KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN

 

A.  PENDAHULUAN

Seiring dengan bergulirnya otonomi daerah dan perubahan kewenangan pengelolaan bidang pendidikan menjadi kewenangan pemerintah daerah, maka sudah menjadi konsekuensi bahwa berbagai pengembangan pendidikan juga menjadi tanggung jawab pemerintah daerah daerah sekolah, termasuk kurikulum yang sekarang dikenal dengan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan).

Materi ini yang akan dipaparkan dalam kegiatan bimbingan teknis ini berkenaan dengan landasan konseptual KTSP, landasan yuridis KTSP, karakteristik, dan prosedur penyusunan KTSP, dan permasalahan-permasalahan yang terkait dengan KTSP.

Penyajian materi dilakukan dengan menggunakan metode ceramah berbantuan Laptop dan LCD, tanya jawab, dan simulasi. Adapun waktu yang diperlukan untuk penyajian materi ini seluruhnya dibutuhkan sekira 2 jam pelajaran.

Penyajian materi diawali dengan memberikan prestest selama 10 menit, dilanjutkan dengan pemaparan materi, diakhiri dengan kesimpulan dan posttest.

Tujuan akhir dari pemaparan materi ini, diharapkan para pengawas sebagai peserta bimbingan teknis memiliki pemahaman yang mendalam  tentang konsep dasar  dan prosedur penyusunan KTSP sebagai bekal memberikan bimbingan bagi pihak sekolah dalam menyusun KTSP di sekolah-sekolah binaannya..   

 

B.  MATERI INTI

 

1.   Landasan Konseptual KTSP

  1. a.      Pengertian KTSP

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum yang dikembangkan oleh dan dilaksanakan pada tiap-tiap satuan pendidikan. Dalam hal ini, sekolah diberi keleluasaan untuk mengembangkan kurikulumnya. Namun demikian, tidak berarti sekolah bebas tanpa batas untuk mengembangkan kurikulumnya. Dalam pelaksanaannya tetap berpegang atau merujuk pada prinsip-prinsip dan rambu-rambu operasional standard yang dikembangkan oleh pemerintah yang dituangkan dalam Paduan Penyusunan KTSP (BSNP, Juni 2006) dan tetap merujuk pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Standard Isi (SI) yang telah ditetapkan melalui Peraturan Menteri, yakni: Permen Nomor 23 Tahun 2006 untuk Standar Kompetensi Lulusan, dan Permen Nomor 22 Tahun 2006 untuk Standar Isi dan lampirannya.

Standard Isi (SI), yaitu lingkup materi minimal dan standar kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu yang berlaku secara nasional.

Sedangkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) adalah standar yang digunakan untuk melakukan penilaian dan menentukan kelulusan peserta didik. Standar kompetensi lulusan ini terdiri dari standar kompetensi kelompok mata pelajaran dan standar kompetensi mata pelajaran untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah. Standar kompetensi lulusan ini berlaku secara nasional, artinya menjadi acuan untuk dasar bagi penentuan kelulusan di seluruh sekolah yang ada di Indonesia. Namun dalam pencapaiannya disesuaikan dengan situasi dan kondisi sekolah setempat.  

Selain dari pada itu, sekolah memiliki kewenangan untuk mengembangkan mata pelajaran muatan lokal, yang sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat sekitar sekolah. Isi muatan lokal bisa diitegrasikan ke dalam mata pelajaran tertentu, juga bisa dibuat dalam satu mata pelajaran tersendiri.

   

  1. b.       Model Konsep Kurikulum KTSP

Dalam khazanah literatur kurikulum, setidaknya dikenal ada empat model konsep kurikulum yaitu model kurikulum subjek akdemik, model kurikulum personal, model kurikulum rekonstruksi sosial, dan model kurikulum teknologis. Kurikulum subjek akademik berorientasi pada pembentukan manusia intelek. Materi pelajaran berupa ilmu pengetahuan, sistem nilai yang dianggap baik dan harus disampaikan secara turun temurun. Proses pendidikan adalah upaya transfer ilmu pengetahuan masa lampau yang diangga baik. Keberhasilan pendidikan dilihat dari sejauh mana siswa menguasai bahan ajar yang dipalajarinya.

Model kurikulum personal yaitu kurikulum yang berorientasi pada pengembangan potensi siswa secara maksimal. Dalam kurikulum ini tidak ada materi standar, karena materi disesuaikan dengan kebutuhan dan minat anak. Proses pembelajaran lebih banyak upaya pembimbingan anak untuk menyalurkan minat dan perhatiannya. Evaluasi dilakukan untuk melihat sejauh mana siswa merasa sanang dalam menjalani aktivitas.

Kurikulum rekonstruksi social, adalah model kurikulum yang berorientasi pada kepedulian sekolah untuk memecahkan permasalahan yang ada dimasyarakat. Isi pendidikan berupa permasalahan yang ada dimasyarakat, untuk selanjutnya dibahas dan dipecahkan dengan menggunakan khasanah keilmuan yang ada yang dipandang relevan untuk memecahkan masalah. Metode pembelajaran lebih banyak pada upaya diskusi dan penilaian dilakukan unutk mengetahui sejauh mana keterlibatan siswa dalam proses pemecahanmasalah dan sejauh mana masalah mampu dipecahkan dalam proses pembelajaran.

Terakhir model kurikulum teknologis, yaitu kurikulum yang didasarkan pada penggunaan metode ilmiah dalam penyusunan kurikulum dan isi kurikulum adalah ilmu pengetahuan dan teknologi yang harus dikuasai untuk menghadapi kehidupan. Isi pendidikan menekankan pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, proses pendidikannya berupa transfer IPTEK, sedang evaluasi dilakukan untuk melihat sejauh mana IPTEK mampu dikuasai oleh siswa. Ada dua jenis teknologi yang digunakan dalam jenis kurikulum ini yaitu teknologi perangkat lunak dan teknologi perangkat keras.

Lalu, model konsep kurikulum yang manakah yang menjadi dasar pijakan kurikulum KTSP? Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau disebut juga dengan kurikulum 2006, pada dasarnya adalah kurikulum 2004 yang disempurnakan. Kurikulum 2004 itu sendiri adalah kurikulum yang berbasis kompetensi. Kurikulum berbasis kompetensi adalah salah satu jenis dari model konsep kurikulum teknologis. Dengan demikian, maka bisa ditarik suatu kesimpulan bahwa KTSP menggunakan model konsep kurikulum teknologis.

Namun demikian, meskipun konsep kurikulum teknologis menjadi tulang punggung pengembangan KTSP, tapi tidak berarti nilai esensial dari model konsep kurikulum lainnya diabaikan. Karakter yang ada pada model konsep lainnya tetap ada, hanya tidak dominan. Karena memang dalam realitas, konsep-konsep tersebut saling melengkapi. Hal ini bisa dilihat dalam prinsip-prinsip pengembangan KTSP dan acuan operasional penyususunan KTSP yang dikembangkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP).

Secara umum prinsip-prinsip pengembangan KTSP meliputi:

1)      Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan 

2)      peserta didik dan lingkungannya.

3)      Beragam dan terpadu

4)      Tanggap terhadap ilmu pengetahuandan teknologi dan seni

5)       Relevan dengan kebutuhan kehidupan

6)      Menyeluruh dan berkesinambungan

7)      Belajar sepanjang hayat

8)      Seimbang antara kepentingan nasional dankepentingan daerah.

Sedangkan acuan operasional penyusunan KTSP harus memperhatikan hal-hal berikut ini:

1)      Peningkatan iman dan taqwa seta ahlak mulia

2)      Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan peserta didik.

3)      Keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan

4)      Tuntutan pembangunan daerah dan nasional

5)      Tuntutan dunia kerja

6)      Perkembangan ilmu pengetahuan teknologi dan seni

7)      Agama

8)      Dinamika perkembangan global

9)      Persatuan nasinal dan niai-nilai kebangsaan

10)  Kondisi sosal budaya masyarakat setempat

11)  Kesetaraan gender

12)  Karaktrsitik satuan pendidikan.

Dari sejumlah prinsip dan acuan operasional KTSP di atas tampak bahwa pengembangan potensi diri siswa sebagai individu, aspek sosial masyarakat, penguasaan mata pelajaran/ipteks, dan aspek Ketuhanan juga diperhatikan. Meskipun berbasis kompetensi tidak berarti hanya ilmu pengetahuan dan teknologi melulu yang diperhatikan, unsur kemanusia, sosial, dan spiritual juga tidak dilepaskan. Sedangkan apabila ditinjau dari model pendekatan pengembangannya, kurikulum 2006/KTSP menerapkan pendekatan dekonsentrasi. Yaitu campuran antara setralistik dan desentralistik atau dalam istilah lain mengunakan pendekatan campuran model administratif dan model akar rumput (grass root).

Model administratif, yaitu model pengembangan kurikulum yang inisiatif dan pelaksananya ditentukan dan dilakukan oleh pemerintah pusat. Kurikulum yang telah jadi disebarluaskan ke sekolah-sekolah untuk dilaksanakan. Sekolah-sekolah/guru-guru tinggal menjalankan apa yang sudah tertuang dalam kurikulum.

Model akar rumput, adalah model pengembangan kurikulum dimana inisiatif dan pelaksanaannya  dilakukan oleh guru-guru sebagai pelaksana kurikulum. Upaya ini mula-mulanya dilakukan hanya pada cakupan terbatas baik area materi maupun wilayah pemberlakuannya. Apabila  memperoleh kecocokkan dengan sekolah lain dan didukung oleh pemerintah sebagai pihak yang berwenang, penggunaannya bisa meluas. Tapi apabila tidak, penggunaannya tidak bisa menyebar dan bahkan mungkin Terhenti dan mati.

Dimanakah letak model pendekatan campuran dalam konteks KTSP? Dalam kurikulum 2006/KTSP sebagian dikembangkan oleh pusat, yaitu Standar Komptensi Lulusan dan Standar Isi. Sebagian lagi dikembangkan oleh daerah/sekolah. Yaitu menterjemahkan SKL dan SI ke dalam bentuk kurikulum operasional yang  digunakan oleh setiap jenjang dan unit pendidikan masing-masing sekolah dengan berpedoman kepada rambu-rambu prosedur pengembangan KTSP yang dikembangkan BNSP. 

2.   Landasan Yuridis KTSP

Sistem pengembangan kurikulum selain berpijak pada pandangan filosofis juga tidak terlepas dari pandangan politis yang sedang berjalan. KTSP merupakan salah satu bentuk implementasi desentralisasi dalam sistem pendidikan. Hal ini sejalan dengan Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang desentralisasi dibidang politik dan pemerintahan.  Perundang-undangan dan perarutan lainnya yang lebih spesifik menjadi dasar diterapkannya KTSP yaitu:

  1. Undang-undang Republik Indonesia tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal-pasal yang dipandang mengamanatkan tentang KTSP yaitu Pasal 1 ayat (19); Pasal 18 ayat (1), (2), (3), (4); Pasal 32 ayat ((1), (2), (3); Pasal 45 ayat (2); Pasal 36 ayat (1), (2), (3), (4). Pasal 37 ayat (1), (2), (3); dan Pasal 38 ayat (1), (2).
  2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Ketentuan dalam PP 19/2005 yang mengatur KTSP, adalah  Pasal 1 ayat (5), (13), (14), (15); pasal 5 ayat (1), (2); Pasal 6 ayat (6); Psal 7 ayat (1), (2), (3), (4), (5), (6), (7), (8); Pasal 8 ayat (1), (2), (3); Pasal 10 ayat (1), (2), (3); Pasal 11 ayat (1), (2), (3), (4); Pasal 13 ayat (1),(2), (3),(4); Pasal 14 ayat (1), (2),(3); Pasal 16 ayat (1), (2), (3), (4), (5); Pasal 17 ayat (1), (2); Pasal 18 ayat (1) (2), (3); pasal 20.
  3. Permendiknas nomor 22 Tahun 2006 Tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah. Standar Isi di dalamnya mencakup standar kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) setiap mata pelajaran pada setiap semester dari setiap jenis dan jenjang pendidikan dasar dan menengah.  
  4. Permendiknas nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk satuan pendidikan nasional. Standar kompetensi Lulusan mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan. 

 

3.   Karakteristik  KTSP

  1. a.       Rasional Penetapan Jenis Mata Pelajaran

Dalam kurikulum yang berbasis kompetensi, termasuk KTSP/kurikulum 2006, jenis materi atau mata pelajaran apa saja yang harus dipelajari, sejauh mana kedalaman dan keluasan yang harus  dipelajari, merujuk pada tujuan atau kompetensi apa yang ingin dicapai. Untuk mencapai tujuan berupa kompetensi lulusan dari satu jenjang pendidikan, maka ada seperangkat atau sejumlah mata pelajaran yang harus dipelajari. Mata-mata pelajaran ini disusun dan dikelompok-kelompokkan dalam suatu pola tertentu. Dimana dalam setiap kelompok mata pelajaran ini terdiri dari beberapa mata pelajaran. Setiap kelompok mata pelajaran diarahkan untuk membentuk suatu kompetensi tertentu.

Masing-masing mata pelajaran itu sendiri, diarahkan untuk membentuk kompetensi tersendiri yaitu kompetensi lulusan mata pelajaran. Di dalamnya terdapat sejumlah kemampuan yang lebih kecil harus dimiliki untuk menguasai kompetensi lulusan mata pelajaran tersebut, yaitu  kompetensi dasar. Kompetensi dasar ini perlu dikembangkan lagi menjadi sejumlah indikator yang diorientasikan untuk pembentukan sub kompetensi dasar, atau tugas-tugas kecil yang diperlukan untuk membangun kompetensi dasar.

Pendek kata, idealnya tujuan adalah hal yang pertama kali harus diketahui untuk menentukan seberapa banyak mata palajaran yang harus dipelajari, dan sejauh mana keluasan dan kedalaman materi yang harus tercakup. Untuk mencapai kompetensi akhir, kompetensi tersebut harus dipecah-pecah (to break down) menjadi sub-sub kompetensi yang lebih kecil.

Dalam konteks KTSP yang berbasis kompetensi, tujuan yang ingin dicapai tersebut dirumuskan dalam rumusan tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, tujuan pendidikan dasar dan menengah.  Rambu-rambunya dituangkan dalam bentuk kompetensi lulusan yang sudah ditentukan secara terstandar yaitu Standar Kompetensi Lulusan untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah. Untuk mencapai tujuan berupa kompetensi lulusan pendidikan dasar dan menengah tersebut, terdapat sejumlah mata pelajaran yang sudah terstruktur (struktur kurikulum) untuk tiap-tiap jenjang pendidikan tersebut. Dimana struktur kurikulum (mata-mata pelajaran) tersebut, di kelompokkan dalam lima kelompok mata pelajaran  yaitu:

1)      Kelompok mata pelajaran  agama dan akhlak mulia;

2)      Kelompok mata pelajaran  kewarganegaraan dan kepribadian;

3)      Kelompok mata pelajaran   ilmu pengetahuan dan teknologi;

4)      Kelompok mata pelajaran  estetika;

5)      Kelompok mata pelajaran  jasmani, olah raga dan kesehatan.

(Lampiran Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006).      

Setiap kelompok mata pelajaran memiliki tujuan atau jenis kompetensi yang ingin dicapai dan cakupan isi yang harus termuat. Akumulasi dari penguasaan kelompok-kelompok mata pelajaran ini diasumsikan akan membentuk kemampuan atau kompetensi lulusan.  

Berikut ini kelompok mata pelajaran beserta deskripsi cakupan materinya.

Tabel 1.

Kelompok Mata Pelajaran

Menurut Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang SI

 

No. Kelompok Mata Pelajaran Deskripsi Tujuan dan Cakupan Isi
1 Agama dan Ahklak Mulia. Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepata Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Ahlak mulia mencakup etika, budi pekerti, atau moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama.
2 Kewarganegaraan dan Kepribadian. Kelompok mata pelajaran kewarga negaraan dan kepribadian dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran dan wawasan peserta didik  akan status, hak, dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat, serta peningkatan kualtas dirinya sebagai manusia.Kesadaran dan wawasan teramsuk wawasan kebangsaan. Jiwa dan patriotisme bela negara, penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia, kemajemukan bangsa, pelestarian lingkungan hidup, kesetaraan gender, demokrasi, tranggung jawab sosial, ketaatan pada hokum, ketaatan membayar pajak, dan siap serta perilaku antikorupsi, kolusi, dan nepotisme.
3 Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan pada SD/MI/SDLB dimaksudkan untuk mengenal, menyikapi, dan mengapresiasi ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menanamkan kebiasaan berpikir dan berperilaku ilmiah yang kritis, kreatif dan mandiri.Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SMP/MTs./SMPLB dimaksudkan untuk memperoleh kompetensi dasar ilmu pengetahuan dan teknologi serta membudayakan berpikir ilmiah secara kritis, kreatif, dan mandiri. 

Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SMA/MA./SMALB dimaksudkan untuk memperoleh kompetensi lanjut ilmu pengetahuan dan teknologi serta membudayakan berpikir ilmiah secara kritis, kreatif, dan mandiri. 

Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SMK/MAK dimaksudkan untuk menerapkan kompetensi dasar ilmu pengetahuan dan teknologi, membentuk kompetensi, kecakapan, dan kemandirian kerja.

4 Estetika. Kelompok mata pelajaran estetika dimaksudkan untuk meningkatkan sensitivitas kemampuan mengekspresikan dan kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni. Kemampuan mengekspresikan dan mengapresiasi keindahan serta harmoni mencakup apresiasi dan ekspresi, baik dalam kehidupan individu sehingga mampu menikmati dan mensyukuri hidup, maupun daam kehidupan kemasyarakatan sehingga mampu menciptakan kebersamaan yang harmonis.
5 Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan. Kelompok pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan pada SD/MI/SDLB dimaksudkan untuk meningkatkan potensi fisik serta menanamkan sportivitas dan kesadaran hidup sehat.Kelompok pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan pada SMP/MTs./SMPLB dimaksudkan untuk meningkatkan potensi fisik serta membudayakan sportivitas dan kesadaran hidup sehat.

Kelompok pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan pada SMA/MA/SMALB/SMK/MAK dimaksudkan untuk meningkatkan potensi fisik serta membudayakan sikap sportif, disiplin, kerja sama, dan hidup sehat.

Budaya hidup sehat termasuk kesadaran, sikap dan perilaku hidup sehat yang bersifat individual ataupun yang bersifat kolektif  kemasyarakatan seperti keterbatasan dari perilaku seksual bebas, kecanduan narkoba, HIV/AIDS, demam berdarah, muntaber, dan penyakit lain yang potensial untuk mewabah.

 

Catatan:  Kata yang dicetak miring dan tebal untuk menunjukkan dimana tekanan tujuan mata pelajaran pada tiap-tiap jenjang pendidikan.

Berikut tabel kelompok mata pelajaran dan mata-mata pelajaran yang ada di dalamnya, menurut hasil analisis umum penulis. Dikatakan analisis umum karena belum dikhususkan per jenjang pendidikan.

 

Tabel 2.

Mata-mata Pelajaran

yang Ada dalam Setiap Kelompok Mata Pelajaran

 

No. Kelompok Mata Pelajaran Mata Pelajaran
1 Agama dan Akhlak Mulia. Pendidikan Agama dan Akhlak mulia.
2 Kewarganegaraan dan Kepribadian. Kewarganegaraan
3 Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris/Asing, IPA (Biologi-Fisika-Kimia), IPS (Sejarah-Geografi-eonomi-Sosiologi), Teknologi Informasi dan Komunikasi, Tafsir dan Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits, Ushul Fiqih, Tasawuf/Ilmu Kalam, Keterampilan, dan Kejuruan (Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi-Kewirausahaan-Dasar Kompetensi Kejuruan-Kompetensi Kejuruan). 
4 Estetika. Seni Budaya
5 Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan. Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan

 

Catatan: Apabila melihat hakikat tujuan dari Pengembangan Diri, optimalisasi pencapaian tujuan kelompok mata pelajaran estetika bisa dibantu/ditunjang oleh non mata pelajaran Pengembangan Diri.

Pada masing-masing kelompok mata pelajaran terdapat sejumlah mata pelajaran. Dimana setiap mata palajaran itu sendiri memiliki standar kompetensi lulusan mata pelajaran yang harus dicapai, serta standar isi mata pelajaran untuk tiap-tiap jenjangnya. Akumulasi kemampuan tiap mata pelajaran akan membentuk kompetensi kelompok mata pelajaran.

Rincian kompetensi dalam SKL/KTSP belum sampai pada  kompetensi dasar (setidaknya secara eksplisit belum dicantumkan dalam SKL dan SI). Kita menginferensi adanya kompetensi dasar dilihat dari rincian kompetensi mata pelajaran. Pencapaian seluruh kompetensi dasar mata pelajaran untuk mencapai kompetensi lulusan mata pelajaran yang disebut dengan standar kompetensi mata pelajaran.

Kompetensi dasar inilah selanjutnya memerlukan pengembangan lebih lanjut oleh sekolah/guru untuk dijabarkan ke dalam bentuk indikator hasil belajar, yang pada hakekatnya adalah kompetensi satu jenis proses pembelajaran.

Berikut diagram yang memberikan gambaran umum tentang penjelasan hubungan tujuan dengan cakupan materi mata pelajaran yang harus tercakup. Serta bagaimana tujuan berupa kompetensi yang sifatnya masih umum dijabarkan ke dalam bentuk yang lebih kecil sehingga menungkinkan untuk dicapai melalui proses pembelajaran.

Kemampuan/ sub komptensi mata pelajaran(Kompetensi Dasar)
Satu jenis  Kemampuan hasil proses pelajaran (indikator hasil belajar)
Kemampuan/ kompetensi mata pelajaran
Kopetensi kelompok mata pelajaran /Sub kemampuan lululusan
Kompetensi/kemampuan lulusan
 TUJUAN

 

Struktur Kurikulum(berisi sejumlah mata pelajaran yang telah disusun sedemikian rupa, menurut pemikiran logis tertentu)
Rumpun mata pelajaran
Mata Pelajaran
 ISI

(Mata Pelajaran)

Topik bahasan /kajian
Sub-sub topik bahasan/materi dalam pembelajaran.

 

Wilayah yang perlu dikembangkan oleh sekolah/guru
Sudah ditentukan dalam SKL dan SI

 

Bagan 1. Kaitan Tujuan dengan Mata Pelajaran (Isi) dalam KTSP

 

Selain tujuan yang harus diperhatikan untuk menentukan materi mata pelajaran atau isi pelajaran, dalam konteks yang lebih sempit ada faktor lainnya yang perlu menjadi bahan pertimbangan dalam pemilihan isi atau materi pembelajaran diantaranya adalah:

1)       Urgensi materi, artinya materi itu penting untuk diketahui oleh siswa.  Selain dari itu, bahan tersebut merupakan landasan untuk mempelajari materi selanjutnya.

2)       Tuntutan kurikulum, artinya secara minimal materi itu wajib diberikan sesuai dengan tuntutan kurikulum.

3)       Nilai kegunaan, materi itu memiliki nilai manfaat bagi kehidupan siswa sehari-hari (Sudjana, 2000:71).

Uraian lebih jauh tentang tujuan dan mata pelajaran dalam konsteks KSTP untuk tiap-tiap jenjang pendidikan diuraikan pada pembahasan di bawah ini.

  1. b.      Tujuan dan Mata pelajaran dalam KTSP

Tujuan pendidikan dalam KTSP mengunakan istilah kompetensi. Ada kompetensi lulusan, kompetensi rumpun mata pelajaran, kompetensi mata pelajaran, standar kompetensi, dan kompetensi dasar.  Telah dijelaskan secara singkat di muka, bahwa untuk kompetensi lulusan dan kompetensi rumpun mata pelajaran akan dicapai oleh sejumlah mata pelajaran. Sedangkan untuk kompetensi mata pelajaran dicapai setelah dicapainya sejumlah kompetensi dasar.

Untuk mencapai kompetensi dasar, setiap kompetensi dasar yang ada dalam mata pelajaran harus diterjemahkan oleh guru di sekolah ke dalam bentuk indikator hasil belajar. Indikator hasil belajar ini merupakan gambaran tantang kemampuan-kemampauan yang lebih kecil, yang akumulasinya membentuk kompetensi dasar. Dengan kata lain indikator hasil belajar ini merupakan tujuan jarak dekat, yang akan dicapai oleh satu kali proses pembelajaran. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa indikator hasil belajar itu analog dengan tujuan pembelajaran khusus.

1)       Tujuan, Kompetensi Lulusan dan Mata Pelajaran Pendidikan Dasar

Tujuan pendidikan dasar (SD / MI / SDLB / Paket A dan SMP / MTs./ SMPLB / Paket B) yaitu meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengiuti pendidikan lanjut.   

Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan (SKL-SP)  Sekolah Dasar (termasuk di dalamnya MI/SDLB dan Paket A) adalah sebagai berikut:

a)       Menjalankan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan     anak

b)       Mengenal kekurangan dan kelebihan diri sendiri.

c)       Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungannya.

d)       Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial     ekonomi dilingkungan sekitarnya.

e)       Menggunakan informasi tentang lingkungan sekitar secara logis, kritis, dan kreatif.

f)         Menunjukan kemampuan berpkir logis, kritis, dan kreatif dengan  bimbingan guru/pendidik.

g)       Menunjukkan rasa keinginan yang tinggi dan menyadari potensinya.

h)       Menunjukkan kemampuan memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

i)         Menunjukkan kemampuan mengenali gejala alam dan sosial di lingkungan sekitar.

j)         Menunjukkan kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan.

k)       Menujukkan kecintaan dan kebanggan terhadap  bangsa, negara, dan tanah air Indonesia.

l)         Menunjukkan kemampuan untuk melakukan kegiatan seni dan budaya lokal.

m)     Menunjukkan kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang.

n)       Berkomunikasi secara jelas dan santun.

  • o)       Bekerjasama dalam kelompok, tolong-menolong, dan menjaga diri sendiri dalam lingkungan keluarga dan teman sebaya.

p)       Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis.

q)       Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, menulis, dan berhitung.

Untuk mencapai tujuan pendidikan sekolah dasar yang ditunjukkan oleh sejumlah standar kompetensi lulusan satuan pendidikan Sekolah Dasar, disiapkan sejumlah mata pelajaran yang disusun sedemikian rupa membentuk struktur kurikulum pendidikan sekolah dasar.

Struktur kurikulum pendidikan sekolah dasar tampak seperti di bawah ini.

 

Tabel 3. Struktur Kurikulum SD/MI

(Permendiknas No. 22 Tahun 2006, 2007:12)

 Komponen Kelas dan Alokasi Waktu
I II III IV, V, dan VI
A. Mata Pelajaran     1. Pendidikan Agama

     2. Pendidikan Kewarganegaraan

     3. Bahasa Indonesia

     4. Matematika

     5. Ilmu Pengetahuan Alam

     6. Ilmu Pengetahuan Sosial

     7. Seni Budaya dan Keterampilan

     8. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan

         Kesehatan

   3

2

5

5

4

3

4

4

B. Muatan Lokal 2
C. Pengembangan Diri 2*)
Jumlah 26 27 28 32
           

 

  •  
    • *) ekuivalen dua jam pelajaran
    • Kelas I, II, III menggunakan pendekatan tematik. Kelas IV,V,VI menggunakan  pendekatan mata pelajaran.

 

2)       Kompetensi Lulusan dan Struktur Kurikulum SMP/ MTs 

Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan (SKL-SP)  Sekolah Menengah Pertama (termasuk di dalamnya MTs./SMPLB dan Paket B) adalah sebagai berikut:

a)       Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesua dengan tahap perkembangan remaja.

b)       Memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri

c)       Menunjukkan sikap percaya diri

d)       mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebh luas.

e)       Mengehargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup nasional.

f)         Mencari dan menerapkan informasi dari ingkungan sekitar dan sumber-sumber lain secara logis, kritis, dan kreatif.

g)       Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kratif dan inovatif.

h)       Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengna po-tensi yang dimilikinya.

i)         Menujukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

j)         Mendeskripsikan gejala alam dan sosial

k)       Memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab

l)         Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehdupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara demi terwujudnya persatuan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

j)         Menghargai karya seni dan budaya nasional.

k)       Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya.

l)         Menerapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan  waktu luang.

m)     Berkomunikasi dan nerinteraksi secara efektif dan santun.

n)       Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat.

  • o)       Menghargai adanya perbedaan pendapat.

p)       Menujukkan kegemaran menulis naskah pendek sederhana.

q)       Menujukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan me- nulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sederhana.

r)         Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan menengah.

Untuk mencapai tujuan pendidikan dasar pada tingkat SMP, sepuluh mata pelajaran, satu muatan lokal, dan satu pengembangan diri  telah disiapkan dalam struktur kurikulum SMP.

Tabel 4. Struktur kurikulum SMP/MTs.

 

Komponen Kelas dan Alokasi Waktu
VII VIII IX
A. Mata Pelajaran     1. Pendidikan Agama

     2. Pendidikan Kewarganegaraan

     3. Bahasa Indonesia

     4. Bahasa Inggris

     5. Matematika

     6. Ilmu Pengetahuan Alam

     7. Ilmu Pengetahuan Sosial

     8. Seni Budaya

     9. Pendidikan, Jasmani, Olah Raga dan Kesehatan

   10. Keterampilan / Teknologi Informasi  dan Komunikasi

 2

2

4

4

4

4

4

2

2

2

 2

2

4

4

4

4

4

2

2

2

 2

2

4

4

4

4

4

2

2

2

B. Muatan Lokal 2 2 2
C. Pengembangan Diri 2*) 2*) 2*)
Jumlah 32 32 32

 

  • *) Ekuivalen 2 jam pembelajaran

 

3)       Tujuan dan Kompetensi Lulusan serta Struktur Kurikulum SMA/MA

Tujuan dari pendidikan menengah terdiri atas SMA MA/SMALB dan Paket C adalah sebagai berikut: Meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengiuti pendidikan lanjut.   

Tujuan tersebut dijabarkan dalam serangkaian kompetensi yang harus terbentuk setelah menyelesaikan pendidikan menengah, yang ditetapkan sebagai  Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan Sekolah Menengah.  Berikut ini kompetensi dimaksud:

a)       Berperilaku sesuai dengan ajaran agama yang dianut sesuai dengan perkembangan remaja.

b)       Mengembangkan diri secara optimal dengan memanfaatkan kelebihan diri dan memperbaiki kekurangan.

c)       Menunjukkan sikap percaya diri dan bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukannya.

d)       Berpartisipasi dalam menegakkan aturan-aturan sosial.

e)       Menghargai keberagaman agama, bangsa, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalamlingkup global.

f)         Membangun dan menerapkan informasi dan pengetahuan secara logis, kritis, kreatif, daninovatif.

g)       Menunjukkan kemampuan berpir logis, kritis, kreatif dan inovatif dalam pengambilankeputusan.

h)       Menunjukkan sifat kompetitif dan sportif untuk mendapatkan hasil yang terbaik.

i)         Menujukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah kompleks.

j)         Menujukkan kemampuan menganalisis gejala alam dan sosial.

k)       Memanfaatkan lingkungan secara produktif dan bertanggung jawab.

l)         Berpartisipasi dalam kehidupan bermayarakat, berbangsa, dan bernegara secara demokratis dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

m)     Mengkespresikan diri dalam kegiatan seni dan budaya.

n)       Mengapresiasi karya seni dan budaya.

  • o)       Menghasilkan karya kreatif, baik individual maupun kelompok.

p)       Menjada kesehatan dan keamanan diri, kebugaran jasmani, dan  

1)       kebersihan lingkungan.

q)       Berkomunikasi secara lisan dan tulisan secara efektif dan efisien.

r)         Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di  masyarakat.

s)       Menghargai adanya perbedaan pendapat dan berempati terhadap  o-rang lain.

t)         Menujukkan keterampilan membaca dan menulis naskah secara  sistematis dan estetis.

u)       Menunjukkan keterampilan menyimak, membaca, dan menulis, dalam bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

v)       Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan  tinggi.

Untuk mencapai tujuan pendidikan pada tingkat menengah, disiapkan sejumlah mata pelajaran, satu muatan lokal, dan satu pengembangan diri  tersusun dalam struktur kurikulum SMA.

Untuk pendidikan menengah umum, terdapat kekhasan tersendiri yaitu adanya penjurusan atau program ynag terdiri dari Program IPS, Program Bahasa, Program IPA, dan Program Keagamaan. Dimana penjurusan mulai dilakukan pada kelas X. Sedangkan pada kelas IX atau kelas I, belum dilakukan. Dengan demikian maka struktur mata kuliah antara kelas IX dengan kelas X dan XI ada perbedaan. Untuk kelas IX seluruh siswa mempelajari jenis dan jumlah mata pelajaran yang sama. Akan tetapi ketika menginjak tahun kedua atau kelas X, terdapat perbedaan mata pelajaran disesuaikan dengan jenis program pendidikan yang dipilihnya.

Pada kelas IX, sebelum penjurusan mata pelajaran yang harus ditempuh ada 16 mata pelajaran. Ditambah dengan muatan lokal dan pengembangan diri. Sedang pada kelas IX dan X atau kelas  dua dan tiga, jumlah mata pelajarannya berubah menjadi 13 mata pelajaran, ditambah dengan muata lokal, dan pengembangan diri. Jumlah ini sama untuk semua program IPA, IPS, Bahasa, dan  Keagamaan. Hanya berbeda dalam jenis mata pelajarannya disesuaikan dengan programnya.

Berikut ini stuktur kurkulum atau daftar mata pelajaran pada Sekolah Menengah yang non Kejuruan.

Tabel 5. Struktur Kurikulum SMA/MA Kelas X

 

 Komponen Alokasi waktu
Sem-I Sem-2
A. Mata Pelajaran     1. Pendidikan Agama

     2. Pendidikan Kewarganegaraan

     3. Bahasa Indonesia

     4. Bahasa Inggris

     5. Matematika

     6. Fisika

     7. Kimia

     8. Biologi

     9. Sejarah

    10. Geografi

    11. Ekonomi

    12. Sosiologi

    13. Seni Budaya

    14. Jasmani, Olah Raga dan

          Kesehatan

    15.Teknologi Informasi dan

          Komunikasi

    16. Keterampilan / Bahasa Asing

 2

2

4

4

4

2

2

2

1

1

2

2

2

2

2

2

 2

2

4

4

4

2

2

2

1

1

2

2

2

2

2

2

B. Muatan Loal 2 2
C. Pengembangan Diri 2*) 2*)
Jumlah 38 38

  

   *) Ekuivalen dengan 2 jam pelajaran

Tabel 6. Struktur Kurikulum SMA/MA

Kelas XI dan XII Program IPA

 

 Komponen Alokasi waktu
Kelas XI Kelas XII
Sm1 Sm2 Sm1 Sm2
A. Mata Pelajaran     1. Pendidikan Agama

     2. Pendidikan Kewarganegaraan

     3. Bahasa Indonesia

     4. Bahasa Inggris

     5. Matematika

     6. Fisika

     7. Kimia

     8. Biologi

     9. Sejarah

    10. Seni Budaya

    11. 14. Jasmani, Olah Raga dan

          Kesehatan

    12.Teknologi Informasi dan

          Komunikasi

    13. Keterampilan / Bahasa Asing  

 2

2

4

4

4

4

4

4

1

2

2

2

2

 2

2

4

4

4

4

4

4

1

2

2

2

2

 2

2

4

4

4

4

4

4

1

2

2

2

2

 2

2

4

4

4

4

4

4

1

2

2

2

2

B. Muatan Loal 2 2 2 2
C. Pengembangan Diri 2*) 2*) 2*) 2*)
Jumlah 39 39 39 39

 

   *) Ekuivalen dengan 2 jam pelajaran

Tabel 7. Struktur Kurikulum SMA/MA

Kelas XI dan XII Program IPS

 

 Komponen Alokasi waktu
Kelas XI Kelas XII
Smt 1 Smt 2 Smt 1 Smt 2
A. Mata Pelajaran     1. Pendidikan Agama

     2. Pendidikan Kewarganegaraan

     3. Bahasa Indonesia

     4. Bahasa Inggris

     5. Matematika

     6. Sejarah

    7. Geografi

    8. Ekonomi

    9. Sosiologi

    10. Seni Budaya

    11. Jasmani, Olah Raga dan

          Kesehatan

    12.Teknologi Informasi dan

          Komunikasi

    13. Keterampilan / Bahasa Asing     

 2

2

4

4

4

3

3

4

3

2

2

2

2

 2

2

4

4

4

3

3

4

3

2

2

2

2

 2

2

4

4

4

3

3

4

3

2

2

2

2

 2

2

4

4

4

3

3

4

3

2

2

2

2

B. Muatan Loal 2 2 2 2
C. Pengembangan Diri 2*) 2*) 2*) 2*)
Jumlah 39 39 39 39

 

   *) Ekuivalen dengan 2 jam pelajaran

Tabel 8. Struktur Kurikulum SMA/MA

Kelas XI dan XII Program Bahasa

 

 Komponen Alokasi waktu
Kelas XI Kelas XII
Smt 1 Smt 2 Smt 1 Smt 2
A. Mata Pelajaran     1. Pendidikan Agama

     2. Pendidikan Kewarganegaraan

     3. Bahasa Indonesia

     4. Bahasa Inggris

     5. Matematika

     6. Sastra Indonesia

     7. Bahasa Asing

     8. Antropologi

     9. Sejarah

    10.Seni Budaya

    11. Jasmani, Olah Raga dan

          Kesehatan

    12.Teknologi Informasi dan

          Komunikasi

    13. Keterampilan / Bahasa Asing     

 2

2

5

5

3

4

4

2

2

2

2

2

2

 2

2

5

5

3

4

4

2

2

2

2

2

2

 2

2

5

5

3

4

4

2

2

2

2

2

2

 2

2

5

5

3

4

4

2

2

2

2

2

2

B. Muatan Loal 2 2 2 2
C. Pengembangan Diri 2*) 2*) 2*) 2*)
Jumlah 39 39 39 39

 

   *) Ekuivalen dengan 2 jam pelajaran

 

 

Tabel 9. Struktur Kurikulum SMA/MA

Kelas XI dan XII Program Keagamaan

 

Komponen Alokasi waktu
Kelas XI Kelas XII
Smt 1 Smt 2 Smt 1 Smt 2
 A. Mata Pelajaran     1. Pendidikan Agama

     2. Pendidikan Kewarganegaraan

     3. Bahasa Indonesia

     4. Bahasa Inggris

     5. Matematika

     6. Tafsir dan Ilmu Tafsir

     7. Ilmu Hadits

     8. Ushul Fiqh

     9. TAsawuf/Ilmu Kalam

    10.Seni Budaya

    11. Jasmani, Olah Raga dan

          Kesehatan

    12.Teknologi Informasi dan

          Komunikasi

    13. Keterampilan / Bahasa Asing     

 2

2

4

4

4

3

3

3

3

2

2

2

2

 2

2

4

4

4

3

3

3

3

2

2

2

2

 2

2

4

4

4

3

3

3

3

2

2

2

2

 2

2

4

4

4

3

3

3

3

2

2

2

2

B. Muatan Loal 2 2 2 2
C. Pengembangan Diri 2*) 2*) 2*) 2*)
Jumlah 38 38 38 38

 

   *) Ekuivalen dengan 2 jam pelajaran

4)       Tujuan dan Kompetensi Lulusan dan Struktur Kurikulum   SMK/ MAK

Sekolah menengah kerjuruan yang Terdiri atas SMK dan MK bertujuan: Meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lanjut sesuai dengan kejuruannya.          

Tujuan pendidikan SMK/MAK tersebut diuraikan dalam bentuk kompetensi lulusan SMK/MAK, yaitu:

a)       Berperilaku sesuai dengan ajaran agama yang dianut sesuai dengan perkembangan remaja.

b)       Mengembangkan diri secara optimal dengan memanfaatkan kelebihan diri dan memperbaiki kekurangan.

c)       Menunjukkan sikap percaya diri dan bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukannya.

d)       Berpartisipasi dalam menegakkan aturan-aturan sosial.

e)       Menghargai keberagaman agama, bangsa, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalamlingkup global.

f)        Membangun dan menerapkan informasi dan pengetahuan secara logis, kritis, kreatif, daninovatif.

g)       Menunjukkan kemampuan berpir logis, kritis, kreatif dan inovatif dalam pengambilankeputusan.

h)       Menunjukkan sifat kompetitif dan sportif untuk mendapatkan hasil yang terbaik.

i)         Menujukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah kompleks.

j)         Menujukkan kemampuan menganalisis gejala alam dan sosial.

k)       Memanfaatkan lingkungan secara produktif dan bertanggung jawab.

l)         Berpartisipasi dalam kehidupan bermayarakat, berbangsa, dan bernegara secara demokratis dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

m)     Mengkespresikan diri dalam kegiatan seni dan budaya.

n)       Mengapresiasi karya seni dan budaya.

  • o)       Menghasilkan karya kreatif, baik individual maupun kelompok.

p)       Menjada kesehatan dan keamanan diri, kebugaran jasmani, dan  kebersihan lingkungan.

q)       Berkomunikasi secara lisan dan tulisan secara efektif dan efisien.

r)        Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di  masyarakat.

s)       Menghargai adanya perbedaan pendapat dan berempati terhadap  o-rang lain.

t)        Menujukkan keterampilan membaca dan menulis naskah secara  sistematis dan estetis.

u)       Menunjukkan keterampilan menyimak, membaca, dan menulis, dalam bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

v)       Menguasai kompetensi keahlian dan kewirausahaan baik untuk memenuhi tuntutan dunia kerja maupun untuk mengikuti pendidikan tinggi sesuai dengan keujurannya.

Untuk mencapai tujuan berupa kemampuan lulusan sebagaimana telah diuraikan di atas, disiapkan sepuluh mata pelajaran ditambah dengan muatan lokal dan pengembangan diri. Kesemuanya tersusun dalam struktur kurikulum SMK/MSK, yang dipandang akan mendukung terwujudnya tujuan pendidikan dan terbentuknya kompetensi  yang diharapkan.   

Dalam susunan mata pelajaran SMK/MAK setidaknya ada tiga mata pelajaran yaitu matematika, IPA, dan Biologi bahasannya memerlukan penyesuaian dengan bidang kejuruan masing-masing SMK/SMK.  Meskipun bahasan teori atau konsep dasarnya sama, tapi pada penerapannya disesuaikan dengan bidang kejuruan masing-masing. Contoh, mata pelajaran matematika misalnya, dalam pembahasannya mungkin akan ada perbedaan antara bidang kejuruan teknik dengan matematika bidang kejuruan manajemen bisnis. Atau dalam mata pelajaran IPA, mata pelajaran kimia dibidang  pertanian akan beda dengan mata pelajaran kimia bidang kesehatan, dan sebagainya. Hal ini penting sadari, karena dalam SKL dan SI belum terjabarkan secara eksplisit.

Berikut ini susunan mata pelajaran untuk SMK/MAK.

 

Tabel 10. Struktur Kurikulum SMK/MAK

Komponen Durasi Waktu

(Jam)

A. Mata Pelajaran     1. Pendidikan Agama

     2. Pendidikan Kewarganegaraan

     3. Bahasa Indonesia

     4. Bahasa Inggris

     5. Matematika

         5.1  Matematikan Kelompok Seni, Pariwsata, dan

                Teknologi Kerumahtangaan

         5.2  Matematika Kelompok Sosial, Administrasi

                Perkantoran dan Akuntansi

         5.3  Matematika Kelompok Teknologi, Kesehatan, dan 

                Pertanian.

     6. Ilmu Pengetahuan Alam

         6.1 IPA

         6.2 Fisika

               6.2.1 Fisika Kelompok Pertanian

               6.2.2 Fisika Kelomok Teknologi

        6.3  Kimia

               6.3.1 Kimia Kelompok Pertanian

               6.3.2 Kimia Kelompok Teknologi dan Kesehatan

        6.4 Biologi

              6.4.1 Biologi Kelompok Pertanian

              6.4.2 Biologi Kelompok Kesehatan  

     7. Ilmu Pengetahuan Sosial

     8. Seni Budaya

     9. Pendidikan Jasmani, Olah Raga dan Kesehatan

    10. Kejuruan

          10.1 Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi

          10.2 Kewirausahaan

          10.3 Dasar Kompetensi Kejuruan b)

          10.4 Kompetensi Kejuruan b)

 192

192

192

440a)

330 a)

403 a)

516 a)

192 a)

192 a)

276 a)

192 a)

192 a)

192 a)

192 a)

128 a)

128 a)

192

202

192

140

1044c)

B. Muatal Lokal 192
C. Pengembandan Diri d) 192

 

Keterangan notasi:

  • Durasi waktu adalah jumlah jam minimal yang digunakan oleh stiap program keahlian. Program keahlian yang memerlukan lebih, jam tambahannya diintegrasikan ke dalam mata pelajaran yang sama, di luar  jumlah jam yang sama.
  • Tediri dari berbagai mata pelajaran yang ditentukan sesuai dengan program keahlian.
  • Jumlah jam kompetesni kejuruan pada dasarnya sesuai dengan kebutuhan standar kompetensi kerja yang berlaku di dunia kerja tetapi tidak boleh kurang dari 1044 jam.
  • Ekuivalen dengan 2 jam pelajaran.

 

 

  1. c.       Kompetensi Mata Pelajaran, Kompetensi Dasar, dan Indikator Hasil Belajar

Uraian di muka memaparkan tujuan dan kompetensi yang ingin dicapai oleh tiap-tiap jenjang pendidikan, serta mata-mata pelajaran yang harus ditempuh untuk oleh mencapai tujuan dan memperoleh kompetensi yang telah ditetapkan. Namun pembahasan tentang mata pelajaran, baru sampai pada karakteristik umum mata pelajaran yang digambarkan dalam kelompok mata pelajaran, jenis dan jumlah mata pelajarannya.        Karakteristik  kompetensi lulusan tiap-tiap mata pelajaran, kedalaman dan keluasannya  belum dipaparkan. Untuk mengetahuai keluasan dan kedalaman materi (kualitas) secara lebih mendetail bisa dilihat dalam kompetensi lulusan mata pelajaran (dan standar kompetensinya), dalam lampiran Permendiknas Nomor 22 dan 23 Tahun 2006. Karena keterbatasan ruang, tidak dibahas di sini.

Untuk mengetahui kompetensi dasar yang ada pada tiap-tiap mata pelajaran bisa dilihat dalam uraian kompetensi lulusan mata pelajaran.

Pengetahuan tentang keberadaan komptensi dasar mata pelajaran ini penting untuk bisa mengembangkan indikator hasil belajar, yang harus dikembangkan oleh sekolah/guru. Karena dalam kurikulum 2006/KTSP indikator hasil belajar harus dikembangkan oleh guru, tidak oleh pusat. Berbeda dengan kurikulum 2004 dimana indikator hasil belajar sudah dikembangkan oleh pusat. Guru tinggal merancang materi, strategi pembelajaran dan evaluasi yang akan digunakan.

  1. d.      Muatan Lokal dan Pengembangan Diri

Dalam struktur kurikulum pada tiap jenjang pendidikan, bisa dilihat bahwa untuk mencapai tujuan atau standar kompetensi lulusan ada tiga point yaitu mata pelajaran, muatan lokal, dan pengembandan diri. Dua hal terakhir belum dibicarakan.

Sebagaimana dijelaskan dalam Pedoman Pengembangan KTSP yang disusun   Badan Nasional Standar Pendidikan (BNSP),  muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah. Materi mulok yaitu materi yang tidak bisa menjadi bagian atau tidak sesuai dengan mata pelajaran lain, atau materinya terlalu banyak sehingga harus menjadi mata pelajaran tersendiri.

Muatan lokal tidak terbatas pada mata pelajaran keterampilan saja. Isinya bisa diambil dari situasi dan kondisi kehidupan masyarakat sekitar sekolah atau mungkin tidak berasal dari kehidupan sekolah tapi dipandang penting untuk dipelajari. Materi yang diambil dari kehidupan masyarakat sekitar sekolah misalnya seni budaya setempat: pencak silat, tari daerah, dan lain sebagainya. Sedang materi yang bukan dari masyarakat sekitar tapi dipandang perlu misalnya keterampilan komputer, bahasa asing, dan lain sebagainya.

Disamping itu, karena muatan lokal merupakan mata pelajaran tersendiri maka satuan pendidikan/sekolah harus menetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar muatan lokal. Muatan lokal bisa diselenggarakan setiap semester, sehingga dalam setahun satuan pendidikan bisa menyelenggarakan dua mata pelajaran muatan lokal.

Hal lain yang perlu dipahami adalah unsur pengembangan diri. Pengembangan diri ditujukan untu memberian kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri. Pengembangan diri bukan mata pelajaran. akan tetapi upaya penyaluran bakat, minat peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah.

Kegiatan pengembangan diri dapat dilakukan antara lain melalui kegiatan layanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karier peserta didik serta kegiatan kepramukaan,kepemimpinan dan kelompok ilmiah belajar.

Untuk sekolah menengah kejuruan, pengembangan diri terutama ditujukan untuk pengembangan kreativitas dan bimbingan karir. Sedang untuk pendidikan khusus ditekankan pada peningkatan kecakapan hidup dan kemandirian sesuai dengan kebutuhan khusus peserta didik.

Penilaian pengembangan diri dilakukan secara kualitatif, milsanya: sangat baik – baik – cukup – kurang. Bukan secara kuantitatif berupa angka-angka seperti mata pelajaran. Bukan dengan  

  1. e.          Alokasi Waktu untuk tiap mata pelajaran pada tiap Jenjang Satuan Pendidikan

Proses pendidikan formal memiliki keterbatasan waktu. Sehingga waktu menjadi unsur yang dipertimbangkan untuk menentukan berapa lama suatu mata pelajaran harus dipelajari. Ini berimplikasi terhadap penentuan seberapa luas dan seberapa dalam suatu materi pelajaran harus diberikan sesuai dengan alokasi waktu yang ada.

Sebagaimana yang tertera dalam lampiran Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi, ditetapkan lamanya waktu untuk mempelajari setiap mata pelajaran pada setiap satuan pendidikan seperti tertera dalam tabel di bawah ini.

 

 

Tabel 11. Alokasi Waktu Satu Jam Tatap Muka,

Per Minggu dan Jumlah Minggu Efektif

Satuan Pendidikan Kelas Satu jam pembelajaran tatap muka (menit) Jumlah jam pembelajaran per minggu Minggu efektif per tahun ajaran
 SD/MI/SDLB I – III 35 26-28 34-39
V – VI 35 32 34-39
SMP/MTs./SMPLB VII – IX 40 32 34-39
SMA/MA/SMALB X – XII 45 38-39 34-38
SMK/MAK X – XII 45 36 38

 

Catatan:

  • Untuk SDLB, SMPLB, dan SMALB alokasi jam pembelajaran  tatap muka dikurangi lima menit.
  • Setiap sekolah diperbolehkan menambahkan jam pelajaran maksimal 4 jam per minggu secara keseluruhan. Pemanfaatan jam pembelajaran tambahan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi, disamping dimanfaatkan untuk mata pelajaran lain yang dianggap penting dan tidak terdapat dalam struktur kuriulum yang tercantum di dalam Standar Isi..
  • Alokasi waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur dalam sistem paket untuk SD/MI/SDLB/ 0 – 40 %, SMP/MTs./SMPLB 0 – 50%; dan SMA/MA/SMALB/SMK/MAK 0 – 60% dari waktu kegiatan tatap muka mata pelajaran yang bersangkutan. Pemanfaatan waktu ini mempertimbangkan potensi dan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi.
  • Alokasi waktu untuk praktik, dua jam untuk praktik di sekolah setara dengan satu jam tatap muka. Empat jam praktik di luar sekolah setara dengan satu jam tatap muka.
  • Alokasi waktu untuk tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstrutur untuk SMP/MTs dan SMA/MA/SMK/MAK  yang menggunakan sistem SKS pengaturan adalah sebagai berikut:
  • Ketuntasan belajar setiap indikator yang telah ditetapkan dalam suatu kompetensi dasar berkisar antra 0 -100%. Kriteria ideal ketuntasa pada masing-masing indikator 75%. Satuan pendidikan harus menentukan criteria kelulusan minimal, dengan mempertimbangkan kemampuan peserta didik dan ketersediaan sumber daya pendukung penyelenggaraan pembelajaran. SEtiap satuan pendidikan diharapkan menaikkan kriteria kelulusan untuk mencapai criteria kelulusan ideal (BNSP; Kurikulum dan Pembelajaran, 2006:217-218).
  1.  
    1. Satu SKS pada SMP/MTs terdiri atas: 40 menit tatap muka, 20 menit kegiatan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur.
    2. Satu SKS pada SMA/MA/SMK/MAK terdiri atas: 45 tatap muka, 25 menit untuk kegiatan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstrutur.

          

 

  1. f.        Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Pengembangan Materi Mata Pelajaran  oleh Sekolah / Guru dalam KTSP.

  Salah satu tugas utama sekolah terutama guru  adalah memilih dan menyajikan materi mata pelajaran untuk kegiatan pembelajaran. Untuk ini, guru harus memahami prinsip-prinsip untuk memilih dan menyajikan materi mata pelajaran.

 

  • Prinsip Memilih Materi Pelajaran

Materi pelajaran adalah segala hal yang akan dipelajari peserta didik dalam rangka mencapai tujuan atau kompetensi yang diharapkan. Agar materi yang dipelajari peserta didik ini sesuai dengan tujuan, maka tidak semua materi yang ada dalam mata pelajaran itu harus dipelajari siswa atau diberikan guru. Oleh karena itu perlu mempertimbangkan berbagai hal untuk memilih materi pelajaran.

Sejumlah hal penting yang menjadi bahan pertimbangan untuk memilih materi pelajaran, diantaranya adalah:

1)       Berorientasi pada tujuan/kompetensi yang ingin dicapai. Pilihlah materi   yang betul-betul sejalan dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Oleh Karena itu, dalam konteks KTSP yang berbasis kompetensi, sekolah/guru harus mampu mengurai kompetensi dasar ke dalam rumusan indikator hasil belajar secara tepat dan jelas. Agar jenis materi apa dan sejauh mana kedalamannya bisa ditentukan secara mantap.

2)       Urgensi materi, artinya pilihlah materi yang dipandang penting dike-tahui dan merupakan prerequisite untuk mempelajari materi selanjutnya. Dalam hal ini guru dituntut menguasai materi bidang ajarnya.

3)       Tuntutan kurikulum. Kurikulum di sini dalam pengertian dokumen kurikulum. Dalam dokumen kurikulum sudah tercantum garis besar tujuan dan materi yang harus tercakup. Dalam konteks KTSP, kita harus memahami SI   dan SKL.

4)       Nilai keguaan materi. Pilihlah materi pelajaran yang dipandang akan berguna bagi siswa. Hal ini penting dilakukan karena dewasa ini informasi dan ilmu pengetahuan sangat melimpah, sehingga perlu dipilih materi yang benar-benar akan berguna.

  • Prinsip Menyajikan Materi Mata Pelajaran

Kemudian prinsip atau hal yang harus diperhatikan dalam penyajian materi pelajaran.

1)       Susun materi sesuai dengan urutan tujuan atau kompetensi yang akan dicapai. Tujuan pembelajaran yang baik biasanya disusun menurut suatu alur berpikir tertentu. Oleh karena materi diorientasikan pada pencapaian tujuan, maka penyajian materi pelajaran pun harus disesuaikan dengan susunan tujuan tersebut.

2)       Harus memenuhi prinsip kontinyuitas. Ada hubungan fungsional antara materi satu dengan materi lainnya. Sehinga seluruh materi yang disajikan itu merupakan satu kesatuan uang utuh untuk mencapai kompetensi yang ingin terbentuk.

3)       Sistematis, artinya disusun menurut suatu alur tertentu. Pola susunan materi bisa mengikuti:

a) Dari yang mudah  menuju yang susah.

b)Dari sederhana menuju yang kompleks atau rumit.

c) Dari khusus menuju yang umum.

d)Dari yang umum menuju yang khusus. Penyajian materi dari umum ke khusus lebih efektif dibanding dari khusus menuju ke umum (Sudjana, 2000).

e) Harus bisa dijelaskan dengan jelas, sehingga bisa diproyeksi

f)  untuk mencapi tujuan.

Sekaitan dengan pentingnya memperhatikan prinsip-prinsip menyajikan materi pelajaran di atas, Sudjana (2000) menyatakan bahwa, “Membahas materi pelajaran bukan semata-mata urusan metode mengajar saja, tapi juga organisasi materi dan penguasaan bahan pelajaran oleh guru”.

Dalam konteks KTSP, sekaitan pemilihan dan penyajian materi ada beberapa hal penting lainnya yang perlu diperhatikan. Dalam KTSP yang berbasis kompetensi, materi harus diacukan pada pencapaian kompetensi yang harus dicapai siswa, melalui indikator-indikator hasil belajar. Dengan demikian guru harus mengenali standar kompetensi mata pelajaran, kompetensi dasar, dan mampu menentukan dan merumuskan indikator hasil belajar dengan baik. Dalam pengertian, indikator hasil belajar itu merupakan sejumlah kemampuan spesifik  dari kompetensi dasar yang di dalamnya mencerminkan kemapuan kognitif afektif, dan spikomotor yang diperlukan untuk membangun kompetensi dasar.  Diperlukan lebih dari  satu Indikator hasil belajar untuk mencapai penguasaan kompetensi dasar yang baik.

Disamping itu, rumusan indikator hasil belajar juga harus jelas, sehingga memudahkan unutk menentukan materi, jenis kegiatan, dan alat evaluasi yang harus digunakan. Kriteria indicator hasil belajar yang baik setidaknya harus berorientasi pada siswa, menggunakan satu kata kerja operasional yang bisa diamati dan diukur, dan berisi satu materi yang jelas.

Bisa disimpulkan bahwa keluasan dan kedalaman materi yang akan dipelajari siswa sangat tergantung pada indikator hasil belajar yang harus ditampilkan siswa.

 

 

  • Prosedur Menentukan Materi Pembelajaran

Materi pembelajaran adalah segala sesuatu yang hendak dipelajari dan dikuasai siswa, baik berupa pengetahuan, keterampilan maupun siap melalui kegiatan pembelajaran agar menjadi kompeten (Nazar, 2006:19). Pengertian ini mirip dengan pengertian mata pelajaran yang terdapat KBBI (1999), yang mendefinisikan mata pelajaran sebagai “pelajaran yang harus diajarkan (dipelajari) pada sekolah dasar dan sekolah lanjutan”. Inti dari keduanya adalah menunjuk pada bahan yang akan atau harus dipelajari dalam proses pembelajaran.

Dengan asumsi standar kompetensi dan komptensi dasar sudah ditemukenali, serta indikator hasil belajar telah dirumuskan dengan jelas, secara umum prosedur pengembangan materi pembelajaraan untuk aktivitas pembelajaran adalah sebagai berikut:

1)       Pelajari standar kompetensi

2)       Pelajari kompetensi dasar yang ingin dicapai

3)       Pelajari indikator hasil belajar

4)       Tentukan materi sesuai dengan apa yang tertera dalam indikator hasil  belajar.

CONTOH PENGEMBANGAN MATERI:

Jenjang Pendidikan      SD
Kelas/Semester            IV/1
STANDAR KOMPETENSI     Memahami hubungan antara struktur organ tubuh manusia dengan fungsinya serta cara pemeliharaannya. 

 

   
KOMPTENSI DASAR INDIKATOR HASIL BELAJAR MATERI
Mesdeskripsikan hubungan antara strutur pancaindra dengan fungsinya 1. Mendaftar macam-macam in-dera manusia dan keguna-annya. 1. Macam-macam alat indera dan kegunaannya.
2. Menggambarkan bagian-bagi-an mata dan menuliskannya. 2. Bagian-bagain mata dan masing-masing fungsinya.
3. Membandingkan perubahan lensa mata pada waktu melihat objek jauh dan dekat. 3. Keadaan lensa mata pada saat melihat benda jarak dekat dan jauh; dan  pengertian akomodasi.
4. Mengidentifikasi maca-macam kelainan mata dan cara mengatasinya. 4. Macam-macam kelainan    mata dan cara mengatasi-

    nya.

5.  Menyebutkan funsi telinga. 5. Fungsi-fungsi telinga.
6. Membuat model penampang telinga. 6. Bagaian-bagaian telingan; dan petunjuk membuat model penampang telinga.
7.  Melakukan percobaan untuk       menemukan area lidah. 7. Fungsi lidah dan area pada lidah;Langkah percobaan untuk menemukan area lidah;

Petunjuk menggambar area lidah.

8. Menyebutkan fungsi hidung dan menjelaskan bagian-bagiannya. 8. Fungsi hidung dan bagian- bagiannya.
9. Menyebutkan fungsi kulit 9. Fungsi kulit
10.Menjelaskan bagian-bagian kulit. 10. Bagian-bagian kulit.
       

           

C.   PENUTUP

Dalam konteks KTSP yang berbasis kompetensi, tujuan yang ingin dicapai tersebut dirumuskan dalam rumusan tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, tujuan pendidikan dasar dan menengah.  Rambu-rambunya dituangkan dalam bentuk kompetensi lulusan yang sudah ditentukan secara terstandar yaitu Standar Kompetensi Lulusan untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah. Untuk mencapai tujuan berupa kompetensi lulusan pendidikan dasar dan menengah tersebut, terdapat sejumlah mata pelajaran yang sudah terstruktur (struktur kurikulum) untuk tiap-tiap jenjang pendidikan tersebut.  

Selain mata pelajaran, untuk mencapai tujuan pendidikan pada tiap-tiap satuan pendidikan ada juga muatan lokal dan pengembangan diri.

Waktu menjadi unsur yang dipertimbangkan untuk menentukan berapa lama suatu mata pelajaran harus dipelajari. Ini berimplikasi terhadap penentuan seberapa luas dan seberapa dalam suatu materi pelajaran harus diberikan sesuai dengan alokasi waktu yang ada. Dalam KTSP telah diatur mengenai alokasi waktu untuk setiap mata pelajaran pada setiap satuan pendidikan.

Salah satu tugas utama sekolah terutama guru  adalah memilih dan menyajikan materi mata pelajaran untuk kegiatan pembelajaran. Agar materi mata pelajaran bisa efektif dan efisien, maka sekolah/guru harus memahami dan memperhatikan prinsip-prinsip memilih, menyajikan, dan prosedur mengembangkan materi pembelajaran.

 

D.  DAFTAR PUSTAKA

Anonim. (2006). Permendiknas 2006 Tentang SI dan SKL.  Jakarta: Sinar Grafika.

Idi, A. (1999). Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik. Jakarta: Gaya Media Pratama.

Belen, S. (2007). Sejarah Perkembangan Kurikulum di Indonesia: Masih Menyisakan Sederet Masalah. Tidak Diterbitkan.

BNSP. (2006). Panduan Penusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Tidak Diterbitkan.

Departemen Pendidikan Nasional. (2003). Kurikulum Berbasis Komptensi, Sekolah Dasar dan Ibtidaiyah. Jakarta: Tidak diterbitkan.

Anonim. (1999). Kamus Besar Bahasan Indonesia. Jakarta: PN. Balai Pustaka. 

Sukmadinata, N. S. (2000). Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik. Bandung: Rosda Karya.

Sudjana, N. (2000). Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algessindo.

Nazar, (2006). Merancang Pembelajaaran Aktif dan Konteksutual Berdasarkan “SISKO’ 2006: Panduan Praktis Mengembangkan Indikator, Materi, Kegiatan, Penilaian, Silabus, dan RPP. Jakarta: Grasindo.

Nasution, S. (2006). Kurikulum dan Pengajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Tim Pengembang MKDP Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan (2006). Kurikulum dan Pembelajaran – Bahan Ajar. Bandung: Tidak diterbitkan.

Tim Redaksi Nuansa Aulia. (2005). Himpunan Perundang-undangan tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Nuansa Aulia.

 

About these ads

2 Comments

  1. alhamdulilah…
    materi ini sangat berguna bagi saya…
    syukron…
    saya ingin menanyakan tentang upaya apa yang dilakukan guru guna peningkatan mutu kualitas pendidikan seiring diterapkanya ktsp ini,,,
    mhon bimbinganya…
    terimakasih…
    salam…

    Suka

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s