//
you're reading...
Pendidik

IDENTIFIKASI MASALAH PENELITIAN KEPENGAWASAN

Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh Pengawas Satuan Pendidikan adalah mampu melakukan penelitian. Hal ini karena pekerjaan pengawas adalah sebuah profesi yang menuntut peningkatan pengetahuan dan keterampilan terus menerus sejalan dengan perkembangan pendidikan di lapangan.

      Setiap bidang pekerjaan selalu dihadapkan pada permasalahan yang selalu berkembang, baik berupa fenomena yang mengundang tanda tanya, maupun kesenjangan antara yang diharapkan dengan kenyataan. Permasalah- an tersebut menuntut jawaban dan solusi yang dapat dipertanggung jawabkan.

      Kedudukan pengawas sebagai pembina para guru dan kepala sekolah, mengharuskan dia memiliki kesiapan memberikan solusi bagi permasalahan yang mereka hadapi. Ia dapat saja mengandalkan pengalaman, baik dirinya sendiri maupun orang lain, mengambil teori dari buku-buku, atau bahkan mengandalkan intuisi. Hal ini tentu tidak selamanya memuaskan, karena yang dituntut darinya adalah professional judgement yang dapat dijadikan acuan.

            Penelitian merupakan suatu bentuk kegiatan ilmiah untuk mendapatkan pengetahuan atau kebenaran. Ada dua teori kebenaran pengetahuan, yaitu teori koherensi dan korespondensi. Teori koherensi beranggapan bahwa suatu pernyataan dikatakan benar apabila sesuai dan tidak bertentangan dengan pernyataan sebelumnya. Aturan yang dipakai adalah logika berpikir atau berpikir logis. Sementara itu teori korenspondensi berasumsi bahwa sebuah pernyataan dipandang benar apabila sesuai dengan kenyataan (fakta atau realita). Untuk menemukan kebenaran yang logis dan didukung oleh fakta, maka harus dilakukan penelitian terlebih dahulu. Inilah hakikat penelitian sebagai kegiatan ilmiah atau sebagai proses the acquisition of knowledge.

            Penelitian selalu dimulai dari masalah, karena hakikat penelitian adalah untuk menjawab/mengatasi masalah. Masalah dalam bidang kawasan penelitian kepengawasan tentu sangat banyak, mulai dari yang makro konseptual sampai pada mikro dan teknis.  Meski demikian bagi pengawas yang belum terbiasa melakukan penelitian, bisa saja kesulitan menemukan masalah yang aktual, menarik, signifikan dan terjangkau untuk diteliti. Materi pendidikan dan latihan ini dimaksudkan untuk membekali pengawas dalam menemukan dan merumuskan masalah penelitian yang terkait dengan bidang tugasnya.

A.   Latar Belakang

      Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh Pengawas Satuan Pendidikan adalah mampu melakukan penelitian. Hal ini karena pekerjaan pengawas adalah sebuah profesi yang menuntut peningkatan pengetahuan dan keterampilan terus menerus sejalan dengan perkembangan pendidikan di lapangan.

      Setiap bidang pekerjaan selalu dihadapkan pada permasalahan yang selalu berkembang, baik berupa fenomena yang mengundang tanda tanya, maupun kesenjangan antara yang diharapkan dengan kenyataan. Permasalah- an tersebut menuntut jawaban dan solusi yang dapat dipertanggung jawabkan.

      Kedudukan pengawas sebagai pembina para guru dan kepala sekolah, mengharuskan dia memiliki kesiapan memberikan solusi bagi permasalahan yang mereka hadapi. Ia dapat saja mengandalkan pengalaman, baik dirinya sendiri maupun orang lain, mengambil teori dari buku-buku, atau bahkan mengandalkan intuisi. Hal ini tentu tidak selamanya memuaskan, karena yang dituntut darinya adalah professional judgement yang dapat dijadikan acuan.

            Penelitian merupakan suatu bentuk kegiatan ilmiah untuk mendapatkan pengetahuan atau kebenaran. Ada dua teori kebenaran pengetahuan, yaitu teori koherensi dan korespondensi. Teori koherensi beranggapan bahwa suatu pernyataan dikatakan benar apabila sesuai dan tidak bertentangan dengan pernyataan sebelumnya. Aturan yang dipakai adalah logika berpikir atau berpikir logis. Sementara itu teori korenspondensi berasumsi bahwa sebuah pernyataan dipandang benar apabila sesuai dengan kenyataan (fakta atau realita). Untuk menemukan kebenaran yang logis dan didukung oleh fakta, maka harus dilakukan penelitian terlebih dahulu. Inilah hakikat penelitian sebagai kegiatan ilmiah atau sebagai proses the acquisition of knowledge.

            Penelitian selalu dimulai dari masalah, karena hakikat penelitian adalah untuk menjawab/mengatasi masalah. Masalah dalam bidang kawasan penelitian kepengawasan tentu sangat banyak, mulai dari yang makro konseptual sampai pada mikro dan teknis.  Meski demikian bagi pengawas yang belum terbiasa melakukan penelitian, bisa saja kesulitan menemukan masalah yang aktual, menarik, signifikan dan terjangkau untuk diteliti

A. Masalah dalam Penelitian

Proses penelitian diawali dengan merumuskan masalah yang akan dijadikan obyek atau fokusnya. Tidak akan terjadi penelitian tanpa adanya masalah, sebab penelitian pada hakikatnya adalah mencari jawaban atas masalah yang diajukan.

Masalah dalam penelitian mengandung tiga pengertian, yaitu (1) pertanyaan yang memerlukan jawaban, (2) kesulitan yang perlu dipecahkan, dan (3) kesenjangan antara harapan dengan kenyataan. Berikut ini penjelasan dan contoh-contoh ketiga jenis masalah tersebut.

1.  Pertanyaan yang Membutuhkan Jawaban

Jenis permasalahan ini biasanya muncul dalam penelitian dasar. Seba- gai contoh dalam penelitian filsafat, misalnya pertanyaan tentang: Siapakah manusia itu? Untuk apa manusia lahir ke dunia? Benarkah ada kehidupan sesudah mati?. Bagi kalangan agamawan, pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan berlandaskan wahyu Tuhan. Meski demikian jawaban yang dapat memuaskan keingintahuan manusia, mesti dilandasi oleh pemikiran radikal (sedalam-dalamnya).Pertanyaan ini mungkin berada dalam bingkai kajian filsafat-agama.

Contoh lainnya adalah pertanyaan mengenai benda atau zat apa saja yang terkandung di dalam perut bumi? Pertanyaan inilah yang digeluti oleh ahli geologi dan ilmu-ilmu lain yang terkait. Bedanya dengan pertanyaan sebelumnya yang cukup dijawab melalui pemikiran mendalam, maka perta- nyaan ini harus dijawab melalui serangkaian penyelidikan dan percobaan. Inilah yang membedakan antara disiplin ilmu eksakta dengan ilmu humaniora.

Dalam konteks tugas pengawas pendidikan, dapat ditemukan jenis masalah ini, antara lain: Mengapa ada sekolah yang maju dan ada pula yang biasa saja? Mengapa ada kepala sekolah yang memiliki etos kerja tinggi, namun banyak pula yang rendah? Mengapa hanya sedikit guru yang mengajar dengan kreatif dan penuh semangat? Masalah-masalah semacam ini lebih cocok apabila diteliti dengan pendekatakan kualitatif.

2.  Kesulitan yang Perlu Dipecahkan

Permasalahan ini dapat muncul pada hampir semua ilmu terapan, terlebih lagi dalam kaitannya dengan penggunaan teknologi. Dalam bidang pendidikan permasalahan yang berupa kesulitan ini dapat dihadapi oleh guru atau siswa, kepala sekolah, lembaga, bahkan negara.

Contoh permasalahan ini pada  skope yang paling kecil misalnya adalah: Bagaimana mengajarkan matematika secara efektif dan menyenangkan pada siswa SD kelas satu? Bagaimana guru bahasa Inggris dapat mengurangi kesalahan siswa dalam mata pelajaran writing? Atau bagaimana guru Bimbingan dan Konseling dapat mengarahkan siswa dari keluarga yang tidak harmonis agar tetap memiliki motivasi belajar yang tinggi?

Pada tingkat lembaga misalnya: Bagaimana SMA swasta tetap mendapatkan murid yang banyak di tengah gencarnya kampanye masuk SMK? Bagaimana kepala sekolah memberikan sanksi kepada guru yang tidak disiplin tanpa mengorbankan hubungan baik dengan guru tersebut? Bagaimana menurunkan jumlah siswa yang tidak lulus ujian nasional pada sekolah swasta yang inputnya memang tidak mendukung?

 Pada dataran makro misalnya muncul pertanyaan: Bagaimana seharusnya kurikulum dirancang agar lulusan perguruan tinggi tidak banyak yang menganggur? Bagaimana menciptakan pendidikan yang murah sehingga terjangkau oleh semua lapisan masyarakat?

Penelitian terhadap masalah tersebut dapat dikategorikan dalam penelitian kebijakan, yang antara lain dapat dilakukan dengan metode survei atau perbandingan dengan negara lain.

3.  Kesenjangan antara Harapan dengan Kenyataan

Jenis permasalahan ketiga ini rasanya paling banyak ditemukan dalam ilmu-ilmu terapan, khususnya ilmu pendidikan. Mulai dari yang mikro dan sederhana, sampai pada lingkup makro dan kompleks, kesenjangan dengan mudah ditemukan. Sebagai contoh misalnya:

a.       Idealnya seorang anak rajin belajar, namun kenyataannya banyak yang malas.

b.      Harapannya setiap guru mengajar dengan persiapan dan penuh antusias, namun nyatanya banyak yang asal datang dan menghabiskan jam pelajaran saja.

c.       Idealnya setiap mahasiswa aktif mengunjungi perpustakaan untuk membaca buku atau mengakses internet untuk mencari bahan-bahan kuliah, namun kenyataannya hanya sedikit yang demikian.

d.      Seharusnya setiap calon sarjana harus menyusun skripsi sendiri, namun nyatanya banyak sekali yang melakukan plagiat atau meminta jasa orang lain untuk membuatkan.

e.       Idealnya seorang pengawas melakukan kunjungan kelas baik kepada guru yang meminta maupun yang tidak demi meningkatkan profesionalisme mereka, namun kenyataannya pengawas hanya masuk kelas pada guru yang diindikasikan bermasalah.

Setiap masalah diawali dengan adanya latar belakang masalah, artinya ada faktor-faktor tertentu yang menyebabkan munculnya masalah. Tidak ada masalah apabila tidak ada akar penyebabnya. Dengan kata lain latar belakang menjawab pertanyaan mengapa masalah itu ada dan perlu diteliti.

Dari contoh-contoh di atas dapat disimpulkan bahwa munculnya masalah penelitian khususnya pada ilmu-ilmu terapan, didasarkan atas fakta empirik yang ada atau yang terjadi di lapangan. Oleh sebab itu perlu dikumpulkan data dan fakta yang ada di lapangan, kemudian membandingkannya dengan harapan, keinginan, kebutuhan, berdasarkan rencana, program, konsep, prinsip, aturan dan sistem yang berlaku.

B. Sumber Masalah

            Para peneliti pemula sering merasa kesulitan untuk menemukan masalah yang menarik, relevan dan bermanfaat untuk diteliti. Hal ini sebenarnya bukan disebabkan oleh kelangkaan masalah, akan tetapi karena kurangnya daya kritis dalam melihat fenomena di sekelilingnya.

            Masalah penelitian sebenarnya tidak harus berat, rumit dan jauh dari jangkauan calon peneliti. Masalah dengan mudah dapat ditemukan di sekitar kita asalkan kita memiliki perspektif dan mau memikirkan lebih mendalam apa-apa yang selama ini mungkin kurang kita perhatikan dan pikirkan. Hal ini karena hakikat penelitian adalah: ”Research is to see what every body else has seen, and think what no body has yhought”. Maksudnya penelitian adalah mengamati apa-apa yang biasa dilihat orang lain, namun tidak ada (jarang) yang memikirkannya secara mendalam.

            Dari hakikat penelitian di atas maka proses terpenting dalam menemukan masalah penelitian tidak terletak pada fenomena di luar peneliti, akan tetapi pada lebih tergantung pada daya kritis dan perspektif peneliti itu sendiri. Kemampuan ini tentu tidak diperoleh secara tiba-tiba, melainkan melalui proses membaca buku-buku, jurnal, hasil-hasil penelitian, dan media massa. Selain itu juga sering mendengarkan orasi ilmiah, berdiskusi, aktif dalam seminar, serta forum-forum ilmiah lainnya.

            Apabila seseorang telah memiliki kepekaan terhadap masalah yang layak dan menarik untuk diteliti, maka ia akan mudah menemukan dalam segala situasi. Hal ini karena, yang terpenting dalam penelitian bukanlah variabel atau masalahnya, namun pada bagaimana hal itu dikritisi. Di tangan peneliti yang baik, masalah yang nampak sederhana sekali pun, akan menjadi menarik untuk diteliti.

Masalah penelitian yang paling ideal bersumber dari lapangan yang ditemukan melalui pengamatan terhadap fenomena yang terjadi dalam pekerjaan kita atau tugas-tugas profesi kita masing-masing. Oleh sebab itu masalah penelitian untuk para pengawas harus bersumber dari pengalaman pengawas itu sendiri dalam melaksanakan tugas pokok dan tanggung- jawabnya yakni melaksanakan pengawasan akademik dan pengawasan manajerial. Jika tidak punya pengalaman bisa juga bertanya pada pengalaman orang lain sesama pengawas. Fakta, fenomena, proses, kejadian sehari-hari yang tekait dengan pelaksanaan tugas kepengawasan menjadi penting diangkat menjadi masalah penelitian kepengawasan. Sebagai contoh pada saat pengawas mengunjungi kelas melihat kemampuan guru mengajar ditemukan fakta bahwa guru mengajar tanpa melihat/memandang para siswanya atau guru kesulitan  menjawab pertanyaan siswanya. Guru yang mengajar tanpa memandang para siswanya mengindikasikan guru yang tidak bisa menguasai kelas atau kurang perrcaya diri. Sedangkan guru yang kesulitan dalam menjawab pertanyaan siswa mengindikasikan bahwa guru kurang menguasai materi pelajaran yang diajarkannya. Dari kasus ini hal yang bisa diangkat sebagai masalah penelitian adalah bagaimana meningkatkan kemampuan guru agar bisa menguasai kelas atau dapat menguasai materi pelajaran? Persoalan ini menyangkut bidang atau kawasan pengawasan akademik sebab berkaitan dengan upaya meningkatkan kemampuan profesional guru sebagai pengajar.

Sumber masalah lainnya diangkat dari literatur, laporan hasil penelitian orang lain, jurnal ilmiah dan atau buku-buku teks lainnya. Biasanya dari literatur dan atau hasil-hasil penelitian akan muncul masalah-masalah baru baik yang dituangkan penulisnya dalam bentuk saran ataupun rekomendasi masalah penelitian yang perlu diteliti lebih lanjut. Persoalannya adalah relevansi masalah tersebut dengan bidang kepengawasan baik pengawasan akademik maupun pengawasan manajerial. Ini berarti perlunya pengawas memahami tema-tema penelitian bidang pengawasan sebagai tolok ukur dalam menilai kelayakan suatu masalah untuk dijadikan fokus penelitian pengawas satuan pendidikan.

Hal  yang perlu diperhatikan dalam merumuskan masalah penelitian adalah kejelasan, kekhususan, dan ketajaman masalah. Artinya jangan merumuskan masalah yang telalu luas melebar sehingga tidak terjangkau untuk diteliti. Masalah harus dipersempit, dibatasi agar lebih spesifik sehingga bisa diteliti diukur diamati dengan alat-alat atau instrumen yang idealnya dibuat sendiri oleh peneliti yang bersangkutan. Rumusan masalah bagaimanapun sempitnya harus masuk akal atau dapat diterima oleh logika manusia normal. Artinya setiap rumusan masalah harus logis dan masuk akal sehat. Sebagai contoh rumusan masalah yang tidak rasional atau tidak logis adalah: “Apakah terdapat hubungan antara tinggi badan dengan prestasi belajar matematika?”  Pertanyaan tersebut tidak masuk akal jadi tidak layak diajukan sebagai masalah penelitian. Agak masuk akal apabila pertanyaan tersebut berbunyi: Apakah terdapat hubungan antara tinggi badan dengan keterampilan bermain basket. Akal sehat pun bisa menebak orang yang badannya tinggi akan mudah memasukkan bola ke dalam jaringnya

About suaidinmath

Mohon kontribusi untuk menambal retak dan menambah langkah kesempurnaan tulisan ini ...

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Hari ini

Februari 2012
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
272829  

Statistik Blog

  • 1,762,190 hit

Arsip blog

Award Blog Pendidikan 2012

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 259 pengikut lainnya

Dunia Pendidikan

Teratas

RSS Republika online

RSS educatinalwithptk

newsalloy

NewsAlloy button

MUSIK

suara Edukasi

 

 http://radioedukasi.com/modules/mod_miniradio/mod_miniradio.swf

suara_edukasi

RADIO EDUKASI

Live Streaming AM 1251 kHz

Silahkan unduh produk audio radio Suara edukasi

[KLIK DISINI]

Zaimuttpjok/tik

BERBAGI INFORMASI PENDIDIKAN DAN KISAH HIDUP

isti

Berilah makan keyakinanmu niscaya keraguanmu mati kelaparan

ANNISA USH SHOLIHAH

ALL ABOUT CHEMIS_3 (sharing for carring)

Dinas Dikpora Kab. Dompu

Ikhlas Mendidik Untuk Martabat Bangsa dan Negara

Vox Populi

Vox Populi: A Public Sphere for Politics and Poetry

Architecture Here and There

Style Wars: classicsm vs. modernism

Stories From the Belly

A Blog About the Female Body and Its Appetites

mywordpool

"Words - so innocent and powerless as they are, as standing in a dictionary, how potent for good and evil they become in the hands of one who knows how to combine them." ~Nathaniel Hawthorne

Fusion

Championing a young, diverse, and inclusive America with a unique mix of smart and irreverent original reporting, lifestyle, and comedic content.

Whatever

LET ME STEAL THIS MOMENT FROM YOU NOW

rachel eats

stories, pictures and cooking tales from an english woman living in rome.

y

what it comes down to

tangerine drawings

scribbles and recipes from a pastry chef in paris

Extra Dry Martini

Straight up, with a twist.

Gravity and Levity

A blog about the big ideas in physics, plus a few other things

love.life.eat

living a mindful life

%d blogger menyukai ini: