SISTEM DUKUNGAN PENDIDIKAN INKLUSIF


 

  1. A.   PENDAHULUAN

 Upaya pemerataan pendidikan dalam rangka menuntaskan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun yang berkualitas bagi semua anak di Indonesia mempunyai arti yang sangat strategis untuk mencerdaskan bangsa dan selaras dengan pesan dari Pendidikan Untuk Semua (PUS).  Pendidikan Inklusif diharapkan  dapat menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan partisipasi anak bersekolah (pemerataan kesempatan pendidikan) dan dalam waktu yang bersamaan dapat meningkatkan mutu pendidikan.

Setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi (Pasal 4 UU. No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak). Setiap anak berhak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai dengan kebutuhan fisik, mental, spiritual, dan sosial. (Pasal 9 ayat 1 UU No. 23 Tahun 2002  tentang Perlindungan Anak).  Setiap anak yang menyandang cacat berhak memperoleh rehabilitasi, bantuan sosial, dan pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial. (Pasal 12 ayat 1 UU. No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak). Negara, pemerintah, keluarga, dan orang tua wajib memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada anak untuk  memperoleh pendidikan. (Pasal 49 UU. No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak).

Anak yang menyandang cacat fisik dan/atau mental diberikan kesempatan yang sama dan aksesibilitas untuk memperoleh pendidikan biasa dan pendidikan luar biasa (Pasal 51 UU. No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak). Anak yang memiliki keunggulan diberikan kesempatan dan aksesibilitas  untuk memperoleh pendidikan khusus. (Pasal 52 UU. No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak).  Orang tua berhak berperan serta dalam memilih satuan pendidikan dan memperoleh informasi tentang perkembangan pendidikan anaknya. (Pasal 7 ayat  1 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional).  Orang tua dari anak usia wajib belajar, berkewajiban memberikan pendidikan dasar kepada anaknya (Pasal 7 ayat 2 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional).

Masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi program pendidikan. (Pasal 8 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional). Masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan (Pasal 9 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional). Pemerintah dan Pemerintah Daerah berhak mengarahkan, membimbing, membantu, dan mengawasi penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku. (Pasal 10 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional). Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan , serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi (Pasal 11 ayat 1 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikn Nasional).

Pememrintah dan Pemerintah Daerah wajib menjamin tersedianya dana guna terselengaranya pendidikan bagi setiap warga Negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun (Pasal 11 ayat 2 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional). Sekolah dan komite sekolah atau madrasah dan komite madrasah  mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan di bawah supervisi dinas pendidikan kabupaten/kota yang bertanggungjawab di bidang pendidikan untuk SD, SMP, SMA, dan SMK, dan departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama untuk MI, MTs, MA dan MAK.  Pasal 17 ayat 2 Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan). Untuk SDLB, SMPLB, dan SMALB di bawah supervisi dinas pendidikan provinsi.

  1. B.   IMPLEMENTASI PENDIDIKAN INKLUSIF

Penjelasan Pasal 15 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa :” (…) Pendidikan khusus merupakan penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik yang berkelaainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah”.  Kemudian pada Pasal41  Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, menyebutkan   bahwa :”Setiap satuan pendidikan yang melaksanakan pendidikan inklusif harus memiliki tenaga kependidikan yang mempunyai kompetensi menyelenggarakan pembelajaran  bagi peserta didik dengan kebutuhan khusus”.

Pernyataan  tersebut di atas telah menunjukkan kesungguhan  upaya Pemerintah dalam mengimplementasikan pendidikan inklusif di Negara tercinta ini yang perlu ditindaklanjuti dengan peraturan-peraturan dan pedoman-pedoman teknis serta serangkaian kegiatan yang dapat mendukung implementasi pendidikan inklusif.

Kita sadari bahwa dalam mengimplementsikan pendidikan inklusif banyak faktor-faktor yang harus dipertimbangkan, antara lain : (1)  Kebijakan hukum dan perundang-undangan, (2) Sikap, pengalaman dan pengetahuan,

(3) Tujuan Pendidikan Nasional dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (4) Perubahan Pradigma Pendidikan (Manajemen Berbasis Sekolah, Otonomi Pendidikan, Desain  Pembelajaran, Strategi Pembelajaran, dan Penilaian Hasil Belajar), (5) Adaptasi lingkungan, penciptaan kerja, dan pemilik perusahaan, dan (6)  Kerjasama kemitraan (Pemerintah, Sekolah, Orang Tua, Masyarakat).

Faktor-faktor tersebut di atas  saling berkaitan dan saling ketergantungan antara satu faktor dengan faktor yang lainnya. Implementasi pendidikan inklusif sangat tergantung pada sikap, pengetahuan, fleksibilitas dan kemampuan kreatif untuk memecahkan masalah dan mendesentralisasikan pengambiln keputusan hingga kepada individu guru, orang tua dan peserta didik berkebutuhan khusus. 

Kerjasama kemitraan pada berbagai level akan sangat penting. Pentingnya peserta didik berkebutuhan khusus untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas  telah dikemukakan sebelumnya, perundang-undangan dan peraturan-peraturan yang mendasararinya di level nasional sudah kuat dan jelas dari Departemen Pendidikan Nasional. Hal ini tidak menghalangi bantuan dari departemen-departemen lain, seperti departemen sosial, departemen tenaga kerja dan departemen kesehatan  dalam memberikan bantuan yang diperlukan anak-peserta didik berkebutuhan khusus.

Kerjasama antara guru-guru di Sekolah Luar Biasa dan guru-guru di sekolah umum diperlukan dalam upaya meningkatkan pembelajaran anak. Kerjasama antara guru dan orang tua serta kerjasama orang tua di antara para orang tua itu sendiri akan memperkaya semua yang terlibat serta akan menjamin pendidikan inklusif yang lebih baik lagi dan lebih bermakna. Kerjasama dengan masyarakat seperti tokoh-tokoh masyarakat, organisasi-irganisasi penyandang cacat, organisasi-organisasi sosial lainnya, dalam berbagai bidang sangat diperlukan dan akan  memberikan pengayaan dalam implementasi pendidikan inklusif.

Pada hakekatnya pendidikan itu menjadi tanggungjawab bersama antara sekolah, masyarakat dan pemerintah. Oleh sebab itu maka para pembina dan pelaksana pendidikan di lapangan diharapkan mampu memberdayakan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan secara optimal. Partisipasi dan peran masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif antara lain dalam (1) perencanaan, (2) penyediaan tenaga ahli/profesional terkait, (3) pengambilan keputusan, (4) pelaksanaan pembelajaran dan penilaian, (5) pendanaan, (6) pengawasan, dan penyaluran lulusan. Untuk mengoptimalkan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif dapat diakomodasikan melalui wadah : (1) komite sekolah, (2) dewan pendidikan, dan (3) forum-forum/persatuan peduli atau pemerhati pendidikan inklusif.

Masyarakat (orang tua, anggota keluarga yang lain, atau semua orang yang tinggal di lingkungan sekolah) akan memberikan kontribusi penting terhadap pembelajaran peserta didik berkebutuhan khusus dalam satu lingkungan yang inklusif dan ramah terhadap pembelajaran (LIRP).  Sekolah akan menjadi sekolah ramah anak (SRA). Sekolah perlu menciptakan lingkungan belajar bagi semua anak yaitu lingkungan yang ramah anak, orang tua dan anggota masyarakat perlu bekerjasama untuk mengimplementasikannya. Mayarakat merupakan konteks menyeluruh, termasuk peserta didik berkebutuhan khusus hidup dan belajar, dan menerapkan apa-apa yang telah diajarkan di sekolah. Keterlibatan keluarga, tokoh masyarakat dan anggota masyarakat lainnya sangat penting dalam implementasi pendidikan inklusif.

Bagan 1

Pola Kerjasama  Sekolah, Pemerintah, Masyarakat dan Orang Tua Dalam Implementasi Pendidikan Inklusif

Implementasi pendidikan inklusif di Indonesia berimplikasi atau mengandung konsekuensi logis terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah umum (regular), antara lain sekolah harus lebih terbuka, ramah terhadap anak, dan tidak diskriminatif. Sekolah biasa  yang dijadikan uji coba harus memulai mengimplementasikan pendidikan inklusif. Akan tetapi di sisi lain ada hal yang membanggakan yaitu sebagian sekolah jauh sebelum digulirkannya uji coba, secara natural telah menerima peserta didik berkebutuhan khusus di sekolahnya. Jadi dengan adanya uji coba ini mereka bersikap biasa saja, tidak merasa terpaksa, malahan menjadi ajang pemicu untuk meningkatkan kinerja para gurunya dalam meningkatkan layanan pendidikan bagi semua anak termasuk peserta didik berkebutuhan khusus.

Kehadiran peserta didik berkebutuhan khusus di sekolah dengan seting  pendidikan inklusif  berdampak pada penerimaan, sikap kepala sekolah, guru, tenaga administrasi, peserta didik, orang tua peserta didik dan masyarakat sekitar terhadap eksistensi peserta didik berkebutuhan khusus. Dengan demikian kehadiran dan inklusifnya peserta didik berkebutuhan khusus di sekolah dasar dalam tatanan proses belajar mengajar akan berdampak pada proses perubahan kelas. Selain dihadapkan pada kelas klasikal guru juga diberikan tanggung jawab baru untuk mendidik, membina dan membimbing dan mengajarkan materi dengan keberagaman kebutuhan peserta didik.

Sehubungan dengan hal tersebut maka sekolah penyelenggara pendidikan inklusif harus mempersiapkan diri sebaik mungkin. Kegiatan yang perlu ditempuh dalam upaya mengimplementasikan pendidikan inklusif di sekolah penyelenggara antara lain :

  1. Workshop persiapan penyelenggaraan pendidikan inklusif di leval sekolah.
  2. Pembentukan Tim Pendidikan Inklusif di level sekolah.
  3. Rapat koordinasi (kepala sekolah, guru, tenaga lainnya, komite sekolah/perwakilan orang tua siswa, unsur desa/kelurahan, unsur dinas pendidkan kecamatan, tokok-tokoh masyarakat,  tokoh agama, dan unsur pusat sumber/sistem dukungan).
  4. Penyusunan program/kegiatan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang
  5. Sosialisasi pendidikan inklusif intern (di sekolah) dan ekstern  (di lingkungan sekitar sekolah/masyarakat) kerjasama dengan pusat sumber.
  6. Pembentukan/penugasan tim pendataan PDBK dan ABK di masyarakat
  7. Pelaksanaan pendataan/penjaringan
  8. Mengadministrasikan hasil pendataan/penjaringan
  9. Validasi data hasil pendataan/penjaringan

10. Pemetaan/penempatan/tindak lanjut hasil pendataan/penjaringan ABK/PDBK

11. Pemetaan/penentuan pusat sumber (resource center)

12. Pelatihan pendidikan inklusif di level sekolah (in house training) kerjasama dengan Pokja Inklusif Kabupaten/Kota/Provinsi dan LPTK

13. Pengembangan/peningkatan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan antara lain melalui kegiatan : (a) Pendampingan pembelajaran dari nara sumber (on the job training), (b) Pengkajian terhadap pembelajaran yang dilakukan guru (lesson study), (c) Diskusi, (d) Bedah buku, (e) Seminar, (f) Kunjungan ke sekolah yang lebih dulu mengimplementasikan pendidikan inklusif dan ke sekolah khusus (Study banding), dsb.

14. Monitoring dan evaluasi penyelenggaraan pendidikan inklusif (intern dan ekstern)

15. Workshop hasil monitroring dan evaluasi

16. Rencana tindak lanjut

17. Laporan kegiatan penyelenggaraan pendidikan inklusif bulanan/semester/ tahunan ke pihak-pihak yang terkait/berkepentingan (antara lain kepada pihak Dinas Pendidikan Kecamatan/Kabupaten/Provinsi/Pusat).

18. Penyusunan program penyelenggaraan pendidikan inklusif untuk tahun berikutnya.

  1. C.   SISTEM DUKUNGAN PENDIDIKAN INKLUSIF

Dalam mengimplementasikan pendidikan inklusif perlu adanya sistem dukungan yang diperlukan dalam upaya mempercepat pemenuhan akses dan mutu pendidikan untuk semua (Educational for All). Sistem dukungan tersebut dapat berupa dukungan dalam bentuk regulasi atau kebijakan-kebijakan Pemerintah dan Pemerintah Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota) yang jelas mengenai pendidikan inklusif misalnya dalam bentuk ”Peraturan Pemerintah”, ”Peraturan Menteri”, ”Peraturan Daerah Privinsi/Kabupaten/Kota” mengenai pendiikan inklusif, dukungan sarana dan prasarana, dukungan pembiayaan, dukungan tenaga (pendidik dan tenaga kependidikan) dan dukungan-dukungan dari lembaga pendukung. Lembaga pendukung tersebut antara lain melalui Kelompok Kerja Pendidikan Inklusif (Level Nasional, Provinsi, Kabupaten/Kota),  Pusat Sumber (Resource Center) bagi sekolah umum yang menyelanggarakan pendidikan inklusif, Wadah profesional guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah seperti Gugus SD/SLB (KKG, KKKS, dan KKPS), MGMP, MKKS, dan MKPS). Dukungan lembaga lain yaitu LPTK, P4TK TKPLB, dan Balai/Badan Diklat, serta dukungan masyarakat.

Bagan 2

Pola Hubungan Sistem Dukungan Implementasi Pendidikan Inklusif

Untuk memberikan informasi yang lebih luas mengenai lembaga pendukung pendidikan inklusif, di bawah ini diuraikan mengenai peran/fungsi/tugas dan kegiatan-kegiatan Pusat Sumber, Kelompok Kerja Pendidikan Inklusif, dan Wadah Profesional Guru/Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah.

  1. 1.    Pusat Sumber (Resource Center)

Pusat Sumber adalah lembaga khusus yang ditunjuk/dibentuk oleh pemerintah (pemerintah pusat/pemerintah daerah) sebagai pusat sumber dalam pengembangan pendidikan kebutuhan khusus/pendidikan inklusif atau yang didirikan atas inisiatif masyarakat yang dapat dimanfaatkan oleh semua anak khususnya peserta didik berkebutuhan khusus, orang tua, keluarga, sekolah biasa/sekolah luar biasa, msyarakat dan pemerintah serta pihak lain yang berkepentingan.

Pusat Sumber idealnya mempunyai bangunan sendiri yang dibangun oleh pemerintah dan atau masyarakat/swasta yang digunakan secara khusus sebagai Pusat Sumber, namun karena untuk mempercepat keberadaannya dan pemanfatannya serta dalam rangka efektivitas dan efisiensi maka  Pusat Sumber yang ada sekarang di Indonesia  banyak menggunakan Sekolah Luar Biasa yang telah ada.

Pusat Sumber adalah lembaga khusus yang ditunjuk/dibentuk oleh pemerintah (pemerintah pusat/pemerintah daerah) sebagai pusat sumber dalam pengembangan pendidikan kebutuhan khusus/pendidikan inklusif atau yang didirikan atas inisiatif masyarakat yang dapat dimanfaatkan oleh semua anak khususnya peserta didik berkebutuhan khusus, orang tua, keluarga, sekolah biasa/sekolah luar biasa, msyarakat dan pemerintah serta pihak lain yang berkepentingan.

Pusat Sumber idealnya mempunyai bangunan sendiri yang dibangun oleh pemerintah dan atau masyarakat/swasta yang digunakan secara khusus sebagai Pusat Sumber, namun karena untuk mempercepat keberadaannya dan pemanfatannya serta dalam rangka efektivitas dan efisiensi maka  Pusat Sumber yang ada sekarang di Indonesia  banyak menggunakan Sekolah Luar Biasa yang telah ada. SLB yang dijadikan Pusat Sumber disebut juga dengan  ”Centra PK dan PLK”  kepanjangan dari  ”Centra Pendidikan Khusus (PK) dan Pendidikan Layanan Khusus (PLK)”.

  1. Peran Pusat Suber

Peran Pusat Sumber adalah :

1)    Berinisiatif dan aktif melaksanakan pendidikan inklusif

2)    Memberikan dukungan (support) kepada sekolah-sekolah (Sekolah Umum dan Sekolah Luar Biasa) dalam pelaksanaan pendidikan inklusif

3)    Sebagai pusat informasi dan    inovasi  di  bidang   Pendidikan  Luar Biasa/Pendidikan Khusus/Pendidikan Inklusif

4)    Sebagai homebase Guru Pembimbing Khusus (Intenerant Teacher)

5)    Sebagai koordinator dalam pelayanan pendidikan inklusif

6)    Berkolaboratif dengan pihak lain dalam upaya meningkatkan   implementasi pendidikan inklusif

  1. Fungsi Pusat Sumber

Fungsi Pusat Sumber adalah :

1)    Memberikan informasi/penerangan kepada sekolah-sekolah (sekolah umum dan SLB) mengenai pendidikan inklusif

2)    Menyediakan bantuan asesmen yang rutin terhadap peserta didik berkebutuhan khusus

3)    Memberikan layanan dan bimbingan kependidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus

4)    Menjadi  konsultan bagi semua fihak yang membutuhkan informasi, layanan, bimbingan, dan penanganan khusus

5)    Mengadakan kerjasama dengan Dinas/Instansi/LSM dalam upaya implementasi pendidikan inklusif

6)    Melakukan inovasi di bidang Pendidikan Luar Biasa/Pendidikan Khusus dan Pendidikan Inklusif

7)    Melakukan penelitian dan pengembangan implementasi pendidikan inklusif, serta strategi dan metode pembelajaran yang sesuai diterapkan pada layanan pendidikan bagi semua anak di dalam dan luar kelas

8)    Melakukan penanganan layanan pendidikan  bagi peserta didik berkebutuhan khusus

9)    Merencanakan dan menyelenggarakan pelatihan bagi guru sekolah reguler dan guru SLB serta fihak lain yang membutuhkan pelatihan mengenai pendidikan inklusif dan atau pendidikan khusus

10) Menyediaan (memproduksi) alat bantu mengajar/alat bantu khusus/media pembelajaran khusus dan alat kehidupan sehari-hari lainnya untuk anak-peserta didik berkebutuhan khusus

11) Menyediakan bantuan kepada berbagai fihak untuk meningkatkan layanan kepada anak/peserta didik termasuk mereka yang berkebutuhan khusus

12) Menjadi Fasilitator dan mediator bagi semua fihak dalam implementasi pendidikan inklusif

13) Memberi dan menerima rujukan/rekomendasi/referal dalam layanan pendidikan inklusif

14) Mengatur guru yang ada di SLB untuk melakukan tugas tambahan sebagai Guru Pembimbing Khusus di Sekolah Umum yang menyelenggarakan pendidikan inklusif

15) Melakukan penanganan layanan pendidikan  bagi peserta didik berkebutuhan khusus

16) Merencanakan dan menyelenggarakan pelatihan bagi guru sekolah reguler dan guru SLB serta fihak lain yang membutuhkan pelatihan mengenai pendidikan inklusif dan atau pendidikan khusus

17) Menyediaan (memproduksi) alat bantu mengajar/alat bantu khusus/media pembelajaran khusus dan alat kehidupan sehari-hari lainnya untuk anak-peserta didik berkebutuhan khusus

18) Menyediakan bantuan kepada berbagai fihak untuk meningkatkan layanan kepada anak/peserta didik termasuk mereka yang berkebutuhan khusus

19) Menjadi Fasilitator dan mediator bagi semua fihak dalam implementasi pendidikan inklusif

20) Memberi dan menerima rujukan/rekomendasi/referal dalam layanan pendidikan inklusif

21) Mengatur guru yang ada di SLB untuk melakukan tugas tambahan sebagai Guru Pembimbing Khusus di Sekolah Umum yang menyelenggarakan pendidikan inklusif

  1. 2.    Kelompok Kerja Pendidikan Inklusif

     Tugas pokok dan fungsi kelompok kerja pendidikan inklusif sesuai dengan levelnya, antara lain :

  1. Tugas Pokok Kelompok Kerja Pendidikan Inklusif  adalah :

1)    Menyusun Program Kerja Pendidikan Inklusif

2)    Melaksanakan Sosialisasi dan Pembinaan Implementasi Pendidikan Inklusif

3)    Melaksanakan Monitoring dan Evaluasi Pendidikan Inklusif

  1.   Fungsi Kelompok Kerja Pendidikan Inklusif adalah :

1)      Merumuskan dan membuat program pendidikan inklusif

2)      Melaksanakan sosialisasi, promosi, lokakarya, dan advokasi kebijakan pendidikan inklusif

3)      Membantu dalam penyusunan Peraturan/Keputusan sesuai dengan levelnya.

4)      Melakukan penyusunan pedoman/model implementasi pendidikan inklusif dengan menggabungkan berbagai sumber daya yang sudah tersedia  sesuai dengan levelnya.

5)      Pengembangan dan penyebaran materi inklusi dalam bentuk studi kasus (Brosur, Poster, buklet dan atau Film (VCD/DVD)) untuk kegiatan pendidikan dan pelatihan guru atau sosialisasi

6)      Memberikan penghargaan untuk memotivasi pihak-pihak penyelenggara pendidikan inklusif

7)      Memberikan informasi/penerangan kepada semua pihak mengenai pendidikan inklusif

8)      Membantu proses pendataan  Anak Berkebutuhan Khusus, khususnya Anak Berkelainan/Cacat yang belum dan telah bersekolah.

9)      Membantu pemetaan sekolah umum dalam implementasi pendidikan inklusif

10)  Terlibat aktif dalam penyusunan program/kegiatan, rapat kerja, rapat koordinasi, workshop, sosialsiasi, program pendampingan, pendidikan dan pelatihan dan in house training , pembinaan (supervisi) dan monitoring/evaluasi mengenai pendidikan inklusif

11)  Menjadi  konsultan bagi semua fihak yang membutuhkan informasi dan sistem layanan dalam implementasi pendidikan inklusif

12)  Menjadi fasilitator dan mediator bagi semua fihak dalam implementasi pendidikan inklusif

13)  Membuat serangkaian kesepakatan pada pengintegrasian data anak penyandang cacat/berkelainan dan anak kesulitan belajar

14)  Mendukung pelaksanaan penelitian yang berkaitan dengan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan (9) Tahun, pendidikan untuk semua serta upaya-upaya daerah melakukan pendidikan inklusif.

15)  Memberikan bantuan dalam menindaklanjuti hasil monitoring dan evaluasi pendidikan inklusif.

16)  Memfasilitasi Pemerintah/Pemerintah Daerah dan Kelompok Kerja Pendidikan Inklusif sesuai dengan levelnya dalam merancang, mengimplementasikan, memonitor dan mengevaluasi pendidikan inklusif

  1. 3.    Wadah Profesional Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas Sekolah

      Peningkatan mutu pendidikan telah menjadi kebijaksanaan pemerintah yang harus diwujudkan sebaik-baiknya. Usaha ini dilaksanakan dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk mencapai tujuan pembangunan nasional.

Dalam usaha peningkatan mutu pendidikan,  faktor guru memegang peranan yang amat penting, karena itu profesionalisme guru harus digalang secara sistematis melalui wadah-wadah pembinaan profesional guru.

           Sistem Pembinaan Profesional Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah melalui Kelompok Kerja Guru ( KKG ), Kelompok Kerka Kepala Sekolah ( KKKS ) dan Kelompok Kerja Pengawas ( KKPS ) yang tergabung dalam Gugus Sekolah untuk guru/kepala sekolah dan pengawas sekolah SD, dan untuk guru/kepala sekolah dan pengawas sekolah SMP/SMA/SMK melalui MGMP, MKKS, dan MKPS.

            Diharapkan melalui wadah profesional ini dapat meningkatkan motivasi, inovasi dan kreasi guru sera memiliki skill yang baik sehingga dapat memberikan layanan yang optimal kepada semua peserta didik ( Total Quality Services ) secara khusus dan dapat meningkatkan kualitas layanan pendidikan (Total Quality Management ) khususnya dalam upaya mengimplementasikan pendidikan inklusif.

            Kegiatan-kegiatan yang dilakukan antara lain :

  1. Aktif dalam mensosialisasikan  Pendidikan Inklusif
  2. Ikut serta dalam Diskusi/Rapat Kerja//Workshop/Rapat Koordinasi Pendidikan Inklusif
  3. Menyusun Desain Pembelajaran, Kegiatan Pembelajaran dan Penilaian Hasil Belajar dalam Seting Pendidikan Inklusif
  4. Merancang/sharing Memahami Keberagaman Peserta Didik , identifikasi dan Asesmen, PPI, dan PAKEM
  5. Mengembangkan media adaptif.
About these ads

5 pemikiran pada “SISTEM DUKUNGAN PENDIDIKAN INKLUSIF

    • saya kebetulen berkecimpung sbg ditrict Trainner AIBEP WDD/WSD MCPM jakarta (pengembangan daerah dan sekolah terpadu )… salah mataeri materi pelatihan Tim Pengembang sekolah .Moga bermafnfaat Bu een >

  1. Gak jelas ide orisinial aNDA. tULISAN INI AMAT BURUK. Mbok ya mestinya dibuat jelas terlebih dulu misalnya apa itu pendidikan inklusif. Jangan cuma melulu ngutip uu yang cuman jadi macan ompong di atas kertas di negeri ini. Negeri ini terlalu banyak bikin uu tapi nyaris tak terkontrol implementasinya dan kadung terlanjut banyak pelanggaraan yang dilakukan oleh aparat hukumnya sendiri.

    Saya kutip paragraf Anda betapa kaburnya konsep itu: “masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi program pendidikan. (Pasal 8 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional)…..” Ini inklusif atau partisipatif [?] Mestinya Anda baca teori pendidikan Kihajar atau Mohd Sjafei INS Kayutanam. Semua sudah dibicarakan. YANG SEKARANG diulang-ulang ialah cerita lkama dengan kemasan baru dan gaya mengatakan dengan istilah asing yang ke barat-baratan. Ingat ‘link and matcg’ yang dibuat Wardiman itu (mantan menetri pendd) sudah lama difikirkan oleh para pendahulu kita. Pendidikan Indonesia kian rusak karena terlalu banyak membeo konsep asing. Tolong redinungkan lagi.

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s