Arsip Harian:12 April 2012

Sistem Penyelenggaran Pendidikan Inklusif


Waktu: 2 jam (120 menit)

A.   PENGANTAR

Pendidikan inklusif dimaksudkan sebagai sistem layanan pendidikan yang mengikutsertakan anak berkebutuhan khusus belajar bersama dengan anak sebayanya di sekolah reguler yang terdekat dengan tempat tinggalnya.

Penyelenggaraan pendidikan inklusif menuntut pihak sekolah melakukan penyesuaian baik dari segi kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan, maupun sistem pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan individu peserta didik. Tak kalah pentingnya, bagaimana guru-guru yang diberi tugas khusus sebagai pendamping anak berkebutuhan khusus dapat dibekali kemampuan-kemampuan dan kecakapan dasar untuk melaksanakan pendidikan inklusif.

Pada sesi materi ini, peserta diberikan pengetahuan, pemahaman dan kecakapan dasar system penyelenggaraan pendidikan inklusif agar pelaksanaan pendidikan inklusif yang menjadi bagian tak terpisahkan dalam penyelenggaraan system pendidikan di sekolah dapat disispkan, direncanakan, dilaksanakan, dievaluasi dan dikembangkan secara lebih baik.

B.    TUJUAN

Peserta pelatihan diharapkan memiliki kecakapan:

Tujuan Umum:

Bapak/Ibu dapat mengidentifikasi persyaratan dalam penyelenggaraan pendidikan Inklusif

 

Tujuan Khusus:

Mendeskripsikan konsep dasar sistem penyelenggaraan pendidikan inklusif

Mendeskripsikan kecakapan dasar dan tugas guru pembimbing khusus anak berkebutuhan khusus.

Merumuskan ciri-cici sistem penyelenggaraan  pendidikan inklusif

Merumuskan komponen-komponen penting sekolah yang hasur disiapkan dalam menyelenggarakan pendidikan inklusif

Mengidentifikasi upaya yang dapat ditempuh tim sekolah dalam pelakasanaan pendidikan inklusif di sekolah reguler

C.  BAHAN DAN ALAT

Tayangan presentasi power point (electronic file)

Handout bahan presentasi

Lembar Kerja: (1). LK untuk diskusi kelompok, (2).  LK identifikasi upaya-upaya yang dapat dialakukan tim sekolah dalam mendukung pelaksanaan pendidikan inklusif


D.  LANGKAH KEGIATAN

 

.  Pengantar ( 5 menit )

Pada tahap pendahuluan ini, Fasilitator memulai kegiatan dengan menyampaikan informasi tentang aktivitas yang akan dilakukan selama 120 menit dan memberikan ilustrasi tentang kebijakan pemerintah dalam meningkatkan koalitas pendidikan persekolahan.  Salahsatunya melalui pengembangan pendidikan inklusif.

Peserta menjawab menyimak review  fasilitator mengenai pendidikan inklusif.

2. KUIS ( 15 menit )

Pada tahap  ini, Fasilitator memulai kegiatan dengan menyampaikan kuis untuk dijawab peserta: Menurut pengamatan Bapak/Ibu, bagaimana sebaiknya sistem penyelenggaraan pendidikan inklusif di sekolah?

3. Presentasi dan penguatan (20) 

Peserta yang dipilih menjawab pertanyaan kuis dan fasilitator menyampaikan penguatan berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan inklusif

4. Kerja Kelompok (15 menit)

Peserta bekerja dalam kelompok. Peserta mengerjakan tugas dengan mengisi LEMBAR KERJA yang telah disediakan: Identifikasilah, upaya-upaya  yang bisa Bapak/Ibu lakukan sebagai anggota Tim Sekolah dalam hal: Penyediaan Sarana dan Prasarana dan Pemberdayaan masyarakat untuk melaksanakan Pendidikan Inklusif di sekolah Bapak Ibu?

 

      Lembar Verja Kelompok: Identifikasi upaya yang dapat dilakukan

No

Komponen

Upaya-upaya yang dilakukan

1.

Penyediaan Sarana dan Prasarana bagi anak berkebutuhan khusus

2.

Strategi pelibatan masyarakat untuk mendukung penyelenggaraan Pendidikan Inklusif

5. Presentasi (15’)

Berdasarkan hasil undian (jenis dan bentuk undian dapat dikembangkan fasilitator), salah satu atau beberapa kelompok mempresentasikan hasil diskusi/kerja kelompoknya. Peserta lain memberi tanggapan dan  masukkan. Yang perlu diingat, setiap presenter harus dibatasi waktu agar tidak terlalu banyak menyita waktu untuk kegiatan selanjutnya.

6.        Penguatan  (15 menit)

Fasilitator menyampaikan penguatan

7.        Refleksi (5)

Pada tahap akhir kegiatan sesi, salah satu peserta diminta menyampaikan kesan dan pendapat, atau menyampaikan hikmah yang bisa diperoleh setelah menerima materi darisesi ini.

E.    BAHAN TAMBAHAN UNTUK FASILITATOR

 

Untuk memperdalam materi pendidikan inklusif, sebaiknya fasilitator memiliki dan menguasai buku-buku yang berkaitan dengan pendidikan inklusif.

 

Menciptakan sekolah sehat


Waktu: 2 jam (120 menit)

A.   PENGANTAR

Mengetahui hubungan mendasar antar kesehatan dan pendidikan, dan keperluan mendesak untuk menekan pertumbuhan HIV/AIDS – Ahli kesehatan sekolah di UNESCO, UNICEF, WHO, Bank Dunia, Education International, Pusat Pengembangan Pendidikan dan Kerjasama bagi Perkembangan Anak bersama-sama mengembangkan kerangka program kesehatan sekolah yang menyeluruh bernama FRESH (Focusing Resources on Effective School Health atau Memfokuskan Sumberdaya Kesehatan Sekolah yang Efektif). FRESH merupakan salah satu dari sembilan prakarsa Pendidikan untuk semua (PUS) yang dimotori oleh 9 badan yang diluncurkan pada Forum Pendidikan Dunia di Dakar.

Inisiatif FRESH dihubungkan dengan 6 tujuan PUS, dengan mengidentifikasi dan menyinggung masalah beragam terkait kesehatan yang mengganggu pendaftaran, kehadiran dan pembelajaran. Untuk mencapai 6 tujuan, 4 komponen berikut ditetapkan sebagai kerangka kerja, yang harus dibuat tersedia di semua sekolah:

  • Kebijakan sekolah yang terkait kesehatan;
  • Persediaan air yang aman dan fasilitas sanitasi;
  • Pendidikan kesehatan berbasis keahlian;
  • Layanan kesehatan dan gizi berbasis sekolah.

Menciptakan sekolah sehat disadari merupakan hal yang perlu diusahakan oleh setiap sekolah, tak terkecuali sekolah-sekolah yang dibangun BEP.

Materi pada sesi ini akan mengantarkan peserta kepada berbagai aspek yang perlu dipersiapkan dalam rangka mendukung program pemerintah dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan secara keseluruhan melalui program kesehatan sekolah. Utamanya melalui pembentukan Unit Kesehatan Sekolah (UKS) dan pengadaan Kantin Sekolah yang sehat.

B.    TUJUAN

Peserta pelatihan diharapkan memiliki kecakapan:

q  Merumuskan konsep sekolah sehat

q  Mengidentifikasi alasan mengapa perlu menciptakan sekolah yang sehat

q  Menemukan ciri-ciri/karakteristik  sekolah yang sehat

q  Menentukan strategi yang tepat untuk mewujudkan sekolah yang sehat

q  Merumuskan program sekolah untuk menciptakan sekolah yang sehat

C.  BAHAN DAN ALAT

q  Tayangan presentasi power point (electronic file)

q  Bahan untuk Peserta: Berbagai Artikel tentang usaha dan program menciptakan sekolah sehat

q  Handout bahan presentasi

q  Lembar Kerja: (1). Bahan diskusi kelompok, (2). LK untuk diskusi kelompok, (3). LK pengembangan program UKS dan Kantin Sekolah

D.   LANGKAH KEGIATAN

Pendahuluan ( 5 menit )

Fasilitator memulai kegiatan dengan menyampaikan informasi tentang aktivitas yang akan dilakukan selama 120 menit dan memberikan sedikit penjelasan tentang konsep penting apa yang semestinya dapat diperoleh  peserta selama dan sampai sesi ini berakhir.

 2. Studi Kasus (10 menit)

Peserta mengamati kasus-kasus yang ditayangkan fasilitator. Peserta secara bergantian menanggapinya dengan menuliskan di atas potongan-potongan kertas.

3.        Presentasi ( 15 menit )

Beberapa peserta yang terpilih mempresentasikan jawaban kasus-kasus

4.        Kerja Cepat/Kerpat ( 10 menit )

Seluruh peserta berbaur dan membagi diri menjadi 5 kelompok berdasarkan hasil hitungan dari nomor urut 1 s/d 5.  Setiap kelompok mendiskusikan 4 pertanyaan pokok yang diajukan fasilitator. 1. Apa ciri-ciri sekolah sehat?, 2. Kegiatan/contoh nyata apa saja yang semestinya dilakukan Tim Sekolah agar warga sekolah meningkat kesadaran, aktivitas dan partisipasinya dalam upaya menciptakan sekolah sehat?, 3. Bentuk, jenis kegiatan dan kebijakan apa saja yang bisa diupayakan tim sekolah untuk mendukung penciptaan sekolah sehat? 4. Contoh kebijakan sekolah yang bagaimana yang bisa mendukung penciptaan lingkungan sekolah sehat?

5.        Presentasi ( 10 menit )

6.        Saling berbagi strategi ( 20 menit )

Peserta berkelompok untuk mendiskusikan 3 (tiga) strategi yang dapat dikembangkan untuk menciptakan sekolah aman, nyaman dan disiplin. Kelompok dimulai dengan satu pasangan (2 pasangan), dua pasangan (4 orang),  8 orang dan terakhir 16 orang (satu kelompok).

7.        Presentasi ( 10 menit )

Salah satu atau beberapa kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya. Peserta lain memberi tanggapan dan  masukan.

8.         Penguatan ( 10 menit )

Fasilitator memberi catatan khusus dan penguatan atas dasar jawaban yang benar yang dimunculkan peserta, dan kemudian memaparkan secara mendalam tentang 3 strategi  yang dapat dikembangkan untuk menciptakan sekolah aman, nyaman dan disiplin.

9.        Evaluasi diri (30 menit) dan Pameran Rencana program (20 menit)

Dengan menggunakan lembar evaluasi yang telah disediakan fasilitator, setiap tim sekolah menilai diri tentang pencapaian indikator sekolah aman, nyaman dan displin.

Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, setiap tim sekolah menyusun rencana program untuk menciptakan sekolah aman, nyaman dan disiplin. Gunakan lembar kerja yang telah disediakan.

10.     Presentasi (15)

Salah satu perwakilan tim sekolah mempresentasikan hasil kerja timnya. Kelompok/tim sekolah lain memberi masukan seperlunya.

11.      Refleksi (5)

Pada tahap akhir kegiatan sesi, salah satu peserta diminta menyampaikan kesan dan pendapat, atau menyampaikan hikmah yang bisa diperoleh setelah menerima materi darisesi ini.

E.    BAHAN TAMBAHAN UNTUK FASILITATOR

Keamanan, kenyamanan dan kedisiplinan suatu sekolah ditentukan oleh nilai-nilai dan sikap warga sekolah, termasuk kepala sekolah, guru, siswa, orang tua, komite sekolah.  Pada sekolah yang aman, warga sekolah mempunyai komitmen yang mendalam dalam menciptakan dan menjaga sekolah.  Insiden intimidasi, kekerasan diselesaikan dengan cepat, efektif dan pemulihan hubungan antar warga sekolah cepat dipulihkan.

Sekolah yang aman, nyaman dan disiplin akan tercapai bila semua warga sekolah:

1.     mengembangkan budaya sekolah yang positif dan fokusnya adalah pada pencegahan

2.     membangun komunitas sekolah dengan cara saling menghargai, adil, menerapkan azas persamaan dan inklusi.

3.     mengatur dan mengkomunikasikan secara konsisten prilaku yang diharapkan.

4.     mengajar, memberi contoh dan mendorong prilaku sosial yang bertanggung jawab yang memberi kontribusi terhadap komunitas sekolah

5.     memecahkan masalah secara damai menghargai perbedaan dan mengedepankan hak asasi manusia.

6.     bertanggung jawab, dan bermitra dengan masyarakat, untuk memecahkan masalah keamanan yang penting.

7.     Berkerjasama untuk memahami bersama isu-isu tentang kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah,  hukuman fisik, rasisme, ketidakadilan gender, dan berbagai ketakutan lainnya.

8.     Merespon secara konsisten dan adil terhadap berbagai insiden dan menggunakan intervensi untuk memperbaiki kerusakan fisik maupun psikis dan memperkuat hubungan dan mengembalikan rasa percaya diri.

9.     berpartisipasi dalam pengembangan kebijakan, prosedur, praktek-praktek yang mempromosikan keamanan sekolah.

10.   memonitor dan mengevaluasi lingkungan sekolah untuk bukti dan peningkatan keamanan sekolah.

11.   memberikan pengakuan dan penghargaan terhadap prestasi sekolah yang pencapaian sekolah yang aman, damai dan teratur sambil menyebutkan hal-hal yang masih perlu untuk ditingkatkan.

2.   Mengapa perlu sekolah yang aman, nyaman dan disiplin

Sekolah yang aman, nyaman dan disiplin ini perlu diciptakan, agar anak dapat belajar tidak hanya keterampilan akademik akan tetapi juga melatih siswa untuk mencapai hal-hal non-akademik yang juga sangat penting bagi kehidupan, yaitu:

1.     Mencegah kekerasan di sekolah

Melatih siswa mengenai bagaimana cara memecahkan masalah dengan cara tidak melakukan kekerasan merupakan langkah awal untuk membangun masyarakat yang mencintai perdamaian.

2.     Mengembangkan keterampilan intelegensi emosional siswa.  Keterampilan ini sangat penting sekali dimiliki oleh siswa karena sangat mempengaruhi kesuksesan hidup siswa di masa datang.  Apabila siswa mempunyai kemampuan akademik yang tinggi tetapi mempunyai intelegensi emosi yang rendah maka hal tersebut tidak akan berguna.  Intelegensi emosi atau keterampilan intrapersonal dan interpersonal ini meliputi keterampilan:

a.     mengembangkan empati

b.     bekerja sama

c.     membangun konsensus

d.     sensitif terhadap perasaan teman

e.     mengontrol impulsif dan rasa marah

f.     menenangkan diri

g.     mengembangkan sikap positif

Intelegensi emosi yang rendah akan menyebabkan:

h.     putus sekolah

i.      agresif

j.      penggunaan obat terlarang

k.     ketidakteraturan hidup

l.      kehamilan muda

m.    kesehatan rendah

n.     kekerasan dan kriminalitas

o.     mengalami masalah dalam pekerjaan

3.     Menguatkan keterampilan yang dibutuhkan dalam pekerjaan:

a.     keterampilan mendengarkan dan berkomunikasi

b.     kemampuan menyesuaikan diri

c.     berfikir kreatif

d.     memecahkan masalah

e.     menetapkan tujuan

f.     mengelola waktu

g.     keterampilan mengembangkan kualitas pribadi: mengatur waktu, jujur, bertanggung jawab, bersosialisasi.

3  Ciri-ciri sekolah yang aman, nyaman dan disiplin

a.     Sekolah yang aman, nyaman dan disiplin mempunyai karakteristik sebagai berikut. Lingkungan fisik sekolah aman dan nyaman (gedung sekolah, kelas, laboratorium, peralatan, halaman)

b.     Warga sekolah saling mendukung dan menghargai.

c.     Semua warga menerapkan disiplin yang efektif

d.     Sekolah memberikan pembelajaran terbaik.

e.     Warga sekolah mengembangkan sikap persamaan, keadilan, dan saling pengertian

f.     Perilaku dan sikap yang diharapkan sekolah diajarkan.

g.     Strategi pengelolaan prilaku yang menyimpang sifatnya supportive thd siswa

h.     Adanya program penyembuhan/terapi

i.      Adanya pemodelan/ contoh prilaku dan sikap yang diharapkan dari semua staf sekolah

j.      Adanya hubungan yang baik antara sekolah dan orang tua, komite sekolah dan masyarakat.

4. Cara mewujudkan sekolah yang aman, nyaman dan disiplin

4.1.  meningkatkan keamanan lingkungan fisik sekolah

Untuk mewujudkan sekolah yang aman perlu dilakukan beberapa langkah.  Pertama sekolah harus membentuk komite yang terdiri dari berbagai stakeholders, yaitu masyarakat sekitar sekolah, orang tua, guru, kepala sekolah komite sekolah dan siswa.  Dengan melibatkan semua fihak diharapkan komite dapat memperjatam pemahaman dan kesepakatan tentang apa yang perlu dilakukan.  Melibatkan keahlian yang terdapat di masyarakat, seperti anggota kepolisian atau ABRI sangatlah penting.  Keterlibatan orang tua juga sangat penting agar hal-hal yang menjadi keprihatinan siswa dapat didengar dan diselesaikan.  Selain itu stakeholders yang lain perlu dilibatkan agar dapat didengar bagaimana pengalaman mereka sehubungan dengan mewujudkan sekolah yang aman.

Tugas pertama dari komite ini adalah melakukan needs assessment mengenai keadaan sekolah saat ini ditinjau dari segi keamanan.  Berdasarkan penilaian awal ini, komite dapat memperoleh pengetahuan mengenai kekuatan dan kelemahan sekolah dalam hal keamanan.  Berdasarkan hal ini rencana untuk mewujudkan sekolah yang aman.

Untuk meningkatkan keamanan sekolah, upaya harus difokuskan pada bangunan fisik sekolah, tata letak dan kebijakan dan prosedur yang ada untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari dan menyelesaikan masalah yang mungkin timbul.  Bangunan sekolah, kelas, ruang lab, kantor, perpustakaan, lapangan olah raga dan halaman sekolah harus direview.  Selain itu, berbagai kebijakan dan prosedur juga akses masuk sekolah harus dinilai kembali.  Penggunaan teknologi untuk mencegah orang masuk penyusup masuk dari luar seperti alarm, pagar, teralis harus dipertimbangkan.  Pencegahan ini harus distandarkan oleh sekolah dan standar-standar lain untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan harus dibuat seperti membawa benda-benda tajam atau benda-benda lain yang berbahaya.  Jalur komunikasi dan prosedur yang harus diikuti bila terjadi kejadian pencurian atau pelanggaran lainnya harus dibuat.

Berikut adalah contoh pertanyaan yang dapat digunakan dalam needs assessment untuk menilai sejauhmana keamanan sekolah anda.

1.     Apakah lingkungan fisik sekolah aman bagi siswa?

2.     Apakah ada aturan, kebijakan, prosedur untuk menjaga keamanan sekolah dan apakah semuanya diterapkan? Misalnya adanya buku tamu, akses satu pintu, warga sekolah memakai kartu identifikasi, pengaturan lalu-lintas di depan sekolah, prosedur pengantaran dan penjemputan, dll.

3.     Apakah ada penyusup/orang yang tidak berkepentingan datang ke sekolah?

4.     Apakah ada pencurian atau perusakan di sekolah?

5.     Apakah ada senjata tajam atau benda-benda berbahaya lain yang dibawa ke sekolah?

Jawaban terhadap pertanyaan di atas dan frekuensi masalah yang muncul dapat dijadikan dasar untuk menentukan seberapa aman lingkungan fisik sekolah kita, tindakan yang diperlukan untuk merespon aspek-aspek yang belum memenuhi syarat.

 

MENCIPTAKAN SEKOLAH YANG AMAN DAN NYAMAN


1. Pendahuluan

Menciptakan sekolah yang aman, nyaman, dan disiplin sangatlah penting agar siswa dapat mencapai prestasi yang terbaik dan guru dapat menampilkan kinerja yang terbaik.

Sekolah yang aman, nyaman dan disiplin adalah sekolah yang warga sekolahnya bebas dari rasa takut, kondusif untuk belajar dan  hubungan antar warga sekolahnya positif.

Sekolah yang aman, nyaman, dan disiplin menyediakan lingkungan fisik (gedung, kelas, halaman) sekolah yang bersih dan aman.

Selain aspek keamanan fisik, kenyamanan atau disebut iklim sekolah, yaitu menyangkut atmosfir, perasaan, lingkungan keseluruhan secara sosial dan emosional sekolah juga harus diciptakan secara positif.  Faktor yang mempengaruhi kenyamanan atau iklim sekolah ini adalah hubungan atau keterikatan antar warga sekolah, interaksi antar warga sekolah, rasa saling mempercayai dan saling menghargai antar warga sekolah.  Bila keadaan faktor-faktor tersebut tinggi maka semakin positif iklim sekolah tersebut.

Keamanan, kenyamanan dan kedisiplinan suatu sekolah ditentukan oleh nilai-nilai dan sikap warga sekolah, termasuk kepala sekolah, guru, siswa, orang tua, komite sekolah.  Pada sekolah yang aman, warga sekolah mempunyai komitmen yang mendalam dalam menciptakan dan menjaga sekolah.  Insiden intimidasi, kekerasan diselesaikan dengan cepat, efektif dan pemulihan hubungan antar warga sekolah cepat dipulihkan.

Sekolah yang aman, nyaman dan disiplin akan tercapai bila semua warga sekolah:

  1. mengembangkan budaya sekolah yang positif dan fokusnya adalah pada pencegahan
  2. membangun komunitas sekolah dengan cara saling menghargai, adil, menerapkan azas persamaan dan inklusi.
  3. mengatur dan mengkomunikasikan secara konsisten prilaku yang diharapkan.
  4. mengajar, memberi contoh dan mendorong prilaku sosial yang bertanggung jawab yang memberi kontribusi terhadap komunitas sekolah
  5. memecahkan masalah secara damai menghargai perbedaan dan mengedepankan hak asasi manusia.
  6. bertanggung jawab, dan bermitra dengan masyarakat, untuk memecahkan masalah keamanan yang penting.
  7. Berkerjasama untuk memahami bersama isu-isu tentang kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah,  hukuman fisik, rasisme, ketidakadilan gender, dan berbagai ketakutan lainnya.
  8. Merespon secara konsisten dan adil terhadap berbagai insiden dan menggunakan intervensi untuk memperbaiki kerusakan fisik maupun psikis dan memperkuat hubungan dan mengembalikan rasa percaya diri.
  9. berpartisipasi dalam pengembangan kebijakan, prosedur, praktek-praktek yang mempromosikan keamanan sekolah.
  10. memonitor dan mengevaluasi lingkungan sekolah untuk bukti dan peningkatan keamanan sekolah.
  11. memberikan pengakuan dan penghargaan terhadap prestasi sekolah yang pencapaian sekolah yang aman, damai dan teratur sambil menyebutkan hal-hal yang masih perlu untuk ditingkatkan.

2.     Mengapa perlu sekolah yang aman, nyaman dan disiplin

Sekolah yang aman, nyaman dan disiplin ini perlu diciptakan, agar anak dapat belajar tidak hanya keterampilan akademik akan tetapi juga melatih siswa untuk mencapai hal-hal non-akademik yang juga sangat penting bagi kehidupan, yaitu:

1.      Mencegah kekerasan di sekolah

Melatih siswa mengenai bagaimana cara memecahkan masalah dengan cara tidak melakukan kekerasan merupakan langkah awal untuk membangun masyarakat yang mencintai perdamaian.

  1. Mengembangkan keterampilan intelegensi emosional siswa.  Keterampilan ini sangat penting sekali dimiliki oleh siswa karena sangat mempengaruhi kesuksesan hidup siswa di masa datang.  Apabila siswa mempunyai kemampuan akademik yang tinggi tetapi mempunyai intelegensi emosi yang rendah maka hal tersebut tidak akan berguna.  Intelegensi emosi atau keterampilan intrapersonal dan interpersonal ini meliputi keterampilan:
    1. mengembangkan empati
    2. bekerja sama
    3. membangun konsensus
    4. sensitif terhadap perasaan teman
    5. mengontrol impulsif dan rasa marah
    6. menenangkan diri
    7. mengembangkan sikap positif

Intelegensi emosi yang rendah akan menyebabkan:

  1. putus sekolah
  2. agresif
  3. penggunaan obat terlarang
  4. ketidakteraturan hidup
  5. kehamilan muda
  6. kesehatan rendah
  7. kekerasan dan kriminalitas
  8. mengalami masalah dalam pekerjaan
  • Menguatkan keterampilan yang dibutuhkan dalam pekerjaan:
    1. keterampilan mendengarkan dan berkomunikasi
    2. kemampuan menyesuaikan diri
    3. berfikir kreatif
    4. memecahkan masalah
    5. menetapkan tujuan
    6. mengelola waktu
    7. keterampilan mengembangkan kualitas pribadi: mengatur waktu, jujur, bertanggung jawab, bersosialisasi.
  • 3  Ciri-ciri sekolah yang aman, nyaman dan disiplin

    a.       Sekolah yang aman, nyaman dan disiplin mempunyai karakteristik sebagai berikut. Lingkungan fisik sekolah aman dan nyaman (gedung sekolah, kelas, laboratorium, peralatan, halaman)

    b.      Warga sekolah saling mendukung dan menghargai.

    c.       Semua warga menerapkan disiplin yang efektif

    d.      Sekolah memberikan pembelajaran terbaik.

    e.       Warga sekolah mengembangkan sikap persamaan, keadilan, dan saling pengertian

    f.       Perilaku dan sikap yang diharapkan sekolah diajarkan.

    g.      Strategi pengelolaan prilaku yang menyimpang sifatnya supportive thd siswa

    h.      Adanya program penyembuhan/terapi

    i.        Adanya pemodelan/ contoh prilaku dan sikap yang diharapkan dari semua staf sekolah

    j.        Adanya hubungan yang baik antara sekolah dan orang tua, komite sekolah dan masyarakat.

    4. Cara mewujudkan sekolah yang aman, nyaman dan disiplin

    4.1.  meningkatkan keamanan lingkungan fisik sekolah

    Untuk mewujudkan sekolah yang aman perlu dilakukan beberapa langkah.  Pertama sekolah harus membentuk komite yang terdiri dari berbagai stakeholders, yaitu masyarakat sekitar sekolah, orang tua, guru, kepala sekolah komite sekolah dan siswa.  Dengan melibatkan semua fihak diharapkan komite dapat memperjatam pemahaman dan kesepakatan tentang apa yang perlu dilakukan.  Melibatkan keahlian yang terdapat di masyarakat, seperti anggota kepolisian atau ABRI sangatlah penting.  Keterlibatan orang tua juga sangat penting agar hal-hal yang menjadi keprihatinan siswa dapat didengar dan diselesaikan.  Selain itu stakeholders yang lain perlu dilibatkan agar dapat didengar bagaimana pengalaman mereka sehubungan dengan mewujudkan sekolah yang aman.

    Tugas pertama dari komite ini adalah melakukan needs assessment mengenai keadaan sekolah saat ini ditinjau dari segi keamanan.  Berdasarkan penilaian awal ini, komite dapat memperoleh pengetahuan mengenai kekuatan dan kelemahan sekolah dalam hal keamanan.  Berdasarkan hal ini rencana untuk mewujudkan sekolah yang aman.

    Untuk meningkatkan keamanan sekolah, upaya harus difokuskan pada bangunan fisik sekolah, tata letak dan kebijakan dan prosedur yang ada untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari dan menyelesaikan masalah yang mungkin timbul.  Bangunan sekolah, kelas, ruang lab, kantor, perpustakaan, lapangan olah raga dan halaman sekolah harus direview.  Selain itu, berbagai kebijakan dan prosedur juga akses masuk sekolah harus dinilai kembali.  Penggunaan teknologi untuk mencegah orang masuk penyusup masuk dari luar seperti alarm, pagar, teralis harus dipertimbangkan.  Pencegahan ini harus distandarkan oleh sekolah dan standar-standar lain untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan harus dibuat seperti membawa benda-benda tajam atau benda-benda lain yang berbahaya.  Jalur komunikasi dan prosedur yang harus diikuti bila terjadi kejadian pencurian atau pelanggaran lainnya harus dibuat.

    Berikut adalah contoh pertanyaan yang dapat digunakan dalam needs assessment untuk menilai sejauhmana keamanan sekolah anda.

    1. Apakah lingkungan fisik sekolah aman bagi siswa?
    2. Apakah ada aturan, kebijakan, prosedur untuk menjaga keamanan sekolah dan apakah semuanya diterapkan? Misalnya adanya buku tamu, akses satu pintu, warga sekolah memakai kartu identifikasi, pengaturan lalu-lintas di depan sekolah, prosedur pengantaran dan penjemputan, dll.
    3. Apakah ada penyusup/orang yang tidak berkepentingan datang ke sekolah?
    4. Apakah ada pencurian atau perusakan di sekolah?
    5. Apakah ada senjata tajam atau benda-benda berbahaya lain yang dibawa ke sekolah?

    Jawaban terhadap pertanyaan di atas dan frekuensi masalah yang muncul dapat dijadikan dasar untuk menentukan seberapa aman lingkungan fisik sekolah kita, tindakan yang diperlukan untuk merespon aspek-aspek yang belum memenuhi syarat.

    4. 2 Meningkatkan disiplin siswa

    Isu yang dihadapi sekolah dalam menciptakan iklim sekolah yang sosial dan emosional baik adalah masalah kedisiplinan siswa. Apakah itu disiplin?

    Disiplin adalah pengembangan mekanisme internal diri siswa sehingga siswa dapat mengatur dirinya sendiri (Blandford, 1998).

    Kebutuhan siswa menurut Blandford (1998) adalah sebagai berikut.

    No Kebutuhan dasar Apa yang diharapkan siswa/ Apa yang harus diberikan sekolah
    1 Rasa aman Lingkungan yang aman dan nyaman
    2 Rasa memiliki Perhatian dari guru dan teman

    5 P: Penerimaan, Perhatian, Penghargaan,

    Pengakuan dan Kasih sayang

    3 Harapan Memastikan kemajuan belajar, membantu meningkatkan prestasi
    4 Kehormatan Perlakukan siswa sebagai anggota kelas/sekolah yang kompeten dan berharga.

    Arahkan, tugaskan siswa untuk melakukan tugas yang penting dan jagalah kesepakatan.

    5 Kesenangan Berikan kegiatan yang menyenangkan.

    Berikan kesempatan untuk belajar kelompok.

    Rasa humor

    6 Kompetensi Hubungkan pengetahuan dengan situasi sehari-hari

    Berilah kesempatan untuk menunjukkan pengetahuan dan keterampilannya.

    Apabila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi maka terjadilah berbagai penyimpangan prilaku atau masalah disiplin.  Masalah disiplin di kelas atau sekolah antara lain

    -          Makan di kelas

    -          Membuat suara gaduh

    -          Berbicara saat bukan gilirannya

    -          Lamban

    -          Kurang tepat waktu

    -          Mengganggu siswa

    -          Agresif

    -          Tidak rapi

    -          Melakukan ejekan

    -          Lupa

    -          Tidak memperhatikan

    -          Membaca materi lain

    -          Melakukan hal lain.

    Sayangnya disiplin di sekolah sering didefinisikan dengan prosedur yang terfokus pada konsekuensi pemberian hukuman.  Perspektif disiplin secara tradisional ini kurang sempurna sebab tidak memperhatikan perkembangan dan tidak mendukung prilaku pro-sosial yang ditunjukkan siswa.  Riset menunjukkan bahwa memberikan hukuman saja tidak cukup untuk menekan prilaku menyimpang dan mengembangkan prilaku pro-sosial siswa.  Dengan demikian definisi disiplin menurut paradigma baru adalah langkah-langkah atau upaya yang perlu guru, kepala sekolah orang tua dan siswa ikuti untuk mengembangkan keberhasilan prilaku siswa secara akademik maupun sosial.  Jadi disiplin dianggap sebagai alat untuk untuk menuju keberhasilan untuk semua guru, dan semua siswa di berbagai situasi.

    Sekolah tidak lagi menggunakan pengelolaan penanganan prilaku secara individu dan terpisah-pisah tetapi menggunakan pendekatan sistem disiplin yang menyeluruh yang meliputi penanganan prilaku yang terjadi baik di kelas, halaman, kantin, kamar kecil dan lain-lain.

    Sekolah yang sudah berhasil menggunakan pendekatan sistem disiplin yang menyeluruh melakukan langkah-langkah berikut.

    1. prilaku yang diharapkan didefinisikan dengan jelas.  Prilaku yang diharapkan dirumuskan dengan jelas, positif dan tepat.  Contoh di kelas:  Hormati siswa lain, Bertanggung jawablah, jagalah alat tulis, gunakan semestinya dan lain-lain.
    2. Prilaku yang diharapkan diajarkan.  Prilaku yang diharapkan diajarkan dalam konteks yang sesungguhnya.  Misalnya menghormati siswa lain berarti mengacungkan tangan bila ingin bicara di kelas, mendengarkan dan melihat teman yang sedang berbicara.
    3. Prilaku yang sudah sesuai dengan harapan dihargai secara teratur.  Misalnya melalui sistem tiket atau sistem medali dan dipresentasikan pada waktu even sosial atau upcara bendera.
    4. Prilaku yang menyimpang dikoreksi secara proaktif.  Prosedur yang jelas untuk memberitahu bahwa prilaku tersebut tidak diharapkan dan langkah-langkah pencegehan ke depan.
    5. Pendekatan sistem disiplin yang menyeluruh ini dibuat bersama oleh tim diuji coba, disosialisasikan dan dimonitor keberhasilannya, dan dimodifikasi secara berkala.
    6. Pendekatan sistem disiplin yang menyeluruh harus didukung secara aktif oleh semua warga sekolah.

    Berikut ini adalah ringkasan bagaimana mengelola penyimpangan prilaku untuk menegakkan kedisiplinan.

    Mencegah Prilaku Menyimpang

    A.   Meningkatkan Kualitas Sekolah.

    1. Sesuaikan pembelajaran dengan siswa (contoh mengakomodasi berbagai motivasi siswa yang berbeda dan perkembangan siswa yang berbeda)
    2. Berikan status tertentu bagi siswa yang kurang populer (peran khusus sebagai asisten atau totur sebaya).
    3. Identifikasi dan remedi kekurangan secara awal.

    B.  Tindak lanjuti semua penyimpangan prilaku dan penyebabnya.

    1. Identifikasi motivasi siswa yang melakukan prilaku menyimpang.
    2. Untuk prilaku menyimpang yang tidak disengaja, berilah penguatan cara mengelola/ menguasai diri (contoh keterampilan sosial, cara memecahkan masalah).
    3. Bila prilaku menyimpang ini,

    Cara mengelola berbagai penyimpangan prilaku/kedisiplinan

    1. Tindakan Pencegahan

    A. Intervensi

    Bila terjadi prilaku menyimpang maka prilaku menyimpang itu harus dikoreksi dengan cara sekecil mungkin intervensi.  Tujuan utama adalah menangani prilaku menyimpang seefektif mungkin untuk menghindari gangguan sehingga pembelajaran dapat berlangsung lancar. (Slavin, 2000)

    Strategi menangani disiplin

    Langkah 1: Membantu situasi

    -          hilangkan objek yang mengganggu

    -          berikan bantuan tentang kegiatan rutinitas sekolah.

    -          Beri penguatan terhadap prilaku yang sesuai

    -          Dukunglah minat siswa.

    -          Berikan petunjuk

    -          Bantu siswa mengatasi gangguan

    -          Arahkan prilaku siswa

    -          Ubahlah pembelajaran

    -          Gunakan hukuman non-fisik

    -          Ubahlah suasana kelas.

    Langkah 2:  Respon lunak

    No Non Verbal Verbal
    1 Abaikan prilaku Panggil siswa ketika pembelajaran berlangsung.
    2 Gunakan tanda non-verbal Gunakan humor
    3 Berdiri dekat siswa Gunakan kalimat positif
    4 Peganglah siswa tersebut Ingatkan siswa tentang kesepakatan
    5   Beri siswa pilihan kegiatan
        Beritahukan prilaku salah yang telah diperbuat.

    Langkah 3:  Respons menengah

    -          Hilangkan hak siswa

    -          Ubahlah tempat duduk

    -          Mintalah siswa untuk merefleksi masalah yang dihadapi.

    -          Berilah siswa istirahat

    -          Mintalah siswa untuk pulang lebih lambat

    -          Kontak oranng tuanya

    -          Mintalah siswa untuk menemui kepala sekolah.

    Disiplin positif

    1. Perhatikan siswa dengan menyeluruh, kontak mata dan sapaan.
    2. Tanya siswa apa yang paling mereka sukai di sekolah dan bagaimana kelas yang diinginkan.
    3. Galilah prilaku yang menyimpang dan hal-hal yang menyebabkannya.
    4. Carilah kesepakatan di kelas.
    5. Galilah kesepakatan bagaimana guru harus mengintervensi bila siswa melanggar kesepakatan.

     (Charles, 2002: 106-107)

    4. 3.  Menghilangkan hukuman fisik dan merendahkan oleh guru terhadap siswa

    Banyak siswa di berbagai negara, termasuk di Indonesia, menderita karena dihukum secara fisik dan dihukum secara direndahkan oleh guru di sekolah.

    Lebih dari 20 negara di dunia ini telah menerbitkan undang-undang atau peraturan yang melarang hukuman fisik kepada siswa di sekolah.  Gerakan mendunia untuk mengubah budaya menghukum secara fisik ini telah mencapai momentum yang baik.  Hal ini disebabkan oleh pemahaman bahwa anak mempunyai hak asasi dan juga berdasarkan bukti-bukti medis dan psikologis tentang efek negatif  akibat dari hukuman fisik dan bukti ketidakefektifan hukuman fisik sebagai metode pendisiplinan.

    Hukuman fisik ini melanggar hak asasi anak dalam hal integritas fisik dan kehormatannya sebagai manuasia seperti dicanangkan dalam Konvensi PBB tentang hak-hak anak.  Dengan demikian, semua negara diharapkan dapat memberikan jaminan terlaksananya hak anak yaitu hidup bebas dari kekerasan termasuk hukuman fisik dan psikhologis di sekolah maupun di rumah.

    Definisi Hukuman Fisik

    Hukuman fisik adalah hukuman yang melibatkan pemukulan dengan tangan atau objek lain seperti tongkat, penggaris, ikat pinggang, cambuk, sepatu; menendang, melempar, mencubit, menjambak, menyuruh siswa untuk berdiri pada posisi yang tidak menyenangkan, atau menyuruh siswa untuk melakukan kegiatan fisik yang berlebihan, menakuti siswa.

    Selain itu hukuman fisik terdapat pula hukuman yang merendahkan seperti menghina mengolok, berkata kasar, mengisolasi, dan membiarkan siswa.  Penting untuk diketahui bahwa tidak ada batasan yang jelas antara hukuman fisik dengan hukuman yang merendahkan.  Siswa sering mempersepsikan bahwa hukuman fisik juga merendahkan mereka.

    Mengapa hukuman fisik itu dilarang?

    Seperti telah diketahui bahwa manusia memiliki hak asasi.  Berbagai standar perilaku telah ditetapkan untuk menghormati hak asasi manusia ini.  Pemukulan dan penghinaan secara disengaja melanggar hak asasi manusia.  Anak-anak juga manusia mereka memiliki hak asasi yang sama seperti orang dewasa.  Anak-anak adalah manusia hanya mereka masih kecil dan lebih rentan daripada orang dewasa.

     Menurut UNESCO hukuman phisik dalam bentuk apapun di sekolah ini dilarang.  Memukul anak ini melanggar hak dasar anak agar anak tersebut dihargai integritas fisiknya dan kehormatannya, seperti dicanangkan dalam Deklarasi hak asasi manusia.

    Penerapan hukuman fisik menyebabkan kesehatan mental terganggu, termasuk diantaranya depresi, tidak bahagia, cemas, perasaan hampa dalam diri siswa.  Hukuman fisik juga

    Selain bertentangan dengan hak asasi manusia, hukuman fisik dan hukuman merendahkan juga kadang-kadang masih dilegalisasi dan masih diterima oleh mayarakat tertentu.  Status anak yang masih rendah di mata masyarakat dan siswa tidak mempunyai kekuatan menyebabkan penerapan larangan hukuman fisik dan hukuman yang merendahkan di sekolah belum sepenuhnya dapat direalisasikan.

    Selain itu berdasarkan bukti-bukti medis dan psikologis, hukuman fisik dan hukuman yang merendahkan menyebabkan anak beresiko mengalami fisik yang terganggu, kesehatan mental yang terganggu, hubungan interpersonal yang tidak sehat, internalisasi nilai-nilai moral yang lemah, prilaku anti sosial, kemampuan beradaptasi yang terganggu.

    Beberapa alasan mengapa guru sering menggunakan hukuman fisik dan hukuman merendahkan

    1. hukuman fisik merupakan bagian yang penting dalam perkembangan dan pendidikan siswa.  Siswa belajar dari dari pukulan itu untuk menghargai guru atau orang tua, belajar untuk membedakan mana yang baik dan mana yang salah, belajar mematuhi aturan dan belajar bekerja keras.  Tanpa hukuman fisik siswa tidak akan belajar disiplin atau akan menjadi manja.

    Hasil riset menunjukkan bahwa hukuman fisik jarang memotivasi siswa untuk berlaku berbeda karena hukuman fisik tidak memberikan pemahaman kepada siswa bagaimana siswa harus berlaku.  Faktanya guru seringkali harus mengulangi memberi hukuman fisik untuk perilaku yang sama dan kepada anak yang sama.  Hal ini membuktikan bahwa hukuman fisik ini tidak efektif.  Hukuman fisik menimbulkan rasa takut pada anak tidak menimbulkan rasa hormat dari anak kepada guru atau orang tua.  Apakah benar bahwa kita ingin mengajar siswa untuk menghormati orang yang menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah?

    1. Saya dipukuli ketika masih menjadi siswa oleh guru dan orang tua.  Sebaliknya saya tidak akan menjadi orang seperti sekarang kalau tidak karena guru dan orang tua saya.

    Guru /orang tua biasanya memukul siswa karena ketika mereka masih menjadi siswa merekapun dipukul.  Siswa belajar dan meniru dari guru dan orang tua.  Namun demikian kita akan sia-sia menyalahkan generasi terdahulu karena mereka bertindak berdasarkan norma atau kebiasaan yang berlaku saat itu.  Akan tetapi sikap sosial ini berubah seiring waktu.  Ada banyak orang yang sukses yang tidak dipukul pada waktu menjadi siswa,  akan tetapi lebih banyak orang dewasa yang tidak dapat mengembangkan potensi hidupnya karena dipukul sewaktu menjadi siswa.

    1. Ada perbedaan antara pemukulan yang kejam dan hukuman fisik yang dilakukan guru atau orang tua.  Hukuman fisik ini tidak membahayakan, hanya menyebabkan sakit sedikit dan tidak bisa dikatakan kekerasan.  Kenapa harus dihilangkan?

    Semua orang termasuk anak-anak mempunyai hak asasi untuk dihargai kehormatan dan integritasnya.  Dalam banyak kasus, hukuman fisik kecil dapat menyebabkan luka yang tidak dikehendaki.  Memukul siswa/anak tetap berbahaya karena siswa adalah anak-anak dan mereka masih sangat rapuh.

    Kerusakan gendang telinga, kerusakan otak, luka atau kematian karena jatuh merupakan konsekuensi atau akibat dari atau bermula dari hukuman fisik kecil.  Berdasarkan hasil-hasil riset, akibat negatif dari hukuman fisik adalah sebagai berikut.

                a.  Eskalasi:  Hukuman bermula dari hukuman ringan, ketika siswa beranjak lebih besar hukuman ringan tidak berhasil kemudian meningkat, guru atau orangtua yang dituduh menganiaya siswa atau putranya mengatakan bahwa penganiayaan bermula dari hukuman fisik biasa.

    1. Memotivasi kekerasan:  setiap hukuman fisik memberi pesan bahwa kekerasan merupakan jawaban terhadap konflik atau prilaku yang tidak diinginkan.  Agresi melahirkan agresi.  Siswa yang mendapat hukuman fisik akan menjadi agresif terhadap saudaranya, mengancam atau menyakiti siswa lain dan berprilaku anti sosial ketika mereka dewasa.  Jadi menghilangkan hukuman fisik merupakan langkah yang penting untuk mengurangi kekerasan di masyarakat.
    2. Kerusakan psikis:  hukuman fisik dapat membahayakan emosi anak.  Riset menunjukkan bahwa siswa akan mendapat pesan yang terbalik antara kasih sayang dengan rasa sakit, marah dengan harus selalu patuh.

    Agar sekolah mengubah dari menekankan pamberian hukuman fisik dan pengontrolan prilaku, maka sekarang  terdapat advokasi untuk memfokuskan pada pendidikan intelegensi emosi dan pendidikan karakter

    Alternatif hukuman:  Hukuman Positif/Non-Fisik

    Siswa memang perlu belajar untuk disiplin terutama disiplin diri.  Akan tetapi untuk mengajarkan disiplin tersebut bukan dengan cara memberikan hukuman fisik dan hukuman merendahkan karena hukuman ini terbukti tidak efektif untuk menegakkan disiplin.  Sebaiknya guru memberitahu dan menjelaskan kepada siswa kesalahan apa yang telah mereka lakukan bukan dengan cara memberi hukuman fisik atau hukuman merendahkan.

    Guru-guru perlu diberi keterampilan untuk menggunakan metode pendisiplinan yang tidak berupa hukuman fisik atau hukuman yang merendahkan anak.  Berikut ini adalah beberapa petunjuk dan hal-hal yang dapat dilakukan oleh Kepala sekolah/guru dalam hal hukuman positif/non-fisik.

    1. Beri penghargaan/pujian bila siswa patuh atau dapat melakukan sesuatu dengan baik. Hal ini akan memotivasi siswa lain untuk mengikuti pprilaku tersebut and memotivasi mereka untuk berdisiplin diri.  Pujian ini tidak perlu modal apapun, bahkan penghargaan  tidak harus menghabiskan uang bayak.  Penghargaan ini dapat berupa pemberian kegiatan yang menyenangkan siswa.
    2. Berilah model/contoh prilaku yang diinginkan.  Bila kita tidak ingin siswa kita berbicara bahasa yang tidak baik, maka kitapun tidak boleh berbicara yang tidak baik.
    3. Realistiklah terhadap harapan kita pada siswa-siswa menurut tingkatan usianya.
    4. Motivasilah siswa-siswa untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, karena mereka seringkali dapat menemukan kompromi yang dapat diterima kedua belah pihak.
    5. Jangan gunakan ancaman atau berteriak kepada siswa.  Lebih baik mereka diberitahu kesalahannya dan alasannya daripada ditakuti-takuti atau dilecehkan
    6. Gunakanlah kata-kata yang baik untuk siswa-siswa anda.  Bila anda menggunakan kata yang melecehkan atau menghina ini akan menjadikan siswa tersebut rendah diri.
    7. Negosiasi dan berkompromilah, terutama bila anda harus menemukakan pendapat anda.  Kajilah apa yang akan anda katakan itu penting atau tidak?  Apakah hal yang akan anda katakan ini mempengaruhi keselamatan siswa? Apakah ada yang terluka dengan apa yang akan saya katakan?
    8. Gunakan metode bimbingan dan penyuluhan terutama dengan siswa kelas tinggi.  Bila diperlukan undanglah orangtua/keluarga yang dihormatinya.  Diskusikan dengan orangtua/keluarga prilaku negatif siswa dan prilaku yang diharapkan dari siswa tersebut.
    9. Siswa belajar dengan cara melakukan, dengan demikian berilah tugas yang tidak mengandung kekerasan, tugas sebaiknya berhubungan dengan kesalahan siswa.  Misalnya siswa diminta membetulkan, membersihkan sesuatu yang pecah, dengan demikian siswa tidak akan mengurangi perbuatannya.

    4.4  Menghilangkan kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah di sekolah

    Definisi

    Kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah (bullying) adalah suatu situasi dimana seorang siswa atau lebih secara terus menerus melakukan tindakan yang menyebabkan siswa lain menderita.  Kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah ini dapat berbentuk tiga hal yaitu:

    1. secara fisik, memukul, menendang, mengambil milik orang lain
    2. Secara verbal: mengolok-olok nama siswa lain, menghina, mengucapkan kata-kata yang menyinggung.
    3. secara tidak langsung:  menyebarkan cerita bohong, mengucilkan, menjadikan siswa tertentu sebagai target humor yang menyakitkan,  mengirim pesan pendek atau surat yang keji.

    Mengolok-olok nama merupakan hal yang paling umum karena ciri-ciri fisik siswa,  suku, warna kulit, dan lain-lain.

    Identifikasi Kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah

    Mengidentifikasi Kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah ini tidaklah mudah, hal-hal berikut harus dipahami untuk menentukan apakah suatu tindakan dikatakan mengancam atau menyakiti siswa lain.

    1. Bila siswa yang diancam atau disakiti tidak mempunyai posisi untuk menghentikan proses menyakiti atau mengancam tersebut.
    2. Kekerasan antar siswa ini tidak selalu terlihat jelas oleh guru atau siswa lain.
    3. Efeknya yang menentukan bukan tindakannya.
    4. Kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah ini bukan tidak tunggal tetapi dilakukan terus-menerus secara berkesinambungan.
    5. Kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah bertujuan untuk menyakiti atau membuat kesal siswa lain.
    1. Kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah bertujuan tidak hanya menyakiti secara fisik tetapi juga secara psikis dan sosial.

    Agar kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah ini tidak terjadi maka perlu dibuat aturan sekolah untuk melindungi siswa korban kekerasan.  Tindakan pencegahan dan strategi mengelola kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah ini juga perlu dibuat untuk melindungi korban agar tindakan kekerasan tidak berlangsusng terus-menerus.

    Sealin itu sekolah harus terbuka mengenai isu kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah ini.  Semakin sekolah terbuka mengenai isu kekerasan ini, semakin siap sekolah tersebut menangani kekerasan dan semakin baik mengelolanya.  Sekolah harus mempunyai catatan yang akurat tentang kejadian kekerasan yang terjadi di sekolah dan bagaimana cara menanganinya untuk keperluan monitoring dan untuk melindungi sekolah dari tuntutan hukum.

    Sekolah sebaiknya mempunyai strategi anti kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah yang dapat berbentuk 4 cara:

    1. Pencegahan

    Pencegahan preventif diintegrasikan dalam semua kurikulum mata pelajaran, termasuk hubungan, tanggung jawab, dan akibat negatif dari kekerasan.  Dengan demikian mata pelajaran dapat menyangkut aspek keterampilan sosial dan emosional yang sangat penting.

    2        Dukungan antar teman

    Memberikan dukungan yang aktif kepada teman sangatlah penting.  Program pertemanan ini dapat dipersiapkan oleh sekolah secara formal ataupun informal agar siswa-siswa dapat saling mendukung secara akatif.

    1. Prosedur yang jelas

    Prosedur untuk menyampaikan keluhan tindakan kekerasan antar teman harus tersedia, misalnya kepada unit bimbingan dan konseling, atau konseling antar teman.  Demikian pula prosedur untuk mnecatat dan memonitor kekerasan harus jelas.

    1. Promosi

    Promosi tentang anti kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah dan strateginya diberikan kepada seluruh warga sekolah: siswa, orang tua, komite sekolah, masyarakat.  Bentuknya dapat berupa leaflet, poster, laporan berkala dan bentuk penerbitan lain yang berisi kebijakan anti kekerasan sekolah yang sangat membantu menyampaikan informasi ini

    REFERENSI:

    school safety:  children.state.mn.us/mde/groups/safehealthy/documents/report/008931.pdf

    checklist safe, secure, and orderly school: http://www.ocdsb.ca/General_Info/Safe_and_caring/downloads/School%20Climate%20Checklist.pdf -

    smhp.psych.ucla.eduqfbehaviorprob_qtbehavior_problems_what’s_a_school_to_do.pdf

    OVERVIEW WDD-WSD AIBEP


    I.   PENGANTAR

    Berdasarkan nota kesepakatan antara Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia dengan Pemerintah Kabupaten tentang Pemberian Program Block Grant Pengembangan SD-SMP Satu Atap, dan Berdasarkan loan agreement Australia Indonesia Basic Education Program (AIBEP) no. AIPRD LO 1 AusAID tanggal 12 Juli 2006, maka dipandang perlu untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas. Salah satu cara yang dikembangkan untuk mewujudakan pendidikan yang berkualitas lewat program pengembangan kabupaten terpadu (WDD), dan program pengembangan sekolah terpadu (WSD).

    WDD (Whole District Development) atau Pengembangan Kabupaten Terpadu adalah suatu pendekatan yang suatu pendekatan dalam peningkatan mutu pendidikan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) di Kabupaten.     WDD berfokus peningkatan kapasitas kabupaten untuk mencapai standar nasional yang ditetapkan  BSNP dan Tujuan Pendidikan Nasional.

    WSD (Whole School development) atau Pengembangan Sekolah Terpadu adalah suatu pendekatan dalam peningkatan mutu sekolah/Madrasah dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) di sekolah/madrasah. WSD bertujuan meningkatkan kesempatan belajar untuk anak-anak lewat peningkatan kapasitas orang-orang penting di sekolah/madrasah dan masyarakat. WSD mengacu pada peningkatan kualitas MBS dan berfokus pada perencanaan dan pengembangan satuan pendidikan sesuai SNP

    Materi ini sangat penting bagi peserta karena gambaran WDD-WSD merupakan materi awal yang melingkupi materi-materi sesudahnya. Dalam sesi ini akan diberikan penjelasan lengkap tentang apa, mengapa, dan bagaimana, dan siapa yang terlibat dalam program WDD-WSD mulai dari pemerintah Pusat, Propinsi, dan Kabupaten.

    II. TUJUAN

    Para peserta diharapkan mampu:

    q  Dasar – dasar  hukum program WDD-WSD

    q  Menjelaskan apa, menggana, siapa, dan bagaimana progaram WDD-WSD mulai dari pemerintah pusat, propinsi, dan kabupaten

    III.       BAHAN DAN ALAT

    q  Materi Presentasi.

    q  Flipchart

    q  Laptop

    q  LCD Projector

    I.    LANGKAH KEGIATAN

    Pengantar                                              5′

    Diskusi Kelompok                               15′

    Presentasi                                            10′

    Penguatan                                            15′

    Tanya Jawab                                       15′

    Kesimpulan                                         10′

    Langkah-langkah kegiatan adalah sebagai berikut:

    1.   Pengantar (5 menit)

    Fasilitator  menjelaskan tentang  tujuan kegiatan dan skenario yang akan dilakukan dalam sesi ini, termasuk memberikan kegiatan ice breaker. Memberikan penjelasan pentingnya sesi ini dan kaitannya antara sesi ini dengan kegiatan program keseluruhan.

    Tips: Ice breaker yang dipakai dalam acara ini diharapkan dipilih yang ada unsur perkenalan antara satu dengan yang lain.

    1.   Diskusi Kelompok (15 menit)

    Dalam tahap ini, fasilitator memberikan pertanyaan kepada kelompok meja untuk menjawab pertanyaan sbb:

    Apa WDD-WSD itu?

    Apa keuntungan WDD-WSD itu?

    Siapa yang terlibat dalam WDD-WSD itu?

    Setiap kelompok menuliskan hasil setiap kelompok di papan flipchart yang sudah disediakan. Fasilitator memanggil secara acak salah satu kelompok untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya.

    1.   Penguatan I (15 menit)

    Fasilitator memberikan paparan tentang sertifikasi guru yang berhubungan dengan :

    • Dasar – dasar hukum program WDD-WSD
    • WDD-WSD; apa, mengapa, siapa, dan bagaimana program WDD-WSD dilaksanakan
    • Keuntungan WDD-WSD untuk meningkatkan kualitas pendidikan

    Materi penguatan  sbb:

    WDD: suatu pendekatan dalam peningkatan mutu pendidikan dengan melibatkan pemangku kepentingan di Kabupaten

    WDD berfokus peningkatan kapasitas kabupaten utk mencapai standar2 BSNP &Tujuan Pendidikan Nasional

    Siapa yang Terlibat?

    WDD
    a.BAPPEDA
    b.DPRD Komisi Pendidikan
    c.Dinas Pendidikan
    d.Kantor Departemen Agama
    e.Dewan Pendidikan
    WSD
    a.Penngawas satuan pendidikan
    b.Kepala Sekolah/Madrasah
    c.Komite Sekolah/Madrasah
    d.Yayasan
    e.Guru
    f.Perwakilan orang tua siswa

    Posisi WDD/WSD

    WSD 2007
    Menjawab kebutuhan masyarakat atas pembelajaran seumur hidup
    Peningkatan Strategi bersifat menyeluruh utk peningkatan semua satuan Pendidikan dalam kabupaten
    kapasitas orang2 yg terlibat dalam dunia pendidikan utk mengambil peran kepemimpinan di Kab, Sekolah, masyarakat
    Berbagai kemajuan standar nasional dapat dipetakan
    Program pengenalan dikembangkan dengan berfokus pada manajemen berbasis sekolah
    Memanfaatkan keahlian dan pengalaman program2 donor sebelumnya  CLCC(UNICEF),MBE dan DBE (USAID), IAPBE (Aus AID), dll,  serta program yg sudah dikembangkan pemerintah (SSN/SSI).

    Apa yang sudah dilakukan?

    A.Workshop Sosialisasi WDD/WSD 2007

    Tujuan:

    Melibatkan para pemangku kepentingan utama dalam berbagai kegiatan WDD/WSD
    Meningkatkan kapasitas  peserta dalam hal Renstra dan MBS
    Pengenalan untuk para KS/KAMAD dan Ketua Komite S/M BEP dalam kegiatan perencanaan awal.
    B. Workshop Capacity Building
    Madrasah

    Tujuan : Agar Madrasah siap mengikuti program WSD dalam rangka peningkatan manajemen & mutu yang berbasis SNP

    WS ini untuk 46 MTs (PSA&PB)

    Materi Pokok: disamping materi utk sosialisasi WSD juga Pedoman QA,Peranan P4TK,Akreditasi S/M, PSM,Kepemimpinan, dan Strategi Pengembangan Madrasah.

    C. Kegiatan Training

    Training berlangsung secara berjenjang;
    Berlangsung pada level Nasional, Propinsi,Kabupaten;
    Training diberikan dalam 2 Grp: TOT 1 Grp 1    di Jakarta; TOT 1 Grp 2 di Makassar

    (4 TOT dalam 1 tahun);

    Setiap TPK dan TPS mendapat 15 hari Training/Workshop
    D. Kegiatan2 Terkait
    Mendukung Pemerintah dalam menerapkan strategi gender
    Menfasilitasi pembelajaran anak2 inclusive
    Menfasilitasi kesempatan belajar  utk anak dan orang dewasa melalui NFE
    KS & KAMAD sasaran BEP dan Dewan Pengelola/Komite S/M diberi pelatihan manajemen aset  dan sistem pemeliharaan.
    TEMA TOT

    TOT

    SERI-A                               KEBIJAKAN PENDIDIKAN NASIONAL

    TOT SERI-B                     PERENCANAN PENDIDIKAN SEKOLAH & DAERAH

    TOT SERI-C                    KURIKLM & PEMBELAJARAN

    TOT SERI-D                   PELIBATAN MASYARAKAT SECARA BERKUALITAS

    TEMA  WSD

    TPS SERI-A                      MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH (MBS)

    TPS SERI -B                  RENCANA PENGEMBANGAN SEKOLAH

    TPS SERI-C                  KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN

    TPS SERI-D                  PARTISIPASI MASYARAKAT

    TPS SERI-E                  MONITORING & EVALUASI

    LOKAKARYA (WDD)

    SERI-A                                            REGULASI PENDIDIKAN

    SERI-B                                               RENCANA STRATEGIS    PENDIDIKAN KABUPATEN/ KOTA

    SERI-C                                        RENCANA KERJA DISPENDIK

    SERI-D                                        ANGGARAN PENDIDIKAN KABUPATEN/KOTA

    SERI-E                                       MONITORING DAN EVALUASI

    Apa yang akan dikerjakan?

    A. TOT

    l4 LPMP
    l2 MoRA Training Centre
    l2 P4TK

    B. LPMP,MTC,P4TK à will train and additional 5 trainer per district + 2 per province (20 BEP provinces)

    Support existing activities à 2009
    District capacity to work with school other than BEP school
    C. Block Grants
    Inovasi dalam bidang pendidikan
    Perencanaan dan manajemen
    Gender
    Pendidikan inklusif
    Partisipasi masyarakat
    Kabupaten dan sekolah
    Keuntungan WDD/WSD
    Mendukung BSNP
    Mendukung RENSTRA
    Berada dalam sistem
    Meningkatkan kapasitas lokal yang ada
    Melengkapi kerja donor lainnya
    Bisa ditiru
    Berhubungan dengan kegiatan BEP lainnya

    Bekerja sama dengan Depdiknas dan Depag, berbagai Direktorat, sekolah negeri dan swasta, di 20 provinsi, lebih dari 180 kabupaten dan mencapai 300,000+ anak.

    MATERI PR3SENRASI

     

     

     

    MENGEMBANGKAN VISI DAN MISI SEKOLAH


    Karen Taylor*)
    Ada terdapat banyak interpretasi berkaitan dengan istilah visi dan misi. Untuk tujuan kegiatan perencanaan sekolah, maka sebuah pernyataan visi adalah pernyataan yang menggambarkan cita‐cita akan bagaimana sebuah sekolah nantinya yang dikaitan dengan apa yang telah dicapai di masa lalu, pencapaianmasa kini dan impian‐impian di masa mendatang. Misi sekolah mengambarkan tujuan sekolah tersebut dan bagaimana misi akan mengoperasionalkan visi dari sekolah itu. Bagian perencanaan sekolah ini sering menjadi bagian yang paling sulit.
    Mengembangkan Visi: Semua pemangku kepentingan yang ada di masyarakat sekolah hendaknya terlibat di dalam pengembangan visi sekolah ini. Sebuah cara yang bermanfaat untuk mengembangkan sebuah visi adalah dengan mendiskusikan apa yang Anda harapkan ingin dicapai para siswa pada saat mereka telah tamat dari sekolah Anda. Hal ini hendaknya berkaitan berkaitan dengan karakteristik dan kondisi masing‐masing sekolah

    . Lakukan curah pendapat yang berkaitan dengan serangkaian kata‐kata berikut ini yang bisa merefleksikan visi tersebut:
    Akademis
    Keindahan
    Fisik
    Budaya
    Moral
    Sosial
    Emosional
    Personal
    Spiritual
    Lainnya
    Di dalam sebuah kelompok, prioritaskan kata‐kata yang ada di daftar di atas dan gunakan kata‐kata tersebut untuk menuliskan pernyataan tentang sebuah visi. Pernyataan tersebut harus sering ditinjau kembali selama proses pembuatannya untuk memastikan bahwa semua yang memberikan kontribusinya bisa merasa terpuaskan dengan tujuan dari pernyataan tersebut.
    Pernyataan Misi: Sebuah pernyataan misi menggarisbawahi tujuan dari sebuah sekolah, dan apa yang akan dilakukan sekolah itu untuk mencapai visinya. Pernyataan misi sering dimulai dengan “Menyediakan…” . Di sini, sebuah sekolah akan menggarisbawahi sebuah pernyataan akan apa yang akan dilakukan untuk mencapai visi.
    Pernyataan visi dan misi sekolah hendaknya bisa dilihat kembali dalam waktu tertentu untuk memastikan bahwa keduanya benar‐benar merefleksikan kebutuhan yang ada di sekolah maupun di masyarakat.
    Nilai‐Nilai dan Keyakinan‐Keyakinan Sama: Akan juga sangat berguna jika ada serangkaian keyakinan yang sama mengenai kegiatan belajar dan mengajar dan atau nilai‐nilai yang menjadi dasar dari kegiatan operasional sekolah bisa dikembangkan. Dengan mengembangkan serangkaian keyakinan dan nilai yang sama ini maka semua warga sekolah dan masyarakat di sekitarnya akan memiliki komitmen untuk melakukan kedua hal ini. Hal ini juga bisa dilakukan pada saat melaksanakan perekrutan dan atau perkenalan bagi staf, orang tua siswa serta siswa baru dengan memastikan bahwa filosofi pendidikan sekolah benar‐benar dinyatakan terbuka kepada publik.

    REFERENSI
    Primary Professional Development Service, Vision/Mission and Aims.
    *) Senior Education Adviser (Whole School and district Development) MCPM AIBEP.

    download su sini

    sejarahdompu

    Just another WordPress.com site

    SUAIDINMATH'S BLOG

    Technology Based Education

    tentang PENDIDIKAN

    Makalah dan Artikel Pendidikan

    SUKSES SELALU

    NIKMATILAH HIDUP..BEKERJA DENGAN ENJOY...JANGAN LUPA BERDOA.

    PTK THE FRONTIERS OF NEW TECHNOLOGY

    Smile! You’re at the best WordPress.com site ever

    educatinalwithptk

    PTK The Frontiers Of New Technology

    e-Newsletter Disdik

    LEMBARAN BERITA DAN DISTRIBUSI INFORMASI SEPUTAR PENDIDIKAN

    Dinas Dikpora Kab. Dompu

    Ikhlas Mendidik Untuk Martabat Bangsa dan Negara

    Rudi Triatmono Personal Blogs

    A Simple Blog, that contains some articles about Motorcycles, Information Technology, Management and much more...

    tunas63

    weblog untuk berbagi ilmu dan persaudaraan

    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.

    Bergabunglah dengan 84 pengikut lainnya.

    %d bloggers like this: