PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU DALAM MENYUSUN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) MELALUI ON THE JOB TRAINING DI SMP NEGERI 4 SATAP CIGEMBLONG


PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU DALAM MENYUSUN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

MELALUI ON THE JOB TRAINING DI SMP NEGERI 4 SATAP CIGEMBLONG TAHUN PELAJARAN 2010/2011

(SCHOOL ACTION RESEARCH)

Oleh IBNU WAHIDIN, M.Pd. *

 

ABSTRAK

Peranan guru berkenaan dengan perencanaan kurikulum adalah guru berperan dalam membuat perencanaan pelaksanaan pembelajaran (RPP). Perencanaan pembelajaran maksudnya adalah membuat persiapan pembelajaran. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa jika tidak mempunyai persiapan pembelajaran yang baik, maka peluang untuk tidak terarah terbuka lebar, bahkan mungkin cenderung untuk melakukan improvisasi sendiri tanpa acuan yang jelas.

Penelitian ini bermaksud mendeskripsikan peningkatan kemampuan guru-guru SMP Negeri 4 Satap Cigemblong dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dengan menggunakan pola on the job training.

Prosedur yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi yang bersifat daur ulang atau siklus. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus.

Pelatihan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dengan menggunakan pola on the job training ini ternyata dapat meningkatkan kemampuan guru-guru SMP Negeri 4 Satap Cigemblong dalam menyusun RPP. Hal ini terlihat dari adanya peningkatan hasil penyusunan RPP yang dibuat guru-guru SMP Negeri 4 Cigemblong. Peningkatan hasil dilihat dari perbandingan nilai rata-rata yang diperoleh guru-guru selama pelatihan. Perolehan nilai pada siklus I sebesar 2,11 poin sedangkan pada siklus II sebesar 2,76 poin.  Atau ada kenaikan sebesar 0,65 poin.

Kata Kunci: RPP, on the job training

A. Latar Belakang

Salah satu aspek yang berpengaruh terhadap keberhasilan pendidikan nasional adalah aspek kurikulum. Kurikulum merupakan suatu sistem program pembelajaran untuk mencapai tujuan institusional pada lembaga pendidikan, sehingga kurikulum memegang peranan penting dalam mewujudkan sekolah yang berkualitas.

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan/kompetensi, isi, dan bahan pelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Muara keberhasilan kurikulum secara aktual akan ditentukan oleh implementasi kurikulum. Implementasi kurikulum pada satuan pendidikan, diejawantahkan dalam bentuk kegiatan pembelajaran serta berdasarkan pada desain atau rencana pembelajaran yang telah ditetapkan. Pada pelaksanaannya sering terjadi implementasi kurikulum yang tidak sesuai dengan desain pembelajaran sehingga mengakibatkan ketidaktercapaian tujuan yang telah ditetapkan.

Untuk mengimplementasikan kurikulum agar sesuai dengan rancangan, dibutuhkan beberapa kesiapan, terutama kesiapan pelaksana. Sebagus apapun desain atau rancangan kurikulum yang dimiliki tetapi keberhasilannya bergantung kepada guru. Kurikulum yang sederhana pun apabila gurunya memiliki kemampuan, semangat, dan dedikasi yang tinggi hasilnya akan lebih baik daripada desain kurikulum yang hebat tetapi kemampuan, semangat, dan dedikasi gurunya rendah. Guru adalah kunci utama keberhasilan pendidikan. Sumber daya yang lain pun merupakan kunci keberhasilan pendidikan, tetapi kunci utamanya terletak pada guru.

Implementasi kurikulum sesungguhnya terjadi pada saat proses belajar mengajar. Proses pembelajaran merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu, dalam proses tersebut terkandung multi peran guru. Peran guru dalam upaya mengimplementasikan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan meliputi; merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kurikulum.

Peranan guru berkenaan dengan perencanaan kurikulum adalah guru membuat perencanaan pelaksanaan pembelajaran (RPP). Perencanaan pembelajaran maksudnya adalah membuat persiapan pembelajaran. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa jika tidak mempunyai persiapan pembelajaran yang baik, maka peluang untuk tidak terarah terbuka lebar, bahkan mungkin cenderung untuk melakukan improvisasi sendiri tanpa acuan yang jelas.

Mengacu pada hal tersebut, guru diharapkan mampu melakukan persiapan pembelajaran, baik menyangkut materi pembelajaran maupun kondisi psikis dan psikologis yang kondusif bagi berlangsungnya proses pembelajaran. Pada dasarnya kegiatan merencanakan dapat meliputi; penentuan tujuan/kompetensi/indikator yang diharapkan, menentukan materi/bahan pelajaran, menentukan media, metode, alat pembelajaran, dan merencanakan penilaian pembelajaran.

Kegiatan merencanakan merupakan upaya sistematis dalam upaya mencapai tujuan. Melalui perencanaan pembelajaran yang baik diharapkan akan mempermudah pelaksanaan kegiatan pembelajaran.

Memiliki guru yang mampu merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kurikulum merupakan harapan bagi pemimpin pada tingkat satuan pendidikan. Akan tetapi, pada kenyataannya masih saja ditemukan adanya guru-guru yang belum mampu melakukan hal tersebut. Salah satunya dalam membuat perencanaan pembelajaran. Satuan pendidikan yang guru-gurunya belum mampu membuat perencanaan pembelajaran diantaranya adalah SMP Negeri 4 satap Cigemblong. Hampir semua guru di SMP Negeri 4 Satap Cigemblong belum mampu membuat perencanaan pembelajaran yang biasa disebut RPP.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah:

Bagaimanakah on the job training dapat meningkatkan kemampuan guru-guru SMP Negeri 4 Satap Cigemblong dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian tindakan sekolah ini ingin mendeskripsikan peningkatan kemampuan guru-guru SMP Negeri 4 Satap Cigemblong dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dengan menggunakan pola on the job training.

D. Kajian Teori

1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Secara umum tugas dan peran kepala sekolah memiliki lima dimensi sebagaimana terfmaktub pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala sekolah/Madrasah yaitu: kompetensi kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi,  dan kompetensi sosial.

Seorang kepala sekolah hendaknya memahami betul apa yang menjadi tugas dan perannya di sekolah. Jika kepala sekolah mampu memahami tugas dan perannya sebagai kepala sekolah maka akan mudah dalam menjalankan tugasnya berkenaan dengan manajemen yang akan dikembangkannya.

Ada banyak kompetensi yang harus dilaksanakan oleh kepala sekolah dalam menjalankan tugasnya sehari-hari di sekolah yang dipimpinnya. Diantaranya adalah menilai perilaku guru yang menunjukkan kinerjanya dalam melaksanakan tugas di sekolah berdasarkan standar kompetensi guru menurut Depdiknas, perilaku tersebut antara lain diharapkan guru mampu membuat perencanaan pembelajaran (RPP) sampai pada melakukan penilaian baik penilaian proses maupun penilaian hasil belajar.

Perencanaan pembelajaran atau disebut juga sebagai desain pembelajaran merupakan kegiatan awal yang harus dilakukan guru sebelum melaksanakan proses pembelajaran. Ada banyak istilah untuk menamai perencanaan pembelajaran. Ada yang menyebut rencana pelajaran, program pembelajaran, skenario pembelajaran, bahkan ada yang menyebutnya dengan desain pembelajaran. Apa pun istilahnya, konsep awalnya tetap sama yaitu sebagai sebuah proses perencanaan dalam kegiatan belajar mengajar.

Desain adalah rancangan, pola atau model (Rusman, 2008:24). Mendesain pembelajaran berarti menyusun rancangan atau menyusun model pembelajaran sesuai dengan silabus, standar kompetensi, dan kompetensi dasar yang disyaratkan.

Guru diharapkan pula mampu menjabarkan tujuan-tujuan yang tertera pada kurikulum menjadi tujuan-tujuan yang lebih spesifik. Selanjutnya tujuan-tujuan yang spesifik tersebut diterjemahkan pada kegiatan pembelajaran. Kegiatan sebelum pelaksanaan pembelajaran inilah yang dinamakan sebagai kegiatan perencanaan. Perencanaan yang dibuat guru dalam menyusun pelaksanaan pembelajaran sering disebut dengan RPP atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.

Perencanaan dikatakan pula sebagai pemilihan dari sejumlah alternatif tentang penetapan prosedur pencapaian, serta perkiraan sumber yang dapat disediakan untuk mencapai tujuan tersebut (Soetjipto, 2004:134). Perencanaan merupakan seperangkat operasi yang konsisten dan terkoordinasi guna memperoleh hasil-hasil yang diinginkan (Oemar Hamalik, 2008:135). Sedangkan pengajaran atau satuan pengajaran adalah bentuk persiapan mengajar secara mendetail per pkok bahasan yang disusun secara sistematik berdasarkan Garis-garis Besar Program Pengajaran yang telah ada untuk suatu mata pelajaran tertentu (Soetjipto, 2004:156).

Sementara itu Wahjosumidjo dalam bukunya “Kepemimpinan Kepala Sekolah Tinjauan Teoretik dan Permasalahannya” menuliskan bahwa yang dimaksud dengan program pengajaran adalah sebagai susunan mata pelajaran, penjatahan waktu, dan penyebarannya di setiap kelas dan satuan pendidikan (2007:209).

Batasan lain tentang RPP tertuang dalam Buku Saku KTSP Sekolah Mengengah Pertama (2007:38), dalam buku tersebut dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan RPP adalah penjabaran silabus yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi. RPP digunakan sebagai pedoman guru dalam melaksanakan pembelajaran baik di kelas, laboratorium, dan/atau lapangan.

Dari batasan tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan perencanaan  pembelajaran atau program pengajaran adalah suatu penetapan prosedur atau perkiraan-perkiraan yang dibuat oleh guru dalam menyusun persiapan pembelajaran untuk kompetensi tertentu pada mata pelajaran tertentu untuk memperoleh hasil-hasil yang diinginkan.

RPP sekurang-kurangnya memuat lima aspek. Kelima aspek tersebut adalah:

1.      Tujuan pembelajaran

2.      Materi pembelajaran

3.      Metode pembelajaran

4.      Sumber belajar

5.      Penilaian hasil belajar

Sedangkan format RPP yang dapat dikembangkan antara lain sebagai berikut:

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Mata pelajaran                  : ……………………………………………………..

Kelas/Semester                  : ……………………………………………………..

Pertemuan                          : ……………………………………………………..

Alokasi waktu                     : ………………………………………………………

Standar Kompetensi           : ………………………………………………………

Kompetensi Dasar              : ……………………………………………………….

Indikator                             : ……………………………………………………….

A.      Tujuan Pembelajaran

B.      Materi Pembelajaran

C.      Metode Pembelajaran

D.     Langkah-langkah Pembelajaran

1.      Kegiatan pendahuluan

2.      Kegiatan inti

3.      Kegiatan akhir/penutup

E.      Sumber belajar

F.       Penilaian

2. On The Job Training

Setiap pemimpin bertanggung jawab untuk memajukan atau mengembangkan bawahannya, tidak menjadi soal tingkat pimpinannya.  Tanggung jawab itu timbul sejak pegawai itu resmi diterima menjadi pegawai. Dengan memajukan atau mengembangkan pegawai ini dimaksudkan setiap usaha pimpinan untuk menambah keahlian atau efesiensi kerja dari bawahannya dalam melaksanakan tugas-tugasnya dan menempatkan ia dalam jabatan yang setepat-tepatnya.

Usaha untuk memenuhi maksud ini ialah dengan berbagai tindakan seperti melatih, mempromosikan, dan memindahkan. Melatih pegawai merupakan tugas setiap pimpinan. Bukan saja sebagai pegawai baru, tetapi pula pada saat seseorang dipromosikan ke jabatan yang lebih tinggi atau pada saat perubahan teknologi yang diterapkan ke dalam perusahaan. Agar para pegawai tersebut dapat melakukan tugas-tugasnya dengan baik perlu diberikan latihan.

Latihan disebut juga sebagai training. Training merupakan suatu program yang dilaksanakan kerana diasumsikan dapat meningkatkan kemampuan dari para karyawan agar dapat melaksanakan tugasnya secara efisien (dari Manulang dalam http://digilib.petra.ac.id/jiunkpe/s1/tmi/2008/jiunkpe-ns-s1-2008-25404118-9867-ofset printing-chapter2.pdf.

Kegiatan pelatihan atau training ini dapat diartikan sebagai sebuah proses dimana keahlian, pengetahuan, dan kemampuan diubah menjadi tindakan. Kegiatan ini dapat dilakukan pada pegawai lama, terlebih lagi kepada pegawai baru. Melatih pegawai sebelum ia menjabat jabatannya sangatlah penting dan perlu.

Training (pelatihan) adalah proses membantu sumber daya yang terdapat dalam suatu organisasi untuk memperoleh efektivitas dalam pekerjaan mereka yang sekarang atau yang akan datang melalui pengembangan skill, knowledge, dan attitude (Sherwood dan Best, 1958 dalam http://digilib.petra.ac.id/jiunkpe/s1/tmi/2008/jiunkpe-ns-s1-2008-25404118-9867-ofset printing-chapter2.pdf. ).

Ada beberapa jenis training yang dapat dilakukan dalam sebuah organisasi. Misalnya kegiatan melatih pegawai baru dapat direalisasikan dengan menempatkan pegawai baru di bawah asuhan pegawai lama yang telah berpengalaman pada kurun waktu tertentu. Pendidikan semacam ini dinamakan apprentice training (Manulang, 2005:131).

Cara lain yang bisa dilakukan untuk memberikan pelatihan pada pegawai adalah dengan cara in service training. In service training merupakan pelatihan pendidikan bagi karyawan untuk membantu mereka mengembangkan keterampilan dalam disiplin tertentu atau pekerjaan tertentu. In service training terjadi setelah individu memulai tanggung jawab kerja pada institusi tertentu. In service training biasanya dilakukan selama istirahat dalam jadwal kerja individu (http://www.Sil.org/lingualinks/literacy/referencematerials/glossaryofliteracyterms/whatisinservicetraining.htm).

In service training dapat juga disebut sebagai upaya pelatihan terhadap individu yang ada pada suatu lembaga tertentu dengan maksud untuk meningkatkan kompetensi mereka atau untuk meningkatkan pemahaman mereka akan tugas-tugas yang diemban olehnya.

Selain untuk pemahaman akan tugas atau peningkatan kompetensi, kegiatan ini pun dimaksudkan sebagai ajang pengembangan keterampilan dan disiplin para karyawan atau pegawai sesuai dengan bidang kerjanya masing-masing.

Manfaat peltihan atau training adalah para peserta dapat menarik kembali pengalaman kerja mereka atau merefleksi kegiatan yang telah mereka lakukan yang kemudian berusaha untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang selama ini masih mereka lakukan. Sementara itu hal-hal yang dianggap sudah baik, bisa tetap dipertahankan atau bahkan ditingkatkan lagi.

Manfaat lain adalah sebagai pengembangan karyawan menuju tercapainya efesiensi dalam pelaksanaan kerja sehari-hari serta untuk mengantisipasi tugas di masa datang. Training dapat juga sebagai upaya pengembangan karir, dan pengembangan diri pegawai.

Ada beberapa persyaratan yang harus dipersiapkan sebelum pelaksanaan in service training. Pertama, perlu penyesuaian kebutuhan sesuai dengan program yang telah ditetapkan. Kedua, pelatih perlu memiliki pengalaman praktis sebelum memberikan pelatihan. Ketiga, jika tugas cukup kompleks, pelatih harus siap melakukan pelatihan ulang agar peserta lebih tahu lagi bagaimana melakukan tugas dengan benar. Keempat, pelatih perlu memperkenalkan material baru atau metode-metode terbaru untuk orang-orang yang akan diberikan pelatihan.

Cara lain yang dapat pula dijadikan cara untuk mendidik pegawai adalah dengan cara yang biasa disebut on the job training. Latihan ini dilaksanakan dengan segera menempatkan pegawai itu memangku jabatannya, tetapi ia didampingi oleh pegawai yang telah berpengalaman (Manulang, 2005:131). Dengan kata lain, pegawai tersebut untuk jangka waktu tertentu mendapat bimbingan hingga ia dapat berdiri sendiri dalam melaksanakan tugasnya.

On the job training dikatakan pula sebagai suatu proses yang terorganisasi untuk meningkatkan keterampilan, pengetahuan, kebiasaan, dan sikap karyawan (http://id.shvoong.com/business-management/management/205838-job-training-ijt/).

On the job training dapat pula diberi batasan sebagai suatu bentuk pembelakalan yang dapat mempercepat proses pemindahan pengetahuan dan pengalaman kerja/transfer knowledge dari para karyawan senior ke yunior. Pelatihan ini langsung menerjunkan pegawai baru bekerja sesuai dengan job description masing-masing di bawah supervisi atau pengawasan penyelia atau karyawan senior (http://malstin2007.blogspot.com/2008/01/pengertian-definisi-dan-arti-organisasi.htnl).

Dari beberapa uraian tentang definisi on the job training di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan on the job training adalah sebagai upaya pembelakalan pengetahuan, keterampilan,bahkan sikap kepada para karyawan agar mereka dapat melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan job deskripsinya masing-masing. Pelatihan ini dapat diberikan oleh karyawan senior kepada yunior, atau oleh pimpinan organisasi itu sendiri.

Tujuan on the job training adalah agar karyawan memiliki kebulatan tekad/sikap kerja yang positif menuju prestasi. Selain itu para karyawan diharapkan memiliki gambaran pengetahuan dan jenis pelatihan yang akan dilaksanakan selama menjadi karyawan. Yang terpenting dari semuanya itu adalah agar karyawan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja, rekan kerja, dan pekerjaannya.

On the job training dapat diterapkan pada setiap karyawan baru, karyawan yang pindah ke bagian lain (mutasi), karyawan yang berganti tugas dan tanggung jawab, atau kepada karyawan yang menunjukkan prestasi kurang baik dalam pekerjaannya.

3. Usulan Solusi

Gayut pada uraian di atas solusi yang dapat diberikan berkenaan dengan upaya peningkatan kemampuan guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran pada penelitian ini adalah dengan menerapkan pola on the job training kepada para guru.

Alasan penulis mengambil pola on the job training sebagai sebuah upaya peningkatan kompetensi guru didasarkan adanya beberapa keunggulan pola on the job training dibandingkan dengan beberapa jenis training yang lain.

Keunggulan-keunggulan dari on the job training antara lain:

1)      Pegawai/karyawan bisa bekerja sambil mendapatkan pelatihan.

2)      Pegawai/karyawan mendapatkan pelatihan khusus dalam bidang kerjanya.

3)      Prosedur dan teknik kerja bisa dikerjakan dengan benar dan menjadi kebiasaan kerjanya.

4)      Pegawai/karyawan lebih cepat mengenal situasi kerjanya.

5)      Keterampilan pegawai dapat dikembangkan lebih cepat.

6)      Hasrat pegawai untuk belajar lebih besar dikarenakan pegawai merasakan kebutuhan pelatihan, dapat melihat hasilnya, dan merasa apa yang mereka kerjakan memberikan manfaat.

7)      Materi, metode pelatihan dapat dibuat lebih spesifik sesuai kebutuhan kerja.

8)      Instruksi yang diberikan lebih didengar oleh pegawai.

9)      Pelatihan dilakukan di tempat kerja.

10)  Biaya relatif kecil.

Kegiatan ini dilakukan di luar jam pelajaran. Prosedur pelaksanaan kegiatan on the job training yang dilakukan adalah sebagai berikut:

1)      Mengidentifikasi permasalahan

2)      Merencanakan program pelatihan

3)      Melaksanakan program pelatihan

4)      Menilai pelaksanaan program pelatihan

5)      Melakukan refleksi

E. Tindakan

Tahapan kegiatan atau tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah: Perencanaan, Pelaksanaan, Pengamatan dan Evaluasi, serta Refleksi.

Pada tahap perencanaan, tindakan yang dilakukan berupa: 1) merumuskan masalah, 2) merumuskan tujuan penyelesaian, 3) merumuskan indikator kenerhasilan, 4) merumuskan langkah-langkah kegiatan penyelesaian, 5) mengidentifikasi pihak-pihak yang terkait dalam penyelesaian masalah, 6) mengidentifikasi metode pengumpulan data, 7) menyusun instrumen evaluasi, 8) menentukan waktu dan tempat pelaksanaan, serta 9) mengidentifikasi fasilitas yang diperlukan.

Tahap pelaksanaan berupa implementasi seluruh program yang sebelumnya direncanakan. Tahapan penelitian berikutnya adalah pengamatan dan evaluasi. Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan berupa pencermatan terhadap pelaksanaan tindakan. Pengamatan menggunakan instrument yang berisi indicator-indikator keberhasilan program. Evaluasi dilakukan sebagai upaya penetapan hasil pelaksanaan juga sebagai dasar untuk melakukan refleksi.

Tahapan terakhir berupa refleksi, yaitu sebuah proses perenungan terhadap semua hasil tindakan yang telah dilakukan sebagai dasar untuk memperbaiki rencana tindakan pada siklus berikutnya untuk meningkatkan hasil yang lebih baik.

Berikut disajikan penahapan penelitian berkaitan dengan permasalahan yang diteliti.

TAHAPAN PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH

SIKLUS I

Perencanaan

(Mengidentifikasi masalah dan penetapan alternatif pemecahan masalah)

1.      Masalah yang teridentifikasi berkenaan dengan kompetensi yang harus dikuasai guru adalah: guru belum memiliki kemampuan yang baik dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).

2.      Alternatif solusi yang ditawarkan berupa pemberian pendidikan dan pelatihan kepada guru-guru yang dirasa perlu bantuan dalam meningkatkan kompetensinya.

3.      Pendidikan atau pelatihan tersebut dinamai dengan program on the job training.

4.      Skenario yang dapat dilakukan berkenaan dengan kegiatan on the job training adalah sebagai berikut:

1)      Pelatih memberikan paparan mengenai materi yang harus dikuasai peserta.

2)      Pelatih memberikan kesempatan untuk mengadakan tanya jawab dengan peserta.

3)      Pelatih memberikan lembar kerja pelatihan kepada peserta.

4)      Peserta berdiskusi menyelesaikan lembar kerja yang diberikan pelatih.

5)      Peserta menyerahkan hasil kerjanya kepada pelatih.

6)      Pelatih memberikan balikan terhadap hasil kerja peserta.

7)      Peserta dan pelatih melakukan refleksi.Tindakan/

Pelaksanaan1.      Menerapkan tindakan mengacu pada skenario yang telah ditetapkan.

2.      Melakukan evaluasi, yaitu pemeriksaan hasil sesuai indikator yang telah ditetapkan.Pengamatan dan Evaluasi1.      Melakukan observasi menggunakan format yang telah disediakan.

2.      Mendokumentasikan dalam bentuk foto setiap momen tindakan yang dianggap penting untuk diketahui.Refleksi1.      Melakukan pembicaraan (diskusi) dengan peserta untuk membahas pelaksanaan kegiatan yang telah berlangsung.

2.      Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai hasil evaluasi untuk digunakan pada siklus II.Indikator Keberhasilan Siklus I1.      Peserta dianggap berhasil manakala telah mampu menyusun RPP sesuai dengan panduan yang dikeluarkan BSNP.

2.      Peserta memperoleh skor minimal 2 (skala 0 – 4) (dalam Rusman, 2008: 292).

SIKLUS II

Perencanaan

  • Mengidentifikasi masalah berdasarkan temuan-temuan maupun refleksi pada siklus I.
  • Pengembangan program pelatihan berdasarkan refleksi pada siklus I.

TindakanPelaksanaan tindakan siklus II

 

Skenario tindakan yang dapat dilakukan berkenaan dengan kegiatan on the job training adalah sebagai berikut:

1.      Pelatih memberikan paparan mengenai materi yang harus dikuasai peserta.

2.      Pelatih memberikan kesempatan untuk mengadakan tanya jawab dengan peserta.

3.      Pelatih memberikan lembar kerja pelatihan kepada peserta.

4.      Peserta berdiskusi menyelesaikan lembar kerja yang diberikan pelatih.

5.      Peserta menyerahkan hasil kerjanya kepada pelatih.

6.      Pelatih memberikan balikan terhadap hasil kerja peserta.

7.      Peserta dan pelatih melakukan refleksi.

F. Teknik Pengumpulan Data

1.      Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini berupa pengamatan dan pemeriksaan terhadap hasil kerja peserta (berupa penyusunan RPP).

2.      Instrumen penilaian RPP yang digunakan mengacu pada instrumen penilaian yang dikemukakan oleh Rusman (2008:291-292).

G. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam menilai kinerja guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran adalah sebagai berikut:

FORMAT PENILAIAN

PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(Skala Nilai 1 – 4)

Nama Guru         : ……………………………………..

Mata Pelajaran   : ……………………………………..

Pokok Materi     : ……………………………………..

Kelas/Semester  : …………………………………….

No

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Nilai *)

1 Tujuan Pembelajaran

a.      Standar Kompetensi

b.      Indikator

c.       Ranah Tujuan (Komprehensif)

d.      Sesuai dengan Kurikulum 2Bahan Belajar/Materi Pelajaran

a.      Bahan belajar mengacu/sesuai dengan tujuan

b.      Bahan belajar disusun secara sistematis

c.       Menggunakan bahan belajar sesuai dengan kurikulum

d.      Memberi pengayaan 3Strategi/Metode Pembelajaran

a.      Pemilihan metode disesuaikan dengan tujuan

b.      Pemilihan metode disesuaikan dengan materi

c.       Penentuan langkah-langkah proses pembelajaran berdasarkan metode yang digunakan

d.      Penataan alokasi waktu proses pembelajaran sesuai dengan proporsi

e.      Penetapan metode berdasarkan pertimbangan kemampuan siswa

f.        Member pengayaan 4Media Pembelajaran

a.      Media disesuaikan dengan tujuan pembelajaran

b.      Media disesuaikan dengan materi pembelajaran

c.       Media disesuaikan dengan kondisi kelas

d.      Media disesuaikan dengan jenis evaluasi

e.      Media disesuaikan dengan kemampuan guru

f.        Media disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan siswa 5Evaluasi

a.      Evaluasi mengacu pada tujuan

b.      Mencantumkan bentuk evaluasi

c.       Mencantumkan jenis evaluasi

d.      Disesuaikan dengan alokasi waktu yang tersedia

e.      Evaluasi disesuaikan dengan kaidah evaluasi  Total Nilai  Nilai RPP (R)  Kriteria Penilaian:

  • Nilai 4 Jika semua deskriptor tampak
  • Nilai 3 Jika hanya 3 deskriptor yang tampak
  • Nilai 2 Jika hanya 2 deskriptor yang tampak
  • Nilai 1 Jika hanya 1 deskriptor yang tampak
  • Nilai 0 Jika tidak ada deskriptor yang tampak

(Rusman, 2008: 291-292)

H. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik deskriprif dengan cara membandingkan perolehan skor awal peserta dalam menyusun RPP sebelum tindakan dengan skor perolehan peserta setelah mengalami tindakan.

I. Hasil Tindakan

a)      Hasil Penyusunan RPP Peserta PTS Siklus I

No

NAMA GURU/RESPONDEN

ASPEK PENILAIAN RPP

NILAI

AKHIR

Tujuan Pembelj.

Bahan Pembelj.

Metode Pembelj.

Media Pembelj.

Evaluasi

1

A

4

2

2

2

1

2,2

2

B

4

2

2

1

1

2

3

C

3

2

2

2

1

2

4

D

4

2

2

1

2

2,2

5

E

3

2

2

2

1

2

6

F

4

2

2

1

2

2,2

7

G

4

2

2

1

2

2,2

8

H

3

2

1

2

2

2

9

I

4

2

2

2

1

2,2

TOTAL NILAI

19

NILAI RATA-RATA ( R )

2,11

b)      Hasil Penyusunan RPP Peserta PTS Siklus II

No

NAMA GURU/RESPONDEN

ASPEK PENILAIAN RPP

NILAI

Tujuan Pembelj.

Bahan Pembelj.

Metode Pembelj.

Media Pembelj.

Evaluasi

1

A

4

3

3

3

2

3

2

B

4

2

2

3

2

2,6

3

C

4

3

3

3

1

2,8

4

D

4

3

3

2

3

3

5

E

4

2

3

2

2

2,6

6

F

4

3

2

2

3

2,8

7

G

4

2

2

3

2

2,6

8

H

3

2

3

3

2

2,6

9

I

4

3

3

2

2

2,8

TOTAL NILAI

24,8

NILAI RATA-RATA ( R )

2,76

c)      Perbandingan Hasil Tindakan Siklus I dan Siklus II

No

NAMA GURU/RESPONDEN

NILAI

SIKLUS I

NILAI

SIKLUS II

KETERANGAN

(SELISIH)

1

A

2,2

3

Naik 0,8 poin

2

B

2

2,6

Naik 0,6 poin

3

C

2

2,8

Naik 0,8 poin

4

D

2,2

3

Naik 0,8 poin

5

E

2

2,6

Naik 0,6 poin

6

F

2,2

2,8

Naik 0,6 poin

7

G

2,2

2,6

Naik 0,4 poin

8

H

2

2,6

Naik 0,6 poin

9

I

2,2

2,8

Naik 0,6 poin

TOTAL NILAI

19

24,8

Naik 5,8 poin

NILAI RPP ( R )

2,11

2,76

Naik 0,65 poin

Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa ternyata secara umum terbukti bahwa pola on the job training dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun RPP. Hal ini terbukti dengan adanya hasil-hasil yang signifikan baik pada siklus I maupun siklus II. Hasil-hasil tersebut tampak pada adanya kenaikan nilai dari siklus I ke siklus II.

Pada siklus II terdapat 3 orang guru atau sekitar 33,33% mengalami kenaikan nilai sebesar 0,8 poin, 5 orang guru atau sekitar 55,55% mengalami kenaikan sebesar 0,6 poin, dan 1 orang guru atau sekitar 11,11% mengalami kenaikan nilai sebesar 0,1 poin.

J. Simpulan

Setelah seluruh aktivitas penelitian dilakukan mengenai implementasi on the job training dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran terhadap guru-guru di SMP Negeri 4 Satap, dapat disimpulkan sebagai berikut:

1.      On the job training dapat meningkatkan kemampuan menyusun RPP bagi guru-guru SMP Negeri 4 Satap Cigemblong. Hal tersebut ditunjukkan dengan hasil penilaian yang dilakukan dengan cara membandingkan perolehan nilai dari siklus I ke siklus II dengan nilai rata-rata sebesar 2,11 pada siklus I menjadi 2,76 pada siklus II. Atau ada kenaikan sebesar 0,65 poin.

2.      On the job training pun ternyata dapat memberikan suasana yang menyenangkan bagi peserta selama mereka mengikuti pelatihan.

K. Kepustakaan

Depdiknas. 2007. Buku Saku Kurikulum satuan Pendidikan Sekolah Menengah Pertama. Jakarta: Depdiknas.

Depdiknas. 2007. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007, tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah. Jakarta: Depdiknas.

http://digilib.petra.ac.id/jiunkpe/s1/tmi/2008/jiunkpe-ns-s1-2008-25404118-9867-ofset printing-chapter2.pdf.

http://id.shvoong.com/business-management/management/205838-job-training-ijt/.

http://malstin2007.blogspot.com/2008/01/pengertian-definisi-dan-arti-organisasi.htnl.

http://www.Sil.org/lingualinks/literacy/referencematerials/glossaryofliteracyterms/whatisinservicetraining.htm.

Hamalik, Oemar. 2008. Manajemen Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.

Kemendiknas. 2010. Penelitian Tindakan Sekolah Materi Pelatihan Penguatan kemampuan Kepala Sekolah. Jakarta: Dirjen PMPTK.

Manulang, 2005. Dasar-dasar Manajemen. Jogjakarta: Gadjah Mada University Press.

Rusman. 2008. Manajemen Kurikulum Seri manajemen Sekolah Bermutu. Bandung: Mulia Mandiri Press.

Soetjipto dan Kosasi. 2004. Profesi Keguruan. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Wahjosumidjo. 1999. Kepemimpinan Kepala Sekolah Tinjauan Teoretik dan Permasalahannya. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

*Penulis adalah Kepala SMP Negeri 4 Satap Cigemblong Kab. Lebak

Mohon izin publikasi tulian ini , baik utk bahan tefensi kasek yang mengikuti penguatan kepala sekolah.Jika td berkenan akan kami hapus. terima kasih

About these ads

Tentang suaidinmath

Tiada gading yang tak retak. Tetaplah semangat...karena perjalanan ribuan langkah dimulai dari satu langkah kecil. Mohon kontribusi untuk menambal retak dan menambah langkah kesempurnaan tulisan ini ...

Posted on 14 Februari 2013, in Pendidik. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Mr.Wahid's Blog

Media Belajar Mengajar Inspirasi dan Kreativitas

SeNdiMat

Seminar Nasional Pendidikan Matematika

I Wayan Widana

This site is dedicated for mathematic learning development

Layanan Pendidik & Tenaga Kependidikan (PTK)

Laman Layanan Untuk Pendidik dan Tenaga Kependidikan

sejarahdompu

Just another WordPress.com site

SUAIDINMATH'S BLOG

Technology Based Education

tentang PENDIDIKAN

konseling, pembelajaran, dan manajemen pendidikan

SUKSES SELALU

NIKMATILAH HIDUP..BEKERJA DENGAN ENJOY...JANGAN LUPA BERDOA.

PTK THE FRONTIERS OF NEW TECHNOLOGY

Smile! You’re at the best WordPress.com site ever

educatinalwithptk

PTK The Frontiers Of New Technology

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 125 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: