STRATEGI DAN METODE PEMBELAJARAN



Pada mulanya istilah strategi digunakan dalam dunia militer yang diartikan sebagai  cara penggunaan seluruh kekuatan militer untuk memenangkan suatu peperangan. Seorang yang berperan dalam mengatur strategi, untuk memenangkan peperangan sebelum melakukan suatu tindakan, ia akan menimbang bagaimana kekuatan pasukan yang dimilikinya baik dilihat dari kuantitas maupun kualitas; misalnya kemampuan setiap personal, jumlah dan kekuatan persenjataan, motivasi pasukannya dan lain sebagainya. Selanjutnya ia juga akan mengumpulkan informasi tentang kekuatan lawan, baik jumlah prajuritnya maupun keadaan persenjataannya. Setelah semuanya diketahui, baru kemudian ia akan menyusun tindakan apa yang harus dilakukannya, baik tentang siasat peperangan yang harus dilakukan, taktik dan teknik peperangan, maupun waktu yang pas untuk melakukan suatu serangan dan lain sebagainya. Dengan demikian dalam menyusun strategi perlu memperhitungkan berbagai faktor, baik ke dalam, maupun ke luar.

Demikian pula halnya seorang pelatih sepakbola, ia akan menentukan strategi yang dianggapnya tepat untuk memenangkan suatu pertandingan setelah ia memahami segala potensi yang dimiliki tim-nya.  Apakah ia akan melakukan strategi menyerang dengan pola  2-3-5 misalnya; atau stategi bertahan dengan pola 5-3-2, semuanya sangat tergantung kepada kondisi tim yang dimilikinya serta kekuatan tim lawan..

Dari dua ilustrasi tersebut dapat kita simpulkan, bahwa strategi digunakan untuk memperoleh kesuksesan atau keberhasilan dalam mencapai tujuan.

Dalam dunia pendidikan strategi diartikan sebagai a  plan, method, or series of activities designed to achieves a particular educational goal (J.R. David, 1976). Jadi dengan demikian strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai  perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didisain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.Ada dua hal yang patut kita cermati dari pengertian di atas. Pertama, strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya/kekuatan  dalam  pembelajaran. Ini berarti penyusunan suatu strategi baru sampai pada proses  penyusunan rencana kerja belum sampai pada tindakan.  Kedua, strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Artinya arah dari semua keputusan penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan. Dengan demikian penyusunan langkah-langkah pembelajaran, pemanfaatan berbagai fasilitas dan sumber belajar semuanya diarahkan dalam upaya pencapaian tujuan. Oleh sebab  itu sebelum menentukan strategi, perlu dirumuskan tujuan yang jelas, yang dapat diukur keberhasilannya, sebab tujuan adalah rohnya dalam implementasi suatu strategi.

Kemp (1995) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran  yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Senada dengan pendapat di atas, Dick and Carey (1985) juga menyebutkan bahwa strategi pembelajaran itu adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa.Nah, sekarang bagaimana upaya mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun  tercapai secara optimal, ini yang dinamakan dengan metode. Ini berarti,  metode digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan. Dengan demikian, bisa terjadi satu strategi pembelajaran digunakan beberapa metode. Misalnya untuk melaksanakan strategi  ekspositori bisa digunakan metode ceramah sekaligus metode tanya jawab atau bahkan diskusi dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia termasuk menggunakan media pembelajaran. Oleh karenanya, strategi berbeda dengan metode. Strategi menunjuk pada  sebuah perencanaan untuk mencapai sesuatu; sedangkan  metode adalah cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan strategi. Dengan kata lain strategi adalah a plan of operation achieving something; sedangkan metode adalah a way in achieving something.Istilah lain yang juga memiliki kemiripan dengan strategi adalah pendekatan (approach). Sebenarnya pendekatan berbeda baik dengan strategi maupum metode. Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran.  Istilah  pendekatan merujuk kepada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum. Oleh karenanya strategi dan metode pembelajaran yang digunakan dapat bersumber atau tergantung dari pendekatan tertentu. Roy Killen (1998) misalnya, mencatat ada dua pendekatan dalam pembelajaran, yaitu pendekatan yang berpusat pada guru (teacher-centred approaches) dan pendekatan yang berpusat pada siswa (student-centred approaches). Pendekatan yang berpusat pada guru  menurunkan strategi pembelajaran langsung (direct instruction), pembelajaran deductif atau pembelajaran ekspositori. Sedangkan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa menurunkan strategi pembelajaran discovery dan inkuiri serta strategi pembelajaran induktif. Selain strategi, metode, dan pendekatan pembelajaran, terdapat juga istilah lain yang kadang-kadang sulit dibedakan yaitu teknik dan taktik mengajar. Teknik dan taktik mengajar merupakan penjabaran dari metode pembelajaran.  Teknik adalah cara yang dilakukan seseorang  dalam rangka  mengimplementasikan suatu metode. Misalnya cara yang bagainana yang harus dilakukan agar metode ceramah yang dilakukan berjalan efektif dan efisien? Dengan demikian sebelum seseorang melakukan proses  ceramah sebaiknya memperhatikan kondisi dan situasi. Misalnya berceramah pada siang hari dengan jumlah siswa yang banyak  tentu saja akan berbeda jika ceramah itu dilakukan pada pagi hari dengan jumlah siswa yang terbatas.Taktik adalah gaya seseorang dalam melaksanakan  suatu teknik atau metode tertentu. Dengan demikian, taktik sifatnya lebih individual. Misalnya walaupun dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah dalam situasi dan kondisi yang sama, sudah pasti mereka akan  melakukannya secara berbeda, misalnya dalam taktik mengguanakan ilustrasi atau menggunakan gaya bahasa agar materi yang disampaikan mudah dipahami.Dari penjelasan di atas, maka dapat ditentukan bahwa suatu strategi pembelajaran yang diterapkan  guru akan tergantung pada pendekatan yang digunakan; sedangkan bagaimana menjalankan strategi itu dapat ditetapkan berbagai metode pembelajaran. Dalam upaya menjalankan metode pembelajaran guru dapat menentukan teknik yang dianggapnya relevan dengan metode, dan penggunaan teknik itu setiap guru memiliki taktik yang mungkin berbeda antara guru yang satu dengan yang lain. Ada beberapa strategi pembelajaran yang dapat digunakan. Rowntree (1974)  mengelompokkan kedalam  strategi penyampaian – penemuan atau exposition – discovery Learning dan strategi pembelajaran kelompok dan strategi pembelajaran individual atau Groups – individual Learning. Dalam strategi exposition, bahan pelajaran disajikan kepada siswa dalam bentuk jadi dan siswa dituntut untuk menguasai bahan tersebut. Roy Killen menyebutnya dengan strategi pembelajaran langsung (direct instruction). Mengapa dikatakan strategi pembelajaran langsung? Sebab dalam strategi ini, materi pelajaran disajikan begitu saja kepada siswa; siswa tidak dituntut untuk mengolahnya. Kewajiban siswa adalah menguasainya secara penuh. Dengan demikian dalam strategi ekspositori guru berfungsi sebagai penyampai informasi. Berbeda dengan strategi discovery. Dalam strategi ini bahan pelajaran  dicari dan ditemukan sendiri oleh siswa melalui berbagai aktivitas, sehingga tugas guru lebih banyak sebagai fasilitator dan pembimbing bagi siswanya. Karena sifatnya yang demikian strategi ini sering juga dinamakan strategi pembelajaran tidak langsung. Strategi belajar  individual  dilakukan oleh siswa secara mandiri. Kecepatan, kelambatan dan keberhasilan pembelajaran siswa sangat ditentukan oleh kemampuan individu siswa yang bersangkutan. Bahan pelajaran serta bagaimana mempelajarinya didesain untuk belajar sendiri. Contoh dari strategi pembelajaran ini adalah, belajar melalui modul, atau belajar bahasa melalui kaset audio. Berbeda dengan strategi pembelajaran individual, belajar kelompok dilakukan secara beregu. Sekelompok siswa diajar oleh seorang atau beberapa orang guru. Bentuk belajar kelompok itu bisa dalam pembelajaran kelompok besar atau pembelajaran klasikal; atau bisa juga siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil semacam buzz group. Strategi kelompok, tidak memperhatikan kecepatan belajar individual. Setiap individu dianggap sama. Oleh karena itu, belajar dalam kelompok dapat terjadi siswa yang memiliki kemampuan tinggi akan terhambat oleh siswa yang memiliki kemampuan biasa-biasa saja; sebaliknya siswa yang memiliki kemampuan kurang akan merasa tergusur oleh siswa yang memiliki kemampuan tinggi. Ditinjau dari  cara penyajian dan cara pengolahannya strategi pembelajaran  juga dapat dibedakan antara strategi pmbelajaran deduktif dan  strtategi pembelajaran induktif.  Strategi pembelajaran deduktif, adalah strategi pembelajaran yang dilakukan dengan mempelajari konsep-konsep terlebih dahulu untuk kemudian dicari kesimpulan dan ilustrasi-ilustrasi; atau bahan pelajaran  yang dipelajari dimulai dari hal-hal yang abstrak, kemudian secara perlahan-lahan menuju hal yang konkrit. Strategi ini sering juga dinamakan strategi pembelajaran dari umum ke khusus. Sebaliknya dengan strategi induktif, pada strategi ini bahan yang dipelajari dimulai dari hal-hal yang konkret atau  contoh-contoh yang kemudian secara perlahan siswa dihadapkan pada materi yang kompleks dan sukar. Strategi semacam ini sering juga dinamakan strategi pembelajaran dari khusus ke umum.

Pembelajaran pada dasarnya adalah proses penambahan informasi dan kemampuan baru. Ketika kita berpikir informasi dan kemampuan apa yang harus dimiliki oleh siswa, maka pada saat itu juga kita semestinya berpikir strategi apa yang harus dilakukan agar semua itu dapat tercapai secara efektif dan efisien. Ini sangat penting untuk dipahami, sebab apa yang harus dicapai akan menentukan bagaimana cara mencapainya.  Oleh karena itu sebelum menentukan strategi pembelajaran yang dapat digunakan, ada beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan.

  1. Pertimbangan yang berhubungan dengan tujuan yang ingin dicapai. Pertanyaan-pertanyaan yang dapat diajukan adalah:
  • Apakah tujuan pembelajaran yang ingin dicapai berkenaan dengan aspek kognitif, afektif atau psikomotor?
  • Bagaimana kompleksitas tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, apakah tingkat tinggi atau rendah?
  • Apakah untuk mencapai tujuan itu memerlukan keterampilan akademis?

  1. b. Pertimbangan yang berhubungan dengan bahan atau materi pembelajaran:
  • Apakah materi pelajaran itu berupa fakta, konsep, hukum atau teori tertentu?
  • Apakah untuk mempelajari materi pembelajaran itu memerlukan prasyarat tertentu atau tidak?
  • Apakah tersedia buku-buku sumber untuk mempelajari materi itu?
  1. c. Pertimbangan dari sudut siswa.
    1. Apakah strategi pembelajaran sesuai dengan tingkat kematangan siswa?
    2. Apakah strategi pembelajaran itu sesuai dengan minat, bakat dan kondisi siswa?
    3. Apakah strategi pembelajaran itu sesuai dengan gaya belajar siswa?
  2. d. Pertimbangan-pertimbangan lainnya.
  • Apakah untuk mencapai tujuan hanya cukup dengan satu strategi saja?
  • Apakah strategi yang kita tetapkan dianggap satu-satunya strategi yang dapat digunakan?
  • Apakah  strategi itu memiliki nilai efektifitas dan efesiensi?

Pertanyaan-pertanyaan di atas, merupakan bahan pertimbangan dalam menetapkan strategi yang ingin diterapkan. Misalkan untuk mencapai tujuan yang berhubungan dengan aspek kognitif, akan memiliki strategi yang berbeda dengan upaya untuk mencapai tujuan afektif atau psikomotor. Demikian juga halnya, untuk mempelajari bahan pelajaran yang bersifat fakta akan berbeda dengan mempelajari bahan pembuktian suatu teori, dan lain sebagainya

Yang dimaksud dengan prinsip-prinsip dalam bahasan ini adalah hal-hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan strategi pembelajaran. Prinsip umum penggunaan strategi pembelajaran adalah bahwa tidak semua strategi pembelajaran cocok digunakan untuk mencapai semua tujuan dan semua keadaan. Setiap strategi memiliki kekhasan sendiri-sendiri. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Killen (1998): “No teaching strategy is better than others in all circumtances, so you have to be able to use a variety of teaching strategies, and make rational decisions about when each of the teaching  strategies is likely to most effective.

Apa yang dikemukakan Killen itu jelas, bahwa guru harus mampu memilih strategi yang dianggap cocok dengan keadaan.  Oleh sebab itu guru perlu memahami prinsip-prinsip umum penggunaan strategi pembelajaran sebagai berikut:

1. Berorientasi pada tujuan

Dalam sistem pembelajaran tujuan merupakan komponen yang utama. Segala aktivitas guru dan siswa, mestilah diupayakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Ini sangat penting, sebab mengajar adalah proses yang bertujuan. Oleh karenanya keberhasilan suatu strategi pembelajaran dapat ditentukan dari keberhasilan siswa mencapai tujuan pembelajaran.

Tujuan pembelajaran dapat menentukan suatu strategi yang harus digunakan guru. Hal ini sering dilupakan guru. Guru yang senang berceramah, hampir setiap tujuan menggunakan strategi penyampaian, seakan-akan dia berpikir bahwa segala jenis tujuan dapat dicapai dengan strategi yang demikian. Hal ini tentu saja keliru. Apabila kita menginginkan siswa trampil menggunakan alat tertentu katakanlah trampil menggunakan termometer sebagai alat pengukur suhu badan, tidak mungkin menggunakan strategi penyampaian (bertutur). Untuk mencapai tujuan yang demikian, siswa harus berpraktek secara langsung. Demikian juga halnya  manakala kita menginginkan agar siswa dapat menyebutkan hari dan tanggal proklamasi kemerdekaan suatu negara, tidak akan efektif kalau menggunakan strategi pemecahan masalah (diskusi). Untuk mengejar tujuan yang demikian cukup guru menggunakan stratagi bertutur (ceramah) atau pengajaran secara langsung.

2.  Aktivitas

Belajar bukanlah menghapal sejumlah fakta atau informasi. Belajar adalah berbuat; memperoleh pengalaman tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu strategi pembelajaran harus dapat mendorong aktivitas siswa. Aktivitas tidak dimaksudkan terbatas pada aktivitas fisik, akan tetapi juga meliputi aktivitas yang bersifat psikhis seperti aktivitas mental. Guru sering lupa dengan hal ini. Banyak guru yang terkecoh oleh sikap siswa yang pura-pura aktif padahal sebenarnya tidak.

3. Individualitas

Mengajar adalah usaha mengembangkan setiap individu siswa. Walaupun kita mengajar pada sekelompok siswa, namun pada hakekatnya yang ingin kita capai adalah perubahan perilaku setiap siswa. Sama seperti seorang dokter. Dikatakan seorang dokter yang jitu dan profesional  manakala ia menangani 50 orang pasien, seluruhnya sembuh; dan dikatakan dokter yang tidak baik manakala ia menangani 50 orang pasien,  49  sakitnya bertambah parah atau malah mati. Demikian juga halnya dengam guru, dikatakan guru yang baik dan profesional manakala ia menangani 50 orang siswa, seluruhnya berhasil mencapai tujuan; dan sebaliknya, dikatakan guru yang tidak  baik atau tidak  berhasil manakala ia menangani 50 orang siswa, 49 tidak berhasil mencapai tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, dilihat dari segi jumlah siswa sebaiknya standar keberhasilan guru ditentukan setinggi-tingginya. Semakin tinggi standar keberhasilan ditentukan, maka semakin berkualitas proses pembelajaran.

4.  Integritas

Mengajar harus dipandang sebagai usaha mengembangkan seluruh pribadi siswa. Mengajar bukan hanya mengembangkan kemampuan kognitif saja, akan tetapi juga meliputi pengembangan aspek afektif dan aspek psikomotor. Oleh karena itu strategi pembelajaran harus dapat mengembangkan seluruh aspek kepribadian siswa secara terintegrasi. Penggunaan metoda diskusi, contohnya, guru harus dapat merancang strategi pelaksanaan  diskusi tidak hanya terbatas pada pengembangan aspek intelektual saja, akan tetapi harus mendorong siswa agar mereka dapat berkembang secara keseluruhan, misalkan mendorong agar siswa dapat menghargai pendapat orang lain, mendorong siswa  agar berani mengeluarkan gagasan atau ide-ide yang orisinil, mendorong siswa untuk bersikap jujur, tenggang rasa dan lain sebagainya.

Di samping itu, Bab IV Pasal 19 Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 dikatakan  bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi  peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Sesuai dengan isi peraturan pemerintah di atas, maka ada sejumlah prinsip khusus  dalam pengelolaan  pembelajaran  sebagai berikut:

1. Interaktif

Prinsip interaktif mengandung makna, bawa mengajar bukan hanya sekedar menyampaikan pengetahuan dari guru ke siswa; akan tetapi mengajar dianggap sebagai  proses mengatur lingkungan yang dapat merangsang siswa untuk belajar. Dengan demikian proses pembelajaran adalah proses interaksi baik antara guru dan siswa, antara siswa dan siswa; maupun antara siswa dengan lingkungannya. Melalui proses interaksi, memungkinkan kemampuan siswa aka berkembang baik mental maupun intelektual.

2. Inspiratif

Proses pembelajaran adalah proses yang inspiratif, yang memungkinkan siswa untuk mencoba dan melakukan sesuatu. Berbagai informasi dan proses pemecahan masalah dalam pembelajran bukan harga mati, yang bersifat mutlak, akan tetapi merupakan hipotesis yang merangsang siswa  untuk mau mencoba dan mengujinya. Oleh karena itu guru, mesti membuka berbagai kemungkinan yang dapat dikerjakan siswa. Biarkan siswa berbuat dan berpikir sesuai dengan inspirasinya sendiri, sebab pengetahuan pada dasarnya bersifat subyektif, yang bisa dimaknai oleh setiap subyek belajar.

3. Menyenangkan

Preoses pembelajaran adalah proses yang dapat mengembangkan seluruh potensi siswa. Seluruh potensi itu hanya mungkin dapat berkembang manakala siswa terbebas dari rasa takut, dan menegangkan. Oleh karena itu perlu diupayakan agar proses pembelajaran merupakan proses yang menyenangkan (enjoyful learning). Proses pembelajaran yang menyenangkan dapat dilakukan pertama, dengan menata ruangan yang apik dan menarik, yaitu yang memenuhi unsur kesehatan misalnya  dengan pengaturan cahaya, ventilasi dan sebabaginya; serta memenuhi unsur keindahan, misalnya cat tembok yang segar dan bersih,  bebas dari debu, lukisan dan karya-karya siswa yang tertata, pas bunga dan lain sebagainya. Kedua, melalui pengelolaan pembelajaran yang hidup dan bervariasi, yakni dengan menggunakan pola dan model pembelajaran, media dan sumber belajar yang relevan serta gerakan-gerakan guru yang mampu membangkitkan motivasi belajar siswa.

4.  Menantang

Proses pembelajaran adalah proses yang menantang siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir, yakni merangsang kerja otak secara maksimal. Kemampuan tersebut dapat ditumbuhkan dengan cara mengembangkan rasa ingin tahu siswa melalui kegiatan mencoba-coba, berpikir secara intuitif atau  bereksplorasi. Apapun yang diberikan dan dilakukan guru harus dapat merangsang siswa untuk berpikir (learning how to learn) dan melakukan (learning how to do). Apabila guru akan memberikan informasi, hendaknya tidak memberikan informasi yang sudah jadi yang siap ”ditelan” siswa, akan tetapi informasi yang mampu membangkitkan siswa untuk  mau ”mengunyahnya”, untuk memikirkannya sebelum ia ambil kesimpulan. Untuk itu dalam hal-hal tertentu sebaiknya guru memberikan informasi yang ”meragukan”, kemudian karena keraguan itulah siswa terangsang untuk membuktikannya.

5. Motivasi

Motivasi adalah aspek yang sangat penting untuk membelajarkan siswa. Tanpa adanya motivasi tidak mungkin siswa memiliki kemauan untuk belajar.  Oleh karena itu, membangkitkan motivasi merupakan salah satu peran dan tugas guru dalam setiap proses pembelajaran. Motivasi dapat diartikan sebagai dorongan yang memungkinkan siswa untuk bertindak atau melakukan sesuatu. Dorongan itu hanya mungkin muncul dalam diri siswa manakala  siswa merasa membutuhkan (need). Siswa yang merasa butuh akan bergerak dengan sendirinya untuk memenuhi kebutuhannya. Oleh sebab itu dalam rangka membangkitkan motivasi, guru harus dapat menunjukkan penting/nya pengalaman dan materi belajar bagi kehidupan siswa, dengan demikian siswa akan belajar bukan hanya sekedar untuk memperoleh nilai atau pujian akan tetapi didorong oleh keinginan untuk memenuhi kebutuhanya.

Dalam standar proses pendidikan, pembelajaran dididsain untuk membelajarkan siswa. Artinya, sistem pembelajaran menempatkan siswa sebagai subyek belajar. Dengan kata lain pembelajaran ditekankan  atau berorientasi pada aktivitas siswa (PBAS). Ada beberapa asumsi perlunya pembelajaran berorientasi pada aktivitas siswa. Pertama asumsi filosofis tentang pendidikan. Pendidikan merupakan usaha sadar mengembangkan manusia menuju kedewasaan, baik kedewasaan intelektual, sosial, maupun kedewasaan moral. Oleh karena itu maka  proses pendidikan bukan hanya mengembangkan intelektual saja, akan tetapi mencakup seluruh potensi yang dimiliki anak didik. Dengan demikian maka hakekat pendidikan pada dasarnya adalah  (a) interaksi manusia; (b) pembinaan dan pengembangan potensi manusia (c) berlangsung sepanjang hayat (d) kesesuaian dengan kemampuan dan tingkat perkembangan siswa (e) keseimbangan antara kebebasan subjek didik dan kewibawaan guru dan (f) peningkatan kualitas hidup manusia. Kedua, asumsi tentang siswa sebagai  subjek pendidikan, yaitu (a) siswa  bukanlah manusia dalam ukuran mini, akan tetapi manusia yang  sedang dalam tahap perkembangan; (b) setiap manusia memiliki kemampuan yang berbeda (c) anak didik pada dasarnya adalah insan yang aktif, kreatif dan dinamis dalam menghadapi lingkungannya (d) anak didik memiliki motivasi untuk memenuhi kebutuhannya. Asumsi tersebut menggambarkan bahwa anak didik bukanlah objek yang harus dijejali dengan informasi, akan tetapi mereka adalah subjek yang memiliki potensi dan proses pembelajaran seharusnya diarahkan untuk mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki anak didik itu. Ketiga, asumsi tentang guru adalah (a) guru bertanggung jawab atas tercapainya hasil belajar peserta didik; (b) guru memiliki kemampuan profesional dalam mengajar; (c) guru  mempunyai kode etik keguruan; (d)  guru memiliki peran dalam sebagai sumber belajar, pemimpin (organisator) dalam belajar yang memungkinkan terciptanya kondisi yang baik bagi siswa dalam belajar. Keempat, asumsi yang berkaitan dengan proses pengajaran adalah (a) bahwa proses pengajaran  direncanakan dan dilaksanakan sebagai suatu sistem; (b) peristiwa belajar akan terjadi manakala anak didik berinteraksi dengan lingkungan  yang diatur oleh guru; (c) proses pengajaran akan lebih aktif apabila menggunakan metode dan teknik  yang tepat dan berdaya guna (d)    pengajaran memberi tekanan kepada proses dan produk secara seimbang (e)  inti proses pengajaran adalah adanya kegiatan belajar siswa secara optimal. Dalam pandangan psikologi modern belajar bukan hanya sekedar menghapal sejumlah fakta atau informasi, akan tetapi peristiwa mental dan proses berpengalaman. Oleh karena itu setiap peristiwa pembelajaran menuntut keterlibatan intelektual-emosional siswa  melalui asimilasi dan akomodasi kognitif untuk mengembangkan pengetahuan, tindakan, serta pengalaman langsung dalam rangka  membentuk keterampilan (motorik, kognitif dan sosial), penghayatan serta internalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap (Raka Joni, 1980 : 2).

Seperti yang telah dikemukakan di muka pada bab IV Pasal 19 Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 dikatakan  bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi  peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Hal ini menunjukkan bahwa mengajar yang didisain guru harus berorientasi pada aktivitas siswa.

1. Konsep dan Tujuan PBAS

PBAS  dapat dipandang sebagai suatu pendekatan dalam pembelajaran yang menekankan  kepada aktivitas siswa secara optimal untuk memperoleh hasil belajar berupa perpaduan antara aspek kognitif, afektif dan psikomotor secara seimbang.

Dari konsep tersebut ada dua hal yang harus dipahami. Pertama dipandang dari sisi proses pembelajaran PBAS menekankan kepada aktivitas siswa secara optimal, artinya  PBAS  menghendaki keseimbangan antara aktivitas fisik, mental termasuk emosional dan aktivitas intelektual. Oleh karena itu kadar PBAS tidak hanya dapat dilihat dari aktivitas fisik saja, akan tetapi juga aktivitas mental  dan intelektual. Seorang siswa yang nampaknya  hanya mendengarkan saja, tidak berati memiliki kadar PBAS yang rendah dibandingkan dengan seseorang yang sibuk mencatat. Sebab, mungkin saja yang duduk itu secara mental ia aktif, misalnya menyimak, menganalisis dalam fikirannya  dan meng-internalisasi nilai dari setiap infornasi yang disampaikan. Sebaliknya, siswa  yang sibuk mencatat, tidak bisa dikatakan memiliki kadar PBAS yang tinggi, kalau yang bersangkutan hanya sekedar  secara fisik aktif mencatat tidak  diikuti oeh aktivtas mental dan emosi. Kedua, dipandang dari sisi hasil belajar, PBAS menghendaki hasil belajar yang seimbang dan terpadu antara kemampuan intektual (kognitif),  sikap (afektif) dan keterampilan (psikomotor). Artinya, dalam PBAS pembetukan siswa secara utuh merupakan tujuan utama dalam proses pembelajaran. PBAS tidak menghendaki pembentukan siswa yang secara inteketual cerdas tanpa diimbangi oleh sikap dan ke-terampilan. Akan tetapi PBAS bertujuan membentuk siswa yang cerdas sekaligus siswa yang  memiliki sikap positif dan secara motorik terampil, misalnya kemampuan  menggeneralisasi, kemampuan meng-amati, kemampuan mencari data, kemampuan untuk menemukan, mang-analisis,  mengkomunikasikan hasil penemuan dan lain sebagai-nya. Aspek-aspek semacam inilah yang diharapkan dapat dihasilkan dari pendekatan PBAS. Dari konsep di atas, maka jelas bahwa  pendekatan PBAS  berbeda dengan proses pembelajaran yang selama ini banyak berlangsung. Selama ini proses pembelajaran banyak diarahkan kepada  proses menghapalkan informasi yang disajikan guru. Ukuran keberhasilan pembelajaran adalah sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran; apakah materi itu dipahami untuk kebutuhan hidup setiap siswa, apakah siswa dapat menangkap hubungan materi yang dihapal itu dengan pengembangan potensi yang dimilikinya, bukan tidak menjadi soal, yang penting siswa dapat mengungkapkan kembali apa yang telah dipelajarinya. Oleh sebab itu tidak heran kalau proses pembelajaran yang selama ini digunakan tidak memperhatikan hakekat mata pelajaran yang disajikan. Misalnya, untuk pelajaran agama dan PMP yang semestinya diarahkan untuk mengembangkan sikap dan nilai-nilai kehidupan sebagai bekal untuk dapat bertindak dan berperilaku  di masyarakat sesuai dengan norma-norma atau sistem nilai yang berlaku, tidak pernah terjadi. Kedua mata pelajaran ini berfungsi sama dengan mata pelajaran lain yaitu mengembangkan intelektual siswa dengan menghapal materi pelajaran. Dari penjelasan di atas, maka PBAS sebagai salah satu bentuk  inovasi dalam memperbaiki kualitas proses belajar mengajar bertujuan untuk membantu peserta didik agar  dapat belajar mandiri dan kreatif, sehingga ia dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dapat menunjang terbentuknya kepribadian yang mandiri. Dengan kemampuan itu diharapkan lulusan  menjadi anggota masyarakat  yang  sesuai  dengan tujuan pendidikan nasional yang dicita-citakan. Sedangkan, secara khusus  pendekatan PBAS bertujuan, pertama meningkatkan kualitas pembelajaran agar lebih bermakna. Artinya melalui PBAS, siswa tidak hanya dituntut untuk menguasai sejumlah informasi, akan tetapi bagaimana memanfaatkan informasi itu untuk kehidupannya. Kedua, mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya. Artinya melalui PBAS diharapkan bukan hanya kemampuan intelektual saja yang berkembang akan tetapi  seluruh pribadi siswa termasuk sikap dan mental. Dihubungkan dengan tujuan pendidikan nasional yang ingin dicapai yang bukan hanya membentuk manusia yang cerdas akan tetapi juga yang lebih penting adalah membentuk manusia yang bertaqwa dan memiliki keterampilan di samping memiliki sikap budi pekerti yang luhur, maka PBAS merupakan pendekatan yang sangat cocok untuk dikembangkan. Tinggal sekarang, bagaiamana menerapkan konsep PBAS ini dalam  sistem pembelajaran.

2. Peran Guru dalam Implementasi PBAS

Kekeliruan yang kerap muncul adalah adanya anggapan bahwa dengan PBAS peran guru semakin kurang. Anggapan semacam ini tentu saja tidak tepat, sebab walaupun PBAS didesain untuk meningkatkan aktivitas siswa, tidak berarti mengakibatkan kurangnya peran dan tanggung jawab guru. Baik guru maupun siswa sama-sama harus berperan secara penuh, oleh karena peran mereka sama-sama sebagai subjek belajar. Adapun yang membedakannya hanya terletak pada tugas apa yang harus dilakukannya. Misalnya ketika siswa melaksanakan diskusi kelompok atau mengerjakan tugas, tidak berarti guru hanya diam dan duduk di kursi sambil membaca koran, akan tetapi secara aktif guru harus melakukan kontrol dan memberi bantuan kepada siswa yang memerlukannya.

Dalam implementasi  PBAS, guru tidak   berperan sebagai satu-satunya sumber belajar yang bertugas menuangkan materi pelajaran kepada siswa, akan tetapi  yang lebih penting adalah bagaimana memfasilitasi agar siswa belajar. Oleh karena itu penerapan PBAS menuntut guru untuk kreatif dan inovatif sehingga mampu  menyesuaikan kegiatan mengajarnya  dengan gaya dan karakteristik belajar siswa. Untuk itu  ada beberapa kegiatan yang  dapat dilakukan guru, diantaranya adalah:

  1. Mengemukakan berbagai alternatif tujuan pembelajaran yang harus dicapai sebelum kegiatan pembelajaran dimulai. Artinya, tujuan pembelajaran tidak semata-mata ditentukan oleh guru, akan tetapi diharapkan siswapun terlibat dalam menentukan dan merumuskannya.
  2. Menyusun tugas-tugas belajar bersama  siswa. Artinya tugas-tugas apa yang sebaiknya dikerjakan oleh siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran,  tidak hanya ditentukan guru akan tetapi melibatkan siswa. Hal ini  penting  dilakukan untuk memupuk tanggung jawab siswa. Biasanya manakala siswa  terlibat  dalam menentukan jenis tugas dan batas akhir penyelesaiannya,  siswa akan lebih bertanggung jawab untuk mengerjakannya.
  3. Memberikan informasi tentang kegiatan pembelajaran yang harus dilakukan. Dengan pemberitahuan rencana pembelajaran, maka  siswa akan semakin paham apa yang harus dilakukan. Hal ini dapat mendorong siswa untuk belajar  lebih aktif dan kreatif.
  4. Memberikan bantuan dan pelayanan kepada siswa yang memerlukannya. Guru perlu menyadari bahwa siswa memiliki kemampuan yang sangat beragam. Oleh karena keragamannya itulah guru perlu melakukan kontrol kepada siswa untuk melayani setiap siswa terutama siwa yang dianggap lambat dalam belajar.
  5. Memberikan motivasi, mendorong siswa untuk belajar, membimbing dan lain sebagainya melalui pengajuan pertanyaan-pertanyaan. Dalam PBAS pertanyaan tidak semata-mata berfungsi untuk menguji kemampuan siswa, akan tetapi lebih dari itu. Melalui pertanyaan, guru dapat mendorong agar siswa termotivasi untuk belajar; atau melalui pertanyaan pula guru dapat membimbing siswa berpikir kritis dan kreatif. Oleh karena itu kemampuan yang berhubungan dengan berbagai keterampilan bertanya harus dimiliki oleh guru.
  6. Membantu siswa dalam menarik suatu kesimpulan. Dalam implementasi PBAS, guru tidak menyimpulkan sendiri pokok bahasan yang telah dipelajarinya. Proses dan kesimpulan apa yang dapat ditarik, sebaiknya diserahkan kepada siswa. Guru berperan hanya sebagai pembantu dan pengarah dalam merumuskan   kesimpulan.

Selain peran-peran di atas, masih banyak tugas lain yang menjadi tanggung jawab guru. Misalnya manakala siswa memerlukan suatu informasi tertentu, maka guru berkewajiban untuk menunjukkan dimana informasi itu dapat diperoleh siswa. Dengan demikian guru tidak menempatkan diri sebagai sumber informasi akan tetapi berperan sebagai penunjuk dan fasilitator dalam memanfaatkan sumber belajar.

3. Penerapan PBAS dalam Proses Pembelajaran

Dalam kegiatan belajar mengajar PBAS diwujudkan dalam  berbagai bentuk kegiatan  seperti mendengarkan, berdiskusi, memproduksi sesuatu, menyusun laporan, memecahkan masalah dan lain sebagainya. Keaktifan siswa itu ada yang secara langsung dapat diamati, seperti mengerjakan tugas, berdiskusi, mengumpulkan data dan lain sebagai-nya; akan tetapi juga ada yang tidak bisa diamati, seperti kegiatan mendengarkan dan menyimak. Kadar PBAS tidak hanya ditentukan oleh aktifitas fisik semata, akan tetapi juga ditentukan oleh aktifitas non-fisik seperti mental, intelektual dan emosional. Oleh sebab itu sebetulnya aktif dan tidak aktifnya siswa dalam belajar hanya siswa yang mengetahuinya secara pasti. Kita tidak dapat memastikan bahwa siswa yang  diam mendengarkan penjelasan tidak berarti tidak PBAS; demikian juga  sebaliknya belum tentu siswa yang secara fisik aktif memiliki kadar aktifitas mental  yang tinggi pula

Namun demikian, salah satu hal yang dapat kita lakukan untuk mengetahui Apakah suatu proses pembelajaran memiliki kadar PBAS yang tinggi, sedang atau lemah, dapat kita lihat dari  kriteria penerapan PBAS dalam proses pembelajaran. Kriteria tersebut menggambarkan sejauhmana keterlibatan siswa dalam  pembelajaran baik dalam perencanaan pembelajaran, proses pembelajaran maupun dalam mengevaluasi  hasil pembelajaran. Semakin siswa terlibat dalam ketiga aspek tersebut, maka kadar  PBAS semakin tinggi.

1. Kadar PBAS dilihat dari proses perencanaan:

  • Adaya keterlibatan siswa dalam merumuskan tujuan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan  serta pengalaman dan motivasi yang dimiliki sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kegiatan pembelajaran.
  • Adanya keterlibatan siswa dalam menyusun rancangan pembelajaran.
  • Adanya keterlibatan siswa dalam menentukan dan memilih sumber belajar yang diperlukan.
  • Adanya keterlibatan siswa dalam menentukan dan mengadakan media pembelajaran yang akan digunakan.

2. Kadar PBAS dilihat dari proses pembelajaran

  • Adanya keterlibatan siswa  baik secara fisik, mental – emosional maupun intelektual dalam setiap proses pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari tingginya perhatian, serta motivasi siswa untuk menyelesaikan setiap tugas yang diberikan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
    • Siswa belajar secara langsung (experiential learning). Dalam proses pembelajaran secara langsung, konsep dan prinsip diberikan melalui pengalaman nyata seperti merasakan, meraba, mengoperasikan, melakukan sendiri  dan lain sebagainya. Demikian juga pengalaman itu bisa dilakukan dalam bentuk kerjasama dan interaksi dalam kelompok.
    • Adanya keinginan siswa untuk menciptaklan iklim belajar yang kondusif.
    • Keterlibatan siswa dalam mencari dan memanfaatkan setiap sumber belajar yang tersedia yang dianggap relevan dengan tujuan pembelajaran.
    • Adanya ketertlibatan siswa dalam melakukan prakarsa seperti menjawab dan mengajukan pertanyaan, berusaha memecahkan masalah yang diajukan atau yang timbul selama proses pembelajaran berlangsung.
    • Terjadinya interaksi yang multi arah baik antara siswa dengan siswa atau antara guru dan siswa. Interaksi ini juga ditandai dengan keterlibatan semua siswa secara merata. Artinya pembicaraan atau proses tanya jawab tidak didominasi oleh siswa-siswa tertentu.

3.  Kadar PBAS ditinjau dari kegiatan evaluasi pembelajaran

  • Adanya keterlibatan siswa untuk mengevaluasi sendiri  hasil pembelajaran yang telah dilakukannya.
  • Kerterlibatan siswa secara mandiri untuk melaksanakan kegiatan semacam tes dan tugas-tugas  yang harus dikerjakannya.
  • Kemauan siswa untuk menyusun laporan baik tertulis maupun secara lisan berkenaan hasil belajar yang diperolehnya.

Dari ciri-ciri tersebut dapat ditentukan apakah proses pembelajaran yang diciptakan oleh guru memiliki kadar PBAS yang tinggi, sedang atau rendah.

4. Faktor yang mempengaruhi Keberhasilan PBAS

Keberhasilan penerapan PBAS dalam proses pembelajaran dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya:

a. Guru

Dalam proses pembelajaran dalam kelas, guru merupakan ujung tombak yang sangat menentukan keberhasilan penerapan PBAS,  karena guru merupakan orang yang berhadapan langsung dengan  siswa. Ada beberapa hal yang mempengaruhi keberhasilan PBAS dipandang dari sudut guru, yaitu kemampuan guru, sikap profesionalitas guru, latar belakang pendidikan guru dan pengalaman mengajar.

1) Kemampuan guru

Kemampuan guru merupakan faktor pertama  yang dapat mempengaruhi keberhasilan pembelajaran dengan pendekatan PBAS. Guru yang memiliki kemampuan yang tinggi akan bersikap kreatif dan inovatif yang selamanya akan mencoba dan mencoba menerapkan berbagai penemuan baru yang dianggap lebih baik untuk membelajarkan siswa.  Kemampuan guru  itu bukan hanya dalam tataran  desain perencanaan pembelajaran, akan tetapi juga dalam proses dan evaluasi pembelajaran. Dalam aspek perencanaan misalnya, guru dituntut untuk mampu mendesain perencanaan yang memungkinkan secara terbuka siswa dapat belajar sesuai dengan minat dan bakatnya, seperti kemampuan merumuskan tujuan pembelajaran, kemampuan menyusun dan menyajikan materi atau pengalaman belajar siswa, kemampuan untuk merancang desain pembelajaran yang tepat sesuai dengan tujuan yang akan dicapai, kemampuan menentukan dan memanfaatkan media dan sumber belajar, serta kemampuan menentukan alat evasluasi yang tepat untuk mengukur keberhasilan proses pembelajaran. Kemampuan dalam proses pembelajaran berhubungan erat dengan bagaimana cara guru mengimplementasikan perencanaan pembelajaran, yang mencakup kemampuan menerapkan keterampilan dasar mengajar dan keterampilan mengembangkan berbagai model pembelajaran yang dianggap mutakhir. Keterampilan dasar mengajar yang harus dimiliki seperti misalnya, keterampilan bertanya, keterampilan variasi stumulus, keterampilan membuka dan menutup pelajaran, keterampilan memberikan penguatan (reinforcement) dan lain sebagainya. Sedangkan keterampilan mengembangkan model pembelajaran contohnya mengembangkan model Inkuiri, Discovery, Model Keterampilan Proses, Model Pembelajaran Metode Klinis, Advance organizer dan lain sebagainya.

2)  Sikap profesional  guru

Sikap profesional guru berhubungan dengan motivasi yang tinggi dalam melaksanakan tugas mengajarnya. Guru yang profesional selamanya akan berusaha untuk mencapai hasil yang  optimal. Ia tidak akan merasa puas dengan hasil yang telah dicapai. Oleh karenanya ia akan selalu belajar  untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan dan meningkatkan kemampuan dan keterampilannya, misalnya dengan melacak berbagai sumber belajar melalui kegiatan membaca, mengikuti kegiatan-kegiatan ilmiah seperti seminar, diskusi, simposium dan sebagainya, serta  melacak informasi dengan memanfaatkan hasil-hasil teknologi seperti televisi, radio, komputer sampai kepada internet. Penerapan PBAS sebagai suatu pendekatan pembelajaran yang menuntut aktivitas siswa secara penuh dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran, akan sangat dipengaruhi oleh  tingkat preofesional guru.  PBAS tidak akan berhasil diimplementasikan oleh guru  yang memiliki motivasi yang rendah.

3) Latar belakang pendidikan dan Pengalaman Mengajar guru

Latar belakang pendidikan dan pengalaman mengajar guru, akan sangat berpengaruh terhadap implementasi PBAS. Dengan latar bela-kang pendidikan yang tinggi, memungkinkan guru memiliki pandangan dan wawasan yang luas terhadap variabel-variabel pembelajaran seperti pemahaman tentang psikologi anak, pemahaman terhadap unsur lingkungan dan gaya belajar siswa, pemahaman tentang berbagai model dan metode  pembelajaran.  Guru yang memiliki pemahaman tentang psikologi anak akan ditandai oleh perasaan menghargai terhadap seluruh usaha siswa. Dengan demikian, ia tidak akan menempatkan  siswa sebagai objek yang harus dijejali dengan materi pembelajaran; akan tetapi ia akan memandang siswa sebagai subjek belajar yang  memiliki potensi untuk dikembangkan sehingga ia akan mendesain proses pembelajaran yang dapat mendorong siswa  aktif dan kreatif dalam proses pengalaman bel-ajar. Demikian juga halnya dengan pengalaman mengajar. Guru yang telah memiliki jam terbang mengajar yang tinggi memungkin ia akan lebih mengenal berbagai hal yang berkaitan dengan proses pembelajaran.

b.  Sarana belajar

Keberhasilan implementasi PBAS juga dapat dipengaruhi oleh ketersediaan sarana belajar .Yang termasuk kepada ketersedian sarana itu meliputi,  ruang kelas dan setting tempat duduk siswa,  media dan sumber belajar.

1) Ruang Kelas

Kondisi ruang kelas  merupakan faktor yang menentukan keberhasilan penerapan PBAS. Ruang kelas yang terlalu sempit, misalnya akan mempengaruhi kenyamanan siswa dalam belajar. Demikian juga halnya dengan penataan kelas. Kelas yang tidak ditata dengan rapi, tanpa ada gambar yang menyegarkan, ventilasi yang kurang memadai dan sebagainya akan membuat siswa cepat lelah dan tidak bergairah dalam belajar. Yang harus diperhatikan dalam penataan ruang kelas, juga adalah desain tempat duduk siswa. PBAS yang menghendaki siswa aktif  dalam belajar, sebaiknya tempat duduk tidak bersifat statis, akan tetapi seharusnya dinamis. Artinya, tempat duduk didisain agar bisa dipindah-pindah, sehingga dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran.

2)  Media dan Sumber Belajar

PBAS merupakan pendekatan pembelajaran yang menggunakan multi metoda dan multi media.  Artinya melalui PBAS siswa  memungkinkan untuk   belajar dari berbagai sumber informasi secara mandiri, baik dari media grafis seperti buku, majalah, surat kabar, buletin dan lain sebagainya; atau dari media elektronik seperti radio, televisi, film slide, video, komputer, atau mungkin dari internet. Oleh karena itu keberhasilan penerapan PBAS akan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan  dan pemanfaatan media dan sumber belajar.

c.  Lingkungan Belajar

Lingkungan belajar merupakan faktor lain yang dapat mempengaruhi keberhasilan PBAS. Ada dua hal yang termasuk kedalam faktor  lingkungan belajar, yaitu lingkungan fisik dan lingklungan psikologis. Lingkungan fisik meliputi keadaan dan kondisi sekolah,  misalnya jum-lah kelas, laboratorium, perpustakaan, kantin, kamar kecil yang tersedia; serta dimana lokasi sekolah itu berada. Apabila sekolah berada di dekat terminal atau pasar yang bising, misalnya, tentu saja akan mempengaruhi kenyamanan anak dalam belajar. Yang termasuk kedalam lingkungan fisik ini juga adalah keadaan dan jumlah guru. Keadaan guru misalnya adalah kesesuaian bidang studi yang melatar belakangi pendidikan guru dengan mata pelajaran yang diberikannya. Seorang guru lulusan pendidikan teknik, misalnya akan mempengaruhi kinerjanya manakala ia mengajar bidang olah raga. Demikian juga halnya seorang yang tidak pernah belajar ilmu keguruan tidak akan optimal manakala harus mengajar di depan kelas, bagaimanapun hebatnya kualitas orang tersebut. Yang dimaksud dengan  lingkungan fsikologis adalah iklim sosial yang ada di lingkungan sekolah itu. Misalnya keharmonisan hubungan antara guru dengan guru, atau antara guru dengan kepala sekolah, termasuk keharmonisan antara pihak sekolah dengan orang tua. PBAS merupakan pendekatan pembelajaran yang memerlukan usaha dari setiap orang yang terlibat. Oleh karena itu tidak mungkin PBAS dapat diimplementasikan dengan sempurna manakala tidak terjalin hubungan yang baik antara semua pihak yang terlibat.

DAFTAR BACAAN

Blomm,Benjamin S. (1964) Taxonomi of Educational Objectives : Cognitive Domain,  New York : David  McKay.

Brookfield, S.D (19900.  The Skillfull teacher :On Technique, Trust and Responsiveness in the Classroom.  San Fransisco  : Josse-Bass.

Chauhan,S.S. (1979), Innovations in Teaching – Learning Process, New Delhi, Vikas Publishing House PVT LTD.

Cooper. James M. (ed.) (1990).  Classroom Teaching Skill.  Lexington. Massachusetts Toronto: D.C. Heath And Company.

Costa. Athur L (Ed.)(1985) Developin Minds. A Resource Book for Teaching Thinking. Alexandria Virginia:  Association for Supervision and Curriculum  Development.

Dahar, Ratna Wilis (1989). Teori Belajar.Jakarta: Erlangga.

Departemen Pendidikan Nasional, DirjenPendidikan dasar dan Menengah, Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama (2002) Pendekatan Konstektual (Contextual Teaching And Learning (CTL).

Gagne, Robert M. dan Briggs.Leslie J. (1979), Principles of Instructional Design. New York: Holt Rinehart & Winston.

Gulo, W. (2002). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Grasindo

Jarolimek, John (1977). Social Studies Competencies and Skills : Learning to Teach as an intern.  New York: MacMillan Publishing  Co.Inc.

Johnson, Mauritz. (1977). Intentionality in Education,  New York:   Centered for   Curriculum  Research and Service.

Joni, T. Rakaa (1980).  Strategi Belajar Mengajar. Jakarta. P3G.

Joyce, B., & Weil,M. (1980). Models of Teaching.  Englewood Cliffs, New Jersey : Prentice-Hall Inc.

Killen, Roy, (1998), Effective Teaching Strategies, Lesson from research and  Practice,  Second Edition, Australia, Social Science Press.

Lie, Anita (2005).  Cooperative Learning. Jakarta; Grasindo

Longstreet, Wilma S., Shane, Harold G. (1993), Curriculum for New Millenium, Boston,  Allyn & Bacon.

Mac Donald, Janess B. (1965). Educational Models for Instruction . Washington DC: The Association for Supervision and Curriculum Development.

Novak,J.D. (1977) A Theory of Education: Ithaca, New York : Cornel University Press.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 (2005).  Tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Piaget,J. (1971). Psycholgy and Epistemology, New York : The Viking Press.

Sanjaya, Wina (2007). Strategi Pembelajaran Bereorientasi Standar Pross Pendidikan. Jakarta:  Prenada Media.

Saylor, J. Galen, Alexander, William M. dan Lewis Arthur J. (1981). Curriculum Planning fo Better Teaching  and Learning, Holt-Rinehart and Winston. E.203, Unit 7.Milton Keyniess: Ther Open Univercity Press.

Undang-undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

Wragg, E.C. (1974). Teacing Teaching. London:  David & Charles.

a

About these ads

2 Comments

  1. Strategi dan Metode Pembelajaran adalah dua kata yang berbeda tpi erat kaitannya .kedua istilah sangat penting dalam proses pembelajaran ,namum kadang Metode yang kta pilih dalam pembelajran tidak sesuai dengan strategi yang kita gunakan. Akibatnya proses pembelajaran tidak sistimatis yang berpengaruh pada pencapaian tujuan.Jdi perlu kejelasan secara terperinci antara strategi dan metode yg sesuai.

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s