//
you're reading...
Dunia Pendidikan

Dimensi Kompetensi Penelitian dan Pengembangan Pengawa Sekolah

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 Tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah menegaskan bahwa seorang pengawas harus memiliki 6 (enam) kompetensi minimal, yaitu kompetensi kepribadian, supervisi manajerial, supervisi akademik, evaluasi pendidikan, penelitian dan pengembangan serta kompetensi sosial.

Kondisi di lapangan saat ini tentu saja masih banyak pengawas sekolah/ madrasah yang belum menguasai keenam dimensi kompetensi tersebut dengan baik. Survei yang dilakukan oleh Direktorat Tenaga Kependidikan pada Tahun 2008 terhadap para pengawas di suatu kabupaten (Direktorat Tenaga Kependidikan, 2008: 6) menunjukkan bahwa para pengawas memiliki kelemahan dalam kompetensi supervisi akademik, evaluasi pendidikan, dan penelitian dan pengembangan. Sosialisasi dan pelatihan yang selama ini biasa dilaksanakan dipandang kurang memadai untuk menjangkau keseluruhan pengawas dalam waktu yang relatif singkat. Selain itu, karena terbatasnya waktu maka intensitas dan kedalaman penguasaan materi kurang dapat dicapai dengan kedua strategi ini.

Berdasarkan kenyataan tersebut maka upaya untuk meningkatkan kompetensi pengawas harus dilakukan melalui berbagai strategi. Salah satu strategi yang dapat ditempuh untuk menjangkau keseluruhan pengawas dengan waktu yang cukup singkat adalah memanfaatkan forum Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (KKPS) dan Musyawarah Kerja Pengawas Sekolah (MKPS) sebagai wahana belajar bersama. Dalam suasana kesejawatan yang akrab, para pengawas dapat saling berbagi pengetahuan dan pengalaman guna bersama-sama meningkatkan kompetensi dan kinerja mereka.

Forum tersebut akan berjalan efektif apabila terdapat panduan, bahan kajian serta target pencapaian. Dalam konteks inilah Bahan Belajar Mandiri

(BBM) ini disusun. BBM ini dimaksudkan sebagai bahan kajian para pengawas dalam rangka meningkatkan kompetensi mereka.

B. Standar Kompetensi

BBM ini disesuaikan dengan cakupan dimensi kompetensi pengawas yang termaktub dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 Tahun
2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah. Dalam peraturan tersebut terdapat enam dimensi kompetensi, yaitu: kompetensi kepribadian, supervisi manajerial, supervisi akademik, evaluasi pendidikan, penelitian dan pengembangan, dan kompetensi sosial. Setiap dimensi kompetensi memiliki sub-sub sebagai kompetensi dasar yang harus dimiliki seorang pengawas. Secara rinci kompetensi-kompetensi dasar tersebut adalah sebagai berikut.

1. Dimensi Kompetensi Kepribadian

a. Memiliki tanggungjawab sebagai pengawas satuan pendidikan.

b. Kreatif dalam bekerja dan memecahkan masalah baik yang berkaitan kehidupan pribadinya maupun tugas-tugas jabatannya.
c. Memiliki rasa ingin tahu akan hal-hal yang baru tentang pendidikan dan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang menunjang tugas pokok dan tanggung jawabnya.
d. Menumbuhkan motivasi kerja pada dirinya dan pada stakeholder pendidikan.

2. Dimensi Kompetensi Supervisi Manajerial

a. Menguasai metode, teknik dan prinsip-prinsip supervisi dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.
b. Menyusun program kepengawasan berdasarkan visi, misi, tujuan dan program pendidikan di sekolah.
c. Menyusun metode kerja dan instrumen yang diperlukan untuk melak-sanakan tugas pokok dan fungsi pengawasan di sekolah.

d. Menyusun laporan hasil-hasil pengawasan dan menindaklanjutinya untuk perbaikan program pengawasan berikutnya di sekolah.
e. Membina kepala sekolah dalam pengelolaan dan administrasi satuan pendidikan berdasarkan manajemen peningkatan mutu pendidikan di sekolah.
f. Membina kepala sekolah dan guru dalam melaksanakan bimbingan konseling di sekolah.
g. Mendorong guru dan kepala sekolah dalam merefleksikan hasil- hasil yang dicapainya untuk menemukan kelebihan dan kekurangan dalam melaksanakan tugas pokoknya di sekolah.
h. Memantau pelaksanaan standar nasional pendidikan dan memanfaatkan hasil-hasilnya untuk membantu kepala sekolah dalam mempersiapkan akreditasi sekolah.

3. Dimensi Kompetensi Supervisi Akademik

a. Memahami konsep, prinsip, teori dasar, karakteristik, dan kecenderungan perkembangan tiap bidang pengembangan di TK/RA atau mata pelajaran di sekolah/madrasah.
b. Memahami konsep, prinsip, teori/teknologi, karakteristik, dan kecenderungan perkembangan proses pembelajaran/bimbingan tiap bidang pengembangan di TK/RA atau mata pelajaran di sekolah/madrasah.
c. Membimbing guru dalam menyusun silabus tiap bidang pengembangan di TK/RA atau mata pelajaran di sekolah/madrasah berlandaskan standar isi, standar kompetensi dan kompetensi dasar, dan prinsip-prinsip pengembangan KTSP.
d. Membimbing guru dalam memilih dan menggunakan strategi/metode/ teknik pembelajaran/bimbingan yang dapat mengembangkan berbagai potensi siswa melalui bidang pengembangan di TK/RA atau mata pelajaran di sekolah/madrasah.

e. Membimbing guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk tiap bidang pengembangan di TK/RA atau mata pelajaran di sekolah/madrasah.
f. Membimbing guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran/ bimbingan (di kelas, laboratorium, dan/atau di lapangan) untuk mengembangkan potensi siswa pada tiap bidang pengembangan di TK/RA atau mata pelajaran di sekolah/madrasah.
g. Membimbing guru dalam mengelola, merawat, mengembangkan dan menggunakan media pendidikan dan fasilitas pembelajaran/ bimbingan tiap bidang pengembangan di TK/RA atau mata pelajaran di sekolah/madrasah.
h. Memotivasi guru untuk memanfaatkan teknologi informasi untuk pembelajaran/ bimbingan tiap bidang pengembangan di TK/RA atau mata
i. pelajaran di sekolah/madrasah.

4. Kompetensi Evaluasi Pendidikan

a. Menyusun kriteria dan indikator keberhasilan pendidikan dalam bidang pengembangan di TK/RA dan pembelajaran/bimbingan di sekolah/madrasah.
b. Membimbing guru dalam menentukan aspek-aspek yang penting dinilai dalam pembelajaran/bimbingan tiap bidang pengembangan di TK/RA atau mata pelajaran di sekolah/madrasah.
c. Menilai kinerja kepala sekolah, guru, dan staf sekolah dalam melaksanakan tugas pokok dan tanggung jawabnya untuk meningkatkan mutu pendidikan dan pembelajaran/bimbingan tiap bidang pengembangan di TK/RA atau mata pelajaran di sekolah.
d. Memantau pelaksanaan pembelajaran/bimbingan dan hasil belajar siswa serta menganalisisnya untuk perbaikan mutu pembelajaran/bimbingan tiap bidang pengembangan di TK/RA atau mata pelajaran di sekolah/ madrasah.
e. Membina guru dalam memanfaatkan hasil penilaian untuk perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran/bimbingan tiap

bidang pengembangan di TK/RA atau mata pelajaran di sekolah/madrasah.
f. Mengolah dan menganalisis data hasil penilaian kinerja kepala seko-lah/madrasah, kinerja guru, dan staf sekolah/madrasah.

5. Dimensi Kompetensi Penelitian dan Pengembangan

a. Menguasai berbagai pendekatan, jenis, dan metode penelitian dalam pendidikan.
b. Menentukan masalah kepengawasan yang penting diteliti baik untuk keperluan tugas pengawasan maupun untuk pengembangan karirnya sebagai pengawas.
c. Menyusun proposal penelitian pendidikan baik proposal penelitian kualitatif maupun penelitian kuantitatif.
d. Melaksanakan penelitian pendidikan untuk pemecahan masalah pendidikan, dan perumusan kebijakan pendidikan yang bermanfaat bagi tugas pokok tanggung jawabnya.
e. Mengolah dan menganalisis data hasil penelitian pendidikan baik data kualitatif maupun data kuantitatif.
f. Menulis karya tulis ilmiah (PTS) dalam bidang pendidikan dan atau bidang kepengawasan dan memanfaatkannya untuk perbaikan mutu pendidikan.
g. Menyusun pedoman/panduan dan/atau buku/modul yang diperlukan untuk melaksanakan tugas pengawasan di sekolah/madrasah.
h. Memberikan bimbingan kepada guru tentang penelitian tindakan kelas, baik perencanaan maupun pelaksanaannya di sekolah/madrasah.
6. Dimensi Kompetensi Sosial

a. Bekerjasama dengan berbagai pihak dalam rangka meningkatkan kualitas diri untuk dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.
e. Aktif dalam kegiatan asosiasi pengawas satuan pendidikan

C. Deskripsi Bahan Belajar Mandiri

BBM bagi KKPS terdiri atas enam bagian, yaitu:

1. Dimensi Kompetensi Kepribadian dan Sosial

2. Dimensi Kompetensi Supervisi Manajerial

3. Dimensi Kompetensi Supervisi Akademik

4. Dimensi Kompetensi Evaluasi Pendidikan

5. Dimensi Kompetensi Penelitian dan Pengembangan

6. Dimensi Penelitian Tindakan Sekolah

Bahan belajar nomor 1 sampai dengan 5 hakikatnya disesuaikan dengan dimensi standar kompetensi pengawas. Sedangkan bahan belajar nomor 6 merupakan pengkhususan dan pendalaman dimensi kompetensi penelitian dan pengembangan. Hal ini penting untuk diprioritaskan mengingat bahwa peran pengawas sebagai agen perubahan dalam dunia pendidikan, akan sangat efektif apabila mereka menguasai metode action research. Dengan kemampuan ini diharapkan pengawas dapat mendorong pengembangan dan peningkatan mutu sekolah-sekolah yang dibinanya.

Setiap bahan belajar di atas mencakup beberapa kegiatan belajar sebagai berikut:

Kompetensi Kepribadian, Meliputi Kegiatan Belajar:

1. Pengenalan, Pengembangan, dan Pemberdayaan Diri

2. Pengembangan Kreativitas dan Pengambilan Keputusan

Kompetensi Sosial, Meliputi Kegiatan Belajar:

1. Pengembangan Komunikasi Efektif Kemitraan, Pelayanan dan

Tim yang Baik

2. Gaya Kerja dan Cara Penyelesaian Konflik Manakah

Kompetensi Supervisi Manajerial, Meliputi Kegiatan Belajar:

1. Peningkatan Mutu Sekolah Melalui Supervisi Manajerial

2. Perencanaan, Pelaksanaan dan Pelaporan Kegiatan Pengawasan

Kompetensi Supervisi Akademik, Meliputi Kegiatan Belajar:

1. Pelaksanaan Akademik di Sekolah

2. Membimbing Guru Menemukan Karakteristik Lingkungan

Pembelajaran yang Berhasil

Kompetensi Evaluasi Pendidikan, Meliputi Kegiatan Belajar:

1. Penyusunan Kriteria dan Indikator Keberhasilan Pendidikan dan

Pembelajaran

2. Aspek-aspek Penilaian dalam Pembelajaran

3. Penilaian Kinerja Kepala Sekolah dan Guru

4. Pemantauan Pelaksanaan Pembelajaran

5. Pemanfaatan Hasil Penilaian untuk Kepentingan Pendidikan dan

Pembelajaran/Bimbingan

Kompetensi Penelitian dan Pengembangan, Memuat Kegiatan Belajar:

1. Perlunya Pengawas Manyusun Karya Tulis Ilmiah (PTS)

2. Jenis-Jenis PTS Pengembangan Profesi, dan Penyusunannya

3. Ketentuan dalam Penulisan Ilmiah

Materi Penelitian Tindakan Sekolah, Memuat Kegiatan Belajar:

1. Hakikat Penelitian Tindakan Sekolah

2. Penyusunan Usulan dan Laporan Penelitian Tindakan Sekolah

D. Langkah-Langkah Mempelajari Bahan Belajar Mandiri

Bahan belajar ini dirancang untuk dipelajari oleh para pengawas dalam forum KKPS. Oleh karena itu langkah-langkah yang harus dilakukan dalam mempelajari materi ini mencakup aktivitas individual dan kelompok. Secara umum aktivitasvitas individual meliputi: (1) membaca materi, (2) melakukan latihan/tugas/memecahkan kasus pada setiap kegiatan belajar, (3) membuat rangkuman/kesimpulan, dan (4) melakukan refleksi, Apabila diperlukan, berdasarkan refleksi yang dibuat, dapat dilakukan tindak lanjut. Sedangkan aktivitas kelompok meliputi: (1) mendiskusikan materi, (2) sharing pengalaman dalam melakukan latihan/memecahkan kasus, (3) melakukan seminar/diskusi hasil latihan/tugas yang dilakukan, dan (4) bersama-sama melakukan refleksi dan tindak lanjut sepanjang diperlukan.

PERLUNYA PENGAWAS MENYUSUN KARYA TULIS ILMIAH (KTI)

A. Pengantar
Bukti apakah yang dapat menunjukkan bahwa seorang pengawas sekolah memiliki komitmen dan kesungguhan dalam mengembangkan diri dan profesinya? Tentu saja buktinya adalah karya ilmiah yang dihasilkan, khususnya Karya Tulis Ilmiah (KTI). Dengan karya tulis ilmiah tersebut dapat diketahui sejauhmana seorang pengawas sekolah melakukan kajian teoretik maupun empirik terhadap permasalahan dalam lingkup tugasnya.

Karya sebagai bukti pengembangan profesi bukan hanya KTI, namun saat ini bentuk kegiatan pengembangan profesi yang paling banyak dilakukan baik oleh pengawas sekolah dan guru, adalah membuat KTI. Namun informasi yang benar dan memotivasi tentang bagaimana membuat KTI masih terbatas. Akibatnya, banyak pengawas sekolah yang kurang mampu dan kurang mau untuk membuat KTI sebagai bagian dari kewajiban dalam kegiatan pengembangan profesinya.

Pertanyaannya adalah sebagai berikut:
1. Apakah hakikat pengembangan profesi itu?

2. Bagaimana penilaian hasil KTI pengembangan profesi?

3. Mengapa masih banyak KTI yang dianggap tidak memenuhi syarat?

Uraian di bawah ini akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.
B. Uraian Materi
1. Dasar Hukum

Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara nomor

84/1993 Penetapan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, serta Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Kepala BAKN Nomor 0433/P/1993, nomor 25 tahun 1993 tentang

Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, pada prinsipnya bertujuan untuk membina karier kepangkatan dan profesionalitas guru1.

Guru maupun pengawas sekolah wajib melakukan berbagai kegiatan dalam pelaksanaan tugasnya. Berbagai kegiatan itu diberi bobot angka yang disebut sebagai angka kredit yang diperlukan sebagai salah satu syarat dalam kenaikan pangkat/jabatan. Guru yang telah mencapai Guru Pembina dengan golongan IV/a untuk dapat naik menjadi Guru Pembina dengan golongan IV/b ke atas, selain harus memenuhi jumlah angka kredit kumulatif yang disyaratkan, juga harus memenuhi sekurang-kurangnya 12 angka kredit dari unsur pengembangan profesi.

Kegiatan pengembangan profesi guru adalah kegiatan guru dalam rangka pengamalan ilmu dan pengetahuan, teknologi dan ketrampilan untuk peningkatan mutu baik bagi proses belajar mengajar dan profesionalisme tenaga kependidikan lainnya maupun dalam rangka menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi pendidikan dan kebudayaan (berdasar definsi pada Kepmendikbud No. 025/0/1995)

2. Kegiatan Pengembangan Profesi Pengawas Sekolah

Macam kegiatan pengembangan profesi pengawas sekolah tentunya perbedaan dengan kegiatan pengembangan profesi guru. Hal itu karena berbedanya tugas dan tanggung jawab mereka. Berikut disajikan ringkasan macam perbedaaan kegiatan pengembangan profesi pengawas sekolah dan guru, yang ditetapkan berdasarkan peraturan yang berlaku saat ini.

1 Peraturan serupa yang berkaitan dengan jabatan fungsional dan angka kredit, juga ada dan diberlakukan bagi para pengawas sekolah.

Tabel 1. 1 Jenis Karya Pengembangan Profesi Guru dengan Pengawas
Pengawas Sekolah2 Guru
• membuat Karya Tulis Ilmiah (KTI),
• menemukan Teknologi Tepat Guna,
• menciptakan karya seni
• menyusun pedoman pelaksanaan pengawasan, dan
• menyusun petunjuk teknis pelaksanaan pengawasan sekolah • membuat Karya Tulis Ilmiah (KTI),
• menemukan Teknologi Tepat Guna,
• membuat alat peraga/bimbingan,
• menciptakan karya seni, dan
• mengikuti kegiatan pengembangan kurikulum.
Dari tabel di atas tampak, bahwa membuat Karya Tulis Ilmiah (KTI) merupakan salah satu bentuk dari kegiatan pengembangan profesi yang dapat dilakukan oleh para pengawas sekolah dan guru. Jadi, tidak benar bila dinyatakan bahwa kegiatan pengembangan profesi pengawas sekolah harus berupa Karya Tulis Ilmiah. Memang, pada saat ini, membuat KTI merupakan macam kegiatan pengembangan profesi yang paling banyak dilakukan baik oleh pengawas sekolah, dan guru. Macam KTI yang dapat dibuat oleh guru maupun pengawas sekolah, adalah sebagai berikut.

Tabel 1. 2 Perbandingan KTI Guru dan Pengawas Sekolah

Guru Pengawas Sekolah
 KTI hasil penelitian
 KTI tinjauan/ulasan ilmiah
 Tulisan Ilmiah Populer
 Prasaran disampaikan dalam pertemuan ilmiah
 Buku/modul
 Diktat
 Karya terjemahan  KTI hasil penelitian
 KTI tinjauan/ulasan ilmiah
 Tulisan Ilmiah Populer
 Buku/modul
 Prasaran disampaikan dalam pertemuan ilmiah
2 Berdasar Keputusan Bersama Mendikbud dan KBAKN Nomor 0322/O/1996 nomor 38 Tahun
1996 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya

3. Besaran Angka Kredit untuk Setiap Jenis KTI

Besar Angka kredit untuk setiap macam KTI adalah sebagai berikut.
No
Macam KTI
Macam publikasinya Angka kredit
1 KTI hasil penelitian, pengkajian, survei dan atau evaluasi Berupa buku yang diedarkan secara nasional 12,5
Berupa tulisan (artikel ilmiah) yang dimuat pada majalah ilmiah yang diakui oleh Depdiknas 6,0
Berupa buku yang tidak diedarkan secara nasional 6,0
Berupa makalah 4,0
2 KTI yang merupakan tinjuan atau gagasan sendiri dalam bidang pendidikan Berupa buku yang diedarkan secara nasional 8,0
Berupa tulisan (artikel ilmiah) yang dimuat pada majalah ilmiah yang diakui oleh Depdiknas 4,0
Berupa buku yang tidak diedarkan secara nasional 7,0
Berupa makalah 3,5
3 KTI yang berupa tulisan ilmiah popular yang disebarkan melalui media masa Berupa tulisan (artikel ilmiah) yang dimuat pada media masa 2,0
4 KTI yang berupa tinjuan, gagasan, atau ulasan ilmiah yang disampaikan sebagai prasaran dalam pertemuan ilmiah Berupa makalah dari prasaran yang disampaikan pada pertemuan ilmiah 2,5
5 KTI yang berupa buku pelajaran Berupa buku yang bertaraf nasional 5
Berupa buku yang bertaraf propinsi 3
6 KTI yang berupa diktat pelajaran Berupa diktat yang digunakan di sekolahnya 1
7 KTI yang berupa karya terjemahan Berupa karya terjemahan buku pelajaran/ karya ilmiah yang bermanfaat bagi pendidikan 2,5

4. Mengapa Banyak KTI yang Belum Memenuhi Syarat?

Berdasar pengalaman dalam proses penilaian, terdapat hal-hal sebagai berikut

a. Tidak sedikit dari KTI yang diajukan bukan karya sendiri, tetapi KTI orang lain yang dinyatakan sebagai karyanya, atau bahkan KTI tersebut DIBUATKAN oleh orang lain. KTI jenis ini umumnya diambil (dijiplak) dari skripsi, tesis atau laporan penelitian orang lain. Data lapangan menunjukkan adanya beberapa daerah tertentu yang sebagian besar KTI yang diajukan sangat mirip satu dengan yang lainnya.
b. Cukup banyak dari KTI yang diajukan berisi uraian hal-hal yang terlalu umum dan tidak ada berhubungan dengan permasalahan atau kegiatan nyata yang dilakukan oleh pengawas sekolah yang merupakan penerapan kegiatan pengembangan profesinya sebagai pengawas sekolah. Umumnya KTI semacam itulah yang paling mudah untuk ditiru, dipakai kembali oleh orang lain atau bahkan diganti nama penulisnya dengan nama orang lain.
Sebagai contoh KTI yang berjudul: (a) membangun karakter bangsa melalui kegiatan ekstra kurikuler, (b) peranan orang tua dalam mendidik anak, (c) tindakan preventif terhadap kenakalan remaja, (d) peranan pendidikan dalam pembangunan, dll. KTI di atas tidak menjelaskan permasalahan spesifik yang berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab pengawas sekolah, sehingga meskipun KTI berada dalam bidang pendidikan dan tidak ada yang salah dari apa yang dituliskan, tetapi:

(a) Apa manfaat KTI tersebut dalam upaya peningkatan profesi pengawas sekolah?
(b) Bagaimana dapat diketahui bahwa KTI tersebut adalah karya pengawas sekolah yang bersangkutan?

5. Kriteria dan Pedoman Penilaian KTI Saat Ini

Di samping memakai berbagai kriteria penulisan Karya Tulis Ilmiah yang umum dipergunakan, terdapat beberapa kriteria dan persyaratan yang khusus yang digunakan untuk menilai KARYA TULIS ILMIAH dalam pengembangan profesi, yaitu harus memenuhi kriteria “A P I K,” yang artinya adalah

Asli, penelitian harus merupakan karya asli penyusunnya, bukan merupakan plagiat, jiplakan, atau disusun dengan niat dan prosedur yang tidak jujur. Oleh karena itu, baik laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) maupun Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) harus mampu menunjukkan bahwa kegiatan tersebut memang benar- benar telah dilakukan oleh guru atau pengawas sekolah yang bersangkutan. Untuk itu sangat penting untuk melampirkan selengkap mungkin bukti-bukti pelaksanaan, misalnya (a) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian, terutama lembar pengamatan, instrumen, check list, dll, b) contoh-contoh hasil kerja dalam pengisian/pengerjaan instrumen baik oleh guru maupun siswa, (c) dokumen pelaksanaan penelitian yang lain seperti foto- foto kegiatan, daftar hadir, ijin kepala sekolah, dan lain-lain.
Perlu,permasalahan yang dikaji pada kegiatan pengembangan profesi tentunya harus diperlukan dan mempunyai manfaat. Karena itu, laporan PTK atau PTS harus dapat meyakinkan bahwa kegiatan yang dilakukan benar-benar mempunyai manfaat. Bukan hal yang mengada-ada, atau memasalahkan sesuatu yang tidak perlu lagi dipermasalahkan, atau hanya merupakan laporan kegiatan yang biasa-biasa, dan bukan merupakan penerapan model pembelajaran atau model kepengawasan yang baru
Ilmiah, penelitian harus berbentuk, berisi, dan dilakukan sesuai dengan kaidah-kaidah kebenaran ilmiah. KTI harus benar, baik dari sisi teori, fakta maupun analisis yang digunakannya.
Konsisten, KTI harus disusun sesuai dengan tugas dan tanggungjawab si penulis. Bila penulisnya seorang pengawas sekolah, maka KTI-nya haruslah tentang hal yang berhubungan

dengan upaya pengembangan profesinya sesuai dengan

TUPOKSInya sebagai pengawas sekolah.
6. Prinsip dalam Menilai KTI Pengembangan Profesi

Ada tiga prinsip yang dipakai dalam menilai KTI sebagai kegiatanpengembangan profesi pengawas sekolah. Ketiga prinsip tersebut adalah sebagai berikut :

Pertama: KTI harus mendukung ketercapaian tujuan kegiatan pengembangan profesi
Menilai KTI ditujukan untuk dapat mendukung tercapainya tujuan kegiatan pengembangan profesi pengawas. Kegiatan pengembangan profesi pengawas sekolah bertujuan untuk:

1. TIDAK menambah jumlah pengawas sekolah yang curang. Karena itu KTI yang tidak jujur, bukan buatan sendiri, jiplakan, atau tidak asli, sudah seharusnya ditolak dan tidak mendapat nilai. Hendaknya penulis KTI seperti itu juga diberikan sanksi.
2. TIDAK untuk menjadikan bahkan mendorong pengawas sekolah melakukan kegiatan yang tidak perlu. Sehingga KTI yang ditulis sekedar untuk melengkapi persyaratan, mengada-ada, tidak ada manfaatnya, hendaknya tidak diberi nilai.
Yang benar adalah kegiatan pengembangan profesi pengawas sekolah bertujuan untuk meningkatkan mutu kinerja pengawas sekolah sebagai seorang yang profesional.

Karena itu KTI yang diajukan untuk dinilai harus berisi LAPORAN KEGIATAN NYATA yang telah dilakukan pengawas sekolah dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya.

Untuk itu KTI tersebut harus dapat menyakinkan pembacanya bahwa apa yang ditulis itu benar-benar suatu kegiatan nyata yang bermakna dalam pelaksanaan tugas sebagai pengawas sekolah yang profesional.

Untuk dapat menyakinkan pembacanya, KTI itu harus menyertakan penjelasan yang spesifik tentang permasalahan yang dikaji, hendaknya

dapat menyertakan data, fakta, format hasil kerja, hasil tes, atau foto- foto yang mampu menunjang dan meyakinkan bahwa apa yang ditulis dalam KTI itu, benar-benar hal yang nyata telah dilakukan oleh si penulis.

Kedua: KTI harus tersaji dalam format keilmuan (ilmiah)

Sebagai Karya Tulis Ilmiah maka setidak-tidaknya harus dipenuhi persyaratan: (a) permasalahan yang dikaji berada pada khasanah keilmuan, (b) tersajikan dengan jelas ada argumentasi konseptual, teorik dari hal yang dipermasalahkan, (c) tersajikan ada fakta-fakta spesifik dari hal yang dipermasalahkan, dan (d) ada diskusi dan kesimpulan terhadap hal yang dipermasalahkan.

KTI sebagai karya ilmiah juga harus tersaji dalam format penggunaan bahasa yang lazim dipakai pada dunia keilmuan.

Ketiga: KTI pengembangan profesi bukanlah SKRIPSI, TESIS, atau

DESERTASI

KTI pengembangan profesi tidak dimaksudkan untuk berkualitas seperti skripsi, tesis, ataupun desertasi. KTI tersebut berfungsi sebagai LAPORAN KEGIATAN NYATA yang telah dikerjakan pengawas sekolah yang disajikan dalam format ilmiah.

7. Tugas Pokok dan Fungsi Pengawas Sekolah

Tugas pokok pengawas sekolah adalah melaksanakan pengawasan akademik dan pengawasan manjerial melalui pemantauan, penilaian, pembinaan, pelaporan, dan tindak lanjut.

Dalam kaitannya dengan kegiatan Penelitian Tindakan Sekolah, jabaran tugas pokok pengawas sekolah sebagai dasar dalam

menentukan tema/atau judul masalah penelitian tindakan kepengawasan dapar dilukiskan dalam bagan di bawah ini.3

Tabel 1. 3. Ragam Kegiatan dalam Lingkup Tugas Pengawas Sekolah

Kegiatan Supervisi Akademik Supervisi Manejerial
Memantau 1. Pelaksanaan pembelajaran/bimbingan dan hasil belajar
2. Keterlaksanaan kurikulum tiap mata pelajaran 1. Pelaksanaan ujian nasional, PSB, dan ujian sekolah
2. Pelaksanaan standar nasional pendidikan
Menilai Kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran/ bimbingan Kinerja kepala sekolah dalam melaksanakan tugas pokok fungsi dan tanggung jawabnya
Membina 1. Guru dalam menyusun silabus dan RPP
2. Guru dalam proses melaksanakan pembelajaran di kelas/laboratorium/lapangan
3. Guru dalam membuat, mengelola, dan menggunakan media pendidikan dan pembelajaran
4. Guru dalam memanfaatkan hasil penilaian untuk perbaikan mutu pendidikan
5. Guru dalam mengolah dan menganalisis data hasil penilaian
6. Guru dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas 1. Kepala Sekolah dlm pengelolaan dan administrasi sekolah
2. Kepala Sekolah dalam mengkoordinir pelaksanaan program bimbingan konseling

3 Dikutip dari Petunjuk Teknis Penelitian Tindakan Sekolah (School Action Research) Peningkatan
Komptensi Supersvisi Pengawas Sekolah SMA/SMK, Depdiknas, Dirjen PMPTK, 2007.

Kegiatan Supervisi Akademik Supervisi Manejerial
Melaporkan dan
Tindak Lanjut 1. Hasil pengawasan akademik pada sekolah-sekolah yang menjadi binaannya
2. Menindaklanjuti hasil-hasil pengawasan akademik untuk meningkatkan kemampuan profesional guru 1. Hasil pengawasan manajerial pada sekolah-sekolah binaannya
2. Menindaklanjuti hasil-hasil pengawasan manajerial untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan
8. Contoh Judul KTI yang Dapat Dinilai

Berikut disajikan contoh Judul KTI pengawas sekolah yang kiranya dapat memenuhi kriieria APIK dan sesuai kegiatan pengembangan profesi bagi pengawas sekolah.
No.
Judul
Bentuk KTI dan intisari isi
Dinilai sebagai

1
Langkah kreatif dan efisien dalam memantau pelaksanaan pembelajaran sekolah. Studi kasus di beberapa SD se wilayah X

Tinjauan ilmiah berdasarkan pengalaman lapangan penulis. Data lapangan, disertai fakta lain dilampirkan
Makalah tinjauan ilmiah.

Nilai 3,5

2
Upaya meningkatkan mutu penilaian kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran/bimbingan di beberapa SMP se wilayah X

KTI tersebut berupa prasaran yang disajikan pada pertemuan ilmiah tingkat kabupaten, tentang pengalaman penulis sebagai pengawas sekolah dalam upayanya meningkatkan mutu
Prasaran pertemuan ilmiah

Nilai 2,5

4
Pengaruh penggunaan hasil penilaian untuk perbaikan mutu pembelajaran siswa
Tinjauan ilmiah penggunakan hasil penilaian untuk
Makalah tulisan ilmiah populer
No.
Judul
Bentuk KTI dan intisari isi
Dinilai sebagai
pada pelajaran X di
beberapa SMA se wilayah X
… perbaikan mutu pembelajaran siswa di beberapa SMA tempat pengawas sekolah bertugas. Laporan tersebut ditulis di Koran dalam bentuk tulisan ilmiah populer Nilai 2,0

5
Meningkatkan kemampuan guru-guru mata pelajaran X, di beberapa SMK dalam menyusun silabus dan RPP, melalui kegiatan lokakarya berkesinambungan, di wilayah X
Laporan Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) yang disajikan dalam bentuk makalah
Makalah hasil penelitian tindakan sekolah

Nilai 4,0

6
Peningkatan hasil belajar matematika melalui model belajar kelompok kooperatif, di kelas VI, SD.

Dilakukan bersama dengan guru. Pengawas sekolah sebagai peneliti.
Penelitian tindakan kelas. Bentuk tindakannya dirinci dengan sangat jelas, juga cara dan hasil data guna evaluasi dan refleksi. Pengawas
sekolah sebagai peneliti
dan guru sebagai praktisi dilakukan
dalam 2 siklus selama 4 bulan.
Makalah hasil penelitian karena dilakukan oleh dua orang – pengawas sekolah dan peneliti) maka pengawas sekolah sebagai penulis pertama mendapat
nilai 60% x 4
= 2,4 angka kredit.

7
Pengaruh supervisi pengawas sekolah terhadap kreativitas PBM mata pelajaran X, di sekolah- sekolah di daerah Y..
Penelitian diskriptif terhadap pengaruh supervisi pengawas sekolah di beberapa SMP di bawah tanggung jawabnya.

Laporan kegiatan berupa artikel ilmiah yang ditulis dan dapat dimuat di Jurnal Ilmiah Perguruan Tinggi X
Artikel ilmiah dimuat di Jurnal

Nilai 6,0
Penelitian dan Pengembangan‐KKPS 23

About suaidinmath

Mohon kontribusi untuk menambal retak dan menambah langkah kesempurnaan tulisan ini ...

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Hari ini

Desember 2014
S S R K J S M
« Okt   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Statistik Blog

  • 1,760,511 hit

Arsip blog

Award Blog Pendidikan 2012

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 259 pengikut lainnya

Dunia Pendidikan

Teratas

RSS Republika online

RSS educatinalwithptk

newsalloy

NewsAlloy button

MUSIK

suara Edukasi

 

 http://radioedukasi.com/modules/mod_miniradio/mod_miniradio.swf

suara_edukasi

RADIO EDUKASI

Live Streaming AM 1251 kHz

Silahkan unduh produk audio radio Suara edukasi

[KLIK DISINI]

Zaimuttpjok/tik

BERBAGI INFORMASI PENDIDIKAN DAN KISAH HIDUP

isti

Berilah makan keyakinanmu niscaya keraguanmu mati kelaparan

ANNISA USH SHOLIHAH

ALL ABOUT CHEMIS_3 (sharing for carring)

Dinas Dikpora Kab. Dompu

Ikhlas Mendidik Untuk Martabat Bangsa dan Negara

Vox Populi

Vox Populi: A Public Sphere for Politics and Poetry

Architecture Here and There

Style Wars: classicsm vs. modernism

Stories From the Belly

A Blog About the Female Body and Its Appetites

mywordpool

"Words - so innocent and powerless as they are, as standing in a dictionary, how potent for good and evil they become in the hands of one who knows how to combine them." ~Nathaniel Hawthorne

Fusion

Championing a young, diverse, and inclusive America with a unique mix of smart and irreverent original reporting, lifestyle, and comedic content.

Whatever

LET ME STEAL THIS MOMENT FROM YOU NOW

rachel eats

stories, pictures and cooking tales from an english woman living in rome.

y

what it comes down to

tangerine drawings

scribbles and recipes from a pastry chef in paris

Extra Dry Martini

Straight up, with a twist.

Gravity and Levity

A blog about the big ideas in physics, plus a few other things

love.life.eat

living a mindful life

%d blogger menyukai ini: