//
you're reading...
Dunia Pendidikan

MUNDURNYA KURIKULUM 2013 DAN PEMBERLAKUAN KEMBALI KURIKULUM 2006 ADALAH SUATU KEBIJAKAN YANG DILEMATIS

123210461

MUNDURNYA KURIKULUM 2013 DAN PEMBERLAKUAN KEMBALI KURIKULUM 2006 ADALAH SUATU KEBIJAKAN YANG DILEMATIS
Oleh :SUAIDIN USMAN
Pakar Pendidikan Kabupaten Dompu
( Bench Marking Rusia-Finlandia dan Swedia )

A.Kurikulum 2013 Dalam Dilematis
Kurikulum dalam interaksinya dengan perkembangan masyarakat dan ilmu pengetahuin selalu bersifat dinamis, kurikulum tidak hanya sebagai bagian yang menentukan perwujudan masyarakat masa depan sebagaimana dicita citakan bangsa, tapi juga herus selalu mengikuti tuntutan perubahan, sehingga perubahan dan atau perbaikan kurikulum merupakan sunnah social yang tidak bisa dihindari. Untuk itu lahirnya Kurikulum 2013 merupakan konsekwensi logis meskipun banyak hal yang perlu dikritisi dan dipertimbangkan terutama dalam implementasinya di lapangan.Lahirnya Kurikulum 2013 tidak terlepas dari kenyataan bahwa mutu pendidikan di Indonesia masih relative rendah disbanding beberapa negara lain yang menjadi patok mutu (benchmark). Hasil penelitian yang dilakukan secara internasional menunjukan hal tersebut. PIRLS (Progress in International Reading Literacy Study) yang mengkaji (2006) tenang kemampuan baca siswa Sekolah Dasar, menunjukan bahwa Indonesia berada dibawah pada urutan kelima dari bawah, diatas Qatar,Kuwait, Maroko dan Afrika Utara, ini menunjukan bahwa dilingkungan ASEAN saja Indonesia tertinggal. PISA (Programme for International Student Assessment) melakukan penelitian secara berkala untuk siswa SMP dan SMA dalam reading literacy, mathematics literacy, dan scientific literacy, dalam ketiga hal tersebut Indonesia berada dalam kelompok Bawah, demikian juga penelitian yang dilakukan TIMMS (Trends in International Matematics and Science Study) menunjukan hal yang sama bahwa siswa Indonesia menduduki posisi bawah, bahkan secara relatif menunjukan penurunan.
Kondisi ini jelas menimbulkan keprihatinan dan sekaligus dorongan untuk terus berupaya meningkatkan mutu pendidikan melalui berbagai kebijakan, baik terkait dengan sarana prasarana, Tenaga Pendidikan, maupun Kurikulum yang belakangan ini menjadi trend pendidikan persekolahan di Indonesia, dan Kurikulum 2013 pada dasarnya merupakan upaya untuk memperbaiki proses pendidikan/pembelajaran pada jalur pendidikan formal atau sekolah.namun demikian implementasinya jelas tidak sederhana, banyak hal yang harus dicermati dan dipersiapkan, yang apabila tidak dilakukan maka kurikulum 2013 hanya akan menjadi teks tanpa dampak signifikan bagi peningkatan mutu pendidikan di Indonesia.
Kurikulum 2013 merupakan kurikulum pendidikan/pembelajaran untuk persekolahan dari mulai Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah, dalam konteks system pendidikan di sekolah, kurikulum 2013 merupakan perbaikan/perubahan dalam standar isi yang berimplikasi pada standar kompetensi lulusan, standar proses, dan standar penilaian, jadi dilihat dari standar-standar nasional pendidikan yang 8 standar (standar isi; standar proses; standar kompetensi lulusan; standar pendidik dan tenaga kependidikan; standar sarana dan prasarana;standar pengelolaan;standar pembiayaan; standar penilaian pendidikan) perubahan terjadi pada 50% standar nasional pendidikan. Meskipun demikian dalam implementasinya jelas perubahan perlu dilakukan dalam hal standar lainnya, terutama dalam kompetensi Tenaga Pendidik, karena kurikulum bukan sekedar teks, tapi juga konteks, dimana Guru akan menjadi ujung tombak dalam pelaksanaannya.
Dengan memahami interaksi tersebut, maka penerapan Kurikulum baru termasuk kurikulum 2013 bukanlah hal yang sederhana karena banyaknya factor-faktor efektif yang akan menentukan keberhasilannya, apalagi kalu kita melihat makna, peran dan fungsi kurikulum dalam pendidikan.
Secara harfiah kurikulum diartikan sebagai jalan yang harus ditempuh, dalam konteks pendidikan kurikulum sering diartikan sebagai sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh untuk mencapai suatu tingkat tertentu (sempit); seluruh usaha untuk merangsang peserta didik belajar, baik di dalam kelas, dilingkungan lembaga pendidikan, maupun di luar lembaga pendidikan (luas), sementara itu makna Kurikulum menurut Undang-undang No 20 tahun 2003 ”adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Dengan demikian terdapat tiga unsur penting dalam suatu konsep kurikulum yaitu mencakup 1). Tujuan; 2). Isi dan bahan pelajaran; dan 3). Pendekatan (Model, strategi, metode, skill)
Kombinasi ketigahal tersebut pada dasarnya tergantung pada pendekatan (McNeil menyebutnya konsepsi) terhadap kurikulumdalam arti bagaimana kurikulum dibangun, apa dasarnya, apa tujuannya serta bagaimana manajemen pembelajarannya, McNeil (2006) menyatakan terdapat empat pendekatan dalam melihat kurikulum yaitu :
1. Humanistic curriculum, melihat kurikulum sebagai hal penting dalam membantu siswa menjadi apa yang mereka inginkan, kurikulum menekankan pada relevansi personal, perasaan, dan kesuksesan yang sangat mungkin
2. Social reconstruction curriculum, kurikulum dipandang sebagai alat untuk mempengaruhi reformasi social
3. Systemic curriculum, melihat kurikulum sebagai penyelarasan tujuan, standar, dan bahan belajar dengan menggunakan test untuk menilai hasilnya.
4. Academic curriculum, melihat kurikulum sebagai pengetahuan yang diorganisir dengan cara tertentu yang terbaik untuk mempelajari materi tertentu dan untuk memperkenalkan siswa dengan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong kajian (inkuiri) dalam disiplin akademik.
Dengan demikian suatu Kurikulum bisa dilihat sebagai Teks yang mencakup Tujuan dan Isi bahan pelajaran dalam konsepsi/pendekatan tertentu dan konteks terkait dengan cara dalam melaksanakan pembelajaran dimana kurikulum teks ingin diwujudkan. Oleh karena itu terdapat kemungkinan yang amat besar gap antara teks dan konteks, mengingat variasi kapasitas sekolah dan kompetensi guru serta factor efektif lainnya yang mempengaruhi terlaksananya suatu kurikulum
Di Indonesia perubahan atau penggantian Kurikulum secara popular umumnya di dasarkan pada dua hal yaitu substansi kurikulum seperti KBK dan KTSP serta kurun waktu dimana kurikulum ditetapkan seperti kurikulum 2013. Untuk kurikulum 2013 secara filosofisnya memang tidak beda dengan KBK dan KTSP yang mengacu pada faham konstruktivisme dengan pendekatan pembelajaran SCL (Student Centered Learning).
Terlepas dari perubahan Bidang dan Materi Pelajaran serta perubahan waktu, esensi kurikulum dalam aspek tujuan makro pendidikan serta aspek yang ingin diwujudkan dalam hasil belajar dan kompetensi lulusan tidak banyak berubah (hampir tidak berubah), hanya dalam pendekatan substantive ada pengembangan yaitu pendekatan scientific, yang sebenarnya sudah menjadi cara ilmiah yang umum dalam penalaran ilmiah. Secara umum penalaran ilmiah secara dikotomi ada dua yaitu induktif dan deduktif, penalaran induktif berawal dari fakta bergerak ke generalisasi/teori, sedangkan penalaran deduktif berawal dari kaidah umum/generalisasi/teori untuk kemudian bergerak ke fakta/hal particular.
Dalam kurikulum 2013 pendekatanan ilmiah mengedepankan pendekatan induktif yang dalam konteks penalaran dimulai dari hal-hal spesifik kemudian bergerak ke hal-hal umu, ini sudah tentu memerlukan kesiapan pada peserta didik dalam mengikuti alur tersebut, penalaran ini sebenarnya hanya mungkin kalau peserta didik sudah punya kemampuan berfikir abstrak yang secara sederhana usia peserta didik harus menjadi pembatas dalam mengimplementasikannya, jadi tidak semua peserta didik dalam jenjang pendidikan siap untuk melakukannya, secara umum siawa SD awal pasti akan mengalami kesulitan untuk itu, bahkan mungkin juga para Guru masih perlu untuk mendalami dan melatih penalaran induktif, sebab keberhasilannya bukan sekedar menghadapkan siswa pada kenyataan atau fakta atau masalah yang dihadapi, melainkan memerlukan kemampuan untuk mengkordinasikan hal tersebut ke dalam suatu konsep yang abstrak., sebagaimana terlihat dari tahapan pendekatan ilmiah sebagaimana dikemukakan dalam Panduan dari Kemendikbud (2013)
Dengan melihat pemaknaan pendekatan scientific dalam kurikulum 2013, Nampak bahwa ilmu dipandang sebagai proses abstraksi dan bukan proses verifikasi, padahal metode ilmiah merupakan upaya untuk menjadikan kedua cara penalaran sebagai bagian dari kegiatan dan sumber ilmu sebagai terlihat dalam proses penelitian, pada tahap awal penelitian memerlukan pemahaman akan teori-teori yang bersifat abstraksi darifakta melalui berbagai proses reduksi, pengamatan tanpa kerangka penalaran deduktif hanya akan melahirkan pemahaman akan berbagai kenyataan yang berserakan, dan bila itu terjadi bukannya kebenaran ilmu yang diperoleh namun subjektivitas pengamat yang muncul dan ini akan membuatfungsi ilmu jadi kurang atau bahkan tidak bermakna.Dengan memperhatikan hal tersebut, maka diperlukan pembimbingan yang intensif untuk memandu agar pengamatan akan fakta tidak melahirkan chaos pengetahuan dan skeptisisme dalam penalaran, dan guru akan menjadi factor penentu dalam keberhasilan pendekatan ilmuan pada implementasi kurikulum 2013. Oleh karena itu upaya untuk meningkatkan terus kompetensi guru agar mampu menjadi ilmuwan dengan sikap ilmiah menjadi hal yang amat mendesak dalam konteks implementasi kurikulum 2013.
Implikasi dari semua itu, diperlukan upaya pengembangan profesi berkelanjutan agar para Guru dapat mengembangkan kemamuannya terkait dengan hal-hal berikut : Pertama, kompetensi guru dalam pemahaman substansi bahan ajar/keilmuan (baca: kompetensi Profesional), yang mencakup penguasaan bdang ilmu yang diajarkan. Kedua, meningkatkan kemampuan dalam pengembangan pembelajaran (Kompetensi Pedagigik) melalui metode serta cara yang tepat dalam mengkonstruksi ilmu, dengan skill yang membawa pada suasana ilmiah dan curiosity siswa yang dapat meningkat. Dan keberhasilan semua itu perlu dilandasi dengan kepribadian yang edukatif serta kemampuan social yang terus dikembangkan, sehingga pembentukan jejaring baik internal maupun eksternal dapat berkembang semakinkuat. Dan semua itu hanya bias terjadi apabila guru terus bertumbuh menjadi manusia pembelajar karena guru itu adalah Learning Prefesion,dan untuk itu sekolah pembelajar menjadi naungan organisasi yang kondusif bagi terwujudnya hal tersebut.
B. Peran Kepala Sekolah dalam Implementasi Kurikulum
Dalam konteks kepemimpinan Kepala Sekolah, nampaknya arah dari pengembangan SDM Kepala sekolah berorientasi pada Manajemen Kinerja berbasis Kompetensi, dimana berbagai aktualisasi Kinerja yang harus diperankan oleh Kepala Sekolah mesti dipertahankan dan ditingkatkan melalui upaya peningkatan Kompetensi baik secara individu maupun organisasi. Hal ini tercermin dari Permen 13 tahun 2007, tentang Standar Kepala Sekolah yang di dalamnya memuat berbagai Kompetensi yang harus dimiliki oleh Kepala Sekolah dalam menjalankan Perannya sebagai Manajer dan Pemimpin Pendidikan pada suatu Satuan Pendidikan.
Melihat kompetensi-kompetensi sebagaimana dikemukakan di atas, terdapat dua unsur yang penting untuk dicermati, yaitu unsur yang melekat dalam karakteristik individu dalam konteks kehidupan sosial yang menuntut internalisasi dan sosialisasi, serta unsur yang berkaitan dengan kemampuan yang menuntut pada pendidikan dan latihan. Namun meskipun demikian keduanya sangat berkaitan dimana yang satu perlu jadi fondasi kepemimpinan dan yang lainnya merupakan pengembangan dalam kepemimpinan.Model Kepemimpinan Kepala Sekolah dimaksudkan untuk memberi tekanan pada kompetensi supervisi kepala sekolah dalam menjalankan peran dan tugasnya sebagai supervisor, hal ini tidak lain karena pelaksanaan kurikulum manapun termasuk kurikulum 2013 keberhasilannya amat ditentukan oleh bagaimana kepala sekolah menjalankan kepemimpinan instruksional dengan supervisi sebagai instrumen utama dalam menjamin terlaksananya proses pembelajaran dengan kurikulum yang berlaku. Dalam kaitan ini diperlukan kemampuan substantif tentang kurikulum, bik kurikulum 2006 maupun kurikulum 2013 dan kemampuan prosedural dalam melaksanakan supervisi. Kemampuan substantif merupakan kemampuan utama untuk menjadikan pelaksanaan kurikulum sesuai dengan ideal kurikulum atau paling tidak formal kurikulum, dengan upaya terus menerus untuk makin mendekatinya. atau paling tidak terus mendekatinya, dan kemampuan prosedural dimaksudkan untuk menjadikan supervisi sebagai bagian dalam mendorong kurikulum yang dipersepsi makin sinkron dengan apa yang seharusnya serta menjadikan pengalaman belajar siswa sesuai dengan tujuan dari kurikulum (experienced curriculum).
Pemahaman yang tuntas akan kurikulum baik secara ideal maupun formal akan menentukan bagaimana level kurikulum lainnya bias berjalan, dalam kontek keterlaksanaannya peran penjelasan dan pengarahan serta penyelarasan menjadi amat penting agar implementasi kurikulum 2013 bagi sekolah yang telah 3 semester melaksanakan kurikulum 2013 dapat berproses sesuai dengan yang diharapkan serta dapat menghasilkan output dan outcome yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh kurikulum 2013. Tanpa itu maka sebenarnya baaik itu kurikulum 2006 (KTSP) maupun kurikulum 2013 hanya akan menjadi dokumen yang mati, tanpa dilaksanakan oleh guru sebagai living curriculum serta tanpa disupirvisi secara Factual akurat oleh kepala sekolah maupun pengawas sekolah .

C. Teka Teki Implementasi Kurikulum 2013

Teka-teki tentang implementasi kurikulum 2013 akhirnya terjawab sudah setelah mendikbud Pak Anis Baswedan menerbitkan surat edaran Nomor : 179342/MPK/KR/2014 tertanggal 5 Desember 2014, dan dipertegas lagi dengan Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 160 Tahun 2014 Tentang Pemberlakuan Kurikulum Tahun 2006 Dan Kurikulum 2013,tertanggal 11 Desember 2014 yang “cuplikan” isinya sbb.:

Pasal 1

Satuan pendidikan dasar dan pendidikan menengah yang melaksanakan Kurikulum 2013 sejak semester pertama tahun pelajaran 2014/2015 kembali melaksanakan Kurikulum Tahun 2006 mulai semester kedua tahun pelajaran 2014/2015 sampai ada ketetapan dari Kementerian untuk melaksanakan Kurikulum 2013.

Pasal 2

(1) Satuan pendidikan dasar dan pendidikan menengah yang telah melaksanakan Kurikulum 2013 selama 3 (tiga) semester tetap menggunakan Kurikulum 2013.
(2) Satuan pendidikan dasar dan pendidikan menengah yang melaksanakan Kurikulum 2013 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan satuan pendidikan rintisan penerapan Kurikulum 2013.
(3) Satuan pendidikan rintisan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat
berganti melaksanakan Kurikulum Tahun 2006 dengan melapor kepada dinas pendidikan provinsi/kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya.

Pasal 3

(1) Satuan pendidikan dasar dan pendidikan menengah yang belum melaksanakan Kurikulum 2013 mendapatkan pelatihan dan pendampingan bagi:
a. kepala satuan pendidikan;
b. pendidik;
c. tenaga kependidikan; dan
d. pengawas satuan pendidikan.
(2) Pelatihan dan pendampingan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan meningkatkan kompetensi dan penyiapan pelaksanaan Kurikulum 2013.
(3) Pelatihan dan pendampingan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pasal 4
Satuan pendidikan dasar dan pendidikan menengah dapat melaksanakan
Kurikulum Tahun 2006 paling lama sampai dengan tahun pelajaran
2019/2020.

Pasal 5
Hal­hal yang belum diatur terkait dengan prosedur pemberlakuan Kurikulum Tahun 2006 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 serta tata cara satuan pendidikan yang siap melaksanakan Kurikulum 2013 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 diatur oleh Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Direktur Jenderal Pendidikan Menengah setelah berkoordinasi dengan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan.

Pasal 6

Ketentuan lebih lanjut mengenai Kurikulum Tahun 2006 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 diatur dalam Peraturan Menteri tersendiri.

Berdasarkan pasal-pasal permendikbud di atas dapat di simpulkan bahwa :“degan kembali nya pemberlakukan kurikulum KTSP 2006 ,tidak berarti Kurikulum 2013 di hentikan!.Tetapi tetap lanjut bagi sekolah pilot proyek. Bagi sekolah yang bukan pilot proyek tapi sudah melaksanakan 3 semester yang ingin lanjut terus K13 di silahkan sepanjnag meikili kesiapan .Tahun 2015 akan dilakukan penataan regulasi perundangan pendidikan, pelaatihan guru, dan pendampingan di tingkat satuan pendidikan .Ketika semua regulasi telah siap baru dilaksanakan K13 oleh semua sekolah di seluruh indinesia.

Sesungguhnya,apapun”Kurikulum”nya hasil terbaiknya akan tergantung kepada guru sebagai ujung tombak,kepala sekolah sebagai nakhoda,pengawas sebagai pemantau implemntasinya,dan Dinas Pendidikan dan Pemda sebagai pemangku kebijakan.
Khusus di kabupaten Dompu menurut pantauan dan hasil komfirmasi penulis via seluler kepada sebagaian besar sekolah yang telah melaksanakan kurikulum 2013 selama 3 semester pada umunya enggan kembali ke kurikulum 2016. Mengapa tidak, mereka sudah bekerja keras menyususn perangkat k-13 setelah mendapat pendampingan baik oleh instruktur maupun narasumber dari unsure guru , pengawas sekolah serta pengawas binaan sekolah masing-masing.Di sisi lain terkait dengan Aspek penilaian dengan instrument yang banyak dirasakan rumit dan riber oleh kalangan guru-guru di sekolah karena awalnya mereka belum memahami secara benar teknik penilaianya , ternyata tidak menjadikan suit dan riber jika penilaiannya dilakukan secara bertahap dan di analisis berdasaakan banyaknya pertemuan dalam satu semester.
Demikian pula dalam pengolahan nilai semester ganjil tahun 2014/2015 guru sedang memantapkan keterampilannya menggunakan aplikasi excel yang baru diterapkan di sekolahnya. Para guru menyatakan kegalauannya atas pengumuman menteri pendidikan atas penghentian kurikulum 2013 di sekolahnya. Ternyata menerapkan aplikasi penilaian berbasis teknologi itu, membuat proses penilaian menjadi lebih mudah. Tinggal memasukan data nilai yang siswa perleh maka setiap saat bisa dilihat langsung produk akhir dalam bentuk rapot. Tak perlu repot. Setiap perubahan data hasil penilaian berpengaruh terhadap hasil penilaian akhir. Mereka menyatakan setelah tahu itu, ternyata penilaian autentik dan tes itu dapat dilakukan dengan mudah asal dari awal semester guru bawa laptop ke kelas.
Ada kegusaran guru ketika sekolahnya harus kembali ke K2006. Selain harus mempersipakan kembali semester genap dengan kurikulum 2006, sebagian guru juga risau karena dengan komposisi jam pelajaran yang berubah terdapat sejumlah guru yang tidak memenuhi syarat mendapatkan sertifikasi. Karena konsekuensi perubahan itu menyebatkan ia tidak akan mendapat sertifikasi, maka jika mereka dapat memilih lebih baik sekolahnya melaksanakan K13.Di balik itu, pada minggu ini saya mendapat kabar dari salah satu guru besar, hingga kini banyak dosen yang belum berkompeten merumuskan silbus maupun merumuskan rencana perkuliahan yang diampunya. Fakta itu menggambarkan bahwa tugas merumuskan silabus dan RPP bukan hal yang mudah. Namun demikian, dalam pelaksanaan kurikulum 2006 tugas tersebu menjadi tugas guru. Jadi wajar apabila dalam realitasnya sepanjang pelaksanaan kurikulum pekerjaan yang berat yang dihadapi para guru adalah menjabarkan SK-KD ke dalam silabus dan RPP. Pekerjaan ini menjadi aktivitas rutin di MGMP dan tak pernah menghasilkan rumusan yang sesuai dengan standar.
Bersamaan dengan pemberlakuan K 2006, persoalan itu kembali menjadi dilemma yang harus guru hadapi. Persoalan lama seharusnya dapat diselesaikan dengan lebih baik. Sebab para guru sudah belajar dalam jangka waktu yang singkat bagaimana mengembangkan silabus dan RPP dalam kurikulum 20013 dengan pola kerja sebagaimana yang penulis lakukan di sejolah sekolah di kabupaten Dompu yaitu menerapkan 3M ( Mengamati-Meniru- dan Memodifikasi). Bersamaan dengan itu, persoalan lain kembali ke K 2006 sekolah perlu segera dalam waktu yang singkat menyediakan perangkat pembelajaran dan buku sumber yang akan memakan banyak waktu.Tantangan yang perlu mendapat perhatian adalah bagaimana semua pihak dapat mempermudah tugas guru untuk merumuskan indikator pencapaian kompetensi yang juga dihadapi dalam perumusan silabus dan RPP pada K2006. Kembali ke kurikilum 2006 tidak berarti guru mudah merumuskan pencapaian kompetesi tinggi. Bukti daya saing siswa Indonesia dalam skala internasional terbukti rendah karena penguatan kompetensi yang dapat dibangun sekolah belum memenuhi mutu berdaya siang tinggi. Di samping itu, tak dapat dipungkiri bahwa tantang peradaban terkini membutuhkan orang yang terampil berpikir tinggi, menguasai fakta, konsep dan prosedur, menguasai meta kognitif sebagai tanda menguasai ilmu pengetahuan. Yang tidak kalah penting pada mata pelajaran siswa perlu meningkatkan penguasaan TIK dalam era yang serba daring.
Dengan demikian tidaklah berarti bahwa kembali melaksanakan K2006 lebih mudah karena pada prosesnya ini kita memiliki pangamlaman bahwa tugas guru tidak lebih ringan dari pada melanjutkan K 13. Tentu saja jika targetnya ingin mewujudkan pendidikan yang lebih baik. Pendidikan yang tidak dilaksanakan seadanya sesuai dengan kapasitas dan kapabelitas pendidik yang apa adanya.Persoalan utama lain adalah bagaimana memfasilitasi guru dapat bekerja lebih baik dalam menentukan indikator kompetensi yang seharsnya siswa kuasai. Memfasilitasi guru menentukan instrumen penilaian agar dapat mengukur pencapaian kompetensi dengan intrumen yang valid , sistematis, terstruktur dan terukur. Memfasilitasi guru menguasai fakta, konsep, prosedur, dan metakognitif sebagai penanda menguasai materi pelajaran yang diampunya; memfasilitasi guru menunaikan tugas yang tidak ringan dalam merumuska silabus, rpp, dan materi pelajaran dengan benar…
Persoalan seperti itu seharusnya dapat diantisipasi. Dunia pendidikan Indonesia sudah paham benar bahwa mengapa K 2006 harus berubah karena beban tugas guru dalam beberapa persoalan di atas memang nyata. Dengan demikian peningkatan kompetensi guru dalam merencanakan, melaksanakan pembelajaran dan penilaian melalui berbagai pelatihan maupun proses pembelajaran yang lainnya justru menjadi lebih guru-guru perlukan. Jika kita akan tidak membiarkan pendidikan Indonesia terperosok pada kubangan masalah lama..Jika kita tidak berhasil membangkitkan para guru dari persoalan lama maka sesungguhnya kita akan kembali ke dalam terwongan masa lalu yang kita tahu di mana sisi gelapnya. Semoga kita semua bangkit dengan semangat lebih baik agar dapat mewujudkan cita-cita tinggi untuk pendidikan Indonesia yang lebih baik.
Salam pendidikan.

About suaidinmath

Mohon kontribusi untuk menambal retak dan menambah langkah kesempurnaan tulisan ini ...

Diskusi

3 thoughts on “MUNDURNYA KURIKULUM 2013 DAN PEMBERLAKUAN KEMBALI KURIKULUM 2006 ADALAH SUATU KEBIJAKAN YANG DILEMATIS

  1. assalamu’alaikum wr.wb
    dari lubuk hati yang paling dalam saya juga ikut prihatin pak dengan surat edaran Nomor : 179342/MPK/KR/2014 tertanggal 5 Desember 2014 . mengapa hal ini harus terjadi, bukankah k-13 adalah kurikulum yang bagus, saya optimis jika k-13 di terapkan insyaAllah akan membawa dampak yang positif bagi perbaikan mutu pendidikan di negeri ini. memang K-13 bukanlah kurikulum yang sempurna revisi seiring berjalannya waktu tetap harus dilakukan demi perbaikan. lah kalau kita diminta mundur seperti ini kapan lagi kita akan maju.
    kalau boleh usul pak jika memang harus demikian mungkin yang bisa kita lakukan biarlah kulitnya KTSP 2006 tapi isinya tetap harus K-13 dengan tetap mengembangkan kompetensi , pendekatan, model dll yang ada. mohon maaf
    wassalamu’alaikum wr.wb

    Disukai oleh 1 orang

    Posted by kkgkecamatanbaureno | 17 Desember 2014, 11:42 am

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Hari ini

Desember 2014
S S R K J S M
« Okt   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Statistik Blog

  • 1,760,511 hit

Arsip blog

Award Blog Pendidikan 2012

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 259 pengikut lainnya

Dunia Pendidikan

Teratas

RSS Republika online

RSS educatinalwithptk

newsalloy

NewsAlloy button

MUSIK

suara Edukasi

 

 http://radioedukasi.com/modules/mod_miniradio/mod_miniradio.swf

suara_edukasi

RADIO EDUKASI

Live Streaming AM 1251 kHz

Silahkan unduh produk audio radio Suara edukasi

[KLIK DISINI]

Zaimuttpjok/tik

BERBAGI INFORMASI PENDIDIKAN DAN KISAH HIDUP

isti

Berilah makan keyakinanmu niscaya keraguanmu mati kelaparan

ANNISA USH SHOLIHAH

ALL ABOUT CHEMIS_3 (sharing for carring)

Dinas Dikpora Kab. Dompu

Ikhlas Mendidik Untuk Martabat Bangsa dan Negara

Vox Populi

Vox Populi: A Public Sphere for Politics and Poetry

Architecture Here and There

Style Wars: classicsm vs. modernism

Stories From the Belly

A Blog About the Female Body and Its Appetites

mywordpool

"Words - so innocent and powerless as they are, as standing in a dictionary, how potent for good and evil they become in the hands of one who knows how to combine them." ~Nathaniel Hawthorne

Fusion

Championing a young, diverse, and inclusive America with a unique mix of smart and irreverent original reporting, lifestyle, and comedic content.

Whatever

LET ME STEAL THIS MOMENT FROM YOU NOW

rachel eats

stories, pictures and cooking tales from an english woman living in rome.

y

what it comes down to

tangerine drawings

scribbles and recipes from a pastry chef in paris

Extra Dry Martini

Straight up, with a twist.

Gravity and Levity

A blog about the big ideas in physics, plus a few other things

love.life.eat

living a mindful life

%d blogger menyukai ini: