EVALUASI PEMBELAJARAN DI KELAS


Perubahan kurikulum dari kurikulum yang  berorientasi pada isi pelajaran (content based curriulum) menjadi kurikulum yang berorientasi pada kompetensi (competency  based curriculum) memiliki konsekuensi terhadap berbagai aspek pembelajaran di sekolah. Konsekuensi tersebut bukan hanya pada implmentasi atau proses pembelajaran, akan tetapi juga pada penetapan kriteria keberhasilan. Pada tataran implementasi, misalnya perubahan terjadi pada proses pembelajaran, dari proses pembelajaran yang menekankan pada selesainya penyampaian pokok bahasan (isi pelajaran) pada satu catur wulan atau semester kepada pe-nguasaan materi pelajaran oleh siswa. Dengan demikian dalam im-plementasi kurikulum guru dituntut untuk dapat menggunakan strategi dan metode pembelajaran yang bervariasi.

Perubahan paradigma kurikulum tersebut, membawa implikasi terhadap paradigma evaluasi  atau penilaian, dari penilaian dengan pendekatan  normatif ke penilaian dengan menggunakan acuan standar. Oleh sebab itu  guru dituntut untuk memiliki pemahaman dan kemam-puan  yang memadai  baik secara konseptual maupun secara praktikal dalam bidang evaluasi pembelajaran untuk menentukan apakah pe-nguasaan kompetensi sebagai tujuan pembelajaran telah berhasil diku-asai siswa atau belum. Sesuai dengan tuntutan kurikulum, ada dua hal penting yang harus dipahami tentang evaluasi. Pertama, evaluasi merupakan kegiatan integral dalam suatu proses pembelajaran. Artinya kegiatan evaluasi ditempatkan sebagai kegiatan yang tidak terpisahkan dalam proses pembelajaran. Mengapa demikian? Sebab evaluasi bukan hanya berorientasi pada hasil (product oriented) akan tetapi juga pada proses pembelajaran  (process oriented), sebagai upaya memantau perkembangan siswa  baik perkembangan kemampuan maupun perkembangan mental dan kejiwaan. Kedua, evaluasi bukan hanya tanggung jawab guru, akan tetapi juga menjadi tanggung jawab siswa. Artinya dalam proses evaluasi siswa dilibatkan oleh guru, sehingga mereka memiliki kesadaran  pentingnya evaluasi untuk memantau  keberhasilannya sendiri dalam proses pembelajaran (self evaluation). Dengan demikian siswa tidak lagi menganggap bahwa evaluasi merupakan suatu beban yang kadang-kadang mengganggu sikap mentalnya. Mela-lui self evaluation siswa akan menganggap bahwa evaluasi adalah sesuatu yang wajar yang harus dilaksanakan.

Di bawah ini dibahas tentang hal-hal yang menyangkut evaluasi tentu saja evaluasi. Bahasan pertama dimulai dengan konsep evaluasi. Pembahasan konsep ini dianggap sangat penting, oleh sebab pemahaman akan konsep akan me-nentukan cara pandang tentang evaluasi itu sendiri yang pada giliran-nya dapat menentukan perilaku kita dalam melaksanakan evaluasi. Misalnya,  sementara ini ada anggapan bahwa evaluasi sama dengan tes atu pengukuran, akibatnya kalau guru telah melakukan tes berarti ia telah melakkan evaluasi. Hal ini  kurang tepat, sebab seakan-akan keberhasilan suatu proses pembelajaran semata-mata ditentukan oleh tes. Bahasan kedua, kita akan melihat fungsi evaluasi. Selama ini banyak yang beranggapan  bahwa evaluasi dilakukan hanya untuk sis-wa, artinya suatu evaluasi digunakan untuk melihat sejauh mana siswa telah berhasil menguasi sejumlah tujuan seperti tuntutan kurikulum. Apakah fungsi evaluasi hanya sebatas itu? Apakah evaluasi tidak juga berfungsi Bahasan ketiga kita akan melihat konsep penilaian berbasisi kelas (classroom based assessment) sebagai untuk guru, misalnya sebagai umpan balik dalam perbaikan proses pembelajaran? salah satu bentuk  penilaian yang diharapkan dapat mengumpulkan informsi tentang keberhasilan siswa dalam mencapai kompetensi, selanjutnya kita juga akan membahas tentang berbagai jenis alat evaluasi yang dapat digunakan untuk pelaksanaan penilaian bebasisi kelas tersebut.

B. Evaluasi dan Pengukuran

Apa yang dimaksud dengan evaluasi? Apakah evaluasi sama dengan pengukuran? Apa yang ingin dicapai oleh suatu proses evaluasi?

Ada beberapa pengertian evaluasi. Wand  dan Brown (1957) mendefiniskan evaluasi sebagai “…refer to the act or process to determining the value of something” Evaluasi  mengacu kepada suatu proses untuk me-nentukan nilai sesuatu yang dievaluasi.

Sejalan dengan pendapat tersebut  Guba dan Lincoln mendefi-nisikan evaluasi itu merupakan suatu proses  memberikan pertimbang-an mengenai nilai dan arti sesuatu yang dipertimbangkan (evaluand). Sesuatu yang dipertimbangkan itu bisa berupa orang, benda, kegiatan, keadaan atau sesuatu kesatuan tertentu (Hamid Hasan 1988)

Dari kedua konsep di atas, ada dua hal yang menjadi karakteris-tik evaluasi. Pertama, evaluasi merupakan suatu proses. Artinya, dalam suatu pelaksanaan evaluasi mestinya terdiri dari berbagai macam tin-dakan yang harus dilakukan  Dengan demikian evaluasi bukanlah hasil atau produk, akan tetapi rangkaian kegiatan. Untuk apa tindakan itu di lakukan? Tindakan dilakukan   untuk memberi makna atau nilai sesuatu yang dievaluasi.

Kedua, evaluasi berhubungan dengan pemberian nilai atau arti. Artinya, berdasarkan hasil pertimbangan evaluasi apakah sesuatu itu mempunyai nilai atau tidak. Dengan kata lain evaluasi dapat me-nunjukkan kualitas yang dinilai.

Evaluasi memiliki makna yang berbeda dengan pengukuran. Pe-ngukuran (measurement) pada umunya berkenaan dengan masalah ku-antitatif untuk mendapatkan informasi yang diukur. Oleh sebab itu dalam proses pengukuran diperlukan alat bantu tertentu. Misalnya, untuk mengukur kemampuan atau prestasi seseorang dalam memahami bahan pelajaran diperlukan tes prestasi belajar; untuk mengukur IQ, digunakan tes IQ; untuk mengukur berat badan digunakan alat timbangan dan lain sebagainya.

Dari penjelasan di atas, maka antara evaluasi dan pengukuran tidak bisa disamakan walaupun keduanya memiliki keterkaitan yang sangat erat.  Evaluasi akan lebih tepat manakala didahului oleh proses pengukuran; sebaliknya hasil pengukuran tidak akan memiliki arti apa-apa manakala tidak dikaitkan dengan proses evaluasi. Misalkan ber-dasarkan pengukuran diperoleh informasi bahwa anak-anak SMU dapat menyerap 60% bahan pelajaran yang terkandung dalam kurikulum; lalu apa artinya itu? Dapatkan dikatakan bahwa proses pembelajaran yang dibangun oleh guru di SMU berhasil? Dapatkah dikatakan bahwa anak-anak SMU cukup bagus menguasai bahan pelajaran? Tentu saja untuk sampai pada kesimpulan di atas, diperlukan sutu proses pengambilan kesimpulan atau proses pemberian makna yang disebut dengan evaluasi.  Jai dengan demikian pengukuran itu hanya bagian dari evaluasi dan tes bagian dari pengukuran. Apabila digambarkan bagaimana kedudukan evaluasi, pengukuran dan tes dapat dilihat pada bagan  dibawah ini:

C. Fungsi Evaluasi

Dalam konteks KBK  secara umum  evaluasi berfungsi pertama untuk  menilai keberhasilan siswa dalam pencapaian kompetensi dan kedua sebagai umpan balik untuk perbaikan proses pembelajaran. Kedua fungsi tersebut menurut Scriven (1967) adalah evaluasi sebagai fungsi sumatif dan evaluasi sebagai fungsi formatif. Fungsi sumatif adalah apabila evaluasi itu digunakan untuk melihat keberhasilan suatu program yang direncanakan. Oleh karena itu evaluasi sumatif berhu-bungan dengan pencapaian suatu hasil yang dicapai suatu program. Scriven (1967:42) menyatakan: ”summative evaluation focuses on the outcomes of a completed program”. Evaluasi formatif berhubungan dengan perbaikan bagian-bagian dalam suatu proses agar program yang dilaksanakan mencapai hasil yang maksimal. Oleh karena itu evaluasi formatif digunakan selama proses pelaksanaan berlangsung. Melalui evaluasi fungsi sumatif minimal ada da tujuan pokok: Pertama, sebagai laporan kepada orang tua siswa yang telah memper-cayakan kepada sekolah kita untuk membelajarkan putra/putri mereka; kedua sebagai pertanggungan jawab (akuntabilitas) penyeleng-garaan pendidikan kepada masyarakat yang telah mendorong dan membantu pelaksanaan pendidikan di sekolah. Evaluasi fungsi formatif  sangat bermanfaat sebagai umpan balik tentang pproses pembelajaran yang telah dilakukan, sehingga melalui in-formasi dari pelaksanaan evaluasi formatif, guru akan selalu  mem-perbaiki proses pembelajaran. Dalam konteks KBK, kedua jenis fungsi evaluasi ini baik evaluasi fungsi sumatif maupun evaluasi formatif merupakan dua fungsi yang sama pentingnya. Artinya dalam implementasi KBK, guru perlu secara terus menerus mengikuti perkembangan kemampuan sisiwa dalam menguasai kompetensi sesuai dengan tuntutan kurikulum; dan guru pun secara terus menerus perlu memperbaiki proses pembelajaran yang dilakukannya.

D. Penilaian Berbasis Kelas

1. Pengertian

Penilaian berbasis kelas merupakan  bagian integral dalam proses pembelajaran yang dilakukan sebagai  proses pengumpulan dan pemanfaatan informasi yang menyeluruh tentang  hasil belajar yang diperoleh siswa  untuk menetapkan tingkat pencapaian dan penguasaan kompetensi seperti yang ditentukan dalam kurikulum dan  sebagai umpan balik untuk mperbaikan proses pembelajaran.

Dari pengertian di atas,  penilaian berbasis kelas memiliki beberapa karakteristik penting. Pertama, Penilaian berbasis kelas merupakan bagian integral dalam proses pembelajaran, artinya bahwa penilaian ini dilakukan secara terus menerus dalam setiap kegiatan pembelajaran yang dilakukan siswa baik di dalam maupun di luar kelas, seperti laboratorium atau di lapangan ketika siswa sedang melakukan proses pembelajaran. Dengan demikian kegiatan evaluasi bukan merupakan kegiatan yang terpisah dari proses pembelajaran.Kedua, penilaian berbasis kelas, merupakan proses pengumpuluan informasi yang menyeluruh, artinya  dalam penilaian berbasis kelas, guru dapat mengembangkan berbagai jenis evaluasi, baik evaluasi yang berkaitan dengan pengujian dan pengukuran tingkat kognitif siswa seperti menggunakan tes, maupun evaluasi terhadap  perkembangan proses mental melalui penilaian tentang sikap, dan eveluasi terhadap produk atau karya siswa. Ketiga, hasil pengumpulan informasi dimanfaatkan untuk mene-tapkan tingkat penguasaan kompetensi baik standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator hasil belajar seperti yang terdapat dalam kurikulum.Keempat, hasil pengumpulan informasi,  digunakan untuk  meningkatkan hasil belajar siswa melalui proses perbaikan  kualitas pembelajaran. Artinya, melalui penilaian berbasis kelas, guru secara terus menerus dapat meningkatkan kualitas pembelajaran agar lebih efektif dan efisien.

Berdasarkan uraian di atas, minimal ada tiga  manfaat  yang ingin dicapai oleh penilaian berbasis kelas:

  1. Menjamin agar proses pembelajaran yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencapai kompetensi sesuai dengan rambu-rambu yang terdapat dalam kurikulum.
  2. Menentukan berbagai kelemahan dan kelebihan baik yang di-lakukan siswa maupun guru selama proses pembelajaran berlangsung. Analisis kelemahan ini sangat berguna untuk perbaikan proses pembelajaran, sehingga pembelajaran akan lebih efektif dan efisien.
  3. Menentukan pencapaian kompetensi oleh siswa., apakah siswa telah mencapai seluruh kompetensi yang diharapkan atau belum; bagian kompetensi mana yang sudah berhasil dikuasai siswa,  dan bagian mana yang belum berhasil dikuasai. Kesimpulan semacam ini sangat penting untuk diketahui sebagai bahan pelaporan baik kepada siswa itu sendiri, kepada orang tua, maupun kepada pihak lan yang di-anggap perlu dan terkait dengan sistem penyelenggaraan pendidik-an di sekolah.

2. Prinsip-prinsip Penilaian Berbasis Kelas

Sebagai suatu proses, pelaksanaan penilaian berbasis kelas harus te-rencana dan terarah seauai dengan tujuan pencapaian kompetensi. Hakekat penilaian berbasisi kelas adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, bukan semata-mata sebagai alat untuk mengetahui pe-nguasaan materi pelajaran. Oleh karena itulah dalam proses pelak-sanaannya, guru perlu memperhatikan pinsip-prinsip sebagai berikut:

a. Motivasi

Penilaian berbasis  kelas diarahkan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa melalui upaya pemahaman akan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki baik oleh guru maupun siswa. Dengan demikian penilaian ini tidak semata-mata untuk memberikan angka sebagai hasil dari proses pengukuran, akan tetapi apa arti angka yang telah dicapai itu. Siswa perlu memahami makna dari hasil penilaian. Dengan pemahaman ini diharapkan mereka dapat lebih termotivasi dalam melaksanakan proses pembelajaran.

b. Validitas

Penilaian diarahkan bukan semata-mata untuk melengkapi syarat ad-ministratif saja, akan tetapi diarahkan untuk memperoleh informasi tentang ketercapaian kompetensi seperti yang terumuskan dalam kurikulum. Oleh sebab itu penilaian tidak menyimpang dari  kompetensi yang ingin dicapai. Dengan kata lain penilaian harus menjamin  validitas.

c. Adil

Setiap siswa memiliki kesempatan yang sama dalam proses pembelajaran tanpa memandang perbedaan sosial ekonomi, latar belakang budaya dan kemampuan. Oleh karena itulah mereka juga me-miliki kesempatan yang sama untuk dievaluasi. Penilaian bebabasis kelas menempatkan posisi siswa dalam kesejajaran, dengan demikian setiap siswa akan memperoleh perlakukan yang sama.

d. Terbuka

Alat penilain yang baik adalah alat penilaian yang dipahami baik oleh penilai maupun oleh yang dinilai. Siswa perlu memahami jenis atau prosedur penilaian yang akan dilakukan beserta kriteria penilaian. Keterbukaan ini bukan hanya akan mendorong siswa untuk memperoleh hasil yang baik sehingga motivasi belajar mereka akan bertambah juga, akan tetapi sekaligus mereka akan memahami posisi mereka sendiri dalam pencapaian kompetensi.

e. Berkesinambungan

Penilaian berbasis kelas pada hakekatnya merupakan bagian integral dari proses pembelajaran. Oleh karena itu penilaian dilakuan secara terus menerus dan berkesinambungan. Penilaian berbasis kelas, tidak pernah mengenal waktu kapan seharusnya penlaian dilakukan. Menga-pa demikian? Oleh karena penilaian dilakukan untuk memperoleh in-formasi tentang perkembangan dan kemajuan siswa dalam pencapaian kompetensi. Dengan demikian manakala berdasarkan evaluasi seorang siswa diketahui belum mencapai kompetensi sesuai dengan kriteria yang di-tetapkan, maka guru harus mengulang kembali, hingga benar-benar kompetensi itu telah tercapai secara masteri.

f. Bermakna

Penilaian berbasis kelas harus tersusun dan terarah, sehingga hasilnya benar-benar memberikan makna kepada semua pihak khususnya kepada siswa itu sendiri. Melalui penilaian berbasis kelas, siswa akan mengetahui posisi mereka dalam perolehan kompetensi. Di samping itu mereka juga akan memahami kesulitan-kesulitan yang dirasakan dalam mencapai kompetensi. Dengan demikian hasil penilaian itu juga ber-makna bagi guru termasuk bagi orang tua dalam memberikan bimbingan kepada setiap siswa dalam upaya memperoleh kompetensi sesuai dengan target kurikulum.

g. Menyeluruh

Kurikulum berbasis kompetensi diarahkan untuk perkembangan siswa secara utuh, baik perkembangan kognitif, afektif maupun psikomotor. Oleh sebab itu guru dalam melaksanakan penilaian berbasis kelas perlu menggunakan ragam penilaian, misalnya tes, penilaian produk, skala sikap, penampilan ( performance) dan lain sebagainya. Hal ini sangat penting, oleh sebab  hasil penilaian harus memberikan infomasi secara utuh tentang perkembangan setiap aspek.

h. Edukatif

Hasil penilaian berbasis kelas tidak semata-mata diarahkan untuk memperoleh gambaran kemampuan siswa dalam pencapaiain kompetensi melalui angka yang diperoleh, akan tetapi hasil penilaian harus memberikan umpan balik untuk memperbaiki proses pembelajaran baik yang dilakukan oleh guru maupun sisiwa, sehingga hasil belajar akan lebih optimal. Dengan demikian proses penilaian tidak samata-mata tanggung jawab guru akan tetapi juga merupakan tanggung jawab siswa. Artinya siswa harus ikut terlibat dalam proses penilaian, sehingga mereka menyadari bahwa penilaian adalah bagian dari proses pembelajaran.

E. Jenis-jenis Evaluasi

Telah dijelaskan di muka, bahwa penilaian berbasis kelas, diarahkan untuk menemukan informasi tentang kemampuan sisiwa secara utuh yang bukan hanya perkembangan dilihat dari segi intelektual saja akan tetapi juga sikap dan keterampilan. Untuk itulah guru dituntut untuk menggunakan teknik dan alat evaluasi secara beragam agar setiap aspek perkembangan dapat dilihat. Penilaian dapat dikelompokkan kedalam dua jenis, yaitu tes dan non tes. Setiap jenis memiliki karakteristik dan tujuan yang berbeda. Di bawah ini dijelaskan secara singkat.

1. Tes

Tes merupakan alat atau teknik penilaian yang sering digunakan oleh setiap guru. Tes adalah teknik penilaian yang biasa digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam pencapaian suatu kompetensi tertentu. Hasil tes biasa diolah  secara kuantitatif, oleh karena itu hasil dari suatu tes berbentuk angka. Berdasarkan angka itulah selanjutnya di-tafsirkan tingkat penguasaan kompetensi siswa.

Proses pelaksanaan tes dilakukan setelah berakhir pemba-hasan satu pokok bahasan, atau setelah selesai satu catur wulan atau satu semester.  Dilihat dari fungsinya, tes yang diaksanakan setelah selesai satu catur wulan atau semester, dinamakan tes sumatif. Hal ini di-sebabkan hasil dari tes itu digunakan untuk menilai keberhasilan siswa dalam penguasaan suatu kompetensi untuk mengisi buku kemajuan belajar (nilai raport). Sedangkan tes yang dilaksanakan setelah selesai proses belajar mengajar atau mungkin setelah selesai satu pokok ba-hasan dinamakan tes formatif, oleh karena fungsinya bukan untuk melihat keberhasilan siswa akan tetapi digunakan sebagai umpan balik untuk  perbaikan proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru.

a.  Kiteria tes

Sebagai alat ukur dalam proses evaluasi, tes harus memiliki dua kriteria yaitu kriteria validitas dan reliabilitas. Tes sebagai suatu alat ukur dikatakan memiliki tingkat validitas  seandainya dapat mengukur apa yang hendak diukur. Misalnya seandainya guru ingin mengukur tingkat keterpahaman sisiwa tentang materi pelajaran “A,” maka soal-soal tes  harus berisikan item-item tentang “A”bukan soal-soal yang berisi tentang “B”; seandainya guru ingin mengukur kompetensi siswa dalam meng-operasikan suatu  produk teknologi, maka alat yang digunakan adalah tes keterampilan menggunakan produk teknologi tersebut. Tidak dikatakan tes memiliki tingkat validitas seandainya yang hendak diukur kompetensi mengoperasikan sesuatu akan tetapi yang digunakan adalah tes tertulis yang  mengukur keterpahaman suatu konsep. Tes  memiliki tingkat reliabilitas atau keandalan jika tes tersebut dapat menghasilkan informasi yang konsisten. Misalnya jika suatu tes diberikan pada sekelompok siswa, kemudian diberikan lagi kepada sekelompok siswa  yang sama pada saat yang berbeda, maka hasilnya akan relatif sama.

Ada beberapa teknik untuk  menentukan tingat reliabilaitas tes. Pertama dengan tes-retes, yaitu dengan mengkorelasikan hasil testing yang pertama dengan hasil testing yang kedua. Kedua dengan mengkorelasikan hasil testing antara item genap dan item ganjil (odd-even method). Ketiga dengan memecah hasil testing menjadi dua bagian, kemudian keduanya dikorelasikan. Hasil korelasi itulah yang menentukan tes memiliki tingkat reliabilitas atau tidak.

b. Jenis-jenis Tes

1) Tes berdasarkan jumlah peserta

Berdasarkan jumlah peserta, tes hasil belajar dapat dibedakan menjadi tes kelompok dan tes individual. Tes kelompok adalah tes yang dilaku-kan terhadap sejumlah siswa secara bersama-sama.; sedangkan tes indivi-dual adalah tes yang dilakukan kepada  siswa secara perorangan.

2) Tes standar dan tes buatan guru

Dilihat dari cara penyusunannya, tes juga dapat dibedakan menjadi tes buatan guru dan tes standar. Tes buatan guru disusun untuk meng-hasilkan informasi yang dibutuhkan oleh guru yang bersangkutan. Mi-salnya untuk mengumpulkan informasi tentang  tingkat kompetensi aka-demik atau tingkat penguasaan materi pelajaran siswa yang diajarnya,; atau untuk melihat efektifitas proses pembelajaran yang telah dilaksana-kan. Tes buatan guru, biasanya tidak terlalu memperhatikan tingkat validitas dan tingkat reliabilitas. Hal ini disebabkan, tes buatan guru hanya mencakup  materi yang terbatas. Tes standar adalah tes yang digunakan untuk mengukur kemampuian siswa  sehingga berdasarkan kemampuan tersebut tes stan-dar  dapat memprediksi keberhasilan belajar siswa pada masa yang akan datang. Tes standar biasanya digunakan untuk kepentingan seleksi, misalnya seleksi mahasiswa baru, seleksi untuk pegawai dan lain sebagainya.  Sebagai tes yang berfungsi untuk mengukur kemampuan, maka suatu tes standar harus memiliki  derajat validitas dan reliabilitas melalui serangkaian uji coba, serta memiliki  tingkat kesulitan dan daya pembeda yang tinggi.

3) Tes berdasarkan pelaksanaannya

Dilihat dari cara pelaksanaannya, tes dapat dibedakan menjadi tes tulisan, tes lisan dan tes perbuatan.  Tes tulisan atau yang sering disebut juga tes tertulis, adalah tes yang dilakukan dengan cara siswa menjawab sejumlah item soal dengan cara tertulis. Ada dua jenis tes yang termasuk kedalam tes tulisan ini, yaitu tes esay dan tes objektif. Tes esay adalah bentuk tes dengan cara siswa diminta  untuk menjawab pertanyaan se-cara terbuka yatu menjelaskan atau menguraikan melalui kalimat yang disusunnya sendiri. Tes esay dapat menilai proses mental siswa teruta-ma dalam hal kemampuan menyusun jawaban secara sistematis, kesang-gupan menggunakan bahasa dan lain sebabagainya.Tes objektif adalah bentuk tes yang mengharapkan siswa memilih jawaban yang sudah ditentukan. Misalkan bentuk tes benar-salah (BS), tes pilihan ganda (multiple choice), menjodohkan (matching), dan bentuk melengkapi (completion).Tes lisan adalah bentuk tes yang  menggunakan bahasa   secara lisan. Tes  ini  bagus untuk menilai kemampuan nalar siswa. Melalui ba-hasa secara verbal, penilai dapat mengetahui  secara mendalam  pema-haman siswa tentang sesuatu yang dievaluasi, yang bukan hanya pe-mahaman tentang konsep, akan tetapi bagaimana aplikasinya serta hu-bungannya dengan konsep yang lain, bahkan penilai juga dapat meng-ungkap informasi tentang pendapat dan pandangan mereka tentang sesuatu yang dievaluasi. Tes lisan hanya mungkin dapat di-lakukan manakala jumlah siswa yang dievaluasi sedikit, serta menilai sesuatu yang tidak terlalu luas akan tetapi mendalam.Tes perbuatan (performance) adalah tes dalam bentuk peragaan. Tes ini cocok manakala kita ingin mengetahui kemampuan dan kete-rampilan seseorang mengenai sesuatu. Contohnya memperagakan ge-rakan-gerakan, mengoperasikan sesuatu alat dan lain sebagainya.

2.  Non  tes

Non tes adalah alat evaluasi yang biasanya digunakan untuk menilai aspek tingkah laku termasuk sikap, minat dan motivasi. Ada bebarapa jenis non tes sebagai alat evaluasi, diantaranya wawancara, observasi, studi kasus, skala penilaian.

1. Observasi

Observasi adalah teknik penlaian dengan cara mengamati tingkahlaku pada suatu situasi tertentu. Ada dua jenis observasi yaitu observasi partisipatif dan non partisipatif. Observasi partisipatif adalah observasi yang dilakukan dengan menempatkan  observer sebagai  bagian dari ke-giatan  dimana observasi itu dilakukan. Misalkan ketika observer ingin mengumpulkan informasi bagaimana aktivitas siswa dalam kegiatan diskusi, maka  sambil melakukan pengamatan, observer juga  merupa-kan bagian dari peserta diskusi. Observasi semacam ini memiliki kelebihan, diantaranya yang diobservasi akan bersikap dan berperilaku wajar, sebab dirinya  tidak akan merasa dirinya sedang diobservasi.Observasi non partisipatif adalah observasi yang dilakukan dengan cara observer murni sebagai pengamat. Artinya, observer dalam melakukan pengamatan, tidak aktif sebagai bagian dari kegiatan itu, akan tetapi ia berperan semata-mata hanya sebagai pengamat saja. Oleh sebab itu salah satu kelemahan observasi non partisipatif adalah kecenderungan yang diobservasi untuk berperlaku dibuat-buat sangat tinggi.Observasi juga dapat dilakukan terhadap kelompok yang kemu-dian dinamakan observasi kelompok dan observasi yang dilakukan terhadap siswa secara individual atau disebut dengan observasi indi-vidual. Apakah kita akan melakukan obsevasi kelompok atau individu, sangat tergantung kepada tujuan observasi yang akan dilakukan. Untuk kepentingan observasi, kita perlu membuat pedoman ob-servasi misalnya dalam  ceklist, catatan anekdot, skala penilain.

a. Ceklist

Ceklist atau daftar cek adalah pedoman observasi yang berisikan daftar dari semua aspek yang akan diobservasi, sehingga observer tingal mem-beri tanda ada atau tidak adanya dengan tanda cek (V) tentang aspek yang diobservasi.Ceklist merupakan alat observasi yang praktis untuk digunakan, sebab semua aspek yang akan dievaluasi sudah ditentukan terlebih dahulu. Ada dua bentuk ceklist, yaitu bentuk individual dan bentuk ke-lompok. Ceklist individal digunakan untuk mencatat ada atau tidak adanya aspek yang dievaluasi pada seseorang; sedangkan ceklist ke-lompok digunakan untuk mencatat kegiatan individu dalam suatu kelompok.

Contoh format ceklist dapat dilihat di bawah ini.

CONTOH  CEKLIST INDIVIDUAL

Nama Observant          :……………………………………………………

No. Stb.                       : …………………………………………………..

Tempat Observasi        :…………………………………………………..

Waktu Observasi          : ………………………………………………….

Observer                      : …………………………………………………

Topik Observasi           : Aktivitas sisiwa ketika mengikuti pembelajaran

di dalam kelas

No. ASPEK YANG DIOBSERVASI HASIL OBSERVASI
1. Perhatian v
2. Bertanya
3. Mengeluarkan pendapat
4. Kedisiplinan v
5. …………………………………………………………

CONTOH  CEKLIST KELOMPOK

Jenis Kegiatan                        :           Diskusi kelompok

Tempat Observasi                  :           ……………………………………………………

Waktu Observasi                    :           ……………………………………………………

Nama Observer                      :           ……………………………………………………

No. ASPEK YANG DINILAI NAMA PESERTA
Budi Oni Susi Oka
1. Mengeluarkan Pendapat V v v v
2. Bertanya V
3. Menjawab Pertanyaan v v
4. Menghargai Pendapat orang lain V v
5. ……………………………………….

b. Catatan Anekdot

Catatan anekdot adalah alat observasi untuk mencatat kejadian-kejadian yang sifatnya luar biasa, sehingga dianggap penting. Dalam penelitian seperti studi kasus catatan anekdot ini sangat diperlukian untuk me-ngumpulkan data-data yang dianggap penting dari kasus yang sedang diteliti. Agar data yang diperlukan itu utuh sebaiknya peneliti mencatat peristiwa itu ketika kejadian berlangsung, jangan ditunda.

c.  Skala Penilaian

Skala penilaian pada dasarnya hampir sama dengan daftar cek, hanya aspek yang diteliti/diobservasi dijabarkan ke dalam bentuk skala atau kriteria-kriteria tertentu. Dengan demikian data yang diperoleh akan lebih halus, sebab dengan skala penilaian buka hanya mencata ada atau tuidak adanya gejala/tindakan tertentu seperti pada daftar cek, akan tetapi sampai dimanakah gejala itu muncul. Oleh sebab itu observer perlu memahami aspek-aspek yang akan diobservasi secara mendalam sehingga tidak ragu-ragu dalam penilaian.           Skala penilaian dapat dibagi ke dalam 3 bentuk, yaitu bentuk kategori, numarical, dan bentuk grafis. Skala penilaian bentuk kategori, kriteria penilaian dijabarkan ke dalam bentuk kualitatif seperti, selalu, kadang-kadang, tidak pernah. Observer tinggal memberi penilaian pada kriteria tersebut sesuai dengan hasil pengamatan. Skala penilaian menurut ukuran angka hampir sama dengan bentuk kategori, perbedaannya dalam alternatif penilaian diganti dengan nomor. Misalkan untuk kategori selalu diberi nomor 2, kategori kadang-kadang diberi nomor 1, dan tidak pernah diberi nomor 0. Dengan demikian observer tinggal membubuhkan pada angka tersebut sesuia dengan hasil pengamatannya. Dalam skala penilaian bentuk grafis  alternatif gejala dibuat dalam bentuk grafis baik secara vertikal maupun horizontal. Contoh dari skala penilaian disajikan di bawah ini.

CONTOH SKALA PENILAIAN

Nama Observant                  :

No. Stb.                                  :

Tempat Observasi                :

Waktu Observasi                  :

Nama Observer                    :

Topik diobservasi                 : Aktivitas siswa dalam kegiatan diskusi   Kelompok

No. ASPEK YANG DIOBSERVASI ALTERNATIF
SR KD TP
1. Menjawab pertanyaan V
2. Mengajukan pendapat V
3. Menghargai pendapat orang lain v
4. ……………………………………………………………

2. Wawancara

Wawancara adalah komunikasi langsung antara yang mewawancarai dan yang diwawancarai. Dilihat dari sifatnya, ada dua jenis wawancara yaitu, wawancara langsung dan wawancara tidak langsung. Dikatakan wawan-cara langsung, manakala pewawancara melakukan komunikasi dengan subjek yang ingin dievaluasi. Sedangkan wawancara tidak langsung, di-lakukan manakala pewawancara ingin menmgumpulkan data subjek melalui perantara. Misalkan ketika ingin mengumpulkan informasi ten-tang kebiasaan siswa dalam belajar, maka dikatakan wawancara langsung apabila wawancara dilakukan dengan siswa yang ber-sangkutan; sedangkan manakala wawancara dilakukan dengan orang lain misalnya dengan orang tua siswa yang bersangkutan dikatakan wawancara tidak langsung.

Dilihat dari cara pelaksanaannya wawancara juga dapat dibe-dakan antara wawancara insidental dan wawancara berencana. Wawancara insidental adalah wawancara yang dilakukan sewaktu-waktu bila dianggap perlu; sedangkan wawancara berencana adalah wawan-cara yang dilaksanakan secara formal, direncanakan waktu, tempat serta materi wawancaranya.

3. Penilian Portofolio

a. Pengertian

Portofolio dapat diartikan sebagai kumpulan  karya siswa yang disusun secara sistematis dan terorganisir sebagai hasil dari usaha pembelajaran yang telah dilakukannya dalam kurun waktu tertentu. Melalui hasil karya tersebut guru dapat melihat perkembangan kemampuan siswa  baik dalam aspek pengetahuan, sikap maupun keterampilan sebagai bahan penliaian. Hasil karya yang dihasilkan bisa hasill karya yang dikerjakan di dalam kelas (artifacts), atau  bisa juga hasil kerja siswa yang di lakukan diluar kelas (reproduction). Hasil karya siswa itu kemudian dinimakan evidence. Melalui evidence inilah, siswa dapat mendemonstrasikan unjuk kerja kepada orang lain baik tentang pengetahuan, sikap maupun ke-terampilan sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Penilaian portofolio memiliki beberapa manfaat diantaranya:

  1. Penilaian  portofolio dapat memberikan gambaran  yang utuh tentang perkembangan kemampuan siswa. Artinya melalui penilaian portofolio, informasi yang didapatkan bukan hanya sekedar pengetahuan saja, akan tetapi juga sikap dan keterampilan.
  2. Penilaian portofolio  merupakan   penilain  yang autentik. Artinya, penilaian portofolio  memberikan gambaran nyata tentang kemampuan siswa yang sesungguhnya. Mengapa demikian? Sebab porto-folio adalah dokumen asli yang berisi tentang sekumpulan karya siswa. Melalui dokumen itulah tergambarkan kemampuan siswa yang sesungguhnya.
  3. Penilaian portofolio   merupakan  teknik penilaian yang dapat mendorong siswa pada pencapaian hasil yang lebih baik dan lebih sempurna, siswa dapat belajar optimal, tanpa merasa tertekan. Hal ini dimungkinkan  sebab penilaian portofolio adalah penilaian yang dilakukan secara terus menerus. Setiap hasil kerja siswa dimonitor dan diberi komentar.
  4. Penilaian portofolio dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa, oleh sebab setiap respon siswa dalam proses pembe-lajaran diberikan reinforcement, dengan demikian siswa akan segera mengetahui kekurangan dan kelebihan dari proses pembelajaran yang dilakukannya.
  5. Penilain portofolio  dapat mendorong para orang tua siswa untuk aktif terlibat dalam proses pembelajaran siswa. Hal ini disebabkan setiap perkembangan siswa yang digambarkan melalui hasil kerja siswa, orang tua dimintai komentarnya.

b. Perbedaan tes dan Penilaian portofio

Kalau ujung-ujungnya hanya untuk menentukan keberhasilan siswa dalam suatu proses pembelajaran, mengapa harus menggunakan penilaian portofolio, tidak menggunakan tes saja seperti yang selama ini dilakukan.? Pertanyaan ini sering kali muncul kepermukaan. Sepintas pertanyaan itu memang wajar. Sebab, dengan melaksanakan penilaian portofolio ada sedikit penambahan beban dan tugas guru. Guru minimal dituntut untuk mengikuti perubahan dan perkembangan kemampuan setiap siswa, padahal baik tes maupun penilaian potofolio pada akhirnya bertujuan untuk menentukan sejauhmana siswa telah mencapai tujuan seperti yang dirumuskan dalam kurikulum. Benarkah demikian? Apakah penilaian portofolio hanya sekedar untuk menentukan keberhasilan belajar siswa? Di bawah ini djelaskan beberapa perbedaan pokok antara tes sebagai suatu teknik atau alat penilaian yang selama ini digunakan guru dengan penilaian potofolio sebagai salah satu inovasi dalam pelaksanaan penilaian.

PERBEDAAN TES DENGAN PENILAIAN PORTOFOLIO

T E S PENILAIAN PORTOFOLIO
1. Tes biasanya  dilakukan untuk menilai kemampuan intelektual siswa  melalui penguasaan materi pembelajaran 1. Penilaian portofolio menilai seluruh aspek perkembangan siswa baik intelektual, minat sikap dan keterampilan.
2. Guru berperan sangat dominan da-lam proses penilaian  sedangkan siswa berperan sebagai orang yang dinilai 2. Peserta didik terlibat dalam proses penilaian  dengan menilai dirinya sendiri  mengenai kemampuan beserta dalam per-kembangannya.
3. Kriteria penilaian ditentukan satu untuk semua 3. Kriteria penilaian ditentukan sesuai dengan karakteristik siswa
4. Keputusan berdasarkan penilaian ditentukan sendiri oleh guru 4. Proses   penilaian  beserta pengam-bilan keputusan dilakukan dengan cara kolaboratif antara guru, siswa dan orang tua.
5. Penilain dilakukan dengan berori-entasi pada pencapaian hasil belajar 5. Pnilaian beroreintasi pada kemajuan, usaha yang dilakukan siswa termasuik pencapaian hasil belajar
6. Penilaian merupakan   kegiatan yang terpisah dari proses pembela-jaran 6. Penilaian merupakan bagian integral dari proses pembelajaran
7. Penilaian melalui tes biasanya di-lakukan pada akhir program pembelajaran 7. Penilaian portofolio dilakukan se-lama proses pembelajaran ber-langsung.

C. Prinsip-prinsip Penilaian Portofolio

Dalam proses pelaksanaan evaluasi dengan sustem penilaian portofolio  terdapat beberpa prinsip yang harus dperhatikan. Prinsip-prinsip tersebut dijelaskan di bawah ini.

1. Saling percaya

Penlaian portofolio adalah penilaian yang melibatkan siswa secara aktif sebagai pihak yang dievaluasi. Antara guru sebagai evaluator dan siswa sebagai pihak yang dievaluasi harus saling percaya. Siswa harus me-miliki kepercayaan bahwa  evaluasi yang dilakukan guru bukan semata-mata untuk menilai hasil pekerjaannya, akan tetapi sebagai upaya pemberian umpan balik untuk  meningkatkan hasil belajar.

2. Keterbukaan

Portofolio adalah penilaian yang dilaksanakan secara terbuka, artinya guru sebagai evaluator bukan hanya berperan sebagai orang yang memberikan  nilai atau kritik, akan tetapi siswa yang dievaluasi perlu memahami mengapa kritik itu muncul., oleh sebab itu guru harus terbu-ka melalui argumentasi yang tepat dalam setiap memberian penilaian. Untuk menciptakan keterbukaan, dalam setiap proses pembe-lajaran guru harus menciptakan iklim belajar yang menyenangkan, se-hingga setiap siswa dapat menunjukkan kemampuannya tanpa ada perasaan takut atau malu.

3. Kerahasiaan

Sebelum dilaksanakan pameran, kerahasiaan dokumen (evidence) setiap siswa perlu dijaga. Hal ini untuk menumbuhkan kepercayaan setiap siswa. Berbagai komentar yang diberikan guru terhadap proses pembelajaran dan hasil karya siwa, biar siswa yang bersangkutan yang tahu. Hal ini untuk menjaga perasaan siswa, jangan sampai  ada kesan siswa  merasa direndahkan dan dipermalukan di depan teman-temannya, apalagi kalau komentar itu  menyangkut kemampuan dan pribadi siswa yang bersangkutan. Demikian juga komentar untuk siswa yang dianggap baik, tidak perlu diinformasikan pada yang lain. Hal ini untuk menjaga agar siswa yang bersangkutan tidak merasa paling hebat diantara teman-teman lainnya.

4. Milik Bersama

Guru dan peserta didik harus merasa bahwa evidence portofolio adalah milik bersama, oleh sebab itu semua phak harus menjaganya secara baik. Guru dan siswa perlu sepakat dimana evidence itu  disimpan. Hal ini akan mempermudah manakala siswa atau guru memerlukannya.

5. Kepuasan dan kesesuaian

Hasil akhir dari penilaian portofolio adalah ketercapaian kompetensi se-perti yang dirumuskan dalam kurikulum. Ketercapaian itu selanjutnya dapat dilihat dari evidence yang diorganisasikan oleh guru dan siswa. Guru dan siswa akan merasa puas manakala kompetensi itu telah tercapai. Oleh karena itu terkumpulnya evidence  merupakan kepuasan baik bagi  guru maupun bagi siswa.

6. Budaya pembelajaran

Penilaian portofolio harus dapat mengembangkan budaya belajar. Sebab penilaian portofolio itu sendiri pada dasarnya mengandung proses pembelajaran.  Bukankah unjuk kerja yang tergambarkan pada setiap evidence pada dasarnya adalah proses pembelajaran. Oleh sebab itu  melalui penilaian portofolio, dalam proses pembelajaran guru tidak hanya menuntut siswa  untuk menghapal sejumlah fakta atau pengetahuan taraf rendah,  akan tetapi harus membelajarkan siswa pada taraf yang lebih tinggi, misalnya mengembangkan pembelajaran berpikir melalui penelaahan kasus atau pengumpulan dan penafsiran data.

7. Refleksi

Penilaian portofolio harus memberikan kesempatan yang luas kepada siswa untuk melakukan refleksi tentang proses pembelajaran yang telah dilakukannya. Melalui refleksi, siswa dapat menghayati tentang proses berpikir mereka sendiri, kemampuan yang telah mereka peroleh, serta pemahaman mereka tentang kompetensi yang telah dimilikinya.

8. Berorientasi pada proses dan hasil

Penilaian portofolio  bertumpu pada dua sisi yang sama pentingnya, yakni sisi proses dan hasil belajar secara seimbang.  Penilaian portofolio mengikuti setiap aspek perkembangan siswa, bagaimana cara belajar siswa, bagaimana motivasi beljar, sikap, minat, kebiasaan dan lain sebagainya dan pada akhirnya bagaimana hasil belajar yang diperoleh siswa. Dengan demikian penilaian portopolio tidak hanya sekedar menilai hasil akhir yang dimiliki siswa akan tetapi juga menilai proses pem-belajaran yang dilakukan siswa.

d. Kelemahan dan Kelebihan Portofolio

Penilaian portofolio memiliki perbedaan yang sangat mendasar di-bandingkan dengan sistem penilaian yang biasa dilakukan misalnya dengan tes. Tes biasa digunakan untuk menilai ke-mampuan pengua-saan materi pelajaran atau perkembangan intelektual siswa, oleh sebab itu tes biasanya dilaksanakan  pada akhir selesainya pelaksanaan pro-gram pembelajaran misalnya pada akhir catur wulan atau semester. tidak demikian halnya dengan penilaian potofolio. Penilaian potofolio dilakukan untuk menilai setiap aspek perkembangan siswa termasuk perkembangan minat, sikap dan motivasi. Oleh sebab itu penilaian portofolio  merupakan bagian integral dari proses pembelajaran yang dlakukan secara terus menerus dan menyeluruh. Sebagai sutau teknik penilaian  portofolio  memiliki keunggulan, diantaranya:

  1. Penilaian portofolio  dapat menilai kemampuan siswa secara menyeluruh.

Penilaian portofolio, melalui pengumpulan evidence dapat menilai kemampuan siswa secara utuh, yang tidak hanya menilai ke-mampuan unjuk kerja akan tetapi termasuk sikap dan motivasi belajar.  Di samping itu penilaian portofolio me-nilai dua sisi yang sama pentingnya yaitu sisi proses dan hasil belajar.

2.    Penilaian portofolio dapat menjamin akuntabilitas

Akuntabilitas (pertanggungjawaban) sekolah terhadap siswa, orang tua dan masyarakat, melalui penilaian portofolio dapat lebih ter-jamin. Mengapa demikian? Sebab kemampuan siswa dapat lebih teruji dengan melihat setiap perkembangan  siswa.

3.    Penilaian portofolio merupakan penilaian yang bersifat individual.

Kekhasan penilaian portofolio adalah memungkinkan guru untuk melihat peserta didik sebagai individu yang masing-masing memliki perbedaan, baik perbedaan dalam segi kemampuan, minat  ataupun bakat termasuk perbedaan cara belajar. Dengan  perbedaan itu, guru dapat menyesuaikan diri dalam pengelolaan proses pembelajaran sesuai dengan  kebutuhan.

4.    Penilaian portofolio merupakan penilaian yang terbuka

Melalui dokementasi evidence yang tersusun secara sis-tematis dan terorganisasi, setiap pihak yang berkepen-tingan seperti orang tua, kepala sekolah, komite sekolah dan lain sebagainya dapat menguji kemampuan siswa. Oleh sebab itu penilaian protofolio merupakan penialain yang terbuka. Hal ini merupakan kelebihan yang memiliki arti yang sangat penting, yang tidak dimiliki oleh jenis penilaian lainnya.

5.    Penilaian portofolio bersifat self evaluation

Kelebihan penilaian portofolio yang lain adalah setiap siswa dapat menilai dirinya sendiri dan  dapat melakukan refleksi sehingga me-reka dapat menentukan kompetensi mana yang belum tercapai atau perlu penyempurnaan dam kompetensi mana yang sudah tercapai. Melalui self evaluastion dapat menumbuhkan tanggung jawab bai dirinya sendiri.

Di samping kelebihan, penilaian portofolio juga memiliki kelemahan diantaranya:

1.     Memerlukan waktu dan kerja keras

Penilaian portofolio memerlukan waktu dan kerja keras  bagi guru dibandingkan penilaian lain. Guru dituntut untuk dapat mem-perhatikan setiap siswa secara individual, memantau perkem-bangannya, mendorong agar mereka lebih banyak beraktivitas, mengumpulkan setiap pekerjaan siswa   untuk diberi komentar dan lain sebagainya. Semua itu memerlukan waktu dan tenaga ekstra. Oleh karena itu  guru yang kurang memiliki motivasi yang kuat dalam menjalankan profesinya, akan sulit melaksanakan penilaian model portofolio ini.

2.     Penilaian portofolio memerlukan perubahan cara pandang

Penilaian portofolio dapat dikatakan sebagai suatu inovasi. Se-bagaimana layaknya sebuah inovasi, maka penilaian portofolio memerlukan perubahan cara pandang baik dari guru itu sendiri, dari masyarakat termasuk perubahan cara pandang orang tua. Merubah cara pandang itu bukanlah sesuatu yang mudah, akan tetapi memerlukan kerja keras. Orang tua dan masyarakat yang sudah terbiasa menganggap keberhasilan proses pendidikan diukur dari sejauhmana siswa telah menguasai materi pelajaran melalui  pen-dekatan kuantitatif, akan sulit menerima bahwa keberhasilan itu ditentukan secara kualitatif. Demikian juga halnya dengan guru. Guru yang sudah terbiasa melaksanakan proses pembelajaran dengan menyampaikan materi pelajaran untuk diingat dan dihapal siswa, akan sulit melaksanakan pembelajaran dengan gaya por-tofolio, dimana siswa didorong untuk lebih banyak beraktivitas, mencari dan menemukan sendiri hingga kompetensi tercapai sesuai dengan tujuan yang dirumuskan dalam kurikulum; setiap per-kem-bangan dan perubahan  siswa dimonitor dan diberi catatan secara terus menerus.

3.     Penilaian portofolio memerlukan perubahan gaya belajar

Selama ini siswa menganggap bahwa belajar itu adalah menguasai sejumlah materi pelajaran seperti yang disampaikan guru. Gaya belajar siswa akan ditentukan oleh keberadaan guru. Mereka akan belajar manakala ada guru sebagai sumber belajar. Mereka akan sulit manakala dilepas oleh guru untuk belajar. Merubah pola belajar bagi siswa bukanlah pekerjaan yang mudah, namun me-merlukan ke-sabaran dan kesungguhan. Tidak sedikit guru yang merasa prustasi, ketika siswa sulit untuk diajak bertanya jawab, sulit untuk diberi tanggung jawab penyelesaian tugas dan lain sebagainya.

4.     Penilaian portofolio memerlukan perubahan sistem pembelajaran

Selama ini sistem pembelajaran yang berlaku di Indonesia adalah sistem klasikal, dimana setiap kelas memliki rom-bongan belajar yang sangat banyak yaitu antara 40 -45 orang bahkan lebih. Sistem pembelajaran yang demikian, akan sulit untuk penilaian portofolio, belum lagi setiap guru harus mengajar banyak kelas.

E. Tahapan Penilaian Portofolio

Terdapat sejumlah tahapan yang harus dilakukan dalam   melaksanakan penilaian portofolio. Setiap tahapan dijelaskan berikut ini.

1. Menentukan tujuan portofolio

Pembelajaran adalah suatu proses yang bertujuan. Apa yang dilakukan guru dan siswa diarahkan untuk mencapai tujuan itu. Oleh karena itulah tahapan pertama dalam pelaksanaan penilain portofolio adalah merumuskan tujuan yang ingin dicapai. Dengan tujuan yang jelas dan terarah, akan memudahkan bagi guru untuk mengelola pembelajaran

Beberpa hal yang sangat penting sehubungan dengan penetapan tujuan portofolio dijelaskan berikut ini

  1. Dengan menggunakan protofolio, apakah tujuannya untuk memantau proses pembelajaran  (process oriented) atau untuk mengevaluasi hasil akhir (product oriented) atau mungkin keduanya.
  2. Apakah tujuan penggunaan portofolio itu sebagai    proses pembelajaran atau sebagai alat penilaian?
  3. Apakah portofolio  itu digunakan untuk memantau perkembangan dan perubahan setiap siswa atau hanya bermaksud untuk mengoleksi dan  mendokumentasikan hasil pekerjaan siswa.
  4. Apakah portofolio   digunakan untuk  menunjukkan proses pembelajaran yang sedang berlangsung kepada pihak tertentu, misalnya kepada orang tua, atau komite sekolah dan lain sebagainya.

Penentuan tujuan portofolio akan sangat membantu dalam menentukan evidence siswa dan proses bagaimana evidence itu diperoleh sebagai bukti bahwa siswa telah mencapai suatu kompetensi sesuai dengan rumusan kurikulum.

2. Penentuan isi portofolio

Isi dan bahan portofolio merupakan tahapan berikutnya setelah menentukan tujuan. Isi  dalam fortofolio harus dapat menggambarkan perkembangan kemampuan siswa yang sesuai dengan standar kom-petensi seperti yang dirumuskan dalam kurikulum. Misalkan apabila tujuan penggunaan portofolio adalah kemampuan anak dalam membuat sebuah karangan, maka isi portofolio adalah perkembangan kemampuan anak dari mulai mengembangkan ide atau gagasan, menentukan tema, menyusun kalimat, menyusun paragraf dan seterusnya hingga pe-nyusunan karangan secara utuh. Untuk menghasilkan kompetensi ter-sebut, tentu saja proses pembelajaran yang dilakukan guru harus sesuai dengan kompetensi yang diharapkan. Siswa didorong untuk menghasilkan karya, bukan hanya berperan sebagai penerima informasi dari guru. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menentukan isi portofolio diantaranya:

  1. Apakah portofolio itu berisikan seluruh evidence siswa sesuai dengan pengalaman belajar yang telah dilakukannya, atau hanya berisi sebagian saja yang dianggap penting.
  2. Apakah isi portifolio itu relevan dengan kompetensi yang ingin dicapai sesuai dengan kurikulum?
  3. Apakah  portofolio itu beisi evidence siswa yang dikerjakannya sendiri atau hasil kerja kelompok ?

3. Menentukan kriteria dan format penilaian

Kriteria penilaian disusun sebagai standar patokan untuk guru dalam menentukan keberhasilan proses dan hasil pembelajaran pada setiap aspek yang akan dinilai. Adapun aspek-aspek yang dinilai tesebut sangat tergantung pada jenis kompetensi yang diharapkan. Selanjutnya kriteria itu disusun dalam sebuah format penilain yang jelas .Kriteria penilaian ditentukan dalam dua aspek pokok, yaitu kri-teria untuk proses belajar dan kriteria untuk hasil belajar. Proses belajar misalnya ditentukan kriteria penilaian dari aspek kesunguhan me-nyelesaikan tugas, motivasi belajar, ketepatan waktu penyelesaian dan lain sebagainya; sedangkan kriteria dilihat dari hasil belajar disesuaikan dengan isi yang menggambarkan kompetensi. Di bawah ini diberikan contoh format penilaian beserta kriterianya.

PENILAN PORTOFOPOLIO PROSES BELAJAR SISWA

Aspek yang dinilai:Moivasi belajar Nama   : Abudl GafurTanggal: 28 Agustus 2004

MP       : Fisika

Indikator Kriteria
1. Keantusiasan dalam belajar 1 2 3 4 5
V
2. Partisipasi dalam kegiatan diskusi V
3. Keseriusan dalam penyelesaian tugas V
4. ……………………………………….
5. ……………………………………….
Komentar orang tua Komentar guru:Dalam proses pembelajaran Fisika Abdul Gafur menunjukkan motivasi belajar yang tinggi.

Pertahanlan motivasi belajar kamu Gafur…!

PENILAIAN PORTOFOLIO HASIL  BELAJAR SISWA

Kompetensi dasar :Menafsirkan pola dan ciri kenampakan alam dan budaya pada berbagai peta dan media citra Nama   : HartilastiTanggal: 28 Agustus 2004

MP       : Geografi

Indikator Kriteria
1. Membedakan peta dengan media citra (foto udara  dan citra satelit) 1 2 3 4 5
V
2. Membuat peta berdasarkan hasil pengukuran jarak dan arah dengan menggunakan alat bantu meteran   dan kompas V
3. Melakukan klasifikasi data, tabulasi  dan mem-buat   simbul V
4. Membuat peta tematik dengan menggunakan simbol  kuantitatif (titik, garis dan luasan). V
5. Mengenal kenampakan alam dari hasil   peme-taan /interpretasi citra V
Komentar orang tua Komenar guru :Kemampuan Hartilasti dalam menafsirkan pola dan ciri kenampakan alam dan budaya pada berbagai peta dan media citra sudah bagus.

Sukses untuk Har…!

Apabila kompetensi yang diharapkan berupa produk atau hasil kaya siswa, maka kriteria dan format penilaian ditetapkan sesuai dengan aspek-aspek yang terkandung dalam kompetensi itu sendiri misalnya seperti yang digambakan dalam format di bawah ini.

PENILAIAN PORTOFOLIO HASIL  KARYA SISWA

Kompetensi dasar :Menbuat karangan singkat sesuai dengan pengalaman masing-masing Nama   : Hans SulistiyoTanggal: 14 Juni 2004

MP       : B. Indonesia

Indikator Kriteria
1. Pengembangan ide atau gagasan 1 2 3 4 5
V
2. Penyusunan alur cerita V
3. Sistematika penulisan V
4. Pemilihan kata V
5. Penggunaan EYD V
Komentar orang tua KomenTar guru :Hans  berhasil dalam menyusun sebuah cerita sesuai dengan pengalamannya.Hanya saja dalam penempatan kata yang sesua serta aspek penggunaan ejaan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia perlu ditingkatkan.

Ayo berlatih tersu Hans…!

4. Pengamatan dan penentuan bahan portofolio

Tidak semua bahan (evidence) dimasukkan sebagai bahan portofoilio. Fortofolio biasanya hanya memuat evidence yang dianggap dapat mewakili dan menggambarkan suatu perkembangan dan perubahan yang terjadi. Oleh karena itu sebelum ditentukan evidence mana yang dianggap dapat dimasukkan kedalam portofolio, terlebih dahulu perlu dilakukan pengamatan. Pengamatan dan penentuan evidence sebaiknya dilakukan oleh guru dan siswa secara bersama-sama. Siswa perlu dimintai pertimbangan-pertimbangan serta alasan-alasannya evidence mana yang harus dimasukkan. Hal ini penting untuk menjamin objektivitas penilaian portofolio.Terdadapat beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan dalam memilih dan menentukan bahan portofolio.

  1. Evidence yang ditetapkan sebagai bahan portofolio adalah evidence yang  dapat mewakili gambaran kemampuan siswa yang sesungguhnya. Artinya melalui evindence yang ditentukan, baik guru maupun orang tua dan pihak-pihak lainya bisa menilai kemampuan akhir siswa.
  2. Evidence dipilih karena dapat menggambarkan perkembangan perubahan dan kemampuan siswa dari awal sampai akhir siswa. Peimbangan ini dapat dilakukan terutama untuk menilai perkembangan kemampuan siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Dengan demikian tidak semuaa evidence dimasukkan pada portofolio.
  3. Evidence dipilih karena keterkesanan siswa akan karya yang dihasilkan. Oleh karena itu siswa perlu dimintai komentar serta alasan-alasan mengapa ia menentukan evidence itu yang dimasukkan.
  4. Evidence   dipilih karena petimbangan kesesuaiannya dengan kompe-tensi yang harus dicapai sesuai dengan kurikulum.
  5. Evidence   dipililih karena dilihat dari segi kepraktisan dan segi artistik portofolio

5. Menyusun dokumen portofolio

Manakala bahan-bahan portofolio telah ditentukan, langkah selanjutnya adalah menyusun bahan itu dalam dokumen portofolio, misalnya dalam bentuk folder. Folder itu sendiri perlu dilengkapi dengan:

  1. Identitas siswa
  2. Mata pelajaran
  3. Daftar isi dokumen
  4. Isi dokumen beserta  Komentar-komentar baik dari guru  maupun    orang tua.

DAFTAR BACAAN

Barton, J., & Collins, A. (Eds)(1977). Portfolio Assessment: A handbook for Educators. Menlo Park,CA: Addison –Wesley Publishing.

Blomm,Benjamin S. (1964) Taxonomi of Educational Objectives : Cognitive Domain,  New York : David  McKay.

Cronbach. Lee J. (19700). Essentials of  psichological Testing. New York:Harper.

Departemen Pendidikan Nasiolan (2003), Kurikulum 2004, Kerangka Dasar.

Dunkin, Michael J. (Ed) (1987), The International Encyclopedia of Teaching and Teacher Education,  England, Pengamoon Press, Headington Hill Hall.

Jackson,Philip W. (Ed) (1992)  Handbook of Research on Curriculum,  New York MacMillan Publishing Company.

Lauren and Klopfer (1989). Toward TheThinking Curriculum: Toward Cognitive Research. ASCD Publication.

Mehrens, W.A and J.J. Lehman (1973). Measurement and Evaluation in Education and Pschology. New York: Holt Rinehart & Winston Inc.

Sanjaya, Wina (2007) Pembelajaran dalam Impplementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Prenada Media.

Sanjaya, Wina (2004).Pengembangan Kurikulum dan Proses Pembelajaran. Bandung : San Grafika.

Surapranata dan Muhammad Hatta (2004). Penilaian Portofolio, Implementasi Kurikulum 004. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Tyler, Ralph, (1950). Basic Principles for Curriculum and Insrtruction. Chicago: University  of Chicago Press.

Tierney R.J., M.A. Carter and L.E. Desai. (1991) Portofolio Assessment in the Reading-Writing Classroom.  Norwood: Chirstopher Gordo Publihers.

Undang-undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

Yancey, K.B. (1992) Portfolios in the Writing Classroom.Urbania, Illinois: National Council of Teachers of English.

About these ads

2 Comments

  1. Ping-balik: inspirasi tak bertepi » Blog Archive » berbagai makalah

  2. Ping-balik: inspirasi tak bertepi » Blog Archive » makalah2

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s