//
you're reading...
Pendidik

KONSTRUKSI JENDER

 

(Ir. Hayati, M.Hum)

 

A.   Apa yang Dimaksudkan dengan Konstruksi Jender?

Untuk memahami konstruksi jender, sebelumnya kita perlu memahami dengan benar tentang perbedaan antara jender dan seks. Penjelasan perbedaan jender dan seks seperti yang tertulis pada diagram dan tabel berikut.

Diagram 1. Hal-hal yang terkait dengan jender.

JENDER
Tanggung jawab
Nilai
Tuntutan budaya
Peran
Tugas-tugas khusus
Laki-laki atau perempuan
Jenis kelamin merupakan satu-satunya hal yang tidak terkait dengan jender:

 -kita sudah dilahirkan seperti itu

 -ia membawa sifat-sifat biologis kita

-ia tidak dapat diubah

Pakaian

 

Sikap dan keyakinan
Permainan

 

Tabel 1. Perbedaan Jender dan Seks

Pengertian  Jender

Jender mengacu pada:

  • Hubungan perempuan dan laki-laki berdasarkan latar belakang sosial budaya dalam setiap masyarakat yang mempengaruhi bagaimana perempuan dan laki-laki diperlakukan, pembagian kerja menurut jenis kelamin, sikap   terhadap yang lain dan terhadap diri   sendiri, dan tingkah laku perempuan dan laki-laki.
  • Perbedaan tingkah laku perempuan dan laki-laki, nilai social, dan aspirasi dalam konteks budaya masyarakat, sosial, ekonomi, dan lingkungan politik.
  • Suatu perilaku social yang digambarkan oleh tiap masyarakat untuk perempuan dan laki-laki yang dipelajari dari lahir dan yang bisa berubah sejalan dengan waktu.
  •   Istilah perempuan dan laki-laki  mengacu pada karakteristik biologis yang dibawa sejak lahir dan istilah feminine serta maskulin yang mengacu pada karakteristik jender yang diciptakan melalui proses sosialisasi. 

 

JENDER  (SOSIAL) tidak sama dengan  SEKS  (BIOLOGI)

 

JENDER

  • Jender dikonstruksikan dan dideterminasi secara sosial di mana karakteristik dan peranan perempuan dan laki-laki diterima dalam masyarakat.
  • Jender adalah tingkah laku yang dipelajari.
    • Banyak stereotype jender yang umumnya dan secara salah diberikan kepada perempuan dan laki-laki.

 

SEKS

  • Karakteristik fisik
  • Karakteristik bawaan bersifat fungsional yang diberikan, diturunkan, permanent, dan tidak berubah.
  • Karakteristik biologis alamiah.

 

 

 

 

Diagram 2: Perbedaan Jender dan Jenis Kelamin

     

    JENDER                                       VS                SEX/JENIS  KELAMIN

 

Konstruksi/bentuk social
Tidak dimiliki sejak lahir
Lingkungan

Bisa diubah

Contoh:

Perempuan dan laki-laki bisa mengasuh anak, mendidik anak, bekerja di sawah, dll.

Biologis
                

Dimiliki sejak lahir
Tidak bisa diubah

Contoh:

Hanya perempuan yang bisa mengandung, melahirkan, dan  menyusui anak, serta menstruasi. 

 

Mengacu pada:

Semua perilaku yang diterima secara budaya sebagai cara untuk menjadi seorang perempuan (femininitas) dan cara menjadi seorang laki-laki (maskulinitas)

Mengacu pada:

Karakteristik biologis dan reproduktif. Kita dilahirkan sebagai manusia berjenis kelamin laki-laki dan perempuan

Cara menjalani maskulinitas dan feminitas dipelajari; Semuanya merupakan peran sosial yang dinamis, berlangsung terus-menerus, terus berubah dan dapat diubah, direkonstruksikan dari waktu ke waktu melalui praktik sosial dan budaya.

 

Jenis kelamin seseorang merupakan aspek biologis

 

           

Berdasarkan uraian pada diagram dan tabel di atas bahwa sesungguhnya jender dan seks adalah dua hal yang berbeda. Seks mengacu kepada perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan, sedangkan jender mengacu pada ciri-ciri yang ditentukan secara sosial dan budaya tentang makna menjadi maskulin atau feminin.  

  • Jender dikonstruksikan secara sosial melalui interaksi antar individu dan antara individu dengan lembaga-lembaga sosial seperti keluarga, agama, sekolah, dan masyarakat.
  • Pengalaman kita yang terkait dengan jender akan membentuk cara kita berinteraksi dengan orang lain–baik orang dewasa maupun anak-anak–dan cara kita memahami interaksi tersebut.
  • Jenis kelamin seseorang tetap adanya.
  • Sedangkan jender berubah dari waktu ke waktu. Perilaku maskulin dan feminin bukanlah ekspresi biologis alamiah, melainkan dipelajari. Perilaku jender dibentuk secara aktif dan dibentuk ulang (rekonstruksi) melalui praktik-praktik sosial, politik dan historis yang kompleks.

Dengan demikian, konstruksi sosial jender adalah suatu konsep yang menerangkan bahwa jender bukanlah karakteristik alamiah atau biologis dari perempuan dan laki-laki di dalam suatu kebudayaan, tetapi mengacu kepada cara menginterpretasikan sejumlah perbedaan biologis tertentu ke dalam harapan-harapan sosial di dalam kehidupan sehari-hari. Konstruksi sosial masa kini yang terkait dengan laki-laki dan perempuan telah membentuk keyakinan tertentu tentang hubungan antara perempuan dan laki-laki.

B.   Stereotype dan Bagaimana Jender Dikonstruksikan dalam masyarakat

Seperti yang telah diuraikan di atas, secara umum pemahaman jender mengarah pada   perbedaan peran, tanggung jawab, fungsi, dan bahkan ruang di mana manusia beraktifitas. Perbedaan jender  melekat pada cara pandang kita, sehingga kita sering lupa seakan-akan hal itu merupakan sesuatu yang permanen dan abadi, sebagaimana abadinya ciri-ciri biologis yang dimiliki oleh perempuan dan laki-laki.

Matrik  sederhana di bawah ini dapat menunjukkan  pembedaan perempuan dan laki-laki secara jender yang mengakibatkan pemisahan-pemisahan sebagai berikut:                                                   

 Jender

  Perempuan Laki-laki
Stereotiping Feminin Maskulin
Pembagian kerja secara jender Kerja feminin Kerja maskulin
Ruang lingkup Domestik Publik
Fungsi Reproduksi Produksi
Tanggung jawab Nafkah tambahan Nafkah utama

 

Pelabelan atau penandaan (stereotype) yang sering kali bersifat negatif secara  umum selalu melahirkan ketidak-adilan. Salah satu jenis stereotype yang melahirkan ketidak-adilan dan diskriminasi bersumber dari pandangan jender karena menyangkut pelabelan atau penandaan terhadap salah satu jenis kelamin tertentu. Misalnya, pandangan terhadap perempuan bahwa tugas dan fungsinya hanya melaksanakan pekerjaan yang berkaitan dengan kerumah-tanggaan atau tugas domestik dan sebagai akibatnya ketika berada  di ruang publik maka jenis pekerjaan, profesi atau kegiatannya di masyarakat bahkan di tingkat pemerintahan dan negara hanyalah merupakan “perpanjangan” peran domestiknya.

Misalnya, karena perempuan dianggap tekun, sabar, teliti, dan penuh kasih sayang maka dia dianggap lebih pas bekerja sebagai guru TK/SD. Apabila seseorang laki-laki marah, ia dianggap tegas tetapi apabila perempuan marah atau tersinggung dianggap emosional dan tidak dapat menahan diri. Standart penilaian terhadap perilaku perempuan dan laki-laki berbeda namun standar nilai tersebut lebih banyak merugikan perempuan. Contoh:

  • Label kaum perempuan sebagai “ibu rumah tangga” sangat merugikan mereka jika hendak aktif dalam “kegiatan laki-laki” seperti kegiatan politik, bisnis maupun birokrasi, menjadi kepala sekolah, pengawas, dan lainnya. Kesempatan perempuan untuk mengikuti pendidikan ke jenjang yang lebih tinggipun menjadi lebih terbatas dari pada laki-laki karena adanya pandangan bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi karena akhirnya akan menjadi ibu rumah tangga atau “diambil orang”, 
  • Sementara label laki-laki sebagai “pencari nafkah” mengakibatkan laki-laki selalu apa saja yang dihasilkan oleh perempuan dianggap “sambilan’ sehingga kurang dihargai.

Jadi jelaslah mengapa jender perlu dipersoalkan. Perbedaan konsep jender secara sosial telah melahirkan perbedaan peran perempuan dan laki-laki dalam masyarakatnya. Secara umum adanya jender telah melahirkan perbedaan peran, tanggung jawab, fungsi dan bahkan ruang tempat dimana manusia  beraktivitas. Sedemikian  rupanya perbedaan jender ini melekat pada cara pandang kita, sehingga kita sering lupa seakan-akan hal itu merupakan sesuatu yang permanen dan abadi sebagaimana permanen dan abadinya ciri biologis yang  dimiliki oleh perempuan dan laki-laki.

C.   Konstruksi dan Rekonstruksi Jender: Oleh Siapa? Bagaimana? Untuk Apa?

Sekolah merupakan salah satu lembaga kunci yang berperan mengkonstruksikan jender. Ada banyak institusi lain yang berperan membentuk sikap sosial terhadap perilaku yang dipandang patut bagi perempuan dan laki-laki. Termasuk di antaranya adalah:

  • Keluarga
  • Media
  • Agama
  • Sekolah

 

Keluarga

Keluarga merupakan lembaga sosial yang sangat penting dan memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap identitas jender anak-anak. Orang tua adalah pendidik utama bagi anak-anak mereka. Semenjak dilahirkan, anak telah diperlakukan dengan cara-cara yang didasarkan pada jender seperti melalui cara mereka diasuh, melalui mainan, pakaian dan harapan-harapan (anak perempuan tidak bermain perang-perangan; anak laki-laki tidak bermain lompat tali). Anak-anak belajar tentang pentingnya peran jender pada usia kira-kira tiga tahun. Pengaruh yang terkait jender ini terus berlangsung hingga masa remaja dan dewasa.

Anak laki-laki dan anak perempuan mendapat perlakuan berbeda dalam keluarga. Hal ini dipertahankan dengan adanya harapan-harapan yang berbeda terhadap perilaku mereka. Misalnya, karakteristik feminin seperti mengasuh, intuisi dan merawat tidak mendapat status yang sama dengan karakteristik maskulin seperti sifat-sifat berani/agresi, kekuatan dan kepercayaan diri.

Biasanya di dalam keluaraga, anak laki-laki disosialisasikan agar sedapat mungkin tidak sama dengan anak perempuan. Tekanan terhadap perasaan-perasaan sayang yang dipandang bukan bagian dari citra seorang laki-laki. Bila anak laki-laki diajar untuk menahan emosi mereka dan anak perempuan dijauhkan dari peluang untuk menjadi kuat, percaya diri dan tegas, maka proses sosialisasi hanya akan menanamkan konsep jender yang sempit.

Media

Media merepresentasikan perempuan dan laki-laki dengan cara yang menguatkan dan menegaskan pelabelan seksis. Peran media sangat ampuh dalam membentuk gagasan tentang perilaku berbasis jender. Citra perempuan adalah kurus, cantik dan muda, sedangkan citra laki-laki adalah jantan, muda dan kuat. Perempuan cenderung dipandang pasif dan lembut, berbeda dengan laki-laki yang aktif dan agresif. Seperti halnya lembaga sosial yang lain, media juga dapat ditantang.

Agama

Agama merupakan lembaga sosial yang sangat kuat. Seperti halnya lembaga sosial lain yang sudah dibahas, agama adalah pemain dan pembentuk jender dan relasi jender yang ampuh.  Banyak agama masa kini yang didasarkan pada gagasan bahwa laki-laki dan perempuan hendaknya memainkan peranan jender yang ‘pantas’. Persoalan kepemimpinan perempuan telah menimbulkan kontroversi beberapa tahun belakangan ini.

Sekolah

Sebagai pendidik kita perlu menyadari implikasi negatif dan sempit dari konstruksi jender dalam kehidupan murid. Misalnya, akibat diferensiasi/diskriminasi jender dalam pendidikan murid laki-laki dan perempuan. Pada akhirnya, hal ini akan menuntun kepada ketidaksetaraan prestasi anak perempuan dan anak laki-laki.

Para pendidik bertanggung jawab untuk memastikan bahwa pesan-pesan yang disampaikan kepada anak perempuan dan anak laki-laki melalui praktik mengajar dan kurikulum tidak membatasi pilihan hidup serta jangkauan perilaku yang dapat diakses oleh anak perempuan dan anak laki-laki, melalui stereotipe/pelabelan jender.

Bahasa

Bahasa bukanlah institusi yang mengkonstruksikan jender, namun ia memainkan peranan penting dalam menciptakan dan memelihara hubungan yang tidak setara antara perempuan dan laki-laki.

Bahasa adalah sarana yang membuat kita mengerti dunia dan realitas sosial. Ia bukan sekadar sarana untuk komunikasi; Ia membentuk pola pikir kita tentang relasi antara anak perempuan dan anak laki-laki, serta antara perempuan dan laki-laki dewasa.

Ada berbagai macam aliran/gaya cerita, buku, TV, puisi, lagu, film, iklan dan percakapan. Cerita-cerita ini menawarkan kepada kita, cara-cara untuk memahami dan pada saat yang sama membentuk hidup kita. Ia menuntun pemahaman kita tentang cara menjadi manusia, perempuan dan laki-laki, dan hubungan yang ada di antara keduanya (jenis manusia). Pengaruh dari semua cerita ini bersama-sama sangatlah kuat dan turut menentukan kebutuhan serta hasrat manusiawi kita, termasuk kebutuhan untuk dicintai, diterima, dan hasrat untuk bahagia. Anak perempuan dan anak laki-laki dengan segera akan belajar bahwa ada cara-cara yang patut menurut jender guna memenuhi kebutuhan dan hasrat ini.

Hakikat praktik-praktik bahasa terkait jender telah tampak melalui sejumlah penelitian, dan temuan-temuannya antara lain:

  •  Sempitnya pembentukan karakter, penggambaran yang tidak setara tentang karakter perempuan dan laki-laki serta dari cerita tentang pekerjaan perempuan dan laki-laki dalam bahan bacaan di sekolah
  •  Ada cukup banyak perbedaan dalam cerita yang ditulis oleh murid laki-laki dan perempuan, termasuk bentukan karakter, latar dan alur cerita, dan tingkat kegiatan; misalnya, lebih banyak kegiatan dan lebih luas pekerjaan diberikan bagi karakter/tokoh laki-laki
  •  Perempuan seringkali ditokohkan sebagai orang yang membantu, menyayangi dan mengasuh, sementara laki-laki seringkali digambarkan sebagai tokoh yang agresif secara fisik dan verbal
  •  Perbedaan-perbedaan yang jelas dalam pilihan bacaan anak perempuan dan anak laki-laki
  •  Akses yang tidak setara terhadap ruang bahasa; Anak laki-laki berbicara lebih banyak di kelas, dalam pertemuan dan acara bincang-bincang di televisi.

Pemahaman dan pengalaman anak-anak yang terkait jender, dipengaruhi oleh praktik-praktik bahasa yang dijalani setiap hari. Para pendidik perlu menyadari hakikat praktik bahasa yang terkait jender dan menyadari ciri jender dalam bacaan, tulisan dan pembicaraan di sekolah mereka.

Pelabelan (stereotipe) murid-murid

Sekolah merupakan institusi yang turut menguatkan berbagai perilaku anak laki-laki dan anak perempuan. Guru merefleksikan praktik ini sebagai penegasan bagi anak laki-laki dan perempuan, misalnya guru dapat melihat hal yang bertentangan seperti tenang dan ribut, aktif dan pasif, dominan dan patuh. Para guru cenderung memiliki persepsi stereotiopikal tentang perilaku dan karakter anak perempuan dan anak laki-laki. Intinya adalah, harapan-harapan ini dapat mempengaruhi perilaku dan mengukuhkan cara-cara bertindak yang stereotipikal. Hal ini termasuk persepsi guru bahwa anak perempuan tidak pandai matematika dan karena itu tidak membantu mereka.

Guru sebagai teladan

Guru berperan penting dan merupakan teladan yang sangat berpengaruh. Murid-murid belajar banyak sekali dengan mengamati interaksi antar guru dan dengan orang dewasa lain. Para guru lebih dari sekadar penerus pengetahuan. Mereka adalah konstruktor dan rekonstruktor jender yang aktif. Melalui interaksinya, mereka menyampaikan pesan-pesan tentang cara mereka menangani jender dalam kehidupan mereka sendiri. Peran mereka untuk secara aktif mengangkat persoalan-persoalan tentang pembatasan hakikat jender bagi anak laki-laki dan anak perempuan merupakan hal yang amat penting.

Untuk apa jender dikonstruksikan? Dominasi, kekuasaan, penempatan pada tingkat sosial yang lebih rendah. Jender merupakan persoalan dominasi, bukan perbedaan.

D.   Beberapa Teori Pendukung Konstruksi Jender

Penting sekali untuk memahami perbedaan antara beberapa teori yang membawa kita sampai pada pemahaman terkini tentang konstruksi sosial jender. Jika kita mau agar pendidikan jender di lembaga-lembaga pendidikan dan masyarakat sekolah berjalan dengan efektif, maka semua pendidik dan guru harus betul-betul memahami konstruksi jender dan pengaruhnya terhadap kehidupan mereka secara pribadi maupun profesional.

Berikut ini adalah bacaan tentang teori-teori yang membawa kita hingga sampai pada pemahaman kita sekarang tentang konstruksi jender. Bacaan ini diadaptasi dari sejumlah sumber.

Jender terkait dengan makna menjadi perempuan atau laki-laki. Berbagai penelitian telah dilaksanakan selama beberapa periode dan menghasilkan sejumlah teori tentang jender, yang kemudian digantikan oleh teori-teori yang lebih baru. Teori-teori ini mengupas dan menjelaskan tentang proses belajar anak laki-laki dan anak perempuan untuk menjadi seorang laki-laki dewasa (maskulinitas) atau perempuan dewasa (feminitas).

Pada awalnya, ada anggapan bahwa perbedaan antara perempuan dan laki-laki dibangun secara biologis. Teori ini didasarkan pada keyakinan tentang perbedaan ‘alamiah’ dan ‘sifat dasar’ antara laki-laki dan perempuan. Menurut teori ini, perempuan ‘secara alamiah’ lebih bersifat pengasuh dan penyayang daripada laki-laki karena memang dilahirkan seperti itu. Laki-laki ‘secara alamiah’ lebih kejam dan agresif daripada perempuan karena memang dilahirkan demikian.

Teori ini sangat ampuh karena dalam banyak aspek kehidupan, laki-laki dan perempuan, anak laki-laki dan anak perempuan, jelas terlihat ‘secara alamiah’ dan ‘pada dasarnya’ berbeda. Di masa lampau, perbedaan-perbedaan ini dimanfaatkan sebagai cara mengatur berbagai kegiatan. Hal ini dapat dilihat dalam alokasi tugas di masa lampau yang didasarkan pada jenis kelamin. Teori ini tidak mempertimbangkan keberagaman dan keberbedaan di kalangan laki-laki maupun perempuan. Pendekatan ini sungguh membatasi akses perempuan dan laki-laki kepada beragam kegiatan dan pilihan yang tersedia bagi semua manusia. Teori tentang perbedaan alamiah tidak menjelaskan mengapa ada banyak laki-laki yang sama sekali tidak kejam dan yang sensitif serta sangat peduli pada orang lain. Teori ini tidak menjelaskan mengapa ada banyak perempuan yang menjadi manajer yang handal dan sangat mampu mengambil peran yang secara tradisional dipandang sebagai ‘daerah kekuasaan kaum laki-laki’.

Kemudian, pada tahun 1960-an dan 1970-an, muncul sebuah aspek kunci sebagai penjelasan untuk memahami perbedaan antara laki-laki dan perempuan, yaitu proses Sosialisasi. Sosialisasi merupakan cara ketika serangkaian nilai, keyakinan, dan perilaku yang spesifik jender dipelajari. Teori ini menyatakan bahwa anak-anak secara jelas diajarkan tentang cara-cara menjadi seorang anak perempuan atau anak laki-laki. Teori ini juga sangat ampuh karena anak-anak diajarkan dengan cara-cara yang diterima secara budaya untuk menjadi maskulin atau feminin. Isu penting terkait dengan Teori Sosialisasi yaitu bahwa teori ini mengkonstruksikan anak-anak sebagai spons kosong yang menyerap semua pesan yang ada kaitannya dengan peran seks mereka. Teori ini tidak memperhitungkan bahwa setiap kita adalah individu yang memiliki pandangan-pandangan sendiri. Kita dapat membuat keputusan sendiri dan hal ini memainkan peranan penting dalam memengaruhi identitas kita.

Selanjutnya, terdapat penelitian terbaru yang didasarkan pada gagasan bahwa jender dikonstruksikan secara sosial. Menurut teori ini, tidak ada karakteristik ‘mendasar’ yang maskulin atau feminin. Penjelasan lebih difokuskan kepada pandangan bahwa laki-laki dan perempuan dapat mengambil serangkaian maskulinitas dan feminitas yang berbeda. Dalam hal ini, konstruksi identitas jender dipandang sebagai hal yang dinamis, terus-menerus, sedang berubah dan dapat diubah. Teori ini menyoroti kekompleksan dan kontradiksi dalam relasi sosial yang membentuk pemahaman kita terhadap arti menjadi seorang perempuan atau laki-laki, baik sebagai individu maupun secara berkelompok.

Salah satu gagasan kunci teori ini adalah bahwa laki-laki dan perempuan secara aktif terlibat dalam membentuk identitas kejenderan mereka. Laki-laki dan perempuan dipandang membuat keputusan secara sadar (dan tidak sadar) tentang apa artinya menjadi perempuan dan laki-laki, yang berbeda dalam situasi tertentu dan pada waktu tertentu. Cara-cara menjadi perempuan atau menjadi laki-laki tidaklah tetap atau ‘alamiah’, tetapi dinamis, berubah, diperkuat dan dipertahankan. Cara-cara menjadi maskulin dan feminin bervariasi di lintas budaya, kelas sosial dan berubah terus dari waktu ke waktu.

 

About suaidinmath

Mohon kontribusi untuk menambal retak dan menambah langkah kesempurnaan tulisan ini ...

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Hari ini

Mei 2010
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Statistik Blog

  • 1,764,690 hit

Arsip blog

Award Blog Pendidikan 2012

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 259 pengikut lainnya

Dunia Pendidikan

Teratas

RSS Republika online

  • Warga Pidie Jaya Harapkan Bantuan Segera Tersalurkan 9 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, TRIENGGADENG -- Masyarakat korban gempa di Kabupaten Pidie Jaya mengharapkan bantuan dari pemerintah bisa segera tersalurkan. Seperti masyarakat Desa Kuta Pangwa, Kecamatan Trienggadeng, Kabupaten Pidie Jaya, Jumat (9/12). Dimana...
    Sadly Rachman
  • BPBD Magetan Bangun Posko Tanggap Darurat 9 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, MAGETAN -- BPBD Kabupaten Magetan, Jawa Timur, membangun sebuah pos komando (posko) tanggap darurat bencana di wilayah paling rawan tanah longsor guna memberikan penanganan cepat jika sewaktu-waktu terjadi...
    Yudha Manggala P Putra

RSS educatinalwithptk

newsalloy

NewsAlloy button

MUSIK

suara Edukasi

 

 http://radioedukasi.com/modules/mod_miniradio/mod_miniradio.swf

suara_edukasi

RADIO EDUKASI

Live Streaming AM 1251 kHz

Silahkan unduh produk audio radio Suara edukasi

[KLIK DISINI]

Zaimuttpjok/tik

BERBAGI INFORMASI PENDIDIKAN DAN KISAH HIDUP

isti

Berilah makan keyakinanmu niscaya keraguanmu mati kelaparan

ANNISA USH SHOLIHAH

ALL ABOUT CHEMIS_3 (sharing for carring)

Dinas Dikpora Kab. Dompu

Ikhlas Mendidik Untuk Martabat Bangsa dan Negara

Vox Populi

Vox Populi: A Public Sphere for Politics and Poetry

Architecture Here and There

Style Wars: classicsm vs. modernism

Stories From the Belly

A Blog About the Female Body and Its Appetites

mywordpool

"Words - so innocent and powerless as they are, as standing in a dictionary, how potent for good and evil they become in the hands of one who knows how to combine them." ~Nathaniel Hawthorne

Fusion

Championing a young, diverse, and inclusive America with a unique mix of smart and irreverent original reporting, lifestyle, and comedic content.

Whatever

LET ME STEAL THIS MOMENT FROM YOU NOW

rachel eats

stories, pictures and cooking tales from an english woman living in rome.

y

what it comes down to

tangerine drawings

scribbles and recipes from a pastry chef in paris

Extra Dry Martini

Straight up, with a twist.

Gravity and Levity

A blog about the big ideas in physics, plus a few other things

love.life.eat

living a mindful life

%d blogger menyukai ini: