Author Archives: suaidinmath

Unduh Silabus SMP Kurikulum 2013


Unduh Silabus SMP Kurikulum 2013.

LEMBAR PENGAMATAN TENTANG PROSES PEMBELAJARAN DALAM PENELITIAN TINDAKAN KELAS


LEMBAR PENGAMATAN  TENTANG PROSES PEMBELAJARAN

DALAMPENELITIANTINDAKANKELAS

 

Hari/Tanggal            : ……

Tempat/lokasi         : ……

Waktu                        : ……

 

No

Objek yang Diamati

Skor

Keterangan

1

2

3

4

1.

Perhatiansiswaterhadappembelajaran

a.  Siswa fokus perhatiannya terhadap Pembelajaran

b.  Melaksanakantugasdengansegera

c.  Gerak-geriknyaserius

 

 

 

 

 

2.

Minatsiswaterhadappelajaran

a.  Siswatidakberhentibekerja

b.  Wajahsiswaberseri-seri

c.  Terlihatasyikmengerjakantugas

 

 

 

 

 

3.

Aktivitassiswa

a.  Kalautidakjelasmaubertanya

b.  Segeramenjawabketikaditanya

c.  Mencatat hal-hal yang penting

 

 

 

 

 

4.

Semangatbelajar

a.  Masukruangan dengansegera

b.  Seperti lupa waktu, pelajaran habis masih terus bekerja

c.  Kelihatan sibuk

 

 

 

 

 

5.

Suasanabelajarriuhmenyenangkan

a.    Kelasterdengarramai, sahut-menyahutsuarasiswa

b.    Hilirmudiktetapitertujuuntukpembelajaran

c.    Setiapmenyelesaikantugassiswakelihatangembira

 

 

 

 

 

6.

Keadaanpembelajarantertib

a.  Kalau mau bertanya mengangkat tangan

b.  Masing-masing siswa asyik dengan tugasnya

c.  Ketua kelompok menegur kalau ada siswa yang lalai

 

 

 

 

 

7.

Pelaksanaanpembelajaranlancar

a.  Penggalansetiapindicatorsesuai target waktu

b.  Tidakterlihatadakegiatanterhenti

c.  Pelajaran selesai pada waktu  yang ditentukan

 

 

 

 

 

 

Keterangan :

Skor 4 : Jika lebih ≥ 85 % siswa memenuhi

Skor 3 : Jika 50% ≤ X < 85% siswa memenuhi

Skor 2 : jika  25 %  ≤ X <50% siswa memenuhi

Skor 1 : Jika < 25 % siswa memenuhi

========================================================================================

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
mso-ansi-language:IN;}

LEMBAR PENGAMATAN  TENTANG PROSES PEMBELAJARAN

DALAMPENELITIANTINDAKANKELAS

 

Hari/Tanggal            : ……

Tempat/lokasi         : ……

Waktu                        : ……

 

No

Objek yang Diamati

Skor

Keterangan

1

2

3

4

1.

Perhatiansiswaterhadappembelajaran

a.  Siswa fokus perhatiannya terhadap Pembelajaran

b.  Melaksanakantugasdengansegera

c.  Gerak-geriknyaserius

 

 

 

 

 

2.

Minatsiswaterhadappelajaran

a.  Siswatidakberhentibekerja

b.  Wajahsiswaberseri-seri

c.  Terlihatasyikmengerjakantugas

 

 

 

 

 

3.

Aktivitassiswa

a.  Kalautidakjelasmaubertanya

b.  Segeramenjawabketikaditanya

c.  Mencatat hal-hal yang penting

 

 

 

 

 

4.

Semangatbelajar

a.  Masukruangan dengansegera

b.  Seperti lupa waktu, pelajaran habis masih terus bekerja

c.  Kelihatan sibuk

 

 

 

 

 

5.

Suasanabelajarriuhmenyenangkan

a.    Kelasterdengarramai, sahut-menyahutsuarasiswa

b.    Hilirmudiktetapitertujuuntukpembelajaran

c.    Setiapmenyelesaikantugassiswakelihatangembira

 

 

 

 

 

6.

Keadaanpembelajarantertib

a.  Kalau mau bertanya mengangkat tangan

b.  Masing-masing siswa asyik dengan tugasnya

c.  Ketua kelompok menegur kalau ada siswa yang lalai

 

 

 

 

 

7.

Pelaksanaanpembelajaranlancar

a.  Penggalansetiapindicatorsesuai target waktu

b.  Tidakterlihatadakegiatanterhenti

c.  Pelajaran selesai pada waktu  yang ditentukan

 

 

 

 

 

 

Keterangan :

Skor 4 : Jika lebih ≥ 85 % siswa memenuhi

Skor 3 : Jika 50% ≤ X < 85% siswa memenuhi

Skor 2 : jika  25 %  ≤ X <50% siswa memenuhi

Skor 1 : Jika < 25 % siswa memenuhi


===========================================================================================

v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
AR-SA

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:Arial;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

RUMUSAN MASALAH :

1). Apakah Penerapan Model  Pembelajaran  TPS (Team Pair Share) Dapat Meningkatkan  Motivasibelajar  Matematika  Materi  Operasi Hitung Pecahan Pada Siswa  Kelas  V SDN 1 Lantung ?

 

MENYUSUN INSTRUMEN PENGAMATAN :

a.   siswa tidak menghindar perhatiannya ke arah lain

b.  melaksanakan tugas dengan segera

c.    gerak-geriknya serius

 

a)      siswa tidak berhenti bekerja

b)     wajah siswa berseri-seri

c)     terlihat asyik mengerjakan tugas

 

Motivasi

Perhatian/konsentrasi

Minat

Aktivitas

Semangat belajar

Suasana menyenangkan

Pembelajaran tertib

Indikator :

Diskreptor :

DST.

1.         Komponen

 

 

 

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Lembar Pengamatan  Tentang Proses Pembelajaran

DalamPenelitianTindakanKelas (Data primer)

 

Hari/Tanggal            : ……

Tempat/lokasi            : ……

Waktu                                    : ……

 

No

Objek yang diamati

Skor

Keterangan

1

2

3

4

1.

Perhatiansiswaterhadappembelajaran

a.   mempersiapkan alat tulis

b.  Siswatidak ngobrol dengan temannya

c.   Siswa mengerjakan PR

d.  Siswa tidak ngantuk

 

 

 

 

 

2.

Minatsiswaterhadappelajaran

a.Melaksanakantugasdengansegera

b.siswatidakberhentibekerja

c.  wajahsiswaberseri-seri

d.terlihatasyikmengerjakantugas

 

 

 

 

 

3.

Aktivitassiswa

a.   kalautidakjelasmaubertanya

b.  segeramenjawabketikaditanya

c.   mencatat hal-hal yang penting

d.  meyimpulkan materi yang sudah disampaikan

 

 

 

 

 

4.

Semangatbelajar

a.masukruangdengansegera

b.  seperti lupa waktu, pelajaran habis masih terus bekerja

c.  kelihatan sibuk

d.memanfaatkan buku paket

 

 

 

 

 

5.

Suasanabelajarriuhmenyenangkan

a.   kelasterdengarramai, sahut-menyahutsuarasiswa

b.  hilirmudiktetapitertujuuntukpembelajaran

c.   setiapmenyelesaikantugassiswakelihatangembira

d.  Bekerja sama dalam diskusi dengan serius dan asyik

 

 

 

 

 

6.

Keadaan pembelajaran tertib

a.   kalau mau bertanya mengangkat tangan

b.  siswa menyelesaikan soal tepat waktu

c.   ketua kelompok menegur kalau ada siswa yang lalai

d.  Saling memberikan informasi dalam diskusi

 

 

 

 

 

7.

Pelaksanaanpembelajaranlancar

a.   Penggalansetiapindikatorsesuai target waktu

b.  Tidakterlihatadakegiatanterhenti

c.   Pelajaran selesai pada waktu  yang ditentukan

d.  Soal diselesaikan sesuai dengan hasil yang benar

 

 

 

 

 

 

Keterangan :

Skor 4 : Jika lebih ≥ 75 % siswa memenuhi

Skor 3 : Jika 50% ≤ X < 75% siswa memenuhi

Skor 2 : jika  25 %  ≤ X  <50% siswa memenuhi

Skor 1 : Jika < 25 % siswa memenuhi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEMBAR OBSERVASI PEMBELAJARAN

Untuk : GURU

 

Mata Pelajaran/Topik :

                                /

Kelas/Sekolah              :

                                /

Nama Pengajar             :

               

Nama Observer            :

 

 

No

Aspek yang Diamati

Skor

1

2

3

4

1

Kesiapan ruang, alat, media dan sumber belajar

 

 

 

 

2

Memeriksa kesiapan siswa

 

 

 

 

3

Melakukan kegiatan apersepsi

 

 

 

 

4

Menyampaikan kompetensi yang akan dicapai

 

 

 

 

5

Menunjukkan penguasaan materi pembelajaran

 

 

 

 

6

Mengaitkan materi dg pengetahuan yg lain

 

 

 

 

7

Melaksanakan pembelajaran sesuai dg kompetensi yg akan dicapai

 

 

 

 

8

Melaksanakan pembelajaran secara runtut

 

 

 

 

9

Melaksanakan pembelajaran yg memungkinkan tumbuhnya kebiasaan positif

 

 

 

 

10

Melaksanakan pembelajaran sesuai dg alokasi waktu yg direncanakan

 

 

 

 

11

Menumbuhkan partisipasi aktif peserta didik

 

 

 

 

12

Merespon positif partisipasi siswa

 

 

 

 

13

Menunjukkan sikap terbuka terhadap respon siswa

 

 

 

 

14

Menumbuhkan keceriaan atau antusiasme siswa dlm belajar

 

 

 

 

15

Melakukan penilaian akhir sesuai dg kompetensi

 

 

 

 

 

Keterangan  :

1       = Kurang

2       = Cukup

3       = Baik

4       = Sangat baik

 

Saran :

             ———————————————————————————

             ———————————————————————————

             ———————————————————————————

             ———————————————————————————

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lembar Pengamatan  Tentang Proses Pembelajaran

Dalam Penelitian Tindakan Kelas (Data primer)

 

Hari/Tanggal             : ……

Tempat/lokasi            : ……

Waktu                        : ……

 

No

Objek yang diamati

Skor

Keterangan

1

2

3

4

1.

Perhatian siswa terhadap pembelajaran

a.   siswa tidak menghindar perhatiannya ke arah lain

b.  melaksanakan tugas dengan segera

c.   gerak-geriknya serius

 

 

 

 

 

2.

Minat siswa terhadap pelajaran

a.   siswa tidak berhenti bekerja

b.  wajah siswa berseri-seri

c.   terlihat asyik mengerjakan tugas

 

 

 

 

 

3.

Aktivitas siswa

a.   kalau tidak jelas mau bertanya

b.  segera menjawab ketika ditanya

c.   mencatat hal-hal yang penting

 

 

 

 

 

4.

Semangat belajar

a.   masuk ruang dengan segera

b.  seperti lupa waktu, pelajaran habis masih terus bekerja

c.   kelihatan sibuk

 

 

 

 

 

5.

Suasana belajar riuh menyenangkan

a.   kelas terdengar ramai, sahut-menyahut suara siswa

b.  hilir mudik tetapi tertuju untuk pembelajaran

c.   setiap menyelesaikan tugas siswa kelihatan gembira

 

 

 

 

 

6.

Keadaan pembelajaran tertib

a.   kalau mau bertanya mengangkat tangan

b.  masing-masing siswa asyik dengan tugasnya

c.   ketua kelompok menegur kalau ada siswa yang lalai

 

 

 

 

 

 

7.

 

Pelaksanaan pembelajaran lancar

a.   Penggalan setiap indikator sesuai target waktu

b.  Tidak terlihat ada kegiatan terhenti

c.   Pelajaran selesai pada waktu  yang ditentukan

 

 

 

 

 

 

Keterangan :

Skor 4 : Jika lebih ≥ 75 % siswa memenuhi

Skor 3 : Jika 50% ≤ X < 75% siswa memenuhi

Skor 2 : jika  25 %  ≤ X  < 50% siswa memenuhi

Skor 1 : Jika < 25 % siswa memenuhi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Cara membubuhkan skor pada kolom sesuai skor yang diperlukan, yaitu  mempertimbangkan banyaknya bukti yang tampak dalam proses.

-          Sekor 4 jika memenuhi bukti a, b, c dengan kategori ”SANGAT TINGGI”

-          Sekor 3 jika memenuhi bukti 2 dari a, b, c dengan kategori ”TINGGI”

-          Sekor 2 jika memenuhi 1 bukti saja dari a, b, c, kategori ”RENDAH”

-          Sekor 1 jika tidak ada bukti yang terpenuhi, kategori ”SANGAT RENDAH”

       Selanjutnya untuk memperoleh kesimpulan, peneliti menyatukan pendapat dari siswa seluruh kelas yang mengisi angket. Sekor masing-masing objek yang diamati didasarkan pada penyatuan pilihan siswa untuk memberi centangan pada kolom sekor. Misalnya saja hasil penyatuan sebagai berikut.

                                    

 

Tabel Perhitungan Nilai Per Objek Yang Diamati

No

Objek yang diamati

 Sekor kelas

Nilai

(Rata-rata)

Kategori

1

2

3

4

1.

Perhatian siswa terhadap pembelajaran

3

7

10

10

 

 

2.

Minat siswa terhadap pelajaran

 

 

 

 

 

 

3.

Aktivitas siswa

 

 

 

 

 

 

4.

Semangat belajar

 

 

 

 

 

 

5.

Suasana belajar riuh menyenangkan

 

 

 

 

 

 

6.

Keadaan pembelajaran tertib

 

 

 

 

 

 

7.

Pelaksanaan pembelajaran lancar

 

 

 

 

 

 

 

4 = SANGAT TINGGI

3 = TINGGI

2 = RENDAH

1 = SANGAT RENDAH

 

 

 

 

 

Data Tentang Hasil Belajar 20 orang siswa

 

60, 91, 41, 65, 50,   58, 45, 50, 45, 75,

 

83, 65, 75, 50, 67, 100, 83, 40, 50, 66.

 

KKM = 56

 

Tentukan :

a.   Rata-ratanya

b.  Rentang nilai.

 

 

Rata-rata = 62,95

Rentangannya = 100 – 40 = 60

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Cara menentukan nilai (rata-rata) adalah sebagai berikut:

  1. Mengalikan sekor setiap kolom peringkat
  2. Menjumlahkan hasil perkalian sekor
  3. Jumlah sekor dibagi 30 (atau sebanyak yang mengisi)

Contoh butir pertanyaan 1

Langkah 1, mengalikan sekor setiap kolom peringkat

  1. Perkalian sekor kolom 1 : 2 x 1 =     2
  2. Perkalian sekor kolom 2 : 5 x 2 =   10
  3. Perkalian sekor kolom 3 : 7 x 3 =   21
  4. Perkalian sekor kolom 4 : 16 x 4 = 64

Langkah 2, menjumlahkan hasil perkalian:

                   2 + 10 + 21 + 64  = 97

Langkah 3, jumlah sekor dibagi 30, yaitu  97 : 30 = 3, 23

Setelah masing-masing nomer ditemukan nilainya, langkah berikutnya adalah melakukan identifikasi komponen mana yang perlu mengalami perbaikan melalui indikator yang nilai ndikator dan bukti tertentu masih rendah Setelah diketahui indikator yang nilainya masih rendah, perlu ditelusuri mana bukti yang belum terpenuhi .

2.      MENYUSUN INSTRUMEN TES :

a.      CONTOH INSTRUMEN UNTUK MENGUJI PEMAHAMAN :

1.      a. Hitunglah 5 + 8 = 13

2.      b. Dari mana kalian mendapatkan jawaban tersebut?

b.      Bagaimana hubungan antara  bilangan 5, 8 dengan 13?

c.       CONTOH INSTRUMEN UNTUK MELIHAT PRESTASI BELAJAR  :

E

1.     

D

Perhatikan gambar disamping .

Cc

Tuliskan unsur-unsur sebuah kubus

A

B

2.      Tuliskan jumlah titik sudut pada sebuah kubus

3.      Jika sebuah segmen garis menghubungkan dua titik yang berhadapat pada sebuah kubus maka garis tersebut dinamakan ….

60,91,41,65,50,58, 45,50,45, 75,

 

83, 65 75, 50, 67, 100, 83, 40, 50, 66

 

KKM = 56

 

Rentang nilai : 100 – 41= 59

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.    PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN

Pelaksanaan tindakan dilakukan di kelas… pada hari… tanggal … jam ke …

Pelaksana tindakan adalah peneliti sendiri sedangan pengamat adalah … orang teman sejawat.

(silakan ceritakan proses pembelajaran yang anda lakukan pada saat open kelas di  sekolah masing-masing)

………………………………………………………………

 

 

 

 

 

X rata-rata = x1 + x2+ …+ xn/n

Keterangan :

X  rata-rata = rata-rata

Xn = jumlah data

N   =  banyaknya data


 

BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH


A.   Pengertian Bimbingan dan Konseling di Sekolah

 

1. Pengertian Bimbingan

Untuk memperoleh pengertian yang jelas tentang “bimbingan”, berikut dikutipkan pengertian bimbingan (guidance) menurut beberapa sumber. Year Book of Education (1955) menyatakan bahwa: guidance is a process of helping individual through their own ffort to discover d develop their potentialisties both for personal happiness and social usefulness. Definisi yang diungkapkan oleh Miller (dalam Jones, 1987) nampaknya merupakan definisi yang lebih mengarah pada pelaksanaan bimbingan di sekolah. Definisi tersebut menjelaskan bahwa:

“Bimbingan adalah proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahan diri dan pengarahan diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum kepada sekolah, keluarga, serta masya- rakat”.

 Dari definisi-definisi di atas, dapatlah ditarik kesimpulan tentang apa sebenarnya bimbingan itu, sebagai berikut.

a.         Bimbingan berarti bantuan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain yang memerlukannya. Perkataan “membantu’ berarti dalam bimbingan tidak ada paksaan, tetapi lebih menekankan pada pemberian peranan individu kearah tujuan yang sesuai dengan potensinya. Jadi dalam hal ini, pembimbing sama sekali tidak ikut menentukan pilihan atau keputusan dari orang yang dibimbingnya. Yang menentukan pilihan atau keputusan adalah individu itu sendiri.

b.         Bantuan (bimbingan) tersebut diberikan kepada setiap orang, namun prioritas diberikan kepada individu-individu yang membutuhkan atau benar-benar harus dibantu. Pada hakekatnya bantuan itu adakah untuk semua orang.

c.         Bimbingan merupakan suatu proses kontinyu, artinyan bimbingan itu tidak diberikanhanya sewaktu-waktu saja dan secara kebetulan, namun merupakan kegiatan yang terus menerus, sistematika, terencana dan terarah pada tujuan.

d.        Bimbingan atau bantuan diberikan agar individu dapat mengembangkan dirinya seamaksimal mungkin. Bimbingan diberikan agar individu dapat lebih mengenal dirinya sendiri (kekuatan dan kelemahannya), menerima keadaan dirinya dan dapat mengarahkan dirinya sesuai dengan kemampuannya.

e.         Bimbingan diberikan agar individu dapat menyesuaikan diri secara harmonis dengan lingkungannya, baik lingkungan keluarga, skolah ndan masyarakat.

Dalam penerapannya di sekolah, definisi-definisi tersebut di atas menuntut adanya hal-hal sebagai berikut: 

a.         Adanya organisasi bimbingan di mana terdapat pembagian tugas, peranan dan tanggungjawab yang tegas di antara para petugasnya;

b.         Adanya program yang jelas dan sistematis untuk: (1) melaksanakan penelitian yang mendalam tentang diri murid-murid, (2) melaksa- nakan penelitian tentang kesempatan atau peluang yang ada, misalnya: kesempatan pendidikan, kesempatan pekerjaan, masalah-masalah yang berhubungan dengan human relations, dan sebagainya, (3) kesempatan bagi murid untuk mendapatkan bimbingan dan konseling secara teratur.

c.         Adanya personil yang terlatih untuk melaksanakan program-program tersebut di atas, dan dilibatkannya seluruh staf sekolah dalam pelaksanaan bimbingan;

d.        Adanya fasilitas yang memadai, baik fisik mupun non fisik (suasana, sikap, dan sebagainya);

e.         Adanya kerjasama yang sebaik-baikya antara sekolah dan keluarga, lembaga-lembaga di masyarakat, baik pemerintah dan non pemerintah.

 

2.    Hubungan Bimbingan dengan Konseling

     Istilah bimbingan (guidance) dan konseling (counseling) memiliki hubungan yang sangat erat dan merupakan kegiatan yang integral. Dalam praktik sehari-hari istilah bimbingan selalu digandengkan dengan istilah konseling yakni bimbingan dan konseling (guidance and counseling).

     Ada pihak-pihak yang beranggapan bahwa tidak ada perbedaan yang prinsipil antar bimbingan dengan konseling atau keduannya memiliki makna yang identik. Namun sementara pihak ada yang berpendapat bahwa bimbingan dan konseling merupaka dua pengertian yang berbeda, baik dasar maupun cara kerjanya. Konseling atau counseling dianggap identik dengan psychoterapy, yaitu usaha menolong orang-orang yang mengalami gangguan psikis yang serius, sedangkan bimbingan dianggap identik dengan pendidikan.

     Sementara pihak ada lagi yang berpendapat bahwa konseling merupakan salah satu teknik pemberian layanan dalam bimbingan dan merupakan inti dari keseluruhan pelayanan bimbingan. Pandangan inilah yang nampaknya sekarang banyak dianut.

     Rogers (dalam Kusmintardjo, 1992) memberikan pengertian konseling sebagai berikut: Counseling is a series of direct contats with the individual which aims to offer him assistance in changing his attitude and behavior. Konseling adalah serangkaian kontak atau hubungan bantuan langsung dengan individu dengan tujuan memberikan bantuan kepadanya dalam merubah sikap dan tingkah lakunya).

Selanjutnya Mortensen (dalam Jones, 1987) memberikan pengertian konseling sebagai berikut: Counseling may, therefore, be defined as apeson to person process in which one person is helped by another to increase in understanding and ability to meet his problems”. Konseling dapat didefinisikan sebagai suatu proses hubungan seseorang dengan seseorang di mana yang seorang dibantu oleh yang lainya untuk menemukan masalahnya.

Dengan demikian jelaslah, bahwa konseling merupakan salah satu teknik pelayanan bimbingan secara keseluruhan, yaitu dengan cara memberikan bantuan secara individual (face to face relationship). Bimbingan tanpa konse- ling ibarat pendidikan tanpa pengajaran atau perawatan tanpa pengobatan. Kalaupun ada perbedaan di antara keduanya hanyalah terletak pada tingkatannya.

 

 

B.   Tujuan Bimbingan dan Konseling di Sekolah

     Bimbingan dan konseling bertujuan membantu peserta didik mencapai tugas-tugas perkembangan secara optimal sebagai makhluk Tuhan, sosial, dan pribadi. Lebih lanjut tujuan bimbingan dan konseling adalah membantu individu dalam mencapai: (a) kebahagiaan hidup pribadi sebagai makhluk Tuhan, (b) kehidupan yang produktif dan efektif dalam masyarakat, (c) hidup bersama dengan individu-individu lain, (d) harmoni antara cita-cita mereka dengan kemampuan yang dimilikinya. Dengan demikian peserta didik dapat menikmati kebahagiaan hidupnya dan dapat memberi sumbangan yang berarti kepada kehidupan masyarakat umumnya

     Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, peserta didik harus mendapatkan kesempatan untuk: (1) mengenal dan melaksanakan tujuan hidupnya serta merumuskan rencana hidup yang didasarkan atas tujuan itu; (2) mengenal dan memahami kebutuhannya secara realistis; (3) mengenal dan menanggulangi kesulitan-kesulitan sendiri; (4) mengenal dan mengem- bangkan kemampuannya secara optimal; (5) menggunakan kemampuannya untuk kepentingan pribadi dan untuk kepentingan umum dalam kehidupan bersama; (6) menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan di dalam lingkungannya; (7) mengembangkan segala yang dimilikinya secara tepat dan teratur, sesuai dengan tugas perkembangannya sampai batas optimal.

     Secara khusus tujuan bimbingan dan konseling di sekolah ialah agar peserta didik, dapat: (1) mengembangkan seluruh potensinya seoptimal mungkin; (2) mengatasi kesulitan dalam memahami dirinya sendiri; (3) mengatasi kesulitan dalam memahami lingkungannya, yang meliputi ling- kungan sekolah, keluarga, pekerjaan, sosial-ekonomi, dan kebudayaan; (4) mengatasi kesulitan dalam mengidentifikasi dan memecahkan masalahnya; (5) mengatasi kesulitan dalam menyalurkan kemampuan, minat, dan bakatnya dalam bidang pendidikan dan pekerjaan; (6) memperoleh bantuan secara tepat dari pihak-pihak di luar sekolah untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang tidak dapat dipecahkan di sekolah tersebut.

Bimbingan dan konseling bertujuan membantu peserta didik agar memiliki kompetensi mengembangkan potensi dirinya seoptimal mungkin atau mewujudkan nilai-nilai yang terkandung dalam tugas-tugas perkembang- an yang harus dikuasainya sebaik mungkin. Pengembangan potensi meliputi tiga tahapan, yaitu: pemahaman dan kesadaran (awareness), sikap dan pene- rimaan (accommodation), dan keterampilan atau tindakan (action) melak- sanakan tugas-tugas perkembangan.

C.   Fungsi Bimbingan dan Konseling di Sekolah

Pelayanan bimbingan dan konseling mengemban sejumlah fungsi yang hendak dipenuhi melalui pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling. Fungsi-fungsi tersebut adalah :

a.         Fungsi pemahaman yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan pemahaman tentang sesuatu oleh pihak-pihak tertentu sesuai dengan kepentingan pengembangan peserta didik pemahaman meliputi :

1)         Pemahaman tentang diri sendiri peserta didik terutama oleh pesert didik sendiri, orang tua, guru pada umumnya dan guru pembimbing.

2)         Pemahaman tentang lingkungan peserta didik (termasuk didalamnya lingkungan keluarga dan sekolah) terutama oleh peserta didik sendiri, orang tua, guru pada umumnya dan guru pembimbing.

3)         Pemahaman lingkungan yang lebih luas (termasuk didalamnya informasi jabatan/pekerjaan, informasi social dan budaya/nilai-nilai) terutama oleh peserta didik.

b.         Fungsi pencegahan yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan tercegahnya dan terhindarnya peserta didik dari berbagai permasalahan yang mungkin timbul yang akan dapat mengganggu, menghambat, ataupun menimbulkan kesulitan dan kerugian tertentu dalam proses perkembangannya.

c.         Fungsi penuntasan yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan teratasinya berbagai permasalahan yang dialami oleh peserta didik.

d.        Fungsi pemeliharaan dan pengembangan yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan terpeliharanya dan terkembangkannya berbagai potensi dan kondisi positif peserta didik dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan berkelanjutan. Fungsi-fungsi tersebut diwujudkan melalui diselenggarakannya berbagai jenis layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling untuk mencapai hasil sebagaimana terkandung didalam masing-masing fungsi itu. Setiap layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling yang dilaksanakan harus secara langsung mengacu kepada satu atau lebih fungsi-fungsi tersebut agar hasil-hasil yang dicapainya secara jelas dapat diidentifikasi dan dievaluasi.

 

D.   Prinsip-prinsip Bimbingan dan Konseling di Sekolah

Sejumlah prinsip mendasari gerak dan langkah penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling. Prinsip ini berkaitan dengan tujuan, sasaran layanan, jenis layanan dan kegiatan pendukung serta berbagai aspek operasional pelayanan bimbingan dan konseling. Dalam layanan bimbingan dan konseling perlu diperhatikan sejumlah prinsip yaitu:

1.      Prinsip-prinsip berkenaan dengan sasaran layanan.

  1. Bimbingan dan konseling melayani semua individu tanpa memandang umur, jenis kelamin, suku agama dan status social ekonomi.
  2. Bimbingan dan konseling berurusan denga pribadi dan tingkah laku individu yang unik dan dinamis.
  3. Bimbingan dan konseling memperhatikan sepenuhnya tahap dan berbagai aspek perkembangan individu. Bimbingan dan konseling memberikan perhatian utama kepada perbedaan individual yagn menjadi orientasi pokok pelayanan.

2.      Prinsi-prinsip berkenaan dengan permasalahan individu.

  1. Bimbingan dan konseling berurusan dengan hal yang menyangkut pengaruh kondisi mental/fisik individu terhadap penyesuaian dirinya di rumah, di sekolah, serta dalam kaitannya dengan kontrak sosial, pekerjaan dan sebaliknya pengaruh lingkungan tehadap kondisi mental dan fisik individu.
  2. Kesenjangan sosial, ekonomi dan kebudayaan merupakan faktor timbulnya masalah pada individu yang kesemuanya menjadi perhatian utama pelayanan bimbingan dan konseling.

3.      Prinsip-prinsip berkenaan dengan program layanan.

  1. Bimbingan dan konseling merupakan bagian dari integral dari upaya pendidikan dan pengembangan individu, oleh karena itu program bimbingan dan konseling harus diselaraskan dan dipadukan dengan program pendidikan serta pengembangan peserta didik
  2. Program bimbingan dan konseling harus fleksibel disesuaikan dengan kebutuhan individu, masyarakat dan kondisi lembaga program bimbingan dan konseling disusun secara berkelanjutan dari jenjang pendidik yang terendah sampai tertinggi
  3. Terhadap isi dan pelaksanaan program bimbingan dan konseling perlu diarahkan yang teratur dan terarah

4.      Prinsip-prinsip berkenaan dengan tujuan dan pelaksanaan pelayanan:

  1. Bimbingan dan konseling harus diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu membimbing diri sendiri dalam menghadapi permasalahan
  2. Dalam proses bimbingan dan konseling keputusan yang diambil dan akan dilaksanakan oleh individu hendaknya atas kemampuan individu itu sendiri bukan karena kemauan atau desakan dari pembimbing atau pihak lain
  3. Permasalahan individu harus ditangani oleh tenaga ahli dalam bidang yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi
  4. Kerjasama antara guru pembimbing, guru lain dan orang tua yang akan menentukan hasil bimbingan
  5. Pengembangan program pelayanan bimbingan dan konseling ditempuh melalui pemanfaatan yang maksimal dari hasil pengukuran dan penilaian terhadap individu yang terlibat dalam proses pelayanan dan program bimbingan dan konseling itu sendiri.

 

E.   Asas-Asas Bimbingan dan Konseling di Sekolah

Penyelanggaraan layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling selain dimuati oleh fungsi dan didasarkan pada prinsip-prinsip bimbingan, juga dituntut untuk memenuhi sejumlah asas bimbingan. Pemenuhan atas asa-asas itu akan memperlancar pelakasanaan dan lebih menjamin keberhasilan layanan/kegiatan, sedangkan pengingkarannya akan dapat menghambat atau bahkan menggagalkan pelaksanaan serta mengurangi atau mengaburkan hasil layanan kegiatan dengan membayar SPP penuh itu sendiri. Asas-asas itu sendiri ialah :

1.     Asas kerahasiaan yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut dirahasiakannya sejumlah data dan keterangan peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan yaitu data atau keterangannya yang tidak boleh dan tidak layak diketahui orang lain. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh memiliki dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaannya benar-benar tejamin.

2.     Asas kesukarelaan yaitu asas bimbingan dan konseling yang mengkehendaki adanya kesukarelaaan dan kerelaan peserta didik (klien) mengikuti/menjalani layanan/kegiatan yang diperuntukan baginya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan seperti itu.

3.     Asas keterbukaan

4.     Yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan/kegiatan bersikap trerbuka dan tidak berpura-pura, baik di dalam keterangan tentang dirinya sendiri maupun berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. Dalam hal ini Guru Pembimbing berkewajiban mengembangkan keterbukaan peserta didik (klien). Keterbukaan ini amat terkait pada terselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri peserta didik yang menjadi sasaran/layanan kegiatan. Agar peserta didik dapat terbuka, Guru Pembimbing terlabih dahulu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura.

5.     Asas kegiatan, yatiu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran berpatrisipasi secara aktif di dalam penyelenggaraan layanan/kegiatan bimbingan. Dalam hal ini Guru Pembimbing perlu mendorong peserta didik untuk aktif dalam setiap layanan/kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukan baginya.

6.     Asas kemandirian, yaitu bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling, yaitu : peserta didik (klien) sebagai sasaran layanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi individu-individu yagn mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri sebagaimana telah diutarakan terdahulu. Guru Pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap layanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian peserta didik.

7.     Asas kekinian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar obyek sasaran layanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan peserta didik (klien) dalam kondisinya sekarang. Layanan yang berkenaan dengan ”masa depan atau kondisi masa lampaupun” dilihat dampak dan atau kaitannya dengan kondisi yang ada dan apa yang dapat diperbuat sekarang.

8.     Asas kedinamisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi layanan terhadap sasaran layanan (klien) yang sama kehendaknya selalu bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu.

9.     Asas keterpaduan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan oleh Guru Pembimbing maupun pihak lain, saling menunjang, harmonis dan terpadukan. Untuk ini kerjasama antara Guru Pembimbing dan pihak-pihak yang berperan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling perlu terus dikembangkan. Koordinasi segenap layanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

10.Asas kenormatifan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar segenap layanan dan bimbingan dan konseling didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai dan norma-norma yang ada, yaitu norma-norma agama, hukum dan peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan dan kebiasaan yang berlaku. Bukanlah layanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang dapat dipertanggungjawabkan apabila isi dan dan pelaksanaannya tidak berdasarkan norma-norma yang dimaksudkan itu. Lebih jauh, layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling justru harus dapat meningkatkan kemampuan peserta didik (klien) memahami, menghayati dan mengamalkan norma-norma tersebut.

11.Asas keahlian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah professional. Dalam hal ini, para pelaksana layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling hendklah tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. Keprofesionalan Guru Pembimbing harus terwujud baik dalam penyelenggaraan jenis-jenis layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling maupun dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling.

12.Asas alih tangan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan peserta didik (klien) mengalihtangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli. Guru Pembimbing dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua, guru-guru lain, atau ahli lain dan demikian pula Guru Pembimbing dapat mengalihtangankan kasus kepada Guru Mata Pelajaran/Praktik dan ahli-ahli lain.

13.Asas tut wuri handayani, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan dapat menciptakan suasana yang mengayomi (memberikan rasa aman), mengembangkan keteladanan, memberikan rangsangan dan dorongan serta kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta didik (klien) untuk maju. Demikian juga segenap layanan/kegiatan bimbingan dan konseling yang diselenggarakan hendaknya disertai dan sekaligus dapat membangun suasana pengayoman, keteladanan dan dorongan seperti itu. Selain asas-asas tersebut saling terkait satu sama lain, segenap asas itu perlu diselenggarakan secara terpadu dan tepat waktu, yang satu tidak perlu dikedepankan atau dikemudiankan dari yang lain. Begitu pentingnya asas-asas tersebut sehingga dapat dikatakan bahwa asas-asas itu merupakan jiwa dan nafas dari seluruh kehidupan pelayanan bimbingan dan konseling. Apabila asas-asas itu tidak dijalankan dengan baik penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling akan tersendat-sendat atau bahkan berhenti sama sekali.

 

800×600

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;}

Program Bimbingan dan Konseling

Program bimbingan dan konseling merupakan kegiatan layanan dan kegiatan pendukung yang akan dilaksanakan pada periode tertentu.

1.      Jenis Program

a.      Program tahunan yang didalamnya meliputi program semesteran dan bulanan yaitu program yang akan dilaksanakan selama satu tahun pelajaran dalam unit semesteran dan bulanan. Program ini mengumpulkan seluruh kegiatan selama satu tahun untuk masing-masing kelas. Program tahunan dipecah menjadi program semesteran dan program semesteran dipecah menjadi program bulanan.

b.     Program bulanan yang didalamnya meliputi program mingguan dan harian, yatiu program yang akan dilaksanakan selama satu bulan dalam unit mingguan dan harian. Program ini mengumpulkan seluruh kegiatan selama satu bulan untuk kurun bulan yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya dengan modifikasi sesuai dengan kebutuhan siswa. Program bulanan merupakan jabaran dari program semesteran, sedangkan program mingguan merupakan jabaran dari program bulanan.

c.      Program harian yaitu program yang akan dilaksanakan pada hari-hari tertentu dalam satu minggu. Program harian merupakan jabaran dari program mingguan untuk kelas tertentu. Program ini dibuat secara teretulis pada satuan layanan (satlan) dan atau kegiatan pendukung (satkung) bimbingan dan konseling.

2.        Unsur-Unsur Program Bimbingan dan Konseling

Program bimbingan dan konseling untuk setiap periode disusun dengan memperhatikan unsur-unsur :

a.       Kebutuhan siswa yang diketahui melalui pengungkapan masalah dan data yang terdapat di dalam himpunan data.

b.      Jumlah siswa asuh yang wajib dibimbing oleh guru pembimbing sebanyak 150 orang (minimal); Kepala sekolah yang berasal dari guru pembimbing sebanyak 40 orang; Wakil kepala sekolah yang berasal dari guru pembimbing sebanyak 75 orang

c.       Bidang-bidang bimbingan (bimbingan pribadi, sosial, belajar dan karir)

d.      Jenis-jenis layanan : layanan orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran, pembelajaran, konseling perorangan, bimbingan kelompok dan konseling kelompok.

e.       Kegitan pendukung : aplikasi instrumentasi, himpunan data, konferensi kasus, kunjungan rumah dan alih tangan kasus.

f.       Volume kegiatan yang diperkirakan sebagai berikut:

1)      Layanan orientasi                                       : 4-6%

2)      Layanan informasi                                     : 10-12%

3)      Layanan penempatan dan penyaluran        : 5-8%

4)      Layanan pembelajaran                               : 12-15%

5)      Layanan konseling perorangan                  : 12-15%

6)      Layanan bimbinga kelompok                     : 15-20%

7)      Layanan konseling kelompok                    : 12-15%

8)      Aplikasi instrument                                    : 4-8%

9)      Konferensi kasus                                        : 5-8%

10)  Kunjungan rumah                                      : 5-8%

11)  Alih tangan kasus                                       : 0-2%

g.      Frekuensi layanan : setiap siswa mendapatkan berbagai layanan minimal lima kali dalam setiap semester, baik layanan dalam format perorangan, kelompok maupun klasikal.

h.      Lama kegiatan : setiap kegiatan (kegiatan layanan dan pendukung) berlangsung sekitar 2 jam.

i.        Waktu kegiatan : kegiatan layanan dan pendukung dilaksanakan pada jam pelajaran sekolah dan diluar jam pelajaran sekolah, sampai 50% dari seluruh kegiatan bimbingan dan konseling, sesuai dengan SK Mendikbud No. 25/O/1995.

j.        Kegiatan khusus : pada semester pertama setiap tahun ajaran baru diselenggarakan layanan orientasi kelas/sekolah bagi siswa baru.

3.        Materi Program

Program bimbingan dan konseling untuk setiap periode berisikan materi yang merupakan sinkronisasi dari unsur-unsur :

a.       Tugas perkembangan siswa yang mendapatkan layanan

b.      Bidang-bidang bimbingan

c.       Jenis-jenis layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling.

Materi-materi tersebut yang meliputi juga materi pendidikan budi pekerti, mengarah kepada pemahaman diri siswa dan lingkungannya. Serta pengembangan diri dan arah karir siswa.

4.        Rincian Program

a.  Program untuk periode yang lebih besar dijabarkan menjadi program-program yang lebih kecil :

1)      Program tahunan dirinci menjasi program semesteran

2)      Program semester dirinci menjadi program bulanan

3)      Program bulanan dirinci menjadi program mingguan

4)      Program mingguan dirinci menjadi program harian

b.  Program harian dirumuskan dalam bentuk program satuan layanan (satlan) dan satuan kegiatan pendukung(satkung) yang masing-masingnya memuat:

1)      Sasaran        :    siswa yang akan dilibatkan dalam kegiatan

2)      Tujuan         :    dirumuskan dalam bentuk kompetensi

3)      Materi         :    isi kegiatan yang dapat mengarahkan tercpapainya kompetensi yang dimaksudkan

4)      Metode       :    cara yang akan ditempuh untuk tercapainya kompetensi yang dimaksudkan

5)      Waktu         :    kapan kegiatan dilakukan

6)      Tempat        :    dimana kegiatan dilakukan

7)      Penilaian     :    bagaimana hasil kegiatan dapat diukur dan diketahui

5.        Tahap-tahap Pelaksanaan Program Satuan Kegiatan

Pelaksanaan program satuan kegiatan yaitu kegiatan layanan dan kegiatan pendukung merupakan ujung tombak kegiatan bimbingan dan konseling secara keseluruhan. Tahap-tahap yang perlu di tempuh adalah :

a.       Tahap perencanaan, program satuan layanan dan kegiatan pendukung direncanakan secara tertulis dengan memuat sasaran, tujuan, materi, metode, waktu, tempat dan rencana penilaian.

b.      Tahap pelaksanaan, program tertulis satuan kegiatan (layanan atau pendukung) dilaksanakan sesuai dengan perencanaannya.

c.       Tahap penilaian, hasil kegiatan diukur dengan nilai.

d.      Tahap analisis hasil, hasil penilaian dianalisis untuk mengetahui aspek-aspek yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut.

e.       Tahap tindak lanjut, hasil kegiatan ditindaklanjuti berdasarkan hasil analisis yang dilakukan sebelumnya, melalui layanan dan atau kegiatan pendukung yang relevan.

6.        Alokasi Waktu dan Jadwal Kegiatan

Kegiatan bimbingan dan konseling dilaksanakan dalam suasana (a) kontak langsung dengan siswa (kegiatan kontak) dan (b) tanpa kontak langsung dengan siswa (kegiatan non- kontak). Kegiatan tersebut perlu dijadwalkan.

a.       Kegiatan yang memerlukan kontak langsung dengan siswa

1)     Semua kegiatan layanan memerlukan kontak langsung dengan siswa, baik  kontak secara langsung, perorangan maupun klasikal.

2)     Kegiatan aplikasi instrumentasi, seperti pengisian angket atau inventori, testing, sosiometri dan juga observasi memerlukan kontak langsung dengan siswa.

3)     Untuk kegiatan melalui kontak langsung dengan siswa diperlukan waktu tersendiri, dengan catatan siswa tidak boleh dirugikan dalam kegiatan belajarnya dengan guru mata pelajaran/guru praktik. Untuk ini perlu dialokasikan waktu tersendiri minimum satu jam dan maksimum dua jam pelajaran satu minggu per kelas, jam pelajaran yang disediakan itu disediakan untuk antara lain melaksanakan: Kegiatan aplikasi instrumentasi; Layanan informasi klasikal; Layanan pembelajaran klasikal; Layanan penempatan/penyaluiran klasikal; Evaluasi klasikal kegiatan bimbingan dan konseling minggu sebelumnya serta perencanaan kegiatan minggu berikutnya

b.      Kegiatan layanan orientasi, konseling perorangan, bimbingan kelompok, dan konseling kelompok dilaksanakan di luar jam pelajaran sekolah. Kegiatan diluar jam pelajaran sekolah ini dapat mencapai 50% dari seluruh kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah (SK Mendikbud No. 25/O/1995)

c.       Kegiatan tanpa kontak langsung dengan siswa

1)     Kegiatan seperti pengelolaan himpunan data, pengolahan hasil aplikasi instrumentasi, penyiapan alat/bahan bimbingan, konferensi kasus, kunjungan rumah, pengolahan hasil belajar siswa sebagai bahan bimbingan, pengelolaan administrasi bimbingan dan konseling, termasuk pengelolaan alih tangan kasus, serta penyusunan rencana dan laporan kegiatan bimbingan dan konseling sehari-hari dilaksanakan tanpa kontak langsung dengan siswa.

2)     Kegiatan non kontak itu dapat dilaksanakan pada jam-jam pelajaran di sekolah.

d.      Hak panggil,

                        Untuk melaksanakan layanan bimbingan dan konseling guru pembimbing memiliki hak panggil terhadap siswa asuh yang menjadi tanggung jawabnya, dengan catatan siswa yang dipanggil tidak boleh dirugikian dalam mengikuti mata pelajarannya.

e.       Jadwal Kegiatan

a)        Kegiatankontak baik diluar maupun didalam jam pelajaran sekolah dan kegiatan non-kontak di dalam maupun diluar jam pelajaran sekolah oleh guru pembimbing dijadwalkan dan rencana kegiatannya disusun secara tertulis, hal itu semua diketahui/disetujui Kepala Sekolah.

b)        Kegaitan didalam dan diluar jam pelajaran sekolah diatur sedemikian rupa dengan memperhatikan :

c)        Jam wajib bekerja guru pembimbing

d)       Keseimbangan kehadiran guru pembimbing di sekolah pada jam pelajaran sekolah dan luar jam pelajaran sekolah

f.       Kegiatan kontak dan non-kontak serta rencana-rencana kegiatannya disampaikan oleh guru pembimbing kepada para siswa secara jelas serta diketahui dan mendapat peneguhan oleh kepala sekolah.

2.    Penilaian Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah

Sebagai upaya pendidikan, khususnya dalam rangka pengembangan kompetensi siswa, hasil-hasil layanan bimbingan dan konseling baik dinilai baik melalui penilaian terhadap hasil layanan maupun proses pelaksanaannya. Penilaian ini selanjutnya dapat dipakai untuk melihat keefektifan layanan di satu sisi dan sebagai dasar pertimbangan bagi pengembangannya di sisi lain.

a.        Penilaian Hasil Layanan

1)Untuk mengetahui keberhasilan layanan dilakukan penilaian, dengan penilaian ini dapat diketahui apakah layanan tersebut efektif dan dapat membawa dampak positif terhadap siswa yang mendapatkan layanan.

2)Penilaian ditunjukan oleh perolehan siswa yang menjalani layanan. Perolehan diorientasikan pada:

a)        Pengentasan masalah siswa, sejauh manakan perolehan siswa menunjang bagi pengentasan masalahnya? Perolehan itu diharapkan dapat lebih menunjang terbinanya tingkah laku positif, khususnya berkenaan dengan masalah dan perkembangan diri siswa.

b)        Perkembangan aspek-aspek kepribadian siswa, seperti sikap, motivasi, kebiasaan, keterampilan dan keberhasilan belajar, konsep dirinyapun berkomunikasi, kreatifitas, apresiasi terhadap nilai dan moral.

3)     Secara khusus focus penilaian diarahkan kepada berkembangnya :

a)        Pemahaman baru yang diperoleh melalui layanan, dalam kaitannya dengan masalah yang dibahas.

b)        Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan.

c)        Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh siswa sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya.

Semua fokus penilaian itu, khususnya rencana kegiatan secara jelas mengacu pada kompetensi yang diaplikasikan siswa untuk pengentasan masalah yang dihadapinya dalam rangka kehidupan sehari-hari yang lebih efektif.

4)     Penilaian dapat dilakukan melalui :

a)        Format individual, kelompok dan atau klasikal.

b)        Media lisan dan atau tulisan.

c)        Penggunaan panduan dan atau instrument baku dan atau yang disusun sendiri oleh guru pembimbing.

5)     Tahap-tahap penilaian meliputi :

a)        Penilaian segera (laiseg), merupakan penilaian tahap awal yang dilakukan segera setelah atau menjelang diakhirnya layanan yang dimaksud.

b)        Penilaian jangka pendek (laijapen), merupakan penilaian lanjutan yang dilakukan setelah satu (atau lebih) jenis layanan dilaksanakan selang beberapa hari sampai paling lama satu bulan.

c)        Penilaian jangka panjang (laijapang), merupakan penilaian lebih menyeluruh setelah dilaksanakannya layanan dengan selang satu unit waktu tertentu, seperti satu semester.

b.        Penilaian Proses Kegiatan

·           Penilaian dalam kegiatan bimbingan dan konseling dilakukan juga terhadap proses kegiatan dan pengolahannya, yaitu terhadap :

a)        Kegiatan layanan bimbingan dan konseling

b)        Kegiatan pendukung bimbingan dan konseling

c)        Mekanisme dan instrumentasi yang digunakan dalam kegiatan

d)       Pengelolaan dan administrasi kegiatan

·           Hasil penilaian proses digunakan untuk meningkatkan kualitas kegiatan bimbingan dan konseling secara menyeluruh.

B.   Kegiatan Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah

Sebagaimana disebutkan dalam berbagai ketentuan yang dikutip pada awal ini, kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah terutama dibebankan kepada Guru Pembimbing di SMP/SMA,  dan kepada Guru Kelas (di SD). Untuk dapat mengemban dan mengembangkan pelayanan bimbingan dan konseling dengan pengertian, tujuan, fungsi, prinsip, asas, jenis-jenis layanan dan kegiatan pendukung, serta jenis-jenis program sebagaimana dikemukakan di atas, diperlukan tenaga yang benar-benar berkemampuan, baik ditinjau dari personalitasnya maupun profesionalitasnya.

1.    Modal Personal

Modal dasar yang akan menjamin suksesnya penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah adalah  berupa karakter personal yang ada dan dimiliki  oleh tenaga penyelenggara bimbingan dan konseling. Modal personal tersebut adalah :

a.         Berwawasan luas, memiliki pandangan dan pengetahuan yang luas, terutama tentang perkembangan peserta didik pada usia sekoahnya, perkembangan ilmu pengetahuan/teknologi/kesenian dan proses pembelajarannya, serta pengaruh lingkungan dan modernisasi terhadap peserta didik.

b.         Menyayangi anak, memiliki kasih sayang terhadap peserta didik, rasa kasih sayang ini ditampilkan oleh Guru Pembimbing/Guru Kelas benar-benar dari hati sanubarinya (tidak berpura-pura atu dibuat-buat) sehingga peserta didik secara langsung merasakan kasih sayang itu.

c.         Sabar dan bijaksana, tidak mudah marah dan atau mengambil tindakan keras dan emosional yang merugikan peserta didik serta tidak sesuai dengan kepentingan perkembangan mereka, segala tindakan yang diambil Guru Pembimbing/Guru Kelas didasarkan pada pertimbangan yang matang.

d.        Lembut dan baik hati, tutur kata dan tindakan Guru Pembimbing/ Guru Kelas selalu mengenakkan hati, hangat dan suka menolong.

e.         Tekun dan teliti, Guru Pembimbing/Guru Kelas setia menemani tingkah laku dan perkembangan peserta didik sehari-hari dari waktu ke waktu, dengan memperhatikan berbagai aspek yang menyertai tingkah laku dan perkembangan tersebut.

f.          Menjadi contoh, tingkah laku, pemikiran , pendapat dan ucapan-ucapan Guru Pembimbing/Guru Kelas tidak tercela dan mampu menarik peserta didik untuk mengikutinya dengan senang hati dan suka rela.

g.         Tanggap dan mampu mengambil tindakan, Guru Pembimbing/Guru Kelas cepat memberikan perhatian terhadapa apa yang terjadi dan atau mungkin terjadi pada diri peserta didik, serta mengambil tindakan secara tepat untuk mengatasi dan atau mengantisipasi apa yang terjadi dan mungkin apa yang terjadi itu.

h.         Memahami dan bersikarp positif terhadap pelayanan bimbingan dan konseling, Guru Pembimbing/Guru Kelas memahami tujuan serta seluk beluk layanan bimbingan dan konseling dan dengan bersenang hati berusaha sekuat tenaga melaksanakannya secara professional sesuai dengan kepantingan dan perkembangan peserta didik.

2.    Modal Profesional

Modal professional mencakup kemantapan wawasan, pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap dalam bidang kajian pelayanan bimbingan dan konseling. Semuanya itu dapat diperoleh melalui pendidikan dan atau pelatihan khusus dalam program pendidikan bimbingan dan konseling. Dengan modal professional itu, seorang tenaga pembimbing (Guru Pembimbing dan Guru Kelas) akan mampu secara nyata melaksanakan kegiatan bimbingan dan konseling menurut kaidah-kaidah keilmuannya, teknologinya dan kode etik profesionalnya.

Apabila modal personal dan modal profesional tersebut dikembangkan dan dipadukan dalam diri Guru Pembimbing dan Guru Kelas serta diaplikasikan dalam wujud nyata terhadap peserta didik yaitu dalam bentuk kegiatan dan layanan pendukung bimbingan dan konseling, dapat diyakni pelayanan bimbingan dan konseling akan berjalan dengan lancar dan sukses.

3.    Modal Instrumental

Pihak sekolah atau satuan pendidikan perlu menunjang perwujudan kegiatan Guru Pembimbing dan Guru Kelas itu dengan menyediakan berbagai sarana dan prasarana yang merupakan modal instrumental bagi suksesnya bimbingan dan konseling, seperti ruangan yang memadai, perlengkapan kerja sehari-hari, instrument BK dan sarana pendukung lainnya. Dengan kelengkapan instrumental seperti itu kegiatan bimbingan dan konseling akan memperlancar dalam keberhasilannya akan lebih dimungkinkan.

Disamping itu, suasana profesional pengembangan peserta didik secara menyeluruh perlu dikembangkan oleh seluruh personil sekolah. Suasana profesional ini, selain mempersyaratkan teraktualisasinya ketiga jenis modal tersebut, terlebih-lebih lagi adalah terwujudnya saling pengertian, kerjasama dan saling membesarkan diantara seluruh personil sekolah.

800×600

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;}

Program Bimbingan dan Konseling

Program bimbingan dan konseling merupakan kegiatan layanan dan kegiatan pendukung yang akan dilaksanakan pada periode tertentu.

1.      Jenis Program

a.      Program tahunan yang didalamnya meliputi program semesteran dan bulanan yaitu program yang akan dilaksanakan selama satu tahun pelajaran dalam unit semesteran dan bulanan. Program ini mengumpulkan seluruh kegiatan selama satu tahun untuk masing-masing kelas. Program tahunan dipecah menjadi program semesteran dan program semesteran dipecah menjadi program bulanan.

b.     Program bulanan yang didalamnya meliputi program mingguan dan harian, yatiu program yang akan dilaksanakan selama satu bulan dalam unit mingguan dan harian. Program ini mengumpulkan seluruh kegiatan selama satu bulan untuk kurun bulan yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya dengan modifikasi sesuai dengan kebutuhan siswa. Program bulanan merupakan jabaran dari program semesteran, sedangkan program mingguan merupakan jabaran dari program bulanan.

c.      Program harian yaitu program yang akan dilaksanakan pada hari-hari tertentu dalam satu minggu. Program harian merupakan jabaran dari program mingguan untuk kelas tertentu. Program ini dibuat secara teretulis pada satuan layanan (satlan) dan atau kegiatan pendukung (satkung) bimbingan dan konseling.

2.        Unsur-Unsur Program Bimbingan dan Konseling

Program bimbingan dan konseling untuk setiap periode disusun dengan memperhatikan unsur-unsur :

a.       Kebutuhan siswa yang diketahui melalui pengungkapan masalah dan data yang terdapat di dalam himpunan data.

b.      Jumlah siswa asuh yang wajib dibimbing oleh guru pembimbing sebanyak 150 orang (minimal); Kepala sekolah yang berasal dari guru pembimbing sebanyak 40 orang; Wakil kepala sekolah yang berasal dari guru pembimbing sebanyak 75 orang

c.       Bidang-bidang bimbingan (bimbingan pribadi, sosial, belajar dan karir)

d.      Jenis-jenis layanan : layanan orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran, pembelajaran, konseling perorangan, bimbingan kelompok dan konseling kelompok.

e.       Kegitan pendukung : aplikasi instrumentasi, himpunan data, konferensi kasus, kunjungan rumah dan alih tangan kasus.

f.       Volume kegiatan yang diperkirakan sebagai berikut:

1)      Layanan orientasi                                       : 4-6%

2)      Layanan informasi                                     : 10-12%

3)      Layanan penempatan dan penyaluran        : 5-8%

4)      Layanan pembelajaran                               : 12-15%

5)      Layanan konseling perorangan                  : 12-15%

6)      Layanan bimbinga kelompok                     : 15-20%

7)      Layanan konseling kelompok                    : 12-15%

8)      Aplikasi instrument                                    : 4-8%

9)      Konferensi kasus                                        : 5-8%

10)  Kunjungan rumah                                      : 5-8%

11)  Alih tangan kasus                                       : 0-2%

g.      Frekuensi layanan : setiap siswa mendapatkan berbagai layanan minimal lima kali dalam setiap semester, baik layanan dalam format perorangan, kelompok maupun klasikal.

h.      Lama kegiatan : setiap kegiatan (kegiatan layanan dan pendukung) berlangsung sekitar 2 jam.

i.        Waktu kegiatan : kegiatan layanan dan pendukung dilaksanakan pada jam pelajaran sekolah dan diluar jam pelajaran sekolah, sampai 50% dari seluruh kegiatan bimbingan dan konseling, sesuai dengan SK Mendikbud No. 25/O/1995.

j.        Kegiatan khusus : pada semester pertama setiap tahun ajaran baru diselenggarakan layanan orientasi kelas/sekolah bagi siswa baru.

3.        Materi Program

Program bimbingan dan konseling untuk setiap periode berisikan materi yang merupakan sinkronisasi dari unsur-unsur :

a.       Tugas perkembangan siswa yang mendapatkan layanan

b.      Bidang-bidang bimbingan

c.       Jenis-jenis layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling.

Materi-materi tersebut yang meliputi juga materi pendidikan budi pekerti, mengarah kepada pemahaman diri siswa dan lingkungannya. Serta pengembangan diri dan arah karir siswa.

4.        Rincian Program

a.  Program untuk periode yang lebih besar dijabarkan menjadi program-program yang lebih kecil :

1)      Program tahunan dirinci menjasi program semesteran

2)      Program semester dirinci menjadi program bulanan

3)      Program bulanan dirinci menjadi program mingguan

4)      Program mingguan dirinci menjadi program harian

b.  Program harian dirumuskan dalam bentuk program satuan layanan (satlan) dan satuan kegiatan pendukung(satkung) yang masing-masingnya memuat:

1)      Sasaran        :    siswa yang akan dilibatkan dalam kegiatan

2)      Tujuan         :    dirumuskan dalam bentuk kompetensi

3)      Materi         :    isi kegiatan yang dapat mengarahkan tercpapainya kompetensi yang dimaksudkan

4)      Metode       :    cara yang akan ditempuh untuk tercapainya kompetensi yang dimaksudkan

5)      Waktu         :    kapan kegiatan dilakukan

6)      Tempat        :    dimana kegiatan dilakukan

7)      Penilaian     :    bagaimana hasil kegiatan dapat diukur dan diketahui

5.        Tahap-tahap Pelaksanaan Program Satuan Kegiatan

Pelaksanaan program satuan kegiatan yaitu kegiatan layanan dan kegiatan pendukung merupakan ujung tombak kegiatan bimbingan dan konseling secara keseluruhan. Tahap-tahap yang perlu di tempuh adalah :

a.       Tahap perencanaan, program satuan layanan dan kegiatan pendukung direncanakan secara tertulis dengan memuat sasaran, tujuan, materi, metode, waktu, tempat dan rencana penilaian.

b.      Tahap pelaksanaan, program tertulis satuan kegiatan (layanan atau pendukung) dilaksanakan sesuai dengan perencanaannya.

c.       Tahap penilaian, hasil kegiatan diukur dengan nilai.

d.      Tahap analisis hasil, hasil penilaian dianalisis untuk mengetahui aspek-aspek yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut.

e.       Tahap tindak lanjut, hasil kegiatan ditindaklanjuti berdasarkan hasil analisis yang dilakukan sebelumnya, melalui layanan dan atau kegiatan pendukung yang relevan.

6.        Alokasi Waktu dan Jadwal Kegiatan

Kegiatan bimbingan dan konseling dilaksanakan dalam suasana (a) kontak langsung dengan siswa (kegiatan kontak) dan (b) tanpa kontak langsung dengan siswa (kegiatan non- kontak). Kegiatan tersebut perlu dijadwalkan.

a.       Kegiatan yang memerlukan kontak langsung dengan siswa

1)     Semua kegiatan layanan memerlukan kontak langsung dengan siswa, baik  kontak secara langsung, perorangan maupun klasikal.

2)     Kegiatan aplikasi instrumentasi, seperti pengisian angket atau inventori, testing, sosiometri dan juga observasi memerlukan kontak langsung dengan siswa.

3)     Untuk kegiatan melalui kontak langsung dengan siswa diperlukan waktu tersendiri, dengan catatan siswa tidak boleh dirugikan dalam kegiatan belajarnya dengan guru mata pelajaran/guru praktik. Untuk ini perlu dialokasikan waktu tersendiri minimum satu jam dan maksimum dua jam pelajaran satu minggu per kelas, jam pelajaran yang disediakan itu disediakan untuk antara lain melaksanakan: Kegiatan aplikasi instrumentasi; Layanan informasi klasikal; Layanan pembelajaran klasikal; Layanan penempatan/penyaluiran klasikal; Evaluasi klasikal kegiatan bimbingan dan konseling minggu sebelumnya serta perencanaan kegiatan minggu berikutnya

b.      Kegiatan layanan orientasi, konseling perorangan, bimbingan kelompok, dan konseling kelompok dilaksanakan di luar jam pelajaran sekolah. Kegiatan diluar jam pelajaran sekolah ini dapat mencapai 50% dari seluruh kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah (SK Mendikbud No. 25/O/1995)

c.       Kegiatan tanpa kontak langsung dengan siswa

1)     Kegiatan seperti pengelolaan himpunan data, pengolahan hasil aplikasi instrumentasi, penyiapan alat/bahan bimbingan, konferensi kasus, kunjungan rumah, pengolahan hasil belajar siswa sebagai bahan bimbingan, pengelolaan administrasi bimbingan dan konseling, termasuk pengelolaan alih tangan kasus, serta penyusunan rencana dan laporan kegiatan bimbingan dan konseling sehari-hari dilaksanakan tanpa kontak langsung dengan siswa.

2)     Kegiatan non kontak itu dapat dilaksanakan pada jam-jam pelajaran di sekolah.

d.      Hak panggil,

                        Untuk melaksanakan layanan bimbingan dan konseling guru pembimbing memiliki hak panggil terhadap siswa asuh yang menjadi tanggung jawabnya, dengan catatan siswa yang dipanggil tidak boleh dirugikian dalam mengikuti mata pelajarannya.

e.       Jadwal Kegiatan

a)        Kegiatankontak baik diluar maupun didalam jam pelajaran sekolah dan kegiatan non-kontak di dalam maupun diluar jam pelajaran sekolah oleh guru pembimbing dijadwalkan dan rencana kegiatannya disusun secara tertulis, hal itu semua diketahui/disetujui Kepala Sekolah.

b)        Kegaitan didalam dan diluar jam pelajaran sekolah diatur sedemikian rupa dengan memperhatikan :

c)        Jam wajib bekerja guru pembimbing

d)       Keseimbangan kehadiran guru pembimbing di sekolah pada jam pelajaran sekolah dan luar jam pelajaran sekolah

f.       Kegiatan kontak dan non-kontak serta rencana-rencana kegiatannya disampaikan oleh guru pembimbing kepada para siswa secara jelas serta diketahui dan mendapat peneguhan oleh kepala sekolah.

2.    Penilaian Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah

Sebagai upaya pendidikan, khususnya dalam rangka pengembangan kompetensi siswa, hasil-hasil layanan bimbingan dan konseling baik dinilai baik melalui penilaian terhadap hasil layanan maupun proses pelaksanaannya. Penilaian ini selanjutnya dapat dipakai untuk melihat keefektifan layanan di satu sisi dan sebagai dasar pertimbangan bagi pengembangannya di sisi lain.

a.        Penilaian Hasil Layanan

1)Untuk mengetahui keberhasilan layanan dilakukan penilaian, dengan penilaian ini dapat diketahui apakah layanan tersebut efektif dan dapat membawa dampak positif terhadap siswa yang mendapatkan layanan.

2)Penilaian ditunjukan oleh perolehan siswa yang menjalani layanan. Perolehan diorientasikan pada:

a)        Pengentasan masalah siswa, sejauh manakan perolehan siswa menunjang bagi pengentasan masalahnya? Perolehan itu diharapkan dapat lebih menunjang terbinanya tingkah laku positif, khususnya berkenaan dengan masalah dan perkembangan diri siswa.

b)        Perkembangan aspek-aspek kepribadian siswa, seperti sikap, motivasi, kebiasaan, keterampilan dan keberhasilan belajar, konsep dirinyapun berkomunikasi, kreatifitas, apresiasi terhadap nilai dan moral.

3)     Secara khusus focus penilaian diarahkan kepada berkembangnya :

a)        Pemahaman baru yang diperoleh melalui layanan, dalam kaitannya dengan masalah yang dibahas.

b)        Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan.

c)        Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh siswa sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya.

Semua fokus penilaian itu, khususnya rencana kegiatan secara jelas mengacu pada kompetensi yang diaplikasikan siswa untuk pengentasan masalah yang dihadapinya dalam rangka kehidupan sehari-hari yang lebih efektif.

4)     Penilaian dapat dilakukan melalui :

a)        Format individual, kelompok dan atau klasikal.

b)        Media lisan dan atau tulisan.

c)        Penggunaan panduan dan atau instrument baku dan atau yang disusun sendiri oleh guru pembimbing.

5)     Tahap-tahap penilaian meliputi :

a)        Penilaian segera (laiseg), merupakan penilaian tahap awal yang dilakukan segera setelah atau menjelang diakhirnya layanan yang dimaksud.

b)        Penilaian jangka pendek (laijapen), merupakan penilaian lanjutan yang dilakukan setelah satu (atau lebih) jenis layanan dilaksanakan selang beberapa hari sampai paling lama satu bulan.

c)        Penilaian jangka panjang (laijapang), merupakan penilaian lebih menyeluruh setelah dilaksanakannya layanan dengan selang satu unit waktu tertentu, seperti satu semester.

b.        Penilaian Proses Kegiatan

·           Penilaian dalam kegiatan bimbingan dan konseling dilakukan juga terhadap proses kegiatan dan pengolahannya, yaitu terhadap :

a)        Kegiatan layanan bimbingan dan konseling

b)        Kegiatan pendukung bimbingan dan konseling

c)        Mekanisme dan instrumentasi yang digunakan dalam kegiatan

d)       Pengelolaan dan administrasi kegiatan

·           Hasil penilaian proses digunakan untuk meningkatkan kualitas kegiatan bimbingan dan konseling secara menyeluruh.

B.   Kegiatan Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah

Sebagaimana disebutkan dalam berbagai ketentuan yang dikutip pada awal ini, kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah terutama dibebankan kepada Guru Pembimbing di SMP/SMA,  dan kepada Guru Kelas (di SD). Untuk dapat mengemban dan mengembangkan pelayanan bimbingan dan konseling dengan pengertian, tujuan, fungsi, prinsip, asas, jenis-jenis layanan dan kegiatan pendukung, serta jenis-jenis program sebagaimana dikemukakan di atas, diperlukan tenaga yang benar-benar berkemampuan, baik ditinjau dari personalitasnya maupun profesionalitasnya.

1.    Modal Personal

Modal dasar yang akan menjamin suksesnya penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah adalah  berupa karakter personal yang ada dan dimiliki  oleh tenaga penyelenggara bimbingan dan konseling. Modal personal tersebut adalah :

a.         Berwawasan luas, memiliki pandangan dan pengetahuan yang luas, terutama tentang perkembangan peserta didik pada usia sekoahnya, perkembangan ilmu pengetahuan/teknologi/kesenian dan proses pembelajarannya, serta pengaruh lingkungan dan modernisasi terhadap peserta didik.

b.         Menyayangi anak, memiliki kasih sayang terhadap peserta didik, rasa kasih sayang ini ditampilkan oleh Guru Pembimbing/Guru Kelas benar-benar dari hati sanubarinya (tidak berpura-pura atu dibuat-buat) sehingga peserta didik secara langsung merasakan kasih sayang itu.

c.         Sabar dan bijaksana, tidak mudah marah dan atau mengambil tindakan keras dan emosional yang merugikan peserta didik serta tidak sesuai dengan kepentingan perkembangan mereka, segala tindakan yang diambil Guru Pembimbing/Guru Kelas didasarkan pada pertimbangan yang matang.

d.        Lembut dan baik hati, tutur kata dan tindakan Guru Pembimbing/ Guru Kelas selalu mengenakkan hati, hangat dan suka menolong.

e.         Tekun dan teliti, Guru Pembimbing/Guru Kelas setia menemani tingkah laku dan perkembangan peserta didik sehari-hari dari waktu ke waktu, dengan memperhatikan berbagai aspek yang menyertai tingkah laku dan perkembangan tersebut.

f.          Menjadi contoh, tingkah laku, pemikiran , pendapat dan ucapan-ucapan Guru Pembimbing/Guru Kelas tidak tercela dan mampu menarik peserta didik untuk mengikutinya dengan senang hati dan suka rela.

g.         Tanggap dan mampu mengambil tindakan, Guru Pembimbing/Guru Kelas cepat memberikan perhatian terhadapa apa yang terjadi dan atau mungkin terjadi pada diri peserta didik, serta mengambil tindakan secara tepat untuk mengatasi dan atau mengantisipasi apa yang terjadi dan mungkin apa yang terjadi itu.

h.         Memahami dan bersikarp positif terhadap pelayanan bimbingan dan konseling, Guru Pembimbing/Guru Kelas memahami tujuan serta seluk beluk layanan bimbingan dan konseling dan dengan bersenang hati berusaha sekuat tenaga melaksanakannya secara professional sesuai dengan kepantingan dan perkembangan peserta didik.

2.    Modal Profesional

Modal professional mencakup kemantapan wawasan, pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap dalam bidang kajian pelayanan bimbingan dan konseling. Semuanya itu dapat diperoleh melalui pendidikan dan atau pelatihan khusus dalam program pendidikan bimbingan dan konseling. Dengan modal professional itu, seorang tenaga pembimbing (Guru Pembimbing dan Guru Kelas) akan mampu secara nyata melaksanakan kegiatan bimbingan dan konseling menurut kaidah-kaidah keilmuannya, teknologinya dan kode etik profesionalnya.

Apabila modal personal dan modal profesional tersebut dikembangkan dan dipadukan dalam diri Guru Pembimbing dan Guru Kelas serta diaplikasikan dalam wujud nyata terhadap peserta didik yaitu dalam bentuk kegiatan dan layanan pendukung bimbingan dan konseling, dapat diyakni pelayanan bimbingan dan konseling akan berjalan dengan lancar dan sukses.

3.    Modal Instrumental

Pihak sekolah atau satuan pendidikan perlu menunjang perwujudan kegiatan Guru Pembimbing dan Guru Kelas itu dengan menyediakan berbagai sarana dan prasarana yang merupakan modal instrumental bagi suksesnya bimbingan dan konseling, seperti ruangan yang memadai, perlengkapan kerja sehari-hari, instrument BK dan sarana pendukung lainnya. Dengan kelengkapan instrumental seperti itu kegiatan bimbingan dan konseling akan memperlancar dalam keberhasilannya akan lebih dimungkinkan.

Disamping itu, suasana profesional pengembangan peserta didik secara menyeluruh perlu dikembangkan oleh seluruh personil sekolah. Suasana profesional ini, selain mempersyaratkan teraktualisasinya ketiga jenis modal tersebut, terlebih-lebih lagi adalah terwujudnya saling pengertian, kerjasama dan saling membesarkan diantara seluruh personil sekolah.

 

800×600

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;}

Program Bimbingan dan Konseling

Program bimbingan dan konseling merupakan kegiatan layanan dan kegiatan pendukung yang akan dilaksanakan pada periode tertentu.

1.      Jenis Program

a.      Program tahunan yang didalamnya meliputi program semesteran dan bulanan yaitu program yang akan dilaksanakan selama satu tahun pelajaran dalam unit semesteran dan bulanan. Program ini mengumpulkan seluruh kegiatan selama satu tahun untuk masing-masing kelas. Program tahunan dipecah menjadi program semesteran dan program semesteran dipecah menjadi program bulanan.

b.     Program bulanan yang didalamnya meliputi program mingguan dan harian, yatiu program yang akan dilaksanakan selama satu bulan dalam unit mingguan dan harian. Program ini mengumpulkan seluruh kegiatan selama satu bulan untuk kurun bulan yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya dengan modifikasi sesuai dengan kebutuhan siswa. Program bulanan merupakan jabaran dari program semesteran, sedangkan program mingguan merupakan jabaran dari program bulanan.

c.      Program harian yaitu program yang akan dilaksanakan pada hari-hari tertentu dalam satu minggu. Program harian merupakan jabaran dari program mingguan untuk kelas tertentu. Program ini dibuat secara teretulis pada satuan layanan (satlan) dan atau kegiatan pendukung (satkung) bimbingan dan konseling.

2.        Unsur-Unsur Program Bimbingan dan Konseling

Program bimbingan dan konseling untuk setiap periode disusun dengan memperhatikan unsur-unsur :

a.       Kebutuhan siswa yang diketahui melalui pengungkapan masalah dan data yang terdapat di dalam himpunan data.

b.      Jumlah siswa asuh yang wajib dibimbing oleh guru pembimbing sebanyak 150 orang (minimal); Kepala sekolah yang berasal dari guru pembimbing sebanyak 40 orang; Wakil kepala sekolah yang berasal dari guru pembimbing sebanyak 75 orang

c.       Bidang-bidang bimbingan (bimbingan pribadi, sosial, belajar dan karir)

d.      Jenis-jenis layanan : layanan orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran, pembelajaran, konseling perorangan, bimbingan kelompok dan konseling kelompok.

e.       Kegitan pendukung : aplikasi instrumentasi, himpunan data, konferensi kasus, kunjungan rumah dan alih tangan kasus.

f.       Volume kegiatan yang diperkirakan sebagai berikut:

1)      Layanan orientasi                                       : 4-6%

2)      Layanan informasi                                     : 10-12%

3)      Layanan penempatan dan penyaluran        : 5-8%

4)      Layanan pembelajaran                               : 12-15%

5)      Layanan konseling perorangan                  : 12-15%

6)      Layanan bimbinga kelompok                     : 15-20%

7)      Layanan konseling kelompok                    : 12-15%

8)      Aplikasi instrument                                    : 4-8%

9)      Konferensi kasus                                        : 5-8%

10)  Kunjungan rumah                                      : 5-8%

11)  Alih tangan kasus                                       : 0-2%

g.      Frekuensi layanan : setiap siswa mendapatkan berbagai layanan minimal lima kali dalam setiap semester, baik layanan dalam format perorangan, kelompok maupun klasikal.

h.      Lama kegiatan : setiap kegiatan (kegiatan layanan dan pendukung) berlangsung sekitar 2 jam.

i.        Waktu kegiatan : kegiatan layanan dan pendukung dilaksanakan pada jam pelajaran sekolah dan diluar jam pelajaran sekolah, sampai 50% dari seluruh kegiatan bimbingan dan konseling, sesuai dengan SK Mendikbud No. 25/O/1995.

j.        Kegiatan khusus : pada semester pertama setiap tahun ajaran baru diselenggarakan layanan orientasi kelas/sekolah bagi siswa baru.

3.        Materi Program

Program bimbingan dan konseling untuk setiap periode berisikan materi yang merupakan sinkronisasi dari unsur-unsur :

a.       Tugas perkembangan siswa yang mendapatkan layanan

b.      Bidang-bidang bimbingan

c.       Jenis-jenis layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling.

Materi-materi tersebut yang meliputi juga materi pendidikan budi pekerti, mengarah kepada pemahaman diri siswa dan lingkungannya. Serta pengembangan diri dan arah karir siswa.

4.        Rincian Program

a.  Program untuk periode yang lebih besar dijabarkan menjadi program-program yang lebih kecil :

1)      Program tahunan dirinci menjasi program semesteran

2)      Program semester dirinci menjadi program bulanan

3)      Program bulanan dirinci menjadi program mingguan

4)      Program mingguan dirinci menjadi program harian

b.  Program harian dirumuskan dalam bentuk program satuan layanan (satlan) dan satuan kegiatan pendukung(satkung) yang masing-masingnya memuat:

1)      Sasaran        :    siswa yang akan dilibatkan dalam kegiatan

2)      Tujuan         :    dirumuskan dalam bentuk kompetensi

3)      Materi         :    isi kegiatan yang dapat mengarahkan tercpapainya kompetensi yang dimaksudkan

4)      Metode       :    cara yang akan ditempuh untuk tercapainya kompetensi yang dimaksudkan

5)      Waktu         :    kapan kegiatan dilakukan

6)      Tempat        :    dimana kegiatan dilakukan

7)      Penilaian     :    bagaimana hasil kegiatan dapat diukur dan diketahui

5.        Tahap-tahap Pelaksanaan Program Satuan Kegiatan

Pelaksanaan program satuan kegiatan yaitu kegiatan layanan dan kegiatan pendukung merupakan ujung tombak kegiatan bimbingan dan konseling secara keseluruhan. Tahap-tahap yang perlu di tempuh adalah :

a.       Tahap perencanaan, program satuan layanan dan kegiatan pendukung direncanakan secara tertulis dengan memuat sasaran, tujuan, materi, metode, waktu, tempat dan rencana penilaian.

b.      Tahap pelaksanaan, program tertulis satuan kegiatan (layanan atau pendukung) dilaksanakan sesuai dengan perencanaannya.

c.       Tahap penilaian, hasil kegiatan diukur dengan nilai.

d.      Tahap analisis hasil, hasil penilaian dianalisis untuk mengetahui aspek-aspek yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut.

e.       Tahap tindak lanjut, hasil kegiatan ditindaklanjuti berdasarkan hasil analisis yang dilakukan sebelumnya, melalui layanan dan atau kegiatan pendukung yang relevan.

6.        Alokasi Waktu dan Jadwal Kegiatan

Kegiatan bimbingan dan konseling dilaksanakan dalam suasana (a) kontak langsung dengan siswa (kegiatan kontak) dan (b) tanpa kontak langsung dengan siswa (kegiatan non- kontak). Kegiatan tersebut perlu dijadwalkan.

a.       Kegiatan yang memerlukan kontak langsung dengan siswa

1)     Semua kegiatan layanan memerlukan kontak langsung dengan siswa, baik  kontak secara langsung, perorangan maupun klasikal.

2)     Kegiatan aplikasi instrumentasi, seperti pengisian angket atau inventori, testing, sosiometri dan juga observasi memerlukan kontak langsung dengan siswa.

3)     Untuk kegiatan melalui kontak langsung dengan siswa diperlukan waktu tersendiri, dengan catatan siswa tidak boleh dirugikan dalam kegiatan belajarnya dengan guru mata pelajaran/guru praktik. Untuk ini perlu dialokasikan waktu tersendiri minimum satu jam dan maksimum dua jam pelajaran satu minggu per kelas, jam pelajaran yang disediakan itu disediakan untuk antara lain melaksanakan: Kegiatan aplikasi instrumentasi; Layanan informasi klasikal; Layanan pembelajaran klasikal; Layanan penempatan/penyaluiran klasikal; Evaluasi klasikal kegiatan bimbingan dan konseling minggu sebelumnya serta perencanaan kegiatan minggu berikutnya

b.      Kegiatan layanan orientasi, konseling perorangan, bimbingan kelompok, dan konseling kelompok dilaksanakan di luar jam pelajaran sekolah. Kegiatan diluar jam pelajaran sekolah ini dapat mencapai 50% dari seluruh kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah (SK Mendikbud No. 25/O/1995)

c.       Kegiatan tanpa kontak langsung dengan siswa

1)     Kegiatan seperti pengelolaan himpunan data, pengolahan hasil aplikasi instrumentasi, penyiapan alat/bahan bimbingan, konferensi kasus, kunjungan rumah, pengolahan hasil belajar siswa sebagai bahan bimbingan, pengelolaan administrasi bimbingan dan konseling, termasuk pengelolaan alih tangan kasus, serta penyusunan rencana dan laporan kegiatan bimbingan dan konseling sehari-hari dilaksanakan tanpa kontak langsung dengan siswa.

2)     Kegiatan non kontak itu dapat dilaksanakan pada jam-jam pelajaran di sekolah.

d.      Hak panggil,

                        Untuk melaksanakan layanan bimbingan dan konseling guru pembimbing memiliki hak panggil terhadap siswa asuh yang menjadi tanggung jawabnya, dengan catatan siswa yang dipanggil tidak boleh dirugikian dalam mengikuti mata pelajarannya.

e.       Jadwal Kegiatan

a)        Kegiatankontak baik diluar maupun didalam jam pelajaran sekolah dan kegiatan non-kontak di dalam maupun diluar jam pelajaran sekolah oleh guru pembimbing dijadwalkan dan rencana kegiatannya disusun secara tertulis, hal itu semua diketahui/disetujui Kepala Sekolah.

b)        Kegaitan didalam dan diluar jam pelajaran sekolah diatur sedemikian rupa dengan memperhatikan :

c)        Jam wajib bekerja guru pembimbing

d)       Keseimbangan kehadiran guru pembimbing di sekolah pada jam pelajaran sekolah dan luar jam pelajaran sekolah

f.       Kegiatan kontak dan non-kontak serta rencana-rencana kegiatannya disampaikan oleh guru pembimbing kepada para siswa secara jelas serta diketahui dan mendapat peneguhan oleh kepala sekolah.

2.    Penilaian Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah

Sebagai upaya pendidikan, khususnya dalam rangka pengembangan kompetensi siswa, hasil-hasil layanan bimbingan dan konseling baik dinilai baik melalui penilaian terhadap hasil layanan maupun proses pelaksanaannya. Penilaian ini selanjutnya dapat dipakai untuk melihat keefektifan layanan di satu sisi dan sebagai dasar pertimbangan bagi pengembangannya di sisi lain.

a.        Penilaian Hasil Layanan

1)Untuk mengetahui keberhasilan layanan dilakukan penilaian, dengan penilaian ini dapat diketahui apakah layanan tersebut efektif dan dapat membawa dampak positif terhadap siswa yang mendapatkan layanan.

2)Penilaian ditunjukan oleh perolehan siswa yang menjalani layanan. Perolehan diorientasikan pada:

a)        Pengentasan masalah siswa, sejauh manakan perolehan siswa menunjang bagi pengentasan masalahnya? Perolehan itu diharapkan dapat lebih menunjang terbinanya tingkah laku positif, khususnya berkenaan dengan masalah dan perkembangan diri siswa.

b)        Perkembangan aspek-aspek kepribadian siswa, seperti sikap, motivasi, kebiasaan, keterampilan dan keberhasilan belajar, konsep dirinyapun berkomunikasi, kreatifitas, apresiasi terhadap nilai dan moral.

3)     Secara khusus focus penilaian diarahkan kepada berkembangnya :

a)        Pemahaman baru yang diperoleh melalui layanan, dalam kaitannya dengan masalah yang dibahas.

b)        Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan.

c)        Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh siswa sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya.

Semua fokus penilaian itu, khususnya rencana kegiatan secara jelas mengacu pada kompetensi yang diaplikasikan siswa untuk pengentasan masalah yang dihadapinya dalam rangka kehidupan sehari-hari yang lebih efektif.

4)     Penilaian dapat dilakukan melalui :

a)        Format individual, kelompok dan atau klasikal.

b)        Media lisan dan atau tulisan.

c)        Penggunaan panduan dan atau instrument baku dan atau yang disusun sendiri oleh guru pembimbing.

5)     Tahap-tahap penilaian meliputi :

a)        Penilaian segera (laiseg), merupakan penilaian tahap awal yang dilakukan segera setelah atau menjelang diakhirnya layanan yang dimaksud.

b)        Penilaian jangka pendek (laijapen), merupakan penilaian lanjutan yang dilakukan setelah satu (atau lebih) jenis layanan dilaksanakan selang beberapa hari sampai paling lama satu bulan.

c)        Penilaian jangka panjang (laijapang), merupakan penilaian lebih menyeluruh setelah dilaksanakannya layanan dengan selang satu unit waktu tertentu, seperti satu semester.

b.        Penilaian Proses Kegiatan

·           Penilaian dalam kegiatan bimbingan dan konseling dilakukan juga terhadap proses kegiatan dan pengolahannya, yaitu terhadap :

a)        Kegiatan layanan bimbingan dan konseling

b)        Kegiatan pendukung bimbingan dan konseling

c)        Mekanisme dan instrumentasi yang digunakan dalam kegiatan

d)       Pengelolaan dan administrasi kegiatan

·           Hasil penilaian proses digunakan untuk meningkatkan kualitas kegiatan bimbingan dan konseling secara menyeluruh.

B.   Kegiatan Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah

Sebagaimana disebutkan dalam berbagai ketentuan yang dikutip pada awal ini, kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah terutama dibebankan kepada Guru Pembimbing di SMP/SMA,  dan kepada Guru Kelas (di SD). Untuk dapat mengemban dan mengembangkan pelayanan bimbingan dan konseling dengan pengertian, tujuan, fungsi, prinsip, asas, jenis-jenis layanan dan kegiatan pendukung, serta jenis-jenis program sebagaimana dikemukakan di atas, diperlukan tenaga yang benar-benar berkemampuan, baik ditinjau dari personalitasnya maupun profesionalitasnya.

1.    Modal Personal

Modal dasar yang akan menjamin suksesnya penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah adalah  berupa karakter personal yang ada dan dimiliki  oleh tenaga penyelenggara bimbingan dan konseling. Modal personal tersebut adalah :

a.         Berwawasan luas, memiliki pandangan dan pengetahuan yang luas, terutama tentang perkembangan peserta didik pada usia sekoahnya, perkembangan ilmu pengetahuan/teknologi/kesenian dan proses pembelajarannya, serta pengaruh lingkungan dan modernisasi terhadap peserta didik.

b.         Menyayangi anak, memiliki kasih sayang terhadap peserta didik, rasa kasih sayang ini ditampilkan oleh Guru Pembimbing/Guru Kelas benar-benar dari hati sanubarinya (tidak berpura-pura atu dibuat-buat) sehingga peserta didik secara langsung merasakan kasih sayang itu.

c.         Sabar dan bijaksana, tidak mudah marah dan atau mengambil tindakan keras dan emosional yang merugikan peserta didik serta tidak sesuai dengan kepentingan perkembangan mereka, segala tindakan yang diambil Guru Pembimbing/Guru Kelas didasarkan pada pertimbangan yang matang.

d.        Lembut dan baik hati, tutur kata dan tindakan Guru Pembimbing/ Guru Kelas selalu mengenakkan hati, hangat dan suka menolong.

e.         Tekun dan teliti, Guru Pembimbing/Guru Kelas setia menemani tingkah laku dan perkembangan peserta didik sehari-hari dari waktu ke waktu, dengan memperhatikan berbagai aspek yang menyertai tingkah laku dan perkembangan tersebut.

f.          Menjadi contoh, tingkah laku, pemikiran , pendapat dan ucapan-ucapan Guru Pembimbing/Guru Kelas tidak tercela dan mampu menarik peserta didik untuk mengikutinya dengan senang hati dan suka rela.

g.         Tanggap dan mampu mengambil tindakan, Guru Pembimbing/Guru Kelas cepat memberikan perhatian terhadapa apa yang terjadi dan atau mungkin terjadi pada diri peserta didik, serta mengambil tindakan secara tepat untuk mengatasi dan atau mengantisipasi apa yang terjadi dan mungkin apa yang terjadi itu.

h.         Memahami dan bersikarp positif terhadap pelayanan bimbingan dan konseling, Guru Pembimbing/Guru Kelas memahami tujuan serta seluk beluk layanan bimbingan dan konseling dan dengan bersenang hati berusaha sekuat tenaga melaksanakannya secara professional sesuai dengan kepantingan dan perkembangan peserta didik.

2.    Modal Profesional

Modal professional mencakup kemantapan wawasan, pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap dalam bidang kajian pelayanan bimbingan dan konseling. Semuanya itu dapat diperoleh melalui pendidikan dan atau pelatihan khusus dalam program pendidikan bimbingan dan konseling. Dengan modal professional itu, seorang tenaga pembimbing (Guru Pembimbing dan Guru Kelas) akan mampu secara nyata melaksanakan kegiatan bimbingan dan konseling menurut kaidah-kaidah keilmuannya, teknologinya dan kode etik profesionalnya.

Apabila modal personal dan modal profesional tersebut dikembangkan dan dipadukan dalam diri Guru Pembimbing dan Guru Kelas serta diaplikasikan dalam wujud nyata terhadap peserta didik yaitu dalam bentuk kegiatan dan layanan pendukung bimbingan dan konseling, dapat diyakni pelayanan bimbingan dan konseling akan berjalan dengan lancar dan sukses.

3.    Modal Instrumental

Pihak sekolah atau satuan pendidikan perlu menunjang perwujudan kegiatan Guru Pembimbing dan Guru Kelas itu dengan menyediakan berbagai sarana dan prasarana yang merupakan modal instrumental bagi suksesnya bimbingan dan konseling, seperti ruangan yang memadai, perlengkapan kerja sehari-hari, instrument BK dan sarana pendukung lainnya. Dengan kelengkapan instrumental seperti itu kegiatan bimbingan dan konseling akan memperlancar dalam keberhasilannya akan lebih dimungkinkan.

Disamping itu, suasana profesional pengembangan peserta didik secara menyeluruh perlu dikembangkan oleh seluruh personil sekolah. Suasana profesional ini, selain mempersyaratkan teraktualisasinya ketiga jenis modal tersebut, terlebih-lebih lagi adalah terwujudnya saling pengertian, kerjasama dan saling membesarkan diantara seluruh personil sekolah.

 

 

 

CARA MENULIS DAFTAR PUSTAKA


DAFTAR PUSTAKA

061102 DSCI0002Sebuah proposal penelitian atau laporan penelitian harus dilengkapi dengan daftar pustaka yang merupakan sumber referensi bagi seluruh kegiatan penelitian. Pada hakikatnya daftar pustaka merupakan inventarisasi dari seluruh publikasi ilmiah maupun non iimiah serta hasil-hasil penelitian yang dipergunakan sebagai dasar bagi pengkajian yang dilakukan. Daftar pustaka antara lain merangkum unsur: (1) nama pengarang tanpa gelar akademik, (2) tahun terbit menggunakan angka Arab, (3) judul berupa buku dicetak miring, setiap kata diawali dengan huruf kapital kecuali kata tugas (di, ke, dari, untuk, dalam, dsb),  (4) kota tempat, dan (5) nama penerbit. Yang tercantum hanyalah pustaka yang digunakan dalam menyususn proposal/laporan penelitian. Berikut ini akan dijelaskan tata cara penulisan daftar kepustakaan, berdasarkan sumber yang digunakan.

Sumber berupa Buku

1)    Penulis 1 (satu) orang menulis hanya 1 (satu) buku.

Contoh:

Budiono. 2005. Biologi Sel. Jakarta: Erlangga.

2)    Penulis 1 (satu) orang menulis lebih dari 1 (satu) buku.

Contoh:

Syarifuddin. 2003. Pengantar Statistika. Bandung: Alfa Beta

______________. 2005. Statistika Dasar. Jakarta: Gramedia

3)    Penulis 2 (dua) orang, nama orang kedua tidak dibalik.

Contoh:

Sulihin, Muhammad dan MuhaiminIskandar. 2009. Metode Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: PT. Gajah Press.

4)    Penulis 3 (tiga) orang atau lebih yang ditulis hanya nama orang pertama saja. Nama penulis lainnya diganti menggunakan et.al atau dkk.

Contoh

Wardani,dkk. 2007. Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT. Angkasa.

5)    Penulis buku adalah editor, jika editornya 1 (satu) orang dibelakang namanya ditambah (ed.), jika dua orang atau lebih ditambah (eds.)

Contoh:

Sukertayasa (ed.). 2010. Pendidikan Kewiraan. Denpasar: PT Duta Press.

Parmithi dan Subrata (eds.). 2011. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Erlangga

 

 

Sumber berupa Artikel

Artikel bisa dimuat dalam sebuah buku, jurnal, majalah, atau koran. Judul artikel ditempatkan diantara tanda petik rangkap (“………..”).

Contoh:

Hassan, MZ. 1990. “Karakteristik Penelitian Kualitatif”. Dalam ANEKA WIDYA, Edisi Khusus (hal. 89-91).

Rudianto, Elia. 1996. “Peranan Otonomi Daerah dalam Era Globalisasi”. KOMPAS, 11 Desember 1996, hal. 4, kolom 3-8.

Terjemahan

Tuliskan secara berurutan: 1) nama pengarang asli, 2) tahun penerbitan terjemahan, 3) judul terjemahan, 4) tambahkan kata Terjemahan, 5) nama penerjemah, 6) judul asli, 7) tahun penerbitan asli, 8) kota penerbit asli, dan 9) nama penerbit asli.

Contoh:

Polumin, Ivant et.al. 1979. Kehidupan di dalam Air; Khasanah Pengetahuan bagi Anak-anak. Terjemahan Waluto Sabani. Underwriter Life. 1975. Jakarta: Tira Pustaka.

Sumber berupa Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, dan sejenisnya

Contoh:

Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas.

Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.Jakarta: Depdiknas.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No.16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi dan Kompetensi Guru. Jakarta: Depdiknas.

 Sumber dari internet

Tuliskan secara berurutan: 1) nama penulis, 2) judul tulisan ditulis diantara tanda petik rangkap (“………………”) tidak dicetak miring, 3) alamat mengunduh, dicetak miring.

Contoh:

Cairns, Len, “Capability Going Beyond Competence”, http://www.lle.mdx.ac.uk/hec/journal/2-2/3-5.htm.

Copeland, Jack, “What is Artificial Intelligence?”, http://www.alanturing.net.pages/Reference%20.Articles/What%20is%20.AI.html.

 

 

Jurnal

Contoh:

Natajaya, I Nyoman, Faktor Biaya Sebagai Masukan dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan, Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 1 Tahun XXXVI Januari 2003.

Makalah/Paper

Candiasa, I Made, Policy Analysis On The Improvement of Educational Quality, Paper, disajikan pada Seminar Internasional “Succesing in a Globalizing World” Tanggal 6-8 November 2007 Di Jakarta.

Koyan, I Wayan, Evaluasi Pembelajaran dalam Pendidikan Berbasis Kompetensi, Makalah, disajikan pada Konaspi V Tanggal 4-8 Oktober 2004 Di Surabaya.

Skripsi/Tesis/Disertasi

Bawa Atmaja, I Nengah, Memudarnya Budaya Demokrasi Desa, Disertasi, Program Pascasarjana Universitas Indonesia. 1998.

Fauzan, Pengembangan Tes Baku Kecerdasan Emosi, Tesis, Program Pascasarjana IKIP Negeri Singaraja, 2005.

SUMBER : WIDANA, 2012 BUMTEK PTK/PTS

PERBEDAAN RPP SIKLUS I DAN II PADA PENELITIAN TINDAKAN KELAS


MODEL JIGSAW

 RPP SIKLUS I

a.       Kegiatan awal

1)      Guru menyampaikan apersepsi terkait dengan materi (………).

2)Guru memberikan motivasi kepada siswa, melalui penjelasan pentingnya pemahaman tentang materi (….), sertamenjelaskanteknispembelajarankooperatiftipeJigsaw.

3)      Guru menyampaikantujuanpembelajaran.

b.      Kegiatan inti

1)      Eksplorasi:

a)    Guru membentuk siswa menjadi 8 kelompok (setiap kelompok terdiri dari 4-5 orang), selanjutnya disebut sebagai sebagai kelompok asal.

b)    Guru memberikan masalah yang berbeda pada setiap anggota kelompok asal.

c)    Guru mengarahkan setiap anggota kelompok asal yang mendapatkan tugas sejenis dengan anggota kelompok lainnya membentuk kelompok baru yang disebut kelompok ahli.

2)      Elaborasi:

a)    Dalam kelompok ahli, siswa menulis dan mendiskusikan temuannya dari hasil membaca berbagai literatur yang relevan.

b)   Selanjutnya, dalam waktu yang telah ditentukan siswa dalam kelompok ahli diarahkan oleh guru menuju kelompok asal untuk menjelaskan temuannya dalam kelompok ahli, kepada anggota kelompok asal.

c)    Guru memfasilitasi diskusi dalam kelompok asal, sehingga setiap anggota kelompok memperoleh kesempatan menjelaskan atau mempresentasikan temuannya dalam kelompok ahli.

3).     Konfirmasi:

a)    Guru memberikan penguatan terhadap temuan siswa yang benar.

b)   Guru memberikan penjelasan/meluruskan temuan siswa yang kurang tepat.

c.         Penutup

1)      Guru mengarahkan siswa untuk membuat simpulan

2)      Guru memberikan PR kepada siswa.

Guru menginformasikan rencana kegiatan pada pertemuan berikutnya

RPP SIKLUS II

a.       Kegiatan awal

1)      Apersepsi: guru menegaskankembalilangkah-langkahpembelajaran model kooperatiftipejigsaw.

2)Guru memberikan motivasi kepada siswa yang kurang aktif dalam pembelajaran siklus I agar lebih serius dalam mengikuti pembelajaran, serta tetap memberikan semangat kepada siswa yang sudah berhasil dalam pembelajaran pada siklus I.

3)      Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.

b.      Kegiatan inti

1)      Eksplorasi:

a)     Guru menugaskan siswa untuk menujuk elompok yang telah dibentuk sebelumnya yaitu 8 kelompok dimana setiap kelompok terdiri dari 4-5 orang, selanjutnya disebut sebagai sebagai kelompok asal.

b)    Kelompok yang dibentuk pada siklus II ditata kembali disesuaikan dengan kondisi/kendala yang dijumpai pada siklus I.

c)     Guru memberikan masalah yang berbeda pada setiap anggota kelompok asal.

d)    Guru mengarahkan setiap anggota kelompok asal yang mendapatkan tugas sejenis dengan anggota kelompok lainnya membentuk kelompok baru yang disebut kelompok ahli.

Guru meningkatkan pengawasan agar diskusi dapat berjalan lebih baik dibandingkan dengan siklus I. Bantuan individual diberikan kepada siswa yang mengalami masalah dalam penguasaan materi

a)     diampunya.

b)     Dalam kelompok ahli, guru menugaskan siswa membaca berbagai literatur yang terkait dengan materi (Susila).

c)     Guru meningkatkan intensitas bimbingan pada kelompok ahli, agar hasil yang dicapai siswa lebih optimal.

1)      Elaborasi:

a)      Dalam kelompok ahli, siswa menulis dan mendiskusikan temuannya dari hasil membaca berbagai literatur yang relevan.

b)     Guru kembali meningkatkan pengawasan dan memberikan bimbingan yang lebihefektif agar bisa dipastikan setiap siswa menguasai materi  yang  diampunya.

c)      Selanjutnya, dalam waktu yang telah ditentukan siswa dalam kelompok ahli diarahkan oleh guru menuju kelompok asal untuk menjelaskan temuannya dalam kelompok ahli, kepada anggota kelompok asal.

d)     Guru berkeliling memantau diskusi dalam kelompok asal, dan  memastikan agar setiap kelompok dapat memahami materi secara utuh. Guru juga memberikan bantuan apabila ada anggota kelompok kesulitan memberikan penjelasan materi  yang  diampu kepada temannya dalam kelompok asal.

Guru memfasilitasi diskusi dalam kelompok asal, sehingga setiap anggota kelompok memperoleh kesempatan menjelaskan atau mempresentasikan temuannya dalam kelompok ahli

1)      Konfirmasi:

a)      Guru memberikan penguatan terhadap temuan siswa yang benar.

b)      Guru memberikan penjelasan/meluruskan temuan siswa yang kurang tepat.

a.    Penutup

1)      Guru mengarahkan siswa untuk membuat simpulan.

2)      Guru memberikan PR kepada siswa.

Guru menginformasikan rencana kegiatan pada pertemuan berikutnya.

DIKUTIP DARI WIDANA ( BAHAN BIMTEK PTK )

Rambu-rambu Penyusunan RPP Kurikulum 2013


Rambu-rambu Penyusunan RPP Kurikulum 2013.

Unduh Silabus SD Kurikulum 2013


Unduh Silabus SD Kurikulum 2013.

Langkah-langkah Penyusunan RPP Kurikulum 2013


Langkah-langkah Penyusunan RPP Kurikulum 2013.

Daftar maskapai penerbangan di Indonesia – TIKET2 INDONESIA


Daftar maskapai penerbangan di Indonesia – TIKET2 INDONESIA.

PROSEDUR PENGUSULAN DAN MEKANISME PENILAIAN ANGKA KREDIT JABATAN FUNGSIONAL PENGAWAS SEKOLAH


PROSEDUR PENGUSULAN DAN MEKANISME PENILAIAN ANGKA KREDITJABATAN FUNGSIONAL PENGAWAS SEKOLAH

sisewa nyonek_nPengembangan karier Pengawas Sekolah dalam jabatan dan pangkat ditentukan berdasarkan pemenuhan angka kredit yang dipersyaratkan serta persyaratan obyektif lainnya. Pemenuhan angka kredit tersebut berdasarkan bukti pelaksanaan kegiatan pengawas sekolah yang selanjutnya diperiksa dan dinilai oleh Tim Penilai. Hasil penilaian yang memenuhi angka kredit yang dipersyaratkan  ditetapkan angka kreditnya dengan menggunakan formulir Penetapan Angka Kredit (PAK) oleh pejabat yang berwenang.

Untuk menjalankan kewenangannya pejabat penetap angka kredit dibantu oleh Tim Penilai. Oleh sebab itu, penilaian prestasi kerja pengawas sekolah dilaksanakan oleh Tim Penilai yang memiliki kompetensi menilai pelaksanaan tugas pengawas sekolah dan memenuhi persyaratan yang ditentukan, telah lulus pendidikan dan pelatihan calon tim penilai dan mendapat sertifikat dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sebagaimana dinyatakan pada Pasal 24 ayat (6) Permenegpan dan Reformasi Birokrasi Nomor 21 Tahun 2010, serta diangkat oleh pejabat yang berwenang. Secara fungsional koodinasi pelaksanaan penilaian angka kredit pengawas sekolah menjadi bagian dari tugas Sekretariat Tim Penilai, maka pelaksanaan penilaian harus dilakukan oleh Tim Penilai bersama-sama dengan Sekretariat Tim Penilai.

Dengan mengacu Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Permenegpan dan RB) Nomor 21 Tahun 2010 tentang Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya dan Peraturan Bersama Menteri Pendidikan Nasional dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 01/III/PB/2011 dan Nomor 6 Tahun 2011 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya antara lain diatur mengenai prosedur dan mekanisme pengusulan dan penilaian angka angka kredit pengawas sekolah.

A. Prosedur Pengusulan

Sesuai ketentuan Pasal 22 ayat (2) Permenegpan an RB Nomor 21 Tahun 2010, penilaian dan penetapan angka kredit setiap kegiatan Pengawas Sekolah dilakukan paling sedikit 1 (satu) kali dalam setahun. Oleh sebab itu untuk kelancaran penilaian dan penetapan angka kredit, setiap Pengawas Sekolah wajib mencatat dan menginventarisasikan seluruh kegiatan yang dilakukan.

Kegiatan pengawas sekolah dinilai  oleh Tim Penilai sesuai dengan kewenangannya. Hasil penilaian tersebut merupakan prestasi kerja pengawas sekolah dalam kurun waktu tertentu (paling sedikit 1 tahun) atau sejak pengawas sekolah menduduki jabatan/pangkat terakhir.

Prosedur pengusulan penilaian dan penetapan angka kredit dilakukan sebagai berikut:

1. Setiap Pengawas Sekolah yang akan dinilai prestasi kerjanya dibantu oleh Koordinator Pengawas (Korwas)/   Kelompok Kerja Pengawas (Pokjawas),  wajib menyiapkan bahan penilaian yangdituangkan dalam DUPAK sesuai dengan jenjangnya dibuat menurut contoh formulir sebagaimana Lampiran II-A sampai dengan Lampiran II-C Peraturan Bersama Mendiknas  dan Kepala BKN Nomor 01/III/PB/2011 dan Nomor 6 Tahun 2011 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya yaitu:

a. Lampiran II-A untuk Pengawas Sekolah Muda

b. Lampiran II-B untuk Pengawas Sekolah Madya

c. Lampiran II-C untuk Pengawas Sekolah Utama.

d. Lampiran XII untuk Pengawas Sekolah  yang belum memiliki ijazah S1/DIV

2. DUPAK dilampiri dengan:

a. Surat Pernyataan Melakukan Pendidikan (SPMP) dibuat menurut contoh formulir sebagaimana tersebut pada Lampiran III Peraturan Bersama;

b. Surat Pernyataan Melakukan Kegiatan Pengawasan Akademik dan Manajerial (SPMKPAM) dibuat menurut contoh formulir sebagaimana tersebut pada Lampiran IV Peraturan Bersama; BIMTEK DAN SELEKSI CTPAK PENGAWAS SEKOLAH TAHUN 2012

c. Surat  Pernyataan  Melakukan  Kegiata Pengembangan  Profesi (SPMKPP), dibuat menurut contoh formulir sebagaimana tersebut pada Lampiran V Peraturan Bersama; dan d. Surat Pernyataan Melakukan  Kegiatan  Penunjang Tugas (SPMKPP)  dibuat menurut contoh formulir sebagaimana tersebut pada Lampiran VI Peraturan Bersama;

Masing-masing Surat Pernyataan di atas harus ditanda tangani oleh atasan langsung (Kepala Dinas yang membidangi pendidikan) disertai dengan bukti fisik sesuai dengan satuan hasil setiap kegiatan sebagaimana dinyatakan dalam Lampiran I Permenegpan dan Reformasi Birokrasi Nomor 21 Tahun 2010.

e. Foto copy Penetapan Angka Kredit (PAK) terakhir

f. Foto copy SK kenaikan pangkat terakhir

g. Foto copy SK kenaikan jabatan terakhir

h. Foto copy DP3 1 tahun terakhir dan 2 tahun terakhir bagi yang akan naik pangkat

i. Fotocopy Ijazah pendidikan formal bagi yang belum diperhitungkan angka kreditnya

j. Surat Izin Belajar  atau SK Tugas Belajar yang dilengkapi pula dengan SK Pembebasan Sementara dari jabatan fungsional Pengawas Sekolah, dan SK Pengangkatan Kembali dalam jabatan Pengawas Sekolah

k. Fotocopy Kartu Pegawai (Karpeg)/Konversi NIP

3. DUPAK dan bahan penilaian disampaikan kepada pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit melalui Sekretaris Tim Penilai yang bersangkutan yaitu:

a. Bagi Pengawas Sekolah di lingkungan Propinsi yang telah menduduki golongan IV/b yang akan naik pangkat setingkat lebih tinggi sampai dengan golongan ruang IV/e, usul diajukan oleh Gubernur atau Kepala Dinas yang membidangi pendidikan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan atau pejabat eselon I yang ditunjuk melalui Sekretaris Tim Penilai Pusat.

BIMTEK DAN SELEKSI CTPAK PENGAWAS SEKOLAH TAHUN 2012

b. Bagi Pengawas Sekolah di lingkungan Kabupaten/Kota yang telah menduduki golongan IV/b yang akan naik pangkat setingkat lebih tinggi sampai dengan golongan ruang IV/e, usul diajukan oleh Bupati/Walikota atau Kepala Dinas yang membidangi pendidikan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan atau pejabat eselon I yang ditunjuk melalui Sekretaris Tim Penilai Pusat.

c. Bagi Pengawas Sekolah di lingkungan Kementerian Agama yang telah menduduki golongan IV/b yang akan naik pangkat setingkat lebih tinggi sampai dengan golongan ruang IV/e, usul diajukan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Agama kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan atau pejabat eselon I yang ditunjuk melalui Sekretaris Tim Penilai Pusat.

d. Bagi Pengawas Sekolah di lingkungan  instansi pusat di luar Kementerian Agama yang telah menduduki golongan IV/b yang akan naik pangkat setingkat lebih tinggi sampai dengan golongan ruang IV/e, usul diajukan oleh pimpinan instansi pusat atau pejabat lain yang ditunjuk kepada Menteri dan Kebudayaan atau pejabat eselon I yang ditunjuk melalui Sekretaris Tim Penilai Pusat.

e. Bagi Pengawas Sekolah di lingkungan Propinsi yang telah menduduki golongan III/c yang akan naik pangkat setingkat lebih tinggi sampai dengan golongan ruang IV/a, usul diajukan oleh pejabat eselon III yang membidangi kepegawaian pada Dinas Pendidikan kepada Gubernur melaui Sekretaris im Penilai Propinsi.

f. Bagi Pengawas Sekolah di lingkungan Kabupaten/Kota yang telah menduduki golongan III/c yang akan naik pangkat setingkat lebih tinggi sampai dengan golongan ruang IV/a, usul diajukan oleh pejabat eselon III yang membidangi kepegawaian pada Dinas Pendidikan kepada Bupati/Walikota atau Kepala Dinas Pendidikan di Kabupaten/Kota melaui Sekretaris Tim Penilai Kabupaten/Kota.

g. Bagi Pengawas Sekolah di lingkungan Kementerian Agama yang telah menduduki golongan IV/ayang akan naik pangkat setingkat lebih tinggi ke golongan IV/b usul diajukan oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi kepada Sekretaris Jenderal Kementerian Agama melalui Sekretaris Tim Penilai Kementerian Agama.

h. Bagi Pengawas Sekolah di lingkungan Kementerian Agama yang telah menduduki golongan III/c yang akan naik pangkat setingkat lebih tinggi ke golongan III/d sampai dengan IV/a usul diajukan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota kepada Kepala Kantor Wilayah

Kementerian Agama Provinsi melaui Sekretaris Tim Penilai Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi .

i.  Bagi Pengawas Sekolah di lingkungan instansi pusat di luar Kementerian Agama yang telah menduduki golongan III/c yang akan naik pangkat setingkat lebih tinggi ke golongan III/d sampai dengan IV/a usul diajukan oleh pejabat eselon III yang membidangi kepegawaian kepada pimpinan instansi pusat atau pejabat lain yang ditunjuk melalui Sekretaris Tim Penilai Instansi.

4. Bagi Pengawas Sekolah yang belum memiliki ijazah S1/DIV dengan golongan ruang III/a sampai dengan III/d, usul penetapan angka kredit Pengawas Sekolah diatur sebagai berikut:

a. bagi Pengawas Sekolah di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota, usul diajukan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota kepada Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama;

b. bagi Pengawas Sekolah di lingkungan Kabupaten/Kota, usul diajukan oleh  Pejabat eselon III yang membidangi kepegawaian kepada Bupati/Walikota atau Kepala Dinas yang membidangi pendidikan; dan

c. bagi Pengawas Sekolah di lingkungan instansi pusat di luar Kementerian Agama, usul diajukan oleh pejabat eselon III yang membidangi kepegawaian kepada pimpinan instansi pusat atau pejabat lain yang ditunjuk.

5. Selanjutnya Sekretariat Tim Penilai mengkoordinasikan persiapan dan membantu pelaksanaan penilaian usul PAK. Tugas Sekretariat Tim Penilai adalah:

a.  Menerima dan mengadministrasikan usulan penetapan angka kredit Pengawas Sekolah.

b. Menghimpun data prestasi kerja Pengawas Sekolah yang akan dinilai dan diberi angka kredit, berdasarkan usulan yang disampaikan oleh pejabat berwenang.

BIMTEK DAN SELEKSI CTPAK PENGAWAS SEKOLAH TAHUN 2012

c. Memeriksa kelengkapan dan kebenaran bukti-bukti fisik DUPAK.

d. Membentuk database yang memuat data pokok pengawas sekolah yang akan dinilai, judul karya tulis/karya tulis ilmiah, judul buku/karya ilmiah yang diterjemahkan, dan/atau  judul karya inovatifyang diajukan.

e. Menyiapkan persidangan penilaian prestasi kerja.

f. Menyampaikan kelengkapan dan bukti-bukti fisik DUPAK kepada Ketua Tim Penilai.

g. Memasukkan data hasil penilaian dalam database penilaian angka kredit pengawas sekolah.

h. Memeriksa angka kredit setiap unsur dan subunsur pada formulir penetapan angka kredit sebagaimana Lampiran VII Peraturan Bersama Mendiknas  dan Kepala BKN Nomor 01/III/PB/2011 dan Nomor 6 Tahun 2011 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya bagi yang memenuhi persyaratan untuk kenaikan jabatan/pangkat setingkat lebih tinggi dan menyampaikan kepada pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit.

i. Menyiapkan dan memeriksa surat laporan hasil penilaian kepada unit pengusul bagi yang belummemenuhi persyaratan untuk kenaikan jabatan/pangkat setingkat lebh tinggi.

j. Menyiapkan keperluan Tim Penilai dalam melaksanakan tugasnya.

k. Mendokumentasikan hasil kerja Tim Penilai dan bukti hasil prestasi kerja yang telah dinilai.

l. Mengelola Sistem Informasi Penetapan Angka Kredit (SIMPAK).

m. Melaporkan pelaksanaan penilaian prestasi kerja Pengawas Sekolah kepada Ketua Tim Penilai.

B. Mekanisme Penilaian

1. Setiap usulan penetapan angka  kredit Pengawas Sekolah harus dinilai secara obyektif oleh tim penilai berdasarkan rincian kegiatan dan nilai angka kredit sebagaimana tersebut pada Lampiran I Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 21 Tahun 2010. Lampiran I tersebut berlaku bagi semua Pengawas Sekolah baik yang belum memiliki pendidikan S1/DIV atau yang telah memiliki pendidikan S1/DIV ke atas.

2. Kegiatan unsur utama dengan subunsur Pendidikan, Diklat Fungsional C menetapkan angka kredit,perlu diatur pemberian kuasa penetapan angka kredt pengawas

sekolah yang menjadi kewenangannya dengan Keputusan Menteri/Gubernur/ Bupati/Walikota masing-masing. Mengacu  Pasal 17 Peraturan Bersama Mendiknas dan Kepala BKN mengenai Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya, maka:

1. Pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit sebagaimana dimaksud harus membuat spesimen tanda tangan dan disampaikan kepada Kepala Badan

Kepegawaian Negara/Kepala Kantor Regional Badan Kepegawaian Negara yang bersangkutan.

2. Apabila terdapat pergantian pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit, spesimen tanda tangan pejabat yang menggantikan tetap harus dibuat dan disampaikan kepada Kepala Badan Kepegawaian Negara /Kantor Regional Badan Kepegawaian Negara yang bersangkutan.

3. Apabila pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit berhalangan sehingga tidak dapat menetapkan angka kredit sampai batas waktu yang ditentukan yaitu untuk periode kenaikan pangkat adalah 3 bulan sebelumnya dan penilaian wajib yang dilaksanakan 1 tahun sekali, maka penetapan angka kredit dapat dilakukan oleh atasan pejabat yang berwenang menetapkan angka

kredit atau pejabat lain satu tingkat dibawahnya, yang secara fungsional bertanggung jawab di bidang pendidikan nonformal dan informal setelah mendapatkan delegasi atau kuasa dari atasan pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit atau pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit.

Disusun Oleh:
Tim Biro Kepegawaian Kemdikbud
1. Dra. Garti Sri Utami, M. Ed
2. Yuniarti Kusnoningsih, SH
3. Dianopa Prabandari, S.Si

download6flowchart-pengawas final

Pasal 26 Juklak PS

PROSEDUR PENGAJUAN DUPAK PENGAWAS

PROSEDUR PENGAJUAN DUPAK PS NARASI

AKADEMIKDAN MANAJERIAL

COVER

_Permenpan No. 21 Tahun 2010.

MEI 2013ppt

PENDIDIKAN

PENUNJANG

PENUNJANG

PENDIDIKAN

Lampiran Menpan I

Lampiran Menpan II

Lampiran Menpan III

Lampiran Menpan IV

Lampiran Menpan V

Lampiran Menpan VI

Lampiran Menpan VII

Menpan Jafung PS No 21 Tahun 2010

Pengawas Prof & Permnpan 21

Benhmarking

– Tita Lestari Pedoman Penulisan Best Practice Pengawas

New OJT-TITA

Materi KARYA TULIS SADURAN_

1 Menpan Jafung PS No 21 Tahun 2010COVER

Pagar Alam dot Com

Berbagi Informasi Pendidikan dan Pembelajaran Matematika

Mr.Wahid's Blog

Media Belajar Mengajar Inspirasi dan Kreativitas

SeNdiMat

Seminar Nasional Pendidikan Matematika

I Wayan Widana

This site is dedicated for mathematic learning development

Layanan Pendidik & Tenaga Kependidikan (PTK)

Laman Layanan Untuk Pendidik dan Tenaga Kependidikan

sejarahdompu

Just another WordPress.com site

SUAIDINMATH'S BLOG

Technology Based Education

tentang PENDIDIKAN

konseling, pembelajaran, dan manajemen pendidikan

SUKSES SELALU

NIKMATILAH HIDUP..BEKERJA DENGAN ENJOY...JANGAN LUPA BERDOA.

PTK THE FRONTIERS OF NEW TECHNOLOGY

Smile! You’re at the best WordPress.com site ever

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 138 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: