//
you're reading...
Dunia Pendidikan

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU DALAM MENERAPKAN STRATEGI PEMBELAJARAN “THINK-TALK-WRITE” SEBAGAI ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA PADA WILAYAH SMA BINAAN DI KABUPATEN DOMPU MELALUI SUPERVISI KOLABORATIF

 

Suaidin
Pengawas SMA/SMK Kabupaten Dompu NTB

206264_3775938681513_1985043868_nAbstract. This study is based on the low achievement in mathematics in five high schools. It happens because students do not achieve
mastery learning as seen from the results of tests, whereas mathematics is a main lesson on all levels. Contributing factors in the
process of learning are students sometimes lack of the motivation to learn, low-absorption students, do not understand what is delivered by
teachers, and poor teacher performance. These problems can be solved by collaborative supervision in carrying out the management of teaching from planning, implementation of teaching and learning, and evaluation. The purpose of this study is to increase in teachers in implementing the strategy of Think-Talk-Write which will have implications on the increase in student learning outcomes in mathematics subjects, special on aspects of communication skills and problem solving at the level of think commonly found on Achievement Indicators at least competence in curriculum KTSP 2006. The method of this research is to study the action (action research) with a collaborative approach undertaken by two cycles. Based on the results of action research can be concluded: (1) supervision of an individual with a collaborative approach to give effect to increase the performance of high school mathematics teacher in the target area in the district of Dompu both components or learning plan implementation component of learning by using Think-Talk-Write, and (2) increasing the impact on teacher performance improving mathematics learning outcomes of students.

Keywords: collaborative supervision, mathematical problem solving, Think-Talk-Write.

1. Pendahuluan
Pemecahan masalah matematika merupakan bagian dari berpikir matematis tingkat tinggi yang bersifat kompleks. Karena itu pembelajaran yang berfokus pada kemampuan tersebut memerlukan prasyarat konsep dan proses dari yang lebih rendah. Kemampuan komuni-kasi dan pemecahan masalah matematika siswa tidak akan ada tanpa kemampuan pemahaman yang baik. Hal ini meliputi materi maupun cara mempelajari atau mengajarkannya. Salah satu keputusan yang perlu diambil guru tentang pembelajaran adalah pemilihan pendekatan dan strategi yang digunakan. Masih banyak guru matematika pada sekolah-sekolah binaan penulis, yang menganut paradigma transfer of knowledge, yang beranggapan bahwa siswa merupakan objek dari belajar. Dalam paradigma
ini guru mendominasi dalam proses pembelajaran. Kenyataan ini telah diungkapkan oleh Ruseffendi (1991: 328), bahwa matematika yang dipelajari siswa di sekolah sebagian besar
tidak diperoleh melalui eksplorasi matematika, tetapi melalui pemberitahuan guru.
Kondisi pembelajaran ketika siswa belajar secara pasif, jelas tidak menguntungkan terhadap hasil belajarnya. Untuk itu perlu usaha guru agar siswa belajar secara aktif. Sejalan dengan pendapat tersebut, Sutiarso (2000) mengatakan bahwa agar pembelajaran dapat memaksimalkan proses dan hasil belajar matematika, guru perlu mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam diskusi, bertanya serta menjawab pertanyaan, berpikir secara kritis, menjelaskan setiap jawaban yang diberikan, serta mengajukan alasan untuk setiap jawaban yang diajukan.Pembelajaran yang diberikan pada kondisi ini ditekankan pada penggunaan diskusi, baik diskusi dalam kelompok kecil maupun diskusi dalam kelas secara keseluruhan. Meskipun kesimpulan tersebut diambil
berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap siswa sekolah dasar, namun pengembangannya sangat mungkin untuk siswa pada jenjang sekolah yang lebih tinggi.
Kenyataan rendahnya hasil belajar siswa, yang terlihat dari hasil evaluasi belajar matematika pada siswa SMA wilayah binaan penulis rata-rata 5,38 dan hasil ulangan akhir semester yang hanya mencapai ketuntasan rata-rata 59,17% menunjukkan bahwa nilai siswa SMA di wilayah binaan masih jauh dari standar ketuntasan belajar yang telah ditetapkan oleh masing-masing sekolah binaan. Hal ini jelas menunjukkan bahwa masih diperlukan upaya pendampingan atau bimbingan secara intensif kepada guru-guru di sekolah binaan penulis secara kolaboratif dalam upaya peningkatan proses dan hasil belajar matematika. Pendampingan pengawas dalam bentuk supervisi kolaboratif terhadap guru matematika dalam mengelola pembelajaran matematika menjadi sangat penting
sehingga guru benar-benar dapat mengelola pembelajaran dengan sebaik-baiknya mulai dari perencanaan (materi, model
belajar, media belajar, metode, sumber belajar, dan evaluasi),
pelaksanaan pembelajaran sampai dengan evaluasi hasil belajar siswa.
Dengan memperhatikan beberapa pendapat di atas, penulis melakukan sebuah penelitian kolaboratif bersama guru-guru matematika dilingkungan SMA binaan Dinas Dikpora Kabupaten Dompu, dengan judul Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru Matematika dalam Menerapkan Strategi Pembelajaran Think-Talk-Write sebagai Alternatif Pemecahan Masalah Matematika pada SMA Wilayah Binaan di Kabupaten Dompu Melalui Supervisi Kolaboratif. Strategi
pembelajaran yang digunakan ini mengharuskan siswa terlibat dalam kegiatan berpikir, berbicara, dan menulis selama proses pembelajaran. Sedangkan model yang dipilih adalah pembelajaran dalam kelompok kecil dengan anggota 4 sampai 6 orang siswa yang dikelompokkan secara heterogen menurut kemampuan matematikanya. Pengelompokan seperti ini dimaksudkan agar semua siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.

2. Rumusan Masalah
a. Apakah pembimbingan dalam bentuk supervisi kolaboratif
oleh pengawas terhadap guru matematika dapat meningkatkan kinerja guru matematika dalam merencanakan dan menerapkan strategi pembelajaran Think-Talk-Write?
b. Apakah strategi pembelajaran Think-Talk-Write dalam kelompok kecil dapat meningkatkan proses dan hasil belajar matematika siswa?

3. Hipotesis Tindakan
a. Bimbingan supervisi kolaboratif terhadap guru matematika di
SMA binaan di Kabupaten Dompu dapat meningkatkan kemampuan menerapkan strategi Think-Talk-Write.
b. Bimbingan supervisi kolaboratif terhadap guru dalam merencanakan dan menerapkan strategi Think-Talk-Write dapat meningkatkan proses dan hasil belajar matematika siswa.

4. Tujuan Penelitian
a. Untuk meningkatkan kinerja guru matematika dalam menerapkan strategi pembelajaran Think-Talk-Write dalam kelompok kecil melalui supervisi kolaboratif.
b. Untuk meningkatkan proses dan hasil belajar matematika
siswa dengan menggunakan strategi pembelajaran Think-Talk-Write.
c. Untuk meningkatkan kolaborasi yang sinergis antara pengawas dan guru pada sekolah binaan dalam merencanakan dan menerapkan strategi pembelajaran Think-Talk-Write pada kelompok kecil sebagai alternatif pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika di sekolah.

 

5. Metodologi Penelitian

Desain Penelitian Tindakan
Penelitian ini dilakukan menggunakan desain penelitian tindakan (action research) yang dirancang melalui dua siklus
melalui prosedur: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi, dan 4) refleksi dalam tiap-tiap siklus.

Subjek dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan sebanyak dua siklus yang dilaksanakan
pada Juli – November 2010. Subjek penelitian ini adalah guru
matematika kelas XI IPA SMA di wilayah sekolah binaan peneliti
sebanyak lima orang. Sedangkan siswa yang menjadi objek penelitian memiliki karakteristik yang beragam, baik dari segi kemampuan, motivasi maupun latar belakang pengetahuannya.

Faktor yang Diteliti
Faktor yang diteliti dalam penelitian ini adalah:
a. Guru, apakah guru telah berhasil dalam menyampaikan konsep, membimbing dan memotivasi siswa.
b. Pembelajaran, apakah perencanaan, metode, strategi atau pendekatan pembelajaran dapat berjalan sesuai yang direncanakan.
c. Siswa, semua kegiatan siswa selama pembelajaran diamati dan dicatat perkembangannya untuk dilakukan perbaikan pada siklus selanjutnya.
d. Hasil belajar, siswa dianggap tuntas belajar apabila penguasaan materinya lebih dari atau sama dengan Kriteria
Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan.

Tahapan Penelitian

a. Perencanaan
Pada tahapan ini disiapkan hal-hal sebagai berikut: (a)menyiapkan bahan, inventarisasi kebutuhan dan masalah/
kesulitan guru matematika dalam mengelola strategi pembelajaran Think-Talk-Write, (b) fokus diskusi kelompok tentang hal-hal yang terkait dengan strategi pembelajaran Think-Talk-Write, (c) menyiapkan jadwal pelaksanaan Supervisi pendampingan pada setiap guru disesuaikan dengan kesiapan setiap guru, (d) menyiapkan bahan dan alat yang dibutuhkan dalam pendampingan supervisi kolaboratif.
b. Pelaksanaan tindakan
Pada tahapan ini dilaksanakan supervisi pada setiap guru secara kolaboratif sesuai dengan jadwal yang telah direncanakan, yaitu (a) bimbingan terhadap guru dalam perencanaan strategi pembelajaran Think-Talk-Write, mulai dari menyusun rencana pembelajaran, menyiapkan metode, membuat media belajar, menyiapkan sumber belajar, dan menyiapkan alat evaluasi, (b) bimbingan terhadap guru saat melaksanakan kegiatan pembelajaran, baik di dalam
maupun di luar kelas, sesuai dengan pokok bahasan dan materi yang akan diajarkan, (c) bimbingan terhadap guru saat mengevaluasi hasil belajar siswa.
c. Observasi
Pengamatan dilakukan pada setiap tahap penelitian, mulai dari tahap perencanaan dan pelaksanaan tindakan. Kejadian dan hal-hal yang terjadi direkam dalam bentuk catatan-catatan hasil observasi dan didokumentasikan sebagai data-data penelitian.
d. Refleksi
Pada akhir tiap siklus diadakan refleksi berdasarkan
data observasi. Refleksi dimaksudkan agar peneliti
dapat melihat apakah tindakan yang dilakukan dalam dapat meningkatkan kinerja guru dan hasil belajar siswa, kendala-
kendala yang menghambat, faktor pendorong, dan alternatif solusinya. Refleksi yang dilakukan adalah dari hasil pengamatan input dan output kinerja guru dan hasil
belajar siswa. Sumber data penelitian adalah siswa, guru matematika, dan peneliti. Jenis data yang dikumpulkan berupa
data kuantitatif dan kualitatf, yang mencakup (a) rencana pendampingan, (b) pelaksanaan pendampingan, (c) data hasil observasi, (d) kinerja guru, (e) hasil belajar matematika, (f) perubahan sikap siswa dalam mengikuti mata pelajaran matematika.

Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian
Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, tes kinerja
guru, dan tes. Adapun instrumen pengumpul data yang digunaakan meliputi (1) pedoman observasi, (2) instrumen penilaian kinerja guru, (3) instrumen penilaian hasil belajar siswa, (4)alat-alat dokumentasi sebagai perekam data-data penelitian yang dibutuhkan.

Teknik Analisis Data
Data yang terkumpul dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif dianalisis dengan menggunakan analisis kategorial dan fungsional melalui model analisis interaktif. Data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif.

6. Hasil Penelitian dan Pembahasan

Hasil Refleksi Awal

Berdasarkan hasil refleksi awal, kemampuan guru matematika pada SMA wilayah binaan peneliti di Kabupaten Dompu sebelum dilakukan tindakan pada siklus I, diperoleh tingkat kemampuan guru seperti terlihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Kinerja Guru Matematika sebelum tindakan
Aspek Kinerja Guru Rerata Skor Skor Ideal Persentase Ketercapaian
Komponen Rencana Pembelajaran Komponen
Pelaksanaan Pembelajaran
Kinerja Guru 34.2
75.8
110 68
140
208 50.3
54
52.9
Tabel 2. Kategori dan Kualifikasi Kinerja Guru Matematika
No. Rentang Kategori Kualifikasi
1
2
3
4
5 0 – 20
21 – 40
41 – 60
61 – 80
81 – 100 Sangat rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat tinggi E
D
C
B
A

Dari Tabel 1 terlihat bahwa kinerja guru matematika SMA hanya
mencapai 52,9%, meliputi komponen perencanaan pembelajaran sebesar 50,3% dan komponen pelaksanaan pembelajaran sebesar 54%. Berdasarkan Tabel 2, kategori kinerja guru tersebut termasuk pada kategori yang sedang.
Persentase komponen perencanaan pembelajaran guru relatif lebih rendah daripada komponen pelaksanaannya. Hal ini menunjukkan bahwa guru belum terlalu baik dalam merencanakan proses pembelajaran. Komponen perencanaan pembelajaran meliputi (1) perumusan tujuan pembelajaran, (2) pemilihan dan pengorganisasian materi ajar, (3) pemilihan sumber belajar atau media pembelajaran, (4) metode pembelajaran, (5) rencana penilaian hasil belajar.
Pada komponen pelaksanaan pembelajaran, diperoleh persentase rata-rata skor kinerja terendah adalah kinerja guru dalam memanfaatkan sumber belajar dan menutup pelajaran. Pada umumnya guru pada akhir sesi pembelajaran tidak memberikan refleksi yang melibatkan siswa.
Pemanfaatan sumber belajar dan media yang dapat digunakan untuk pembelajaran relatif kurang banyak dimanfaatkan. Hal tersebut berdampak pada rendahnya hasil belajar matematika siswa.

Hasil Tindakan Siklus 1
Hasil refleksi awal dijadikan sebagai dasar untuk melakukan supervisi kolaboratif dengan pendekatan individual terhadap guru matematika SMA wilayah binaan di Kabupaten Dompu. Supervisi dilakukan dengan cara membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi guru
dalam pembelajaran matematika dengan strategi pembelajaran
Think-Talk-Write. Mulai dari penyusunan silabus dan RPP,
pemilihan dan pengorganisasian materi ajar, pemilihan sumber dan
media belajar, dan penilaian hasil belajar.
Pada setiap langkah diidentifikasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi guru, selanjutnya diberikan solusi-solusi pada setiap permasalahan yang dihadapi guru. Tindakan supervisi dilakukan dengan
pendekatan kolaboratif.
Berdasarkan hasil observasi, permasalahan yang dihadapi setiap guru bervariasi, namun pada umumnya hampir sama, yaitu guru enggan menyiapkan media pembelajaran. Selanjutnya setiap guru disarankan untuk menggunakan media CD interaktif dan program presentasi untuk
menyampaikan materi pembelajaran. Hasil tes kinerja setelah dilakukan tindakan pada siklus I didapatkan seperti pada Tabel 3.
Tabel 3. Kinerja Guru Matematika Pasca Tindakan Siklus I
Aspek Kinerja Guru Rerata Skor Skor Ideal Persentase Ketercapaian
Komponen Rencana Pembelajaran
Komponen Pelaksanaan Pembelajaran
Nilai Kinerja Guru 47.00
83.6
130.6 68
140
208 69.1
60
62.8

Tabel 4. Persentase Ketercapaian dan Ketuntasan Hasil Belajar Matematika
Pasca Siklus I
No Nama Sekolah Awal Siklus I Peningkatan
Keterca
paian (%) Ketun
tasan (%) Keterca
paian (%) Ketun
tasan (%) Keterca
paian (%) Ketun
tasan (%)
1
2
3
4
5 SMA 1 Dompu
SMA 1 Kempo
SMA 2 Kempo
SMA 1 Woja
SMA Kosgoro 56
52
3
7
2 58.5
56.25
53.5
58.46
54.15 65
65
63
63
62 72
67
65
67
75 13.84
20
15.87
9.52
16.12 18.75
16.04
17.69
12.75
27.8
Rerata 4 56.17 63.6 69.2 15 18.61

Dari Tabel 3 terlihat bahwa kinerja guru matematika SMA dalam menerapkan strategi pembelajaran Think-Talk-Write setelah dilakukan supervisi melalui pendekatan kolaboratif mengalami peningkatan dari 52,9% menjadi 62,8%.
Kategori persentase kinerja guru tersebut termasuk pada kategori yang tinggi dengan tingkat kualifikasi B, sesuai Tabel 2. Komponen perencanaan pembelajaran sebesar 50,3% meningkat menjadi 69,1% dan komponen pelaksanaan pembelajaran dari 54% meningkat menjadi 60%.
Tampak bahwa peningkatan komponen perencanaan pembelajaran guru berdampak langsung pada pelaksanaan proses pembelajaran yang lebih baik, namun demikian hal ini masih menunjukkan bahwa persiapan guru sebelum mengajar masih lebih rendah dibandingkan dengan pelaksanaannya.
Peningkatan kinerja guru tersebut berdampak pula pada peningkatan kualitas proses dan hasil belajar matematika siswa, dengan nilai rata-rata yang diperoleh relatif lebih tinggi dibandingkan dengan nilai sebelumnya yang dapat dilihat seperti pada Tabel 4.

Hasil Tindakan Siklus II
Hasil refleksi dari hasil tindakan pada Siklus I selanjutnya dijadikan sebagai dasar untuk melakukan supervisi kolaboratif dengan pendekatan individual terhadap guru matematika SMA wilayah binaan Kabupaten Dompu pada tahap selanjutnya. Supervisi yang dilakukan dengan cara membantu guru mengidentifikasi kekurangan-kekurangan mulai dari perencanaan sampai dengan pelaksanaan pembelajaran yang mereka hadapi. Selanjutnya diberikan arahan-arahan yang lebih operasional dan mudah dilaksanakan oleh guru dengan upaya lebih memberikan kemu dahan belajar bagi para siswa.
Berdasarkan hasil observasi, beberapa permasalahan yang dihadapi oleh setiap guru relatif sama, diantaranya guru masih
lemah untuk berinovasi dalam menyiapkan sumber belajar dan media pembelajaran, kurangnya kemampuan yang dituntut dalam pembelajaran matematika, dan seringnya guru terjebak pada rutinitas pembelajaran yang mereka lakukan. Selanjutnya setiap guru disarankan untuk menggunakan strategi pembelajaran Think-Talk-Write serta berinovasi dalam menggunakan media pembelajaran dan sumber-sumber belajar sehingga dalam menyampaikan materi pembelajaran lebih mudah diterima para siswa. Hasil supervisi kinerja guru setelah dilakukan tindakan pada siklus II didapatkan seperti pada Tabel 5.

Dari Tabel 5 terlihat bahwa kemampuan dan kinerja guru matematika SMA binaan peneliti setelah dilakukan supervisi individual dengan pendekatan kolaboratif meningkat dari 62,8% menjadi 80,2%. Kategori persentase kinerja guru tersebut termasuk kategori yang sangat tinggi (A), seperti pada Tabel 2.

Tabel 5. Kinerja Guru Matematika Pasca Tindakan Siklus II
Aspek Kinerja Guru Rerata Skor Skor Ideal Persentase Ketercapaian
Komponen Rencana Pembelajaran
Komponen Pelaksanaan Pembelajaran
Kinerja Guru 51.2
115.6
166.8 68
140
208 75.3
82.6
80.2

Tabel 6. Persentase Ketercapaian dan Ketuntasan Hasil Belajar Matematika Pasca Siklus I dan II

No Nama Sekolah Siklus I Siklus II Peningkatan
Keterca
paian (%) Ketun
tasan (%) Keterca
paian (%) Ketun
tasan (%) Keterca
paian (%) Ketun
tasan (%)
1
2
3
4
5 SMA 1 Dompu
SMA 1 Kempo
SMA 2 Kempo
SMA 1 Woja
SMA Kosgoro 65
65
63
63
62 72
67
65
67
75 76
77
73
77
76 83
86
80
86
86 14.45
15.58
13.7
18.18
18.42 13.25
22.09
18.75
22.09
12.79
Rerata 63.6 69.2 75.8 84.2 16.07 17.8

Semua aspek terjadi peningkatan dengan hasil sebagai berikut: komponen perencanaan pembelajaran dari 69,1% menjadi 75,3% dan komponen pelaksanaan pembelajaran dari 60% menjadi 82,6%. Tampak bahwa komponen perencanaan pembelajaran telah meningkat, yang berdampak pada peningkatan pelaksanaan proses pembelajaran.
Dari data kinerja guru pada setiap komponen perencanaan pembelajaran hasil siklus II mulai dari (1) perumusan tujuan pembelajaran, (2) pemilihan dan pengorganisasian materi, (3) pemilihan sumber belajar dan media pembelajaran, (4) metode pembelajaran, dan (5) rencana penilaian hasil belajar telah terjadi peningkatan. Tampak bahwa guru telah dapat merencanakan strategi pembelajaran Think-Talk-Write dengan kinerja mencapai 75,3%.
Demikian pula pada komponen pelaksanaan pembelajaran telah terjadi peningkatan rata-rata skor kinerja hasil siklus II pada setiap aspek yang meliputi (1) pra pembelajaran, (2) membuka pelajaran, (3) kegiatan inti pembelajaran yang meliputi (a) penguasaan materi, (b) pendekatan/strategi, (c) pemanfaatan sumber belajar, (d) pengelolaan belajar peserta didik, (e). kemampuan khusus dalam pembelajaran matematika, (f) penilaian proses dan hasil belajar,
(f) penggunaan bahasa, dan (4) penutup. Dari data di atas telah terjad peningkatan kemampuan guru yang sangat baik mencapai 80,2%. Hal ini menunjukkan bahwa guru telah dapat merencanakan dan melaksanakan pembelajaran dengan strategi Think-Talk-Write, sehingga siswa dapat lebih optimal dalam belajar. Peningkatan kinerja guru tersebut berdampak pula
pada peningkatan hasil belajar matematika siswa, dengan nilai rata-rata yang diperoleh relatif lebih tinggi dibandingkan dengan nilai sebelumnya yang dapat dilihat pada Tabel 6.
Hasil penelitian tindakan supervisi individual dengan pendekatan kolaboratif terhadap guru matematika dalam menerapkan strategi penbelajaran Think-Talk-Write terbukti memberikan peningkatan kinerja guru yang selanjutnya berdampak pada peningkatan hasil belajar siswa. Hal ini disebabkan jika telah terjadi peningkatan kinerja guru dengan menerapkan pembelajaran dengan strategi Think-Talk-Write maka akan terjadi pembelajaran yang efektif dengan kualitas belajar yang optimal sehingga siswa memiliki daya serap yang tinggi terhadap pelajaran. Pada akhirnya hasil belajar siswa menjadi lebih optimal. Perencanaan yang matang dari guru dalam menyiapkan proses pembelajaran merupakan salah satu kunci keberhasilan peningkatan kualitas pembelajaran.

Hasil Observasi
Secara umum pelaksanaan pembelajaran dengan strategi Think-Talk-Write dalam kelompok kecil berjalan dengan baik. Siswa pada awal pembelajaran membaca LKS, membuat catatan tentang permasalahan, dilanjutkan dengan diskusi kelompok untuk menemukan jawaban permasalahan, dan akhirnya menuliskan jawaban dari hasil diskusi menurut bahasa masing-masing. Pada bagian akhir pembelajaran, beberapa orang (atau satu orang) siswa sebagai perwakilan kelompok memresentasikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain menanggapi. Seringkali kegiatan ini berlanjut menjadi diskusi kelas yang dibimbing guru.
Pengamatan terhadap aktivitas siswa selama kegiatan diskusi
kelompok dilakukan oleh dua orang pengamat menggunakan
lembar observasi. Pada penelitian ini, peneliti langsung berperan
sebagai pelaksana eksperimen.
Model pembelajaran dengan strategi Think-Talk-Write dalam kelompok kecil merupakan model pembelajaran yang baru bagi siswa maupun guru di SMA wilayah binaan peneliti. Karena itu pada pertemuan pertama dan kedua siswa masih tampak bingung dan kaku. Beberapa siswa mengaku tidak tahu apa yang harus dikerjakan sehingga tahapan-
tahapan belajar Think-Talk-Write, terutama tahap think (membaca/mencari informasi tentang soal) dan tahap diskusi kelompok, tidak berjalan dengan optimal. Tetapi pada pertemuan berikutnya siswa terlihat antusias mengikuti pembelajaran. Mereka secara umum tidak ragu lagi mengeluarkan pendapat sehingga diskusi kelompok menjadi lebih hidup dan suasana belajar menjadi lebih kondusif.
Penerapan model pembelajaran ini, setelah siswa memahami apa yang harus dikerjakan, mengakibatkan meningkatnya keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Suasana baru bagi siswa dapat tercipta sehingga pembelajaran menjadi lebih kondusif. Akibat lain diantaranya dapat meningkatkan aktivitas siswa serta meningkatkan sikap positif siswa terhadap pembelajaran matematika.
Penggunaan waktu 2×45 menit per pertemuan, pada dua kali pertemuan pertama ternyata terasa kurang. Hal ini terjadi terutama karena siswa masih kaku dalam mengikuti pembelajaran sehingga banyak waktu yang terbuang. Tetapi setelah siswa memahami apa yang harus mereka kerjakan, pertemuan berikutnya berlangsung dengan lancar. Pada pertemuan pertama, sebagian besar siswa pada saat mulai membaca LKS mengatakan “Pak, kami belum belajar tentang ini!”. Mereka menganggap bahwa soal dalam LKS tersebut untuk menguji tentang materi yang sedang dipelajarinya. Selanjutnya tim peneliti memberikan penjelasan bahwa soal itu dikerjakan untuk mengantarkan mereka dalam memahami materi yang dipelajari. Pada pertemuan kedua masih ditemui siswa mengajukan pernyataan yang sama. Namun pada pertemuan berikutnya tidak ada lagi. Siswa terlihat termotivasi dan lebih semangat dalam belajar. Mereka mengatakan bahwa mereka lebih mengerti apa yang mereka lakukan, karena telah menentukan sendiri apa yang mereka harus lakukan pada tahap membaca (think). Namun dari catatan yang mereka buat belum mencerminkan sepenuhnya keadaan masalah yang diselesaikan. Umumnya catatan tersebut berisi apa yang diketahui dan ditanya, namun tidak terdapat kemungkinan apa yang mereka lakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Dalam kegiatan diskusi (talk), siswa secara keseluruhan terlihat antusias
saling berinteraksi dalam mengeluarkan pendapat, walaupun masih ada beberapa siswa yang terlihat kurang aktif.

Aktivitas Siswa Selama Proses Pembelajaran
Aktivitas siswa selama pembelajaran adalah mengikuti urutan kegiatan think, talk, dan write. Dalam kegiatan think, yaitu mengumpulkan informasi mengenai unsur-unsur yang diketahui, ditanyakan, dan kemungkinan apa yang akan dilakukan, tergambar bahwa siswa belum mencapai hasil yang baik. Walaupun pada akhirnya merek dapat menyelesaikan masalah tersebut dalam kegiatan diskusi, siswa sering kali tidak menyebutkan kemungkinan apa yang dapat dilakukan dalam menyelesaian masalah yang diberikan. Kenyataan ini tetap ditemukan sampai akhir pertemuan.
Dalam kegiatan talk secara umum telah berjalan dengan baik. Siswa telah berani mengeluarkan pendapat, baik bertanya, menjawab, maupun menanggapi pendapat orang lain. Meskipun masih terdapat beberapa siswa yang tidak aktif, jumlahnya hanya sebagian kecil saja. Dari empat aspek yang diamati, yaitu mengajukan pertanyaan, mengemukakan dan menanggapi pendapat, mencari informasi yang berkenaan dengan tugas, penyelesaian tugas, dan keterlibatan anggota dalam kegiatan kelompok, dalam observasi berkisar antara cukup dan baik. Tidak terdapat kelompok yang dikategorikan kurang.
Dalam kegiatan write terdapat kemajuan yang berarti dalam cara siswa menulis jawaban. Pada beberapa pertemuan awal, siswa menulis jawaban tanpa memperhatikan susunan bahasa yang benar.
Umumnya mereka menulis jawaban berupa hasil perhitungan semata. Hal ini selalu didiskusikan pada setiap pertemuan pada saat satu siswa sebagai perwakilan kelompok diminta mempresentasikan jawabannya.

7. Simpulan dan Saran
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian tindakan di atas, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
a. Supervisi individual dengan pendekatan kolaboratif memberikan pengaruh terhadap peningkatan kemampuan dan kinerja guru
matematika SMA pada wilayah binaan di Kabupaten Dompu, baik komponen perencanaan pembelajaran maupun komponen pelaksanaan pembelajaran.
b. Peningkatan kemampuan dan kinerja guru berdampak pada peningkatan hasil belajar matematika siswa SMA pada wilayah binaan di Kabupaten Dompu.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian, hal-hal yang disarankan adalah sebagai berikut:
a. Supervisi individual dengan pendekatan kolaboratif dapat dilakukan oleh pengawas sekolah terhadap guru, khususnya guru matematika, mulai dari perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, sampai dengan evaluasi hasil belajar.
b. Dalam pembelajaran guru perlu diarahkan untuk merencanakan RPP yang berbasis CTL dengan berbagai pendekatan dan strategi yang inovatif, dalam hal ini strategi pembelajaran Think-Talk-Write, serta menyiapkan media dan sumber belajar dengan baik.
c. Persiapan guru dalam perencanaan pembelajaran, khususnya dalam hal media dan sumber belajar, perlu difasilitasi oleh sekolah sehingga media dan sumber belajar yang dipersiapkan dapat lebih optimal.
d. Pembelajaran dengan strategi Think-Talk-Write dalam kelompok kecil mendukung pembelajaran yang konstruktif. Pembelajaran ini tidak membutuhkan banyak biaya seperti halnya bentuk-bentuk pembelajaran lainnya. Hanya saja diperlukan persiapan yang matang, terutama dalam hal mengembangkan soal-soal contoh dan latihan. Penerapan pembelajaran dengan strategi Think-Talk-Write dalam kelompok kecil memungkinkan untuk diterapkan pada mata pelajaran selain matematika.
e. Hasil penelitian ini hendaknya menjadi sumber inspirasi bagi pengawas untuk lebih meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah-sekolah binaan. Sedangkan bagi sekolah, hendaknya dapat diterapkan strategi pembelajaran yang inovatif agar diperoleh hasil belajar yang berkualitas.
f. Diharapkan kepada para guru dan pengawas agar dapat selalu berkolaborasi yang sinergis untuk mengadakan penelitian lebih lanjut mengenai pembelajaran Think-Talk-Write.

Daftar Pustaka

Ruseffendi, E.T. (1991). Pengantar kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito.

Sutiarso, S. (2000). Problem Posing, Strategi Efektif Meningkatkan Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran Matematika. Bandung: tidak diterbitkan

 

About suaidinmath

Mohon kontribusi untuk menambal retak dan menambah langkah kesempurnaan tulisan ini ...

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Hari ini

April 2014
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Statistik Blog

  • 1,764,690 hit

Arsip blog

Award Blog Pendidikan 2012

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 259 pengikut lainnya

Dunia Pendidikan

Teratas

RSS Republika online

  • Warga Pidie Jaya Harapkan Bantuan Segera Tersalurkan 9 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, TRIENGGADENG -- Masyarakat korban gempa di Kabupaten Pidie Jaya mengharapkan bantuan dari pemerintah bisa segera tersalurkan. Seperti masyarakat Desa Kuta Pangwa, Kecamatan Trienggadeng, Kabupaten Pidie Jaya, Jumat (9/12). Dimana...
    Sadly Rachman
  • BPBD Magetan Bangun Posko Tanggap Darurat 9 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, MAGETAN -- BPBD Kabupaten Magetan, Jawa Timur, membangun sebuah pos komando (posko) tanggap darurat bencana di wilayah paling rawan tanah longsor guna memberikan penanganan cepat jika sewaktu-waktu terjadi...
    Yudha Manggala P Putra

RSS educatinalwithptk

newsalloy

NewsAlloy button

MUSIK

suara Edukasi

 

 http://radioedukasi.com/modules/mod_miniradio/mod_miniradio.swf

suara_edukasi

RADIO EDUKASI

Live Streaming AM 1251 kHz

Silahkan unduh produk audio radio Suara edukasi

[KLIK DISINI]

Zaimuttpjok/tik

BERBAGI INFORMASI PENDIDIKAN DAN KISAH HIDUP

isti

Berilah makan keyakinanmu niscaya keraguanmu mati kelaparan

ANNISA USH SHOLIHAH

ALL ABOUT CHEMIS_3 (sharing for carring)

Dinas Dikpora Kab. Dompu

Ikhlas Mendidik Untuk Martabat Bangsa dan Negara

Vox Populi

Vox Populi: A Public Sphere for Politics and Poetry

Architecture Here and There

Style Wars: classicsm vs. modernism

Stories From the Belly

A Blog About the Female Body and Its Appetites

mywordpool

"Words - so innocent and powerless as they are, as standing in a dictionary, how potent for good and evil they become in the hands of one who knows how to combine them." ~Nathaniel Hawthorne

Fusion

Championing a young, diverse, and inclusive America with a unique mix of smart and irreverent original reporting, lifestyle, and comedic content.

Whatever

LET ME STEAL THIS MOMENT FROM YOU NOW

rachel eats

stories, pictures and cooking tales from an english woman living in rome.

y

what it comes down to

tangerine drawings

scribbles and recipes from a pastry chef in paris

Extra Dry Martini

Straight up, with a twist.

Gravity and Levity

A blog about the big ideas in physics, plus a few other things

love.life.eat

living a mindful life

%d blogger menyukai ini: