IMPLEMENTASI SISTEM KREDIT SEMESTER PADA SMK

(sebuah wacana )

PENDAHULUAN

  1. 1.     Latar Belakang

Sistem penyelenggaraan pendidikan di Indonesia saat ini di semua satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menggunakan sistem paket, di mana semua peserta didik menempuh pembelajaran yang sama dalam menyelesaikan program belajarnya.  Hal ini dianggap kurang demokratis karena peserta didik tidak mendapatkan haknya untuk belajar sesuai dengan kemampuan, bakat, maupun minatnya. Peserta didik yang pandai akan terhambat untuk menyelesaikan program studinya. Sebaliknya peserta didik yang lemah merasa dipaksa untuk mengikuti peserta didik berkemampuan tinggi.

Menjawab tantangan kemajemukan peserta didik sebagaimana tergambarkan, Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 12 ayat 1 butir (b) menyatakan: “Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya”.  Selanjutnya pada butir (f) dinyatakan bahwa “Peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak menyelesaikan pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing dan tidak menyimpang dari ketentuan batas waktu yang ditetapkan”.

Untuk memenuhi pelayanan pendidikan yang demokratis dan adil bagi peserta didik sesuai dengan ketentuan di atas, dapat ditempuh dengan menerapkan Sistem Kredit Semester (SKS) sebagaimana diatur lebih lanjut pada Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pada pasal 11 ayat (2) dinyatakan ”Beban belajar untuk SMA/ MA/SMLB,SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat pada pendidikan formal kategori standar dapat dinyatakan dalam satuan kredit semester”; Ayat (3) ”Beban belajar untuk SMA/MA/SMLB,SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat pada pendidikan formal kategori mandiri dinyatakan dalam satuan kredit semester”.

Untuk merumuskan lebih rinci tentang beban belajar setiap mata pelajaran yang sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan peserta didik, maka diperlukan pedoman pelaksanaan sistem kredit semester. Pedoman ini diharapkan dapat memberi penjelasan dan pegangan bagi para pemangku kepentingan pendidikan khususnya SMK di tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, dan sekolah/madrasah dalam menerapkan Sistem Kredit Semester (SKS) pada SMK.

Sistem Kredit Semester (SKS) adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang menggunakan satuan kredit semester (sks) untuk menyatakan beban belajar peserta didik, beban kerja guru, pengalaman belajar, dan beban penyelenggaraan program. Sistem kredit merupakan model penyelenggaraan pendidikan bervariasi dan fleksibel yang dapat mengakomodasi variasi tuntutan berbagai kebutuhan peserta didik.

Penyelenggaraan pendidikan pada sekolah menengah kejuruan (SMK/MAK) perlu dikembangkan dengan menyediakan model yang semakin mampu mengakomodasi pilihan-pilihan kebutuhan belajar peserta didik. Perbedaan kapasitas dan kecepatan belajar peserta didik dalam menyelesaikan program-program pendidikan perlu mendapat layanan yang tepat, benar, dan demokratis. Artinya peserta didik dengan kapasitas dan kecepatan belajar tinggi tidak terhambat oleh peserta didik dengan kapasitas dan kecepatan belajar rendah. Disamping itu penyelenggaraan pendidikan dengan SKS memberi peluang terealisasinya prinsip multy entry dan multy exit.

Pemerintah perlu mangakomodasi  tuntutan ini dengan menyediakan sistem penyelenggaraan pendidikan yang dapat mengakomodasi kebutuhan peserta didik namun tetap memperhatikan tuntutan kualifikasi dan kompetensi yang diperlukan dunia kerja. Dengan kata lain model SKS ini tidak boleh menurunkan beban belajar standar yang ideal dalam penguasaan kompetensi tertentu. Kebijakan pemerintah untuk memberikan alternatif pilihan model penyelengggaraan pendidikan dengan SKS memerlukan panduan implementasinya pada tingkat satuan pendidikan.

  1. 2.     Tujuan Panduan Pelaksanaan Sistem Kredit Semester

Panduan Pelaksanaan Sistem Kredit Semester SMK/MAK ini disiapkan sebagai upaya mengoperasionalkan tuntutan penyelenggaraan pendidikan dengan SKS, untuk digunakan oleh para pihak yang terlibat dalam pengembangan KTSP SMK/MAK. Dengan panduan pelaksanaan SKS semua pemangku kepentingan diharapkan:

  1. Memiliki persepsi yang sama tentang konsepsi SKS dan penyelenggaraannya.
  2. Mampu menjabarkan secara operasional SKS sesuai karakteristik dan kebutuhan SMK/MAK.
  3. Melaksanakan seluruh proses dalam SKS secara taat azas antara lain penyusunan strukur kurikulum yang meliputi jenis dan jumlah mata pelajaran, jumlah mata pelajaran pilihan yang disediakan, penetapan jumlah dan jenis mata pelajaran yang diambil setiap peserta, serta jumlah beban sks-nya.
  4. 3.     Dasar Hukum
    1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 12 ayat 1 butir (b) dan butir (f).
    2. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Pasal 11 ayat (2), dan ayat (3).
    3. Penjelasan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 11 ayat (2) dan (3), bahwa ada tiga kategori sekolah yaitu sekolah kategori standar, sekolah kategori mandiri, dan sekolah bertaraf internasional. Sekolah kategori standar  adalah sekolah yang belum memenuhi  Standar Nasional Pendidikan. Sekolah kategori mandiri adalah sekolah yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan. Sekolah bertaraf internasional adalah sekolah yang sudah memenuhi Standar Nasional Pendidikan.
    4. Penjelasan atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 11 ayat (1), ”Pemerintah dan/atau pemerintah daerah memfasilitasi satuan pendidikan yang berupaya menerapkan sistem satuan kredit semester karena sistem ini lebih mengakomodasikan bakat, minat, dan kemampuan peserta didik. Dengan diberlakukannya sistem ini maka satuan pendidikan tidak perlu mengadakan program pengayaan karena sudah tercakup (buit in) dalam sistem ini”.

Penjelasan dari pasal-pasal tersebut pada butir 3 dan 4 mengandung makna bahwa yang wajib menerapkan Sistem Kredit Semester (SKS) adalah SMA/ MA/SMLB,SMK/MAK kategori mandiri dan bertaraf internasional, sedangkan SMA/MA/SMLB,SMK/MAK kategori standar dapat menerapkan sistem SKS.

  1. Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas)  Nomor  22  Tahun 2006  Tentang Standar Isi yang menjelaskan bahwa: satuan pendidikan pada semua jenis dan jenjang pendidikan menyelenggarakan program pendidikan dengan menggunakan sistem paket atau sistem kredit semester. Kedua sistem tersebut dipilih berdasarkan jenjang dan kategori satuan pendidikan yang bersangkutan. Satuan pendidikan SMK/MAK kategori standar menggunakan sistem paket atau dapat menggunakan sistem kredit semester. Satuan pendidikan SMA/MA/SMALB dan SMK/MAK kategori mandiri dan bertaraf internasional menerapkan sistem satuan kredit semester.

Beban belajar dirumuskan dalam bentuk satuan waktu yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk mengikuti program pembelajaran melalui kegiatan tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Semua itu dimaksudkan untuk mencapai standar kompetensi lulusan dengan memperhatikan tingkat perkembangan peserta didik.

  1. Kegiatan tatap muka adalah kegiatan pembelajaran yang berupa proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik. Beban belajar kegiatan tatap muka per jam pembelajaran pada SMA/MA/SMALB/ SMK/MAK berlangsung selama 45 menit. Jumlah jam pembelajaran kegiatan tatap muka per minggu untuk SMA/MA/SMALB/ SMK/MAK adalah 38 s.d. 39  jam pembelajaran
  2. Penugasan terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai standar kompetensi. Waktu penyelesaian penugasan terstruktur ditentukan oleh pendidik.
  3. Kegiatan mandiri tidak terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai standar kompetensi. Waktu penyelesaiannya diatur sendiri oleh peserta didik.
  4. Beban belajar setiap mata pelajaran pada sistem kredit semester dinyatakan dalam  satuan kredit semester (sks). Beban belajar satu sks meliputi satu jam pembelajaran tatap muka, satu jam penugasan terstruktur, dan satu jam kegiatan mandiri tidak terstruktur.

KONSEPSI SISTEM KREDIT SEMESTER

  1. A.    Pengertian Sistem Kredit Semester (SKS)

Sistem Kredit Semester (SKS) adalah sistem penyelenggaraan program pendidikan yang peserta didiknya menentukan sendiri beban belajar dan matapelajaran yang diikuti untuk setiap semester pada satuan pendidikan. Satuan kredit semester (sks) adalah takaran penghargaan terhadap pengalaman belajar yang diperoleh selama satu semester melalui kegiatan terjadwal tatap muka per minggu sebanyak 1 jam teori atau 2 jam praktikum sekolah, atau 4 jam kerja lapangan/praktek industri. Alokasi waktu satu jam pelajaran tatap muka adalah 45 menit.

Beban belajar adalah rumusan satuan waktu yang dibutuhkan oleh peserta didik dalam mengikuti program pembelajaran melalui sistem tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur untuk mencapai standar kompetensi lulusan serta kemampuan lainnya dengan memperhatikan tingkat perkembangan peserta didik.

Semester adalah satuan waktu kegiatan belajar efektif,  terdiri atas 17 sampai 19 minggu yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran efektif pada satuan pendidikan termasuk kegiatan penilaian.  Semester reguler adalah semester yang dilaksanakan antara bulan Juli-Desember (semester gasal) dan Januari-Mei (semestar genap) tiap tahun. Semester pendek adalah semester di antara dua semester reguler, yaitu antara bulan Juni-Agustus.

Kegiatan tatap muka adalah kegiatan pembelajaran yang berupa proses interaksi antara peserta didik, materi pembelajaran, pendidik dan lingkungan.

Penugasan terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang didesain oleh pendidik untuk menunjang pencapaian tingkat kompetensi dan atau kemampuan lainnya pada kegiatan tatap muka. Waktu penyelesaian penugasan terstruktur ditentukan oleh pendidik. Penugasan terstruktur termasuk kegiatan perbaikan, pengayaan, dan percepatan.

Kegiatan mandiri tidak terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang didesain oleh pendidik untuk menunjang pencapaian tingkat kompetensi mata pelajaran atau lintas mata pelajaran atau kemampuan lainnya yang waktu penyelesaiannya diatur sendiri oleh peserta didik.

Mata pelajaran wajib adalah semua mata pelajaran normatif dan adaptif, mata pelajaran dalam kelompok mata pelajaran dasar kejuruan, dan mata pelajaran dalam kelompok spesialisasi dari Bidang Keahlian yang terkait. Mata pelajaran pilihan adalah mata pelajaran yang disediakan bagi peserta didik bagi pengembangan karir ke depan berdasarkan minat dan spesialisasi. Kurikulum dengan SKS perlu menyediakan sejumlah mata pelajaran pilihan bagi peserta didik dengan sejumlah sks tertentu.

  1. B.    Karakteristik SKS

Karakteristik Sistem Kredit Semester

  1. Dalam SKS, tiap mata pelajaran diberi harga (bobot) yang namanya  kredit.
  2. Besarnya nilai kredit untuk mata pelajaran yang berlainan tidak perlu sama.
  3. Besarnya nilai kredit untuk masing-masing mata pelajaran ditentukan atas besarnya usaha yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang dinyatakan dalam program tatap muka teori (TMT), praktikum sekolah (PS), tugas lapangan/praktek Industri (PI).
  4. Kegiatan yang disediakan terdiri atas kegiatan wajib dan kegiatan pilihan. Kegiatan wajib merupakan kegiatan yang harus diikuti semua peserta didik. Kegiatan pilihan merupakan kegiatan yang disediakan untuk menjadi alternatif bagi upaya meningkatkan kompetensi peserta didik.
  5. Dalam batas tertentu, peserta didik mendapatkan kebebasan untuk menentukan :
    1. Banyaknya satuan kredit yang diambil untuk tiap semester.
    2. Jenis kegiatan studi yang diambil untuk tiap-tiap semester.
    3. Jangka waktu untuk menyelesaikan beban studi.
    4. Banyaknya satuan kredit semester yang dapat diambil oleh peserta didik pada suatu semester ditentukan oleh indeks prestasi semester sebelumnya dan kemungkinan kondisi yang melatarbelakangi studi peserta didik (kecuali untuk semester awal harus sudah ditentukan).
      1. C.    Tujuan SKS

 

Secara umum tujuan SKS adalah agar satuan pendidikan dapat menyajikan program pendidikan yang bervariasi dan fleksibel, untuk memberikan peluang kepada peserta didik memilih program pembelajaran menuju pada suatu jenjang profesi tertentu.

Secara khusus, tujuan penerapan SKS adalah untuk:

1.   Memberikan kesempatan kepada para peserta didik yang cakap dan giat belajar, agar dapat menyelesaikan studi dalam waktu sesingkat mungkin.

2.   Memberikan kesempatan kepada peserta didik agar dapat mengambil mata pelajaran sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuannya.

3.   Memberikan kemungkinan sistem pendidikan untuk mewujudkan keseimbangan antara input dan output.

4.   Mempermudah penyesuaian kurikulum tingkat satuan pendidikan dari waktu ke waktu sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.

5.   Memberikan kemungkinan agar sistem evaluasi kemajuan belajar peserta didik dapat diselenggarakan dengan baik.

6.   Memungkinkan pengalihan kredit antar program keahlian  dalam satu satuan pendidikan atau perpindahan (transfer) dari satuan jenis pendidikan lain ke SMK atau antar program keahlian di SMK yang menggunakan SKS maupun sistem paket melalui konversi.

7.   Meningkatkan kemungkinan keterlaksanaan prinsip multy entry dan multy exit.

  1. Manfaat Penerapan SKS

1.   Menyesuaikan dengan kecepatan belajar setiap peserta didik.

2.   Mempersingkat waktu penyelesaian studi bagi peserta didik yang berkemampuan dan berkemauan tinggi.

3.   Peserta didik dapat mengembangkan potensi diri sesuai dengan kemampuannya.

4.   Meningkatkan kemandirian peserta didik dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar.

PELAKSANAAN SISTEM KREDIT SEMESTER

  1. Pelaksanaan SKS

Alokasi waktu yang diperlukan per minggu per satu sks sebagai berikut:

  1. Untuk mata pelajaran teori (TMT=Tatap Muka Teori):
    1. Bagi peserta didik berarti:

1)       45 menit melaksanakan proses pembelajaran tatap muka.

2)       45 menit penugasan terstruktur.

3)       45 menit kegiatan mandiri.

b.  Bagi guru berarti:

1)       45 menit melaksanakan proses pembelajaran tatap muka.

2)       45 menit perencanaan dan penilaian hasil belajar.

3)       45 menit pengembangan materi pembelajaran.

  1. Untuk pelajaran praktik sekolah (PS):

a.  Bagi peserta didik berarti:

1)       90 menit kegiatan praktik di laboratorium atau praktik di bengkel atau studio atau di tempat olah raga di lapangan.

2)       45 menit kerja mandiri.

b.  Bagi guru berarti:

1)     90 menit kegiatan pembelajaran dan penilaian di laboratorium/bengkel/studio.

2)     45 menit pengembangan materi dan persiapan mengajar.

  1. Untuk pelajaran praktik lapangan/Industri (PI):
    1. Bagi peserta didik berarti:

1)     180 menit kegiatan praktik lapangan/industri.

2)     45 menit penugasan terstruktur.

3)     45 menit kerja mandiri.

Tiap semester peserta didik mempunyai kesempatan memilih mata pelajaran yang akan diambil berdasarkan mata pelajaran yang ditawarkan oleh sekolah. Penawaran mata pelajaran dibagi menjadi tiga yaitu semester gasal, semester genap, dan semester pendek. Mata pelajaran yang akan diambil dikonsultasikan dengan guru pembimbing akademik.

Pengurangan mata pelajaran yang sudah diambil atau penambahan mata pelajaran yang diinginkan hanya dapat dilakukan pada saat menambah-mengurangi dalam semester yang sedang berjalan.

Program produktif untuk masing-masing kompetensi keahlian dikelompokkan dalam mata pelajaran inti dan mata pelajaran pilihan. Satu  tahun akademik dilaksanakan sebanyak 38 minggu.

Satuan pendidikan atau sekolah wajib mensosialisasikan penerapan SKS yang akan dilaksanakan kepada stakeholders. Sekolah yang telah memutuskan untuk melaksanakan SKS harus melakukannya secara taat azas atau konsisten. Sekolah wajib melaksanakan 1 sks dalam pengertian yang benar seperti yang dituangkan dalam jadwal pelajaran. Pelaksanaan pembelajaran melalui tatap muka (TM),  tugas terstruktur (TT), dan kegiatan mandiri (KM). Peserta didik didorong untuk belajar secara mandiri. Oleh karena itu program pembelajaran untuk tugas terstruktur, kegiatan mandiri wajib disusun oleh guru pemangku mata pelajaran. Jumlah sks maksimal yang dapat diambil oleh peserta didik  ditentukan berdasarkan hasil prestasi pada semester sebelumnya.

  1. Penilaian dalam SKS
    1. Penentuan kemampuan kompetensi seorang peserta didik mempertimbangkan pengetahuan, sikap, dan ketrampilan.
    2. Penilaian kompetensi menggunakan berbagai pendekatan secara komplementatif, mencakup semua unsur hasil belajar.
    3. Kriteria ketuntasan minimal (KKM) setiap mata pelajaran ditetapkan sesuai fungsi dan kedudukan mata pelajaran dalam proses pembentukan standar kompetensi lulusan (SKL).
    4. Nilai suatu mata pelajaran ditentukan dengan “standar sebelas” yaitu nilai 0 sampai dengan 10 atau “standar 101” dengan nilai 0 sampai dengan 100. Penilaian dalam sistem kredit semester dilakukan dengan menggunakan kriteria nilai (grade) sebagai berikut. A, A-, B+, B, B-, C+, C, C-, D+, D, D-, dan E dengan makna sebagai berikut:

A : baik sekali                                               C :cukup

A-: kurang dari baik sekali                         C-: kurang dari       cukup

B+: lebih dari baik                                       D : kurang

B : baik                                                           D-: kurang dari

                                                                              kurang

C+: lebih dari cukup                         E : gagal

  1.  Skala nilai dari masing-masing nilai ditentukan sebagai berikut:

Tabel 1. Konversi Nilai

Standar Nilai Nilai
11 101 Huruf Bobot
8,6 – 10 86 – 100 A 4,00
8,0 – 8,5 80 – 85 A- 3,75
7,5 – 7,9 75 – 79 B+ 3,25
7,1 – 7,4 71 – 74 B 3,00
6,6 – 7,0 66 – 70 B- 2,75
6,4 – 6,5 64 – 65 C+ 2,25
6,0 – 6,3 60 – 63 C 2,00
5,6 – 5,9 56 – 59 C- 1,75
5,1 – 5,5 51 – 55 D+ 1,25
4,6 – 5,0 46 – 50 D 1,00
4,0 – 4,5 40 – 45 D- 0,75
0 – 3,9 0 – 39 E 0,00

 

  1. Berdasarkan kriteria penilaian di atas ditentukan batas ambang ketuntasan minimal untuk seluruh mata pelajaran. Untuk kelompok normatif dan adaptif ditentukan nilai C+ dan untuk kelompok produktif nilai B. Peserta didik yang belum mencapai nilai batas ambang ketuntasan minimal dinyatakan tidak lulus.
  2. Indeks Prestasi (IP) adalah nilai kredit rata-rata yang merupakan satuan nilai akhir, menggambarkan kadar kompetensi suatu hasil belajar. Untuk menentukan IP digunakan rumus jumlah nilai huruf ditransfer ke nilai bobot x sks, dibagi jumlah sks.

Tabel 2. Contoh Perhitungan Indeks Prestasi

No Mata Pelajaran sks Nilai sks x bobot
Huruf Bobot
1. Pendidikan Agama 1 A 4 1 x 4= 4
2. Pendidikan Kewarganegaraan 1 A- 3,75 1 x 3,75= 3,75
3. Bahasa Indonesia 2 B 3 2 x 3= 6
4. Seni Budaya 1 B+ 3,25 1 x 3,25= 3,25
5. Bahasa Inggris 2 A 4 2 x 4= 8
6. Matematika 2 A 4 2 x 4= 8
7. Fisika 2 B+ 3,25 2 x 3,25= 6,50
8. KKPI 1 A- 3,75 1 x 3,75= 3,75
9. Teori Dasar Elektronika 4 A 4 4 x 4= 16
  JUMLAH 16     61,25

 

                                61,25

Indeks Prestasi  = ———–  = 3,83

                                 16

Catatan:

1)     Apabila nilai belum masuk, bobot kredit mata pelajaran tersebut tidak diperhitungkan sebagai perhitungan IP.

2)     Apabila nilai tidak ada karena peserta didik tidak menempuh ujian, bobot kredit mata pelajaran tersebut tetap diperhitungkan untuk menentukan IP.

  1. Nilai IPK semester sebelumnya akan menentukan jumlah sks maksimal yang dapat diambil oleh peserta didik yang bersangkutan pada semester berikutnya, dengan ketentuan sebagai berikut:
Indeks Prestasi (semester) Beban Studi maksimal
Lebih dari 2,99 22
2,50 – 2,99 19
2,00 – 2,49 16
1,50 –  1,99 13
Kurang dari 1,50 10

 

  1. Bagi peserta didik yang belum mencapai ketuntasan minimal, harus diberi kesempatan untuk memperbaiki nilai pada semester pendek.
  2. Penyetaraan Sistem Paket kedalam SKS
    1. Beban Belajar SKS

 

Satu sks dalam sistem kredit semester setara dengan:

a. Untuk  TMT sama dengan 45 menit proses pembelajaran tatap muka, 45 menit penugasan terstruktur, dan 45 menit kegiatan mandiri.

b. Untuk PS sama dengan 2×45=90 menit kegiatan praktik di laboratorium atau praktik di bengkel atau studio atau di tempat olah raga di lapangan dan 45 menit kerja mandiri.

c. Untuk PI sama dengan 4×45=180 menit kegiatan praktik lapangan/praktik industri, 45 menit penugasan terstruktur, dan 45 menit kerja mandiri.

d. Dalam sistem paket alokasi waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur 0%-60% dari waktu kegiatan tatap muka

  1. Perhitungan Konversi

Konversi dari Sistem Paket ke dalam SKS menggunakan rumusan jumlah jam sebagai berikut:

  1. a.     Untuk Mata Pelajaran Normatif dan Adaptif

1 jam pelajaran Teori=TM+ 60%TM = 1,6 TM =1,6×45 = 72 menit

1 sks TMT =  TM + TT + KM = 45 + 45 + 45 = 135 menit

1 sks PS= 2 TM + KM = 90 + 45 = 135 menit

Indeks penyetaraan jam pelajaran TMT ke sks = 72 : 135 = 0,533.

Indeks penyetaraan jam pelajaran PS ke sks = 72 : 135 = 0,533.

Artinya:

1 jam pelajaran TMT sama dengan 0,533 sks

1 jam pelajaran PS sama dengan 0,533 sks

Contoh:

  1. Mata pelajaran Pendidikan Agama, jam pelajaran total adalah 192 jam. Maka jumlah sks mata pelajaran Pendidikan Agama untuk kebulatan studi tiga tahun sama dengan 192×0,533 = 102,33 sks. Jika mata pelajaran Pendidikan Agama dilaksanakan dalam 6 semester dan satu semester dilaksanakan dalam 19 minggu, maka sks tiap semesternya adalah 102,33: (6×19)= 0,88 dibulatkan 1 sks dan dilaksanakan dalam enam semester dengan rincian Pendidikan Agama 1 = 1 sks, Pendidikan Agama 2=1 sks, Pendidikan Agama 3=1 sks, Pendidikan Agama 4=1 sks, Pendidikan Agama 5=1 sks, Pendidikan Agama 6=1 sks.
  2. Mata pelajaran Bahasa Inggris, jam pelajaran total adalah 440 jam. Maka jumlah sks mata pelajaran Bahasa Inggris untuk kebulatan studi tiga tahun sama dengan 440×0,533 = 234,52 sks. Jika mata pelajaran Bahasa Inggris dilaksanakan dalam 6 semester dan satu semester dilaksanakan dalam 19 minggu, maka sks tiap semesternya adalah 234,52: (6×19)= 2,05 dibulatkan 2 sks dan dilaksanakan dalam enam semester dengan rincian Bahasa Inggris 1 = 2 sks, Bahasa Inggris 2 = 2sks, Bahasa Inggris 3 = 2 sks, Bahasa Inggris 4 = 2 sks Bahasa Inggris 5 = 2 sks, Bahasa Inggris 6 = 2 sks.

 

  1. b.    Untuk Mata Pelajaran  Produktif

1 jam pelajaran Teori=  TM + 0,6 TM = 1,6 TM = 72 menit

1 sks Teori =  TM + TT + KM = 45 + 45 + 45 = 135 menit

1 sks PS= 2 TM + KM = 90 + 45 = 135 menit

1 sks PI = 4 TM + TT + KM = 180 + 45 + 45 = 270 menit

Indeks penyetaraan jam pelajaran TMT ke sks = 72 : 135 = 0,533.

Indeks penyetaraan jam pelajaran PS ke sks = 72 : 135 = 0,533.

Indeks penyetaraan jam pelajaran PI ke sks = 72 : 270 = 0,266

Artinya:

  1.  
    1. 1 jam pelajaran TMT sama dengan

0,533 sks

  1.  
    1. 1 jam pelajaran PS sama dengan 0,533 sks
    2. 1 jam pelajaran PI sama dengan 0,266 sks

 

Contoh:

STANDAR KOMPETENSI :   Merawat kulit kepala secara

                                                kering (dry scalp treatment)

KODE KOMPETENSI :   KEC.TK.02.005.01

ALOKASI WAKTU                  :   30 (73)x 45 menit

KD   Alokasi Waktu
TMT PS PI
1.Melakukan Persiapan Kerja   2(2) 2(4) 2(8)
2.Mendiagnosa kulit kepala dan rambut   2(2) 2(4) 2(8)
3.Melaksanakan perawatan kulit kepala dan rambut secara kering   3(3) 4(8) 3(12)
4. Memberikan saran pasca perawatan   1(1) 1(2) 2(8)
5.Mengemas alat, bahan dan kosmetika, serta merapikan area kerja   1(1) 1(2) 2(8)
JUMLAH   9(9) 10(20) 11(44)

 

Jumlah sks TMT = (9×0,533): 19 = 0,25sks

Jumlah sks PS = (20×0,533): 19 = 0,56 sks

Jumlah sks PI =(44×0,266): 19 = 0,62 sks

Hasil konversi jam pelajaran menjadi sks dirangkum dalam tabel berikut:

SK   sks Jumlah
TMT PS PI
Merawat kulit kepala secara kering   0,25 0,56 0,62 1,43 dibulatkan ke 1

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PERANAN INSTITUSI BERKENAAN DENGAN

PENYELENGGARAAN SISTEM KREDIT SEMESTER

  1. A.    Pemerintah Pusat

Departemen Pendidikan Nasional menetapkan ketentuan yang berlaku secara nasional dalam penyelenggaraan SKS bagi Sekolah/Madrasah yang melaksanakan. Ketentuan tersebut dilaksanakan oleh unit utama yang terkait.

Badan Penelitian dan Pengembangan sesuai dengan kewenangannya:

  1. mendukung upaya setiap penyelenggara Sekolah/Madrasah dalam mengembangkan dan/atau memperkaya kurikulum, proses pembelajaran,  dan penilaian dalam pelaksanaan SKS;
  2. melakukan pengembangan model adaptasi dan adopsi kurikulum, proses pembelajaran, dan penilaian untuk sekolah/Madrasah  yang melaksanakan SKS;
  3. mengembangkan dan mengujicobakan model kurikulum yang melaksanakan SKS;
  4. memberikan fasilitas teknis terselenggaranya Ujian Nasional bagi Sekolah/Madrasah yang melaksanakan SKS;
  5. melakukan kerja sama dengan perguruan tinggi dan LPMP untuk melakukan pendampingan dalam pengembangan SKS; dan
  6. memonitor, meneliti, dan mengevaluasi pelaksanaan SKS dan mengusulkan rekomendasi kebijakan kepada Menteri;
    1. mengembangkan pangkalan data dan layanan informasi tentang Sekolah/Madrasah yang melaksanakan SKS.

Direktorat Jenderal  Manajemen  Pendidikan Dasar dan Menengah sesuai dengan kewenangannya:

  1. melakukan pembinaan teknis manajerial kepada sekolah atas penyelenggaraan SKS;
  2. mendukung upaya setiap Sekolah/Madrasah untuk dapat melaksanakan SKS;
  3. membantu pemerintah provinsi dan kabupaten/kota dalam penjaminan mutu  pelaksanaan SKS; dan
    1. melakukan pengawasan manajerial atas penyelenggaraan SKS.

Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan sesuai dengan kewenangannya:

  1. melakukan pembinaan teknis profesi dan kompetensi guru dan tenaga kependidikan dalam pelaksanaan SKS;
  2. mendukung upaya setiap penyelenggara Sekolah/Madrasah untuk mengembangkan dan/atau memperkaya kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan lainnya; dan
  3. membantu pemerintah provinsi dan kabupaten/kota dalam penjaminan mutu pendidik dan tenaga kependidikan Sekolah/Madrasah yang melaksanakan SKS.
    1. B.    Pemerintah Provinsi

Dinas Pendidikan Provinsi menetapkan hal-hal yang berlaku pada suatu provinsi tertentu dalam penyelenggaraan Sekolah/Madrasah yang melaksanakan SKS antara lain sebagai berikut:

  1. menyusun kebijakan operasional provinsi bagi Sekolah/Madrasah yang melaksanakan SKS sesuai dengan kebijakan nasional;
  2. melakukan koordinasi dan sinkronisasi kebijakan operasional dan program Sekolah/Madrasah yang melaksanakan SKS antar kabupaten/kota;
  3. memberikan dukungan informasi dan layanan mengenai pengaturan tentang penyelenggaraan SKS;
  4. memfasilitasi terselenggaranya Ujian Nasional bagi Sekolah/Madrasah yang melaksanakan SKS;
  5. melakukan pengawasan dalam rangka penjaminan mutu Sekolah/Madrasah yang melaksanakan SKS; dan
  6. menyediakan layanan sistem informasi dan data Sekolah/Madrasah yang melaksanakan SKS ditingkat provinsi.

 

  1. C.    Pemerintah Kabupaten/Kota

Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota menetapkan hal-hal yang berlaku pada suatu kabupaten/kota tertentu dalam penyelenggaraan Sekolah/Madrasah yang melaksanakan SKS antara lain sebagai berikut:

  1. menyusun kebijakan operasional Sekolah / Madrasah yang melaksanakan SKS di tingkat kabupaten/kota sesuai dengan kebijakan nasional dan provinsi;
  2. melakukan koordinasi dan sinkronisasi kebijakan operasional dan program antar Sekolah/Madrasah yang melaksanakan SKS;
  3. memberikan dukungan informasi dan layanan mengenai pengaturan penyelenggaraan Sekolah/Madrasah yang melaksanakan SKS;
  4. memfasilitasi terselenggaranya Ujian Nasional bagi Sekolah/Madrasah yang melaksanakan SKS;
  5. melakukan pengawasan dalam rangka penjaminan mutu Sekolah/Madrasah yang melaksanakan SKS; dan
  6. menyediakan layanan sistem informasi dan data Sekolah/Madrasah yang melaksanakan SKS di tingkat kabupaten/kota.
  7. D.    Sekolah/Madrasah  Kategori Mandiri dan Bertaraf Internasional

 

Sekolah/Madrasah Bertaraf Internasional menetapkan hal-hal yang berlaku pada tingkat Sekolah/Madrasah antara lain sebagai berikut:

  1. menyusun program pelaksanaan SKS, baik jangka pendek dan menengah maupun jangka panjang;
  2. melaksanakan sistem adminstrasi eksternal dan internal yang mendukung pelaksanaan SKS;
  3. menyusun struktur program kurikulum tiap semester selama enam semester;
  4. menetapkan sejumlah mata pelajaran pilihan;
  5. menetapkan mata-mata pelajaran yang memerlukan pembagian  ke dalam level tingi atau level standar;
  6. memfasilitasi peserta didik untuk menetapkan jumlah sks yang diambil setiap semester;
  7. memfasilitasi peserta didik untuk melaksanakan remedial dan perbaikan nilai pada semester pendek;
  8. dapat mengadaptasi dan/atau mengadopsi model-model pengembangan SKS yang disusun oleh Badan Penelitian dan Pengembangan atau pihak lain yang berwenang;
  9. melaksanakan Ujian Nasional;
  10. menyediakan layanan sistem informasi dan data di tingkat Sekolah/Madrasah tentang pelaksanaan SKS.
    PENUTUP

Pola penyelenggaraan  pendidikan dengan SKS dapat dilakukan untuk kurikulum berbasis kompetensi dengan melakukan beberapa penyesuain penetapan konversi dari jam pelajaran ke sks. Penilaian dalam kurikulum berbasis kompetensi tetap mengacu pada kriteria lulus dan tidak lulus kompetensi. Namun untuk lulus kompetensi ada gradasi nilai (grade) yaitu dari paling rendah C, C+, B-, B, B+, A-, dan A. Untuk status tidak lulus hanya dinyatakan dengan nilai D, D-, dan E.  Pembulatan besarnya sks hasil konversi bisa dilakukan dengan ketentuan hasil pecahan >0,5 dibulatkan ke atas dan yang < 0, 5 dibulatkan ke bawah.

Pemerintah dan pemerintah daerah memfasilitasi satuan pendidikan yang berupaya menerapkan sistem kredit semester karena sistem ini dapat mengakomodasikan bakat, minat, dan kemampuan peserta didik. Dengan diberlakukan sistem ini maka satuan pendidikan tidak perlu mengadakan program pengayaan karena sudah tercakup dalam sistem. Pemerintah mendorong dan mengharuskan menerapkan sistem SKS bagi SMK/MAK atau yang sederajad pada sekolah kategori mandiri.

About these ads

1 Comment

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s