//
you're reading...
Dunia Pendidikan

Dokumen Disusun Sebagai Panduan Pemangku Kewenangan Pelaksanaan Kurikulum 2013 Pada Satuan Pendidikan

KATA PENGANTAR

Sebagaimana ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, setiap sekolah/madrasah mengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Standar Isi (SI).

KTSP disusun dengan berpedoman pada panduan implementasi Kurikulum 2013 yang terintegrasi dalam bahan pelatihan pelaksanaan kurikulum serta dengan memperhatikan Peraturan Menteri Pedidikan dan Kebudayaan yang terbit pada tahun 2013 yang relevan dan menjadi dasar pelaksanaannya..

Di samping memperhatian karakter pelaksanaan kurikulum 2013, sekolah mempertimbangkan segenap sumber daya yang sekolah miliki intuk mewujudkan keunggulan sekolah dengan berpedoman pada stadar nasional pendidikan. Poros utama pertimbangan adalah bagaimana merumuskan mutu lulusan yang sekolah harapkan yang kemabangkan dalam bentuk indikator mutu lulusan seagai basis bagi pengembangan standar yang lainnya.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) ini tersusun berkat kerjasama dari berbagai pihak. Kepala sekolah mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penyusunan KTSP ini, dan secara khusus kami sampaikan penghargaan dan terima kasih kepada tim pengembang kurikulum tingkat satuan pendidikan yang telah berjuang sehingga dapat menyelesaikan dokumen tepat pada waktu yang diperlukan.

                                                                                                                                                                                                                   ………………….., Juli 2013
Kepala Sekolah

,

LEMBAR PENGESAHAN
Dokumen Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mendapat pertimbangan Komite Sekolah dan Dinas Pendidikan ……………, selanjutnya para pihak menyatakan bahwa dokumen ini berlaku mulai tanggal yang ditetapkan pada tahun pelajaran 2013 – 2014.

Ditetapkan di : ……………………
Tanggal : 1 juli 2014
Komite Sekolah,                                                                                                                                                                                      Kepala Sekolah,
…………………….                                                                                                                                                                                             ………………………………

Kepala Dinas Pendidikan
………………………………………..,

 
……………………………………….
NIP.

 

 

 

DAFTAR ISI

                                                                                                                                                                                                                           Hal
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Dasar
C. Tujuan Penyusunan KTSP
D. Target Pencapaian Kompetensi Lulusan

BAB II. KONSEP KURIKULUM 2013
A. Pengertian dan Prinsip Pengembangan
B. Analisis Konteks
C. Perubahan Mindset (Pola Pikir)
D. Rasional Kurikulum
E. Elemen Perubahan
F. Strategi Implementasi
G. Penjabaran SKL ke Indikator Pencapaian Kompetensi
H. Pembelajaran
I. Penilaian
J. Supervisi Pembelajaran

BAB III. VISI, MISI, DAN TUJUAN SEKOLAH
A. Visi
B. Misi
C. Tujuan Sekolah
1. Tujuan Umum
2. Tujuan Khusus

BAB IV. STRUKTUR DAN MUATAN KURIKULUM
A. Struktur Kurikulum
B. Pengaturan Beban Belajar
C. Muatan Kurikulum
D. Kalender Pendidikan
E. Sistem informasi Penilaian
F. Kenaikan kelas dan Kelulusan

BAB V. PEDOMAN AKADEMIK
A. Peminatan
B. Perencanaan Pembelajaran
C. Proses Pembelajaran
D. Penilaian
E. Bimbingan Konseling
F. Organisasi Kesiswaan
G. Ekstrakurikuler
1. Pramuka
2. PMR
3. OSIS

BAB VI. EVALUASI PELAKSANAAN KURIKULUM DAN PELAPORAN
A. Evluasi Keterlaksanaan Kurikulum
B. Evaluasi Ketercapaian Mutu Lulusan

 

 

BAB 1. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Istilah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) digunakan dalam pelaksanaan kurikulum 2013. Kesamaan dari kurikulum 2006 dengan kurikulum 2013 sama-sama kurikulum berbasis kompetensi. Pada pelaksanaan K-13, mewujudkan kompetensi siswa yang dicita-citakan harus menjadi poros perhatian tiap satuan pendidikan. Sesuai dengan amanat Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2013 tentang perubahan atas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan tentang Standar Nasional Pendidikan setiap satuan pendidikan wajib menyusun dokumen KTSP sebagai acuan untuk mewujudkan target kompetensi siswa yang menjadi targetnya.
Pengembangan KTSP dalam merealisasikan tujuan pelaksanaan kurikulum 2013 sesungguhnya merupakan bagian dari strategi penjaminan pencapaian tujuan pendidikan nasional yang mengacu pada pemenuhan delapan standar nasional. Poros dari kedelapan standar adalah mewujudkan keunggulan mutu lulusan.
Penyusunan dokumen bertujuan menyediakan panduan yang berfungsi mengarahkan pemangku kewenangan pelaksanaan kurikulum 2013 dengan melengkapi dokumen dengan rasional pengembangan KTSP yang fokus kepada pemenuhan kebutuhan siswa mengembangkan kompetensi dalam perubahan kehidupan abad ke-21; merumuskan visi, misi, dan tujuan sekolah untuk mengembangkan keunggulan; mengelola program peminatan; menata struktur kurikulum, memetakan beban belajar siswa, dan menyusuan pedoman penyelenggaraan pembelajaran yang meliputi pelaksanaan kegiatan intra dan ekstrkurikuler, pedoman akademik, dan instrumen evaluasi penyelenggaraan kurikulum.
Untuk mendukung keterpenuhan dokumen sekolah membentuk tim perumus KTSP 2013 yang ditandai dengan penerbitan tim dalam bentuk keputusan sekolah.

B. Landasan
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional;
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025;
3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 38 Tahun 1992 tentang Tenaga Kependidikan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2000;
4. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan;
5. Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil.
6. Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2011 tentang Penilaian Prestasi Kerja Kepala sekolah/ Madrasahsebagaimana yang diubah dari Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1979 tentang Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan Pegawai Negeri Sipil.
7. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala sekolah/madrasah.
8. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.
9. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan.
10. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 27 Tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi dan Kompetensi Konselor.
11. Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.
12. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2013 tentang Standar Kompetensi Lulusan.
13. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses.
14. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian.
15. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 2013 tentang KD dan Struktur Kurikulum SD.
16. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 68 Tahun 2013 tentang KD dan Struktur Kurikulum SMP-MTs.
17. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 69 Tahun 2013 tentang KD dan Struktur Kurikulum SMA-MA.
18. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2013 tentang KD dan Struktur Kurikulum SMK-MAK.
19. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 81A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikukulum 2013.

 

 

C. Tujuan Perumusan KTSP
Tujuan perumusan KTSP adalah:
1. Menyediakan dokumen yang memuat tujuan, strategi pencapaian tujuan, pengaturan waktu, pedoman umum dan evaluasi penyelenggaraan kurikulum 2013.
2. Menyediakan acuan bagi warga sekolah dalam mengembangkan program pelaksanaan kurikulum 2013 agar dapat mencapai tujuan secara efektif dan berkelanjutan.
3. Meningkatkan sistem penjaminan pelaksanaan kurikulum dengan menyediakan rumusan latar belakang, konsep, model implementasi, dan perangkat evaluasi program.
4. Menyediakan instrumen untuk mengukur ketercapaian program.
5. Memberikan informasi kepada masyarakat terutama orang tua siswa untuk lebih memahami dan mmberikan dukungan terhadap penyelenggaraan kurikulum 2013 pada tingkat satuan pendidikan secara terarah agar lebih berhasil guna.
6. Menyediakan acuan bagi para evaluator program pelaksanaan kurikulum 2013 dalam mengukur efektivitas program pelaksanaan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan.

D. Target Pencapaian Kompetensi Lulusan
Salah satu poros utama perubahan kurikulum 2006 ke kurikulum 2013 ialah perubahan pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Berkaitan dengan mewujudkan mutu lulusan kami perlu menetapkan target keunggulan mutu lulusan yang kami harapkan sebagai fokus utama perbaikan mutu berkelanjutan yang merujuk pada SKL nasional.
Sesuai dengan Permendikbud Nomor 54 Tahun 2013 tentang Standar Kompetensi Lulusan memiliki tekad untuk mewujudkan target mutu berikut:

bb

Berdasarkan target nasional, SMA Saintifik memiliki indikator target yang menjadi ciri khas keunggulan satuan pendidikan yang akan kami wujudkan dalam kurun waktu tiga tahun ke depan. Ada pun indikator pencapaian target yang kamai pakati sebagai berikut:

cccPencapaian kompetensi sebagaimana yang tertuang dalam target selanjutnya akan sekolah gunakan sebagai fokus dalam menentukan strategi pengembangan sekolah dan akan dievaluasi secara berkala untuk memastikan bahwa pengembangan sekolah berkembang sesuai dengan arah yang diharapkan.

BAB 2. KONSEP KURIKULUM 2013

A. Pengertian dan Prinsip Pengembangan
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum 2013 merupakan kurikulum berbasis kompetensi yang dikembangkan dari kurikulum tahun 2004 dan KTSP 2006 untuk merespon berbagai tantangan internal dan eksternal bangsa.
Tantangan eksternal antara lain terkait dengan arus globalisasi dan berbagai isu yang terkait dengan masalah lingkungan hidup, kemajuan teknologi dan informasi, kebangkitan industri kreatif dan budaya, dan perkembangan pendidikan di tingkat internasional. Arus globalisasi seperti dapat terlihat di World Trade Organization (WTO), Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) Community, Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC), dan ASEAN Free Trade Area (AFTA). Tantangan eksternal juga terkait dengan pergeseran kekuatan ekonomi dunia, pengaruh dan imbas teknosains serta mutu, investasi, dan transformasi bidang pendidikan.
Keikutsertaan Indonesia di dalam studi International Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) dan Program for International Student Assessment (PISA) sejak tahun 1999 juga menunjukkan bahwa capaian anak-anak Indonesia tidak menggembirakan.
Tantangan internal lainnya terkait dengan perkembangan penduduk Indonesia dilihat dari pertumbuhan penduduk usia produktif. Saat ini jumlah penduduk Indonesia usia produktif (15-64 tahun) lebih banyak dari usia tidak produktif (anak-anak berusia 0-14 tahun dan orang tua berusia 65 tahun ke atas). Jumlah penduduk usia produktif ini akan mencapai puncaknya pada tahun 2020-2035 pada saat angkanya mencapai 70%. Oleh sebab itu tantangan besar yang dihadapi adalah bagaimana mengupayakan agar sumberdaya manusia usia produktif yang melimpah ini dapat ditransformasikan menjadi sumberdaya manusia yang memiliki kompetensi dan keterampilan.
Dalam menghadapi berbagai tantangan tersebut, maka titik tekan pengembangan Kurikulum 2013 adalah penyempurnaan pola pikir, penguatan tata kelola kurikulum, pendalaman dan perluasan materi, penguatan proses pembelajaran, dan penyesuaian beban belajar agar dapat menjamin kesesuaian antara yang sekolah inginkan dengan yang hasilkan. Pengembangan kurikulum perlu disesuaikan dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni budaya serta perubahan masyarakat pada tataran lokal, nasional, regional, dan global di masa depan.
Pengembangan Kurikulum 2013 berdasarkan enam prinsip utama, yaitu:
• Pertama, standar kompetensi lulusan diturunkan dari kebutuhan.
• Kedua, standar isi diturunkan dari standar kompetensi lulusan melalui kompetensi inti yang bebas mata pelajaran.
• Ketiga, semua mata pelajaran harus berkontribusi terhadap pembentukan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik.
• Keempat, mata pelajaran diturunkan dari kompetensi yang ingin dicapai.
• Kelima, semua mata pelajaran diikat oleh kompetensi inti.
• Keenam, keselarasan tuntutan kompetensi lulusan, isi, proses pembelajaran, dan penilaian.
Penerapan kurikulum baru kami kembangkan sejalan dengan perubahan yang terus berjalan baik pada lingkungan internal dan eksternal sekolah dalam menghadapi globalisasi dan tuntutan masyarakat Indonesia masa depan.

B. Analisis Konteks

Dinamika pembangunan bangsa telah berdampak timbulnya perubahan pada lingkungan internal sekolah. Perkembangan ilmu pengetahuan, interaksi sosial yang cepat berubah, dukungan teknologi televisi dan penggunaan handphone telah mengubah prilaku warga sekolah secara nyata. Peradaban sekitar sekolah berubah pula dengan cepat. Fenomena ini telah mendatangkan tantangan baru pada sistem pendidikan sekolah karena sekolah menjadi bagian dari sistem social yang berubah mengikuti lingkungannya.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membuat perubahan pada ruang lingkup lokal, perkembangan dunia berubah makin menggelobal. Diajarkan atau tidak diajarkan nilai-nilai keinternasional telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari para siswa. Oleh karena itu, siap tidak siap sekolah dihadapkan permasalahan untuk menyelenggarakan pendidikan yang membekali siswa siap menghadapi tantangan hidup masa kini dan pada masa depannya. Pembelajaran mejadi proses untuk penguatan kompetensi siswa dalam penguasaan kearifan lokal, memperkuat jati diri bangsa dalam konteks nasional, dan penguatan pada bersaing pada konteks global.
Pemenuhan kompetensi untuk kebutuhan siswa pada abad ke-21 menjadi salah satu acuan sekolah agar lulusan memiliki daya saing tinggi pada ruang lingkup kehidupan global.

dd

Kebutuhan siswa berdasarkan kerangka kompetensi dalam dikelompokan pada pengembangan hidup dan karir, belajar dan berinovasi, serta melek informasi dan teknologi informasi.
Kompensi pengembangan hidup dan karir meliputi;
• Memiliki daya fleksibelitas dan adaptif.
• Menumbuhkan daya insiatif dan mandiri.
• Mengembangkan kecerdasan sosial dan budaya.
• Mengembangkan daya produktif dan akuntabel.
• Mengembangkan kompetensi kepemimpinan dan tangggung jawab.
Mengembangkan kompetensi belajar dan berinovasi meliputi;
• Terampil berkreasi dan berinovasi.
• Terampil berpikir kritis dalam menyelesaikan masalah.
• Terampil berkomunikasi dan berkolaborasi untuk meningkatkan efektivitas belajar.
Teknologi komunikasi dan informasi berkembang cepat. Pada bidang ini siswa perlu meningkatkan kompetensi dalam tiga bidang utama, yaitu;
• Mampu mengelola informasi
• Mampu menggunakan media
• Terampil menggunakan teknologi informasi dan komunikasi.
Karakteristik kompetensi abad 21 berdampak pada strategi pembelajaran. Untuk mengembangkan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan siswa diperlukan strategi pembelajaran yang sesuai sebagaimana terlihat dalam diagram di bawah ini.

ee

Pembelajaran tidak hanya mengembangakn pengetahuan, namun perlu menyeimbangkan kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Sikap dikembangkan terintegrasi dalam aktivitas belajar. Pengetahuan meliputi penguasaan fakta, konsep, prosedur, dan metakognitif sehingga siswa dapat mengembangkan kreativitas dan inovasinya. Keterampilan meliputi berkomunikasi dan berkolaborasi, keterampilan mendayagunakan informasi dan teknologi komunikasi, serta media. Karena itu penilaian selain tes, juga termasuk portofolio yang menekankan pada pemanfaatan umpan balik berdasarkan kinerja belajar peserta didik.
Pembelajaran harus terintegrasi dengan lingkungan sehingga siswa dapat menggunakan fenomena lingkungan sekitar yang paling dekat dengan siswa sehingga guru berkewenangan untuk membelajarkan siswa yang terintegrasi pada lingkungan sekitarnya. Pembelajaran berbasis konteks dengan pendekatan kolaboratif sehingga siswa mendapatkan pengalaman belajar yang relevan dengan konteks kehidupan.
Untuk itu diperlukan guru yang lebih professional yang dapat meningkatkan pengetahuan, terampil berpikir kritis, dan sikap mental yang tangguh yang ditunjukkkan dengan karater pribadi yang bertanggung jawab, memiliki jiwa sosial, toleran, berdisiplin, tepat waktu, dan dapat menempatkan diri dengan baik dalam perubahan sosial yang dinamis yang didukung dengan keimanan yang tangguh. Karena, itu sekolah perlu menetapkan pencapaian standar nasional yang dinamis sehingga dapat beradaptasi dengan kebutuhan pada tingkat global.

C. Perubahan Mindset (Pola Pikir)
Keberhasilan sekolah beradaptasi dalam mengawal perubahan kurikulum ditentukan oleh sikap berterima seluruh warga sekolah terhadap rencana perubahan. Sikap berterima sangat penting sebagai dasar untuk melaksanakan aktivitas susulan yang lebih tinggi yaitu menjalankan, menghargai, mengahayati, dan mengamalkan. Sikap tersebut harus dibuktikan dengan kesiapan menanggung resiko akibat melaksanakan perubahan yang memerlukan proses belajar untuk meningkatkan pengetahuan baru, penguasaan strategi baru, penguasaan kebiasaan-kebiaasaan baru sehingga memerlukan proses dan waktu belajar lebih banyak.
Kunci sukses melaksanakan perubahan adalah perubahan pola pikir dalam perencanan dan pengaturan pembelajaran sebagai basis penyelenggaraan kegiatan. Perubahan pola pikir direalisasikan dalam pemenuhan tujuan yang terukur pada tiap indikator dengan target yang paling tinggi yang mungkin sekolah capai. Dalam hal ini sekolah perlu menetapkan standar pencapaian yang ditunjang dengan harapan dan keyakinan yang tinggi. Lebih tinggi daripada itu, sekolah akan membangun komitmen yang lebih tinggi.
Pengembangan pola pikir diarahkan penyempurnaan pola pola tindak dalam menerapkan prinsip sebagai berikut:
1) pola pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi pembelajaran berpusat pada peserta didik. Peserta didik harus memiliki pilihan-pilihan terhadap materi yang dipelajari untuk memiliki kompetensi yang sama;
2) pola pembelajaran satu arah (interaksi guru-peserta didik) menjadi pembelajaran interaktif (interaktif guru-peserta didik-masyarakat-lingkungan alam, sumber/media lainnya);
3) pola pembelajaran terisolasi menjadi pembelajaran secara jejaring (peserta didik dapat menimba ilmu dari siapa saja dan dari mana saja yang dapat dihubungi serta diperoleh melalui internet);
4) pola pembelajaran pasif menjadi pembelajaran aktif-mencari (pembelajaran siswa aktif mencari semakin diperkuat dengan model pembelajaran pendekatan sains);
5) pola belajar sendiri menjadi belajar kelompok (berbasis tim);
6) pola pembelajaran alat tunggal menjadi pembelajaran berbasis alat multimedia;
7) pola pembelajaran berbasis massal menjadi kebutuhan pelanggan (users) dengan memperkuat pengembangan potensi khusus yang dimiliki setiap peserta didik;
8) pola pembelajaran ilmu pengetahuan tunggal (monodiscipline) menjadi pembelajaran ilmu pengetahuan jamak (multidisciplines); dan
9) pola pembelajaran pasif menjadi pembelajaran kritis

D. Rasional Kurikulum
Tantangan internal lainnya terkait dengan faktor perkembangan penduduk Indonesia dilihat dari pertumbuhan penduduk usia produktif di tengah persaingan antarbangsa yang semakin kritis. Dilihat dari kesiapan dunia pendidikan, sekolah kami belum dapat menghasilkan mutu lulusan yang dapat bersaing kuat dalam dinamika perkembangan nasional dan global.
1) Persepsi masyarakat terhadap kurikulum 2006
• Terlalu menitikberatkan pada aspek kognitif
• Beban belajar siswa terlalu berat
• Kurang bermuatan karakter
2) Kondisi negatif yang berkembang pada ranah sosial
• Meningkatnya perkelahian pelajar
• Meningkatnya penggunaan narkoba.
• Meningkatnya prilaku yang menyimpang.
• Rendahnya toleransi dalam kehidupan sosial.
• Berkembangnya sadisme.
3) Kondisi persaingan pelajar dalam konteks lokal dan global.
• Pelajar Indonesia kalah bersaing dalam mengerjakan soal sepeti yang digunakan oleh TIMSS dan PIRLS yang membagi soal-soalnya menjadi empat katagori:
– Low mengukur kemampuan sampai level knowing
– Intermediate mengukur kemampuan sampai level applying
– High mengukur kemampuan sampai level reasoning
– Advance mengukur kemampuan sampai level reasoning with incomplete information
• Lulusan satuan pendidikan belum menunjukkan daya saing kuat dalam persaingan nasional dan global sebagaimana yang
• Keunggulan kompetitif siswa, guru, kepala sekolah, dan sekolah dalam konteks provinsi, nasional, apalagi internasional belum tercapai.
• Nilai siswa dalam persaingan UN antar sekolah belum dalam posisi terbaik pada tingkat kabupaten, provinsi, atau nasional.
• Rasa kebanggaan siswa terhadap sekolah belum mencapai tingkat keunggulan karena sekolah masih kalah unggul dalam berbagai indikator mutu persaingan antar sekolah.

4) Pada kelompok pendidik, pada tingkat satuan pendidikan masih terkendala dengan kesenjangan Antara fakta dengan realita pada berbagai komponen berikut:
• Kompetensi dalam belum semua guru dapat merumuskan indikator pencapaian kompetensi pada kecakapan berpikir level tinggi.
• Belum semua guru mampu merumuskan RPP secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan siswa belajar secara kreatif dan inovatif karena itu guru masih memenuhi kebutuhan RPP dengan copy-paste.
• Belum semua guru dapat menerapkan strategi pembelajaran siswa aktif, kreatif, inovatif, dan kompetitif.
• Belum semua guru terampil mengembangkan instrument penilaian yang memenuhi kriteria standar level reasoning dan mengukur kemampuan sampai level reasoning with incomplete information
• Kedalaman keluasan materi pelajaran meliputi tiga dimensi yang digambarkan setiap level memiliki jalur yang berbeda.

• Pada gambar terlihat bahwa pengembangan sikap, pengetahuan, dan keterampilan melalui jalur yang berbeda. Itu berarti bahwa siswa yang telah berkembang pengetahuaannya belum tentu berkembang sejalan dengan ranah lainya. Oleh karena itu, tiap memerlukan strategi pengembangan yang berbeda dari yang lainnya.
• Pengembangan sikap mengacu pada teori Krathwhol yang meliputi tahap menerima,menjalankan, menghargai, menghayati, dan mengamalkan. Pengembangan keterampilan berpikir merujuk pada teori Dyers yang meliputi mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyaji, menalar, dan mencipta. Pengembangan pengetahuan merujuk pada teori Bloom yang menggambarkan tahapan kecakapan berpikir, meliputi tingkatan mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi.
• Penguasaan pengetahuan siswa ditandai dengan penguasaan fakta, konsep, prosedur, dan metakognitif. Keempat tingkat penguasaan tersebut terkait erat dengan pendekatan saintifik. Penguasaan fakta terkait erat dengan pengenalan fenomena, penguasaan konsep terkait pada penguasaan teori, penguasaan prosedur terkait erat dengan penerapan teori dalam kegiatan praktis sehari-hari, dan penguasaan metakognitif berkaitan dengan kemampuan belajar tentang bagaimana cara belajar atau berpikir tentang cara berpikir

E. Elemen Perubahan
Perubahan dari kurikulum 2006 ke kurikulum 2013, mengandung konsekuensi ada pergeseran pokok pada standar SKL, isi, proses, dan penilaian. Agar menjadi dasar bagi sekolah untuk penentuan program, perlu analisis yang lebih rinci Ada pun beberapa komponen pergeseran penting dapat dilihat pada uraian berikut:

fffffffffffff ss

2. Pergeseran Standar Isi
Yang Lalu Elemen Perubahan
4) Secara faktual kurikulum masih belum optimal memberikan kepada peserta didik untuk mempelajari permasalahan di lingkungan masyarakatnya dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Kurikulum holistik dan integratif yang berfokus pada alam, sosial, dan budaya
5) Secara faktual pembelajaran tematik di SD diberikan hanya di kelas I, II dan III saja. Pendekatan pembelajaran tematik integratif pada semua jenjang kelas.
6) Secara faktual dalam pembelajaran siswa pada umumnya hanya menerima apa yang diberikan guru saja, sehingga daya inisiatif dan kreativitas berkarya yang tidak optimal. pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik, sehingga memiliki perilaku khas yang berkaitan dengan kebutuhan siswa pada hidupnya, meliputi;
Domain sikap : menerima, mejalankan, menghargai, menghayati, dan mengamalkan.
Domain keterampilan: mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyaji, menalar, dan mencipta.
Domain pengetahuan: mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi.
7) Jumlah mata pelajaran untuk SD sebanyak 10 mata pelajaran dan untuk SMP 12 mata pelajaran Jumlah mata pelajaran dikurangi, tetapi jam belajar untuk setiap mata pelajaran maupun keseluruhan ditambah. Jumlah mata pelajaran di SD menjadi 6 MP dan untuk SMP menjadi 10 MP.
8) Jam belajar di SD untuk kelas I, II, III masing masing 26, 27, dan 27 jam, dan untuk kelas IV, V dan VI masing-masing 32 Jam Pelajaran Jam belajar di SD untuk kelas I, II, III masing masing 30, 32, dan 34 jam, dan untuk kelas IV,V dan VI adalah 36 Jam Pelajaran
9) Secara faktual pembelajaran di kelas masing-masing berdiri sendiri Pembelajaran kontekstual dan terpadu di SMP merupakan pemaduan materi yang dipelajari dengan pengalaman keseharian siswa akan menghasilkan dasar-dasar pengetahuan yang mendalam. Siswa akan mampu menggunakan pengetahuannya untuk menyelesaikan masalah-masalah baru dan belum pernah dihadapinya dengan peningkatan pengalaman sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.dengan memadukan materi pelajaran yang telah diterimanya di sekolah.

ww

wwwq

zzzH. Pembelajaran
Proses pembelajaran sedapat mungkin memenuhi kriteria interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Oleh karena itu satuan pendidikan melakukan perencanaan pembelajaran untuk mendisain skenario pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan karakteristik siswa yang pada satuan pendidikan.
Perencanaan pembelajaran juga perlu dikembangkan untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan proses pembelajaran memenuhi prosedur yang ditetapkan dalam perencanaan yang direalisasikan dalam pelaksanaan. Karena itu, pembelajaran harus memenuhi empat belas prinsip berikut;
1) dari pesertadidik diberi tahu menuju pesertadidik mencari tahu;
2) dari guru sebagai satu-satunya sumber belajarmenjadi belajar berbasis aneka sumberbelajar;
3) dari pendekatan tekstual menuju proses penguatan penggunaan pendekatan ilmiah;
4) dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis kompetensi;
5) dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu;
6) dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi;
7) dari pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif;
8) peningkatan keseimbangan antara keterampilan fisikal (hardskills) dan keterampilan mental (softskills);
9) pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat;
10) pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani);
11) pembelajaran yang berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat;
12) pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah siswa, dan di mana saja adalah kelas.
13) Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran; dan
14) Pengakuan atas perbedaan individu dan latar belakang budaya peserta didik.
Karakteristik pembelajaran dipengaruhi dengan karaktersitik kompetensi beserta perbedaan lintasan perolehan yang hendak diwujudkan. Untuk memperkuat keseimbangan antardimensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan maka pelaksanaan pembelajaran perlu dikembangkan untuk memberikan pengalaman belajar yang seluas-luasnya kepada peserta didik. Untuk meningkatkan pencapaian kompetensi, pembelajaran perlu diperkuat dengan penerapan pendekatan ilmiah (scientific), tematik terpadu (tematik antarmata pelajaran), tematik (dalam suatu mata pelajaran), pembelajaran berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/inquiry learning). Untuk mendorong pengembangan peserta didik sehingga menghasilkan karya kontekstual, baik individual maupun kelompok maka sangat pembelajaran menggunakan metode berbasis karya dan pemecahan masalah (project based learning).
• Perencanaan Pembelajaran
• Pengelolaan Kompetensi Dasara
• Perumusan Indikator Pencapaian Kompetensi
• Perumusan Instrumen Penilaian
• Pelaksanaan Pembelajaran
• Pendayagunaan TIK
• Pelaksanaan Pembelajaran

I. Penilaian
Penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik mencakup: penilaian otentik, penilaian diri, penilaian berbasis portofolio, ulangan, ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, ujian tingkat kompetensi, ujian mutu tingkat kompetensi, ujian nasional, dan ujian sekolah/madrasah.
Pemenuhan Standar Penilaian bertujuan untuk menjamin: a. perencanaan penilaian peserta didik sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai; b. pelaksanaan penilaian peserta didik secara profesional, terbuka, edukatif, efektif, efisien, dan sesuai dengan konteks sosial budaya; dan c. pelaporan hasil penilaian peserta didik secara objektif, akuntabel, dan informatif.
Perbaikan mutu dalam pelaksanaan penilaian menggunakn acuan yang diurai sebagai dalam gambar yang mengintegrasikan potensi sekolah, pendidik, siswa, dan pemberintah yang terintegrasi dalam sistem seperti yang dapat dilihat dalam gambar berikut;

zzzH. Pembelajaran
Proses pembelajaran sedapat mungkin memenuhi kriteria interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Oleh karena itu satuan pendidikan melakukan perencanaan pembelajaran untuk mendisain skenario pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan karakteristik siswa yang pada satuan pendidikan.
Perencanaan pembelajaran juga perlu dikembangkan untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan proses pembelajaran memenuhi prosedur yang ditetapkan dalam perencanaan yang direalisasikan dalam pelaksanaan. Karena itu, pembelajaran harus memenuhi empat belas prinsip berikut;
1) dari pesertadidik diberi tahu menuju pesertadidik mencari tahu;
2) dari guru sebagai satu-satunya sumber belajarmenjadi belajar berbasis aneka sumberbelajar;
3) dari pendekatan tekstual menuju proses penguatan penggunaan pendekatan ilmiah;
4) dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis kompetensi;
5) dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu;
6) dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi;
7) dari pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif;
8) peningkatan keseimbangan antara keterampilan fisikal (hardskills) dan keterampilan mental (softskills);
9) pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat;
10) pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani);
11) pembelajaran yang berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat;
12) pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah siswa, dan di mana saja adalah kelas.
13) Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran; dan
14) Pengakuan atas perbedaan individu dan latar belakang budaya peserta didik.
Karakteristik pembelajaran dipengaruhi dengan karaktersitik kompetensi beserta perbedaan lintasan perolehan yang hendak diwujudkan. Untuk memperkuat keseimbangan antardimensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan maka pelaksanaan pembelajaran perlu dikembangkan untuk memberikan pengalaman belajar yang seluas-luasnya kepada peserta didik. Untuk meningkatkan pencapaian kompetensi, pembelajaran perlu diperkuat dengan penerapan pendekatan ilmiah (scientific), tematik terpadu (tematik antarmata pelajaran), tematik (dalam suatu mata pelajaran), pembelajaran berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/inquiry learning). Untuk mendorong pengembangan peserta didik sehingga menghasilkan karya kontekstual, baik individual maupun kelompok maka sangat pembelajaran menggunakan metode berbasis karya dan pemecahan masalah (project based learning).
• Perencanaan Pembelajaran
• Pengelolaan Kompetensi Dasara
• Perumusan Indikator Pencapaian Kompetensi
• Perumusan Instrumen Penilaian
• Pelaksanaan Pembelajaran
• Pendayagunaan TIK
• Pelaksanaan Pembelajaran

I. Penilaian
Penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik mencakup: penilaian otentik, penilaian diri, penilaian berbasis portofolio, ulangan, ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, ujian tingkat kompetensi, ujian mutu tingkat kompetensi, ujian nasional, dan ujian sekolah/madrasah.
Pemenuhan Standar Penilaian bertujuan untuk menjamin: a. perencanaan penilaian peserta didik sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai; b. pelaksanaan penilaian peserta didik secara profesional, terbuka, edukatif, efektif, efisien, dan sesuai dengan konteks sosial budaya; dan c. pelaporan hasil penilaian peserta didik secara objektif, akuntabel, dan informatif.
Perbaikan mutu dalam pelaksanaan penilaian menggunakn acuan yang diurai sebagai dalam gambar yang mengintegrasikan potensi sekolah, pendidik, siswa, dan pemberintah yang terintegrasi dalam sistem seperti yang dapat dilihat dalam gambar berikut;

eeeePenilaian paling utama adalah efektifnya peran pendidik dalam menilai dalam bentuk tes dan non tes yang dilakukan melalui ulangan dan penugasan, pengamatan, untuk mengukur kompetensi peserta didik secara berkelanjutan, memantau kemajuan, dan memperbaiki hasil belajar peserta didik pada tiga ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara seimbang. Namun demikian untuk memperoleh transparansi dan keseimbangan perlu diperhatikan pula penilain oleh peserta didik.
Penilaian untuk ranah pengetahuan menggunakan tes dan penilaian uatentik. Tes dapat menggunakan instrumen penilaian pilihan ganda atau uraian. Penilaian Penilaian Autentik merupakan penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai mulai dari masukan (input), proses, dan keluaran (output) pembelajaran. (Permendikbud No 66/2013). Penilaian Autentik adalah penilaian yang mengharuskan siswa untuk menunjukkan pengetahuan (knowledge), sikap (affective), keterampilan (skills) dan kemampuannya (ability) dalam situasi yang nyata /real life situations . (Popham, 1995; Bookhart, 2001).
Prosedur penilaian dalam pelaksanaan matrikulasi memenuhi standar proses sebagai berikut:

aza

Langkah penting bagi sekolah adalah menyusun persiapan program penilain, dalam hal sekolah perlu mengarahkan guru menganalisis KD, menyiapkan kisi-kisi instrumen menyusun instrumen, dan menggunakan instrumen penilaian. Penilaian meliputi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Penilaian sikap sekolah lakukan melalui beberapa teknik berikut:
1. Penilaian kompetensi sikap dilakukan melalui observasi, penilaian diri (self assessment), penilaian antarpeserta didik (peer assessment), dan jurnal.
2. Instrumen observasi, penilaian diri, dan penilaian antarpeserta didik berupa daftar cek (check list) atau skala penilaian (rating scale) disertai rubrik.
3. Rubrik adalah daftar kriteria yang menunjukkan kinerja, aspek yang akan dinilai, dan gradasi mutu.
4. Jurnal berupa catatan guru tentang kekuatan, kelemahan, sikap dan perilaku peserta didik di dalam dan di luar kelas .

Contoh penilaian sikap santun dapat menggunakan rubrik seperti contoh di bawah ini.

000a00x00r00kcontoh uraian

00kk

Pada soal pilihan ganda menggunakan model percobaan dengan memperhatikan data dan menerapkan konsep dalam perhitungan. Penilaian menggunakan indikator aktivitas dan hasil. Aktivitas standar yang harus siswa penuhi terbagi dalam dua kegiatan yaitu menghitung konstanta dan menentukan nilai x. Setiap langkah kegiatan yang siswa lakukan diberi skor satu Sehingga 8 langkah standar siswa mendapat nilai 8.

Perhatikan format acuan penilaian berikut:

 

 

mmPenilaian Keterampilan
Prinsip penilain memenuhi prosedur berikut:
1. Penilaian kompetensi keterampilan dilakukan melalui pengamatan kinerja yang meminta peserta didik mendemonstrasikan kompetensi tertentu, melalui tes praktik, proyek, atau penilaian portofolio.
2. Instrumen penilaian keterampilan berupa daftar cek (check list) atau skala penilaian (rating scale) disertai rubrik
3. Tes praktik menuntut peserta didik melakukan keterampilan berupa aktivitas yang sesuai dengan tuntutan kompetensi.
4. Proyek adalah tugas yang meliputi kegiatan perancangan, pelaksanaan, dan pelaporan yang harus diselesaikan dalam waktu tertentu.
5. Penilaian portofolio dilakukan dengan cara menilai kumpulan karya peserta didik dalam bidang tertentu yang bersifat reflektif integratif.
Penilaian menggunakan format acuan berikut:

gg

ggddd

Untuk mengolah peroleh nilai guru dapat menggunakan kriteria yang sama seperti pada pelajaran fisika setelah mendapat nilai rata-rata dari keterampilan berbahasa.
Jika sekolah memberikan tugas atau menggunakan metode proyek maka penilaian dapat dilakukan dengan contoh format berikut:

 

ggg

Pada format acuan penilaian menggunakan skor lima. Untuk memasukan ke dalam kriteria penilaian di atas, guru dapat mengkonversi nilai yang siswa peroleh ke dalam persen dengan total nilai yang akan siswa peroleh 9 butir kali 5 sama dengan 45. Persentase dari total nilai yang siswa peroleh dapat dikonversi ke skala nilai 4. Jika siswa mendapat nilai 40 maka sama dengan (40/45 x 100 = 88%) x 4 atau sama dengan 3,55. Dengan demikian nilai akhirnya adalah Sangat Baik (SB)

1. Ketuntasan
 Peserta didik dinyatakan sudah tuntas belajar untuk KD pada KI-3 dan KI-4 apabila hasil tes formatif mencapai nilai ≥ 2.66.
 Ketuntasan seorang peserta didik untuk KD pada KI-1 dan KI-2 dilakukan dengan memperhatikan aspek sikap pada KI-1 dan KI-2 untuk seluruh matapelajaran, yakni jika profil sikap peserta didik secara umum berada pada kategori baik (B) menurut standar yang ditetapkan.
 Implikasi dari ketuntasan:
 KD pada KI-3 dan KI-4: diberikan remedial individual sesuai dengan kebutuhan kepada peserta didik yang memperoleh nilai < 2.66;
 KD pada KI-3 dan KI-4: diadakan remedial klasikal sesuai dengan kebutuhan apabila > 75% peserta didik memperoleh nilai < 2.66;
 KD pada KI-3 dan KI-4: peserta didik yang memperoleh nilai > 2.66 dapat diberi pengayaan dan melanjutkan KD berikutnya ;
 Untuk KD pada KI-1 dan KI-2, pembinaan terhadap peserta didik yang secara umum profil sikapnya belum berkategori baik dilakukan secara holistik (oleh guru matapelajaran, guru BK, dan orang tua).
 Berdasarkan Permendikbud 81 A Tahun 2014 nilai ketuntasan terlihat pada tabel berikut

hhWarna hijau menandakan ketuntasan pada ketiga ranah.
Data pada matrik ditafsirkan sebagai berikut:
 Peserta didik dinyatakan sudah tuntas belajar untuk KD pada KI-3 dan KI-4 apabila hasil tes formatif mencapai nilai ≥ 2.66.
 Ketuntasan seorang peserta didik untuk KD pada KI-1 dan KI-2 dilakukan dengan memperhatikan aspek sikap pada KI-1 dan KI-2 untuk seluruh matapelajaran, yakni jika profil sikap peserta didik secara umum berada pada kategori baik (B) menurut standar yang ditetapkan.
 KD pada KI-3 dan KI-4: diberikan remedial individual sesuai dengan kebutuhan kepada peserta didik yang memperoleh nilai < 2.66;
 KD pada KI-3 dan KI-4: diadakan remedial klasikal sesuai dengan kebutuhan apabila > 75% peserta didik memperoleh nilai < 2.66;
 KD pada KI-3 dan KI-4: peserta didik yang memperoleh nilai > 2.66 dapat diberi pengayaan dan melanjutkan KD berikutnya ;
 Untuk KD pada KI-1 dan KI-2, pembinaan terhadap peserta didik yang secara umum profil sikapnya belum berkategori baik dilakukan secara holistik (oleh guru matapelajaran, guru BK, dan orang tua).
Untuk mendapatkan nilai akhir matrikulasi pada komponen pengetahuan dan keterampilan dapat

0yPerhatikan bahwa nilai untuk rapot atau laporan capaian kompetensi dibulatkan. Berdasarkan pembulatan diperoleh predikat.

002

Atas dasar nilai hasil pengolahan maka sekolah melaporkan nilai hasil pencapaian matrikulasi dengan model sesui dengan rapot.
J. Supervisi Pembelajaran

Bagian terpenting dari strategi implementasi kurikulum 2013 adalah pelaksanaan supervisi pembelajaran. Supervisi merupakan komponen kunci sistem monitoring mutu. Karena itu, supervisi menjadi salah satu komponen penjaminan mutu. Kedudukan supervisi yang amat penting dalam mengarahkan dan membantu guru mencapai tujuan lembaga. Itu sebagnya, setiap supervisor harus fokus pada visi-misi-dan tujuan satuan pendidikan. Supervisor wajib memahami visi-misi dan tujuan, kondisi ideal yang diharapkan, kondisi nyata yang realistik, serta strategi untuk mewujudkan tujuan dengan indikator yang terukur sehingga semuanya diletakan sebagai rujukan operasional yang tepat.
Pada modul satu Reforming School Supervision, Unesco, 2007.hal 9** dinyatakan bahwa kegiatan supervisi sebagai bagian dari proses meningkatkan pemenuhan standar. Kegiatan intinya meliputi tiga tahap; yaitu
• Menghimpun informasi
• Menganalisis informasi
• Melakukan tindakan.
Hubungan ketiga kegiatan ini dapat digambarkan pada peta keterkaitan berikut:

 

00pl

Pelaksanaan menghimpun informasi dapat kepala sekolah atau pengawas laksanakan dengan menguji siswa, menguji kompetensi guru, memonitor merencanakan dan dokumen perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, atau memantau instrumen, pelaksanaan, dan hasil penilaian. Informasi juga dapat dihimpun dengan penelitian, wawancara, atau penyebaran angket. Data yang terhimpun selanjutnya dianalisis dan ditafsirkan.
Pelaksanaanan kegiatan mengimpun informasi, menganalisis informasi, dan melakukan tindakan sebagai tindak lanjut supervisi dapat dilakukan secara individual atau melibatkan banyak personal yang tergabung dalam tim penjaminan mutu bidang akademik.
Analisis informasi yang terhimpun oleh pengawas atau kepala sekolah melaksanakan supervisi sering terpenuhi. Informasi yang terhimpun dari kegiatan pra-observasi yang diisi dengan pengkondisian atau persiapan observasi dan pelaksanaan observasi sering dipandang telah selesai jika supervisor telah mengisi instrumen dan memperoleh data persentase kinerja. Persentase yang diperoleh dari penskoran diperlakukan cukup sebagai bahan pembanding dengan standar sehingga dapat dipeoleh kesimpulan bahwa kinerja guru kurang, cukup, baik, atau sangat baik. Informasi tidak dianalisis dan ditafsirkan sehingga diperoleh kesimpulan.

BAB 4. VISI, MISI, DAN TUJUAN SEKOLAH
(uraian berikut merupakan model)

A. Visi Sekolah

Menjadi sekolah yang unggul dalam IMTAQ, IPTEKS, pengetahuan, keterampilan, dan berbudaya pada tahun 2020.

B. Misi Sekolah
Misi sekolah:
1) Mengembangkan keyakinan semua warga sekolah bahwa sekolah ini dapat berprestasi dan meraih keunggulan kompetitif.
2) Menciptakan kehidupan sekolah yang berbudaya religius dan bermartabat
3) Mememenuhi Standar Kompetensi Lulusan sesuai standar nasional
4) Memenuhi standar kompetensi lulusan yang sesuai dengan kebutuhan hidup siswa pada konteks global.
5) Memenuhi standar Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2013 yang sesuai dengan kebutuhan siswa mengembangkan kompetensi yang diperlukannya.
6) Mengembangkan pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan untuk mengembangkan potensi peserta didik secara optimal
7) Memberdayakan sistem penilaian autentik untuk meningkatkan motivasi belajar siswa.
8) Menerapkan manajemen perubahan sebagai strategi percepatan pembaharuan sekolah.
9) Meningkatkan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan melalui peningkatan keprofesian berkelanjutan.
10) Memenuhi standar sarana dan prasarana secara bertahap dan terukur.
11) Menggunakan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.
12) Memberdayakan teknologi informasi dan komunikasi sebagai pendukung keunggulan pembelajaran.
13) Mengembangkan kultur sekolah yang menjaga keamanan fisik, psikologis, social yang sehat, dinamis, dan kompetitif.
14) Menciptakan lingkungan dan budaya yang kondusif untuk indah, nyaman, dan damai sebagai tempat belajar untuk guru, siswa, dan seluruh warga sekolah.
15) Menerapkan sistem pembiayaan sekolah yang transparan dan akuntabel.

C. Tujuan Sekolah
Tujuan Umum
Meningkatkan keunggulan potensi dan prestasi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Tujuan Khusus

1) Mewujudkan mutu lulusan
• Bersikap sebagai orang beriman, berakhlak mulia, berilmu, percaya diri, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya.
• Berpengetahuan faktual, konseptual, dan prosedural sebagai dukungan terhadap penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian yang tampak mata.
• Berketerampilan berpikir dan bertindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret
2) Merumuskan struktur kurikulum
Menyusun struktur kurikulum tingkat satuan pendidikan memuat kompetensi (sikap, pengetahuan, dan keterampilan); materi pelajaran yang perlu siswa kuasai; penyebaran peta beban belajar siswa yang memungkinkan siswa dapat mengembangkan potensi diri dan prestasi secara optimal secara alamiah melalui proses pengalaman belajar yang efektif.
3) Penyelenggaraan Pelayanan Belajar

Terselenggara pelayanan belajar yang efektif dengan dukungan sistem perencanaan, pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian yang terbarukan melalui kerja sama guru yang pembelajaran dengan indikator
• Seluruh guru menyusun RPP yang memenuhi kebutuhan siswa mengembangkan potensi dan prestasinya.
• Disain pembelajaran pada seluruh mata pelajaran sesuai koteks satuan pendidikan
• Memenuhi standar proses pembelajaran yang menerapkan pendekatan saintifik (menerapkan metode inkuiri, pemecahan masalah, dan proyek)
• Mendayagunakan sumber belajar yang beragam dengan memanfaatkan data yang terdekat, dari kongkrit sampai yang abstrak.
• Mendayagunakakan kerja sama intenal dan eksternal sekolah dengan melibatkan orang tua siswa secara bijak.
• Mengembangkan model penilaian yang mendorong siswa belajar dan bekompeten.
Mengoptimalkan pendayagunaan waktu secara efektif dan efisien.
Meningkatkan keunggulan siswa secara kolaboratif.
Mengevaluasi perkembangan belajar secara berkala melalui pertemuan dewan guru.
Mengembangkan inovasi pelayanan belajar sebagai tindaklanjut dari data hasil evaluasi.

4) Penilaian
Terselenggara penilaian autentik yang menunjang terpenuhinya tertib dokumen sistem informasi penilaian dan mendorong siswa berprestasi dengan meningkatkan efektivitas (a) perbaikan instrument yang mengukur ketercapaian indikator hasil belajar (b) pengelolaan buku nilai guru (c) pengelolaan sistem infomasi penilaian tingkat satuan pendidikan (d) leger (f) buku indik siswa, dan (g) rapot.

BAB 5. STRUKTUR DAN MUATAN KURIKULUM

A. Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum
Sesuai dengan PP Nomor 19 Tahun 2005 jo PP Nomor 32 Tahun 2013 tentang Standar nasional Pendidikan bahwa penyusunan struktur kurikulum tingkat nasional maupun daerah serta penyusunan kurikulum tingkat sekolah (KTSP) harus menggunakan acuan pada kerangka dasar kurikulum yang dikembangkan dari Standar Nasional Pendidikan. Perubahan PP Nomor 32 tahun 2013 telah ditegaskan bahwa kerangka dasar kurikulum yang digunakan sebagai dasar penyusunan kurikulum 2013 meliputi landasan filosofis, landasan sosiologis, landasan yuridis, dan landasan pedagogis.
Landasan filosofis dasar penyusunan kurikulum 2013 sebagai berikut :
1. Pendidikan berakar pada budaya bangsa untuk membangun kehidupan bangsa masa kini dan masa mendatang. Pandangan ini menjadikan Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan budaya bangsa Indonesia yang beragam, diarahkan untuk membangun kehidupan masa kini, dan untuk membangun dasar bagi kehidupan bangsa yang lebih baik di masa depan.
Kurikulum 2013 mengembangkan pengalaman belajar yang memberikan kesempatan luas bagi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang diperlukan bagi kehidupan di masa kini dan masa depan, dan pada waktu bersamaan tetap mengembangkan kemampuan mereka sebagai pewaris budaya bangsa dan orang yang peduli terhadap permasalahan masyarakat dan bangsa masa kini.
2. Peserta didik adalah pewaris budaya bangsa yang kreatif. Menurut pandangan filosofi ini, prestasi bangsa di berbagai bidang kehidupan di masa lampau adalah sesuatu yang harus termuat dalam isi kurikulum untuk dipelajari peserta didik. Proses pendidikan adalah suatu proses yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi dirinya.
3. Pendidikan ditujukan untuk mengembangkan kecerdasan spiritual, intelektual, dan kinestetik.
4. Pendidikan untuk membangun kehidupan masa kini dan masa depan yang lebih baik dari masa lalu dengan berbagai kemampuan intelektual, kemampuan berkomunikasi, sikap sosial, kepedulian, dan berpartisipasi untuk membangun kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih baik (experimentalism and social reconstructivism).

Landasan pedagogis Kurikulum 2013 adalah rancangan pendidikan yang memberi kesempatan untuk peserta didik mengembangkan potensi dirinya dalam suatu suasana belajar penuh aktivitas, berkarya dan menyenangkan untuk mengembangakan diri sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan bangsanya.
Permendikbud No 69 tahun 2013 menjelaskan tentang Kerangka dasar kurikulum Sekolah Menengah Atas merupakan landasan filosofis, sosiologis, psikopedagogis, dan yuridis yang berfungsi sebagai acuan pengembangan struktur kurikulum pada tingkat nasional dan pengembangan muatan lokal pada tingkat daerah serta pedoman pengembangan kurikulum pada Sekolah Menengah Atas. Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Atas merupakan pengorganisasian kompetensi inti, matapelajaran, beban belajar, dan kompetensi dasar pada setiap Sekolah Menengah Atas.
A. Struktur Kurikulum
Dalam kurikulum 2013 sebagaimana tercantum dalam PP Nomor 32 tahun 2013 dan Permendikbud Nomor 69 tahun 2013 yang dimaksud dengan struktur kurikulum adalah pengorganisasian kompetensi inti, kompetensi dasar, muatan pembelajaran, mata pelajaran, beban belajar, pada setiap satuan pendidikan dan program pendidikan. Secara tegas dinyatakan bahwa struktur kurikulum adalah pengorganisasian mata pelajaran untuk setiap mata pelajaran dan atau program pendidikan.
Mengingat pada tahun pelajaran 2013/2014, SMA Negeri 1 ………….. ditetapkan sebagai sekolah sasaran (piloting) untuk mengimplementasikan kurikulum 2013, maka struktur kurikulum sekolah SMA Negeri 1 ………….. sebagai berikut:
1. Struktur Kurikulum SMA Negeri 1 ………….. X
Struktur kurikulum SMA Negeri 1 ………….. kelas X dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Struktur Kurikulum SMA Negeri 1 ………….. Kelas X memiliki 44 jam pelajaran yang terdiri atas 42 jam pelajaran dari pusat dan 2 jam muatan lokal provinsi dan kabupaten.
b. Program peminatan yang dipilih disediakan sekolah terdiri atas peminatan matematika dan ilmu alam dan peminatan ilmu-ilmu social, serta Bahasa dan Budaya.
c. Struktur Kurikulum kelas X terdiri atas mata pelajaran kelompok wajib A, kelompok mata pelajaran wajib B, kelompok mata pelajaran peminatan C yang terdiri atas kelompok mata pelajaran peminatan akademik dan kelompok mata pelajaran pilihan lintas kelompok peminatan, dan mata pelajaran muatan local yang dimasukkan dalam kelompok mata pelajaran wajib B.
d. Jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran dialokasikan sebagaimana tertera dalam struktur kurikulum.
e. Alokasi waktu satu jam pembelajaran adalah 45 menit.
f. Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran adalah 38-40 minggu.

 

 

00kl00pp

00po

*) memilih 4 jam pelajaran atau 1 mata pelajaran
*) sekolah menyediakan pilihan mata pelajaran sesuai dengan sumber daya yang tersedia
B. Pengaturan Beban Belajar
a. SMA Negeri 1 ………….. menggunakan sistem paket. Beban belajar yang diatur pada ketentuan ini adalah beban belajar dengan menggunakan sistem paket. Sistem Paket adalah sistem penyelenggaraan program pendidikan yang peserta didiknya diwajibkan mengikuti seluruh program pembelajaran dan beban belajar yang sudah ditetapkan untuk setiap kelas sesuai dengan struktur kurikulum yang berlaku pada satuan pendidikan. Beban belajar setiap mata pelajaran pada Sistem Paket dinyatakan dalam satuan jam pembelajaran.
b. Beban belajar dirumuskan dalam bentuk satuan waktu yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk mengikuti program pembelajaran melalui sistem tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Semua itu dimaksudkan untuk mencapai standar kompetensi lulusan dengan memperhatikan tingkat perkembangan peserta didik.
c. Kegiatan tatap muka adalah kegiatan pembelajaran yang berupa proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik. Beban belajar kegiatan tatap muka per jam pembelajaran pada SMA Negeri 1 ………….. selama 45 menit. Beban belajar kegiatan tatap muka per minggu di SMA Negeri 1 ………….. adalah 44 jam pelajaran pembelajaran di kelas X dan 46 jam pelajaram di kelas Xi dan XII.

Satuan Pendidikan Kelas Satu jam pemb. tatap muka (menit) Jumlah jam pemb. Per minggu Minggu Efektif per tahun ajaran Waktu pembelajaran per tahun Jumlah jam per tahun (@60 menit)
SMAN 1 ………….. X s.d. XII 45 44/46 36-40 1584-1760 jam pembelajaran
(71280 – 79200
menit) 1188-1320 jam

 
d. Penugasan terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai standar kompetensi. Waktu penyelesaian penugasan terstruktur ditentukan oleh pendidik 0 – 60%.
e. Kegiatan mandiri tidak terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai standar kompetensi. Waktu penyelesaiannya diatur sendiri oleh peserta didik dan guru tetapi maksimum 60% dari jam tatap muka dalam satu semester.
f. Jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran pada sistem paket dialokasikan sebagaimana tertera dalam struktur kurikulum. Walaupun pengaturan alokasi waktu untuk setiap mata pelajaran yang terdapat pada semester ganjil dan genap dalam satu tahun ajaran dapat dilakukan secara fleksibel, menetapkan alokasi waktu yang sama setiap semesternya yakni 44 dan 46 jam pelajaran per minggu. Penambahan jam pembelajaran tambahan dari alokasi minimal didasarkan pada pertimbangan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi, tingkat kesulitan, dan atas dasar pencapaian prestasi akademik siswa.
g. Alokasi waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur dalam sistem paket di SMA Negeri 1 ………….. 0% – 60% dari waktu kegiatan tatap muka mata pelajaran yang bersangkutan. Pemanfaatan alokasi waktu tersebut mempertimbangkan potensi dan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi.

 

h. Penyelesaian program pendidikan dengan menggunakan sistem paket adalah tiga tahun maksimum 6 tahun. SMA Negeri 1 ………….. tidak melaksanakan program percepatan peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.
i. Alokasi waktu untuk praktik, dua jam kegiatan praktik di sekolah setara dengan satu jam tatap muka. Empat jam praktik di luar sekolah setara dengan satu jam tatap muka.

C. Muatan Kurikulum
Muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan meliputi sejumlah mata pelajaran yang keluasan dan kedalamannya merupakan beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan. Di samping itu materi muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri atau kegiatan ekstrakurikuler termasuk ke dalam isi kurikulum. Secara rinci muatan kurikulum dijelaskan sebagai berikut:
1. Mata Pelajaran
Mata pelajaran beserta alokasi waktu untuk masing-masing tingkat satuan pendidikan berpedoman pada struktur kurikulum yang tercantum dalam Standar Isi. Sesuai dengan 2 kurikulum yang digunbakan pada tahun pelajaran 2013/2014 ini, maka mata pelajaran yang harus ditempuh peserta didik adalah sebagai berikut:

a. Mata Pelajaran Kelas X
Secara umum yang membedakan muatan kurikulum pada kurikulum 2013 dengan kurikulum sebelumnya adalah adanya pengelompokan mata pelajaran wajib dan mata pelajaran pilihan. Kelompok mata pelajaran wajib terdiri atas kelompok mata pelajaran wajib A dan kelompok mata pelajaran wajib B. Kelompok mata pelajaran pilihan adalah kelompok mata pelajaran C yang merupakan kelompok mata pelajaran pilihan yang terdiri atas mata pelajaran pilihan kelompok peminatan akademik dan mata pelajaran pilihan lintas kelompok peminatan.

Kelompok mata pelajaran Wajib merupakan bagian dari pendidikan umum yaitu pendidikan bagi semua warga negara bertujuan memberikan pengetahuan tentang bangsa, sikap sebagai bangsa, dan kemampuan penting untuk mengembangkan kehidupan pribadi peserta didik, masyarakat dan bangsa. Mata pelajaran Kelompok A dan C adalah kelompok mata pelajaran yang substansinya dikembangkan oleh pusat. Mata pelajaran Kelompok B adalah kelompok mata pelajaran yang substansinya dikembangkan oleh pusat dan dapat dilengkapi dengan muatan lokal yang dikembangkan oleh pemerintah daerah.

Sesuai dengan struktur kurikulum yang dikembangkan dalam kurikulum 2013, maka kelompok mata pelajaran wajib A terdiri atas 6 mata pelajaran, kelompok mata pelajaran wajib B terdiri atas 3 mata pelajaran, dan kelompok mata pelajaran pilihan C pada pilihan peminatan akademik terdiri atas 4 mata pelajaran sesuai dengan kelompok peminatan yang dipilihnya dan pilihan mata pelajaran lintas kelompok peminatan akademik terdiri atas 2 mata pelajaran sesuai dengan pilihannya. Mata pelajaran di kelompok peminatan wajib diikuti semua peserta didik sesuai dengan kelompok peminatan yang dipilihnya termasuk pilihan mata pelajaran lintas kelompok peminatan yang dipilihnya tersebut.
b. Mata Pelajaran Kelas XI dan Kelas XII
Sesuai dengan struktur kurikulum yang dikembangkan dalam kurikulum 2013, maka kelompok mata pelajaran wajib A terdiri atas 6 mata pelajaran, kelompok mata pelajaran wajib B terdiri atas 3 mata pelajaran, dan kelompok mata pelajaran pilihan C pada pilihan peminatan akademik terdiri atas 4 mata pelajaran sesuai dengan kelompok peminatan yang dipilihnya dan pilihan mata pelajaran lintas kelompok peminatan akademik terdiri atas 1 mata pelajaran sesuai dengan pilihannya. Mata pelajaran di kelompok peminatan wajib diikuti semua peserta didik sesuai dengan kelompok peminatan yang dipilihnya termasuk pilihan mata pelajaran lintas kelompok peminatan yang dipilihnya tersebut.
2. Muatan Lokal
Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan. Muatan lokal baik untuk kelas X , XI, dan XII terdiri atas 2 mata pelajaran yaitu mata pelajaran Bahasa Jawa dan mata pelajaran Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ).
Dua mata pelajaran muatan lokal ini dimasukkan dalam struktur kelompok mata pelajaran wajib B sehingga pada kelompok wajib B terdapat 5 mata pelajaran. Sesuai dengan kerangka dasar pengembangan kurikulum 2013, maka mata pelajaran muatan lokal yang diajarkan mengikuti ketentuan sepenuhnya baik mengenai kompetensi inti, kompetensi dasar, proses pembelajaran, maupun proses penilaiannya.

D. Kalender Pendidikan
Kurikulum satuan pendidikan pada setiap jenis dan jenjang diselenggarakan dengan mengikuti kalender pendidikan pada setiap tahun ajaran. Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu dan pemetaan beban belajar untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran yang mencakup permulaan tahun pelajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif dan hari libur. Permulaan tahun pelajaran adalah waktu dimulainya kegiatan pembelajaran pada awal tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan. Minggu efektif belajar adalah jumlah minggu kegiatan pembelajaran untuk setiap tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan. Waktu pembelajaran efektif adalah jumlah jam pembelajaran setiap minggu, meliputi jumlah jam pembelajaran untuk seluruh matapelajaran termasuk muatan lokal. Waktu libur adalah waktu yang ditetapkan untuk tidak diadakan kegiatan pembelajaran terjadwal pada satuan pendidikan yang dimaksud. Waktu libur dapat berbentuk jeda tengah semester, jeda antar semester, libur akhir tahun pelajaran, hari libur keagamaan, hari libur umum termasuk hari-hari besar nasional, dan hari libur khusus.
Sesuai dengan Standar Isi, maka dalam Pengembangan Kalender Pendidikan SMA Negeri 1 ………….. mengacu pada rambu-rambu sebagai berikut:
1. Permulaan tahun pelajaran adalah bulan Juli setiap tahun dan berakhir pada bulan Juni tahun berikutnya.
2. Hari libur sekolah ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional, dan/atau Menteri Agama dalam hal yang terkait dengan hari raya keagamaan, Kepala Daerah tingkat Kabupaten/Kota, dan/atau organisasi penyelenggara pendidikan dapat menetapkan hari libur khusus.
3. Kalender pendidikan untuk setiap satuan pendidikan dikembangkan oleh masing-masing satuan pendidikan berdasarkan alokasi waktu sebagaimana tersebut pada dokumen Standar Isi ini dengan memperhatikan ketentuan dari pemerintah/pemerintah daerah.
4. Alokasi Waktu pada Kelender Pendidikan adalah sebagai berikut:

00oy

Berdasarkan rambu-rambu di atas, SMA Negeri 1 ………….. menyusun Kalender Pendidikan sebagaimana tercantum pada lampiran ini.

E. Sistem Informasi Penilaian
Sebagai dampak dari semakin kompleksnya penilaian proses dan hasil belajar diperlukan sistem informasi penilaian pada tingkat satuan pendidikan. Model informasi penilain terlampir.

F. Kenaikan Kelas dan Kelulusan
Syarat kenaikan kelas maupun kelulusan siswa harus memenuhi syarat ketuntasan.
1. Ketuntasan Belajar
Ketuntasan Belajar berkaiatan langsung dengan penilaian. PP No. 19 tahun 2005 jo PP 32 tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan dan Permendiknas No. 20 tahun 2007 yang diperbarui Permendikbud No. 66 tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan Dasar dan Menengah mengatur tentang penilaian yang terdiri atas penilaian hasil belajar oleh pendidik, satuan pendidikan, dan pemerintah.
Penilaian hasil belajar oleh pendidik

Penetapan nilai kriteria ketuntasan minimal dilakukan melalui analisis ketuntasan belajar minimal pada setiap indikator dengan memperhatikan kompleksitas, daya dukung, dan intake peserta didik untuk mencapai ketuntasan kompetensi dasar dan standar kompetensi. Kriteria ketuntasan minimal setiap Kompetensi Dasar (KD) dapat dilihat dalam capaian kompetensi pada diagram berikut

 

00mn

Pada KD pada KI-3 dan KI-4, seorang peserta didik dinyatakan belum tuntas belajar untuk menguasai KD yang dipelajarinya apabila menunjukkan indikator nilai < 2.66 dari hasil tes formatif. Pada KD pada KI-1 dan KI-2, ketuntasan seorang peserta didik dilakukan dengan memperhatikan aspek sikap,yakni jika profil sikap peserta didik secara umum berada pada kategori baik (B) menurut standar yang ditetapkan satuan pendidikan yang bersangkutan.

Implikasi dari ketuntasan belajar tersebut adalah pada KI-3 dan KI-4: diberikan remedial individual sesuai dengan kebutuhan kepada peserta didik yang memperoleh nilai kurang dari 2.66; Untuk KD pada KI-3 dan KI-4: diberikan kesempatan untuk melanjutkan pelajarannya ke KD berikutnya kepada peserta didik yang memperoleh nilai 2.66 atau lebih dari 2.66; dan

Pada KI-3 dan KI-4: diadakan remedial klasikal sesuai dengan kebutuhan apabila lebih dari 75% peserta didik memperoleh nilai kurang dari 2.66. Untuk KD pada KI-1 dan KI-2, pembinaan terhadap peserta didik yang secara umum profil sikapnya belum berkategori baik dilakukan secara holistik (paling tidak oleh guru matapelajaran, guru BK, dan orang tua).

Secara rinci aturan pelaksanaan penilaian mengacu pada Petunjuk Teknis Model Penilaian yang dikeluarkan oleh Direktorat Pembinaan SMA sebagai bagian yang tidak terpisahkan dengan dokumen kurikulum ini.

2. Kriteria Kenaikan Kelas, Kelulusan, dan Mutasi Siswa
a. Kriteria Kenaikan Kelas
Kenaikan kelas dilaksanakan pada setiap akhir tahun ajaran. Kenaikan kelas didasarkan pada penilaian hasil belajar pada semerter genap, dengan pertimbangan seluruh KD yang belum tuntas pada semester ganjil saat semester genap belum berakhir. Hal ini sesuai dengan prinsip belajar tuntas (mastery learning). Peserta didik yang belum mencapai ketuntasan belajar sesuai dengan KKM yang ditetapkan, maka yang bersangkutan harus mengikuti pembelajaran remidial sampai yang bersangkutan mampu mencapai standar ketuntasan. Seserang peserta didik dapat dinyatakan naik kelas jika memenuhi syarat berikut:
a) Mencapai ketuntasan belajar minimal dengan sebanyak-banyaknya pada tiga mata mata pelajaran belum mencapai KKM.
b) Peserta didik dinyatakan tidak naik ke kelas apabila yang bersangkutan tidak mencapai ketuntasan belajar minimal salah satu mata pelajaran ciri khas peminatannya sesuai dengan Permendikbud 69 tahun 2013
c) Peserta didik dinyatakan tidak naik jika budi pekerti, akhlak mulia, dan kepribadian secara keseluruhan kurang dari baik.
d) Peseerta didik dinyatakan tidak naik jika perolehan nilai ektrakurikuler wajib selama 2 semester kurang memuaskan dan yang bersangkutan tidak mengikuti kegiatan tambahan yang diselenggarakan sekolah.
e) Aturan lain yang tidak diatur dalam kurikulum ini diatur tersendiri dalam rapat dewan pendidik.

b. Kelulusan Siswa
Sesuai dengan ketentuan PP 19/2005 jo PP 32/2013 Pasal 72 Ayat (1), peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah setelah:
1) menyelesaikan seluruh program pembelajaran;
2) memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan;
3) lulus ujian sekolah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi; dan
4) lulus Ujian Nasional.

c. Mutasi Siswa
Sekolah memfasilitasi adanya peserta didik yang pindah sekolah karena alasan tertentu. Untuk pelaksanaan pindah sekolah (masuk atau keluar) lintas Provinsi dan Kabupaten/Kota disesuaikan dengan peraturan yang berlaku pada masing-masing Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota. Untuk proses mutasi dari sekolah lain digunakan pertimbangan nilai laporan capaian kompetensi atau laporan nilai hasil belajar (LCK/LHB) peserta didik sekolah asal, nilai KKM sekolah asal, serta pertimbangan lain yang dirasakan perlu untuk menjamin akuntabilitas proses mutasi. Sekolah dapat melakukan tes masuk bagi peserta didik yang ingin mutasi ke SMA Negeri 1 ………….. untuk mengetahui mengetahui kemampuan peserta didik.
 

00moon

Diakhiri dengan penarikan kesimpulan dan rekomendasi tindak lanjut perbaikan mutu.

00lk00mnbKTSP Kurikulum 2013

Model-KTSP-Kur-2013-GP1

 

About suaidinmath

Mohon kontribusi untuk menambal retak dan menambah langkah kesempurnaan tulisan ini ...

Diskusi

2 thoughts on “Dokumen Disusun Sebagai Panduan Pemangku Kewenangan Pelaksanaan Kurikulum 2013 Pada Satuan Pendidikan

  1. saya bingung dalam membimbing anak dalam belajar ketika mempelajari buku tematik……tidak terkotak mana pengetahuan sosial , mana pengetahuan alam dan matematika…jadi bagaimana sebenarnya cara orang tua memahami kurikulum 2013 ini…tolong jawabannya……………………….

    Suka

    Posted by lilis sholihah | 4 Februari 2016, 5:03 am
  2. kadang dalam buku tematik itu kita disuruh menjawab pertanyaan tentang konsep…..tapi konsep tersebut tidak disajikan dalam bentuk rangkuman atau sejenisnya…..
    terlalu sulit untuk diterapkan di anak sd

    Suka

    Posted by lilis sholihah | 4 Februari 2016, 5:06 am

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Hari ini

Juni 2014
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Statistik Blog

  • 1,764,690 hit

Arsip blog

Award Blog Pendidikan 2012

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 259 pengikut lainnya

Dunia Pendidikan

Teratas

RSS Republika online

  • Warga Pidie Jaya Harapkan Bantuan Segera Tersalurkan 9 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, TRIENGGADENG -- Masyarakat korban gempa di Kabupaten Pidie Jaya mengharapkan bantuan dari pemerintah bisa segera tersalurkan. Seperti masyarakat Desa Kuta Pangwa, Kecamatan Trienggadeng, Kabupaten Pidie Jaya, Jumat (9/12). Dimana...
    Sadly Rachman
  • BPBD Magetan Bangun Posko Tanggap Darurat 9 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, MAGETAN -- BPBD Kabupaten Magetan, Jawa Timur, membangun sebuah pos komando (posko) tanggap darurat bencana di wilayah paling rawan tanah longsor guna memberikan penanganan cepat jika sewaktu-waktu terjadi...
    Yudha Manggala P Putra

RSS educatinalwithptk

newsalloy

NewsAlloy button

MUSIK

suara Edukasi

 

 http://radioedukasi.com/modules/mod_miniradio/mod_miniradio.swf

suara_edukasi

RADIO EDUKASI

Live Streaming AM 1251 kHz

Silahkan unduh produk audio radio Suara edukasi

[KLIK DISINI]

Zaimuttpjok/tik

BERBAGI INFORMASI PENDIDIKAN DAN KISAH HIDUP

isti

Berilah makan keyakinanmu niscaya keraguanmu mati kelaparan

ANNISA USH SHOLIHAH

ALL ABOUT CHEMIS_3 (sharing for carring)

Dinas Dikpora Kab. Dompu

Ikhlas Mendidik Untuk Martabat Bangsa dan Negara

Vox Populi

Vox Populi: A Public Sphere for Politics and Poetry

Architecture Here and There

Style Wars: classicsm vs. modernism

Stories From the Belly

A Blog About the Female Body and Its Appetites

mywordpool

"Words - so innocent and powerless as they are, as standing in a dictionary, how potent for good and evil they become in the hands of one who knows how to combine them." ~Nathaniel Hawthorne

Fusion

Championing a young, diverse, and inclusive America with a unique mix of smart and irreverent original reporting, lifestyle, and comedic content.

Whatever

LET ME STEAL THIS MOMENT FROM YOU NOW

rachel eats

stories, pictures and cooking tales from an english woman living in rome.

y

what it comes down to

tangerine drawings

scribbles and recipes from a pastry chef in paris

Extra Dry Martini

Straight up, with a twist.

Gravity and Levity

A blog about the big ideas in physics, plus a few other things

love.life.eat

living a mindful life

%d blogger menyukai ini: