PELAKSANAAN MODEL PEMBELAJARAN TERPADU DI SEKOLAH & MADRASAH



Perencanaan pembelajaran terpadu adalah gambaran umum atau proyeksi kegiatan yang
akan dilakukan oleh guru selama melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Fungsi
perencanaan antara lain adalah sebagai acuan atau pedoman operasional pembelajaran,
agar proses pembelajaran dapat berjalan secara logis dan sistematis mengintegrasikan
berbagai komponen dan sumber pembelajaran untuk tercapainya tujuan pembelajaran
secara efektif dan efisien. Menurut Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang
Standar Nasional Pendidikan, bahwa perencanaan atau program pembelajaran meliputi
dua jenis yaitu: silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran. Dengan demikian setiap
model pembelajaran yang diterapkan termasuk model pembelajaran terpadu melalui dua
tahap perencanaan tersebut.
1. Silabus Pembelajaran Model Terpadu
Ciri utama pembelajaran terpadu adalah adanya keterkaitan antara beberapa materi
pembelajaran baik intra maupun antar mata pelajaran, antar semester dan antar
kelas. Oleh karena itu pembuatan silabus untuk model pembelajaran terpadu harus
mencerminkan adanya hubungan atau keterpaduan dari beberapa kompetensi dasar
yang diintegrasikan. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan
kompetensi dasar ke dalam materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator
pencapaian kompetensi untuk penilaian. Silabus merupakan penjabaran lebih lanjut
dari standar kompetensi, kompetensi dasar, dan pokok-pokok/uraian materi yang
harus dipelajari siswa ke dalam rincian kegiatan dan strategi pembelajaran,
kegiatan dan strategi penilaian, dan alokasi waktu per mata pelajaran per satuan
pendidikan dan per kelas.
Secara teknis tahap-tahap kegiatan dalam mengembangkan silabus model pembelajaran
terpadu dapat dilakukan melalui tahap kegiatan sebagai berikut:
a. Pemetaan kompetensi dasar; yaitu menganalisis kompetensi dasar dari setiap mata
pelajaran pada kelas dan semester yang sama.
b. Merumuskan indikator; yaitu menetapkan sejumlah ciri atau tanda yang
menggambarkan rumusan kualifikasi kemampuan belajar yang spesifik dari setiap
kompetensi dasar (KD).
c. Menetapkan tema; yaitu membuat tema atau topik yang akan mempersatukan setiap
kompetensi dasar yang diintegrasikan.
d. Dalam menentukan tema harus mempertimbangkan beberapa hal antara lain, tema
harus menarik perhatian siswa, sesuai dengan tingkat kemampuan berfikir (frame
work) siswa, sesuai dengan minat siswa, tema diusahakan agar disesuaikan dengan
masalah, situasi dan kondisi di daerah (currently).
2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Model Terpadu
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran adalah rencana yang menggambarkan prosedur
dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar yang
ditetapkan. Seluruh isi dan proses rencana pelaksanaan pembelajaran harus
07_Model kurikulum di daerah khusus bencana alam-2007
9
mencerminkan proses keterpaduan dan diarahkan pada upaya mencapai kompetensi
dasar yang ditetapkan secara terpadu.
Unsur-unsur pokok dalam rencana pelaksanaan pembelajaran meliputi: identitas mata
pelajaran, standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD), Indikator, Materi
Pembelajaran, Kegaiatan Pembelajaran, Alat/Media/Sumber Pembelajaran, Evaluasi.
B. Pelaksanaan Pembelajaran Terpadu
Pelaksanaan pembelajaran adalah kegiatan implementasi dari perencanaan yang telah
dibuat sebelumnya. Pembelajaran adalah proses komunikasi antara siswa dengan
lingkungan pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sesuai dengan model
yang dikembangkan yaitu model pembelajaran terpadu, maka proses pembelajaran yang
dilakukan harus sesuai dan mencerminkan pembelajaran secara terpadu (integrasi). Dalam
PP no. 19 tahun 2005, bahwa pembelajaran harus dilaksanakan secara aktif, komunikatif,
efektif, dan menyenangkan (PAKEM)
Secara sistematis pelaksanaan pembelajaran model pembelajaran terpadu pada dasarnya
sama dengan kegiatan pembelajaran pada umumnya. Perbedaanya terletak pada aktivitas
atau kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam setiap tahap kegiatan. Dalam pembelajaran
terpadu harus mencerminkan hakikat dari pembelajaran terpadu itu sendiri.
Adapun langkah umum yang ditempuh dalam melaksanakan pembelajaran terpadu
meliputi 3 tahap kegiatan yaitu:
1. Kegiatan Awal
Kegiatan awal pembelajaran dilakukan dengan tujuan untuk mencip-takan kondisi
siap belajar pada siswa. Kesiapan tersebut baik dari segi perhatian, motivasi, fisik,
mental maupun sosial dan emosionalnya agar tertuju pada aktivitas pembelajaran
yang akan dilakukan.
Secara spesifik strategi pelaksanaan kegiatan awal pembelajaran terpadu dapat
dilakukan melalui cara sebagai berikut:
a. Menjelaskan secara umum model pembelajaran yang akan dilaksanakan, karena
mungkin berbeda dengan pelaksanaan pembelajaran yang biasa dilakukan
b. Menjelaskan tujuan pembelajaran yang harus dicapai serta kegiatan-kegiatan
pembelajaran yang akan dilakukan
c. Menginformasikan topik yang akan menjadi pusat pembelajaran bagi peserta didik
dan dilanjutkan dengan curah pendapat (brainstorming) untuk memancing respon
peserta didik
2. Kegiatan Inti
Merupakan suatu kegiatan yang paling penting dalam suatu proses pembelajaran,
dimana seorang pendidik sebaiknya memahami dengan baik situasi dan kondisi yang
dihadapinya dalam suatu proses pembe-lajaran, sehingga informasi dapat diserap
dengan baik oleh peserta.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyampaian informasi dalam
melaksanakan model pembelajaran terpadu, antara lain:
a. Menyampaikan stimulus (stimulating) baik dengan contoh maupun ilustrasi terkait
dengan tema untuk mendorong siswa aktif berpikir
b. Urutan penyampaian materi, dengan menggunakan tahapan berpikir yang tepat,
dari mudah ke sulit, dari sederhana ke komplek dan lain sebagainya.
07_Model kurikulum di daerah khusus bencana alam-200
c. Melakukan proses klarifikasi (clarifying) untuk menindaklanjuti berbagai temuan
dan respon dari siswa terkait dengan konsep, gagasan atau ide yang muncul
dikaitkan dengan tema pembelajaran
d. Penekanan integrasi (redirecting) yaitu upaya untuk melakukan proses penyatuan
kembali pemahaman peserta didik terutama kaitan antar setiap konsep yang
bterdapat pada setiap kompetensi dasar dan hubungannya dengan tema
pembelajaran.
Setelah melihat pada kondisi dan situasi yang ada, selanjutnya seorang pendidik perlu
melakukan beberapa teknik pembelajaran yang tepat yang mampu menciptakan
suasana belajar yang aktif, kreatif dan menyenangkan tanpa menghilangkan makna
dari tujuan pembelajaran terpadu yang akan di capai dengan memperhatikan pula
karakteristik peserta didik yang terkena bencana alam.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan seorang guru dalam melaksanakan kegiatan inti
pembelajaran antara lain:
a. Menumbuhkan minat dan tuntunan berpikir siswa dengan mengajukan beberapa
jenis pertanyaan dasar dan lanjutan yang relevan
b. Menumbuhkan dan menciptakan interaksi belajar yang positif antara siswa dengan
siswa, siswa dengan guru, dan siswa dengan lingkungan
c. Selalu memberikan penguatan – penguatan positif yang mampu memelihara
motivasi siswa dalam belajarnya serta menumbuhkan rasa percaya diri
d. Dalam memberikan penguatan lakukan dengan berbagai variasi (verbal maupun
non verbal)
e. Memberikan bimbingan dan pengarahan dengan kehangatan dan keantusiasan
3. Kegiatan Akhir
Kegiatan akhir merupakan kegiatan untuk mengakhiri pembelajaran yang dilakukan
oleh seorang pendidik untuk menyimpulkan dengan tujuan antara lain :
a. Memusatkan perhatian siswa pada akhir pelajaran
b. Merangkum persoalan yang baru dibahas
c. Mengkonsolidasikan perhatian siswa terhadap hal-hal pokok dalam pelajaran
d. Mengorganisasikan semua kegiatan yang telah dipelajari siswa menjadi satu
kebulatan yang bermakna
e. Melakukan unjuk kerja sesuai dengan proses dan pengalaman belajar peserta didik
f. Melakukan kegiatan evaluasi
C. Beberapa ketentuan umum pelaksanaan pembelajaran terpadu
Agar setiap tahap kegiatan model pembelajaran terpadu dapat dilaksanakan secara tepat,
perlu memperhatikan beberapa ketentuan umum berikut ini:
• Efektivitas dan Efisiensi; yaitu proses pembelajaran terpadu harus diupayakan untuk
memberikan pengelaman belajar secara menyeluruh, konstekstual dan bermakna bagi
siswa.
• Keterlibatan Siswa; yaitu proses pembelajaran secara terpadu harus memfasilitasi
siswa agar lebih aktif, kreatif dan inovatif dalam melakukan proses pembelajarannya
dengan memanfaatkan sumber belajar secara luas dan bervariasi.
• Keterpaduan materi pembelajaran; yaitu proses pembelajaran hendaknya
mengintegrasikan beberapa materi atau konsep dari setiap mata pelajaran, dan
berbagai sumber informasi yang terkait.
07_Model kurikulum di daerah khusus bencana alam-2007
11
• Keterpaduan proses penyampaian; yaitu menggunakan berbagai pendekatan, multi
metode, media serta kegiatan yang menantang, menyenangkan dan dapat
menumbuhkan prakarsa bagi siswa.
• Keterpaduan pengalaman belajar; melalui pembelajaran terpadu hendaknya dapat
memberikan pengalaman yang menyeluruh bagi siswa baik kemampuan konsep
teoritis maupun keterampilan praktis.
• Relevansi Efistemologis; yaitu komunikasi pembelajaran harus disesuaikan dengan
karakteristik materi yang dipelajari, dan dapat membangun keaktipan belajar siswa.
• Relevansi Psikologis; yaitu proses pembelajaran harus disesuaikan dengan hakikat
peserta didik, baik sebagai individu maupun sebagai anggota kelompok
• Relevansi Sosial dan Moral; yaitu pembelajaran hendaknya disesuaikan dengan
kondisi dan situasi yang ada, baik dari segi lingkungan fisik, sosial, budaya atau
kultur, dan aspek-aspek lain yang terkait.
• Relevansi religi; yaitu pembelajaran hendaknya disesuaikan dengan hakikat peserta
didik sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa sehingga terbentuk manusia yang
berahlak mulia.
07_Model kurikulum di daerah khusus bencana alam-2007

Kesimpulan
1. Model pembelajaran di daerah bencana alam melalui model pembelajaran terpadu adalah
merupakan sebuah contoh alternatif pemberian layanan pembelajaran lepada peserta didik
pada jenjang pendidikan menengah yang meliputi Sekolah Menengah Atas (SMA)/
Madrasah Aliyah (MA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)/ Madrasah Aliyah
Kejuruan (MAK).
2. Model pembelajaran ini dikembangkan tidak untuk semua mata pelajaran atau materi
pelajaran secara keseluruhan, Namur hanya mencakup beberapa mata pelajaran dan
kompetensi dasar yang memiliki hubungan atau memiliki keterkaitan saja.
3. Penerapan model pembelajaran ini sebagai alternatif model pembelajaran di daerah
bencana alam dalam prosesnya dapat dikembangkan oleh masing-masing satuan
pendidikan seperti kompetensi dasar, tema/ topik, dan materi untuk di sesuaikan dengan
masalah, situasi, dan kondisi di daerah bencana alam.
4. Melalui model pembelajaran ini, diharapkan dapat menumbuhkan semangat juang dan
motivasi baik terhadap guru, kepala sekolah dan masyarakat di daerah bencana alam
untuk tetap memberikan layanan pembelajaran yang terbaik dan bermakna serta dapat
menghilangkan kesedihan kepada peserta didik di daerah bencana alam.
B. Reskomendasi
1. Agar model pembelajaran di daerah bencana alam ini dapat diketahui dan dipahami baik
oleh guru, kepala sekolah, ahli pendidikan, masyarakat dan sebagainya maka harus segera
disosialisasi baik melalui media elektronik maupun dengan cara mengirim staf Pusat
Kurikulum, Badan Pengembangan dan Penelitian – Departemen Pendidikan Nasional ke
berbagai daerah-daerah di seluruh wilayah Indonesia yang terkena bencana alam.
2. Agar dalam pelaksanaannya model pembelajaran di daerah bencana alam ini dapat
diterapkan tanpa mendapat hambatan, maka Pusat Kurikulum, Badan Penelitian dan
Pengembangan – Departemen Pendidikan Nasional harus segera melaksanakan Pelatihan
terhadap guru-guru di daerah-daerah bencana alam di seluruh wilayah Indonesia.
07_Model kurikulum di daerah khusus bencana alam-2007
13
KEPUSTAKAAN
Sri Anitah, 2003. Pembelajaran Terpadu: Paradigma Konstruktivistik dalam Rangka
Pengembangan Kecerdasan Ganda. Pidato Pengukuhan Guru Besar FKIP UNS.
Surakarta: Sebelas Maret University Press.
Suparman, Atwi, M. 2001. Desain Instruksional. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Pusat Antar Universitas Untuk Peningkatan dan Pengembangan Aktivitas
Instruksional, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Sutrijat, Sumadi, 1999, Geografi 1 Sekolah Menengah Umum Kelas 1, Jakarta : Dian Rakyat
Sunaryo, 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Fajar, Arnie, 2002, Portofolio dalam pelajaran IPS, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya.
Zais, Robert. S (1976). Curriculum, Principles and Foundation, Harper & Row, Publisher,
New York: Hagerstown San Francisco – London
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No.22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan
Pendidikan Dasar dan Menengah
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No.23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi
Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No.24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Peraturan
Menteri Pendidikan Nasional No. 22 dan 23 tahun 2006.
Undang-undang Dasar Republik Indonesia 1945 amandemen keempat, pasal 31, ayat 2
tentang pendidikan.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional
Undang Undang Republik Indonesia Nomor.24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana
07_Model kurikulum di daerah khusus bencana alam-2007
14

About these ads

2 Comments

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s