//
you're reading...
Dunia Pendidikan

SUPERVISI KLINIK SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KEPALA SEKOLAH MEMBUAT PERENCANAAN PROGRAM MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH (MBS)

IMG_0531Tuntutan arus reformasi yang kuat telah membuat perubahan mendasar di berbagai bidang. Landasan-landasan konstitusi yang lahir mengikuti arus reformasi seperti UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah, PP No. 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonum, serta UU Pendidikan No. 20 tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional yang dibarengi oleh PP No. 19 tahun 2005 memaksa Pemerintah Indonesia berbalik haluan dalam mengelola pendidikan Indonesia dari sistim sentralisasi ke sistim desentralisasi.
UU No. 20 tahun 2003 pasal 51 serta penjelasannya memberi arah pelaksanaan pendidikan yang otonum dan PP No. 19 tahun 2005 memberi arah penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Berdasarkan landasan hukum tersebut satu-satunya harapan pemerintah Indonesia dalam mengelola pendidikan adalah lewat penerapan MBS dan kepala sekolah mau tidak mau mesti melaksanakannya dalam pengelolaan sekolah. Untuk bisa melaksanakannya, kepala sekolah harus memahami dulu apa yang disebut MBS. Bila tidak, bisa saja apa yang dikerjakan dalam mengelola sekolah bisa saja seperti manajemen batu menggelinding artinya tidak ada arah yang jelas.
Data temuan Bank Dunia (Bejo Sujanto, 2007: 33) menyatakan bahwa kemampuan manajemen para kepala sekolah pada umumnya rata-rata rendah, terutama di sekolah-sekolah negeri. Kemampuan manajemen yang rendah mengarah pada ketidakmampuan kepala-kepala sekolah membuat perencanaan program karena perencanaan merupakan salah satu dari keempat unsur manajemen yaitu: perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating) dan pengawasan (controlling). (Bintoro Tjokroamidjojo, 2001: 34).
Munculnya fakta di lapangan berupa sebuah pernyataan bahwa Program Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) dan Program MPMBS adalah program MBS perlu dikaji. Kajiannya adalah bahwa RPS tidak sama dengan MBS. Program RPS tidak sama dengan program MBS. Program MPMBS juga tidak sama dengan program MBS. MBS mempunyani cakupan yang lebih luas dari MPMBS (Sudarwan Danim, 2006: 28)
Fakta dan data lapangan yang merupakan kelemahan-kelemahan kepala sekolah dalam membuat rancangan program MBS telah terdeteksi pada pengawasan rutin setiap tahunya. Salah satu contohnya  bukti ketidakmampuan kepala sekolah membuat perencanaan program MBS dan merupakan sakitnya dunia pendidikan di salah satu bagian dari Indonesia tercinta ini. Apabila sakit ini juga merupakan sakit dari kepala-kepala sekolah pada umumnya di Indonesia maka kemajuan pendidikan di Indonesia akan berjalan sangat lamban dan tidak sesuai dengan harapan pemerintah pusat maupun harapan kita semua.
Dasar MBS (PP No. 19 tahun 2005) adalah kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan dan akuntabilitas. Salah satu ciri dari kemandirian adalah dapat mengatasi kepentingan sendiri tanpa bergantung pada orang lain (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 513). Walaupun kepala-kepala sekolah meminjam program temannya dalam membuat perencanaan program tapi yang baik adalah tidak menuruti begitu saja contoh tersebut tanpa membuat pengembangan-pengembangan sesuai kemampuan sendiri yang memenuhi prinsip-prinsip otonomi, akuntabilitas, jaminan mutu, dan evaluasi yang transparan (Pasal 5, Ayat 2 UU No. 20 Tahun 2003).
Ketidakmampuan kepala sekolah membuat program MBS merupakan bumerang bagi kemajuan pendidikan di Indonesia mengingat tuntutan MBS adalah agar pelaku program pendidikan dan pembelajaran lebih profesional serta adanya keterlibatan aktif berbagai pelaku pendidikan termasuk pula adanya proses pembelajaran yang inovatif dan accountable (Umaedi, Hadiyanto, Siswantari, 2007: 4). Ketidakmampuan kepala sekolah membuat perencanaan program MBS secara mandiri perlu dipertanyakan sebab-sebabnya dan perlu dicarikan jalan pemecahannya. Oleh karenanya pembinaan oleh pengawas sekolah ini penting untuk dilakukan.

PERMASALAHAN
Dapatkah Pebinaan melalui supervisi klinik membantu meningkatkan kemampuankepaa sekolah dalam membuat perencanaan program MBS?

CARA PEMECAHAN MASALAH

a. Perencanaan dimulai dengan menetapkan metode-metode pengumpulan data yaitu: wawancara/interview dan studi dokumen. Selanjutnya membuat instrumen Pembinaan
b. Dilanjutkan dengan pelaksanaan yaitu: wawancara terhadap kepala sekolah untuk mendapat data primer dan wawancara terhadap wakil kepala sekolah, guru senior, orang Litbang di sekolah, pegawai tata usaha dan komite sekolah untuk mendapat data sekunder. Ketepatan informan akan digunakan untuk pengecekan reliabilitas data. Setelah berhasil meminta program MBS , dilanjutkan dengan memberi bimbingan agar mereka paham apa yang disebut MBS, apa batasan-batasannya, landasan-landasan hukumnya. Selesai melakukan bimbingan, bersama  mereka mendampingi untuk membuat perencanaan program MBS yang baru. Bimbingan dilakukan sesuai arti supervisi yaitu mengamati, mengawasi, membimbing dan menstimulir kegiatan-kegiatan orang lain dengan maksud untuk perbaikan (Hendiyat Soetopo dan Wasty Soemanto, 1988: 57). Langkah supervisi klinik pada tahap ini disebut pertemuan awal (Goldhammer dalam Thursby, 1981).

c. Pengamatan/ pengumpulan data.

Di sini dilakukan observasi dengan mencek apakah mereka sudah mengerti cara membuat perencanaan program MBS.  mereka mempertunjukkan secara lisan apa yang mereka mampu lakukan (unjuk kerja), mengecek apakah bimbingan sebelumnya ada manfaatnya. Terakhir meminta perencanaan program MBS yang telah dibuat yang merupakan perbaikan program MBS yang pernah mereka buat.

d. Rrefleksi.

Di sini dilakukan penilaian terhadap program MBS yang telah dibuat, mengecek apakah petunjuk-petunjuk yang telah diberikan telah ditulis dalam program, mencek data sekunder yang merupakan hasil interview dengan staf sekolah dan komite (untuk pengecekan validitas internal data yang didapat), menulis pertimbangan-pertimbangan, masukan-masukan, memberi komentar, mencatat kelemahan-kelemahan yang ada, mencek apakah acuan-acuan hukum yang ada sudah merupakan dasar pembuatan perencanaan program (sebagai acuan validitas external data). Selanjutnya dilakukan analisis deskriptif baik untuk data kuantitatif maupun data kualitatif. Untuk data kuantitatif dilakukan pencarian mean, persentase kenaikan, juga diberikan penyajian data dalam bentuk tabel. Untuk data kualitatif dilakukan penyusunan data, kategorisasi data, interpretasi data, menelaah data dengan pengetahuan, ide-ide, konsep-konsep, membuat bandingan-bandingan, menyusun hubungan antar kategori, interpretasi dan kesimpulan hasil interpretasi hubungan kategori, dicari makna sebagai kesimpulan. Tahap ini dalam supervisi klinik dikenal sebagai tahap analisis dan strategi. Strategi yang dimaksud adalah pengambilan kesimpulan untuk strategi tindakan selanjutnya.
Setelah hasil refleksi I mendapat hasil yang cukup, dilanjutkan dengan siklus II untuk mendapat hasil yang lebih baik yang langkahnya sama dengan siklus I, dan dilakukan dengan langkah-langkah supervisi yang lebih intensif seperti: bimbingan-bimbingan, tugas-tugas serta unjuk kerja, tanya jawab lebih diintensifkan, begitu pula observasi dilakukan dengan intensif sesuai arti observasi yaitu peninjauan secara cermat, pengamatan yang cermat, lebih menukik pada landasan-landasan hukum. Belajar diupayakan lewat kesalahan-kesalahan yang ada sebelumnya sehingga dapat diyakini bahwa peningkatan kemajuan akan terjadi.
Upaya-upaya pengobatan tidak hanya dilakukan pada kepala sekolah saja mengingat unsur-unsur MBS adalah kemitraan, partisipasi, keterbukaan, akuntabilitas. Upaya pengobatan juga dilakukan pada wakil kepala sekolah, guru senior, orang Litbang, kepala tata usaha dan komite sekolah. Mereka ini adalah tulang punggung kepala sekolah yang bisa memberi masukan-masukan yang positif terhadap kemajuan sekolah dan juga terhadap pembuatan perencanaan program MBS. Jadi orang-orang tersebut juga diberikan bimbingan, diajak berdiskusi tentang MBS, dilakukan tanya jawab, diberi tugas, disuruh menunjukkan kemampuan mereka dihadapan peneliti tentang MBS, tentang program yang pernah dibuat dengan harapan agar dapat berbincang-bincang lebih lama dan dari hati ke hati. Semua langkah-langkah di atas merupakan langkah-langkah klinik/pengobatan yang dilakukan dengan harapan terakhir akan menelorkan hasil berupa kemampuan membuat perencanaan program MBS. Dengan semua langkah-langkah pengobatan telah dilakukan akan timbullah keyakinan bahwa hasil yang didapat akan terus meningkat. Selanjutnya agar pembinaan ini tidak terlihat asal-asalan, maka yang dicari bukanlah sekedar ada peningkatan, tetapi peningkatan yang dapat diukur dengan rumus-rumus statistika, dengan kata lain ada peningkatan yang benar dan signifikan.

TEORI PENDUDKUNG

Pengertian Supervisi
Pendapat-pendapat tentang supervisi dapat disampaikan sebagai berikut:
Daryanto (2005: 84) mengatakan bahwa supervisi adalah aktivitas menentukan kondisi/syarat-syarat yang esensial yang akan menjamin tercapainya tujuan pendidikan. Hendiyat Soetopo dan Wasty Soemanto (1988: 57), arti supervisi adalah mengamati, mengawasi, atau membimbing dan menstimulir kegiatan-kegiatan orang lain dengan maksud untuk perbaikan. Mantja (2005: 1) mengatakan bahwa supervisi mulai dikenalkan di Indonesia pada saat berlakunya Kurikulum 1975. Supervisi sama dengan kepengawasan dalam tujuan-tujuan memperbaiki dan meningkatkan kinerja guru, berfungsi sebagai monitoring, kegiatannya memiliki fungsi manajemen serta berorientasi pada tujuan pendidikan. Perbedaannya adalah kepengawasan lebih berkaitan dengan sejauhmana rencana yang telah ditetapkan tercapai. Supervisi lebih peduli pada upaya-upaya membantu guru untuk perbaikan dan peningkatan kemampuan. Muhammad Azhar (1996: 43) mengatakan bahwa supervisi adalah bantuan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah untuk meningkatkan kemampuan untuk menjalankan tugas dan bertujuan untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan. Sindu Mulianto, Eko Ruddy Cahyadi, Muhamamd Karabet Widjajakusuma (2006: 3) menulis bahwa supervisi berasal dari Bahasa Inggris super dan vision. Super berarti sifat lebih hebat, istimewa dan vision adalah visi atau seni melihat sesuatu atau juga melihat tingkah, ulah dan kerja orang lain. Langkah-langkah supervisi yang bisa dilakukan antara lain: pengorganisasian, manajemen, presentasi, instruksi kerja, disiplin kerja, produktivitas kerja, pendidikan dan pelatihan untuk bawahan, teknik konseling, team work, penilaian kinerja.
Dengan pengertian-pengertian di atas jelaslah bahwa supervisi merupakan kegiatan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah termasuk kepala sekolah dalam membantu meningkatkan kemampuan mereka yang akan menjamin tercapainya tujuan pendidikan.

Supervisi Klinik
Istilah klinik berasal dari bahasa Inggris Clinic yang dalam kamus Webster’s New American Dictionary artinya Free Treatment of Patients or Performance of Operations in the Presence of Students. Bila dicoba diartikan dalam bahasa Indonesia bahwa klinik merupakan perlakuan bebas atau pengobatan bebas terhadap pasien. Bisa juga diartikan perbuatan/perlakuan oprasi/pertunjukan pengerjaan dihadapan murid-murid (Webster’s New American Dictionary, halaman 202). Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (halaman 440), kata klinis tidak ada, yang ada adalah kata klinik. Kata klinik berarti pengobatan. Cogan (1973) memilih kata klinik untuk menggambarkan dan memberikan tekanan khusus pada observasi kelas.
Shane dan Weaver 1976 (dalam Mantja, 2005) menjelaskan bahwa supervisi klinik adalah sistim penunjang profesional. Sistim itu dapat mendorong perkembangan komponen personal, sosial, akademik dan pola pikir guru untuk memperbaiki serta meningkatkan instruksionalnya dan sekaligus juga meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswanya di kelas. Masih dalam Mantja, Flanders (1976) melihat supervisi klinik dari aspek analisis interaksinya. Supervisi klinik adalah kasus khusus pengajaran dimana sekurang-kurangnya ada dua orang yang memiliki kepedulian terhadap perbaikan pengajaran, dan sekurang-kurangnya salah seorang diantaranya adalah guru yang kinerjanya perlu diperhatikan dan dikaji secara cermat.
Dari kutipan di atas jelaslah supervisi klinik dapat digunakan untuk memperbaiki kinerja dan profesionalisme, baik profesionalisme guru maupun profesionalisme kepada sekolah.
Ngalim Purwanto (1998) menyatakan bahwa supervisi klinik adalah supervisi yang pelaksanaannya lebih ditekankan pada mencari sebab-sebab atau kelemahan-kelemahan yang terjadi dalam proses belajar mengajar dan kemudian secara langsung pula diusahakan bagaimana cara memperbaiki kelemahan-kelemahan atau kekurangan-kekurangan yang ada.
Cogan (1973) mengemukakan delapan tahapan siklus supervisi klinik yaitu: 1) tahap membangun dan memantapkan lembaga-lembaga supervisi guru, 2) tahap perencanaan bersama guru, 3) tahap perencanaan strategi observasi, 4) tahap observasi penampilan pengajaran, 5) tahap analisis, 6) tahap perencanaan strategi pertemuan akhir, 7) tahap pertemuan akhir, 8) tahap penjajagan pertemuan berikutnya. Goldhammer (dalam Thursby, 1981) mengemukakan 5 siklus supervisi klinik yang terdiri dari: 1) pertemuan sebelum observasi, 2) observasi, 3) analisis dan strategi, 4) pertemuan supervisi dan 5) analisis pertemuan akhir supervisi.
Dari sejumlah pendapat yang penulis sampaikan di atas jelaslah bahwa supervisi klinik adalah bagian dari supervisi yang khusus tujuannya untuk pengobatan. Langkah-langkah yang dilakukan seperti: memberi bimbingan, melakukan pengamatan, mengawasi, menentukan kondisi, memperbaiki yang belum baik, memonitor, meningkatkan kemampuan, merencanakan, mengorganisasikan, memberi instruksi untuk bekerja, mendidik/melatih bawahan, menilai kinerja dan lain-lain.
Langkah-langkah supervisi yang lain dikemukakan oleh: Dirjen Dikti (http://klinik pembelajaran.com (Com/KP2007/layanan/bimbingan dan supervisi) menulis: bimbingan diarahakn untuk menemukan dan memfokuskan masalah, merumuskan masalah, merencanakan perbaikan, melakukan perbaikan, menulis laporan. Sedangkan acara pelatihan clinic instructure di Universitas Brawijaya (http://my.brawijaya.ac.id/main/news/id/event/detail.php?Id=174), kegiatan klinic cukup banyak bisa dikembangkan seperti: pembelajaran, metode pembelajaran, diskusi, pembimbingan, simulasi, prakek, pre-conference, post conference, sidang pleno, evaluasi, rangkuman hasil dan pelaporan.
Apabila dilihat pendapat-pendapat yang begitu banyak di atas, jelas dapat dilihat bahwa supervisi klinik mempunyai langkah-langkah yang cukup banyak seperti memberi bimbingan, memberi kesempatan untuk berdiskusi, memberi kesempatan untuk menampilkan kemampuan, merumuskan masalah-masalah yang ada, menganalisis, merencanakan, merencanakan strategi, melakukan perbaikan, melaporkan, melakukan praktek, melakukan pembelajaran, melakukan simulasi. Langkah-langkah yang dilakukan terus berkembang dan bervariasi mengikuti cara-cara pengobatan yang bisa dilakukan secara maksimal. Langkah-langkah yang digunakan dalam penelitian ini adalah bimbingan, observasi, tanya jawab, memberi kesempatan pada mereka untuk berdiskusi, observasi, penugasan dalam bentuk unjuk kerja dan bersama-sama melakukan studi dokumen. Langkah-langkah ini diyakini merupakan langkah-langkah supervisi klinik yang jitu, yang akan dapat memecahkan masalah yang ada.

Kemampuan Membuat Perencanaan Program MBS

Kata kemampuan mempunyai arti sebagai kesanggupan, kekuatan untuk melakukan sesuatu (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 51). Kata kemampuan dalam bahasa Inggris adalah ability (Kamus Umum Lengkah Inggris-Indonesia Indonesia-Inggris, 318) yang artinya adalah kecakapan, kemampuan. Dalam Kamus Webster’s New American Dictionary halaman 3 kata ability berarti state of being able, power to preform, possession of enough strenght or skill to accomplish a given task. Bila dicoba menjadikan bahasa Indonesia, arti ability tersebut adalah betul-betul mampu, kekuatan performansi, dan arti yang terakhir yang merupakan kajian dan berhubungan tepat dengan pengukuran yang hendak dilaksanakan dalam penelitian ini adalah pemilikan kekuatan atau kecakapan yang cukup untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan.
Perencanaan program MBS adalah perencanaan program yang dibuat oleh kepala sekolah untuk bisa MBS itu terlaksana dengan baik di sekolah. Batasan perencanaan program MBS tertera dalam pasal 49 PP 19 tahun 2005 yaitu memiliki azas kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan dan akuntabilitas. Batasan yang lain adalah yang tertera dalam sejumlah pasal UU No. 20 tahun 2003 seperti pasal 4, 8, 35, 57, 58, 59, 60 dan pasal-pasal lain yang ada pada PP No. 19 tahun 2005. Sedangkan tuntutan yang ada adalah meningkatkan akuntabilitas sekolah dan komitment semua stakeholder (Umaedi, Hadiyanto, Siswantari, 2007: 4-9) serta menuntut adanya perubahan prilaku organisasi.
Pengertian Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dapat disampaikan sebagai berikut: 1) Penggunaan sumber daya yang berasaskan pada sekolah itu sendiri dalam proses pemberdayaan (Nurcolis, 2003: 1). 2) Model manajeman yang membrikan otonomi lebih luas pada sekolah, memberi keluesan pada sekolah, mendorong partisipasi secara langsung pada warga sekolah dan masyarakat untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional serta peraturan perundang-undangan yang berlaku (Depdiknas, 2006: 3). Metode pengelolaan sekolah yang berdasar pada kekhasan, karakteristik, kebolehan, kemampuan, kebutuhan sekolah dan bukan perintah atasan (Slamet, 2004: 3).
Dari semua pengertian, landasan-landasan, hukum, unsur-unsur, penjelasan-penjelasan, batasan-batasan, serta tuntutan-tuntutan yang ada dalam MBS maka kalimat yang berbunyi kemampuan membuat perencanaan program MBS dapat disimpulkan merupakan kemampuan atau kecakapan yang cukup yang harus dimiliki oleh kepala-kepala sekolah dalam menyusun perencanaan program MBS dengan memperhatikan landasan-landasan hukum yan ada, unsur-unsur dalam MBS, penjelasan-penjelasan pengertian MBS, batasan-batasan yang ada serta tuntutan-tuntutannya.

Model Evaluasi Program
Model evaluasi program ada lebih dari 10 buah. Beberapa diantaranya adalah evaluasi program berorientasi pada tujuan, evaluasi program berdasar pada manajemen, evaluasi program berorientasi pada konsumen, dan lain-lain. Stufflebeam mengembangkan model CIPP sebagai reaksi terhadap pengujian prilaku berdasarkan tujuan – Tyler, design ekperimental dan berdasarkan atas pandangan bahwa tujuan evaluasi yang sangat penting bukanlah untuk membuktikan tetapi untuk perbaikan (Wadsworth, 1993: 85).
Model CIPP (Contex Evaluation, Input Evaluation, Process Evaluation and Pruduct Evaluation) adalah model evaluasi yang berusaha untuk memberikan informasi bagi pengambil keputusan. Menurut Stufflebeam yang dikembangkan oleh Worthen et.al. (1997: 98) evaluasi model ini merupakan suatu proses menggambarkan, memperoleh dan menyediakan informasi yang berguna untuk menilai alternatif keputusan. Tetapi seperti dikemukakan oleh Stufflebeam sendiri, dalam pelaksanaannya seorang evaluator tidak selalu harus mempergunakan keempatnya.
Model evaluasi program CIPP ini sudah cukup banyak digunakan dan menjadi landasan dalam penelitian ini untuk bisa menilai perencanaan program yang dibuat oleh kepala-kepala sekolah. Upaya ini dilakukan untuk dapat mencek apakah semua unsur yang mesti ada dalam perencanaan program sudah dimasukkan seperti unsur konteks, input, proses dan output/product.
Evaluasi program merupakan hal yang rumit dilakukan dan biasanya menggunakan personil yang cukup banyak, namun demikian demi adanya peningkatan keualitas penelitian yang sekaligus dapat membantu meningkatkan kualitas pendidikan di salah satu bagian dari Indonesia ini maka penulis mencoba untuk memberi sumbangan.

Kerangka Berpikir
Kemampuan kepala sekolah dalam membuat perencanaan program MBS belum memadai. Kepala sekolah tidak memiliki buku-buku yang dapat memberi penjelasan tentang apa itu MBS. Mereka belum betul-betul membaca landasan-landasan hukum yang mengacu pada pelaksanaan MBS di sekolah. Mereka masih berpola lama yaitu menunggu perintah dan menunggu petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh pemerintah baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Mereka masih belum mengetahui batasan-batasan yang ada dalam MBS, tujuan MBS, komponen-komponen pendukung MBS, esensi MBS, elemen-elemen pokok MBS serta langkah-langkah MBS.
Berdasarkan fakta dan data yang diperoleh dari hasil pengawasan tahun sebelumnya berupa kelemahan-kelemahan kepala sekolah dalam membuat perencanaan program MBS terbukti dari kepala-kepala sekolah minta agar pengawas mensosialisasikan MBS dihadapan guru-guru dan mereka mengatakan belum paham dengan MBS, maka segera mesti dilakukan upaya-upaya untuk melakukan perbaikan. Pendidikan di Indonesia akan berjalan sangat lamban yang diakibatkan oleh keadaan lapangan yang seperti itu. Bila hal tersebut dibiarkan saja demikian maka Indonesia akan tertinggal jauh dari negara-negara lain. Oleh karenanya timbullah pemikiran-pemikiran untuk dapat memecahkan masalah ini dengan menggunakan supervisi klinik mengingat supervisi ini adalah sistim penunjang profesionalisme (Shane dan Weaver dalam Mantja, 2005).
Berdasar atas pengetahuan tentang MBS yang didasarkan pada landasan-landasan hukum yang ada, buku-buku tentang MBS yang merupakan kajian-kajian teori di atas, peraturan-peraturan Menteri Pendidikan, pengetahuan tentang langkah-langkah supervisi klinik yang jitu, muncul dugaan bahwa Supervisi klinik dapat meningkatkan kemampuan kepala sekolah dalam menyusun perencanaan program MBS.

About suaidinmath

Mohon kontribusi untuk menambal retak dan menambah langkah kesempurnaan tulisan ini ...

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Hari ini

Desember 2014
S S R K J S M
« Okt   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Statistik Blog

  • 1,764,690 hit

Arsip blog

Award Blog Pendidikan 2012

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 259 pengikut lainnya

Dunia Pendidikan

Teratas

RSS Republika online

  • Warga Pidie Jaya Harapkan Bantuan Segera Tersalurkan 9 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, TRIENGGADENG -- Masyarakat korban gempa di Kabupaten Pidie Jaya mengharapkan bantuan dari pemerintah bisa segera tersalurkan. Seperti masyarakat Desa Kuta Pangwa, Kecamatan Trienggadeng, Kabupaten Pidie Jaya, Jumat (9/12). Dimana...
    Sadly Rachman
  • BPBD Magetan Bangun Posko Tanggap Darurat 9 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, MAGETAN -- BPBD Kabupaten Magetan, Jawa Timur, membangun sebuah pos komando (posko) tanggap darurat bencana di wilayah paling rawan tanah longsor guna memberikan penanganan cepat jika sewaktu-waktu terjadi...
    Yudha Manggala P Putra

RSS educatinalwithptk

newsalloy

NewsAlloy button

MUSIK

suara Edukasi

 

 http://radioedukasi.com/modules/mod_miniradio/mod_miniradio.swf

suara_edukasi

RADIO EDUKASI

Live Streaming AM 1251 kHz

Silahkan unduh produk audio radio Suara edukasi

[KLIK DISINI]

Zaimuttpjok/tik

BERBAGI INFORMASI PENDIDIKAN DAN KISAH HIDUP

isti

Berilah makan keyakinanmu niscaya keraguanmu mati kelaparan

ANNISA USH SHOLIHAH

ALL ABOUT CHEMIS_3 (sharing for carring)

Dinas Dikpora Kab. Dompu

Ikhlas Mendidik Untuk Martabat Bangsa dan Negara

Vox Populi

Vox Populi: A Public Sphere for Politics and Poetry

Architecture Here and There

Style Wars: classicsm vs. modernism

Stories From the Belly

A Blog About the Female Body and Its Appetites

mywordpool

"Words - so innocent and powerless as they are, as standing in a dictionary, how potent for good and evil they become in the hands of one who knows how to combine them." ~Nathaniel Hawthorne

Fusion

Championing a young, diverse, and inclusive America with a unique mix of smart and irreverent original reporting, lifestyle, and comedic content.

Whatever

LET ME STEAL THIS MOMENT FROM YOU NOW

rachel eats

stories, pictures and cooking tales from an english woman living in rome.

y

what it comes down to

tangerine drawings

scribbles and recipes from a pastry chef in paris

Extra Dry Martini

Straight up, with a twist.

Gravity and Levity

A blog about the big ideas in physics, plus a few other things

love.life.eat

living a mindful life

%d blogger menyukai ini: