//
you're reading...
Pendidik

Menuju Etos Pengembangan Profesi Keguruan Matematika melalui Supervisi Klinis

  oleh: Turmudi

Universitas Pendidikan Indonesia

Pengantar

            Pengembangan profesi guru dalam pembelajaran matematika merupakan salah satu usaha yang tujuan akhirnya meningkatkan prestasi belajar siswa. Supervisi klinis yang juga merupakan bagian dari kegiatan pengembangan profesi guru adalah upaya saling menguntungkan (mutually benefite) antara seorang guru dan suporvisor (pengawas dan/atau kepala sekolah). Artikel ini bertujuan membahas upaya pengembangan profesi keguruan dalam pembelajaran matematika dan supervisi klinis untuk merangsang para guru untuk secara terbuka bersama-sama supervisor dan atau kepala sekolah meningkatkan kemampuan membelajarkan siswa.

Pengembangan profesi Keguruan

            Pengembangan profesi guru matematika di sekolah dalam beberapa dekade ke belakang telah dianggap sangat penting, sebab telah cukup dikenal bahwa praktek pembelajaran matematika tidak akan berubah secara substansial tanpa ada perubahan yang radikal pada pendidikan pre service dan pendidikan in-service.

            Beberapa permasalahan misalnya rendahnya apresiasi masyarakat seperti yang ditunjukkan oleh kecilnya minat para mahasiswa calon guru terhadap matematika dan IPA, …belum adanya kemampuan untuk menyuguhkan dan membawa proses pembelajaran matematika dan IPA yang menarik bagi peserta didik, …adopsi bukannya ke arah inovasi dan invensi sehingga nilai-nilai manfaat dari matematika dan IPA menjadi kurang menonjol (Pusposutardjo, 1999) telah ikut serta memberikan kontribusi terhadap rendahnya outcome pendidikan di tingkat sekolah. Daya serap para guru kita dalam matematika yang hanya mencapai 67% (Manan, 1998) dan masih banyaknya para guru yang belum memenuhi kualifikasi minimum juga merupakan kontribusi lain terhadap rendahnya hasil pendidikan yang perolehan NEM siswa hanya berkisar antara 4.00 – 5.00 dalam skala 10 untuk rentang waktu yang cukup panjang (Akbar, 1998).  

            Berbagai publikasi dan penetapan kebijakan pemerintah seperti halnya penetapan Kurikulum Berbasis Kompetensi (Depdiknas, 2004) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran (2006) serta publikasi-publikasi international (AAAS, 1993; NCTM, 1991; NCTM, 2000; A National statement on Mathematics for Australian Schools, 1990) telah mengumandangkan sejumlah visi reformasi khususnya dalam bidang pembelajaran matematika, walaupun kenyataan di lapangan tidaklah menjadi mudah dan sederhana.   Dengan publikasi Principles and Standards for School Mathematics (NCTM, 2000) muncul suatu pertanyaan “Bagaimana memberikan dorongan yang sederhana dan praktis bagi para guru di lapangan (di kelas) dalam menerapkan agenda-agenda innovasi agar diperoleh hasil yang optimal?”  

Satu dari premis utama dari laporan Glenn (Dept. of Education US, 2000) bahwa “pembelajaran matematika yang lebih baik  adalah jantung dari pada perubahan… dan pengembangan profesi guru yang efektif tak dapat dipisahkan dari pembelajaran matematika yang berkualitas” (Farmer, Gerretson, & Lassak, 2003).

Telah diketahui bagaimana efektivitas dari model pengembangan staf. Penelitian Stalling misalnya mengidentifikasi sejumlah factor kritis yang memfasilitasi kesuksesan sebuah program. Spark & Louck-Horsley (1990) telah membuat ringkasan tentang praktek pengembangan profesi (keguaruan) yang efektif sebagai berikut:

(1) program dilaksanakan dalam konteks sekolah dan dikaitkan dengan usaha sekolah yang lebih luas.

(2) guru-guru peserta saling membantu dan menjadi perencana bersama para administrator dalam aktivitas inservice training

(3) menekankan pada membelajaran dengan pengembangan diri.

(4) guru-guru berperanserta aktif memilih tujuan dan aktifitas mereka sendiri

(5) menekankan kepada demonstrasi, percobaan-percobaan tersupervisi, dan umpan balik training yang kongkrit serta proses yang berkesinambungan.

(6) bantuan (supervisi) secara terus menerus dan support (dukungan) selalu ada manakala diminta.

Namun demikian baik disadari ataupun tidak disadari bahwa tak ada cara mengajar yang paling baik untuk segala keadaan dan untuk semua guru (Nisbet, 1985) karenanya diperlukan cara-cara yang efektif sehingga pembelajaran matematika lebih meningkat dibanding pembelajaran sebelumnya.

Pengembangan profesi merupakan bagian dari pendidikan seumur hidup dan penting dalam pengembangan karir seorang guru. Pengembangan profesi guru dapat dipandang sebagai refreshing dan peningkatan ‘kekuatan’ guru untuk mampu belajar tentang bagaimana ‘membelajarkan’ siswa dengan matematika.

Menurut Crawford and Adler (1996, p.1187) pengetahuan para guru diperoleh melalui dua cara: (1) melalui penetapan pendidikan praktis yang keduanya berupa produk dan peserta. dan (2) melalui usaha mereka untuk mendukung pengetahuan siswa mereka sebagaimana mereka memilih peran sebagai guru. Crawford and Adler(1996) menambah-kan, “Learning may be experienced through investigation and inquiry, through reading about someone else’s research, or through being taught” (p.1189). Namun guru perlu waktu untuk belajar dan mengembangkan praktek/cara pembelajaran ‘baru’, karenanya kesesuaian dan pengembangan profesi secara terus menerus adalah krusial dan penting bagi guru.

Dalam kaitan pembelajaran di kelas dengan kegiatan pengembangan profesi Shiu and Hatch (2005) mencatat bahwa “Pembelajaran di kelas sering dipandang sebagai aktivitas yang terisolasi namun banyak kegiatan pengembangan profesi dengan cara kontak dengan guru-guru lain, dengan kepala sekolah, atau dengan kegiatan supervisi serta dengan pengalaman-pengalaman mereka. Kadang-kadang dengan kontak langsung, dan di waktu lain dengan cara membaca kembali tulisan-tulisan mereka atau melalui nonton video dan audio tape praktek pembelajaran matematika” (p.246).

Melalui kontak dengan orang lain, guru-guru dapat membangun pengetahuannya berdasarkan pengalaman-pengalaman guru lainnya, melalui refleksi pengalamannya. Metode baru dapat  diujicobakannya sendiri di kelas sendiri. Dengan melalui kontak seperti ini sangatlah mungkin untuk mendapatkan dorongan personal dan simpati konstruktif untuk memperoleh umpan balik yang kritis tentang gagasan-gagasan mereka (Shiu & Hatch, 2005, p.246). Anderson and White (2003) menambahkan bahwa untuk sekelompok guru yang diamati, “refleksi guru-guru dan keterlibatannya dalam kesempatan pengembangan profesinya tampak menjadi pemercepat suatu perubahan” (p.130).

Program-program pengembangan profesi difokuskan untuk membantu guru memperbaiki praktek pembelajaran mereka melalui pengembangan pengetahuan pedagogi dan ketrampilan. Dalam melaksanakan program-program pembaharuan seorang guru perlu memiliki supervisor yang dapat berupa Kepala Sekolah atau pengawas (bidang studi) yang diharapkan dapat membantu tugas-tugas guru melaksanakan profesinya.

Supervisi Klinis

Supervisi berasal dari kata super dan vision, artinya “melihat sesuatu di mana subjek berada dalam keadaan lebih” Kimball Willes mengemukakan, “Supervision is assistance in the development of better teaching learning situation”. “Supervisi adalah proses bantuan untuk meningkatkan situasi belajar-mengajar agar lebih baik”. Klinis berasal dari kata clinic yang berarti “balai pengobatan atau suatu tempat untuk mengobati berbagai jenis penyakit yang ditangani oleh tenaga yang profesional”.

  Dengan demikian, supervisi klinis adalah proses bantuan untuk mengatasi masalah-masalah yang berkaitan dengan peningkatan proses belajar-mengajar agar lebih baik. Menurut Waller supervisi klinis adalah supervisi yang difokuskan pada perbaikan pembelajaran dengan menjalankan siklus yang sistematis dari tahap perencanaan, pengamatan dan analisis intelektual yang intensif terhadap proses pembelajaran yang sebenarnya dengan tujuan modifikasi yang rasional. Sedangkan menurut Keith Acheson dan Meredith D’ Gall mendefinisikan bahwa “Supervisi klinis adalah proses membantu guru memperkecil jurang antara tingkah laku mengajar nyata dengan tingkah laku mengajar yang ideal”.

Supervisi klinis merupakan alat bantu bagi para guru guna meningkatkan profesionalismenya dalam melaksanakan tugas. Sehubungan dengan fungsi itu, kepala sekolah harus menjadi fasilitator, mediator, planner, dan observer. Kepala sekolah (dan atau pengawas, termasuk pengawas bidfang studi) dituntut menentukan, memahami, menghayati, dan menjabarkan tujuan supervisi klinis secara jelas, applicable (dapat dilaksanakan), observable (dapat diobservasi), dan measurable (dapat diukur).

Berkaitan dengan supervisi klinis ini, perlu diperhatikan prinsip-prinsip dalam menjalankan supervisi, yaitu:

  • Bimbingan kepada guru dalam pembelajaran matematika bersifat bantuan, bukan perintah atau instruksi.
  • Hubungan supervisor dengan pelaksana program pembelajaran (guru) matematika bersifat kolegial dan interaktif.
  • Supervisi bersifat demokratik; kedua belah mengemukan pendapat secara bebas, tetapi keduanya berkewajiban mengkaji pendapat pihak lain untuk mencapai kesepakatan.
  • Supervisi berlangsung dalam suasana intim dan terbuka.
  • Dalam pelaksaan supervisi, masing-masing pihak harus mengutamakan tugas dan tanggung jawabnya.
  • Balikan diberikan dengan segera dan objektif.
  • Balikan harus bermanfaat untuk peningkatan pelaksanaan program pembelajaran matematika.

Tujuan umum supervisi klinis adalah untuk meningkatkan keterampilan mengajar guru secara profesional.  Adapun tujuan khusus dari supervisi klinis adalah:

1.   Mendiagnosis  secara cepat  dan  tepat tentang masalah-masalah yang terjadi.

2.   Membantu para guru dalam mengembangkan profesionalismenya.

3.   Menumbuh-kembangkan sikap positif, dinamis, dan kritis guru terhadap

profesionalismenya.

4.   Untuk memperoleh umpan balik tentang kemampuan/kompetensi guru dalam

menjalankan tugasnya.

Terdapat beberapa model pendekatan yang dapat dilakukan dalam proses supervisi klinis, yaitu pendekatan direktif, pendekatan non direktif dan pendekatan perpaduan antara direktif dan non direktif.

1.      Pendekatan direktif (direct  approach): Kepala Sekolah langsung melakukan supervisi klinis terhadap guru yang dikontrol.

2.      Pendekatan nondirektif (non-direct approach):  Guru meminta kepada Kepala Sekolah untuk dikontrol.

3.      Pendekatan elektif perpaduan antara dua pendekatan di atas.

Langkah-langkah yang dapat diambil oleh supervisor harus sistematis dan pragmatis:

1.   Tahap pertemuan pendahuluan (planning conference):

a.       Saling mengerti yang mendalam (mutually understanding),

b.      Suasana akrab (intimizad),

c.       Menumbuhkan rasa saling percaya,

d.      Tentukan  jenis  yang  akan dikontrol,

e.       Pergunakan  instrumen  yang tepat,

2.   Tahap pengamatan (observation classroom):

a.       Guru melaksanakan komponen-komponen yang dikontrol,

b.      Supervisor melakukan observasi,

 3.   Tahap pertemuan balikan (feed back conference):

a.       Supervisor melakukan analisis pendahuluan,

b.      Supervisor bertanya tentang perasaan dan kesan umum kepada guru ketika diamati,

c.       Mereview target yang telah disepakati,

d.      Supervisor menunjukkan data hasil supervisi,

e.       Bersama-sama menafsirkan data yang ditunjukkan supervisor,

f.        Bersama-sama menyimpulkan data,

g.       Bersama-sama berusaha memperbaiki hal-hal yang perlu ditingkatkan,

h.       Kepala Sekolah (supervisor) memberikan’ motivasi dan rekomendasi.

Adapun tempat yang dapat dipilih untuk supervisi, bisa di dalam kelas atau di ruangan micro teaching.

Syarat yang harus dimiliki oleh kepala sekolah sebagai supervisor klinis meliputi segi pribadi dan fisik, serta kemampuan. Hal ini karena supervisor harus memiliki kelebihan (super) dari orang yang dikontrolnya walaupun relatif. Syarat-syarat itu di antaranya yang berikut:

1.      Menguasai hal-ikhwal  supervisi klinis.

2.      Objektif dalam melakukan supervisi.

3.      Komprehensif (berwawasan luas).

4.      Teliti dalam melakukan tindakan.

5.      Sistematis dalam bekerja.

6.      Siap melayani guru yang dikontrol.

7.     Sabar menghadapi permasalahan dengan terus berupaya memecahkan masalah tersebut.

8.      Kooperatif, mampu bekerja sama dengan guru yang dikontrol.

9.      Percaya diri (self-confidene).

10.  Mampu mengambil keputusan secara cepat dan tepat.

11.  Humoris

Sedangkan syarat guru yang dikontrol dalam supervise klinis antara lain:

1.      Kesediaan dan terbuka (open minded).

2.      Objektif dalam melihat permasalahan.

3.      Berfikir dalam melihat permasalahan.

4.      Mempunyai motivasi untuk berprestasi.

5.      Berwawasan luas.

6.   Kesiapan untuk dibantu/ dikontrol.

 

Penutup

Dengan uraian di atas diharapkan guru-guru memiliki kesadaran untuk berubah menuju kearah perbaikan dengan meluangkan kesediaan dan keterbukaan untuk bekerjasama dengan berbagai unsur termasuk kepala sekolah dan para pengawas (pembelajaran).

Kesediaan guru meningkatkan kemampuannya dalam proses pembelajaran matematika dengan mengikuti berbagai kegiatan pengembangan profesi keguruan merupakan sikap positif yang yang perlu ditingkatkan secara terus menerus, namun sikap keterbukaan guru dan kemauan guru untuk bekerja sama dalam kegiatan supervisi klinis jauh lebih penting. Sehingga akan terjadi kemampuan mengajar para guru yang semakin baik yang gilirannya akan meningkatkan prestasi belajar siswa.

——————————————————-

Kepustakaan:

(*) Disajikan dalam pelatihan Bimbingan Teknis Supervisi Klinis Bagi Pengawas, 19 s/d 22 Juni 2007 di Sawangan, Depok. Bogor.

(**) Drs. Turmudi, M.Ed., M.Sc., Ph.D. adalah staf pengajar pada Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

(email: turmudiah@hotmail.com; HP: 081 320 140 361).

About suaidinmath

Mohon kontribusi untuk menambal retak dan menambah langkah kesempurnaan tulisan ini ...

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Hari ini

Februari 2013
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728  

Statistik Blog

  • 1,762,190 hit

Arsip blog

Award Blog Pendidikan 2012

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 259 pengikut lainnya

Dunia Pendidikan

Teratas

RSS Republika online

RSS educatinalwithptk

newsalloy

NewsAlloy button

MUSIK

suara Edukasi

 

 http://radioedukasi.com/modules/mod_miniradio/mod_miniradio.swf

suara_edukasi

RADIO EDUKASI

Live Streaming AM 1251 kHz

Silahkan unduh produk audio radio Suara edukasi

[KLIK DISINI]

Zaimuttpjok/tik

BERBAGI INFORMASI PENDIDIKAN DAN KISAH HIDUP

isti

Berilah makan keyakinanmu niscaya keraguanmu mati kelaparan

ANNISA USH SHOLIHAH

ALL ABOUT CHEMIS_3 (sharing for carring)

Dinas Dikpora Kab. Dompu

Ikhlas Mendidik Untuk Martabat Bangsa dan Negara

Vox Populi

Vox Populi: A Public Sphere for Politics and Poetry

Architecture Here and There

Style Wars: classicsm vs. modernism

Stories From the Belly

A Blog About the Female Body and Its Appetites

mywordpool

"Words - so innocent and powerless as they are, as standing in a dictionary, how potent for good and evil they become in the hands of one who knows how to combine them." ~Nathaniel Hawthorne

Fusion

Championing a young, diverse, and inclusive America with a unique mix of smart and irreverent original reporting, lifestyle, and comedic content.

Whatever

LET ME STEAL THIS MOMENT FROM YOU NOW

rachel eats

stories, pictures and cooking tales from an english woman living in rome.

y

what it comes down to

tangerine drawings

scribbles and recipes from a pastry chef in paris

Extra Dry Martini

Straight up, with a twist.

Gravity and Levity

A blog about the big ideas in physics, plus a few other things

love.life.eat

living a mindful life

%d blogger menyukai ini: