dan inovatif dalam melaksanakan tugasnya. Khusus bagi guru, pelatihan seperti ini diharapkan mampu mengembangkan beragam kegiatan belajar di masing-masing satuan pendidikannya yang mengaktifkan dan membuat peserta didik kreatif dan inovatif.

B. Pentingnya Belajar Aktif

Penerapan pendekatan belajar aktif yang ditunjang pelaksanaan manajemen berbasis sekolah memiliki dasar hukum yang bersumber dari Undang-Undang Nomor 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Perundang-undangan ini selanjutnya dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan berikut ini.

x Proses belajar-mengajar pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan minat, bakat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. (Pasal 19, Ayat 1).

6

x Pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menerapkan manajemen berbasis sekolah yang ditunjukkan dengan kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas. (Pasal 49, butir 1).

Pendekatan belajar aktif dewasa ini amat dominan dilaksanakan di berbagai negara maju dan juga diikuti oleh banyak negara berkembang. Anutan pendekatan ini pada dasarnya dipengaruhi oleh aliran konstruktivisme dalam teori belajar.

Perkembangan teori belajar berdasarkan riset selama hampir 100 tahun secara bertahap mengubah 540271_499973216695596_1819965662_nparadigma tentang bagaimana seharusnya guru mengajar dan/atau peserta didik belajar. Rentangan riset itu terutama dimulai dari eksperimen Ivan Pavlov (1849
– 1936) dengan air liur anjing yang diberi stimulus. Kemudian, Jean Piaget (1896 –

1980) mencapai ‘puncak’ riset melalui temuannya tentang perkembangan kemampuan kognitif manusia. Temuan Piaget kemudian diperkaya dengan gagasan Lev Vygotsky (1896 – 1936) tentang perkembangan kognitif anak dalam hubungannya dengan bahasa dalam konteks historis, kultural, dan sosial tempat anak hidup.

Temuan teori yang dewasa ini amat populer dan berdampak luas pada skala internasional adalah teori belajar konstruktivisme. Konstruktivisme memantapkan teori-teori belajar sebelumnya dan memberikan pencerahan bagi peralihan dari konsep belajar yang berpusat pada guru (teacher-centred learning) ke arah konsep belajar yang berpusat pada peserta didik (student-centred learning). Orientasi yang berpusat kepada peserta didik pada akhirnya diwujudkan dalam pendekatan belajar aktif (active learning approach). Ini adalah paradigma yang mempengaruhi beragam inovasi pendidikan yang dilakukan di berbagai penjuru dunia sejak awal tahun 1970 hingga sekarang.

Gambar berikut ini menunjukkan perkembangan kontribusi teori-teori belajar terhadap paradigma belajar aktif.

B. Pentingnya Belajar Aktif

Penerapan pendekatan belajar aktif yang ditunjang pelaksanaan manajemen berbasis sekolah memiliki dasar hukum yang bersumber dari Undang-Undang Nomor 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Perundang-undangan ini selanjutnya dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan berikut ini.

x Proses belajar-mengajar pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan minat, bakat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. (Pasal 19, Ayat 1).

x Pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menerapkan manajemen berbasis sekolah yang ditunjukkan dengan kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas. (Pasal 49, butir 1).

Pendekatan belajar aktif dewasa ini amat dominan dilaksanakan di berbagai negara maju dan juga diikuti oleh banyak negara berkembang. Anutan pendekatan ini pada dasarnya dipengaruhi oleh aliran konstruktivisme dalam teori belajar.
Perkembangan teori belajar berdasarkan riset selama hampir 100 tahun secara bertahap mengubah paradigma tentang bagaimana seharusnya guru mengajar dan/atau peserta didik belajar. Rentangan riset itu terutama dimulai dari eksperimen Ivan Pavlov (1849
– 1936) dengan air liur anjing yang diberi stimulus. Kemudian, Jean Piaget (1896 –1980) mencapai ‘puncak’ riset melalui temuannya tentang perkembangan kemampuan kognitif manusia. Temuan Piaget kemudian diperkaya dengan gagasan Lev Vygotsky (1896 – 1936) tentang perkembangan kognitif anak dalam hubungannya dengan bahasa dalam konteks historis, kultural, dan sosial tempat anak hidup.

Temuan teori yang dewasa ini amat populer dan berdampak luas pada skala internasional adalah teori belajar konstruktivisme. Konstruktivisme memantapkan teori-teori belajar sebelumnya dan memberikan pencerahan bagi peralihan dari konsep belajar yang berpusat pada guru (teacher-centred learning) ke arah konsep belajar yang berpusat pada peserta didik (student-centred learning). Orientasi yang berpusat kepada peserta didik pada akhirnya diwujudkan dalam pendekatan belajar aktif (active learning approach). Ini adalah paradigma yang mempengaruhi beragam inovasi pendidikan yang dilakukan di berbagai penjuru dunia sejak awal tahun 1970 hingga sekarang.

C. Pengertian Belajar Aktif
Gagasan-gagasan pokok pendekatan belajar aktif pada prinsipnya mengikuti gagasan inti teori belajar konstruktivisme. Perkembangan dalam terapan melahirkan paradigma baru, yaitu paradigma belajar aktif.

Sejumlah gagasan pokok dalam penerapan paradigma belajar aktif dikemukakan berikut ini.

1. Mengkonstruksi Makna
Konstruktivisme menandaskan bahwa manusia mengkonstruksi (membangun) makna dari struktur pengetahuan aktual yang dimiliki. Teori ini membimbing pendekatan dalam mendidik anak. Konstruktivisme menekankan kegiatan belajar yang berkembang melalui dukungan fasilitator. Fasilitator memulai dan mengarahkan peserta didik agar mampu mengkonstruksi makna konsep-konsep yang baru.

Jean Piaget sebagai pelopor teori konstruktivisme memandang bermain sebagai bagian penting dan perlu bagi perkembangan kognitif anak. Ia meneliti dan memberikan landasan ilmiah kepada pandangannya. Sekarang teori konstruktivisme tidak hanya diterapkan di lingkungan pendidikan formal dan perguruan tinggi tetapi juga pada kegiatan belajar pendidikan nonformal dan informal.

Piaget menjelaskan mekanisme internalisasi pengetahuan anak. Ia menyatakan, melalui proses akomodasi (accommodation) dan asimilasi (assimilation), individu mengkonstruksi pengetahuan baru dari pengalamannya. Ketika melakukan asimilasi, individu memasukkan pengalaman baru ke dalam skema (kerangka) yang sudah ada tanpa mengubah skema itu. Jika pengalaman individu bertentangan dengan representasi internal yang sudah ada, ia dapat mengubah persepsi pengalamannya agar cocok dengan representasi internal.

Akomodasi adalah proses membentuk kembali representasi mental tentang dunia luar agar cocok dengan pengalaman baru. Akomodasi adalah mekanisme yang mengubah kegagalan belajar ke arah yang benar.

Misalnya, Thomas Ameriko yang lahir dan besar di Timor Timur merantau ke Pulau Jawa, ke Kota Malang. Di Dili ia sudah memiliki pengalaman naik bus. Ia telah memiliki konsep tentang apa itu bus. Sesudah satu bulan di Malang, tiba-tiba ia melihat kereta api lewat. Ia langsung berteriak, “Eh, itu bus kok bergandeng- gandeng”. Ia melakukan proses asimilasi. Konsep bus ia terapkan terhadap kereta api karena sebelumnya ia tak memiliki konsep tentang apa itu kereta api. Kemudian, temannya menjelaskan, “Bukan, itu bukan bus. Itu yang namanya kereta api”. Ia lalu mengubah konsep kereta api sebagai bus yang bergandeng-gandeng menjadi konsep kereta api yang benar. Ia melakukan proses akomodasi setelah mengalami ‘kegagalan’ belajar.

Contoh yang lain dikemukakan be540271_499973216695596_1819965662_nrikut ini. Ketika Eko (nama kreasi) mengikuti kursus pendidikan di Cambridge, Inggris, suatu malam bertiup angin agak kencang. Eko membuka jendela kamar dan melihat ribuan ‘kapas’ beterbangan di luar. Ia menduga, wah, ada truk di mana yang membawa berkarung-karung kapas dan karung-karung itu terbuka sehingga ribuan kapas beterbangan di udara. Pada tahap ini Eko melakukan proses asimilasi dengan pengetahuan tentang kapas yang diperolehnya dari pengalaman di Indonesia. Pada pagi hari esoknya, Eko pergi ke luar dan betapa takjubnya, ia melihat hamparan salju di seluruh halaman gedung. Ia serentak berpendapat, ah ini yang namanya salju. Berarti, ‘kapas-kapas’ beterbangan yang ia lihat tadi malam itu sebenarnya butir-butir salju yang turun ke tanah. Ia lalu melakukan proses akomodasi dan hasilnya adalah mengubah pendapatnya tentang kapas-kapas yang beterbangan ke arah pandangan yang benar tentang salju. Eko belajar melalui pengalaman, dari proses asimilasi pengetahuan sebelumnya yang sesuai dengan konteks Indonesia ke arah pandangan baru berdasarkan pengalaman baru melalui proses akomodasi.

Berikut ini dikemukakan sebuah contoh dari percobaan IPA anak-anak SD Kelas IV. Topik yang sedang dipelajari adalah “Melayang, terapung, dan tenggelam”. Sebelum melakukan percobaan tiap kelompok anak membuat hipotesis untuk tiap benda yang hendak dimasukkan ke dalam air, apakah melayang, terapung, atau tenggelam. Ternyata semua hipotesis yang dibuat terbukti benar. Misalnya, batu tenggelam, paku yang diikat dengan potongan kayu kering melayang, dan kertas terapung. Pembenaran hipotesis ini sesuai dengan pengetahuan yang diperoleh anak dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini mereka melakukan asimilasi dengan kerangka pengetahuan (skemata) yang telah diperoleh sebelumnya.
Kemudian guru menugaskan anak-anak memasukkan plastisin (dapat juga dipakai lilin malam). Hipotesis yang dibuat bahwa benda itu akan tenggelam ternyata benar. Namun, kemudian guru meminta anak-anak mengubah bentuk plastisin itu dari bentuk gumpalan menjadi bentuk yang pipih, rata, dan lebar. Ketika mereka

13

memasukkannya ke dalam air dalam posisi mendatar (horisontal), ternyata plastisin itu terapung. Anak-anak heran dan tidak tahu mengapa. Guru lalu bertanya mengapa hal ini bisa terjadi, apa penyebabnya. Dari berbagai pendapat yang dikemukakan, ternyata dari hasil diskusi mereka sampai kepada kesimpulan, bahwa plastisin yang pipih, rata, dan lebar itu mendapatkan tekanan ke atas dari air dan karena permukaan itu lebar jumlah tekanan dari air itu cukup banyak. Akibatnya, plastisin itu terapung. Untuk membuktikan kesimpulan ini, mereka mencoba dengan benda yang lain, seperti mistar (penggaris) plastik dan potongan seng yang dimasukkan dalam posisi mendatar. Setelah yakin, anak-anak mengubah pendapatnya, bahwa banyak benda yang walaupun berat tetapi jika berbentuk pipih, rata, dan lebar dimasukkan ke dalam air akan terapung. Pada tahap ini anak-anak melakukan akomodasi terhadap kerangka pikiran (skemata) yang telah terbentuk sebelumnya. Mereka mengubah pendapatnya setelah mendapatkan pengalaman baru melalui percobaan.

About suaidinmath

Mohon kontribusi untuk menambal retak dan menambah langkah kesempurnaan tulisan ini ...

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Hari ini

Januari 2015
S S R K J S M
« Des   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Statistik Blog

  • 1,758,171 hit

Arsip blog

Award Blog Pendidikan 2012

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 259 pengikut lainnya

Dunia Pendidikan

Teratas

RSS Republika online

  • Andik: Melawan Vietnam Menguras Tenaga 3 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Pemain sayap Tim Nasional Indonesia, Andik Vermansyah mengaku sangat senang dan puas bisa mengalahkan Timnas Vietnam dengan skor 2-1. Dia mengatakan kemenangan pada putaran pertama babak...
    Andi Nur Aminah
  • Koeman Ingin Pemainnya Tunjukkan Kekuatan Melawan MU 3 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, LONDON – Pelatih Everton, Ronald Koeman mengatakan para pemainnya harus menunjukkan kekuatan dan komitmen mereka dalam beberapa pekan mendatang. Hal tersebut dimulai dari pertandingan pada Ahad malam (4/12) melawan...
    Israr Itah

RSS educatinalwithptk

newsalloy

NewsAlloy button

MUSIK

suara Edukasi

 

 http://radioedukasi.com/modules/mod_miniradio/mod_miniradio.swf

suara_edukasi

RADIO EDUKASI

Live Streaming AM 1251 kHz

Silahkan unduh produk audio radio Suara edukasi

[KLIK DISINI]

Zaimuttpjok/tik

BERBAGI INFORMASI PENDIDIKAN DAN KISAH HIDUP

isti

Berilah makan keyakinanmu niscaya keraguanmu mati kelaparan

ANNISA USH SHOLIHAH

ALL ABOUT CHEMIS_3 (sharing for carring)

Dinas Dikpora Kab. Dompu

Ikhlas Mendidik Untuk Martabat Bangsa dan Negara

Vox Populi

Vox Populi: A Public Sphere for Politics and Poetry

Architecture Here and There

Style Wars: classicsm vs. modernism

Stories From the Belly

A Blog About the Female Body and Its Appetites

mywordpool

"Words - so innocent and powerless as they are, as standing in a dictionary, how potent for good and evil they become in the hands of one who knows how to combine them." ~Nathaniel Hawthorne

Fusion

Championing a young, diverse, and inclusive America with a unique mix of smart and irreverent original reporting, lifestyle, and comedic content.

Whatever

LET ME STEAL THIS MOMENT FROM YOU NOW

rachel eats

stories, pictures and cooking tales from an english woman living in rome.

y

what it comes down to

tangerine drawings

scribbles and recipes from a pastry chef in paris

Extra Dry Martini

Straight up, with a twist.

Gravity and Levity

A blog about the big ideas in physics, plus a few other things

love.life.eat

living a mindful life

%d blogger menyukai ini: