MODEL, PENDEKATAN, DAN TEKNIK- TEKNIK SUPERVISI PENDIDIKAN


model, pendekatan dan teknik supervisi. Pokok utama yang dibahas meliputi :

A.   Pengembangan model supervisi

1      Model Konvensional

2      Model Ilmiah

3      Model Klinis

4      Model Artistik

B.   Pendekatan supervisi yang disajikan adalah

1      Pendekatan direktif

2      Pendekatan non- direktif

3      Pendekatan kolaboratif

C.  Teknik-teknik supervisi yang dibahas mencakup :

1      Supervisi yang bersifat individual.

2      Teknik supervisi yang bersifat kelompok.

A.      Pengembangan Model Supervisi

Yang dimaksud dengan model dalam uraian ini ialah suatu pola, contoh : acuan dari supervisi yang diterapkan. Ada berbagai model yang berkembang.

(1)      Model supervisi yang konvesional (tradisional)

Model ini tidak alin dari refleksi dari kondisi masyarakat pada suatu saat. Pada saat kekuasaan yang otoriter dan feodal, akan berpengaruh pada sikap pemimpin yang otokrat dan korektif. Pemimpin cenderung untuk mencari-cari kesalahan. Perilaku supevisi ialah mengsdakan inspeksi untuk mencari kesalahan dan menemukan kesalahan. Kadang-kadang bersifat memata-matai. Perilaku seperti ini oleh Oliva P.F. (1984: 7) disebut snoopervision (memata-matai). Sering disebut supervisi yang korektif. Memang sangat mudah untuk mengkoreksi kesalahan orang lain, tetapi lebih sulit lagi unuk melihat segi-segi positif hubungan dengan hal-hal yang baik. Pekerjaan seorang supervisor yang bermaksud hanya untuk mencari kesalahan dalam membimbing sanga bertentangan dengan prinsip dan tujuan supervisi pendidikan. akibatnya guru merasa tidak puas dan ada dua sikap yang tampak dalam kinerja guru:

(1)     Acuh tak acuh (masa bodoh)

(2)     Menantang (agresif)

Praktek mencari kesalahan dan menekan bawahan ini masih tampak sampai saat ini. Para pengawas datang ke sekolah dan menanyakan mana satuan pelajaran. Inio salah dan seharusnya begini. Praktek-praktek supervisi seperti ini adalah cara memberi supervisi yang konvensional. Ini bukan berarti bahwa tidak boleh menunjukkan kesalahan. Masalahnya ialah bagaimana car akita mengkomunikasikan bahwa dia harus memperbaiki kesalahan. Para guru akan dengan senang hati melihat dan menerima bahwa ada yang harus diperbaiki. Caranya harus secara taktis pedagogis atau dengan perkataan lain, memakai bahasa penerimaan bukan bahasa penolakan (Thomas Gordon, 1988).

 (2)      Mmodel supervisi yangbersifat ilmiah.

Supervisi yang bersifat ilmiah memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

Dilaksanakan secara berencana dan kontinu.

Sistematis dan menggunakan prosedur serta teknik tertentu.

Menggunakan instrument pengumpulan data.

Ada data yang obyektif yang diperoleh dari kesalahan yang riil.

Dengan menggunakan merit rating, skala penilaian atau check list para siswa atau mahasiswa menilai proses kegiatan belajar-mengajar guru/dosen di kelas. Hasil penelitian diberikan kepada gury-guru sebagai balikan terhadap penampilan mengajar guru pada cawu atau semester yang lalu. Data ini tidak berbicara kepada guru dan guru yang mengadakan perbaikan. Penggunaan alat perekam data ini berhubungan erat dengan penelitian. Walaupun demikian, hasil perekam data secara ilmiah belum merupakan jaminan untuk melaksanakan supervisi yang lebih manusiawi.

 (3)      Model Supervisi Klinis.

3.1 Beberapa Pembatasan tentang Supervisi Klinis.

Supervisi klinis adalah bentuk supervisi yang difokuskan pada peningkatan mengajar dengan melalui siklus yang sistematik, dalam perencanaan, pengamatan serta analisis yang intensif dan cermat tentang penampilan mengajar yang nyata, serta bertujuan mengadakan perubahan dengan cara yang rasional. (R. Willem dalam Archeson dan Gall, 1980 : 1 / terjemahan S.L.L Sulo, 1985). K.A. Archeson dan M.D. Gall (1980 : 25) terjemahan S.L.L Sulo, 1985 : 5, mengemukakan supervisi klinis adalah proses membantu guru-guru memperkecil kesenjangan antara tingkah laku mengajar yang nyata dengan dengan tingkah laku mengajar yang ideal. Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa supervisi klinis adalah suatu proses pembimbing dalam pendidikan yang bertujuan membantu pengembangan profesional guru dalam pengenalan mengajar melalui observasi dan analisis data secara objektif, teliti sebagai dasar untuk usaha mengubah perilaku mengajar guru. Ungkapan supervisi klinis (Clinical supervision) sebenarnya digunakan oleh Morries Cogan, Robber Education. Tekanan dalam pendekatan di Havard School of  bersifat khusus melalui tatap muka dengan guru pengajar. Inti bantuan terpusat pada perbaikan penampilan dan perilaku mengajar guru (Archeson dan Gall, 1980 :8).

 3.2 Mengapa Perlu Dikembangkan Supervisi Klinis di Lingkungan Guru-guru ?

       Ada berbagai faktor yang mendorong dikembangkannya supervisi klinis bagi guru-guru.

a.    Dalam kenyataannya yang dikerjakan supervisi ialah mengadakan evaluasi guru-guru semata. Di akhir satu semester guru-guru mengisi skala penilaian yang diisi peserta didik mengenai cara mengajar guru. Hasil penilaian diberikan kepada guru-guru dalam mengajar hanya mencapai tingkat penampilan seperti itu. Cara ini menyebabkan ketidakpuasan guru secara tersembunyi.

b.    Pusat pelaksanaan superisi adalah supervisor, bukan berpusat pada apa yang dibutuhkan guru, baik kebutuhan profesional sehingga guru-guru tidak merasa memperoleh sesuatu yang berguna bagi pertumbuhan profesinya.

c.    Dengan menggunakan merit rating (alat penilaian kemampuan guru), maka aspek-aspek yang diukur terlalu umum. Sukar sekali untuk mendeskripsikan tingkah laku guru yang paling mendasar seperti yang mereka rasakan, karena diagnosisnya tidak mendalam, tapi sangat bersifat umum dan abstrak.

d.   Umpan balik diperoleh dari hasil pendekatan, sifatnya memberi arahan, petunjuk , instruksi, tidak menyentuh masalah manusia yang terdalam yang dirasakan guru-guru, sehingga hanya bersifat dipermukaan.

e.    Tidak diciptakan hubungan identifikasi dan analisis diri, sehingga guru-guru melihat konsep dirinya. Seperti yang dikemukakan P. Winggens bahwa dalam diri seseorang ada 3 konsep diri, yaitu :

                                                   (1).     Saya dengan self concept  saya sendiri.

                                                   (2).     Saya dengan self idea saya sendiri.

                                                   (3).     Saya dengan self reality saya sendiri. supervisi selamanya dapat menemukan dirinya sendiri dan menjadi diri sendiri.

f.     Melalui diagnosis dan analisis dirinya sendiri guru menemukan dirinya. Ia sadar akan kemampuan dirinya dengan menerima dirinya dan timbul motivasi dari dalam dirinya sendiri untuk memperbaiki dirinya sendiri. praktek-praktek supervisi yang tidak manusiawi itu menyebabkan kegagalan dalam pemberian supervisi kepada guru-guru, itulah sebabnya perlu supervisi klinis.

 3.3 Ada Beberapa Ciri Supervisi Klinis

a.    Dalam supervisi klinis, bantuan yang diberikan bukan bersifat instruksi atau memerintah. Tetapi tercipta hubungan manusiawi, sehingga guru-guru memiliki rasa aman. Dengan timbulnya rasa aman diharapkan adanya kesediaan untuk menerima perbaikan.

b.    Apa saja yang akan disupervisi itu timbul dari harapan dan dorongan dari guru sendiri karena dia memang membutuhkan bantuan itu.

c.    Satuan tingkah laku mengajar yang dimiliki guru merupakan satuan yang terintegrasi. Harus dianalisis sehingga terlihat kemampuan apa, ketrampilan apa yang spesifik yang harus diperbaiki.

d.   Suasana dalam pemberian supervisi adalah suasana yang penuh kehangatan, kedekatan dan keterbukaan.

e.    Supervisi yang diberikan tidak saja pada keterampilan mengajar tapi juga mengenai aspek-aspek kepribadian guru, misalnya motivasi terhadap gairah mengajar.

f.     Instrument yang digunakan untuk observasi disusun atas dasar kesepakatan antara supervisor dan guru.

g.    Balikan yang diberikan harus secepat mungkin dan sifatnya obyektif.

h.    Dalam percakapan balikan sehausnya datang dari pihak guru lebih dulu, bukan dari supervisor.

3.4 Prinsip-Prinsip Supervisi Klinis

a.    Supervisi klinis yang dilaksanakan harus berdasarkan inisiatif dari para guru lebih dahulu. Perilaku supervisor harus sedemikian taktis sehingga guru-guru terdorong untuk berusaha memintan bantuan dari supervisor.

b.    Ciptakan hubungan manusiawi yang bersifat interaktif dan rasa kesejawatan.

c.    Ciptakan suasana bebas di mana setiap orang bebas mengemukakan apa yang dialaminya. Supervisor berusaha untuk apa yang diharapkan guru.

d.   Objek kaitan adalah kebutuhan profesional guru yang riil yang mereka sungguh alami.

e.    Perhatian dipusatkan pada unsur-unsur yang spesifik yang harus diangkat untuk diperbaiki.

3.5 Langkah-Langkah dalam Pelaksanaan Supervisi Klinis

Langkah-langkah dalam supervisi klinis melalui tiga tahap pelaksanaan sebagai berikut :

                                         (1).     Pertemuan awal

                                         (2).     Observasi

                                         (3).     Pertemuan akhir

Perlu dijelaskan apa yang seharusnya dikerjakan oleh supervisor dan apa yang seharusnya dikerjakan guru.

01    Tahap Awal Supervisi

Dalam percakapan awal, seorang guru mengeluh, bahwa pada saat dia mengajar ada 3 orang siswa yang selalu mengganggu ketertiban di kelas. Guru sudah berusaha memperbaiki tapi ketiga siswa itu tetap membandel. Melalui percakapan awal ini guru mengharapkan agar supervisor sendiri melihat situasi pada saat dia mengajar. Dan guru sudah melakukan, supervisor setuju untuk mengikuti guru waktu mengajar.

02    Observasi

Pada tahap observasi menggunakan alat observasi check list sebagai berikut :

Pada tahap observasi menggunakan alat observasi check list sebagai berikut :

Perilaku Siswa

Waktu Perhatian PadaTugas Tidak AdaPerhatian

Pasif

Tidak adaPerhatian

Aktif

8.10
8.15
8.20
8.25
8.30  BUKU-ZEPEDA  
About these ads

Satu pemikiran pada “MODEL, PENDEKATAN, DAN TEKNIK- TEKNIK SUPERVISI PENDIDIKAN

  1. Sekalipun supervisor juga manusia yang butuh belajar dan belajar untuk pengembangan diri. Tetap memerlukan rambu-rambu yang mungkin terlewatkan, terlupakan. Rubik yang dapat membangun supervisor menjadi solid dan consist.

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s