Belajar Berbasis Masalah


 

Belajar berbasis masalah berakar dari pandangan John Dewey, yangmenyatakan bahwa sekolah mestinya mencerminkan masyarakat yang lebih besaJ,dan kelas merupakan laboratorium untuk memecahkan masalah kehidupan nyata.Pandangan ini mengharuskan guru untuk mendorong siswa terlibat dalam proyekatau tugas berorientasi masalah dan membantu mereka menyelidiki masalah-masalah intelektual dan sosial. Pembelajaran di sekolah seharusnya lebih memilikimanfaat nyata daripada abstrak. Pembelajaran yang memiliki manfaat terbaikdapat dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok kecil untuk menyelesaikanproyek yang menarik yang merupakan pilihan mereka sendiri. Visi pembelajaranberdaya guna atau terpusat pada masalah digerakkan oleh keinginan siswauntuk menyelidiki secara pribadi masalah tersebut. Hal ini secara jelas

‘      BBM juga dikembangkan dari konsep konstruktivisme atas dasapandangan Jean Piaget dan Lev Vygotsky. Piaget menegaskan bahwa anamemiliki r;;sa inyin tahl! bav.’aan dan secara tcru.s menerus bernsaha ingi memahami dunia di  sekitamya. Rasa ingin tahu ini. menurut Piaget dapat memotivasi mereka untuk secara aktif membangun tampilan dalam otak merekamengenai lingkungan yang mereka hayati. Pada saat mereka tumbuh semakin dcwasa dan memperoleh lebih banyak kemampuan bahasa dan memori, tampilan mental mereka tentang dunia menjadi lebih luas dan lebih abstrak. Sementara itu, pada semua tahap perkembangan, anak perlu memahami lingkungan mereka dan memotivasinya untuk menyelidiki dan membangun teori-teori yang menjelaskan lingkungan itu.

Pandangan ini lebih lanjut mengemukakan bahwa siswa dalam segala usia secara aktif terlibat dalam proses perolehan informasi dan membangun pengetahuan mereka sendiri. Pengetahuan tidak statis namun secara terus menerus tumbuh dan berubah pada saat siswa menghadapi pengalaman baru yang memaksa mereka membangun dan memodifikasi pengetahuan awal mereka.

Menurut Piaget, pedagogi yang baik hams melibatkan anak dengan situasi-situasidi mana anak itu secara mandiri melakukan eksperimen, dalam arti mencobasegala sesuatu untuk melihat apa yang terjadi, memanipulasi tanda-tanda.memanipulasi simbol, mengajukan pertanyaan dan menemukan sr’.^dirijawabannya, mencocokkan apa yang mereka temukan pada suatu saat dengan apayang ia temukan pada saat yang lain, dan membandingkan temuannya dengantemuan anak lain (dalam Ibrahim dan Nur, 2000).

Di pihak lain. Lev Vygotsky percaya bahwa perkembangan intelektualtcrjadi pada saat individu berhadapan dengan pengalaman ba– yang menantanguan k';ti!:a m.Tek.i h,:rii:-iah;t until!;. rncmccahkan masalah yanu dimunculkan olepengalaman. Dala.’n npaya mendapalk;in pemahaman, individu men^kaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan lama yang telah dimilikinya untukmembangun pengenian baru. Vygotsky memberi tempat yang lebih penting padaaspek sosial pembelajaran. Vygotsky percaya bahwa interaksi sosial denganteman lain memacu terbentuknya ide baru dan memperkayaperkembanganintelektual siswa.

Pada   dasamya,   baik   Piaget   maupun   Vygotsky,   sama-sama

mengembangkan  kontruktivisme psikologis. Namun demikiah, Piaget lebih menekankan pada kontruktivisme psikologis yang bersifat personal, sedangkan

Vygotsky lebih menekankan pada kontruktivisme psikologis yang bersifat sosial. (Supamo, 1997 : 43). Kedua konsep konstruktivisme tersebut menjadi landasan pokok model Belajar Berdasarkan Masalah.

BBM juga berlandaskan pada social learning theory Albert Bandura, yang fokus pada pembelajaran dalam konteks sosial (social context). Teori inimenyatakan bahwa seseorang belajar dari orang lain, termasuk konsep dan belajaobservasional, imitation, dan modeling. Prinsip umum dari social learning theory’selengkapnya dinyatakan oleh Ormrod (1999) sebagai berikut.

General principles of social learning theory’follows:

1. People can learn by observing the behavior is of others and theoutcomes of those behaviors.

2. Learning can occur without a change in behavior. Behaviorists saythat learning has to he represented by a permanent change in

behavior, in contrast social learning theorists say thai because peoplecan leurn through observation alone, their learning may no!

necessarily be shown in their performance. Learning may or may notresult in a behavior change.

3. Cognition plays a role in learning. Over the lust 30 years sociallearning theory has become increasingly cognitive in its interpretationof htiiniin learning.  Awareness and expectations oj  f’mnre reinforcements or piifii ‘ih.ineiUs can have n major effect iin llir behaviors thai people exhibit.

4. Social learning theory can he considered a bridge or a transition between behaviorist learning theories and cognitive learning theories. Belajar Berbasis Masalah didukung pula oleh teorinya Jerome Bruner yang dikenal dengan pembelajaran penemuan. Belajar penemuan ini merupakan suatu model pembelajaran yang menekankan pentingnya membantu siswa memahamistruktur atau ide kunci dad suatu disiplin ilmu, perlunya siswa aktifteriibat dalamproses pembelajaran, dan    pembelajaran yang sebenamya terjadi melalui

penemuan pribadi. Tujuan pendidikan tidak hanya meningkatkan banyaknyapengetahuan siswa tetapi juga menciptakan kemungkinan-kemungkinan untuk penemuan siswa. Pembelajaran penemuan diterapkan dengan menekankanpenalaran induktif dan proses-proses inkuiri yang merupakan ciri dan metode ilmiah. Belajar berdasarkan masalah pada intinya adalah melakukan proses inkuiri tersebut.

Kaitan intelektual antara pembelajaran penemuan dan belajar berbasis masalah sangat jelas. Pada kedua model ini, guru menekankan keterlibatan siswa secara aktif, orientasi induktif lebih ditekankan dari pada deduktif, dan siswa menentukan atau mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Pada belajar berbasis masalah atau penemuan, guru mengajukan pertanyaan atau masalah kepada siswa dan memperbolehkan siswa untuk menemukan ide dan teori mereka sendiri.

Belajar Berbasis Masalah (BBM) memiliki nama lain yang pada dasamyatwrmak-na <sama   cprvrti  PmhIpm-Ricprf  I pamino ^PRI ^   Prnhlpm-Racpd Instruction (PBI), Project-Based Teaching (Pembelajaran Proyek), Experienced

Based Education (Pendidikan Berdasarkan Pengalaman), Authentic Learning (Belajar Autcntik), dan Anchored Instruction (Pembelajaran Berakar pada Kehidupan Nyata).

Belajar Berbasis Masalah (BBM) adalah pembelajaran yang dirancang berdasarkan masalah kehidupan yang bersifat tidak tentu (ill-structured), terbuka, dan mendua. Masalah yang tidak tentu adalah masalah yang kabur, tidak jelas,

atau belum terdefinisikan (Fogarty, dalam Arnyana, 2004). Sedangkan Boud (1985 : 1) menyatakan bahwa Belajar berdasarkan masalah merupakan pembelajaran yang dimulai dengan penyajian masalah, yang berupa pertanyaan atau teka-teki yang dapat merangsang siswa untuk menyelesaikannya. Definisi yang hampir sama dinyatakan oleh Ibrahim dan Nur (2000 : 3), bahwa BBMterdiri dari menyajikan kepada siswa situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kesempatan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri. Secara lebih spesifik, Barrows (1996 : 5) menyatakan bahwa BBM merupakan pembelajaran yang memiliki karakteristik, yakni (1) belajar berpusat pada siswa, (2) belajar terjadi dalam kelompok kecil, (3) guru berperan sebagai fasilitator atau penuntun, (4) bentuk masalah difokuskan pada pengaturan dan merangsang untuk belajar, (5) masalah merupakan saran’d untuk

membangun keterampilan pemecahan masalah, (6) informasi baru diperoleh melalui self-directing learning.

Belajar Berbasis Masalah diterapkan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi siswa dalam situasi berorientasi masalah, termasuk di dalamnya belajar bagaimana belajar (Ibrahim dan Nur. 20001. Peran guru dalam pembelajaran ini adalah mcnyajikan masalah, mengajukan pertanyaan, dan memfasilitas pcnyclidikan dan dialog. Lcbih penting lagi, guru melakukan scaffolding, yaitusu;;ui kcningkii (.liikiiiigan yang memperkaya ketcrampilan dan pertumbuhan

intcleklual siswa. BBM tidak terjadi tanpa guru mengembangkan lingkungan

kclas yang memungkinkan terjadinya pertukaran ide secara terbuka.

Belajar berbasis masalah memiliki ciri – ciri sebagai berikut. (1)

Mengajukan pertanyaan atau masalah. BBM mengorganisasikan pertanyaan dan

masalah yang sangat penting dan secara pribadi bermakna bagi siswa. Masalah

yang diajukan berupa situasi kehidupan nyata/autentik, menghindari jawaban

sederhana, dan memungkinkan adanya berbagai macam solusi untuk situasi

tersebut. (2) Berfokus pada keterkaitan antar disiplin. (3) Penyelidikan autentik.

BBM mengharuskan siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencari

penyelesaian masalah secara nyata. Mereka harus menganalisis dan

mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis, mengumpulkan dan

menganalisis infonnasi, melakukan eksperimen (jika diperiukan),   membuat

inferensi dan merumuskan simpulan sebagai solusi terhadap masalah yang

diajukan. (4) Menghasilkan produk atau karya dan memamerkannya. BBM

menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata

atau artefak dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian

masalah yang mereka temukan. (5) Kerja sama. BBM juga dicirikan oleh siswa

bekerja sama antara yang satu dengan lainnya dalam bentuk berpasangan .atau

berkelompok (antara 4-8 siswa) dalam memecahkan masalah yang dihadapinya.

Dalam pembelajarannya, siswa bekerja sama antara satu dengan yang lain, untuk

mengembangkan kelerampilan sosial dan keterampilan berpikir. (Ibrahim dan

Nur, 2000 : 5-6).

Belajar berdasarkan niasalah tlikembanyk.in liimik mciiilianlu siswa

mengembangkan kcmampuan berpikir, mcmccahkan masalah, dan kelerampilan

intelektual. Di samping itu, BBM memberikan kesempatan belajar berbagai pe;-*A

orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi

serta menjadi pebelajar yang otonom dan mandiri (Ibrahim dan Nur, 2000). BBM

dapat mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Hal ini didukung oleh

Hastings yang mengemukakan bahwa belajar berdasarkan masalah dapat

mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan analitis serta menghadapkan

siswa pada latihan untuk memecahkan masalah (dalam Arnyana, 2004).

Ibrahim dan Nur (2000) memberikan rasional tentang bagaimana BBM

membantu siswa untuk berkinerja dalam situasi kehidupan nyata dan belajar

pentingnya peran orang dewasa. Mereka lebih lanjut mengungkapkan bagaimana

pembelaiaran di sekolah seperti yang dipahami secara tradisional, berbeda dalam

empat hal penting dari aktivitas mental dan belajar yang terjadi di luar sekolah.

Keempat hal tersebut dipaparkan seperti berikut. (1) Pembelajaran di sekolah

berpusat pada kinerja siswa secara individual, semenfara di luar sekolah keria

mental mclibatkan kerja sama dengan orang lain. (2) Pembelajaran di sekolah

terpusat pada proses berpikir tanpa bantuan. sementara aktivitas mental di luar

sekolah selalu melibatkan alat-alat kognitif seperti kompuiei, kalkulator, dan

instrumen ilmiah lainnya. (3) Pembelajaran di sekolah mengembangkan berpikir

simbolik berkaitan dengan situasi hipotesis, sementara aktivitas mental di luar

sekolah mengharapkan  masing-masing individu berhadapan secara langsung

dengan benda dan situasi yang kongkret. (4) Pembelajaran di sekolah memusatkan

pada keterampilan umum, sementara di luar sekolah memerlukan kemampuan

khusus.

Belajar bcrbasis masalah biasanya terdiri dari 5 tahap yang dimulai dengan

(1) orientasi siswa kepada masalah, (2) mengorganisasikan siswa untuk belajar,

(3) membimbing penyelidikan individual maupun kelompok, (4) mengembangkan

dan menyajikan hasil karya, dan (5) menganalisis dan mengevaluasi proses

pemecahan masalah. (Nur, 2000 : 13; Arends, 2004 : 406). Jika jangkauan masalahnya sedang-sedang saja, kelima tahapan tersebut mungkin dapatdiselesaikan dalam 2 sampai 3 kali pertemuan. Namun untuk masalah yangkompleks Tnuogkm akan dibutuhkan setahun penuh untuk menyelesaikannya.

Model belajar berbasis masalah, pada umumnya diterapkan pada bidang-bidangsains, untuk penerapannya pada bidang matematika, perlu adanya modifikasi.

Secara garis besar kelima langkah tersebut tetap, yang perlu sedikit penyesuaianadalah pada kegiatan guru dan kegiatan siswa. Keluna tahapan tersebut secaralengkap disajikan pada tabel 3.

Tabel 2.1 Sintaks Model Belajar Berbasis Masalah

Tahap Kegiatan Guru Kegiatan Siswa
Tahap 1 Guru menjelaskan tujuan Siswa menginveritarisasi
  pembelajaran, dan mempersiapkan
Orientasi siswa    
  menjelaskan kebutuhan kebutuhaii yang
kepada masalah yang diperlukan, dan diperlukan dalam proses
  memotivasi siswa terlibat pembelajaran. Siswa
  pada aktivitas pemecnhan berada dalam kelompok
  ma.saJah yang dipilihnya. yang telah ditetapkan.

 

Tahap 2 Guru membantu siswa Siswa membatasi
  mendefinisikan dan permasalahan yang akan
Mengorganisasi siswa mengorganisasikan tugas dikaji
untuk belajar    
  belajar yang berl-ii;bungan  
  dengan masalah tersebut.  
Tahap 3 Guru mendorong siswa Siswa melakukan inkuiri,
  untuk mengumpulkan investigasi, dan bertanya
Membimbing    
  informasi yang sesuai, untuk mendapatkan
penyelidikan    
  untuk mendapatkan jawaban atas
individual maupun penjelasan dan permasalahan yang
kelompok    
  pemecahan masalah. dihadapi.
Tahap4 Guru membantu siswa Siswa menyusun laporan
  dalam merencanakan dan dalam kelompok dan
Mengembangkan dan menyiapkan laporan, serta menyajikannya dihadapan
menyajikan hasil membantu siswa untuk kelas dan berdiskusi
karya    
  berbagi tugas dalam dalam kelas.
  kelompoknya  
Tahap 5 Guru membantu siswa Siswa mengikuti tes dan
  untuk melakukan refleksi menyerahkan tugas-tugas
Menganalisis dan atau evaluasi terhadap sebagai bahan evaluasi
mengevaluasi proses penyelidikan mereka dan proses belajar.
pemecahan masalah    
  proses-proses yan^  
  mereka gunakan.  

2.5 Model Pembelajaran Langsung

Model Pembelajaran Langsung (MPL) memiliki istilah lain yang jugasering digunakan, seperti Pembelajaran A»:tif. Mastery Teaching, atau Explicitpelatihan lanjutan,yang berhubungankesempatan untukkesempatan melakukan pelatihan lanjutan dan       pelatihan lanjutan,

penerapan          dengan pcrhatian khusus I dengan pcncrapan pada pcnerapan kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari. maleri peiajaran pada siluasi yang lebih kompleks.

 

(Kardi dan Nur, 2000).

Pembelajaran langsung memerlukan perencanaan dan pelaksanaan yang sangat haii-hati di pihak guru. Agar efektif, pembelajaran langsung mensyaratkan tiap detil keterampilan didefmisikan secara saksama. Demikian pula demonstrasidan jadwal pelatihan direncanakan dan dilaksanakan secara saksama. Meskipuntujuan pembelajaran dapat direncanakan bersama oleh guru dan siswa, model iniutamanya berpusat pada guru. Sistem pengelolaan pembelajaran yang dilakukanoleh guru harus menjamin terjadinya keteriibatan siswa, terutama melaluimemperhatikan, mendengarkan dan resitasi (tanyajawab) yang terencana. Hal initidak berarti bahwa pembelajaran bersifal otoriter, dingin, dan tanpa humor.Dengan demikian, lingkungan dibuat berorientasi pada lugas dan memberiharapan tinggi agar siswa mencapai hasil belajar dengan baik.

Dalam pembelajaran matematika, penerapan model ini bercirikan dominasiguru dalam kegiatan belajar mengajar. Defmisi dan rumus diberikan oleh guru-Penurunan rumus atau pembuktian dalil dilakukan sendiri oleh guru. Selanjutnya.diberitahukannya apa yang hanis dikerjakan dan bagaimana menyimpulkannya.

Contoh-contoh soal diberikan dan dikerjakan pula oleh guru sendiri. Siswa menirucara kerja dan cara penyelesaian yang dilakukan oleh guru. (Suherman, 2003 :

203).

DAFTARPUSTAKA

Abdurrahman, Mulyono. 1999. Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar.

Jakarta: Rineka Cipta.

Arends, Richard I. 2004. Learning to Teach, Sixth Edition. New York : McGraw-

Hill

Arikunto, Suharsimi. 1995. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan.Jakarta : Bumi

Aksara.

Amyana, Ida Bagus Putu. 2004. Pengembangan Perangkal Model Belajar

Berdasarkan Masalah Dipandu Strategi Kooperatif serta Pengaruh

Implementasinya Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis dan Basil Belajar

Siswa Sekolah Menengah Atas pada Pelqjaran Ekosistem. Disertasi.

UNM.

Azwar, Saifuddin. 1996. Pengantar Psikologi Inteligensi. Yogyakarta : Pustaka

Pel ajar.

____. 2001. Tes Prestasi. Yogyakarta: Pustaka PeIaJar.

____. 2004. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Barrows Howard- 1996. New Direction for Teaching and Learning “Problem-

Based Learning in Medichine and Beyond; Abrief Overview”. Jossey Bass

Publishers.

Boud, David and Grahame I Feletti (eds). 1997. The Challenge of Problem-Based

Learning. 2nd Edition. Bolton : Northen Phototypcsetting.

Candiasa, I Made. 2004. Statistik Multivariat Dilengkapi Aplikasi dengan SPSS.

Singaraja : IKIP Negeri Singaraja.

_____. 2004. Analisis Butir Diseriai Aplika.’si dengan Iteman, Bigsteps dan

SPSS. Singaraja : IKIP Negeri Singaraja.

Citrawathi, D.M. dan I N. Kariasa. 2004. Implementasi Pembelajaran Berbasis

Masulah pada Perkuliahan Gizi dan Kesehatan untuk Meningkatkan Hasil

Belajar dan Keterampilan Berpikir Mahasiswa. Laporan Hasil Penelitian

Tidak Diterbitkan. Singaraja : IKJP Negeri Singaraja.

Dahar, Ratna Willis. 1989. Teori-Teori Belajar. Jakarta : Eriangga.

Dantes, Nyoman. 2001. “Komparasi K-esanggupan Berpikir Formal antara Siswa

SMA di K.ota dan Siswa di Desa pada Para Siswa Kelas I SMA di

Kabupaten Buleleng”. Kumpulan Makalah. IKIP Negeri Singaraja-

Dayton, C. Mitchell. 1979. The Design of Educational Experiments.USA :

McGraw-Hill.

Dryden, Gordon. 2002. Revolusi Cara Belajar. Cet. Ke-3. Bandung : Kaifa.

Duch, Barbara J. 1996. Problem-Based Learning in Physics : The Power of

Students Teaching Students. Journal of College Science T<-..:her (JCST).

25(5): 326-329.

Fogarty, Robin. 1997. Problem-Based Learning and Other Curriculum Models for

the Multiple intelligences Classroom.Australia : SkyLight

,’

Gall, Gall, dan Borg. 2003. Educational Research an Introduction : Seventh

Edition.

Grouws, Douglas A. – Cebulla, Kristin J. 2000. Improving Student Achievement in

Mathematics, Part /; Research Findings. ERIC Digest.

http://www.ericdigests.org/2003-l/math2.htm

Guilford. 1959. Fundamental Statistics in Psychology and Education : Third

Edition.Tokyo : Kogakusha Company, Ltd.

Gunawan, Adi W. 2005. Born to be a Genius but Conditioned to be an Idiot.

http://www.pembelajar.com/wmview.php

Hudoyo, Herman. 1988. Mengajar Belajar Matematika. Jakarta : P2LPTK

Depdikbud-

Huitt, W. 2001. Motivation to Learn : An Overview. Educational Psychologi

Interactive. http^/chiron.valdosta.edu/whuitVcol/motivation/’motivate.html

Huitt, W. 2004. Self-Concept and Self-Esteem.  Educational Psychologi

Interactive, http://chiron.valdosta.edu/whuitt/col/regsys/self.html.

Hurlock, Elizabeth B. 1978. Perkembangan Anak. Jilid 2. Edisi ke-6. Terjemahan

Meitasari Tjandrasa. Child Development. Sixth Editon. 1978. Jakarta :

Eriangga.

Ibrahim, M. dan Mohamad Nur. 2000. Pengajaran Berdasarkan Masalah. Pusat

Sains dan Matematika Sekolah. Program Pascasarjana UNESA :

University Press.

Kardi, Soeparman dan Mohamad Nur. 2000. Pengajaran Langsung. Program

Pascasarjana UNESA : University Press.

K-eriinger, Fred N. 2002. Asas-Asas Penelitian Behavioral. Yogyakarta : UGM.

{Coster, Wayan. 2001. Ana’lisis KomparatifAntara Sekolah Efeklifdengan Sekolah

Tidak Efektif. http://www.depdiknas.eo.id/Jumal/31/analisis_komparatif_

antara_sekol.htm

K-oyan, I Wayan. 2004. Konsep Dasar dan Teknik Evaluasi Hasil Belajar.

Singaraja: IKJP Negeri Singaraja.

Mulyana, Deddy. 2001. Ilmu Komunikasi. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Nasoetion, Andi Hakim. 1978. Landasan Mc:cmatika. Jakarta : Bhratara Karya

Aksara.

Ormrod. J.E. 1999. Social Learning Theory.

http://teachnet.edb.utexas.edu/~lynda/abbott/Social.html

Partosuwido, Sri Rahayu. 1992. Penyesuaiun Din Mahusiswu dalam Kaitannya

dengan Konsep Diri, Pusat Kendali dan Status Perguruan Tinggi.

Disertasi. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.

Psychology. 2005. Carl Rogers : Psikologi Aliran Humanisme. http://blog.kenz.

or.id/2005/05/02/carl-rogers-psikolog-aliran-humanisme.html.

Rakhmat, Jalaluddin. 1996. Psikologi Komunikasi. Edisi Revisi. Cet. Ke-10.

Bandung: Remaja Rosdakarya.

Rini, Jacinta F. 2002. Konsep Diri. http://www.e-psikologi.com/dewasa/160502

Santoso, Singgih. 2002. Bukii Latihan SPSS Multivariat. Jakarta : PT Gramedia.

Santyasa, I Wayan. 2004. Pengaruh Model dan Seting Pembelajarun terhadap

Remidiasi Miskonsepsi, Pemahaman Konsep, dan Hasil Belajar Fisika

pada Siswa SMU. Disertasi. Malang : Universitas Malang Negeri.

Sarya, Gede. 2002. Penerapan Model Belajar Heuristik Vee dan Model

Pengajaran Langsung pada Pembelajaran Fisika di SLTP (2002). Tesis.

IKIP Singaraja.

Soedjadi, R. 2000. Kiat Pendidikan Matemalika di Indonesia. Konstalasi

Keadaan Masa Kini Menuju Harapan Masa Depan. Direktorat Jenderal

Pendidikan Tinggi Departcmen Pendidikan National.

Stein, Steven J. dan Howard E. Book. 2002. Ledakan EQ : 15 den Prinsip Dasar

Kecerdasan Emotional Meraih Sukses. Terjemahan Trinanda Rainy

Januarsari dan Yudhi Murtanto. The EQ Edge : Emotional Intelligence and

Your Success. 2000. Cet. Ke-3. Bandung : Kaifa.

Stoltz, Paul G. 2000. Adversity Quotient Mengubah Hambatan Menjadi Pelur^.’g.

Terjemahan T. Hermaya. Adversity Quotient : Turning Obstacles into

Opportunities. 1997. Jakart:;: Grasindo.

Sudiarta, I Gusri Puru. 2004. Penerapan Pembelajaran Berorientasi Masalah

“Open Ended” Berbantuan LKM untuk Meningkatkan Pemahaman dan

Hasil Belajar Matematika Mahasiswa pada Matakuliah Pengantar Dasar

Matematika, Semester Ganjil tahun 2004/2005. Laporan Hasil Penelitian

Tidak Diterbitkan. Singaraja : IKIP Negeri Singaraja.

Sudjana. 2002. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : Rosdakarya.

Sudjana. 1996. Metode Statislika. Bandung : Tarsito

Suharta, I Gusti Putu. 2002. Matemalika Realistik ; Apa dan Bagaimana. Jumal

Pendidikan dan Kebudayaan, No. 38, Tahun ke-8.

————. 2004. Pembelajaran Pecahan di Sekolah Dasar dengan Menggunakan

Pendekatan Matematika Rcalislik. Disertasi. UNS.

Suherman, Errnan. 2003. Strategi Pembelajarun Maternal ika Kontemporer.

Common Textbook. Edisi Revisi. Bandung : Universitas Pendidikan

Indonesia.

Sujanem, Rai. 2002. Optimalisasi Pendekuian STM dengan Stralegi Belajar

Berhusis Masalah dalam Pemhela/arun Lisirik Stall.’, dan Dinamis sehuvai

Upaya Menguhah Miskonsepsi, Meningkatkan Lilerasi .Sain.\ dan

119

Teknologi Siswa Kolas 113 SMVN I Singaraja. Laporan Hasil Penelitian

Tidak Diterbitkan. Singaraja : IKIP Negeri Singaraja.

Supamo, Paul. 1997. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta :

Kanisius.

Supranto, J. 2004. Analisis Multivariat : Arti dan Inlerpretasi. Jakarta : Rineka

Cipta.

Suriasumantri, Jujun S. 2001. Filsafat limit Sebuah Pengantar Populer. Jakarta :

Pustaka Sinar Harapan.

Suryabrata, Sumadi. 2002. Psikologi Pendidikan. Jakarta : RajaGrafindo Persada.

Tabachnick, Barbara G. dan Fidell, Linda S. 1989. Using Multivariate Statistics.

Second edition. CaliforniaStateUniversity : Harper Collins Publishers.

Weiner, Bernard. 1974. Cognitive Views of Human Motivation.New York /

Academic Press.

Winkel, W.S. 2005. Psikologi Pengajaran. Cetakan Ketujuh. Yogyakarta : Media

Abadi.

Yasa, Putu. 2002. Belajar Berdasarkan Masalah (Problem Based Learning)

dengan Pendekatan Kelompok Kooperatif sebagai Upaya Peningkatan

Kualitas Pembelajaran Fisika Siywa Kelas HI SLTP Negeri 2 Singaraja.

Laporan Hasil Penelitian Tidak Diterbitkan. Singaraja : IKJP Negeri

Singaraja.

 

About these ads

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s