PENGELOLAAN PENILAIAN KUR 2013


 

 

 1604669_791798500835561_542931071_n

 

 

 

Prosespembelajaran merupakanupayauntukmencapaiKompetensiDasaryang dirumuskandalam kurikulum.Sementaraitu,kegiatan penilaiandilakukanuntuk mengukurdan menilaitingkatpencapaianKompetensiDasar.Penilaianjugadigunakan untuk  mengetahui  kekuatan  dan  kelemahan  dalam  proses  pembelajaran,  sehingga dapa dijadikan   dasa untuk   pengambilan   keputusa dan   perbaika proses pembelajaranyangtelahdilakukan.Olehsebabitu   prosespembelajaranyangbaik perlu didukungolehsistem penilaian yangbaik,terencana,danberkesinambungan.

 

Dengan  diberlakukannya  kurikulum  2013  yang  menekankan  pada  pembelajaran berbasisaktivitas,makapenilaiannyalebihmenekankanpadapenilaianprosesyakni padaaspeksikap,pengetahuan,dan keterampilan.Pengawassekolahbertanggung jawabterhadapterlaksananya penilaian tersebut.

 

Tugas  pengawas  sekolah  dalam  manajemen  implementasi  kurikulum  2013,  salah satunyaadalah mengelolapenilaian disekolah dengan melaksanakan beberapa hal sebagai berikut:

 

1.  Menetapkan sistempenilaian di sekolah

2.  Merekap dan mengolahhasil penilaianseluruh kelas.

3.  Merancangprogramtindaklanjutdarihasil pengolahan penilaian.

 

Pengawassekolah berkewajibanmenyelenggarakan,memfasilitasi,danmemastikan terlaksananya penilaian sesuai dengantuntutan penilailaian dalam kurikulum.

 

 

1.  MenetapkanSistem PenilaiandiSekolah a.Pengertian

 

Penilaianmerupakanserangkaiankegiatanuntukmemperoleh,menganalisis, danmenafsirkandata tentangproses danhasilbelajar peserta didikyang dilakukansecarasistematisdan berkesinambungan,sehinggamenjadiinformasi yang  bermakna  dalam  pengambilan  keputusan.  Jadi  penilaian  merupakan kegiatanyangdilakukan olehguruuntukmemperolehinformasiuntukdijadikan sebagai pengambil keputusan tentanghasil belajar peserta didik.(BSNP2007:9)

 

SedangkanNanaSudjana(1995:3)menyatakanbahwapenilaianadalah proses memberikanataumenentukannilaikepadaobjektertentuberdasarkan suatu kriteriatertentu.Prosespemberiannilaitersebutberlangsungdalam bentuk interpretasiyangdiakhiridenganjudgment. Interpretasidanjudgment merupakantemapenilaianyangmengimplikasikanadanyasuatu perbandingan antarakriteria dankenyataan dalam konteks situasi tertentu.

 

b.Fungsi Penilaian

 

Penilaianbukanhanya untukmenentukankemajuanbelajarsiswa,namun  juga berfungsi:

1)    Bagi  siswa:  membantu  merealisasikan  dirinya  untuk  mengubah  atau mengembangkanperilakunyadanmembantu  untukmendapat kepuasan atas apa yangtelah dikerjakannya.

2)    Bagiguru:membantuuntukmenetapkanapakahmetodemengajaryang digunakannya telahmemadai,serta untukmembantu    membuat pertimbanganadministrasi.

(Cronbach,1954 dalamHamalik,2002:204).

 

c.Aspek Penilaian

 

BerdasarkanPermendikbudnomor66tahun2013tentangStandar   Penilaian Satuanpendidikanperlumenetapkankriteriamengenaimekanisme,prosedur, daninstrumen penilaian prosesserta hasil belajar peserta didik.Penilaian proses mencakup aspeksikap,pengetahuan,dan keterampilan.

 

1 Penilaian Sikap:

Secaraumum,objeksikapyang perludinilai dalamprosespembelajaran adalahsikap positif terhadapmateri pelajaran,guru/pengajar,proses pembelajaran,dansikappositifberkaitan dengannilaiatau normayang berhubungandengan suatumateri pelajaran(KI.2).Sedangkan  aspeksikap spiritual,untukmatapelajarantertentubersifatgenerik,artinyaberlaku untukseluruhmateripokok(KI.1).Sekolahperlumenyepakati dan menetapkanaspeksikapreligiusyangditanamkandisatuan pendidikan. Ketetapan  ini  merupakan  regulasi  yang  digunakan  oleh  seluruh  warga sekolahsebagaiacuan. Penilaiansikapmenggunakan instrumentobservasi, penilaian diri, penilaian antarteman,danjurnal.

Sekolah  menyusun,  menyepakati,danmenetapkan  sikap  serta  indikator

sikapyangakan  ditanamkanpadasetiapmapel/jenjang  kelasmengacu pada kompetensi inti.

 

 

Tabel 1. Contoh sikapyangakan ditanamkan

 

Sikap

Kompetensi Inti

Sikap yangditanamkan

Religius

(KI.1)

Menghargai    dan    menghayati ajaran agama yangdianut

..

..

..

Sosial (KI.2)

1.  jujur

2.  disiplin

..

..

Sikap

Kompetensi Inti

Sikap yangditanamkan

 

3.  tanggungjawab

4.  toleransi

5.  gotongroyong

6.  santun

7.  percaya diri

..

 

Tabel.2 Contoh indikator

 

Kompetensi Inti

Indikatoryangdiamati

 

 

 

 

 

 

Menghargai dan menghayati ajaran agama yangdianut

·   Berdoa  sebelum  dan  sesudah  menjalankan sesuatu.

·   Menjalankan ibadah tepatwaktu.

·   Memberi  salam  pada  saat  awal  dan  akhir presentasi sesuai agamayangdianut.

·   BersyukuratasnikmatdankaruniaTuhanYang

Maha Esa;

·   Mensyukuri    kemampuan    manusia    dalam mengendalikan diri

·   Mengucapkan      syukur      ketika      berhasil mengerjakan sesuatu.

…………………………

1.Jujur

adalah   perilaku dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.

·   Tidak     menyontek     dalam     mengerjakan ujian/ulangan

·   Tidak  menjadi  plagiat  (mengambil/menyalin karya oranglaintanpa menyebutkan sumber)

·   Mengungkapkanperasaan apa adanya

·   Menyerahkankepadayangberwenangbarang yangditemukan

·   Membua laporan   berdasarkan   data   atau informasi apa adanya

·   Mengakui  kesalahan  atau  kekurangan  yang dimiliki

…………………………..

2.Disiplin

·   ……………………..

 

 

2 Penilaian Pengetahuan

 

Teknikpenilaiankompetensipengetahuandilakukandengan testulis,tes lisan,danpenugasan. Tiap-tiapteknik tersebut dilakukanmelaluiinstrumen tertentuyangrelevan. Teknikdanbentukinstrumenpenilaiankompetensi pengetahuan dapatdilihatpadatabel berikut:

 

Tabel 3.Teknikdan BentukInstrumen Penilaian

 

TeknikPenilaian

BentukInstrumen

Tes tulis

Pilihan  ganda,  isian,  jawaban  singkat,  benar- salah,menjodohkan,danuraian.

Tes lisan

Daftar pertanyaan.

Penugasan

Pekerjaanrumahdan/atautugasyang dikerjakan secaraindividu atau kelompoksesuaidengan karakteristiktugas.

 

 

Instrumentestulis uraianyangdikembangkanharuslahdisertaikunci jawabandan pedoman penskoran.Pelaksanaan penilaian melaluipenugasan setidaknya  memenuhi  beberapa  syarat,  yaitu  mengkomunikasikan  tugas yangdikerjakanolehpesertadidik,   menyampaikanindikatordanrubrik penilaian untuktampilantugas yangbaik.Tampilan kualitas hasil tugasyang diharapkan  disampaikan  secara  jelas  dan  penugasan  mencantumkan rentangwaktu pengerjaan tugas.

 

Instrumen penilaian harus memenuhi  persyaratan:

 

a substansi yangmerepresentasikankompetensiyangdinilai;

b)   konstruksiyangmemenuhipersyaratanteknissesuaidenganbentuk instrumen yangdigunakan; dan

c)   penggunaan  bahasa  yang  baik  dan  benar  serta  komunikatif  sesuai dengantingkatperkembanganpeserta didik.

 

 

3 Penilaian Keterampilan

Berdasarkan   Permendikbu nomor   66   tahun   2013   tentan Standar Penilaian,    pendidik  menilai  kompetensi  keterampilan  melalui  penilaian kinerja,yaitupenilaian yangmenuntutpesertadidikmendemonstrasikan suatukompetensi tertentudenganmenggunakantespraktik, projek, dan penilaian portofolio.

 

a)   Tespraktik  dilakukandenganmengamatikegiatanpesertadidikdalam melakukansesuatu.

b)   Projek  adalah  tugas-tugas  belajar  (learning  tasks)  yang  meliputi

kegiatanperancangan,pelaksanaan,dan pelaporansecaratertulis maupunlisandalam waktutertentu.Tugas tersebutberupasuatu investigasi.

c)   Penilaianportofoliodilakukandengancaramenilaikumpulanseluruh karyapeserta didikdalambidangtertentu yangbersifatreflektif- integratifuntukmengetahuiminat,perkembangan,prestasi, kepedulian pesertadidikterhadaplingkungannya, dan/atau kreativitas peserta didik dalam kurun waktutertentu.

 

 

d.SistemPenilaian Acuan Kriteria

 

Dalam  pendidikandikenal  adanyasistemPeniaian  AcuaNorma  (PAN)  dan PenilaianAcuanKriteria(PAK),sejakdiberlakukan   kurikulum2013 sistem penilaian  yang  digunakan  adalah  Penilaian  Acuan  Kriteria.  Penilaian  Acuan Kriteriaadalahpenilaian yangdilakukan untukmengetahuikemampuansiswa dibandingkandengan kriteriayangtelahdibuatterlebihdahulu.PAKberasumsi bahwa hampirsemua orangbisabelajar apasajanamun dengan waktuyang berbeda.Konsekuensidari acuan iniadalah adanya kegiatanremedial.

 

 

Penilaia hasil   belajar   ole satua pendidikan   dilakukan   untuk   menilai pencapaian  kompetensilulusan  peserta  didikberdasarkan  standarsehingga sekolah perlumelakukankegiatansebagai berikut:

 

1)   menentukan  kriteria  minimal  pencapaian  Tingkat  Kompetensi  dengan mengacu pada indikatorKompetensi Dasar tiapmata pelajaran;

2 mengoordinasikanulanganharian,ulangantengahsemester,ulanganakhir

semester,ulangankenaikankelas,ujiantingkatkompetensi,danujianakhir sekolah;

3)   menyelenggarakanujiansekolahdanmenentukankelulusanpesertadidik dari ujian sekolah sesuaidenganPOS Ujian Sekolah;

4 menentukankriteria kenaikan kelas;

5)   melaporkan  hasil  pencapaian  kompetensi  dan/atau  tingkat  kompetensi kepada orangtua/wali peserta didikdalam bentukbuku rapor;

6 melaporkan pencapaian hasil belajar tingkatsatuan pendidikan kepada dinas

pendidikankabupaten/kota dan instansilain yangterkait;

7)   melaporkanhasilujianTingkatKompetensikepadaorangtua/walipeserta didikdandinaspendidikan.

8 menentukankelulusanpesertadidikdarisatuanpendidikanmelaluirapat

dewan pendidiksesuai dengankriteria:

a menyelesaikan seluruh program pembelajaran;

b)   mencapai tingkatKompetensi yangdipersyaratkan,denganketentuan kompetensisikap  (spiritualdansosial)termasuk  kategoribaikdan kompetensipengetahuandanketerampilanminimalsamadenganKKM yangtelah ditetapkan;

c lulus ujian akhir sekolah;dan d)   lulus Ujian Nasional.

9 menerbitkanSuratKeteranganHasilUjianNasional(SKHUN)setiappeserta

didikbagisatuan pendidikan penyelenggara UjianNasional; dan

10)menerbitkanijazahsetiappesertadidikyanglulusdarisatuanpendidikan bagisatuanpendidikan yangtelah terakreditasi.

 

 

e.Jenisdan Manfaat Penilaian

 

Penilaian digunakan untukmengolah informasi  dan mengukurpencapaian hasil belajar peserta didik,meliputi:

 

1)  Penilaianotentikmerupakanpenilaianyangdilakukansecarakomprehensif untukmenilai mulai darimasukan (input),proses,dan keluaran(output) pembelajaran.

2)  Penilaiandirimerupakanpenilaianyangdilakukansendiriolehpesertadidik secarareflektifuntukmembandingkanposisi relatifnyadengankriteriayang telah ditetapkan.

3)  Penilaianberbasisportofoliomerupakanpenilaianyangdilaksanakanuntuk

menilaikeseluruhanentitasprosesbelajarpesertadidiktermasukpenugasan

 

perseorangan dan/atau kelompokdidalam dan/atau diluarkelaskhususnya pada sikap/perilaku danketerampilan.

4)Ulangan merupakan prosesyangdilakukan untukmengukurpencapaian kompetensi pesertadidiksecaraberkelanjutan dalamproses pembelajaran, untukmemantau kemajuan dan perbaikan hasilbelajar peserta didik.

5)  Ulanganharianmerupakankegiatanyangdilakukansecaraperiodikuntuk

menilai  kompetensi  peserta  didik  setelah  menyelesaikan  satu  Kompetensi

Dasar (KD) atau lebih.

6Ulangantengahsemestermerupakankegiatanyangdilakukanolehpendidik untukmengukurpencapaiankompetensipesertadidiksetelahmelaksanakan

8–9 minggu kegiatan pembelajaran.Cakupanulangantengah semester meliputiseluruhindikatoryang merepresentasikanseluruhKDpadaperiode tersebut.

7)  Ulanganakhirsemestermerupakankegiatanyangdilakukanolehpendidik

untukmengukurpencapaiankompetensipesertadidikdi  akhirsemester. Cakupanulanganmeliputiseluruhindikatoryangmerepresentasikansemua KD pada semester tersebut.

8)  UjianTingkatKompetensiyangselanjutnyadisebutUTKmerupakankegiatan

pengukuranyangdilakukanoleh satuanpendidikan untukmengetahui pencapaiantingkatkompetensi.Cakupan UTKmeliputisejumlahKompetensi DasaryangmerepresentasikanKompetensiIntipada tingkatkompetensi tersebut.

9)  UjianMutuTingkatKompetensiyangselanjutnyadisebutUMTKmerupakan

kegiatan pengukuranyangdilakukan olehpemerintah untukmengetahui pencapaia tingkat   kompetensi.   Cakupan   UMT meliput sejumlah KompetensiDasar yangmerepresentasikanKompetensiIntipada tingkat kompetensi tersebut.

10)UjianNasionalyangselanjutnyadisebutUNmerupakankegiatan pengukuran kompetensi tertentu yangdicapai peserta didikdalam rangka menilai pencapaian Standar Nasional Pendidikan,yangdilaksanakan secaranasional.

11)UjianSekolahmerupakankegiatanpengukuranpencapaiankompetensidi luar kompetensiyangdiujikan pada UN,dilakukan olehsatuan pendidikan.

 

 

Jenis-jenis  penilaian  tersebut  harusdiagendakan  dalamkalender  pendidikandi satua pendidikan.   Pengawa sekola bertanggungjawab   teragendakannya kegiatan-kegiatan   tersebut.   Pengawa memastika bahwa   kegiatan-kegiatan tersebut telah diagendakan olehsekolah.

 

 

f.   Prinsipdan Pendekatan Penilaian

 

Prinsip  dan  Pendekatan  Penilaian  hasil  belajar  peserta  didik  pada  jenjang pendidikan dasardan menengahdidasarkanpadaprinsip-prinsipsebagai berikut.

1)    Objektif,berartipenilaianberbasispadastandardantidakdipengaruhi

faktor subjektivitas penilai.

2)    Terpadu,  berarti  penilaian  oleh  pendidik  dilakukan  secara  terencana, menyatu dengankegiatan pembelajaran,danberkesinambungan.

 

3)    Ekonomis,berartipenilaianyangefisiendanefektifdalamperencanaan, pelaksanaan,danpelaporannya.

4)    Transparan,  berarti  prosedur  penilaian,  kriteria  penilaian,  dan  dasar pengambilan keputusandapatdiakses oleh semua pihak.

5)    Akuntabel,berartipenilaiandapatdipertanggungjawabkankepadapihak

internal  sekolah  maupun  eksternal  untuk  aspek  teknik,  prosedur,  dan hasilnya.

6)    Edukatif,berartimendidikdanmemotivasipeserta didikdan guru.

 

 

Pendekatan penilaian yangdigunakan adalah penilaian acuan kriteria (PAK).PAK merupakanpenilaianpencapaiankompetensiyangdidasarkanpada kriteria ketuntasanminimal(KKM).KKMmerupakankriteriaketuntasanbelajar minimal yan ditentukan   oleh   satua pendidikan   dengan   mempertimbangkan karakteristik   Kompetensi   Dasa yan akan   dicapai,   daya   dukung,   dan karakteristikpeserta didik.

 

2.  Mengolah HasilPenilaian Kelas

 

PenilaianpencapaianKDpesertadidikdilakukanberdasarkanindikator.Penilaian dilakukandenganmenggunakantesdannontesdalambentuktertulismaupunlisan, pengamatankinerja,pengukuransikap,penilaianhasilkaryaberupatugas,proyek dan/atauproduk,penggunaanportofolio,danpenilaiandiri.Olehkarenapada setiap  pembelajaran  peserta  didik  didorong  untuk  menghasilkan  karya,  maka penyajianportofoliomerupakancarapenilaianyangharusdilakukanuntukjenjang pendidikan dasardan menengah.

Hal-halyang  perludiperhatikandalam  merancang  penilaianyaitusebagai berikut:

a.Penilaianmenggunakanacuankriteria;yaitu berdasarkanapayangbisa dilakukanpesertadidiksetelahmengikutiprosespembelajaran,danbukan

untukmenentukanposisiseseorangterhadapkelompoknya.

b.  Sistem  yang  direncanakan  adalah  sistem  penilaian  yang  berkelanjutan.

Berkelanjutan  dalam  arti  semua  indikator  ditagih,  kemudian  hasilnya dianalisisuntukmenentukanKDyangtelahdimilikidanyangbelum,serta

untukmengetahui kesulitan peserta didik.

c.  Hasil  penilaian  dianalisis  untuk  menentukan  tindak  lanjut.  Tindak  lanjut berupaperbaikanprosespembelajaranberikutnya,programremedi bagi pesertadidikyangpencapaiankompetensinyadibawahketuntasan,dan

programpengayaan bagipeserta didikyangtelahmemenuhi ketuntasan.

d.  Sistem  penilaian  harus  disesuaikan  dengan  pengalaman  belajar  yang ditempuh dalamprosespembelajaran.Misalnya,jikapembelajaran menggunakanpendekatantugas observasilapanganmakaevaluasiharus diberikanbaikpada prosesmisalnyateknikwawancara,maupunproduk berupa hasil melakukanobservasi lapangan.

 

Padabagianiniakanmembahastentangrekap hasilpenilaiandanpengolahan datahasil penilaian.Diharapkanpengawassekolahdapat  membuatrekaphasil penilaia disatuan pendidikannyamasing-masingdanmelakukanpeta pencapaian hasil belajar.


 

 

 

 

 

a.Rekap HasilPenilaianKelas

 

Penentuan KKM

 

Pengawassekolahmelakukanrekaphasil penilaianketercapaianhasil pembelajaranpadasatuanpendidikanyangdipimpinnya.Diharapkan dengan melakukanrekap penilaianpengawassekolahmemiliki gambaransecara menyeluruhmengenaiketercapaianKetuntasanbelajarminimal(KKM) yang telahditentukandisekolahyangdipimpinnya.BerdasarkanPermendikbud81 atahun2013tentangImplementasiKurikulum LampiranIV  Pedomanumum pembelajaran dinyatakanbahwa:

1)Ketuntasanminimaluntukseluruh kompetensi dasar pada kompetensi pengetahuan dan kompetensi keterampilan yaitu2.66 (B-)

2)  UntukKD-KDyangterdapatpadaKI-3danKI-4,  pesertadidikdinyatakan

tuntasbelajar  apabilamenunjukkan  pencapaiannilai≥2.66darihasiltes

formatif.

3)  UntukKDpadaKI-1danKI-2,ketuntasanseorangpesertadidi dilihat dari  sikap  seluruhmatapelajaran,  jika profil sikappeserta didiksecara umumberada pada kategoribaik(B) menurutstandar yangditetapkan satuan pendidikanyangbersangkutanmaka iadinyatakantuntas.

Implikasidariketuntasanbelajar tersebutadalahsebagai berikut.

a)    UntukKDpadaKI-3danKI-4:diberikanremedialindividualsesuai dengan  kebutuhan  kepada  peserta  didik  yang  memperoleh  nilai kurangdari 2.66;

b)   Untuk   KD   pada   KI- dan   KI-4:   diberikan  kesempatan   untuk

melanjutkanpelajarannyake KD berikutnya kepadapeserta didikyang memperoleh nilai 2.66 ataulebih dari 2.66; dan

c)   Untuk  KD  pada  KI-3  dan  KI-4:  diadakan  remedial  klasikal  sesuai dengankebutuhanapabilalebihdari75% pesertadidikmemperoleh nilai kurangdari 2.66.

d)  UntukKDpadaKI-1danKI-2,pesertadidikyangsecaraumumprofil sikapnyabelum berkategoribaik,maka  dilakukanpembinaan  secara holistik(palingtidakolehgurukelas,   matapelajaran,guruBK,dan orangtua).Secararingkaspenjelasantersebutdisajikan dalamtable berikut

 

 

No

 

KompetensiDasar dari

Capaian

 

Tindakan

 

Keterangan

 

Individual

Rata-rata

Kelas

1

KI.3danKI.4

<2,66

 

Remedial secara

individual

 

 

<2,66 (75%

siswa)

Remedial secaraklasikal

 

2,66

2,66

Melanjutkanke

KDberikutnya

 

2

KI.1danKI.2

<Baik

 

Pembinaan

 


 

 

 

 

 

Penilaiandidasarkan padaukuranpencapaiankompetensiyangditetapkan. Kemampuanpesertadidiktidakdibandingkan terhadapkelompoknya,tetapi dibandingkanterhadapkriteria yangditetapkan.

KKMdiperlukanagargurumengetahuikompetensiyangsudah danbelum dikuasaisecaratuntas.Gurumengetahuisedinimungkinkesulitan peserta didik, sehinggapencapaiankompetensi yangkurangoptimal dapat segera diperbaiki.Bila kesulitan dapatterdeteksisedinimungkin,pesertadidiktidak sempatmerasafrustasi, kehilanganmotivasi, dansebaliknyapesertadidik merasamendapatperhatianyangoptimaldan bantuanyangberhargadalam proses pembelajarannya.

 

 

Ketuntasan belajarditentukansepertipada tabel berikut:

 

Predikat

Nilai Kompetensi

Pengetahuan

Keterampilan

Sikap

A

4

4

 

SB

A-

3.66

3.66

B+

3.33

3.33

 

B

B

3

3

B-

2.66

2.66

C+

2.33

2.33

 

C

C

2

2

C-

1.66

1.66

D+

1.33

1.33

 

K

D

1

1

 

Keterangan:

SB=SangatBaik

 =  Baik

 =Cukup

 =Kurang

 

Untukmengetahuiapakahpesertadidiksudahataubelum tuntas menguasaisuatukompetensidasardapatdilihat dariposisinilaiyang diperoleh berdasarkantabel konversiberikut.

 

 

Contoh Untuk SD

 

 

 

Tabel konversi nilai

Konversi nilai akhir

Predikat

(Pengetahuan dan Keterampilan)

 

 

Sikap

 

Skala 0-100

 

Skala1- 4

86 -100

4

A

 

SB

81- 85

3.66

A-

76 – 80

3.33

B+

 

B

71-75

3.00

B

66-70

2.66

B-

61-65

2.33

C+

 

C

56-60

2

C

51-55

1.66

C-

46-50

1.33

D+

 

K

0-45

1

D

 

 

Apabilapesertadidikmemperolehnilaiantara 66 sd.70,diaadapada posisipredikatB-  untukkategoripengetahuanatauketerampilan. Artinya,  peserta  didik  tersebut  sudahmencapai  ketuntasan  dalam menguasai kompetensi tertentu.

 

Pernyataan  di  atas  adalah  penentuan  KKM  berdasarkan  standar minimal  yang  diberlakukan  oleh  pemerintah.  Satuan  pendidikan berhakuntukmenentukanKKMdiatasKKMyangtelahditentukan oleh pemerintah.

 

 

KKMadalah Kriteria Ketuntasan Belajar (KKB) yangditentukan oleh satuanpendidikan.PenentuanKKMditetapkan padaawaltahun pelajaranmelaluimusyawarahantara guru,pengawassekolah,dan stake   holder  lainnya.  KKM  ditetapkan  oleh  satuan   pendidikan (sekolah) denganmemperhatikan:

1)  Intake (Kemampuan rata-rata peserta didik)

2)  Kompleksitas(mengidentifikasiindikatorsebagaipenanda tercapainya kompetensidasar)

3)  Kemampua daya   dukun (berorientasi   pad sumber belajar)

 

 

Menentukan Kriteria Ketuntasan Minimal(KKM) dengan mempertimbangkantingkat kemampuanrata-ratapesertadidik, kompleksitaskompetensi,sertakemampuan sumber daya pendukung meliputiwarga sekolah,sarana dan prasarana dalam penyelenggaraan pembelajaran.Satuanpendidikandiharapkan meningkatkankriteria ketuntasanbelajar secaraterusmenerusuntukmencapaikriteria ketuntasan ideal.

 

 

 

ContohUntukSMP

 

 

 

NilaiKuantitatifdengan   Skal 1–4(berlakukelipatan0,33)digunakan untuk NilaiPengetahuan (KI 3)dan NilaiKeterampilan (KI 4). Indeks Nilai Kuantitatif dengan Skala1–4adalah:

 

No.

RentangNilai

Keterangan

 

1

 

0        ˂      D      ≤      1,00

NilaiD=lebihdari0 dankurang dariatau sama dengan 1.

 

2

 

1,0 ˂      D+        ≤     1,33

NilaiD+= lebih dari1dankurang dariatau sama dengan 1,33.

 

3

 

1,3 ˂      C-         ≤     1,66

NilaiC-=lebihdari1,33dan kurangdariatausamadengan

1,66.

 

4

 

1,6 ˂      C       ≤     2,00

NilaiC=lebihdari1,66 dan kurangdariatausamadengan

2,00.

 

5

 

2,0 ˂      C+        ≤     2,33

NilaiC+=lebih dari2,00dan kurangdariatausamadengan

2,33.

 

6

 

2,33     ˂      B-      ≤     2,66

NilaiB-=lebihdari2,33dan kurangdariatausamadengan

2,66.

 

7

 

2,66     ˂      B     ≤     3,00

NilaiB=lebihdari2,66 dan kurangdariatausamadengan

3,00.

 

8

 

3,00    ˂      B+      ≤     3,33

NilaiB+=lebih dari3,00dan kurangdariatausamadengan

3,33.

 

9

 

3,33    ˂      A-       ≤     3,66

NilaiA-=lebihdari  dankurang dari3,33atau sama dengan3,66.

 

10

 

3,66    ˂      A      ≤     4,00

NilaiA=lebihdari3,66dan kurangdariatausamadengan

4,00.

 

 

 

 

 

ContohUntuk SMA

 

 

 

CapaianKompetensiPengetahuanmerupakanrerataRNH,NTS,danNAS. DalamLCK,capaiankompetensipengetahuandiisiangkamenggunakanskala1

– 4,dengan duadesimal dan diberi predikatsebagaiberikut:

 

 

3.83 – 4.00  :  A

2.33- 2.65:  C+

3.66 – 3.82  :  A-

2.00- 2.32:  C

3.33 – 3.65  :  B+

1.66- 1.99:  C-

3.00 – 3.32  :  B

1.33- 1.65:D+

2.66 – 2.99  :  B-

<1.33:  D

 

 

 

 

ContohUntuk SMK.

 

 

 

Konversi dariskor(1 –100)ke(1– 4)

 

INTERVAL SKOR

 

HASILKONVERSI

 

PREDIKAT

 

KRITERIA

96– 100

4.00

A

 

SB

91– 95

3.66

A-

86– 90

3.33

B+

 

B

81– 85

3.00

B

75–80

2.66

B -

70– 74

2.33

C+

 

C

65– 69

2.00

C

60– 64

1.66

C-

55– 59

1.33

D+

 

K

<  54

1.00

D

 

 

b.Hal-hal  yang  harus  diperhatikan  dalam  menentukan  KKM  adalah sebagaiberikut:

 

 

1 Hitungjumlah Kompetensi Dasar (KD) setiap mata pelajaran setiapkelas!

2)   Tentukan   kekuatan/nila untuk   setiap   aspek/komponen sesuaikan dengankemampuan masing-masingaspek:

(a)Aspek  Kompleksitas:  Semakin  komplek(sukar)KD  maka  nilainya semakinrendahtetapi semakinmudahKDmakanilainyasemakin tinggi.Tingkatkesulitanmateridipandangdarisudutpenguasaan guruterhadapmateritersebut.Semakinbaik penguasaanguru terhadap materi semakinkecil tingkatkompleksitasnya.

 

(b) Aspek  Sumber  Daya  Pendukung:  Semakin  tinggi  sumber  daya pendukungmaka nilainya semakin tinggi.

(c)Aspekintake:Semakintinggikemampuanawal  siswa(intake)maka nilainya semakin tinggi.

3 Jumlahkan   nila setiap   komponen selanjutnya   dibagi    untuk

menentukanKKMsetiapKD!

4)   JumlahkanseluruhKKMKD,selanjutnyadibagidenganjumlahKDuntuk menentukanKKMmata pelajaran!

5 KKMsetiapmatapelajaranpadasetiapkelastidaksamatergantungpada

kompleksitas KD,daya dukung,danpotensi (Inteks) siswa.

 

 

c.  Teknik RekapitulasiNilai

 

Bilaguru kelasuntuktingkatsatuanpendidikan SDatauguru matapelajaran untuksatuan pendidikan SMP,SMA,dan SMK sudahmenyusunnilaisecara sempurnauntuksetiapsiswayangdiajarnya,makatugas pengawas sekolah adalahmenyusunrekapitulasihasildarinilai setiapkelaspadasatuan pendidikan yangdipimpinnya.Rekapitulasinilai dapatdibuatdalam bentuk rekapitulasi ketercapaianKKMsiswa di dalam kelas.

Fungsi rekap nilaidisusun pada setiapsatuan pendidikan adalah:

1 untukmengetahui keadaan nilai peserta didikdi satuan pendidikan

2)   sebagaisalahsatupatokanuntukmelihatketercapaianKKMpadahasil pembelajaran

3 sebagai  bahanpembuatan  petahasilbelajarpeserta  didik  di  satuan

pendidikan

4 sebagai dasar pembuatan kebijakan olehpengawas sekolah

 

 

d.Teknik  rekapitulasi  nilai  yang  dapat  dilakukan  oleh  pengawas sekolahadalah:

1 mendata nilai perolehansiswa setiapmatapelajaran pada setiapkelas

2 membuatformatrekapitulasi nilai

3)   Mengisi  nilai  perolehan  siswa  setiap  mata  pelajaran  pada  format rekapitulasi yangtelah dibuat

MANAJEMEN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013


 

PENYUSUNAN  DOKUMEN KTSP

 

MateriPenyusunanDokumenKTSP  akan  membahastentan komponen  KTSPyaitu komponen-komponendariKTSPmenurutKTSPtahun2006dibandingka dengan perubahanyangadapadakurikulumtahun2013.Komponenyangharusdisesuaikan dandikembangkan sesuai denganperubahan kurikulum tahun 2013adalah:1) Visi,misi, dantujuansatuanpendidikan;2)  Muatankurikulumnasional,daerah,dankekhasan satuan pendidikan;3)Pengaturan bebanbelajar; 4) Kalender pendidikan.

 

1.  Perumusan Visi,Misi,dan Tujuan  Satuan Pendidikan

Kurikulum  2013    mulai  diimplementasikan    tahun  pelajaran  2013/2014  pada sejumlah sekolah sasaran.Dalam rangka implementasi selanjutnya semua kegiatan sekolah harusdisesuaikandengan tuntutan kurikulum2013 tersebut.Salahsatu kegiatan  dalampengelolaan  sekolah  adalahpenyusunan  visi,  misi,  dan  tujuan satuanpendidikan.Adapunlandasan yuridisyangharus diperhatikandalam penyusunanvisi,misi,dantujua satuanpendidikanadalah:UUNo.20Tahun

2003tentangSisdiknas,PeraturanPemeritahNo.32Tahun2013tentangStandar NasionalPendidikan,PermendiknasNo.19tahun2007,PermendikbudNo.54,64,65,66,dan   81aTahun2013.

Sesuai dengankarakteristikKurikulum2013 yangdirancangsebagai berikut:

 

1.   mengembangkankeseimbanganantarapengembangansikapspiritualdan sosial,rasaingintahu,kreativitas,kerjasama dengankemampuanintelektual danpsikomotorik;

2.   sekolahmerupakanbagiandarimasyarakatyangmemberikanpengalaman belajarterencanadimanapesertadidikmenerapkanapa yang dipelajaridi sekolahkemasyarakatdan memanfaatkan masyarakatsebagaisumber belajar;

3.   mengembangkan     sikap,     pengetahuan,     dan     keterampilan     serta menerapkannya dalam berbagai situasidi sekolahdan masyarakat;

4.   memberiwaktuyangcukupleluasauntukmengembangkanberbagaisikap, pengetahuan,danketerampilan;

5.   kompetensidinyatakandalambentukkompetensiintikelasyangdirincilebih lanjutdalam kompetensidasar mata pelajaran;

6 kompetensiintikelasmenjadiunsurpengorganisasi(organizingelements)

kompetensidasar,dimana semua kompetensidasardan prosespembelajaran dikembangka untuk   mencapai   kompetensi   yan dinyatakan   dalam kompetensi inti;

7 kompetensidasardikembangkandidasarkanpadaprinsipakumulatif,saling

memperkuat(reinforced)danmemperkaya(enriched)antarmatapelajaran danjenjangpendidikan(organisasihorizontaldanvertikal);makarumusan visi satuanpendidikanperlu memperhatikan karakteristikkurikulum tersebut.

 

Visiadalahwawasanyangmenjadisumberarahanbagisekolahyang digunakan untukmemandu perumusanmisisekolah.Dengankatalain visiadalah pandangan jauhkedepankemanasekolahakandibawa.Visiadalahgambaran masa depanyangdiinginkan olehsekolahagarsekolahyangbersangkutan dapatmenjaminkelangsunganhidupdanperkembangannya.

 

Gambaranmasadepanatauvisitentunyaharusdidasarkanpadalandasan yuridis, yaituUndang-Undang PendidikandansejumlahPeraturanPemerintahannya, khususnyatujuanpendidikannasionalsesuaijenjangdan jenissekolahnyadan sesuaidenganprofilsekolah yangbersangkutan.Dengankatalain,visisekolah harustetapberada dalamkoridorkebijakan nasional,tetapi sesuaidengan kebutuhananakdanmasyarakatyangdilayani. Tujuanpendidikannasionalsama, tetapiprofilsekolah khususnyapotensidan kebutuhan masyarakatyangdilayani sekolahtidakselalusama.Olehkarenaitu,dimungkinkansekolahmemilikivisi yangtidaksamadengansekolahlain,asalkan tidakkeluardarikoridornasional yaitu tujuanpendidikannasional.

1.MANAJEMEN IMPLEMENTASI

2.PENGELOLAAN PENILAIAN

 

PELAKSANAAN SUPERVISI MANAJERIAL IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013


 

 

Supervisimanajerialmerupakankegiatan supervisiberkenaandengan aspek pengelolaansekolah yangterkaitlangsungdenganpeningkatanefisiensidan efektivitassekolahyangmencakupperencanaan,koordinasi, pelaksanaan, penilaian,pengembangankompetensisumberdayapendidikdan tenaga kependidikan,dan sumber daya lainnya.

 

Berubahnya  kurikulum  dari  KTSP  2006  ke  KTSP  2013  secara  langsung menuntutpeningkatan fungsisupervisimanajerialseorangpengawas.Dengan munculnyamanajemenperubahanyangharusdilakukan olehkepalasekolah, pengawasharusmelakukanpendampingansecaraefektifsebagai wujud tajamnyasupervisimanajerialdengan targetberlangsungnya perubahan- perubahan di sekolahdenganbaikuntukimplementasikurikulum 2013.

 

Ruanglingkupsupervisi manajerialterdiridaripemantauan,penilaian,dan pembinaan.   Metodeutamayang   mestidilakukanolehpengawassatuan pendidikandalamsupervisimanajerialadalahmonitoringdanevaluasi. Tetapi metodelainnyadapat digunakansesuaidengan kondisisekolahdan masalah yangakan dipecahkan disekolah.

 

Dalamkegiatanpembelajaranini,  saudaraakanmendiskusikan  bahanajar pelaksanaansupervisimanajerialterkaitdengan implementasikurikulum 2013, mulaidariperencanaan,pelaksanaan dan penilaian.Pelaksanaan pengawasan manajerialdilakukan melaluipemantauan,penilaiandan pembinaan.Penilaian dilaksanakan terhadapkinerja kepala sekolah tentangpengelolaan sekolah.

 

Esensidari supervisimanajerialadalahberupa kegiatanpemantauan, penilaian danpembinaanterhadapkepalasekolahdanseluruhelemensekolahlainnyadi

 

dalammengelola,mengadministrasikan dan melaksanakanseluruhaktivitas sekolah,sehingga dapatberjalandenganefektifdanefisiendalamrangka mencapai tujuan sekolah serta memenuhi 8 standar nasional pendidikan.

 

Dengandemikianfokus supervisiiniditujukan padapelaksanaanadministrasi danpengelolaansekolah.Kegiatanadministrasi ditekankanpadaprosesdan metodeuntukmenjaminsuatutindakanyangtepat.Administrasisebagai tugas (kewajiban)dalamkontekspendidikan mengacu padaStandarNasional Pendidikan yangmeliputi:1.Administrasistandarisi,2.Administrasistandar kompetensilulusan,3.Administrasistandar proses,4.Administrasistandar pendidikdan tenagakependidikan,5.Administrasistandarsaranadan prasarana,6.Administrasistandarpengelolaan,7.Administrasi standar pembiayaan,dan 8.Administrasi standar penilaian.Tujuan supervisi terhadap kedelapan aspektersebutadalah agar sekolah terakreditasidengan baikdan dapat  memenuhi  standar  nasional  pendidikan.  Dengan  demikian  dapat dikatakanbahwaadministrasisekolahadalah pengaturandanpendayagunaan segena sumber   daya   sekolah   secara   efisie dala penyelenggaraan pendidikan agartujuan pendidikan disekolah tercapai secaraoptimal.

 

Supervisipada kegiatanadministrasisekolah dilakukan agar pengawas memastikanbahwaadministrasisekolahdapat:

1.    Memberiarah dalam penyelenggaraansekolah

2.     Menjadiumpan balikbagiperbaikanprosesdan hasilpendidikan

3.    Meningkatkanmutupenyelenggaraanadministrasisekolah

4.    Tertib   administrasi  

5.      Mewujudkan   suasan belajar   dan   proses pembelajaran  yanaktif,  inovatif,kreatif,  efektif,  danmenyenangkan.

6.      Menunjangtercapainya program sekolah secaraefektif dan efisien.

 

Salahsatufokuspentinglainnyadalamsupervisimanajerialoleh pengawas terhadapsekolah,adanya halberkaitan pengelolaan atau manajemen sekolah. Sebagaimanadiketahuidalamdasawarsa terakhirtelahdikembangkanwacana manajemenberbasis sekolah(MBS),sebagaibentukparadigma baru pengelolaan  dari  sentralisasi  ke  desentralisasi  yang  memberikan  otonomi kepadapihaksekolah danmeningkatkan partisipasimasyarakat(Sudarwan Danim,2006:4).Pengawasdituntutdapatmenjelaskan sekaligus mengintroduksimodelinovasimanajemenini sesuaidengankonteks sosial budaya sertakondisiinternal masing-masingsekolah.

1.  RuangLingkupSupervisiManajerial. a.  Pemantauan

Pemantauan  manajemen  perubahan  mengarah  pada  pencapaian  8

standar nasionalpendidikan (SNP) dan memanfaatkan hasil-hasilnya untukmembantu kepalasekolah mempersiapkanakreditasi sekolah.

b.  Penilaian

Penilaianterhadapkinerjakepala sekolah dalamhalmenjadiagen perubahanpertamadi sekolahdalamimplementasikurikulum2013 sesuai denganstandar nasional pendidikan.

c.  Pembinaan

Pembinaandilakukan pengawastentangpengelolaansekolah meliputi :

1)    penyusunanKTSP2013berdasarkanStandar NasionalPendidikan,

2)    membantukepalasekolahmengembangkanpusatsumber belajar(PSB) dan      sumber-sumber      belajar      lainnya      dalam      mendukung terselenggaranya pembelajaran dengan pendekatan saintifik,

3)    mengembangkan kemampuan kepala sekolah dalampenyusunan program  dan  pelaksanaan  peminatan  dan  ekstra  kurikuler  wajib Pramuka,

4)    melakukanpendampingankepada kepalasekolahdalam melaksanakanpengelolaandanadministrasi sekolahsecaraumum,

5)    melakukanpendampingankepada kepalasekolahdalampelaksanaan pelayananbimbingan dankonseling,serta

6)    melakukanpendampingan kepalasekolahdalam mengevaluasiketerlaksanaanprogram-program sekolah,

7)    melaporkan hasilevaluasinyakepadapemangku kepentingan, dan

8)    menyusunrencanatindaklanjut berdasarkandatahasilevaluasi tersebut.

 

Hasilpemantauandan penilaianolehpengawasharusdijadikan dasaruntuk peningkatankompetensidan profesionalismekepalasekolah dan ditindaklanjuti denganmelakukanpembinaanbaikberupapembimbingan dan/atau  pelatihan kepala sekolah.

 

Padaimplementasi kurikulum2013supervisimanajerialsangatdibutuhkan mengingatadanya perubahan mindsetdan perilaku warga sekolah yang dipimpinoleh kepala sekolah.Karenaitupengawasharusmelakukan pendampingankepada kepalasekolahagarmendapatkepastianbahwa implementasi kurikulumberjalan sesuai denganharapan.

 

Sepertitelahdikemukakandidepan, dalammelaksanakansupervisi manajerial,pengawasharusmelakukan perencanaanterlebihdahulu. Perencanaanmeliputi:

1)    penyusunanProgram PengawasanTahunan,

2)     Program Semester,

3)     Program  Pembinaan  Kepala  Sekolah,

4)     Program  Pemantauan StandarNasionalPendidikan(SNP),

5)     Program PenilaianKinerjaKepala Sekolah,

6)    RencanaPengawasan Manajerial(RPM),dan

7)     membuatInstrumen SupervisiManajerial.

 

Seluruh program yangdisiapkan harusmengacu pada standar penilaian kinerja pengawas sekolah (PKPS).Halinipenting,sebab selainuntukmenjadipatokanpendokumenanhasilsupervisisekolah binaan, secara individualsetiappengawasmemerlukan nilaikinerja minimalbaik dalam rangka peningkatan karirnya.Sebagai pedoman dalam penyusunan program yangmemenuhikriteriaPKKS,pengawashendaknyamenganalisis instrumenpenilaiankinerjapengawassekolah(menurutPermendiknasno

21 tahun 2010 tentangtugas pengawas sekolahdanangka kreditnya).

 

2.  Metode danTeknikSupervisi Manajerial.

 

Metode pelaksanaanpengawasanmanajerialdapatdilakukan dengan cara observasi, kunjunganataupemantauan,pengecekan/klarifikasidata, dan rapat  dengan  kepala  sekolah.  Secaraspesifik  berikut  ini  saudara  akan membaca penjelasan jenis-jenis metode dantekniksupervisimanajerial.

 

 

a.MonitoringdanEvaluasi

 

Metodeutamayang  mestidilakukan olehpengawassatuanpendidikan dalam supervisi manajerial tentu saja adalah monitoringdanevaluasi.

 

1)  Monitoring

 

Monitoringadalahkegiatanpengontrolan pelaksanaanprogram- program   penyelenggaraa sekolah   dengan   konsekue sesuai dengan rencana,program dan/atau standaryangtelah ditetapkan. Melaluimonitoring,dapatdiperolehumpan balikbagisekolahatau pihaklainyangterkait untukmenyukseskan ketercapaiantujuan. Sebagaicontoh, pengawasmelakukanmonitoringterhadap:

1)  penyusunan  KTSP  2013,

2)   memantau  penyusunan  program peminatandenganmelibatkanguru bimbingandankonseling,

3)  memantau  penyusunan  programpenerimaan  peserta  didik  baru,

4)  memantauprogramsupervisiakademik kepalasekolahuntuk memastikanterselenggaranyaproses pembelajarandengan pendekatansaintifik,

5)   memantaupenyusunanprogram pengelolaan sarana prasarana sekolah menyangkutsarana pendukung terselenggaranya  pembelajaran  saintifik,  mulai  dari

o  penyediaan bukusiswadan bukuguru,

o   kegiatananalisisbukusiswadan analisis bukuguru,

o   menyiapkan laboratorium IPA,laboratoriumkomputer, laboratoriumbahasa,perpustakaan,dan sumber-sumberbelajar lainnya,

o  menyusunadministrasikeuanganyang efisien,transparan danakuntabel,

o  menyusunprogrampenilaianotentiksecaramakro danmikro,

o  menyusunprogrampeningkatan kualitashubungan sekolahdenganmasyarakatterkaitpelaksanaankurikulum2013, dan

o  menyusunprogram pengembangandiridanlayanankhusus,di antaranya  program  peminatan  dan  ekstra  kurikuler.    

Pengawas harusmemantau program pelaksanaan ekstra kurikuler Pramuka mengingatPramuka sudahditetapkan sebagai ekstrakurikulerwajib. Monitoringlebih bersifatklinis,pengawasdapatsegeramengatasi hambatandan gangguanyangditemukan selamaprogram masih berjalan.Namunjanganlupa,pengawasharus memastikanbahwa apayangdimonitornya adalahhal-halyangdikembangkan dan dijalankan dalam rencana pengembangansekolah (RPS).

 

 

Dalammelakukanmonitoringinitentunya pengawasharus melengkapidiridengan parangkatataudaftarisianyangmemuat seluruhindikatorsekolahyangharusdiamati dandinilai.Secara tradisional pelaksanaanpengawasanmelibatkantahapan:

(a) menetapkan standar untukmengukur prestasi,

 (b) mengukur prestasi,

 (c)menganalisisapakahprestasimemenuhistandar,dan

(d)mengambiltindakan apabilaprestasikurang/tidakmemenuhi standar (NanangFattah,1996:102).

 

Dalamperkembangan terakhir,kecenderunganpengawasan dalam duniapendidikan jugamengikutiapayangdilakukanpada industri, yaitudenganmenerapakanTotalQuality Controll. Pengawasanini tentusaja terfokuspadapengendalian mutudan lebih bersifat internal.   Oleh karena itu pada akhir-akhir ini setiaplembaga pendidikan umumnya memilikiunitpenjaminan mutu.

 

2)   Evaluasi

 

Kegiatanevaluasi ditujukanuntukmengetahuisejauhmana kesuksesan  pelaksanaan  penyelenggaraan  sekolah  atau  sejauh

manakeberhasilanyangtelahdicapaidalamkurunwaktutertentu.

 

Tujuan  evaluasi  utamanya  adalah  untuk  

(a)  mengetahui  tingkat keterlaksanaanprogram,

 (b)mengetahuikeberhasilanprogram,

 (c) mendapatkanbahan/masukandalamperencanaantahun  berikutnya, dan

 (d)  memberikan  penilaian  (judgement)  terhadap  sekolah.

 

Sebagai  contoh  pengawas  melakukan  evaluasi  keterlaksanaan kurikulum  2013,  pengukuran  dilakukan  dengan  menggunakan instrumensepertiberikutini:(contohhanyamenunjukkansupervisi manajerial saja,tidakmencantumkan supervisi akademik).

 

 1.PELAKSANAAN SUPERVISI MANAJERIAL IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013

2.PENYUSUNAN INSTRUMEN SUPERVISI MANAJERIAL IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013

3.PENILAIAN

4.TINDAK LANJUT DAN PELAPORAN HASIL SUPERVISI MAJERIAL

Beberapa dokumen resmi yang dapat dijadikan referensi dan standar dalam kegiatan supervisi manajerial 

INSTRUMEN PEMANTAUAN KETERLAKSANAAN KURIKULUM 2013

Salah satu cara praktis untuk menunjukkan prestasi pengawas


 

Menurut Pak Prof.Husaini Usman bahwa Pengawas seharusnya menunjukkan prestasinya terlebih dahulu. Salah satu cara praktis untuk menunjukkan prestasi adalah pengawas lebih fokus pada supervisi akademik ketimbang supervisi administratif. Salah satu cara untuk meningkatkan mutu supervisi akademik untuk guru/KS yang dapat dilakukan bertahap antara lain adalah (1) memantau kinerja guru secara ilmiah, objektif, adil, dan transparan, dan berkelanjutan; (2) menilai kinerja guru secara priodik dan menyampaikan hasilnya kepada kepada guru untuk ditindaklanjuti; (3) merencanakan dan melaksanakan Peningkatan Keprofesian Guru secara profesional; (4) mendampingi dan melatih guru secara profesional; (5) meningkatkan koordinasi kerja KKPS/MKPS secara kontinyu; (6) meningkatkan pembelajaran kolaboratif, dan (7) meningkatkan budaya positif dan iklim akademik yang kondusif di kelas/sekolah. Dari butir (1) sampai (7) lakukan yang mudah, murah, sedikit demi sedikit dahulu. Jika pengawas sudah menunjukkan prestasi tinggi, insya Allah, penghargaan yang tinggi terhadap pengawas akan datang dengan sendirinya pula. Semoga bermanfaat.

Program-Pengembangan-Karier-Pengawas-Sekolah-001-400x300 Program-Pengembangan-Karier-Pengawas-Sekolah-001h Program-Pengembangan-Karier-Pengawas-Sekolah-002-400x300 Program-Pengembangan-Karier-Pengawas-Sekolah-002-400x300k Program-Pengembangan-Karier-Pengawas-Sekolah-003-400x300 Program-Pengembangan-Karier-Pengawas-Sekolah-003-400x300m PTK-Berprestasi-2013-002-400x300 PTK-Berprestasi-2013-005-400x300

MANAJEMEN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013


Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas kesempatan yang telah diberikan da dipercayakan oleh Kemdikibud RI dalam rangka mengikuti Pelatihan Narasumber Nasional  Implementasi Kurikulum 2013 yang berlansung tanggal 11 sd 15 maret 2014 di Hotel Oval Surabaya.

Adapun materi pokok pelatihan ImplementasiKurikulum 2013 bagiPengawas Sekolahterdiriatas SupervisiManajerialImplementasiKurikulum2013, Manajemen Implementasi Kurikulum 2013,SupervisiAkademikImplementasi Kurikulum 2013, dan Kepramukaan. SedangkanMateriPokokPelatihanImplementasi Kurikulum2013bagiKepala Sekolah terdiriatasManajemen ImplementasiKurikulum2013,Manajemendan KepemimpinanKepalaSekolah, Supervisi   Akademik   Implementasi   Kurikulu 2013 dan   Kepramukaan.

1.   1. SupervisiManajerialImplementasiKurikulum2013

Tujuan Materi ini adalah untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam melaksanakan supervisi manajerial implementasi kurikulum  2013. Materi ini untuk menjawab beberapa prinsip dan tujuan utama.Pertama,materi ini diharapkan dapat menunjang pengembangan kompetensi pengawas sekolah yang diturunkan dari kebutuhan pelaksanaan kurikulum  2013  padaseluruh  level  satuan  pendidikan.  Kedua,setiap materi menunjang sikap keberterimaan, pengetahuan, dan keterampilan serta menumbuhkan daya inisiatif untuk merencanakan strategidan implementasi perencanaan, pelaksanaan, dan evalausi pengawasan dan pembinaan sekolah sesuai  kebutuhan  khas  implementasi  kurikulum  2013.  Ketiga,materi  yang dipelajari dapat mengurangi resistensi pada implementasi kurikulum pada tingkat satuan pendidikan.Keempat,seluruh materi pelatihan dapat berkontribusi positif terhadap pembentukan sikap, pengetahuan dan keterampilan yang menunjang kompetensi kepala sekolah dan pengawas sekolah dalam mengimplementasikan kurikulum2013. Kelima,menyelaraskan seluruh kompetensi yang dikembangkan untuk menunjang penjaminan mutu kompetensi lulusan, isi, proses pembelajaran, dan penilaian sesuai dengan karakteristik kurikulum 2013.

Segala aktivitas supervisi yang dilakukan oleh seorang pengawas sekolah diharapkan semuanya menuju pada peningkatan mutu sekolah dan pendidikan secara umum,dan secara spesifik supervisi yang ditujukan bagi peningkatan mutu Sekolah dari segi pengelolaan di sebut dengan supervisi manajerial.Hal ini tentu tidak kalah penting dibandingkan dengan supervisi akademik yang sasarannya adalah guru dan pembelajaran.Materi yang dibahas pada kegiatan pembelajaran  ini  adalah  pertama  pengertian supervisi  manajerial,  kedua penyusunan instrumentsupervisi manajerial.

2. Manajemen Implementasi Kurikulum 2013

2.    3. SupervisiAkademikImplementasi Kurikulum 2013

3.    4. Kepramukaan

Materi ini dimaksudkan sebagai bahan pembelajaran  wajib Nara Sumber, Instruktur Nasional, Kepala Sekolah sasaran dalam memberikan pemahaman tentang ekstrakurikuler Pramuka dan penerapannya dalam proses pembelajaran di sekolah.Materi Pendidikan Kepramukaan ini mengiringi pemberlakuan Kurikulum 2013 yang telah memiliki landasan yuridis melalui Permendikbud RI Nomor 81A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum 2013 Lampiran III. Oleh karena itu, tujuan dari penulisan materi Pendidikan Kepramukaan ini untuk memberikan panduan bagi para pengguna pelaksana ekstrakurikulerpramuka, karena pada Kurikulum 2013 kegiatan ekstrakurikuler Pramuka wajib diikuti oleh setiap peserta didik mulai dari SD, SMP, SMA/SMK kecuali yang memiliki kekhususan. Pendidikan Kepramukaan merupakan bagian tak terpisahkan dari sistem pendidikan dalam menyiapkan anak bangsa menjadi kader bangsa yang berkualitas baik moral, mental, spiritual, intlelektual, emosional, maupun fisik dan ketrampilan.

Pengawassekolah,kepalasekolah,dan gurumerupakantigapilarpentingdalam mewujudkan implementasi Kurikulum 2013. Efektivitasnya sangatbergantung padakesesuaiankompetensiketiganyadengan kebutuhanmewujudkantarget yang  diharapkan  pada  tingkat  satuan  pendidikan.  Peningkatan  kompetensi melaluipenyelenggaraanpelatihanmerupakan kegiatan strategisyangperlu disertaidenganlangkahpenjaminanbahwa ketigapilarmutupelaksanaan kurikulum yangterukur dan sistematis.

 

Implementasi  kurikulum  2013  berimplikasi  terhadap  kebutuhan  peningkatan sikap,pengetahuan,dan keterampilan tigapilarpenjaminmutu.Untukmerespon kebutuhan  itu  Badan  Pengembangan  SumberDaya  Manusia  Pendidikan  dan KebudayaandanPenjaminanMutuPendidikan(BadanPSDMPK danPMP) melalui PusatPengembangan TenagaKependidikantelahmelakukanPelatihan Implementasi Kurikulum2013 bagi Narasumber dan Instruktur Nasional bagi Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah di seluruh Indonesia yang terbagi dalam 3 region. Reginon I di Jakarta, Region II di Surabaya dan Region III di Makassar.

 kurikulum2013-341x250PS-01. Supervisi Manajerial-2

PS-02. Managemen Implementasi Kurikulum-2

03. Supervisi Akademik-2

PS-03. Supervisi Akademik-2

PS-04. Kepramukaan-2

KS-01. Manajemen Kepemimpinan Sekolah-2

KS-02. Manajemen Implementasi Kurikulum-2

KS-03. Supervisi Akademik-2

KS-04. Kepramukaan-2

1604669_791798500835561_542931071_n 562401_641386789210067_625831063_n  test-341x250 two_questions-341x250

UPAYAU MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU DALAM MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN CTL MELALUI PELATIHAN MODEL “KLASEMEN” BAGI GURU-GURU SMP/SMA/SMK DI KABUPATEN DOMPU


14.00

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;}
table.MsoTableGrid
{mso-style-name:”Table Grid”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-priority:99;
mso-style-unhide:no;
border:solid windowtext 1.0pt;
mso-border-alt:solid windowtext .5pt;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-border-insideh:.5pt solid windowtext;
mso-border-insidev:.5pt solid windowtext;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;}
table.MsoTableLightShadingAccent5
{mso-style-name:”Light Shading – Accent 5″;
mso-tstyle-rowband-size:1;
mso-tstyle-colband-size:1;
mso-style-priority:60;
mso-style-unhide:no;
border-top:solid #4BACC6 1.0pt;
border-left:none;
border-bottom:solid #4BACC6 1.0pt;
border-right:none;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;
color:#31849B;}
table.MsoTableLightShadingAccent5FirstRow
{mso-style-name:”Light Shading – Accent 5″;
mso-table-condition:first-row;
mso-style-priority:60;
mso-style-unhide:no;
mso-tstyle-border-top:1.0pt solid #4BACC6;
mso-tstyle-border-left:cell-none;
mso-tstyle-border-bottom:1.0pt solid #4BACC6;
mso-tstyle-border-right:cell-none;
mso-tstyle-border-insideh:cell-none;
mso-tstyle-border-insidev:cell-none;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-bottom:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-font-weight:bold;
mso-bidi-font-weight:bold;}
table.MsoTableLightShadingAccent5LastRow
{mso-style-name:”Light Shading – Accent 5″;
mso-table-condition:last-row;
mso-style-priority:60;
mso-style-unhide:no;
mso-tstyle-border-top:1.0pt solid #4BACC6;
mso-tstyle-border-left:cell-none;
mso-tstyle-border-bottom:1.0pt solid #4BACC6;
mso-tstyle-border-right:cell-none;
mso-tstyle-border-insideh:cell-none;
mso-tstyle-border-insidev:cell-none;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-bottom:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-font-weight:bold;
mso-bidi-font-weight:bold;}
table.MsoTableLightShadingAccent5FirstCol
{mso-style-name:”Light Shading – Accent 5″;
mso-table-condition:first-column;
mso-style-priority:60;
mso-style-unhide:no;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-font-weight:bold;
mso-bidi-font-weight:bold;}
table.MsoTableLightShadingAccent5LastCol
{mso-style-name:”Light Shading – Accent 5″;
mso-table-condition:last-column;
mso-style-priority:60;
mso-style-unhide:no;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-font-weight:bold;
mso-bidi-font-weight:bold;}
table.MsoTableLightShadingAccent5OddColumn
{mso-style-name:”Light Shading – Accent 5″;
mso-table-condition:odd-column;
mso-style-priority:60;
mso-style-unhide:no;
mso-tstyle-shading:#D2EAF1;
mso-tstyle-border-left:cell-none;
mso-tstyle-border-right:cell-none;
mso-tstyle-border-insideh:cell-none;
mso-tstyle-border-insidev:cell-none;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;}
table.MsoTableLightShadingAccent5OddRow
{mso-style-name:”Light Shading – Accent 5″;
mso-table-condition:odd-row;
mso-style-priority:60;
mso-style-unhide:no;
mso-tstyle-shading:#D2EAF1;
mso-tstyle-border-left:cell-none;
mso-tstyle-border-right:cell-none;
mso-tstyle-border-insideh:cell-none;
mso-tstyle-border-insidev:cell-none;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;}
table.MsoTableMediumShading2Accent5
{mso-style-name:”Medium Shading 2 – Accent 5″;
mso-tstyle-rowband-size:1;
mso-tstyle-colband-size:1;
mso-style-priority:64;
mso-style-unhide:no;
border-top:solid windowtext 2.25pt;
border-left:none;
border-bottom:solid windowtext 2.25pt;
border-right:none;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;}
table.MsoTableMediumShading2Accent5FirstRow
{mso-style-name:”Medium Shading 2 – Accent 5″;
mso-table-condition:first-row;
mso-style-priority:64;
mso-style-unhide:no;
mso-tstyle-shading:#4BACC6;
mso-tstyle-border-top:2.25pt solid windowtext;
mso-tstyle-border-left:cell-none;
mso-tstyle-border-bottom:2.25pt solid windowtext;
mso-tstyle-border-right:cell-none;
mso-tstyle-border-insideh:cell-none;
mso-tstyle-border-insidev:cell-none;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-bottom:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
color:white;
mso-style-textfill-fill-color:white;
mso-style-textfill-fill-alpha:100.0%;
mso-ansi-font-weight:bold;
mso-bidi-font-weight:bold;}
table.MsoTableMediumShading2Accent5LastRow
{mso-style-name:”Medium Shading 2 – Accent 5″;
mso-table-condition:last-row;
mso-style-priority:64;
mso-style-unhide:no;
mso-tstyle-shading:white;
mso-tstyle-border-top:2.25pt double windowtext;
mso-tstyle-border-left:cell-none;
mso-tstyle-border-bottom:2.25pt solid windowtext;
mso-tstyle-border-right:cell-none;
mso-tstyle-border-insideh:cell-none;
mso-tstyle-border-insidev:cell-none;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-bottom:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;}
table.MsoTableMediumShading2Accent5FirstCol
{mso-style-name:”Medium Shading 2 – Accent 5″;
mso-table-condition:first-column;
mso-style-priority:64;
mso-style-unhide:no;
mso-tstyle-shading:#4BACC6;
mso-tstyle-border-top:cell-none;
mso-tstyle-border-left:cell-none;
mso-tstyle-border-bottom:2.25pt solid windowtext;
mso-tstyle-border-right:cell-none;
mso-tstyle-border-insideh:cell-none;
mso-tstyle-border-insidev:cell-none;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
color:white;
mso-style-textfill-fill-color:white;
mso-style-textfill-fill-alpha:100.0%;
mso-ansi-font-weight:bold;
mso-bidi-font-weight:bold;}
table.MsoTableMediumShading2Accent5LastCol
{mso-style-name:”Medium Shading 2 – Accent 5″;
mso-table-condition:last-column;
mso-style-priority:64;
mso-style-unhide:no;
mso-tstyle-shading:#4BACC6;
mso-tstyle-border-left:cell-none;
mso-tstyle-border-right:cell-none;
mso-tstyle-border-insideh:cell-none;
mso-tstyle-border-insidev:cell-none;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
color:white;
mso-style-textfill-fill-color:white;
mso-style-textfill-fill-alpha:100.0%;
mso-ansi-font-weight:bold;
mso-bidi-font-weight:bold;}
table.MsoTableMediumShading2Accent5OddColumn
{mso-style-name:”Medium Shading 2 – Accent 5″;
mso-table-condition:odd-column;
mso-style-priority:64;
mso-style-unhide:no;
mso-tstyle-shading:#D8D8D8;
mso-tstyle-border-left:cell-none;
mso-tstyle-border-right:cell-none;
mso-tstyle-border-insideh:cell-none;
mso-tstyle-border-insidev:cell-none;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;}
table.MsoTableMediumShading2Accent5OddRow
{mso-style-name:”Medium Shading 2 – Accent 5″;
mso-table-condition:odd-row;
mso-style-priority:64;
mso-style-unhide:no;
mso-tstyle-shading:#D8D8D8;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;}
table.MsoTableMediumShading2Accent5NECell
{mso-style-name:”Medium Shading 2 – Accent 5″;
mso-table-condition:ne-cell;
mso-style-priority:64;
mso-style-unhide:no;
mso-tstyle-border-top:2.25pt solid windowtext;
mso-tstyle-border-left:cell-none;
mso-tstyle-border-bottom:2.25pt solid windowtext;
mso-tstyle-border-right:cell-none;
mso-tstyle-border-insideh:cell-none;
mso-tstyle-border-insidev:cell-none;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;}
table.MsoTableMediumShading2Accent5NWCell
{mso-style-name:”Medium Shading 2 – Accent 5″;
mso-table-condition:nw-cell;
mso-style-priority:64;
mso-style-unhide:no;
mso-tstyle-border-top:2.25pt solid windowtext;
mso-tstyle-border-left:cell-none;
mso-tstyle-border-bottom:2.25pt solid windowtext;
mso-tstyle-border-right:cell-none;
mso-tstyle-border-insideh:cell-none;
mso-tstyle-border-insidev:cell-none;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
color:white;
mso-style-textfill-fill-color:white;
mso-style-textfill-fill-alpha:100.0%;}

UPAYAU  MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU DALAM MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARANCTL

MELALUI  PELATIHAN MODEL “KLASEMEN”

BAGI GURU-GURUSMP/SMA/SMK

DI KABUPATEN  DOMPU

SEMESTER GAZAL TAHUN PELAJARAN 2010-2011

 

Oleh :

 

SUAIDIN

(Pengawas

 

Abstract.  Contextual Teaching Learning (CTL) is a concept of learning that helps teachers relate what is taught with real-world situations of students and encourage students to make connections between its knowledge with its application in their lives as family members and society. With that concept, the learning outcomes expected to be more meaningful for students. The learning process takes place naturally in the form of student work and experience, rather than transferring knowledge from teacher to student. Learning strategies higher than any results.

 

The purpose of this supervisory action research was to determine the extent to which building inspectors enhance teachers’ ability to apply learning model Contextual Teaching Learning (CTL) through training “Klasemen”

 

In a supervisory action research area  was conducted in two cycles, the results of actions taken are proven to improve the performance of teachers to achieve the ideal standard. From 67.93% in cycle I, can be increased to 93.92% in cycle II,

The results of this action shows that coaching supervisors through training standings model can improve the performance of teachers in using the learning model CTL target schools in the district Dompu Lessons Year 2010/2011

Key words: the ability of teachers, learning model CTL, training “Klasemen”.

 

 

 

 

I. PENDAHULUAN

Kemampuan guru merupakan faktor pertama yang dapat mempengaruhi keberhasilan pembelajaran. Guru yang memilikim kemampuan tinggi akan bersikap kreatif dan inovatif yang selamanya akan mencoba dan mencoba menerapkan berbagai penemuan baru yang dianggap lebih baik untuk pembelajaran siswa. Suatu asumsi bahwa peningkatan mutu pembelajaran di sekolah dapat dicapai melalui peningkatan mutu sumber daya manusia (guru dan tenaga kependidikan lainnya), walaupun diakui bahwa komponen-komponen lain turut memberikan kontribusi dalam peningkatan mutu pembelajaran. Peningkatan sumber daya menusia telah banyak dilakukan pemerintah, terutama peningkatan kompetensi guru. Usaha ini berupa peningkatan kompetensi melalui pendidikan dan pelatihan, workshop atau bentuk lainnya.

 

Dalam aspek perencanaan misalnya, guru dituntut untuk mampu mendesain perencanaan yang memungkinkan secara terbuka siswa dapat belajar sesuai dengan minat dan bakatnya., seperti kemampuan merumuskan tujuan pembelajaran, kemampuan menyusun dan menyajikan materi atau pengalaman  belajar siswa, kemampuan untuk merancang desian pembelajaran yang tepat sesuai dengan tujuan yang akan dicapai, kemampuan menentukan dan memanfaatkan media dan sumber belajar, serta kemampuan menentukan alat evaluasi yang tepat untuk mengukur keberhasilan proses pembelajaran.

    

Disamping itu, peningkatan profesionalisme guru di kabupaten Dompu juga dilakukan melalui kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), atau pola-pola lain seperti, seminar , lokakarya atau workshop. Namun demikian hasil belajar siswa masih memprihatinkan dan sampai saat ini kenyataannya bahwa hasil evaluasi belajar  yang dicapai di kabupaten Dompu belum semuanya sesuai dengan standar minimal yang ditetapkan pemerintah.

 

Hal yang sama juga terjadi terhadap guru  SMP/SMA/SMK di kabupaten Dompu. Pelatihan terhadap guru-guru  tersebut telah banyak diikutkan dalam kegiatan diklat baik yang dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan kabupaten Dompu, LPMP, Bimtek KTSP-SSN oleh Direktorat Pembinaan SMA yang difasilitasi oleh Fasilitator Pusata maupun daerah, PPPPTK, dan lain sebagainya , namun hasil belajar siswa mereka masih dibawah standar yang diharapkan.

 

Pengamatan yang dilakukan peneliti , bahwa pada struktur program dalam panduan  pelatihan yang disusun pada setiap kegiatan diklat atau workshop, masih didominasi oleh kegiatan menyusun administrasi pembelajaran, dan hanya sedikit kegiatan yang membimbing guru dalam penguasaan materi serta penggunaan model-model pembelajaran CTL serta keterampilan menggunkan media pembelajaran yang sesuai. Disamping itu, pada umumnya para guru yang telah mengikuti diklat atau workshop jarang mensosialisasikan hasil-hasil diklatnya kepada rekan-rekan mereka di sekolah. Hal ini terjadi karena kepala sekolah mereka jarang memberi kesempatan untuk mensosialisasikan program tindak lanjut hasil diklat kepada rekan-rekannya di sekolah.

 

Berdasarkan hal tersebut, Nawawi (1993) menyatakan bahwa ” program kelas tidak akan berarti bilamana tidak terwujudkan menjadi kegiatan. Untuk itu peranan guru sangat menentukan karena kedudukannya sebagai pemimpin pendidikan di antara peserta didik dalam suatu kelas”. Guru bertanggung jawab untuk mengatur, mengarahkan dan menciptakan  suasana yang dapat mendorong peserta didik untuk melaksanakan  kegiatan-kegiatan di dalam kelas.

 

Untuk menunjang tugas tersebut maka guru perlu ditunjang dengan kemampuan profesional yang memadai. Guru yang profesional adalah guru yang menguasai kurikulum, menguasai materi pelajaran, menguasai model-model dan atau metode-metode pembelajaran, menguasai penggunaan media pembelajaran, menguasai teknik penilaian pembelajaran, dan komitmen terhadap tugas. Dengan demikian diharapkan proses pembelajaran yang dilaksanakan guru, dapat dicapai tanpa pemborosan waktu, tenaga, material, finansial, dan bahkan pemikiran sehingga pada gilirannya tujuan sekolah dapat dicapai secara efektif dan efisien. 

         

Beeby (1987) menyatakan bahwa pelajaran-pelajaran yang diberikan guru amat kurang sekali variasinya, dan dengan sedikit kekecualian, pola yang sama telah menjadi standar di ulang-ulang sepanjang jam pelajaran sekolah. Kadang-kadang guru mulai mengajar dengan hanya mendiktekan saja pelajarannya dan jika masih ada waktu baru memberikan penjelasan sekedarnya tidak mencerminkan pembelajaran CTL apa lagi tanpa variasi dengan penggunaan media yang sesuai maupun sumber-sumber belajar yang memadai. Apabila kebiasaan seperti itu tetap dipraktekan oleh para guru di kelas selama proses pembelajaran, maka dapat dipastikan bahwa peningkatan mutu pendidikan akan sulit dicapai.

 

Guru dikatakan tidak saja semata-mata sebagai pengajar (transfer of knowledge), tetapi pendidik (transfer of value) dan sekaligus sebagai pembimbing yang memberikan penghargaan dan menuntun murid dalam belajar (Sardiman, 1990). Para pakar pendidikan seringkali menegaskan bahwa guru adalah sumber daya manusia yang sangat menentukan keberhasilan program pendidikan. Pada umumnya kegiatan guru  hanya mentrasfer pengetahuan atau pengalamannya dengan sedikit memberi kesempatan siswa untuk berdiskusi dan diakhiri dengan pemberian tugas atau latihan tanpa menggunakan media dan sumber belajar yang memadai. 

         

Setelah ditelusuri melalui  pengamatan atau dialog peneliti dengan beberapa guru , faktor penyebabnya adalah  kebanyakan  guru-guru  kurang menguasai pembelajaran CTL dan ketrampilan penggunaan media serta sumber belajar yang ada sehingga pembelajaran yang mereka laksanakan masih didominasi dengan cara mentrasfer dari pada menciptakan pembelajaran yang memberi kesempatan siswa untuk mengkonstruksi pengetahuannya.

 

Bettencourt,1989 dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (2006) menyatakan  “Konsep keilmuan tidak dapat ditransfer oleh guru kepada siswa melainkan siswa itu sendiri yang mengkonstruksinya dari data yang diperoleh melalui pancaindranya”.

               

Berdasarkan uraian di atas, tampak bahwa model dan  strategi pembelajaran yang tepat akan berdampak positif bagi siswa. Namun kenyataan yang ada  pada semester 2 thn 2010/2011 menunjukkan hal yang terbalik. Dari hasil supervisi menunjukkan bahwa 90 % guru   masih banyak yang belum menggunakan strategi pembelajaran yang tepat sesuai dengan karaketristik siswa dan situasi kelas. Bila ditelusuri lebih lanjut, faktor yang meyebabkan guru belum mampu melaksanakan strategi pembelajaran dengan tepat karena kinerja menyusun desain model  pembelajaran CTL belum optimal, bahkan ada yang tidak membuat. Penerapan model CTL pembelajaran sangat penting, karena perencanaan yang baik berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.  Oleh karena itu diperlukan adanya perubahan paradigma dalam melaksanakan pembelajaran yang semula guru berpikir bagaimana mengajar menjadi berpikir bagaimana siswa belajar.

 

Untuk mengatasi hal tersebut di atas, maka peneliti berkeinginan membantu guru di Kabupaten Dompu untuk meningkatkan kemampuan mereka  menyusun  model-model dan ketrampilan menggunakan media Pembelajaran Melalui kegiatan Pelatihan model ”Kelasmen”

 

Berdasarkan latar belakang masalah yang dipaparkan di atas maka dapat di rumuskan  permasalahan dalam penelelitian ini yaitu  :

1.          Bagaimanakah meningkatkan kemampuan guru dalam mendesain  model-model pembelajaran CTL melalui pelatihan model ”Kelasmen”?

2.          Apakah setelah mengikuti Pelatihan model ”Kelasmen” dapat meningkatkan kinerja guru dalam menggunakan model pembelajaran CTL ?

 

Berbagai upaya pemecahan masalah yang telah dilakukan untuk meningkatkan kinerja guru dalam mendesain model  pembelajaran CTL, antara lain memperdalam pengetahuan bidang studi yang harus dikuasi guru, memperdalam pengetahuan tentang model dan strategi pembelajaran dan syarat-syarat pembuatan model pembelajaran CTL dan lain sebagainya. Namun fokus perbaikan yang dilakukan untuk pemecahan masalah dalam penelitian ini adalah meningkatkan kinerja guru dalam mendesain dan mengunakan  model pembelajaran melalui kegiatan Pelatihan Model Klasemen dengan langkah –langkah sebagai berikut :

1.   Melalui pelatihan model klasemen  ini  diberikan pembekalan dan bimbingan teknis pembuatan desain model pembelajaran CTL .

2.    Pada proses perkembangan kinerja menyusun dan mendesain model pembelajaran CTL, dilakukan perbaikan-perbaikan terhadap draf-draf awal suatu model  pembelajaran.

3.   Mendiskusikan hasil evaluasi kegiatan pembelajaran dan memberikan refleksi terhadap semua kegiatan yang sudah dilakukan

4.   Dengan adanya refleksi atau umpan balik dari fasilitator dan guru-guru sejenis diharapkan ada motivasi sehingga kinerja guru dalam menyusun desain model pembelajara CTL dapat ditingkatkan.

5.   Merevisi perencanaan siklus berikutnya berdasarkan hasil yang diperoleh pada siklus sebelumnya.

 

Dari latar belakang masalah, rumusan masalah, dan pemecahan masalah yang telah dipaparkan di atas maka hipoetesis tindakan dapat dirumuskan sebagai berikut.   

”Kemampuan guru menggunakan model pembelajaran CTL dapat di tingkatkan melalui pelatihan model ”Klasemen”, dengan demikian dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa.”.

         

Sesuai dengan permasalahan di atas, maka tujuan penelitian ini ingin mengetahui dan mendiskripsikan :

1.        Peningkatkan kemampuan guru dalam mendesaian model-model pembelajaran CTL melalui pelatihan model ”Kelasmen di SMA binaan Kabupaten Dompu

2.        Peningkatan kemampuan guru dalam menggunakan model pembelajaran CTL melalui pelatihan model ”Kelasmen di SMA binaan Kabupaten Dompu

3.        Respon guru setelah diterapkannya kegiatan Pelatihan Model Klasemen dalam kaitanya dengan kemapuan dalam menggunakan model  pembelajaran CTL.

 

Sejalan dengan tujuan penelitian yang dilakukan maka  Manfaat Penelitian ini yaitu :

1.    Melalui workshop kegiatan Pelatihan Model Klasemen dapat memberikan pengalaman belajar bagi guru, untuk menemukan model pembelajaran sesuai dengan karaketristik siswa dan situasi kelas yang ada.

2.    Guru, memiliki kemampuan dalam mendesai model-model pembelajaran CTL sehingga dapat dijadikan alternatif bagi guru  sehingga tercipta suasana belajar yang kondusif dalam upaya peningkatan prestasi belajar siswa.

3.    Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai alternatif untuk meningkatkan kemampuan guru menggunakan model-model pembelajaran CTL serta didukung oleh keterampilan menggunakan media pembelajaran yang sesuai

 

Kerangka Berpikir

 

Dalam kaitannya dengan pembinaan kemapuan guru melalui pelatihan   model Klasemen , maka Amstrong (1990: 209) bahwa tujuan pelatihan  atau workshop adalah untuk memperoleh tingkat kinerja yang diperlukan dalam pekerjaan mereka dengan cepat dan ekonomis dan mengembangkan kinerja-kinerja yang ada sehingga prestasi mereka pada tugas yang sekarang ditingkatkan dan mereka dipersiapkan untuk menerima tanggung jawab yang lebih besar di masa yang akan datang. Siswanto (1989: 139) mengatakan pelatihan  atau workshop bertujuan untuk memperoleh nilai tambah seseorang yang bersangkutan, terutama yang berhubungan dengan meningkatnya dan berkembangnya pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang bersangkutan. pelatihan atau Workshop dimaksudkan untuk mempertinggi kinerja dengan mengembangkan cara-cara berpikir dan bertindak yang tepat serta pengetahuan tentang tugas pekerjaan termasuk tugas dalam melaksanakan evaluasi diri (As’ad, 1987: 64).

 

Dari paparan di atas, menunjukkan bahwa peningkatan kemapuan guru dalam mendesain serta menggunakanmodel  pembelajaran CTL melalui kegiatan pelatihan model kelasemen yang lebih menekankan pada metode kolaboratif konsultatif akan memberikan  kesempatan sharing antara satu guru dengan guru lain. Dengan demikian, pemahaman terhadap model atau strategi pembelajaran CTL dapat ditingkatkan baik dalam teoretisnya maupun implementasinya. Dengan demikian dapat diduga bahwa melalui workshop Pelatihan model kelasemen dapat meningkatkan kemapuan guru mendesain dan  menggunkana model  pembelajaran CTL.

 

II.METODE PENELITIAN

 

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research) yang bertujuan untuk meningkatkan kemapuan guru menggunakan model  pembelajaran CTL melalui diklat model klasmen di sekolah  binaan penulis di Kabupaten Dompu. Tindakan yang  dilakukan adalah workshop diklat model klasmen penyusunan model pembelajaran CTL. Jenis penelitian tindakan yang dipilih adalah jenis emansipatori. Jenis emansipatori ini dianggap paling tepat karena penelitian ini dilakukan untuk mengatasi permasalahan pada wilayah kerja peneliti sendiri berdasarkan pengalaman sehari-hari. Dengan kata lain, berdasarkan hasil observasi, refleksi diri, guru bersedia melakukan perubahan sehingga kinerjanya sebagai pendidik akan mengalami perubahan secara meningkat.

 

Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan model Kemmis dan Taggart yang terdiri dari atas empat langkah, yakni: perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi (Wardhani, 2007: 45 dan Suharsimi Arikunto, 2006:93) . Model ini dipilih karena dalam pembelajaran selalu  diawali dengan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Dalam Penelitian ini akan dilaksanakan dalam dua siklus, dan  langkah-langkah dalam setiap siklus meliputi  perencanaan, pelaksnaan tindakan, observasi, dan refleksi.

 

Penelitian ini dilaksanakan pada semester gazal tahun 2011/2012 selama empat bulan mulai dari bulan agustus sampai bulan desember  mulai dari persipan penyusunan  proposal sampai dengan pembuatan laporanyang  disesuaikan dengan jadwal KTI-Online P4TK TK dan PLB Bandung Tahun 2011 , dengan subjek penelitian  guru-guru yang hadir sebanyak 76 orang, yang terbagi atas  dua wilayah . Wilayah A ( guru-guru SMP dan SMA Kecamatan Dompu,Woja dan Pajo yang berjumlah 42 orang. Wilayah B ( Guru-guru SMP, SMAN dan SMK di Kec. Kempo dan Manggelewa Manggelewa yang berjumlah 34 orang,  Sedangkan yang menjadi objek penelitian adalah kemapuan guru dalam mendesain , menggunakanmodel pembelajaran CTL.Di samping itu, dari hasil supervisi ditemukan kelemahan guru dalam mendesain dan menggunakanmodel pembelajaran dalam peroses pembelajaran di kelas.

 

Tahap-tahap yang dilakukan dalam penelitian ini adalah:

(1)  Tahap refleksi awal, (2)  Tahap perencanaan, (3)  Tahap pelaksanaan   tindakan, (4)  Tahap observasi dan  (5)  Tahap refleksi. 

 

Uraian masing-masing tahap dalam penelitian ini  adalah sebagai berikut:

 

(1).Refleksi Awal : Pada tahap refleksi awal kegiatan yang dilakukan peneliti adalah dialog dengan kepala   sekolah dan guru tentang kemampuan mereka menggunakan  model pembelajaran CTL dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.

 

(2).Tahap Perencanaan : Pada tahap perencanaan, beberapa kegiatan yang dilakukan adalah adalah menyusun struktur program pelatihan, menyiapkan bahan-bahan pelatihan, menyiapkan alat/media pembelajaran yang dibutuhkan dalam pelatihan, menyusun instrumen pengamatan peserta dan fasilitator, menyusun jadwal kegiatan pelatihan, menyampakan informasi tertulis kepada guru agar membawa  bahan-bahan seperti; kurikulum, silabus, RPP bahan ajar, Laptop dan sebagainya.. Penelitian ini  terlaksana sebanyak dua siklus, yaitu siklus kesatu melaksanakan tindakan pelatihan dengan menggunakan metode pembelajaran deduktif. Siklus kedua melaksanakan tindakan pelatihan dengan menggunakan metode pembelajaran induktif

 

(3).Tahap Pelaksanaan Tindakan : Pelaksanaan tindakan yang dimaksudkan adalah melaksanakan pelatihan sesuai rencana dengan skenario sebagai berikut :

Tahap Pertama :menerapkan pelatihan model “Kelasmen” dengan menggunakan metode deduktif yaitu peserta diberikan pemahaman penggunaan  model pembelajaran secara teoritis (enactive, iconic) kemudian peserta mendiskusikan dan menggunakannya dalam pembelajaran dikelompok masing-masing

Tahap Kedua : Menerapkan Pelatihan model “Kelasmen” dengan menggunakan metode induktif yaitu peserta diminta menggunakan model pembelajaran dan menjelaskan cara menggunakannya pada peserta lain.( Pada dasarnya tahapan kedua  memiliki prosedur yang sama dengan tahapan pertama , hanya saja diadakan perbaikan pada hal-hal yang dilihat ada kelemahan serta mempertahankan hal-hal yang sudah berjalan dengan baik. Tidak menutup kemungkinan juga dilakukan modifikasi terhadap hal-hal sudah baik supaya tindakan yang diberikan tidak membosankan).

    

(4).  Observasi : Kegiatan observasi adalah mengamati aktivitas peserta diklat dengan menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan dan dilakukan oleh teman sejawat

   

Aspek yang diobservasi terhadap pelaksanaan dan hasil pemberian tindakan, sebagai berikut.

a)  Aspek yang di Observasi pada Proses Pelaksanaan Workshop yaitu kesiapan mental dan fisik guru, kesiapan bahan , kehadiran peserta dan kesiapan Laptop dengan kriteri (S = siap, TS= tidak siap , H= hadir, dan  TH= tidak hadir).

b).Aspek yang di observasi pada mendesain  Model  Pembelajaran yaitu :kesesuaian dengan format, relefansi antara waktu dengan bahan ajar, pebukaan,  inti , penutup, alat/ bahan/suber belajar , penilaian, dan kesan umum desain model pembelajaran CTL yang dibuat .

 

(5). Refleksi : Pada kegiatan refleksi, peneliti melakukan diskusi dengan pengamat untuk menjaring hal-hal yang terjadi sebelum dan selama tindakan berlangsung berdasarkan hasil pengamatan, catatan lapangan, dan hasil wawancara dengan  subyek  penelitian agar dapat diambil kesimpulan dalam merencanakan tindakan selanjutnya.

 

Sumber data dalam penelitian ini adalah guru  yang mengajar di kelas X ,XI dan XII . Sedangkan data penelitian adalah  data kualitatif  yang diperoleh dari :

1.    Pengamatan Partisipatif: Pengamatan partisipatif dilakukan oleh orang yang terlibat secara aktif dalam proses pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar pengamatan. Hasil pengamatan digunakan untuk menilai keaktifan peserta dalam mengikuti diklat dan kontribusinya dalam membantu teman sejawat menyelesaikan masalah

2.    Keterampilan mendesain model pembelajaran CTL: Untuk menilai kemampuan peserta mendesain model pembelajaran dan  menggunakan lingkungan sekitar sesuai mata diklat

3.  Keterampilan menggunakan model  pembelajaran CTL: Untuk  menilai keterampilan peserta diklat dalam mengimplementasikan model pembelajaran CTL

4.      Wawancara: Wawancara dimaksudkan untuk menggali kesulitan peserta dalam mendesain dan mnggunakan model  pembelajaran CTL

 

Moleong (1999 :190) menyatakan bahwa proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber yaitu dari wawancara, pengamatan yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar, foto dan sebagainya.

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis data kualitatif yaitu analisis berdasarkan penalaran logika. Analisis tersebut digunakan atas pertimbangan bahwa, jenis data yang diperoleh berbentuk kalimat-kalimat dan aktivitas-aktivitas peserta diklat. Sedangkan Analisis Kuantitatif  digunakan untuk menghitung besarnya peningkatan kemampuann guru melalui pelatihan  model Klasemen  dengan menggunakan  prosentase ( % ).

 

 Indikator KeberhasilanProses Pelaksanaan pelatihan model kelasemen , guru minimal:Siap secara mental dan fisik =  85%, Kesiapan bahan = 85%, Kehadiran   = 90%, Kesiapan laptop = 60 %. Sedangan indikator keberhasilan Hasil Pelaksanaan Pelatihan:85% guru mendesainmodel  pembelajaran CTL sesuai dengan format yang relevan dengan kondisi pembelajaran., 85% guru memperoleh skor baik dan sangat baik pada aspek relevansi antara waktu dengan bahan ajar, 85 % guru pada aspek pembukaan  dalam kategori baik dan sangat baik, 85 % guru pada aspek kegiatan inti dalam kateori baik dan sangat baik., 85 % guru pada aspek kegiatan penutup (kesimpulan, pos-test dan waktu) dalam kategori baik dan sangat baik. Apabila kurang dari 85% guru tidak mememenuhi indikator keberhasilan yang telah ditetapkan, berarti tindakan dianggap belum berhasil. Oleh karena itu perlu dilakukan perbaikan dan dilaksanakan pada siklus berikut,.

 

Secara umum Pelaksanaan Pelatihan dapat di jelaskan sebagai berikut :

Fase 1 : Orientasi peserta kepada masalah : Agar kegiatan peserta berorientasi kepada masalah, maka perencanaan pelatihan yang dirancang dan dimulai dari kegiatan penetapan tujuan yang jelas, kemudian merancang situasi masalah yang akan diselesaikan peserta, dan mengorganisasikan sumber daya serta rencana logistik yang digunakan.

a.   Penetapan tujuan: Dalam pelaksanaannya, pelatihan model ”Kelasmen” diarahkan untuk   mencapai tujuan yang sifatnya membantu peserta mengembangkan ketrampilan berpikir dan pemecahan masalah, dan menjadi peserta yang mandiri

b.   Merancang situasi  :Pelatihan model ”Kelasmen” dirancang untuk memberi keleluasaan kepada peserta memilih masalah untuk diselidiki dan dicoba, karena cara ini dapat meningkatkan motivasi peserta. Masalah yang dirancang sebaiknya authentik, mengandung teka-teki, memungkinkan kerjasama, 

c.   Organisasi sumber daya dan rencana logistik :Dalam pelatihan

model “Kelasmen” peserta belajar dengan berbagai sarana, material, atau peralatan. Pelaksanaannya dapat dilakukan di kelas, di laboratorium, di perpustakaan  atau di luar kelas bahkan di luar tempat pelatihan. Oleh karena itu pengorganisasian sumber daya dan logistik menjadi tugas fasilitator yang utama dalam merancang pelatihan model “Kelasmen”

 

Fase 2 : Mengorganisasikan peserta untuk belajar :Pelatihan model ”Kelasmen” dibutuhkan pengembangan ketrampilan kerjasama dalam melakukan sesuatu untuk memecahkan masalah. Untuk itu perlu bantuan fasilitator dalam merencanakan dan mengorganisasikan tugas-tugas peserta, sehingga diperlukan kelompok belajar kooperatif. Pengorganisasian peserta dalam kelompok ini memperhatikan kemampuan/keterampilan akademik peserta,

 

Fase 3 : Membimbing peserta   secara individu maupun kelompok

Pada fase ini fasilitator  membantu peserta mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, dilatih dengan berbagai pertanyaan untuk membantu peserta memikirkan suatu tindakan untuk memecahkan masalah. Disamping itu fasilitator  mendorong peserta untuk melakukan sesuatu dengan menggunakan material manipulatif, gambar-gambar atau simbol-simbol untuk memecahkan masalah

 

Fase 4 :  Menjelaskan atau mengkomunikasikan hasil  

Fasilitator  mendorong terjadinya pertukaran informasi atau ide secara bebas dalam melatih peserta mengkomunikasikan konsep yang dimiliki sehingga terciptanya kemampuan peserta menjelaskan konsep menggunakan model pembelajaran CTL dengan media/sumber pada peserta lain.

 

Fase 5 : Mengembangkan masalah dalam bentuk-bentuk lain

Fasilitator mendorong dan membimbing peserta mengembangkan masalah dengan cara menyajikan dalam bentuk lain.

 

Fase 6 : Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalahTugas fasilitator pada fase akhir ini adalah membantu peserta menganalisis dan mengevaluasi proses berpikir mereka sendiri, dan ketrampilan penyelidikan yang mereka gunakan.

 

 

III.  HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

A. Deskripsi Kondisi Awal

 

Gambaran hasil yang didapat berdasarkan rekaman fakta/observasi di lapangan, para guru  .pada awalnya pemahaman terhadap model pembelajaran CTL beserta strategi pelaksanaannya sangat kurang, hal ini dikarenakan persepsi guru menganggap bahwa model dan strategi pembelajaran tidak terlalu penting, penyusuanan model strategi pembelajaran hanya merupakan persyaratan administrasi sehingga model pembelajaran CTL yang dibuat tidak sesuai dengan karakatristik mata pelajaran dan siswa.

 

Demikian pula tampak jelas, kinerja guru dalam mendesainmodel dan  strategi pembelajaran CTL hanya didasari oleh contoh-contoh yang ada tanpa menganalisis secara kritis berdasarkan standar yang ada sehingga kualitas model  pembelajaran CTL jauh dari apa yang diharapkan. Hampir semua guru ditemukan kurang paham semua aspek yang ada dalam mendesaian  model pembelajaranCTL. Kesalahan umum yang tampak adalah: (1) guru belum mampu menyusun tujuan pembelajaran, (2) guru belum mampu menguraikan materi ajar dengan baik, (3) guru belum mampu membuat langkah-langkah pembelajaran sesuai metode pembelajaran yang dituliskan, (4) guru belum mampu membuat penilaian sesuai dengan metode yang digunakan, dan (5) guru belum mampu memanejemen waktu baik dalam kegiatan awal, inti dan penutup.

 

Dengan kondisi awal seperti kesan umum masih jauh dari standar yang di harapkan. Sehingga ini perlu adanya tindakan nyata yang diharapkan mampu meningkatkan kinerja guru dalam mendesainmodel strategi pembelajaranCTL, yakni berupa pelatihan  model “Klasemen” .

 

B. Deskripsi Hasil Tindakan Siklus I

 

  Pada tahap ini  melaksanakan pelatihan model “klasemen” dengan menggunakan metode deduktif  sesuai rencana dan  skenario yang telah di siapkan .Pengamatan terhadap pelaksanaan tindakan, yaitu menitikberatkan pada kompetensi guru dalam menyusun scenario model pembelajaran CTL sebagai akibat diterapkan diklat workshop model ‘Klasemen’. Tujuan dilaksanakan pengamatan adalah untuk mengetahuikegiatan yang mana patut dipertahankan, diperbaiki, atau dihilangkan sehingga kegitan pembinaan melalui pelatihan model Klasemen benar-benar berjalan sesuai dengan tujuan  dan mampu meningkatkan kinerja guru dalam  mendesain model  pembelajaran CTL.

 

Kegiatan peserta juga diobservasi, baik menyangkut kesiapan mental dan fisik guru, kesiapan bahan-bahan yang dibawa guru pada waktu diklat workshop, kehadiran guru, kesiapan laptop, kualitas scenario model strategi pembelajaran, dan respon guru .

Dari hasil pengamatan terhadap aktivitas peserta  dengan menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan, diperoleh data sebagai berikut.

 

Tabel 1. Hasil Observasi Kesiapan Guru Siklus I

 

Aspek yang Diamati

Kesiapan mental dan fisik guru

Kesiapan bahan

Kehadiran Guru

Kesiapan Laptop

 

S

TS

S

TS

H

TH

S

TS

Jumlah

67

16

49

27

76

7

11

65

Persentase (%)

78.95

19.28

64.47

35.53

91.57

9.21

14.47

85.53

Pencapaian indiaktor keberhasilan

Belum tercapai

Belum tercapai

Sudah

 Tercapai

Belum

Tercapai

 

Keterangan:      S = siap, TS= tidak siap, H= hadir, TH= tidak hadir

Dari Tabel 1. di atas, diperoleh data pada aspek kesiapan mental dan fisik; 67 orang atau 78,95% peserta siap dan 16 orang atau 19,28% tidak  siap.  Pada aspek kesipan bahan; tampak bahwa 49 orang guru atau 64,47% siap dan27 orang guru atau 35,53% belum siap. Pada aspek kehadiran guru tampak bahwa dari 83 orang guru yang direncanakan untuk pembinaan ,ternyata yanh hadir  76 orang atau 91,57%  dan 7 orang guru atau 9,21%  tidak hadir. Pada aspek kesiapan laptop tampak bahwa 11 orang atau 14,47% siap dan 65 orang guru  atau 85,53% belum siap. Berdasarkan dekripsi ini tampaknya kesiapan guru dalam mengikuti worksop belum memenuhi kriteria keberhasilan untuk semua aspek.

Dari hasil evaluasi terhadap desain model   pembelajaran CTL yang dibuat oleh   guru untuk Wilayah A dan B setelah diadakan pelatihan  model “Klasemen” pada tahap awal (siklus I) diperoleh kinerja guru mendesain model  pembelajaran CTL seperti tampak pada Tabel 2. berikut.

 

Tabel  2. Kinerja Guru MendesainModel  pembelajaran CTL Siklus I

Aspek yang Dinilai

Skor

1

2

3

4

Jml

%

Jml

%

Jml

%

Jml

%

Format

13

17.11

13

17.11

31

40.79

19

25.00

Relevansi

5

6.58

18

23.68

42

55.26

11

14.47

Pembukaan

7

9.21

15

19.74

35

46.05

21

27.63

Inti

6

7.89

14

18.42

40

52.63

16

21.05

Penutup

3

3.95

10

13.16

33

43.42

30

39.47

Alat/Bahan/Sumber

6

7.89

17

22.37

41

53.95

12

15.79

Penilaian

5

6.58

39

51.32

32

42.11

0

0.00

Kesan  Umum

13

17.11

13

17.11

50

65.79

0

0.00

Keterangan:4 = sangat baik         2 = cukup , 3 = baik, 1 = tidak baik

Pada Tabel 2. di atas, terlihat bahwa pada aspek format; 13 orang guru atau 17,11 % guru dalam kategori tidak baik, 13 orang guru atau 17,11% tergolong cukup, 31 orang atau 40,79% tergolong baik dan 19 orang guru atau 25,00% tergolong sangat baik.  Bila dijumlahkan antara yang berkategori baik dan sangat baik mencapai 50 orang guru atau 65,79%.  Pada aspek relevansi antara waktu dengan bahan ajar, tampak bahwa 5 orang guru atau 6,58% tergolong tidak baik, 18 orang guru atau 23,68% tergolong cukup, 42 orang atau 55,26% tergolong baik dan 11 orang atau 14,47% tergolong sangat baik. Bila dijumlahkan antara yang baik dan sangat baik mencapai 53 orang atau 69,74%. Pada aspek pembukaan; 7 orang guru atau 9,21% guru dalam kategori tidak baik, 15 orang guru atau 19,74% tergolong cukup, 35 orang atau 46,05% tergolong baik dan 21 orang atau 27,63% tergolong sangat baik. Bila dijumlahkan antara yang berkategori baik dan sangat baik mencapai 55 orang atau 72,37%. Pada aspek inti pembelajaran; 6 orang atau 7,89% guru dalam kategori tidak baik, 14 orang atau 18.42% tergolong cukup, 40 orang atau 52.63% tergolong baik dan 16 orang atau 21.05% tergolong sangat baik. Bila dijumlahkan antara yang berkategori baik dan sangat baik mencapai 56 orang atau 73,68%. Pada aspek penutup pembelajaran; 1 orang atau 3.95% guru dalam kategori tidak baik, 10 orang atau 13.16% tergolong cukup, 33 orang atau 43.42% tergolong baik dan 30 orang atau 39.47%  tergolong sangat baik. Bila dijumlahkan antara yang berkategori baik dan sangat baik mencapai 43 orang atau 56,58%. Berdasarkan dekripsi pada tabel 1 dan 2 tampaknya kinerja guru mendesain dan menerapkan  model  pembelajaran CTL para guru belum memenuhi indikator kinerja yang telah ditetapkan pada semua aspek, baik menyangkut kesiapan maupun kinerja guru mendesai  model  pembelajaran CTL.

 

Dari hasil yang diperoleh menunjukkan kinerja guru dalam mendesain model pembelajaran CTL pada siklus I belum menunjukkan hasil sesuai dengan indikator kinerja yang telah ditetapkan. Setelah diadakan refleksi terhadap hasil yang diperoleh, diputuskan untuk memperbaiki  terutama memperjelas tentang aspek-aspek yang belum sesuai dengan indikator kinerja yang telah ditetapkan. Dari hasil tersebut tampaknya secara umum guru membuat desain model  pembelajaran tidak sesuai dengan format terutama dalam hal waktu. Demikian pula halnya dengan kegiatan awal, belum menunjukkan proporsi waktu yang sesuai, guru belum jelas membedakan mana kegiatan awal, inti dan penutup.

 

Terkait dengan kesiapan guru, ditemukan bahwa guru belum menyadari bahwa pentingnya  desain model strategi pembelajaran CTL. Selain itu guru belum lengkap memiliki silabus, RPP, dan bahan ajar. Terkait dengan kesiapan laptop, guru kebanyakan tidak memiliki; alternatif solusinya adalah meminjamkan pada sekolah lain atau memanfaatkan komuter yang ada di sekolah. Berdasarkan hasil refleksi itu, itu diputuskan untuk memantapkan kegiatan pembinaan lebih memfokuskan pada aspek-aspek yang belum memenuhi indikator kinerja yang telah ditetapkan.

 

Dari masalah tersebut, diputuskan untuk memperbaiki beberapa langkah dalam siklus I, yakni memfokuskan pada penjelasan tentang format dan aspek penilaian dalam kaitannya dengan mendesain  model  pembelajaran. Langkah-langkah ini dijalankan pada siklus II dengan tetap mempertahankan kegiatan yang lain yang sudah dianggap baik. Untuk meningkatkan kesiapan guru, fasilitator memberikan kesadaran bahwa betapa penting perencanaan pembelajaran yang dibuat guru sebelum melaksanakan pembelajaran. Yang berbasis CTL

 

C.       Deskripsi Hasil Tindakan Siklus II

 

Pada siklus II, menerapkan Pelatihan model “Kelasmen” dengan menggunakan metode induktif. Sesuai dengan refleksi hasil siklus I , langkah-langkah yang diambilpada dasarnya memiliki prosedur yang sama dengan siklus I, hanya saja diadakan perbaikan pada hal-hal yang dilihat ada kelemahan serta mempertahankan hal-hal yang sudah berjalan dengan baik. dengan memfokuskan pada penjelasan aspek-aspek yang belum dipahami guru lebih menitikberatkan pada aspek pembimbingan secara individu dalam suatu kelompok. Kemudian peserta diminta menggunakan model pembelajaran dan melakukan presentasi visual untuk  menjelaskan cara menggunakannya pada peserta lain dan kelompk lain meberikan tanggapan , masukan . Peneliti sebagai fasilitatot memberikan refleksi dan penguatanjuga melakukan modifikasi terhadap hal-hal sudah baik supaya tindakan yang diberikan tidak membosankan.

Setelah siklus II dijalankan yang mengacu pada refleksi dan pemecahan masalah pada sikuls I diperoleh data  seperti tampak pada Tabel 4.3 berikut.

 

Tabel 3. Hasil Observasi Kesiapan Guru Siklus II

 

Aspek yang Diamati

Kesiapan mental dan fisik guru

Kesiapan bahan

Kehadiran Guru

Kesiapan Laptop

 

S

TS

S

TS

H

TH

S

TS

Jumlah

76

0

73

3

76

0

60

16

Persentase (%)

100

0.00

96.05

3.95

100

0

78.95

21.05

Pencapaian indiaktor keberhasilan

Tercapai

Tercapai

Tercapai

Tercapai

 

Keterangan:S = siap,  TS= tidak siap,  H= hadir, TH= tidak hadir

 

Dari Tabel 3 di atas, tampak bahwa: pada aspek kesiapan mental dan fisik; seluruh peserta 76 orang guru yang hadir atau 100% peserta siap. Pada aspek kesiapan bahan; tampak bahwa 73 orang guru atau 96,05% siap dan 3 orang atau 3,95% belum siap. Pada aspek kehadiran guru tampak bahwa 76  orang guru yang hadir pada siklus I masih sama pada siklus II atau 100% hadir atau 0,00% tidak hadir. Pada aspek kesiapan laptop tampak bahwa terjadi peningkatan yang signifikan yaitu 60 orang guru atau 78,95% siap dan 16 orang guru atau 21,05% tidak siap.Berdasarkan dekripsi ini tampaknya kesiapan guru dalam mengikuti pelatihan model Klasemen  telah memenuhi kriteria keberhasilan untuk semua aspek. Namun belum sepenuhnya tercapai seratus persen.

 

Dari hasil evaluasi terhadap penyusunan desain model strategi pembelajaranCTL  yang dibuat oleh  guru setelah diadakan tindakan melalui peltihanmodel Klasemen pada siklus II diperoleh kinerja guru mendesaindaan menerapkan model  pembelajaranCTL  seperti tampak pada Tabel 4. berikut.

 

Tabel 4.Kinerja Guru MenerapkanModel  pembelajaran CTL

Siklus II

Aspek yang Dinilai

Skor

1

2

3

4

Jml

%

Jml

%

Jml

%

Jml

%

Format

0

0.00

3

3.9

30

39.5

43

56.6

Relevansi

0

0.00

5

6.58

37

48.68

34

44.74

Pembukaan

1

1.32

6

7.89

40

52.63

29

38.16%

Inti

0

0.00

2

2.63

37

48.68

37

48.68

Penutup

0

0.00

2

2.63

35

46.05

39

51.32

Alat/Bahan

0

0.00

7

9.21

35

46.05

34

44.74

Penilaian

0

0.00

9

11.84

36

47.37

31

40.79

Kesan Umum

0

0.00

2

2.63

20

26.32

54

71.05

Ket:  4 = sangat baik         2 = cukup, 3 = baik   1 = tidak baik

Dari Tabel 4. di atas, pada aspek format; tidak ada guru atau 0,00% guru dalam kategori tidak baik, 3 orang guru atau 3,9% tergolong cukup, 30 orang atau 39,5% tergolong baik dan 43 orang guru atau 56.6% tergolong sangat baik. Bila dijumlahkan antara yang berkategori baik dan sangat baik mencapai 73 orang guru  atau 96,05%. Pada aspek relevansi antara waktu dengan bahan ajar, tampak bahwa 0 orang atau 0,00% tergolong tidak baik, 5 orang atau 6.58% tergolong cukup, 37 orang atau 48,68% tergolong baik dan 34 orang atau 44,74% tergolong sangat baik. Bila dijumlahkan antara yang baik dan sangat baik mencapai 71 orang atau 93,42%. Pada aspek pembukaan; 1 orang atau 1,32% guru dalam kategori tidak baik, 6 orang atau 7,89% tergolong cukup, 40 orang atau 52,63% tergolong baik dan 29 orang atau 38,16% tergolong sangat baik. Bila dijumlahkan antara yang berkategori baik dan sangat baik mencapai 69 orang atau 90,79%. Pada aspek inti pembelajaran; tidak ada atau 0,00% guru dalam kategori tidak baik, 2 orang atau 2,63% tergolong cukup, 37 orang atau 48,68% tergolong baik dan 37 orang atau 48,68% tergolong sangat baik. Bila dijumlahkan antara yang berkategori baik dan sangat baik mencapai 74 orang atau 97,37%. Pada aspek penutup pembelajaran; tidak ada orang atau 0,00% guru dalam kategori tidak baik, 2 orang atau 2,63% tergolong cukup, 35 orang atau 46,05% tergolong baik dan 39 orang atau 51,32% tergolong sangat baik. Bila dijumlahkan antara yang berkategori baik dan sangat baik mencapai 74 orang atau 97,37%. Demikian pula pada aspek Alat/Bahan/Sumber belajar , Penilaian dan kesan umum menunjukkan peningakatan yang sangat signifikan jauh di atas standar yang telah di tetapkan.

 

Berdasarkan dekripsi pada tabel 3. dan 4. tampaknya kinerja guru mendesain model pembelajaran para guru sudah memenuhi indikator kinerja yang telah ditetapkan pada semua aspek, baik menyangkut kesiapan maupun kinerja menyusun desain model strategi pembelajaran CTL . Dengan hasil seperti itu, berarti tindakan yang diberikan efektif dalam meningkatkan kinerja guru dalam menyusun desain model  pembelajaran CTL.

 

Penilaian Respon Guru terhadap desain model  Pembelajaran melalui pelatihan  ini penting dilakukan untuk memperoleh gambaran tentang respon guru terhadap kegiatan pelatihan yang telah diterapkan . Ternyata hasil observasi menunjukan bahwa guru merespon positif terhadap kegiatan tersebut, maka kegiatan tersebut perlu dilanjutkan dalam kegiatan-kegiatan yang lain.

  

D.                                       Pembahasan Hasil Penelitian

Berdasarkan analisis dan pembahasan seperti yang telah dipaparkan pada bagian sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan aktivitas peserta dalam kegiatan   penyususnan desain model  pembelajaran CTL bagi guru  di Kabupaten Dompu melalui pelatihan model ”klasemen”. Di samping itu juga, terjadi peningkatan kinerja guru dalam menyusun desain model  pembelajaran CTL melalui  pelatihan model Klasemen  dari siklus I ke siklus II pada masing-masing aspek dengan target ketercapaian sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa melalui  pelatihan model Klasemen dapat meningkatkan kinerja guru dalam mendesai model  pembelajaran guru di di kabupaten Dompu .

 

Keberhasilan tindakan ini disebabkan oleh pemahaman secara menyeluruh tentang model  pembelajaran CTL sangat diperlukan. Dengan pemahaman yang baik, maka model pembelajaran CTL dapat disusun dengan baik. Mengoptimalkan pemahaman guru terhadap model pembelajaran CTL melalui pembinaan intensif dalam bentuk penyelenggaraan  pelatihan model Klasemen  menunjuk pada metode kooperatif konsultatif dimana diharapkan para guru berdiskusi, bekerja sama dan berkonsultasi secara aktif, serta presentasi visual . Aktivitas ini akan sangat membantu mereka dalam memahami konsep-konsep dasar penyusunan model pembelajaran CTL serta pada akhirnya nanti mereka mampu menyusun model dan strategi pembelajaran CTL dengan baik dan benar.

 

Dalam kaitannya dengan pembinaan melalui pelataiahan model Klasemen , maka penelitian ini juga sesuai dengan apa yang dikatakan Amstrong (1990: 209) bahwa tujuan  pelatihan  adalah untuk memperoleh tingkat kinerja yang diperlukan dalam pekerjaan mereka dengan cepat dan ekonomis dan mengembangkan kinerja-kinerja yang ada sehingga prestasi mereka pada tugas yang sekarang ditingkatkan dan mereka dipersiapkan untuk menerima tanggung jawab yang lebih besar di masa yang akan datang. Siswanto (1989: 139) mengatakan  pelatihanbertujuan untuk memperoleh nilai tambah seseorang yang bersangkutan, terutama yang berhubungan dengan meningkatnya dan berkembangnya pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang bersangkutan. Pelatihan dimaksudkan untuk mempertinggi kinerja dengan mengembangkan cara-cara berpikir dan bertindak yang tepat serta pengetahuan tentang tugas pekerjaan termasuk tugas dalam melaksanakan evaluasi diri (As’ad, 1987: 64).

 

Dari paparan di atas, menunjukkan bahwa peningkatan kemapuan  guru melalui kegiatan  pelatihan model Klasemen  yang lebih menekankan pada metode kolaboratif konsultatif akan memberikan  kesempatan sharing antara satu guru dengan guru lain. Dengan demikian, pemahaman terhadap model  pembelajaran CTL dapat ditingkatkan baik dalam teoretisnya maupun implementasinya.

 

IV. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

 

A.Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian tindakan         di atas, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:

1.        Pelatihan Model Klasemen dapat  memberikan pengaruh terhadap peningkatan kemampuan  dan  kinerja  guru dalam menyususun,  mendesain dan menggunakan model pembelajaran CTL di Kabupaten Dompu,

2.         Peningkatan  kemampuan  dan kinerja  guru  dalam menyususun,  mendesain dan menggunakan model pembelajaran CTL berdampak  pada peningkatan hasil belajar  siswa     di  Kabupaten Dompu.

3.         Guru memberikan respon sangat positif terhadap kegiatan penyusuan model pembelajaran CTL melalui  pelatihan model Klasemen. Dengan demikian kegiatan pelatihan model klasemen  memberikan dampak positif terhadap kinerja guru dalam menyusun , mendesain model  pembelajaran CTL.

 

A.   Rekomendasi

 

Berdasarkan  hasil  penelitian,  hal-hal    yang    disarankan    adalah sebagai berikut:

1.    Pelataihan Model Klasemen   dapat dilakukan oleh pengawassekolah terhadap guru- guru ,khususnya guru mata pelajaran,

2.      Dalam pembelajaran guru perlu diarahkan         untuk merencanakan RPP model pembelajaran yang berbasis CTL dengan berbagai pendekatan  dan  strategi  yanginovatif,  , serta  menyiapkan  media  dan sumber belajar dengan baik.

3.      Persiapan guru dalam perencanaan model pembelajaran CTL , khususnya   dalam  hal   media dan   sumber   belajar,  perlu difasilitasi oleh sekolah sehingga   media   dan   sumber belajar yang dipersiapkan dapat lebih optimal

4.          Guru sebaiknya menyusun model  pembelajaran CTL berdasarkan kebutuhan siswa dan memperhatikan proporsi waktu yang ada dan tidak hanya mencontoh strategi pembelajaran yang telah ada,

5.      Agar pembinaan melalui workshop model pelatihan Klasemen dapat berjalan secara efektif, maka semua guru harus mampu bekerjasama dengan peserta lain yang bersifat kolaboratif konsultatif,

6.      Peningkatan kinerja guru dalam menyusun dan menggunakan model  pembelajaran CTL akan berjalan dengan efektif bila semua komponen sekolah memfasilitasi kegiatan tersebut secara rutin,

7.       Sebaiknya Dinas Pendidikann senantiasa memfasilitasi dalam semua kegiatan dalam rangka meningkatkan kinerja guru dalam menyusun strategi model pembelajaran berbasil CTL,

8.    Pembinaan penyusunan model  pembelajaran CTL melalui workshop pelatihan model Klasemen , dapat dijadikan salah satu alternatif dalam meningkatkan kompetensi guru pada umunya

 

 

Daftar Pustaka

1.    Beeby, C.E. 1987. Pendidikan di Indonesia. Terjemahan BP3Kdan YIIS, Jakarta.

2.    ……………………………….., Laporan Penelitian Tindaakan Kelas, Sebagai Karya Tulis Ilmiah dalam Kegiatan Pengembangan Profesi Pengawas Sekolah, Bacaan Pendukung, PMPTK, 2008

3.    Djamaan Satori, Aan Komariah; Metodologi Penelitian Kualitatif , Alfabeta Bandung 2009

4.    Pusdiklat. 2003. Prinsip-prinsip Manajemen Penataran. Sawangan: Pusdiklat Pegawai Depdiknas

5.    Kementrian Pendidikan Nasionasl. 2011, Pedoman Kegiatan Pemngembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) Jakarta

6.    Depdiknas. 2007. Pedoman Pengembangan Strategi Pembelajaran Pendidikan Dan Penataran Pendidikan Formal Jakarta.

7.    Suharsimi Arikunto; Penelitian Tindakan Untuk Guru, Kepala Sekolah & Pengawas,Jogyakarta,Aditya Media

 

8.    Tita Lestari,(2008), Metencanakan dan Melaksanakan Penelitian Tindakan Sekolah ” dari Sekolah Binaan kami Untuk Sekolah Binaan Anda” Makalah Disampaikan Pada Kegiatan Pembekalan Pembimbing Penelitian Tindakan Sekolah tanggal 16 s.d 17 Mei 200 di Hotel Peocer, Cisarua Bogir

 

9.    Suhardjono,; Pertanyaan dan jawaban Sekitar Penelitian Tindakan Kelas dan Tindakan Sekolah, Penerhit Cakrawala Indonesia LP3 , Universitas Negeri Malang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU DALAM MENERAPKAN STRATEGI PEMBELAJARAN “THINK-TALK-WRITE” SEBAGAI ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA PADA WILAYAH SMA BINAAN DI KABUPATEN DOMPU MELALUI SUPERVISI KOLABORATIF


                                                           

MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU DALAM MENERAPKAN  STRATEGI PEMBELAJARAN  “THINK-TALK-WRITE” SEBAGAI ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA PADA WILAYAH SMA BINAAN DI KABUPATEN DOMPU

MELALUI SUPERVISI KOLABORATIF

      

Oleh: Drs. Suaidin Usman

(Pengawas SMA/SMK Kabupaten Dompu NTB )

 

 

ABSTRACT

Suaidin, Drs , Improving Teacher Skills Learning Strategies in Implementing “Think – Talk – Write” As an Alternative Mathematical Problem Solving Patronage In The Area School District Dompu Through Collaborative Supervision

 

This study is based on the low learning achievement in mathematics in High School (SMA Negeri 1 Dompu, SMAN 1 Kempo, SMAN 2 Kempo, SMAN 1 Woja and SMA Tri Dharma Kosgoro Dompu). This happens because students do not achieve mastery learning as seen from the results of tests, whereas subjects of mathematics is a main lesson on all levels. Contributing factors of which are in the process of learning students sometimes lack the motivation to learn, low-absorption students, many students do not understand what is delivered by teachers due to lack of teachers to manage learning and poor teacher performance. These problems can be solved with assistance to teachers through collaborative supervision in carrying out the management of teaching from planning, implementation of teaching and learning, and evaluation.

The purpose of this study is the increase in Traffic teachers in implementing the strategy of “Think-Talk-Write” which will have implications on the increase in student learning outcomes in mathematics subjects, special on aspects of communication skills and problem solving at the level of Traffic think  commonly found on Achievement Indicators at least competence in curriculum KTSP 2006. The method of this research is to study the action (action research) with a collaborative approach undertaken by two cycles.
Based on the results of action research can be concluded: (1) Supervision of an individual with a collaborative approach to give effect to increase the performance of high school mathematics teacher in the target area in the district of Dompu both components or learning plan implementation component of learning, and (2) increasing the impact on teacher performance improving mathematics learning outcomes of students ..


Keywords:

 collaborative supervision, improvement, teacher Traffic, Think-Talk-Write.

 

 

 

 

 

 

 

I.                                           PENDAHULAUN

A.        Latar Belakang.

Pemecahan masalah matematis merupakan bagian dari berpikir matematis tingkat tinggi yang bersifat kompleks, karena itu pembelajaran yang berfokus pada kemampuan tersebut memerlukan prasyarat konsep dan proses dari yang lebih rendah. Artinya kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematis siswa tidak ada tanpa kemampuan pemahaman yang baik. Hal ini meliputi materi maupun cara mempelajari atau mengajarkannya.. Salah satu keputusan yang perlu diambil guru tentang pembelajaran adalah pemilihan pendekatan dan strategi yang digunakan . Masih banyak guru matematika pada sekolah-sekolah binaan penulis, yang menganut paradigma transfer of knowledge, yang beranggapan bahwa siswa merupakan objek dari belajar. Dalam paradigma ini guru mendominasi dalam proses pembelajaran.. Kenyataan ini telah diungkapkan oleh Ruseffendi (1991:328), bahwa matematika yang dipelajari siswa di sekolah sebagian besar tidak diperoleh melalui eksplorasi matematika, tetapi melalui pemberitahuan oleh guru. Walaupun dominasi guru dalam proses pembelajaran matematika tidak selamanya tidak baik, karena terdapat guru yang karena ketegasannya di kelas membuat siswa menjadi lebih bersungguh-sungguh.

Kondisi pembelajaran dimana siswa belajar secara pasif, jelas tidak menguntungkan terhadap hasil belajarnya. Untuk itu perlu usaha guru agar siswa belajar secara aktif. Sejalan dengan pendapat tersebut Sumarmo(2000) mengatakan agar pembelajaran dapat memaksimalkan proses dan hasil belajar matematika, guru perlu mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam diskusi, bertanya serta menjawab pertanyaan, berpikir secara kritis, menjelaskan setiap jawaban yang diberikan, serta mengajukan alasan untuk setiap jawaban yang diajukan. Pembelajaran yang diberikan pada kondisi ini ditekankan pada penggunaan diskusi, baik diskusi dalam kelompok kecil maupun diskusi dalam kelas secara keseluruhan. Meskipun kesimpulan tersebut diambil berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap siswa sekolah dasar, namun pengembangannya sangat mungkin untuk siswa pada jenjang sekolah yang lebih tinggi.

Dengan mempertimbangkan beberapa pendapat di atas, penulis melakukan sebuah penelitian kolaboratif bersama guru-guru matematika di lingkungan SMA binaan Dinas Dikpora Kabupaten Dompu, dengan judul : “Meningkatkan Kemapuan Guru matematika Dalam Menerapkan Strategi Pembelajaran “ Think – Talk – Write “ Sebagai Alternatif Pemecahan Masalah Matematika Pada SMA Wilayah Binaan di Kabupaten Dompu Melalui Supervisi Kolaboratif “. Strategi pembelajaran yang digunakan ini mengharuskan siswa terlibat berpikir, berbicara, dan menulis dalam proses pembelajaran. Sedangkan model yang dipilih adalah pembelajaran dalam kelompok kecil dengan anggota 4 sampai 6 orang siswa yang dikelompokkan secara heterogen menurut kemampuan matematikanya. Pengelompokkan seperti ini dimaksudkan agar semua siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.

 Kenyataan rendahnya hasil belajar siswa, yang terlihat dari hasil evaluasi belajar mata pelajaran matematika pada siswa SMA wilayah binaan penulis rata-rata 5,38 sedangkan hasil Ulangan Kenaikan Kelas (UKK) hanya mencapai ketuntasan rata-tara 59,17%  menunjukkan bahwa nilai mata pelajaran Matematika siswa SMA di wilayah binaan masih jauh dari standar ketuntasan belajar, yang telah ditetapkan oleh masing-masing sekolah binaan. Hal ini jelas menunjukkan bahwa diperlukan upaya-upaya pendampingan aatau bimbingan secara intensif kepada guru-guru di sekolah binaan penulis secara kolaboratif dalam upaya peningkatan proses dan hasil belajar matematika . Pendampingan Pengawas dalam bentuk supervisi kolaboratif terhadap guru matematika dalam pengelola pembelajaran matematika menjadi sangat penting sehingga guru benar-benar dapat mengelola pembelajaran dengan sebaik-baiknya mulai dari perencanaan (materi, model belajar, media belajar, metode, sumber belajar, dan evaluasi), pelaksanaan pembelajaran sampai dengan evaluasi hasil belajar siswa.

 

B . Perumusan Masalah

1.      Apakah pembimbingan dalam bentuk supervisi kolaboratif oleh pengawas terhadap guru mata pelajaran matematika dapat meningkatkan kinerja guru matematika dalam merencanakan dan menerapkan strategi pembelajaran “think-talk-wite ‘?

2.      Apakah pembelajaran dengan strategi think-talk-write dalam kelompok kecil dapat meningkatkan proses dan hasil belajar matematika siswa?

 

C.           Hipotesis Tindakan

”Diduga bahwa pembimbingan  dalam bentuk supervisi kolaboratif oleh pengawas terhadap guru mata pelajaran matematika dalam merencanakan dan menerapkan strategi pembelajaran “think-talk-write” pada kelompok kecil  dapat meningkatkan kinerja guru dan hasil belajar siswa.

.

D. Tujuan  Penelitian dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

a.               Untuk mengetahui peningkatan kinerja guru matematika dalam  menerapkan  strategi pembelajaran ”think-talk-write” dalam kelompok kecil melalui supervisi kolaboratif

b.               Untuk mengetahui peningkatan proses dan hasil belajar matematika siswa dengan menggunakan strategi pembelajaran ” think-talk-write”  

c.                Meningkatkan kolaborasi yang sinergis antara pengawas dan guru-guru pada sekolah binaan dalam merencanakan dan menerapkan pembelajaran dengan strategi think-talk-write pada kelompok kecil sebagai alternatif pemecahan masalah-masalah dalam pembelajaran matematika di sekolah.

2.         Manfaat Penelitian

a.               Guru menemukan pendekatan dan strategi pembelajaran yang sesuai ( inovatif ) sehingga dapat dijadikan alternatif pemecahan masalah peembelajaran matematika siswa di sekolah.

b.                Siswa lebih bebas mengekspresikan kemampuan komunikasi matematiknya, sehingga kemampuannya dalam pemecahan masalah matematika menjadi lebih baik , (kualitas proses dan hasil belajar siswa meningkat ).

c.                Sekolah mendapatkan dampak positif dari terselenggaranya penelitian ini, karena kualitas siswa, guru dan pembelajaran semakin meningkat, yang sekaligus dapat meningkatkan kinerja sekolah

 

II.                                                          METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian Tindakan

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan disain penelitian tindakan (action research) yang dirancang melalui dua siklus melalui prosedur: (1) perencanaan (planning), (2) pelaksanaan tindakan (action), (3) pengamatan (observation), (4) refleksi (reflecsion) dalam tiap-tiap siklus.

 

                                                                                 

Gambar 2. Desain Penelitian Tindakan (action research)

Sumber: S Kemmis and R McTaggart, 1986)

B. Subjek Tindakan

Penelitian dilaksanakan terhadap semua guru matematika pada SMA yang menjadi binaan peneliti di Kabupaten Dompu  seperti pada tabel berikut.

Tabel 3. Daftar sampel penelitian tindakan

No

Nama Sekolah

Gr Matematika

Siswa

1

SMA Negeri 1 Dompu

1 orang

Kelas XI IPA

2

SMA Negeri 1 Kempo

1 orang

Kelas XI IPA

3

SMA Negeri 2 Kempo

1 orang

Kelas XI IPA

4

SMA Negeri 1 Woja

1 orang

Kelas XI IPA

5

SMA Tri Dharma Kosgoro

1 orang

Kelas XI IPA

 

Jumlah

5        orang

 

 

 

 

C. Metode dan Pelaksanaan Tindakan

Penelitian ini akan dilaksanakan pada semester ganjil tahun pelajaran 20010/2011. Pelaksanaan penelitian dilaksanakan sebanyak 2 ( dua ) Siklus yang  dilaksanakan pada bulan  Juli  sd Nopember  2010.Subjek penelitian ini adalah guru yang mengajar matematika pada siswa Kelas XI IPA, SMA di Wilayah sekolah binaan peneliti. Sedangkan Siswa yang menjadi obyek  penelitian memiliki karakteristik yang beragam, baik dari segi kemampuan, motivasi maupun latar belakang pengetahuannya.

 

D.        Faktor yang Diteliti

Untuk berhasilnya tujuan penelitian, maka beberapa faktor yang diteliti dalam penelitian ini adalah:

a.       Faktor Guru : Karena penelitian ini bersifat kolaboratif, maka hal-hal yang diamati selama berlangsungnya pembelajaran dalam penelitian ini adalah: apakah guru berhasil dalam menyampaikan konsep, membimbing dan memotivasi siswa.

b.   Faktor Pembelajaran : Faktor yang diteliti dalam hal pembelajaran adalah: apakah perencanaan, metode, Strategi atau pendekatan pembelajaran dapat berjalan sesuai yang direncanakan.

c.    Faktor Siswa : Siswa menjadi sentral utama dari penelitian ini. Semua kegiatan siswa selama berlangsungnya pembelajaran diamati dan dicatat perkembangannya untuk selanjutnya dilakukan perbaikan-perbaikan pada siklus pembelajaran selanjutnya. Aktivitas siswa selama berlangsungnya pembelajaran diamati dengan menggunakan instrumen Lembar Observasi.

d.      Hasil Belajar : Prosentase ketuntasan hasil belajar siswa merupakan bagian penting yang diamati dalam penelitian ini. Siswa dianggap tuntas belajar apabila penguasaan materinya lebih dari atau sama dengan KKM yang telah ditetapkan , atau sesuai dengan Kriteria Ketuntasan Minimal yang ditetapkan dalam kurikulum SMA yang menjadi binaan peneliti..

 

E.     Tahapan Pelaksanaan Penelitian

1. Siklus I

a. Perencanaan (Planning)

Dalam tahap perencanaan disiapkan hal-hal sebagai berikut: (a) menyiapkan bahan, inventarisasi kebutuhan dan inventarisasi masalah/kesulitan guru matematika  dalam mengelola pembelajaran  “ Think-Talk-Write” . (b) Fokus Group Discussion tentang hal-hal yang terkait dengan pembelajaran dengan strategi “Think-Talk-Write” dalam kelompok kecil yang dapat dilakukan untuk peningkatan kualitas pembelajaran matematika. (c) menyiapkan jadwal pelaksanaan supervise pendapingan  pada setiap guru disesuaikan dengan kesiapan setiap guru. (d) Menyiapkan bahan dan alat yang dibutuhkan dalam pendampingan supervise kolaboratif.

b. Pelaksanaan Tindakan (Action)

Pada tahap ini dilaksanakan supervise  pada setiap guru secara kolaboratif sesuai dengan jadwal yang telah direncanakan, yaitu: (a) Bimbingan terhadap guru dalam perencanaan pembelajaran “Think-Talk-Write”, mulai dari menyusun rencana pengajaran, menyiapkan metode, membuat media belajar, menyiapkan sumber belajar, dan menyiapkan alat evaluasi. (b) Bimbingan terhadap guru saat melaksanakan kegiatan belajar mengajar baik di dalam kelas maupun di luar kelas, sesuai dengan pokok bahasan dan materi yang akan diajarkan. (c) Bimbingan terhadap guru saat mengevaluasi hasil belajar terhadap siswa.

c.      Pengamatan (Observation)

Pengamatan dilakukan pada setiap tahap penelitian, mulai dari tahap perencaaan dan pelaksanaan tindakan, kejadian dan hal-hal yang terjadi direkam dalam bentuk catatan-catatan hasil observasi, dan didokumentasikan  sebagai data-data penelitian.

d.      Refleksi (Reflection)

Pada akhir tiap siklus diadakan refleksi berdasarkan data observasi, dengan Refleksi ini dimaksudkan agar peneliti dapat melihat apakah tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini dapat meningkatkan kinerja guru dan hasil belajar siswa, kendala-kendala apa yang menghambat, faktor apa saja yang menjadi pendorong, dan alternatif apa sebagai solusinya. Pada penelitian ini refleksi yang dilakukan adalah dari hasil pengamatan input dan output kinerja guru dan hasil belajar siswa.

Sumber data penelitian ini adalah siswa, guru matemastika, peneliti. Jenis data yang dikumpulkan berupa data kuantitatif dan kualitatf, yang mencakup (a) rencana pendampingan, (b) pelaksanaan pendampingan, (c) data hasil observasi, (d) kinerja guru, (e) hasil belajar mata pelajaran matematika, (e) perubahan guru dan sikap siswa dalam mengikuti mata pelajaran matematika.

2. Siklus II

           Kegiatan tindakan pada siklus II didasarkan atas temuan-temuan hasil dari siklus I, adapun langkah-langkah tindakan yang dikalukan sama dengan pada siklus I.

 

F.                                          Teknik Pengumpulan Data & Instrumen Penelitian

Teknik pengumpulan data meliputi panduan observasi, panduan wawancara, jurnal kegiatan guru dan siswa, tes kinerja guru, dan tes pengukuran hasil belajar siswa. Adapun Instrumen pengumpul data yang digunaakan meliputi:(1).Pedoman observasi dan pengamatan (observasi), sebagai data untuk melihat kondisi guru Matematika dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajarnya. (2). Instrumen penilaian kinerja guru, untuk melihat kemajuan kinerja guru. (3). Instrumen penilaian hasil belajar siswa, sebagai salah satu indikator keberhasilan belajar mengajar guru.(4). Alat-alat dokumentasi sebagai perekam data-data penelitian yang dibutuhkan.

 

G.     Teknik Analisis Data

Data yang terkumpul dalam penelitian ini dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif dianalisis dengan menggunakan analisis kategorial dan fungsional melalui model analisis interaktif (interactive model), yakni analisis yang dilakukan melalui empat komponen analisis: reduksi data, penyandian, dan verifikasi dilakukan secara simultan. Data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif.

 

III.       HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Refleksi Awal

Berdasarkan hasil  refleksi awal kemampuan / kinerja guru mata pelajaran matematika pada SMA wilayah binaan peneliti di Kabupaten Dompu sebelum dilakukan tindakan pada siklus I, didapatkan tingkat kemapuan /kinerja guru seperti  pada tabel berikut.

Tabel 4. Rekap presentase  Kinerja Guru Matematika sebelum dilakukantindakan

 

Aspek Kinerja Guru

Rerata Skor

Skor Ideal

% Ketercapaian

A.Komponen Rencana Pembelajaran

34.2

68

50.3

B.     Komponen Pelaksanaan Pembelajaran

75.8

140

54

KINERJA GURU (AWAL)

110

208

52.9

 

            Dari tabel di atas terlihat bahwa kinerja guru matematika SMA hanya mencapai 52,9 %, yang meliputi komponen perencanaan pembelajaran sebesar 50.3 dan komponen pelaksanaan pembelajaran 54. Kategori persentase kinerja guru tersebut termasuk pada kategori yang sedang, perhatikan tabel  berikut.

Tabel 5. Kategori dan Kualifikasi Kinerja Guru Matematika Sebelum Tindakan

No

Rentang

Kategori

Kualifikasi

1

0  –  20

Sangat Rendah

E

2

21  –  40

Rendah

D

3

40  –  60

Sedang

C

4

60  –  80

Tinggi

B

5

80  –  100

Sangat Tinggi

A

 

Persentase komponen perencanaan pembelajaran guru relatif lebih rendah dari pada komponen pelaksanaanya, hal ini menunjukkan bahwa guru belum begitu baik dalam merencanaakan pembelajarannya.  Komponen perencanaan pembelajaran meliputi: (1) perumusan tujuan pembelajaran , (2) pemilihan dan pengorganisasian materi ajar   (3) pemilihan sumber belajar/media pembelajaran  (4) metode pembelajaran , dan (5) rencana penilaian hasil belajar.

            Pada komponen pelaksanaan pembelajaran didapatkan persentase rata-rata skor kinerja yang paling rendah adalah kinerja guru dalam pemanfaatan sumber belajar yang relatif rendah dan juga pada bagian penutup pelajaran..Hal ini pada umumnya guru pada akhir sesi pembelajaran tidak memberikan refleksi atau membuat rangkuman yang melibatkan peserta didik, serta kurang memberikan arahan tindak lanjut, kegiatan untuk menambah pengayaan materi yang diajarkan kepada peserta didik.   Pemanfaatan sumber belajar relatif kurang, media-media yang dapat digunakan untuk pembelajaran relatif kurang banyak dimanfaatkan. Hal-hal tersebut berdampak pada rendahnya hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran matematika pada sekolah binaan penulis sebagaimana urain terdahulu.

 

B. Hasil Tindakan Siklus I

            Hasil refleksi awal dijadikan sebagai dasar untuk melakukan supervisi kolaboratif dengan pendekatan individual terhadap guru matemaika SMA wilayah binaan di kabupaten Dompu, supervisi yang dilakukan yaitu membantu  menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi guru dalam pembelajaran matematika  mulai dari perencanaan menyusun silabus dan RPP, pemilihan dan pengorganisasian materi ajar, pemilihan sumber belajar media, dan perencanaan untuk penilaian hasil belajar sampai dengan pelaksanaan pembelajaran dengan strateri ” Tingk-Talk-Write ”. Setiap langkah dibimbing dan diidentifikasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi guru selanjutnya diberikan solusi-solusi pada setiap permasalahan yang dihadapi guru, diberikan arahan-arahan yang operasional dan mudah dilaksanakan oleh guru, yang selanjutnya dapat memberikan kemudahan belajar para peserta didik.Tindakan supervisi  dilakukan dengan pendekatan secara kolaboratif.

Berdasarkan hasil pengamatan permasalahan yang dihadapi oleh setiap guru relatif bervariasi, namun pada umumnya hampir sama yaitu guru enggan menyiapkan media pembelajaran. Selanjutnya setiap guru disarankan untuk menggunakan media CD interaktif  dan Microsoft Power Point untuk menyampaikan materi pembelajarannya, Hasil tes kinerja setelah dilakukan tindakan pada siklus I didapatkan seperti pada tabel berikut.

Tabel 4. Rekap Data  Kinerja Guru Matematika sebelum dilakukan tindakan

 

Aspek Kinerja Guru

Rerata Skor

Skor Ideal

% Ketercapaian

A.Komponen Rencana Pembelajaran

34.2

68

50.3

B.Komponen Pelaksanaan Pembelajaran

75.8

140

54

KINERJA GURU (AWAL)

110

208

52.9

 

Tabel 7. Rekap Persentase Kinerja Guru Matematika Pasca Tindakan Siklus I

 

Aspek Kinerja Guru

Rerata Skor

Skor Ideal

% Rerata Skor

  1. Komponen Rencana Pembelajaran

47,00

68

69,1

  1. Komponen Pelaksanaan Pembelajaran

83.6

140

60.0

Nilai Kinerja Guru

130.6

208

62.8

 

            Dari tabel di atas terlihat bahwa kinerja guru matematika SMA dalam menerapkan strategi pembelajaran Think-Talk-Write setelah dilakukan supervisi  melalui pendekatan kolaboratif didapatkan persentase skor kinerja guru mengalami  peningkatan dari 52.9 menjadi 62.8. Kategori persentase kinerja guru tersebut termasuk pada kategori yang tinggi dengan tingkat kualifikasi B, perhatikan Tabel berikut.

 

Tabel 8. Kinerja Guru Matematika Pasca Tindakan siklus I

No

Rentang

Kategori

Kualifikasi

1

0  –  20

Sangat Rendah

E

2

21  –  40

Rendah

D

3

40  –  60

Sedang

C

4

60  –  80

Tinggi

B

5

80  –  100

Sangat Tinggi

A

 

Persentase semua aspek terjadi peningkatan , dengan hasil persentasi sebagai berikut: Komponen perencanaan pembelajaran sebesar 50.3 menjadi 69,1 dan komponen pelaksanaan pembelajaran dari 54 menjadi 60.0%. Nampak bahwa pada komponen perencanaan pembelajaran guru telah meningkat, yang berdampak langsung pada pelaksanaan proses pembelajaran yang lebih baik manum demikian hal ini masih menunjukkan bahwa persiapan guru sebelum mengajar masih lebih rendah dibandingkan dengan pelaksanaannya.  

            Dari data awal yang paling rendah adalah kinerja guru dalam pemanfaatan sumber belajar telah terjadi peningkatan walaupun belum memadai  hal ini menunjukkan bahwa guru telah dapat memanfaatkan sumber belajar sehingga peserta didik dapat lebih optimal dalam belajarnya. Sedangakan aspek yang paling rendah lainya itu penutup pembelajaran juga telah terjadi peningkatan .  Aspek yang relatif paling rendah hasil siklus I pada aspek kemampuan khusus dalam peembelajaran matematika yang meliputi mendemonstrasukan penguasaan materi dalam bentuk fakta,konsep,dan prosesdur, mendemostrasikan kemampuan penanaman konsep, rumus, atau prinsip matematika melalui strategi pembelajaran Think-Talk-Write ; mengembangkan siswa untuk berpikir kiritis, logis, dan analitis; kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dalam matematika,; membantu siswa menemukan konsep dan rumus dalam matematika; mengembangkan kemampuan siswa dalam menyampaiakan informasi melaui sombol, bilangan, diagram, tabel atau model lainnya; memupuk sikap apresiasi siswa terhadap matermatika serta membantu siswa dalam membentuk sikap cermat dan kritis.

Peningkatan kinerja guru tersebut berdampak pula pada peningkatan kualitas  proses dan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran matematika. dengan nilai rata-rata yang diperoleh relatif lebih tinggi dibandingkan dengan nilai sebelummnya yang dapat dilihat seperti pada tabel berikut.

 

Tabel 9.Prosentase Ketercapaian Mata Pelajaran Matematika Pasca Siklus I

NO

Nama Sekolah

AWAL

SIKULUS I

% Peningkatan

% ketercapaian

% Ketuntasan

% ketercaapaian

% Ketuntasan

% ketercaapaian

% Ketuntasan

1

SMA 1Dompu

56

58.5

65

72

13.84

18.75

2

SMA 1 Kempo

52

56.25

65

67

20

16.04

3

SMA 2 Kempo

53

53.5

63

65

15.87

17.69

4

SMA 1 WOJA

57

58.46

63

67

9.52

12.75

5

SMA Kosgoro

52

54.15

62

75

16.12

27.8

RERATA

54

56.17

63.6

69.2

15

18.61

 

Sebagai gambaran  perkembangan prosentase ketercapaian hasil belajar