//
you're reading...
Dunia Pendidikan

Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran Kooperatif

Penelitian tentang kooperatif telah dilakukan pada tahun 1920 oleh Social Psychological tetapi penelitian secara aplikasi khusus dari pembelajaran kooperatif dalam kelas baru dimulai pada tahun 1970. Pada saat itu empat kelompok peneliti mulai meneliti dan mengembangkan metode pembelajaran kooperatif dalam kelas. Sejak saat itu para peneliti diseluruh dunia mulai menerapkan pembelajaran kooperatif dalam kegiatan belajar mengajar didalam kelas, dan pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang sangat cocok.
Ada beberapa definisi pembelajaran kooperatif yang dikemukakan oleh beberapa ahli pendidikan. Menurut Holubec pembelajaran koperatif (cooperative learning) merupakan pendekatan pengajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar dan mencapai tujuan belajar20. Menurut Johson pada umumnya hasil penelitian dari penggunaan metode pembelajaran kooperatif akan menghasilkan prestasi yang lebih tinggi, hubungan yang lebih positif, dan penyesuaian psikologis yang lebih baik daripada suasana belajar yang penuh dengan persaingan dan memisah-misahkan siswa. Menurut Sharan pembelajaran kooperatif didasarkan pada asumsi pembelajaran “konstruktivis” dan tujuan serta penugasan peran utama pada motivasi intrinsik siswa.

Sedangkan cooperative learning merupakan sistem pengajaran yang memberikan kesempatan kepada anak didik untuk bekerjasama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas terstruktur. Lie juga menyebut “cooperative learning sebagai sistem pembelajaran gotong-royong”. Dalam sistem pembelajaran ini,

guru hanya bertindak sebagai fasilitator23. Dengan ringkas Abdurahman dan Bintoro mengatakan bahwa “pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang silih asah, silih asih, dan silih asuh antar sesama siswa sebagai latihan hidup di dalam masyarakat nyata.
Dari beberapa pengertian di atas dapat diketahui bahwa pembelajaran kooperatif merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang didasarkan atas kerja kelompok, yang menuntut keaktifan siswa untuk saling bekerjasama dan membantu dalam menyelesaikan masalah atau tugas yang diberikan oleh guru. Melalui pembelajaran kooperatif siswa didorong untuk bekerjasama secara maksimal sesuai dengan keadaan kelompoknya. Kerjasama yang dimaksud dalam pembelajaran kooperatif adalah setiap anggota kelompok harus saling membantu menguasai bahan ajar. Bagi siswa yang mempunyai kemampuan tinggi harus membantu siswa yang berkemampuan rendah agar dapat menguasai materi yang sedang dipelajari sehingga kelompoknya dapat berhasil karena penilaian akhir ditentukan oleh keberhasilan kelompok. Oleh karena itu setiap anggota kelompok harus mempunyai tanggung jawab penuh terhadap kelompoknya.
1. Unsur-unsur Dasar Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang didalamnya terdapat elemen-elemen yang saling terkait. Adapun berbagai elemen dalam pembelajaran kooperatif adalah adanya: “(1) saling ketergantungan positif; (2) interaksi tatap muka; (3) akuntabilitas individual, dan (4) keterampilan untuk menjalin hubunga antar pribadi atau keterampilan sosial yang secara sengaja diajarkan”

Abdurahman dan Bintoro Hal tersebut dijelaskan sebagai berikut:
a. Saling Ketergantungan Positif (Positive Interdependence)

Dalam pembelajaran kooperatif, guru menciptakan suasana yang mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan. Hubungan yang saling membutuhkan inilah yang dimaksud dengan saling ketergantungan positif. Saling ketergantungan positif menurut adanya interaksi promotif yang memungkinkan sesama siswa saling memberikan motivasi untuk meraih hasil belajar yang optimal. Saling ketergantungan tersebut dapat dicapai melalui: (a) saling ketergantungan pencapaian tugas, (c) saling ketergantungan bahan atau sumber, (d) saling ketergantungan peran, dan (e) saling ketergantungan hadiah.

b. Interaksi Tatap Muka (Face to Face)

Interaksi tatap muka menurut para siswa dalam kelompok dapat saling bertatap muka sehingga mereka dapat melakukan dialog secara langsung, tidak hanya dengan guru, tetapi juga dengan sesama siswa dalam kelompok tersebut.

c. Akuntabilitas Individual (Individual Accountability)
Pembelajaran kooperatif menampilkan wujudnya dalam belajar kelompok. Meskipun demikian, penilaian ditunjukan untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran secara individual. Hasil penilaian secara individual tersebut selanjutnya disampaikan oleh guru kepada kelompok agar semua kelompok mengetahui siapa anggota kelompok yang memerlukan bantuan dan siapa anggota kelompok yang dapat memberikan bantuan. Nilai kelompok

didasarkan atas rata-rata tes dan nilai rata-rata aspek afektif semua anggotanya, karena itu tiap anggota kelompok harus memberikan keaktifan belajarnya demi kemajuan kelompok. Penilaian kelompok yang didasarkan atas rata-rata penguasaan semua anggota secara individual inilah yang dimaksud dengan akuntabilitas individual.

d. Keterampilan Menjalin Hubungan antar Pribadi (Interpersonal Skill

Promotive Interaction)
Dalam pembelajaran kooperatif keterampilan sosial seperti tenggan rasa, sikap sopan santun terhadap teman, mengkritik ide dan bukan mengkritik teman, berani memepertahankan pikiran logis, tidak mendominasi orang lain, mandiri, dan berbagai sifat lain yang bermanfaat dalam menjalin hubungan antar pribadi (Interpersonal relationship) tidak hanya diasumsikan tetapi secara sengaja hanya memperoleh teguran dari guru tetapi juga dari semua siswa.

2. Perbedaannya dengan Pembelajaran Tradisional
Dalam pembelajaran tradisional dikenal pula adanya belajar kelompok. Meskipun demikian, ada sejumlah perbedaan esensial antara kelompok belajar kooperatif dengan kelompok belajar tradisional. Abdurrahman dan Bintoro mengemukakan sejumlah perbedaan tersebut yang sangat menonjol antara kelompok belajar tradisional dengan kelompok belajar kooperatif. Kooperatif lebih menekankan pada keterampilan proses dan kelompok belajar tradisional menekankan pada hasil sedangkan kelompok belajar kooperatif selain menekankan dalam proses juga pada hasil belajar

Perbedaan antara Kelompok Belajar Kooperatif dengan Kelompok Belajar Tradisional:

  1. Kelompok Belajar Kooperatif
    Adanya saling ketergantungan positif, saling membantu, dan saling memberikan motivasi sehingga ada interaksi promotif.
    Adanya akuntabilitas individual yang mengukur penguasaan materi pembelajaran tiap anggota kelompok, dan kelompok diberi umpan balik tentang hasil belajar para anggotanya sehingga dapat saling mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan.
    Kelompok belajar heterogen, baik dalam kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, etnik, dan sebagainya sehingga dapat saling mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan.
    Pimpinan kelompok dipilih secara demokratis atau bergilir untuk memerlukan pengalaman memimpin bagi para anggota kelompok.
    Keterampilan sosial yang diperlukan dalam kerja gotong-royong seperti kepemimpinan, berkomunikasi, mempercayai orang lain, dan mengelola konflik secara langsung diajarkan.
    Pada saat belajar kooperatif sedang berlangsung, guru terus melakukan pemantauan melalui observasi dan melakukan interverensi jika terjadi masalah dalam kerjasama antar anggota kelompok.
    Penekanan tidak hanya pada penyelesaian tugas tetapi juga hubungan interpersonal (hubungan antar pribadi yang saling menghargai)
  2. Kelompok Belajar Tradisional
    Guru saling memberikan adanya siswa yang mendominasi kelompok atau menggantungkan diri pada kelompok.

      Akuntabilitas individual sering diabaikan sehingga tugas-tugas sering diborong oleh salah seorang  anggota kelompok lainnya hanya “enak-enak saja” di atas keberhasilan temanya yang dianggap “pemborong”.

        Kelompok belajar biasanya homogen.

Ada banyak alasan mengapa pembelajaran kooperatif dikembangkan. Hasil penelitian melalui metode meta-analisis yang dilakukan oleh Johson dalam Nurhadi dkk menunjukkan adanya berbagai keunggulan pembelajaran kooperatif sebagaimana terurai sebagai berikut:
1. Memudahkan siswa melakukan penyesuaian sosial.
2. Mengembangkan kegembiraan belajar yang sejati.
3. Memungkinkan para siswa saling belajar menegenai sikap, keterampilan, informasi, perilaku sosial, dan pandangan atau pendapat.
4. Memungkinkan terbentuk dan berkembangnya nilai-nilai sosial dan komitmen.
5. Meningkatkan keterampilan metakognitif.
6. menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri atau egois dan egosentris.
7. Meningkatkan kepekaan dan kesetiakawanan sosial.
8. Menghilangkan siswa dari penderitaan akibat kesendirian atau keterasingan.
9. Dapat menjadi acuan bagi perkembengan keperibadian yang sehat dan terintegrasi.
10. Membangun persahabatan yang dapat berlanjut hingga masa dewasa.
11. Mencegah timbulnya gangguan kejiwaan.
12. Mencegah terjadinya kenakalan dimasa remaja.
13. Menimbulkan perilaku rasional dimasa remaja.
14. Berbagai keterampilan sosial yang diperlukan untuk memelihara hubungan saling membutuhkan dapat diajarkan dan dipraktekkan.
15. Meningkatkan rasa saling percaya dan positif kepada semua manusia.
16. Meningkatkan kemampuan memandang masalah dan situasi dari berbagai prespektif.
17. Meningkatkan perasaan penuh makna mengenai arah dan tujuan hidup.
18. Meningkatkan keyakinan terhadap ide atau gagasan diri sendiri.
19. Meningkatkan kesediaan menngunakan ide orang lain yang dirasakan lebih baik.
20. Meningkatkan motivasi belajar intrinsik.

21. Meningkatkan kegemaran berteman tanpa memandang perbedaan kemampuan, jenis kelamin, normal atau cacat, etnis, kelas sosial, agama, dan orientasi tugas

Menciptakan suasana belajar kooperatif bukan pekerjaan yang mudah. Untuk menciptakan suasana belajar tersebut diperlukan pemahaman filosfis dan keilmuan yang cukup disertai dedikasi yang tinggi serta latihan yang cukup pula.
3. Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif

Adapun beberapa ciri-ciri pembelajaran kooperatif yang sudah diterapkan dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolahan adalah sebagai berikut:
a. Belajar dalam Kelompok

Pembagian Kelompok Belajar diarahkan untuk mencapai keberhasilan dalam menguasai suatu konsep yang diajar. Tujuannya agar hasil yang dicapai melalui usaha bersama dari seorang wakil yang dipercayakan di dalam kelompok tersebut. Dalam kelompok ini setiap wakilnya mempunyai peranan tertentu dan jelas dalam usaha kelompok mencapai tujuan yang ditetapkan, kelompok yang dibentuk guru bukan kelompok besar tetapi paling banyak terdiri dari 5 orang, juga diperhatikan keberadaan personil tiap kelompok dan diatur secara homogen maupun heterogen agar jalannya pembelajaran efektif dan efisien.

b. Interaksi Sosial Ditekankan
Setiap wakil dari kelompok akan bertemu dalam satu kelompok dan membahas secara bersama-sama yang selanjutnya hasil yang diperoleh akan dibawakan kembali dalam kelompoknya semula, dengan demikian pembahasan menjadi berkembang, wakil kelompok mempunyai tanggung jawab memajukan

pemahaman anggota kelompoknya maka dia dianggap sanggup untuk menerima dan memberi suatu informasi/konsep pelajaran pada anggota kelompoknya.

c. Kerja Sama antar Siswa dalam Mencapai Tujuan
Keberhasilan kelompok akan tergantung kepada pemahaman individu- individu anggotanya. Setiap anggota mempunyai tanggung jawab untuk dapat memberi suatu masukan yang berarti pada kelompoknya. Ini dikenal sebagai prinsip kerja sama kelompok untuk mencapai keberhasilan. Dalam prinsip ini, tugas diberikan kepada semua wakil dari kelompok untuk kemudian dipresentasikan. Tanggung jawab tiap wakil kelompok tersebut dimaksudkan agar setiap pelajar dapat aktif dalam kelompoknya. Selanjutnya agar setiap pelajar mendapat kesempatan yang sama untuk mengambil bagian dalam pembahasan kelompoknya, dengan begitu kecakapan seorang anggota dapat diberikan kepada anggota lain30.

C. Model Pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS)
Salah satu teknik atau model pembelajaran kooperatif adalah model two stay two stray (TSTS) atau dua tinggal dua tamu dikembangkan oleh Spencer Kagan (1992), model pembelajaran struktur dua tinggal dua tamu ini memberi kesempatan kepada siswa untuk membagikan hasil informasi dengan kelompok lain. Hal ini dilakukan karena banyak kegiatan belajar mengajar yang diwarnai dengan kegiatan-kegiatan individu. Siswa bekerja sendiri dan tidak diperbolehkan melihat pekerjaan siswa yang lain. Padahal dalam kenyataan hidup di luar sekolah, kehidupan dan kerja manusia saling bergantung satu sama lainnya

Pembelajaran dengan metode ini diawali dengan pembagian kelompok. setelah kelompok terbentuk guru memberikan tugas berupa permasalahan- permasalahan yang harus mereka diskusikan hasilnya.
Adapun menurut Lie langkah-langkah pembelajaran kooperatif model two stay two stray (TSTS) adalah sebagai berikut:
1. Siswa bekerjasama dalam kelompok secara heterogen seperti biasa.
2. Setelah selesai, dua siswa dari masing-masing kelompok akan meninggalkan kelompoknya dan bertamu ke kelompok lain.
3. Dua siswa yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan infomasi mereka ketamu mereka.
4. Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain.
Penyajian gambar skema diskusi model two stay two stray (TSTS) yang akan dilakukan dalam kelas secara lebih rinci seperti pada Gambar 2.1 tentang
alur perpindahan diskusi dengan model two stay two stray (TSTS)

Pimpinan kelompok sering ditentukan oleh guru atau kelompok dibiarkan untuk memilih pimpinannya dengan cara masing-masing.
Keterampilan sosial sering tidak secara langsung diajarkan.

Pemantauan melalui observasi dan intervensi sering tidak dilakukan oleh guru pada saat belajar kelompok sedang berlangsung.

Penekanan sering hanya pada penyelesaian tugas.

Menurut Lie Pembelajaran kooperatif model two stay two stray (TSTS)

terdiri dari beberapa tahapan sebagai berikut:

1. Tahap persiapan
Pada tahap persiapan ini, hal yang dilakukan guru adalah membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), sistem penilaian, menyiapkan LKS (lembar kerja siswa) dan membagi siswa ke dalam beberapa kelompok dengan masing-masing beranggotakan 4 siswa dan setiap anggota kelompok harus heterogen dalam hal jenis kelamin dan prestasi belajar.
2. Presentasi guru
Pada tahap ini, guru menyampaikan indikator pembelajaran dan menjelaskan materi secara garis besarnya sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dibuat sebelumnya.
3. Kegiatan kelompok
Dalam kegiatan ini, pembelajarannya menggunakan lembar kegiatan yang berisi tugas-tugas yang harus dipelajari oleh tiap-tiap siswa dalam satu kelompok. Setelah menerima lembar kegiatan yang berisi permasalahan- permasalahan yang berkaitan dengan konsep materi dan klasifikasinya, siswa mempelajarinya dalam kelompok kecil yaitu mendiskusikan masalah tersebut bersama anggota kelompoknya. Masing-masing kelompok menyelesaikan atau memecahkan masalah yang diberikan dengan cara mereka sendiri. Masing- masing siswa boleh mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan dari temannya. Kemudian dua dari empat anggota dari masing-masing kelompok meninggalkan kelompoknya dan bertamu ke kelompok yang lain secara terpisah, sementara dua anggota yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi mereka ke tamu mereka. Setelah memperoleh informasi dari dua anggota yang tinggal, tamu mohon diri dan kembali ke kelompok masing-masing dan melaporkan temuan dari kelompok lain serta mencocokkan hasil kerja mereka.
4. Presentasi kelompok
Setelah belajar dalam kelompok dan menyelesaikan permasalahan yang diberikan, salah satu kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya untuk dikomunikasikan atau didiskusikan dengan kelompok lainnya. Dalam hal ini masing-masing siswa boleh mengajukan pertanyaan dan memberikan jawaban atapun tanggapan kepada kelompok yang sedang mempresentasikan hasil diskusinya. Kemudian guru membahas dan mengarahkan siswa ke jawaban yang benar.
5. Evaluasi kelompok dan penghargaan
Pada tahap evaluasi ini, untuk mengetahui seberapa besar kemampuan siswa dalam memahai materi yang telah diberikan dapat dilihat dari seberapa banyak pertanyaan yang diajukan dan ketepatan jawaban yang telah diberikan atau diajukan34.
Menurut Agustina dalam Mirza diketahui bahwa suatu model

pembelajaran pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Adapun kelebihan dari pembelajaran kooperatif model two stay two stray (TSTS) adalah sebagai berikut:
1) dapat diterapkan pada semua kelas / tingkatan,
2) kecenderungan belajar siswa menjadi lebih bermakna,
3) lebih berorientasi pada sikap dan keaktifan,
4) membantu meningkatkan prestasi belajar.

Sedangkan kekurangan dari pembelajaran kooperatif model two stay two stray (TSTS) adalah sebagai berikut:
a. Membutuhkan waktu yang relatif cukup lama,
b. Siswa cenderung tidak mau belajar kelompok dan menyerahkan tugas kepada satu siswa dalam kelompk tersebut,
c. Bagi guru membutuhkan banyak persiapan materi, tenaga, dan waktu.
d. Guru cenderung kesulitan dalam pengelolaan kelas35.

Cara mengatasi kekurangan pembelajaran kooperatif model dua tiggal dua tamu, yaitu sebelum pembelajaran guru terlebih dahulu mempersiapkan dan

34 Ibid., hlm. 62-63
35 Faishal, Mirza, “Penerapan Pembelajaran Kooperatif Two Stay Two Stray (TSTS) untuk Meningkatkan 5 Unsur Pembelajaran Kooperatif dan Prestasi Belajar Siswa Kelas X B Semester Dua MAN 3 Malang”, Skripsi, Universitas Negeri Malang, 2008, hlm. 34-35

membentuk kelompok-kelompok yang heterogen ditinjau dari segi jenis kelamin dan kemampuan akademis. Dari sisi jenis kelamin, ada dua kelompok yang terdapat siswa laki-laki dan siswa perempuannya. Dari hal kemampuan akademis, dalam satu kelompok terdiri dari satu orang berkemampuan akademis tinggi, dua orang dengan kemampuan sedang, dan satu orang berkemampuan kurang. Dengan pembentukan kelompok heterogen memberikan kesempatan untuk saling mengajar dan saling mendukung sehingga memudahkan pengelolaan kelas karena dengan adanya satu orang yang berkemampuan akademis tinggi yang diharapkan dapat membatu anggota kelompoknya. Adapun aspek afektif dan aspek kognitif ditunjukan dalam tabel 2.2 tentang perbedaan aspek kognitif dan aspek afektif.

D. Aspek Afektif dan Aspek Kognitif

Menurut Sunardi dalam Ivana, mengatakan bahwa upaya peningkatan aspek afektif akan berhasil apabila penerap;an guru selaku pembimbing dan fasilitator siswa dalam pembelajaran, mampu menciptakan proses pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat merasa atau berbuat sebagai berikut.
1) Merasa tertarik dan terundang terhadap materi yang disajikan dalam bentuk sikap, nilai, moral yang akan dibinakan kepada siswa, sehingga guru perlu menyajikan stimulus berupa kejadian atau peristiwa yang dapat merangsang siswa.
2) Merasa berkeinginan untuk ikut serta terlibat (involving) dalam setiap kegiatan yang dilakukandalam proses pembelajaran.
3) Mau terbuka dalam setiap kegiatan dalam rangka melakukan klasifikasi baik terhadap siswa, sistem nilai, yang dianut oleh diri siswa, oleh orang lain, maupun sistem nilai yang akan dibinakan.
4) Berkemauan untuk menyerap sikap, nilai, moral tersebut dengan suatu kesadaran akan pentingnya sikap, nilai, moral bagi diri siswa dan kehidupannya.

5) Berkemauan untuk melaksanakan sikap, nilai, atau moral yang telah diterima siswa dalam perbuatan dan kehidupannya

Sikap yang dimiliki oleh siswa sangat berpengaruh pada berbagai hasil pendidikan. Sehingga sikap siswa terhadap mata pelajaran yang diajarkan, aktivitas pembelajaran yang digunakan dan kemampuan siswa untuk menyelesaikan tugas harus dinilai secara teratur. Penilaian sikap ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satu yang digunakan untuk melakukan penilaian terhadap aspek afektif adalah dengan menggunakan lembar observasi.
Menurut Benyamin S Bloom dkk dalam Mulyasa, hasil belajar dikategorikan dalam tiga ranah yaitu ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik. Hasil belajar dalam penelitian ini hanya menyangkut ranah kognitif dan afektif. Kemampuan ranah kognitif dapat diukur dengan menggunakan tes yang mengarah pada pengukuran aspek kognitif yang diharapkan. Aspek kognitif ditekankan pada enam ranah kognitif (kognitif domain) yaitu pengetahuan (knowledge), pemahaman (comperhansion), penerapan (aplication), analisis
(analysis), sintesis (synthesis) dan evaluasi (evaluation)37. Secara rinci penjelasan tersebut adalah sebagai berikut:

1) Pengetahuan mencakup ingatan akan hal-hal yang pernah dipelajari dan disimpan dalam ingatan. Hal itu dapat meliputi fakta, kaidah dan prinsip, serta metode yang diketahui. Pengetahuan yang disimpan dalam ingatan, digali pada saat dibutuhkan.

” Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Dua Tinggal Dua Tamu untuk Meningkatkan Proses dan Prestasi Belajar Matematika Siswa VIIII A SMP Dharma Wanita Universitas Brawijaya”, Skripsi, Universitas Negeri Malang, 2008, hlm. 30-31
37 Mulyasa, E, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006),hlm. 139
2) Pemahaman mencakup kemampuan untuk menangkap makna dan arti dari bahan yang dipelajari. Adanya kemampuan ini dinyatakan dengan menguraikan isi pokok dari suatu bacaan: mengubah data yang disajikan dalam bentuk tertentu kebentuk lain, seperti rumus matematika ke dalam bentuk kata-kata; membuat perkiraan tentang kecenderungan nampak dalam data tertentu seperti dalam grafik kemampuan setingkat lebih tinggi dari kemampuan pengetahuan.
3) Penerapan mencakup kemampuan untuk menerapkan suatu kaidah atau metode bekerja pada suatu kasus / problem yang kongkret dan baru. Adanya kemampuan dinyatakan dalam aplikasi suatu rumus pada persoalan yang belum dihadapi atau aplikasi suatu metode kerja pada pemecahan problem baru.
4) Analisis mencakup kemampuan untuk merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian, sehingga struktur keseluruhan atau organisasinya dapat dipahami dengan baik. Adanya kemampuan ini dinyatakan dalam penganalisaan bagian-bagian pokok atau komponen-komponen dasar, bersama dengan hubungan antara bagian-bagian itu.
5) Sintesis mencakup kemampuan untuk membentuk suatu kesatuan atau pola baru. Bagian-bagian dihubungkan satu sama lain, sehingga tercipta suatu bentuk baru. Adanya kemampuan ini dinyatakan dalam membuat suatu rencana.
6) Evaluasi mancakup kemampuan untuk membentuk suatu pendapat mengenai suatu atau beberapa hal. Kemampuan ini dinyatakan dalam metode penilaian penelitian terhadap sesuatu

Perbedaan antara Aspek Afektif dan Aspek Kognitif

Aspek Afektif
Aspek afektif memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan aspek-aspek yang lainnya.

Aspek afektif bersifat abstrak dan tidak jelas karena tersembunyi di dalam diri siswa, sehingga cukup sulit untuk dirumuskan secara jelas. Salah satu ciri kemampuan afektif adalah belajar menghayati nilai dari objek-objek yang dihadapi melalui alam perasaan, baik berupa orang, benda maupun peristiwa atau kejadian.

Ada beberapa jenis kategori ranah afektif sebagai hasil belajar. Kategorinya dimulai dari tingkat yang dasar atau sederhana sampai tingkat yang paling kompleks. Adapun penjelasan sebagai berikut: 1) penerimaan, yakni semacam kepekaan dalam menerima rangsangan atau stimulus dari luar yang datang kepada siswa dalam bentuk masalah, situasi, gejala, dll. 2) partisipasi, yakni reaksi yang diberikan oleh seseorang terhadap stimulus yang datang dari luar. Hal ini mencakup ketepatan reaksi, perasaan, kepuasan dalam menjawab stimulus dari luar yang datang pada dirinya, 3) penilaian atau penentuan sikap, yakni berkenaan dengan nilai dan kepercayaan terhadap gejala atau stimulus tadi. Dalam evaluasi ini termasuk didalamnya kesediaan menerima nilai, latar belakang, atau pengalaman untuk menerima nilai dan kesepakatan tersebut. 4) organisasi, yakni pengembangan dari nilai ke dalam suatu sistem organisasi, termasuk hubungan satu nilai dengan nilai lain, penetapan dan prioritas nilai yang telah dimilikinya ke dalam organisasi. 5) karakteristik nilai atau internalisasi nilai, yakni keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya termasuk keseluruhan nilai karakteristiknya.

Aspek afektif yang akan diamati dalam penelitian ini adalah: 1) penerimaan, 2) partisipasi, 3) penentuan sikap, 4) organisasi, dan 5) penentuan pola hidup. Pada aspek penerimaan indikator yang digunakan dalam mengukur aspek tersebut adalah respon terhadap pendapat siswa yang mempunyai beberapa kriteria antara lain selalu menolak pendapat teman, tidak menghargai pendapat teman, kurang menghargai pendapat teman, mampu menghargai pendapat teman.

Aspek Kognitf
Belajar merupakan usaha yang dilakukan setiap manusia dalam rangka untuk mencapai suatu tujuan. Belajar akan menimbulkan perubahan perilaku yang diperoleh melalui pengetahuan dan wawasan. Belajar merupakan aktivitas mental yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan dan pemahaman, keterampilan dan nilai sikap.

Dalam proses belajar diharapkan akan diperoleh hasil belajar berupa perubahan tingkah laku baik dalam kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Aspek kognitif adalah suatu nilai yang menunjukkan hasil yang tertinggi dalam belajar yang dicapai menurut kemampuan anak dalam mengerjakan sesuatu pada saat tertentu pula. Dalam belajar terdapat pula tiga masalah pokok yaitu: (1) masalah mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya belajar, (2) masalah mengenai bagaimana belajar itu berlangsung dan prinsip mana yang dilaksanakan, (3) masalah mengenai hasil belajar. Dua masalah pokok yang pertama berkenaan dengan proses belajar yang sangat berpengaruh kepada masalah pokok ketiga, dengan demikian bagaimana peristiwa terjadinya proses belajar akan menentukan hasil belajar siswa.

Berdasarkan uraian di atas, maka aspek kognitif siswa dalam penelitian ini adalah kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah mengalami proses belajar. Aspek kognitif siswa ditunjukkan dari perbandingan skor tes pada siklus I, siklus II dan siklus III. Aspek kognitif yang diamati dalam penelitian ini adalah pengetahuan, pemahaman, dan penerapan.

Penerapan Pembelajaran Kooperatif model Two Stay Two Stray (TSTS) untuk Meningkatkan Aspek kognitif dan aspek afektif siswa.

Salah satu model pembelajaran kooperatif adalah model two stay two stray (TSTS), dimana pemilihan model two stay two stray (TSTS) karena model tersebut memiliki kelebihan yaitu keterlibatan siswa sangat besar dalam proses pembelajaran. Guru hanya berperan sebagai fasilitator, artinya tidak ada campur tangan guru yang terlalu jauh dalam penyampaian materi terhadap siswa. Dari sini siswa diharapkan keaktifannya dalam diskusi untuk memecahkan masalah dari materi yang dipelajarinya. Kemampuan akademik siswa yang heterogen dimanfaatkan sebagai acuan untuk membentuk kelompok belajar kooperatif. Tahapan dalam pembelajaran kooperatif model two stay two stray (TSTS) adalah persiapan, presentasi guru, kegiatan kelompok, presentasi kelas dan evaluasi.
Pada tahap persiapan siswa akan dituntut untuk selalu hadir dalam pembelajaran dan datang tepat waktu, siswa juga dituntut untuk selalu membawa bahan ajar berupa buku Sosiologi dari berbagai penerbit yang akan digunakan oleh kelompoknya untuk menyelesaikan tugas permasalahan sebagai bahan diskusi. Dalam tahapan persiapan dengan menggunakan model two stay two stray (TSTS) ini jelas melatihkan siswa terhadap aspek afektif tentang sikap ketepatan hadir saat pembelajaran dan kelengkapan sumber bahan ajar. dengan melatihkan aspek afektif tersebut secara tidak langsung juga akan mempengaruhi terhadap aspek kognitif siswa, yang mana dengan ketepatan hadir dan kelengkapan bahan ajar akan membuat siswa akan dapat mengikuti proses pembelajaran lebih baik dan memiliki kesiapan belajar lebih tinggi sehingga siswa akan lebih mudah dalam belajar.
Tahapan selanjutnya adalah tahapan inti dari model pembelajaran two stay two stray (TSTS) yaitu diskusi kelompok. Pada tahapan diskusi kelompok siswa diberi tugas untuk menyelesaikan tugas LKS dan permasalahan-permasalahan sosiologi. Pada tahapan ini aspek afektif jelas sangat dilatihkan kepada siswa yaitu bagaimana kerja sama kelompok dan diskusi kelompok dalam menyelesaikan tugas tersebut, keaktifan siswa dalam mencari jawaban dari sumber belajar juga sangat dituntut dalam tahapan ini untuk menyelesaikan tugas LKS dan permasalahan-permasalahan sosiologi. Dengan melatihkan aspek afektif tersebut maka aspek kognitif juga ditingkatkan pada tahapan ini karena pada saat tahapan tersebut siswa akan berupaya untuk membaca bahan ajar dan saling bertukar informasi dengan temannya mengenai temuan jawaban LKS dan permasalahan- permasalahan sosiologi, dengan kegiatan tersebut otomatis pengetahuan siswa akan sangat bertambah.
Pada kegiatan kelompok juga ada tahapan yang sangat penting yaitu kegiatan bertamu dan menerima tamu. Pada tahapan ini siswa akan bertukar dengan kelompok lain untuk saling berdiskusi kembali dan saling mencari informasi mengenai jawaban LKS dan permasalahan-permasalahan sosiologi. Pada tahapan ini jelas aspek afektif kembali dilatihkan kepada siswa terutama pada perilaku siswa untuk aktif tanya jawab guna menggali informasi dari kelompok lain. Aspek kognitif dalam tahapan ini juga dilatihkan yaitu dengan saling bertukar informasi mengenai materi diskusi dan jawaban LKS serta permasalahan-permasalahan sosiologi maka otomatis pengalaman, wawasan dan khususnya pengetahuan siswa akan bertambah.

Secara umum pembelajaran model two stay two stray (TSTS) juga memiliki dampak sertaan jangka panjang yang cukup bagus, dimana dengan pembelajaran ini akan melatih siswa untuk dapat mengkoordinir dirinya sendiri untuk lebih aktif dalam belajar secara mandiri tidak hanya bergantung untuk belajar dari guru saja atau tidak beranggapan bahwa guru hanya satu-satunya sumber belajar, tetapi siswa dapat belajar sendiri dari buku, teman maupun lingkungan disekitarnya. Hal positif ini tentunya akan membantu meningkatkan aspek kognitif dan aspek afektif siswa dalam jangka panjang dan berkelanjutan.

Penerapan Pembelajaran Kooperatif model Two Stay Two Stray (TSTS) untuk Meningkatkan Aspek kognitif dan aspek afektif siswa. Salah satu model pembelajaran kooperatif adalah model two stay two stray
(TSTS), dimana pemilihan model two stay two stray (TSTS) karena model tersebut memiliki kelebihan yaitu keterlibatan siswa sangat besar dalam proses pembelajaran. Guru hanya berperan sebagai fasilitator, artinya tidak ada campur tangan guru yang terlalu jauh dalam penyampaian materi terhadap siswa. Dari sini siswa diharapkan keaktifannya dalam diskusi untuk memecahkan masalah dari materi yang dipelajarinya. Kemampuan akademik siswa yang heterogen dimanfaatkan sebagai acuan untuk membentuk kelompok belajar kooperatif. Tahapan dalam pembelajaran kooperatif model two stay two stray (TSTS) adalah persiapan, presentasi guru, kegiatan kelompok, presentasi kelas dan evaluasi.
Pada tahap persiapan siswa akan dituntut untuk selalu hadir dalam pembelajaran dan datang tepat waktu, siswa juga dituntut untuk selalu membawa bahan ajar berupa buku Sosiologi dari berbagai penerbit yang akan digunakan oleh kelompoknya untuk menyelesaikan tugas permasalahan sebagai bahan diskusi. Dalam tahapan persiapan dengan menggunakan model two stay two stray (TSTS) ini jelas melatihkan siswa terhadap aspek afektif tentang sikap ketepatan hadir saat pembelajaran dan kelengkapan sumber bahan ajar. dengan melatihkan aspek afektif tersebut secara tidak langsung juga akan mempengaruhi terhadap aspek kognitif siswa, yang mana dengan ketepatan hadir dan kelengkapan bahan ajar akan membuat siswa akan dapat mengikuti proses pembelajaran lebih baik dan memiliki kesiapan belajar lebih tinggi sehingga siswa akan lebih mudah dalam belajar.
Tahapan selanjutnya adalah tahapan inti dari model pembelajaran two stay two stray (TSTS) yaitu diskusi kelompok. Pada tahapan diskusi kelompok siswa diberi tugas untuk menyelesaikan tugas LKS dan permasalahan-permasalahan sosiologi. Pada tahapan ini aspek afektif jelas sangat dilatihkan kepada siswa yaitu bagaimana kerja sama kelompok dan diskusi kelompok dalam menyelesaikan tugas tersebut, keaktifan siswa dalam mencari jawaban dari sumber belajar juga sangat dituntut dalam tahapan ini untuk menyelesaikan tugas LKS dan permasalahan-permasalahan sosiologi. Dengan melatihkan aspek afektif tersebut maka aspek kognitif juga ditingkatkan pada tahapan ini karena pada saat tahapan tersebut siswa akan berupaya untuk membaca bahan ajar dan saling bertukar informasi dengan temannya mengenai temuan jawaban LKS dan permasalahan- permasalahan sosiologi, dengan kegiatan tersebut otomatis pengetahuan siswa akan sangat bertambah.
Pada kegiatan kelompok juga ada tahapan yang sangat penting yaitu kegiatan bertamu dan menerima tamu. Pada tahapan ini siswa akan bertukar dengan kelompok lain untuk saling berdiskusi kembali dan saling mencari informasi mengenai jawaban LKS dan permasalahan-permasalahan sosiologi. Pada tahapan ini jelas aspek afektif kembali dilatihkan kepada siswa terutama pada perilaku siswa untuk aktif tanya jawab guna menggali informasi dari kelompok lain. Aspek kognitif dalam tahapan ini juga dilatihkan yaitu dengan saling bertukar informasi mengenai materi diskusi dan jawaban LKS serta permasalahan-permasalahan sosiologi maka otomatis pengalaman, wawasan dan khususnya pengetahuan siswa akan bertambah.
Secara umum pembelajaran model two stay two stray (TSTS) juga memiliki dampak sertaan jangka panjang yang cukup bagus, dimana dengan pembelajaran ini akan melatih siswa untuk dapat mengkoordinir dirinya sendiri untuk lebih aktif dalam belajar secara mandiri tidak hanya bergantung untuk belajar dari guru saja atau tidak beranggapan bahwa guru hanya satu-satunya sumber belajar, tetapi siswa dapat belajar sendiri dari buku, teman maupun lingkungan disekitarnya. Hal positif ini tentunya akan membantu meningkatkan aspek kognitif dan aspek afektif siswa dalam jangka panjang dan berkelanjutan.

Pembelajaran Kooperatif Dalam Perspektif Islam

Belajar merupakan usaha sadar yang dilakukan individu atau manusia untuk memperoleh perubahan tingkah laku baru secara keseluruhan dalam berinteraksi dengan lingkungan. Manfaat yang diperoleh dari belajar adalah perubahan sikap, menambah wawasan ilmu pengetahuan, dari yang belum mengerti menjadi mengerti. Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa seseorang yang

mempunyai ilmu maka akan ditinggikan derajatnya dan akan terhindar dari

keterpurukan, hal ini terdapat dalam surat Al-Mujadillah ayat 11: Artinya: Wahai orang-orang beriman! apabila dikatakan kepadamu, “Berlapang- lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.

Pembelajaran adalah upaya membelajarkan siswa melalui kegiatan memilih, menetapkan, dan mengembangkan metode pembelajaran yang optimal guna untuk mencapai hasil yang diinginkan berdasarkan kondisi belajar yang ada. Kegiatan memilih, menetapkan, dan mengembangkan metode pembelajaran. Firman ALLAH SWT menegaskan dalam firmannya QS. Ali ‘Imran ayat 104: Artinya: Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar…

Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang melatih siswa untuk saling bekerja sama dalam memecahkan suatu permasalahan,meningkatkan sikap tenggang rasa dan saling percaya antar sesama teman. pernyataan ini sesuai dengan firman ALLAH SWT dalam surat Ali ‘Imran ayat
159, yaitu:

Artinya: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Artinya: …Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…

Dari potongan surat Al-Maidah ayat 02 di atas, menjelaskan bahwa terdapat perintah ALLAH SWT untuk bermusyawarah dalam menyelesaikan suatu urusan atau permasalahan dan saling tolong menolong dalam kebaikan.

Adapun beberapa penelitian terdahulu, antara lain:

1. Model pembelajaran dua tinggal dua tamu (DTDT) dapat meningkatkan aspek kognitif siswa. Hal ini sesuai hasil penelitian yang menyebutkan bahwa pembelajaran dengan model dua tinggal dua tamu (DTDT) mampu meningkatkan prestasi belajar siswa
2. Penelitian serupa yang menyatakan bahwa model pembelajaran dua tinggal dua tamu (DTDT) mampu meningkatkan aspek kognitif adalah hasil penelitian yang menyebutkan bahwa pembelajaran dengan model dua tinggal dua tamu (DTDT) mampu meningkatkan aspek kognitif siswa.
3. Model pembelajaran two stay two stray (TSTS) dapat meningkatkan aspek afektif. Hal ini sesuai hasil penelitian Agustina dalam Fitria yang menyebutkan bahwa pembelajaran dengan model two stay two stray (TSTS) mampu meningkatkan aspek afektif siswa

4. Penelitian serupa yang menyatakan bahwa model pembelajaran two stay two stray (TSTS) yang mampu meningkatkan aspek kognitif adalah dari hasil penelitian yang menyebutkan bahwa pembelajaran dengan model two stay two stray (TSTS) juga mampu meningkatkan aspek afektif siswa, karena antara aspek kognitif dan aspek afektif sangat memiliki hubungan yang erat

Perbedaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian penerapan pembelajaran kooperatif model two stay two stray (TSTS) ini adalah terdapat pada tingkat ketercapaian siswa aspek kognitif dan aspek afektif serta pada mata pelajaran yang di ajarkan, apabila di penelitian terdahulu model two stay two stray banyak diterapkan pada mata pelajaran IPA,

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi.2006. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi.2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Arikunto, Suharsimi.2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Ariani,Novianti.2006 ” Penerapan Cotextual Teaching and Learning (CTL) Model Inkuiri untuk Meningkatkan Kemampuan Psikomotorik dan Afektif Siswa kelas X-A SMA Laboratorium UM” Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang.

Bisri, Mustofa dan Eilsa Vindi M.2008. Kamus Lengkap Sosiologi.Yogyakarta: PANJI PUSTAKA.

Sedangkan cooperative learning merupakan sistem pengajaran yang
memberikan kesempatan kepada anak didik untuk bekerjasama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas terstruktur. Lie juga menyebut “cooperative learning sebagai sistem pembelajaran gotong-royong”. Dalam sistem pembelajaran ini,

About suaidinmath

Mohon kontribusi untuk menambal retak dan menambah langkah kesempurnaan tulisan ini ...

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Hari ini

Januari 2015
S S R K J S M
« Des   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Statistik Blog

  • 1,762,190 hit

Arsip blog

Award Blog Pendidikan 2012

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 259 pengikut lainnya

Dunia Pendidikan

Teratas

RSS Republika online

RSS educatinalwithptk

newsalloy

NewsAlloy button

MUSIK

suara Edukasi

 

 http://radioedukasi.com/modules/mod_miniradio/mod_miniradio.swf

suara_edukasi

RADIO EDUKASI

Live Streaming AM 1251 kHz

Silahkan unduh produk audio radio Suara edukasi

[KLIK DISINI]

Zaimuttpjok/tik

BERBAGI INFORMASI PENDIDIKAN DAN KISAH HIDUP

isti

Berilah makan keyakinanmu niscaya keraguanmu mati kelaparan

ANNISA USH SHOLIHAH

ALL ABOUT CHEMIS_3 (sharing for carring)

Dinas Dikpora Kab. Dompu

Ikhlas Mendidik Untuk Martabat Bangsa dan Negara

Vox Populi

Vox Populi: A Public Sphere for Politics and Poetry

Architecture Here and There

Style Wars: classicsm vs. modernism

Stories From the Belly

A Blog About the Female Body and Its Appetites

mywordpool

"Words - so innocent and powerless as they are, as standing in a dictionary, how potent for good and evil they become in the hands of one who knows how to combine them." ~Nathaniel Hawthorne

Fusion

Championing a young, diverse, and inclusive America with a unique mix of smart and irreverent original reporting, lifestyle, and comedic content.

Whatever

LET ME STEAL THIS MOMENT FROM YOU NOW

rachel eats

stories, pictures and cooking tales from an english woman living in rome.

y

what it comes down to

tangerine drawings

scribbles and recipes from a pastry chef in paris

Extra Dry Martini

Straight up, with a twist.

Gravity and Levity

A blog about the big ideas in physics, plus a few other things

love.life.eat

living a mindful life

%d blogger menyukai ini: