PEMBELAJARAN TERPADU

 A.      LATAR BELAKANG

Pembelajaran terpadu merupakan proses pembelajaran yang bersifat menyeluruh atau holistik. Pendekatan ini menempatkan siswa dalam posisi sentral, siswa sebagai peserta didik yang aktif, terutama dalam keterampilan berpikir. Beberapa keterampilan berpikir dikembangkan dalam pembelajaran ini, seperti: mengamati, membedakan, mengurutkan, menduga dan mengukur, mengelompokan, bertanya, merumuskan hipotesis, membandingkan, menganalisis, memadukan, menggenarilasisikan, menilai, memperkirakan, menginterpretasikan, merencanakan, melakukan percobaan, berkomunikasi, berpikir konvergen, berpikir divergen, berpikir induktif, berpikir deduktif, menyimpulkan, mengambil keputusan.

 

Kemungkinan Bentuk Penerapan Pembelajaran  Terpadu (IPA Terpadu, IPS Terpadu. Tematik)  Menurut Joni (1996) didasarkan pada pengaitan konseptual intra dan/atau antar bidang studi yang terjadi secara spontan, dengan program kegiatan belajar-mengajar yang dilaksanakan secara sepenuhnya mengikuti kurikulum yang isinya masih terkotak-kotak berdasarkan bidang studi agar terorganisasi secara terstruktur, lebih eksplisit dan bertolak dari tema-tema. Model Pengintegrasian Kurikulum tersebut menurut Forgaty (1991) digambarkan seperti pada tabel berikut: 

 

PENGINTEGRASIAN KURIKULUM

MODEL

RENTANGAN

DESKRIPSI

Mata Pelajaran  Terpisah fragmented Tiap Mapel disampaikan terpisah.
connected

 

Suatu konsep dipertautkan dengan konsep lain.
nested

 

Selain target di Mapel ada target multiketerampilan
Integrasi beberapa Mata Pelajaran Sequenced

 

 

beberapa topik diatur ulang serta diurutkan agar dapat serupa satu sama lain.
shared

 

 

 

 

dua mata pelajaran yang sama-sama diajarkan dengan menggunakan konsep-konsep atau keterampilan-keterampilan yang tumpang tindih (overlap).
Webbed (terjala/tematik)

 

 

Berangkat dari tema yang dibangun bersama-sama antara guru dengan siswa, atas dasar beberapa topik pada beberapa mata pelajaran yang berhubungan.
 

threaded

 

 

pendekatan metakurikuler digunakan untuk mencapai beberapa keterampilan dan tingkatan logika para siswa dengan berbagai mata pelajaran.
 

integrated

guru masing-masing mata pelajaran bekerja sama melihat dan memberikan topik-topik yang berkaitan dan tumpang tindih.

 

Lintas Peserta didik immersed

 

 

berpusat untuk mengakomodasikan kebutuhan para siswa, di mana mereka akan melihat apa yang dipelajarinya dari minat dan pengalaman mereka sendiri.
networked jaringan kerja dengan orang-orang yang memiliki keahlian untuk membantu bagian dari pekerjaannya yang lebih bersifat implementatif. Mereka akan bekerja secara terpadu sesuai dengan topik pekerjaan yang mengikat mereka.

 

Model-model pembelajaran berpikir yang dapat digunakan dalam pembelajaran terpadu adalah: pemecahan masalah, evaluasi kritis, penyelidikan, pengambilan keputusan, berpikir kritis, berpikir kreatif. Beberapa kegiatan utama dari model-model pembelajaran berpikir ini diuraikan sebagai berikut:

1. Pemecahan Masalah

  • Menghimpun fakta-fakta,
  • Merumuskan masalah,
  • Mengembangkan ide, pemikiran, alternative pemecahan,
  • Menentukan alternatif pemecahan,
  • Menyusun rencana tindakan pelaksanaan.

2. Berpikir Kritis

  • Menjelaskan ide dan pemikiran
  • Menentukan tingkat ketepatan informasi dasar (hasil pengamatan dan komunikasi).
  • Menyusun argumentasi dan penyimpulan (berdasarkan data dan konsep)

3. Berpikir Kreatif

  • Pengembangan ide-ide dalam beberapa kategori (kelenturan berpikir)
  • Pengembangan ide baru (kemurnian berpikir)
  • Penyempurnaan ide (elaborasi pemikiran)

4. Evaluasi Kritis

  • Menentukan kriteria
  • Menyusun alternative pemikiran, pemecahan,
  • Membuat perkiraan dan menentukan keputusan,
  • Memberikan alas an, argumentasi bagi keputusan.

B.       TUJUAN DAN MANFAAT PEMBELAJARAN TERPADU

  • Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran
  • Meningkatkan minat dan motivasi
  • Beberapa kompetensi dasar dapat dicapai sekaligus
  • Motivasi belajar peserta didik dapat diperbaiki dan ditingkatkan.
  • Pembelajaran terpadu membantu menciptakan struktur kognitif yang dapat menjembatani antara pengetahuan awal peserta didik dengan pengalaman belajar yang terkait, sehingga pemahaman menjadi lebih terorganisasi dan mendalam, sehingga memudahkan memahami hubungan materi dari satu konteks ke konteks lainnya.
  • Akan terjadi peningkatan kerja sama  antar guru sub bidang kajian terkait, guru dengan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik, peserta didik/guru dengan nara sumber; sehingga belajar lebih menyenangkan, belajar dalam situasi nyata, dan dalam konteks yang lebih bermakna.
  • Dengan menggabungkan berbagai bidang kajian akan terjadi penghematan waktu, karena ketiga atau lebih disiplin ilmu dapat dibelajarkan sekaligus. Tumpang tindih materi juga dapat dikurangi bahkan dihilangkan.
  • Peserta didik dapat melihat hubungan yang bermakna antar konsep dalam disiplin ilmu tersebut.
  • Meningkatkan taraf kecakapan berpikir peserta didik, karena peserta didik dihadapkan pada gagasan atau pemikiran yang lebih luas dan lebih dalam ketika menghadapi situasi pembelajaran.
  • Pembelajaran terpadu menyajikan penerapan/aplikasi tentang dunia nyata yang dialami dalam kehidupan sehari-hari, sehingga memudahkan  pemahaman konsep dan kepemilikan kompetensi dari mata pelajaran yang dipadukan.

 C.      JENIS-JENIS PEMBELAJARAN TERPADU

Pembelajaran yang dimungkinkan untuk dipadukan adalah mata pelajaran Kimia, Biologi dan Fisika menjadi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Terpadu. Sedangkan kajian tentang sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, antropologi, filsafat, psikologi sosial  menjadi mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu. Dalam hal ini Guru bekerja sama melihat dan memberikan topik-topik yang berkaitan dan tumpang tindih (dengan mencermati indikator yang telah disusun) dan memadukannya. Kemungkinan pada pemaduan IPA adalah Connected, Webbed (tematik) dan Integrated.

D.      PEMBELAJARAN IPA TERPADU

1.  PENGERTIAN ILMU PENGETAHUAN ALAM (IPA)

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan (discovery). Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri  dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.

 

Secara umum Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)  di SMP/MTs, meliputi mata pelajaran fisika, bumi antariksa, biologi, dan kimia yang sebenarnya sangat berperan dalam membantu anak untuk memahami fenomena alam. Ilmu Pengetahuan Alam  merupakan pengetahuan ilmiah, yaitu pengetahuan yang telah mengalami uji kebenaran melalui metode ilmiah, dengan ciri: objektif, metodik, sistematis, universal, dan tentatif. Ilmu Pengetahuan Alam merupakan ilmu yang pokok bahasannya adalah alam dan segala isinya.

Carin dan Sund (1993) mendefinisikan IPA  sebagai  “pengetahuan yang sistematis dan tersusun secara teratur, berlaku umum (universal), dan berupa kumpulan data hasil observasi dan eksperimen”.

Merujuk pada pengertian IPA itu, maka dapat disimpulkan bahwa hakikat IPA  meliputi empat unsur utama yaitu:

  • sikap: rasa ingin tahu tentang benda, fenomena alam, mahluk hidup, serta hubungan sebab akibat yang menimbulkan masalah baru  yang dapat dipecahkan melalui prosedur yang benar; IPA  bersifat open ended;
  • proses: prosedur pemecahan masalah  melalui metode ilmiah; metode ilmiah meliputi penyusunan hipotesis, perancangan eksperimen atau percobaan, evaluasi, pengukuran, dan penarikan kesimpulan;
  • produk: berupa fakta, prinsip, teori, dan hukum;
  • aplikasi: penerapan metode ilmiah dan konsep IPA dalam kehidupan sehari-hari.

Keempat unsur itu merupakan ciri IPA  yang utuh yang  sebenarnya tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

 

Dalam proses pembelajaran IPA  keempat unsur itu diharapkan dapat muncul, sehingga peserta didik dapat mengalami proses pembelajaran secara utuh, memahami fenomena alam melalui kegiatan pemecahan masalah, metode ilmiah, dan meniru cara ilmuwan bekerja dalam menemukan fakta baru. Kecenderungan pembelajaran IPA   pada masa kini adalah peserta didik hanya mempelajari IPA  sebagai produk, menghafalkan konsep, teori dan hukum. Keadaan ini diperparah oleh pembelajaran yang beriorientasi pada tes/ujian. Akibatnya IPA  sebagai proses, sikap, dan aplikasi tidak tersentuh dalam pembelajaran.

 

Pengalaman belajar yang diperoleh di kelas tidak utuh dan tidak berorientasi tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar. Pembelajaran lebih bersifat teacher-centered,  guru hanya menyampaikan IPA  sebagai produk dan peserta didik menghafal informasi faktual. Peserta didik hanya mempelajari IPA  pada domain kognitif yang terendah. Peserta didik tidak dibiasakan untuk mengembangkan potensi berpikirnya. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak peserta didik yang cenderung menjadi malas berpikir secara mandiri. Cara berpikir yang dikembangkan dalam kegiatan belajar belum menyentuh domain afektif  dan psikomotor.  Alasan yang sering dikemukakan oleh para guru adalah keterbatasan waktu, sarana, lingkungan belajar, dan jumlah peserta didik per kelas yang terlalu banyak.

 

Abad 21 ditandai oleh pesatnya perkembangan IPA  dan teknologi dalam berbagai bidang kehidupan di masyarakat, terutama teknologi informasi dan komunikasi. Oleh karena itu, diperlukan cara pembelajaran yang dapat menyiapkan peserta didik untuk melek IPA  dan teknologi, mampu berpikir logis, kritis, kreatif, serta dapat berargumentasi secara benar. Dalam kenyataan, memang tidak banyak peserta didik yang menyukai mata pelajaran IPA, karena dianggap sukar, keterbatasan kemampuan peserta didik,  atau karena mereka tak berminat menjadi ilmuwan atau ahli teknologi. Namun demikian, mereka tetap berharap agar pembelajaran IPA  di sekolah dapat disajikan secara menarik, efisien, dan efektif.

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang akan dicapai peserta didik yang dituangkan dalam empat aspek yaitu, makhluk hidup dan proses kehidupan, materi dan sifatnya, energi dan perubahannya, serta bumi dan alam semesta.

 

Indikator pencapaian kompetensi dikembangkan oleh sekolah, disesuaikan dengan lingkungan setempat, dan media serta lingkungan belajar yang ada di sekolah. Semua ini ditujukan agar guru dapat lebih aktif, kreatif, dan melakukan inovasi dalam pembelajaran tanpa meninggalkan isi kurikulum. Melalui pembelajaran IPA terpadu, diharapkan peserta didik dapat membangun pengetahuannya melalui cara kerja ilmiah, bekerja sama dalam kelompok, belajar berinteraksi dan berkomunikasi, serta bersikap ilmiah.

 

 

 

2. KARAKTERISTIK MATA PELAJARAN IPA

Ilmu Pengetahuan Alam didefinisikan sebagai pengetahuan yang diperoleh melalui pengumpulan data dengan eksperimen, pengamatan, dan deduksi untuk menghasilkan suatu penjelasan tentang sebuah gejala yang dapat dipercaya. Ada tiga kemampuan dalam IPA yaitu: (1) kemampuan untuk mengetahui apa yang diamati, (2) kemampuan untuk memprediksi apa yang belum diamati, dan kemampuan untuk menguji tindak lanjut hasil eksperimen, (3) dikembangkannya sikap ilmiah. Kegiatan pembelajaran IPA mencakup pengembangan kemampuan dalam mengajukan pertanyaan, mencari jawaban, memahami jawaban, menyempurnakan jawaban tentang “apa”, “mengapa”, dan “bagaimana” tentang gejala alam maupun karakteristik alam sekitar melalui cara-cara sistematis yang akan diterapkan dalam lingkungan dan teknologi.  Kegiatan tersebut dikenal dengan kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode ilmiah.  Metode ilmiah dalam mempelajari IPA itu sendiri telah diperkenalkan sejak abad ke-16 (Galileo Galilei dan Francis Bacon) yang meliputi mengidentifikasi masalah, menyusun hipotesa, memprediksi konsekuensi dari hipotesis, melakukan eksperimen untuk menguji prediksi, dan merumuskan hukum umum yang sederhana yang diorganisasikan dari hipotesis, prediksi, dan eksperimen.

 

Dalam belajar IPA peserta didik diarahkan untuk membandingkan hasil prediksi peserta didik dengan teori  melalui eksperimen dengan menggunakan metode ilmiah. Pendidikan IPA di sekolah diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitarnya, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, yang didasarkan pada metode ilmiah.  Pembelajaran IPA menekankan pada pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar peserta didik mampu memahami alam sekitar melalui proses “mencari tahu” dan “berbuat”, hal ini akan membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam.

 

Keterampilan dalam mencari tahu atau berbuat tersebut dinamakan dengan keterampilan proses penyelidikan atau “enquiry skills” yang meliputi mengamati, mengukur, menggolongkan, mengajukan pertanyaan, menyusun hipotesis, merencanakan eksperimen untuk menjawab pertanyaan, mengklasifikasikan,  mengolah, dan menganalisis data, menerapkan ide pada situasi baru, menggunakan peralatan sederhana serta mengkomunikasikan informasi dalam berbagai cara, yaitu dengan gambar, lisan, tulisan, dan sebagainya.

 

Melalui keterampilan proses dikembangkan sikap dan nilai yang meliputi rasa ingin tahu, jujur, sabar, terbuka, tidak percaya tahyul, kritis, tekun, ulet, cermat, disiplin, peduli terhadap lingkungan, memperhatikan keselamatan kerja, dan bekerja sama dengan orang lain.

 

Oleh karena itu pembelajaran IPA  di sekolah sebaiknya: (1) memberikan pengalaman pada peserta didik sehingga mereka kompeten melakukan pengukuran berbagai besaran fisis, (2)  menanamkan pada peserta didik pentingnya pengamatan empiris dalam menguji suatu pernyataan ilmiah (hipotesis). Hipotesis ini dapat berasal dari pengamatan terhadap kejadian sehari-hari yang memerlukan pembuktian secara ilmiah, (3) latihan berpikir kuantitatif yang mendukung kegiatan belajar matematika, yaitu sebagai penerapan matematika pada masalah-masalah nyata yang berkaitan dengan peristiwa alam,  (4) memperkenalkan dunia teknologi melalui kegiatan kreatif dalam kegiatan perancangan dan pembuatan alat-alat sederhana maupun penjelasan berbagai gejala dan keampuhan IPA dalam menjawab berbagai masalah.

 

3. TUJUAN PEMBELAJARAN IPA TERPADU

Tujuan pembelajaran IPA Terpadu adalah sebagai berikut.

a.  Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran

Dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang harus dicapai peserta didik masih dalam lingkup disiplin ilmu fisika, kimia, dan biologi. Banyak ahli yang menyatakan pembelajaran IPA  yang disajikan secara disiplin keilmuan dianggap terlalu dini bagi anak usia 7-14 tahun, karena anak pada usia ini masih dalam transisi dari tingkat berpikir operasional konkret ke berpikir abstrak. Lagi pula, anak melihat dunia sekitarnya masih secara holistik. Atas dasar itu, pembelajaran IPA  hendaknya disajikan dalam bentuk yang utuh dan tidak parsial. Di samping itu pembelajaran yang disajikan terpisah-pisah dalam fisika, biologi, kimia, dan bumi-alam semesta memungkinkan adanya tumpang tindih dan pengulangan, sehingga membutuhkan waktu dan energi yang lebih banyak, serta membosankan bagi peserta didik. Bila konsep yang tumpang tindih dan pengulangan dapat dipadukan, maka pembelajaran akan lebih efisien dan efektif.

 

Keterpaduan mata pelajaran dapat mendorong guru untuk mengembangkan kreativitas tinggi karena adanya tuntutan untuk memahami keterkaitan antara satu materi dengan materi yang lain. Guru dituntut memiliki kecermatan, kemampuan analitik, dan kemampuan kategorik agar dapat memahami keterkaitan atau kesamaan materi maupun metodologi.

 

b. Meningkatkan minat dan motivasi

Pembelajaran terpadu memberikan peluang bagi guru untuk mengembangkan situasi pembelajaan yang utuh, menyeluruh, dinamis, dan bermakna sesuai dengan harapan dan kemampuan guru, serta kebutuhan dan kesiapan peserta didik. Dalam hal ini, pembelajaran terpadu memberikan peluang bagi pengembangan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan tema yang disampaikan.

Pembelajaran IPA Terpadu dapat mempermudah dan memotivasi peserta didik untuk mengenal, menerima, menyerap, dan memahami keterkaitan atau hubungan antara konsep pengetahuan dan nilai atau tindakan yang termuat dalam tema tersebut.  Dengan model pembelajaran yang terpadu dan sesuai dengan kehidupan sehari-hari, peserta didik digiring untuk berpikir luas dan mendalam untuk menangkap dan memahami hubungan konseptual yang disajikan guru. Selanjutnya peserta didik akan terbiasa berpikir terarah, teratur, utuh, menyeluruh, sistemik, dan analitik. Peserta didik akan lebih termotivasi dalam belajar bila mereka merasa bahwa pembelajaran itu bermakna baginya, dan bila mereka berhasil menerapkan apa yang telah dipelajarinya.

c. Beberapa kompetensi dasar dapat dicapai sekaligus

Model pembelajaran IPA  terpadu dapat menghemat waktu, tenaga, dan sarana, serta biaya karena pembelajaran beberapa kompetensi dasar dapat diajarkan sekaligus. Di samping itu, pembelajaran terpadu juga menyederhanakan langkah-langkah pembelajaran. Hal ini terjadi karena adanya proses pemaduan dan penyatuan sejumlah standar kompetensi, kompetensi dasar, dan langkah pembelajaran yang dipandang memiliki kesamaan atau keterkaitan.

 

4. PEMADUAN KONSEP DALAM PEMBELAJARAN  IPA

 

Salah satu kunci pembelajaran terpadu yang terdiri atas beberapa mata pelajaran adalah menyediakan lingkungan belajar yang menempatkan peserta didik mendapat pengalaman belajar yang dapat menghubungkaitkan konsep-konsep dari berbagai submata-pelajaran. Pengertian terpadu di sini mengandung makna menghubungkan IPA  dengan berbagai mata pelajaran (Carin 1997;236). Lintas submata pelajaran dalam IPA  adalah mengkoordinasikan berbagai disiplin ilmu seperti biologi, fisika, kimia, geologi, dan astronomi. Sebenarnya IPA  dapat juga dipadukan dengan mata pelajaran lain  di luar bidang kajian IPA  dan hal ini lebih sesuai untuk jenjang pendidikan Sekolah Dasar.

 

Mengingat pembahasan materi IPA pada tingkat lebih tinggi semakin luas dan mendalam, maka pada jenjang pendidikan SMP/MTs dan SMA/MA, akan lebih baik bila keterpaduan dibatasi pada mata pelajaran yang termasuk bidang kajian IPA saja. Hal ini dimaksudkan agar tidak terlalu banyak guru yang terlibat, yang akan membuka peluang timbulnya kesulitan dalam pembelajaran dan penilaian, mengingat semakin tinggi jenjang pendidikan, maka semakin dalam dan luas pula pemahaman konsep yang harus diserap oleh peserta didik.

Pembelajaran terpadu diawali dengan penentuan TEMA, karena penentuan tema akan membantu peserta didik dalam beberapa aspek yaitu:

  1. peserta didik yang bekerja sama dengan kelompoknya akan lebih bertanggung jawab, berdisiplin, dan mandiri;
  2. peserta didik menjadi lebih percaya diri dan termotivas dalam belajar bila mereka berhasil menerapkan apa yang telah dipelajarinya;
  3. peserta didik lebih memahami dan lebih mudah mengingat karena mereka ‘mendengar’, ‘berbicara’, ‘membaca’, ‘menulis’ dan ‘melakukan’ kegiatan menyelidiki masalah yang sedang dipelajarinya;
  4. memperkuat kemampuan berbahasa peserta didik;
  5. belajar akan lebih baik bila peserta didik terlibat secara aktif melalui tugas proyek, kolaborasi, dan berinteraksi dengan teman, guru, dan dunia nyata.

Oleh karena itu, jika guru hendak melakukan pembelajaran terpadu dalam IPA, sebaiknya memilih tema yang menghubungkaitkan antara IPA–lingkungan- teknologi-masyarakat.

Berikut ini diberikan contoh pembelajaran IPA  Terpadu dengan tema yang bernuansa  IPA-lingkungan-teknologi-masyarakat.

 

Contoh 1: TEMA SERANGGA/INSEKTA

 

Insekta merupakan hewan invertebrata yang banyak ditemukan peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Insekta merupakan salah satu kelas dari Phylum Arthropoda dengan anggota yang terbanyak dan tingkat keanekaragaman yang sangat tinggi. Pada umumnya insekta bersayap, namun ada pula yang tak bersayap. Ada yang bermetamorfosis sempurna dan ada pula yang tidak. Habitat insekta juga tersebar sangat luas, di darat sebagai hewan yang hidup di tanah, di pohon,di dalam air, dan sebagai hewan terbang. Peranannya dalam kehidupan juga sangat luas, sebagai komponen penting dalam rantai makanan, sebagai hama tanaman, sebagai penyerbuk tanaman, sebagai vektor berbagai penyakit pada hewan dan manusia, dan masih banyak lagi peranan insekta.

Begitu luasnya pembahasan tentang insekta, sehingga bila disampaikan dalam pembelajaran akan memerlukan waktu yang cukup banyak, dan mungkin juga konsepnya sulit dipahami peserta didik. Topik/pokok bahasan tentang Insekta juga tidak ditemukan dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. akan tetapi guru dapat memilih tema insekta mengingat banyak masalah kesehatan dan lingkungan yang terkait dengan insekta. Misalnya, merebaknya penyakit demam berdarah, malaria, penyakit kaki gajah yang vektor penyebarannya adalah insekta.  Jadi pembahasan topik ini dapat menjadi bahan pengayaan untuk meningkatkan pengetahuan peserta didik tentang peranan insekta dalam ekosistem, mengasah kepekaan peserta didik terhadap kebersihan lingkungan, memahami rantai makanan, dan penyebab timbulnya ledakan hama. Topik ini bersifat kontekstual di daerah pertanian dan daerah pantai, tetapi untuk daerah perkotaan mungkin agak sulit dilaksanakan, namun dapat dicoba.  Dengan insekta sebagai tema sentral, maka dapat dibuat jaringan tema berikut:

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.1. Jaringan tema insekta

 

 

Kompetensi dasar untuk jaringan tema ”insekta” pada gambar 2.1 di atas mungkin tidak termuat dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar seluruhnya, namun dapat menjadi inspirasi untuk memotivasi peserta didik yang berminat melakukan penyelidikan tentang insekta. Dalam pembelajaran ini sekaligus kita menerapkan metode ilmiah dan mengembangkan keterampilan proses IPA  dan kemampuan pemecahan masalah. Inilah contoh fleksibilitas kurikulum untuk mengembangkan potensi peserta didik.

5. PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN IPA TERPADU

a. PERENCANAAN

Keberhasilan pembelajaran terpadu akan lebih optimal jika perencanaan mempertimbangkan kondisi dan potensi peserta didik (minat, bakat, kebutuhan, dan kemampuan). Standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dimiliki peserta didik sudah tercantum dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar per submata pelajaran IPA.

Ada berbagai model dalam mengembangkan pembelajaran IPA Terpadu yang dapat dilihat pada alur penyusunan perencanaan pembelajaran terpadu berikut ini:

 

Langkah (1):

Menetapkan mata pelajaran yang akan dipadukan. Pada saat menetapkan beberapa mata  pelajaran yang akan dipadukan sebaiknya sudah disertai dengan alasan atau rasional yang berkaitan dengan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar oleh peserta didik dan kebermaknaan belajar. Contoh lihat lampiran.

 

Langkah (2):

Mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar dari mata pelajaran yang akan dipadukan. Pada tahap ini dilakukan pengkajian atas kompetensi dasar pada semester dan kelas yang sama, antarsemester pada kelas yang sama, antarsemester dan kelas yang berbeda dari beberapa submata pelajaran IPA yang memungkinkan untuk diajarkan secara terpadu. Berikut ini contoh peta kompetensi dasarIPA terpadu untuk SMP kelasVII

 

CONTOH PETA KOMPETENSI DASAR IPA TERPADU

                                                           Mata Pelajaran : IPA

                                                                           Kelas  : VII

 

KD MP Fisika

KD  MP Kimia

KD  MP Biologi

Tema

Waktu

 

1.1    Mendeskripsikan besaran pokok dan besaran turunan beserta satuannya

 

 

2.2    Melakukan percobaan sederhana dengan bahan-bahan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. 5.1 Melaksanakan pengamatan objek  secara terencana dan sistematis untuk memperoleh informasi gejala alam biotik dan a-biotik. Kerja Ilmiah

 

 

 

 

 

20 x 40’

 

 

 

 

 

 

 

3.1 Menyelidiki sifat-sifat  zat berdasarkan wujudnya dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari

 

2.3    Melakukan pemisahan campuran dengan berbagai cara berdasarkan sifat fisika dan sifat kimia

 

6.2 Mengklasifikasikan makhluk hidup berdasarkan ciri-ciri yang dimiliki Penjernihan Air

 

 

20 x 40’

 

Langkah (3):

Memilih dan menetapkan tema atau topik pemersatu. Dalam memilih tema/topik dapat dirumuskan dengan melihat isu-isu yang terkini, misalnya penyakit demam berdarah, HIV/AIDS, dan lainnya, kemudian baru dilihat koneksitasnya dengan kompetensi dasar dari berbagai submata pelajaran IPA. Contoh lihat lampiran.

 

Langkah (4):

Membuat  matriks keterhubungan kompetensi dasar dan tema/topik pemersatu. Tujuannya adalah untuk menunjukkan kaitan antara  tema/topik dengan kompetensi dasar yang dapat dipadukan. Contoh lihat lampiran.

 

Langkah (5):

Menyusun dan merumuskan indikator pencapaian hasil belajar untuk setiap kompetensi dasar dari submata pelajaran yang dipadukan. Contoh lihat lampiran.

 

Langkah (6):

Menyusun silabus pembelajaran IPA terpadu,  dikembangkan dari berbagai indikator submata pelajaran IPA menjadi beberapa pengalaman belajar yang konsep keterpaduan atau keterkaitan  menyatu  antara beberapa submata pelajaran IPA. Contoh lihat lampiran.

 

Langkah (7):

Menjabarkan silabus menjadi desain pembelajaran atau rencana pelaksanaan pembelajaran untuk setiap pertemuan. Contoh lihat lampiran.

 

b. MODEL PELAKSANAAN PEMBELAJARAN IPA TERPADU

(Desain Pembelajaran/Rencana Pelaksanaan Pembelajaran)

Model pembelajaran  dalam hal ini adalah menjabarkan silabus menjadi desain pembelajaran/rencana pelaksanaan pembelajaran terpadu, dikemas dalam kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup/tindak lanjut.

 

Kegiatan Awal/Pendahuluan

Kegiatan pendahuluan merupakan kegiatan awal yang harus ditempuh guru dan peserta didik pada setiap kali pelaksanaan pembelajaran terpadu. Fungsinya untuk menciptakan suasana awal pembelajaran yang efektif, yang memungkinkan peserta didik dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Efisiensi waktu dalam kegiatan awal ini perlu diperhatikan, karena waktu yang tersedia relatif singkat yaitu antara 5-10 menit. Dengan waktu yang relatif singkat tersebut, diharapkan guru dapat menciptakan kondisi awal pembelajaran dengan baik sehingga peserta didik siap mengikuti pembelajaran dengan seksama.

Langkah-langkah dalam kegiatan pendahuluan ini terdiri atas beberapa tahap yaitu:

  • menarik perhatian peserta didik untuk menumbuhkan kesiapan belajar;
  • memotivasi peserta didik: membangkitkan semangat dan minat peserta didik untuk siap menerima pelajaran;
  • memberikan acuan topik yang akan dibahas;
  • mengaitkan topik yang akan dipelajari dengan topik yang telah dipelajari yang dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan tentang topik yang sudah dipelajari sebelumnya dan memberikan komentar atas jawaban peserta didik

Dalam kegiatan pendahuluan ini guru dapat pula melakukan penilaian awal peserta didik (tes awal) yang dapat diberikan secara lisan maupun tertulis.

 

Kegiatan Inti

Kegiatan inti merupakan kegiatan pelaksanaan pembelajaran terpadu yang menekankan pada proses pembentukan pengalaman belajar peserta didik (learning experience). Pengalaman belajar dapat terjadi melalui kegiatan tatap muka dan kegiatan  nontatap muka. Kegiatan tatap muka dimaksudkan sebagai kegiatan pembelajaran yang peserta didik dapat berinteraksi langsung dengan guru maupun dengan peserta didik lainnya. Kegiatan nontatap muka dimaksudkan sebagai kegiatan pembelajaran yang dilakukan peserta didik dengan sumber belajar lain di luar kelas atau di luar sekolah.

Kegiatan inti pembelajaran terpadu bersifat situasional, yakni disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat. Terdapat beberapa kegiatan yang dapat dilakukan dalam kegiatan inti pembelajaran terpadu, di antaranya adalah sebagai berikut ini.

  •   Kegiatan yang paling awal: Guru  memberitahukan tujuan atau kompetensi dasar yang harus dicapai oleh peserta didik beserta garis besar materi yang akan disampaikan. Cara yang paling praktis adalah menuliskannya di papan tulis dengan penjelasan secara lisan mengenai pentingnya kompetensi tersebut yang akan dikuasai oleh peserta didik.
  •   Alternatif kegiatan belajar yang akan dialami peserta didik. Guru menyampaikan kepada peserta didik kegiatan belajar yang harus ditempuh peserta didik dalam mempelajari tema atau topik yang telah ditentukan. Kegiatan belajar hendaknya lebih mengutamakan aktivitas peserta didik, atau berorientasi pada aktivitas peserta didik. Guru hanya sebagai fasilitator  yng memberikan kemudahan kepada peserta didik untuk belajar. Peserta didik diarahkan untuk menemukan sendiri apa yang dipelajarinya. Prinsip belajar sesuai dengan ’konstruktivisme’ hendaknya dilaksanakan dalam pembelajaran terpadu

Dalam membahas  dan menyajikan materi/bahan ajar terpadu harus diarahkan pada suatu proses perubahan tingkah laku peserta didik, penyajian harus dilakukan secara terpadu melalui penghubungan konsep di mata pelajaran yang satu dengan konsep di mata pelajaran lainnya. Guru harus berupaya untuk menyajikan bahan ajar dengan strategi mengajar yang bervariasi, yang mendorong peserta didik pada upaya penemuan pengetahuan baru, melalui pembelajaran yang bersifat klasikal, kelompok, dan perorangan.

Kegiatan Akhir/Penutup dan tindak lanjut

Waktu yang tersedia untuk kegiatan penutup atau kegiatan akhir pembelajaran terpadu ini cukup singkat. Oleh karena itu guru perlu mengatur dan memanfaatkan waktu seefisien mungkin. Secara umum kegiatan penutup ini terdiri atas hal-hal sebagai berikut ini.

a)   Mengajak peserta didik untuk   menyimpulkan materi yang telah diajarkan.

b)   Melaksanakan tindak lanjut pembelajaran dengan pemberian tugas atau latihan yang harus dikerjakan di rumah, menjelaskan kembali bahan yang dianggap sulit oleh peserta didik, membaca materi pelajaran tertentu, memberikan motivasi atau bimbingan belajar.

c)    Mengemukakan topik yang akan dibahas pada pertemuan selanjutnya.

d)   Memberikan evaluasi lisan atau tertulis.

 

c. MODEL PENILAIAN IPA TERPADU

Model penilaian yang dikembangkan mencakup prosedur yang digunakan, jenis dan bentuk penilaian, serta alat evaluasi yang digunakan. Model penilaian ini disesuaikan dengan penilaian berbasis kelas pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Objek penilaian mencakup penilaian terhadap proses dan hasil belajar peserta didik.

Hasil belajar pada hakikatnya merupakan kompetensi-kompetensi yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kompetensi dapat diukur melalui sejumlah hasil belajar yang indikatornya dapat diukur dan diamati.  Penilaian proses dan hasil belajar saling berkaitan satu dengan yang lainnya karena hasil belajar merupakan akibat dari proses belajar.

Jenis penilaian terpadu terdiri atas tes dan bukan tes. Sistem penilaian dengan menggunakan tes merupakan sistem penilaian konvensional. Sistem ini kurang dapat menggambarkan kemampuan peserta didik secara menyeluruh, sebab hasil belajar digambarkan dalam bentuk angka yang gambaran maknanya sangat abstrak. Oleh karena itu untuk melengkapi gambaran kemajuan belajar secara menyeluruh maka dilengkapi dengan non-tes.

 

 

Berikut ini adalah contoh penilaian untuk tema/topik tentang LINGKUNGAN SEKITAR KITA

 

TEMA: LINGKUNGAN SEKITAR KITA

KD

Indikator

Sistem penilaian

Prosedur

Jenis dan bentuk

Jenis tagihan

Instrumen

Menentukan ekosistem dan saling hubungan antara komponen ekosistem Mengidentifikasi satuan dalam ekosistem dan menyatakan bahwa matahari merupakan sumber energi utama dalam biosfer

 

Menggambarkan dalam bentuk diagram rantai makanan dan jaring-jaring kehidupan dan menjelaskan peranan masing-masing tingkat trofik

 

Tes awal

Dapat dilakukan dapat pula tidak tergantung kondisi

 

 

Penugasan

Pilihan ganda dan isian

 

 

 

 

 

 

 

Nontes

 

Laporan hasil pengamatan

 

Soal pilihan ganda yang berkaitan dengan pemahaman awal peserta didik mengenai tema

 

 

 

 

Lembar penilaian laporan

Memprediksi pengaruh kepadatan populasi manusia terhadap lingkungan Memperkirakan hubungan antara populasi penduduk dengan kebutuhan air bersih dan udara bersih

 

Memperkirakan hubungan ukuran penduduk dengan kebutuhan pangan

 

Memperkirakan hubungan ukuran penduduk dengan kebutuhan lahan

 

Menjelaskan pengaruh meningkatnya populasi penduduk dengan kerusakan lingkungan

 

Menjelaskan pengaruh meningkatnya populasi penduduk dengan kesehatan

 

Penugasan

 

 

 

 

 

 

 

Praktikum

Nontes

 

 

 

 

 

 

 

  1. Nontes
  2. Tes perbuatan
Laporan hasil pengamatan

 

 

 

 

 

 

Laporan praktikum

Lembar penilaian laporan

 

 

 

 

 

 

Lembar penilaian laporan

Lembar penilaian kinerja

 

Mengaplikasikan peran manusia dalam pengelolaan lingkungan untuk mengatasi pencemaran dan kerusakan lingkungan Menjelaskan pengaruh pencemaran air, udara, dan tanah dalam kaitannya dengan kegiatan manusia

 

Mengemukakan contoh langkah-langkah upaya pengelolaan lingkungan hidup untuk kesejahteraan manusia

 

Penugasan

 

Nontes Karya tulis Lembar penilaian karya tulis
Mencari  informasi tentang kegunaan dan efek samping bahan kimia dalam kehidupan sehari-hari Mengelompokkan bahan kimia dari kemasan yang digunakan sebagai pemutih, pembersih,  pengharum, dan pembasmi serangga

 

Menyelidiki pengaruh penggunaan bahan kimia yang digunakan sebagai pemutih, pembersih,  pengharum, dan pembasmi serangga

 

Menjelaskan efek samping penggunaan bahan kimia dalam rumah tangga

 

Praktikum Nontes

 

Tes perbuatan

  Lembar penilaian laporan

Lembar penilaian kinerja

 

Menjelaskan hubungan bentuk energi dan perubahan-nya, prinsip “usaha dan energi” serta penerapan-nya dalam kehidupan sehari-hari Menunjukkan bentuk energi dan perubahannya dalam kehidupan sehari-hari

 

Mengaplikasikan konsep energi dan perubahannya dalam kehidupan sehari-hari

 

Penugasan Nontes Laporan hasil pengamatan Lembar penilaian laporan
Menjelaskan hubungan antara proses yang terjadi di lapisan litosfer dan atmosfer dengan kesehatan dan permasalah-an lingkungan Menjelaskan proses pelapukan di lapisan bumi berkaitan dengan masalah lingkungan

 

Menjelaskan proses pemanasan global dan pengaruhnya terhadap masalah lingkungan

 

Menjelaskan pengaruh proses-proses di lingkungan terhadap kesehatan manusia

Penugasan

 

 

 

 

 

 

Tes akhir

Nontes

 

 

 

 

 

 

Soal Pilihan ganda

 

 

 

Soal uraian singkat

 

Laporan Lembar penilaian

 

 

 

 

 

Kunci jawaban dan cara penilaian

 

 

 

 

Berdasarkan contoh itu, maka guru dapat mempraktikkan beberapa teknik penilaian, baik yang termasuk dalam ranah kognitif, afektik, maupun psikomotor. Tugas berupa laporan baik secara individu maupun kelompok sebaiknya berupa tugas aplikasi, misalnya merupakan hasil pengamatan di luar kelas. Dapat pula berupa  tugas sintesis dan evaluasi, misalnya tugas pemecahan masalah  lingkungan dan usulan cara penanggulangannya. Melalui penugasan ini maka kemampuan berpikir dan kepekaan peserta didik  akan terasah.

Untuk keperluan pelaporan hasil penilaian guru dapat memberikan bobot bagi setiap tugas yang diberikan tergantung pada pertimbangan guru sesuai dengan karakteristik tugas, baik tes maupun nontes. Penilaian untuk pelaporan mengacu pada pedoman penilaian dari Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas. Oleh karena keterpaduan pembelajaran IPA meliputi mata pelajaran fisika, kimia, biologi, maka dalam pelaporan hasil penilaian tidak menjadi masalah. Ketiganya akan dipadukan menjadi nilai mata pelajaran IPA .

 

6. IMPLIKASI PEMBELAJARAN IPA TERPADU

 

Sesuatu yang baru atau merupakan inovasi tentu tidak mudah untuk dilaksanakan, karena memerlukan penyesuaian diri dan kemauan untuk beradaptasi. Begitu pula dengan pembelajaran IPA  Terpadu. Pembelajaran terpadu biasa dilakukan jenjang pendidikan usia dini, namun tidak menutup kemungkinan untuk diterapkan di jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yaitu jenjang SMP/MTs dan SMA/MA. Hasil uji coba menunjukkan bahwa pembelajaran terpadu dapat dilaksanakan.

a. Guru

Dalam pelaksanaannya, pembelajaran dapat dilakukan oleh tim pengajar atau guru tunggal. Hal ini tergantung pada kondisi sekolah. Bila di suatu sekolah guru IPA  terdiri atas guru fisika, kimia, biologi, maka dalam penyusunan silabus, perencanaan pembelajaran, penggunaan media, dan strategi mengajar sebaiknya dibuat bersama hingga penyusunan alat penilaiannya. Namun dalam pembelajarannya dapat dilakukan oleh guru tunggal. Bila di sekolah,  seorang guru mengajar semua mata pelajaran IPA, dan mengalami kesulitan untuk memadukan kompetensi dasar, indikator, dan materi, maka sangat dianjurkan agar guru tersebut bekerja sama dalam kelompok MGMP agar dapat terjadi diskusi tentang perencanaan strategi dan pelaksanaan KBM. Indikator yang sudah dipadukan tidak perlu diajarkan  dua kali karena tujuan pembelajaran terpadu adalah efisiensi dan efektivitas dalam pembelajaran.

Dalam pelaksanaannya di lapangan, pembelajaran IPA Terpadu terbentur pada masalah-masalah berikut ini.

  • Jadwal pelajaran yang sudah diatur sedemikian rupa dan tak dapat diubah begitu saja.
  • Masalah guru mata pelajaran IPA  yang terpisah.
  • Program semester yang telah memuat urutan materi yang akan diajarkan.
  • Penguasaan bahan ajar.
  • Keterpaduan kompetensi yang terjadi lintas kelas.

Dalam mengajarkan bahan ajar dilakukan oleh guru mata pelajaran yang dominan. Misalnya bahan ajar tersebut dominan biologi maka yang mengajar sebaiknya guru biologi, atau bersama-sama. Oleh karena itu, pembelajaran IPA  terpadu dapat diajarkan oleh guru tunggal atau tim pengajar  tergantung pada kesepakatan dan waktu.

Dalam bab sebelumnya telah diuraikan, bahwa yang terpenting adalah kerja sama antarguru IPA  yang ada di suatu sekolah dalam membuat perencanaan pembelajaran, mulai dari silabus, desain pembelajaran/rencana pelaksanaan pembelajaran hingga kesepakatan dalam bentuk penilaian. Bila hal ini dapat dilaksanakan, maka pembelajaran terpadu dapat meningkatkan kerja sama antarguru IPA, baik yang ada di sekolah maupun dalam lingkup MGMP. Kerja sama ini meliputi saling mempelajari materi dari mata pelajaran yang lain. Selain meningkatkan kerja sama, pembelajaran terpadu juga meningkatkan keharusan bagi guru untuk memperluas wawasan pengetahuannya.  Pembelajaran terpadu oleh guru tunggal dapat memperkecil masalah pelaksanaannya yang menyangkut jadwal pelajaran. Secara teknis, pengaturannya dapat dilakukan sejak awal semester atau awal tahun pelajaran. Hal yang perlu dihindarkan adalah pembahasan materi yang tidak seimbang karena wawasan pengetahuan tentang materi pelajaran yang lain kurang memadai. Hal utama yang harus dilakukan guru adalah memahami model pembelajaran terpadu secara konseptual maupun praktikal.

b. Peserta didik

Bagi peserta didik, pembelajaran terpadu dapat mempertajam kemampuan analitis terhadap konsep-konsep yang dipadukan, karena dapat mengembangkan kemampuan asosiasi konsep dan aplikasi konsep. Pembelajaran terpadu perlu dilakukan dengan variasi metode yang tidak membosankan. Aktivitas pembelajaran harus lebih banyak berpusat pada peserta didik agar dapat mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya.

c. Bahan Ajar

Bahan ajar  yang digunakan tidak hanya buku mata pelajaran saja,  tetapi dapat dari  berbagai mata pelajaran yang direkatkan oleh tema. Peserta didik dapat juga mencari berbagai sumber belajar lainnya. Bahkan bila memungkinkan mereka dapat menggunakan teknologi informasi yang ada. Aktivitas peserta didik dalam penugasan dapat menjadi nilai tambah yang menguntungkan.

Dalam pembelajaran terpadu, suatu bahan ajar dapat dibahas dari berberapa mata pelajaran sehingga wawasan peserta didik diharapkan akan lebih terbuka. Di samping itu karena konsep-konsep itu dipadukan dalam suatu pembelajaran, maka akan mengurangi kebosanan peserta didik terhadap pengulangan bahan ajar pada berbagai mata pelajaran.

d.  Sarana dan Prasarana

Dalam pembelajaran terpadu diperlukan berbagai alat dan media pembelajaran. Karena digunakan untuk pembelajaran konsep yang direkatkan oleh tema, maka penggunaan sarana pembelajaran dapat lebih efisien jika dibandingkan dengan pemisahan mata pelajaran. Memang tidak semua konsep dapat dipadukan. Konsep-konsep yang dipilih untuk direkat oleh tema dapat menghemat waktu dan ruang.

Berikut contoh Pemetaan Kompetensi Dasar untuk menjadi Tema dalam pembelajaran IPA Terpadu.

e. Kekuatan dan Kelemahan Pembelajaran Terpadu

Walaupun standar kompetensi dan kompetensi dasar IPA dikembangkan dalam submata pelajaran, pada tingkat pelaksanaan guru memiliki keleluasaan dalam membelajarkan peserta didiknya untuk mencapai kompetensi tersebut. Salah satu contoh yang akan dikembangkan dalam model ini adalah guru dapat mengidentifikasi standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dekat dan relevan untuk dikemas dalam satu tema dan disajikan dalam kegiatan pembelajaran yang terpadu. Yang perlu dicatat ialah pemaduan kegiatan dalam bentuk tema sebaiknya dilakukan pada jenjang kelas yang sama dan masih dalam lingkup  IPA .

Kekuatan/manfaat yang dapat dipetik melalui pelaksanaan pembelajaran terpadu antara laian sebagai berikut.

  • Dengan menggabungkan berbagai mata pelajaran akan terjadi penghematan waktu, karena ketiga disiplin ilmu (Fisika, Kimia, dan Biologi) dapat dibelajarkan sekaligus. Tumpang tindih materi juga dapat dikurangi bahkan dihilangkan.
  • Peserta didik dapat melihat hubungan yang bermakna antarkonsep Fisika, Kimia, dan Biologi.
  • Meningkatkan taraf kecakapan berpikir peserta didik, karena peserta didik dihadapkan pada gagasan atau pemikiran yang lebih luas dan lebih dalam ketika menghadapi situasi pembelajaran.
  • Pembelajaran terpadu menyajikan penerapan/aplikasi tentang dunia nyata yang dialami dalam kehidupan sehari-hari, sehingga memudahkan  pemahaman konsep dan kepemilikan kompetensi IPA.
  • Motivasi belajar peserta didik dapat diperbaiki dan ditingkatkan.
  • Pembelajaran terpadu membantu menciptakan struktur kognitif yang dapat menjembatani antara pengetahuan awal peserta didik dengan pengalaman belajar yang terkait, sehingga pemahaman menjadi lebih terorganisasi dan mendalam, sehingga memudahkan memahami hubungan materi IPA  dari satu konteks ke konteks lainnya.
  • Akan terjadi peningkatan kerja sama  antarguru submata pelajaran terkait, guru dengan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik, peserta didik/guru dengan narasumber; sehingga belajar lebih menyenangkan, belajar dalam situasi nyata, dan dalam konteks yang lebih bermakna.

Di samping kekuatan/manfaat yang dikemukakan itu, model pembelajaran IPA Terpadu juga memiliki kelemahan. Perlu disadari, bahwa sebenarnya  tidak ada model pembelajaran yang cocok untuk semua konsep, oleh karena itu model pembelajaran harus disesuaikan dengan konsep yang akan diajarkan. Begitu pula dengan pembelajaran terpadu dalam IPA memiliki beberapa kelemahan, akan tetapi kelemahan tersebut sebagai tantangan untuk terus berupaya diatasi oleh pihak-pihak yang terlibat di sekolah. Beberapa kelemahan yang perlu diatasi diuraikan sebagai berikut ini.

  1. Aspek Guru: Guru harus berwawasan luas,  memiliki kreativitas tinggi, keterampilan metodologis yang handal,  rasa percaya diri yang tinggi, dan berani mengemas dan mengembangkan materi. Secara akademik, guru dituntut untuk terus menggali informasi ilmu pengetahuan  yang berkaitan dengan materi yang akan diajarkan dan banyak membaca buku agar penguasaan bahan ajar tidak terfokus pada mata pelajaran tertentu saja. Tanpa kondisi ini, maka pembelajaran terpadu dalam IPA  akan sulit terwujud.
  2. Aspek peserta didik: Pembelajaran terpadu menuntut kemampuan belajar peserta didik yang relatif “baik”, baik dalam kemampuan akademik maupun kreativitasnya. Hal ini terjadi karena model pembelajaran terpadu menekankan pada kemampuan analitik (mengurai), kemampuan asosiatif (menghubung-hubungkan), kemampuan eksploratif dan elaboratif (menemukan dan menggali). Bila kondisi ini tidak dimiliki, maka penerapan model pembelajaran terpadu ini sangat sulit dilaksanakan.
  3. Aspek sarana dan sumber pembelajaran: Pembelajaran terpadu memerlukan bahan bacaan atau sumber informasi yang cukup banyak dan bervariasi, mungkin juga fasilitas internet. Semua ini akan menunjang, memperkaya, dan mempermudah pengembangan wawasan. Bila sarana ini tidak dipenuhi, maka penerapan pembelajaran terpadu juga akan terhambat.
  4. Aspek kurikulum: Kurikulum harus luwes, berorientasi pada pencapaian ketuntasan pemahaman peserta didik (bukan pada pencapaian target penyampaian materi). Guru perlu diberi kewenangan dalam mengembangkan materi, metode, penilaian keberhasilan pembelajaran peserta didik.
  5. Aspek penilaian: Pembelajaran terpadu membutuhkan cara penilaian yang menyeluruh (komprehensif), yaitu menetapkan keberhasilan belajar peserta didik dari beberapa mata pelajaran terkait yang dipadukan. Dalam kaitan ini, guru selain dituntut untuk menyediakan teknik dan prosedur pelaksanaan penilaian dan pengukuran yang komprehensif, juga dituntut untuk berkoordinasi dengan guru lain, bila materi pelajaran berasal dari guru yang berbeda.
  6. Suasana pembelajaran: Pembelajaran terpadu berkecenderungan mengutamakan salah satu mata pelajaran dan ‘tenggelam’nya mata pelajaran lain. Dengan kata lain, pada saat mengajarkan sebuah TEMA, maka guru berkecenderungan menekankan atau mengutamakan substansi gabungan tersebut sesuai dengan pemahaman, selera, dan latar belakang pendidikan guru itu sendiri.

 

Sekalipun pembelajaran terpadu mengandung beberapa kelemahan selain keunggulannya, sebagai sebuah bentuk inovasi dalam implementasi Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar perlu dikembangkan lebih lanjut. Untuk mengurangi kelemahan-kelemahan di atas, perlu dibahas bersama antara guru mata pelajaran terkait dengan sikap terbuka. Kesemuanya ini ditujukan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam pembelajaran IPA.

 

  1. E.       PEMBELAJARAN IPS TERPADU

 

1.  PENGERTIAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial seperti: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya.  Ilmu Pengetahuan Sosial dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang mewujudkan satu pendekatan interdisipliner dari aspek dan cabang-cabang ilmu-ilmu sosial (sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya). IPS atau studi sosial itu merupakan bagian dari kurikulum  sekolah yang diturunkan dari isi materi cabang-cabang ilmu-ilmu sosial: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, antropologi, filsafat, dan psikologi sosial.

 

Geografi, sejarah, dan antropologi merupakan disiplin ilmu yang memiliki keterpaduan yang tinggi. Pembelajaran geografi memberikan kebulatan wawasan yang berkenaan dengan wilayah-wilayah, sedangkan sejarah memberikan wawasan berkenaan dengan peristiwa-peristiwa dari berbagai periode. Antropologi meliputi studi-studi komparatif yang berkenaan dengan nilai-nilai, kepercayaan, struktur sosial, aktivitas-aktivitas ekonomi, organisasi politik, ekspresi-ekspresi dan spiritual, teknologi, dan benda-benda budaya dari budaya-budaya terpilih. Ilmu politik dan ekonomi tergolong ke dalam ilmu-ilmu tentang kebijakan pada aktivitas-aktivitas yang berkenaan dengan pembuatan keputusan. Sosiologi dan psikologi sosial merupakan ilmu-ilmu tentang perilaku seperti konsep peran, kelompok, institusi, proses interaksi dan kontrol sosial. Secara intensif konsep-konsep seperti ini digunakan ilmu-ilmu sosial dan studi-studi sosial.

 

2. KARAKTERISTIK MATA PELAJARAN IPS

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Ilmu-Ilmu Sosial di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), meliputi bahan kajian: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, antropologi, filsafat, psikologi sosial. Bahan kajian itu menjadi mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Mata pelajaran IPS bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa kehidupan masyarakat (Nursid Sumaatmaja, 1980;20)

 

Dalam implementasinya, perlu dilakukan berbagai studi yang mengarah pada peningkatan efisiensi dan efektivitas layanan dan pengembangan  sebagai konsekuensi  dari suatu inovasi pendidikan. Salah satu bentuk efisiensi dan efektivitas implementasi kurikulum, perlu dikembangkan berbagai model pembelajaran kurikulum.

Karateristik mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial SMP/MTs antara lain sebagai berikut.

  • Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan gabungan dari unsur-unsur geografi, sejarah, ekonomi, hukum dan politik, kewarganegaraan, sosiologi, bahkan juga bidang humaniora, pendidikan dan agama (Numan Soemantri, 2001).
  • Kompetensi Dasar IPS berasal dari struktur keilmuan geografi, sejarah, ekonomi, hukum dan politik, sosiologi, yang dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi  pokok bahasan atau topik (tema) tertentu.
  • Kompetensi Dasar IPS juga menyangkut berbagai masalah sosial yang dirumuskan dengan pendekatan interdisipliner dan multidisipliner.
  • Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar dapat menyangkut peristiwa dan perubahan kehidupan masyarakat dengan prinsip sebab akibat, kewilayahan, adaptasi dan pengelolaan lingkungan, struktur, proses dan masalah sosial serta upaya-upaya perjuangan hidup agar survive seperti pemenuhan kebutuhan, kekuasaan, keadilan dan jaminan keamanan (Daldjoeni, 1981).
  • Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar IPS menggunakan tiga dimensi dalam mengkaji dan memahami fenomena sosial serta kehidupan manusia secara keseluruhan. Ketiga dimensi tersebut terlihat pada tabel berikut.

 

Dimensi IPS Dalam Kehidupan Manusia

 

Dimensi dalam kehidupan manusia

Ruang

Waktu

Nilai/Norma

Area dan substansi pembelajaran Alam sebagai tempat dan penyedia potensi sumber daya Alam dan kehidupan yang selalu berproses, masa lalu, saat ini, dan yang akan datang Kaidah atau aturan yang menjadi perekat dan penjamin keharmonisan kehidupan manusia dan alam
Contoh Kompetensi Dasar yang dikembangkan Adaptasi spasial dan eksploratif Berpikir kronologis, prospektif, antisipatif Konsisten dengan aturan yang disepakati dan kaidah alamiah masing-masing disiplin ilmu
Alternatif penyajian dalam mata pelajaran Geografi Sejarah Ekonomi, Sosiologi/Antropologi

Sumber: Sardiman, 2004

 

3.  TUJUAN PEMBELAJARAN IPS

Tujuan utama Ilmu Pengetahuan Sosial ialah untuk mengembangkan potensi  peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi   sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat. Tujuan tersebut dapat dicapai manakala program-program pelajaran IPS di sekolah diorganisasikan secara baik. Dari rumusan tujuan tersebut dapat dirinci sebagai berikut (Awan Mutakin, 1998).

  • Memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat atau lingkungannya, melalui pemahaman terhadap nilai-nilai sejarah dan kebudayaan masyarakat.
  • Mengetahui dan memahami konsep dasar dan mampu menggunakan metode yang diadaptasi dari ilmu-ilmu sosial yang kemudian dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah sosial.
  • Mampu menggunakan model-model dan proses berpikir serta membuat keputusan untuk menyelesaikan isu dan masalah yang berkembang di masyarakat.
  • Menaruh perhatian terhadap isu-isu dan masalah-masalah sosial, serta mampu membuat analisis yang kritis, selanjutnya mampu mengambil tindakan yang tepat.
  • Mampu mengembangkan berbagai potensi sehingga mampu membangun diri sendiri agar survive yang kemudian bertanggung jawab membangun masyarakat.

 

4.  KONSEP PEMBELAJARAN TERPADU DALAM IPS

Pendekatan pembelajaran terpadu dalam IPS sering disebut dengan pendekatan interdisipliner. Model pembelajaran terpadu pada hakikatnya merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa baik secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip secara holistik dan otentik (Depdikbud, 1996:3). Salah satu di antaranya adalah memadukan Kompetensi Dasar melalui pembelajaran terpadu siswa dapat memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima, menyimpan, dan memproduksi kesan-kesan tentang hal-hal yang dipelajarinya. Dengan demikian, siswa terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari.

 

Pada pendekatan pembelajaran terpadu, program pembelajaran disusun dari berbagai cabang ilmu dalam rumpun ilmu sosial. Pengembangan pembelajaran terpadu, dalam hal ini, dapat mengambil suatu topik dari suatu cabang ilmu tertentu, kemudian dilengkapi, dibahas, diperluas, dan diperdalam dengan cabang-cabang ilmu yang lain. Topik/tema dapat dikembangkan dari isu, peristiwa, dan permasalahan yang berkembang. Bisa membentuk permasalahan yang dapat dilihat dan dipecahkan dari berbagai disiplin atau sudut pandang, contohnya banjir, pemukiman kumuh, potensi pariwisata, IPTEK, mobilitas sosial, modernisasi, revolusi yang dibahas dari berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial.

 

a. Model Integrasi Berdasarkan Topik

Dalam pembelajaran IPS keterpaduan dapat dilakukan berdasarkan topik  yang terkait, misalnya ‘pariwisata’. Pariwisata dalam contoh yang dikembangkan ditinjau dari berbagai disiplin ilmu yang tercakup dalam Ilmu Pengetahuan Sosial. Pengembangan pariwisata dalam hal ini ditinjau dari persebaran dan kondisi fisis-geografis yang tercakup dalam disiplin Geografi.

 

Secara sosiologis, pariwisata itu juga dapat ditinjau dari partisipasi masyarakat,  pengaruhnya terhadap kondisi sosial budaya setempat, dan interaksi antara wisatawan dengan masyarakat lokal. Secara historis dapat dikembangkan melalui sejarah daerah pariwisata tersebut. Keadaan politik juga dapat dikaji pula pada topik pengembangan pariwisata berkaitan dengan pengaruhnya terhadap perkembangan pariwisata. Selanjutnya, dampak pariwisata terhadap perkembangan ekonomi lokal maupun nasional dapat dikembangkan melalui kompetensi yang berkaitan dengan ekonomi. Skema berikut memberikan gambaran keterkaitan suatu topik/tema dengan berbagai disiplin ilmu.

 

 

 

b. Model Integrasi Berdasarkan Potensi Utama

Keterpaduan IPS dapat dikembangkan melalui topik yang didasarkan pada potensi utama yang ada di wilayah setempat; sebagai contoh, “Potensi Bali Sebagai Daerah Tujuan Wisata”. Dalam pembelajaran yang dikembangkan dalam Kebudayaan Bali dikaji dan ditinjau dari faktor alam, sosial/antropologis, historis kronologis dan kausalitas, serta perilaku masyarakat terhadap aturan. Melalui kajian potensi utama yang terdapat di daerahnya, maka siswa selain dapat memahami kondisi daerahnya juga sekaligus memahami Kompetensi Dasar yang terdapat pada beberapa disiplin yang tergabung dalam Ilmu Pengetahuan Sosial.

 

  • Potensi objek wisata
    • Memupuk aspirasi terhadap kesenian
  • Keamanan dan stabilitas daerah
    • Azas manfaat terhadap kesejahteraan penduduk

 

c. Model Integrasi Berdasarkan Permasalahan

Model pembelajaran terpadu pada IPS yang lainnya adalah berdasarkan permasalahan yang ada, contohnya adalah “Pemukiman Kumuh”. Pada pembelajaran terpadu, Pemukiman Kumuh ditinjau dari beberapa faktor sosial yang mempengaruhinya. Di antaranya adalah faktor ekonomi, sosial, dan budaya. Juga dapat dari faktor historis kronologis dan kausalitas, serta perilaku masyarakat terhadap aturan/norma.

 

 

 

5. PELAKSANAAN PEMBELAJARAN TERPADU

a. Perencanaan

Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran terpadu bergantung pada kesesuaian rencana yang dibuat dengan kondisi dan potensi siswa (minat, bakat, kebutuhan, dan kemampuan). Untuk menyusun perencanaan pembelajaran terpadu perlu dilakukan langkah-langkah berikut ini.

  • Pemetaan Kompetensi Dasar
  • Penentuan Topik/tema
  • Penjabaran (perumusan) Kompetensi Dasar ke dalam indikator sesuai topik/tema
  • Pengembangan Silabus
  • Penyusunan Desain/Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Langkah-langkah tersebut secara rinci dijelaslan sebagai berikut ini.

1) Pemetaan Kompetensi Dasar

Langkah pertama dalam pengembangan model pembelajaran terpadu adalah melakukan pemetaan pada semua Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran IPS per kelas yang dapat dipadukan. Kegiatan pemetaan ini dilakukan untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh dan utuh.

Kegiatan yang dapat dilakukan pada pemetaan ini antara lain dengan:

  • mengidentifikasi Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar pada mata pelajaran IPS yang dapat dipadukan dalam satu tingkat kelas yang sama; dan
  • menentukan tema/topik pengikat antar-Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar.

Beberapa ketentuan dalam pemetaan Kompetensi Dasar dalam pengembangan model pembelajaran terpadu Ilmu Pengetahuan Sosial adalah sebagai berikut.

  • Mengidentifikasikan beberapa Kompetensi Dasar dalam berbagai Standar Kompetensi   yang memiliki potensi untuk dipadukan.
  • Beberapa Kompetensi Dasar yang tidak berpotensi dipadukan, jangan dipaksakan untuk dipadukan dalam pembelajaran. Kompetensi Dasar yang tidak diintegrasikan dibelajarkan/disajikan secara tersendiri.
  • Kompetensi Dasar dipetakan tidak harus berasal dari semua Standar Kompetensi yang ada pada mata pelajaran IPS pada kelas yang sama, melainkan memungkinkan hanya dua atau tiga Kompetensi Dasar saja.
  • Kompetensi Dasar yang sudah dipetakan dalam satu topik/tema masih bisa dipetakan dengan topik/tema lainnya.

 

Berikut ini contoh pemetaan Kompetensi Dasar pada mata pelajaran IPS yang dapat diintegrasikan/dipadukan.

 Peta Kompetensi Dasar yang Berpotensi IPS Terpadu

Kelas VII

 

No.

Geografi

Sosiologi

Ekonomi

Sejarah

Tema

1. Semester 2

6.1 Mendeskripsikan pola kegiatan ekonomi penduduk, penggunaan lahan, dan pola pemukiman berdasarkan kondisi fisik permukaan bumi.

Semester 1

2.1  Mendeskripsikan interaksi sebagai proses sosial.

Semester 2

6.2  Mendeskripsikan kegiatan pokok ekonomi yang meliputi kegiatan konsumsi, produksi, dan distribusi barang/jasa.

 

Semester 2

5.1  Mendeskripsikan perkembangan masyarakat, kebudayaan, dan pemerintahan pada masa Islam di Indonesia, serta peninggalan-peninggalannya

 

Kegiatan Ekonomi Penduduk
2 Semester 2

4.3 Mendeskripsikan kondisi geografis dan penduduk

 

6.1 Mendeskripsikan pola kegiatan ekonomi penduduk, penggunaan lahan dan pola pemukiman berdasarkan kondisi fisik permukaan bumi.

Semester 2

2.1  Mendeskripsikan interkasi sebagai proses sosial.

 

2.3  Mengidentifikasi bentuk-bentuk interaksi sosial

 

2.4  Menguraikan proses interaksi sosial

Semester 1

3.1  Mendeskripsikan manusia sebagai makhluk sosial dan ekonomi yang bermoral dalam kaitannya dengan usaha memenuhi kebutuhan dan pemanfaatan sumber daya yang tersedia.

 

Semester 2

5.3  Mendeskripsikan perkembangan masyarakat, kebudayaan, dan pemerintahan pada masa Kolonial Eropa

Kelangkaan Sumber Daya
3. Semester 2

4.1 Menggunakan peta, atlas dan globe untuk mendapatkan informasi keruangan.

  Semester 2

6.2  Mendeskripsikan kegiatan pokok ekonomi yang meliputi kegiatan konsumsi, produksi dan distribusi barang/jasa.

Semester 1

5.1  Mendeskripsikan perkembangan masyarakat, kebudayaan, dan pemerintahan pada masa Hindu-Buddha, serta peninggalan-peningalannya

 

5.2  Mendeskripsikan perkembangan masyarakat, kebudayaan, dan pemerintahan pada masa Islam di Indonesia, serta peninggalan-peningalannya

 

5.3  Mendeskripsikan perkembangan masyarakat, kebudayaan, dan pemerintahan pada masa Kolonial Eropa

 

Pemanfaatan Peta

 

 

 

 

Peta Kompetensi Dasar yang Berpotensi IPS Terpadu

Kelas VIII

 

No.

Geografi

Sosiologi

Ekonomi

Sejarah

Tema

1. Semester 1

1.1 Mendeskripsikan kondisi fisik wilayah dan penduduk.

 

Semester 2

6.1 Mendeskripsikan bentuk-bentuk hubungan sosial

 

6.2 Mendeskripsikan pranata sosial dalam kehidupan masyarakat

 

6.3 Mendeskripsikan upaya pengendalian penyimpangan sosial

Semester 1

4.3  Mengidentifikasi bentuk pasar dalam kegiatan ekonomi masyarakat.

 

 

Semester 1

2.1 Menjelaskan proses perkembangan kolonialisme dan imperialisme Barat, serta pengaruh yang ditimbulkannya di berbagai daerah di Indonesia.

 

Globalisasi
2. Semester 1

1.1 Mendeskripsikan kondisi fisik wilayah dan penduduk.

 

 

Semester 1

6.2 Mendeskripsikan pranata sosial dalam kehidupan masyarakat

 

Semester 2

7.2 Mendeskripsikan pelaku-pelaku ekonomi dalam sistem perekonomian Indonesia.

  Peran Indonesia dalam Pergaulan Antarbangsa
3. Semester 1

1.1 Mendeskripsikan kondisi fisik wilayah dan penduduk.

Semester 2

6.2 Mendeskripsikan pranata sosial dalam kehidupan masyarakat

 

Semester 2

7.1 Mendeskripsikan permasalahan angkatan kerja dan tenaga kerja sebagai sumber daya dalam kegiatan ekonomi, serta peran pemerintah dalam upaya penanggulangan-nya.

 

7.2 Mendeskripsikan palaku-pelaku ekonomi dalam sistem perekonomian Indonesia.

 

Semester 1

2.2 Menguraikan proses terbentuknya kesadaran nasional, identitas Indonesia, dan perkembangan pergerakan kebangsaan Indonesia.

 

Otonomi Daerah

 

4. Semester 2

1.3 Mendeskripsikan permasalahan lingkungan hidup dan upaya penang-gulangannya dalam pembangunan berkelanjutan.

Semester 2

6.1 Mendeskripsikan bentuk-bentuk hubungan sosial

 

6.2 Mendeskripsikan pranata sosial dalam kehidupan masyarakat

 

6.3 Mendeskripsikan upaya pengendalian penyimpangan sosial

 

Semester 2

4.1 Mendeskripsikan hubungan antara kelangkaan sumber daya dengan kebutuhan manusia yang tidak terbatas

 

2.1 Menjelaskan proses perkembangan kolonialisme dan imperialisme Barat, serta pengaruh yang ditimbulkannya di berbagai daerah di Indonesia.

 

Pelestarian Lingkungan

 

 

 

Peta Kompetensi Dasar yang Berpotensi IPS Terpadu

Kelas IX

No.

Geografi

Sosiologi

Ekonomi

Sejarah

Tema

1. Semester 2

5.1 Menginterpretasi-kan peta tentang bentuk dan pola muka bumi.

 

Semester 1

3.1Mendeskripsi-kan perubahan sosial-budaya pada masyarakat

 

3.2 Menguraikan tipe-tipe perilaku masyarakat dalam menyikapi perubahan

 

 

 

Semester 1

7.1Mendeskripsikan uang dan lembaga keuangan.

 

 

Semester 2

7.2 Menguraikan perkembangan lembaga-lembaga internasional dan peran Indonesia dalam kerjasama internasional

 

Pengemba-ngan Pariwisata
2 Semester 2

5.2 Mendeskripsikan keterkaitan unsur-unsur geografis dan penduduk di kawasan Asia Tenggara

 

Semester 2

7.3 Menguraikan perilaku masyarakat dalam perubahan sosial-budaya di era global

Semester 2

7.4 Mendeskripsikan kerjasama antar negara di bidang ekonomi

Semester 2

7.2Menguraikan perkembangan lembaga-lembaga internasional dan peran Indonesia dalam kerjasama internasional

 

Modernisasi
3. Semester 2

5.2 Mendeskripsikan keterkaitan unsur-unsur geografis dan penduduk di kawasan Asia Tenggara

 

Semester 1

1.1  Mengidentifikasi ciri-ciri negara berkembang dan negara maju.

 

Semester 2

7.3 Menguraikan perilaku masyarakat dalam perubahan sosial-budaya di era global

Semester 2

7.4 Mendeskripsikan kerjasama antar negara di bidang ekonomi

 

7.5          Mengidentifikasi dampak kerjasama antar negara terhadap perekonomian Indonesia

Semester 2

7.2 Menguraikan perkembangan lembaga-lembaga internasional dan peran Indonesia dalam kerjasama internasional

 

 

Kerjasama Inter-nasional

 

 

 

2) Penentuan Topik/Tema

 

Setelah pemetaan Kompetensi Dasar selesai, langkah selanjutnya dilakukan penentuan topik/tema. Topik/tema  yang ditentukan harus relevan dengan Kompetensi Dasar yang telah dipetakan. Dengan demikian, dalam satu mata pelajaran IPS pada satu tingkatan kelas terdapat beberapa topik yang akan dibahas.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penentuan topik/tema pada pembelajaran IPS Terpadu antara lain meliputi hal-hal berikut.

  • Topik, dalam pembelajaran IPS Terpadu, merupakan perekat antar-Kompetensi Dasar yang terdapat dalam satu rumpun mata pelajaran IPS.
  • Topik yang ditentukan selain relevan dengan Kompetensi-kompetensi Dasar yang terdapat dalam satu tingkatan kelas, juga sebaiknya relevan dengan pengalaman pribadi siswa, dalam arti sesuai dengan keadaan lingkungan setempat. Hal ini agar pembelajaran yang dilakukan dapat lebih bermakna bagi siswa; contohnya, untuk kelas VII ada 3 (tiga) topik/tema yaitu: aktivitas ekonomi penduduk, kelangkaan sumber daya alam, dan pemanfaatan peta.
  • Dalam menentukan topik, isu sentral yang sedang berkembang saat ini, dapat menjadi prioritas yang dipilih dengan tidak mengabaikan keterkaitan antar-Kompetensi Dasar pada satu rumpun yang telah dipetakan. Contohnya, Pemberlakuan Otonomi Daerah, Pertumbuhan Industri, Pemilihan Kepala Daerah Secara Langsung, Pasca Gempa Bumi dan Tsunami, Penyakit Folio, Penyakit Busung Lapar.

Berikut ini beberapa contoh Topik yang relatif relevan dengan pemetaan Kompetensi Dasar.

 

Kelas VII SMP

i) Topik: Kegiatan Ekonomi Penduduk

No

Geografi

Sosiologi

Ekonomi

Sejarah

1. Semester 2

6.1 Mendeskripsikan pola kegiatan ekonomi penduduk, penggunaan lahan, dan pola pemukiman berdasarkan kondisi fisik permukaan bumi.

 

Semester 1

2.1  Mendeskripsikan interaksi sebagai proses sosial.

Semester 2

6.2  Mendeskripsikan kegiatan pokok ekonomi yang meliputi kegiatan konsumsi, produksi, dan distribusi barang/jasa.

 

Semester 2

5.2  Mendeskripsikan perkembangan masyarakat, kebudayaan, dan pemerintahan pada masa Islam di Indonesia, serta peninggalan-peninggalannya

 

 

 

 

Kelas VIII SMP

ii) Topik : Pelestarian Lingkungan

No

Geografi

Sosiologi

Ekonomi

Sejarah

1.

Semester 2

1.3 Mendeskripsikan permasalahan lingkungan hidup dan upaya penang-gulangannya dalam pembangunan berkelanjutan.

Semester 2

6.1 Mendeskripsikan bentuk-bentuk hubungan sosial

6.2 Mendeskripsikan pranata sosial dalam kehidupan masyarakat

6.3 Mendeskripsikan upaya pengendalian penyimpangan sosial

 

Semester 2

4.1  Mendeskripsikan hubungan antara kelangkaan sumber daya dengan kebutuhan manusia yang tidak terbatas

 

2.1 Menjelaskan proses perkembangan kolonialisme dan imperialisme Barat, serta pengaruh yang ditimbulkannya di berbagai daerah di Indonesia.

 

 

Kelas IX SMP.

iii) Topik: Pengembangan Pariwisata

No

Geografi

Sosiologi

Ekonomi

Sejarah

Semester 2

5.1 Menginterpretasi-kan peta tentang bentuk dan pola muka bumi.

 

Semester 1

3.1 Mendeskripsi-kan perubahan sosial-budaya pada masyarakat

 

3.2 Menguraikan tipe-tipe perilaku masyarakat dalam menyikapi perubahan

 

Semester 1

7.1 Mendeskripsikan uang dan lembaga keuangan.

 

 

Semester 2

7.2 Menguraikan perkembangan lembaga-lembaga internasional dan peran Indonesia dalam kerjasama internasional

 

 

3Penjabaran Kompetensi Dasar ke dalam Indikator

Setelah melakukan langkah Pemetaan Kompetensi Dasar dan Penentuan Topik/Tema sebagai pengikat keterpaduan, maka Kompetensi-kompetensi Dasar tersebut dijabarkan ke dalam indikator pencapaian hasil belajar yang nantinya digunakan untuk penyusunan silabus.

Contoh perumusan Kompetensi Dasar ke dalam berbagai indikator pencapaian

 

 

 

Kompetensi Dasar Geografi:

Mendeskripsikan pola kegiatan ekonomi penduduk, pengunaan lahan, dan pola pemukiman berdasarkan kondisi fisik permukaan bumi.

Perumusan indikatornya:

  • Mengidentifikasikan mata pencaharian penduduk (pertanian, nonpertanian).
  • Mendeskripsikan bentuk penggunaan lahan di pedesaan dan perkotaan.
  • Mendiskripsikan persebaran permukiman penduduk di berbagai bentang lahan dan mengungkapkan alasan penduduk memilih bermukim di lokasi tersebut.

Kompetensi Dasar Sosiologi:

Mendeskripsikan interaksi sebagai proses sosial.

Perumusan indikatornya:

  • Mengidentifikasi pola-pola keselarasan sosial dalam keluarga dan masyarakat.
  • Menentukan sikap dalam keragaman sosial untuk mewujudkan keselarasan sosial.

Kompetensi Dasar Ekonomi:

Mendeksripsikan kegiatan pokok ekonomi yang meliputi kegiatan konsumsi, produksi, dan distribusi barang/jasa.

Perumusan indikatornya:

  • Menguraikan kegiatan konsumsi barang dan jasa.
  • Menguraikan kegiatan produksi barang dan jasa.
  • Menguraikan kegiatan distribusi barang dan jasa.

 

Kompetensi Dasar Sejarah:

Mendeksripsikan perkembangan masyarakat, kebudayaan, dan pemerintahan pada masa Islam di Indonesia, serta peninggalan-peninggalannya.

Perumusan indikatornya:

  • Menyusun kronologis proses masuk berkembangnya Islam di Indonesia dengan menggunakan ensiklopedi dan referensi relevan lainnya.
  • Menjelaskan peranan pedagang dan ulama dalam proses awal perkembangan Islam di Indonesia.

4)  Penyusunan Silabus

Hasil seluruh proses yang telah dilakukan pada langkah-langkah sebelumnya dijadikan sebagai dasar dalam penyusunan silabus pembelajaran terpadu. Komponen penyusunan silabus terdiri dari Standar Kompetensi IPS (Sosiologi, Sejarah, Geografi, dan Ekonomi), Kompetensi Dasar, Indikator, Pengalaman belajar, alokasi waktu, dan penilaian.

 

5) Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Pelaksanaan Proses Pembelajaran  serta Penilaian Hasil Pembelajaran.

 

 Penyusunan RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan peserta didik dalam upaya mencapai KD. Demikian pula untuk pelaksanaan proses pembelajaran, maupun penilaian hasil pembelajaran untuk mengukur tingkat pencapaian kompetensi siswa, menggunakan prinsi-prinsip minimal sesuai dengan standar isi, standar proses, standar penilaian, dan dikembangkan dengan prinsip-prinsip utama dalam pembelajaran dan penilaian pada pembelajaran kontekstual (CTL).

  1. a.     Implikasi Pembelajaran IPS Terpadu

Implikasi pembelajaran IPS terpadu terhadap guru, peserta didik, bahan ajar, sarana dan prasarana  dalam pelaksanaannya bergantung pada sekolah masing-masing sama seperti pada pembelajaran IPA terpadu. Diharapkan guru yang profesional sesuai dengan PP 74 dan minimal standar proses dapat melaksanakan pembelajaran  IPS terpadu tanpa mengalami kendala. 

DAFTAR PUSTAKA

 

Depdiknas. Direktorat Pembinaan SMP. 2008. Bahan Sosialisasi KTSP. Jakarta.

Depdiknas. Direktorat Pembinaan SMA. 2009. Pengembangan Pembelajaran Yang Efektif. Bahan Bimbingan Teknis KTSP. Jakarta.

Depdiknas. Direktorat Tenaga Kependidikan. 2009. Bahan TOT untuk Calon Master Trainer  Pengawas Sekolah. Jakarta.

Hamalik, Oemar. 1990. Metode Belajar dan Kesulitan-Kesulitan Belajar. Bandung: Tarsito

Ibrahim R, Syaodih S Nana. 2003. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Joyce Bruce. Et al. 2000. Models of Teaching. 6th Ed. Allyn & Bacon: London

Lestari, Tita. 1997. Dampak Penerapan Metode Pemecahan Masalah Terhadap Tingkat Kemampuan Berpikir SMA Pada Pembelajaran Matematika. Tesis-S-2 Program Studi Pengembangan Kurikulum. Pasca Sarjana IKIP Bandung.

Nasution. S. 2005. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Menga-jar.Jakarta: Bumi Aksara.

Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran.Jakarta: Media Prenada

Sudjana, Nana. 1989. Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Menga-jar.Bandung: Sinar Baru.

Sudjana, Nana. 1989. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru.

Syaodih, Nana. 2004. Kurikulum dan Pembelajaran Kompetensi. andung. Kesuma Karya.

Uno, B. Hamzah. 2006. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Yamin, Martinis. 2006. Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi. Jakarta: Gaung Persada Press.

LAMPIRAN PETA STANDAR KOMPETENSI DAN

KOMPETENSI DASAR IPA TERPADU

  1. PETA STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR YANG BERPOTENSI

IPA TERPADU

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s