//
you're reading...
Pendidik

Perlukah Pendidikan Karakter Dinyatakan Dalam Indikator Hasil Belajar?

GP. Published on: Oct 11, 2011

Haruskah pendidikan karakter dirumuskan dalam indikator pembelajaran di silabus dan RPP?  Sebagian ahli pendidikan menyatakan bahwa karakter sebaiknya tidak dinyatakan dalam bentuk indikator kompetensi pencapaian belajar, cukup di kegiatan pembelajaran. Alasannya, bila dimasukkan dalam indikator, maka guru harus membuat alat penilaian yang mengukurnya.

Sebagian ahli menyatakan bahwa pendidikan karakter wajib dinyatakan dalam indikator komptensi pencapaian hasil belajar dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Karena itu, harus dapat di ukur. Adakah juknis yang dapat menjadi pegangan guru dalam melaksanakan pembelajaran  tentang karakter? Atau, bagaimana sebaiknya?

Sebelum kita menjawab masalah itu, kita memerlukan beberapa informasi yang berkaitan dengan itu. Pertama, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya, begitu menurut USPN 20/2003. Menurut Bloom, pendidikan meliputi ranah kognitive, psichomtor, dan affective.

Dari dua kaidah di atas, dapat kita nyatakan bahwa pendidikan, pendidikan karakter, wajib dilaksanakan secara sadar dan terencana dengan tujuan siswa dapat mengembangkan potensi dirinya. Pernyataan mengembangkan potensi dirinya berarti pendidikan harus membuat siswa aktif. Proses pendidikan dapat menjadi pemicu dan pendidik menyaksikan siswa berkembang karena inisiatif yang muncul dari dalam dirinya bukan karena dipaksakan dari luar.

Secara hakiki karakter berkembang menyatu dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang tumbuh dalam diri siswa dalam prilaku yang kita namakan kompetensi  melalui proses belajar. Jika kita mendapatkan dapati bahwa kompetensi berarti adalah pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai sebagai kinerja yang berpengaruh terhadap peran, perbuatan, prestasi serta pekerjaan seseorang  yang teramati sebagai produk belajar.

Dengan demikian karakter muncul dan menyatu dalam prilaku siswa dalam cara siswa berpikir, berbicara, berindak, mengekspresikan pikirannya dalam tulisan, dalam kedisiplinan, sopan santun, kejujuran, dan banyak lagi. Pemikiran ini menyatakan bahwa sesungguhnya pendidikan karakter itu telah kita lakukan selama ini  sepanjang waktu. Hanya, saja kita sering kurang sadar untuk memperhatikan  secara formal bagaimana hal itu direncanakan, dilaksanakan, dan dinilai.

Hal lain yang menarik dari masalah perlu tidaknya pendidikan karakter dinyatakan dala indikator pencapaian hasil belajar. Kita dapat membedakan antara istilah pendidikan karakter dan pengajaran karakter. Yang diperlukan dalam pendidikan adalah usaha sadar dalam mewujudkan suasana belajar.

Jika dilihat dari dimensi pendidikan yang dilakanakan di sekolah, maka pendidikan itu memerlukan kesadaran untuk mendapat dukungan kebijakan tingkat sekolah yang mengembangkan suasana sekolah yang memungkinkan tumbuhnya karakter siswa seperti yang sekolah kehendaki. Untuk dapat membangun sikap siswa yang mudah diarahkan, ramah, berbahasa santun, disiplin dan lain sebagainya. Di sini memerlukan keteladanan kepala sekolah, para guru dalam membangun model interaksi sosial di sekolah yang berkaraker.

Para guru memiliki tugas sebagai pendidik. Penekanan pada ranah ini berarti karakter siswa dibangun melalui apa yang dapat guru tunjukkan. Siswa belajar dari yang guru kejakan, bukan dari apa yang guru katakan. Dalam proses pendidikan seperti ini jelas tidak memerlukan rpp, yang diperlukan adalah contoh dari guru seperti biasa membaca, biasa menulis, datang tepat waktu, mengahiri tugas tepat waktu, bicara sopan, berkata jujur sehingga guru menjadi teladan.

Dalam proses pengajaran guru dapat memasukan pendidikan karakter dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Ini berati guru wajib mengukurnya. Pengukuran karakter tentu berbeda dengan pengukuran kognitif. Pengukuran karakter salah satunya dilakukan dengan cara mengobservasi yang direkam dalam bentuk format acuan penilaian dengan menggunakan skala sikap.

Pilihan yang kedua guru mengintegrasikan pendidikan karakter secara implisit dalam proses pembelajaran. Hal ini memiliki konsekuensi guru wajib sadar pula untuk mengembangkan karekter seperti apa  yang akan diintegrasikan itu. Contohnya guru memberi tugas kepada siswa untuk membuka alamat web untuk mendapatkan informasi tertentu. Sebagai guru tentu mengharapkan siswa melakukan tugas itu dan  jujur dalam melakukannya. Untuk kepentingan itu, guru menguji kebenaran apa yang siswa lakukan.

Dalam pelaksanaan tugas itu, guru tidak mencantumkan indikator kejujuran dalam rpp. Namun, guru menguji kejujuran dan objektivitas siswa dalam melaksanakan tugasnya.

Dengan demikian dituliskan dalam bentuk indikator dan tidak dituliskan bukan pilihan benar salah, melainkan menjadi model pendekatan yang dapat guru pilih. Namun memilihnya harus secara sadar dan dengan bekal kesadaran itu, maka guru dapat menetapkan hasil kerjanya dan menginformasi kepada orang tua. Itulah sebabnya dalam rapot ada lembar laporan kognitif dalam bentuk hasil penilaian kuantitatif dan terdapat lembar laporan penilaian sikap dalam bentuk kualitatif.

Jadi, indikator pencapaian pendidikan karakter boleh dieksplisitkan atau diimplisitkan. Yang tidak boleh guru tinggalkan adalah menilai perkembangan karakter siwa. Hasil penilaian sepatutnya dicatat sebagai akantabilitas menjalankan fungsi guru sebagai pendidik.

GP. Published on: Oct 11, 2011

About suaidinmath

Mohon kontribusi untuk menambal retak dan menambah langkah kesempurnaan tulisan ini ...

Diskusi

2 thoughts on “Perlukah Pendidikan Karakter Dinyatakan Dalam Indikator Hasil Belajar?

  1. Dimasukkan ataupun tidak dimasukkan Pend.Karakter itu sendiri sudah mengacaukan sistem pendidikan itu sendiri.Wal hasil mutu pendidikan kembali ke nol lagi. Coba dikaji ulang apasih yang melatari sebenarnya muncul istilah Pendidikan karakter itu?

    Suka

    Posted by Abu Hanifah | 8 Maret 2012, 12:52 pm
    • iya pak Abu :mungkin latar belakangnya , UUSPN Pasal 3 menyebutkan Pendidikan nasional berfungsi: Mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
      Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
      Di balik kesuksesan, masih ada celah kelemahan yang dapat diperbaiki melalui pendidikan karakter peserta didik dan penyelenggara sekolah.

      dengan tujuan :Meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah melalui pembentukan karakter peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan.

      Suka

      Posted by suaidinmath | 8 Maret 2012, 3:13 pm

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Hari ini

Maret 2012
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Statistik Blog

  • 1,760,511 hit

Arsip blog

Award Blog Pendidikan 2012

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 259 pengikut lainnya

Dunia Pendidikan

Teratas

RSS Republika online

  • Ribuan Muslim Semarakkan Morowali Mengaji 6 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, MOROWALI—Ribuan jamaah umat Islam larut melantunkan ayat-ayat suci Alquran dalam Morowali Nusantara Mengaji.  Acara yang dimotori dan digagas oleh Bupati Morowali, Anwar Hafiz dalam rangka HUT Kabupaten ke-17 ini...
    Nasih Nasrullah
  • Ini Alasan Mantan Ketua DPR Akom Ingin 'Melawan' Putusan MKD 6 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mantan Ketua DPR Ade Komarudin, akan melakukan langkah-langkah terhadap keputusan MKD, yang pada Rabu (30/12) memberhentikannya sebagai ketua DPR. Pria yang akrab disapa Akom itu mengaku...
    Nur Aini

RSS educatinalwithptk

newsalloy

NewsAlloy button

MUSIK

suara Edukasi

 

 http://radioedukasi.com/modules/mod_miniradio/mod_miniradio.swf

suara_edukasi

RADIO EDUKASI

Live Streaming AM 1251 kHz

Silahkan unduh produk audio radio Suara edukasi

[KLIK DISINI]

Zaimuttpjok/tik

BERBAGI INFORMASI PENDIDIKAN DAN KISAH HIDUP

isti

Berilah makan keyakinanmu niscaya keraguanmu mati kelaparan

ANNISA USH SHOLIHAH

ALL ABOUT CHEMIS_3 (sharing for carring)

Dinas Dikpora Kab. Dompu

Ikhlas Mendidik Untuk Martabat Bangsa dan Negara

Vox Populi

Vox Populi: A Public Sphere for Politics and Poetry

Architecture Here and There

Style Wars: classicsm vs. modernism

Stories From the Belly

A Blog About the Female Body and Its Appetites

mywordpool

"Words - so innocent and powerless as they are, as standing in a dictionary, how potent for good and evil they become in the hands of one who knows how to combine them." ~Nathaniel Hawthorne

Fusion

Championing a young, diverse, and inclusive America with a unique mix of smart and irreverent original reporting, lifestyle, and comedic content.

Whatever

LET ME STEAL THIS MOMENT FROM YOU NOW

rachel eats

stories, pictures and cooking tales from an english woman living in rome.

y

what it comes down to

tangerine drawings

scribbles and recipes from a pastry chef in paris

Extra Dry Martini

Straight up, with a twist.

Gravity and Levity

A blog about the big ideas in physics, plus a few other things

love.life.eat

living a mindful life

%d blogger menyukai ini: