//
you're reading...
Dunia Pendidikan

PEMBELAJARAN INKUIRI dan PENCAPAIAN KOMPETENSI MATEMATIKA DAN KETUNTASAN BELAJAR SISWA

Dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi, disebutkan bahwa matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan mengembangkan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini.
Lebih lanjut dikemukakan, bahwa mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif.
Untuk mencapai kompetensi tersebut di atas, diperlukan kesungguhan satuan pendidikan untuk mengoptimalkan layanan pendidikan melalui berbagai upaya diantaranya dengan meningkatkan kualitas pembelajaran. Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas pembelajaran tersebut adalah dengan mengusahakan metode pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan motivasi siswa dalam pembelajaran.
Pendekatan pemecahan masalah merupakan fokus dalam pembelajaran matematika yang mencakup masalah tertutup dengan solusi tunggal, masalah terbuka dengan solusi tidak tunggal, dan masalah dengan berbagai cara penyelesaian. Untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah perlu dikembangkan keterampilan memahami masalah, membuat model matematika, menyelesaikan masalah, dan menafsirkan solusinya (Permendiknas No. 22 Tahun 2006).
Dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). Keterampilan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari merupakan kompetensi yang amat penting dimiliki oleh peserta didik. Kompetensi tersebut dapat diperoleh dengan penguasaan materi matematika melalui latihan-latihan penalaran dan logika matematika.
Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar guru matematika belum melaksanakan proses pembelajaran yang melibatkan siswa secara optimal dalam kegiatan eksplorasi sebagaimana tuntutan Permendiknas No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses. Hal ini dapat dilihat dari langkah-langkah pembelajaran yang dilaksanakan guru, seperti yang dituangkan dalam RPP sebagaian besar guru memulainya dengan kata “Guru menjelaskan…”. Artinya kegiatan eksplorasi tidak dilakukan oleh peserta didik, tetapi penyampaian materi pembelajaran langsung diberikan oleh guru sehingga siswa tidak dibiasakan untuk latihan menggunakan kemampuannya sendiri untuk melakukan penalaran dan logika dalam pemecahan masalah.
Berdasarkan observasi awal yang dilakukan di sekolah, ternyata sebagian besar guru masih lebih suka memilih metode ceramah dalam menyajikan pembelajaran di kelas. Hal ini dapat dimaklumi karena dengan metode ceramah tidak memerlukan persiapan yang khusus seperti misalnya LKS, media pembelajaran, setting tempat duduk siswa, atau alat bantu lainnya.
Penggunaan metode ceramah yang secara terus menerus itu dapat berdampak negatif pada siswa seperti: 1) motivasi belajar siswa rendah, karena ada harapan akan dibantu oleh guru, 2) kreativitas siswa cenderung menurun karena siswa sifatnya selalu menunggu petunjuk atau penjelasan guru sehingga ide-ide inovatif siswa tidak akan berkembang secara optimal, 3) lemahnya kemampuan berpikir kritis siswa, karena siswa tidak terbiasa dilatih menggunakan penalaran dan logikanya sendiri, 4) rendahnya pencapaian kompetensi (hasil belajar) matematika siswa.juga sebelumnya lebih sering menggunakan metode ceramah. Hal ini juga diduga sebagai salah satu penyebab rendahnya pencapaian kompetensi matematika siswa . Rendahnya pencapaian kompetensi matematika siswa dapat dilihat dari rata-rata nilai ulangan harian pokok bahasan sebelumnya  (Sumber: Leger guru mata pelajaran Matematika).
Apabila kondisi ini dibiarkan, dikhawatirkan akan berdampak negatif yang lebih luas terhadap pengembangan matematika sebagai landasan dalam pengembangan teknologi modern sebagaimana dijabarkan dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2006, sehingga SDM bangsa kita tidak kompetitif di era globalisasi. Demikian pula siswa akan menganggap matematika sebagai mata pelajaran yang sulit dan tidak disenangi. Dampak negatif lainnya adalah rendahnya mutu pendidikan di sekolah, yang juga berdampak pada rendahnya mutu pendidikan secara nasional. Hal ini juga turut memberikan kontribusi terhadap rendahnya kualitas SDM bangsa Indonesia. Oleh karena itu perlu segera dicarikan solusi, agar permasalahan tersebut dapat secepatnya di atasi.
Pada penelitian yang mengimplemantasikan metode pembelajaran inkuiri, maka permasalahan di atas dapat diatasi sebagai berikut: 1) rendahnya motivasi belajar siswa dapat ditingkatkan dengan melibatkan siswa dalam kegiatan eksplorasi, 2) kreativitas siswa dapat ditingkatkan dengan memberikan kesempatan untuk menemukan solusi masalah dengan caranya sendiri, 3) lemahnya kemampuan berpikir kritis dapat diatasi dengan memberikan berbagai permasalahan yang harus dicarikan solusi sendiri oleh siswa, sehingga siswa tidak dibiasakan menunggu jawaban dari guru, dan 4) apabila motivasi belajar dapat ditingkatkan, kreativitas siswa lebih baik dan kemampuan berpikir kritis siswa meningkat maka pencapaian kompetensi matematika secara otomatis akan dapat ditingkatkan.

Metode Pembelajaran Inkuiri
Wina Sanjaya (2009:196) mengemukakan bahwa metode pembelajaran inkuiri merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan.
Metode inkuiri berangkat dari asumsi bahwa sejak manusia lahir ke dunia, manusia memiliki dorongan untuk menemukan sendiri pengetahuannya. Rasa ingin tahu tentang alam di sekelilingnya merupakan kodrat manusia sejak ia dilahirkan ke dunia. Sejak kecil manusia ingin mengenal segala sesuatu melalui indra pengecapan, pendengaran, penglihatan dan indra lainnya. Hingga dewasa keingintahuan manusia secara terus menerus berkembang dengan menggunakan otak dan pikirannya. Pengetahuan yang dimiliki manusia akan bermakna (meaningfull) manakala didasari oleh keingintahuan itu. Untuk itulah metode pembelajaran inkuiri dikembangkan.
Lebih lanjut, Wina Sanjaya (2009:196) mengemukakan bahwa ciri utama metode pembelajaran inkuiri adalah sebagai berikut:
a) Metode pembelajaran inkuiri menekankan pada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya metode inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar.
b) Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (selfbelief). Dengan demikian, metode pembelajaran inkuiri menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar akan tetapi sebagai fasilitator dan motivator dalam pembelajaran siswa.
c) Tujuan dari penerapan metode pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis dan kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental.
Trowbridge dan Bybee sebagaimana dikutip oleh Suriada (2008:9) mengemukakan bahwa metode inkuiri memiliki keunggulan sebagai berikut.
a) Pembelajaran menjadi lebih berpusat pada anak (Instruction becomes student centered). Salah satu prinsip psikologi tentang belajar menyatakan bahwa makin besar keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar, makin besar kemampuan belajarnya.
b) Proses belajar melalui inkuiri dapat membentuk dan mengembangkan konsep diri siswa (Inquiry learning builds the self-concept of the student). Bila kita mempunyai konsep diri yang baik, maka secara psikologis diri kita akan merasa aman, terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru, berkeinginan untuk mencoba-coba dan menyelidiki, lebih kreatif, bermental sehat, dan akhirnya menjadi orang yang berguna.
c) Tingkat pengharapan bertambah (Expectancy level increases). Dari pengalaman-pengalaman yang berhasil dalam menggunakan kemampuan-kemampuan menyelidiki siswa akan menyadari kemampuannya.
d) Metode pembelajaran inkuiri dapat mengembangkan bakat (Inquiry learning develops talent). Pembelajaran dengan pendekatan inkuiri memberikan kesempatan lebih banyak untuk mengembang bakat-bakat selain bakat akademik.
e) Metode pembelajaran inkuiri dapat menghindari siswa dari cara-cara belajar dengan menghafal.
f) Metode pembelajaran inkuiri memberikan waktu pada siswa untuk mengasimilasi dan mengakomodasi informasi. Piaget percaya, bahwa tidak akan terjadi proses belajar yang sejati, apabila siswa tidak bertindak terhadap informasi secara mental, dan mengasimilasi atau mengakomodasi apa yang dijumpainya dalam lingkungannya.
Syaiful Salaga (2003:197) mengemukakan bahwa metode pembelajaran inkuiri dapat dilaksanakan apabila dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut.
a) Guru harus terampil memilih persoalan yang relevan untuk diajukan kepada kelas (persoalan bersumber dari bahan pelajaran yang menantang siswa atau problematik) dan sesuai dengan daya nalar siswa;
b) Guru harus terampil menumbuhkan motivasi belajar siswa dan menciptakan situasi belajar yang menyenangkan;
c) Adanya fasilitas dan sumber belajar yang cukup;
d) Adanya kebebasan siswa untuk berpendapat, berkarya, dan berdiskusi;
e) Partisipasi aktif setiap siswa dalam setiap kegiatan belajar;
f) Guru tidak banyak campur tangan dan intervensi terhadap kegiatan siswa.
Langkah-langkah Metode Pembelajaran Inkuiri
Winataputra (1993:219) mengemukakan bahwa ada lima langkah yang digunakan dalam penyajian materi dengan metode pembelajaran inkuiri, yaitu sebagai berikut.
a) Fase berhadapan dengan masalah. Fase ini merupakan saat penyajian masalah. Pertanyaan terbuka harus dihindarkan dan siswa tidak boleh meminta guru menjelaskan tentang fenomena yang dihadapinya. Dalam hal ini siswa memusatkan, menyusun dan melacak sendiri fakta-fakta untuk menuju pemecahan masalah yang dihadapi. Jadi setiap pertanyaan yang diajukan dapat dianggap sebagai suatu hipotesis terbatas.
b) Fase pengumpulan data pengujian. Pada fase ini siswa berusaha untuk mengumpulkan data/informasi sebanyak-banyaknya, tentang masalah yang mereka hadapi. Data/informasi tersebut dapat diperoleh berdasarkan kondisi objek atau menguji bagaimana proses terjadinya masalah tersebut.
c) Fase pengumpulan data dalam eksperimen. Pada fase ini dilakukan isolasi terhadap data-data yang menjadi esensi masalah yang dihadapi. Siswa dapat mengintrogasikan elemen-elemen dari hasil isolasi ke dalam situasi masalah, untuk melihat apakah peristiwanya akan menjadi lain.
d) Fase formulasi penjelasan. Pada fase ini guru dapat merumuskan penjelasan untuk membimbing siswa pada pemecahan masalah yang terarah.
e) Fase analisis proses inkuiri. Pada fase ini siswa diminta untuk menganalisis pola-pola penemuan mereka. Dengan demikian siswa akan banyak memperoleh tipe-tipe informasi, yang sebelumnya tidak dimiliki siswa.

Hakikat Kompetensi Matematika dan Ketuntasan Belajar
Kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor), dan sikap (afektif) yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Menurut Puskur Balitbang Depdiknas (2002) kurikulum berbasis kompetensi memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal, (2) berorientasi pada hasil belajar siswa, (3) penyampaian mata pelajaran dengan pendekatan dan metode yang bervariasi, (4) sumber belajar bukan hanya guru tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif, (5) penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.
Lebih lanjut Gordon (1988:109), menjelaskan beberapa aspek atau ranah yang terkandung dalam konsep kompetensi adalah sebagai berikut: (1) pengetahuan (knowledge); yaitu kesadaran dalam bidang kognitif, (2) pemahaman (understanding); yaitu kedalaman kognitif, dan afektif yang dimiliki oleh individu, (3) keterampilan (skill); adalah kemampuan yang dimiliki oleh individu untuk melakukan tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya, (4) nilai (value); adalah suatu standar perilaku yang telah diyakini dan secara psikologis telah menyatu dalam diri seseorang, (5) sikap (attitude); yaitu perasaan (senang-tidak senang, suka-tidak suka) atau reaksi terhadap suatu rangsangan yang datang dari luar, (6) minat (interest); adalah kecenderungan seseorang untuk melakukan sesuatu perbuatan.
Penilaian dalam KTSP adalah penilaian berbasis kompetensi, yaitu bagian dari kegiatan pembelajaran yang dilakukan untuk mengetahui pencapaian kompetensi peserta didik yang meliputi pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Penilaian dilakukan selama proses pembelajaran dan/atau pada akhir pembelajaran. Fokus penilaian pendidikan adalah keberhasilan belajar peserta didik dalam mencapai standar kompetensi yang ditentukan.
Permendiknas No. 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian, menyatakan bahwa penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik. Pencapaian hasil belajar oleh peserta didik tersebut merupakan wujud dari prestasi belajar yang dicapai oleh peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran dalam kurun waktu tertentu.
Dalam panduan Rancangan Penilaian (Ditjen Mandikdasmen, 2009:3) disebutkan bahwa penilaian dalam KTSP menggunakan acuan kriteria. Maksudnya, hasil yang dicapai peserta didik dibandingkan dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM) atau standar yang ditetapkan. Apabila peserta didik telah mencapai standar kompetensi yang ditetapkan, ia dinyatakan lulus/tuntas pada mata pelajaran tertentu. Apabila peserta didik belum mencapai standar, ia harus mengikuti program remidial/perbaikan sehingga mencapai kompetensi minimal yang ditetapkan.
Berdasarkan uraian di atas, maka pencapaian kompetensi matematika yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kompetensi pengetahuan (kognitif). Pencapaian kompetensi kognitif matematika tersebut dinyatakan dalam bentuk nilai yang diperoleh dari hasil ulangan harian yang dilaksanakan setelah peserta didik mengikuti pembelajaran satu atau lebih kompetensi dasar (KD). Hasil pencapaian tersebut selanjutnya akan dibandingkan dengan KKM yang telah ditetapkan. Bagi peserta didik yang telah mencapai KKM dinyatakan tuntas, sedangkan bagi peserta didik yang belum mencapai KKM dinyatakan belum tuntas yang selanjutnya akan diberikan remidial.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Suaidin (2005:40) ditemukan bahwa penerapan metode inkuiri ternyata dapat meningkatkan kompetensi atau hasil belajar matematika siswa  . Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I sebesar 75,25 dengan rata-rata skor sikap  siswa sebesar 97,55. Sedangkan pada siklus II diperoleh rata-rata hasil belajar siswa sebesar 88,15 dengan skor rata-rata sikap  siswa sebesar 116,21. Sehingga ada peningkatan hasil belajar siswa dengan peningkatan sikap ilmiah siswa yang sangat signifikan.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Wirta dan Rapi (2008) tentang penerapan metode pembelajaran inkuiri di SMA Negeri 4 Singaraja mendapatkan hasil bahwa penguasaan konsep fisika siswa yang belajar menggunakan metode inkuiri lebih baik daripada siswa yang belajar menggunakan metode konvensional. Nilai rata-rata siswa yang belajar menggunakan metode inkuiri mencapai 64,38 lebih tinggi daripada nilai rata-rata siswa yang diajar menggunakan metode konvensional sebesar 57,04.
Dari kedua hasil penelitian yang telah dikemukakan di atas, baik yang dilakukan oleh Suriada (2008) maupun Wirta dan Rapi (2008) ternyata sejalan dengan landasan teoretis yang telah dikemukakan di atas. Artinya dengan keunggulan yang dimiliki oleh metode inkuiri tersebut, pencapaian kompetensi siswa dapat ditingkatkan. Hal itu dapat dicapai karena aktivitas siswa dalam pembelajaran dapat ditingkatkan, kemandirian siswa dalam belajar juga dapat ditingkatkan dan guru dapat memantau peserta didik lebih seksama dan cermat dalam kegiatan eksplorasi.
Berdasarkan landasan teoretis dan kajian terhadap hasil penelitian  di atas, maka dapat dirumuskan bahwa Metode pembelajaran inkuiri merupakan metode pembelajaran yang berdasarkan filsafat konstruktivisme. Dalam filsafat konstruktivisme diyakini bahwa setiap manusia yang dilahirkan mempunyai keingintahuan secara alamiah, sehingga didorong untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuannya. Dalam pembelajaran di kelas, sesungguhnya peserta didik telah memiliki pengalaman belajar yang dapat dijadikan dasar untuk memperoleh pengetahuan berikutnya. Apabila guru dapat memanfaatkan secara optimal pengalaman belajar yang dimiliki peserta didik, tentu pengetahuan yang diperoleh siswa melalui kegiatan eksplorasi sendiri akan lebih bermakna (meaningfull).
Berbagai keunggulan yang dimiliki oleh metode pembelajaran inkuiri, antara lain dapat meningkatkan aktivitas siswa akan membawa dampak positif yaitu makin besar keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar, makin besar kemampuan belajarnya. Demikian pula metode pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan rasa percaya diri siswa, akan menyebabkan dampak positif lain yaitu tingkat pengharapan bertambah (Expectancy level increases) karena siswa mulai menyadari bahwa dirinya mampu menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri.
Dengan demikian, dampak positif yang diakibatkan oleh keunggulan yang dimiliki metode pembelajaran inkuiri diharapkan akan mampu meningkatkan pencapaian hasil belajar siswa. Artinya, dengan meningkatnya aktivitas siswa, munculnya kemandirian siswa, serta meningkatnya rasa percaya diri sehingga siswa menyadari kemampuan yang dimilikinya maka pencapaian hasil belajar matematika siswa dapat ditingkatkan.
Meningkatnya pencapaian kompetensi dan ketuntasan belajar siswa diyakini akan berhasil, karena dasar pemikiran teoretik di atas diperkuat oleh hasil penelitian yang relevan sebagaimana yang ditemukan oleh Suaidin(2005) dalam penelitiannya bahwa penerapan metode inkuiri ternyata dapat meningkatkan kompetensi atau hasil belajar matematika siswa di SMA Negeri 1 Kempo. Demikian pula hasil penelitian Wirta dan Rapi (2008) di SMA Negeri 4 Singaraja menemukan bahwa penguasaan konsep fisika siswa yang belajar menggunakan metode inkuiri lebih baik daripada siswa yang belajar menggunakan metode konvensional.

==================================================================

About suaidinmath

Mohon kontribusi untuk menambal retak dan menambah langkah kesempurnaan tulisan ini ...

Diskusi

One thought on “PEMBELAJARAN INKUIRI dan PENCAPAIAN KOMPETENSI MATEMATIKA DAN KETUNTASAN BELAJAR SISWA

  1. sebaiknya di kaitkan dengan permendikbud yang baru, no 69 utk sma, 68 utk smp….

    Suka

    Posted by boo_itsmoon | 12 April 2014, 3:40 pm

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Hari ini

April 2014
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Statistik Blog

  • 1,764,690 hit

Arsip blog

Award Blog Pendidikan 2012

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 259 pengikut lainnya

Dunia Pendidikan

Teratas

RSS Republika online

  • Warga Pidie Jaya Harapkan Bantuan Segera Tersalurkan 9 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, TRIENGGADENG -- Masyarakat korban gempa di Kabupaten Pidie Jaya mengharapkan bantuan dari pemerintah bisa segera tersalurkan. Seperti masyarakat Desa Kuta Pangwa, Kecamatan Trienggadeng, Kabupaten Pidie Jaya, Jumat (9/12). Dimana...
    Sadly Rachman
  • BPBD Magetan Bangun Posko Tanggap Darurat 9 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, MAGETAN -- BPBD Kabupaten Magetan, Jawa Timur, membangun sebuah pos komando (posko) tanggap darurat bencana di wilayah paling rawan tanah longsor guna memberikan penanganan cepat jika sewaktu-waktu terjadi...
    Yudha Manggala P Putra

RSS educatinalwithptk

newsalloy

NewsAlloy button

MUSIK

suara Edukasi

 

 http://radioedukasi.com/modules/mod_miniradio/mod_miniradio.swf

suara_edukasi

RADIO EDUKASI

Live Streaming AM 1251 kHz

Silahkan unduh produk audio radio Suara edukasi

[KLIK DISINI]

Zaimuttpjok/tik

BERBAGI INFORMASI PENDIDIKAN DAN KISAH HIDUP

isti

Berilah makan keyakinanmu niscaya keraguanmu mati kelaparan

ANNISA USH SHOLIHAH

ALL ABOUT CHEMIS_3 (sharing for carring)

Dinas Dikpora Kab. Dompu

Ikhlas Mendidik Untuk Martabat Bangsa dan Negara

Vox Populi

Vox Populi: A Public Sphere for Politics and Poetry

Architecture Here and There

Style Wars: classicsm vs. modernism

Stories From the Belly

A Blog About the Female Body and Its Appetites

mywordpool

"Words - so innocent and powerless as they are, as standing in a dictionary, how potent for good and evil they become in the hands of one who knows how to combine them." ~Nathaniel Hawthorne

Fusion

Championing a young, diverse, and inclusive America with a unique mix of smart and irreverent original reporting, lifestyle, and comedic content.

Whatever

LET ME STEAL THIS MOMENT FROM YOU NOW

rachel eats

stories, pictures and cooking tales from an english woman living in rome.

y

what it comes down to

tangerine drawings

scribbles and recipes from a pastry chef in paris

Extra Dry Martini

Straight up, with a twist.

Gravity and Levity

A blog about the big ideas in physics, plus a few other things

love.life.eat

living a mindful life

%d blogger menyukai ini: