PERAN DAN TUGAS PENGAWAS, KEPALA SEKOLAH, GURU, DAN KOMITE SEKOLAH DALAM PENYUSUNAN KTSP


A.  PENGANTAR

Kurikulum pada dasarnya merupakan alat dalam upaya mencapai tujuan pendidikan. Seperti ungkapan the man behind the gun, maka sebagus apapun desain atau model kurikulum yang hendak dikembangkan akan sangat bergantung kepada faktor manusianya. Dalam hal ini, guru merupakan pelaksana utama dalam kegiatan pengembangan kurikulum, yang dilaksanakan melalui kegiatan belajar mengajar mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya. Dengan demikian, tampaknya tidak berlebihan kalau kita katakan bahwa guru menjadi faktor utama penentu keberhasilan dalam kegiatan pengembangan kurikulum.

 

KTSP juga mengisyaratkan adanya pemberdayaan segenap komponen sekolah secara terus menerus dan berkelanjutan sehingga meraka bisa menghasilkan kurikulum yang sesuai dengan kondisi sekolah, latar belakang social budaya masyarakat setempat, dan potensi anak didik. KTSP ini bisa disusun dengan baik dan lancar, jika ada reformasi sekolah diimplemantasikan secara baik dan diimbangi dengan kepemimpinan kepala sekolah yang demokratis, egaliter, transparan, dan partisipatif.

 

Pengawas, Kepala Sekolah, Guru, dan Komite sekolah adalah komponen yang penting dalam upaya merealisasikan KTSP yang sesuai dengan harapan di atas. Pengawas dengan fungsi kepribadian, supervisi menejerial, supervisi akademik, evaluasi pendidikan, penelitian dan pengembangan , dan sosial diharapkan mampu menjadi mediator yang baik antara sekolah dan kedinasan. Begitu juga dengan komite sekolah. Dengan peran sebagai pemberi pertimbangan (advisory agency), pendukung (supporting agency), pengontrol (controlling agency) dan mediator memiliki peran yang penting dalam penentuan dan pelaksanaan kebijaksanaan pendidikan di satuan pendidikan, baik yang berwujud financial, pemikiran maupun tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan, dalam rangka transparansi dan akuntabilitas penyelengaraan dan keluaran di satuan pendidikan.,

 

B.   TUJUAN

Para peserta diharapkan mampu:

Memahami peran dan tugas pengawas, kepala sekolah, guru, dan komite sekolah dalam mengembangkan KTSP yang sesuai dengan kondisi daerah, latar belakang social budaya, dan karakteristik anak didik.

 

C.   BAHAN DAN ALAT

Hand Out/ Modul

Lembar Kerja .

Flipcart

A.  LANGKAH KEGIATAN

Pengantar 5 menit

Kerja Cepat (kelompok) 10 menit

Belaanja/Masukan  10 menit

Revisi, preentasi dan tanya jawab 30 menit

Penguatan

Reflesi

 

Langkah-langkah kegiatan adalah sebagai berikut:

1.   Pengantar ( 5 menit )

Fasilitator  menjelaskan tentang  tujuan kegiatan dan skenario yang akan dilakukan dalam sesi ini, termasuk memberikan kegiatan ice breaking . Memberikan penjelasan pentingnya peran dan tugas masing-masing stakeholder di sekolah dalam menyusun KTSP.

2.   Kerja Cepat Kelompok ( 10 menit )

Peserta dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok pengawas, kelompok kepala sekolah, kelompok guru, kelompok komite sekolah (orang tua masuk kelompok komite sekolah). Setiap kelompok mendiskusikan peran dan tugas masing-masing.

 

No

Warga Sekolah

Peran dan Tugas

1

Pengawas  

2

Kepala Sekolah  

3

Ketua Komite Sekolah/Madrasah (Orangtua murid)  

4

Guru  

 

1.   Belanja / Beri Masukan ( 10 menit )

 

  • Satu peserta tetap dikelompoknya untuk menjaga hasil kelompoknya dan menjelaskan jika ada yang bertanya
  • Kelompok satu pindah ke kelompok lain dan memberikan masukan terhadap hasil kerja kelompok lain.

 

  • Hasil koreksi di tulis di samping/di bawah hasil kerja kelompok lain.
1.   Revisi dan Presentasi Kelompok ( 22 menit )

Dengan teknik lempar bola dan diiringi musik, apabila musik berhenti anggota kelompok yang memegang bola wajib mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya. Hasil diskusi yang dipresentasikan adalah peran dan tugas masing-masing kelompoknya.

§   Kelompok merevisi cepat hasil koreksian/ masukan kelompok lain

§   Satu peserta dari tiap kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompoknya ? (fasilitator memberikan kesempatan pada pria dan perempuan dengan seimbang)

Jika tidak ada waktu, maka presentasi satu pria dan satu perempuan dari kelompok yang berbeda.

 

1.   Penguatan ( 8 menit )

Fasilitator memberikan penguatan tentang peran dan tugas masing-masing stakeholder di sekolah dalam menyusun KTSP.

 

2.   Refleksi ( 5 menit )

Fasilitator memberi kesempatan pada tiap peserta melakukan refleksi untuk merenungkan apa yang telah dipelajari dari sesi ini dan bagaimana menerapkannya.

Caranya, tiap peserta menulis di kertas sesuai dengan sesi ini tanpa menulis nama

1.         Apa yang sudah saya dapat dari sesi ini ?

2.        Apa yang sudah berubah pada diri saya ?

3.        Apa yang masih ingin saya pelajari ?

 

 

Pengawas

Secara umum, pengawas memiliki peran dan tugas sbb:

  1. kepribadian

yang dimaksud dengan kepribadian adalah:

1)     Bertanggung jawab atas pekerjaannya di satuan pendidikan

2)    Kreatif dalam bekerja dan memecahkan masalah baik yang berhubungan dengan masalah pribadinya maupun tugas-tugas jabatannya).

3)    Menumbuhkan motivasi kerja pada dirinya sendiri dan pada stakeholder pendidikan

 

  1. supervisi menejerial

1)     Menguasai metoda, teknik, dan prinsip-prinsip supervisi dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di sekolah

2)    Menyusun progran kepengawasan berdasarkan visi-misi tujuan dan program pendidikan sekolah menengah yang sejenis

3)    Menyusun metode kerja dan instrumen yang diperlukan untuk melaksanakan tugas

4)    Menyusun laporan hasil-hasil pengawasan dan menindaklanjutinya untuk perbaikan program pengawasan berikutnya di sekolah menengah yang sederajat

 

  1. supervisi akademik

1)     Memahami konsep-konsep, teori dasar, karakteristik dan kecenderungan perkembangan tiap mata pelajaran yang relevan di sekolah menengah yang sejenis

2)    Membimbing guru dalam menyusun silabus tiap mata pelajaran yang relevan di sekolah menengah yang sejenis bertandaskan SI, SK,KD dan prinsip-prinsip pengembangan KTSP

3)    Membimbing guru dalam memilih dan menggunakan strategi/metode/teknik pembelajaran/bimbingan yang dapat mengembangkan berbagai potensi siswa melalui mata pelajaran dalam rumpun mata pelajaran yang relevan

4)    Membimbing guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)untuk tiap mata pelajaran dalam rumpun mata pelajaran yang relevan di sekolah menengah yang sejenis Membimbing guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran/bimbingan(di kelas, laboratorium, dan atau di lapangan) untuk tiap mata pelajaran dalam rumpun mata pelajaran yang relevan di sekolah menengah yang sejenis

5)    Membimbing guru dalam mengelola, merawat, mengembangkan dan menggunakan media pendidikan dan fasilitas pembelajaran/bimbingan   tiap mata pelajaran dalam rumpun mata pelajaran yang relevan di sekolah menengah yang sejenis

6)    Memotivasi guru untuk memanfaatkan teknologi informasi dalam pembelajaran /bimbingan tiap mata pelajaran dalam rumpun mata pelajaran yang relevan di sekolah menengah yang sejenis

  1. evaluasi pendidikan

1)     Menyusun kriteria dan indikator keberhasilan pendidikan dan pembelajaran/bimbingan tiap mata pelajaran dalam rumpun mata pelajaran yang relevan di sekolah menengah yang sejenis

2)    Membimbing guru dalam menentukan aspek-aspek yang penting dinilai dalam pembelajaran/bimbingan tiap mata pelajaran dalam rumpun mata pelajaran yang relevan di sekolah menengah yang sejenis

3)    Menilai kinerja kepala sekolah, kinrja guru dan staf sekolah lainnya dalam melaksanakan tugas pokok dan tanggungjawabnya untuk meningkatkan mutu pendidikan dan pembelajaran/bimbingan tiap mata pelajaran dalam rumpun mata pelajaran yang relevan di sekolah menengah yang sejenis Memantau pelaksanaan pembelajaran/bimbingan dan hasil belajar siswa serta mengalisisnya untuk perbaikan mutu pembelajaran/bimbingan tiap mata pelajaran dalam rumpun mata pelajaran yang relevan di sekolah menengah yang sejenis

4)    Membina guru dalam memanfaatkan hasil penilaian untuk kepentingan pendidikan dan pembelajaran/bimbingantiap mata pelajaran dalam rumpun mata pelajaran yang relevan di sekolah menengah yang sejenis

5)    Mengelola dan menganalisis data hasil penelitian kinerja kepala sekolah, kinerja guru dan staf sekolah di sekolah menengah yang sejenis

 

  1. penelitian dan pengembangan

1)     Menguasai berbagai pendekatan, jenis, dan metoda penelitian dalam pendidikan

2)    Menetukan masalah kepengawasan yang penting diteliti  baik untuk keperluan tugas pengawasan maupun untuk pengembangan karirnya sebagai pengawas

3)    Menyusun proposal penelitian pendidikan baik secara penelitian kwantitatif maupun penelitian kualitatif

4)    Melaksanakan penelitian pendidikan untuk memecahkan masalah pendidikan, dan perumusan kebijakan pendidikan

5)    Mengolah dan menganalisis data hasil penelitian pendidikan baik data kwantitatif maupun data kualitatif

6)    Menulis karyatulis ilmiah (KTI) dalam bidang pendidikan dan atau bidang kepegawaian dan memanfaatkannya untuk prtbaikan mutu pendidikan

7)    Menusun pedoman/panduan dan/buku/modul yang diperlukan untuk melaksanakan tugas pengawasan di sekolah menengah yang sejenis

8)    Memberikan bimbingan kepada guru tentang penelitian tindakan kelas, baik perencanaan maupun pelaksanaannya di sekolah menengaah yang sejenis

 

  1. sosial

1)     Bekerjasama dengan berbagai pihak dalam rangka meningkatkan meningkatkan kualitas diri untuk dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya

2)    Aktif dalam kegiatan asosiasi pengawas satuan pendidikan

 

Adapun tugas dan peran pengawas dalam pelaksanaan KTSP adalah sbb:

1.     Perencanaan

1)     Mendampingi kepala sekolah, guru, dan komite sekolahdalam menyusun KTSP (Dokumen 1: KKM, Mulok, Struktur Kurikulum, kalender pendidikan, pengembangan diri, dsb.)

2)    Membimbing guru dalam menyusun silabus dan RPP(Dokumen 2)

3)    Membimbing kepala sekolah dalam menyusun kriteria keberhasilan kurikulum

 

2.     Pelaksanaan

1)     Membimbing Kepala Sekolah dalam pelaksanaan KTSP.

2)    Membimbing guru dalam proses pembelajaran.Melakukan kunjungan kelas, observasi kegiatan siswa.

3)    Memotivasi dan membimbing guru dalam merencanakan dan melaksanakan penelitian tindakan kelas.

 

3.     Monitoring

1)     Membuat rencana pelaksanaan supervisi kurikulum.

2)    Memfasilitasi kepala sekolah dalam membuat rencana supervisi dan monitoring pelaksanaan kurikulum.

3)    Melakukan kunjungan sekolah dalam rangka memantau pelaksanaan kurikulum secara periodik (minimal per triwulan)

4)    Mendiskusikan hasil temuan kunjungan kelas dan saran tindak-lanjutnya dengan kepala sekolah dan atau guru.

5)    Menyusun laporan hasil kunjungan kelas.Mengecek kelengkapan dokumen KTSP.

6)    Memantau pelaksanaan kurikulum dan memanfaatkan hasil-hasilnya untuk membantu kepala sekolah dalam mempersiapkan akreditasi sekolah.

 

4.     Evaluasi

1)     Menyusun instrumen evaluasi kinerja kepala sekolah dan atau guru dalam melaksanakan tugas kurikulum.

2)    Melakukan evaluasi terhadap kinerja kepala sekolah dan guru dalam melaksanakan tugas kurikulum.

3)    Memonitor perkembangan hasil belajar siswa.Memantau hasil belajar siswa di sekolah binaannya.

4)    Memetakan hasil belajar siswa di sekolah binaannya Menyusun laporan pelaksanaan supervisi kurikulum.

 

Komite Sekolah

Eksistensi komite sekolah dibentuk atas dasar Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002. Tujuan pembentukan komite sekolah adalah  mewadahi, menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam melahirkan kebijakan operasional dan program pendidikan di satuan pendidikan, meningkatkan tanggung jawab dan peran serta aktif dari seluruh lapisan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan, serta menciptakan suasana dan kondisi transparan, akuntabel, dan demokratis dalam penyelenggaraan serta pelayanan pendidikan yang bermutu di satuan pendidikan.
Jika dilihat tujuan di atas, mestinya komite sekolah sebagai wadah untuk menyalurkan berbagai kepentingan dan aspirasi masyarakat berkaitan dengan pendidikan generasi muda dan mendorong manajemen keuangan sekolah yang transparan, akuntabel, dan demokratis. Dengan peran ini, keberadaan komite sekolah mestinya justru bisa menekan berbagai penyimpangan, terutama keuangan, yang menyebabkan mahalnya biaya sekolah.

 

Penyebab Lemahnya Peran Komite Sekolah
 Begitulah umumnya peranan komite sekolah diberbagai tempat. Mereka yang seharusnya menjadi wadah penampung aspirasi masyarakat, justru menjadi corong kepentingan oknum-oknum pengelola sekolah. Mengapa ini bisa terjadi ?
Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab komite sekolah tidak mampu menjalankan fungsinya sebagaimana mestinya. Pertama, sosialisasi yang buruk. Hasil riset Indonesia CorruptionWatch di Jakarta pada 2003, 58 persen guru dan59,9 persen orang tua siswa menganggap komite sama dengan Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan (BP3); Bahkan 37,6 persen orangtua siswa belum pernah mendengar komite. (Koran Tempo: 07/12/04).
Buruknya sosialisasi tersebut akibat masih bersifat  topdown. Jalur yang dipakai adalah  jalur birokrasi. Dari Departemen Pendidikan Nasional keDinas Pendidikan di provinsi maupun kabupaten/kota, lalu ke dinas kecamatan, setelah itu ke kepala sekolah. Cara lain, mengumpulkan kepala sekolah lalu ditatar, selama beberapa hari. Harapannya, kepala sekolah mengerti dan kemudian menatar guru guru di sekolahnya.
Sedangkan para wali murid maupun pengurus komite sekolah hanya diberitahu secara lisan oleh kepala sekolah atau unsur lain dari masing-masing sekolah. Selain melalui cara tersebut, Depdiknas memang melakukan sosialisasi melalui berbagai televisi. Namun waktunya terlalu singkat dan isinya tidak terlalu jelas. Akibatnya, layanan melalui televisi ini tidak menambah pemahaman masyarakat akan peran komite sekolah.
Faktor kedua adalah komite sekolah dibentuk oleh kepala sekolah. Dengan mekanisme pembentukan seperti itu, bisa diduga bahwa mereka yang diangkat sebagai pengurus komite adalah orang-orang yang dipandang “manut” oleh kepala sekolah. Karena diangkat oleh kepala sekolah, mana mungkin mereka dapat menjadi kekuatan penyeimbang kekuasaan kepala sekolah.  Alih-alih menjadi penyeimbang, keberadaannya justru dijadikan “alat” oleh kepala sekolah untuk menarik dana orangtua siswa.
Dengan realita seperti digambarkan di atas, menjadikan sekolah memproyekkan berbagai program sekolah.  Akibatnya, ruang untuk melakukan korupsi menjadi terbuka karena tujuan proyek yang bagus digantikan oleh tujuan untuk memperoleh keuntungan para birokrasi pelaksana. Dengan skenario seperti ini, secara tidak sadar, keberadaan komite sekolah dijadikan “bumper” oleh pihak sekolah atas masalah mahalnya biaya pendidikan.

Manajemen Berbabasis Sekolah
Penerapan manajemen berbasis sekolah menjadikan sekolah lebih otonom, tidak lagi menjadi subordinat dari pemerintah maupun yayasan. Pendekatannya pun tidak birokratis lagi, melainkan profesional. Penyelenggara  sekolah menjadi lebih leluasa dalam mengelola anggaran pendidikan di sekolah.
Untuk membuat perimbangan bagi otonomi sekolah ( kepala sekolah ) tersebut, maka dikeluarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002 di atas. Adanya keleluasaan gerak kepala sekolah dalam mengelola anggaran dan Keputusan Mendikans  tersebut menyebabkan peranan komite sekolah menjadi besar dan memiliki posisi tawar yang tinggi. Sebab, semua keputusan yang berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan selalu memberdayakan semua pihak (stakeholder).
Dengan begitu, masyarakat melalui komite sekolah berhak mengetahui berbagai kucuran dana yang mengalir ke sekolah, sehingga transparansi dan akuntabilitas dapat diwujudkan. Di samping itu, keberadaan komite juga berfungsi sebagai watchdog bagi pelaksanaan pelayanan pendidikan di sekolah. Masyarakat, sebagai salah satu penyandang dana pendidikan untuk sekolah, dapat melakukan teguran melalui komite sekolah  apabila pelayanan dari sekolah tidak sesuai dengan biaya yang dikeluarkan. Dan masih seabrek fungsi lainnya. Yang kesemuanya bisa disebut sebagai wadah partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan.
“Akan tethathi” berhubung adanya berbagai faktor seperti dikemukakan di atas, maka keberadaan komite sekolah hanyalah sekadar tukang stempel bagi kebijakan-kebijakan kepala sekolah. Jika hal ini tak segera dicari jalan keluarnya, maka fungsi dari komite sekolah akan sama dan sebangun dengan BP3 tempo hari.

Penguatan Peran Komite Sekolah
Supaya komite sekolah dapat melakukan peran sebagaimana mestinya, maka pertama-tama harus dilakukan sosialisasi yang benar kepada masyarakat luas. Yang jelas harus dihindari pemberian tugas sosialisasi tersebut oleh pihak sekolah. Sebaiknya, sosialisasi dilakukan oleh Depdiknas melalui berbagai media massa, khususnya televisi, secara intensif dan sejelas mungkin. Tidak seperti yang terjadi selama ini, sosialisasi melalui media massa dengan sangat singkat dan tidak jelas sama sekali, sehingga terkesan peran komite sekolah hanya sebagai wadah memobilisasi dana dari masyarakat. Selain itu, sosialisasi dapat dilakukan oleh pejabat kantor Diknas Kota atau Kecamatan pada saat pembentukan komite sekolah di sekolah-sekolah.
Berikutnya, pembentukan pengurus komite sekolah tidak lagi dilakukan oleh kepala sekolah. Pembentukan komite harus atas dasar pilihan dari seluruh orangtua siswa dengan dihadiri pejabat diknas baik dari tingkat kota atau kecamatan. Dengan mekanisme pembentukan seperti ini, komite sekolah akan lebih independen, sehingga dapat melakukan peran dan fungsinya tanpa bayang-bayang kekuasaan kepala sekolah. Barangkali dengan begitu ruang korupsi di sekolah dapat dipersempit.

 

Dalam pembuatan KTSP, komite sekolah memiliki tugas dan peran sbb:

A.  Perencanaan

1.     Menyusun program kerja komite

2.     Melakukan identifikasi kebutuhan sekolah

3.     Memberikan masukan dalam penyusunan Rencana Anggaran dan Belanja Sekolah.

4.     Mengidentifikasikan orang-orang kunci atau yang berperan ikut mengesahkan RAPBS

B.   Pelaksanaan

1.     Melaksanakan program yang telah ditetapkan

2.     Mengundang tokoh untuk menjadi pembicara dalam kegiatan sekolah (seminar, diskusi) sepengetahuan Kepala Sekolah.

3.     Memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana sekolah

4.     Memberikan layanan informasi melalui bulletin, open houseMemberikan  penghargaan kepada orang yang berjasa dalam pengembangan sekolah

C.   Monitoring

1.     Memonitor proses pengambilan keputusan di sekolah

2.     Memonitor kualitas kebijakan di sekolah

3.     Memonitor kualitas perencanaan sekolah

4.     Memonitor terhadap program sekolah

5.     Memonitor hasil ujian atau out –put

6.     Memantau kondisi keuangan sekolah

7.     Memobilisasi guru sukarelawan untuk memenuhi kekurangan guru

8.     Memonitor kondisi sarana dan prasarana sekolah

 

D.   Evaluasi

1.     Mengevaluasi pelaksanaan program

2.     Mengevaluasi pelaksanaan dukungan-dukungan sarana dan pra sarana sekolah

3.     Mengevaluasi kebijakan di sekolah

4.   Mengevaluasi output sekolah

 

E.   Tindaklanjut

1.     Memberikan masukan atau pertimbangan pada saat revisi anggaran

2.     Memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana sekolah

3.     Menyampaikan hasil pelaksanaan program kepada stakeholder secara periodik

4.     Menyampaikan laporan pertanggung-jawaban  kepada masyarakat dan pemerintah.


Kepala Sekolah

Kepala sekolah mempunyai dua peran utama, pertama sebagai pemimpin institusi bagi para guru, dan kedua memberikan pimpinan dalam manajemen.

Pembaharuan pendidikan melalui manajemen berbasis sekolah (MBS) dan komite sekolah yang diperkenalkan sebagai bagian dari desentralisasi memberikan kepada kepala sekolah kesempatan yang lebih besar untuk menerapkan dengan lebih mantap berbagai fungsi dari kedua peran tsb.

Manajemen terbuka-menjadi transparan, akuntabel dan melibatkan banyak pihak dalam perencanaan, keuangan dan pengembangan program sekolah bersama sama dengan para guru dan masyarakat. Rencana sekolah dan RAPBS di pajangkan untuk dilihat semua pihak.

Banyak kepala sekolah yang dikunjungi selama studi, telah memanfaatkan kesempatan yang diberikan oleh SBM untuk menyesuaikan kinerjanya agar memenuhi situasi baru di sekolah dan di masyarakat, dan menerapkan perubahan-perubahan.

Mereka menyadari bahwa mereka harus lebih menjadi kolega dari pada atasan dari para guru dan bekerjasama lebih erat dengan para guru dan masyarakat dalam menangani permasalah-permasalah pendidikan.

Kerjasama penanganan masalah ini termasuk tugas pengelolaan penting, seperti: supervisi kelas untuk mendorong dan mendukung pelaksanaan PAKEM, memimpin pertemuan informal dengan para guru, untuk menstimulasi, berdiskusi dan berbagi pengalaman mengenai inovasi, menghargai dan mendukung hasil kerja dari komite sekolah untuk sekolah

Kepala sekolah melakukan supervisi kelas untuk mendorong dan mendukung pelaksanaan PAKEM. Dia duduk membantu anak belajar.

Beberapa perubahan kinerja kepala sekolah yang dilaporkan termasuk: (i) manajemen terbuka-menjadi transparan, akuntabel, dan melibatkan banyak pihak dalam perencanaan, keuangan dan pengembangan program sekolah bersama sama dengan para guru dan masyarakat; (ii) menciptakan dan mengelola suasana belajar yang ramah dan positif di sekolah; (iii) terbuka dan mendukung inovasi.

Di lain pihak, kepala sekolah lebih enggan dalam hal-hal lain, seperti mendelegasikan tanggung jawab pelaksanaan program sekolah kepada yang lain, mengunjungi dan memonitor guru kelas, atau memimpin rapat formal dengan komite dan orang tua murid lebih sering dari kebiasaan selama ini, yakni sebulan sekali, atau satu semester sekali.

Kepala sekolah mendorong guru untuk menciptakan dan mengelola suasana belajar yang ramah dan positif di sekolah

Beberapa kepala sekolah yang lebih berani, berada dalam tahap di mana mereka dan beberapa guru gurunya dapat mengembangkan inovasi mereka sendiri, sehingga menyebabkan guru dari sekolah lain beramai-ramai mengunjungi sekolah tsb dalam usaha mereka mencari gagasan gagasan baru. Kepala sekolah yang lebih progresif ini juga menggunakan berbagai strategi yang juga merupakan suatu inovasi untuk mendorong agar guru berinovasi, dan menularkan inovasi mereka ke guru lain di sekolah tsb.

Selain menemukan dana yang terbatas sebagai kendala untuk meningkatkan praktik, beberapa kepala sekolah, dengan bijak menemukan kebutuhan mereka sendiri untuk melakukan peningkatan diri.

Kepala sekolah medukung inovasi oleh guru. Dalam hal ini orang tua siswa membantu guru di kelas

Lebih lanjut, kepala sekolah yang lebih terbuka mengakui bahwa para guru mereka juga mengalami kendala untuk mengubah perilaku/kinerjanya di kelas daripada mengatakan bahwa guru mereka tidak responsif, melakukan usaha usaha positif, untuk membantu guru mengatasi ketakutan mereka.Kekhawatiran utama para kepala sekolah dan guru adalah belum tahu dampak penggunaan pendekatan PAKEM pada kinerja siswa Ujian Akhir Sekolah.

Sebagai simpulan, kepala sekolah nampak lebih nyaman melakukan peran pimpinan manajemen dari pada pimpinan pembelajaran. Beberapa kepala sekolah mempunyai persepsi mereka sendiri mengenai perannya lebih terfokus pada pimpinan institusi dan menganggap bahwa “mengajar adalah urusan guru”.

Para guru dan anggota komite melihat peran kepala sekolah dalam hubungan dengan peran mereka sendiri di dalam sekolah. Dalam hal ini, para guru menfokuskan kebutuhan mereka untuk dipenuhi oleh kepala sekolah untuk tugas kelas mereka.

Sejalan dengan itu, anggota komite membuat daftar fungsi-fungsi itu sebagai bagian dari peran kepala sekolah dalam pertemuan komite, yakni: fasilitator, motivator, advisor, inisiator , mediator, dan partner.

Adapun tugas kepala sekolah dalam pengembangan KTSP adalah sbb:

A.  Perencanaan

1.     Memimpin penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah/Madrasah dalam bidang akademik dan non akademik

2.     Membentuk tim rekayasa dan pengembangan kurikulum tingkat sekolah/madrasah

3.     Memfasilitasi analisis konteks Menyusun dan Mengembangkan KTSP (Menetapkan visi, misi, tujuan sekolah, struktur dan muatan kurikulum, silabus dan RPP).

4.     Menyusun dan Mengembangkan KTSP (Menetapkan visi, misi, tujuan sekolah, struktur dan muatan kurikulum, silabus dan RPP)

5.     Memfinalkan, menetapkan KTSP dan dokumen pendukung dalam Rapat kerja awal tahun ajaran

6.     Memfasilitasi guru dalam melakukan analisis standar isi dan standar kompetensi lulusan dan mengembangkannya menjadi silabus dan RPP.

 

B.   Pelaksanaan

  1. Menentukan indikator keberhasilan  pelaksanaan kurikulum.
  2. Mengadakan pertemuan persiapan dan menetapkan tugas guru dan tenaga kependidikan lainnya (menginformasikan deskripsi tugas dalam pelaksanaan kurikulum secara tegas).
  3. Memfasilitasi pengembangan bahan ajar yang sesuai agar kurikulum mudah dilaksanakan.
  4. Memfasilitasi sarana, media,  sumber belajar serta pendukung lainnya yang diperlukan dalam pelaksanaan kurikulum
  5. Melakukan kerja sama dengan stakeholder dan instansi terkait untuk memperlancar pelaksanaan kurikulum.
  6. Mengadakan pertemuan untuk membahas pelaksanaan kurikulum
  7. Mensosialisasikan KTSP dan memberikan motivasi guru dalam pelaksanaan KTSPMenciptakan iklim yang kondusif dan inovatif dalam pelaksanaan KTSP

 

C.   Monitoring

  1. Merancang kegiatan supervisi kelas dan guru.
  2. Melakukan supervisi kelas/kunjungan kelas, supervisi klinis dan observasi kegiatan belajar peserta didik
  3. Pengamatan kinerja guru dalam implementasi kurikulumMelakukan pertemuan rutin dengan guru dan siswa untuk mengecek pelaksanaan kurikulum
  4. Pertemuan rutin dengan dewan pendidik sebulan sekali untuk membahas hasil monitoring.
  5. Melakukan kunjungan kelas dan membuat catatan hasil kunjungannya.
  6. Memfasilitasi dalam pelaksanaan  penelitian tindakan (action research) dalam pengembangan manajemen kurikulum
  7. Membuka dialog/ pertemuan agar guru dapat berkonsultasi jika mengalami kesulitan dalam pelaksanaan kurikulum

 

 

D.   Evaluasi

1.     Melakukan penilaian pencapaian kompetensi

2.     Melakukan penilaian terhadap proses pelaksanaan kurikulum  pembelajaran dan guru dengan melibatkan peserta didik

3.     Menganalisis keberhasilan pelaksanaan Kurikulum

4.     Menilai penggunaan sarana, prasarana, dan media pembelajaran

5.     Menilai proses manajemen yang dilakukan kepala Sekolah

6.     Melakukan pembinaan tindak lanjut dan dialog dalam memecahkan problem dengan guru.

7.     Memberikan reward dan punishment

8.     Melakukan perbaikan dan pengembangan kurikulum dan tindak lanjut

Guru

Peran dan Tanggung-jawab Guru

 

Tahap

Uraian Kegiatan

Perencanaan Mengikuti in house training tentang pengembangan kurikulum, pengembangan silabus, dan RPP
Berperan aktif dalam tim  pengembang

kurikulum madsarah sesuai dengan kelompok bidang studi

Melakukan analisis standar isi dan SKL
Melakukan analisis SK/KD dan  pemetaan KD
Mengembangkan silabus
Menyusun RPP dan perangkat operasional yang mendukung RPP (LKS, bahan ajar, media yang sesuai)
Pelaksanaan Melaksanakan Proses Pembelajaran sesuai dengan Rencana pembelajaran

Menerapkan model pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran dan lingkungan madrasah (sesuai dengan KD?)

Memanfaatkan media pembelajaran yang sesuai dengan materi dan kondisi madrasah
Menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan
Mengembangkan interaksi pembelajaran (strategi, metode dan teknik yang tepat)
Mengelola kelas dengan baik dan sesuai dengan alokasi waktu yang tersedia
Monitoring Memahami indikator keberhasilan pelaksanaan kurikulum
Merefleksikan pelaksanaan proses pembelajaran yang dilakukan
Berkonsultasi dengan kepala Madrasah/Pengawas  untuk mengatasi kendala
Saling mengkoreksi, memberi masukan kepada teman sejawat dalam melaksanakan pembelajaran/penilaian
Evaluasi Menentukan jenis dan teknik penilaian hasil belajar
Mengumpulkan data dampak pembelajaran terhadap proses dan hasil belajar
Mengumpulkan data kelancaran proses pembelajaran dan kriteria keberhasilan
Melaksanakan penilaian hasil belajar.
Melakukan analisis penilaian
Melakukan penelitian tindakan kelas untuk menilai keefektifan pembelajaran
Membantu mengumpulkan data-data untuk evaluasi pencapaian hasil.
Tindak Lanjut Memilah hasil analisis penilaian
Melakukan remedial terhadap siswa yang belum memenuhi target kompetensi yang telah ditentukan
Memberikan pengayaan kepada siswa yang telah mencapai terget kompetensi
Menyusun laporan hasil pembelajaran

 

About these ads

Tentang suaidinmath

Tiada gading yang tak retak. Tetaplah semangat...karena perjalanan ribuan langkah dimulai dari satu langkah kecil. Mohon kontribusi untuk menambal retak dan menambah langkah kesempurnaan tulisan ini ...

Posted on 13 Februari 2012, in Pendidik. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. zulkarnain maidin massagoni dalle alamparita

    sampai hari tdk dapt dipungkiri hasil dan mutu keluaran belum dapat dilhat hasilnya selain gru pengawas dan kepala sekolah yg terpikirkan dunianya yg bayak artinya bgama ke3 aspek hanya mau hidup dalam mengajar bukan menghidupkan pendidikan yg benar .kenapa?keiganya mengerjakan pekerjaannya bukan rida Allah dicari jg kurang ikhlas selain itu hampir akhlaktdk diperlihatkan kepada anak didik.smg ada perubhan yg lebih baik krn mau mengoreksi diri

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Mr.Wahid's Blog

Media Belajar Mengajar Inspirasi dan Kreativitas

SeNdiMat

Seminar Nasional Pendidikan Matematika

I Wayan Widana

This site is dedicated for mathematic learning development

Layanan Pendidik & Tenaga Kependidikan (PTK)

Laman Layanan Untuk Pendidik dan Tenaga Kependidikan

sejarahdompu

Just another WordPress.com site

SUAIDINMATH'S BLOG

Technology Based Education

tentang PENDIDIKAN

konseling, pembelajaran, dan manajemen pendidikan

SUKSES SELALU

NIKMATILAH HIDUP..BEKERJA DENGAN ENJOY...JANGAN LUPA BERDOA.

PTK THE FRONTIERS OF NEW TECHNOLOGY

Smile! You’re at the best WordPress.com site ever

educatinalwithptk

PTK The Frontiers Of New Technology

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 125 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: