//
you're reading...
Dunia Pendidikan

Melaksanakan Evaluasi Pendidikan Dengan Baik dan Benar

A. Latar Belakang
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) menegaskan bahwa evaluasi pendidikan adalah kegiatan pengendalian, penjaminan, dan penetapan mutu pendidikan terhadap berbagai komponen pendidikan pada setiap jalur, jenjang, dan jenis pendidikan sebagai bentuk pertanggungjawaban penyelenggaraan pendidikan. Selanjutnya pasal 57 ayat (1), menyebutkan evaluasi dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan, dan ayat (2); evaluasi dilakukan terhadap peserta didik, lembaga, dan program pendidikan pada jalur formal dan nonformal untuk semua jenjang, satuan, dan jenis pendidikan.
Evaluasi pendidikan di tingkat satuan pendidikan merupakan bagian yang melekat dengan kegiatan pembelajaran yang dilakukan pendidik untuk mengetahui pencapaian standar kompetensi lulusan. Sesuai dengan penerapan kurikulum yang berbasis kompetensi, penilaian yang dilakukan menggunakan acuan kriteria, yaitu membandingkan hasil yang dicapai dengan kriteria atau standar yang ditetapkan.
Ditinjau dari sudut profesionalisme tugas kependidikan, bahwa kegiatan evaluasi merupakan tugas yang melekat pada pendidik profesional. Seorang pendidik profesional selalu menginginkan umpan balik atas program pendidikan yang telah dilakukannya. Melalui suatu evaluasi yang dilakukan secara sistematis dapat ditentukan keputusan sampai sejauh mana tujuan program telah tercapai. Evaluasi bukan hanya sekumpulan teknik semata, tetapi evaluasi merupakan suatu proses berkelanjutan yang mendasari keseluruhan kegiatan belajar mengajar untuk mewujudkan proses belajar mengajar yang efektif.
Sesuai dengan prinsip belajar yang menyatakan bahwa belajar merupakan proses terjadinya perubahan tingkah laku dalam diri peserta didik, dengan sendirinya evaluasi pendidikan dapat dijadikan alat untuk mengetahui perubahan tersebut. Ini berarti bahwa dalam proses belajar mengajar harus ada kriteria tertentu yang dapat dijadikan patokan untuk pelaksanaan evaluasinya.

B. Pengertian, Fungsi, Tujuan, Kedudukan, Prosedur, dan Ruang Lingkup Evaluasi
1. Pengertian Evaluasi
Istilah evaluasi berasal dari bahasa Inggris, yaitu evaluation. Menurut Gronlund (1985), evaluasi adalah suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan, sampai sejauh mana tujuan program telah tercapai. Evaluasi mencakup sejumlah teknik yang tidak dapat diabaikan oleh pelatih. Evaluasi bukan sekumpulan teknik semata, tetapi evaluasi merupakan suatu proses berkelanjutan yang mendasari keseluruhan kegiatan belajar mengajar untuk mewujudkan proses belajar mengajar yang efektif.
Dalam rangka kegiatan belajar mengajar, selanjutnya Norman E. Gronlund (1976 : 6) mendefinisikan evaluasi sebagai suatu proses sistematik dalam menentukan tingkat pencapaian tujuan pembelajaran. Ada dua aspek penting dari definisi tersebut. Pertama, evaluasi menunjuk pada proses yang sistematik. Kedua, evaluasi mengasumsikan bahwa tujuan pembelajaran ditentukan terlebih dahulu sebelum proses belajar mengajar berlangsung.
Edwind Wand dan Gerald W. Brown (1957 : 1) menyatakan bahwa evaluasi berkenaan dengan kegiatan atau proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. Sesuai dengan pendapat tersebut, evaluasi pendidikan dapat diartikan sebagai suatu kegiatan atau proses untuk menentukan nilai dari segala sesuatu yang berkenaan dengan pendidikan. Witherington (1980 : 24) menyatakan bahwa evaluasi adalah pernyataan bahwa sesuatu itu mempunyai nilai atau tidak. Jadi, mengevaluasi diartikan sebagai memberikan pernyataan bahwa sesuatu hal, apakah ia bernilai atau tidak. Yang dimaksud dengan nilai di sini dapat dalam bentuk kuantitatif, kualitatif, atau pun keduanya.
Mechrens dan Lechman (1984 : 5) menyatakan bahwa evaluasi diartikan sebagai penentuan kesesuaian antara tampilan dengan tujuan-tujuan. Dalam hubungan ini, hal yang dievaluasi bukanlah orang secara fisik, tetapi karakteristik-karakteristik dari orang itu dengan menggunakan suatu tolok ukur tertentu. Karakteristik-karakteristik tersebut dalam ruang lingkup kegiatan proses belajar mengajar adalah tampilan peserta didik dalam bidang kognitif (pengetahuan, intelektual, akal), afektif (sikap, minat, motivasi, emosional), dan psikomotorik (keterampilan, gerak, dan tindakan). Tampilan tersebut dapat dievaluasi melalui lisan, tertulis, maupun perbuatan. Dengan demikian, mengevaluasi adalah menentukan apakah tampilan peserta didik telah sesuai dengan tujuan instruksional yang telah dirumuskan atau belum.
Sesuai dengan prinsip belajar yang menyatakan bahwa belajar merupakan proses terjadinya perubahan tingkah laku dalam diri peserta didik, dengan sendirinya evaluasi dapat dijadikan alat untuk mengetahui perubahan tersebut. Ini berarti bahwa dalam proses belajar mengajar harus ada kriteria tertentu yang dapat dijadikan patokan untuk pelaksanaan evaluasinya.
Dari beberapa pengertian evaluasi yang telah dikemukakan di atas menunjukkan bahwa evaluasi sifatnya lebih luas dari pengukuran. Evaluasi meliputi aspek kuantitatif dan kualitatif. Pengukuran hanya terbatas pada deskripsi kuantitatif saja.
2. Fungsi Evaluasi
Untuk mengetahui perkembangan dan kemajuan prestasi belajar perlu dilakukan evaluasi. Evaluasi tidak hanya memberikan gambaran tentang kemampuan yang dimiliki peserta didik, tetapi dapat pula untuk memberikan informasi lain. Misalnya tentang sikap, minat, bakat, dan kepribadian peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar atau sesudahnya. Selain daripada itu evaluasi dapat pula bermanfaat untuk menentukan kebijakan dan balikan (feed back).
Peranan evaluasi begitu hakiki dalam situasi belajar mengajar. Data evaluasi yang dikumpulkan secara hati-hati membantu pelatih dalam memahami peserta didik, merencanakan pengalaman belajar bagi peserta didik, dan merumuskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai sehingga keputusan-keputusan instruksional didasari oleh informasi yang akurat, relevan, dan komprehensif.
Pencapaian tujuan instruksional, diagnosa kesulitan belajar peserta didik, penentuan kesiapan belajar untuk dapat mencerna pengetahuan dan pengalaman baru, penempatan peserta didik dalam suatu kelompok atau kelas tertentu, bantuan kepada peserta didik dalam menyelesaikan masalahnya, persiapan laporan kemajuan belajar peserta didik, semuanya harus berdasarkan program evaluasi yang cermat.
Efisiensi dan efektifitas suatu kegiatan akan terwujud jika terlebih dahulu dilakukan evaluasi terhadap rencana kegiatan tersebut. Dalam bidang pendidikan, evaluasi mempunyai makna bagi peserta didik dan guru maupun institusi pendidikan karena evaluasi biasanya dilakukan sebelum, selama, dan setelah kegiatan belajar mengajar berlangsung. Bagi peserta didik dapat diketahui apakah ia telah berhasil atau belum dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Jika ia berhasil akan mendapat kepuasan. Hal ini akan mendorong peserta didik untuk lebih termotivasi dalam meraih prestasi akademiknya. Sebaliknya, jika ia tidak berhasil, ia tidak mendapat kepuasan. Dua kemungkinan yang dapat terjadi, kesadaran yang mendorong motivasi belajarnya atau sebaliknya menjadi frustasi. Makna bagi guru, ia akan mengetahui kualitas peserta didiknya, secara individual maupun kelompok. Di samping itu ia dapat mengevaluasi diri mengenai kegiatan belajar mengajar yang telah dilaksanakannya, kekurangan atau kelebihannya.
Dengan mengetahui makna evaluasi dalam sistem pendidikan seperti yang diuraikan di atas, evaluasi (pendidikan) berfungsi selektif untuk menentukan input (calon peserta didik), sebagai alat penempatan untuk pengelompokan peserta didik sesuai dengan bakat dan kemampuannya. Selain itu, evaluasi dalam pendidikan dapat pula berfungsi sebagai alat untuk mendiagnosa kesulitan belajar peserta didik dan pengukur keberhasilan belajar dan sebagai balikan bagi lembaga pendidikan.
Secara terinci, fungsi evaluasi tersebut di atas adalah sebagai berikut:
1) Sebagai alat seleksi
Evaluasi dapat digunakan untuk melakukan penyaringan (seleksi) dalam penerimaan peserta didik baru.. Dengan evaluasi ditentukan sejumlah peserta didik tertentu yang memenuhi syarat dari sejumlah peserta didik pendaftar sebagai calon peserta didik yang akan diterima.
2) Sebagai alat pengukur keberhasilan
Fungsi evaluasi sebagai alat ukur keberhasilan adalah untuk mengukur seberapa jauh tujuan pembelajaran dapat dicapai setelah kegiatan belajar mengajar dilaksanakan. Selain itu, melalui evaluasi dapat dilihat pula sampai sejauh mana seorang pelatih telah berhasil dalam menerapkan metode dan pendekatan, penguasaan materi, serta kebaikan dan kelemahan kurikulum yang dipakai.
3) Sebagai alat penempatan
Untuk dapat mengetahui dengan baik termasuk kelompok mana seorang peserta didik harus ditempatkan digunakan evaluasi. Penempatan yang cocok dengan kondisi masing-masing peserta didik lebih memungkinkan untuk dapat mengembangkan bakat dan kemampuannya secara optimal.
4) Sebagai alat diagnostik
Dengan melakukan evaluasi, guru dapat mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik, ia dapat mengetahui letak kelemahan dan kebaikan peserta didik dalam penguasaan setiap konsep yang telah diajarkan. Dari hasil diagnosis ini guru dapat mengambil langkah untuk memberikan upaya “penyembuhan” yang tepat sesuai dengan jenis dan tingkat kesulitan yang dialami.
3. Tujuan Evaluasi
Sesuai dengan fungsi evaluasi yang telah dikemukakan, evaluasi mempunyai tujuan seperti berikut ini.
1) Dalam fungsi evaluasi sebagai alat seleksi terkandung di dalamnya tujuan evaluasi, yaitu untuk mendapatkan calon peserta didik pilihan yang cocok dengan suatu program dan jenjang pendidikan tertentu. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik yang menempuh program pendidikan tersebut berjalan lancar dan mencapai prestasi yang optimal.
2) Dalam fungsi evaluasi sebagai alat pengukur keberhasilan dan diagnostik digunakan untuk mengetahui seberapa jauh hasil yang telah dicapai dalam proses pendidikan dan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Apakah hasil yang dicapai sudah sesuai dengan yang diharapkan atau belum. Kalau belum perlu dicari faktor penyebab yang menghambat tercapainya tujuan tersebut. Selanjutnya dapat dicari jalan untuk mengatasinya.
3) Dalam fungsi evaluasi sebagai alat penempatan (replacement), evaluasi bertujuan untuk menentukan pendidikan lanjut peserta didik agar sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuannya. Hal ini dimaksudkan agar pendidikan yang ditempuhnya berjalan lancar dan mencapai prestasi yang optimal.
4) Evaluasi dalam rangka kegiatan belajar mengajar dikenal dengan istilah tes awal, yaitu evaluasi yang dilaksanakan sebelum kegiatan belajar mengajar berlangsung. Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui taraf kesiapan peserta didik dalam memahami konsep-konsep baru yang akan dipelajarinya.
5) Dalam rangka promosi, evaluasi bertujuan untuk mendapatkan bahan informasi dalam menentukan peserta didik berhasil dalam suatu pogram pendidikan atau mengulang pada program tersebut. Jika berdasarkan hasil evaluasi dari sejumlah mata pelajaran yang ditempuh peserta didik tersebut telah memenuhi kriteria minimal untuk lulus, maka peserta didik tersebut dapat mengikuti program berikutnya. Jika tidak, dengan diberikan nasihat untuk mengulang program tersebut.
6) Secara intuitif, seorang pelatih dalam mengajar telah berusaha untuk memilih metode mengajar yang paling tepat sesuai dengan kondisi peserta didik, lingkungan, atau pun sifat materi yang disajikan.

4. Kedudukan Evaluasi
Sesuai dengan fungsi dan tujuan evaluasi dalam pendidikan, kedudukan evaluasi dalam kegiatan belajar mengajar sebelum, selama, dan sesudah kegiatan belajar berlangsung. Kedudukan evaluasi selama kegiatan belajar mengajar berlangsung dimaksudkan sebagai evaluasi yang dilakukan dalam interval waktu pelajaran dimulai hingga saat berakhirnya kegiatan belajar mengajar.
Setelah kegiatan belajar mengajar berlangsung dapat melaksanakan evaluasi terhadap pencapaian hasil belajar peserta didik, baik individual maupun kelompok. Dari hasil evaluasi tersebut dapat diketahui pula kelemahan dan kelebihan peserta didik dalam memahami konsep-konsep yang telah dipelajari. Jadi kedudukan evaluasi ditinjau dari segi waktu pelaksanaannya terdiri dari tiga jenis, yaitu sebelum, selama, dan sesudah kegiatan belajar berlangsung. Ditinjau dari sudut transformasi pendidikan, kedudukan evaluasi berperan untuk mengevaluasi input (calon peserta didik), proses (kegiatan belajar mengajar beserta komponen-komponen penunjangnya seperti pelatih, metode dan pendekatan, materi, sumber, alat pelajaran dan sarana lainnya, lingkungan), out put (lulusan), tujuan dan balikan (feed back) dalam rangka perbaikan dan peningkatan mutu dalam kegiatan yang akan datang. Balikan ini terutama ditujukan untuk peninjauan input maupun proses. Balikan tersebut dapat diungkapkan berupa input yang kurang baik, seleksi yang kurang tepat, pelatih dan personal yang kurang berkualitas dan kurang tepatnya fungsi dan tugas, materi yang kurang cocok, metode dan sistem evaluasi yang kurang memadai, kurangnya sarana penunjang, dan sistem administrasi yang kurang baik.
5. Prosedur Evaluasi
Prosedur evaluasi dimaksudkan sebagai langkah-langkah terurut yang harus ditempuh dalam melaksanakan evaluasi. Langkah-langkah tersebut merupakan tahapan dari kegiatan permulaan sampai kegiatan akhir dalam rangka pelaksanaan evaluasi pendidikan.
Muchtar Buchari (1972 : 24) menyebutkan bahwa langkah-langkah pokok yang harus ditempuh sebagai prosedur evaluasi terdiri dari perencanaan (planning), pengumpulan data (collecting), verifikasi data (verification), analisis data (analysis), dan penafsiran (interpretation).
Tahap perencanaan meliputi kegiatan merumuskan tujuan evaluasi yang akan dilaksanakan. Tujuan ini harus disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai dalam program pendidikan dan latihan tersebut. Tentunya tujuan evaluasi berbeda satu sama lain, tergantung pembuatnya. Tujuan evaluasi yang dibuat oleh panitia seleksi akan berbeda dengan tujuan evaluasi yang dibuat oleh pelatih.
Hal lain yang termasuk dalam tahap perencanaan adalah metode evaluasi yang akan dipakai, seperti inventori, checklist, interview, observasi, atau tes; menyusun alat evaluasi yang akan digunakan, misalnya pedoman observasi dan wawancara, kisi-kisi tes hasil belajar; menentukan kriteria penilaian yang akan digunakan, misalnya penilaian acuan patokan (PAP) atau penilaian acuan normatif (PAN).
Selanjutnya tahap pengumpulan data, terdiri dari : pemeriksaan hasil dan pemberian sekor. Setelah pemberian sekor selesai kemudian dikelompokkan menurut tinggi rendahnya, jenis kelamin, atau hal lainnya sesuai dengan tujuan pengelompokan tersebut. Langkah-langkah tersebut dinamakan langkah verifikasi data. Setelah diverifikasi, data tersebut dianalisis atau diolah dengan menggunakan teknik analisis statistik atau non-statistik.
Tahap akhir dalam prosedur evaluasi adalah interpretasi. Interpretasi dimaksudkan sebagai pernyataan atau keputusan tentang hasil evaluasi. Data interpretasi ini dilakukan atas dasar kriteria tertentu yang telah disusun secara rasional atau telah dibakukan. Interpretasi hasil evaluasi tersebut dapat berupa pernyataan atau keputusan yang diungkapkan dengan kata-kata baik-cukup-buruk, tinggi-sedang-rendah, lulus-tidak lulus, dan lain-lain.
Julian C. Stanley (1964 : 299) mengemukakan hal yang hampir sama dengan pendapat tersebut di atas mengenai prosedur evaluasi. Bedanya ia mengungkapkan dengan cara lain. Langkah-langkah evaluasi menurut J.C. Stanley adalah menetapkan tujuan program, memilih alat yang layak, pelaksanaan evaluasi, pemberian sekor, menganalisis dan menginterpretasi sekor, membuat catatan, dan menggunakan hasil evaluasi.
.
6. Ruang Lingkup Evaluasi
Sesuai dengan tujuan pendidikan, khususnya tujuan pembelajaran, ruang lingkup evaluasi yang akan dibicarakan adalah mengenai obyek evaluasi, ciri-ciri evaluasi dalam pendidikan, evaluasi program, evaluasi hasil belajar (tes), dan evaluasi non hasil belajar (non tes).
1) Obyek evaluasi
Obyek atau sasaran evaluasi adalah segala sesuatu yang menjadi titik pusat perhatian evaluasi. Obyek evaluasi terdiri dari tiga bagian, yaitu input, proses, dan output.
a. Input atau Masukan
Karakteristik peserta didik sebagai input dalam proses belajar mengajar yang dievaluasi mencakup empat hal, yaitu:
i) Kemampuan. Untuk dapat mengikuti program dalam suatu lembaga pendidikan, calon peserta didik harus memiliki kemampuan dasar yang cocok. Alat evaluasi yang digunakan untuk mengukur kemampuan ini disebut tes kemampuan (aptitude test).
ii) Kepribadian. Kepribadian adalah sifat yang terdapat pada diri seorang individu dan tampak dalam bentuk tingkah laku. Alat evaluasi untuk mengetahui tentang kepribadian disebut tes kepribadian (personality test).
iii) Sikap. Sikap lebih cenderung bersifat psikis daripada fisik. Tingkah laku seseorang yang sifatnya fisik adalah manifestasi dari sikap yang dimiliki seseorang yang bersumber pada kepribadiannya. Alat evaluasi untuk mengetahui sikap seseorang terhadap sesuatu hal disebut dengan tes sikap (attitude test). Sebenarnya istilah tes di sini kurang tepat, seharusnya non tes karena berbentuk angket.
iv) Inteligensi. Inteligensi berkenaan dengan kemampuan berpikir. Inteligensi seseorang disebut tinggi bila kemampuan berpikirnya tinggi pula. Manifestasi dari inteligensi ini dapat berupa tingkat pemahaman atau daya ingat terhadap rangsangan (stimulus) terhadap struktur kognitif. Struktur kognitif yang dimiliki seseorang dapat dengan cepat mengadaptasi dan tahan mengingat stimulus itu disebut inteligensinya tinggi.
b. Proses
Unsur-unsur yang terlibat dalam proses kegiatan belajar mengajar adalah kurikulum, materi pelajaran, pendekatan dan metode, cara menilai, sarana dan media, sistem administrasi, guru dan personal lainnya. Unsur-unsur tersebut saling berinteraksi secara fungsional satu sama lain dalam rangka kelancaran kegiatan belajar mengajar. Jadi tidak berdiri sendiri.
Untuk mengevaluasi proses dapat dilakukan dengan menyajikan soal tertulis. Di samping itu evaluasi proses dapat dilakukan melalui observasi .
c. Keluaran (output)
Output pendidikan dan latihan dalah lulusan suatu jenjang pendidikan tertentu. Namun dalam hal kegiatan belajar mengajar, yang disebut output adalah kondisi setelah kegiatan belajar mengajar (proses) dilaksanakan, baik untuk 1 kali pertemuan, 1 semester, atau bahkan setelah lulus pada tingkat akhir. Evaluasi terhadap output ini dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh tingkat pencapaian peserta didik setelah menjalani proses belajar mengajar.

2) Evaluasi Hasil Belajar
Evaluasi hasil belajar dapat dilakukan pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung atau sesudahnya. Selama kegiatan belajar mengajar berlangsung, peserta didik dapat dievaluasi melalui tanya jawab lisan sambil mengarahkannya pada konsep atau materi baru. Evaluasi pada akhir kegiatan dapat dilaksanakan pada setiap akhir pertemuan, pada setiap minggu, setiap akhir program.
Evaluasi hasil belajar sifatnya berupa tes kemampuan, yaitu mengukur sampai sejauh mana tingkat penguasaan materi pelajaran yang telah disajikan dalam kegiatan belajar mengajar.

C. Aspek-Aspek yang Dievaluasi Dalam Kurikulum

Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, sikap, keterampilan yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh siswa dalam melaksanakan tugas kehidupannya. Berdasarkan pengertian ini, maka secara garis besar aspek-aspek yang dinilai dalam penilaian berbasis kompetensi meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotor atau kompetensi intelektual, emosional (ahlak dan moral), spritual, dan keterampilan.
Sejalan dengan hal tersebut diatas, Benyamin S. Bloom dan (1956), telah mengklasifikasi tujuan pendidikan yang dikenal dengan Taksonomi Bloom. Bloom mengelompokkan kemampuan manusia ke dalam tiga ranah (domain), yaitu: (1) Ranah kognitif (cognitive domain), (2) Ranah afektif (affective domain), dan (3) Ranah psikomotor (psychomotorik domain). Baru-baru ini, taksonomi ini telah direvisi oleh sekelompok siswa Bloom (Anderson et al., 2001) dan beri nama baru taxonomy for learning, teaching, and assessing (taksonomi untuk belajar, mengajar, dan menilai).
Seperti disiratkan oleh namanya, taksonomi yang telah direvisi ini memberikan kerangka kerja dalam mengklasifikasikan tujuan belajar dan cara untuk menilainya.

Dimensi Pengetahuan Dimensi Proses Kognitif
C1Mengingat

C2Memahami

C3Menerapkan

C4Menganalisis

C5Mengevaluasi

C6Menciptakan

A. PengetahuanFaktual
B. Pengetahuan Konseptual
C. Pengetahuan Prosedural
D. Pengetahuan Metakognitif
Sumber : Adrerson et al. (2001), hlm.28

Taksonomi Bloom yang telah direvisi itu bersifat dua dimensi. Salah satu dimensinya, dimensi pengetahuan, mendeskripsikan berbagai tipe pengetahuan mengorganisasikan pengetahuan menjadi pengetahuan kognitif. Kategori-kategori tersebut terletak di sepanjang kontinum yang bergerak mulai dari pengetahuan yang sangat konkret (faktual) sampai yang lebih abstrak (metakognitif). Dimensi kedua, dimensi proses kognitif (cara berpikir) berisi enam kategori: remember (mengingat), understand (memahami), apply (menerapkan), analyze (mengaanaalisis), evaluate (mengevaluasi), dan create (menciptakan). Seperti halnya dimensi pengetahuan, dimensi proses kognitif juga diasumsikan terletak di sepanjang kontinum kompleksitas kognitif. Sebagai contoh, memahami sesuatu lebih kompleks dibanding semata-mata meningatnya saja; menerapkan dan menganalisis suatu ide lebih kompleks dari sekadar memahami ide itu. Tabel 1 menunjukkan kedua dimensi taksonomi itu dan hubungan antara dimensi pengetahuan dan dimensi pro¬ses kognitif.
Kategori-Kategori Dimensi Pengetahuan. Taksonomi yang telah direvisi itu membagi pengetahuan menjadi empat kategori: Pengetahuan faktual termasuk elemen-elemen dasar yang perlu diketahui siswa yang akan dipelajari dengan sebuah topik. Pengetahuan konseptual adalah pengetahuan tentang saling keterkaitan di antara elemen-elemen dasar. Pengetahuan prosedural adalah mengetahui cara mengerjakan “sesuatu”. Penge¬tahuan metakognitif adalah pengetahuan tentang kognisi siswa sendiri dan pengetahuan tentang kapan menggunakan pengetahuan konseptual atau prosedural tertentu. Tabel 2 menjelaskan keempat tipe utama pe¬ngetahuan dan contohnya masing-masing.

BEBERAPA TIPE DAN SUB-TIPE UTAMA CONTOH
A PENGETAHUAN FAKTUAL elemen-elemen dasar yang harus diketahui siswa, yang dipelajari dengan sebuah disiplin atau dengan menyetesaikan masalah yang ada di dalamnya.
Aa Pengetahuan tentang terminologi Perbendaharaan kata teknis, simbol-simbol musik.
Ab Pengetahuan tentang detail-detail dan elemen-elemen yang spesifik Sumber-sumber alam utama, sumber-
sumber informasi yang dapat dipercaya.

B PENGETAHUAN KONSEPTUAL

Saling keterkaitan di antara elemen-elemen dasar dalam struktur yang lebih besar yang memungkinkan mereka untuk berfungsi bersama-sama.
Ba Pengetahuan tentang klasifikasi dan kategori • Periode-periode waktu geologis,
• bentuk-bentuk kepemilikan usaha/ bisnis.
Bb Pengetahuan tentang prinsip dan generalisasi • Dalil Pythagoras, hukum supply and demand (penawaran dan permintaan),
Bc Pengetahuan tentang teori, model, dan struktur • Teorievolusi, struktur pemerintahan,
• Struktur DPR, dsb.
C PENGETAHUAN PROSEDURAL

Bagaimana cara melakukan sesuatu, metode penyelidikan, dan kriteria untuk menggunakan berbagai keterampilan, algoritma, teknik, dan metode.

Ca Pengetahuan tentang berbagai keterampilan spesifik-subjek dan algoritma • Berbagai keterampilan yang digunakan dalam menggambar dengan cat air
• Algoritma pembagian bilangan bulat.
Cb Pengetahuan tentang berbagai teknik dan metode Spesifik-subjek Teknik-teknik wawancara, metode ilmiah.
Cc Pengetahuan tentang krtteria untuk menentukan kapan meng-gunakan prosedur yang tepat • Kriteria yang digunakan untuk menentukan kapan menerapkan prosedur yang melibatkan hukum Kedua Newton
• Kriteria yang digunakan untuk menilai fisibilitas penggunaan metode tertentu untuk mengestimasikan biaya usaha.

Tabel 2. Tipe-Tipe Utama Pengetahuan daiam Dimensi Pengetahuan

BEBERAPA TIPE DAN SUB-TIPE UTAMA CONTOH
A PENGETAHUAN FAKTUAL elemen-elemen dasar yang harus diketahui siswa, yang dipelajari dengan sebuah disiplin atau dengan menyetesaikan masalah yang ada di dalamnya.
Aa Pengetahuan tentang terminologi Perbendaharaan kata teknis, simbol-simbol musik.
Ab Pengetahuan tentang detail-detail dan elemen-elemen yang spesifik Sumber-sumber alam utama, sumber-
sumber informasi yang dapat dipercaya.

B PENGETAHUAN KONSEPTUAL Saling keterkaitan di antara elemen-elemen dasar dalam struktur yang lebih besar yang memungkinkan mereka untuk berfungsi bersama-sama.
Ba Pengetahuan tentang klasifikasi dan kategori ·       Periode-periode waktu geologis,
·       bentuk-bentuk kepemilikan usaha/ bisnis.
Bb Pengetahuan tentang prinsip dan generalisasi ·       Dalil Pythagoras, hukum supply and demand (penawaran dan permintaan),
Bc Pengetahuan tentang teori, model, dan struktur ·       Teorievolusi, struktur pemerintahan,
·       Struktur DPR, dsb.
C PENGETAHUAN PROSEDURAL Bagaimana cara melakukan sesuatu, metode penyelidikan, dan kriteria untuk menggunakan berbagai keterampilan, algoritma, teknik, dan metode.

Ca Pengetahuan tentang berbagai keterampilan spesifik-subjek dan algoritma ·      Berbagai keterampilan yang digunakan dalam menggambar dengan cat air
·      Algoritma pembagian bilangan bulat.
Cb Pengetahuan tentang berbagai teknik dan metode Spesifik-subjek Teknik-teknik wawancara, metode ilmiah.
Cc Pengetahuan tentang krtteria untuk menentukan kapan meng-gunakan prosedur yang tepat ·       Kriteria yang digunakan untuk menentukan kapan menerapkan prosedur yang melibatkan hukum Kedua Newton
·       Kriteria yang digunakan untuk menilai fisibilitas penggunaan metode tertentu untuk mengestimasikan biaya usaha.

D PENGETAHUAN METAKOGNITIF Pengetahuan tentang kognisi secara umum maupun kesadaran dan pengetahuan tenteng kognisinya sendiri.
Da Pengetahuan strategis ·      Pengetahuan tentang membuat ikhtisar sebagai cara menangkap struktur sebuah unit subjek dalam sebuah textbook
·      Pengetahuan tentang penggunaan heuristik
Db Pengetahuan tentang tugas-tugas kognitif, termasuk pengetahuan kontekstual dan kondisional yang tepat ·       Pengetahuan tentang tipe-tipe tes yang di administrasikan guru-guru tertentu
·       Pengetahuan tentang tuntutan kognitif berbagai tugas.
Dc Pengetahuan tentang diri-sendiri ·      Pengetahuan bahwa mengkritik esai adalah kekuatan personal, sedangkan menulis esai adalah kelemahan personal;
·      Kesadaran tentang tingkat pengeta-huannya sendiri.
Sumber : Adrerson et al. (2001), hlm.29

Tabel 3. Dimensi Proses Kognitif dan Proses Kognitif yang Terkait
KATERGORI PROSES PROSES KOGNITIF DAN CONTOH
1 Remember (mengingat) MengambIl pengetahuan yang relevan dari ingatan jangka panjang
1.1 Recognizing (mengenali) (misalnya, mengenali tanggal peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah)
1.2 Recalling (mengingat kembali) (misalnya, mengingat kembali tanggal peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah)
2 Understand (memahami) Mengonstruksikan makna dari pesan-pesan instruksional, termasuk komunikasi lisan, tulisan, dan grafis
2.1 Interpreting (menginterpretasikan) (misalnya, menafsirkan pidato dan dokumen penting)
2.2 Exemplifying (memberi contoh) (misalnya, memberikan contoh berbagai gaya lukisan artistik)
2.3 Classifying (mengklasifikasikan) (misalnya, mengklasifikasikan kasus-kasus gangguan mental)
2.4 Summarizing (merangkum) (misalnya, menulis ringkasan pendek dari rekaman peristiwa tertentu)
2.5 Inferring (menyimpulkan) (misalnya, dalam mempelajari bahasa asing, menyimpulkan prinsip gramatikal dari contoh-contoh)
2.6 Comparing (membandingkan) (misalnya, membandingkan peristiwa bersejarah dengan situasi sekarang)
2.7 Explaining (menjelaskan) (misalnya, menjelaskan penyebab peristiwa penting abad kedelapan belas di Perancis)
3 Apply (menerapkan) Melaksanakan atau menggunakan prosedur dalam situasi tertentu
3.1 Executing (melaksanakan) (misalnya, membagi sebuah bilangan bulat dengan bilangan bulat lain, keduanya dengan banyak digit)
3.2 Implementing (menglmplementasikan) (misalnya, menentukan dalam situasi mana hukum Newton kedua dapat diterapkan)
4 Analyze (menganalisis) Memecah materi menjadi bagian-bagian konstituen dan menentukan hubungan antara satu bagian dengan bagian lain dan dengan struktur atau maksud keseluruhan
4.1 Differentiating (mendiferensiasikan) (misalnya, membedakan antara bilangan yang relevan dan tidak relevan dalam soal kalimat matematika)
4.2 Organizing (mengorganisasikan) (misalnya, bukti struktur dalam deskripsi historis menjadi bukti-bukti yang mendukung dan yang bertentangan dengan penjelasan historis tertentu)
4.3 Attributing (mengatribusikan) (misalnya, menentukan sudut pandang penulis sebuah esai dalam kaitannya dengan perepektif politisnya
5 Evaluate (mengevaluasi) Membuat judgment berdasarkari kriteria atau standar.
5.1 Checking (mengecek) (misalnya, menentukan apakah kesimpulan seorang ilmuwan sesuai dengan data yang terobservasi)
5.2 Critiquing (mengkritik) (misalnya, memutuskan mana di antara dua metode yang merupakan cara terbaik untuk menyelesaikan masalah tertentu)
6 Menciptakan (Creating) Meletakkan unsur-unsur secara bersama untuk membentuk sesuatu yang koheren atau fungsional
6.1 Reorganizing (mengorganisasikan kembali) Mereorganisasi unsur-unsur ke dalam pola baru atau struktur baru dengan cara membangun (generating), merencanakan (planning) atau memproduksi (producing).

baca selengkaapnya di sini EVALUASI PENDIDIKAN-rev

About suaidinmath

Mohon kontribusi untuk menambal retak dan menambah langkah kesempurnaan tulisan ini ...

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Hari ini

Desember 2014
S S R K J S M
« Okt   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Statistik Blog

  • 1,760,511 hit

Arsip blog

Award Blog Pendidikan 2012

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 259 pengikut lainnya

Dunia Pendidikan

Teratas

RSS Republika online

  • Ribuan Muslim Semarakkan Morowali Mengaji 6 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, MOROWALI—Ribuan jamaah umat Islam larut melantunkan ayat-ayat suci Alquran dalam Morowali Nusantara Mengaji.  Acara yang dimotori dan digagas oleh Bupati Morowali, Anwar Hafiz dalam rangka HUT Kabupaten ke-17 ini...
    Nasih Nasrullah
  • Ini Alasan Mantan Ketua DPR Akom Ingin 'Melawan' Putusan MKD 6 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mantan Ketua DPR Ade Komarudin, akan melakukan langkah-langkah terhadap keputusan MKD, yang pada Rabu (30/12) memberhentikannya sebagai ketua DPR. Pria yang akrab disapa Akom itu mengaku...
    Nur Aini

RSS educatinalwithptk

newsalloy

NewsAlloy button

MUSIK

suara Edukasi

 

 http://radioedukasi.com/modules/mod_miniradio/mod_miniradio.swf

suara_edukasi

RADIO EDUKASI

Live Streaming AM 1251 kHz

Silahkan unduh produk audio radio Suara edukasi

[KLIK DISINI]

Zaimuttpjok/tik

BERBAGI INFORMASI PENDIDIKAN DAN KISAH HIDUP

isti

Berilah makan keyakinanmu niscaya keraguanmu mati kelaparan

ANNISA USH SHOLIHAH

ALL ABOUT CHEMIS_3 (sharing for carring)

Dinas Dikpora Kab. Dompu

Ikhlas Mendidik Untuk Martabat Bangsa dan Negara

Vox Populi

Vox Populi: A Public Sphere for Politics and Poetry

Architecture Here and There

Style Wars: classicsm vs. modernism

Stories From the Belly

A Blog About the Female Body and Its Appetites

mywordpool

"Words - so innocent and powerless as they are, as standing in a dictionary, how potent for good and evil they become in the hands of one who knows how to combine them." ~Nathaniel Hawthorne

Fusion

Championing a young, diverse, and inclusive America with a unique mix of smart and irreverent original reporting, lifestyle, and comedic content.

Whatever

LET ME STEAL THIS MOMENT FROM YOU NOW

rachel eats

stories, pictures and cooking tales from an english woman living in rome.

y

what it comes down to

tangerine drawings

scribbles and recipes from a pastry chef in paris

Extra Dry Martini

Straight up, with a twist.

Gravity and Levity

A blog about the big ideas in physics, plus a few other things

love.life.eat

living a mindful life

%d blogger menyukai ini: