//
you're reading...
Pendidik

Tahun 2013 , Menghantui Para Guru Keluar dari Zona Nyaman.

418808_185054571603596_100002971630181_296672_920167239_nTAHUN 2013 agaknya seperti “hantu” bagi para guru. Bagaimana tidak? Pada tahun itulah akan mulai diberlakukan peraturan baru tentang jabatan fungsional dan angka kredit guru yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Permenpan & RB) Nomor 16 Tahun 2009.

Kalau dihitung dari logika waktu, peraturan menteri itu sebenarnya sudah siap dilaksanakan karena terbit empat tahun lalu, namun ternyata banyak guru yang belum pernah membacanya. Memang bagaimana memahami dan siap melaksanakan jika membaca saja belum?

Dalam Permenpan itu disebutkan, agar menjadi profesional maka guru harus melakukan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB), antara lain dengan mengembangkan diri, membuat publikasi ilmiah, dan karya inovatif. Para guru tidak akan bisa naik pangkat kalau tidak melakukan PKB. Lalu mengapa 2013 bakal menjadi “tahun hantu”, ditandai dengan banyaknya guru yang resah karena Permenpan tersebut?

Umumnya, mereka tidak biasa mendokumentasikan semua kegiatan pembelajaran, padahal sebenarnya hal itu merupakan bagian dari pengembangan profesinya. Banyak guru yang “malas” menuliskan kegiatan pembelajaran, sehingga karya-karya ilmiah dan publikasi ilmiahnya tidak terdokumentasikan dengan baik. Banyalk guru yang sudah melaksanakan oembelajaran kreatiff, inovatif, dan menyenagkan di kelas, namun tidak sedikit yang tidak bisa menuangkannyan dalan sebuah tulisan ilmiah.

Berdasarkan  pengalaman saya memberi pelatihan dan pembimbingan teknis tentang Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) termasuk didalamnya PTK dan Pengembangn diri bagi guru dan kepsek di Kabupaten Dompu , lebih dari 90 persen guru berpikir dengan logika terbalik. Mereka baru tergerak untuk membuat publikasi ilmiah ketika “merasa butuh naik pangkat”, padahal mestinya publikasi itu disiapkan setiap saat dalam kapasitas mereka sebagai guru profesional. Kemudian hasil publikasi tersebut didokumentasikan, ditulis sebagai karya ilmiah, dan baru diberi penghargaan angka kredit untuk naik pangkat.

Pola pikir “membuat karya ilmiah atau publikasi ilmiah kalau mau naik pangkat” itulah yang rupanya menjadi salah satu penyebab mengapa guru-guru kita belum profesional. Logika terbalik inilah yang membuat banyak guru berhenti di golongan ruang kepangkatan IV-A, karena peraturan lama untuk naik pangkat dari III-A ke atas tidak mensyaratkan guru harus membuat karya ilmiah atau publikasi ilmiah.

Dengan peraturan yang baru, yakni Permenpan & RB Nomor 16 Tahun 2009, untuk kenaikan pangkat mulai III-B ke atas guru harus membuat karya ilmiah dan karya inovatif. Saya khawatir, jangan-jangan ke depan para guru banyak yang berhenti di golongan ruang pangkat III-B karena “malas” membuat karya ilmiah. Kalau itu yang terjadi, maka gagallah tujuan pemerintah untuk mendorong guru menjadi lebih profesional. Selama pola pikir dengan logika terbalik ini belum diluruskan, tentu sulit mencetak guru yang profesional.

Lebih dari 80 persen guru yang saya tanya di setiap pelatihan menjawab, “malas menuliskan kegiatan pembelajran yang dilakukan”. Selebihnya menjawab “belum pernah tahu cara membuat karya ilmiah”.

Saya mencatat banyak guru yang sudah melakukan berbagai inovasi dalam pembelajaran, entah itu pada metode, media, atau model pembelajaran interaktif lain. Hanya persoalannya, mereka tidak menuliskan langkah-langkah, persiapan, dan pelaksanaannya, sehingga tidak ada dokumentasinya. Padahal jika mau menuliskan, para guru akan mempunyai karya ilmiah yang bagus, dan itu bisa dihargai dengan angka kredit untuk kenaikan pangkat. Ketika merasa “dioyak-oyak” untuk naik pangkat, barulah banyak yang “kelabakan” untuk menulis karya ilmiah.

Berdasarkan data yang diperleh peneliti ketika melakukan pembinaan maupun supervisi akademik di 36 SMA/SMK Kabupaten Dompu yang tersebar di 8 ( delapan ) wilayah  kecamatan pada tahun 2011/2012 diperoleh data sebagai berikut :

Tabel 1.1 Data Guru SMA/SMK Golongan IV/b Per-April  2012

Jenjang

Jumlah

Guru

Melaksnakan

PTK/PTS

Usul

Ke-IV/b

Golonag IV/b

SMA

840

16

1

0

SMK

324

10

1

0

PENGAWAS

32

20

12

4

Jumlah

1.196

46

14

3

Porsenrase

0.04

0.01

0.003

Sumber :Data Pengawas Dikpora Kab.Dompu ( 1 Juni 2012)

Masalah yang mendasar pada penelitian ini adalah rendahnya minat dan kemampuan guru melaksanakan PTK. Salah satu  yang diduga menjadi penyebab rendahnya minat dan kemapuan guru melaksanakan PTK adalah berawal dari masih rendahnya kemapuan guru merencanakan dan melaksanakan pembelajaran yang kontestual secara konsisten di kelas serta krangnya kesmpatam mereka mendapatkan pendalaman materi pelatihan pembelajaran berbasis CTL atau pembelajaran inovatif secara merasata untuk semua guru,  yang pada akhirnya proses pembelajaran bersifat konvensional, monoton dan terkesan guru hanya “asal menjalankan tugas” saja. Akibatnya  akan memberikan dampak yang cukup tinggi terhadap kulalitas pembelajaran serta prestasi dan hasil belajar siswa .

 Memang PTK bukanlah satu-satunya faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam proses pembelajaran, namun demikian PTK juga memiliki konstribusi yang cukup di dalam Proses Belajar Mengajar. Karena melalui PTK guru bisa berinovasi dalam Proses Belajar Mengajar di kelas. Melalui kegiatan PTK, guru bisa merencanakan Proses Belajar Mengajar yang lebih baik melalui hasil refleksi dari kegiatan Proses Belajar Mengajr  yang telah dilakukan. Untuk mewujudkan hal tersebut guru harus dibekali dengan kemampuan meneliti, khususnya Penelitian Tindakan Kelas.

Rendahnya minat dan kemampuan guru melaksanakan PTK  tersebut merupakan tanggung jawab bersama pengelola pendidikan. Pengawas sebagai supervisor turut bertanggung jawab untuk melakukan upaya-upaya peningkatan kinerja guru sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan proses dan  hasil belajar siswanya.

Sebagai gambaran data refksi awal berdasarkan angket instrument minat dan kemapuan PTK terhadap 165 guru dari 1 SMP , 2 SMA dan 2 SMK binaan    sebagai berikut :

Tabel 1.2 Hasil Evaluasi Diri Guru Dalam Pembelajaran  inovatif

No.

Instrumen

Jawaban responden

Prosentase

1. Memahami pembelajaran inofatif
  1. memahami

0.2414

  1. memahami sebagian

0.1724

  1. Belum memahami

0.3448

  1. Tidak memahami

0.2414

2. Pernah melaksanakan Pembelajaran inovatif
  1. Pernah

0.17241

  1. Belum pernah

0.2414

  1. Tidak pernah

0.5862

  1. Tidak berminat

0

3. Mengetahui pentingnya Pembelajaran inofatif
  1. Tahu

0.2414

  1. Tahu  sebagian

0.2759

  1. Belum tahu

0.4828

  1. Tidak tahu

0

4. Mengetahui prinsip-prinsip pembelajaran inofatif
  1. Tahu

0.1379

  1. Tahu sebagian

0.3103

  1. Belum tahu

0.4828

  1. Tidak tahu

0

Tabel 1.3 Hasil Evaluasi Diri Guru Dalam Menyusun  PTK

No.

Instrumen

Jawaban responden

Prosentase

1. Memahami penelitian tindakan kelas
  1. memahami

0.1724

  1. memahami sebagian

0.1724

  1. Belum memahami

0.3793

  1. Tidak memahami

0.2759

2. Pernah melaksanakan penelitian tindakan kelas
  1. Pernah

0.10345

  1. Belum pernah

0.2069

  1. Tidak pernah

0.6897

  1. Tidak berminat

0

3. Mengetahui pentingnya penelitian tindakan kelas
  1. Tahu

0.1724

  1. Tahu  sebagian

0.3103

  1. Belum tahu

0.66

  1. Tidak tahu

0.5172

4. Mengetahui prinsip-prinsip penelitian tindakan

kelas

  1. Tahu

0.069

  1. Tahu sebagian

0.2759

  1. Belum tahu

0.6552

  1. Tidak tahu

0

Berdasarkan analisa instrumen Evaluasi Diri peserta sebelum mendapat bimbingan , dapat disimpulkan bahwa guru banyak yang belum melaksanakan pembelajaran CTL dan belum pernah melaksanakan PTK ( penelitian tindakan kelas). Tetapi guru–guru sebagian besar kurang berani menyatakan tidak tahu atau tidak memahami tentang penelitian tindakan kelas. Alasan sementara yang diperoleh berdasarkan wawancara masih banyak guru yang belum mengenal model-model pembelajarn PAKEM atai CTL , karena mereka terbiasa dengan RPP adopsi atau Revisi seadanya yang sarat dengan metode ceramah  dan tanya jawab

Berdasarkan uraian di atas, maka pengembangan penelitian tindakan kelas ini sangat penting untuk dikuasai oleh para pengawas dan guru sebagai praktisi pembelajaran di kelas. Guru  sebagai  tenaga  pendidik  memegang  peranan  penting  dalam  upaya  mencerdaskan  bangsa,  karena  itu berbagai kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan mutu, penghargaan, dan kesejahteraannya telah dan akan terus dilakukan dengan harapan agar para guru tersebut mampu bekerja secara professional dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya sebagai tenaga pendidik. Dalam hal ini peran pengawas pembina dan pembimbing para guru tentu sangat dibutuhkan. Pengawas tidak hanya berperan sebagai resources person atau konsultan, bahkan secara kolaboratif dapat bersama-sama  dengan guru melakukan tindakan kelas bagi peningkatan pembelajaran.   “Melalui Pembinaan Kerja Kelompok Terbimbing (BIJALOMBING)” diharapkan  minat dan kemampuan  guru  dalam  melakukan  PTK  dapat  ditingkatkan.  Jadi  dalam penelitian   ini  ingin  meningkatkan  minat kemampuan  guru  dalam  menyusun  proposal, melakukan, dan membuat laporan PTK, sedangkan tindakan yang akan dilakukan adalah melalui BIJALOMBING

Tak jarang saya juga menemukan berbagai hasil karya ilmiah guru yang dibuat dengan sistem SKS alias “Sistem Kebut Semalam” yang barang tentu hasilnya tidak maksimal. Sebagai fasilitator yang sering meberikan pelatihan penelitian kelas di sekolah maupun di tingkat kabupaten , saya banyak menemukan hasil karya ilmiah guru “hanya copy paste” dari karya ilmiah guru yang lain. Pola-pola demikian ini merebak, karena para guru masih berpikir dengan logika “membuat karya ilmiah kalau mau naik pangkat”.

Apakah pemerintah pusat , maupun daerah tidak melakukan pembinaan, sosialisasi, dan pelatihan secara intensif? Tentu saja sudah, dan saya termasuk yang terlibat dalam upaya itu, mulai tingkat SD saampai SMP/Mts,SMA/MA dan SMK , , dalam rentang waktu dan intensitas yang menurut saya memadai. Namun harus disadari kemampuan guru memang sangat heterogen. juga menjadi kendala.

Lalu apa yang bisa dilakukan oleh guru? Mulailah keluar dari zona nyaman. Marilah kita menjadi guru yang haus informasi, selalu tergerak untuk berpikir out of the box. Guru harus mau dan rajin membuka internet, karena berkat kemajuan teknologi akses ini menjangkau ke seluruh pelosok wilayah.

Mengapa harus internet? Karena semua peraturan dan materi tentang pengembangan guru, kepala sekolah, dan pengawas sudah diunggah dalam website yang bisa diunduh kapan saja di mana saja. Termasuk Permenpan & RB Nomor 16 Tahun 2009 yang lengkap dengan petunjuk, cara membuat, dan sistematika masing-masing karya ilmiah untuk guru. Persoalannya hanya tinggal “mau, atau tidak maukah guru keluar dari zona nyaman”?

Dunoad materi :Download Artikel

About suaidinmath

Mohon kontribusi untuk menambal retak dan menambah langkah kesempurnaan tulisan ini ...

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Hari ini

Februari 2013
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728  

Statistik Blog

  • 1,760,511 hit

Arsip blog

Award Blog Pendidikan 2012

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 259 pengikut lainnya

Dunia Pendidikan

Teratas

RSS Republika online

  • Ribuan Muslim Semarakkan Morowali Mengaji 6 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, MOROWALI—Ribuan jamaah umat Islam larut melantunkan ayat-ayat suci Alquran dalam Morowali Nusantara Mengaji.  Acara yang dimotori dan digagas oleh Bupati Morowali, Anwar Hafiz dalam rangka HUT Kabupaten ke-17 ini...
    Nasih Nasrullah
  • Ini Alasan Mantan Ketua DPR Akom Ingin 'Melawan' Putusan MKD 6 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mantan Ketua DPR Ade Komarudin, akan melakukan langkah-langkah terhadap keputusan MKD, yang pada Rabu (30/12) memberhentikannya sebagai ketua DPR. Pria yang akrab disapa Akom itu mengaku...
    Nur Aini

RSS educatinalwithptk

newsalloy

NewsAlloy button

MUSIK

suara Edukasi

 

 http://radioedukasi.com/modules/mod_miniradio/mod_miniradio.swf

suara_edukasi

RADIO EDUKASI

Live Streaming AM 1251 kHz

Silahkan unduh produk audio radio Suara edukasi

[KLIK DISINI]

Zaimuttpjok/tik

BERBAGI INFORMASI PENDIDIKAN DAN KISAH HIDUP

isti

Berilah makan keyakinanmu niscaya keraguanmu mati kelaparan

ANNISA USH SHOLIHAH

ALL ABOUT CHEMIS_3 (sharing for carring)

Dinas Dikpora Kab. Dompu

Ikhlas Mendidik Untuk Martabat Bangsa dan Negara

Vox Populi

Vox Populi: A Public Sphere for Politics and Poetry

Architecture Here and There

Style Wars: classicsm vs. modernism

Stories From the Belly

A Blog About the Female Body and Its Appetites

mywordpool

"Words - so innocent and powerless as they are, as standing in a dictionary, how potent for good and evil they become in the hands of one who knows how to combine them." ~Nathaniel Hawthorne

Fusion

Championing a young, diverse, and inclusive America with a unique mix of smart and irreverent original reporting, lifestyle, and comedic content.

Whatever

LET ME STEAL THIS MOMENT FROM YOU NOW

rachel eats

stories, pictures and cooking tales from an english woman living in rome.

y

what it comes down to

tangerine drawings

scribbles and recipes from a pastry chef in paris

Extra Dry Martini

Straight up, with a twist.

Gravity and Levity

A blog about the big ideas in physics, plus a few other things

love.life.eat

living a mindful life

%d blogger menyukai ini: