Arsip Bulanan: Februari 2013

LATIHAN PENGISIAN DUPAK


TabelAngkaKredit”’ 05-’Form PAK-Lampiran V 04-Form DUPAK-Lampiran I 03-Form DUPAK-Lampiran II-IV 02-Form Lampiran D 01-Soal Lat Pengisian DUPAK 11 Des 2010 Simulasi Penjelasan Proses PAK 04b Hitungan Angka Kredit Guru

DOWNKOAD ADMINISTRASI DUPAK


TabelAngkaKredit

05-Form PAK-Lampiran V

04-Form DUPAK-Lampiran I

03-Form DUPAK-Lampiran II-IV

02-Form Lampiran D

01-Soal Lat Pengisian DUPAK 11 Des 2010

 

PAKET SIMULASI UNTUK PENJELASAN PROSES PENGHITUNGAN ANGKA KREDIT


PAKET PELATIHAN

TIM PENILAI JABATAN FUNGSIONAL GURU

PERHITUNGAN ANGKA KREDIT PENILAIAN KINERJA GURU

 

Petunjuk

  1. Peserta (yang sudah dikelompokan) dimohon membaca paket pelatihan dengan cermat;
  2. Menjawab 12 pertanyaan di bawah ini: (sumber jawaban diberikan untuk pertanyaan 1 s.d. 6 saja);
  3. Mohon dibahas dan disepakati dengan teman dalam kelompok.

Petanyaan

  1. Bahan-bahan apa saja yang diterima oleh Tim Penilai Jabatan Fungsional tentang hasil PK Guru dari setiap guru?  (Lihat point 1).
  2. Apa yang digunakan untuk mengkonversikan hasil PK Guru ke dalam prosen berdasarkan Permenegpan dan RB? (Lihat point 2).
  3. Berapa skor maksimum hasil PK Guru bagi guru kelas/mata pelajaran dan apa sebabnya? Berapa skor maksimum hasil PK Guru bagi guru bimbingan dan konseling/konselor dan apa sebabnya? (Lihat point 1).
  4. Ada 8 hal yang diperlukan untuk menghitung PK Guru, sebutkan? (Lihat point 2).
  5. Sebelum menghitung PK Guru untuk angka kredit, Tim Penilai Jabatan Fungsional harus melakukan verifikasi hasil PK Guru. Bagaimana ini dilaksanakan? (Lihat point 2)
  6. Apa arti simbol-simbol dalam rumus ini? (Lihat point 2)

  1. Nilai apa yang harus di tulis pertama kali dalam rumus di atas?
  2. Ada dua kegiatan yang digunakan untuk pengurangan angka pada no 7, sebutkan kegiatan apa saja?
  3. Kalau seorang guru mengajar 12 jam per minggu, bagaimana penulisannya dalam rumus di atas?
    1. Bagaimana penggunaan hasil PK Guru dalam rumus di atas?
    2. Jika seorang guru mata pelajaran dapat nilai 45 dari 56 untuk PK Guru, berapa prosen perolehan angka kredit yang akan diterima oleh guru dimaksud?
    3.  Jika seorang guru bimbingan dan konseling/konselor  dapat nilai 66 dari 68 untuk PK Guru, berapa prosen perolehan angka kredit yang akan diterima oleh guru dimaksud?

 

 

 


PAKET PELATIHAN

TIM PENILAI JABATAN FUNGSIONAL GURU

PERHITUNGAN ANGKA KREDIT PENILAIAN KINERJA GURU

Angka kredit kumulatif yang harus dimilki guru dalam proses promosi kenaikan jabatan/pangkatnya dihitung berdasarkan hasil penilaian terhadap beberapa unsur utama dan penunjang sesuai dengan tugas dan beban kerja guru. Unsur utama mencakup pendidikan, pembelajaran/bimbingan, tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah, dan pengembangan keprofesian berkelanjutan. Sedangkan unsur penunjang adalah kegiatan yang mendukung pelaksanaan tugas guru, seperti memperoleh gelar/ijazah yang tidak sesuai dengan bidang yang diampunya, memperoleh penghargaan/tanda jasa, dan melaksanakan kegiatan yang mendukung tugas guru antara lain membimbing peserta didik dalam praktik kerja nyata/industri/esktrakurikuler, menjadi/membina anggota organisasi profesi/kepramukan, menjadi tim penilai angka kredit, dan menjadi tutor/pelatih/instruktur.

Untuk menghitung angka kredit hasil penilaian kinerja guru (PK GURU) subunsur melaksanakan proses pembelajaran/pembimbingan, atau tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah digunakan sistem paket.

 

  1. 1.    Bahan yang diterima

Dari setiap guru, Tim Penilai Jabatan Fungsional Guru akan menerima hasil penilaian kinerja guru sebagai berikut:

1.1.  Format Perhitungan Angka Kredit PK Guru Kelas/Mata Pelajaran (Lampiran 1D) atau Format Perhitungan Angka Kredit PK Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor (Lampiran 2D)

Format ini berisi:

  1. Nilai PK Guru.

b. Konversi nilai PK Guru berdasarkan ketentuan Permenegpan dan RB Nomor 16/2009.

c. Sebutan hasil konversi dan perolehan persentase angka kredit yang dicapai berdasarkan Permenegpan dan RB Nomor 16/2009 pasal 15.

  1. Perolehan angka kredit yang dihitung berdasarkan rumus untuk satu tahun yang bersangkutan yang dihitung dari angka kredit kumulatif, jumlah angka kredit PKB (pengembangan diri, publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif), angka kredit unsur penunjang, jumlah jam wajib mengajar/jumlah wajib konseli dan sebutan hasil konversi di atas (point c).

 

1.2.  Rekap Hasil PK Guru Kelas/Mata Pelajaran (Lampiran 1C) dan Rekap Hasil PK Guru Bimbingan dan Konseling (Lampiran 2C)

Rekap ini berisi tentang rekap hasil penilain dari setiap kompetensi dan jumlah hasil penilaian dari setiap kompetensinya. Pada paket pelatihan ini diberikan contoh Lampiran 1C yang sudah terisi dan Lampiran 1 C yang belum terisi. Demikian pula untuk guru bimbingan dan konseling/konselor diberikan contoh Lampiran 2C yang sudah diisi dan 2C yang belum terisi.

Catatan:

Format-format laporan ini digunakan untuk tujuan penilaian yang berbeda (formatif, sumatif dan kemajuan).

Untuk keperluan Tim Penilai Jabatan Fungsional Guru, mohon diperiksa Rekap Hasil PK Guru Kelas/Mata Pelajaran (Lampiran 1C) yang dikirim sudah diberi tanda centang “V pada kolom “sumatif”.

1.3.  Laporan dan Evaluasi Penilaian Kinerja Guru Kelas/Guru Mata Pelajaran (Lampiran 1B) dan Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor (Lampiran 2 B).

Laporan ini merupakan laporan hasil penilaian untuk setiap kompetensi yang dinilai, yaitu 14 kompetensi untuk guru kelas/mata pelajaran dan 17 kompetensi untuk guru BK/konselor, dengan skor maksimum banyak kompetensi dikalikan 4 (56 untuk guru kelas/mata pelajaran dan 68 untuk guru pembimbingan).

Ini merupakan bukti dari sebelum pengamatan, selama pengamatan, setelah pengamatan  dan pemantauan bersama untuk dilakukan penilaian terhadap setiap indikator pada setiap  kompetensinya, didukung dengan bukti dan catatan-catatan yang ada.

Lihat contoh  Laporan dan Evaluasi Penilaian Kinerja Guru Kelas/Guru Mata Pelajaran (Lampiran 1B  yang  sudah diisi  dan  belum diisi dan Lampiran 2 B yang belum diisi).

  1. 2.    Tugas Tim Penilai

Ada dua tugas yang harus dilakukan oleh Tim Penilai Jabatan Fungsional Guru yaitu:

Melakukan verifikasi terhadap bukti-bukti yang diterima dan Menghitung Angka Kredit berdasarkan Bukti-Bukti yang diterima dari hasil PK Guru.

2.1    Melakukan verifikasi terhadap bukti-bukti yang diterima

Dalam melakukan verifikasi 3 (tiga) tahap yang harus dilakukan oleh Tim Penilai sebagai berikut.

  1. Menentukan bahwa nilai pada Rekap Hasil Penilaian Kinerja Guru (Lampiran 1B dan Lampiran 2B diisi sesuai dengan nilai pada  Laporan dan Evaluasi Penilaian Kinerja (Lampiran 1A dan 2A).
  2. Menentukan nilai untuk setiap kompetensi, yaitu dengan menjumlahkan nilai untuk masing-masing indikator, menentukan persentase pada kompetensi dimaksud dengan menjumlahkan nilai pada indikator dibagi skor maksimum dan selanjutnya menentukan konversi dari persentase indikator kepada nilai 1-4 sesuai dengan skala di ujung format. Lihat contoh Lampiran 1A dan 2 A.

  1. Membandingkan bukti dengan hasil penilaian dan memastikan  bahwa nilainya sesuai dengan bukti yang ada.

(Ada latihan khusus untuk kegiatan ini: Materi Simulasi PK Guru bagi Tim Penilai Jabatan Fungsional Kegiatan.

2.2    Menghitung Angka Kredit berdasarkan Bukti-Bukti yang diterima dari hasil PK Guru

Untuk menghitung jumlah angka kredit bagi guru, ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

  1. dokumen-dokumen pendukung yang diperlukan adalah sebagai berikut:

1)   Rekap Hasil Penilan Kinerja Guru Kelas/Mata Pelajaran (Lampiran 1C) dan/atau  Rekap   Hasil Penilaian Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor (Lampiran 2C)

Isi rekap ini adalah profil  hasil penilaian kinerja guru Kelas/Mata Pelajaran/Bimbingan dan Konseling/Konselor sesuai dengan masing-masing kompetensinya. Selanjutnya hasil penilaian dari setiap kompetensi  dijumlahkan sebagai skor penilaian kinerja guru yang belum dikonversikan kepada ketentuan Permenegpan dan RB Nomor 16 Tahun 2009.

2)   Skala Konversi hasil PK Guru berdasarkan Permenegpan dan RB Nomor 16 Tahun 2009.

Selanjutnya hasil pada nomor a) di atas dilakukan konversi berdasarkan Permenegpan dan RB Nomor 16 Tahun 2009 dengan menggunakan rumus :

Selanjutnya gunakan tabel berikut untuk menentukan sebutan dan prosentase angka kredit yang diperoleh

Skala Konversi

Permenneg PAN dan RB No.16 tahun 2009

(Skala 0 – 100)

Sebutan

Persentase Angka kredit yang diperoleh

91 – 100

Amat baik

125%

76 – 90

Baik

100%

61 – 75

Cukup

75%

51 – 60

Sedang

50%

≤ 50

Kurang

25%

Sumber: Pedoman Pelaksanaan PK Guru Tabel 12

3)   Kerangka peningkatan karir guru dengan persyaratan angka kredit untuk kenaikan pangkat dan jabatan fungsional guru.

Tabel di bawah ini  menunjukkan jumlah angka kredit yang dibutuhkan untuk kenaikan  di setiap jenjang  dan angka kredit  yang butuhkan dari kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan, pengembangan diri , dan publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif. Total angka kredit merupakan jumlah angka kredit yang dikumpulkan guru dengan membagi 4, hasilnya angka kredit per tahun, angka 4 merupakan jumlah tahun minimal yang diperkirakan guru bersangkutan akan naik pangkat untuk setiap golongan.

Kerangka Peningkatan Karir Guru

TINGKAT JABATAN GOL ANGKA KREDIT KARIR LAMA DALAM GOL
GURU UTAMA IV/e Akhir jabatan Guru dan semua jabatan pengelolaan; 4 tahun Akhir jabatan; Tidak ada batas
IV/d 200; 5 dari pengembangan diri; 20 dari publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif; Guru dan semua jabatan pengelolaan; 4 tahun Min. 4 tahun;

Total kumulatif 32 tahun

GURU MADYA IV/c 150; 5 dari pengembangan diri; 14 dari publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif; presentasi ilmiah Guru dan semua jabatan pengelolaan; 4 tahun Min. 4 tahun total 12 tahun; Total kumulatif 28 tahun
IV/b 150; 4 dari pengembangan diri; 12 dari publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif; Guru dan semua jabatan pengelolaan; 4 tahun Min. 4 tahun
IV/a 150; 4 dari pengembangan diri; 12 dari publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif; Guru dan semua jabatan pengelolaan; 4 tahun Min. 4 tahun
GURU MUDA III/d 100; 4 dari pengembangan diri; 8 dari publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif; Guru dan semua jabatan pengelolaan; 4 tahun Min. 4 tahun

Total 8 tahun

Total kumulatif 16 tahun

III/c 100; 3 dari pengembangan diri; 6 dari publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif; Guru dan semua jabatan pengelolaan; 4 tahun Min. 4 tahun
GURU PERTAMA III/b 50; 3 dari pengembangan diri; 4 dari publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif; Guru; 4 tahun Min. 4 tahun

Total 8 tahun

III/a 50; 3 dari pengembangan diri; Guru; 4 tahun Min. 4 tahun

4)   Hasil guru dari kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB)

Kegiatan guru terkait dengan PKB terdiri dari Pengembangan diri,  publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif.

5)   Jumlah beban mengajar guru setiap minggu dan jumlah  konseli per semester

Surat keterangan beban mengajar guru setiap minggunya dan/atau jumlah konseli setiap semesternya yang ditandatangani oleh Kepala Sekolah dan diketahui oleh Dinas Pendidikan (contoh terlampir)

6)   Surat keterangan dari Kepala Sekolah yang termasuk dalam kegiatan unsur penunjang yang dilaksanakan oleh guru dan diusulkan untuk mendapatkan angka kredit dalam kategori kegiatan penunjang sesuai dengan ketentuan Permenegpan dan RB Nomor 16/2009 (halaman 31-32).

7)   Rumus yang digunakan menghitung angka kredit, seperti berikut.

 

Keterangan:

  • AKK adalah angka kredit kumulatif minimal yang dipersyaratkan untuk kenaikan pangkat
  • AKPKB adalah angka kredit PKB yang diwajibkan (subunsur pengembangan diri, karya ilmiah, dan/atau karya inovatif)
  • AKP adalah angka kredit unsur penunjang sesuai ketentuan (paling banyak 10%)
  • JM adalah jumlah jam mengajar (tatap muka) guru di sekolah/mandrasah atau jumlah konseli yang dibimbing oleh guru BK/Konselor per tahun
  • JWM adalah jumlah jam wajib  mengajar (24 – 40 jam  tatap muka  per minggu) bagi guru pembelajaran atau jumlah konseli (150 – 250 konseli per tahun) yang dibimbing oleh guru BK/Konselor
  • NPK adalah prosentase perolehan  angka kredit sebagai hasil penilaian kinerja
  • 4 adalah waktu rata-rata kenaikan pangkat reguler, (4 tahun)
  • JM/JWM = 1  bagi  guru  yang mengajar  24-40 jam  tatap  muka  per  minggu  atau membimbing 150 – 250 konseli per tahun.
  • JM/JWM = JM/24 bagi guru  yang mengajar kurang  dari 24 jam tatap  muka per minggu atau  JM/150  bagi guru  BK/konselor  yang membimbing   kurang  dari  150 konseli per tahun

8)   Format Penetapan Angka Kredit (PAK)

Format yang digunakan (contoh terlampir) untuk memasukkan angka kredit yang diperoleh dari :

a)   Hasil penilaian kinerja guru terkait dengan pembelajaran/pembimbingan dan pelaksanaan tugas tambahan yang terkait dengan fungsi sekolah/madrasah

b)   Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

(1)     Melaksanakan pengembangan diri

(2)     Melaksanakan publikasi ilmiah

(3)     Melaksanakan karya inovatif

c)    Unsur penunjang, tugas guru.

  1. b.   Tahap Penghitungan Angka Kredit (AK)

1)   Perhitungan AK bagi guru yang tidak mempunyai tugas tambahan

Rumus yang digunakan untuk AK bagi guru tanpa tugas tambahan adalah sebagai berikut:

  •           Yang harus diperhatikan terlebih dahulu oleh Tim Penilai Jabatan Fungsional Guru adalah kebutuhan angka kredit guru untuk naik dari jenjang satu ke jenjang yang lebih tinggi. Contoh untuk guru yang akan naik pangkat dari golongan III/C ke III/D dipersyarat 100 angka kredit, sehingga setelah disubsitusi ke rumus diperoleh :

Angka Kredit per tahun = (100 – AKPKB – AKP) x JM/JWM x NPK

                                                        4

  •           Selanjutnya Tim Penilai harus memeriksa hasil PKB yang diusulkan guru untuk perolehan angka kredit. Tim penilai harus memverifikasi berapa jumlah angka kredit  yang dibutuhkan untuk  naik dari pangkat. Dalam contoh ini angka kredit minimal yang  dibutuhkan adalah 9 angka kredit dari PKB, yaitu 3 angka kredit dari pengembangan diri, dan 6 angka kredit dari publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif. Dengan demikian, angka kredit kumulatif yang diperlukan untuk naik pangkat harus dikurangi  dengan angka kredit PKB yang diwajibkan, karena angka dalam PKB adalah angka wajib yang harus dipenuhi oleh guru sesuai kebutuhan kenaikan pangkat kepangkatannya. Sehingga rumus yang digunakan untuk PK guru adalah hanya kebutuhan  angka kredit untuk pembelajaran. Sehingga setelah disubsitusi PKB rumusnya menjadi: (100-9-AKP) x JM/JWM x NPK

                                                                                                                                                      4

  •           Selanjutnya adalah angka kredit yang diperkenankan untuk melaksanakan kegiatan yang dapat dipertimbangkan sebagai unsur penunjang, maksimum angka kredit untuk  unsur penunjang 10 % dari kebutuhan angka kredit.

Contoh, jika seorang guru membutuhkan 100 angka kredit untuk naik pangkat, maka jumlah angka kredit dari unsur penunjang adalah 10% dari 100. Hal ini akan  menjadi pengurang. Sehingga setelah disubstitusi AKP rumusnya menjadi : (100 – 9 –10) x JM/JWM x NPK

                                                                                                                                                                                                                                      4

  •           Informasi yang dibutuhkan berikutnya adalah jumlah jam beban mengajar guru per minggu atau jumlah konseli per semester/tahun. Bagi guru yang memiliki beban mengajar lebih dari 24 jam per minggu perhitungan beban mengajarnya akan tetap dipertimbangkan maksimum 24 jam perminggu. Demikian juga bagi guru BK/konselor yang memiliki konseli lebih dari 150 sampai dengan 250 tetap akan dipertimbangkan maksimum 150 konseli. Guru yang bersangkutan akan masuk kualifikasi yang akan memperoleh total angka kredit 100%. Jadi seandainya seorang guru mengajar 36 jam per minggu maka yang akan dimasukan ke dalam rumus adalah tetap 24 jam. Dengan demikian setelah disubtitusi jam mengajar rumusnya menjadi :

(100 – 9 – 10) x 24/24 x NPK

 4

  •           Bagi guru yang mengajar kurang dari 24 jam per minggu atau bagi guru BK/Konselor memiliki konseli kurang dari 150 konseli per tahun maka pembagian menjadi, misal: 18/24 atau 100/150.

Dengan demikian setelah disubstitusi rumusnya menjadi :

(100 – 9 – 10) x 18/24 x NPK       atau       (100 – 9 – 10) x 100/150 x NPK

                                          4                                                                    4

  •           Untuk guru yang mengajar lebih dari 40 jam per minggu atau membimbing lebih dari 250 konseli per tahun atau mengajar kurang dari yang telah ditetapkan karena kondisi yang tidak memungkinkan pemenuhan beban mengajar 24 jam per minggu maka akan masuk ke kasus yang khusus. Untuk yang dapat dikategorikan sebagai daerah terpencil/daerah khusus, harus ada surat permohonan dari dinas pendidikan setempat kepada Kementerian Pendidikan Nasional untuk dapat dipertimbangkan dan diputuskan sebagai daerah khusus.
  •           Informasi selanjutnya yang dibutuhkan dalam menghitung penilaian kinerja adalah penggunaan persentase konversi hasil PK Guru sebagaimana tertuang dalam 2.2.a.2).

Misalnya: Hasil skor PK Guru untuk guru mata pelajaran adalah 41, skor maksimum 56 (14 kompetensi kali skor maksimum, yaitu  4). Gunakan rumus dan tabel konversi pada nomor 2.2.b.1).  ternyata skor dimaksud setelah di konversi kedalam skala permenegpan dan RB berada dalam rentang 61-75  dengan demikian terhadap guru dimaksud memiliki sebutan “cukup” dan memiliki hak untuk perolehan angka kreditnya adalah  75% dari Angka Kredit Kumulatif (AKK) yang telah dikurangi dari AKPKB dan AKP unsur penunjang dan rumus perolehan angka kredit PK Guru dimaksud menjadi sebagai berikut: (100-9-10) X 24/24 X 75 % = 15,19

                                                                                                                                                       4

Dengan demikian untuk guru yang bersangkutan mendapatkan point AK dari PK Guru untuk tahun yang bersangkutan adalah 15,19.

2)   Perhitungan AK bagi Guru yang mempunyai tugas tambahan

  •           Guru yang mendapat tugas tambahan harus memenuhi jam mengajar minimum sebagai guru. Jumlah jam mengajar minimum  untuk guru mata pelajaran tanpa tugas tambahan adalah 24 jam/minggu (minimal 150 siswa untuk guru BK/konselor), sedangkan  guru yang memiliki tugas tambahan beban mengajar per minggu sebagai berikut.

Kepala Sekolah                        6 jam (25% dari beban mengajar minimal)

Wakil Kepala Sekolah           12 jam (50% dari beban mengajar minimal)

Kepala Perpustakaan            12 jam (50% dari beban mengajar minimal)

Kepala Laboratorium,

Bengkel                                 12 jam (50% dari beban mengajar minimal)

Unit Produksi atau sejenisnya

            12 jam (50% dari beban mengajar minimal)

Ketua Program Keahlian      12 jam (50% dari beban mangajar minimal)

  •           Tugas Tambahan ini dinilai secara khusus dengan menggunakan instrumen sesuai dengan bidang tugasnya.

Proses penilaian ini berbeda sedikit dengan Proses Penilaian Kinerja Guru Kelas/Mata Pelajaran dan Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor.

Rumus untuk menghitung angka kredit Unsur tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah adalah sebagai berikut :

 

 

  •           Tahap-tahap yang dilaksanakan di dalam PK Guru dengan tugas tambahan dilaksanakan sebagai berikut.
  1. Kurangi kebutuhan angka kredit kumulatif untuk kenaikan golongan ke jenjang yang lebih tinggi dikurangi kebutuhan PKB dan unsur penunjang
  2. AKK yang sudah dikurangi dengan kebutuhan PKB  dan unsur penunjang diambil 25%/50%-nya untuk kebutuhan penilaian kegiatan pembelajaran dan 75%/50%-nya diambil untuk kegiatan sebagai ke kepalasekolahannya.
  3. PK Guru untuk tugas pembelajaran/pembimbingan menggunakan instrumen pada Lampiran  1 dan Lampiran 2 di pedoman PK Guru dan tugas ke kepalasekolahannya menggunakan instrumen  pada Lampiran 3 (Instrumen PK Guru dengan Tugas Tambahan).
  4. Hasil PK Guru tersebut selanjutnya dikonversi ke angka kredit untuk setiap masing-masing PK Guru Pembelajaran/Pembimbingan dan PK Guru dengan Tugas Tambahan sebagai Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Kepala Pepustakaan, Kepala Laboritorium/Bengkel atau Ketua Program Keahlian.
  5. Kemudian keduanya digabungkan untuk memperoleh total angka kredit tahunan bagi guru dengan tugas tambahan

DAFTAR LAMPIRAN

  1. Contoh PK Guru
  2. Format perhitungan angka kredit PK Guru kelas/mata pelajaran, Lampiran 1D (terisi). … 11
  3. Format perhitungan angka kredit PK Guru kelas/mata pelajaran, Lampiran 1D (terisi). … 14
  4. Rekap hasil PK Guru kelas/mata pelajaran, Lampiran 1C (terisi)…………………………………….. 15
  5. Rekap hasil PK Guru kelas/mata pelajaran, Lampiran 1C (kosong) .……………………………….. 17
  6. Laporan dan Evaluasi PK Guru kelas/mata pelajaran, Lampiran 1B (terisi) …………………….. 21
  7. Laporan dan Evaluasi PK Guru kelas/mata pelajaran, Lampiran 1B (kosong)   ……………….. 25
  8. Format perhitungan angka kredit PK Guru BK/konselor, Lampiran 2D (terisi) ……………….. 28
  9. Format perhitungan angka kredit PK Guru BK/konselor, Lampiran 2D (kosong) ……….…..  31
  10. Rekap hasil PK Guru BK/konselor, Lampiran 2C (terisi)…………………………………………………… 32
  11. Rekap hasil PK Guru BK/Konselor, Lampiran 2C (kosong) ………………………………………………. 34
  12. Laporan dan Evaluasi PK Guru/konselor, Lampiran 2B (kosong) .………………………………….   35

  1. Daftar usul penetapan angka kredit guru, Format 3 (kosong) ……………………………………………..  38

Contoh : Surat Keputusan tentang beban mengajar guru …………………………

03b Paket Simulasi utk Pengenalan Proses Pelaksanaan PK Guru 03

b Simulasi Proses PKG

03c Paket Simulasi utk Verifikasi Penilaian Kinerja

03a Pengenalan Buku PKG

03a PAKET SIMULASI UNTUK PENGENALAN BUKU PEDOMAN PK GURU

TabelAngkaKredit

TabelAngkaKredit

MENGHITUNG ANGKA KREDIT KINERJA GURU

KOMPETENSI DAN INDIKATOR PK GURU KELAS-MAPEL

MENGHITUNGHARIEDIT

DOWNLOAD PENIALAIN KINERJA GURU


Action Plan

Gabungan 16-09 dan PKG

Instrumen Permenpan 16_09 & PKG

paparan permenegpan dan rb

SALINAN-Permen 35 Tahun 2010 ttg juknis(Final)

SALINAN-Lampiran_Permen 35 Tahun 2010 ttg Juknis(Final)

Format(Final)

PAKET PELATIHAN TIM PENILAI JABFUNG 11 des 2010

2 Format 3(Final)

PENILAIAN KINERJA KEPALA SEKOLAH


Dalam rangka meningkatkan profesionalisme dan kompetensi serta tugas pokok kepala sekolah

DASAR HUKUM

1.PP Nomor 74 ttg Guru
2.Permendiknas Nomor 13 Tahun 2007
3.Permendiknas Nomor 28 Tahun 2010
4.Permenegpan dan RB Nomor 16 Tahun 2009
5.Permendiknas Nomor 35 Tahun 2010
TUJUAN

Memberikan informasi akurat kepada pihak yang terkait tentang kualitas kinerja kepala sekolah berdasar standar kompetensi dan tupoksi

HASIL PENILAIAN KINERJA DIGUNAKAN UNTUK

1. Memberikan acuan untuk penetapan angka kredit kumulatif yang bisa diperoleh seorang guru yg memiliki tugas tambahan

2.Mengidentifikasi kebutuhan pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB)

3. Menentukan tingkat kinerja seorang kepala sekolah dalam kurun waktu tertentu

Mekanisme Penilaian Kinerja Kepala sekolah

1.Penilaian kinerja Kepala sekolah dilakukan oleh tim penilai pengawas sekolah dan warga sekolah ( dalam penggalian informasi)
2.Penilaian kinerja kepala sekolah terdiri dari komponen:
a.Komponen 1 (K1) Kepribadian dan Sosial
b.Komponen 2 (K2) Kepemimpinan
c.Komponen 3 (K3) Pengembangan Sekolah/Madrasah
d.Komponen 4 (K4) Pengelolaan Sumber Daya
e.Komponen 5 (K5) Kewirausahaan
f.Komponen 6 (K6) Supervisi
3.Penilaian kinerja dilakukan satu kali dalam satu tahun dan kumulatif 4 tahun (masa jabatan).

4. Langkah-langkah penilaian kinerja Kepala Sekolah meliputi: persiapan,pelaksanaan penilaian, dan penentuan nilai akhir.

ASPEK YANG DINILAI

•Kepribadian dan Sosial ( 7 kriteria)
•Kepemimpinan Pembelajaran ( 10 kriteria)
•Pengembangan Sekolah ( 7 kriteria)
•Manajemen Sumber Daya ( 8 kriteria)
•Kewirausahaan ( 5 kriteria)
•Supervisi Pembelajaran ( 3 kriteria)
Kepribadian dan Sosial (PKKS 1)
•Berakhlak mulia, mengembangkan budaya dan tradisi akhlak mulia, dan menjadi teladan akhlak mulia bagi komunitas di sekolah/madrasah.
•Melaksanakan tugas pokok dan fungsi sebagai kepala sekolah dengan penuh kejujuran, ketulusan, komitmen, dan integritas.
•Bersikap terbuka dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi sebagai kepala sekolah/madrasah.
•Mengendalikan diri dalam menghadapi masalah dan tantangan sebagai kepala sekolah/madrasah.
•Berpartisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.
•Tanggap dan peduli terhadap kepentingan orang atau kelompok lain
•Mengembangkan dan mengelola hubungan sekolah/madrasah dengan pihak lain di luar sekolah dalam rangka mendapatkan dukungan ide, sumber belajar, dan pembiayaan sekolah/madrasah.
Kriteria Nilai kinerja Guru yang memiliki tugas tambahan sebagai Kepala Sekolah dikonversikan ke dalam angka kredit yang harus dicapai
No. Nilai Keterangan Angka  Kredit
1 91 s.d. 100 amat baik 125%
2 76 s.d. 90 Baik 100%
3 61 s.d. 75 Cukup 75%
4 51 s.d. 60 Sedang 50%
5 0  s.d. 50 kurang 25%

DOWNLOAD MATERI KEBIJAKAN NASIONAL PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA TAHUN 2010-2025


1_KEBIJAKAN NAS PEMB KARAKTER BANGSA 2010_2025

2_KERANGKA ACUAN PENDIDIKAN KARAKTER KEMDIKNAS

3_PEDOMAN PENGEMB PEND BUDAYA DAN KARAKTER BANGSA

4_PANDUAN PELAKS PENDIDIKAN KARAKTER

5_PANDUAN PENY PELATIHAN PENDIDIKAN KARAKTER

6_PAPARAN PENDIKAR Updated 30 Juni 2011

Menuju Etos Pengembangan Profesi Keguruan Matematika melalui Supervisi Klinis


  oleh: Turmudi

Universitas Pendidikan Indonesia

Pengantar

            Pengembangan profesi guru dalam pembelajaran matematika merupakan salah satu usaha yang tujuan akhirnya meningkatkan prestasi belajar siswa. Supervisi klinis yang juga merupakan bagian dari kegiatan pengembangan profesi guru adalah upaya saling menguntungkan (mutually benefite) antara seorang guru dan suporvisor (pengawas dan/atau kepala sekolah). Artikel ini bertujuan membahas upaya pengembangan profesi keguruan dalam pembelajaran matematika dan supervisi klinis untuk merangsang para guru untuk secara terbuka bersama-sama supervisor dan atau kepala sekolah meningkatkan kemampuan membelajarkan siswa.

Pengembangan profesi Keguruan

            Pengembangan profesi guru matematika di sekolah dalam beberapa dekade ke belakang telah dianggap sangat penting, sebab telah cukup dikenal bahwa praktek pembelajaran matematika tidak akan berubah secara substansial tanpa ada perubahan yang radikal pada pendidikan pre service dan pendidikan in-service.

            Beberapa permasalahan misalnya rendahnya apresiasi masyarakat seperti yang ditunjukkan oleh kecilnya minat para mahasiswa calon guru terhadap matematika dan IPA, …belum adanya kemampuan untuk menyuguhkan dan membawa proses pembelajaran matematika dan IPA yang menarik bagi peserta didik, …adopsi bukannya ke arah inovasi dan invensi sehingga nilai-nilai manfaat dari matematika dan IPA menjadi kurang menonjol (Pusposutardjo, 1999) telah ikut serta memberikan kontribusi terhadap rendahnya outcome pendidikan di tingkat sekolah. Daya serap para guru kita dalam matematika yang hanya mencapai 67% (Manan, 1998) dan masih banyaknya para guru yang belum memenuhi kualifikasi minimum juga merupakan kontribusi lain terhadap rendahnya hasil pendidikan yang perolehan NEM siswa hanya berkisar antara 4.00 – 5.00 dalam skala 10 untuk rentang waktu yang cukup panjang (Akbar, 1998).  

            Berbagai publikasi dan penetapan kebijakan pemerintah seperti halnya penetapan Kurikulum Berbasis Kompetensi (Depdiknas, 2004) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran (2006) serta publikasi-publikasi international (AAAS, 1993; NCTM, 1991; NCTM, 2000; A National statement on Mathematics for Australian Schools, 1990) telah mengumandangkan sejumlah visi reformasi khususnya dalam bidang pembelajaran matematika, walaupun kenyataan di lapangan tidaklah menjadi mudah dan sederhana.   Dengan publikasi Principles and Standards for School Mathematics (NCTM, 2000) muncul suatu pertanyaan “Bagaimana memberikan dorongan yang sederhana dan praktis bagi para guru di lapangan (di kelas) dalam menerapkan agenda-agenda innovasi agar diperoleh hasil yang optimal?”  

Satu dari premis utama dari laporan Glenn (Dept. of Education US, 2000) bahwa “pembelajaran matematika yang lebih baik  adalah jantung dari pada perubahan… dan pengembangan profesi guru yang efektif tak dapat dipisahkan dari pembelajaran matematika yang berkualitas” (Farmer, Gerretson, & Lassak, 2003).

Telah diketahui bagaimana efektivitas dari model pengembangan staf. Penelitian Stalling misalnya mengidentifikasi sejumlah factor kritis yang memfasilitasi kesuksesan sebuah program. Spark & Louck-Horsley (1990) telah membuat ringkasan tentang praktek pengembangan profesi (keguaruan) yang efektif sebagai berikut:

(1) program dilaksanakan dalam konteks sekolah dan dikaitkan dengan usaha sekolah yang lebih luas.

(2) guru-guru peserta saling membantu dan menjadi perencana bersama para administrator dalam aktivitas inservice training

(3) menekankan pada membelajaran dengan pengembangan diri.

(4) guru-guru berperanserta aktif memilih tujuan dan aktifitas mereka sendiri

(5) menekankan kepada demonstrasi, percobaan-percobaan tersupervisi, dan umpan balik training yang kongkrit serta proses yang berkesinambungan.

(6) bantuan (supervisi) secara terus menerus dan support (dukungan) selalu ada manakala diminta.

Namun demikian baik disadari ataupun tidak disadari bahwa tak ada cara mengajar yang paling baik untuk segala keadaan dan untuk semua guru (Nisbet, 1985) karenanya diperlukan cara-cara yang efektif sehingga pembelajaran matematika lebih meningkat dibanding pembelajaran sebelumnya.

Pengembangan profesi merupakan bagian dari pendidikan seumur hidup dan penting dalam pengembangan karir seorang guru. Pengembangan profesi guru dapat dipandang sebagai refreshing dan peningkatan ‘kekuatan’ guru untuk mampu belajar tentang bagaimana ‘membelajarkan’ siswa dengan matematika.

Menurut Crawford and Adler (1996, p.1187) pengetahuan para guru diperoleh melalui dua cara: (1) melalui penetapan pendidikan praktis yang keduanya berupa produk dan peserta. dan (2) melalui usaha mereka untuk mendukung pengetahuan siswa mereka sebagaimana mereka memilih peran sebagai guru. Crawford and Adler(1996) menambah-kan, “Learning may be experienced through investigation and inquiry, through reading about someone else’s research, or through being taught” (p.1189). Namun guru perlu waktu untuk belajar dan mengembangkan praktek/cara pembelajaran ‘baru’, karenanya kesesuaian dan pengembangan profesi secara terus menerus adalah krusial dan penting bagi guru.

Dalam kaitan pembelajaran di kelas dengan kegiatan pengembangan profesi Shiu and Hatch (2005) mencatat bahwa “Pembelajaran di kelas sering dipandang sebagai aktivitas yang terisolasi namun banyak kegiatan pengembangan profesi dengan cara kontak dengan guru-guru lain, dengan kepala sekolah, atau dengan kegiatan supervisi serta dengan pengalaman-pengalaman mereka. Kadang-kadang dengan kontak langsung, dan di waktu lain dengan cara membaca kembali tulisan-tulisan mereka atau melalui nonton video dan audio tape praktek pembelajaran matematika” (p.246).

Melalui kontak dengan orang lain, guru-guru dapat membangun pengetahuannya berdasarkan pengalaman-pengalaman guru lainnya, melalui refleksi pengalamannya. Metode baru dapat  diujicobakannya sendiri di kelas sendiri. Dengan melalui kontak seperti ini sangatlah mungkin untuk mendapatkan dorongan personal dan simpati konstruktif untuk memperoleh umpan balik yang kritis tentang gagasan-gagasan mereka (Shiu & Hatch, 2005, p.246). Anderson and White (2003) menambahkan bahwa untuk sekelompok guru yang diamati, “refleksi guru-guru dan keterlibatannya dalam kesempatan pengembangan profesinya tampak menjadi pemercepat suatu perubahan” (p.130).

Program-program pengembangan profesi difokuskan untuk membantu guru memperbaiki praktek pembelajaran mereka melalui pengembangan pengetahuan pedagogi dan ketrampilan. Dalam melaksanakan program-program pembaharuan seorang guru perlu memiliki supervisor yang dapat berupa Kepala Sekolah atau pengawas (bidang studi) yang diharapkan dapat membantu tugas-tugas guru melaksanakan profesinya.

Supervisi Klinis

Supervisi berasal dari kata super dan vision, artinya “melihat sesuatu di mana subjek berada dalam keadaan lebih” Kimball Willes mengemukakan, “Supervision is assistance in the development of better teaching learning situation”. “Supervisi adalah proses bantuan untuk meningkatkan situasi belajar-mengajar agar lebih baik”. Klinis berasal dari kata clinic yang berarti “balai pengobatan atau suatu tempat untuk mengobati berbagai jenis penyakit yang ditangani oleh tenaga yang profesional”.

  Dengan demikian, supervisi klinis adalah proses bantuan untuk mengatasi masalah-masalah yang berkaitan dengan peningkatan proses belajar-mengajar agar lebih baik. Menurut Waller supervisi klinis adalah supervisi yang difokuskan pada perbaikan pembelajaran dengan menjalankan siklus yang sistematis dari tahap perencanaan, pengamatan dan analisis intelektual yang intensif terhadap proses pembelajaran yang sebenarnya dengan tujuan modifikasi yang rasional. Sedangkan menurut Keith Acheson dan Meredith D’ Gall mendefinisikan bahwa “Supervisi klinis adalah proses membantu guru memperkecil jurang antara tingkah laku mengajar nyata dengan tingkah laku mengajar yang ideal”.

Supervisi klinis merupakan alat bantu bagi para guru guna meningkatkan profesionalismenya dalam melaksanakan tugas. Sehubungan dengan fungsi itu, kepala sekolah harus menjadi fasilitator, mediator, planner, dan observer. Kepala sekolah (dan atau pengawas, termasuk pengawas bidfang studi) dituntut menentukan, memahami, menghayati, dan menjabarkan tujuan supervisi klinis secara jelas, applicable (dapat dilaksanakan), observable (dapat diobservasi), dan measurable (dapat diukur).

Berkaitan dengan supervisi klinis ini, perlu diperhatikan prinsip-prinsip dalam menjalankan supervisi, yaitu:

  • Bimbingan kepada guru dalam pembelajaran matematika bersifat bantuan, bukan perintah atau instruksi.
  • Hubungan supervisor dengan pelaksana program pembelajaran (guru) matematika bersifat kolegial dan interaktif.
  • Supervisi bersifat demokratik; kedua belah mengemukan pendapat secara bebas, tetapi keduanya berkewajiban mengkaji pendapat pihak lain untuk mencapai kesepakatan.
  • Supervisi berlangsung dalam suasana intim dan terbuka.
  • Dalam pelaksaan supervisi, masing-masing pihak harus mengutamakan tugas dan tanggung jawabnya.
  • Balikan diberikan dengan segera dan objektif.
  • Balikan harus bermanfaat untuk peningkatan pelaksanaan program pembelajaran matematika.

Tujuan umum supervisi klinis adalah untuk meningkatkan keterampilan mengajar guru secara profesional.  Adapun tujuan khusus dari supervisi klinis adalah:

1.   Mendiagnosis  secara cepat  dan  tepat tentang masalah-masalah yang terjadi.

2.   Membantu para guru dalam mengembangkan profesionalismenya.

3.   Menumbuh-kembangkan sikap positif, dinamis, dan kritis guru terhadap

profesionalismenya.

4.   Untuk memperoleh umpan balik tentang kemampuan/kompetensi guru dalam

menjalankan tugasnya.

Terdapat beberapa model pendekatan yang dapat dilakukan dalam proses supervisi klinis, yaitu pendekatan direktif, pendekatan non direktif dan pendekatan perpaduan antara direktif dan non direktif.

1.      Pendekatan direktif (direct  approach): Kepala Sekolah langsung melakukan supervisi klinis terhadap guru yang dikontrol.

2.      Pendekatan nondirektif (non-direct approach):  Guru meminta kepada Kepala Sekolah untuk dikontrol.

3.      Pendekatan elektif perpaduan antara dua pendekatan di atas.

Langkah-langkah yang dapat diambil oleh supervisor harus sistematis dan pragmatis:

1.   Tahap pertemuan pendahuluan (planning conference):

a.       Saling mengerti yang mendalam (mutually understanding),

b.      Suasana akrab (intimizad),

c.       Menumbuhkan rasa saling percaya,

d.      Tentukan  jenis  yang  akan dikontrol,

e.       Pergunakan  instrumen  yang tepat,

2.   Tahap pengamatan (observation classroom):

a.       Guru melaksanakan komponen-komponen yang dikontrol,

b.      Supervisor melakukan observasi,

 3.   Tahap pertemuan balikan (feed back conference):

a.       Supervisor melakukan analisis pendahuluan,

b.      Supervisor bertanya tentang perasaan dan kesan umum kepada guru ketika diamati,

c.       Mereview target yang telah disepakati,

d.      Supervisor menunjukkan data hasil supervisi,

e.       Bersama-sama menafsirkan data yang ditunjukkan supervisor,

f.        Bersama-sama menyimpulkan data,

g.       Bersama-sama berusaha memperbaiki hal-hal yang perlu ditingkatkan,

h.       Kepala Sekolah (supervisor) memberikan’ motivasi dan rekomendasi.

Adapun tempat yang dapat dipilih untuk supervisi, bisa di dalam kelas atau di ruangan micro teaching.

Syarat yang harus dimiliki oleh kepala sekolah sebagai supervisor klinis meliputi segi pribadi dan fisik, serta kemampuan. Hal ini karena supervisor harus memiliki kelebihan (super) dari orang yang dikontrolnya walaupun relatif. Syarat-syarat itu di antaranya yang berikut:

1.      Menguasai hal-ikhwal  supervisi klinis.

2.      Objektif dalam melakukan supervisi.

3.      Komprehensif (berwawasan luas).

4.      Teliti dalam melakukan tindakan.

5.      Sistematis dalam bekerja.

6.      Siap melayani guru yang dikontrol.

7.     Sabar menghadapi permasalahan dengan terus berupaya memecahkan masalah tersebut.

8.      Kooperatif, mampu bekerja sama dengan guru yang dikontrol.

9.      Percaya diri (self-confidene).

10.  Mampu mengambil keputusan secara cepat dan tepat.

11.  Humoris

Sedangkan syarat guru yang dikontrol dalam supervise klinis antara lain:

1.      Kesediaan dan terbuka (open minded).

2.      Objektif dalam melihat permasalahan.

3.      Berfikir dalam melihat permasalahan.

4.      Mempunyai motivasi untuk berprestasi.

5.      Berwawasan luas.

6.   Kesiapan untuk dibantu/ dikontrol.

 

Penutup

Dengan uraian di atas diharapkan guru-guru memiliki kesadaran untuk berubah menuju kearah perbaikan dengan meluangkan kesediaan dan keterbukaan untuk bekerjasama dengan berbagai unsur termasuk kepala sekolah dan para pengawas (pembelajaran).

Kesediaan guru meningkatkan kemampuannya dalam proses pembelajaran matematika dengan mengikuti berbagai kegiatan pengembangan profesi keguruan merupakan sikap positif yang yang perlu ditingkatkan secara terus menerus, namun sikap keterbukaan guru dan kemauan guru untuk bekerja sama dalam kegiatan supervisi klinis jauh lebih penting. Sehingga akan terjadi kemampuan mengajar para guru yang semakin baik yang gilirannya akan meningkatkan prestasi belajar siswa.

——————————————————-

Kepustakaan:

(*) Disajikan dalam pelatihan Bimbingan Teknis Supervisi Klinis Bagi Pengawas, 19 s/d 22 Juni 2007 di Sawangan, Depok. Bogor.

(**) Drs. Turmudi, M.Ed., M.Sc., Ph.D. adalah staf pengajar pada Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

(email: turmudiah@hotmail.com; HP: 081 320 140 361).

CARA MENGUKUR VALIDITAS DAN RELIABILITAS DALAM PENELITIAN TINDAKAN KELAS


 

 

Jenis-jenis validitas dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yakni:

a.    Validitas demokratik,
b.    Validitas hasil,
c.    Validitas proses,
d.    Validitas katalitik, dan
e.    Validitas dialogues

Validitas Demokratik berkenaan dengan kadar kekolaboratifan penelitian dan pencakupan berbagai suara. Dalam PTK, idealnya Anda, guru lain/pakar sebagai kolaborator, dan murid-murid Anda masing-masing diberi kesempatan menyuarakan apa yang dipikirkan dan dirasakan serta dialaminya selama penelitian berlangsung.

Pertanyaan kunci mencakup:

Apakah semua pemangku kepentingan (stakeholders) PTK (guru, kolaborator, administrator, mahasiswa, orang tua) dapat menawarkan pandangannya?

 Apakah solusi masalah di kelas Anda memberikan manfaat kepada mereka?

Apakah solusinya memiliki relevansi atau keterterapan pada konteks kelas Anda?

Semua pemangku kepentingan di atas diberi kesempatan dan/atau didorong lewat berbagai cara yang cocok dalam situasi budaya setempat untuk mengungkapkan pendapatnya, gagasan-gagasannya, dan sikapnya terhadap persoalan pembelajaran kelas Anda, yang fokusnya adalah pencarian solusi untuk peningkatan praktik dalam situasi pembelajaran kelas Anda.

Misalnya, dalam kasus penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran bahasa Inggris, pada tahap refleksi awal guru-guru yang berkolaborasi untuk melakukan penelitian tindakan kelas, siswa, Kepala Sekolah, dan juga orang tua siswa, diberi kesempatan dan/atau didorong untuk mengungkapkan pandangan dan pendapatnya tentang situasi dan kondisi pembelajaran bahasa Inggris di sekolah terkait. Hal ini dilakukan untuk mencapai suatu kesepatakan bahwa memang ada kekurangan yang perlu diperbaiki dan kekurangan tersebut perlu diperbaiki dalam konteks yang ada, atau juga disebut kesepakatan tentang latar belakang penelitian. Selanjutnya, diciptakan proses yang sama untuk mencapai kesepakatan tentang masalah-masalah apa yang ada, yaitu identifikasi masalah, dan tentang masalah apa yang akan menjadi fokus penelitian atau pembatasan masalah penelitian. Kemudian, proses yang sama berlanjut untuk merumuskan pertanyaan penelitian atau merumuskan hipotesis tindakan yang akan menjadi dasar bagi perencanaan tindakan, yang juga dilaksanakan melalui proses yang melibatkan semua peserta penelitian untuk mengungkapkan pandangan dan pendapat serta gagasan-gagasannya. Proses yang mendorong setiap peserta penelitian untuk mengungkapkan atau menyuarakan pandangan, pendapat, dan gagasannya ini diciptakan sepanjang penelitian berlangsung.

Validitas Hasil mengandung konsep bahwa tindakan kelas Anda membawa hasil yang sukses di dalam konteks PTK Anda. Hasil yang paling efektif tidak hanya melibatkan solusi masalah tetapi juga meletakkan kembali masalah ke dalam suatu kerangka sedemikian rupa sehingga melahirkan pertanyaan baru. Hal ini tergambar dalam siklus penelitian di mana ketika dilakukan refleksi pada akhir tindakan pemberian tugas yang menekankan kegiatan menggunakan bahasa Inggris lewat tugas ‘information gap’, ditemukan bahwa hanya sebagian kecil siswa menjadi aktif dan sebagian besar siswa merasa takut salah, cemas, dan malu berbicara. Maka timbul pertanyaan baru, ‘Apa yang mesti dilakukan untuk mengatasi agar siswa tidak takut salah, tidak cemas, dan tidak malu sehingga dengan suka rela aktif melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran?’ Hal ini menggambarkan bahwa pertanyaan baru timbul pada akhir suatu tindakan yang dirancang untuk menjawab suatu pertanyaan, begitu seterusnya sehingga upaya perbaikan berjalan secara bertahap, berkesinambungan tidak pernah berhenti, mengikuti kedinamisan situasi dan kondisi. (Mohon dicermati uraian masing-masing tahap dan kesinambungan masalah yang timbul). Validitas hasil juga tergantung pada validitas proses pelaksanaan penelitian, yang merupakan kriteriaberikutnya.

Validitas Proses berkenaan dengan ‘keterpercayaan’ dan ‘kompetensi’, yang dapat dipenuhi dengan menjawab sederet pertanyaan berikut: Mungkinkah menentukan seberapa memadai proses pelaksanaan PTK Anda? Misalnya, apakah Anda dan kolaborator Anda mampu terus belajar dari proses tindakan tersebut? Artinya, Anda dan kolaborator secara terus menerus dapat mengkritisi diri sendiri dalam situasi yang ada sehingga dapat melihat kekurangannya dan segera berupaya memperbaikinya. Apakah peristiwa atau perilaku dipandang dari perspektif yang berbeda dan melalui sumber data yang berbeda agar terjaga dari ancaman penafsiran yang ‘simplistik’ atau ‘rancu’? Dalam kasus penelitian tindakan kelas bahasa Inggris yang disebut di atas, para peneliti dapat menentukan indikator kelas bahasa Inggris yang aktif, mungkin dengan menghitung berapa siswa yang aktif terlibat belajar menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi lewat tugas-tugas yang diberikan guru, dan berapa banyak bahasa Inggris yang diproduksi siswa, yang bisa dihitung dari jumlah kata/kalimat yang diproduksi dan lama waktu yang digunakan siswa untuk memproduksinya, serta adanya upaya guru memfasilitasi pemelajaran siswa. Kemudian jika keaktifan siswa terlalu rendah yang tercermin dalam sedikitnya ungkapan yang diproduksi, guru secara kritis merefleksi bersama kolaborator untuk mencari sebab-sebabnya dan menentukan cara-cara mengatasinya. Kalau diperlukan, siswa yang tidak aktif didorong untuk menyuarakan apa yang dirasakan sehingga mereka tidak mau aktif dan siswa yang aktif diminta mengungkapkan mengapa mereka aktif. Perlu juga ditemukan apakah ada perubahan pada diri siswa sesuai dengan indikator bahwa para siswa berubah lewat tindakan pertama berupa pemberian tugas ‘information gap’ dan tindakan kedua berupa pembelakuan kriteria penilaian, dan perubahan pada diri guru dari peran pemberi pengetahuan ke peran fasilitator dan penolong. Begitu seterusnya sehingga pemantauan terhadap perubahan hendaknya dilakukan secara cermat dan disimpulkan lewat dialog reflektif yang demokratik.

Perlu dicatat bahwa kompetensi peneliti dalam bidang terkait sangat menentukan kualitas proses yang diinginkan dan tingkat kemampuan untuk melakukan pengamatan dan membuat catatan lapangan. Dalam kasus penelitian tindakan kelas bahasa Inggris yang dicontohkan di atas, misalnya, kualitas proses akan sangat ditentukan oleh wawasan, pengetahuan dan pemahaman sejati peneliti tentang (1) hakikat kompetensi komunikatif, (2) pembelajaran bahasa yang komunikatif yang mencakup pendekatan komunikatif bersama metodologi dan teknik-tekniknya, dan (3) karakteristik siswanya (intelegensi, gaya belajar, variasi kognitif, kepribadian, motivasi, tingkat perkembangan/pemelajaran) dan pengaruhnya terhadap pembelajaran bahasa asing. Jika wawasan, pengetahuan dan pemahaman tersebut kuat, maka peneliti akan dapat dengan lebih mudah menentukan perilaku-perilaku mana yang menunjang tercapainya perubahan yang diinginkan dengan indikator yang tepat, dan juga perilaku-perilaku mana yang menghambatnya.

Namun demikian, hal ini masih harus didukung dengan kemampuan untuk mengumpulkan data, misalnya melakukan pengamatan dan membuat catatan lapangan dan harian. Dalam mengamati, tim peneliti dituntut untuk dapat bertindak seobjektif mungkin dalam memotret apa yang terjadi. Artinya, selama mengamati perhatiannya terfokus pada gejala yang dapat ditangkap lewat pancainderanya saja, yaitu apa yang didengar, dilihat, diraba (jika ada), dikecap (jika ada), dan tercium, yang terjadi pada semua peserta penelitian, dalam kasus di atas pada peneliti, guru dan siswa. Dalam pengamatan tersebut harus dijaga agar jangan sampai peneliti melakukan penilaian terhadap apa yang terjadi. Seperti telah diuraikan di depan, perlu dijaga agar tidak terjadi penyampuradukan antara deskripsi dan penafsiran. Kemudian, diperlukan kompetensi lain untuk membuat catatan lapangan dan harian tentang apa yang terjadi. Akan lebih baik jika para peneliti merekamnya dengan kaset audio atau audio-visual sehingga catatan lapangan dapat lengkap. Singkatnya, kompetensi peneliti dalam bidang yang diteliti dan dalam pengumpulan data lewat pengamatan partisipan sangat menentukan kualitas proses tindakan dan pengumpulan data tentang proses tersebut.

Validitas Katalitik terkait dengan kadar pemahaman yang Anda capai realitas kehidupan kelas Anda dan cara mengelola perubahan di dalamnya, termasuk perubahan pemahaman Anda dan murid-murid terhadap peran masing-masing dan tindakan yang diambil sebagai akibat dari perubahan ini.
Dalam kasus penelitian tindakan kelas bahasa Inggris yang dicontohkan di atas, validitas katalitik dapat dilihat dari segi peningkatan pemahaman guru terhadap faktor-faktor yang dapat menghambat dan factor-faktor yang memfasilitasi pembelajaran.
Misalnya faktor-faktor kepribadian (lihat Brown, 2000) seperti rasa takut salah dan malu melahirkan inhibition dan kecemasan. Sebaliknya, upaya-upaya guru untuk mengorangkan siswa dengan mempertimbangkan pikiran dan perasaan serta mengapresiasi usaha belajarnya merupakan faktor positif yang memfasilitasi proses pembelajaran. Selain itu, validitas katalitik dapat juga ditunjukkan dalam peningkatan pemahaman terhadap peran baru yang mesti dijalani guru dalam proses pembelajaran komunikatif. Peran baru tersebut mencakup peran fasilitator dan peran penolong serta peran pemantau kinerja. Validitas katalitik juga tercermin dalam adanya peningkatan
pemahaman tentang perlunya menjaga agar hasil tindakan yang dilaksanakan tetap memotivasi semua yang terlibat untuk meningkatkan diri secara stabil alami dan berkelanjutan. Semua upaya memenuhi tuntutan validitas katalitik ini dilakukan melalui siklus perencanaan tindakan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.

Validitas Dialogik sejajar dengan proses review sejawat yang umum dipakai dalam penelitian akademik. Secara khas, nilai atau kebaikan penelitian dipantau melalui tinjauan sejawat untuk publikasi dalam jurnal akademik. Sama halnya, review sejawat dalam PTK berarti dialog dengan guru-guru lain, bisa lewat sarasehan atau dialog reflektif dengan ‘teman yang kritis’ atau pelaku PTK lainnya, yang semuanya dapat bertindak sebagai ‘jaksa tanpa kompromi’.

Kriteria validitas dialogis ini dapat juga mulai dipenuhi ketika penelitian masih berlangsung, yaitu secara beriringan dengan pemenuhan kriteria demokratik. Yaitu, setelah seorang peserta mengungkapkan pandangan, pendapat, dan/atau gagasannya, dia akan meminta peserta lain untuk menanggapinya secara kritis sehingga terjadi dialog kritis atau reflektif. Dengan demikian, kecenderungan untuk terlalu subjektif dan simplistik akan dapat dikurangi sampai sekecil mungkin. Untuk memperkuat validitas dialogik, seperti telah disebut di atas, proses yang sama dilakukan dengan sejawat peneliti tindakan lainnya, yang jika memerlukan, diijinkan untuk memeriksa semua data mentah yang terkait dengan yang sedang dikritisi.

RELIABILITAS PTK
Reliabilitas PTK dilakukan dengan: menyajikan (dalam lampiran) data asli seperti transkrip wawancara dan catatan lapangan (bila hasil penelitian dipublikasikan), menggunakan lebih dari satu sumber data untuk mendapatkan data yang sama dan kolaborasi dengan sejawat atau orang lain yang relevan.

DOWNLOAD MATERI REMBUK NASIONAL 2013


 

1. -penggandaan-buku-kurikulum-2013 (1)

2. hasil-komisi-1a-penyiapan-guru hasil-komisi-1b

3. hasil-komisi-2-implementasi-uu-no-12-tahun-2012

4. hasil-komisi-3-kebudayaan-indonesia

5. hasil-komisi-4-tata-kelola-kemdikbud

6. hasil-komisi-5-pmu-tahun-2013.

PANDUAN PENGEMBANGAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)


I. Pendahuluan

Dalam rangka mengimplementasikan pogram pembelajaran yang sudah dituangkan di dalam silabus, guru harus menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). RPP merupakan pegangan bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran baik di kelas, laboratorium, dan/atau lapangan untuk setiap Kompetensi dasar. Oleh karena itu, apa yang tertuang di dalam RPP memuat hal-hal yang langsung berkait dengan aktivitas pembelajaran dalam upaya pencapaian penguasaan suatu Kompetensi Dasar. Dalam menyusun RPP guru harus mencantumkan Standar Kompetensi yang memayungi Kompetensi Dasar yang akan disusun dalam RPP-nya. Di dalam RPP secara rinci harus dimuat Tujuan Pembelajaran,Materi Pembelajaran, Metode Pembelajaran, Langkah-langkah Kegiatan pembelajaran, Sumber Belajar, dan Penilaian

II. Langkah-langkah Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajara

Mencantumkan identitas

 Nama sekolah

 Mata Pelajaran

 Kelas/Semester

 Alokasi Waktu

0.FORMAT_RPP CONTOH_

Catatan:

1. RPP disusun untuk satu Kompetensi Dasar.

2. Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Indikator dikutip dari silabus yang disusun oleh satuan pendidikan

3. Alokasi waktu diperhitungkan untuk pencapaian satu kompetensi dasar yang bersangkutan, yang dinyatakan dalam jam pelajaran dan banyaknya pertemuan. Oleh karena itu, waktu untuk mencapai suatu kompetensi dasar dapat diperhitungkan dalam satu atau beberapa kali pertemuan bergantung pada karakteristik kompetensi dasarnya.

 

A. Standar Kompetensi

Standar Kompetensi adalah kualifikasi kemampuan peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada mata pelajaran tertentu. Standar kompetensi diambil dari Standar Isi (Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar). Sebelum menuliskan Standar Kompetensi, penyusun terlebih dahulu mengkaji Standar Isi mata pelajaran dengan memperhatikan hal-hal berikut :

 urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau SK dan KD

 keterkaitan antar standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran

 keterkaitan standar kompetensi dan kompetensi dasar antar mata pelajaran.

B. Kompetensi Dasar

Kompetensi Dasar merupakan sejumlah kemampuan minimal yang harus dimiliki peserta didik dalam rangka menguasai SK mata pelajaran tertentu.Kompetensi Dasar dipilih dari yang tercantum dalam Standar Isi. Sebelum menentukan atau memilih Kompetensi Dasar, penyusun terlebih dahulu mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

1. Urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan Kompetensi Dasar

2. Keterkaitan antar standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran

3. Keterkaitan standar kompetensi dan kompetensi dasar antar mata pelajaran

 

C. Tujuan Pembelajaran

Tujuan Pembelajaran berisi penguasaan kompetensi yang operasional yang ditargetkan/dicapai dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Tujuanpembelajaran dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang operasional dari kompetensi dasar. Apabila rumusan kompetensi dasar sudah operasional, rumusan tersebutlah yang dijadikan dasar dalam merumuskan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran dapat terdiri atas sebuah tujuan atau beberapa tujuan.

 

D. Materi Pembelajaran

Materi pembelajaran adalah materi yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Materi pembelajaran dikembangkan dengan mengacu pada materi pokok yang ada dalam silabus.

 

E. Metode Pembelajaran/Model Pembelajaran

Metode dapat diartikan benar-benar sebagai metode, tetapi dapat pula diartikan sebagai model atau pendekatan pembelajaran, bergantung pada karakteristik pendekatan dan/atau strategi yang dipilih.

 

F. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran

Untuk mencapai suatu kompetensi dasar dalam kegiatan pembelajaran harus dicantumkan langkah-langkah kegiatan dalam setiap pertemuan. Pada dasarnya, langkah-langkah kegiatan memuat unsur kegiatan :

 

a. Pendahuluan

Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan pembelajaran yang ditujukan un¬tuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.

 

b. Inti

Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD. Kegiatan pembelajaran di¬lakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan ini dilakukan secara sistematis dan sistemik melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.

 

c. Penutup

Penutup merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman atau kesimpulan, penilaian dan refleksi, umpan balik, dan tindak lanjut.

 

G. Sumber Belajar

Pemilihan sumber belajar mengacu pada perumusan yang ada dalam silabus yang dikembangkan oleh satuan pendidikan. Sumber belajar mencakup sumber rujukan, lingkungan, media, narasumber, alat, dan bahan. Sumber belajar dituliskan secara lebih operasional. Misalnya, sumber belajar dalam silabus dituliskan buku referens, dalam RPP harus dicantumkan judul buku teks tersebut, pengarang, dan halaman yang diacu.

 

H. Penilaian

Penilaian dijabarkan atas teknik penilaian, bentuk instrumen, dan instrument yang dipakai untuk mengumpulkan data. Dalam sajiannya dapat dituangkan dalam bentuk matrik horisontal atau vertikal. Apabila penilaian menggunakan teknik tes tertulis uraian, tes unjuk kerja, dan tugas rumah yang berupa proyek harus disertai rubrik penilaian.

 

IV. Format Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPPP)

 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

Sekolah : ……………………………..

Mata Pelajaran : ……………………………..

Kelas/Semester : ……………………………..

Alokasi Waktu : ….. x 40 menit

A. Standar Kompetensi

B. Kompetensi Dasar

C. Tujuan Pembelajaran:

1. Siswa dapat

2. Siswa dapat

Dst

D. Materi Pembelajaran

E. Model/Metode Pembelajaran

F. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran

 Kegiatan Awal

 Kegitan Inti

 Kegiatan Akhir

 dst

G. Sumber Belajar

H. Penilaian

Indikator Penilaian

PencapaianKompetensi Teknik Bentuk Instrumen Instrumen

1.1.Dst

1.2.Dst

1.3.Dst

CONTOH RPP:

RPP CONTOH

_RPP_BAHASA_INDONESIA SMP

FORMAT_RPP SD

FORMATd_RPP SD

RPP_SD_TRAPESIUM

RPPb_SD_TRAPESIUM

SILABUS & RPP SAINS SD

LAMPIRAN JUKNIS

01 SILABUS-RPP BIN SD

TabelAngkaKredit

SILABUS & RPP SAINS SD

5700 Bahasa Indonesia- Imbuhan Serapan

Bahasa Indonesia- Kalimat Aktif dan Kalimat Pasif

Bahasa Indonesia- Kalimat Majemuk

BI-daftar pustaka

BI-pargrafpersuasif

BI-sastra lama

juknisujismk20082009

[3] SILABUS BINA

[2] PEMETAAN SK & KD BINA

[1] SK & KD BINA

[7] KKM BINA

[5] PROMES BINA

[4] RPP BINA

[1] SK & KD TEMATIK 1

[2] PEMETAAN SK & KD TEMATIK 1

[3] JARINGAN TEMATIK 1

[4] SILABUS TEMATIK 1

[5] RPP TEMATIK 1

[6] PROMES TEMATIK 1

[7] PROTA TEMATIK 1

[8] KKM TEMATIK 1

jaringan-tema

MODEL TEMATIK

model-tematik-kelas-awal

pemetaan-standar-kompetensi

rpp-tematik silabus-tematik

SUMBER : SEBAGAI DI www.AgusChandraStore.com

 

Mr.Wahid's Blog

Media Belajar Mengajar Inspirasi dan Kreativitas

SeNdiMat

Seminar Nasional Pendidikan Matematika

I Wayan Widana

This site is dedicated for mathematic learning development

Layanan Pendidik & Tenaga Kependidikan (PTK)

Laman Layanan Untuk Pendidik dan Tenaga Kependidikan

sejarahdompu

Just another WordPress.com site

SUAIDINMATH'S BLOG

Technology Based Education

tentang PENDIDIKAN

konseling, pembelajaran, dan manajemen pendidikan

SUKSES SELALU

NIKMATILAH HIDUP..BEKERJA DENGAN ENJOY...JANGAN LUPA BERDOA.

PTK THE FRONTIERS OF NEW TECHNOLOGY

Smile! You’re at the best WordPress.com site ever

educatinalwithptk

PTK The Frontiers Of New Technology

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 125 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: