//
you're reading...
Dunia Pendidikan

metode pembelajaran Metode Problem Posing tipe Post Solution Posing Untuk Meningkatkan Ketuntasan Dan Prestasi Belajar Siswa

IMG_0532Landasan teori merupakan pijakan berpikir teoretik untuk memperoleh jawaban sementara yang selanjutnya akan diverifikasi melalui penelitian tindakan untuk mendapatkan jawaban atas permasalahan yang diajukan. Berikut ini akan dikemukakan beberapa landasan teori yang berkaitan dengan permasalahan yang akan diteliti.
Teori Perkembangan Fungsi Mental Vygotsky
Vygotsky berpendapat bahwa siswa membentuk pengetahuannya berdasarkan apa yang diketahui siswa sebagai hasil dari pikiran dan kegiatan siswa sendiri, bukanlah salinan (copy) dari apa yang mereka temukan di dalam lingkungan. Dalam proses pembentukan pengetahuan, Vygotsky lebih menekankan pada pentingnya peranan pembelajaran dan interaksi sosial pada perkembangan matematika dan pengetahuan lain (Howe & Jones dalam Widana I Wayan, 2008:25).
Konsep penting yang diberikan Vygotsky dalam pembelajaran adalah konsep zone of proximal development (ZPD) dan scaffolding. Vygotsky yakin bahwa pembelajaran terjadi apabila anak bekerja atau menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas itu berada dalam jangkauan kemampuannya atau tugas-tugas itu berada dalam zone of proximal development. ZPD adalah tingkat perkembangan sedikit di atas tingkat perkembangan seseorang saat ini. Vygotsky lebih yakin bahwa fungsi mental yang lebih tinggi pada umumnya muncul dalam kerjasama antar individu sebelum fungsi mental yang lebih tinggi terserap ke dalam individu tersebut (Slavin, 1995). Konsep Scaffolding berarti memberikan kepada siswa sejumlah besar bantuan selama tahap-tahap awal pembelajaran kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak tersebut mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar segera setelah ia dapat melakukannya (Slavin, 1995).
Ada dua implikasi utama teori Vygotsky dalam pendidikan (Howe & Jones dalam Widana I Wayan, 2008:26). Pertama, adalah perlunya tatanan kelas dan bentuk pembelajaran kooperatif antar siswa, sehingga siswa dapat berinteraksi di sekitar tugas-tugas yang sulit dan saling memunculkan strategi-strategi pemecahan masalah yang efektif di dalam masing-masing ZPD mereka. Kedua, pendekatan Vygotsky dalam pengajaran menekankan scaffolding, dengan semakin lama siswa semakin bertanggung jawab terhadap pembelajaran sendiri. Ringkasnya, menurut teori Vygotsky, siswa perlu belajar dan bekerja secara berkelompok sehingga siswa dapat saling berinteraksi dan diperlukan bantuan guru terhadap siswa dalam kegiatan pembelajaran.

Metode Pembelajaran Problem Posing
Problem posing mulai dikembangkan pada tahun 1997 oleh Lynn D. English dan awal mulanya diterapkan dalam mata pelajaran matematika (Suyitno Amin, 2006). Problem posing adalah kegiatan perumusan soal atau masalah oleh peserta didik. Peserta didik hanya diberikan situasi tertentu sebagai stimulus dalam merumuskan soal/masalah. Berkaitan dengan situasi yang dipergunakan dalam kegiatan perumusan masalah/soal dalam pembelajaran matematika, Walter dan Brown dalam Suyitno Amin (2006) menyatakan bahwa soal dapat dibangun melalui beberapa bentuk, antara lain gambar, benda manipulatif, permainan, teorema/konsep, alat peraga, soal dan solusi dari soal.
The Curriculum and Evaluation Standard for School Mathematics merumuskan secara eksplisit bahwa siswa-siswa harus mempunyai pengalaman mengenal dan memformulasikan soal-soal (masalah) mereka sendiri. Lebih jauh The Professional Standards for Teaching Mathematics menyarankan hal yang penting bagi guru-guru untuk menyusun soal-soal mereka sendiri. Siswa perlu diberi kesempatan merumuskan soal-soal dari hal-hal yang diketahui dan menciptakan soal-soal baru dengan cara memodifikasi kondisi-kondisi dari masalah-masalah yang diketahui tersebut (Silver & Cai, 1996).
Menurut Suyitno Amin (2006) mengemukakan bahwa problem posing mempunyai tiga pengertian, yaitu:
1) Problem Posing tipe Pre Solution Posing yaitu perumusan soal yang berkaitan dengan syarat-syarat pada soal yang dipecahkan dalam rangka mencari alternatif pemecahan lain.
2) Problem posing tipe Within Solution Posing yaitu perumusan soal sederhana atau perumusan ulang soal yang ada dengan beberapa perubahan agar lebih sederhana dan dapat dipahami dalam rangka memecahkan soal yang rumit. Siswa diminta merumuskan kembali soal yang telah diberikan melalui tahapan-tahapan/langkah-langkah tertentu sehingga soal yang diberikan menjadi lebih sederhana.
3) Problem Posing tipe Post Solution Posing yaitu merumuskan atau membuat soal sejenis dari situasi yang diberikan. Siswa akan dilatih kemampuannya untuk menyusun soal sendiri, selanjutnya soal atau permasalahan tersebut diselesaikan sendiri sesuai dengan contoh-contoh yang diberikan oleh guru.
Berdasarkan beberapa pengertian yang dikemukakan di atas, maka dalam penelitian ini metode pembelajaran problem posing yang akan dikembangkan adalah metode problem posing tipe post solution posing yang dilakukan secara kelompok.
Suyitno Amin (2006) merumuskan langkah-langkah metode pembelajaran problem posing tipe post solution posing yang dilakukan secara kelompok adalah sebagai berikut:
1) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran;
2) Guru menjelaskan materi pelajaran kepada para siswa;
3) Guru memberikan latihan soal secukupnya;
4) Guru membentuk kelompok-kelompok belajar yang heterogen, tiap kelompok terdiri atas 4-5 orang siswa;
5) Setiap kelompok diminta menyelesaikan soal pada lembar kerja kelompok;
6) Setiap kelompok diminta mengajukan soal yang menantang, dan kelompok yang bersangkutan harus mampu menyelesaikannya;
7) Secara acak guru meminta perwakilan kelompok untuk menyajikan soal temuannya di depan kelas;
8) Guru memberikan penugasan secara individual.

Problem Posing dalam Pembelajaran Matematika
Sesuai dengan kedudukan problem posing merupakan langkah awal dari problem solving, maka pembelajaran problem posing juga merupakan pengembangan dari pembelajaran problem solving. Silver dkk (Sutiarso: 2000) menyatakan bahwa dalam problem posing diperlukan kemampuan siswa dalam memahami soal, merencanakan langkah-langkah penyelesaian soal, dan menyelesaikan soal tersebut. Ketiga kemampuan tersebut juga merupakan sebagian dari langkah-langkah pembelajaran problem solving.
Lebih lanjut Suyitno Amin (2006) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran matematika pengajuan masalah (problem posing) menempati posisi yang strategis. Dalam hal ini siswa harus menguasai materi dan urutan penyelesaian soal secara mendetail. Hal tersebut akan tercapai jika siswa memperkaya wawasan/pengetahuannya tidak hanya dari guru melainkan perlu belajar secara mandiri.
Problem posing adalah kegiatan perumusan soal atau masalah oleh siswa. Siswa hanya diberikan situasi tertentu sebagai stimulus dalam merumuskan soal/masalah. Berkaitan dengan situasi yang dipergunakan dalam kegiatan perumusan masalah/soal dalam pembelajaran matematika, Walter dan Brown (1993: 302) menyatakan bahwa soal dapat dibangun melalui beberapa bentuk, antara lain gambar, benda manipulatif, permainan, teorema/konsep, alat peraga, soal, dan solusi dari soal.

Hakikat Prestasi Belajar Matematika dan Ketuntasan Belajar
Salah satu indikator keberhasilan dalam mengikuti pembelajaran adalah mencapai prestasi yang tinggi. Bila seseorang mencapai prestasi yang baik maka secara umum dia dikatakan telah sukses dalam pembelajaran. Kegiatan belajar di sekolah, menurut Biggs dan Telfer (dalam Budi Adnyana, 2004 : 45) dapat dibedakan menjadi empat hal berkenaan dengan (a) belajar kognitif seperti pengetahuan, (b) belajar afektif seperti belajar tentang perasaan, nilai-nilai dan emosi, (c) belajar yang berkenaan dengan isi ajaran seperti yang ditentukan dalam silabus, dan (d) belajar yang berkenaan dengan proses, seperti bagaimana suatu hasil dapat diperoleh. Keempat kegiatan belajar tersebut dapat digolongkan menjadi tujuan yang akan dicapai dan ranah yang akan dikembangkan.
Woodworth dan Marquis (1962 : 58) mengemukakan bahwa prestasi belajar merupakan kemampuan aktual yang dapat diukur secara langsung dengan tes. Bloom (1971:7) mengungkapkan, prestasi belajar merupakan hasil perubahan tingkah laku yang meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Menurut Bloom sebagaimana dikutip oleh Sudjana (1995), menguraikan bahwa ranah kognitif terdiri dari: pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Pengetahuan dan pemahaman merupakan ranah kognitif tingkat rendah, sedangkan aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi merupakan ranah kognitif tingkat tinggi.
Prestasi belajar adalah penguasaan seseorang terhadap pengetahuan atau keterampilan tertentu dalam suatu mata pelajaran, yang lazimnya diperoleh dari nilai tes atau angka yang diberikan guru. Menurut Nasution (2001:439) prestasi belajar dapat dilihat dari nilai transkrip yaitu nilai raport, karena nilai raport merupakan perumusan terakhir dari upaya yang dilakukan guru dalam pemberian hasil belajar terhadap peserta didik.
Masrun dan Martinah (1973) mengemukakan bahwa prestasi belajar merupakan hasil kegiatan belajar, yaitu sejauh mana peserta didik menguasai bahan pelajaran yang diajarkan. Menurut Suryabrata (1984), prestasi belajar adalah tingkat kemampuan peserta didik menguasai materi pelajaran yang diajarkan kepadanya. Dari kedua pendapat tersebut, prestasi belajar merupakan ukuran sejauh mana peserta didik menguasai bahan pelajaran yang telah diajarkan.
Salah satu prinsip penilaian pada kurikulum berbasis kompetensi adalah menggunakan acuan kriteria, yakni menggunakan kriteria tertentu dalam menentukan kelulusan peserta didik. Kriteria paling rendah untuk menyatakan peserta didik mencapai ketuntasan dinamakan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). KKM harus ditetapkan sebelum awal tahun ajaran dimulai. Seberapapun besarnya jumlah peserta didik yang melampaui batas ketuntasan minimal, tidak mengubah keputusan pendidik dalam menyatakan lulus/tuntas dan tidak lulus/tidak tuntas pembelajaran. Acuan kriteria tidak diubah secara serta merta karena hasil empirik penilaian (Panduan Penetapan KKM, Dit.PSMA, 2009:3).
KKM ditetapkan oleh satuan pendidikan berdasarkan hasil musyawarah guru mata pelajaran di satuan pendidikan atau beberapa satuan pendidikan yang memiliki karakteristik yang hampir sama. Pertimbangan pendidik atau forum MGMP secara akademis menjadi pertimbangan utama penetapan KKM. KKM menunjukkan persentase tingkat pencapaian kompetensi sehingga dinyatakan dengan angka maksimal 100 (seratus). Angka maksimal 100 merupakan kriteria ketuntasan ideal.
KKM merupakan target satuan pendidikan dalam pencapaian kompetensi tiap mata pelajaran. Satuan pendidikan harus berupaya semaksimal mungkin untuk melampaui KKM yang ditetapkan. Keberhasilan pencapaian KKM merupakan salah satu tolok ukur kinerja satuan pendidikan dalam menyelenggarakan program pendidikan. Satuan pendidikan dengan KKM yang tinggi dan dilaksanakan secara bertanggung jawab dapat menjadi tolok ukur kualitas mutu pendidikan bagi masyarakat.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, yang dimaksud dengan prestasi belajar matematika dalam penelitian ini adalah tingkat penguasaan kognitif siswa terhadap materi pelajaran matematika setelah mengalami proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu. Prestasi yang dimaksud berupa nilai dalam bentuk angka yang diperoleh setelah siswa mengikuti serangkaian tes.
Prestasi yang telah dicapai tersebut selanjutnya akan dibandingkan dengan nilai KKM yang telah ditetapkan. Bagi peserta didik yang telah mencapai KKM dinyatakan tuntas, sedangkan bagi peserta didik yang belum mencapai KKM dinyatakan belum tuntas yang selanjutnya akan diberikan remidial. Siswa yang telah tuntas diberikan materi pengayaan.
Ketuntasan belajar klasikal merupakan persentase siswa suatu kelas yang telah tuntas (mencapai nilai KKM atau lebih) mengikuti pembelajaran. Semakin tinggi persentase ketuntasan belajar yang dapat dicapai, menunjukkan semakin tinggi kualitas/mutu pembelajaran yang telah dicapai. Persentase ketuntasan belajar ideal adalah 100%. Satuan pendidikan hendaknya berusaha meningkatkan persentase ketuntasan belajar siswa sehingga mendekati ketuntasan belajar ideal.

About suaidinmath

Mohon kontribusi untuk menambal retak dan menambah langkah kesempurnaan tulisan ini ...

Diskusi

One thought on “metode pembelajaran Metode Problem Posing tipe Post Solution Posing Untuk Meningkatkan Ketuntasan Dan Prestasi Belajar Siswa

  1. Terima kasih atas kiriman informasinya, semoga ilmu yang Bapak berikan menjadi penerang bagi kami pecinta pendidikan khususnya, amin…… semoga amal soleh Bapak mendapat balasan dari Allah SWt….

    Suka

    Posted by Jenal Aripin | 8 Januari 2015, 10:26 pm

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Hari ini

Desember 2014
S S R K J S M
« Okt   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Statistik Blog

  • 1,760,511 hit

Arsip blog

Award Blog Pendidikan 2012

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 259 pengikut lainnya

Dunia Pendidikan

Teratas

RSS Republika online

  • Ribuan Muslim Semarakkan Morowali Mengaji 6 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, MOROWALI—Ribuan jamaah umat Islam larut melantunkan ayat-ayat suci Alquran dalam Morowali Nusantara Mengaji.  Acara yang dimotori dan digagas oleh Bupati Morowali, Anwar Hafiz dalam rangka HUT Kabupaten ke-17 ini...
    Nasih Nasrullah
  • Ini Alasan Mantan Ketua DPR Akom Ingin 'Melawan' Putusan MKD 6 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mantan Ketua DPR Ade Komarudin, akan melakukan langkah-langkah terhadap keputusan MKD, yang pada Rabu (30/12) memberhentikannya sebagai ketua DPR. Pria yang akrab disapa Akom itu mengaku...
    Nur Aini

RSS educatinalwithptk

newsalloy

NewsAlloy button

MUSIK

suara Edukasi

 

 http://radioedukasi.com/modules/mod_miniradio/mod_miniradio.swf

suara_edukasi

RADIO EDUKASI

Live Streaming AM 1251 kHz

Silahkan unduh produk audio radio Suara edukasi

[KLIK DISINI]

Zaimuttpjok/tik

BERBAGI INFORMASI PENDIDIKAN DAN KISAH HIDUP

isti

Berilah makan keyakinanmu niscaya keraguanmu mati kelaparan

ANNISA USH SHOLIHAH

ALL ABOUT CHEMIS_3 (sharing for carring)

Dinas Dikpora Kab. Dompu

Ikhlas Mendidik Untuk Martabat Bangsa dan Negara

Vox Populi

Vox Populi: A Public Sphere for Politics and Poetry

Architecture Here and There

Style Wars: classicsm vs. modernism

Stories From the Belly

A Blog About the Female Body and Its Appetites

mywordpool

"Words - so innocent and powerless as they are, as standing in a dictionary, how potent for good and evil they become in the hands of one who knows how to combine them." ~Nathaniel Hawthorne

Fusion

Championing a young, diverse, and inclusive America with a unique mix of smart and irreverent original reporting, lifestyle, and comedic content.

Whatever

LET ME STEAL THIS MOMENT FROM YOU NOW

rachel eats

stories, pictures and cooking tales from an english woman living in rome.

y

what it comes down to

tangerine drawings

scribbles and recipes from a pastry chef in paris

Extra Dry Martini

Straight up, with a twist.

Gravity and Levity

A blog about the big ideas in physics, plus a few other things

love.life.eat

living a mindful life

%d blogger menyukai ini: