//
you're reading...
Dunia Pendidikan

Rasulullah sang Reformis

 

Hadits- Riwayat Abu Hurairah);

“Ya Allah! Jagalah diriku dari menganggap hina orang yang tidak memiliki sesuatu, atau menganggap utama orang yang

memiliki kekayaan. Karena orang yang mulia itu adalah orang yang dimuliakan oleh ketaatannya kepada-Mu, dan orang

yang agung itu adalah orang yang diagungkan penghambaannya kepada-Mu.”

Jadwal Sholat Wilayah DKI Jakarta & Sekitarnya, 30 Stember 2002

 

Muslimin & Muslimat BPPN Rahimakumullah

Bagi anda yang hendak mengeluarkan sebagian rizki hak para mustahiq, atau barangkali ada yang mau zakat,

shodaqoh ataupun infaq u/ Dompet Duafa Republika, kami masih membuka kesempatan u/ di transfer ke Rekening

BCA No. 4411144911 atas nama Diana Darwis untuk kami teruskan ke Dompet Dhuafa Republika. Atau langsung

transfer ke Dompet Dhuafa Republika dengan Rekening : BCA No. 237.301888.1 dan BCA No. 237301999.2 a/n

Dompet Dhuafa Republika. terlampir tulisan bagus, Semoga bermanfaat. Jazakallohu khoiron katsiro.

Rasullullllah saw,, Sang Reformiis Agung

BAGI bangsa Arab,kelahiran Muhammad adalah kelahiran dari kegelapan

kepada cahaya Arabia untuk pertama kalinya hidup karena kehadirannya

Bangsa-bangsa gembala yang miskin yang terasing di sahara sejak terciptanya dunia

Seorang nabi pahlawan dikirimkan kepada mereka. Dengan firman yang mereka percaya

Lihat bagaimana gembala-gembala yang tak dikenal menjadi penguasa dunia

Bangsa yang kecil tumbuh menjadi bangsa yang besar

Dan dalam satu abad sesudah itu,

Arabia memanjang sejak Granadha sampai New Delhi

Cemerlang dalam segala cahaya dan kebesaran

Arabia menyinari abad-abad yang panjang pada bagian besar dunia

Imam memang besar dan memberikan kehidupan

Sejarah satu bangsa menjadi tumbuh subur

Menaikkan jiwa besar segera setelah bangsa itu percaya kepada orang Arab ini

Orang ini – Muhammad – dan satu abad saja

Bukankah ini sebuah percikan yang jatuh dari langit

Kepada dunia padang pasir yang tidak dikenal dan kelabu

Dan lihatlah, padang-padang pasir itu berubah

menjadi amunisi yang meledak

Dan sinarnya naik ke langit,

sejak Delhi hingga Granadha.

(Thomas Carlyle)

Ucapan Thomas Carlyle di atas sering dikutip Bung Karno dengan – seperti biasa – farafrase

sendiri, Kedatangan Muhammad ke negeri Arab seperti jatuhnya percikan api ke tengah

Sahara. Terjadi ledakan besar, sehingga merah rona angkasa dari Delhi ke Granada.

Bung Karno mengutipnya dari buku Thomas Carlyle dalam terjemahan Belanda, Helden en

Helden Vereering. Di situ Carlyle melukiskan jenis-jenis pahla-wan. Muhammad saw

ditempatkannya dalam kategori Pahlawan sebagai Nabi. Dalam teori perubahan sosial,

Carlyle termasuk penganut the great man theory. Berbeda dengan kaum materialis, yang

menganggap perubahan teknologi dan distribusi barang dan jasa sebagai sumber perubahan

sosial, berbeda dengan kaum idealis yang menyatakan bahwa gagasanlah yang

menimbulkan per-ubahan sosial, the great man theory meletakkan pahlawan sebagai sumber

dari segala perubahan. Pahlawan ada-lah manusia besar yang mengubah sejarah umat manusia.

“And I said: the great man always acts like a thunder. He storms the skies, while others are

waiting to be stor-med,” kata Carlyle ketika merumuskan teorinya tentang Manusia Besar.

Aku katakan bahwa manusia besar selalu seperti halilintar yang membelah langit, dan

manusia yang lain hanya menunggu dia seperti kayu bakar.

Apakah perubah-an besar yang dilakukan Nabi Muhammad saw? Gerangan percikan cahaya

langit apakah yang me-ngubah gembala unta di Sahara menjadi penakluk-penakluk

dunia? Kita da-pat membuat daftar panjang:

1. dari syirik ke tauhid

2. dari kepongahan ras ke persamaan

3. dari kejahilan ke ilmu pengetahuan

4. dari kezaliman ke keadilan

5. dari perpecahan ke persaudaraan

6. dari keserbabolehan ke kesucian

7. dari penindasan perempuan ke penghormatan

Dalam makalah singkat ini, kita akan menengok seki-las pada dua butir yang pertama.

Dari Syirik ke Tauhid Masyarakat jahiliyah disebut al-Quran sebagai kaum musyrikin.

Mereka memuja berbagai berhala. Bukan hanya berhala dari kayu dan batu. Gemintang,

pepohonan, unta, kepala suku, jin, tradisi leluhur, atau apa saja dapat diberhalakan. Berhalaberhala

itu telah membelenggu masyarakat, membungkam kebebasan berbicara, mematikan

pikiran kritis, dan melumpuh-kan perlawanan kepada tirani. Manusia mempersem-bahkan

kepasrahan dirinya kepada banyak berhala. Karena itu, mereka takut kepada banyak hal.

Jiwa mere-ka gelisah karena harus mentaati banyak tuan.

Dari puncak bukit Hira turun Sang Rasul. Ia membawa firman Tuhan: Tidaklah mereka

diperintah ke-cuali menyembah Allah saja dengan mengikhlaskan agama bagi-Nya (QS. 98:5);

dan Tuhan kamu adalah Tuhan yang satu, tidak ada Tuhan kecuali Dia Yang Mahakasih

Mahasa-yang (QS. 2:163). Sekarang bangsa Arab meninggalkan semua berhala dan

menyerahkan dirinya kepada Allah saja. Mereka tidak memuja siapa pun kecuali Allah.

Mereka tidak mencintai siapa pun dengan puncak kecintaan selain Allah. Harga diri mereka

timbul. Keta-kutan hilang. Kegelisahan digantikan dengan ketentra-man.

Ketika pasukan umat Islam bergerak menuju Persia, seorang sahabat diutus untuk menemui

Pangli-ma Rustam di istananya. Panglima ini dilaporkan sem-pat mengejek tentara Islam

dengan mengatakan: “Buat menyambut para gembala unta, cukuplah aku kirimkan

gembala-gembala babi.” Ia mengira bangsa Arab yang dihadapinya adalah bangsa yang

belum diubah dari syirik ke tauhid. Utusan pasukan Islam datang dengan pakaian yang

lusuh dan mengendarai keledai. Ia ma-suk ke istana dengan penuh kepercayaan diri.

Keledai-nya diseret ke dalam balai pertemuan dan diikat pada salah satu kursi di istana.

Rustam bertanya, “Bangsa macam apakah kali-an ini?” Sahabat itu menjawab, “Nahnu

qawmun ib-ta’atsana Allah li yukhrijan Nas minazh Zhulumat ilan Nur, min jauwril adyan

ila ‘adlil Islam, min ‘ibadatil ‘ibad ila ibadatillahi wahdah. Kami adalah bangsa yang dipilih

Tuhan untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya, dari kezaliman

berbagai agama kepada keadilan Islam, dari penghambaan kepada hamba ke penghambaan

kepada Allah saja.

Ketika orang-orang Persia menghinanya de-ngan mengunggokkan tanah di atas

punggungnya, utusan ini tertawa gembira: “Lihat, mereka telah menye-rahkan tanahnya

kepada kita.” Kelak bangsa Persia bukan hanya menyerahkan tanahnya, mereka juga menyerahkan

hatinya untuk Islam.

Seorang pemikir Persia, ‘Ali Syari’ati, dalam Rasulullah saw: Sejak Hijrah hingga Wafat,

menulis ten-tang keberhasilan Nabi saw dalam mencabut akar-akar kemusyrikan dengan

meletakkannya pada perspektif masa depan umat:

Akar-akar kemusyrikan telah di-cerabut dari seluruh penjuru Jazirah Arabia. Bait Umat

Manusia yang didirikan oleh Bapak Agama yang Lurus, Ibrahim, telah disucikan diri dari

noda-noda keber-halaan, dan hukum Allah dan manusia telah tertanam pula dalam

kehidupan masya-rakat yang saling bersaudara satu sama lain. Namun Muhammad cukup

sadar un-tuk tidak silau oleh kemenangan-kemena-ngan yang diraihnya. Dia adalah orang

yang mampu memahami umatnya lebih da-ri siapapun, dan dapat melihat dengan jelas

adanya api kemunafikan, dendam kekabila-han, semangat primordial dan moral jahili yang

bersembunyi di belakang tabir persa-tuan umatnya yang telah dibentuk oleh ke-kuatan

iman dan tajamnya pedang politik.

Muhammad sadar betul bahwa, kendati dia mampu menyatukan para pe-mimpin kabilah

dan pembesar-pembesar Quraisy di bawah panji Islam, namun pen-didikan jiwa,

penanaman keimanan yang baru di dalam kalbu dan akal umat, dan pematangan sikap

beragama yang baru di-pisahkan dua puluh tahun dari akal-akal jahiliahnya itu, tidak bisa

tidak, masih mem-butuhkan waktu yang sangat lama dan mesti melalui beberapa generasi.

Nabi, sejak semula, sudah menya-dari adanya ancaman-ancaman tersebut. Namun yang

lebih ditakutkannya adalah masa depan umat-nya yang belum lama diikat oleh tali

persaudaraan keimanan dan yang masih silau dengan kemenangan-ke-menangan yang

diraihnya bila dia tinggal-kan nanti.

Sang ayah akan segera mening-galkan alam semesta ini. Akan tetapi bagai-mana nasib bocah

yang usianya baru dua puluh tahun dan yang dalam tubuhnya me-ngeram ratusan penyakit

itu, sedangkan dia harus berdiri pada kedua telapak kaki-nya sendiri -sesudah ayahnya

meninggal- seraya harus menghadapi angin kencang yang menerjang dirinya dari segala

penjuru?

Dengan cara apakah sang Ayah melindungi masyarakat Islam yang bocah ini dari bahaya

terbentuknya berhala ba-ru? Ia mengamanatkan kepada umatnya untuk mengikuti

pembawa agama yang ti-dak memasukkan kepentingan yang ren-dah pada ajaran agama,

kepada mereka yang dibersihkan dari segala nista dan di-sucikan Allah sesuci-sucinya,

kepada Ahlul Bait yang disebutkan dalam al-Ahzab 33. Ia bersabda: “Aku tinggalkan bagi

kamu dua pusaka yang jika kamu berpegang teguh kepa-danya kamu tidak akan sesat selamalamanya:

Kitab Allah dan Ahli Baitku.” Mazhab Ahlul Bait adalah mazhab yang ditegakkan

di atas tauhid murni – kecintaan sejati hanya di-persembahkan kepada Allah Swt!

Dari Kepongahan Ras kepada Persamaan Karena suku-suku bangsa ini terasing di saha-ra,

mereka mengembangkan kecintaan kepada suku sebagai cara agar mereka bertahan hidup.

Kesetiaan kepada suku kemudian berkembang menjadi kebang-gaan rasial. Mereka senang

menghitung prestasi-pres-tasi sejarah yang diukir oleh nenek-moyangnya. Dari keturunan

siapa mereka berasal dijadikan ukuran dera-jat mereka. Karena itu, dalam bahasa Arab

keturunan disebut juga sebagai hasab (berasal dari hasiba, menghi-tung).

Nabi saw menghapuskan kebanggaan ras atau etnis. Satu-satunya ukuran kemuliaan adalah

amal saleh. Ia menyampaikan firman Tuhan: Bagi setiap orang derajat berdasarkan amal

yang dilakukannya (QS. 6:132). Hakikat kemanusiaan tidak terletak dalam darah tetapi pada

akhlaknya. Secara perlahan-lahan, Nabi saw me-motong satu demi satu tonggak kepongahan

ras.

Ia memotong kebiasaan pernikahan yang di-dasarkan kepada kesederajatan dalam

keturunan. Ia menikahkan budak-budak belian dengan perempuan bangsawan. Ia bersabda:

Aku menikahkan Zaid bin Haritsah kepada Zainab binti Jahasy dan aku menikahkan

Miqdad kepada Dhiba’ah binti Zubair bin Abdil Muthallib supaya mereka mengeta-hui

bahwa kemuliaan yang paling tinggi adalah islam dan bahwa yang paling mulia di antara

kamu di sisi Allah adalah yang paling bagus keislamannya (Kanz al-Ummal 313; Makarim

al-Akhlaq, 1:452-1546).

Ia memotong kebiasaan orang Arab untuk me-rendahkan orang ‘Ajam dengan memberikan

penghor-matan kepada para sahabat yang berasal dari luar Arab, seperti Salman al-Farisi.

Pada suatu hari Salman sedang duduk bersama orang-orang Quraisy di Mesjid. Mereka

sedang mem-bangga-banggakan keturunan mereka secara bergiliran. Ketika sampai kepada

Salman, Umar bin Khattab berta-nya kepadanya: “Katakan kepadaku siapa kamu? Siapa

bapakmu? Apa asal-usulmu?” Salman menjawab: “Aku Salman anak hamba Allah. Dahulu

aku tersesat, lalu Allah memberikan petunjuk kepadaku melalui Mu-hammad saw. Dahulu

aku miskin, lalu Allah memper-kaya aku dengan Muhammad. Dahulu aku budak, lalu Allah

membebaskan aku dengan Muhammad. Inilah nasabku dan inilah hasab-ku.”

Ketika Nabi keluar dan menemukan Salman berbicara kepada mereka, Salman berkata

kepada Nabi: “Ya Rasulullah, ingin aku adukan apa yang aku dapat-kan dari mereka. Aku

duduk bersama mereka dan mere-ka mulai menjelaskan nasab mereka dan membanggabanggakannya.

Ketika sampai kepadaku, Umar bin Khattab berkata kepadaku: ‘Katakan

kepadaku siapa kamu? Siapa bapakmu? Apa asal-usulmu?’ Aku men-jawab: ‘Aku Salman

anak hamba Allah. Dahulu aku tersesat, lalu Allah memberikan petunjuk kepadaku dengan

Muhammad. Dahulu aku miskin, lalu Allah memperkaya aku dengan Muhammad. Dahulu

aku bu-dak, lalu Allah membebaskan aku dengan Muhammad. Inilah nasabku dan inilah

hasabku.” Rasulullah saw bersabda: “Hai orang-orang Quraisy sesungguhnya ha-sab

manusia itu adalah agamamu, jati dirinya adalah akhlaknya, dan asal-usulnya adalah

akalnya. Allah Swt berfirman: “Sesungguhnya Kami menciptakan kamu laki-laki dan

perempuan dan kami menjadikan kamu berbagai suku bangsa dan golongan supaya kamu

saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling takwa.”

Selanjutnya Nabi saw berkata kepa-da Salman: Tidak ada seorangpun di antara mereka yang

lebih utama dari kamu kecuali karena ketakwaan kepada Allah. Jika kamu lebih takwa

maka kamu lebih utama di atas mereka.” (Bihar al-Anwar, 22:511)

Kepada Salman, Nabi saw juga menyampai-kan sabdanya yang terkenal, “Salman dari kami

Ahlul Bait”.

Pada zaman Imam Ja’far al-Shadiq, al-Fadhl dengan bapaknya ‘Isa dari keturunan Bani

Hasyim me-nemui Imam Ja’far. ‘Isa bertanya: “Betulkah ucapan Rasulullah saw bahwa

Salman seseorang dari kami Ahlul Bait?” Ia menjawab: “Betul.” Ia bertanya: “Jadi dari

keturunan Abdul Muthallib?” Ia menjawab: “Dari kami Ahlul Bait.” Ia bertanya lagi: “Jadi

dari keturunan Abu Thalib?” Ia berkata: “Dari kami Ahlul Bait.” ‘Isa berkata kepada Imam:

“Aku tidak mengenal (silsilah) dia.” Imam Ja’far berkata: “Ketahuilah, hai ‘Isa, bahwa

Salman dari kami Ahlul Bait.” Kemudian Imam merapatkan tangannya ke dadanya seraya

berkata: “Hubungan itu tidaklah seperti anggapan kalian. Sesungguhnya Allah menciptakan

tanah kami dari tempat yang tinggi dan menciptakan tanah untuk golo-ngan kami di bawah

itu. Mereka termasuk golongan kami. Tuhan menciptakan tanah untuk penciptaan mu-suh

kami dari Sijjin, tempat yang paling rendah dan menciptakan golongan mereka di bawah

itu. Mereka termasuk golongan mereka. Salman lebih baik dari Luqman.” (Bihar al-Anwar,

22:481).

Salman termasuk di antara tonggak-tonggak yang meperkokoh mazhab Ahlul Bait.

Tonggak-tong-gak lainnya adalah Miqdad, Ammar bin Yasir, dan Abu Dzarr. Semuanya

tidak berasal dari Bani Hasyim, tetapi mereka semua diciptakan dari bahan tanah yang sama.

Pada suatu hari terjadilah perdebatan antara Abu Dzarr dengan salah seorang budak yang

berkulit hitam. Abu Dzarr melontarkan kalimat: “Hai anak pe-rempuan hitam.” Mendengar

itu Nabi saw menepuk bahu Abu Dzarr, “Thafa sha’. Keterlaluan kamu Abu Dzarr. Tidak

ada kelebihan orang putih di atas orang hitam, tidak ada kelebihan orang Arab di atas orang

‘Ajam kecuali karena amal salehnya.” Mendengar itu, Abu Dzarr merapatkan kepalanya ke

tanah. Ia meminta kawannya itu menginjak kepalanya sebagai tebusan atas kepongahan ras

yang secara tidak sengaja tampak keluar dari mulutnya.

Misi Rasulullah saw itu dilanjutkan oleh para pengikutnya sepanjang sejarah. Sekali-kali

kebiasaan jahiliyah muncul, tetapi para mukmin yang saleh me-ngembalikannya lagi pada

Sunnah Nabi. Pada zaman Umayyah, misalnya, dibedakan antara orang Arab de-ngan bukan

Arab. Tetapi tradisi Umawiyyin ini tidak berbekas banyak pada kaum Muslimin. Suatu saat

para budak berhasil merebut kekuasaan dan mendirikan kerajaan Islam dengan nama

Dinasti Budak (Mamluk).

Ketika Declaration of Human Rights dikuman-dangkan, umat Islam disadarkan kembali

pada warisan mulia dari Nabi mereka. Warisan yang terkadang kita onggokkan dalam

puing-puing sejarah keemasan Islam. Simaklah bagaimana Syaikh Ja’far Subhani menu-lis

pada kalimat-kalimat terakhir bukunya, Risalah: Sejarah Kehidupan Rasulullah saw:

Beliau menegakkan hak-hak ma-nusia ketika hak-hak itu sedang diserobot; beliau

melaksanakan keadilan ketika kezali-man merajalela di mana-mana; beliau

memperkenalkan kesamaan ketika diskrimi-nasi yang tak semestinya sedang lumrah; beliau

memberikan kebebasan ketika ma-nusia sedang berkeluh kesah dalam penin-dasan,

kekejaman dan ketidakadilan.

Beliau membawa risalah yang mengajarkan manusia untuk taat dan ber-takwa kepada Allah

saja, memohon pertolo-ngan dari Dia saja. Risalahnya yang univer-sal meliputi semua aspek

kehidupan manu-sia, termasuk hak-hak, keadilan, persama-an, dan kebebasan.

Inilah risalah yang manusia, sekali lagi, telah kehilangan bimbingannya. Ma-ka,

mengapakah kita tidak datang lagi ke bawah naungannya agar umat manusia terselamatkan

dari kehancuran dan dapat mencapai kedamaian, kemajuan dan kebahagiaan. Semoga

shalawat dan salam Ilahi tercurah kepada beliau, keluarganya serta para sahabatnya.

(KH.Jalaluddin Rakhmat).

Diimensii Pariipurna Priibadii Nabii

Muhammad saw

Sesungguhnya terdapat dalam diri Rasullah saw suri teladan yang baik bagi kamu (yaitu)

bagi siapa yang mengharap (rahmat) Allah dan (kebahagiaan) hari akhir dan banyak

menyebut Allah (QS. 33:21).

Ayat ini ditujukan kepada seluruh manusia. Ini berarti bahwa semua orang dapat menemukan

pada diri Nabi Muhammad saw “ketelada-nan” yang dapat mengantar mereka memperoleh rahmat

Ilahi serta keba-hagiaan ukhrawi.

Abbas al-Aqqad dalam buku-nya Abraqiyyat Muhammad mengemu-kakan bahwa ada empat tipe

dan kecenderungan manusia, yaitu ilmu-wan, seniman, pekerja, dan yang tekun beribadah. Pada

umumnya, bila kepri-badiannya telah menonjol dalam satu aspek atau salah satu kecenderungan

ini, biasanya manusia tidak lagi menonjol dalam tipe dan kecende-rungan yang lain. Kalaupun

yang lain ada, peringkatnya jauh di bawah penonjolan yang pertama itu. Ini berbeda dengan Nabi

Muhammad saw yang mencapai puncak dalam keempat kecenderungan manusia tersebut. Dari

sini, wajar jika beliau dijadikan Allah sebagai teladan bagi seluruh manusia.

Prestasi yang dicapai Nabi itu merupakan berkat penanganan Allah secara langsung terhadap

beliau. “Allah mendidikku, maka sungguh baik pen-didikan (terhadap)-ku”. Mahaguru beliau

adalah malaikat Jibril dan materi pengajarannya adalah al-Quran. Begitu bunyi QS. 53:5. jadi,

wajar jika A’isyah menegaskan, “budi pekerti beliau adalah al-Quran.”

Ayah, suami, anak, negarawan, pemimpin masyarakat atau militer, semuanya dapat menimba

keteladanan dari sumber yang tidak pernah kering itu. Berikut kita paparkan sekilas potret

kepribadian beliau, sebagaimana ditu-turkan oleh mereka yang secara lang-sung pernah

melihatnya.

Jika berbicara, Nabi sering mengigigit-gigit bibirnya, menggeleng-kan atau menganggukkan

kepala, memukul-mukul telapak tangan kiri dengan jari telunjuknya. Agaknya ini pertanda beliau

memikirkan apa yang diucapkan sebelum terucapkan, karena beliau yakin: Tiada satu ucapanpun

yang diucapakan, kecuali ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir (mencatatnya) (QS.

50:18). Ucapannya jelas, tiada kata yang “dikunyah” sehingga tidak terdengar, juga tiada yang tak

bermanfaat. Pilihan kata-katanya sangat tepat. Lantaran ini, bahkan beliau dianugerahi “Jawâmi’

al-Kalim”, yakni kemampuan menyusun kalimat sarat makna.

Sering ucapannya diulangi tiga kali. Bukan hanya dialeknya yang sering disesuaikan dengan

mitranya, tetapi juga kandungan percakapannya. Kalimat paling buruk dari ucapan beliau adalah:

“Semoga dahinya ter-kena dari seorang yang berobat dan ingin dijatuhi sanksi.

Tertawa beliau umumnya ha-nya senyum. Kalaupun melebihi sen-yum, itu tidak sampai terbahak.

Paling-paling antara gigi taring dan gera-hamnya saja yang terlihat. Tangis dan keprihatinannya

lebih banyak daripada tertawanya. Sabdanya: “Jika kalian mengetahui apa yang kuketahui,

niscaya kalian sedikit tertawa dan banyak menangis.” Tak heran karena memang al-Quran

mengecam kaum musyrik: Apakah kalian merasa heran terhadap penberitaan ini, dan kalian

menertawakan serta tidak menangis? (QS. 53:59-60).

Ketika putranya Ibrahim wafat, beliau menangis. “Air mata berlinang, hati duka, tetapi kita tidak

berucap kecuali yang diridhai Allah. Kami dengan kepergianmu, hai Ibrahim, sungguh sedih.”

Demikian beliau melepas putra kesayangannya. Ketika Ibn Mas’ud membaca surat al-Nisa’, beliau

tekun mendengarnya. Tapi beliau meminta sahabatnya itu untuk berhenti, karena beliau tak kuasa

menahan tangisnya, ketika sampai pada firman-Nya: “Maka bagaimana-kah keadaannya apabila

Kami menda-tangkan seorang saksi dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (hai

Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu? (QS. 4:41)

Kemurahan dan kerendahan hati Nabi saw sangat menonjol. Beliau tidak menggunakan atau

menerima sedikitpun sedekah, tetapi menerima hadiah dan menganjurkan untuk saling bertukar

hadiah. Dari orang Nasrani dan Yahudi pun beliau mene-rima hadiah dan membalasnya. Raja

Mesir, al-Muqauqis, antara lain pernah memberinya hadiah keledai (baghal) yang kemu-dian

dikendarai beliau dalam pepe-rangan Hunain. Tetapi beliau meno-lak hadiah kuda dari Amir bin

Malik karena kemusyrikan-nya. “Kita tidak menerima hadiah dari musyrik,” sabda beliau. Namuan

demikian, beliau membenarkan sese-orang menerima hadiah dari keluar-ganya yang musyrik.

Asma’ putri Abu Bakar per-nah menolak hadiah ibunya yang masih musyrik. Tetapi, ketika A’isyah

saudari Asma’ dan istri Nabi mena-nyakan sikap tersebut kepada beliau, turun ayat al-Quran yang

menyatakan: Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil (memberi sebagian

dari hartamu) terhadap mereka yang tidak memerangi kamu karena agama dan tidak pula

mengusir dari negerimu…(QS. 60:8)

Jadi setelah turun ayat ini, Rasul membolehkan umatnya menerima hadiah sekalipun dari seorang

musyrik.

Walau demikian, Raul saw mewanti-wanti pejabat yang menerima hadiah, jangan sampai di

belakang hadiah itu terdapat motif yang ti-dak lurus. “Apakah bila duduk di rumah ibunya (tidak

menjabat), ia di-beri pula hadiah itu?”

Beliau enggan dipuji, baik pujian pada tempatnya, apalagi bu-kan pada tempatnya. Dua orang

penyanyi mendendangkan lagu menyebut-nyebut syu-hada perang badar. Ketika mereka bersyair,

“Ada Nabi di sisi kami menge-tahui yang terjadi esok”, Nabi menegur mereka: “Yang demikian

jangan diu-capkan.”

Tak bisa disangkal bahwa beliau adalah semulia-mulia nabi. Namun, ketika seorang memanggil

beliau de-ngan ucapan “Ya, Khairal-bariyyah” (wahai, manusia terbaik), beliau mene-gurnya

sambil berkata: “Panggilan itu untuk Nabi Ibrahim.” Dan meski Allah menyatakan bahwa Rasulrasul

itu kami muliakan sebagian mereka atas sebagian yang lain (QS. 2:253),

Nabi saw menegaskan seba-gaimana diriwayatkan oleh Bukhari: “Jangan pilah-pilah kebaikan

para nabi.” Ini, tentunya, agar tidak menim-bulkan kesan negatif terhadap sese-orang di antara

sikap merendahkan mereka atau tidak beriman kepada kenabian mereka. Bu-kankah Allah mengajar-

kan Muslim untuk ber-ucap Kami tidak membe-dakan antara seorang pun dengan yang lain

dari ra-sul-rasul-Nya (QS. 2:285).

Nabi saw sangat sayang kepada anak-an-ak. Beliau mengucap kan salam kepada mereka sam-bil

menyapanya. Bahkan boleh jadi menggendongnya. Ketika seorang anak pi-pis di pangkuan

beliau, pengasuhnya merebut sang anak dengan kasar. Maka beliau mene-gurnya: Biarkan dia

pipis. Ini (sambil menunjuk pakaian beliau yang basah) dapat dibersihkan dengan air. Tetapi apa

yang dapat menjernihkan kekeru-han hati anak ini akibat renggutan yang keras?”

Keramahan dan kasih sayang beliau mencakup segala orang. “Kasi-hanilah petinggi satu kaum

yang jatuh hina,” demikian sabdanya.

Ketika seseorang begitu takut dan gemetar menghadap beliau, beliau menenangkan orang itu

sambil me-ngingat jasa ibunya: “Aku tidak lain adalah anak seorang wanita suku Quraisy yang

memakan dendeng.” Sebagai penghormatan kepada orang lain, beliau mengulurkan tangan

terlebih dahulu untuk bersalaman. Beliau menoleh dengan seluruh ba-dannya, menunjuk dengan

seluruh jarinya, dan tidak terlihat meluruskan kaki sambil duduk di tengah sahabat-nya. Beliau

memanggil mereka dengan panggilan mesra atau panggilan peng-hormatan, yakni dengan kunyah

(kata yang didahului oleh “Abu” atau “Umnu”).

Beliau tidak pernah memotong pembicaraan seseorang. Dan, kalau menegur, tidak menyebut

nama yang ditegurnya. “Mengapa ada yang mela-kukan ini dan itu,” begitu ucapnya. Ketika salah

seorang “keluar angin” di pesta makan, dan setelah itu shalat segera akan dimulai, beliau tidak

berkata: “yang keluar angin silakan berwudhu.” Beliau cukup mengatakan: “siapa yang makan

daging unta, hen-daklah dia berwudhu.” Namun sab-danya ini disalahpahami oleh ulama yang

tidak mengetahui latar belakang-nya sehingga menduga bahwa makan daging unta membatalkan

wudhu. Padahal tidak demikian.

Kesadaran beliau akan tidak hidup untuk duniawi sungguh menon-jol. Unta beliau dikenal sangat

laju, tidak terkejar oleh unta lain. Tapi suatu ketika unta itu terkalahkan. Para sahabat pun kecewa

sehingga beliau mengingatkan: “Telah menjadi kete-tapan Tuhan, tidak sesuatupun yang

ditinggikan-Nya, kecuali suatu ketika ia akan turun dari ketinggian itu.”

Demikian sekelumit kepriba-dian Nabi Muhammad saw yang tak pernah habis untuk diuraikan.

Semoga shalawat dan salam Ilahi tercurah kepada beliau, keluarganya serta para sahabatnya.

Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. _ Semoga bermanfaat

Anda ingin menjadi DA’I SEJUTA E-MAIL, tolong anda kirimkan artikel ini kepada sesama muslim, baik keluarga, sahabat dan

siapapun yang anda kenal atau silakan cetak untuk bacaan keluarga di rumah. Terima kasih

Billahit-taufiq wal-hidayah

Wassalamualaikum wr.wb

Imam Puji Hartono

NCA Div-AMC -BPPN

E-MAIL : imam@bppn.go.id

“Utamakan SELAMAT dan SEHAT untuk duniamu, Utamakan SHOLAT dan ZAKAT untuk akhiratmu”

—————————————————————-

The information transmitted is intended only for the person or entity to which it is addressed and may contain confidential and/or privileged

material. Any review, retransmission, dissemination or other use of, or taking of any action in reliance upon, this information by persons or

entities other than the intended recipient is prohibited. If you received this in error, please contact the sender and delete the material from any

computer.

 

About suaidinmath

Mohon kontribusi untuk menambal retak dan menambah langkah kesempurnaan tulisan ini ...

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Hari ini

September 2013
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Statistik Blog

  • 1,758,171 hit

Arsip blog

Award Blog Pendidikan 2012

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 259 pengikut lainnya

Dunia Pendidikan

Teratas

RSS Republika online

  • Andik: Melawan Vietnam Menguras Tenaga 3 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Pemain sayap Tim Nasional Indonesia, Andik Vermansyah mengaku sangat senang dan puas bisa mengalahkan Timnas Vietnam dengan skor 2-1. Dia mengatakan kemenangan pada putaran pertama babak...
    Andi Nur Aminah
  • Koeman Ingin Pemainnya Tunjukkan Kekuatan Melawan MU 3 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, LONDON – Pelatih Everton, Ronald Koeman mengatakan para pemainnya harus menunjukkan kekuatan dan komitmen mereka dalam beberapa pekan mendatang. Hal tersebut dimulai dari pertandingan pada Ahad malam (4/12) melawan...
    Israr Itah

RSS educatinalwithptk

newsalloy

NewsAlloy button

MUSIK

suara Edukasi

 

 http://radioedukasi.com/modules/mod_miniradio/mod_miniradio.swf

suara_edukasi

RADIO EDUKASI

Live Streaming AM 1251 kHz

Silahkan unduh produk audio radio Suara edukasi

[KLIK DISINI]

Zaimuttpjok/tik

BERBAGI INFORMASI PENDIDIKAN DAN KISAH HIDUP

isti

Berilah makan keyakinanmu niscaya keraguanmu mati kelaparan

ANNISA USH SHOLIHAH

ALL ABOUT CHEMIS_3 (sharing for carring)

Dinas Dikpora Kab. Dompu

Ikhlas Mendidik Untuk Martabat Bangsa dan Negara

Vox Populi

Vox Populi: A Public Sphere for Politics and Poetry

Architecture Here and There

Style Wars: classicsm vs. modernism

Stories From the Belly

A Blog About the Female Body and Its Appetites

mywordpool

"Words - so innocent and powerless as they are, as standing in a dictionary, how potent for good and evil they become in the hands of one who knows how to combine them." ~Nathaniel Hawthorne

Fusion

Championing a young, diverse, and inclusive America with a unique mix of smart and irreverent original reporting, lifestyle, and comedic content.

Whatever

LET ME STEAL THIS MOMENT FROM YOU NOW

rachel eats

stories, pictures and cooking tales from an english woman living in rome.

y

what it comes down to

tangerine drawings

scribbles and recipes from a pastry chef in paris

Extra Dry Martini

Straight up, with a twist.

Gravity and Levity

A blog about the big ideas in physics, plus a few other things

love.life.eat

living a mindful life

%d blogger menyukai ini: