PROSEDUR OPERASI STANDAR PENYELENGGARAAN UJIAN NASIONAL 2014


PERATURAN

BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN NOMOR: 0022//BSN /XI/2013

TENTANG

 

PROSEDUR OPERASI STANDAR PENYELENGGARAAN UJIAN NASIONAL SEKOLAHMENENGAHPERTAMA/ MADRASAH TSANAWIYAH, SEKOLAH MENENGAH PERTAMA LUAR BIASA,SEKOLAH MENENGAH ATAS/ MADRASAH ALIYAH, SEKOLAH MENENGAH ATAS LUAR BIASA, SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN/MADRASAH ALIYAH KEJURUAN, SERTA PENDIDIKAN KESETARAAN PROGRAM PAKET B/WUSTHA, PROGRAM PAKET  C,  DAN  PROGRAM  PAKET  C  KEJURUAN  TAHUN  PELAJARAN

2013/2014

POS UN Tahun Pelajaran 2013-2014_0

KISI-KISI US-M 2014

POS Ujian Sekolah-Madrasah 2014

POS UN Tahun Pelajaran 2013-2014_0

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN DAN LANGKAH-LANGKAH PENGAJARAN DI KELAS


14.00

800×600

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;}
table.MsoTableGrid
{mso-style-name:”Table Grid”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-unhide:no;
border:solid windowtext 1.0pt;
mso-border-alt:solid windowtext .5pt;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-border-insideh:.5pt solid windowtext;
mso-border-insidev:.5pt solid windowtext;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
text-align:justify;
text-indent:36.0pt;
line-height:150%;
mso-pagination:none;
mso-layout-grid-align:none;
text-autospace:none;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;}

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN

DAN LANGKAH-LANGKAH PENGAJARAN DI KELAS

 

1.      Resolusi Konflik: (NCSS: 200: 12-22, National Council for the Council Studies – Amerika Serikat

I

Identifikasi

-          Menjelaskan tujuan pembelajaran

-          Tanya jawab untuk menggali konsep yang telah dimiliki siswa

-          Memberi contoh konflik/isu/masalah

-          Pengecekan nilai-nilai personal pemeran masalah

-          Tanya jawab terhadap konflik yang disajikan

 

II

Explorasi

-          Penyajian pokok-pokok materi pembelajaran, identifikasi konflik yang disampaikan di bagian awal

-          Pencarian sumber-sumber/pemberian bacaan untuk mendukung pemecahan masalah

-          Mendiskusikan kaitan berbagai pihak dalam konflik yang diajarkan.

-          Kaitan konsep yang telah mereka miliki dengan masalah sosial budaya yang dihadapi dalam pelajaran

 

III

Ekplanasi

-          Merumuskan hipotesis tentang konflik yang diajar, mencari pihak-pihak/lembaga-lembaga yang paling bertanggung jawab, berwenang untuk menangani konflik

-          Klarifikasi lagi konsep-konsep yang telah dimiliki siswa untuk penguatan unsur kognitif

-          Buat tim kerja untuk membahas hal-hal lebih lanjut

-          Tahap pengujian kebenaran hipotesis yang sudah disampaikan

 

IV

Negosiasi Konflik

-          Guru mengawasi jalannya diskusi

-          Membimbing siswa untuk mencetuskan ide-ide

-          Membantu siswa mengumpulkan informasi yang dibutuhkan

-          Laporan oleh masing-masing tim kerja

-          Simpulan hasil diskusi

 

V

Resolusi Konflik

-          Menentukan sikap masing-masing terhadap konflik yang sudah dibahas, cek pemecahan mereka/pemahaman mereka

-          Cek perumusan mereka/keputusan yang mereka buat terhadap sebuah konflik yang sudah diberikan

-          Cek perumusan rekomendasi mereka, rekomendasi yang mereka buat, orang yang berperan, misalnya: kepala desa semestinya apa yang dilakukan kepala dusun, dsb.

 

2.      Demonstrasi (Mudjiono, 1999: 3)

I

-          Rumuskan kecakapan/keterampilan yang akan dicapai

-          Tentukan alat yang dipakai atau orang yang akan disuruh mendemonstrasikan

-          Perhatikan waktu untuk demonstrasi

-          Rencanakan sistim pemikirannya

 

II

-          Mulai demonstrasi

-          Setelah selesai lanjut dengan tanya jawab

-          Diskusi

-          Percobaan oleh siswa untuk mendemonstrasikan hal tadi

-          Pemikiran oleh guru

 

 

 

 

 

3.      STM (Sain Teknologi Masyarakat) (Cain, Sund, Sandra, 1998)

I

-          Didahului dengan ketidakseimbangan (disegnilibrium)

-          Mulai dengan aplikasi sain (IPA dan Teknologi) yang ada di masyarakat. Ini sebagai motivasi siswa belajar

-          Penyiapan buku-buku teks

-          Penggalian isu/masalah yang mereka/siswa alami

 

II

-          Pengajaran dimulai dari konsep, prinsip dan dilanjutkan dengan contoh-contoh

-          Siswa membuat definisi tentang konsep-konsep tadi

-          Siswa mencari informasi-informasi yang berguna untuk memecahkan masalah yang ada

-          Konstruksi terus dilakukan, belajar berarti membentuk makna terhadap apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dialami.

-          Buat rekonstruksi/pengulangan kembali terhadap hasil konstruksi

-          Buat ringkasan/ulasan-ulasan tentang konsep yang benar sehingga siswa tidak salah konsep.

 

 

4.      Problem Based Learning (Savoi, Andrew, 1994)

-          Penyajian masalah

-          Sampaikan bahwa masalah ini berhubungan dengan kegiatan mereka sehari-hari sehingga mereka merasa perlu mempelajarinya

-          Informasi-informasi untuk memecahkan masalah dicari siswa

-          Buat diskusi, buat agar mereka interaktif, presentasi

-          Tentukan hipotesis, alasan-alasannya, students actively grapping

-          Ambil kesimpulan dari grapping problem yang diajar

 

 

 

5.      Problem Solving (John Dewey, Bruner) Berbasis Masalah

-          Masalah sudah ada, materi diberikan

-          Dikasi masalah sebagai pemecahan/diskusi, kerja kelompok

-          Masalah tidak dicari seperti (di problem based learning dari kehidupan mereka sehari-hari)

-          Murid ditugaskan mengevaluasi/evaluating dan bukan grapping seperti yang di problem based learning

-          Siswa memberikan kesimpulan dari jawaban yang diberikan sebagai hasil akhir

 

6.      Model Pembelajaran Langsung/Model Pembelajaran Aktif/Mastery Teaching/ Explicit Instruction (Kardi dan Nur, 2000)

Orientasi

-          Guru menjelaskan tujuan pembelajaran

Presentasi

-          Mendemonstrasikan keterampilan, menyajikan materi tahap demi tahap, murid dituntut menguasai:

Menguasai posedural → bagaimana cara melakukan sesuatu

Deklaratif → tahap demi tahap

Latihan terstruktur

-          Murid diberi tugas tertentu, guru membimbing diskusi, siswa aktif dengan tanya jawab diskusi, perhatian, dll.

Latihan terbimbing

-          Melakukan pengecekan apa tugas yang diberikan telah dilakukan dengan baik

Latihan bebas

-          Pemantapan apa yang telah dilakukan

-          Penilaian

 

 

 

 

 

 

7.      Model Pembelajaran Generatif (Tyler, 1996)

1)      Fase tahap explorasi/pendahuluan

Pra konsepsi, siswa sudah punya konsep, konsep yang belum ilmiah (miskonsepsi: penyampaian materi dan tujuan pembelajaran).

2)      Fase pemusatan

-          Mengajukan pertanyaan-pertanyaan terbuka pada siswa.

-          Siswa juga mengajukan pertanyaan-pertanyaan.

-          Siswa/guru melakukan refleksi, presentasi, komunikasi, diskusi.

3)      Fase tantangan

-          Penyajian bukti-bukti oleh guru untuk merubah miskonsepsi.

-          Memberi dukungan terhadap konsep yang benar.

-          Demontrasi bila diperlukan, siswa disuruh melakukan experimen.

-          Melakukan pengujian gagasan.

-          Guru membuat analogi, apabila konsep sulit dipahami (bandingkan dengan objek lain atau materi lain).

4)      Fase aplikasi

-          Kasi soal-soal yang sederhana sehingga dapat dengan mudah dipecahkan dan siswa mulai lebih yakin.

-          Buat klasifikasi terhadap jawaban yang salah.

-          Pandangan ilmiah disajikan untuk memecahkan masalah-masalah yang sulit.

-          Soal-soal berlanjut untuk evaluasi.

8.      Model Expositori/Model yang Berpusat pada Guru/Model Konvensional (Romiszowski, 1990).

-          Penyampaian materi

-          Apresiasi terhadap materi yang diajar

-          Penjelasan fakta, konsep, prinsip, hukuman

-          Tanya jawab, demonstrasi, diskusi, dll

-          Latihan soal-soal

-          Rangkuman

-          Tindak lanjut, seperti: PR dan tugas lain.

9.      Model Hipotesis Deduktif (Dahar, 1989)

1)      Fase Explorasi

-          Aksi, reaksi, berikan mereka menyuarakan aspirasinya terhadap materi pelajaran, setelah materi itu diperkenalkan, membuat analisis, dll.

2)      Fase Pengenalan Konsep

-          Tampilkan konsep-konsep yang tepat untuk mempelajari materi itu.

-          Konsep-konsep dibuat sederhana, dapat dipahami dan jelas.

3)      Fase Aplikasi Konsep

-          Berikan waktu untuk menggunakan konsep-konsep tersebut untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan/tujuan pembelajaran yang disampaikan

-          Experimen

-          Test

 

10.  Model Inquiri (Menyelidik Sendiri) (W. Natapura, 1993: 2002)

-          Penyajian materi/masalah

-          Tanya jawab (jawaban guru hanya pada ya dan tidak) guru tidak boleh menjelaskan lebih lanjut karena siswa harus menemukannya

-          Mengumpulkan informasi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan

-          Penjelasan lanjut oleh guru

-          Analisis/evaluasi proses inquiri.

 

11.KONSTRUKTIVISME

Langkah-langkah :

-     Pemberian masukan terhadap prior knowledge siswa/miskonsepsi.

-     Proses masuk akal setelah miskonsepsi.

-     Interpretasi, asimilasi.

-     Instruksi. asistensi, tanya jawab

-     Akomodasi penerimaan/penolakan oleh siswa.

-     Pengalihan pengetahuan/keterampilan/sikap.

 

 

 

12.MEANINGFULL LEARNING            

Langkah-langkah:

-     Penjelasan tujuan pembelajaran.

-     Pengamalan objek.

-     Diskusi hasil pengamatan.

-     Sebab-sebab kesalahan.

-     Hasil.

-     Penutup.

 

13.C.T.L (Buku CTL DEpdiknas, 2002: 10)

1.   Motivasi/Apresiasi :

-     Di awal ® paham ® trampil ® dan jelaskan bahwa belajar lebih bermakna denyan cara belajar sendiri, menemukan sendiri dan mengkonstruksi sendiri.

2.   Masuk ke Inti :

-     Ceramah sebentar diperbolehkan.

-     Materi dipegang siswa, soal-soal dipegang/ditulis di papan.

-     Mulai dengan INQUIRI (siswa menemukan), menyuruh siswa merumuskan. Contoh: membuat sendiri bagan raja-raja Majapahit. Temukan   prilaku   baik   atau   buruk   dari   karakter   ini! Mengamati/observasi : membaca sumber lain dan mengumpulkan sebanyak-banyaknya prilaku karakter tersebut. Menyatakan: katakan apa yang siswa sudah tulis. Mengkomunikasikan: menyampaikan pada teman-temannya apa yang sudah dibuat, didiskusikan apakah baik atau jelek.

-     Gunakan macam pengajaran yang bervariasi, seperti : diskusi, tanya jawab, observasi, tugas, presentasi, kerja kelompok, dll.

-     Bila memungkinkan dalam suatu kesempatan, hadirkan ‘model’ sebagai contoh pembelajaran.

3.   Lanjut ke Refleksi:

-     Berikan siswa merespon apa yang baru diajar/diam.

-     Apa bedanya dengan pelajaran sebelumnya.

-     Suruh siswa berbicara/mengatakan atau menulis apa-apa yang merupakan respon terhadap bahan yang baru diajar.

4.   Penilaian ®Penilaian Proses

Lakukan penilaian yang sesungguhnya.

-     Pada pelajaran Bahasa Inggris, suruh siswa menggunakan/berbicara dengan bahasa Inggris bila bertemu dengan guru baik di dalam kelas dan di luar kelas, misalnya: di kantor, di perpustakaan, di halaman sekolah, dan sebagainya, agar mereka tidak merasa asing menggunakan bahasa Inggris.

-     Diupayakan penilaian proses ® Misalkan pada saat pelajaran Bahasa Inggris, pada saat pelajaran berlangsung mereka (siswa) berbicara dengan bahasa Inggris ® Berani berbicara berarti unsur afektif dan psikomotor muncul.

 

14.QUANTUM LEARNING

Langkah-langkah ;

-     Penyampaian tujuan, manfaat.

-     Mulai belajar, boleh ada nyanyian-nyanyian.

-     Metode bervariasi.

-     Tanya jawab untuk evaluasi.

 

15.INTEGRATED LEARNING

Langkah-langkah :

-     Tujuan.                                

-     Materi.            I

-     Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sudah disiapkan oleh guru (guru mencatat semua jawaban).                    

-     Mendiskusikan jawaban-jawaban.

-     Evaluasi dilakukan bersamaan dengan diskusi dan tanya jawab.

 

 

 

16.PROJECT BASED LEARNING

Langkah-langkah:

-     Penjelasan proyek kepada siswa.

-     Mctode boleh apa saja, motivasi yang dapat menyelesaikan proyek akan dapat hadiah.

-     Tunggu kreasi siswa.

-     Evaluasi.

 

17.VALUE CLARIFICATION TECHNIQUE (VCT)

Langkah-langkah:

-     Lontarkan stimulus kepada siswa (berupa nilai yang menjadi pokok pembahasan).

-     Dialog siswa (meliputi seluruh potensi afiksi, logika, nalar) baik dialog intern pada diri siswa maupun dialog dengan siswa lain.

-     Mengumpulkan fakta/konsep (akomodasi).

-     Kesimpulan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENDEKATAN-PENPEKATAN

DALAM MATA PELAJARAN BAHASA INGGR1S

1.   Natural Approach

2.   Communicative Approach

3.   Content Based Approach

4.   Whole language Approach

5.   Literature Based Approach

6.   Basic Skill Approach

 

 

PENPEKATAN-PENDEKATAN

PALAM MATA PELAJARAN SEJARAH

 

 

1.   Subject Melter Approach

2.   Pendekatan Kritis, Logis, Anaiitis

3.   Pendekatan Nilai

4.   Pendekatan Kausal/Pendekatan Pemecahan Masalah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN KOOPERATIF ATAU

COOPERATIVE LEARNING

BELAJAR DENGAN KKLOMPOK KECIL

(DISKUSI KELOMPOK KECIL)

ROBERT E. SLAVIN; SECOND EDITION; GREEN WOOD DALQUADH & HALL

 

1.   STAD (STUDENT TEAMS ACHEIVEMEN  DIVISIONS)

Untuk semua bidang studi.

1.   Penyajian bahan.

2.   Bentuk tim dan belajar di tim mereka sendiri untuk menjawab kemungkinan-kemungkinan pertanyaan guru.

3.   Kasi kuis / pertanyaan-pertanyaan (anggota tim tidak saling membantu).

4.   Pertanyaan-pertanyaan di no 3 diulang bagi siswa yang tidak dapat menjawab untuk perbaikan skor.                

5.   Pengenalan tim. Guru menunjukkan pada seluruh kelas tim mana yang paling mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan guru dan dikasi hadiah bila perlu.

 

2.   TGT (TEAM GAMES TOURNAMENTS)

Untuk semua bidang studi.                   

1.   Penyajian bahan.

2.   Sama dengan yang di STAD.

3.   Games. Yaitu model permainan. Salah satu wakil tim yang dianggap mampu ke depan kelas. Para wakil (boleh 3-4) diberi pertanyaan oleh guru. Pertanyaan guru boleh dijawab oleh wakil tim yang lain bila tidak menjawab. Permainan lain persiapan permainan. Selelah kartu diisi nomor lalu siswa yang ke depan mengambil nomor undian yang berisi pertanyaan-pertanyaan. Siswa duduk di meja yang dikasi warna berbeda, misalnya kuning, hijau, merah dan lain-lain. Pertanyaan bisa dibacakan oleh seorang murid yang lain, selanjutnya siswa yang menang maju dengan peserta lain dan seterusnya.

4.   Pengenalan tim (sama dengan di STAD)

3.   JIGSAW (YANG PALING UMUM BAGI GURU-GURU)

Untuk semua bidang studi.

1.   Penyajian bahan-bahan.                    

2.   Bentuk tim dan siswa bekerja di tim mereka menjawab pertanyaan yang berbeda.       

3.   Bentuk tim ahli. Yang menjawab pertanyaan nomor 1 kumpul dengan yang menjawab pertanyaan nomor 1, begitu pula yang menjawab pertanyaan nomor 2 dan seterusnya.

4.   Setelah selesai kembali ke tim mereka masing-masing. Masing-masing orang memberitahu jawaban.

5.   Evaluasi.                    

 

4.   CO-OP CO-OP ( COOPERATIVE – COOPERATIVE)

Untuk sernua bidang studi.

1.   Diskusikan dengan siswa minat, keinginan siswa untuk mempelajari topik, pengalaman yang mereka miliki.

2.   Bentuk tim sesuai yang mereka inginkan.

3.   Tim memiliki lopik yang diinginkan.

4.   Tim membicarakan mini topik yang mana mau dibahas oleh masing-masing pribadi siswa dalam tim (pemilihan mini topik).

5.   Persiapan mini topik. Di sini siswa bekerja secara individu untuk memutuskan semua pertanyaan yang akan muncul terhadap mini topik tersebut.

6.   Presentasi mini topik. Masing-masing siswa berprestasi dihadapan anggota timnya terhadap hal-hal/bagian-bagian yang ditugaskan pada masing-masing siswa.

7.   Persiapan presentasi tim. Tim disiapkan untuk ke depan kelas untuk dilakukan dalam diskusi kelompok besar / diskusi kelas.

8.   Presentasi tim. Satu tim mengambil kontrol terhadap kelas.

 

 

 

9.   Evaluasi.

a.   Tampilan tim dievaluasi oleh kelas.

b.   Kontribusi individu untuk usaha tim dievaluasi oleh anggota.

c.   Presentasi mini topik oleh masing-masing siswa dievaluasi oleh guru.

 

5.   TAI (TEAM ASSISTED INDIVIDUALINATION) ATAU (TEAM ACCELERATED INSTRUCTION)

Untuk Matematika.

1.   Bentuk tim (sama dengan di STAD, TGT)

2.   Pre test.

3.   Pemberian materi.    

4.   Tim belajar masing-masing mencri tim mereka dan membahas semua hal yang berhubungan dengan materi.                     i

5.   Team scores and team recognation.

6.   Teaching Groups. Setiap hari guru ada di tim-tim yang berbeda untuk membantu kesulitan tim. Di sini dituntut keterampilan guru dalam membimbing kelompok kecil.

7.   Test. Tes diberikan hampir 2 x seminggu, atau boleh disuruh belajar di rumah dengan LKS barn besoknya dites.

8.   Whole Class Unit. Lebih kurang 3 minggu guru bisa menyetop program ini dan bisa belajar ke hal lain.

 

6.   CIRC   (COOPERATIVE   INTEGRATED   READING   AND COMPOSITION)

Untuk bidang studi Bahasa.

Siswa diupayakan belajar bergroup dalam aktivitas-aktivitis berikut, misalnya: kemampuan membaca dinilai oleh teamnya di group.

1.   Oral Reading.

-     Reading out aloud

2.   Reading comprehension skill.

3.   Writing and language art.

4.   Story – related activitis.

5.   Story grammar and story related writing.

6.   Words out loud.

7.   Word meaning.

8.   Spelling.

9.   Kira-kira setelah 3 x pertemuan dikasi tes.

10.             Direct instruction in reading comprehension. Guru selalu memberi instruksi yang tidak monoton, misal : disuruh identifying main ideas, atau understanding causal relations, atau making inferences, (menarik kesimpulan).

11.             Integrated language arts and writing.

12.             Independent reading and book reports.

 

7. STRUSTURED DYADIC METHOD

Untuk bidang studi Bahasa.

A paioff students teach each other, they practice the language, they check, evaluate each other. Praktek berbicara berdua dengan dikasi topik bahasan atau topik dibebaskan apa saja boleh dipilih oleh kedua siswa yang berlatih berbicara.

 

8. GROUP INVESTIGATION/SMALL GROUP TEACHING

Untuk Ilmu Sosial.

1.   Materi.

2.   Bentuk team.

3.   Group diskusi.

4.   Group report.

5.   Peresentasi di depan kelas.

6.   Evaluasi.

9.   LEARNING TOGETHER

Untuk Matematika.

1.   Materi.

2.   Bentuk team

3.   Lembar kerja/assignment sheet.

4.   Presentasi.

5.   Assesment.                       

 

10.COMPLEX INSTRUCTION

Untuk Ilmu Sosial dan Bahasa.                        ,

1.   Pelaksanaan seperti pelaksanaan membuat proyek.

 

11.GROUP OF FOUR

Untuk semua bidang studi.

1.   Dibentuk kelompok masing-masing 4 orang.

2.   Pembahasan muteri yang diberikan guru.

3.   Penyimpulan.

4.   Pelaporan.

 

12. STRUCTURED DYADIC MATHOD

Untuk Bahasa.

1.   Dua orang murid diberikan tugas bercakap-cakap tentang satu lopik bahasan.

2.   Praktek berbicara.

 

 

 

 

 

 

 

 

PENGERTIAN METOPE, STRATEGI DAN TEKHNIK

 

Metoda :

-     Menurut Kamus Bahasa Indonesia (529) : Metode adalah cara-cara sistematis untuk mencapai tujuan.

 

Strategi:                           

-     Menurut Ahmad Rohani (2004: 32): Dalam konteks pengajaran, strategi dapat diartikan sebagai suatu pola umum tindakan guru-peserta didik dalam manifestasi aktivitas pembelajaran.        

-     Menurut Nana Sudjana (1998): strategi mengajar (pengajaran) adalah “taktik” yang digunakan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar.

-     Menurut Pedoman RPS (Depdiknas: 2006 : 6): Strategi adalah langkah-langkah berisikan program inovatif.

 

Tekhnik:

-     Tekhnik adalah cara yang digunakan guru melakukan tindakan inovatif.

NO

METODA

STRATEGI

TEKHNIK

1.

Ceramah

-    Ceramah murni

-    Ceramah bervariasi (diselingi dengan tanya jawab atau demonstrasi)

 

2.

Diskusi

-    Diskusi panel

-    Diskusi kelompok besar

-    Diskusi kelompok kecil

 

3.

Tanya jawab

-    Satu arah

-    Dua arah

-    Tiga arah

 

4.

Permainan

-    Role play (bermain peran)

-    Gambling (tebak terka)

-    Pacuan (ambil lotre untuk menjawab pertanyaan)

 

5.

Penugasan

-    Tugas perorangan

-    Tugas kelompok

 

6.

Presentasi

-    Bergroup

-    Perorangan

 

7.

Drill

-    Bergroup/kelas

-    Perorangan

 

8.

Demonstrasi

-    Kelompok

-    Perorangan

 

9.

Tutorial

-    Kelompok

-    Perorangan

 

10.

Unjuk kerja

-    Kerja kelompok

-    Kerja perorangan`

 

 

 

MENGAPA PTK ANDA DI TOLAK?.


Banyak diantara guru-guru yang mengeluh, beberapa PTK yang sudah dibuat dalam rangka kenaikan pangkat ke IV/b selalu saja ditolak. Ada yang menyerah ada yang pantang mundur tetap menulis dan memperbaiki PTK yang sudah DITOLAK itu.

Alasan-alasan PTK DITOLAK, berikut bagi kepada temen-temen semoga bermanfaat:

 

No

Hal terdapat pada KARYA TULIS ILMIAH

Alasan penolakan dan saran

1

KARYA TULIS ILMIAH dinyatakan sebagai Laporan PTK namun tidak jelas apa, bagaimana dan mengapa kegiatan tindakan yang dilakukan, juga tidak jelas bagaimana peran hasil evaluasi dan refleksi pada penentuansiklus-siklus berikutnya.

 

 

KARYA TULIS ILMIAH dinyatakan sebagai laporan PTK, namun : tidak jelas apa, bagaimana dan mengapa kegiatan tindakan yang dilakukan, juga tidak jelas bagaimana peran hasil evaluasi dan refleksi pada penentuan siklus-siklus berikutnya.

Disarankan untuk membuat KARYA TULIS ILMIAH baru, misalnya berupa laporan penelitian tindakan, atau tinjauan ilmiah, prasaran ilmiah, karya ilmiah populer, diktat, buku pelajaran, dan karya terjemahan.

Bila KARYA TULIS ILMIAH tersebut berupa laporan penelitian tindakan maka sistematikanya paling tidak memuat:

(Bab I) Pendahuluan yang menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah dan Cara Pemecahan Masalah melalui rencana tindakan yang akan dilakukan, Tujuan dan Kemanfaatan Hasil Penelitian; (Bab II) Kajian / Tinjauan Pustaka yang berisi uraian tentang kajian teori dan pustaka tentang apa, bagaimana dan mengapa kegiatan tindakan yang dilakukan; (Bab III) Metode Penelitian yang menjelaskan tentang prosedur penelitian; (Bab IV) Hasil penelitian berisi tindakan tiap siklus,data lengkap tiap siklus,perubahan pada siswa, pengawas sekolah dan klas, bahasan seluruh siklus ; dan (Bab V) Simpulan dan Saran-Saran.

Laporan penelitian harus pula melampirkan (a) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian, terutama lembar pengamatan, b) contoh-contoh hasil kerja dalam pengisian/ pengerjaan instrumen baik oleh pengawas sekolah maupun siswa, (c) dokumen pelaksanaan penelitian yang lain seperti foto-foto kegiatan, daftar hadir, cacatan harian dalam pelaksanaan PTK, surat ijin, dan lain-lain.

2

KARYA TULIS ILMIAH dinyatakan sebagai laporan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan oleh pengawas tanpa kolaborasi dengan guru

 

KARYA TULIS ILMIAH dinyatakan sebagai laporan PTK, namun pengawas sekolah melakukannya tanpa beekerjasama dengan guru. Atau TIDAK mencantumkan nama guru yang bekerjasama dalam melakukan PTKnya.

Disarankan untuk membuat KARYA TULIS ILMIAH baru, misalnya berupa laporan penelitian tindakan sekolah, atau tinjauan ilmiah, prasaran ilmiah, karya ilmiah populer, diktat, buku pelajaran, dan karya terjemahan.

Bila KARYA TULIS ILMIAH tersebut berupa laporan penelitian tindakan sekolah maka sistematikanya paling tidak memuat:

(Bab I) Pendahuluan yang menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah dan Cara Pemecahan Masalah melalui rencana tindakan yang akan dilakukan, Tujuan dan Kemanfaatan Hasil Penelitian; (Bab II) Kajian / Tinjauan Pustaka yang berisi uraian tentang kajian teori dan pustaka tentang apa, bagaimana dan mengapa kegiatan tindakan yang dilakukan; (Bab III) Metode Penelitian yang menjelaskan tentang prosedur penelitian; (Bab IV) Hasil penelitian berisi tindakan tiap siklus,data lengkap tiap siklus,perubahan pada siswa, pengawas sekolah dan klas, bahasan seluruh siklus ; dan (Bab V) Simpulan dan Saran-Saran.

Laporan penelitian harus pula melampirkan (a) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian, terutama lembar pengamatan, b) contoh-contoh hasil kerja dalam pengisian/ pengerjaan instrumen baik oleh pengawas sekolah maupun siswa, (c) dokumen pelaksanaan penelitian yang lain seperti foto-foto kegiatan, daftar hadir, cacatan harian dalam pelaksanaan PTK, surat ijin, dan lain-lain.

3

KARYA TULIS ILMIAH yang diajukan berupa penelitian tindakan kelas (PTK) namun belum mengikuti kaidah penelitian tindakan

a.metode penelitian belum mengemukakan tahapan dan tindakan tiap siklus dan indikator keberhasilannya

b.pada laporan hasil dan pembahasan belum melaporkan data lengkap tiap siklus, perubahan yang terjadi pada guru, kepala sekolah atau tenaga kependidikan lain

c.lampiran belum lengkap (a) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian terutama lembar pengamatan, test (b) contoh hasil kerja siswa dalam pengisian instrumen pelaksanaan oleh siswa dan pengawas sekolah , dokumen pelaksanaan seperti foto kegiatan, daftar hadir dan lainnya

KARYA TULIS ILMIAH yang diajukan berupa penelitian tindakan kelas, namun (a) metode penelitian belum mengemukakan tahapan dan tindakan tiap siklus dan indikator keberhasilannya, (b) pada laporan hasil dan pembahasan belum melaporkan data lengkap tiap siklus, perubahan yang terjadi pada siswa, pengawas sekolah atau kelas serta bahasan terhadap keseluruhan hasil penelitian dan (c) lampiran belum lengkap

Disarankan memperbaiki laporan PTK tersebut. Isi laporan penelitian tindakan kelas paling tidak memuat:

(Bab I) Pendahuluan yang menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah dan Cara Pemecahan Masalah melalui rencana tindakan yang akan dilakukan, Tujuan dan Kemanfaatan Hasil Penelitian; (Bab II) Kajian / Tinjauan Pustaka yang berisi uraian tentang kajian teori dan pustaka tentang apa, bagaimana dan mengapa kegiatan tindakan yang dilakukan; (Bab III) Metode Penelitian yang menjelaskan tentang prosedur penelitian; (Bab IV) Hasil penelitian berisi tindakan tiap siklus,data lengkap tiap siklus,perubahan pada siswa, pengawas sekolah dan klas, bahasan seluruh siklus ; dan (Bab V) Simpulan dan Saran-Saran.

Laporan penelitian harus pula melampirkan (a) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian, terutama lembar pengamatan, b) contoh-contoh hasil kerja dalam pengisian/ pengerjaan instrumen baik oleh pengawas sekolah maupun siswa, (c) dokumen pelaksanaan penelitian yang lain seperti foto-foto kegiatan, daftar hadir, cacatan harian dalam pelaksanaan PTK, surat ijin, dan lain-lain.

 

KI-SILABUS-RPP KURIKULUM 2013


RPP

 

Pengembangan kurikulum sebaiknya dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Perbaikannya perlu terus menerus dilakukan dengan memperhatikan hasil evaluasi penerapannya. Evaluasi dilakukan dengan menimbang hasil supervisi atau hasil penelitian tindakan kelas. Yang tidak kalah penting adalah mempertimbangkan tingkat keberhasilan siswa menguasai kompetensi yang diharapkan. Dalam era yang serba kompetitif ini, perbaikan kurikulum untuk lebih meningkatkan mutu lulusan merupakan kebutuhan utama dalam meningkatkan citra sekolah.

 

 

 

Model RPP 2013

 

RPP Bahasa Indonesia : 

 

MATEMATIKA SMA

1.SILABUS SMA MATEMATIKA l Wajib A

2.RPP SMA_MATEMATIKA RPP-MAT-X-EKSPONEN-DAN-LOGARITMA

3.SILABUS MATEMATIKA SMA KELAS X WAJIB allson

4.SILABUS MATEMATIKA SMA KELAS X wajib(lukito)

5.SILABUS MATEMATIKA SMA KELAS XI WAJIB allson

6.SILABUS MATEMATIKA SMA KELAS XI wajib(lukito)

7.SILABUS MATEMATIKA SMA KELAS XII WAJIB allson

8.SILABUS MATEMATIKA SMA KELAS XII wajib(endang)

9.silabus-matematika-sma-kelas-xii-wajib-allson(1)

10.silabus-matematika-sma-kelas-xii-wajib-allson

11.silabus-matematika-sma-kelas-xi-wajib-allson

12.SILABUS MATEMATIKA SMA KELAS X peminatan(endang, maria, adri)

13.SILABUS MATEMATIKA SMA KELAS X wajib(lukito)

SILABUS MATEMATIKA SMA KELAS XI peminatan(adri)

14.SILABUS MATEMATIKA SMA KELAS XI wajib(lukito)

15.SILABUS MATEMATIKA SMA KELAS XII peminatan(maria)

16.SILABUS MATEMATIKA SMA KELAS XII wajib(endang)

2.SILABUS SMA Peminatan MIPA

Pengantar Kurikulum Math Peminatan

SILABUS MATEMATIKA SMA KELAS X peminatan allson

SILABUS MATEMATIKA SMA KELAS X peminatan(endang, maria, adri)

SILABUS MATEMATIKA SMA KELAS XI peminatan allson

SILABUS MATEMATIKA SMA KELAS XI peminatan(adri)

SILABUS MATEMATIKA SMA KELAS XII peminatan allson

SILABUS MATEMATIKA SMA KELAS XII peminatan(maria)

SILABUS SMA Peminatan MIPA

 

ANTROPOLOGI

kompetensi-inti-dan-kompetensi-dasar-antropologi-1-5-mei-2013

silabus-mata-pelajaran-antropologi-x-1-5-mei-2013

BAHASA INDONESIA

1.130418-kd-sma-ma-smk-bahasa-indonesia-final-grand-tropic

2.RPP SMA_BHS IND silabus-bahasa-indonesia-kelas-xii-wajib1

3.silabus-bahasa-indonesia-kelas-xi-wajib1

4.silabus-bahasa-indonesia-kelas-x-wajib1

5.silabus-bahasa-indonesia-kelas-xii-peminatan-allson

6.silabus-bahasa-indonesia-kelas-xi-peminatan-allson

7.silabus-bahasa-indonesia-kelas-x-peminatan-allson

RPP bhs Ind ( tampil Ismun Cilegon)

RPP contoh (Ismun Cilogon)

RPP contoh fisika (Ismun Cilegon)

GEOGRAFI

kd-geografi_4-mei-2013

silabus-geo-sma-10_4-mei-2013

silabus-geo-sma-11_4-mei-2013

silabus-geo-sma-12_4-mei-2013

RPP TAMPIL ISMUN

 

BAHASA INGGRIS

1.ki-kd-kls-xii-wajib-allson-3-mei-2013 ki-kd-kls-xi-wajib-allson-3-meil-2013

2.ki-kd-kls-x-wajib-allson-2-mei-2013 silabus-bing-sma-kls-xii-wajib-allson-3-mei-2013 3.silabus-bing-sma-kls-xi-wajib-allson-3-mei-2013

4.silabus-bing-sma-kls-x-wajib_allson-3-mei

 

BIOLOGI

CONTOH RPP BIOLOGI INKUIRI KD 3.2(3a)

ki_kd_bio_1_mei silabus_bio_x

silabus_bio_xi silabus_bio_xii

Mengenali Bagian Utama Hewan (level 1)

Mengenali Bagian Utama Hewan (level 2)

silabus_bio_xii silabus_bio_xi

silabus_bio_x ki_kd_bio_1_mei

CONTOH RPP BIOLOGI INKUIRI KD 3.2 (3a)

 

EKONOMU

02-final-silabus-ekonomi-xi-update-10052013(1)

02-final-silabus-ekonomi-xi-update-10052013(2)

02-final-silabus-ekonomi-xi-update-10052013

03-final-silabus-ekonomi-xii-update-10052013

04-kd-ekonomi-sma-ma-update-09052013-final

 

FISIKA

silabus-fisika-sma-kelas-x

silabus-fisika-sma-kelas-xi1

silabus-fisika-sma-kelas-xii1

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN contoh fisika

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

KIMIA

kd_kimia_sma-12mei_2013

RPP-BAB-2-Model-Atom-Pert-1

silabus-kimia-sma-kls-x-12mei-2013-1-tahun

silabus-kimia-sma-kls-xi-12mei-2013-1-tahun

silabus-kimia-sma-kls-xii-12mei-2013-1-tahun

PPKN

3-1-silabus-sma-ppkn-kls-x

3-2-silabus-sma-ppkn-kls-xi

3-3-silabus-sma-ppkn-kls-xii

3-kd-ppkn-sma RPP-PKN-X-Kur-013

BK

RPP-BK-Ibu-Puspa

PRAKARYA

ki-kd-sma-prakarya-kwu-11-13-mei-2013-sc-rev(1)

ki-kd-sma-prakarya-kwu-11-13-mei-2013-sc-rev

PENJAS

silbuspenjas_sma_x_10-mei-2013

silbuspenjas_sma_xi_10-05-13

silbuspenjas_sma_xii_10-05-13

SEJARAH

1-ki-kd-sejarah-peminatan

2-silabus-sejarah-peminatan

kd-sejarah-wajib_final_jayakarta-11-13-mei-2013

RPP SMA_SEJARAH

1-ki-kd-sejarah-peminatan

10_SEJARAH_BUKU_GURU

SENI BUDAYA

ki-dan-kd-seni-budaya-sma-kantor-8mei2013

laporan-penelitian-tindakan-kelas

proposal-penelitian-tindakan-kelas

silabus-seni-musik-kantor-8mei2013ref

silabus-seni-rupa-kantor-8mei2013

silabus-seni-tari-sma-kantor-8mei2013

silabus-seni-teater-kantor-8mei2013ref (2)

silabus-seni-teater-kantor-8mei2013ref

silbuspenjas_sma_xi_10-05-13

silbuspenjas_sma_xii_10-05-132-

silabus-sejarah-peminatan

SOSIOLOGI

silabus-sosiologi-klas-x_rev-ml_4-mei

silabus-sosiologi-klas-x_rev-ml_4-mei

Permendikbud Kurikulum 2013


Kurikulum 2013

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, tambahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Berdasarkan pengertian tersebut, kurikulum meliputi dua dimensi, yang pertama rencana dan pengaturan  tujuan, isi, dan bahan pelajaran, kedua adalah cara yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran.

Muatan kurikulum sesungguhnya merupakan materi yang dirumuskan untuk menunjang terwujudnya manusia yang memiliki kepribadian, kecerdasan, kehandalan dalam bekerja, serta keterampilan yang dibutuhkan siswa untuk meraih kemuliaan hidup. Dengan demikian pengembangan mutu sumber daya manusia meliputi sikap, pengetahuan, dan keterampilan sebagai kompetensi yang harus siswa miliki.

Dalam meningkatkan kompetensi guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah Kemendikbud menyelenggarakan pelatihan  untuk ketiga pilar mutu pelaksana kurikulum dengan materi sebagai berikut:

A.  Struktur Program

B. Materi Pelatihan 

  1. Perubahan pola pikir (mindset)
  2. Rasional: Mengapa Kurikulum 2013?
  3. Elemen Perubahan
  4. SKL, KI, dan KD
  5. Strategi Implementasi

C.   Pembelajaran

  1. Konsep Pembelajaran Tematik Terpadu
  2. Konsep Pembelajaran IPA Terpadu
  3. Konsep Pembelajaran IPS Terpadu
  4. Kosep Pendekatan Saintifik
  5. Metode Inkuiri
  6. Model Pembelajaran
  7. Konsep penilaian autentik menilai proses dan hasil belajar
  8. Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (analisis kesesuaian, kecukupan, dan kedalaman materi)

Downlod :

01. A. Salinan Permendikbud No. 54 tahun 2013 ttg SKL

01. B. Salinan Lampiran Permendikbud No. 54 tahun 2013 ttg S

02. A. Salinan Permendikbud No. 64 th 2013 ttg Standar Isi

02. B. Salinan Lampiran Permendikbud No. 64 th 2013 ttg Stan

03. A. Salinan Permendikbud No. 65 th 2013 ttg Standar Prose

03. B. Salinan Lampiran Permendikbud No. 65 th 2013 ttg Sta

04. A. Salinan Permendikbud No. 66 th 2013 ttg Standar Penil

04. B. Salinan Lampiran Permendikbud No. 66 th 2013 tentang

05. A. Salinan Permendikbud No. 67 th 2013 ttg KD dan Strukt

05. B. Salinan Lampiran Permendikbud No. 67 th 2013 ttg Kuri

06. A. Salinan Permendikbud No. 68 th 2013 ttg ttg KD dan St

06. B. Salinan Lampiran Permendikbud No. 68 th 2013 ttg Kuri

07. A. Salinan Permendikbud No. 69 th 2013 ttg ttg KD dan St

07. B. Salinan Lampiran Permendikbud No. 69 th 2013 ttg Kuri

01 Permendikbud Nomor 67 Tahun 2013 Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum SD-MI 01.-B.-Salinan-Lampiran-Permendikbud-No.-54-tahun-2013-ttg-SKL1

1.permendikbud-no-66-th-2013-tentang-standar-penilaian

02 Permendikbud Nomor 68 Tahun 2013 Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum SMP-MTs 2. A. Salinan Permendikbud No. 66 th 2013 ttg Standar Penilaian

2. B. Salinan Lampiran Permendikbud No. 66 th 2013 tentang Standar Penilaian

03 Permendikbud Nomor 69 Tahun 2013 Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum SMA-MA 03. A. Salinan Permendikbud No. 65 th 2013 ttg Standar Proses

03. B. Salinan Lampiran Permendikbud No. 65 th 2013 ttg Standar Proses

03-b-salinan-lampiran-permendikbud-no-65-th-2013-ttg-standar-proses

03-permendikbud-nomor-69-tahun-2013-tentang-kerangka-dasar-dan-struktur-kurikulum-sma-ma-biro-hukor

04 Permendikbud Nomor 70 Tahun 2013Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum SMK-MAK 04. A. Salinan Permendikbud No. 66 th 2013 ttg Standar Penilaian

04. A. Standar Penilaian 04. B. Salinan Standar Penilaian

04. B. Salinan Lampiran Permendikbud No. 66 th 2013 tentang Standar Penilaian

04-b-salinan-lampiran-permendikbud-no-66-th-2013-tentang-standar-penilaian 04-b-salinan-lampiran-permendikbud-no-66-th-2013-tentang-standar-penilaian 04-permendikbud-nomor-70-tahun-2013-tentang-kerangka-dasar-dan-struktur-kurikulum-smk-mak-biro-hukor

05 Permendikbud Nomor 71 Tahun 2013 tentang Buku Teks Pelajaran Layak – Biro Hukor 05-permendikbud-nomor-71-tahun-2013-tentang-buku-teks-pelajaran-layak-biro-hukor 12-juknis-pengembangan-muatan-lokal__isi-revisi__01

04 PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013_SD SMP SMA_termutakhir

PP No. 32 Tahun 2013-1

08. Permendikbud Nomor 70 ttg Kerangka Dasar dan Struktur Ku

09. Permendikbud Nomor 71 tahun 2013 ttg Buku Teks Pelajaran

10. Permendikbud Nomor 81A Tahun 2013 tentang Implementasi K

PP No 19 Thn 2005-SNP

PP No 32 Thn 2013-SNP

Materi penunjang di antaranya:
  •  [Download ]
Sekolah dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 hendaknya memperhatikan beberapa langkah utama:
  1. Merumuskan indikator mutu lulusan yang sekolah harapkan yang diselaraskan dengan kriteria pemenuhan SKL. Sekolah sekurang-kurangnya menetapkan mutu lulusan sesuai SKL, namun demikian sekolah dapat pula menetapkan lebih dari itu. Kelebihan itu dapat diwujudkan pada tiap indikator kompetensi pada dimensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
  2. Berikut format yang diperlukan untuk menganalisis kesesuaian SKL, KI, KD: Analisis Keterkaitan SKL, KI, dan KD
  3. Untuk mencapai target mutu pada tiap indikator yang ditetapkan  hendaknya dipetakan terlebih dahulu dengan mengembangkan peta sebaran beban belajar siswa dengan menggunakan model format berikut: Format Pemetaan Kegiatan Belajar dan Sebaran Tugas Siswa
  4. Setelah terhimpun sebaran beban belajar siswa, sekolah hendaknya merumuskan struktur kurikulum dengan mengacu pada Permendikbud  tentang struktur kurikulum satuan pendidikan.  Struktur Kurikulum Sekolah Menengah ;
  5. Menganalisis buku guru dan buku siswa dengan menggunakan format analisis berikut: Lembar Analisis Buku Guru Lembar Analisis Buku Siswa
  6. Mengembangkan kalender akademik tingkat satuan pendidikan dengan menggunakan model format: FORMAT KALENDER AKADEMIK 2013
  7. Dalam rencana implementasi kurikulum selanjutnya sekolah merancang RPP yang disesuaikan dengan SKL, KI, KD, dan indikator  pencapaian kompetensi, dan penilaian. Untuk melaksanakan kegiatan ini sekolah hendaknya memastikan terlebih dahulu bahwa guru telah dibekali kemampuan menyusun rencana pembelajaran dan penilaian. Ada pun model RPP dapat dilihat pada contoh berikut:

6.  Mengembangkan format penilaian dengan menggunakan model berikut Model Perangkat Administrasi Penilaian Otentik  , Contoh Format Penilaian Proyek Format Penilaian Karya Siswa 

8.  Menghimpun data pada portofolio sebagai dasar penulisan rapot.

Seluruh model rapot  bentuk final yang akan sekolah gunakan. Bentuk final sesuai perturannya ditetapkan. Namun demikian disain ini cukup untuk memenuhi kebutuhan sekolah pada awal tahun pelajaran sehingga dapat memperjelas data yang perlu guru himpun dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.

PENILAIAN KINERJA PENGAWAS SEKOLAH MUDA/MADYA/UTAMA


KONSEP PENILAIAN KINERJA PENGAWAS SEKOLAH

 

A.   PENGERTIAN PENILAIAN KINERJA PENGAWAS SEKOLAH

Penilaian kinerja pengawas sekolah adalah penilaian dari tiap butir kegiatan tugas utama pengawas sekolah yang dikembangkan menjadi indikator penilaian kinerja dalam rangka pembinaan pengawas sekolah dalam meningkatkan kinerjanya.

 

B.   ASPEK PENILAIAN KINERJA

Aspek yang dinilai pada penilaian kinerja pengawas sekolah mengacu kepada Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan RB Nomor 21 Tahun 2010  yang meliputi:

  1. Penyusunan program pengawasan
  2. Pelaksanaan program pengawasan
  3. Evaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan
  4. Pembimbingan dan Pelatihan profesional guru dan/ atau kepala sekolah

 

C.   JENIS PENILAIAN

Jenis penilaian yang digunakan dalam menilai kinerja pengawas sekolah adalah penilaian tahunan yang dilaksanakan secara periodik setiap tahun disesuaikan dengan kalender pengawasan sekolah.

 

D.   TUJUAN PENILAIAN KINERJA

Penilaian kinerja pengawas sekolah bertujuan untuk:

1. Memperoleh informasi kinerja pengawas berdasarkan hasil evaluasi yang dapat digunakan sebagai dasar pembinaan dan pengembangan profesioanl pengawas sekolah dalam melaksanakan tugas-tugas kepengawasan.

2. Menghimpun data kinerja sebagai dasar untuk menentukan kebutuhan program  pembinaan kompetensi mewujudkan pengawas sekolah yang profesional, bermartabat dan sejahtera.

3. Mendeskripsikan kinerja pengawas  dalam siklus tahunan sehingga dapat diperoleh gambaran umum kinerja pengawas pada tingkat kabupaten kota/provinsi sebagai dasar untuk menentukan mutu kinerja pengawas secara nasional.

 

E.    MANFAAT PENILAIAN KINERJA

Penilaian kinerja pengawas sekolah  diharapkan bemanfaat untuk:

  1. Mengetahui capaian hail pelaksanaan kerja yang telah dilakukan pengawas sekolah selama satu periode tertentu, sebagai bagian dari refleksi diri, dalam rangka meningkatkan kualitas kerja di masa berikutnya.
  2. Mengelola sistem informasi hasil pengawasan berupa profil kinerja pengawas sekolah dan dampak terhadap sekolah binaan, kepal sekolah, guru dan teman sejawat sebagai input dalam pengambilan keputusan peningkatan dan penjaminan mutu melakukan pemetaan, pembinaan, promosi, dan pengembangan karir pengawas sekolah pendidikan tingkat kabupaten/kota, provinsi, dan nasional.
  3. mengembangkan analisis kekuatan dan kelemahan proses dan hasil pelaksanaan tugas pengawas sekolah sebagai dasar pengembangan  dan perbaikan mutu profesi.
  4. menentukan nilai kinerja pengawas sekolah sebagai gambaran dalam pengusulan kenaikan pangkat dan golongan.
  5. bagi sekolah binaan pengawas sekolah (kepala sekolah dan guru), hasil penilaian kinerja pengawas sekolah dapat digunakan sebagai acuan dalam melakukan kemitraan (partnership)  untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
  6. Bagi pemangku kepentingan, proses dan hasil penilaian kinerja pengawas ini dapat dijadikan dasar pembinaan pengawas sekolah, khususnya sebagai analisi kebutuhan peningkatan kompetensi pengawas melalui program pendidikan dan latihan serta pengembangan profesi pengawas sekolah lainya.

 

  1. F.       PRINSIP PENILAIAN KINERJA

Mengacu kepada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian, penilaian kinerja pengawas sekolah dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip berikut:

  1. Sahih, berarti penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan kinerja yang diukur,
  2. Ojektif, berarti penilaian didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas, tidak dipengaruhi subjektivitas penilai.
  3. Adil, berarti penilaian tidak menguntungkan atau merugikan pengawas sekolah karena perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan gender.
  4. Terpadu, berarti penilaian kepada pengawas sekolah merupakan salah satu komponen yang tak terpisahkan dari kegiatan kepengawasan.
  5. Terbuka, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan dapat diketahui oleh pihak-pihak yang berkepentingan.
  6. Menyeluruh dan berkesinambungan, berarti penilaian kinerja pengawas sekolah dilakukan secara menyeluruh, meliputi seluruh aspek yang dapat dan seharusnya dinilai, dan dilakukan terus menerus secara periodik.
  7. Sistematis, berarti penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap dengan mengikuti langkah-langkah baku.
  8. Beracuan kriteria, berarti penilaian didasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi pengawas sekolah yang telah ditetapkan.
  9. Akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi teknik, prosedur, maupun hasilnya.

 

G.   PENANGGUNG JAWAB PENILAIAN KINERJA

Penilaian kinerja pengawas sekolah merupakan tanggung jawab Dinas Pendidikan Provinsi atau Kabupaten/Kota. Dinas Pendidikan Provinsi atau Kabupaten/Kota memiliki tugas untuk melakukan pengelolaan dan koordinasi kegiatan penilaian kinerja pengawas sekolah sesuai  dengan Pedoman Penilaian Kinerja Pengawas Sekolah, membentuk, menetapkan, menyusun tugas dan tanggungjawab  serta kewenangan tim penilai di wilayahnya masing-masing. Dinas Pendidikan Provinsi atau Kabupaten/Kota juga berkewajiban menyediakan penilai yang  memnuhi syarat yang ditetapkan.

 

H. PENILAI KINERJA

Tim penilai yang berwenang menilai kinerja pengawas sekolah diatur sebagai berikut:

  1. Tim penilai terdiri dari:
    1. Unsur Dinas Pendidikan
    2. Unsur Asosiasi Pengawas Sekolah Indonesia (APSI)
    3. Unsur Koordinator Pengawas Sekolah (Korwas)
    4. Pengawas Senior (dilihat dari pangkat dan golongannya)

2. Persyaratan tim penilai:

  1. Memiliki sertifikat asesor penilaian kinerja pengawas sekolah.
  2. Telah berpengalaman sebagai pengawas sekolah minimal 4 tahun.
  3. Terlatih  dan memiliki keterampilan untuk menggunakan instrumen secara objektif.
  4. Mampu mengolah dan menafsirkan data hasil penilaian serta dapat menyusun rekomendasi dari hasil penilaian

3. Penetapan dan masa tugas tim penilai:

  1. Tim Penilai Kinerja pengawas sekolah ditetapkan oleh Dinas Pendidikan Provinsi atau Kabupaten/Kota, yaitu Kepala Dinas Pendidikan Provinsi atau Kabupaten/Kota, yang dapat diwakili oleh Kepala Bidang yang relevan dengan mempertimbangkan pemenuhan persyaratan penilai.
  2. Masa tugas  Penilai adalah  3 (tiga) tahun pelaksanaan tugas.

4. Ketentuan penilain:

  1. Tim penilai yang menilai seorang pengawas terdiri dari  2 (dua) orang.
  2. Pangkat dan golongan penilai  setingkat lebih tinggi atau minimal sama  dari pada  yang dinilai.
  3. Jika dalam hal tertentu belum ada asesor bersertifikat dalam provinsi/kabupaten/kota tersebut, maka Dinas Pendidikan dapat meminta bantuan asesor yang bersertifikat dari Dinas Pendidikan Provinsi/Kab/Kota terdekat.

 

RUANG LINGKUP  PENILAIAN KINERJA

PENGAWAS SEKOLAH

 

Ruang lingkup penilaian kinerja pengawas sekolah ditetapkan berdasarkan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 21 Tahun 2010 tentang Jabatan Fungsional dan Angka Kreditnya yang meliputi pelaksanaan supervisi akademik dan supervisi manajerial. Untuk menilai seorang pengawas sekolah  dalam melakukan kegiatan supervisi akademik dan supervisi manajerial difokuskan pada empat komponen utama, yaitu (1) penyusunan program, (2) pelaksanaan program, (3) evaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan, dan (4) membimbing dan melatih profesional guru. Dari keempat komponen tersebut, dikembangkan indikator dan butir penilaian kinerja pengawas sekolah. Jumlah indikator dan butir penilaian kinerja pengawas sekolah berbeda tergantung jenjang pengawas sekolah yang dinilai.

Ruang lingkup penilaian kinerja untuk jenjang Pengawas sekolah Muda, Pengawas sekolah Madya, dan Pengawas sekolah Utama ditetapkan sebagai berikut:

 

A.  Pengawas Sekolah Muda

NO

TUGAS POKOK/INDIKATOR KINERJA

BUTIR PENILAIAN INDIKATOR KINERJA

A. PENYUSUNAN PROGRAM   
1

 

 

 

 

 

Menyusun program pengawasan 1.1 Memiliki program pengawasan  tahunan yang memenuhi enam aspek.
1.2 Memiliki program pembinaan guru yang memenuhi delapan aspek.
1.3 Memiliki program pemantauan empat  SNP yang memenuhi delapan aspek.
1.4 Memiliki program penilaian kinerja guru yang memenuhi delapan aspek.
1.5 Memiliki program semester yang memenuhi empat aspek.
1.6 Memiliki Rencana Pengawasan Akademik (RPA)/Rencana Pengawasan Bimbingan Konseling (RPBK) yang memenuhi sepuluh aspek.
B. PELAKSANAAN PROGRAM (K2)
1 Melaksanakan pembinaan guru 1.1 Memiliki laporan pelaksanaan  program pembinaan guru yang memenuhi sepuluh aspek.
2 Memantau pelaksanaan empat SNP 2.1 Memiliki laporan pemantauan pelaksanaan empat SNP  yang memenuhi sepuluh aspek.
3 Melaksanakan penilaian kinerja guru 3.1 Memiliki laporan pelaksanaan  program penilaian kinerja guru yang memenuhi sepuluh aspek.
4 Membuat laporan tahunan  pelaksanaan program 4.1 Memiliki laporan tahunan  pelaksanaan program yang memenuhi tujuh aspek
C. EVALUASI  HASIL PELAKSANAAN PROGRAM PENGAWASAN (K3)
1 Melaksanakan evaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan pada sekolah binaan 1.1 Memiliki laporan evaluasi hasil pelaksanaan program pembinaan guru di sekolah binaan yang memenuhi sembilan aspek.
1.2 Memiliki laporan evaluasi hasil pelaksanaan program pemantauan empat SNP yang memenuhi sembilan aspek.
1.3 Memiliki laporan evaluasi hasil pelaksanaan program penilaian kinerja guru yang memenuhi sembilan aspek.
2 Membuat laporan evaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan 2.1 Memiliki laporan evaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan yang memenuhi delapan aspek.
D. MEMBIMBING DAN MELATIH PROFESIONAL GURU (K4)
1 Menyusun program pembimbingan dan pelatihan profesional guru di KKG/MGMP/MGP dan sejenisnya 1.1 Memiliki program pembimbingan dan pelatihan profesional guru di KKG/MGMP/MGP dan sejenisnya yang memenuhi delapan aspek.
2 Melaksanakan pembimbingan dan pelatihan profesional guru di KKG/MGMP/MGP dan sejenisnya 2.1 Memiliki laporan pelaksanakan program pembimbingan dan pelatihan profesional guru  di KKG/MGMP/MGP dan sejenisnya yang memenuhi sepuluh aspek.
3 Mengevaluasi hasil pelaksanaan pembimbingan dan pelatihan  profesional guru di KKG/MGMP/ MGP dan sejenisnya 3.1 Memiliki laporan evaluasi hasil pelaksanaan program  pembimbingan dan pelatihan guru di KKG/MGMP/MGP dan sejenisnya yang memenuhi delapan aspek.
4 Membuat  laporan tahunan  hasil pembimbingan dan pelatihan profesional guru di KKG/MGMP/MGP dan sejenisnya 4.1 Memiliki  laporan tahunan hasil pembimbingan  dan pelatihan profesional guru di KKG/MGMP/MGP dan sejenisnya yang memenuhi tujuh aspek.

B. Pengawas Sekolah Madya

NO

TUGAS POKOK/INDIKATOR KINERJA

BUTIR PENILAIAN

A. PENYUSUNAN PROGRAM (K1) 

1

Menyusun program pengawasan 1.1 Memiliki program pengawasan  tahunan yang memenuhi enam aspek
1.2 Memiliki program pembinaan guru dan/atau kepala sekolah yang memenuhi delapan aspek
1.3 Memiliki program pemantauan delapan SNP yang memenuhi delapan aspek
1.4 Memiliki program penilaian kinerja guru dan/atau kepala sekolah yang memenuhi delapan aspek
1.5 Memiliki program semester yang memenuhi empat aspek
1.6 Memiliki Rencana Pengawasan Akademik (RPA)/Rencana Pengawasan Bimbingan Konseling (RPBK) dan/atau Rencana Pengawasan Manajerial (RPM) yang memenuhi sepuluh aspek.
B. PELAKSANAAN PROGRAM (K2)

1

Melaksanakan pembinaan guru dan/atau kepala sekolah 1.1 Memiliki laporan pelaksanaan  program pembinaan guru dan/atau kepala sekolah yang memenuhi sepuluh aspek

2

Memantau pelaksanaan delapan SNP 2.1 Memiliki laporan pemantauan pelaksanaan  delapan SNP  yang memenuhi sepuluh aspek

3

Melaksanakan penilaian kinerja guru  dan/atau kepala sekolah 3.1 Memiliki laporan pelaksanaan  program penilaian kinerja guru dan/atau kepala sekolah yang memenuhi sepuluh aspek

4

Membuat laporan tahunan pelaksanaan program 4.1 Memiliki laporan tahunan pelaksanaan program yang memenuhi tujuh aspek
C. EVALUASI  HASIL PELAKSANAAN PROGRAM PENGAWASAN (K3)

1

Melaksanakan evaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan pada sekolah binaan 1.1 Memiliki laporan evaluasi hasil pelaksanaan program pembinaan guru dan/atau kepala sekolah di sekolah binaan yang memenuhi sembilan aspek.
1.2 Memiliki laporan evaluasi hasil pelaksanaan program pemantauan delapan SNP yang memenuhi sembilan aspek.
1.3 Memiliki laporan evaluasi hasil pelaksanaan program penilaian kinerja guru dan/atau kepala sekolah yang memenuhi sembilan aspek.

2

Membuat laporan evaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan 2.1 Memiliki laporan evaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan yang memenuhi delapan  aspek.

3

Mengevaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan di tingkat kabupaten/kota/provinsi  

(dilakukan bila tidak ada Pengawas Sekolah Utama)

3.1 Memiliki laporan hasil evaluasi pelaksanaan program pengawasan di tingkat kabupaten/kota/provinsi yang memenuhi delapan aspek.
D. MEMBIMBING DAN MELATIH PROFESIONAL GURU (K4)

1

Menyusun program pembimbingan dan pelatihan profesional guru dan/atau kepala sekolah di KKG/MGMP/MGP dan KKKS/MKKS dan sejenisnya. 1.1 Memiliki program pembimbingan dan pelatihan profesional guru dan/atau kepala sekolah di KKG/MGMP/MGP dan/atau KKKS/MKKS dan sejenisnya yang memenuhi delapan aspek.

2

Melaksanakan pembimbingan dan pelatihan profesional guru dan kepala sekolah di KKG/MGMP/MGP dan/atau KKKS/MKKS dan sejenisnya. 2.1 Memiliki laporan pelaksanakan program pembimbingan dan pelatihan profesional guru di KKG/MGMP/MGP dan kepala sekolah di KKKS/MKKS  dan/atau sejenisnya yang memenuhi sepuluh aspek.

3

Melaksanakan  pembimbingan dan pelatihan  kepala sekolah dalam menyususun program sekolah, rencana kerja, pengawasan dan evaluasi, kepemimpinan sekolah dan SIM sekolah. 3.1 Memiliki laporan pelaksanaan  program membimbing dan melatih kepala sekolah dalam menyusun program sekolah,  rencana kerja, pengawasan dan evaluasi, kepemimpinan sekolah, dan SIM  yang memenuhi sepuluh aspek.

4

Mengevaluasi hasil pelaksanaan pembimbingan dan pelatihan guru dan kepala sekolah di KKG/MGMP/MGP dan/atau KKKS/MKKS dan sejenisnya. 4.1 Memiliki laporan evaluasi hasil pelaksanaan program  pembimbingan dan pelatihan guru di MGMP/KKG/MGP dan kepala sekolah di  KKKS/MKKS dan/atau sejenisnya  yang memenuhi delapan aspek.

5

Membimbing pengawas sekolah muda dalam melaksanakan tugas pokok 5.1 Memiliki laporan pelaksanaan  program pembimbingan pengawas sekolah muda dan pengawas sekolah madya dalam melaksanakan tugas pokok yang memenuhi sepuluh aspek.

6

Melaksanakan  pembimbingan dan pelatihan profesional guru dan/atau kepala sekolah dalam penelitian tindakan (dilakukan bila tidak ada Pengawas Sekolah Utama) 6.1 Memiliki laporan pelaksanaan  program pembimbingan dan pelatihan profesional guru dan/atau kepala sekolah dalam penelitian tindakan yang memenuhi sepuluh aspek.

7

Membuat  laporan hasil pembimbingan dan pelatihan profesional guru dan/atau kepala sekolah 7.1 Memiliki laporan hasil pembimbingan  dan pelatihan profesional guru dan/atau kepala sekolah yang memenuhi tujuh aspek.
 

 

 

C.  Pengawas Sekolah Utama

NO

TUGAS POKOK/INDIKATOR KINERJA

BUTIR PENILAIAN INDIKATOR KINERJA

A. PENYUSUNAN PROGRAM (K1) 

1

Menyusun program pengawasan 1.1 Memiliki program pengawasan  tahunan yang memenuhi enam aspek
1.2 Memiliki program pembinaan guru dan kepala sekolah yang memenuhi delapan aspek
1.3 Memiliki program pemantauan delapan SNP yang memenuhi delapan aspek
1.4 Memiliki program penilaian kinerja guru dan kepala sekolah yang memenuhi delapan aspek
1.5 Memiliki program semester yang memenuhi empat aspek
1.6 Memiliki Rencana Pengawasan Akademik (RPA)/Rencana Pengawasan Bimbingan Konseling (RPBK) dan Rencana Pengawasan Manajerial (RPM) yang memenuhi sepuluh aspek.
B. PELAKSANAAN PROGRAM (K2)

1

Melaksanakan pembinaan guru dan kepala sekolah 1.1 Memiliki laporan pelaksanaan  program pembinaan guru dan kepala sekolah yang memenuhi sepuluh aspek

2

Memantau pelaksanaan delapan SNP 2.1 Memiliki laporan pemantauan pelaksanaan  delapan SNP  yang memenuhi sepuluh aspek

3

Melaksanakan penilaian kinerja guru  dan kepala sekolah 3.1 Memiliki laporan pelaksanaan  program penilaian kinerja guru dan kepala sekolah yang memenuhi sepuluh aspek

4

Membuat laporan tahunan pelaksanaan program 4.1 Memiliki laporan tahunan pelaksanaan program yang memenuhi tujuh aspek
C. EVALUASI  HASIL PELAKSANAAN PROGRAM PENGAWASAN (K3)

1

Melaksanakan evaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan pada sekolah binaan 1.1 Memiliki laporan evaluasi hasil pelaksanaan program pembinaan guru dan kepala sekolah di sekolah binaan yang memenuhi sembilan aspek.
1.2 Memiliki laporan evaluasi hasil pelaksanaan program pemantauan delapan SNP yang memenuhi sembilan aspek.
1.3 Memiliki laporan evaluasi hasil pelaksanaan program penilaian kinerja guru dan kepala sekolah yang memenuhi sembilan aspek.

2

Membuat laporan evaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan 2.1 Memiliki laporan evaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan yang memenuhi delapan  aspek.

3

Mengevaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan di tingkat kabupaten/kota/provinsi   3.1 Memiliki laporan hasil evaluasi pelaksanaan program pengawasan di tingkat kabupaten/kota/provinsi yang memenuhi delapan aspek.
D. MEMBIMBING DAN MELATIH PROFESIONAL GURU (K4)

1

Menyusun program pembimbingan dan pelatihan profesional guru dan kepala sekolah di KKG/MGMP/MGP dan KKKS/MKKS dan sejenisnya. 1.1 Memiliki program pembimbingan dan pelatihan profesional guru dan kepala sekolah di KKG/MGMP/MGP dan KKKS/MKKS dan sejenisnya yang memenuhi delapan aspek.

2

Melaksanakan pembimbingan dan pelatihan profesional guru dan kepala sekolah di KKG/MGMP/MGP dan KKKS/MKKS dan sejenisnya. 2.1 Memiliki laporan pelaksanakan program pembimbingan dan pelatihan profesional guru di KKG/MGMP/MGP dan kepala sekolah di KKKS/MKKS  dan sejenisnya yang memenuhi sepuluh aspek.

3

Melaksanakan  pembimbingan dan pelatihan  kepala sekolah dalam menyususun program sekolah, rencana kerja, pengawasan dan evaluasi, kepemimpinan sekolah dan SIM sekolah. 3.1 Memiliki laporan pelaksanaan  program membimbing dan melatih kepala sekolah dalam menyusun program sekolah,  rencana kerja, pengawasan dan evaluasi, kepemimpinan sekolah, dan SIM  yang memenuhi sepuluh aspek.

4

Mengevaluasi hasil pelaksanaan pembimbingan dan pelatihan guru dan kepala sekolah di KKG/MGMP/MGP dan KKKS/MKKS dan sejenisnya. 4.1 Memiliki laporan evaluasi hasil pelaksanaan program  pembimbingan dan pelatihan guru di MGMP/KKG/MGP dan kepala sekolah di  KKKS/MKKS dan sejenisnya  yang memenuhi delapan aspek.

5

Membimbing pengawas sekolah muda dan pengawas sekolah madya dalam melaksanakan tugas pokok 5.1 Memiliki laporan pelaksanaan  program pembimbingan pengawas sekolah muda dan pengawas sekolah madya dalam melaksanakan tugas pokok yang memenuhi sepuluh aspek.

6

Melaksanakan  pembimbingan dan pelatihan profesional guru dan kepala sekolah dalam penelitian tindakan 6.1 Memiliki laporan pelaksanaan  program pembimbingan dan pelatihan profesional guru dan kepala sekolah dalam penelitian tindakan yang memenuhi sepuluh aspek.

7

Membuat  laporan hasil pembimbingan dan pelatihan profesional guru dan kepala sekolah 7.1 Memiliki laporan hasil pembimbingan  dan pelatihan profesional guru dan kepala sekolah yang memenuhi tujuh aspek.

PROSEDUR PENILAIAN KINERJA PENGAWAS SEKOLAH

 

Penilaian kinerja pengawas sekolah dilaksanakan dalam beberapa tahap, diantaranya: (1) persiapan, (2) pelaksanaan penilaian, (3) verifikasi, (4) analisis hasil, (5) penarikan kesimpulan dan rekomendasi, dan (6) Pelaporan

 

A.    PERSIAPAN

Persiapan yang dilakukan untuk melakukan penilaian kinerja pengawas sekolah adalah sebagai berikut:

  1. Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota menetapkan program penilaian pengawas sekolah yang akan dinilai dalam tiap tahun. Program penilaian menyesuaikan dengan program dan kalender kegiatan pengawasan pengawas sekolah.
  2. Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota membentuk Tim Penilai Kinerja Pengawas Sekolah yang terdiri atas unsur Dinas Pendidikan, APSI, Korwas, Pengawas Senior, disesuaikan dengan kedudukan dan jenis pengawas sekolah yang akan dinilai.
  3. Koordinator Pengawas Provinsi/Kabupaten/Kota menyiapkan administrasi penilaian, mengkoordinir pelaksanaan penilaian, dan mengolah data yang dibantu oleh tim penilai.
  4. Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota membentuk Tim Pengolah Data.

 

B.    PELAKSANAAN PENILAIAN

1. Petunjuk Penilaian

  1. Penilaian kinerja pengawas sekolah merupakan penilaian berbasis bukti dan kuesioner.
  2. Bukti-bukti dapat berupa data, dokumen,  perilaku  dan lain-lain yang dapat diidentifikasi oleh penilaian melalui pengkajian, pengamatan, dan penggalian informasi dari pihak-pihak yang terkait.
    1. Penilai harus mencatat semua bukti yang teridentifikasi dan mencocokkan pada instrumen setiap kriteria penilaian. Bukti-bukti yang dimaksud dapat berupa: bukti yang teramati (tangible evidences) seperti: dokumen-dokumen tertulis, kondisi sarana prasarana (hardware dan software)               Bukti-bukti ini dapat diperoleh melalui pengkajian  dokumen, kuesioner, pengamatan,  atau wawancara  dengan pengawas sekolah.
    2. Untuk meyakinkan atau memvalidasi temuan atau hasil penilaian yang meragukan, penilai dapat dilakukan verifikasi dan klarifikasi penilai dapat memberikan kuesioner kepada guru dan kepala sekolah binaan pengawas sekolah yang dinilai.
    3. Penilaian dilakukan dengan cara memberikan skor pada setiap kriteria berdasarkan kelengkapan dan keabsahan bukti yang relevan dan teridentifikasi.
    4. Sebelum pemberian nilai tersebut, penilai terlebih dahulu mengidentifikasi melalui pemantauan atau pengamatan apakah setiap indikator kinerja untuk masing-masing dimensi tugas pokok pengawas dapat terpantau atau teramati.
      1. g.       Penentuan hasil penilaian atau pernyataan “YA” untuk setiap indikator diberikan, jika secara kuantitas dan kualitas indikator tersebut memenuhi ≥70% aspek dan bukti yang terdapat dalam rubrik yang telah ditetapkan, sedangkan pernyataan “TIDAK” diberikan, jika kriteria secara kuantitas dan kualitas <70%.
      2. Berdasarkan jumlah pernyataan “YA” atau “TIDAK” , penilai menentukan masing-masing nilai komponen penyusunan program (K1), pelaksanaan (K2), evaluasi hasil pelaksanaan program (K3), dan pembimbingan dan pelatihan profesional guru (K4)  dengan rumus berikut:

Nilai komponen =  Total Pernyataan “YA”      X 100%

Total Indikator Komponen

 

 

 

 

 

 

  1. Konversikan nilai komponen tersebut dari prosentase ke angka dengan mengacu kepada rentang prosentase sebagai berikut:
    1. 75 % < X ≤ 100 %  = 4
    2. 50 % < X ≤ 75 %    = 3
    3. 25 % <X ≤ 50 %     = 2
    4. 0 % < X ≤ 25 %      = 1

 

  1.  Nilai Akhir Penilaian Kinerja Pengawas Sekolah  ditentukan oleh  nilai 4 (empat) Komponen dengan perhitungan menggunakan bobot seperti tabel 4.1

 

2.  Pelaksana Penilaian

Penilaian dilakukan oleh tim yang ditunjuk oleh Dinas Pendidikan dan telah memiliki sertifikat Asesor Penialian Kinerja Pengawas Sekolah yang diberi tugas oleh Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota.

Waktu pelaksanaan Penilaian Kinerja Pengawas Sekolah disesuaikan dengan Kalender Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota.

C. VERIFIKASI DATA

Data hasil penilaian  yang telah diperoleh perlu diverifikasi kebenarannya. Verifikasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan melakukan kunjungan sekolah untuk mengkonfirmasi kebenaran isian dokumen dengan kondisi objektif di lapangan. Dalam kasus-kasus tertentu, penilai dapat melakukan wawancara dengan pihak-pihak yang terkait.   Penilai juga dapat  memberikan kuesioner kepada guru dan kepala sekolah binaan pengawas sekolah yang dinilai.

 

D. PENGOLAHAN HASIL PENILAIAN

        1. Pelaksana Pengolahan Hasil

Tim yang melaksanakan pengolahan hasil penilaian kinerja pengawas sekolah ditunjuk oleh Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota. Tim pengolah hasil diketuai oleh seorang staf Dinas Pendidikan Provinsi atau Kabupaten/Kota dan beranggotakan beberapa staf tenaga pengolah data Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota.

 

2.  Waktu Pelaksanaan Pengolahan Hasil

Waktu pelaksanaan kegiatan pengolahan hasil dilakukan selambat-lambatnya satu minggu setelah kegiatan penilaian selesai.

 

  1. Pengolahan Hasil Penilaian

Nilai hasil konversi setiap komponen (K1, K2, K3, dan K4) dimasukkan dalam tabel pengolahan berdasarkan PermenPAN dan Reformasi Birokrasi No 21 Tahun 2010 , bobot dan perhitungan penilaian kinerja pengawas sekolah ditentukan skor akhir  dengan formula berikut:

 

Pengolahan Hasil Penilaian Kinerja Pengawas Sekolah

No.

Komponen

Bobot

Skor

Komponen

NK

NAK

Predikat

1

Penyusunan program  (K1)

10

 

2

Pelaksanaan program  (K2)

50

 

3

Evaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan (K3)

10

 

4

 Membimbing dan melatih profesional guru  (K4)

30

 

             Jumlah Skor    
NILAI  AKHIR

 

Predikat Nilai  
Keterangan:
K

NK

NAK

=  Komponen

=  Nilai Komponen

=  Nilai Akhir Komponen

= {NK : (Bobotx4)} x 100

 

Rumus

NK  = Bobot Komponen  X  Skor  Komponen

NA  =  ∑NK : 400  X 100

 

 

 

 

E.    PENGAMBILAN KEPUTUSAN DAN REKOMENDASI

Kriteria yang digunakan untuk pengambilan keputusan mengenai prestasi kinerja seorang pengawas sekolah sebagai hasil penilaian kinerja menggunakan transformasi dari skala 100 ke kualifikasi prestasi kinerja berikut.

Tabel  4.2

Transformasi dari Rentang Skor ke Nilai

Rentang Skor Akhir

Nilai (Huruf)

Klasifikasi Prestasi Kinerja

91 – 100

A

Amat Baik

76 – 90

B

Baik

61 – 75

C

Cukup

51 – 60

D

Sedang

0 – 50

E

 Kurang

 

Hasil penilaian kinerja pengawas sekolah digunakan untuk keperluan pembinaan profesional pengawas sekolah dan pembinaan karier kepangkatan dan jabatannya, atau keperluan lainya. Hasil Penilaian Kinerja Pengawas Sekolah disampaikan kepada pengawas sekolah yang dinilai (asesi).

 

  1. C.      PELAPORAN

Masing-masing asesor melakukan pengolahan nilai hasil Penilaian Kinerja Pengawas Sekolah, menyusun laporan sesuai dengan format pelaporan (terlampir) ,kemudian melaporkan hasil Penilaian Kinerja Pengawas Sekolah kepada Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota/Provinsi.

 

G. CONTOH  PENILAIAN  KINERJA  PENGAWAS SEKOLAH

Pak Budi  adalah seorang Pengawas Madya dengan jabatan pengawas utama muda  golongan IV/c, dinilai kinerjanya. Asesor memberikan hasil penilaian sebagai berikut:

  1. Skor komponen (K1) untuk penyusunan Program Pengawasan adalah 4.
  2. Skor komponen (K2) untuk pelaksanaan Program Pengawasan adalah 3
  3. Skor komponen (K3) untuk mengevaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan adalah  3.
  4. Skor komponen (K4) untuk membimbing dan melatih profesional guru dan kepala  sekolah adalah 2.

 

Tentukan nilai akhir hasil penilaian kinerja Pak Budi dan berikan rekomendasinya.

Contoh Jawaban:

Pengolahan  nilai dimasukkan ke dalam tabel  sebagai  berikut:

No.

Komponen

Bobot

Skor

Komponen

NK

NAK

Predikat

1

Penyusunan program (K1)

10

4

40

100

A

2

Pelaksanaan program (K2)

50

3

150

75

C

3

Evaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan (K3) 10      3      30    75   C

4

Membimbing dan melatih profesional guru (K4)

30

2

60

50

E

             Jumlah Skor 280  
Nilai Kinerja (NK) (280 : 400) x 100 = 70
Predikat Nilai

Cukup

 

Contoh Kesimpulan Hasil  Penilaian Kinerja:

Bapak Budi  pengawas  sekolah madya dengan jabatan pembina utama muda golongan IV/c secara keseluruhan memperoleh nilai kinerja Cukup dengan nilai 70.

 

Contoh Rekomendasi:

Kepada yang bersangkutan dimohon untuk dapat meningkatkan kinerjanya pada komponen Pelaksanaan Program (K2) dan komponen Evaluasi Pelaksanaan Program Pengawasan  (K3), karena nilainya baru mencapai Cukup (75). Sedangkan komponen yang perlu mendapatkan prioritas pembinaan adalah komponen Pembimbingan dan Pelatihan Profesionalime Guru dan/atau Kepala Sekolah (K4), karena nilainya masih Kurang (50).

Catatan: Rekomendasi diupayakan lebih spesifik berdasarkan indikator dan uraian rubrik yang telah ditetapkan. Tujuannya untuk memudahkan pemilihan  pengembangan keprofesian yang harus ditempuh oleh pengawas sekolah yang nilai pada indikator tertentu masih dibawah standar minimal (70%).

 

Penilaian kinerja pengawas sekolah dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh seorang pengawas sekolah telah melaksanakan tugas pokoknya sesuai dengan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 21 Tahun 2010, yaitu melaksanakan tugas pengawasan akademik dan manajerial pada satuan pendidikan yang meliputi penyusunan program pengawasan, pelaksanaan pembinaan terhadap guru dan kepala sekolah, pemantauan pelaksanaan 8 (delapan) standar nasional pendidikan, penilaian kinerja guru dan kepala sekolah, pembimbingan dan pelatihan profesional guru, evaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan, dan pelaksanaan tugas kepengawasan di daerah khusus. Hasil penilaian kinerja pengawas sekolah ini sangat berguna untuk bahan refleksi, peningkatkan kinerja serta peningkatan profesionalisme pengawas sekolah.

Penilaian kinerja pengawas sekolah dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh seorang pengawas sekolah telah melaksanakan tugas pokoknya sesuai dengan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 21 Tahun 2010, yaitu melaksanakan tugas pengawasan akademik dan manajerial pada satuan pendidikan yang meliputi penyusunan program pengawasan, pelaksanaan pembinaan terhadap guru dan kepala sekolah, pemantauan pelaksanaan 8 (delapan) standar nasional pendidikan, penilaian kinerja guru dan kepala sekolah, pembimbingan dan pelatihan profesional guru, evaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan, dan pelaksanaan tugas kepengawasan di daerah khusus. Hasil penilaian kinerja pengawas sekolah ini sangat berguna untuk bahan refleksi, peningkatkan kinerja serta peningkatan profesionalisme pengawas sekolah.

0.-PEDOMAN-PENILIAN-PKPS

1.-IPKPS-MUDA

2.-IPKPS-MADYA

3.-IPKPS-UTAMA

4.-RUBRIK-IPKPS-17-JUNI-2012

Foto0078Foto0201Foto0193 (2)

 

 

 

 

 

INSTRUMEN PENILAIAN KINERJA GURU (REVISI )


Landasan Teoritis

1484090_756807657680182_536850671_n1504110_760344380659843_866050288_nFoto0201 (2)

Guru adalah pendidik profesional yang mempunyai tugas utama dan kewajiban; merencanakan pembelajaran, mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah serta tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah (Permenneg PAN dan RB No, 16 Tahun 2009). Agar dapat melaksanakan  tugas dan kewajibannya tersebut, guru yang profesional harus memiliki penguasaan terhadap sejumlah kompetensi yaitu pedagogik, profesional, sosial dan kepribadian (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007). Oleh karena itu, mekanisme penilaian kinerja guru diperlukan untuk mengevaluasi unjuk kerja guru terhadap pelaksanaan tugas dan kewajibannya yang diakibatkan oleh kepemilikan kompetensi pedagogik, sosial, kepribadian dan profesional. Dengan demikian, guru yang profesional diharapkan mampu berpartisipasi dalam pembangunan nasional untuk mewujudkan insan Indonesia yang bertakwa kepada Tuhan YME, unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki jiwa estetis, etis, berbudi pekerti luhur, dan berkepribadian.

Landasan Yuridis

1 Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
2 Undang Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
3 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru
4 Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru
5 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 27 Tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor
6 Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya
7 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 28 Tahun 2010 tentang Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah/Madrasah
8 Peraturan Bersama Menteri Pendidikan Nasional dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 03/V/PB/2010 dan Nomor 14 Tahun 2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya
9 Peraturan Negara Pendidikan Nasional Nomor: 35 Tahun 2010 tentang Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya

 

 

KISI-KISI PENILAIAN KINERJA GURU MATA PELAJARAN

NO DIMENSI TUGAS UTAMA / INDIKATOR KINERJA GURU
I PERENCANAAN PEMBELAJARAN
1. Guru memformulasikan tujuan  pembelajaran dalam RPP sesuai dengan kurikulum/silabus dan memperhatikan karakteristik peserta didik.
2. Guru menyusun  bahan ajar secara runut, logis, kontekstual dan mutakhir
3. Guru merencanakan kegiatan pembelajaran yang efektif
4. Guru memilih sumber belajar/ media pembelajaran sesuai dengan materi dan strategi pembelajaran
II PELAKSANAAN KEGIATAN PEMBELAJARAN YANG AKTIF DAN EFEKTIF
A. Kegiatan Pendahuluan
5. Guru memulai pembelajaran dengan efektif
B. Kegiatan Inti
6. Guru menguasai materi pelajaran.
7. Guru menerapkan pendekatan/strategi pembelajaran yang efektif
8. Guru memanfaatan sumber belajar/media dalam pembelajaran.
9. Guru memicu dan/atau memelihara keterlibatan siswa dalam pembelajaran
10. Guru menggunakan bahasa yang benar dan tepat dalam pembelajaran
C. Kegiatan Penutup
11. Guru mengakhiri pembelajaran dengan efektif
III PENILAIAN PEMBELAJARAN
12. Guru merancang alat evaluasi untuk mengukur kemajuan dan keberhasilan belajar peserta didik
13. Guru menggunakan berbagai strategi dan metode penilaian  untuk memantau kemajuan dan hasil belajar peserta didik dalam mencapai kompetensi tertentu sebagaimana yang tertulis dalam RPP
14. Guru memanfatkan berbagai  hasil penilaian untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik tentang kemajuan belajarnya dan  bahan penyusunan rancangan pembelajaran selanjutnya.

PETA TUGAS UTAMA, KOMPETENSI DAN KINERJA GURU BERDASARKAN RUBRIK PENILAIAN KINERJA

No. DIMENSI TUGAS UTAMA / INDIKATOR KINERJA GURU KOMPETENSI
PEDAGOGIK SOSIAL KEPRIBADIAN PROFESIONAL
I PERENCANAAN PEMBELAJARAN
1. Guru memformulasikan tujuan  pembelajaran dalam RPP sesuai dengan kurikulum/silabus dan memperhatikan karakteristik peserta didik. Transfer Ilmu/Motivasi Transfer Ilmu
2. Guru menyusun  bahan ajar secara runut, logis, kontekstual dan mutakhir Transfer Ilmu/Motivasi Transfer Ilmu
3. Guru merencanakan kegiatan pembelajaran yang efektif Transfer Ilmu/Motivasi/-Hasil Belajar Transfer Ilmu
4. Guru memilih sumber belajar/media pembelajaran sesuai dengan materi dan strategi pembelajaran Transfer Ilmu/Hasil Belajar
II PELAKSANAANKEGIATAN PEMBELAJARAN YANG AKTIF DAN EFEKTIF
A. Kegiatan Pendahuluan
5. Guru memulai pembelajaran dengan efektif Transfer Ilmu/Motivasi/Hasil Belajar Transfer Ilmu/Pengguna-an waktu efektif
B. Kegiatan Inti
6. Guru menguasai materi pelajaran. Transfer Ilmu/Motivasi Transfer Ilmu
7. Guru menerapkan pendekatan/strategi pembelajaran yang efektif Transfer Ilmu Transfer Ilmu Motivasi Transfer Ilmu/Pengguna-an waktu efektif
8. Guru memanfaatan sumber belajar/media dalam pembelajaran. Transfer Ilmu Motivasi Transfer Ilmu
9. Guru memicu dan/atau memelihara keterlibatan siswa dalam pembelajaran Transfer Ilmu/Motivasi Transfer Ilmu Transfer Ilmu/Motivasi
10. Guru menggunakan bahasa yang benar dan tepat dalam pembelajaran Transfer Ilmu/Motivasi
C. Kegiatan Penutup
11. Guru mengakhiri pembelajaran dengan efektif Transfer Ilmu/Motivasi Transfer Ilmu/Hasil Belajar
III PENILAIAN PEMBELAJARAN
12. Guru merancang alat evaluasi untuk mengukur kemajuan dan keberhasilan belajar peserta didik Transfer Ilmu/Hasil Belajar Transfer Ilmu
13. Guru menggunakan berbagai strategi dan metode penilaian  untuk memantau kemajuan dan hasil belajar peserta didik dalam mencapai kompetensi tertentu sebagaimana yang tertulis dalam RPP Transfer Ilmu/Hasil Belajar/Motivasi Transfer Ilmu
14. Guru memanfatkan berbagai  hasil penilaian untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik tentang kemajuan belajarnya dan  bahan penyusunan rancangan pembelajaran selanjutnya. Transfer Ilmu/Hasil Belajar Motivasi/Hasil Belajar Transfer Ilmu

 

INSTRUMEN-PK-GURU