PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KEPENGAWASAN


Judul :  Meningkatkan Kemampuan Guru SMA   Menggunakan Media Pembelajaran Matematika Melalui Pelatihan Model ”Kelasmen” Pada Sekolah Binaan Di Kabupaten Dompu Tahun 2009

I. Pendahuluan

A.                     Latar Belakang

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh suatu asumsi bahwa peningkatan mutu pembelajaran di sekolah dapat dicapai melalui peningkatan mutu sumber daya manusia (guru dan tenaga kependidikan lainnya), walaupun diakui bahwa komponen-komponen lain turut memberikan kontribusi dalam peningkatan mutu pembelajaran. Peningkatan sumber daya menusia telah banyak dilakukan pemerintah, terutama peningkatan kompetensi guru. Usaha ini berupa peningkatan kompetensi melalui pendidikan dan pelatihan, workshop atau bentuk lainnya.

Disamping itu, peningkatan profesionalisme guru juga dilakukan melalui kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) bagi guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan guru Sekolah Menengah Atas (SMA), atau pola-pola lain seperti seminar, lokakarya atau workshop. Namun demikian prestasi belajar siswa masih memprihatinkan dan sampai saat ini kenyataannya bahwa prestasi belajar yang dicapai secara nasional belum semuanya sesuai dengan standar minimal yang ditetapkan pemerintah.

Hal yang sama juga terjadi terhadap guru matematika di sekolah binaan Penulis di kabupaten Dompu. Pelatihan terhadap guru-guru di sekolah binaan tersebut telah banyak diikutkan dalam kegiatan diklat baik yang dilaksanakan oleh Pengawas Binaan itu sendiri, LPMP, Bimtek KTSP-SSN oleh Direktorat Pembinaan SMA yang difasilitasi oleh Fasilitator Pusata maupun daerah, PPPPTK, atau oleh Dinas Pendidikan Kota Dompu, namun hasil belajar siswa mereka masih dibawah standar yang diharapkan.

Pengamatan yang dilakukan peneliti selama menjadi fasilitator dalam kegiatan workshop atau diklat , bahwa pada struktur program dalam panduana  pelatihan yang disusun pada setiap kegiatan diklat atau workshop, masih didominasi oleh kegiatan menyusun administrasi pembelajaran, dan hanya sedikit kegiatan yang membimbing guru dalam penguasaan materi serta penggunaan media pembelajaran.

Disamping itu, pada umumnya para guru yang telah mengikuti diklat atau workshop jarang mensosialisasikan hasil-hasil diklatnya kepada rekan-rekan mereka di sekolah. Hal ini terjadi karena kepala sekolah mereka jarang memberi kesempatan untuk mensosialisasikan hasil diklat kepada rekan-rekannya di sekolah.

Berdasarkan hal tersebut, Nawawi (1993) menyatakan bahwa ” program kelas tidak akan berarti bilamana tidak terwujudkan menjadi kegiatan. Untuk itu peranan guru sangat menentukan karena kedudukannya sebagai pemimpin pendidikan di antara peserta didik dalam suatu kelas”. Guru bertanggung jawab untuk mengatur, mengarahkan dan menciptakan  suasana yang dapat mendorong peserta didik untuk melaksanakan  kegiatan-kegiatan di dalam kelas.

Untuk menunjang tugas tersebut maka guru perlu ditunjang dengan kemampuan profesional yang memadai. Guru yang profesional adalah guru yang menguasai kurikulum, menguasai materi pelajaran, menguasai metode-metode pembelajaran, menguasai penggunaan media pembelajaran, menguasai teknik penilaian pembelajaran, dan komitmen terhadap tugas.

Dengan demikian diharapkan proses pembelajaran yang dilaksanakan guru, dapat dicapai tanpa pemborosan waktu, tenaga, material, finansial, dan bahkan pemikiran sehingga pada gilirannya tujuan sekolah dapat dicapai secara efektif dan efisien.

Beeby (1987) menyatakan bahwa pelajaran-pelajaran yang diberikan guru amat kurang sekali variasinya, dan dengan sedikit kekecualian, pola yang sama telah menjadi standar di ulang-ulang sepanjang jam pelajaran sekolah. Kadang-kadang guru mulai mengajar dengan hanya mendiktekan saja pelajarannya dan jika masih ada waktu baru memberikan penjelasan sekedarnya tanpa variasi dengan penggunaan media yang sesuai maupun sumber-sumber belajar yang memadai. Apabila kebiasaan seperti itu tetap dipraktekan oleh para guru di kelas selama proses pembelajaran, maka dapat dipastikan bahwa peningkatan mutu pendidikan akan sulit dicapai.

Pada umumnya kegiatan guru  hanya mentrasfer pengetahuan atau pengalamannya dengan sedikit memberi kesempatan siswa untuk berdiskusi dan diakhiri dengan pemberian tugas atau latihan tanpa menggunakan media dan sumber belajar yang memadai.

Hasil pengamatan atau dialog peneliti dengan beberapa guru di sekolah binaan di kota Dompu, bahwa kebanyakan  mereka kurang menguasai penggunaan media dan sumber belajar yang ada sehingga pembelajaran yang mereka laksanakan masih didominasi dengan cara mentrasfer dari pada menciptakan pembelajaran yang memberi kesempatan siswa untuk mengkonstruksi pengetahuannya. Bettencourt,1989 dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (2006) menyatakan  “Konsep keilmuan tidak dapat ditransfer oleh guru kepada siswa melainkan siswa itu sendiri yang mengkonstruksinya dari data yang diperoleh melalui pancaindranya”. Oleh karena itu diperlukan adanya perubahan paradigma dalam melaksanakan pembelajaran yang semula guru berpikir bagaimana mengajar menjadi berpikir bagaimana siswa belajar.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti berkeinginan membantu guru meningkatkan kemampuan mereka  menggunakan media Pembelajaran Matematika Melalui Pelatihan model ”Kelasmen”.

B.                     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang ada, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah

1.      Bagaimana meningkatkan kemampuan guru sekolah dasar dalam menggunakan media pembelajaran matematika melalui pelatihan model ”Kelasmen”?

2.      Bagaimana kemampuan guru sekolah dasar dalam menggunakan media pembelajaran setelah mengikuti Pelatihan model ”Kelasmen”?

C.  Tujuan  Penelitian

Sesuai dengan permasalahan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan model pelatihan yang dapat meningkatkan kemampuan guru menggunakan media pembelajaran dan ketrampilan menggunakan media pembelajaran.

D.  Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai alternatif untuk meningkatkan kemampuan guru menggunakan media pembelajaran.

II.  Tinjauan Pustaka

A. Konsep Pembelajaran Dalam Diklat

Proses pembelajaran dalam arti luas merupakan jantung dari pendidikan, untuk membangun watak dan karakter dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pembelajaran atau instruction merupakan konsep pedagogik yang secara teknis diartikan sebagai upaya sistimatik dan sistemik untuk menciptakan lingkungan belajar yang potensial, menghasilkan proses belajar yang bermuara pada berkembangnya potensi individu sebagai peserta didik. Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Nomor 20 tahun 2003 disebutkan bahwa “ Pembelajaran diartikan sebagai “ … proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”.

Sedangkan belajar menurut Gredler (1986:1) “ adalah proses yang dilakukan manusia untuk mendapatkan aneka ragam competencies, sklls and attitudes. Para pakar psikologi melihat prilaku belajar sebagai proses psikologi individu  dalam interaksinya dengan lingkungan secara alami, sedangkan pakar pendidikan melihat perilaku belajar sebagi proses psikologi-pedagogis yang ditandai dengan  adanya interaksi individu dengan lingkungan belajar yang sengaja diciptakan. Jadi belajar dan pembelajaran memiliki keterkaitan substansi dan fungsional.

Pendidikan  dan Pelatihan (Diklat) merupakan wahana pembelajaran orang dewasa atau andragogik yang berbasis bekal ajar awal, bersifat peningkatan kinerja profesional bagi pendidik dan tenaga kependidikan. Oleh karena itu strategi pembelajaran dalam diklat seyogyanya menerapkan paradigma meta-learning and meta-teaching yang berarti widyaiswara berempati pada posisi bagaimana peserta diklat belajar dan membelajarkan untuk tujuan profesional development (pengembangan profesional). Dengan demikian proses pembelajaran dalam diklat harus mampu memfasilitasi interaksi kesejawatan yang memungkinkan terjadinya saling berbagi ide dan pengalaman guna meningkatkan kinerja profesional.

B. Prinsip Pembelajaran Dalam Diklat

Diklat merupakan pendidikan bagi orang dewasa yang mengembangkan interaksi antara penatar dengan peserta diklat dengan menerapkan prinsip-prinsip andragogy/pendidikan orang dewasa. Pusdiklat Depdiknas (2003) menguraikan aplikasi prinsip pembelajaran orang dewasa antara lain sebagai berikut :

a.       Orang dewasa perlu mengetahui mengapa mereka harus mempelajari sesuatu dan harus siap belajar. Alasannya adalah pada awal pembelajaran sebagai pegantar harus ada kaitan isi materi diklat dengan pekerjaan mereka. Bagian ini merupakan bagian penting untuk meletakkan dasar yang kuat dari kseluruhan pembelajaran.

b.      Peserta diklat cenderung berfokus pada kegiatan pembelajaran yang berkaitan dengan kehidupan, tugas, dan pemecahan masalah. Prinsip ini memberitahukan bahwa orang dewasa ingin memperoleh pengetahuan yang praktis dan menerapkan hal-hal yang dipelajari dalam pekerjaan mereka atau dalam kehidupan pribadi.

c.       Peserta diklat dapat belajar dengan baik, ketika berpraktek dan bekerja atas dasar pengetahuan dan keterampilan serta sikap baru.

Disamping itu, proses belajar untuk orang dewasa dapat menganut model yang dikembangkan oleh Kolb, DA (1984) yaitu membangun pengetahuan melalui transformasi pengalaman. Menurut model ini proses belajar berlangsung melalui empat fase atau tahapan yang melipuiti :

  • Individu memperoleh pengalaman langsung dan konkret
  • Dikembangkan observasi dan dipikirkan atau merefleksikannya
  • Akan terbentuk generalisasi dan abstraksi
  • Implikasi yang diambil dari konsep tersebut dijadikan pengalaman baru.

Agar terjadi hasil pembelajaran yang efektif oleh peserta diklat, mereka harus mempunyai empat macam kemampuan sebagai berikut :

No Kemampuan Uraian Pengutamaan
1 Concrete experience (CE) Peserta diklat melibatkan diri sepenuhnya dalam pengalaman baru Feeling (perasaan)
2 Reflection Observation (RO) Peserta diklat mengobservasi dan merefeksi atau memikirkan pengalaman dari berbagai segi Watching (mengamati)
3 Abstract conceptualization (AC) Peserta diklat  menciptakan konsep-konsep yang mengintegrasikan pengamatannya menjadi teori yang sehat Thinking (berpikir)
4 Active eksperimentation (AE) Peserta Diklat menggunakan teori itu untuk memecahkan masalah-masalah dan mengambil keputusan Doing (berbuat)

C. Pelatihan Model “ Kelasmen”

Model Pelatihan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah pelatihan model ”Kelasmen” yang dilandasi teori belajar konstruktivis yang memberi kesempatan peserta mengkomunikasikan pengetahuan dan pengalamannya setelah menggunakan media pembelajaran. Model pelatihan tersebut berdasarkan pada proses belajar untuk orang dewasa yang dikembangkan oleh Kolb, DA (1984) yaitu membangun pengetahuan melalui transformasi pengalaman.

Untuk mengungkapkan tingkat keterlibatan dan pemahaman peserta pada penelitian ini digunakan kerangka kerja ”Kelasmen” yaitu model pelatihan yang dimulai dari Kegiatan-Penjelasan- Implementasi yang diadopsi dari teori belajar Action Process Object

Scema (APOS) dari Dubinsky (2000)

Kegiatan (tindakan) adalah manipulasi fisik atau mental yang dapat diulang yang mentransformasikan obyek dengan suatu cara. Bila keseluruhan kegiatan menempati seluruhnya dalam pikiran individu atau hanya diimajinasikan/dibayangkan (saat terjadi) tanpa individu memerlukan semua langkah-langkah khusus, maka kegiatan itu telah diinteriorisasikan menjadi suatu penjelasan. Kejadian-kejadian kognitif yang dapat menginteriorisasikan suatu kegiatan menuju suatu penjelasan dikatakan bahwa perkembangan pengetahuan peserta berada pada tahap intra.

Bila penjelasan-penjelasan itu sendiri ditransformasikan oleh suatu tindakan maka dikatakan bahwa penjelasan telah dienkapsulasikan menjadi kemampuan mengimplementasikan. Bila hal ini terjadi yaitu peserta mampu mengenkapsulasi suatu penjelasan menuju kemampuan mengimplementasikan, maka perkembangan keterampilan peserta dikatakan berada pada tahap inter.

Disamping  mengungkapkan tingkat pemahaman peserta, kerangka kerja ”Kelasmen” juga dapat dipakai untuk mengungkapkan tingkat keterlibatan peserta dalam proses belajar. Keterlibatan peserta tersebut dapat diamati dari tindakan (kegiatan) yang dilakukan peserta dengan menggunakan berbagai media (alat) dalam menyelesaikan masalah, mengkomunikasikan (penjelasan) pengetahuan kepada peserta lain, mengimplementasikan berbagai media dalam pembelajaran suatu konsep yang dihadapi dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya.

D.  Langkah-Langkah Pelatihan

1.   Fase-fase Pelatihan

Ciri utama pelatihan model ”Kelasmen” adalah pelatihan yang dimulai dari melakukan kegiatan manipulasi, mengkomunikasikan hasil kegiatan sehingga tercipta kerjasama diantara sesama peserta, dan kemampuan mengimplementasikan dengam konsep-konsep baru dalam pembelajaran. Ada enam fase utama dalam pelatihan model ”Kelasmen”. Keenam fase itu disajikan seperti  pada tabel berikut :

Fase Indikator Aktifitas fasilitator Aktifitas Peserta
 

1

 

Orientasi peserta kepada masalah

Fasilitator menjelaskan tujuan pelatihan, menjelaskan sarana/bahan yang dibutuhkan, memotivasi peserta untuk terlibat dalam pemecahan masalah dengan melakukan suatu kegiatan atau tindakan  

Memperhatikan penjelasan fasilitator dan tanya jawab tentang tugas-tugas yang akan dilakukan

 

2

 

Mengorganisasikan peserta untuk belajar

Membantu peserta mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah Membentuk kelompok heterogen berdasarkan kemampuan, keterampilan dan pemahaman mereka tentang media pembelajaran
 

3

Membimbing peserta melakukan sesuatu baik  secara individu maupun kelompok Fasilitator mendorong peserta untuk melakukan sesuatu dengan menggunakan material manipulatif, gambar-gambar atau sumber-sumber lain untuk memecahkan masalah Mendiskusikan masalah yang diberikan fasilitator tentang pengertian, jenis, fungsi dan penggunaan  media dalam kegiatan pembelajaran
 

4

Menjelaskan atau mengkomunikasikan hasil karya berdasarkan yang telah dilakukan Fasilitator membantu peserta menjelaskan atau mengkomunikasikan hasil karya kepada peserta  lain Mendemonstrasikan penggunaan media pembelajaran sesuai topik bahasan yang dipilih
 

5

 

Mengembangkan masalah dalam bentuk-bentuk lain

 

Fasilitator mendorong dan membimbing peserta mengembangkan masalah dengan cara-cara lain

  • Menjelaskan cara pembuatan, penggunaan dan keterkaitan media dengan konsep yang diajarkan
  • Mengembangkan media pembelajaran sesuai sumber-sumber yang ada
6 Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah Fasilitator membantu peserta untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan Merangkum dan mendokumentasikan pengalaman atau hasil yang mereka peroleh

2.   Pelaksanaan Pelatihan

Fase 1 : Orientasi peserta kepada masalah

Agar kegiatan peserta berorientasi kepada masalah, maka perencanaan pelatihan yang dirancang dan dimulai dari kegiatan penetapan tujuan yang jelas, kemudian merancang situasi masalah yang akan diselesaikan peserta, dan mengorganisasikan sumber daya serta rencana logistik yang digunakan.

a.   Penetapan tujuan

Dalam pelaksanaannya, pelatihan model ”Kelasmen” diarahkan untuk mencapai tujuan yang sifatnya membantu peserta mengembangkan ketrampilan berpikir dan pemecahan masalah, dan menjadi peserta yang mandiri

b.   Merancang situasi

Pelatihan model ”Kelasmen” dirancang untuk memberi keleluasaan kepada peserta memilih masalah untuk diselidiki dan dicoba, karena cara ini dapat meningkatkan motivasi peserta. Masalah yang dirancang sebaiknya authentik, mengandung teka-teki, memungkinkan kerjasama,

c.   Organisasi sumber daya dan rencana logistik

Dalam pelatihan model “Kelasmen” peserta belajar dengan berbagai sarana, material, atau peralatan. Pelaksanaannya dapat dilakukan di kelas, di laboratorium, di perpustakaan  atau di luar kelas bahkan di luar tempat pelatihan. Oleh karena itu pengorganisasian sumber daya dan logistik menjadi tugas fasilitator yang utama dalam merancang pelatihan model “Kelasmen”

Fase 2 : Mengorganisasikan peserta untuk belajar

Pelatihan model ”Kelasmen” dibutuhkan pengembangan ketrampilan kerjasama dalam melakukan sesuatu untuk memecahkan masalah. Untuk itu perlu bantuan fasilitator dalam merencanakan dan mengorganisasikan tugas-tugas peserta, sehingga diperlukan kelompok belajar kooperatif. Pengorganisasian peserta dalam kelompok ini memperhatikan kemampuan/keterampilan akademik peserta, sosial, ekonomi, budaya bahkan agama.

Fase 3 : Membimbing peserta melakukan sesuatu baik  secara individu maupun kelompok

Pada fase ini fasilitator  membantu peserta mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, dilatih dengan berbagai pertanyaan untuk membantu peserta memikirkan suatu tindakan untuk memecahkan masalah. Disamping itu fasilitator  mendorong peserta untuk melakukan sesuatu dengan menggunakan material manipulatif, gambar-gambar atau simbol-simbol untuk memecahkan masalah

Fase 4 : Menjelaskan atau mengkomunikasikan hasil karya

Fasilitator  mendorong terjadinya pertukaran informasi atau ide secara bebas dalam melatih peserta mengkomunikasikan konsep yang dimiliki sehingga terciptanya kemampuan peserta menjelaskan konsep menggunakan media/sumber pada peserta lain.

Fase 5 : Mengembangkan masalah dalam bentuk-bentuk lain

Fasilitator mendorong dan membimbing peserta mengembangkan masalah dengan cara menyajikan dalam bentuk lain.

Fase 6 : Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Tugas fasilitator pada fase akhir ini adalah membantu peserta menganalisis dan mengevaluasi proses berpikir mereka sendiri, dan ketrampilan penyelidikan yang mereka gunakan.

ENAKTIF

Peserta menggunakan material untuk memecahkan masalah

IKONIK

Peserta menggunakan gambar untuk memecahkan masalah

3. Alur Pelatihan.

III. Prosedur Penelitian

A. Setting Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada Lima sekolah binaan yaitu SMAN 1 Dompu, SMA Negeri 1 Kempo, SMA 2 Kempo, SMA 1 Woja  dan SMA Kosgoro Dompu  dengan sasaran 15 orang guru Matematika yang mengajar di kelas X , XI dan XII . Waktu penelitian selama tiga bulan mulai pertengahan Januari 2009 sampai pertengahan Maret 2009. Pelatihan ini dilaksanakan di dua wilayah kecamatan binaan pada siklus ke-1 pusat kegiatan di SMA Kosgoro Dompu, dan siklus ke-2 di pusaaatkan di SMAN 1 Kempo.

B.   Tahap-Tahap Penelitian.

Tahap-tahap yang dilakukan peneliti dalam penelitian ini adalah  (1)  tahap pendahuluan/refleksi awal, (2) tahap perencanaan, (3) tahap pelaksanaan tindakan,

(4) tahap observasi dan (5) tahap refleksi.  Uraian masing-masing tahap tersebut adalah sebagai berikut:

(1).  Tahap Pendahuluan/Refleksi Awal

Pada tahap refleksi awal kegiatan yang dilakukan peneliti adalah dialog dengan kepala sekolah dan guru matematika tentang kemampuan mereka menggunakan media pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.

(2)Tahap Perencanaan

Pada tahap perencanaan, kegiatan yang dilakukan adalah menyusun struktur program pelatihan, menyiapkan bahan-bahan pelatihan, menyiapkan alat/media pembelajaran yang dibutuhkan dalam pelatihan, menyusun instrumen pengamatan peserta dan fasilitator, menyusun jadwal kegiatan pelatihan. Penelitian ini direncanakan terlaksana sebanyak dua siklus, yaitu siklus kesatu melaksanakan tindakan pelatihan dengan menggunakan metode pembelajaran deduktif. Siklus kedua melaksanakan tindakan pelatihan dengan menggunakan metode pembelajaran induktif

(3). Tahap Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan tindakan yang dimaksudkan adalah melaksanakan pelatihan sesuai rencana dengan skenario sebagai berikut

Siklus 1.  :     Menerapkan pelatihan model “Kelasmen” dengan menggunakan metode deduktif yaitu peserta diberikan pemahaman penggunaan media pembelajaran secara teoritis (enactive, iconic) kemudian peserta mendiskusikan dan menggunakannya dalam pembelajaran dikelompok masing-masing

Siklus 2.:       Menerapkan Pelatihan model “Kelasmen” dengan menggunakan metode induktif yaitu peserta diminta menggunakan media pembelajaran dan menjelaskan cara menggunakannya pada peserta lain.

(4).  Observasi

Kegiatan observasi adalah mengamati aktivitas peserta diklat dengan menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan dan dilakukan oleh teman sejawat

(5). Refleksi

Pada kegiatan refleksi, peneliti melakukan diskusi dengan pengamat untuk menjaring hal-hal yang terjadi sebelum dan selama tindakan berlangsung berdasarkan hasil pengamatan, catatan lapangan, dan hasil wawancara dengan  subyek  penelitian agar dapat diambil kesimpulan dalam merencanakan tindakan selanjutnya.

C.     Data dan Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini adalah guru matematika di SMA binaan tersebut yang mengajar di kelas X ,XI dan XII . Sedangkan data penelitian adalah  data kualitatif  yang diperoleh dari :

1.      Pengamatan Partisipatif.

Pengamatan partisipatif dilakukan oleh orang yang terlibat secara aktif dalam proses pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar pengamatan. Hasil pengamatan digunakan untuk menilai keaktifan peserta dalam mengikuti diklat dan kontribusinya dalam membantu teman sejawat menyelesaikan masalah

2.      Keterampilan mendesain media pembelajaran

Untuk menilai kemampuan peserta mendesain media sederhana menggunakan lingkungan sekitar sesuai mata diklat

3.      Keterampilan menggunakan media pembelajaran.

Untuk  menilai keterampilan peserta diklat dalam mengimplementasikan media pembelajaran

4.      Wawancara.

Wawancara dimaksudkan untuk menggali kesulitan peserta dalam mendesain dan mnggunakan media pembelajaran

D. Analisis Data

Moleong (1999 :190) menyatakan bahwa proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber yaitu dari wawancara, pengamatan yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar, foto dan sebagainya.

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis data kualitatif yaitu analisis berdasarkan penalaran logika. Analisis tersebut digunakan atas pertimbangan bahwa, jenis data yang diperoleh berbentuk kalimat-kalimat dan aktivitas-aktivitas peserta diklat

Jadwal Kegiatan Penelitian

Kegiatan penelitian direncanakan terjadwal seperti berikut :

 

Kegiatan

Pelaksanaan
Maret 09 April 09 Mei 09 Juni 09
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Persiapan 

a.    Penyusunan proposal

b.    Pengiriman proposal

c.    Penyusunan instrumen penelitian dan daftar wawancara

d.    Penyusunan skenario pelatihan dan penyiapan bahan-bahan lain yang diperlukan

2. Pelaksanaan 

a.    Seminar proposal

b.    Revisi proposal, instrumen penelitian dan daftar wawancara

c.    Pengambilan data di lapangan

d.    Analisis data dan verifikasi data

e.    Seminar hasil

f.     Penyusunan draft laporan

 

 

3. Pelaporan  

a.    Penyusunan laporan akhir

b. Pengiriman laporan

Rencana Anggaran

 

N0

 

Kegiatan/Sub Kegiatan/Jenis

 

Volume

Harga Satuan Jumlah Biaya
1 Belanja jasa lainnya
a. Penyusunan proposal dan laporan 1 keg. 2
b. Penyusunan materi/modul/bahan ajar 1 keg. 1
c.   Penyusunan instrumen penelitian 1 keg. 2
d.   Penyusunan lembar kegiatan peserta 2 keg. 2
Jumlah
2 Belanja Barang operasional lainnya
a. Pengadaan media/alat peraga 2 keg. 2
b. Penggandaan bahan materi penunjang 2 keg. 2
Jumlah
3 Transportasi lainnya
a. Transport, konsumsi peserta 2 keg. 12
b. Transport, konsumsi pengamat 2 keg. 2
c. Transport, konsumsi peneliti 2 keg. 2
Jumlah total

Daftar Pustaka

1.      Beeby, C.E. 1987. Pendidikan di Indonesia. Terjemahan BP3Kdan YIIS, Jakarta.

2.      Depdiknas. 2003. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003. Jakarta.

3.      Depdiknas. 2007. Pedoman Pengembangan Strategi Pembelajaran Pendidikan Dan Penataran Pendidikan Formal Jakarta.

4.      Gredler, Bell Margaret E.1986. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.

5.      Kolb,DA. 1984. Experiential Learning. Engelwood Clitfs New Jersey Prentice Hall

6.      Nawawi, Hadari. 1993. Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas. Jakarta : Gunung Agung.

7.      Pusdiklat. 2003. Prinsip-prinsip Manajemen Penataran. Sawangan: Pusdiklat Pegawai Depdiknas

8.      Zazkis, R & Campbell, S. 1996. Divisibility and Multiplicative Structure of Natural Numbers. Preservice Teachers Understanding. Journal For Research in Mathematics Education. 27(5): 540-563.

Daan seterusnya …………………………………

About these ads

About suaidinmath

Tetaplah semangat...karena perjalanan ribuan langkah dimulai dari satu langkah kecil. Mohon kontribusi untuk menambal retak dan menambah langkah kesempurnaan tulisan ini ...

Posted on 29 Januari 2011, in Pendidik. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pagar Alam dot Com

Berbagi Informasi Pendidikan dan Pembelajaran Matematika

Mr.Wahid's Blog

Media Belajar Mengajar Inspirasi dan Kreativitas

SeNdiMat

Seminar Nasional Pendidikan Matematika

I Wayan Widana

This site is dedicated for mathematic learning development

Layanan Pendidik & Tenaga Kependidikan (PTK)

Laman Layanan Untuk Pendidik dan Tenaga Kependidikan

sejarahdompu

Just another WordPress.com site

SUAIDINMATH'S BLOG

Technology Based Education

tentang PENDIDIKAN

konseling, pembelajaran, dan manajemen pendidikan

SUKSES SELALU

NIKMATILAH HIDUP..BEKERJA DENGAN ENJOY...JANGAN LUPA BERDOA.

PTK THE FRONTIERS OF NEW TECHNOLOGY

Smile! You’re at the best WordPress.com site ever

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 138 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: