//
you're reading...
Pendidik

Asesmen

 

1.      Latar Belakang

 Bagi sebagian orang anak-anak berkelainan yang mereka tangani, kelainannya akan nampak terlihat secara jelas. Jika seorang anak terlihat kurus dan memiliki berat badan yang rendah/ di bawah rata-rata, kemungkinan mereka ini memiliki kekurangan gizi atau pola makan yang kurang baik. Seperti juga kita akan dapat melihat dengan jelas anak-anak yang memiliki struktur anatomi tubuh yang berbeda dengan anak-anak sebayanya atau ketidakmampuan mengontrol tangan dan gerakan dari jari tangannya. Dalam persoalan seperti ini perlakuan yang dibutuhkan untuk menolong anak di sekolah sangat jelas. Contohnya:

 Seorang anak harus menggunakan kursi roda karena ia tidak dapat berjalan dengan menggunakan kedua kakinya secara ”normal”. Apa yang harus sekolah lakukakan untuk mempermudah siswa di sekolah?

Kita mungkin akan dengan cepat membuat daftar apa saja yang diperlukan untuk membantu anak di sekolah dan di kelasnya; menambahkan jalan yang melandai yang cukup untuk dilalui oleh kursi roda di sisi lain dari tangga menuju kelas anak tersebut. Anak yang mengalami gangguan atau kelainan secara fisik seperti ini tidak selalu memerlukan kebutuhan pembelajaran secara spesifik yang mereka butuhkan hanyalah bagaimana kemudahan memasuki-sekolah dan kelas mereka disediakan oleh sekolah, meskipun terkadang mereka juga membutuhkan alat belajar yang asistif untuk menulis dan membaca.

Namun ternyata sebagian kelainan/gangguan yang dimiliki oleh seorang anak sangat sulit terlihat secara jelas. Sehingga kelihatannya anak tersebut tidak memiliki masalah dan persoalan yang jelas oleh sebab itu guru dan sekolah mungkin tidak melakukan adaptasi pembelajaran bagi anak tersebut. Dalam bagian ini kita akan memfokuskan perhatian kita pada gangguan atau kelainan yang dialami oleh anak namun agak sulit untuk melakukan pendeteksian. Oleh sebab itu penting bagi seorang guru untuk melakukan identifikasi terhadap semua siswanya di dalam kelas, sehingga perencanaan pengajaran dapat dilakukan berdasarkan kebutuhan yang dimiliki oleh anak apalagi bagi anak yang mengalami gangguan emosi dan sosial.

Merencanakan sebuah pembelajaran yang efektif bagi anak yang berkebutuhan khusus merupakan sebuah tuntutan yang harus dilakukan oleh seorang guru. Dalam menyusun perecanaan tersebut tentunya tidak hanya dapat dilakukan secara langsung tanpa persiapan dan informasi yang jelas tentang kondisi dan kesiapan peserta didik. Oleh sebab itu kita akan membutuhkan sederet informasi yang lengkap dari anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku tersebut dengan melakukan asesmen. Sehingga diharapkan informasi ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam memberikan layanan yang berorientasi pada kebutuhan dan karakteristik siswa. Informasi tersebut diharapkan akan menyangkut hal-hal berikut:

  1. Fungsi perilaku anak (fisik, sosial, emosional, kognitif, komunikasi (termasuk bahasa) dan fungsi akademik
  2. Lingkungan pendidikan anak (sosial, fisik dan akademis)
  3. Keterampilan-keterampilan / batas-batas pengetahuan anak (children milestone knowledge).
  4. Proses dan stretegi dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi (Skjorten, 1999).

 Kegiatan asesmen inipun mestinya dilakukan dengan memfokuskan perhatiannya pada proses pembelajaran siswa yang terjadi di rumah, sekolah dan lingkungan belajar lain serta faktor-faktor lain yang mempengaruhi proses pembelajaran siswa. Sehingga kegiatan asesmen ini diharapkan mampu memberikan gambaran mengenai kondisi kelainan seseorang meskipun sifatnya sulit terlihat dengan jelas (Invisible condition).

  1. Tujuan

Tujuan dari makalah ini adalah memberikan pemahaman kepada peserta mengenai hakekat pentingnya melakukan kegiatan asemen dalam rangka memperoleh data dan informasi mengenai siswa secara lebih holistik. Setelah proses Kegiatan pelatihan dilaksanakan peserta diharapkan dapat:

  • Melakukan kegiatan identifikasi terhadap kebutuhan dan karakteristik anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku
  • Menyusun rencana pembelajaran yang tepat yang disesuaikan dengan kebutuhan anak
  • Membuat penyesuaian kurikulum dan bahan ajar yang penting dalam rangka memenuhi kebutuhan anak
  • memahami gambaran umum dari individu yang mengalami gangguan emosi dan perilaku
  1. 3.   Bentuk-bentuk Asesmen

Identifikasi merupakan langkah awal dalam rangka memperoleh informasi dalam melakukan asesmen mengenai kondisi anak. Seorang guru ketika melakukan asesmen harus memahami tentang hal-hal sebagai berikut:

  1. Menyadari kegiatan-kegiatan asesmen yang sedang dilakukannya
  2. Memiliki bekal yang cukup tentang bagaimana melakukan asesmen
  3. Memiliki alat atau instrumen yang baik untuk melakukan penelaahan secara seksama dari data yang diperolehnya
  4. Memiliki kemampaun untuk menganalisa dan menginterpretasi data yang sudah diperolehnyaoin terakhir ini sangat penting artinya, asehingga apabila asesmen ini tujuan yang jelas maka akan memberikan manfaat yang besar bagi guru orang tua dan ahli lain yang membutuhkannya. Informasi ini tidak hanya sebatas informasi saja namun lebih dari itu memberikan dasar bagi seorang pendidik melakukan perlakuan pada anak didiknya.

Keakuratan hasil asesmen ini akan sangat tergantung pada:

  1. Dasar pengetahuan dari guru ketika melakukan asesmen
  2. Pemahaman mengenai prosedur/tatacara pelaksanaan dan peforma yang tepat dalam melakukan kegiatan asesmen
  3. Kemampuan guru dalam melakukan analisa terhadap data-data yang telah diperoleh dengan mengurangi kecendrungan terjadinya bias dan prejudis.
  4. Kemampuan seorang guru untuk menggunakan informasi yang diperolehnya terhadap pemenuhan kebutuhan khusus atau kondisi-kondisi spesifik seorang individu, apalagi individu dengan gangguan emosi dan perilaku.Beberapa model pelaksanaan asesmen yang dapat kita lakukan antara lain:
  5. a.    Baseline asesmen

Tujuan dari pelaksanaan asesmen ini adalah untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan keterampilan-keterampilan/kecakapan-kecakapan apa yang saat dilakukan asesmen telah dimiliki oleh seorang individu. Selanjutnya juga untuk mengetahui kesulitan dan keterbatasan apa yang dihadapi oleh seorang individu, keinginan seorang individu, dan kebutuhan-kebutuhannya.

Asesmen ini dilakukan pada kontak pertama yang dilakukan oleh seorang asesor terhadap client-nya, dalam rangka memperoleh gambaran secara menyeluruh mengenai client tersebut. Kemungkinan lain adalah bahwa sesmen ini dilakukan karena alasan-alasan penting dari sejumlah program pembelajaran yang akan dilakukannya.

  1. b.   progress asesmen

Tujuan melaksanakan asesmen ini adalah untuk mengetahui tentang program layanan pendidikan yang sedang berjalan sehingga guru mendapatkan informasi yang jelas mengenai level perubahan yang terjadi. Asesmen ini merupakan kelanjutan dari baseline asesmen yang telah dilakukan.

  1. c.    Spesifik asesmen

Tujuan dari asesmen ini adalah untuk mendapatkan informasi yang berkaitan dengan hal-hal sepesifik yang ada pada anak. Misalnya ketika seorang anak memiliki perilaku eksentrik tertentu seoarang guru mungkin diharapkan mampu menemukan : bentuk perilakunya seperti apa?  apakah perilakunya merupakan sebuah stereotip tertentu dengan  anak yang mengalami gangguan spesifik; Pemicu muncul perilaku tersebut apa saja?; Situasi seperti apa yang dapat mengurangi atau meredakan perilaku eksentrik tersebut; berapa lama perilaku eksentrik ini terjadi apabila kita tidak melakukan perlakuan khusus pada anak tersebut.

Biasanya seorang guru diminta melakukan kegiatan asesmen ini apabila ia tidak terlibat lagi dengan siswa pada kegiatan intervensi berikutnya.

  1. d.   final asesmen

Kegiatan asesmen ini bertujuan untuk mengetahui sejauhmana  tujuan-tujuan pembelajaran dapat tercapai, dan seberapa besar proses ini menyisakan permasalahan atau kebutuhan anak yang belum terlayani sehingga perlu dibuat keterangan yang jelas yang nantinya digunakan sebagai bahan rujukan bagi guru lain, orangtua, atau bagi ahli lainnya. Kegiatan asesmen ini biasanya dilakukan pada saat terakhir guru ini melakukan hubungan dengan siswanya.

  1. e.   follow up asemen

Kegiatan asesmen ini bertujuan untuk memahami hal-hal apa yang harus mendapatkan tindak lanjut dari hasil pengumpulan data yang telah dilakukan. Hal ini dilakukan untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas dan lebih konfirmatif tentang kondisi anak yang betul-betul membutuhkan tindak lanjut.

  1. 4.   Langkah-langkah Melakukan Asesmen

Terdapat beberapa langkah penting yang perlu dipertimbangkan ketika seorang guru, orang tua, dan ahli lainnya akan melakukan asesmen. Langkah-langkah ini terlihat pada bagan berikut ini:

Screening dan Identifikasi
 

Asesmen

 

Referal

 

Pembuatan Keputusan oleh Tim Asesor

 

Evaluasi

 

Review

 

Langkah-langkah tersebut merupakan sebuah alur yang diharapakan dapat dilakukan secara baik oleh tim yang akan melakukan asesmen. Alur seperti tergambar pada bagan di atas dapat kita lakukan secara berulang-ulang atau berkesinambungan sesuai dengan bentuk dan kapn asesmen ini dilakukan.

Berikut ini beberapa metode yang dapat kita gunakan supaya kita dapat memperoleh informasi. Instrumen ini sangat beragam tergantung pada kebutuhan data apa yang kita perlukan untuk digali dari siswa di dalam kelas. metode-metode tersebut antara lain:

  • Wawancara atau Interview
  • Observasi
  • Spesifik tes
  • Pengukuran kondisi fisik
  • Pelaksanaan evaluasi diri
  • Portofolio
  • Questionaire atau angket
  • dan lain-lain

 

Masing-masing metode memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Oleh sebab itu di harapkan guru atau tim asesor dapat menggunakan metode tersebut secara traingulasi (Gall, Borg & Gall, 1997) dalam rangka menjaga kesahihan/validitas dan keajegan/reliabilitas dari data yang diperoleh.

Interview sebagai metode pengontrol
Potofolio sebagai metode utama 2

Semakin banyak metode yang kita ginukan akan semakin kuat kebenaran dan keajegan data yang kita peroleh, paling tidak kita menggunakan metode lebih dari satu, seperti tampak pada bagan berikut ini:

Observasi sebagai metode utama

 

Dengan menggunakan tiga metode itu diharapkan bahwa informasi atau data yang kita peroleh dapat memberikan gambaran yang mendekati kebenaran kondisi yang dialami oleh anak yang kita ases. hal ini berdampak pada jelasnya dan sesuainya layanan yang kita berikan dengan mengakomodasi pada kebutuhan.

Beberapa pertimbangan ketika melakukan observasi:

Dalam melakukan observasi kita harus tahu persis, apa yang dimaksud observasi?; Siapa dan apa saja yang kita observasi?; Berapa kali kita melakukan observasi?; dan Instrumen seperti apa yang kita gunakan.

Contoh:

Siswa : ______________________________________ Jenis Kelamin: L/P *)

Tanggal Lahir         : _________________________________Rujukan Guru _____________________________________ Kelas _______________________

Sekolah __________________________________________________________

Gambaran mengenai masalah-masalah/perilaku khususnya: ______________

______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Tingkat pembelajaran yang sedang diberikan:

Membaca: ________________________________________________________

____________________________________________________________________________________________________________________________________ Matematika: ______________________________________________________

____________________________________________________________________________________________________________________________________ Layanan khusus apa yang dsiperoleh siswa: ____________________________

____________________________________________________________________________________________________________________________________

Siapa saja yang terlibat dalam proses pembelajaran: ____________________

______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Catatan: *) coret yang tidak perlu

  1. 5.   Adaptasi Kurikulum

Setelah informasi/data diperoleh maka kemudian guru diwajibkan menyusun perencanaan pembelajaran bagi siswanya. Perencanaan pembelajaran ini harus benar-benar memenuhi kebutuhan khusus yang dimiliki oleh anak dan berpusat pada anak. Oleh sebab itu diharuskan memiliki kemampuan dan keberanian untuk melakukan penyesuaian terhadap kurikulum yang berlaku. Hal ini berarti bahwa kurikulum yang digunakan harus merupakan kurikulum yang fleksibel yang dapat dengan mudah di sesuaikan dengan kebutuhan anak. Dalam kesepakatan Salamangka (1994 : 22) disebutkan bahwa:

Curricula should be adapted to children’s nee, not vice versa. Schools should therefore provide curricular opportunities to suit children with different abilities and interests.

Hal ini berarti kurikulum yang dibuat secara nasional harus memberikan kebebasan kepada sekolah untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian yang dibutuhkan sesuai dengan perbedaan kemampuan dan minat yang dimiliki oleh masing-masing anak.

Pada bagian lain dikatakan bahwa: In order to follow the progress of each child, assessment procedure should reviewed. Formative evaluation should be incorporated into the regular educational process in order to keep pupils and teachers informed of learning mastery attained as well as to identify difficulties and assist pupils to overcome them.(Salamanca, 1994). Hal ini memberikan arah kepada pendidik bagaimana ia mampu melayani anak memecahkan permasalahan yang dihadapinya. Ketuntasan belajar yang anak capai dan kesulitan belajar yang anak hadapi merupakan hal-hal yang perlu dicari jalan keluarnya oleh guru.

Beberapa bentuk penyesuaian yang dapat dilakukan antara lain: Pembelajaran yang kita lakukan dibuat lebih interaktif sehingga mampu mengundang setiap anak untuk berpatisipasi secara penuh. Anak dilibatkan dalam rangka penyusunan bahan ajar yang akan diajarkan.

  1. 6.   Kesimpulan dan Tugas

Kesimpulan dari makalah ini adalah:

  1. Asesmen merupakan sebuah aktifitas yang diharapkan mampu mengungkap kesulitan siswa yang terlihat (visible) dan yang sulit dilihat secara jelas (invisible).
  2. Asesmen yang dilakukan diharapkan memberikan informasi yang jelas mengenai kondisi anak yang berkaitan dengan kemampuan, kesulitan dan factor-faktor yang melatar belaknginya
  3. Asesmen yang dilakukan oleh kita dapat berupa baseline, progres, specifik, final, dan follow-up asesmen.
  4. Dari hasil asesmen yang dilakukan memunculkan kebutuhan adanya penyesuaian kurikulum bagi pembelajaran anak di dalam kelas begitu juga di rumah.
  5. Kurikulum yang digunakan harus merupakan kurikulum yang fleksibel yang memberikan keleluasaan kepada guru untuk melakukan adaptasi sesuai kebutuhan anak.

 

Tugas:

  1. Bentuk kelompok masingh-masing 5 orang dalam kelompok!
  2. Buat perencanaan asesmen yang dilakukan!
  3. Siapkan instrument yang diperlukan!
  4. Pilih salah satu sekolah yang akan di amati! Lakukan studi lapangan!
  5. Buatlah penyesuaian yang harus dilakukan berdasarkan informasi yang diperoleh dari lapangan!

 

Daftar Pustaka

Ainscow, Mel, (2004) Developing inclusive education systems: what are the levers for change?, Journal Education Change, Manchester, UK.

Derpdiknas, (2004). Pendidikan Bagi Anak Tuna Laras, Dit. PLB, Ditjen Dikdasmen, Depdiknas, Jakarta, Indonesia.

Depdiknas, (2004). Pedoman dan Penyelenggaraan Pendidikan Terpadu/Inklusi. Dit PLB, Ditjen Dikdasmen. Depdiknas Jakarta

Direktorat Pendidikan Luar Biasa, (2002). Kumpulan Dasar Hukum Pendidikan Luar Biasa. Dit PLB, Ditjen Dikdasmen. Depdiknas Jakarta

Disdik Jabar, (2003). Buku Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Inklusif (Pengenalan). Disdik Jabar. Bandung. Jawa Barat.

Erwin, Elizabeth Z. (1993). The Philosophy and Status of Inclusion, EnVision,

Hermawan, Budi (2002). Mengimplementasikan Pendidikan Inklusif di Jawa Barat. Makalah pada Rapat Kerja Kepala Sekolah Luar Biasa se-Jawa Barat. Dinas Pendidikan

Hermawan, Budi (2004). Penyesuaian Kelas. Makalah pada Pelatihan Guru Pembimbing Khusus se-Jawa Barat. Dinas Pendidikan, Jabar

Hermawan, Budi (2004). Reorientasi Pendidikan Inklusif sebagai Cara Mencapai Pendidikan Untuk Semua dalam Rangka Penuntasan Wajar Dikdas 9 Tahun. Jurnal Educatif Vol.1. Dinas Pendidikan Jawa Barat Bandung

 

Magrab, Philis R. (2003). Towards Inclusive Practices in Secoondary Education, UNESCO, Paris. France

Negara RI, (2003) Undang-undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Citra Umbara. Bandung

Negara RI (1945). Undang-undang Dasar 5tahun 1945.

Sunardi. (2002). Pendidikan Inklusif: Prakondisi dan implikasi managerialnya.Makalah pada Temu Ilmiah Pendidikan Luar Biasa Tingkat Nasional. Bandung 6-8 Agustus 2002.

Setiawan, Atang & Sunardi (1997). Ortopedagogi E-1 (Pendidikan Anak Tuna Laras). Jurusan PLB, IKIP Bandung

Setiawan, Atang & Sunardi (1997). Ortopedagogi E-2 (Pendidikan Anak Tuna Laras). Jurusan PLB, IKIP Bandung

Setiawan, Atang & Sunardi (1997). Ortopedagogi E-3 (Pendidikan Anak Tuna Laras). Jurusan PLB, IKIP Bandung

Skjorten, Miriam Donath, (1999). Assessment. UIO. Norway

UNESCO, (1994). Salamanca Statements: Frame Work for Action on Special Needs Education. UNESCO, Salamanca, Spain.

UN, (1968). International Convention on Human Right, UN

UN, (1989). International Convention on The Right of The Child. UN

UN, (1990). United Nations Guidelines for the Prevention of Juvenile Delinquency (The Riyadh Guidelines). UN

 

UNESCO. (2001). Open File on Inclusive Educatioon: Support Materials for Managers and Administratoors. UNESCO. Paris. France

UNESCO, (2003). Understanding and Responding to Children Needs in Inclusive Classrooms, Inclusive Division of Basic Education, Paris, France

Crain, William, (1992). Theories Of Development: Concepts and Application, Prentice Hall, Englewood Cliffs, New Jersey.

Gerungan, W.A. (1996). Psikologi Sosial. ERESCO. Bandung

Noffke, Susan E. & Stevenson, Robert B., (1995).  Educational Action Research: Becoming Practically. Teachers College. Columbia University. New York

About suaidinmath

Mohon kontribusi untuk menambal retak dan menambah langkah kesempurnaan tulisan ini ...

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Hari ini

Mei 2010
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Statistik Blog

  • 1,759,046 hit

Arsip blog

Award Blog Pendidikan 2012

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 259 pengikut lainnya

Dunia Pendidikan

Teratas

RSS Republika online

  • Milan Amankan Tiga Angka Lawan Crotone 4 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, MILAN -- AC Milan akhirnya mengamankan tiga angka saat menjamu Crotone di stadion Giuseppe Meazza, Milan, Ahad (4/12). Skuat asuhan Vincenzo Montella berhasil memenangkan pertandingan 2-1 jelang pertandingan...
    Didi Purwadi
  • NTB Dorong Penambahan Jumlah Penerbangan ke Lombok 4 Desember 2016
    REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Pemerintah Provinsi NTB berupaya meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan pada tahun depan. Salah satu caranya dengan penambahan jumlah penerbangan ke Pulau Lombok, yang menjadi destinasi wisata utama...
    Indira Rezkisari

RSS educatinalwithptk

newsalloy

NewsAlloy button

MUSIK

suara Edukasi

 

 http://radioedukasi.com/modules/mod_miniradio/mod_miniradio.swf

suara_edukasi

RADIO EDUKASI

Live Streaming AM 1251 kHz

Silahkan unduh produk audio radio Suara edukasi

[KLIK DISINI]

Zaimuttpjok/tik

BERBAGI INFORMASI PENDIDIKAN DAN KISAH HIDUP

isti

Berilah makan keyakinanmu niscaya keraguanmu mati kelaparan

ANNISA USH SHOLIHAH

ALL ABOUT CHEMIS_3 (sharing for carring)

Dinas Dikpora Kab. Dompu

Ikhlas Mendidik Untuk Martabat Bangsa dan Negara

Vox Populi

Vox Populi: A Public Sphere for Politics and Poetry

Architecture Here and There

Style Wars: classicsm vs. modernism

Stories From the Belly

A Blog About the Female Body and Its Appetites

mywordpool

"Words - so innocent and powerless as they are, as standing in a dictionary, how potent for good and evil they become in the hands of one who knows how to combine them." ~Nathaniel Hawthorne

Fusion

Championing a young, diverse, and inclusive America with a unique mix of smart and irreverent original reporting, lifestyle, and comedic content.

Whatever

LET ME STEAL THIS MOMENT FROM YOU NOW

rachel eats

stories, pictures and cooking tales from an english woman living in rome.

y

what it comes down to

tangerine drawings

scribbles and recipes from a pastry chef in paris

Extra Dry Martini

Straight up, with a twist.

Gravity and Levity

A blog about the big ideas in physics, plus a few other things

love.life.eat

living a mindful life

%d blogger menyukai ini: