//
you're reading...
Dunia Pendidikan

MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU DALAM MENERAPKAN STRATEGI PEMBELAJARAN “THINK-TALK-WRITE” SEBAGAI ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA PADA WILAYAH SMA BINAAN DI KABUPATEN DOMPU MELALUI SUPERVISI KOLABORATIF

                                                           

MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU DALAM MENERAPKAN  STRATEGI PEMBELAJARAN  “THINK-TALK-WRITE” SEBAGAI ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA PADA WILAYAH SMA BINAAN DI KABUPATEN DOMPU

MELALUI SUPERVISI KOLABORATIF

      

Oleh: Drs. Suaidin Usman

(Pengawas SMA/SMK Kabupaten Dompu NTB )

 

 

ABSTRACT

Suaidin, Drs , Improving Teacher Skills Learning Strategies in Implementing “Think – Talk – Write” As an Alternative Mathematical Problem Solving Patronage In The Area School District Dompu Through Collaborative Supervision

 

This study is based on the low learning achievement in mathematics in High School (SMA Negeri 1 Dompu, SMAN 1 Kempo, SMAN 2 Kempo, SMAN 1 Woja and SMA Tri Dharma Kosgoro Dompu). This happens because students do not achieve mastery learning as seen from the results of tests, whereas subjects of mathematics is a main lesson on all levels. Contributing factors of which are in the process of learning students sometimes lack the motivation to learn, low-absorption students, many students do not understand what is delivered by teachers due to lack of teachers to manage learning and poor teacher performance. These problems can be solved with assistance to teachers through collaborative supervision in carrying out the management of teaching from planning, implementation of teaching and learning, and evaluation.

The purpose of this study is the increase in Traffic teachers in implementing the strategy of “Think-Talk-Write” which will have implications on the increase in student learning outcomes in mathematics subjects, special on aspects of communication skills and problem solving at the level of Traffic think  commonly found on Achievement Indicators at least competence in curriculum KTSP 2006. The method of this research is to study the action (action research) with a collaborative approach undertaken by two cycles.
Based on the results of action research can be concluded: (1) Supervision of an individual with a collaborative approach to give effect to increase the performance of high school mathematics teacher in the target area in the district of Dompu both components or learning plan implementation component of learning, and (2) increasing the impact on teacher performance improving mathematics learning outcomes of students ..


Keywords:

 collaborative supervision, improvement, teacher Traffic, Think-Talk-Write.

 

 

 

 

 

 

 

I.                                           PENDAHULAUN

A.        Latar Belakang.

Pemecahan masalah matematis merupakan bagian dari berpikir matematis tingkat tinggi yang bersifat kompleks, karena itu pembelajaran yang berfokus pada kemampuan tersebut memerlukan prasyarat konsep dan proses dari yang lebih rendah. Artinya kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematis siswa tidak ada tanpa kemampuan pemahaman yang baik. Hal ini meliputi materi maupun cara mempelajari atau mengajarkannya.. Salah satu keputusan yang perlu diambil guru tentang pembelajaran adalah pemilihan pendekatan dan strategi yang digunakan . Masih banyak guru matematika pada sekolah-sekolah binaan penulis, yang menganut paradigma transfer of knowledge, yang beranggapan bahwa siswa merupakan objek dari belajar. Dalam paradigma ini guru mendominasi dalam proses pembelajaran.. Kenyataan ini telah diungkapkan oleh Ruseffendi (1991:328), bahwa matematika yang dipelajari siswa di sekolah sebagian besar tidak diperoleh melalui eksplorasi matematika, tetapi melalui pemberitahuan oleh guru. Walaupun dominasi guru dalam proses pembelajaran matematika tidak selamanya tidak baik, karena terdapat guru yang karena ketegasannya di kelas membuat siswa menjadi lebih bersungguh-sungguh.

Kondisi pembelajaran dimana siswa belajar secara pasif, jelas tidak menguntungkan terhadap hasil belajarnya. Untuk itu perlu usaha guru agar siswa belajar secara aktif. Sejalan dengan pendapat tersebut Sumarmo(2000) mengatakan agar pembelajaran dapat memaksimalkan proses dan hasil belajar matematika, guru perlu mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam diskusi, bertanya serta menjawab pertanyaan, berpikir secara kritis, menjelaskan setiap jawaban yang diberikan, serta mengajukan alasan untuk setiap jawaban yang diajukan. Pembelajaran yang diberikan pada kondisi ini ditekankan pada penggunaan diskusi, baik diskusi dalam kelompok kecil maupun diskusi dalam kelas secara keseluruhan. Meskipun kesimpulan tersebut diambil berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap siswa sekolah dasar, namun pengembangannya sangat mungkin untuk siswa pada jenjang sekolah yang lebih tinggi.

Dengan mempertimbangkan beberapa pendapat di atas, penulis melakukan sebuah penelitian kolaboratif bersama guru-guru matematika di lingkungan SMA binaan Dinas Dikpora Kabupaten Dompu, dengan judul : “Meningkatkan Kemapuan Guru matematika Dalam Menerapkan Strategi Pembelajaran “ Think – Talk – Write “ Sebagai Alternatif Pemecahan Masalah Matematika Pada SMA Wilayah Binaan di Kabupaten Dompu Melalui Supervisi Kolaboratif “. Strategi pembelajaran yang digunakan ini mengharuskan siswa terlibat berpikir, berbicara, dan menulis dalam proses pembelajaran. Sedangkan model yang dipilih adalah pembelajaran dalam kelompok kecil dengan anggota 4 sampai 6 orang siswa yang dikelompokkan secara heterogen menurut kemampuan matematikanya. Pengelompokkan seperti ini dimaksudkan agar semua siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.

 Kenyataan rendahnya hasil belajar siswa, yang terlihat dari hasil evaluasi belajar mata pelajaran matematika pada siswa SMA wilayah binaan penulis rata-rata 5,38 sedangkan hasil Ulangan Kenaikan Kelas (UKK) hanya mencapai ketuntasan rata-tara 59,17%  menunjukkan bahwa nilai mata pelajaran Matematika siswa SMA di wilayah binaan masih jauh dari standar ketuntasan belajar, yang telah ditetapkan oleh masing-masing sekolah binaan. Hal ini jelas menunjukkan bahwa diperlukan upaya-upaya pendampingan aatau bimbingan secara intensif kepada guru-guru di sekolah binaan penulis secara kolaboratif dalam upaya peningkatan proses dan hasil belajar matematika . Pendampingan Pengawas dalam bentuk supervisi kolaboratif terhadap guru matematika dalam pengelola pembelajaran matematika menjadi sangat penting sehingga guru benar-benar dapat mengelola pembelajaran dengan sebaik-baiknya mulai dari perencanaan (materi, model belajar, media belajar, metode, sumber belajar, dan evaluasi), pelaksanaan pembelajaran sampai dengan evaluasi hasil belajar siswa.

 

B . Perumusan Masalah

1.      Apakah pembimbingan dalam bentuk supervisi kolaboratif oleh pengawas terhadap guru mata pelajaran matematika dapat meningkatkan kinerja guru matematika dalam merencanakan dan menerapkan strategi pembelajaran “think-talk-wite ‘?

2.      Apakah pembelajaran dengan strategi think-talk-write dalam kelompok kecil dapat meningkatkan proses dan hasil belajar matematika siswa?

 

C.           Hipotesis Tindakan

”Diduga bahwa pembimbingan  dalam bentuk supervisi kolaboratif oleh pengawas terhadap guru mata pelajaran matematika dalam merencanakan dan menerapkan strategi pembelajaran “think-talk-write” pada kelompok kecil  dapat meningkatkan kinerja guru dan hasil belajar siswa.

.

D. Tujuan  Penelitian dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

a.               Untuk mengetahui peningkatan kinerja guru matematika dalam  menerapkan  strategi pembelajaran ”think-talk-write” dalam kelompok kecil melalui supervisi kolaboratif

b.               Untuk mengetahui peningkatan proses dan hasil belajar matematika siswa dengan menggunakan strategi pembelajaran ” think-talk-write”  

c.                Meningkatkan kolaborasi yang sinergis antara pengawas dan guru-guru pada sekolah binaan dalam merencanakan dan menerapkan pembelajaran dengan strategi think-talk-write pada kelompok kecil sebagai alternatif pemecahan masalah-masalah dalam pembelajaran matematika di sekolah.

2.         Manfaat Penelitian

a.               Guru menemukan pendekatan dan strategi pembelajaran yang sesuai ( inovatif ) sehingga dapat dijadikan alternatif pemecahan masalah peembelajaran matematika siswa di sekolah.

b.                Siswa lebih bebas mengekspresikan kemampuan komunikasi matematiknya, sehingga kemampuannya dalam pemecahan masalah matematika menjadi lebih baik , (kualitas proses dan hasil belajar siswa meningkat ).

c.                Sekolah mendapatkan dampak positif dari terselenggaranya penelitian ini, karena kualitas siswa, guru dan pembelajaran semakin meningkat, yang sekaligus dapat meningkatkan kinerja sekolah

 

II.                                                          METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian Tindakan

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan disain penelitian tindakan (action research) yang dirancang melalui dua siklus melalui prosedur: (1) perencanaan (planning), (2) pelaksanaan tindakan (action), (3) pengamatan (observation), (4) refleksi (reflecsion) dalam tiap-tiap siklus.

 

                                                                                 

Gambar 2. Desain Penelitian Tindakan (action research)

Sumber: S Kemmis and R McTaggart, 1986)

B. Subjek Tindakan

Penelitian dilaksanakan terhadap semua guru matematika pada SMA yang menjadi binaan peneliti di Kabupaten Dompu  seperti pada tabel berikut.

Tabel 3. Daftar sampel penelitian tindakan

No

Nama Sekolah

Gr Matematika

Siswa

1

SMA Negeri 1 Dompu

1 orang

Kelas XI IPA

2

SMA Negeri 1 Kempo

1 orang

Kelas XI IPA

3

SMA Negeri 2 Kempo

1 orang

Kelas XI IPA

4

SMA Negeri 1 Woja

1 orang

Kelas XI IPA

5

SMA Tri Dharma Kosgoro

1 orang

Kelas XI IPA

 

Jumlah

5        orang

 

 

 

 

C. Metode dan Pelaksanaan Tindakan

Penelitian ini akan dilaksanakan pada semester ganjil tahun pelajaran 20010/2011. Pelaksanaan penelitian dilaksanakan sebanyak 2 ( dua ) Siklus yang  dilaksanakan pada bulan  Juli  sd Nopember  2010.Subjek penelitian ini adalah guru yang mengajar matematika pada siswa Kelas XI IPA, SMA di Wilayah sekolah binaan peneliti. Sedangkan Siswa yang menjadi obyek  penelitian memiliki karakteristik yang beragam, baik dari segi kemampuan, motivasi maupun latar belakang pengetahuannya.

 

D.        Faktor yang Diteliti

Untuk berhasilnya tujuan penelitian, maka beberapa faktor yang diteliti dalam penelitian ini adalah:

a.       Faktor Guru : Karena penelitian ini bersifat kolaboratif, maka hal-hal yang diamati selama berlangsungnya pembelajaran dalam penelitian ini adalah: apakah guru berhasil dalam menyampaikan konsep, membimbing dan memotivasi siswa.

b.   Faktor Pembelajaran : Faktor yang diteliti dalam hal pembelajaran adalah: apakah perencanaan, metode, Strategi atau pendekatan pembelajaran dapat berjalan sesuai yang direncanakan.

c.    Faktor Siswa : Siswa menjadi sentral utama dari penelitian ini. Semua kegiatan siswa selama berlangsungnya pembelajaran diamati dan dicatat perkembangannya untuk selanjutnya dilakukan perbaikan-perbaikan pada siklus pembelajaran selanjutnya. Aktivitas siswa selama berlangsungnya pembelajaran diamati dengan menggunakan instrumen Lembar Observasi.

d.      Hasil Belajar : Prosentase ketuntasan hasil belajar siswa merupakan bagian penting yang diamati dalam penelitian ini. Siswa dianggap tuntas belajar apabila penguasaan materinya lebih dari atau sama dengan KKM yang telah ditetapkan , atau sesuai dengan Kriteria Ketuntasan Minimal yang ditetapkan dalam kurikulum SMA yang menjadi binaan peneliti..

 

E.     Tahapan Pelaksanaan Penelitian

1. Siklus I

a. Perencanaan (Planning)

Dalam tahap perencanaan disiapkan hal-hal sebagai berikut: (a) menyiapkan bahan, inventarisasi kebutuhan dan inventarisasi masalah/kesulitan guru matematika  dalam mengelola pembelajaran  “ Think-Talk-Write” . (b) Fokus Group Discussion tentang hal-hal yang terkait dengan pembelajaran dengan strategi “Think-Talk-Write” dalam kelompok kecil yang dapat dilakukan untuk peningkatan kualitas pembelajaran matematika. (c) menyiapkan jadwal pelaksanaan supervise pendapingan  pada setiap guru disesuaikan dengan kesiapan setiap guru. (d) Menyiapkan bahan dan alat yang dibutuhkan dalam pendampingan supervise kolaboratif.

b. Pelaksanaan Tindakan (Action)

Pada tahap ini dilaksanakan supervise  pada setiap guru secara kolaboratif sesuai dengan jadwal yang telah direncanakan, yaitu: (a) Bimbingan terhadap guru dalam perencanaan pembelajaran “Think-Talk-Write”, mulai dari menyusun rencana pengajaran, menyiapkan metode, membuat media belajar, menyiapkan sumber belajar, dan menyiapkan alat evaluasi. (b) Bimbingan terhadap guru saat melaksanakan kegiatan belajar mengajar baik di dalam kelas maupun di luar kelas, sesuai dengan pokok bahasan dan materi yang akan diajarkan. (c) Bimbingan terhadap guru saat mengevaluasi hasil belajar terhadap siswa.

c.      Pengamatan (Observation)

Pengamatan dilakukan pada setiap tahap penelitian, mulai dari tahap perencaaan dan pelaksanaan tindakan, kejadian dan hal-hal yang terjadi direkam dalam bentuk catatan-catatan hasil observasi, dan didokumentasikan  sebagai data-data penelitian.

d.      Refleksi (Reflection)

Pada akhir tiap siklus diadakan refleksi berdasarkan data observasi, dengan Refleksi ini dimaksudkan agar peneliti dapat melihat apakah tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini dapat meningkatkan kinerja guru dan hasil belajar siswa, kendala-kendala apa yang menghambat, faktor apa saja yang menjadi pendorong, dan alternatif apa sebagai solusinya. Pada penelitian ini refleksi yang dilakukan adalah dari hasil pengamatan input dan output kinerja guru dan hasil belajar siswa.

Sumber data penelitian ini adalah siswa, guru matemastika, peneliti. Jenis data yang dikumpulkan berupa data kuantitatif dan kualitatf, yang mencakup (a) rencana pendampingan, (b) pelaksanaan pendampingan, (c) data hasil observasi, (d) kinerja guru, (e) hasil belajar mata pelajaran matematika, (e) perubahan guru dan sikap siswa dalam mengikuti mata pelajaran matematika.

2. Siklus II

           Kegiatan tindakan pada siklus II didasarkan atas temuan-temuan hasil dari siklus I, adapun langkah-langkah tindakan yang dikalukan sama dengan pada siklus I.

 

F.                                          Teknik Pengumpulan Data & Instrumen Penelitian

Teknik pengumpulan data meliputi panduan observasi, panduan wawancara, jurnal kegiatan guru dan siswa, tes kinerja guru, dan tes pengukuran hasil belajar siswa. Adapun Instrumen pengumpul data yang digunaakan meliputi:(1).Pedoman observasi dan pengamatan (observasi), sebagai data untuk melihat kondisi guru Matematika dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajarnya. (2). Instrumen penilaian kinerja guru, untuk melihat kemajuan kinerja guru. (3). Instrumen penilaian hasil belajar siswa, sebagai salah satu indikator keberhasilan belajar mengajar guru.(4). Alat-alat dokumentasi sebagai perekam data-data penelitian yang dibutuhkan.

 

G.     Teknik Analisis Data

Data yang terkumpul dalam penelitian ini dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif dianalisis dengan menggunakan analisis kategorial dan fungsional melalui model analisis interaktif (interactive model), yakni analisis yang dilakukan melalui empat komponen analisis: reduksi data, penyandian, dan verifikasi dilakukan secara simultan. Data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif.

 

III.       HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Refleksi Awal

Berdasarkan hasil  refleksi awal kemampuan / kinerja guru mata pelajaran matematika pada SMA wilayah binaan peneliti di Kabupaten Dompu sebelum dilakukan tindakan pada siklus I, didapatkan tingkat kemapuan /kinerja guru seperti  pada tabel berikut.

Tabel 4. Rekap presentase  Kinerja Guru Matematika sebelum dilakukantindakan

 

Aspek Kinerja Guru

Rerata Skor

Skor Ideal

% Ketercapaian

A.Komponen Rencana Pembelajaran

34.2

68

50.3

B.     Komponen Pelaksanaan Pembelajaran

75.8

140

54

KINERJA GURU (AWAL)

110

208

52.9

 

            Dari tabel di atas terlihat bahwa kinerja guru matematika SMA hanya mencapai 52,9 %, yang meliputi komponen perencanaan pembelajaran sebesar 50.3 dan komponen pelaksanaan pembelajaran 54. Kategori persentase kinerja guru tersebut termasuk pada kategori yang sedang, perhatikan tabel  berikut.

Tabel 5. Kategori dan Kualifikasi Kinerja Guru Matematika Sebelum Tindakan

No

Rentang

Kategori

Kualifikasi

1

0  –  20

Sangat Rendah

E

2

21  –  40

Rendah

D

3

40  –  60

Sedang

C

4

60  –  80

Tinggi

B

5

80  –  100

Sangat Tinggi

A

 

Persentase komponen perencanaan pembelajaran guru relatif lebih rendah dari pada komponen pelaksanaanya, hal ini menunjukkan bahwa guru belum begitu baik dalam merencanaakan pembelajarannya.  Komponen perencanaan pembelajaran meliputi: (1) perumusan tujuan pembelajaran , (2) pemilihan dan pengorganisasian materi ajar   (3) pemilihan sumber belajar/media pembelajaran  (4) metode pembelajaran , dan (5) rencana penilaian hasil belajar.

            Pada komponen pelaksanaan pembelajaran didapatkan persentase rata-rata skor kinerja yang paling rendah adalah kinerja guru dalam pemanfaatan sumber belajar yang relatif rendah dan juga pada bagian penutup pelajaran..Hal ini pada umumnya guru pada akhir sesi pembelajaran tidak memberikan refleksi atau membuat rangkuman yang melibatkan peserta didik, serta kurang memberikan arahan tindak lanjut, kegiatan untuk menambah pengayaan materi yang diajarkan kepada peserta didik.   Pemanfaatan sumber belajar relatif kurang, media-media yang dapat digunakan untuk pembelajaran relatif kurang banyak dimanfaatkan. Hal-hal tersebut berdampak pada rendahnya hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran matematika pada sekolah binaan penulis sebagaimana urain terdahulu.

 

B. Hasil Tindakan Siklus I

            Hasil refleksi awal dijadikan sebagai dasar untuk melakukan supervisi kolaboratif dengan pendekatan individual terhadap guru matemaika SMA wilayah binaan di kabupaten Dompu, supervisi yang dilakukan yaitu membantu  menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi guru dalam pembelajaran matematika  mulai dari perencanaan menyusun silabus dan RPP, pemilihan dan pengorganisasian materi ajar, pemilihan sumber belajar media, dan perencanaan untuk penilaian hasil belajar sampai dengan pelaksanaan pembelajaran dengan strateri ” Tingk-Talk-Write ”. Setiap langkah dibimbing dan diidentifikasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi guru selanjutnya diberikan solusi-solusi pada setiap permasalahan yang dihadapi guru, diberikan arahan-arahan yang operasional dan mudah dilaksanakan oleh guru, yang selanjutnya dapat memberikan kemudahan belajar para peserta didik.Tindakan supervisi  dilakukan dengan pendekatan secara kolaboratif.

Berdasarkan hasil pengamatan permasalahan yang dihadapi oleh setiap guru relatif bervariasi, namun pada umumnya hampir sama yaitu guru enggan menyiapkan media pembelajaran. Selanjutnya setiap guru disarankan untuk menggunakan media CD interaktif  dan Microsoft Power Point untuk menyampaikan materi pembelajarannya, Hasil tes kinerja setelah dilakukan tindakan pada siklus I didapatkan seperti pada tabel berikut.

Tabel 4. Rekap Data  Kinerja Guru Matematika sebelum dilakukan tindakan

 

Aspek Kinerja Guru

Rerata Skor

Skor Ideal

% Ketercapaian

A.Komponen Rencana Pembelajaran

34.2

68

50.3

B.Komponen Pelaksanaan Pembelajaran

75.8

140

54

KINERJA GURU (AWAL)

110

208

52.9

 

Tabel 7. Rekap Persentase Kinerja Guru Matematika Pasca Tindakan Siklus I

 

Aspek Kinerja Guru

Rerata Skor

Skor Ideal

% Rerata Skor

  1. Komponen Rencana Pembelajaran

47,00

68

69,1

  1. Komponen Pelaksanaan Pembelajaran

83.6

140

60.0

Nilai Kinerja Guru

130.6

208

62.8

 

            Dari tabel di atas terlihat bahwa kinerja guru matematika SMA dalam menerapkan strategi pembelajaran Think-Talk-Write setelah dilakukan supervisi  melalui pendekatan kolaboratif didapatkan persentase skor kinerja guru mengalami  peningkatan dari 52.9 menjadi 62.8. Kategori persentase kinerja guru tersebut termasuk pada kategori yang tinggi dengan tingkat kualifikasi B, perhatikan Tabel berikut.

 

Tabel 8. Kinerja Guru Matematika Pasca Tindakan siklus I

No

Rentang

Kategori

Kualifikasi

1

0  –  20

Sangat Rendah

E

2

21  –  40

Rendah

D

3

40  –  60

Sedang

C

4

60  –  80

Tinggi

B

5

80  –  100

Sangat Tinggi

A

 

Persentase semua aspek terjadi peningkatan , dengan hasil persentasi sebagai berikut: Komponen perencanaan pembelajaran sebesar 50.3 menjadi 69,1 dan komponen pelaksanaan pembelajaran dari 54 menjadi 60.0%. Nampak bahwa pada komponen perencanaan pembelajaran guru telah meningkat, yang berdampak langsung pada pelaksanaan proses pembelajaran yang lebih baik manum demikian hal ini masih menunjukkan bahwa persiapan guru sebelum mengajar masih lebih rendah dibandingkan dengan pelaksanaannya.  

            Dari data awal yang paling rendah adalah kinerja guru dalam pemanfaatan sumber belajar telah terjadi peningkatan walaupun belum memadai  hal ini menunjukkan bahwa guru telah dapat memanfaatkan sumber belajar sehingga peserta didik dapat lebih optimal dalam belajarnya. Sedangakan aspek yang paling rendah lainya itu penutup pembelajaran juga telah terjadi peningkatan .  Aspek yang relatif paling rendah hasil siklus I pada aspek kemampuan khusus dalam peembelajaran matematika yang meliputi mendemonstrasukan penguasaan materi dalam bentuk fakta,konsep,dan prosesdur, mendemostrasikan kemampuan penanaman konsep, rumus, atau prinsip matematika melalui strategi pembelajaran Think-Talk-Write ; mengembangkan siswa untuk berpikir kiritis, logis, dan analitis; kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dalam matematika,; membantu siswa menemukan konsep dan rumus dalam matematika; mengembangkan kemampuan siswa dalam menyampaiakan informasi melaui sombol, bilangan, diagram, tabel atau model lainnya; memupuk sikap apresiasi siswa terhadap matermatika serta membantu siswa dalam membentuk sikap cermat dan kritis.

Peningkatan kinerja guru tersebut berdampak pula pada peningkatan kualitas  proses dan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran matematika. dengan nilai rata-rata yang diperoleh relatif lebih tinggi dibandingkan dengan nilai sebelummnya yang dapat dilihat seperti pada tabel berikut.

 

Tabel 9.Prosentase Ketercapaian Mata Pelajaran Matematika Pasca Siklus I

NO

Nama Sekolah

AWAL

SIKULUS I

% Peningkatan

% ketercapaian

% Ketuntasan

% ketercaapaian

% Ketuntasan

% ketercaapaian

% Ketuntasan

1

SMA 1Dompu

56

58.5

65

72

13.84

18.75

2

SMA 1 Kempo

52

56.25

65

67

20

16.04

3

SMA 2 Kempo

53

53.5

63

65

15.87

17.69

4

SMA 1 WOJA

57

58.46

63

67

9.52

12.75

5

SMA Kosgoro

52

54.15

62

75

16.12

27.8

RERATA

54

56.17

63.6

69.2

15

18.61

 

Sebagai gambaran  perkembangan prosentase ketercapaian hasil belajar dan ketuntasan belajar peseta didik pada mata pelajaran   matematika pada sisklus I adalah seperti pada gambar berikut.

Gambar 3. Prosentase Ketercapaian maata Pelajaran Matematika Pasca Siklus I

            Dari tabel tersebut terlihat bahwa terjadi peningkatan nilai prosentase keretcapaian dan prosentase ketuntasan belajar siswa setelah dilakukan supervisi kolaboratif dengan pendekatan individual terhadap guru berutut-turut 15% dan 18.61%. sedangkan  peningkatan nilai rata-rata prosentase ketercapaian mata pelajaran matematika pada setiap sekolah sebagai beikut; Pada SMA 1 Dompu prosentase ketercapaian meningkat sebesar 13.84%,sedangkan prosetase ketuntasan meningkat sebesar 18.75%. pada SMA 1 Kempo prosentase ketercapaian meningkat sebesar 20.00%, sedangkan prosetase ketuntasan meningkat sebesar 16.04% pada SMA 2 Kempo prosentase ketercapaian meningkat sebesar 15.87%, sedangkan prosetase ketuntasan meningkat sebesar 17.69%. pada SMA 1 Woja  prosentase ketercapaian meningkat sebesar 9.52 %, sedangkan prosetase ketuntasan meningkat sebesar 12.75% dan pada SMA Tri Dharma Kosgoro  meningkat sebesar 16.12%, sedangkan prosetase ketuntasan meningkat sebesar 27.80% Peningkatan yang lebih besar pada aspek prosentase ketercapaian berturut-turut  adalah di   SMA Negeri 1 Kempo , SMA Kosgoro, SMA 2 Kempo ,SMA 1 Dompu , dan SMAN 1 Woja. Sedangkan pada peningkatan aspek porsentase ktuntasan belajar yang lebih besar berturut-turut adalah SMA Kosgoro, SMAN 1 Dompu,SMAN 2 Kempo, SMAN 1 Kempo dan SMAN 2 Woja.

 

C. Hasil Tindakan Siklus II

            Hasil refleksi dari hasil tindakan pada Siklus I selanjutnya dijadikan sebagai dasar untuk melakukan supervisi kolaboratif dengan pendekatan individual terhadap guru matematika SMA wilayah binaan kabupaten Dompu pada tahap selanjutnya, supervisi yang dilakukan yaitu membantu guru mengidentifikasi kekurangan-kekurangan mulai dari perencanaan sampai dengan pelaksanaan pembelajaran, yang mereka hadapi. Selanjutnya diberikan arahan-arahan yang lebih operasional dan mudah dilaksanakan oleh guru dengan upaya lebih memberikan kemudahan belajar bagi para peserta didik.

Berdasarkan hasil pengamatan permasalahan yang dihadapi oleh setiap guru relatif sama, yaitu guru masih lemah untuk berinovasi dalam menyiapkan sumber/media pembelajaran,dan kemampuan khusus yang dituntut dalam pembelajaran matematika termasuk didalamnya terkait dengan kemampuan mengelola pembelajaran Think-Talk-Write, umumnya guru terjebak pada rutinitas pembelajaran yang mereka lakukan. Selanjutnya setiap guru disarankan untuk meningkatkan Strategi pemebelajaran Think-Talk-Write serta berinovasi dalam menggunakan media-media pembelajaran dan sumber-sumber belajar sehingga dalam menyampaikan materi pembelajarannya lebih mudah diterima  para peserta didik. Hasil supervisi kinerja guru  setelah dilakukan tindakan pada siklus II didapatkan seperti pada tabel 10 dan 11.

            Dari tabel 11 terlihat bahwa kemampuan/kinerja guru matematika SMA binaan peneliti  setelah dilakukan supervisi individual dengan pendekatan kolaboratif didapatkan persentase skor kinerja terjadi peningkatan dari 62,8% menjadi 80.2%. Kategori persentase kinerja guru tersebut termasuk pada kategori yang sangat tinggi (A), perhatikan Tabel berikut.

Tabel 10.Kategori dan Kualifikasi Kinerja Guru Matematika

Pasca Tindakan siklus I

No

Rentang

Kategori

Kualifikasi

1

0  –  20

Sangat Rendah

E

2

21  –  40

Rendah

D

3

40  –  60

Sedang

C

4

60  –  80

Tinggi

B

5

80  –  100

Sangat Tinggi

A

 

Tabel 11.Rekap Data Kinerja Guru matematika Pasca Tindakan Siklus II

 

Aspek Kinerja Guru

Rerata Skor

Skor Ideal

% Rerata Skor

A.Komponen Rencana Pembelajaran

51.2

68

75.3

B.Komponen Pelaksanaan Pembelajaran

115.6

140

82.6

Total (A+B) KINERJA GURU

166.8

208

80.2

 

Persentase semua aspek terjadi peningkatan  dengan hasil persentasi sebagai berikut: komponen perencanaan pembelajaran sebesar 69,1% menjadi 75,3% dan komponen pelaksanaan pembelajaran dari 60.0 menjadi 82,6. Nampak bahwa pada komponen perencanaan pembelajaran guru telah meningkat jauh lebih tinggi, yang berdampak pada peningkatan pelaksanaan proses pembelajaran Persentasi kinerja guru dalam perencanaan pembelajaran relatif sama bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan persentase kinerja guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran.

            Dari data Persentase kinerja guru pada setiap komponen perencanaan pembelajaran hasil siklus II mulai dari : (1) perumusan tujuan pembelajaran , (2) pemilihan dan pengorganisasian materi , (3) pemilihan sumber belajar/media pembelajaran , (4) metode pembelajaran , dan (5) rencana penilaian hasil belajar  , telah terjadi peningkatan yang sangat signifikan dan  nampak bahwa guru telah dapat merencanakan  pembelajaran dengan strategi Think-Talk-Write dengan persentase kinerja mencapai 75,3. Demikian pula Pada komponen pelaksanaan pembelajaran telah terjadi peningkatan persentase rata-rata skor kinerja hasil siklus II pada setiap aspek yang meliputi : (1) Pra pembelajaran , (2) membuka pelajaran , (3) kegiatan inti pembelajaran yang meliputi: (a) penguasaan materi , (b) pendekatan/strategi , (c) pemanfaatan sumber belajar, (d) pengelolaan belajar peserta didik, (e). Kemampuan khusus dalam pembelajaran matematika, (f) penilaian proses dan hasil belajar ,  (f) penggunaan bahasa , dan (4) penutup  berturut-turut (90.  87.5,   86.7,   88.0,   85.0,   78.8,  80.0,  76.0,  81.7,   82.5)

            Dari data tersebut di atas  telah terjadi peningkatan kemampuan guru yang sangat baik mencapai 80.2 , hal ini menunjukkan bahwa guru telah dapat merencakana dan melaksanakan pembelajaran dengan strategi Think-Talk-Write, sehingga peserta didik dapat lebih optimal dalam belajarnya. Peningkatan kinerja guru tersebut berdampak pula pada peningkatan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran matematika, dengan nilai rata-rata yang diperoleh relatif lebih tinggi dibandingkan dengan nilai sebelummnya yang dapat dilihat seperti pada tabel berikut.

 

 

Tabel 12. Prosentase Ketercapaian dan Ketuntasan Belajar Mata Pelajaran Matematika Hasil Siklus I dan II

NO

Nama Sekolah

SIKLUS I

SIKLUS  II

% Peningkatan

Nilai (% Ketercapaian)

% Ketuntasan

Nilai (% Ketercapaian)

% Ketuntasan

Nilai

Ketuntasan

1

SMAN 1 Dpu

65

72

76

83

14.47

13.25

2

SMAN 1 Kpo

65

67

77

86

15.58

22.09

3

SMAN 2 Kpo

63

65

73

80

13.70

18.75

4

SMAN 1 Woja

63

67

77

86

18.18

22.09

5

SMA Kosgoro

62

75

76

86

18.42

12.79

 

RERATA

63.60

69.20

75.80

84.20

16.07

17.80

Sebagai gambaran perkembangan  peningkatan hasil belajar dan ketuntasan belajar peseta didik pada mata pelajaran   matematika adalah seperti pada gambar berikut.

Gambar 4 : Prosentase Ketercapaian dan Ketuntasan Belajar Mata Pelajaran Matematika Hasil Siklus I dan II

 

Dari tabel tersebut terlihat bahwa terjadi peningkatan nilai prosentase keretcapaian dan prosentase ketuntasan belajar siswa setelah dilakukan supervisi kolaboratif dengan pendekatan individual terhadap guru pasa Siklus II berutut-turu 16.07%  dan 17.80%. sedangkan  peningkatan nilai rata-rata prosentase ketercapaian mata pelajaran matematika pada setiap sekolah sebagai beikut; Pada SMA 1 Dompu prosentase ketercapaian meningkat sebesar 14.47%, sedangkan prosetase ketuntasan meningkat sebesar 13.25%. pada SMA 1 Kempo prosentase ketercapaian meningkat sebesar 15.58%, sedangkan prosetase ketuntasan meningkat sebesar 22.09% pada SMA 2 Kempo prosentase ketercapaian meningkat sebesar 13.70%, sedangkan prosetase ketuntasan meningkat sebesar 18.75%. pada SMA 1 Woja  prosentase ketercapaian meningkat sebesar 18.18%, sedangkan prosetase ketuntasan meningkat sebesar 22.09% dan pada SMA Tri Dharma Kosgoro  meningkat sebesar 18.48%, sedangkan prosetase ketuntasan meningkat sebesar 12.79% Peningkatan yang lebih besar pada aspek prosentase ketercapaian berturut-turut  adalah di  SMA Kosgoro, SMAN 1 Woja,  SMA Negeri 1 Kempo ,SMA 1 Dompu ,dan SMA 2 Kempo. Sedangkan pada peningkatan aspek porsentase ketuntasan belajar yang lebih besar berturut-turut adalah SMAN 1 Kempo , SMAN 1 Woja, SMAN 2 Woja , , SMAN 1 Dompu,SMAN 2 Kempo,dan  SMA Kosgoro

 

D. Pebandingan Kemampuan Guru dan Hasil Belajar dari Siklus Ke Siklus

Selanjutnya hasil refleksi akhir dapat dilihat peningkatan yang lebih jelas kinerja guru dari mulai kemampuan awal, siklus I, dan siklus II dapat digambarkan seperti pada tabel berikut ini.

Tabel 13. Perkembangan Kinerja Guru Dalam Menerapkan Pembelajaran ” Think-Talk-Write ”

 

Aspek Kinerja Guru

% Kemampuan/ Kinerja Guru

Awal

Siklus I

Siklus II

A.Komponen Rencana Pembelajaran

50.3

69,1

75.3

B.Komponen Pelaksanaan Pembelajaran

54

60.0

82.6

KINERJA GURU

52.9

62.8

80.2

 

Selanjutnya sebagai gambaran yang lebih jelas perkembangan  peningkatan kinerja guru  matematika adalah seperti pada gambar berikut :

Gamabar 5 : Perkembangan Kinerja Guru matematika ( Awal, Hasil Siklus I, dan Siklus II)

Dari tabel tersebut nampak bahwa terjadi peningkatan kemampuan guru dari awal sebelum tindakan sebesar 58.6%, setelah dilakukan tindakan siklus I menjadi 62.8%, dan setelah tindakan siklus II meningkat lagi menjadi 80.2%,

Dari gambar tersebut terlihat bahwa terjadi peningkatan yang cukup tajam dari awal, setelah siklus I, sampai dengan setelah tindakan siklus II. Selanjutnya perkembangan rata-rata peningkatan nilai hasil belajar peserta didik dapat dilihat seperti pada tabel berikut.

Tabel 13.Perbadingan Prosentase Ketercapaian dan Ketuntasan Belajar Mata Pelajaran Matematika  di SMA Sekolah Binaan Kabupaten Dompu

NO

Nama Sekolah

AWAL

SIKLUS I

SIKLUS  II

Nilai % Keter

% Kettsn

Nilai (% Keterc

% Kettsan

Nilai % Keterc.

% Ket

1

SMAN 1 Dompu

56

58.5

65

72

76

83

2

SMAN 1 Kempo

52

56.25

65

67

77

86

3

SMAN 2 Kempo

53

53.5

63

65

73

80

4

SMAN 1 Woja

57

58.46

63

67

77

86

5

SMA Kosgoro

52

54.15

62

75

76

86

 

RERATA

54.00

56.17

63.60

69.20

75.80

84.20

 

            Selanjutnya untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas peningkatan nilai hasil belajar daan ketuntasan belajar matematika adalah seperti pada gambar berikut.

Gambar 6. Perbadingan Prosentase Ketercapaian dan Ketuntasan Belajar Mata Pelajaran Matematika  ( Awal, Hasil Siklus I, dan II)

 

             Dari gambar tersebut terlihat bahwa terjadi peningkatan yang signifikan dari kondisi awal sampai hasil belajar setelah tindakan pada siklus I, dan terjadi peningkatan pula setelah tindakan siklus II, meskipun peningkatannya tidakterlalu tajam. Hasil penelitian tindakan supervisi inidivual dengan pendekatan kolaboratif terhadap guru matematika dalam menerapkan strategi penbelajaran Think-Talk-Write terbukti memberikan peningkatan kinerja guru yang selanjutnya berdampak pada peningkatan hasil belajar peserta didik. Hal ini dapat dipahami karena jika telah terjadi peningkatan kinerja guru dengan menerapkan pembelajaran dengan strategi Think-TalkWrite maka jelas akan terjadi pembelajaran yang efektif dengan kualitas belajar yang optimal, sehingga peserta didik memiliki daya serap terhadap leajarannya yang tinggi pula dan pada akhirnya hasil belajar  peserta didik menjadi lebih optimal. Perencanaan guru yang matang dalam mempersiapkan proses belajar mengajar merupakan salah satu kunci keberhasilan peningkatan kualitas pembelajaran.

E.  Hasil Observasi

 Secara umum pelaksanaan pembelajaran dengan stratetgi think-talk-write dalam kelompok kecil berjalan dengan baik. Siswa pada awal pembelajaran membaca LKS membuat catatan tentang permasalahan, kemudian dilanjutkan dengan diskusi kelompok untuk menemukan jawaban permasalahan, dan akhirnya menuliskan jawaban yang dihasilkan dari hasil diskusi menurut bahasa masing-masing. Pada bagian akhir pembelajaran beberapa orang (atau satu orang) siswa sebagai perwakilan kelompok mempresentasikan hasil diskusinya dan kelompok lain menanggapi. Seringkali kegiatan ini berlanjut menjadi diskusi kelas yang dibimbing guru.

Pengamatan terhadap aktivitas siswa selama kegiatan diskusi kelompok, dilakukan oleh dua orang pengamat menggunakan lembar observasi sebagaimana terlampir. Pada penelitian ini, peneliti langsung sebagai pelaksana eksperimen model pembelajaran dengan strategi think-talk-write dalam kelompok kecil. Beberapa hal yang dapat peneliti amati selama pembelajaran, antara lain diuraikan berikut ini.

Model pembelajaran dengan strategi think-talk-write dalam kelompok kecil merupakan model pembelajaran yang baru bagi siswa maupun guru di SMA wialayah binaan peneliti.. Karena itu pada pertemuan pertama dan bahkan pada pertemuan kedua siswa masih tampak bingung dan kaku. Beberapa siswa mengaku tidak tahu apa yang harus dikerjakan sehingga tahapan-tahapan belajar think-talk-wrte, terutama tahap think (membaca/mencari informasi tentang soal) dan tahap diskusi kelompok, tidak berjalan dengan optimal. Tetapi pada pertemuan berikutnya siswa terlihat antusias mengikuti pembelajaran. Mereka secara umum tidak ragu lagi mengeluarkan pendapat, sehingga diskusi kelompok menjadi lebih hidup dan suasana belajar menjadi lebih kondusif.

Penerapan model pembelajaran baru ini, setelah siswa memahami apa yang harus mereka kerjakan, mengakibatkan meningkatnya keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Pembelajaran dalam kelompok kecil dengan strategi think-talk-write ini berhasil menciptakan suasana baru bagi siswa sehingga pebelajaran lebih kondusif. Antara lain dapat meningkatkan aktivitas siswa serta meningkatkan sikap positif siswa terhadap pembelajaran matematika. Selama ini belajar matematika selalu dimulai dari guru menjelaskan, siswa memperhatikan dengan seksama dan mencatat, sesekali siswa bertanya kemudian dijawab guru, kemudian siswa mengerjakan latihan, dan diakhir pembelajaran diberikan Pekerjaan Rumah (PR). Demikian juga soal-soal yang diberikan  berupa  soal-soal  rutin  yang  jarang  berhubungan dengan  dunia  nyata.

Penggunaan waktu 2 x 45 setiap satu kali pertemuan, pada dua kali pertemuan yang pertama ternyata kurang. Hal ini terjadi terutama karena siswa masih kaku dalam mengikuti pembelajaran sehingga banyak waktu yang terbuang. Tetapi setelah siswa memahami apa yang harus mereka kerjakan pada pertemuan berikutnya berlangsung dengan lancar dan waktu tidak lagi kurang. Pada pertemuan pertama sebagian besar siswa pada awal membaca LKS mengatakan “Pak kami belum belajar tentang ini!”, karena menganggap bahwa soal dalam LKS tersebut adalah untuk menguji tentang materi yang sedang dipelajarinya. Tim Peneliti memberikan penjelasan bahwa soal itu dikerjakan untuk mengantarkan mereka memahami materi yang dipelajari. Pada pertemuan kedua masih ditemui siswa mengajukan pernyataan yang sama. Namun pada pertemuan berikutnya tidak ada lagi. Siswa terlihat termotivasi dan lebih semangat belajar. Mereka mengatakan bahwa mereka lebih mengerti apa yang mereka lakukan, karena telah menentukan sendiri apa yang mereka harus lakukan pada tahap membaca (think). Namun dari catatan yang mereka buat belum mencerminkan sepenuhnya dari keadaan masalah yang diselesaikan. Umumnya catatan tersebut berisi apa yang diketahui dan ditanya, namun tidak tedapat kemungkinan apa yang mereka lakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Dalam kegiatan diskusi (talk), siswa secara keseluruhan terlihat antusius saling berinteraksi dalam mengelurkan pendapat, walaupun masih ada beberapa siswa yang terlihat kurang aktif.

 

F.                              Aktivitas Siswa Selama Proses Pembelajaran

Aktivitas siswa selama pembelajaran adalah mengikuti urutan kegiatan think, talk, dan write. Dalam kegiatan think yaitu mengumpulkan informasi mengenai unsur-unsur yang diketahui, ditanyakan, dan kemungkinan apa yang akan dilakukan, tergambar bahwa siswa belum mencapai hasil yang baik. Walaupun pada akhirnya mereka dapat menyelesaikan tersebut dalam kegiatan diskusi, namun siswa sering kali tidak menyebutkan kemungkinan apa yang dapat dilakakun dalam menyelesaian masalah yang diberikan. Kenyataan ini tetap ditemukan sampai akhir pertemuan.

Dalam kegiatan talk secara umum telah berjalan dengan baik. Siswa telah berani mengeluarkan pendapat baik bertanya, menjawab, maupun menanggapi pendapat orang lain. Meskipun masih terdapat beberapa siswa yang tidak aktif, namun jumlahnya hanya sebagian kecil saja. Aktivitas siswa dalam diskusi berdasarkan pengamatan, pembelajaran ini telah menciptakan kondisi dimana siswa belajar secara aktif. Dari empat aspek yang diamati, yaitu: mengajukan pertanyaan, mengemukakan dan menanggapi pendapat; mencari informasi yang berkenaan dengan tugas; penyelesaian tugas; dan keterlibatan anggota dalam kegiatan kelompok, dalam observasi berkisar antara cukup dan baik. Tidak terdapat kelompok yang dikategorikan kurang.

Dalam kegiatan write terdapat kemajuan yang berarti dalam cara siswa menulis jawaban. Pada beberapa pertemuan pertama siswa menulis jawaban tanpa memperhatikan susunan bahasa yang benar. Umumnya mereka menulis jawabannya berupa hasil perhitungan semata. Hal ini selalu didiskusikan pada setiap pertemuan pada waktu satu siswa sebagai perwakilan kelompok diminta mempresentasikan jawabannya.

 

IV.                       SIMPULAN DAN REKOMENDASI

A.     Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian tindakan di atas dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut.

1.      Supervisi individual dengan pendekatan kolaboratif memberikan pengaruh terhadap peingkatan kemampuan/ kinerja guru matematika  SMA pada wialayah binaan di Kabupaten Dompu baik komponen perencanaan pembelajaran mapun komponen pelaksanaan pembelajaran.

2.      Peningkatan kemampuan/kinerja guru tersebut berdampak pada peningkatan hasil belajar matematika peserta didik SMA  pada wialayah binaan Kabupaten Dompu.

B.     Rekomendasi

Selanjutnya peneliti merekomendasikan hal-hal sebagai berikut.

1.      Supervisi individual dengan pendekatan kolaboratif dapat dilakukan oleh pengawas sekolah terhadap guru mulai dari perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, sampaidengan evaluasi hasil belajar, khususnya guru matematika.

2.      Dalam pembelajaran guru perlu diarahkan untuk merencanakan RPP yang berbasis CTL dengan berbagai pendekatan dan strategi yang inovastif dalam hal ini Pembelajaran Think-Talk=Write, menyiapkan media dan sumber belajar dengan baik, sehingga mudah untuk melaksanakan proses pembelajaran dan daya serap siswa menjadi lebih tinggi.

3.      Kesulitan-kesulitan guru dalam mempersiapkan perencanaan pembelajaran , media dan sumber belajar perlu didukung oleh sekolah dalam hal pendanaan dan pembiayaannya, sehingga media dan sumber belajar yang dipersiapkan dapat lebih optimal.

4.      Pembelajaran dengan strategi Think-Talk-Write dalam Kelompok Kecil adalah pembelajaran yang bernafaskan konstruktivisme. Menurut faham ini, ilmu pengetahuan dibangun sendiri oleh siswa dan bukan dipindahkan begitu saja dari guru ke siswa. Oleh karena itu, pendekatan pembelajaran ini sangat cocok dilakukan di kelas untuk membantu siswa membangun pengetahuannya. Pembelajaran ini tidak membutuhkan biaya seperti halnya bentuk-bentuk pembelajaran lainnya, hanya saja diperlukan persiapan yang matang terutama dalam hal mengembangkan soal-soal contoh dan latihan. Penerapan pembelajaran dengan Pembelajaran dengan strategi Think-Talk-Write dalam Kelompok Kecil ini memungkinkan untuk diterapkan pada mata pelajaran lain selain matematika.

5.      Hasil  penelitian ini hendaknya menjadi sumber inspirasi bagi pengawas untuk lebih meningkatkan mutu pembelajaran di sekola-sekolah binaan. Sedangkan bagi sekolah, hendaknya dapat diterapkan strategi pembelajaran yang inovatif agar diperoleh hasil belajar yang berkualitas.

6.      Hasil penelitian ini juga bisa dijadikan suatu alternatif lain dalam merubah sistem pembelajaran matematika dari pembelajaran konvensional menuju pembelajaran konstruktivisme dengan menggunakan LKS dalam hal ini peneliti memlikih pembelajaran CTL dengan strategi Think-Talk-Write.

7.      Diharapkan kepada para guru,pengawas dapat selalu berkolaborasi yang sinergis untuk mengadakan penelitian lebih lanjut mengenai peembelajaran Think-Talk-Write  pada pembelajaran matematika dengan

About suaidinmath

Mohon kontribusi untuk menambal retak dan menambah langkah kesempurnaan tulisan ini ...

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Hari ini

Februari 2014
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
2425262728  

Statistik Blog

  • 1,760,511 hit

Arsip blog

Award Blog Pendidikan 2012

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 259 pengikut lainnya

Dunia Pendidikan

Teratas

RSS Republika online

  • Ribuan Muslim Semarakkan Morowali Mengaji 6 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, MOROWALI—Ribuan jamaah umat Islam larut melantunkan ayat-ayat suci Alquran dalam Morowali Nusantara Mengaji.  Acara yang dimotori dan digagas oleh Bupati Morowali, Anwar Hafiz dalam rangka HUT Kabupaten ke-17 ini...
    Nasih Nasrullah
  • Ini Alasan Mantan Ketua DPR Akom Ingin 'Melawan' Putusan MKD 6 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mantan Ketua DPR Ade Komarudin, akan melakukan langkah-langkah terhadap keputusan MKD, yang pada Rabu (30/12) memberhentikannya sebagai ketua DPR. Pria yang akrab disapa Akom itu mengaku...
    Nur Aini

RSS educatinalwithptk

newsalloy

NewsAlloy button

MUSIK

suara Edukasi

 

 http://radioedukasi.com/modules/mod_miniradio/mod_miniradio.swf

suara_edukasi

RADIO EDUKASI

Live Streaming AM 1251 kHz

Silahkan unduh produk audio radio Suara edukasi

[KLIK DISINI]

Zaimuttpjok/tik

BERBAGI INFORMASI PENDIDIKAN DAN KISAH HIDUP

isti

Berilah makan keyakinanmu niscaya keraguanmu mati kelaparan

ANNISA USH SHOLIHAH

ALL ABOUT CHEMIS_3 (sharing for carring)

Dinas Dikpora Kab. Dompu

Ikhlas Mendidik Untuk Martabat Bangsa dan Negara

Vox Populi

Vox Populi: A Public Sphere for Politics and Poetry

Architecture Here and There

Style Wars: classicsm vs. modernism

Stories From the Belly

A Blog About the Female Body and Its Appetites

mywordpool

"Words - so innocent and powerless as they are, as standing in a dictionary, how potent for good and evil they become in the hands of one who knows how to combine them." ~Nathaniel Hawthorne

Fusion

Championing a young, diverse, and inclusive America with a unique mix of smart and irreverent original reporting, lifestyle, and comedic content.

Whatever

LET ME STEAL THIS MOMENT FROM YOU NOW

rachel eats

stories, pictures and cooking tales from an english woman living in rome.

y

what it comes down to

tangerine drawings

scribbles and recipes from a pastry chef in paris

Extra Dry Martini

Straight up, with a twist.

Gravity and Levity

A blog about the big ideas in physics, plus a few other things

love.life.eat

living a mindful life

%d blogger menyukai ini: