//
you're reading...
Dunia Pendidikan

PENGAWAS SEKOLAH PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN SEBAGAI SUB SISTEM YANG HARUS DIBERDAYAKAN

IMG_0532

Latar Belakang

IMG_0532

Membangun pendidikan merupakan upaya yang tidak akan pernah berhenti selama manusia mempunyai harapan akan mutu kehidupan yang lebih baik bagi keberlangsungan peradaban. Ini tentu saja sesuatu yang logis, etis dan akan memperkuat nilai estetis dalam konteks kehidupan makhluk hidup di dunia.Semua fihak, baik pemangku kepentingan dekat atau jauh, yang terkait dengan pendidikan sebenarnya mempunyai peran masing-masing dalam konteks kesisteman, dan jelas akan memberi andil yang signifikan, disadari atau tidak, terhadap mutu pembangunan pendidikan, karena secara filosofis pendidikan itu adalah kehidupan itu sendiri dengan lingkungannya masing-masing.Kesulitan, (dan bukan ketidakmungkinan) membangun secara sinergis seluruh proses pendidikan (Jalur-jalur pendidikan), membuat focus pembangunan pendidikan lebih menitik beratkan pada jalur formal diikuti dengan jalur non formal dengan tidak ada atau sedikit saja perhatian yang diberikan pada pendidikan informal, hal ini tentu saja akan berdampak pada ketidak seimbangan system pendidikan dalam menopang upaya memperkuat bangunan bangsa secara simultan, oleh karena itu diperlukan suatu strategi yang meskipun partial tapi dapat memperkuat penopang-penopang lainnya dalam memperkuat bangunan bangsa melalui pendidikan.Pendidikan persekolahan pada dasarnya hanya merupakan salah satu proses pendidikan yang terjadi dalam suatu masyarakat, perhatian yang luar biasa terhadapnya telah menimbulkan proses-proses dalam jalur yang lain kurang mendapat perhatian secara sepadan, namun demikian hal ini bukan suatu hal yang perlu dijadikan tertuduh bagi ketertinggalan mutu pendidikan, melainkan harus menjadi penggerak penting bagi upaya-upaya untuk terus membangun, memperkuat, dan meningkatkan mutu pada pendidikan persekolahan, agar dapat memberi dampak pada penguatan pendidikan pada jalur lainnya.
Implikasinya adalah apa dan bagaimana upaya-upaya yang perlu dilakukan guna menjadikan pendidikan formal persekolahan menjadi motor dan agen perubahan yang dapat memberi dampak pada semua jalur pendidikan dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan. Hal ini memerlukan pemikiran bersama serta kerja bersama untuk secara bertahap makin dapat memenuhi kebutuhan dan tuntutan masyarakat terhadap mutu pendidikan serta tuntutan perubahan yang sangat cepat akan mutu persekolahan, yang mau tidak mau memerlukan respons yang cerdas dari tenaga pendidik serta tenaga kependidikan.
Dalam konteks tersebut, Pengawas sebagai tenaga kependidikan yang diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan khususnya persekolahan perlu terus melakukan upaya posisioning yang makin tepat dalam konteks pembangunan pendidikan serta peningkatan mutu pendidikan melalui persekolahan, sehingga peran yang dimainkan akan makin memberi dampak signifikan bagi masyarakat, dan dalam perkembangan dewasa ini, maka orientasi pada mutu nampaknya perlu lebih mendapat perhatian serta menjadikan dasar dalam setiap melaksanakan tugas kepengawasan, sehingga kontribusi pengawas bagi peningkatan mutu pendidikan makin bermakna serta mendapat tempat yang wajar dalam hiruk pikuknya birokrasi pendidikan meningkatkan mutu yang sering arahnya tidak jelas atau remang-remang.
Uji kompetensi guru yang dilaksanakan pada tahun 2012 juga menunjukkan bahwa hampir 80 persen guru di Indonesia dinyatakan tidak layak mengajar di bidangnya. Data ini dapat dikatakan sangat menyedihkan, oleh karena itu perlu adanya perbaikan-perbaikan yang signifikan baik dari peningkatan kualitas guru maupun sistem penjaminan mutu pendidikan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di Indonesia.
Ada beberapa hal yang menyebabkan mengapa mutu pendidikan di Indonesia rendah, diantaranya adalah : 1) wilayah yang luas terutama di kabupaten-kabupaten baru sehingga sekolah-sekolah sulit dijangkau, hal ini menyebabkan informasi terbaru tentang pendidikan (kurikulum, pengembangan bahan dan lain sebagainya) tidak cepat dapat diterima oleh sekolah yang mengakibatkan sekolah tidak pernah berkembang; 2) kebijakan pemerintah tentang penyeragaman kurikulum (1975, 1984, dan 1994) mengakibatkan guru terpasung kreatifitasnya sehingga dengan pergeseran tugas guru dan sekolah dari menerima sampai harus meramu sendiri (kurikulum 2004,KTSP 2006 dan Kurikulum 2013) sulit diterima oleh guru sehingga inovasi di bidang pendidikan tidak segera terlaksana, 3) adanya desentralisasi pemerintahan (UU No. 22 tahun 2003) yang mengakibatkan tersendatnya informasi tentang kebijakan-kebijakan baru dalam pendidikan dikarenakan pemangku jabatan di bidang pendidikan di daerah tidak segera meneruskan informasi tersebut ke sekolah-sekolah, hal ini memperparah kondisi pendidikan di Indonesia yang memang telah memprihatinkan, 4) perekrutan kepala sekolah dan pengawas sekolah yang sering tidak sejalan dengan peraturan pemerintah tentang pengangkatan kepala sekolah dan pengawas sekolah, hal ini mengakibatkan sistem penjaminan mutu tidak berjalan sebagaimana mestinya; 5) fungsi kepengawasan secara rata-rata oleh pengawas sekolah kurang efektif sehingga tidak ada feedback dan tindak lanjut untuk peningkatan mutu sekolah dan pendidikan.
Pada sistem penjaminan mutu, potensi pengawas sekolah dapat dioptimalkan dengan lebih memberdayakan pengawas sekolah. Membekali pengawas sekolah dengan instrumen tertentu. Diharapkan dengan instrumen dan dana yang dikeluarkan oleh pemerintah, pengawas sekolah dapat memberikan potret seluruh guru dalam sekolah binaannya. Namun, saat ini program tersebut belum dapat dilihat hasilnya. Oleh karena itu makalah ini sekaligus memperkuat program pemerintah dalam memberdayakan pengawas sekolah yang ada .Untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsinya dalam rangka penjaminan mutu sekolah, guru khususnya dan pendidikan di Indonesia pada umumnya, pengawas serta kepala satuan pendidikan melakukan supervisi yang meliputi supervisi akademik dan manajerial secara teratur sesuai dengan permendiknas no 21 thn 2010.Oleh karena itu diperlukan suatu upaya untuk mengoptimalkan pemberdayaan pengawas sekolah dengan menemukan kelemahan-kelemahan yang ada pada tugas kepengawasan sekolah kemudian mendisain ulang atau mengembangkan alat bantu kepengawasan sekolah yang lebih sinkron dengan apa yang didisain sekolah melalui pengembangan Kurikulum (KTSP 2006) maupun Kurikulum 2013 sehingga yang diharapkan dari sekolah tergambar dengan jelas dan berguna untuk memecahkan masalah yang dihadapi oleh pemerintah dalam hal peningkatan mutu sekolah di daerah.
Dalam makalah ini, fokus akan diarahkan pada sistem penjaminan mutu pendidikan melalui pengawas sekolah antara lain pada :1. efektifitas tugas kepengawasan pengawas sekolah,2. instrumen yang dikembangkan dan dipergunakan oleh pengawas sekolah dalam melakukan tugas kepengawasan,3. sistem atau pola kepengawasan yang dilakukan oleh pengawas sekolah.

Penjaminan Mutu Pendidikan
Apabila suatu sekolah dikatakan bermutu, maka sekolah tersebut harus memenuhi ketiga unsur diantaranya adalah sekolah tersebut harus efisien dalam memenuhi tujuan sekolah, memenuhi kebutuhan peserta didiknya di sekolah dan memberikan lingkungan yang kondusif dalam mencapai tujuan tersebut, serta adanya perbaikan yang berkelanjutan kearah yang lebih baik dalam mencapai tujuan sekolah dan memperbaiki akhlak manusia yang ada di dalamnya.Untuk mencapai sekolah yang bermutu perlu diciptakan suatu sistem yang dapat menjamin ketercapaian mutu sekolah yang diharapkan, oleh karenanya sistem yang diperlukan tersebut adalah sistem penjaminan mutu antara lain adalah adanya standar mutu, metode dalam melaksanakan standar tersebut dan persyaratan mutu yang tepat oleh lembaga pakar.
Dengan adanya pemberdayaan pengawas sekolah, maka akan tergambar potret sekolah lengkap dengan profil sekolah serta peta standar nasional pendidikan yang telah dicapai .Dengan peta ini, proses peningkatan mutu pendidikan dapat dimulai, karena akan diketahui dimana posisi pendidikan saat sekarang dan kemana arah tujuan yang hendak dicapai pada masa yang akan datang. Tanpa adanya peta pada saat ini secara akurat, mustahil diketahui seberapa jauh peningkatan pendidikan akan dicapai.
Penjaminan mutu pendidikan yang efektif apa bila memenuhi :.
dukungan dan sumber daya yang memadai pada tingkat daerah untuk meyakinkan :(1).standar pada masing-masing sekolah,(2).kemajuan siswa yang dimonitor,(3).kualitas mengajar dan belajar,(4).pemenuhan kebutuhan yang tepat dengan strategi dan target nasional maupun daerah.
Oleh karena itu, untuk melakukan penjaminan mutu pendidikan di daerah yang efektif, pemberdayaan pengawas sekolah amatlah penting dalam proses penjaminan mutu pendidikan .Kemudian pengawas sekolah yang seperti apa dan apa tugas pokok dan fungsi pengawas sekolah pada saat ini perlu kita ketahui terlebih dahulu.Secara nasional mekanismen pengembangan sistem penjaminan mutu pendidikan dapat digambarkan sebagai berikut:

.

Secara nasional mekanismen pengembangan sistem penjaminan mutu pendidikan dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar-2-Mekanisme-pengembangan-Mutu-Pendidikan

Mutu telah menjadi isu kritis dalam persaingan bisnis modern dewasa ini, dan hal itu telah menjadi beban tugas bagi para manager, dan masalah mutu juga telah masuk merasuki berbagai bidang kehidupan termasuk di bidang pendidikan. Terdapat dua sudut pandang mutu dilihat dari pandangan produsen dan mutu dilihat dari pandangan konsumen. Dalam pandangan produsen mutu bermakna kesesuaian dengan penggunaan, dan ini mengindikasikan standar-standar yang harus dipenuhi oleh suatu produk/jasa dapat terpenuhi, sementara itu dari pandangan konsumen mutu itu apabila barang/jasa sesuai dengan harapan atau bahkan melebihi yang diharapkan dan Sallis menyebutnya Quality in Fact untuk yang pertama dan Quality in perception untuk yang kedua.
Pengawasan dalam konteks Mutu Pendidikan
Dalam bidang pendidikan, pandangan tentang mutu tersebut dapat dilihat dari standar-standar yang telah ditetapkan berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan (quality in fact) dan dari kepuasan pelanggan atau konsumen pendidikan (quality in perception).
Pengawasan sebagai salah satu fungsi manajemen yang penting jelas perlu melihat suatu organisasi dalam kaitannya dengan mutu karena pada akhirnya baik mutu dalam fakta maupun menurut persepsi dan harapan jelas akan menentukan bagi keberhasilan dan kesinambungan kiprah organisasi, dan hal ini tentu saja berlaku dalam bidang organisasi dan kelembagaan pendidikan seperti Sekolah.
Pengawasan di sekolah dilihat dari sudut orientasinya yang berjalan sekarang ini lebih menekankan pada mutu dalam fakta, dimana peralatan yang sering dipergunakan adalah berbagai aturan dan standar yang harus dipenuhi melalui kegiatan monitoring (pemantauan), memberi judgment akan kondisi kelembagaan melalui kegiatan evaluasi, dan melaporkan serta menindaklanjutinya dalam bentuk kegiatan perbaikan melalui upaya-upaya pemberdayaan seluruh anggota organisasi sekolah. Hal ini sebagai pelaksanaan peran pengawas sebagai mitra, innovator, konselor, motivator dan konsultan sekolah.Pelaksanaan peran dan tugas pengawasan di sekola sebenarnya dapat diposisikan dalam upaya penjaminan mutu (quality assurance) yang diimbangi dengan peningkatan mutu (qualitity enhancement). Penjaminan mutu berkaitan dengan inisiatif superstruktur organisasi sekolah atau kepala sekolah dan pendekatannya bersifat top down, sementara peningkatan mutu terkaitan dengan pemberdayaan anggota organisasi sekolah untuk dapat berinisiatif dalam meningkatkan mutu pendidikan baik menyangkut peningkatan kompetensi individu, maupun kapabilitas organisasi melalui inisiatif sendiri sehingga pendekatannya bersifat bottom up

Dalam kaitan tersebut, maka pengawasan di sekolah perlu lebih menekankan pada mutu melalui tahapan quality assurance dengan pemantauan kesesuaian dengan standar-standar pendidikan (dalam konteks sistem nampak pada gambar 1) yang kemudian diikuti dengan quality enhancement, sehingga peningkatan mutu pendidikan di sekolah dapat menjadi gerakan bersama dengan trigger utamanya adalah pengawas melalui pelaksanaan supervisi manajerial dan supervisi akademik, untuk kemudian lebih memberi peran dominan pada kepala sekolah melakukan hal tersebut apabila dua tahapan tersebut telah berjalan melalui implementasi MBS.
Perturan Mentri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor… Tahun 2012 tentang Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya tertulis bahwa ….“Pengawas Sekolah adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, dan wewenang secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan pengawasan pendidikan di sekolah dengan melaksanakan penilaian dan pembinaan dari segi teknis pendidikan dan administrasi pada satuan pendidikan pra sekolah, dasar dan menengah”…. (SK Menpan No.118/1996 hal.36). Pengawas sekolah merupakan salah satu mata rantai dalam sistem penjaminan mutu pendidikan di tingkat kabupaten/kota dimana pengawas ditugaskan. Sudah sewajarnya apabila rekrutmen pengawas sekolah dilakukan dengan sungguh-sungguh. Mereka haruslah orang yang mengerti benar tentang permasalahan sekolah baik akademik dan manajerial. Oleh karena itu pengangkatan pengawas sekolah haruslah sesuai ketentuan pemerintah yang berlaku.Sesuai dengan jabatannya, pengawas sekolah yang berasal dari kata supervise kemudian orangnya disebut supervisor dan pekerjaannya adalah supervision yang berarti suatu proses pelayanan bantuan profesional dan nasehat kepada guru dan kepala sekolah untuk peningkatan pembelajaran dan manajemennya. Dari sini kita mengetahui bahwa keberadaan pengawas adalah membantu guru dan sekolah dalam hal profesionalisme guru serta menejemen sekolah agar sekolah tersebut meningkat mutunya.Rekrutmen pengawas sekolah dan Kepala Sekolah adalah salah satu hal yang amat menentukan kinerja sekolah. Oleh sebab itu, hendaknya rekrutmen kepala sekolah dan pengawas sekolah dilakukan sesuai dengan aturan yang ada agar tujuan diangkatnya kepala sekolah dan pengawas sekolah terhadap peningkatan mutu sekolah khususnya dan peningkatan mutu pendidikan pada umumnya dapat tercapai.
Apabila kita bandingkan rekrutmen kepala sekolah ,sebaiknya mekanisme rekrutmen pengawas sekolah diatur seperti rekrutmen kepala sekolah di atas, agar tidak ada kesan seperti yang sekarang berkembang di masyarakat pendidikan bahwa rekrutmen pengawas untuk memperpanjang usia pegawai negerinya maka pejabat struktural yang sudah mendekati pensiun kemudian diangkat menjadi pengawas. Kalau hal itu masih terjadi pada masyarakat pendidikan kita, maka berapa pun biaya yang dianggarkan negara untuk peningkatan mutu pendidikan mustahil akan terwujud.
Tugas Pokok dan Fungsi pengawas Sekolah
Pengawas sekolah mempunyai tugas pokok menilai dan membimbing penyelenggaraan pendidikan pada sejumlah sekolah tertentu baik negeri maupun swasta yang menjadi tangung jawabnya .Hal ini diperjelas dalam Permendkbud Reformasi Birokrasi bahwa tugas pengawas adalah melakukan supervisi akademis dan manajemen terhadap satuan pendidikan.Dari penjelasan di atas sudah jelas bahwa untuk menilai dan membimbing penyelenggaraan sekolah, dibutuhkan orang yang mempunyai pengalaman menyelenggarakan sekolah agar dalam membimbing penyelenggaraan sekolah lebih baik sejalan dengan pengalaman dan ilmu yang pernah didapatkan di sekolah, orang dimaksud adalah kepala sekolah. Oleh karenanya pengawas sekolah akan lebih tepat bilamana mereka pernah menjadi kepala sekolah. Sebab, bagaimana mereka dapat membimbing sekolah di bawah binaannya kalau mereka belum mempunyai pengalaman menyelenggarakan sekolah. Hal ini sekaligus dapat menjalankan supervisi manajemen. Idealnya, kepala sekolah lah yang lebih mengetahui tentang manajemen sekolah walaupun tidak menutup kemungkinan mereka dapat belajar sendiri dengan pengalaman-pengalaman lain yang mereka dapatkan dari praktek-praktek manajemen.
Pengawas sekolah juga bertugas untuk mensupervisi akademik. Artinya bahwa seorang pengawas sekolah haruslah berpengalaman dalan soal akademik, yaitu pernah menjadi guru dan mengajar. Pengalaman menjadi guru dan mengajar yang cukup lama itulah sebagai bekal pengawas sekolah untuk menjalankan tugasnya sebagai supervisor dan penilai di bidang akademis. Apabila orang yang menjadi pengawas tidak mempunyai pengalaman menjadi guru dan mengajar, mereka akan mendapatkan kesulitan dalam melaksanakan tugas kepengawasannya nanti. Apabila hal ini terjadi, maka tidak mustahil bahwa fungsi kepengawasan yang di lakukan oleh pengawas sekolah jauh dari apa yang diharapkan oleh peraturan pemerintah dan sebagai salah satu sub sistem penjaminan mutu pendidikan di daerah.
Tetapi dalam kenyataannya tugas-tugas kepengawasan oleh pengawas sekolah secara umum belum berjalan sebagaimana mestinya, walaupun tidk bisa dipungkiri ada sebagaian kecil pegawas yang kreatif dalam melakukan pengawasan di sekolah binaannya. Hal ini dapat diketahui dari keluhan para guru berdasarkan angket terbuka yang diedarkan oleh penulis dari 150 responden mengatakan bahwa masih banyak pengawas sekolah yang datang ke sekolah hanya bertemu dengan guru dan kepala sekolah mengobrol ataupun memeriksa administrasi seadanya tanpa adanya tindak lanjut maupun klinis terhadap permasahan guru/kepala sekolah lalu pulang dengan tanda tangan kepala sekolah sebagai bukti bahwa mereka telah menjalani tugas kunjungan ke sekolah binaannya tanpa ada bekas hasil kepengawasannya.Kalau memang hanya itu yang dilakukan oleh sebagaian besar pengawas sekolah, maka kapan tugas-tugas kepengawasan membuahkan hasil yang diharapkan secara kolektif sebagai sub sistem penjaminan mutu sekolah di daerah. hal ini adalah persoalan yang harus dijawab pada tulisan ini.
Pengawas sekolah mempunyai wewenang untuk memilih dan menentukan metode kerja untuk mencapai hasil yang optimal dalam melaksanakan tugasnya , oleh karena itu pengawas harus dibekali ilmu pengetahuan agar supaya dapat menentukan sendiri metode yang dianggap praktis dan sistematis sehingga mengoptimalkan tugas-tugas kepengawasannya. Seperti misalnya apa saja yang harus dipersiapkan sebelum melakukan tugas kepengawasan di sekolah, kemudian apa saja yang harus dilakukan selama tugas kepengawasan sekolah, bagaimana mengatasi persoalan yang dihadapi sekolah, apakah harus di berikan feedback secara langsung atau tidak langsung, kemudian apa yang harus dilakukan pengawas setelah selesai melakukan tugasnya dan berapa lama mereka harus menyelesaikan laporan tugas kepengawasannya.
Dari tugas dan fungsi pengawas sekolah di atas, sebenarnya pengawas sekolah tidak hanya supervisi saja, tapi ada tugas-tugas memberikan nasehat (advisory) pada sekolah binaannya. Sehubungan dengan tugas advisory tersebut Lowe (1992:134) mengemukakan tugas-tugas advisory seperti memonitor dan mengevaluasi pekerjaan sekolah, membantu pengembangan sekolah dengan memberikan nasehat,memberikan saran kepada dinas pendidikan tentang program-program yang telah dilaksanakan dan yang belum dilaksanakan,memberikan nasehat kepada komite sekolah dan kepala sekolah.Tugas-tugas pengawas ditentukan sedemikan rupa agar sekolah binaannya dapat meningkatkan mutu sesuai dengan standar yang ditentukan oleh BSNP. Seperti disebutkan di atas bahwa untuk meningkatkan mutu sekolah, pertama-tama pengawas sekolah harus tahu terlebih dulu potret awal dari sekolah-sekolah yang dibinanya. Apakah sekolah tersebut merupakan sekolah yang sangat efektif, efektif atau kurang efektif. Bagaimana cara mengukur sekolah-sekolah binaannya sehingga dapat digolong-golongkan ke dalam kategori sekolah yang sangat efektif, efektif, atau kurang efektif ..
Sebagai indikator bahwa sekolah itu efektif apabila seluruh warga sekolah ( kepala sekolah, guru, siswa dan komite sekolah) bahu-membahu bekerjasama untuk mewujudkannya, tentu saja di bawah bimbingan dan pimpinan kepala sekolah.yakni 1. Kepemimpinan yang profesional (Jujur dan mempunyai tujuan yang jelas Pendekatan yang partisipatif Cara memimpin yang profesional).2.Visi dan tujuan sekolah yang dipahami seluruh warga sekolah (Tujuan yang sama,Praktek pembelajaran yang konsisten,Kebersamaan dan kolaborasi).3. Suatu lingkungan belajar (Situasi yang sekolah yang kondusif,Lingkungan kerja yang menantang).4. Konsentrasi pada pembelajaran (Memaksimalkan waktu belajar.Penekanan pada kegiatan akademik),5. Pengajaran yang terarah (Organisasi sekolah yang efisien,Tujuan sekolah yang jelas,Pelajaran yang terstruktur,Proses pembelajaran yang adaptif).6. Harapan sukses yang tinggi (Ekspektasi secara keseluruhan yang tinggi,Mengomunikasikan ekspektasi,Menyediakan tantangan kecerdasan) .7. Penguatan yang positif (Disiplin yang jelas dan jujur,Umpan balik).8. Monitoring kemajuan belajar (Monitoring kinerja siswa,Evaluasi kinerja sekolah).9. Hak siswa dan tanggungjawab kepala sekolah (Meningkatkan percaya diri siswa,Posisi pertanggungjawaban,Kontrol pekerjaan).10. Home-school partnership (Keterlibatan orang tua terhadap belajar anak-anaknya).11. Organisasi belajar (Pengembangan staf berbasis sekolah)
Dari uraiauan di atas menunjukkan bahwa kunci dari sekolah efektif adalah kepemimpinan kepala sekolah. Kepemimpinan kepala sekolah mempunyai peranan terbesar dalam sekolah efektif. Oleh karenanya tugas pengawas sekolah untuk memberikan nasehat serta bimbingan terhadap kepala sekolah agar mereka dapat memimpin sekolah dengan baik agar sekolah dapat efektif sebagaiman yang diharapkan oleh pemerintah.Kata-kata kunci peningkatan mutu sekolah adalah perubahan, artinya apabila sekolah tersebut tidak mau merubah dari apa yang ada sekarang berarti sekolah tersebut tidak akan meningkat mutunya. Sedang perubahan adalah suatu hal yang tidak mudah untuk dilakukan apalagi bila sudah menyangkut pola pikir seseorang. Disinilah peran kepemimpinan sekolah menentukan sebab perubahan itu harus dimulai dari kepala sekolah baru kemudian ke seluruh warga sekolah. Siapa yang dapat mengajak kepala sekolah ke arah perubahan pola pikir tersebut? Salah satunya adalah tugas pengawas sekolah disamping itu memang kepala sekolah tersebut harus mau berubah dari dirinya sendiri.
Untuk meningkatkan mutu sekolah ada beberapa strategi yang ditawarkan oleh Liethwood dan Jantzi (1990) sebagai berikut :1. memperkuat budaya peningkatan mutu sekolah,2. mempergunakan mekanisme birokrasi yang bervariasi untuk merangsang dan memperkuat budaya berubah,3. membantu pengembangan staf,4. membangun komunikasi langsung dan sering tentang norma budaya, nilai-nilai dan kepercayaan;5. berbagi kekuasaan dan tanggungjawab dengan warga sekolah yang lain,6. mempergunakan simbol untuk mengekspresikan nilai-nilai budaya.Untuk mewujudkan strategi-strategi di atas, kiranya tepat sekali apabila KTSP diterapkan pada sekolah-sekolah agar sekolah terutama kepala sekolah bersama-sama warga sekolah merumuskan apa dan bagaimana meningkatkan mutu sekolah tersebut. Dalam mengembangkan KTSP baiku 2006 maupun 2013, sekolah atau satuan pendidikan harus melibatkan seluruh warga sekolah termasuk komite sekolah sedangkan dinas pendidikan terkait sebagai supervisor. Artinya, kepemimpinan kepala sekolah dituntut untuk dapat mengakomodir pendapat seluruh warga sekolah sehingga seluruh warga sekolah tahu apa yang akan dilakukan sekolah, mau dibawa kemana sekolah itu, dan bagaimana pembiayaan serta proses pembelajarannya untuk mencapai kemajuan atau peningkatkan yang akan dicapai sesuai dengan kemampuan dan potensi sekolah, kekhususan daerah dan kondisi peserta didiknya.
Dengan dikembangkannya KTSP 2006 maupun 2013 di sekolah, maka setiap warga sekolah akan selalu dapat membaca dan mempelajari apa yang tertera dalam KTSP tersebut sebagai ”Handbook” bagi warga sekolah untuk mewujudkan visi, misi dan tujuan sekolah di setiap gerak langkah pekerjaan yang dilakukannya.Handbook tersebut sekaligus sebagai acuan bagi pengawas sekolah untuk memantau perkembangan sekolah, mengetahui apa yang belum dan sudah terlaksana seperti apa yang telah dituliskan dalam handbook tersebut.Apabila seluruh warga sekolah dapat bersama-sama mengembangkan kurikulum dengan benar dan sukses, maka hal ini merupakan awal dari perubahan ke arah yang lebih baik. Dan apabila seluruh sekolah melakukan hal serupa, maka tidak mustahil mutu pendidikan akan meningkat dalam waktu yang tidak lama.
Agar tugas kepengawasan terarah dan mencapai sasaran, maka pengawas harus membekali diri dengan dengan instrumen yang tepat, walaupun salah satu tugas pengawas adalah juga mengembangkan instrumen itu sendiri.Dalam rangka pemberdayaan pengawas sekolah,
OFSTED sebuah lembaga penjaminan mutu pendidikan di Inggris mengembangkan format atau instrumen inspeksi ke sekolah dengan sangat detail. Seperti misalnya dalam format tersebut ditanyakan tentang (S4 OFSTED, 2005) :
1. keadaan sekolah : apa yang luar biasa dari sekolah, efektifitas sekolah, peringkat sekolah di lingkungan dan di levelnya, seberapa baik hubungan sekolah dengan siswa dan orangtua siswa;
2. pencapaian siswa : seberapa tinggi pencapaian siswa terhadap kompetensi mata pelajaran, seberapa jauh perkembangan sikap, nilai-nilai dan kualitas personal dari para siswa;
3. proses pembelajaran : seberapa efektif proses pembelajaran berlangsung di kelas, seberapa efektif sistem penilaian yang dilakukan di kelas;
4. kurikulum : seberapa jauh kurikulum dapat memenuhi kebutuhan siswa, seberapa banyak sarana dan prasarana sekolah dapat mengadaptasi kebutuhan kurikulum;
5. bimbingan karir/konseling : seberapa besar perhatian sekolah terhadap bimbingan karir/konseling yang diberikan kepada siswa, bantuan-bantuan lain kepada siswa;
6. hubungan sekolah dengan masyarakat : seberapa bagus kerjasama antara sekolah dan orang tua siswa, dengan komite sekolah;
7. kepemimpinan sekolah : seberapa efektif kepemimpinan sekolah dilaksankan, seberapa efektif manajemen sekolah dilaksanakan, kendala apa yang paling besar dalam meningkatkan pencapaian kompetensi belajar;
8. kepengawasan : dalam hal apa tugas kepengawasan yang paling membantu sekolah.
Seluruhnya itu ditanyakan dengan : bagaimana anda mengetahui, kekuatan apa yang dipunyai oleh sekolah, dan prioritas utama apa untuk peningkatan kompetensi ke depan.
Dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas dapat diketahui secara lebih detil keadaan sekolah yang sebenarnya, sehingga pemerintah dapat menentukan kebijakan mutu dengan tepat.
Dalam upaya tersebut, pengawas jelas tidak dapat berperan optimal bila tenaga biroksasi kependidikan tidak menjalankan perannya memberikan pelayanan optimal bagi lembaga-lembaga pendidikan. Birokrasi pendidikan pada dasarnya merupakan organ yang mempunyai garis perintah dengan organisasi pendidikan, sehingga berbagai kebijakan yang dikeluarkan akan sangat mengikat, untuk itu birokrasi pendidikan (Dinas Pendidikan UPTD Pendidikan) perlu dodorong untuk semakin sadar bahwa kebijakan yang diterapkan pada organisasi pendidikan harus berbasis mutu, karena kebijakan mutu merupakan kewenangan birokrasi pendidikan. Sehingga terjadi sinergi antara birokrasi pendidikan dan pengawas dalam membangun pendidikan dengan basis mutu melalui upaya peningkatan mutu pendidikan secara sinergis. Apabila digambarkan akan nampak seperti dalam gambar 2 yang menunjukan kaitan antara tenaga biroksasi kependidikan dengan pengawas sebagai organ pengawasan dalam konteks peningkatan mutu pendidikan Uraian di atas hanya salah satu saja dari sudut pandang mutu pendidikan yaitu mutu dalam fakta, sedang mutu dalam arti persepsi, dimana yang menentukan adalah pelanggan atau konsumen pendidikan jelas memerlukan pembahasan lebih jauh terkait dengan konteks, pengukuran serta kebijakan yang harus dilakukan sebagai dasar pejaminan mutu yang berorientasi konsumen
Mutu pendidikan belakangan ini telah menjadi konsern bersama baik itu tenaga pendidik, tenaga kependidikan serta masyarakat. Ekspektasi yang terus meningkat akan mutu pendidikan, tidak hanya sekedar menyekolahkan, jelas memerlukan respon serius melalui berbagai kegiatan dan peran dalam bidang pendidikan yang makin bermutu termasuk dalam bidang pengawasan. Hal ini menuntut pada perlunya pengawasan pendidikan dilakukan dengan basis mutu, dimana orientasi pokok pekerjaan dalam pada bagaimana melaksanakan penjaminan mutu melalui monitoring, evaluasi dan pelaporan, serta menindak lanjutinya dengan peningkatan mutu melalui kegiatan pemberdayaan seluruh anggota organisasi lembaga pendidikan (sekolah).

SUMBER
I. DAFTAR PUSTAKA
[1] Barbara, M., Kate, M., and Reed, Jane (2004), The Intelligent School, Sage Publishers Ltd..
[2] Bell, Judith (2006), Doing Your Research Project, Edisi keempat, PT Indeks.
[3] Burhan Bungin (2005), Analisis Data penelitian Kualitatif, PT Raja Grafindo.
[4] David, Hopkin (2001), School Improvement for Real, Routledger Falmer.
[5] Hariss, Alma (2002), School Improvement, What is in it for School, Routledger Falmer.
[6] Hopkins, D., Ainscow, M., & West, M. (1994), School Improvement in an Era of Change, London, Cassel.
[7] Martin, Cole and Geoff, Southworth (2005), Developing Leadership Creating the School Tomorrow, Open

http://akhmadsudrajat.com/pengawasan-pendidikan-berorientasi-mutu/

About suaidinmath

Mohon kontribusi untuk menambal retak dan menambah langkah kesempurnaan tulisan ini ...

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Hari ini

Desember 2014
S S R K J S M
« Okt   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Statistik Blog

  • 1,764,690 hit

Arsip blog

Award Blog Pendidikan 2012

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 259 pengikut lainnya

Dunia Pendidikan

Teratas

RSS Republika online

  • Warga Pidie Jaya Harapkan Bantuan Segera Tersalurkan 9 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, TRIENGGADENG -- Masyarakat korban gempa di Kabupaten Pidie Jaya mengharapkan bantuan dari pemerintah bisa segera tersalurkan. Seperti masyarakat Desa Kuta Pangwa, Kecamatan Trienggadeng, Kabupaten Pidie Jaya, Jumat (9/12). Dimana...
    Sadly Rachman
  • BPBD Magetan Bangun Posko Tanggap Darurat 9 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, MAGETAN -- BPBD Kabupaten Magetan, Jawa Timur, membangun sebuah pos komando (posko) tanggap darurat bencana di wilayah paling rawan tanah longsor guna memberikan penanganan cepat jika sewaktu-waktu terjadi...
    Yudha Manggala P Putra

RSS educatinalwithptk

newsalloy

NewsAlloy button

MUSIK

suara Edukasi

 

 http://radioedukasi.com/modules/mod_miniradio/mod_miniradio.swf

suara_edukasi

RADIO EDUKASI

Live Streaming AM 1251 kHz

Silahkan unduh produk audio radio Suara edukasi

[KLIK DISINI]

Zaimuttpjok/tik

BERBAGI INFORMASI PENDIDIKAN DAN KISAH HIDUP

isti

Berilah makan keyakinanmu niscaya keraguanmu mati kelaparan

ANNISA USH SHOLIHAH

ALL ABOUT CHEMIS_3 (sharing for carring)

Dinas Dikpora Kab. Dompu

Ikhlas Mendidik Untuk Martabat Bangsa dan Negara

Vox Populi

Vox Populi: A Public Sphere for Politics and Poetry

Architecture Here and There

Style Wars: classicsm vs. modernism

Stories From the Belly

A Blog About the Female Body and Its Appetites

mywordpool

"Words - so innocent and powerless as they are, as standing in a dictionary, how potent for good and evil they become in the hands of one who knows how to combine them." ~Nathaniel Hawthorne

Fusion

Championing a young, diverse, and inclusive America with a unique mix of smart and irreverent original reporting, lifestyle, and comedic content.

Whatever

LET ME STEAL THIS MOMENT FROM YOU NOW

rachel eats

stories, pictures and cooking tales from an english woman living in rome.

y

what it comes down to

tangerine drawings

scribbles and recipes from a pastry chef in paris

Extra Dry Martini

Straight up, with a twist.

Gravity and Levity

A blog about the big ideas in physics, plus a few other things

love.life.eat

living a mindful life

%d blogger menyukai ini: