//
you're reading...
Pendidik

KURIKULUM FLEKSIBEL

Disampaikan oleh :

 Drs. DEDY KUSTAWAN, M.Pd.

 

  1. A.   PENDAHULUAN

 

Pendidikan inklusif adalah suatu sistem pendidikan yang terbuka bagi semua  peserta didik serta mengakomodasi semua kebutuhan sesuai dengan kondisi masing-masing.

Pendidikan Inklusif adalah pendidikan yang menghargai perbedaan peserta didik.

Pendidikan yang memberikan layanan kepada setiap peserta didik, tidak terkecuali.  

Pendidikan yang memberikan layanan terhadap semua peserta didik tanpa memandang kondisi fisik, mental, intelektual, sosial, emosi, ekonomi, jenis kelamin, suku, budaya, tempat tinggal, bahasa dan sebagainya. Semua peserta didik belajar bersama-sama, baik di kelas/sekolah yang berada di tempat tinggalnya yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhannya. 

Untuk kepentingan tersebut maka setiap satuan pendidikan perlu mendesain kurikulum yang fleksibel yang dapat mengakomodasi semua kebutuhan  sesuai dengan kondisi masing-masing peserta didik.

B.   KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN

 

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun oleh masing-masing satuan pendidikan dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan.

Ciri penting kurikulum tingkat satuan pendidikan yaitu sejalan dengan konsep desentralisasi pendidikan dan manajemen berbasis sekolah (school-based management), menganut prinsip fleksibilitas, menuntut perubahan, guru kreatif dan peserta didik aktif, dikembangkan dengan menganut prinsip diversifikasi, tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan seni, serta beragam dan terpadu.

KTSP dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah berpedoman pada standar kompetensi lulusan (SKL) dan Standar Isi (SI_ serta pedoman penyusunan kurikulum yang dibuat Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). KTSP tersebut dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut :

(1)   Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan

     kepentingan perserta didik dan lingkungannya

(2) Beragam dan terpadu

(3)    Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan seni

(4)  Relevan dengan kebutuhan kehidupan

(5)  Menyeluruh dan berkesinambungan

(6)  Belajar sepanjang hayat

(7)  Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah.

Dalam pelaksanaan kurikulum di setiap satuan pendidikan menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut :

(1)  Pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi, perkembangan dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya.

(2)  Kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar yaitu (a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (b) belajar untuk memahami dan menghayati, (c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif, (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain, dan (e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri, melalui proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan ,menyenangkan.

(3)  Pelaksanaan kurikulum memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan yang bersifat perbaikan, pengayaan, dan/atau percepatan sesuai dengan potensi, tahap perkembangan, dan kondisi peserta didik dengan tetap memperhatikan keperluan pengembangan pribadi peserta didik yang berdimensi ke-Tuhanan, keindividuan, kesosialan, dan moral.

(4)  Kurikulum dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik yang saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka, dan hangat dengan prinsip tut wuri handayani, ing madia mangun karsa, ing ngarsa sung tulada (di belakang memberikan daya dana kekuatan, di tengah membangun semangat dan prakarsa, di depan memberikan contoh dan teladan).

(5)  Kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai, dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar, dengan prinsip alam takambang jadi guru (semua yang terjadi, tergelar dan berkembang di masyarakat dan lingkungan sekitar serta lingkungan alam semesta dijadikan sumber belajar, contoh dan teladan)

(6)  Kurikulum dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam, sosial dan budaya  serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan dengan muatan seluruh bahan kajian secara optimal

(7)  Kurikulum yang mencakup seluruh komponen kompetensi mata pelajaran, muatan lokal dan pengembangan diri diselenggarakan dalam keseimbangan, keterkaitan dan kesinambungan yang cocok dan memadai antar kelas dan jenis serta jenjang pendidikan.

Dengan KTSP terjadi perubahan paradigma layanan pembelajaran  seperti digambarkan pada bagan di bawah ini.

Bagan 1 :

Perubahan Paradigma Layanan Pembelajaran

 (Mengacu pada Bab 10 Pasal 36 Undang-Undang Nomor 20

Tahun 2003 tentang Standar Nasional Pendidikan)

 

 

C. KURIKULUM FLEKSIBEL

Prinsip pendidikan yang disesuaikan dalam seting pendidikan inkusif menyebabkan adanya tuntutan yang besar terhadap guru sekolah umum. Mengajarkan materi yang sama kepada peserta didik di kelas menjadi mengajar setiap peserta didik sesuai dengan kebutuhan  individualnya dalam seting kelas.

Peserta didik dapat belajar dengan baik jika mereka kreatif, aktif dan kegiatannya berdasarkan pada pengalaman peserta didik. Guru yang mengetahui dan memahami keadaan ini dapat dengan mudah memasukannya ke dalam perencanaan pelaksanaan pembelajaran (RPP). Pada kelas inklusif perencanaan pembelajaran yang kreatif dan aktif berdasarkan pengalaman, kondisi dan kemampuan peserta didik bukanlah tambahan tetapi diperlukan oleh semua peserta didik termasuk peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK)

Kurikulum yang bersifat inklusif  yakni mengakomodasi peserta didik dengan berbagai latar belakang dan kemampuan, maka kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) akan lebih peka mempertimbangkan  keragaman peserta didik agar pembelajarannya relevan dengan kemampuan dan kebutuhannya. Kaitannya dengan kompetensi peserta didik  berkelainan yang perlu diakomodasi pada KTSP dikemukakan di bawah ini bahwa :

Peserta didik berkelainan tanpa disertai dengan kemampuan intelektual di  bawah rata-rata, dalam batas-batas tertentu masih dimungkinkan dapat mengikuti kurikulum standar meskipun harus dengan penyesuaian-penyesuaian.

Peserta didik berkelainan yang disertai dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata, diperlukan kurikulum yang sangat spesifik, sederhana dan bersifat tematik untuk mendorong kemandirian dalam hidup sehari-hari.

Peserta didik berkelainan tanpa disertai kemampuan intelektual di bawah rata-rata, yang berkeinginan untuk melanjutkan sampai ke jenjang pendidikan tinggi, semaksimal mungkin didorong untuk dapat mengikuti pendidikan secara inklusif pada satuan pendidikan umum sejak Sekolah Dasar.

Hal lain yang perlu diperhatikan pada penyusunan KTSP adalah kesetaraan (responsif) Gender . Seperti kita ketahui bahwa komponen sekolah ramah peserta didik (SRA) itu ada enam (6), antara lain kesetaraan (responsif) jender, yaitu : (1) Sekolah menerima dengan baik baik laki-laki maupun perempuan. (2) Merancang atau membuat bahan/materi pendidikan yang sensitif jender dan tidak mempromosikan peran jender  yang mendiskriminasi, 3) Laki-laki dan perempuan dengan setara dihargai dan didorong untuk ikut serta di kelas  dan kegiatan sekolah lainnya. (4) Menjamin fasilitas, kurikulum, buku dan pengajaran yang sesuai baik untuk peserta didik laki-laki maupun perempuan.

Dalam masyarakat yang masih meyakini status wanita di bawah pria, maka peserta didik perempuan seringkali dijauhkan dari sekolah atau untuk tinggal di rumah mengerjakan pekerjaan rumah?.

Peran  kepercayaan dan tindakan yang mendiskriminasi perempuan sebaiknya tidak tercermin dalam materi pembelajaran.

Apakah peran laki-laki dan perempuan seimbang?

Apakah jenis kegiatan untuk laki-laki dan perempuan setara?

Apakah peserta didik laki-laki dan perempuan mempunyai perilaku sama? (Seperti aktif, penolong, bahagia, produktif)

Apakah ada keseimbangan jender dalam cerita tentang binatang?

Dsb.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sebagai berikut :

1. Apa yang akan diajarkan (topik/tema/materi/isi)?

2. Mengapa hal itu harus diajarkan (tujuan)?

3. Bagaimana cara mengajarkannya (metode/proses)?

4. Sumber belajar apa yang digunakan (media)?

5. Apa yang diketahui oleh peserta didik sebelum dan

    sesudah pembelajaran (pre-tes dan post-test)?

    Bagaimanakah bentuk kegiatannya (kegiatan)?

6. Bagaimanakah pengelolaan kelas yang diinginkan

    (termasuk mengatur lingkungan fisik dan sosial)?

7. Apakah kegiatan itu sesuai untuk SEMUA peserta didik (termasuk

    PDBK)?

8. Apakah peserta didik mendapat kesempatan untuk berperan aktif

    dalam pembelajaran (kerja kelompok, berpasangan, dan individual)?

9. Bagaimana peserta didik mencatat, membuat ringkasan dan

    menampilkaan hasil belajarnya (seperti gambar, denah, grafik, puisi,

    serita, dan lain-lain)?

10.Bagimana cara mengetahui bahwa peserta didik telah

    menyelesaikan tugasnya dalam suatu proses  pembelajaran (umpan

    balik dan penilaian)?

11.Apa bentuk tindak lanjut yang diinginkan (renungan dan

    perencanaan di masa datang)?

CONTOH FORMAT RPP :

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Nama Sekolah         :

Satuan Pendidikan :

Mata Pelajaran         :

Kelas/Semester        :

SK/KD                        :

Indikator                     :

Waktu                         :

TUJUAN PEMBELAJARAN MATERI AJAR/TEMA METODE PEMBELAJARAN KEGIATAN PEMBELAJARAN ALAT/BAHAN/SUMBER BELAJAR PENILAIANHASIL BELAJAR
           

Karakteristik satuan pendidikan yang melakukan fleksibilitas kurikulum antara lain :

  1. Memiliki kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang mengakomodasi kebutuhan semua peserta didik termasuk peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK).
  2. Memiliki KTSP yang lebih peka dalam mempertimbangkan keragaman peserta didik agar pembelajarannya relevan dengan kemampuan dan kebutuhan peserta didik.
  3. Melaksanakan asesmen yaitu proses pengumpulan informasi tentang seorang pesertan didik yang akan digunakan untuk membuat pertimbangan dan keputusan yang berhubungan dengan peserta didik tersebut
  4. Selain   memiliki    rencana   pelaksanaan pembelajaran (RPP), satuan pendidikan  memiliki   program  pembelajaran individual (PPI) yang disusun sesuai dengan kebutuhan peserta didik dengan bobot materi berbeda dari kelompok dalam kelas dan dilaksanakan dalam seting klasikal.
  5. Merancang atau membuat bahan/ materi pendidikan yang sensitif jender dan tidak mempromosikan peran jender yang mendiskriminasi.
  6. Guru mampu menggunakan berbagai pendekatan mengajar yang sesuai dengan kebutuhan semua peserta didik termasuk peserta didik  berkebutuhan khusus
  7. Menjamin  tersedianya fasilitas, kurikulum, buku dan pengajaran yang sesuai baik untuk peserta didik laki-laki maupun perempuan. 
  8. Melakukan penyesuaian-penyesuaian materi, cara dan waktu dalam penilaian hasil belajar.
  9. Memiliki tim pengembang kurikulum yang komprehensif, antara lain beranggotakan guru pembimbing khusus, guru sekolah reguler, kepala sekolah, orang tua, dan ahli yang berkaitan dengan kebutuhan khusus peserta didik.

10. Menyediakan    program   khusus   bagi peserta didik yang mempunyai kebutuhan khusus, termasuk peserta didik yang berkesulitan belajar atau peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa (PKBI).

11. Bekerjasama dengan pusat sumber (resource center)  untuk meningkatkan kemampuan guru dalam memahami keberagaman peserta didik, identifikasi dan asesmen, PPI, penguasaan program khusus (orientasi dan mobilitas untuk peserta didik tunanetra, bina komunikasi persepsi bunyi dan irama untuk peserta didik tunarungu, bina diri untuk peserta didik tunagrahita ringan dan sedang, bina diri dan bina gerak untuk peserta didik tunadaksa, bina pribadi dan sosial untuk peserta didik tunalaras) dan teknis pendampingan khusus bagi peserta didik berkebutuhan khusus.

12. Menyediakan     sarana     dan prasarana khusus yang sesuai dengan kebutuhan khusus peserta didik (contoh untuk peserta didik tunanetra : riglet dan pen, serta mesin tik braille

13. Orang tua peserta didik terlibat dalam penyusunan dan dalam pembelajaran peserta didik yang diimplementasikan dalam berbagai bentuk kegiatan.

14. Di samping    menentukan kriteria  kriteria ketuntasan minimal (KKM) untuk peserta didik pada umumnya, sekolah/guru menentukan juga KKM berdasarkan baseline untuk peserta didik berkebutuhan khusus yang low function dan high function.

D. TUJUAN PENGEMBANGAN KURIKULUM SETING PENDIDIKAN

     INKLUSIF

 

Sekolah umum yang menyelenggarakan pendidikan inklusif harus mampu mengembangkan kurikulum (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) sesuai dengan tingkat, perkembangan, dan karakteristik peserta didik agar lulusan memiliki kompetensi untuk bekal hidup (life skill).

Kurikulum yang disusun bersifat inklusif dan responsif jender, proses belajar mengajar yang efektif,  lingkungan sekolah yang mendukung, sumber daya yang berasas pemerataan dan standarisasi dalam hal-hal tertentu (monitoring, evaluasi dan tes).

Kurikulum yang digunakan dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif pada dasarnya menggunakan kurikulum yang berlaku di sekolah umum, namun  kurikulumnya perlu fleksibel atau disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik, karena hambatan dan kemampuan yang dimilikinya bervariasi

Fleksibilitas kurikulum ini antara lain diimplementasikan dalam bentuk Program Pembelajaran Individual (PPI). PPI merupakan program pembelajaran yang disusun sesuai kebutuhan individu dengan bobot materi berbeda dari kelompok dalam kelas dan dilaksanakan dalam seting klasikal.

Penyesuaian kurikulum seyogyanya dilakukan oleh Tim Pengembang Kurikulum di sekolah yang terdiri dari Kepala Sekolah, Guru Kelas, Guru Mata Pelajaran, Guru Pembimbing Khusus, Orang Tua, dan Ahli (Profesional) lainnya sesuai kebutuhan

E. IDENTIFIKASI DAN ASESMEN

 

Setiap guru harus mengetahui latar belakang dan kebutuhan masing-masing peserta didik agar dapat memberikan pelayanan dan bantuannya dengan tepat.

Setiap peserta didik memiliki kebutuhan yang berbeda baik  karena faktor yang bersifat permanen seperti hambatan penglihatan, hambatan pendengaran, hambatan fisik, ataupun yang tidak permanen seperti masalah sosial, bencana alam, dll.

Penting bagi guru memiliki kemampuan mengidentifikasi peserta didik atau calon peserta didik untuk mengetahui kondisi SEMUA PESERTA DIDIK dan lebih fokus lagi mengetahui ada tidaknya Peserta didik Berkebutuhan Khusus (PDBK) yang perlu mendapatkan layanan pendidikan sesuai dengan kebutuhannya.  Untuk mencermati lebih jauh tentang latar belakang, potensi, dan kondisi khusus pada peserta didik, sekolah/guru perlu mengadakan asesmen.

Asesmen adalah suatu proses pengumpulan informasi tentang seorang peserta didik yang akan digunakan untuk membuat pertimbangan dan keputusan yang berhubungan dengan peserta didik tersebut (Lerner).

Tujuan utama asesmen adalah untuk memperoleh informasi yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam merencpeserta didikan program pembelajaran bagi peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK).

Asesmen dilakukan untuk lima keperluan, yaitu : (1) penyaringan (screening), (2) pengalihtanganan (referral), (3) klasifikasi (classification), (4) perencanaan pembelajaran (instructional  planning), dan (5) pemantauan kemajuan belajar peserta didik (monitoring pupil progress).

Pola hubungan KTSP, Silabus, RPP, Asesmen dan PPI seperti pada bagan di bawah ini :

Bagan  2 :

Pla Hubungan KTSP, Silabus, RPP, Asesmen dan PPI

F. PROGRAM PEMBELAJARAN INDIVIDUAL

Program Pembelajaran Individual atau Program Pendidikan Individual (PPI) disusun agar PDBK mendapatkan layanan pendidikan sesuai dengan kebutuhan khusus mereka. PPI ini disusun oleh guru kelas/guru mata pelajaran dan dapat minta bantuan orang atau pihak lain sesuai kebutuhan. PPI sebelum digunakan seyogyanya terlebih dahulu harus dievaluasi kelayakannya oleh suatu tim yang disebut Tim Penilai Program Pembelajaran Individual yang beranggotakan : (1) guru pembimbing khusus, (2) guru sekolah reguler (guru kelas atau guru mata pelajaran), (3) kepala sekolah, (4) orang tua, (5) ahli yang berkaitan dengan peserta didik (dokter dan psikolog), dan (6) peserta didik itu sendiri kalau mungkin.

PPI hendaknya memuat lima pernyataan yaitu :

  1. Taraf kemampuan peserta didik saat ini atau menilai kebutuhan khusus peserta didik  yang bersangkutan:

      a. Kemampuan yang dimiliki

      b. Kesulitan yang dihadapi

2.  Tujuan Umum (goals)  yang akan dicapai dalam satu tahun dan

      penjabarannya ke dalam tujuan-tujuan pembelajaran khusus atau

      mengembangkan tujuan jangka panjang dan jangka pende

3. Pelayanan  khusus yang tersedia bagi peserta didik dan perluasannya untuk  mengikuti program reguler atau merancang metode dan prosedur Pembelajaran

4.   Proyeksi tentang kapan dimulainya kegiatan dan waktu yang akan

          dipergunakan untuk memberikan pelayanan

5.  Prosedur   penilaian   dan   kriteria keberhasilan atau kegagalan program  atau menentukan penilaian kemajuan peserta didik.

Kegunaan PPI untuk menjamin bahwa tiap PDBK memiliki suatu program yang diindividualkan untuk mengakomodasi atau mempertemukan kebutuhan-kebutuhan khusus yang dimiliki mereka dan mengkomunikasikan program tersebut kepada orang-orang yang berkepentingan dalam bentuk suatu program secara tertulis. Program semacam ini diharapkan dapat membantu para guru untuk mengadaptasikan program umum dan/atau program khusus bagi PDBK yang bertolak dari kekuatan, kelemahan dan minat peserta didik. Guru-guru yang baik umumnya telah mengetahui dan berusaha mengakomodasikan kebutuhan-kebutuhan individual peserta didiknya sehingga dengan demikian menuangkan kebutuhan-kebutuhan tersebut dalam suatu bentuk tertulis.

Pelaksanaan PPI disesuaikan dengan KTSP yang bersifat fleksibel di sekolah tersebut.

Bagan 3

Pola Hubungan Desain Pembelajaran, Kegiatan Pembelajara dan Penilaian Hasil Belajar

Guru dapat berkreasi merancang PPI disesuaikan dengan kebutuhan dan profil peserta didik berkebutuhan khusus.  Sebelum merancang PPI guru melakukan identifikasi dan asesmen antara lain dengan melakukan observasi peserta didik. Sebagai contoh di bawah ini dikemukakan kegiatan-kegiatan yang diobservasi bagi peserta didik berkebutuhan khusus ”Autis” sebagai berikut :

Hari/Tanggal                                :

Nama Peserta Didik                   :

Tempat/Tanggal Lahir (Usia)    :

Kelas                                             :

Nara Orang Tua                          :

Riwayat Pendidikan                   : (Sebelum masuk ke sekolah ini)

Riwayat Kesehatan                    :

Kegiatan observasi                                             :

  1. Kemampuan PDBK mengikuti tugas       :
  2. Kemampuan bahasa receftif dan ekspresif:
  3. Kemampuan motorik (kasar dan halus)   :
  4. Kemampuan akademik/pra akademik      :
  5. Kemampuan bersosialisasi                                    :
  6. Bina Diri                                                          :

 

Setelah melakukan observasi maka kita akan mengetahui :                    

  1. Kelemahan                                                    :
  2. Kekuatan                                                        :
  3. Perilaku
    1. Perilaku  positif                                        :
    2. Perilaku negatif                                       :
    3. Kebutuhan                                                     :

 

Setelah mengetahui kebutuhannya maka selanjutnya merencpeserta didikan programnya (Program yang direncpeserta didikan)     :

MODEL PPI

1. IDENTITAS PESERTA DIDIK               :

a. Nama Peserta didik                            : ……………………………………………….

b. Tempat Tanggal Lahir            : ……………………………………………….

c. Kelas                                         : ……………………………………………….

d. Sekolah                                                : ………………………………………………

e. Nama Orang Tua                    : ……………………………………………….

f. Alamat                                       : ……………………………………………..

                                                         Telp. ……………………………………….

2. INFORMASI HASIL ASESMEN:

a. Informasi dari orang tua        : ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Komentar dan Rekomendasi : ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

b. Informasi dari Sekolah (Tim Penilai PPI)   : ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….……………………

Komentar dan Rekomendasi : ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………….

   c. Informasi dari Dokter (Doter Spesialis), Psikolog, Psykiater, dan ahli atau profesional lainnya (kalau ada) : ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

      Komentar dan Rekomendasi : ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

3. PENAMPILAN AKADEMIK DAN PERILAKU PESERTA DIDIK PADA

    AWAL PROGRAM

a. Penampilan Akademik :

        1) Kemampuan yang dimiliki

    ………………………………………………………………………………

    ………………………………………………………………………………

    ………………………………………………………………………………

    ………………………………………………………………………………

 2) Kesulitan yang dialami

             …..…………………………………………………………………………

             …………………………………………………………………………………………….

             …………………………………………………………………………………………….

     b. Perilaku Sosial :

        1) Perilaku yang baik (positif)            :

            ………………………………………………………………………………

            ………………………………………………………………………………

            ………………………………………………………………………………

            ………………………………………………………………………………

            ……………………………………………………………………………………………..

            ……………………………………………………………………………………………..         

         2) Perilaku yang kurang baik (negatif)       :

             …..…………………………………………………………………………

             …………………………………………………………………………………………….

             …………………………………………………………………………………………….

             …………………………………………………………………………………………….

             …………………………………………………………………………………………….

c.   Informasi dari Dokter (Doter Spesialis), Psikolog, Psykiater, dan ahli

atau profesional lainnya (kalau ada) : ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Komentar dan Rekomendasi : ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

4. TIM PENILAIAN PPI

NO NAMA JABATAN TANGGAL
1   Kepala Sekolah  
2   Guru Kelas/Guru Mata Pelajaran  
3   Guru Pembimbing Khusus  
4   Tenaga Ahli (Profesional) Lainnya  
5   Orang Tua  

 

5.  PROGRAM PEMBELAJARAN INDIVIDUAL (PPI)

Mata Pelajaran               :

Kelas/Semester              :

SK/KD                              :

Indikator                           :

Waktu                               :

TUJUAN PEMBELAJARAN MATERI AJAR/TEMA METODE PEMBELAJARAN KEGIATAN PEMBELAJARAN ALAT/BAHAN/SUMBER BELAJAR PENILAIANHASIL BELAJAR
           

 

G. PEMBELAJARAN YANG AKTIF, KREATIF, EFEKTIF DAN

     MENYENANGKAN

Istilah pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan

(PAKEM) sering kita dengar dan telah menjadi issue penting dalam upaya menciptakan proses pembelajaran yang berkualitas di sekolah-sekolah reguler. Depdiknas, UNESCO, dan UNICEF telah bekerjasama untuk mengembangkan Program Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dengan membuat rintisan Uji Coba) di beberapa Sekolah Dasar di Indonesia, kegiatan intinya yaitu  : (1) Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), PAKEM, dan peningkatan Peran Serta Masyarakat (PSM).

PAKEM adalah singkatan dari Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan .

Aktif  dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran  guru perlu menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga peserta didik aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Peran aktif dari peserta didik amat penting dalam rangka pembentukan generasi yang kreatif, yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain.

Kreatif  juga dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kompetensi peserta didik dan kelainan peserta didik (peserta didik-peserta didik berkebutuhan khusus).

Menyenangkan  adalah suasana belajar-mengajar yang menyenangkan sehingga peserta didik memusatkan perhatiannya secara pebuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya tinggi. Keadaan aktif, kreatif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajarannya tidak efektif, yaitu tidak menghasilkan kompetensi yang harus dikuasi peserta didik setelah proses pembelajaran berlangsung. Sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai, yaitu tercapainya kompetensi-kompetensi itu sendiri. Jadi Efektif yaitu tercapainya tujuan pembelajaran atau tercapainya kompetensi-kompetensi yang dikuasi peserta didik. Bila pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti bermain biasa.

Pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan secara garis besar dapat digambarkan seperti pada tabel di bawah ini.

PESERTA DIDIK GURU
Peserta didik terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat Guru menggunakan berbagai alat bantu dan cara membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi peserta didikGuru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan sudut/pojok baca

Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok

Guru mendorong peserta didik untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkan peserta didik dalam menciptakan lingkungan sekolahnya

 

Tabel : 1

Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan

PAKEM segi guru dan peserta didik dapat diperinci lebih jelas seperti  pada tabel di bawah ini.

SEGI AKTIF KREATIF EFEKTIF MENYE-NANGKAN
PESERTA DIDIK
  • Bertanya
  • Mengemukakan gagasan
  • Mempertanyakan

 gagsan orang

 lain dan

 gagasannya

  • Merancang/

membuat sesuatu

  • Menulis/  mengarang
  • Menguasai keterampilan yang diperlukan
  Membuat peserta didik :

  • Berani mencoba berbuat
  • Berani bertanya
  • Berani mengemukakan pendapat/gagsan
  • Berani mempertanyakan gagasan orang lain
GURU
  • Memantau kegiatan belajar peserta didik
  • Memberi umpan balik
  • Mengajukan pertanyaan yang menantang
  • Mempertanyakan gagasan peserta didik

 

  • Mengembangkan kegiatan yang beragam
  • Membuat alat bantu belajar sederhana

 

  • Mencapai tujuan pembelajaran

 

Tidak membuat peserta didik :

  • Takut salah
  • Takut ditertawakan
  • Takut dianggap sepele

 

Tabel 2.

PAKEM dari Segi Guru dan Peserta Didik

Apabila belajar menyenangkan maka  peserta didik akan senang, dengan tumbuhnya rasa senang maka tentu perhatian terhadap tugas akan besar atau penuh, dan hasil belajar secara otomatis akan meningkat. Dengan senang belajar maka peserta didik akan tumbuh untuk belajar seumur hidup.

PAKEM perlu diterjemahkan dan dilaksanakan ke dalam bentuk kegiatan yang dapat dilaksanakan di kelas. Kita mencoba membandingkan dengan gaya lama kita dalam mengajar, sekarang coba kita bayangkan tentang kegiatan pembelajaran yang lebih aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Bayangkan pula tentang peran guru, kegiatan peserta didik, pemanfaatan sumber belajar yang berbeda dengan sebelumnya. Dalam melaksanakan PAKEM kita harus memperhatikan :

  1. Memahami sifat yang dimiliki peserta didik

Kita harus memahami bahwa peserta didik memiliki sifat rasa ingin tahu dan berimajinasi. Kedua sifat itu merupakan modal dasar bagi perkembangan sifat/berfikir kritis dan kreatif. Kondisi pembelajaran di mana guru memberikan pujian peserta didik karena hasil karyanya,  guru mengajukan pertanyaan yang menantang dan guru memberi motivasi auntuk melakukan percobaan , merupakan pembelajaran yang kaya seperti yang dimaksud.

      2. Mengenal peserta didik secara individu (perorangan)

Perbedaan individual dalam PAKEM perla diperhatikan dan harus tercermin dalam kegiatan pembelajaran. Semua peserta didik dalam kelas tidak selalu mengerjakan kegiatan yang sama, melainkan berbeda sesuai dengan kecepatan belajarnya. Peserta didik-peserta didik yang mempunyai kemampuan lebih dapat dimanfaatkan untuk membantu temannya yang lemah (tutor sebaya). Dengan mengenal kemampuan peserta didik, kita dapat membantunya bila mendapat kesulitan sehingga relajar peserta didik tersebut menjadi optimal, sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

 3.  Memanfaatkan perilaku peserta didik dalam pengorganisasian

      belajar

Peserta didik sebagai makhluk social sejak kecil secara alami bermain bersama, berpasangan atau berkelompok dalam bermain. Perilaku ini dapat dimanfaatkan dalam pengorganisasian belajar. Dalam melakukan tugas atau membahas sesuatu, peserta didik dapat bekerja berpasangan atau dalam kelompok. Berdasarkan pengalaman, peserta didik akan menyelesaikan tugas dengan baik bila mereka duduk berkelompok. Duduk seperti ini memudahkan mereka untuk berinteraksi  dan bertukar pikiran. Namun demikian, peserta didik perlu juga menyelesaikan tugas secara perorangan agar bakat individunya berkembang.

4.  Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif dan

     kemampuan memecahkan masalah

Pada prinsipnya dalam kehidupan ini senantiasa ada tantangan atau masalah yang perlu dipecahkan. Hal ini memerlukan kemampuan berfikir kritis dan kreatif. Kritis untuk menganalisa masalah dan kreatif untuk melahirkan alternatif pemecahan masalah. Kedua jenis berfikir tersebut, kritis dan kreatif berasal dari rasa ingin tahu dan imajinasi yang  keduanya ada pada diri peserta didik sejak lahir, oleh karena itu tugas guru adalah mengembangkannya, antara lain dengan sering memberikan tugas dan/atau mengajukan pertanyaan yang terbuka. Pertanyaan yang dimulai dengan kata-kata “Apa yang terjadi jika….” adalah lebih baik daripada yang dimulai dengan kata-kata “Apa, berapa, kapan”, yang umumnya tertutup (jawaban betul hanya satu).

  1. Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang   

      menarik

Ruang kelas harus ditata sedemikian rupa agar menarik. Hasil pekerjaan peserta didik sebaiknya dipajangkan  untuk memenuhi ruang kelas. Pajangan hasil karya peserta didik diharapkan untuk memotivasi peserta didik untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi peserta didik lain. Yang dipajangkan dapat berupa hasil kerja perorangan, berpasangan, atau kelompok. Pajangan dapat berupa gambar, peta, diagram, model, benda asli, puisi, karangan, kliping, dan sebagainya. Ruang kelas yang penuh dengan pajangan hasil pekerjaan peserta didik, dan ditata dengan baik, dapat membantu dalam kegiatan pembelajaran karena dapat dijadikan rujukan ketika membahas suatu masalah.

  1. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar

Lingkungan, baik lingkungan fisik, sosial atau budaya merupakan sumber yang sangat kaya untuk bahan belajar peserta didik. Lingkungan dapat berperan sebagai media belajar, tetapi juga sebagai objek kajian (sumber belajar). Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar sering membuat peserta didik merasa senang dalam belajar. Belajar dengan menggunakan  lingkungan tidak selalu harus ke luar kelas. Bahan dari lingkungan dapat dibawa ke ruang kelas untuk menghemat biaya dan waktu. Pemanfaatan lingkungan dapat mengembangkan sejumlah keterampilan seperti mengamati (dengan seluruh indera), mencatat, merumuskan pertanyaan, berhipotesis, mengjlasifikasi, membuat tulisan, dan membuat gambar/diagram.

  1. Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar

Kualitas hasil belajar akan meningkat jika terjadi interaksi dalam belajar. Pemberian umpan balik dari guru kepada peserta didik merupakan  salah satu bentuk interaksi antara guru dan peserta didik. Umpan balik hendaknya lebih mengungkap kekuatan daripada kelemahan peserta didik. Cara memberikan  umpan balik harus secara santun hal ini agar peserta didik lebih percaya diri dalam menghadapi tugas-tugas belajar selanjutnya. Guru harus konsisten memeriksa hasil pekerjaan peserta didik dan memberikan komentar dan catatan. Catatan guru berkaitan dengan pekerjaan peserta didik lebih bermakna bagi pengembangan diri peserta didik daripada hanya sekedar angka.

  1. Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental

Aktif mental  lebih diinginkan daripada aktif fisik. Sering bertanya, mempertanyakan gagasan orang lain dan mengungkapkan gagasan merupakan tanda-tanda aktif mental. Peserta didik tidak merasa takut ditertawakan, tidak takut disepelekan, tidak takut dimarahi jika salah merupakan syarat berkembangnya aktif mental.

Berikut tabel beberapa contoh kegiatan pembelajaran dan kemampuan  guru yang bersesuaian.

Kemampuan Guru Kegiatan Pembelajaran
1. Guru merancang dan  mengelola kegiatan pembelajaran yang mendorong beragam, peserta didik untuk berperan aktif dalam pembelajaran Guru melaksanakan kegiatn pembelajaran , misalnya :

  • Percobaan
  • Diskusi kelompok
  • Memecahkan masalah
  • Mencari informasi
  • Menulis laporan/cerita/puisi
  • Berkunjung ke luar kelas
2. Guru menggunakan alat bantu dan sumber belajar yang beragam Sesuai mata pelajaran, guru menggunakan, misal :

  • Alat yang tersedia atau  dibuat sendiri
  • Gambar
  • Studi kasus
  • Nara sumber
  • Lingkungan

 

3. Guru memberi kesempatan  kepada peserta didik untuk mengembangkan keterampilan Peserta didik :

  • Melakukan percobaan, pengamatan, atau wawancara
  • Mengumpulkan data/jawaban dan mengolahnya sendiri
  • Menarik kesimpilan
  • Memecahkan masalah, mencari rumus sendiri
  • Menulis laporan/hasil karya lain dengan kata-kata sendir
4.  Guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengungkapkan gagasannya sendiri secara lisan atau tulisan Melalui :

  • Diskusi
  • Lebih banyak pertanyaan terbuka
  • Hasil karya yang merupakan pemikiran peserta didik sendiri
5.  Guru menyesuaikan bahan dan kegiatan belajar dengan kemampuan peserta didik.
  • Peserta didik dikelompokkan sesuai dengan kemampuan (untuk kegiatan tertentu)
  • Bahan pelajaran disesuaikan dengan kemampuan kelompok tersebut
  • Tugas perbaikan atau pengayaan diberikan
6.  Guru mengaitkan kegiatan pembelajaran dengan pengalaman-pengalamannya sendiri.
  • Peserta didik menceritakan atau memanfaatkan  pengalaman peserta didik sehari-hari
  • Peserta didik menerapkan hal yang dipelajari dalam kegiatan sehari-hari
7.  Menilai kegiatan pembelajaran  dan kemajuan belajar peserta didik secara terus menerus
  • Guru memantau kerja peserta didik
  • Guru memberikan umpan balik

 

Lingkungan belajar sangat berperan dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, sehingga dapat meningkatkan keaktifan peserta didik dan keefektifan belajar. Oleh karena itu lingkungan belajar harus ditata kembali. Menata lingkungan belajar di kelas erat hubungannya dengan keadaan fisik kelas seperti suhu, kebersihan, sirkulasi udara, interior dsb. Pengaturan ruangan, pengelolaan sumber belajar dan banyak hal. Dan yang penting sekali adalah bagimana mengelola perpustakaan kelas dan cara memajang hasil kerja peserta didik.

Pengaturan sarana untuk bergerak yaitu : Peserta didik dapat bergerak bebas di antara meja dan kursi. Meja dan kursi sebaiknya bisa dipindahkan dengan mudah untuk kerja kelompok. Tempat duduk disusun sedemikian rupa sehingga memungkinkan peserta didik dapat juga duduk di lantai tanpa mengganggu kegiatan pembelajaran  atau kerja kelompok. Bisa saja menggunakan lebih dari satu papan tulis atau media menulis  lainnya yang sesuai. Peserta didik penyandang cacat dapat masuk dan bergerak di kelas dengan leluasa. Peserta didik dengan beragam latar belakang dan kemampuan dapat duduk  dengan yang lain dan tidak dipisahkan. Peserta didik laki-laki dan perempuan duduk bersama atau terpisah?

Merancang kelas yang nyaman (cahaya, suhu dan ventilasi) antara lain dengan mengatur meja sehingga peserta didik tidak harus belajar menghadap sinar matahari secara langsung. Cahaya harus datang dari sisi kiri peserta didik. Cahaya juga harus cukup terang. Suasana kelas tidak boleh sesak maka ventilasi harus cukup/baik agar udara dapat masuk/keluar sehingga kelas nyaman. Posisi tempat duduk peserta didik digilir sehingga peserta didik tidak selalu duduk di satu tempat.
Memastikan semua peserta didik telah diakses dan mempunyai tempat duduk yang sesuai dengan kebutuhannya, karena mungkin beberapa peserta didik mengalami kesulitan mendengar atau melihat.
     

Pojok belajar dengan pemanfaatan sudut ruangan (Pojok IPA, Pojok

Matematika). Label benda (Benda-benda yang ditemukan, diberikan label, dipajang dan digunakan oleh peserta didik untuk membantu mereka menghubungkan antara  kegiatan pembelajaran di sekolah dengan kehidupan  sehari-hari  dan masyarakat setempat). .  Pemanfaatan alat dan media dari beberapa sumber belajar      (Misalnya :alat/media dari pengrajin, musisi). Pemeliharaan alat/media belajar (Peserta didik harus berpartisipasi secara penuh dalam mengelola kelas, bahan dan media pembelajaran caranya bisa berkelompok, tim, atau komite memelihara pojok belajar)

Tempat pemajangan media pembelajaran dan hasil karya peserta didik di dalam dan di uar kelas. (Agar peserta didik tertarik pada pembelajaran tersebut dan merasa sebagai bagian dari kelas, dan akan lebih menarik orang tua peserta didik dalam memahami hasil-hasil pembelajaran anaknya. Karya semua peserta didik dipajang dengan tepat untuk menunjukkan kemampuan unik  mereka.

Peserta didik akan senang melihat namanya tertera pada karyanya karena hal ini membuat mereka merasa bangga dan merupakan penghargaan kepada mereka atas hasil karyanya.

Tempat pemajangan dibuat menarik bisa menjadi alat pengajaran dan

akan memberikan motivasi belajar peserta didik meningkat..

Tempat pemajangan dapat dibuat dari bahan lokal seperti palem, rotan,

atau bambu yang dianyam dengan bantuan masyarakat setempat, atau

bisa  pula dibuat dari bahan kayu atau karya tulis dan gambar dapat

dipajang pada tali yang melintas di atas kelas atau melintasi dinding

ini bisa pula digunakan untuk informasi bahasa dan matematika (pojok

belajar yang digantung)

Manfaat pajangan kelas  yaitu : (1) Memberikan informasi kepada peserta didik. (2) Memajangkan karya peserta didik dan meningkatkan penghargaan diri. (3) Memperkuat pelajaran yang telah diberikan.

(4)  Memberikan umpan balik tentang kegiatan penting. (5) Memotivasi peserta didik bekerja bersama-sama dan saling membantu  apapun latar belakang atau kemampuan mereka . (6) Memastikan semua peserta didik dapat saling belajar dan berkarya.

Kita dapat membuat perpustakaan kelas sederhana. Perpustakaan kelas dapat  dibuat dengan menggunakan kotak kardus atau papan-papan bekas yang didekorasi dan kemudian diisi dengan buku-buku lokal). Membuat buku-buku buatan peserta didik (Buku yang dibuat peserta didik dapat menjadi media pembelajaran yang efektif.). Buku berfungsi sebagai pembelajaran keterampilan. Buku tidak hanya untuk dibaca saja, tetapi dapat digunakan untuk  mengajarkan keterampilan lain, khususnya untuk peserta didik yang mengalami kesulitan penglihatan. Misalnya sebuah buku bisa dibuat dengan menempelkan benda-benda ke dalam halamannnya. Peserta didik tersebut belajar dengan meraba benda tersebut; misalnya segitiga ditempelkan pada satu halaman buku sehingga peserta didik tersebut dapat belajar bagaimana bentuk segitiga itu. Perpustakaan kelas atau perpustakaan sekolah merupakan sumber belajar masyarakat yang penting,  khususnya ketika peserta didik ”menerbitkan” dari kegiatan pengumpulan data masyarakat.  Informasi tentang cuaca, bebatuan dan tanah, kalender pertanian, lokasi rumah  tertentu, dapat digunakan pula oleh petani untuk mengetahui musim tanam.

—————–oOo———————-

DAFTAR KEPUSTAKAAN

1. Abdurahman Mulyono, (1999), Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar,

            Jakarta :Rineka Cipta

2. Alimin Zaenal dan Rochyadi E, (2004), Asesmen, Bandung : UPI

3. Depdiknas, UNESCO, UNICEF, (2003)  Menciptakan Masyarakat

           Peduli Pendidikan Anak, Program Manajemen Berbasis Sekolah

          (MBS).

4. Ditjen Dikdasmen, idpnorway, UNESCO, Helen Keler Internasional, (2007),

            Perangkat untuk  Mengembangkan LIRP, Jakarta : UNESCO

5. Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, (2007), Pedoman Pembentukan Pokja

            Pendidikan Inklusif  Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Bandung :

            Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat

6. Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa,  (2007) , Pedoman Umum

           Penyelenggaraan Pendidikan  Inklusif. Jakarta.

7. Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa (2007), Prosedur Operasi Standar

           Pendidikan  Inklusif.

8. Kustawan Dedy, (2007), Penilaian Hasil Belajar dalam Seting Pendidikan

           Inklusif, Bandung :   Dinas  Pendidikan Provinsi Jawa Barat

9. Munandar Dadang Rahman, (2007) Materi Sosialisasi KTSP, Dinas

          Pendidikan Provinsi Jawa Barat.

10. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4496)

11. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 150, Tambahan Lembaran Negara, Nomor 4585)

12. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi

About suaidinmath

Mohon kontribusi untuk menambal retak dan menambah langkah kesempurnaan tulisan ini ...

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Hari ini

Mei 2010
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Statistik Blog

  • 1,764,690 hit

Arsip blog

Award Blog Pendidikan 2012

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 259 pengikut lainnya

Dunia Pendidikan

Teratas

RSS Republika online

  • Warga Pidie Jaya Harapkan Bantuan Segera Tersalurkan 9 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, TRIENGGADENG -- Masyarakat korban gempa di Kabupaten Pidie Jaya mengharapkan bantuan dari pemerintah bisa segera tersalurkan. Seperti masyarakat Desa Kuta Pangwa, Kecamatan Trienggadeng, Kabupaten Pidie Jaya, Jumat (9/12). Dimana...
    Sadly Rachman
  • BPBD Magetan Bangun Posko Tanggap Darurat 9 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, MAGETAN -- BPBD Kabupaten Magetan, Jawa Timur, membangun sebuah pos komando (posko) tanggap darurat bencana di wilayah paling rawan tanah longsor guna memberikan penanganan cepat jika sewaktu-waktu terjadi...
    Yudha Manggala P Putra

RSS educatinalwithptk

newsalloy

NewsAlloy button

MUSIK

suara Edukasi

 

 http://radioedukasi.com/modules/mod_miniradio/mod_miniradio.swf

suara_edukasi

RADIO EDUKASI

Live Streaming AM 1251 kHz

Silahkan unduh produk audio radio Suara edukasi

[KLIK DISINI]

Zaimuttpjok/tik

BERBAGI INFORMASI PENDIDIKAN DAN KISAH HIDUP

isti

Berilah makan keyakinanmu niscaya keraguanmu mati kelaparan

ANNISA USH SHOLIHAH

ALL ABOUT CHEMIS_3 (sharing for carring)

Dinas Dikpora Kab. Dompu

Ikhlas Mendidik Untuk Martabat Bangsa dan Negara

Vox Populi

Vox Populi: A Public Sphere for Politics and Poetry

Architecture Here and There

Style Wars: classicsm vs. modernism

Stories From the Belly

A Blog About the Female Body and Its Appetites

mywordpool

"Words - so innocent and powerless as they are, as standing in a dictionary, how potent for good and evil they become in the hands of one who knows how to combine them." ~Nathaniel Hawthorne

Fusion

Championing a young, diverse, and inclusive America with a unique mix of smart and irreverent original reporting, lifestyle, and comedic content.

Whatever

LET ME STEAL THIS MOMENT FROM YOU NOW

rachel eats

stories, pictures and cooking tales from an english woman living in rome.

y

what it comes down to

tangerine drawings

scribbles and recipes from a pastry chef in paris

Extra Dry Martini

Straight up, with a twist.

Gravity and Levity

A blog about the big ideas in physics, plus a few other things

love.life.eat

living a mindful life

%d blogger menyukai ini: