//
you're reading...
Dunia Pendidikan

MONITORING DAN SUPERVISI PEMBELAJARAN

A. Latar Belakang

Dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia sejauh ini proses pembelajaran di kelas seolah-olah masih merupakan otoritas sepenuhnya pada guru. Hampir tidak ada pihak luar yang peduli, memerhatikan serta mencermati pelaksanaan pembelajaran guru di hadapan peserta didiknya. Bahkan sering dikatakan bahwa pekerjaan guru adalah merupakan profesi yang tidak dapat dilihat oleh orang lain, kecuali peserta didik. Apabila ada pihak lain, baik itu pengawas, kepala sekolah, apa lagi sesama guru yang ingin tahu bagaimana seorang guru mengajar, maka hal ini dianggap tabu dan bisa dikatakan tidak percaya kepada seorang guru.
Hal ini tentu dipengaruhi oleh budaya tertutup yang melingkupi iklim kerja di sekolah-sekolah. Oleh karena itu walaupun kepala sekolah dan pengawas (supervisor) memiliki kewenangan untuk monitoring dan supervisi pembelajaran, namun hal ini kurang maksimal dilakukan. Kunjungan kelas seakan masih merupakan formalitas, atau bahkan hanya dilakukan bila seorang guru dianggap bermasalah.
Kondisi demikian tentu tidak mendukung upaya peningkatan mutu pendidikan, yang ruhnya terletak pada interaksi antara guru dan peserta didik di kelas. Akuntabilitas guru menjadi rendah, dan terfokus pada bagaimana membuat peserta didik dapat mengerjakan soal-soal ujian. Pada mata pelajaran tertentu yang tidak termasuk materi ujian nasional, bahkan dikesankan lebih santai lagi. Pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, menyenangkan, dan bermakna bagi kehidupan peserta didik, masih jauh dari harapan.
Dalam kondisi demikian, maka peran pengawas dan kepala sekolah sangat diharapkan. Pengawas dan kepala sekolah harus berfungsi sebagai instrumen quality control dalam proses pendidikan, dan pembelajaran/bimbingan. Kualitas tidak hanya pada dimensi ketercapaian target materi dan nilai ulangan peserta didik, namun juga kebermaknaan proses pembelajaran.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka materi ini disusun sebagai bekal bagi pengawas dan kepala sekolah dalam monitoring proses pembelajaran oleh para guru.

B. Tujuan dan Manfaat
Secara umum tujuan monitoring dan supervisi proses pembelajaran bagi guru pada satuan pendidikan dasar dan menengah adalah dalam rangka menjamin mutu proses pembelajaran pada setiap satuan pendidikan dasar dan menengah, agar terlaksana monitoring proses pembelajaran yang efektif dan efisien.
Secara rinci, tujuan monitoring dan supervisi pembelajaran adalah pengawas diharapkan dapat: 1) memahami berbagai metode supervisi dan mampu mempraktikkannya dalam membina kepala sekolah/guru, 2) memahami teknik-teknik supervisi dan mampu mempraktikkannya dalam membina kepala sekolah/guru, 3) memahami prinsip-prinsip supervisi dan mampu mempraktikkannya dalam membina kepala sekolah/guru, dan 4) mengembangkan metode dan taknik supervisi sesuai dengan karakteristik permasalahan sekolah/guru yang dihadapi.
Manfaat ditetapkannya standar monitoring proses pembelajaran untuk satuan pendidikan dasar dan menengah adalah sebagai: 1) pedoman umum bagi pengawas dan kepala sekolah dalam menyelenggarakan monitoring kegiatan pembelajaran di setiap satuan pendidikan dasar dan menengah, 2) dasar bagi Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam mengarahkan, membimbing, membantu, dan mengawasi penyelenggaraan pembelajaran di setiap satuan pendidikan dasar dan menengah, dan 3) petunjuk bagi masyarakat atas peran sertanya dalam perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan pengawas program pembelajaran di setiap satuan pendidikan dasar dan menengah.

C. Lingkup Monitoring dan Supervisi Pembelajaran
Monitoring dan supervisi pembelajaran merupakan upaya penjaminan mutu pembelajaran bagi terwujudnya proses pembelajaran yang efektif dan efisien ke arah tercapainya kompetensi yang ditetapkan. Monitoring dan supervisi perlu didasarkan pada prinsip-prinsip tanggung jawab dan kewenangan, periodik, demokratis, terbuka, dan keberlanjutan.
Metode supervisi pembelajaran terdiri dari supervisi individual dan sipervisi kelompok. Supervisi individual meliputi: 1) kunjungan kelas, 2) observasi kelas, 3) pertemuan individual, 4) kunjungan antar kelas, dan 5) menilai diri sendiri.
Supervisi pembelajaran esensinya berkenaan dengan tugas pengawas untuk untuk membina guru dalam meningkatkan mutu pembelajarannya, sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
Upaya supervisi pembelajaran pada hakikatnya merupakan tanggung jawab bersama semua pihak yang terkait, sesuai dengan ketentuan tentang hak, kewajiban warga negara, orangtua, masyarakat, dan pemerintah.

B. Landasan Yuridis
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan bahwa sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan. Pendidikan nasional berfungsi mengembang¬kan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Undang-undang RI nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat (5) menyatakan tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan. Selanjutnya dalam pasal 39 ayat (1) dinyatakan: Tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan. Tugas pengawasan pendidikan mengimplikasikan adanya tenaga pengawas pendidikan yang dikenal dengan istilah pengawas sekolah atau pengawas satuan pendidikan baik pada jalur sekolah maupun pada jalur luar sekolah. Pada jalur pendidikan luar sekolah pengawas satuan pendidikan disebut penilik satuan pendidikan. Sebagaimana dikemukakan dalam penjelasan pasal 39 ayat (1) bahwa: Tenaga kependidikan meliputi pengelola satuan pendidikan, penilik, pamong belajar, pengawas, peneliti, pengembang, pustakawan, laboran dan teknisi sumber belajar.
Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan, pasal 39 ayat (1) menyatakan pengawasan pada pendidikan formal dilaksanakan oleh pengawas satuan pendidikan.
a. Undang-Undang Republik Indonesia, Nomor. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, khususnya yang mengatur tenaga kependidikan, sebagai berikut.
1) Tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan [Pasal 39 Ayat (1)].
2) Pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban: (1) menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis; (2) mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan; dan (3) memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya [Pasal 40 Ayat (2)].
b. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 162/U/2003 tentang Pedoman Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah. Penilaian kualitas kinerja seorang kepala sekolah dilihat dari peran sebagai: pemimpin, manajer, pendidik, administrator, wirausahawan, pencipta iklim kerja, dan sebagai penyelia.
Dalam lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RepubIik Indonesia Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah dinyatakan bahwa kompetensi kepala sekolah antara lain adalah: 1) Melakukan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksa-naan program kegiatan sekolah/ madrasah dengan prosedur yang tepat, serta merencanakan tindak lanjutnya, 2) merencanakan program supervisi akademik dalam rangka peningkatan profesionalisme guru, 3) melaksanakan supervisi akademik terhadap guru dengan menggunakan pendekatan dan teknik supervisi yang tepat, dan 4) menindaklanjuti hasil supervisi akademik terhadap guru dalam rangka peningkatan profesionalisme guru.
Dalam lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RepubIik Indonesia Nomor 12 Tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah dinyatakan bahwa kompetensi pengawas antara lain adalah: 1) memantau pelaksanaan pembelajaran/bimbingan dan hasil belajar siswa serta menganalisisnya untuk perbaikan mutu pembelajaran/bimbingan tiap bidang pengembangan di TK/RA atau matapelajaran di SD/MI, 2) memantau pelaksanaan standar nasional pendidikan dan memanfaatkan hasil-hasilnya untuk membantu kepala sekolah dalam mempersiapkan akreditasi sekolah menengah yang sejenis, 3) membimbing guru dalam menyusun silabus tiap matapelajaran dalam rumpun mata pelajaran yang relevan di sekolah menengah yang sejenis berlandaskan standar isi, standar kompetensi dan kompetensi dasar, dan prinsip-prinsip pengembangan KTSP, 4) memantau pelaksanaan pembelajaran/bimbingan dan hasil belajar siswa serta menganalisisnya untuk perbaikan mutu pembelajaran/bimbingan tiap mata pelajaran dalam rumpun mata pelajaran yang relevan di sekolah menengah yang sejenis, dan 5) memantau pelaksanaan standar nasional pendidikan dan memanfaatkan hasil-hasilnya untuk membantu kepala sekolah dalam mempersiapkan akreditasi sekolah menengah kejuruan.
Dalam lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RepubIik Indonesia Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses dinyatakan bahwa monitoring proses pembelajaran dilakukan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian hasil pembelajaran.

C. Landasan Konseptual
Peningkatan mutu pendidikan menuntut adanya tenaga kependidikan yang berkualitas. Salah satu tenaga kependidikan yang dinilai strategis dalam meningkatkan kemampuan profesional guru dan mutu pendidikan di sekolah adalah pengawas sekolah. Istilah pengawas sekolah disebut pengawas satuan pendidikan.
Pengawas satuan pendidikan adalah tenaga kependidikan profesional berstatus PNS yang diberi tugas, tanggungjawab dan wewenang secara penuh oleh pejabat berwenang untuk melakukan pembinaan dan pengawasan pendidikan pada sekolah/satuan pendidikan.
Status pengawas sekolah/satuan pendidikan adalah jabatan fungsional yang berkedudukan sebagai pelaksana teknis dalam melakukan pengawasan pendidikan terhadap sekolah tertentu yang ditunjuk/ditetapkan.
Tugas pokok pengawas satuan pendidikan adalah membina dan mengawasi penyelenggaraan pendidikan baik teknis edukatif maupun teknis administratif pada satuan pendidikan terentu. Sedangkan tanggungjawabnya adalah meningkatnya kualitas pembelajaran dan hasil belajar (supervisi akademik) dan kualitas penyelenggaraan pendidikan (supervisi manajerial) yang pada akhirnya tanggungjawab tersebut harus bermuara pada peningkatan mutu pendidikan pada setiap satuan pendidikan. Tugas pokok dan tanggungjawab tersebut merupakan penerapan dari konsep dan prinsip keilmuan yakni supervisi pembelajaran (akademik) termasuk manajemen pendidikan.
Dalam melaksanakan tugas pokoknya pengawas satuan pendidikan berfungsi sebagai supervisor pendidikan baik supervisor akademik maupun supervisor manajerial. Sebagai supervisor akademik, pengawas satuan pendidikan bertugas membantu dan membina guru meningkatkan kemampuan profesionalnya agar dapat mempertinggi mutu proses dan hasil belajar peserta didik. Sebagai supervisor manajerial, pengawas satuan pendidikan bertugas membantu kepala sekolah dan seluruh staf sekolah agar dapat meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan pada sekolah yang dibinanya.
Bobot fungsi supervisi akademik dan bobot fungsi manajerial berturut-turut 75% dan 25%. Kedua jenis pengawasan tersebut menjadi landasan utama dalam merumuskan tugas pokok dan fungsi pengawas satuan pendidikan.
Pengawas satuan pendidikan adalah tenaga kependidikan profesional berstatus PNS yang diberi tugas, tanggung jawab dan wewenang secara penuh oleh pejabat berwenang untuk melakukan pembinaan & pengawasan pendidikan pada sekolah/satuan pendidikan tertentu.
Kompetensi pengawas satuan pendidikan yaitu seperangkat kemampuan yang mencakup pengetahuan, keterampilan, sikap & tingkah laku yang harus dimiliki & dikuasai pengawas secara terpadu & ditampilkan dalam tindakannya untuk meningkatkan mutu pendidikan pada satuan pendidikan binaannya.
Kompetensi Pengawas Satuan Pendidikan mencakup 6 (enam) dimensi kompetensi, yaitu: 1) dimensi kepribadian, 2) dimensi sosial, 3) dimensi supervisi manajerial, 4) dimensi supervisi akademik, 5) dimensi evaluasi pendidikan, dan 6) dimensi penelitian pengembangan.
Dalam hal dimensi supervisi akademik, kompetensi supervisi akademik adalah kemampuan pengawas sekolah dalam melaksanakan pengawasan akademik yakni menilai dan membina guru dalam rangka mempertinggi kualitas proses pembelajaran yang dilaksanakannya agar berdampak terhadap kualitas hasil belajar siswa (Sudjana, 13: 2009).
Supervisi akademik menitikberatkan pada pengamatan supervisor terhadap kegiatan akademis, berupa pembelajaran baik di dalam maupun di luar kelas. Glickman (1981), mendefinisikan supervisi akademik adalah serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran demi pencapaian tujuan pembelajaran. Supervisi akademik merupakan upaya membantu guru-guru mengembangkan kemampuannya mencapai tujuan pembelajaran (Daresh, 1989).
Apabila dikatakan bahwa supervisi akademik merupakan serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya, maka dalam pelaksanaannya terlebih dahulu perlu diadakan penilaian kemampuan guru, sehingga bisa ditetapkan aspek yang perlu dikembangkan dan cara mengembangkannya.
Kompetensi supervisi akademik intinya adalah membina guru dalam meningkatkan mutu proses pembelajaran. Oleh sebab itu, sasaran supervisi akademik adalah guru dalam proses belajar mengajar (pembeljaran). Materi pokok dalam proses pembelajaran adalah (penyusunan silabus dan RPP, pemilihan strategi/metode/teknik pembelajaran, penggunaan media dan teknologi informasi dalam pembelajaran, menilai proses dan hasil pembelajaran serta penelitian tindakan kelas).
Kualifikasi pengawas satuan pendidikan dengan persyaratan akademik minimal yang harus dipenuhi untuk dapat diangkat sebagai pengawas satuan pendidikan. Kualifikasi tersebut mencakup: tingkat pendidikan keahlian/ keilmuan, pangkat/golongan, jabatan, pengalaman kerja & usia.
Kepala Sekolah adalah guru yang atas dasar kompetensinya diangkat dan diberi tugas tambahan mengelola satuan pendidikan. Hoy dan Miskel (1987) menegaskan bahwa kepala sekolah yang efektif adalah kepala sekolah yang memiliki kompetensi yang dipersyaratkan dan berusaha memanfaatkan kompetensinya untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsinya bagi keefektifan sekolah. Senada dengan pendapat tersebut, Sergiovanni (1997) mengemukakan bahwa kepala sekolah yang efektif adalah kepala sekolah mampu memainkan peran sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya sebagai kepala sekolah. Kompetensi Kepala Sekolah mencakup 5 (lima) dimensi kompetensi, yaitu: 1) dimensi kepribadian, 2) dimensi manajerial, 3) dimensi kewirausahaan 4) dimensi supervisi, dan 5) dimensi sosial.
Monitoring proses pembelajaran adalah kegiatan yang menyertakan proses pengumpulan, pencatatan, penganalisisan, pelaporan dan penggunaan informasi manajemen tentang pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Monitoring proses pembelajaran dilakukan oleh pengawas dan kepala sekolah yang dilaksanakan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian hasil pembelajaran dengan cara diskusi kelompok terfokus, pengamatan, pencatatan, perekaman, wawancara dan dokumentasi.

D. Landasan Empirik
Kondisi dan gambaran pengawas satuan pendidikan yang ada pada saat ini, dari studi yang dilakukan POKJA Pengawas terhadap sejumlah pengawas yang mewakili hampir semua propinsi dapat dikemukakan sbb: (1) kualifikasi akademik pengawas satuan pendidikan yang ditunjukkan oleh tingkat pendidikan formal sangat heterogen (2) para pengawas sekolah/satuan pendidikan telah memiliki pengalaman kerja sebagai tenaga pendidik berstatus PNS cukup lama dan rata-rata telah berusia di atas 50 tahun (3) rekrutmen tenaga pengawas satuan pendidikan yang tidak terprogram dan tidak teruji secara akademik (4) lemahnya pembinaan karir dan pembinaan profesi pengawas sehingga kompetensi profesional pengawas tidak lebih baik dari kompetensi guru (5) jabatan pengawas sekolah kurang diminati dibandingkan dengan jabatan kepala sekolah disebabkan rekrutmen dan penghargaan pengawas yang tidak memadai serta (6) kurangnya dukungan yang diberikan kepada pengawas untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pengawas satuan pendidikan.

 

E. Monitoring Proses Pembelajaran
Monitoring pelaksanaan pembelajaran adalah kegiatan monitoring yang dilakukan oleh pengawas atau kepala sekolah dengan cara diskusi kelompok berfokus, pengamatan, pencatatan, perekaman, wawancara dan dokumentasi. Monitoring tersebut dilakukan pada tahap: perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian hasil belajar. Ketiga tahap tersebut diuraikan berikut.

1. Monitoring pada Tahap Perencanaan Proses Pembelajaran
Monitoring pada tahap perencanaan proses pembelajaran meliputi unsur silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang memuat identitas mata pelajaran, standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD), indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, materi ajar, alokasi waktu, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian hasil belajar, dan sumber belajar.

a. Silabus
Silabus sebagai acuan pengembangan RPP memuat identitas mata pelajaran atau tema pelajaran, SK, KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. Silabus dikembangkan oleh satuan pendidikan berdasarkan Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL), serta panduan penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dalam pelaksanaannya, pengembangan silabus dapat dilakukan oleh para guru secara mandiri atau berkelompok dalam sebuah sekolah/madrasah atau beberapa sekolah, kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) atau Pusat Kegiatan Guru (PKG), dan Dinas Pendidikan. Pengembangan silabus disusun di bawah supervisi dinas kabupaten/kota yang bertanggung jawab di bidang pendidikan untuk SD dan SMP, dan dinas provinsi yang bertanggung jawab di bidang pendidikan untuk SMA dan SMK, serta departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama untuk MI, MTs, MA, dan MAK. Contoh silabus (terlampir).

b. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai KD. Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
RPP disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih. Guru dapat merancang penggalan RPP untuk setiap pertemuan yang disesuaikan dengan penjadwalan pada satuan pendidikan.
Komponen RPP adalah sebagai berikut.
1. Identitas mata pelajaran
Identitas mata pelajaran, meliputi: satuan pendidikan, kelas, semester, program/program keahlian, mata pelajaran atau tema pelajaran, jumlah pertemuan.
2. Standar kompetensi
Standar kompetensi merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap kelas dan/atau semester pada suatu mata pelajaran.
3. Kompetensi dasar
Kompetensi dasar adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompetensi dalam suatu pelajaran. Kompetensi dasar ini merupakan acuan perumusan tujuan pembelajaran.
4. Tujuan pembelajaran
Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik yang mengacu pada kompetensi dasar.
5. Materi ajar
Materi ajar memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi.

6. Alokasi waktu
Alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD dan beban belajar.
7. Metode pembelajaran
Metode pembelajaran digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan. Pemilihan metode pembelajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik, serta karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran. Pendekatan pembelajaran tematik digunakan untuk peserta didik kelas 1 sampai kelas 3 SD/MI.
8. Kegiatan pembelajaran
a. Pendahuluan
Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan pembelajaran yang ditujukan untuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.
b. Inti
Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD. Kegiatan pembelajaran dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenang¬kan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan ini dilakukan secara sistematis dan sistemik melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.

c. Penutup
Penutup merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman atau kesimpulan, penilaian dan refleksi, umpan balik, dan tindak lanjut.

9. Indikator pencapaian kompetensi
Indikator kompetensi adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Untuk merumuskan indikator pencapaian kompetensi dapat dimulai dengan perumusan kegiatan (activity) yang dapat dilakukan untuk mencapai kompetensi. Dengan demikian harus dibedakan antara indikator kompetensi dengan indikator tes.
10. Penilaian hasil belajar
Prosedur dan instrumen penilaian proses dan hasil belajar disesuaikan dengan indikator pencapaian kompetensi dan mengacu kepada Standar Penilaian. Patut diperhatikan indikator tes yang menggambarkan kedalaman konten yang harus dikuasai dan biasanya terkait dengan kompetensi yang akan dicapai.
11. Sumber belajar
Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.

c. Prinsip-prinsip Penyusunan RPP
1) Memperhatikan perbedaan individu peserta didik
RPP disusun dengan memperhatikan perbedaan jenis kelamin, kemam¬puan awal, tingkat intelektual, minat, motivasi belajar, bakat, potensi, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan peserta didik.
2) Mendorong partisipasi aktif peserta didik
Proses pembelajaran dirancang dengan berpusat pada peserta didik untuk mendorong motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, kemandirian, dan semangat belajar.
3) Mengembangkan budaya membaca dan menulis
Proses pembelajaran dirancang untuk mengembangkan kegemaran membaca, pemahaman beragam bacaan, dan berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan.
4) Memberikan umpan balik dan tindak lanjut
RPP memuat rancangan program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan, dan remedi.
5) Keterkaitan dan keterpaduan
RPP disusun dengan memperhatikan keterkaitan dan keterpaduan antara SK, KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar. RPP disusun dengan mengakomodasikan pembelajaran tematik, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya.
6) Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi
RPP disusun dengan mempertimbangkan penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi.
Contoh rencana pelaksanaan pembelajaran (terlampir).

2. Monitoring pada Tahap Pelaksanaan Pembelajaran
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam monitoring pada tahap pelaksanaan proses pembelajaran adalah persyaratan pelaksanaan proses pembelajaran, dan pelaksanaan pembelajaran.
a. Persyaratan Pelaksanaan Proses Pembelajaran
1) Rombongan belajar
Jumlah maksimal peserta didik setiap rombongan belajar adalah:
a) SD/MI : 28 peserta didik
b) SMP/MTs : 32 peserta didik
c) SMA/MA : 32 peserta didik
d) SMK/MAK : 32 peserta didik
2) Beban kerja minimal guru
a) beban kerja guru mencakup kegiatan pokok yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembel¬ajaran, membimbing dan melatih peserta didik, serta melaksanakan tugas tambahan,
b) beban kerja guru sebagaimana dimaksud pada huruf a di atas adalah sekurang-kurangnya 24 (dua puluh empat) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu.
3) Buku teks pelajaran
a) buku teks pelajaran yang akan digunakan oleh sekolah/madrasah dipilih melalui rapat guru dengan pertimbangan komite sekolah/madrasah dari buku-buku teks pelajaran yang ditetapkan oleh Menteri,
b) rasio buku teks pelajaran untuk peserta didik adalah 1 : 1 per mata pelajaran,
c) selain buku teks pelajaran, guru menggunakan buku panduan guru, buku pengayaan, buku referensi dan sumber belajar lainnya,
d) guru membiasakan peserta didik menggunakan buku-buku dan sumber belajar lain yang ada di perpustakaan sekolah/madrasah.
4) Pengelolaan kelas
a) guru mengatur tempat duduk sesuai dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran, serta aktivitas pembelajaran yang akan dilakukan,
b) volume dan intonasi suara guru dalam proses pembelajaran harus dapat didengar dengan baik oleh peserta didik,
c) tutur kata guru santun dan dapat dimengerti oleh peserta didik,
d) guru menyesuaikan materi pelajaran dengan kecepatan dan kemampuan belajar peserta didik,
e) guru menciptakan ketertiban, kedisiplinan, kenyamanan, kesela¬matan, dan kepatuhan pada peraturan dalam menyelenggarakan proses pembelajaran,
f) guru memberikan penguatan dan umpan balik terhadap respons dan hasil belajar peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung,
g) guru menghargai peserta didik tanpa memandang latar belakang agama, suku, jenis kelamin, dan status sosial ekonomi,
h) guru menghargai pendapat peserta didik,
i) guru memakai pakaian yang sopan, bersih, dan rapi,
j) pada tiap awal semester, guru menyampaikan silabus mata pelajaran yang diampunya,
k) guru memulai dan mengakhiri proses pembelajaran sesuai dengan waktu yang dijadwalkan.

b. Pelaksanaan Pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran merupakan implementasi dari RPP. Pelaksanaan pembelajaran meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup.
1) Kegiatan Pendahuluan
Dalam kegiatan pendahuluan, guru:
a) menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran,
b) mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari,
c) menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai,
d) menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus.
2) Kegiatan Inti
Pelaksanaan kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Pembelajaran interaktif adalah pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menjalin kerjasama yang bermakna dengan teman dan guru.
Pembelajaran inspiratif adalah pembelajaran yang mendorong dan memicu peserta didik untuk mencaritemukan hal-hal yang baru dan inovatif.

Pembelajaran yang menyenangkan adalah pembelajaran yang memungkinkan siswa belajar dalam suasana tanpa tekanan, bebas, terlibat secara psikis dan fisik.

Pembelajaran yang menantang adalah pembelajaran dimana peserta didik diperhadapkan pada masalah, persoalan-persoalan dilematis, yang jawabannya membutuhkan kreativitas dan kemungkinan-kemungkinan baru sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif peserta didik.

Pembelajaran yang memotivasi adalah pembelajaran yang mendorong dan memberi semangat pada peserta didik untuk mencapai prestasi, berkompetisi, berani mengekspresikan dan mengaktualisasikan diri dengan materi pembelajaran.

Kegiatan inti menggunakan metode yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran, yang dapat meliputi proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.

Eksplorasi adalah serangkaian kegiatan pembelajaran yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mencaritemukan berbagai informasi, pemecahan masalah, dan inovasi.

Elaborasi adalah serangkaian kegiatan pembelajaran yang memung¬kinkan peserta didik mengekspresikan dan mengaktualisasikan diri melalui berbagai kegiatan dan karya yang bermakna.

Konfirmasi adalah serangkaian kegiatan pembelajaran yang memberi kesempatan bagi peserta didik untuk dinilai, diberi penguatan dan diperbaiki secara terus-menerus.
a) Eksplorasi
Dalam kegiatan eksplorasi, guru:
(1) melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber,
(2) menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain,
(3) memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya,
(4) melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran,
(5) memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.
b) Elaborasi
Dalam kegiatan elaborasi, guru:
(1) membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna,
(2) memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis,
(3) memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyele¬saikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut,
(4) memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif,
(5) memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar,
(6) memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok,
(7) memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja indivi¬dual maupun kelompok,
(8) memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan,
(9) memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang menum¬buhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.

c) Konfirmasi
Dalam kegiatan konfirmasi, guru:
(1) memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik,
(2) memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik melalui berbagai sumber,
(3) memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan,
(4) memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar:
(a) berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar,
(b) membantu menyelesaikan masalah,
(c) memberi acuan agar peserta didik dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi,
(d) memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh,
(e) memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum berpartisipasi aktif.

3) Kegiatan Penutup
Dalam kegiatan penutup, guru:
a) bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan pelajaran,
b) melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram,
c) memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran,
d) merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik,
e) menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.

c. Penilaian Hasil Pembelajaran
Penilaian dilakukan oleh guru terhadap hasil pembelajaran untuk mengukur tingkat pencapaian kompetensi peserta didik, serta digunakan sebagai bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar, dan memperbaiki proses pembelajaran.
Penilaian dilakukan secara konsisten, sistematik, dan terprogram dengan menggunakan tes dan nontes dalam bentuk tertulis atau lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk, portofolio, dan penilaian diri. Penilaian hasil pembelajaran menggunakan Standar Penilaian Pendidikan dan Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran.

E. Supervisi Pembelajaran
Supervisi pembelajaran atau supervisi akademik adalah pelaksanaan pengawasan akademik, yakni penilaian dan pembinaan guru yang dilakukan oleh pengawas.

1. Penilaian kepada Guru
Penilaian kepada guru dimaksudkan adalah penilaian yang dilaksanakan oleh pengawas yang berkaitan dengan kemampuan guru dalam menyusun merencanakan, melaksanakan, dan menilai hasil pembelajaran.
Penilaian pembelajaran dilakukan untuk menentukan kualitas pembelajaran secara keseluruhan, mencakup: tahap perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, dan penilaian hasil pembel¬ajaran.
Penilaian proses pembelajaran diselenggarakan dengan cara: 1) membandingkan proses pembelajaran yang dilaksanakan guru dengan standar proses, dan 2) mengidentifikasi kinerja guru dalam proses pembelajaran sesuai dengan kompetensi guru.
Penilaian proses pembelajaran memusatkan pada keseluruhan kinerja guru dalam proses pembelajaran.

a. Penilaian pada tahap perencanaan proses pembelajaran
Penilaian perencanaan proses pembelajaran yang dilakukan oleh pengawas sekolah terhadap guru adalah menilai kualitas silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang memuat identitas mata pelajaran, standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD), indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, materi ajar, alokasi waktu, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian hasil belajar, dan sumber belajar. Untuk hal tersebut, apakah 1) RPP dijabarkan dari silabus dan nantinya kegiatan belajar peserta didik terarah untuk mencapai KD?, 2) RPP disusun secara lengkap dan sistematik agar pembelajaran nantinya berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif dan memberi ruang bagi prakarsa, kreativitas, kemandirian sesuai bakat, minat & perkembangan peserta didik? dan 3) RPP disusun dengan (1) memperhatikan perbedaan individu peserta didik, (2) mendorong partisipasi aktif peserta didik, (3) mengembangkan budaya membaca & menulis, (4) memberikan umpan balik & tindak lanjut, (5) keterkaitan & keterpaduan, dan (6) menerapkan TIK? Contoh format penilaian perencanaan proses pembelajaran (terlampir).

b. Penilaian pada tahap pelaksanaan pembelajaran
Sebelum menilai pelaksanaan pembelajaran, pengawas sekolah terlebih dahulu memperhatikan persyaratan pelaksanaan proses pembel¬ajaran (romongan belajar, beban kerja minimal guru, buku teks pelajaran, dan pengelolaan kelas).
Menilai pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh pengawas sekolah terhadap guru adalah menilai kualitas proses pembelajaran secara keseluruhan yang terdiri atas: kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.
Pada kegiatan pendahuluan, apakah guru 1) menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran, 2) mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari, 3) menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai, dan menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus?
Pada kegiatan inti, untuk mencapai KD apakah guru melakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik? Disamping itu, apakah guru menggunakan metode yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran, yang dapat meliputi proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi?
Dalam hal eksplorasi, apakah guru: 1) melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber, 2) menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembel¬ajaran, dan sumber belajar lain, memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya, 3) melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran, dan 4) memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.
Dalam hal elaborasi, apakah guru: 1) membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna, 2) memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis, 3) memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut, 4) memfasilitasi peserta didik dalam pembel¬ajaran kooperatif dan kolaboratif, 5) memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar, 6) memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok, 7) memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok, 8) memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan, dan 9) memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebang¬gaan dan rasa percaya diri peserta didik?
Dalam hal konfirmasi, apakah guru: 1) memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik, 2) memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik melalui berbagai sumber, 3) memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan, dan 4) memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar, misalnya: (1) berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar, (2) membantu menyelesaikan masalah, (3) memberi acuan agar peserta didik dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi, (4) memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh, dan (5) memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum berpartisipasi aktif.

c. Penilaian pada tahap menutup pembelajaran
Menilai pada tahap kegiatan menutup pembelajaran yang dilakukan oleh pengawas sekolah terhadap guru adalah menilai kualitas proses menutup pembelajaran. Dalam hal ini, apakah guru: 1) bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan pelajaran, 2) melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram, 3) memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran, 4) merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik, dan 5) menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya?

2. Pembinaan Kemampuan Guru
Dalam pembinaan kemampuan guru, pengawas melakukan pembim¬bingan dalam hal: 1) menyusun silabus mata pelajaran berdasarkan standar isi, standar kompetensi, dan kompetensi dasar serta prinsip-prinsip pengembangan KTSP, 2) memilih dan menggunakan strategi/metode/teknik pembelajaran/ bimbingan setiap mata pelajaran, 3) menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran tiap mata pelajaran, 4) melaksanakan pembelajaran di laboratorium dan di lapangan, 5) mengelola, merawat, mengembangkan dan menggunakan media, serta fasilitas pembelajaran/bimbingan, dan 6) memanfaatkan teknologi informasi untuk pembelajaran/bimbingan.
Melalui supervisi pembelajaran, ada lima langkah pembinaan kemampuan guru, yaitu: (1) menciptakan hubungan yang harmonis, (2) analisis kebutuhan, (3) mengembangkan strategi dan media, (4) menilai, dan (5) revisi.

a. Menciptakan Hubungan yang Harmonis
Langkah pertama dalam pembinaan keterampilan pembelajaran guru adalah menciptakan hubungan yang harmonis antara pengawas dan guru, serta semua pihak yang terkait dengan program pembinaan keterampilan pembelajaran guru. Dalam upaya melaksanakan supervisi akademik memang diperlukan kejelasan informasi antar personil yang terkait. Tanpa kejelasan informasi, guru akan kebingungan, tidak tahu yang diharapkan kepala sekolah, dan meyakini bahwa tujuan pokok dalam pengukuran kemampuan guru, sebagai langkah awal setiap pembinaan keterampilan pembelajaran melalui supervisi akademik, adalah hanya untuk mengidentifikasi guru yang baik dan yang kurang terampil dalam mengajar. Padahal seandainya ada kejelasan informasi, tentu tidak akan terjadi guru yang demikian.
Komunikasi antara kepala sekolah dan guru dikatakan efektif apabila guru benar-benar menerima supervisi akademik sebagai upaya pembinaan kemampuannya. Dalam upaya ini, diperlukan kejelasan informasi mengenai hakikat dan tujuan supervisi akademik. Dalam upaya memperjelas program supervisi akademik, tentu diperlukan suatu cara dan prinsip-prinsip tertentu dalam berkomunikasi. Bagaimanakah berkomunikasi secara efektif. Ada sejumlah prinsip komunikasi yang harus diterapkan oleh kepala sekolah, sebagaimana dikemukakan oleh Marks, Stoops dan Stoops, yaitu: 1) berbicaralah sebijaksana dan sebaik mungkin, 2) ikutilah pembicaraan orang lain secara saksama, 3) ciptakan hubungan interpersonal antar personil, 4) berpikirlah sebelum berbicara, 5) ikutilah norma-norma yang berlaku pada latar sekolah, 6) usahakanlah untuk memahami pendapat orang lain, 7) konsentrasikan pada pesanmu, bukan pada dirimu sendiri, 8) kumpulkan materi untuk mengadakan diskusi bila perlu, 9) persingkat pembicaraan, 10) ciptakan ketidaksanggupan, 11) bersemangatlah, 12) raihlah sikap orang lain untuk membantu program, 13) berkomunikasilah dengan “eye communication”, 14) selalu mencoba, 15) jadilah pendengar yang baik, dan 16) ketahuilah kapan sebaiknya berhenti berkomunikasi.

b. Analisis Kebutuhan
Secara hakiki, analisis kebutuhan merupakan upaya menentukan perbedaan antara pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dipersyaratkan dan yang secara nyata dimiliki. Langkah-langkah menganalisis kebutuhan, yaitu: 1) mengidentifikasi masalah-masalah pembelajaran – perbedaan (gap) apa saja yang ada antara pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang nyata dimiliki guru dan yang seharusnya dimiliki guru?, disintesiskan dan diklasifikasi, 2) mengidentifikasi lingkungan dan hambatan-hambatannya, 3) menetapkan tujuan umum jangka panjang, 4) mengidentifikasi tugas-tugas manajemen yang dibutuhkan, seperti keuangan, sumber-sumber, perlengkapan dan media, 5) mencatat prosedur-prosedur untuk mengumpulkan informasi tambahan tentang pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dimiliki guru, 6) mengidentifikasi dan mencatat kebutuhan-kebutuhan khusus pembinaan keterampilan pembelajaran guru, dan 7) menetapkan kebutuhan-kebutuhan pembinaan keterampilan pembelajaran guru yang bisa dibina melalui teknik dan media.

c. Mengembangkan Strategi dan Media
Tujuan pengembangan strategi dan media supervisi pembelajaran, yaitu: 1) mendaftar pembinaan-pembinaan keterampilan pengajaran yang akan dilakukan dengan menggunakan teknik supervisi individual, 2) mendaftar pembinaan keterampilan pengajaran yang akan dilakukan melalui teknik supervisi kelompok, 3) mendaftar mengidentifikasi dan memilih teknik dan media supervisi yang siap digunakan untuk membina keterampilan pengajaran guru yang diperlukan, 4) setelah mengembangkan teknik dan media supervisi pembelajaran, selanjutnya dilakukan pembinaan keterampilan pembelajaran guru dengan menggunakan teknik dan media tertentu sebagaimana telah dikembangkan.

d. Penilaian Keberhasilan Supervisi Pembelajaran
Penilaian merupakan proses sistematik untuk menentukan tingkat keberhasilan yang dicapai. Dalam konteks supervisi pembelajaran, penilaian merupakan proses sistematik untuk menentukan tingkat keberhasilan yang dicapai dalam pembinaan keterampilan pembelajaran guru. Tujuan penilaian pembinaan keterampilan pembelajaran adalah: 1) untuk menentukan apakah pengajar (guru) telah mencapai kriteria pengukuran sebagaimana dinyatakan dalam tujuan pembinaan, dan 2) untuk menentukan validitas teknik pembinaan dan komponen-komponennya dalam rangka perbaikan proses pembinaan berikutnya.
Prinsip dasar dalam merancang dan melaksanakan program penilaian adalah bahwa penilaian harus mengukur performansi atau perilaku yang dispesifikasi pada tujuan supervisi pembelajaran guru. Langkah-langkahnya adalah: 1) katakan dengan jelas teknik-teknik penilaian, 2) tulislah masing-masing tujuan, 3) pilihlah atau kembangkan instrumen-instrumen pengukuran yang secara efektif dapat menilai hasil yang telah dispesifikasi, 4) uji lapangan untuk mengetahui validitasnya, dan 5) organisasikan, analisis, dan rangkumlah hasilnya.

e. Perbaikan Program Supervisi Pembelajaran
Sebagai langkah terakhir dalam pembinaan keterampilan pengajaran guru adalah merevisi program pembinaan. Revisi ini dilakukan seperlunya, sesuai dengan hasil penilaian yang telah dilakukan. Langkah-langkahnya adalah: 1) me-review rangkuman hasil penilaian, 2) apabila ternyata tujuan pembinaan keterampilan pengajaran guru tidak dicapai, maka sebaiknya dilakukan penilaian ulang terhadap pengetahuan, keterampilan dan sikap guru yang menjadi tujuan pembinaan, 3) apabila ternyata memang tujuannya belum tercapai maka mulailah merancang kembali program supervisi pembelajaran untuk berikutnya, dan 4) mengimplementasikan program pembinaan yang telah dirancang kembali pada masa berikutnya.

3. Teknik Supervisi Pembelajaran
Menurut Gwynn dalam upaya pembinaan guru, ada 2 (dua) teknik supervisi pembelajaran, yaitu: teknik supervisi individual, dan teknik supervisi kelompok.
a. Teknik Supervisi Individual
Teknik supervisi individual di sini adalah pelaksanaan supervisi yang diberikan kepada guru tertentu yang mempunyai masalah khusus dan bersifat perorangan. Supervisor di sini hanya berhadapan dengan seorang guru yang dipandang memiliki persoalan tertentu. Teknik-teknik supervisi yang dikelompokkan sebagai teknik individual meliputi: kunjungan kelas, observasi kelas, pertemuan individual, kunjungan antarkelas, dan menilai diri sendiri. Berikut ini dijelaskan pengertian-pengertian dasarnya secara singkat satu persatu.
1) Kunjungan Kelas
Kunjungan kelas adalah teknik pembinaan guru oleh kepala sekolah, pengawas, dan pembina lainnya dalam rangka mengamati pelaksanaan proses belajar mengajar sehingga memperoleh data yang diperlukan dalam rangka pembinaan guru. Tujuan kunjungan ini adalah semata-mata untuk menolong guru dalam mengatasi kesulitan atau masalah mereka di dalam kelas. Melalui kunjungan kelas, guru-guru dibantu melihat dengan jelas masalah-masalah yang mereka alami. Menganalisisnya secara kritis dan mendorong mereka untuk menemukan alternatif pemecahannya. Kunjungan kelas ini bisa dilaksanakan dengan pemberitahuan atau tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, dan bisa juga atas dasar undangan dari guru itu sendiri.
Ada empat tahap kunjungan kelas. Pertama, tahap persiapan. Pada tahap ini, supervisor merencanakan waktu, sasaran, dan cara mengobservasi selama kunjungan kelas. Kedua, tahap pengamatan selama kunjungan. Pada tahap ini, supervisor mengamati jalannya proses pembelajaran berlangsung. Ketiga, tahap akhir kunjungan. Pada tahap ini, supervisor bersama guru mengadakan perjanjian untuk membicarakan hasil-hasil observasi, sedangkan tahap terakhir adalah tahap tindak lanjut. Ada beberapa kriteria kunjungan kelas yang baik, yaitu: (1) memiliki tujuan-tujuan tertentu; (2) mengungkapkan aspek-aspek yang dapat memperbaiki kemampuan guru; (3) menggunakan instrumen observasi tertentu untuk mendapatkan daya yang obyektif; (4) terjadi interaksi antara pembina dan yang dibina sehingga menimbulkan sikap saling pengertian; (5) pelaksanaan kunjungan kelas tidak menganggu proses belajar mengajar; (6) pelaksanaannya diikuti dengan program tindak lanjut
2) Observasi Kelas
Observasi kelas secara sederhana bisa diartikan melihat dan memperha¬tikan secara teliti terhadap gejala yang nampak. Observasi kelas adalah teknik observasi yang dilakukan oleh supervisor terhadap proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Tujuannya adalah untuk memperoleh data seobyektif mungkin mengenai aspek-aspek dalam situasi belajar mengajar, kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh guru dalam usaha memperbaiki proses belajar mengajar. Secara umum, aspek-aspek yang diamati selama proses pembelajaran yang sedang berlangsung adalah:
a) usaha-usaha dan aktivitas guru-siswa dalam proses pembelajaran
b) cara penggunaan media pengajaran
c) reaksi mental para siswa dalam proses belajar mengajar
d) keadaan media pengajaran yang dipakai dari segi materialnya.
Pelaksanaan observasi kelas ini melalui beberapa tahap, yaitu: 1) persiapan observasi kelas; 2) pelaksanaan observasi kelas; 3) penutupan pelaksanaan observasi kelas; 4) penilaian hasil observasi; dan 5) tindak lanjut. Dalam melaksanakan observasi kelas ini, sebaiknya supervisor menggunakan instrumen observasi tertentu, antara lain berupa evaluative check-list, activity check-list.
3) Pertemuan Individual
Pertemuan individual adalah satu pertemuan, percakapan, dialog, dan tukar pikiran antara pembina atau supervisor guru, guru dengan guru, mengenai usaha meningkatkan kemampuan profesional guru. Tujuannya adalah: 1) memberikan kemungkinan pertumbuhan jabatan guru melalui pemecahan kesulitan yang dihadapi; 2) mengembangkan hal mengajar yang lebih baik; 3) memperbaiki segala kelemahan dan kekurangan pada diri guru; dan 4) menghilangkan atau menghindari segala prasangka yang bukan-bukan.
Swearingen (1961) mengklasifikasi jenis percakapan individual ini menjadi empat macam sebagai berikut.
a) Classroom-conference, yaitu percakapan individual yang dilaksanakan di dalam kelas ketika murid-murid sedang meninggalkan kelas (istirahat).
b) Office-conference. Yaitu percakapan individual yang dilaksanakan di ruang kepala sekolah atau ruang guru, di mana sudah dilengkapi dengan alat-alat bantu yang dapat digunakan untuk memberikan penjelasan pada guru.
c) Causal-conference. Yaitu percakapan individual yang bersifat informal, yang dilaksanakan secara kebetulan bertemu dengan guru.
d) Observational visitation. Yaitu percakapan individual yang dilaksanakan setelah supervisor melakukan kunjungan kelas atau observasi kelas
Dalam percakapan individual ini supervisor harus berusaha mengem- bangkan segi-segi positif guru, mendorong guru mengatasi kesulitan-kesulitannya, dan memberikan pengarahan, hal-hal yang masih meragukan sehingga terjadi kesepakatan konsep tentang situasi pembelajaran yang sedang dihadapi.
4) Kunjungan Antar Kelas
Kunjungan antarkelas dapat juga digolongkan sebagai teknik supervisi secara perorangan. Guru dari yang satu berkunjung ke kelas yang lain dalam lingkungan sekolah itu sendiri. Dengan adanya kunjungan antarkelas ini, guru akan memperoleh pengalaman baru dari teman sejawatnya mengenai pelaksanaan proses pembelajaran pengelolaan kelas, dan sebagainya.
Agar kunjungan antarkelas ini betul-betul bermanfaat bagi pengem- bangan kemampuan guru, maka sebelumnya harus direncanakan dengan sebaik-baiknya. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh supervisor apabila menggunakan teknik ini dalam melaksanakan supervisi bagi guru-guru.
a) Guru-guru yang akan dikunjungi harus diseleksi dengan sebaik-baiknya. Upayakan mencari guru yang memang mampu memberikan pengalaman baru bagi guru-guru yang akan mengunjungi.
b) Tentukan guru-guru yang akan mengunjungi.
c) Sediakan segala fasilitas yang diperlukan dalam kunjungan kelas.
d) Supervisor hendaknya mengikuti acara ini dengan cermat. Amatilah apa-apa yang ditampilkan secara cermat, dan mencatatnya pada format-format tertentu.
e) Adakah tindak lanjut setelah kunjungan antarkelas selesai. Misalnya dalam bentuk percakapan pribadi, penegasan, dan pemberian tugas-tugas tertentu.
f) Segera aplikasikan ke sekolah atau ke kelas guru bersangkutan, dengan menyesuaikan pada situasi dan kondisi yang dihadapi.
g) Adakan perjanjian-perjanjian untuk mengadakan kunjungan antar kelas berikutnya.
5) Menilai Diri Sendiri
Menilai diri sendiri merupakan satu teknik individual dalam supervisi pendidikan. Penilaian diri sendiri merupakan satu teknik pengembangan profesional guru (Sutton, 1989). Penilaian diri sendiri memberikan informasi secara obyektif kepada guru tentang peranannya di kelas dan memberikan kesempatan kepada guru mempelajari metoda pengajarannya dalam mempengaruhi murid (House, 1973). Semua ini akan mendorong guru untuk mengembangkan kemampuan profesionalnya (DeRoche, 1985; Daresh, 1989; Synder & Anderson, 1986).
Nilai diri sendiri merupakan tugas yang tidak mudah bagi guru. Untuk mengukur kemampuan mengajarnya, di samping menilai murid-muridnya, juga menilai dirinya sendiri. Ada beberapa cara atau alat yang dapat digunakan untuk menilai diri sendiri, antara lain sebagai berikut.
a) Suatu daftar pandangan atau pendapat yang disampaikan kepada murid-murid untuk menilai pekerjaan atau suatu aktivitas. Biasanya disusun dalam bentuk pertanyaan baik secara tertutup maupun terbuka, dengan tidak perlu menyebut nama.
b) Menganalisa tes-tes terhadap unit kerja.
c) Mencatat aktivitas murid-murid dalam suatu catatan, baik mereka bekerja secara perorangan maupun secara kelompok.
b. Teknik Supervisi Kelompok
Teknik supervisi kelompok adalah satu cara melaksanakan program supervisi yang ditujukan pada dua orang atau lebih. Guru-guru yang diduga, sesuai dengan analisis kebutuhan, memiliki masalah atau kebutuhan atau kelemahan-kelemahan yang sama dikelompokkan atau dikumpulkan menjadi satu/bersama-sama. Kemudian kepada mereka diberikan layanan supervisi sesuai dengan permasalahan atau kebutuhan yang mereka hadapi. Menurut Gwynn, ada tiga belas teknik supervisi kelompok, yaitu: 1) kepanitiaan-kepanitiaan, 2) kerja kelompok, 3) laboratorium kurikulum, 4) baca terpimpin, 5) demonstrasi pembelajaran, 6) darmawisata, 7) kuliah/studi, 8) diskusi panel, 9) perpustakaan jabatan, 10) organisasi profesional, 11) buletin supervisi, 12) pertemuan guru, dan 13) lokakarya atau konferensi kelompok.
Teknik supervisi kelompok ini tidak akan dibahas satu persatu, karena sudah banyak buku yang secara khusus membahasnya. Satu hal yang perlu ditekankan di sini bahwa tidak ada satupun di antara teknik-teknik supervisi kelompok di atas yang cocok atau bisa diterapkan untuk semua pembinaan dan guru di sekolah. Artinya, akan ditemui oleh kepala sekolah adanya satu teknik tertentu yang cocok diterapkan untuk membina seorang guru tetapi tidak cocok diterapkan pada guru lain. Oleh sebab itu, seorang kepala sekolah harus mampu menetapkan teknik-teknik mana yang sekiranya mampu membina keterampilan pembelajaran seorang guru.
Menetapkan teknik-teknik supervisi akademik yang tepat tidaklah mudah. Seorang pengawas , selain harus mengetahui aspek atau bidang keterampilan yang akan dibina, juga harus mengetahui karakteristik setiap teknik di atas dan sifat atau kepribadian guru, sehingga teknik yang digunakan betul-betul sesuai dengan guru yang sedang dibina melalui supervisi akademik. Sehubungan dengan kepribadian guru, Lucio dan McNeil (1979) menyarankan agar kepala sekolah mempertimbangkan enam faktor kepribadian guru, yaitu kebutuhan guru, minat guru, bakat guru, temperamen guru, sikap guru, dan sifat-sifat somatic guru.

4. Instrumen Pengukuran Kemampuan Guru
Telah disebutkan bahwa esensial supervisi pembelajaran bukan semata-mata mengukur unjuk kerja guru dalam mengelola proses pembelajaran, melainkan juga bagaimana membantu guru mengembangkan kemampuan profesionalnya. Meskipun demikian, supervisi pembelajaran tidak terlepas dari pengukuran kemampuan guru dalam mengelola proses pembelajaran. Pengukuran kemampuan guru dalam mengelola proses pembelajaran merupakan salah satu kegiatan yang tidak bisa dihindarkan dalam proses supervisi pembelajaran (Sergiovanni, 1987). Prinsip dasar ini tampak pada langkah-langkah pembinaan keterampilan pembelajaran guru. Menurut Marks, Stoops dan Stoops, sebagaimana telah dibahas di muka, salah satu langkahnya berupa analisis kebutuhan. Esensial langkah analisis kebutuhan adalah mengukur pengetahuan dan kemampuan untuk menentukan pengetahuan dan kemampuan mana pada guru yang harus dibina. Ini berarti dalam setiap merencanakan dan memprogram supervisi pembelajaran selalu diperlukan instrumen pengukuran.
Instrumen untuk mengukur kemampuan guru, karena lebih berbentuk performansi atau perilaku (behavioral), biasanya digunakan instrumen observasi yang mengamati unjuk kerja guru dalam mengelola proses pembelajaran. Instrumen ini sering diambil dari yang sudah ada, yang sudah valid dan reliabel, maupun dapat dikembangkan sendiri oleh supervisor. Apabila ingin mengembangkan sendiri instrumen observasi, maka disarankan agar merujuk pada jenis-jenis kemampuan pembelajaran yang harus dimiliki oleh guru. Setiap jenis kemampuan yang dikembangkan dalam instrumen observasi harus disediakan skala pengukuran.
Ada bermacam-macam skala pengukuran, misalnya skala tiga, skala lima, dan skala tujuh. Apabila digunakan skala tiga, maka bentuknya menjadi tidak mampu (1), cukup mampu (2), dan mampu (3). Apabila digunakan skala lima, maka bentuknya menjadi sangat kurang mampu (1), kurang mampu (2), cukup mampu (3), mampu (4), dan sangat mampu (5). Semakin kecil skor kemampuannya semakin perlu dibina. Semakin rendah skornya berarti guru semakin tidak mampu mengelola proses pembelajaran.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI pernah mengembangkan satu instrumen pengukuran yang disebut dengan Alat Penilaian Kemampuan Guru (APKG). APKG ini merupakan instrumen yang telah dikembangkan dan resmi digunakan untuk mengukur kemampuan guru yang bersifat generic essensial. Dikatakan generic karena kemampuan tersebut secara umum harus dimiliki oleh setiap guru bidang studi apapun. Dikatakan essential karena kemampuan tersebut merupakan kemampuan-kemampuan yang penting saja. Ini tidak berarti bahwa kemampuan yang lain tidak perlu melainkan masih sangat diperlukan hanya harus diukur melalui instrumen lainnya (Depdikbud, 1982).

C. Tindak Lanjut Hasil Monitoring dan Supervisi Pembelajaran
Tindak lanjut dari hasil monitoring dan supervisi pembelajaran yang telah dilakukan oleh pengawas sekolah adalah: 1) penguatan dan penghargaan diberikan kepada guru yang telah memenuhi standar, 2) teguran yang bersifat mendidik diberikan kepada guru yang belum memenuhi standar, dan 3) guru diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan/penataran lebih lanjut.

DAFTAR RUJUKAN
Badan Standar Nasional Pendidikan, 2006. Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta.

——-, 2007. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, Jakarta.

——-, 2007. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses pada Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta.

——-, 2007. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah, Jakarta.

——-, 2007. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah, Jakarta.

——-, 2007. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan, Jakarta.

Baso Intang Sappaile, 2007. Kompetensi Mengajar Minimal Bagi Guru Baru (Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol. 12, No. 2), Balitbang Depdiknas, Jakarta.

——-, 2007. Kualifikasi Akademik Guru Pendidikan Dasar (Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Edisi Khusus I, Tahun ke-13), Balitbang Depdiknas, Jakarta.

Darmo Mulyoatmodjo. 1980. Micro Teaching. Jakarta: Proyek Pengembangan Pendidikan Guru

Dewey, John, 1964. Democracy in Education. New York: The Macmillan Co.

Gwynn, J.M. 1961. Theory and Practice of Supervision. New York: Dodd, Mead & Company.

Heininch, Robert, Michael Molenda and Jame Russell, 1989. Instructional Media and the New Technologies of Instruction. New York: Macmillan Publishing Co.
http://www.newhorizons.org/trans/nea_keys.htm
http://www.co-nect.net
http://www.europa.eu.int

Januzowski, Allan, 2001. Educational Technology: The Development of a Concept. Englewood, NJ: Libraries Unlimited Inc.
Nana Sudjana, 2000. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru.

Ornstein, Allan C. and Daniel U. Levie,1981. Foundations of Education. Boston, MA.
Reigeluth, Charles M. (ed) , 1987. Instructional Theories in Action. Hillsdale, NJ: Lawrence Erlbaum Associates.

——-, 1993. Instructional Design Theories and Models. Vol. I. Hillsdale, NJ: Lawrence Erlbaum Associates.

Tilaar, H.A.R, 2002. Perubahan Sosial dan Pendidikan Pengantar Pedagogik Transformatif untuk Indonesia. Jakarta: Grasindo.

Thompson, M.M, 1962. The History of Education. New York: Barnes and Noble, Inc.

Direktorat tenaga kependidikan. 2006. Naskah Akademik tentang Standar Pengawas Satuan Pendidikan (Kualifikasi dan Kompetensi), Jakarta.

About suaidinmath

Mohon kontribusi untuk menambal retak dan menambah langkah kesempurnaan tulisan ini ...

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Hari ini

Agustus 2014
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Statistik Blog

  • 1,759,046 hit

Arsip blog

Award Blog Pendidikan 2012

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 259 pengikut lainnya

Dunia Pendidikan

Teratas

RSS Republika online

  • Milan Amankan Tiga Angka Lawan Crotone 4 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, MILAN -- AC Milan akhirnya mengamankan tiga angka saat menjamu Crotone di stadion Giuseppe Meazza, Milan, Ahad (4/12). Skuat asuhan Vincenzo Montella berhasil memenangkan pertandingan 2-1 jelang pertandingan...
    Didi Purwadi
  • NTB Dorong Penambahan Jumlah Penerbangan ke Lombok 4 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Pemerintah Provinsi NTB berupaya meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan pada tahun depan. Salah satu caranya dengan penambahan jumlah penerbangan ke Pulau Lombok, yang menjadi destinasi wisata utama...
    Indira Rezkisari

RSS educatinalwithptk

newsalloy

NewsAlloy button

MUSIK

suara Edukasi

 

 http://radioedukasi.com/modules/mod_miniradio/mod_miniradio.swf

suara_edukasi

RADIO EDUKASI

Live Streaming AM 1251 kHz

Silahkan unduh produk audio radio Suara edukasi

[KLIK DISINI]

Zaimuttpjok/tik

BERBAGI INFORMASI PENDIDIKAN DAN KISAH HIDUP

isti

Berilah makan keyakinanmu niscaya keraguanmu mati kelaparan

ANNISA USH SHOLIHAH

ALL ABOUT CHEMIS_3 (sharing for carring)

Dinas Dikpora Kab. Dompu

Ikhlas Mendidik Untuk Martabat Bangsa dan Negara

Vox Populi

Vox Populi: A Public Sphere for Politics and Poetry

Architecture Here and There

Style Wars: classicsm vs. modernism

Stories From the Belly

A Blog About the Female Body and Its Appetites

mywordpool

"Words - so innocent and powerless as they are, as standing in a dictionary, how potent for good and evil they become in the hands of one who knows how to combine them." ~Nathaniel Hawthorne

Fusion

Championing a young, diverse, and inclusive America with a unique mix of smart and irreverent original reporting, lifestyle, and comedic content.

Whatever

LET ME STEAL THIS MOMENT FROM YOU NOW

rachel eats

stories, pictures and cooking tales from an english woman living in rome.

y

what it comes down to

tangerine drawings

scribbles and recipes from a pastry chef in paris

Extra Dry Martini

Straight up, with a twist.

Gravity and Levity

A blog about the big ideas in physics, plus a few other things

love.life.eat

living a mindful life

%d blogger menyukai ini: