//
you're reading...
Pendidik

Pembelajaran Berdiferensiasi: Suatu Pendekatan

Abdul Mukti

(mukti64@yahoo.ca)

Pendahuluan

Penyelenggaraan pendidikan umum di Indonesia hingga kini cenderung bersifat klasikal massal. Artinya, program pendidikan dilaksanakan untuk melayani sebanyak-banyaknya jumlah siswa. Model pengajaran seperti itu mengikuti pola one-size-fits-all (Tomlinson, 1995a). Kelemahan dari model pengajaran itu adalah anak yang memi-liki kemampuan dan bakat tinggi atau istimewa (anak berbakat) menjadi tidak terperhatikan. Padahal, bakat atau kemampuan anak berbakat itu seharusnya dapat dilayani dan dikembangkan melalui program pendidikan.

Selama ini, program layanan pendidikan bagi anak berbakat umumnya diberikan dalam bentuk program pengayaan dan atau percepatan. Program pengayaan merujuk pada pengayaan kurikulum dan pengalaman pendidikan bagi anak berbakat. Modifikasi kurikulum tersebut tentu saja harus didasarkan pada karakteristik peserta didik. Kendati demikian, ada satu kelemahan yang muncul dari program pengayaan itu. Selama jam belajar di sekolah, anak berbakat menghabiskan waktu belajarnya di dalam kelas untuk mengikuti pelajaran yang sudah dirancang secara umum. Karena mereka mampu menguasai materi lebih cepat dari teman-temannya, mereka akan mudah mengalami kejenuhan. Pasalnya, mereka terpaksa harus mempelajari keterampilan dan pengetahuan yang sudah mereka kuasai. Sebagian dari mereka sering berpura-pura sakit atau membuat alasan untuk menghindari kegiatan yang membosankan itu. Lebih buruk lagi, mereka sering meninggalkan kelas dan bahkan ada yang menjadi putus sekolah. Bahkan penelitian Renzully dan Park (2000) atas 334 anak berbakat yang putus sekolah menunjukkan bahwa alasan terbanyak mereka meninggalkan sekolah adalah karena tidak menyukai sekolah.

Di Indonesia, hingga akhir tahun pelajaran 2002/2003, dilaksanakan program percepatan bagi anak berbakat Program percepatan itu merujuk pada penyampaian kurikulum dan layanan pendidikan yang dipercepat dari jadwal pembelajaran standar. Jenis program percepatan yang dilaksanakan di Indonesia adalah percepatan semua mata pelajaran (fullacceleration) melalui kelas khusus. Dengan cara ini, siswa akseleran belajar bersama dengan siswa akseleran lain dalam satu kelas, dan menyelesaikan program pendidikan satu tahun lebih cepat dari pada masa belajar sekolah biasa. Misalnya, siswa SMP dan SMA menyelesaikan program pendidikannya dalam dua tahun.

Namun demikian, akibat dari program percepatan tersebut, siswa akseleran secara fisik (dari segi kelas) dan pembelajaran, terpisah dari kebanyakan siswa, sehingga tidak ada interaksi antara siswa akseleran dan siswa bukan akseleran selama proses pembelajaran, apalagi pembelajaran teman sebaya (peer teaching). Dengan kata lain, sistem pembelajaran menjadi segregatif atau terpisah dari sistem pembelajaran umum.

Pembelajaran Berdiferensiasi

Untuk mengakomodasi kelemahan-kelemahan dalam program pendidikan untuk anak berbakat yang dilakukan melalui program pengayaan atau percepatan penuh, para praktisi pendidikan mengembangkan pendekatan pembelajaran yang disebut pembelajaran berdiferensiasi (differentiated instruction). Pendekatan ini menghendaki agar kebutuhan pendidikan siswa berbakat dilayani di dalam kelas reguler. Program ini menawarkan serangkaian pilihan belajar pada siswa berbakat dengan tujuan menggali dan mengarahkan pengajaran pada tingkat kesiapan, minat, dan profil belajar yang berbeda-beda. Dalam pengajaran berdiferensiasi ini, guru menggunakan: (a) beragam cara agar siswa dapat mengeksplorasi isi kurikulum, (b) beragam kegiatan atau proses yang masuk akal sehingga siswa dapat mengerti dan memiliki informasi dan ide, serta (c) beragam pilihan di mana siswa dapat mendemonstrasikan apa yang telah mereka pelajari (Tomlinson, 1995).

Pengajaran berdiferensiasi tidak berarti memberikan tugas yang sama pada seluruh siswa dan melakukan penyesuaian untuk siswa berbakat dengan membedakan tingkat kesulitan pertanyaan, memberikan tugas yang lebih sulit pada mereka, atau membiarkan siswa berbakat menyelesaikan program regulernya kemudian bebas mengerjakan permainan sebagai pengayaan. Pengajaran ini juga tidak berarti memberikan lebih banyak tugas, misalnya soal matematika, pada siswa yang telah menguasai materi pelajaran tersebut. Sebaliknya, pembelajaran berdiferensiasi ditandai oleh empat karakteristk umum, yaitu:

  1. Pembelajaran berfokus pada konsep dan prinsip pokok. Dalam hal ini, semua siswa mengeksplorasi konsep-konsep pokok bahan ajar. Dengan cara seperti ini, semua siswa, termasuk siswa yang agak lambat (struggling learners) bisa memahami dan menggunakan ide-ide dari konsep yang diajarkan. Pada saat yang sama, siswa berbakat memperluas pemahaman dan aplikasi konsep pokok tersebut. Pengajaran lebih menekankan siswa untuk memahami materi pelajaran dan bukannya menghapal serpihan-serpihan informasi. Pengajaran berbasis konsep dan prinsip mendorong guru untuk memberikan beragam pilihan
    dalam belajar.
  2. Evaluasi kesiapan dan perkembangan belajar siswa diakomodasi ke dalam kurikulum. Hal ini mengisyaratkan bahwa tidak semua siswa memerlukan satu kegiatan atau bagian tertentu dari proses pembelajaran secara sama. Guru perlu terus menerus mengevaluasi kesiapan dan minat siswa dengan memberi kan dukungan bila siswa membutuhkan interaksi dan bimbingan tambahan, serta memperluas eksplorasi siswa terutama bagi mereka yang sudah siap untuk mendapatkan pengalaman belajar yang lebih menantang.
  3. Ada pengelompokan siswa secara fleksibel. Dalam pembelajaran berdiferensiasi, siswa berbakat sering belajar dengan banyak pola, seperti belajar sendiri-sendiri, belajar berpasangan, maupun belajar dalam kelompok. Kadang-kadang tugas juga perlu dirancang berdasarkan tingkat kesiapan siswa, minat, gaya sebelajar siswa maupun kombinasi antara tingkat kesiapan, minat, dan gaya belajar. Cara belajar linier dan klasik juga digunakan untuk mengajarkan ide baru.
  4. Siswa menjadi penjelajah aktif (active explorer). Tugas guru adalah membimbing eksplorasi tersebut. Karena beragam kegiatan dapat terjadi secara simultan di dalam kelas, guru akan berperan sebagai pem-bimbing dan fasilitator, dan bukannya sebagai dispenser informasi.

Strategi Pembelajaran Berdiferensiasi

Dalam mendiferensiasikan pengajaran, guru bisa melakukan modifikasi terhadap lima unsur kegiatan mengajar, yaitu materi pelajaran, proses, produk, lingkungan dan evaluasi (Howard, 1999; Weinbrenner, 2001)

1. Substansi Pembelajaran

Dalam proses pembelajaran, guru harus bertanggung jawab untuk memastikan bahwa semua siswa mempelajari materi pelajaran dalam kurikulum yang harus dikuasai siswa. Namun, guru tidak harus mengajarkan materi pelajaran tersebut pada semua siswa. Artinya, siswa yang telah menguasai kompetensi atau bahan ajar tertentu boleh mengu-rangi waktu yang diperlukan untuk menguasai kompetensi dan bahan ajar itu. Mereka boleh meloncatinya. Materi pelajaran dapat dimodifikasi melalui berbagai kegiatan pembelajaran, antara lain:

  • Pemadatan materi pelajaran, yaitu sebuah strategi untuk merampingkan waktu yang dihabiskan siswa untuk menyelesaikan kurikulum reguler. Dalam memadatkan materi pelajaran, guru harus menentukan kompentensi atau bahan ajar apa yang telah dikuasai siswa dan apa yang masih harus dipelajarinya, dan kemudian menggantikan kompetensi atau bahan ajar yang telah dikuasai tersebut dengan materi lain yang lebih menantang. Untuk itu, guru harus mempertimbangkan minat siswa karena siswa dituntut untuk menunjukkan komitmen, tanggung jawab dan kemandirian dalam melakukan tugas menantang. Misalnya, Rakean selalu memperoleh nilai tinggi dalam mata pelajaran matematika. Pak Didin, guru matematika, memutuskan untuk memberikan pre-test pada Rakean sebelum melanjutkan ke pokok bahasan atau unit berikutnya. Hasil tes menunjukkan bahwa Rakean menjawab 90 persen dari tes tersebut. Artinya, Rakean menguasai kurang lebih 90 persen bahan ajar yang belum diajarkan. Dalam hal ini, Pak Didin menawarkan pada Rakean untuk mengurangi waktu yang diperlukan untuk mempelajari pokok bahasan atau unit berikutnya. Pak Didin juga menyesuaikan pengajaran matematika sesuai dengan kecepatan belajar Rakean. Selama jam pelajaran matematika, Rakean akan mengerjakan tugas-tugas lain sementara siswa-siswa lainnya menyelesaikan tugas reguler dalam mata pelajaran matematika. Hal seperti ini juga berlaku bagi mata pelajaran lain, atau bagi suatu kelompok minat tertentu.Setidaknya ada delapan langkah untuk memadatkan materi pelajaran, yaitu: (1) Tentukan tujuan pembelajaran pada materi yang akan diajarkan; (2) Cari cara yang sesuai untuk mengevaluasi tujuan pembelajaran tersebut; (3) Identifikasi siswa yang mungkin telah menguasai tujuan (atau dapat menguasainya dengan lebih cepat); (4) Evaluasi siswa-siswa tersebut untuk menen-tukan tingkat penguasaan; (5) Kurangi waktu yang diperlukan siswa untuk mempelajari materi yang telah dikuasai; (6) Berikan pengajaran pada sekelompok kecil atau siswa secara individu, yang belum menguasai tujuan pembelajaran di atas, tetapi dapat menguasainya lebih cepat dari teman-teman lainnya; (7) Dokumentasikan kegia-tan belajar pengganti yang lebih menantang, yang sesuai dengan minat siswa; (8) Dokumentasikan proses pemadatan dan opsi pembelajaran.
  • Studi intradisiplin, yailu studi atas satu tema atau topik dengan melibatkan mata pelajaran lain yang relevan. Guru mata pelajaran yang ingin memodifikasi topik atau tema tertentu dari materi pelajaran, dapat bekerjasama dengan guru mata pelajaran yang lain yang relevan. Selanjutnya, mereka dapat mengeksplorasi bentuk kegiatan pembelajaran yang mungkin dilakukan.
  • Kajian mendalam. Cara ini bisa dila kukan oleh siswa berbakat bila mereka sudah siap dengan pengetahuan, kemampuan untuk mengaplikasikan pengetahuan, waktu dan enerji yang dibutuhkan untuk tugas ini. Minat siswa pada suatu topik merupakan penentu utama dari ke-mauan untuk mengeksplorasi topik itu secara mendalam.

2. Proses

Banyak kegiatan yang bisa dilakukan oleh guru untuk memodifikasi proses pengajaran dan pembelajaran, antara lain dengan:

  • Mengembangkan kecakapan berpikir. Siswa berbakat perlu untuk mengembangkan kecakapan berpikir analitis, organisasional, kritis dan kreatif. Guru dapat mengajarkan secara langsung kecakapan ini, atau memadukannya dalam materi pelajaran. Kecakapan berpikir juga bisa dikembangkan melalui teknik bertanya.
  • Hubungan dalam dan lintas disiplin. Untuk itu, siswa berbakat memerlukan kecakapan berpikir tingkat tinggi, terutama kemampuan menganalisis, menyintesis, mengaplikasi dan mengevaluasi. Siswa berbakat dianggap siap untuk belajar dengan kecakapan berpikir yang lebih tinggi bila mereka memiliki kecakapan untuk memecah satu ide atau konsep ke dalam bagian-bagian penting; mengatur kembali fakta-fakta, konsep dan ide ke dalam satu kombinasi baru; mengaplikasikan apa yang telah mereka kuasai dengan cara yang baru dan kreatif; danmenentukan nilai suatu ide.
  • Studi mandiri, merupakan alternatif lain dalam memodifikasi proses. Sebagian siswa berbakat senang bekerja sendiri, mulai dari menentukan topik yang menjadi fokus studi, menentukan cara dan waktu penyelesaian, menentukan sumber untuk melakukan studi hingga menentukan format produk akhir studi. Guru dapat memfasilitasi studi mandiri dengan cara mengelompokkan siswa berdasarkan minat yang sama. Bila seorang siswa benarbenar ingin lebih mendalami suatu topik, guru bisa menawarkan satu kontrak studi mandiri bagi siswa yang bersangkutan.

3. Produk

Dalam memodifikasi produk, guru dapat mendorong siswa untuk mende-monstrasikan apa yang telah dipelajari atau dikerjakan ke dalam beragam format yang mencerminkan pengetahuan maupun kemampuan untuk memanipulasi ide. Misalnya daripada meminta siswa untuk menambah jumlah halaman laporan dari suatu bab, guru bisa meminta siswa untuk menyintesis pengetahuan yang telah diperoleh. Guru juga bisa memberikan kesempatan pada siswa berbakat untuk menginvestigasi masalah riil yang terjadi di sekitarnya dan mempresentasikan solusinya. Misalnya, siswa diminta untuk menginvestigasi polusi dari emisi kendaraan atau polusi air kali, dan hasilnya bisa di-sampaikan pada instansi pemerintah atau swasta yang terkait.

4. Lingkungan Belajar

Iklim belajar di kelas merupakan faktor yang berpengaruh langsung pada gaya belajar dan minat siswa. Sikap guru lah yang sangat menentukan iklim di dalam kelas. Lingkungan belajar yang sesuai adalah yang mengandung kebe-basan memilih dalam satu displin; kesempatan untuk mempraktikkan krea-tivitas; interaksi kelompok; kemandirian dalam belajar; kompleksitas pemikiran; keterbukaan terhadap ide; mobilitas gerak; menerima opini; dan meren-tangkan belajar hingga keluar ruang kelas. Untuk itu, guru harus mampu membuat pilihan-pilihan yang sesuai mulai dari apa yang akan diajarkan, ba-gaimana mengajarkannya, materi dan sumber daya apa yang perlu disediakan hingga bagaimana mengevaluasi pertumbuhan belajar siswa.

5. Evaluasi

Memodifikasi evaluasi berarti menentukan suatu metode untuk mendokumentasikan penguasaan materi pelajaran pada siswa berbakat. Guru harus memastikan bahwa siswa berbakat memiliki kesempatan untuk mendemonstrasikan penguasaan materi pelajaran sebelumnya ketika akan mengajarkan pokok bahasan, topik, atau unit baru mata pelajaran. Guru juga harus mendorong mereka untuk mengembangkan rubrik atau metode lain untuk mengevaluasi proyek atau hasil studi mandiri mereka.

Penutup

Yang dipaparkan di atas mungkin hanya sebagian pendekatan yang dapat dilakukan oleh guru untuk dapat melayani kebutuhan belajar anak berbakat, yaitu dengan memodifikasi salah satu atau beberapa hal terkait pembelajaran seperti content, proses, produk, lingkungan, dan evaluasi. Boleh jadi masih ada pendekatan atau teknik-teknik lain dengan tujuan sejenis. Dalam konteks pendidikan inklusif dimana guru diminta melayani kebutuhan belajar yang beragam dari siswa, seberapa jauh pendekatan di atas dapat diterapkan pada kebutuhan belajar lain, yang masuk dalam kategori pendidikan khusus?


[1] Disampaikan pada “Workshop Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusif”, Bogor, 2-4 April 2008. Makalah ini pernah dimuat dalam Gerbang, Oktober 2003.

About suaidinmath

Mohon kontribusi untuk menambal retak dan menambah langkah kesempurnaan tulisan ini ...

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Hari ini

Mei 2010
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Statistik Blog

  • 1,762,190 hit

Arsip blog

Award Blog Pendidikan 2012

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 259 pengikut lainnya

Dunia Pendidikan

Teratas

RSS Republika online

RSS educatinalwithptk

newsalloy

NewsAlloy button

MUSIK

suara Edukasi

 

 http://radioedukasi.com/modules/mod_miniradio/mod_miniradio.swf

suara_edukasi

RADIO EDUKASI

Live Streaming AM 1251 kHz

Silahkan unduh produk audio radio Suara edukasi

[KLIK DISINI]

Zaimuttpjok/tik

BERBAGI INFORMASI PENDIDIKAN DAN KISAH HIDUP

isti

Berilah makan keyakinanmu niscaya keraguanmu mati kelaparan

ANNISA USH SHOLIHAH

ALL ABOUT CHEMIS_3 (sharing for carring)

Dinas Dikpora Kab. Dompu

Ikhlas Mendidik Untuk Martabat Bangsa dan Negara

Vox Populi

Vox Populi: A Public Sphere for Politics and Poetry

Architecture Here and There

Style Wars: classicsm vs. modernism

Stories From the Belly

A Blog About the Female Body and Its Appetites

mywordpool

"Words - so innocent and powerless as they are, as standing in a dictionary, how potent for good and evil they become in the hands of one who knows how to combine them." ~Nathaniel Hawthorne

Fusion

Championing a young, diverse, and inclusive America with a unique mix of smart and irreverent original reporting, lifestyle, and comedic content.

Whatever

LET ME STEAL THIS MOMENT FROM YOU NOW

rachel eats

stories, pictures and cooking tales from an english woman living in rome.

y

what it comes down to

tangerine drawings

scribbles and recipes from a pastry chef in paris

Extra Dry Martini

Straight up, with a twist.

Gravity and Levity

A blog about the big ideas in physics, plus a few other things

love.life.eat

living a mindful life

%d blogger menyukai ini: