BREAKING THE EGG


BREAKING THE EGG
Sessi andalan saya kalau pas lagi ceritanyah mah ngisi acara training itu kalau sudah masuk sessi ini. Sessi mecahin telor, bener-bener mecahin telor begitu. Indikatornya mudah saja kalau telornya pecah berarti sudah sukses. Beneran kan bener sukses, sukses mecahkuen telor maksud na mah… :-)

Tapi yang jauh lebih dahsyat justru sebenarnya apa yang bisa dijadikan ibrah dari memecahkan telor itu untuk sukses.

Seperti kita tau, se-awam-awamnya pasti kita ngerti kalau telor atau bahasa sopannya telur itu banyak manfaatnya. Ada protein, vitamin, zat besi dan lain-lain pokonamah begitu yah.

Nah telor dengan segala potensi kelebihannya itu tentunya punya manfaat untuk kita manusia. Si telor bisa memberikan manfaat kepada kita, dan kita bisa bisa memberikan manfaat kepada telor dengan mengambil manfaatnya tentunya sehingga si telor jadi tidak mubazir. Kalau mubazir kan diberdayakan oleh kita tidak, jadi menetas sebagai unggas atau burung atau binatang lain juga tidak.

Oleh karena dua belah pihak bisa saling memberi manfaat. Apapun yang bisa memberikan manfaat tetntunya kita sepakat itu adalah kesuksesan dalam segala ukurannya yang relatif.

Sayangnya telor dengan potensinya itu tidak bisa memberi manfaat kepada kita, dan karenanya kita juga akhirnya tidak bisa mengambil manfaat dari telor. Karena cangkangnya menghalangi kita dan telor untuk bisa saling memberi manfaat.

Maka untuk suskes yang ingin diraih tersebut mau ga mau si cangkang alias barrier yang menghalangi antara telor dan kita dan siapapun juga itu harus dipecahkan, harus dibuka, harus di luluh lantakkan. Sehingga potensi yang sedemikian dahsyat tersebut bisa segera dioptimalkan.

Kalau telor itu menetas pun jelas juga sukses dengan pecahnya si cangkang. Dari harga dan kualitas telor jadi harga dan kulaitas ayam (kalau itu jadinya ayam). Coba mahal mana telor goreng sama ayam goreng ?.

Artinya dengan memecahkan cangkangnya si telor telah bertransformasi (cieeeh…berat euuyy basana) menjadi sesuatu yang lebih bernilai tambah. Coba kalau cangkangg tersebut tidak pecah atau dipecahkan telor akan tetap jadi telor atau potensi ayam di dalamnya malahan mati tidak berguna lagi kecuali dibuang.

Nah demikian juga dengan kita manusia. Jelas keneh ceuk ustad mun manusia teh diciptakan dengan potensi dan bentuk dan segala-galanya yang sempurna bagaimanapun itu sebagaimana dikutip dari Al-Qur’an. Sehingga potensi itu akan meningkatkan kualitasnya, menjadikannya suskes tidak hanya dunia tapi juga menembus dunia alias akhirat. Ari ceuk do’a mah fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah begitu.

Tapi manusia juga punya barrier yang menghalagi dia untuk suskes ya cangkangnya itu seperti, malu, ga pd, akhlaq yang jelek, bodoh, tidak mau belajar, malas dan segala sifat jelek lainnya. Termasuk siapapun dia yang nyaman di zona nyamannya.

Maka kalau mau sukses harus pecah cangkangnya itu. Kalau kata pepatah mah mau pandai berarti mesti rajin berarti pecah si cangkang malas. Sampai mau masuk surga berarti harus pecah cangkangnya dari bermalas-malasan dalam beribadah, termasuk pecah si akhlaq jelek, pecah si maksiyat dan saudara-saudaranya. Otomatis membuat kita berusaha untuk bagaimana caranya bisa memecahkan cangkangnya telor itu.

Dalam simulasi saya meminta peserta untuk memecahkan dengan satu tangan dan caranya diremas. Lumayan agak susah juga. Nah kalau ga bisa sendiri maka ajaklah orang lain untuk membantu kita memecahkan telornya. Begitu juga jika kita tidak sanggup memecahkan cangkang diri kita untuk bisa menjadi suskes itu. Ajak atau bergabunglah dengan orang lain untuk memecahkannya. Insya Allah bebannya jadi lebih ringan dan peluang untuk pecah akan lebih besar. Demikian berkahnya berjamaah itu alias kerja tim. Memungkinkan segala yang ga mungkin menjadi mungkin.

Nah ketika pecah tentunya si telor akan muncrat. Itu resiko kita terima saja, karena tidak ada sukses tanpa resiko. Biasanya karena ini juga peserta banyak yang ga mau ke depan mecahin telor takut tangannya bau amis kena telornya. Jelas yang ga mau masih betah di zona nyamannya. Padahal resikonya sebentar abis itu dicuci sudah bersih lagi. Demikian juga resiko dalam hidup kita, coba kalau yang malas sholat shubuh nyangkanya ga enak banget kalau pas mau bangunnya, sehingga dia malas bangun dan tetap meneruskan zona nyamannya. Beda dengan yang bangun memang ada yang ga enak ketika bangun, maksa mata melek, jalan sempoyongan ke kamar mandi, gosok gigi. Tapi kalau udah selesai dan berhasil shalat shubuhnya, berjamaah lagi. Subhanallah indah betul rasanya, seger, paginya dapet banget gitu loch, enak di hati jauh lebih nikmat rasanya dibanding kalau ga bangun malah bangun kesiangan, lemes dan yang pasti shubuhnya kelewat.

Di situlah resiko menjadi penghalang yang menakutkan buat orang-orang yang ga mau berjuang meraih sukses buat dirinya yang sudah jelas sudah Allah persipakan untuk dia. Karena hakikatnya sukes itu bukan dicari tapi dijemput. Karena masa depan, rezeki dan segalanya sudah jelas bagi Allah buat masing-masing kita.

Maka apapaun susahnya, apapun halangannya pecahkan telor itu dengan segala mujahadah kita. Dan jika telah tunai segala usaha maka wakilkan saja segalanya kepada Allah. Sesungguhnya kepada Allah saja kesuksesan itu berada pada hakikat yang setinggi-tingginya.

Kurang lebih begitu kira-kira. Nuhun di maklum bilih aya kakurangan nana…..

NETWORKING


The Power of Networking
No bird soars too high if he soars with his own wings. Tidak ada burung terbang terlalu tinggi bila ia terbang dengan sayap-sayapnya sendiri.
~ William Blake

Kurang lebih William Blake mengungkapkan bahwa setiap mahkluk di dunia ini memerlukan satu sama lain untuk dapat berprestasi dan hidup bahagia. Meskipun kita berada di era modern, dimana segala sesuatu dapat dikendalikan dengan tehnologi mutakhir, tetapi kesuksesan berprestasi dan kebahagiaan kita masih sangat bergantung terhadap keberhasilan menciptakan networking .

Dalam dunia usaha lazim dikatakan kita tidak bekerja jika tidak membangun networking atau hubungan sosial. Dengan kata lain menjalin hubungan sosial dengan siapa pun menjadi bagian penting dalam segala aktivitas kehidupan, entah pada saat kita di tempat kerja, di rumah, lingkungan rumah, tempat umum dan perbelanjaan dan lain sebagainya. Apa sebenarnya arti networking sehingga berdampak sangat besar terhadap kehidupan kita?

Networking adalah membangun hubungan dengan orang lain atau organisasi yang berpengaruh terhadap kesuksesan pofesional maupun personal. Karena networking lebih dari sekadar berkenalan, melainkan berbagi potensi dan informasi, mendapatkan integritas dan mempengaruhi, dan menciptakan visi yang mengarahkan kemampuan masing-masing individu untuk melakukan sesuatu terhadap orang lain.

Pengertian tersebut tak berbeda dengan pendapat Dr. Frank Minirth dalam bukunya berjudul You Can . Ia mengungkapkan bahwa networking adalah seni berkomunikasi satu sama lain, berbagi ide, informasi dan sumberdaya untuk meraih kesuksesan individu ataupun kelompok. Networking is a process of getting together to get ahead. It is the building of mutually beneficial relationship. � Networking adalah proses kebersamaan. Selain itu networking merupakan jalinan hubungan yang bermanfaat dan saling menguntungkan,� tandasnya. Secara garis besar dalam membangun networking haruslah berlandaskan prinsip saling menguntungkan dan komunikasi dua arah.

Bila banyak orang merasa kurang berhasil membangun networking karena mereka hanya berkenalan atau bertukar kartu nama. Setelah tiba di rumah, kartu nama itu hanya memenuhi laci meja kerja dan sulit mengingat lagi siapa mereka. Sedangkan membangun kekuatan networking hanya bisa dikerjakan dengan cara yang terorganisasi. Saya akan menguraikan beberapa tips keberhasilan membangun kekuatan networking .

Langkah pertama adalah menanamkan pola pikir yang didasari rasa cinta terhadap orang lain. Pada kenyataannya orang-orang lebih senang membicarakan tentang diri mereka sendiri. Mereka akan selalu berpikir, �Apa yang bisa saya peroleh?� atau �Apa keuntungan percakapan ini untuk diri saya sendiri?� Bila kita mampu menunjukkan ketertarikan terhadap apa yang mereka pikirkan ataupun katakan, maka kita akan mendapatkan banyak keuntungan.

Keuntungan pertama kita akan mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya dalam kesempatan pertemuan singkat tersebut, misalnya informasi tentang anak-anak, usaha mereka atau hobi yang sedang mereka jalankan saat ini. Informasi lebih banyak tentang diri pribadi mereka sangat penting guna memberikan perlakuan yang paling tepat, di sisi lain mereka juga pasti terkesan pada diri kita. Tetapi mungkin orang lain enggan bercerita jika kita tidak menunjukkan sikap dari keinginan yang tulus. Jadi kita harus bersikap sebaik mungkin tanpa unsur dibuat-buat.

Langkah lain adalah menciptakan tujuan. Dengan demikian kita akan mampu memvisualisasikan siapa saja yang harus kita dekati. Sehingga tak perlu membuang waktu dengan mengikuti perkumpulan yang tidak berhubungan dengan target yang ingin kita capai.

Tetapi sebaiknya kita tidak mendekati sampai lusinan orang dalam setiap kesempatan. Ketika kita mampu menciptakan jalinan hubungan baik dengan tiga orang saja dalam setiap kesempatan itu sudah cukup. Karena kekuatan networking terletak pada kualitas dibandingkan kuantitas atau jumlahnya.

Sesudah itu, maksimal dalam 72 jam kita harus berusaha menjalin komunikasi dengan mereka agar mereka tidak melupakan kita begitu saja. Langkah yang bisa kita lakukan adalah mengirimkan kartu pos, mengirimkan e-mail, surat, menelpon seraya mengungkapkan kebahagiaan kita mendapatkan kesempatan bertemu mereka atau menanyakan kabar tentang anak-anak, usaha, maupun hobi yang sedang mereka kerjakan.

Cara lain adalah mengirimkan sesuatu dan menyampaikan kesan mendalam sekaligus keinginan untuk bertemu mereka suatu saat nanti, dan lain sebagainya. Ciptakan berbagai langkah menciptakan jalinan komunikasi, karena hal itu akan membuat mereka lebih mengingat kita. Sehingga apabila suatu ketika kita menghubungi atau bertemu lagi, mereka akan dengan mudah mengingat dan menjalin keakraban dengan kita.

Untuk dapat menciptakan networking, kita juga dituntut bersikap sabar tetapi aktif dan proaktif dalam memberi, entah dalam bentuk pelayanan atau kontribusi lainnya kepada perorangan maupun grup. Milikilah nilai tersendiri bagi orang lain, dengan menciptakan kerjasama yang memberikan kemudahan dan berbagai nilai yang menguntungkan mereka.

Selain itu kita juga harus bersikap lebih cerdas dan selalu menyampaikan informasi yang akurat atau tidak mengada-ada. Caranya adalah dengan terus belajar banyak hal setiap ada kesempatan. Dengan demikian, kita akan lebih dikenal dibandingkan orang lain karena kelebihan ilmu pengetahuan yang kita miliki.

Sementara itu kita harus selalu meluangkan waktu untuk melakukan komunikasi guna mengembangkan dan mempertahankan hubungan tersebut. Salah satu alasannya karena tak ada jalan pintas dalam mengembangkan dan mempertahankan networking kecuali kesinambungan komunikasi. Kalaupun ada cara tercepat mengembangkan networking menurut Joe Girald adalah menjalin hubungan dengan orang yang sudah mempunyai jaringan cukup besar. Tetapi Joe Girald dalam bukunya The Greatest Salesman In The World , menyatakan bahwa kesinambungan komunikasi sudah dapat memperluas networking . Ia berpendapat orang biasapun memiliki sekurang-kurangnya 250 orang yang cukup dekat dalam kehidupannya.

Kesinambungan komunikasi dengan orang lain benar-benar kunci keberhasilan kita membangun networking . Berdasarkan sebuah penelitian, sebagian besar orang tidak akan pernah menyadari sedang memerlukan orang lain sebelum berkomunikasi dengan orang yang bersangkutan selama 8-10 kali. Jangan pula berkeinginan untuk menunda menjalin komunikasi dengan orang lain, karena selain tak mendapatkan hubungan baru kita juga akan kehilangan semangat baru.

Secara garis besar kita sangat membutuhkan networking untuk menjadikan kehidupan kita lebih sukses dan bahagia. Betapapun kita sangat ahli di bidang tertentu, mampu menginspirasi tim kerja, ahli dalam bernegosiasi dan memasarkan produk, dan berbagai kemampuan lainnya, tetapi semua itu selalu berkaitan dengan orang lain.

Kalaupun mungkin kita tak berpikir dapat membangun sebuah bisnis yang beromzet puluhan atau ratusan juta rupiah. Tetapi dengan memiliki networking yang besar dan berkualitas, semua itu bisa saja terjadi. Kesempatan untuk mendapatkan impian yang kita inginkan akan semakin terbuka lebar bila kita berhasil membangun networking yang besar dan berkualitas.

KECERDASAN SPIRITUAL DAN EMOSIONAL


MELEJITKAN KECERDASAN SPIRITUAL DAN KECERDASAN EMOSIONAL
KECERDASAN SPIRITUAL

“Untuk menjadi manusia yang andal, seseorang tidak hanya perlu memiliki kecerdasan intelektual dan emosi, melainkan juga kecerdasan spiritual. Kecerdasan spiritual itu merupakan kemampuan seseorang untuk menyelaraskan hati dan budi sehingga ia mampu menjadi seseorang yang berkarakter dan berwatak positif”. Demikian dikatakan oleh mantan Menteri Luar Negeri (Menlu) Alwi Shihab dalam sebuah forum diskusi yang diselenggarakan oleh Center for Corporate Leadership, di Jakarta, bertema “Mengkaji Lebih Jauh tentang Spiritual Intelligence”.

Alwi menambahkan bahwa spiritualitas itu mengarahkan manusia pada pencarian hakikat kemanusiaannya. Menurut dia, hakikat manusia itu dapat ditemukan dalam perjumpaan manusia dengan Allah. “Potensi fitrah membantu manusia untuk mencari something out there that are unknown (sesuatu di luar sana yang tidak diketahui). Allah itu amat bernilai, tetapi tersembunyi. Tetapi, rahmat Allah mengatasi batas-batas buatan manusia sehingga manusia paham tentang Allah. Dikatakan cerdas karena manusia senantiasa ingat pada Allah ketika ia melakukan karyanya,” kata Alwi Shihab.

Merupakan fenomena baru ketika sekelompok orang asyik bertafakur mengikuti wejangan-wejangan kesufian dan melakukan prosesi-prosesi spiritual tertentu di tengah ingar bingarnya kehidupan kota besar. Gejala itu dari hari ke hari semakin sering ditemukan, baik di mesjid-mesjid tradisional maupun di mesjid yang berada di perumahan elit. Gejala itu diterima sebagai suatu kenyataan bahwa pengembangan potensi akal saja tidak cukup untuk menciptakan kedamaian, kebahagiaan, dan kesejahteraan batin. Rasio tidak bisa diandalkan untuk memecahkan keresahan batin, kegoncangan jiwa, dan rasa takut. Padahal tiada hari bagi manusia kecuali menghadapi masalah kebatinan itu.

Untuk keperluan itu, dunia barat mengembangkan kajian kejiwaan yang kemudian melahirkan teori “Kecerdasan Emosi”. Pada kenyataannya, kecerdasan emosi saja tidak cukup untuk keperluan itu. Masih ada misteri yang harus diungkap lagi . Dari sinilah muncul “kecerdasan spritual”. Mendahului segala teori tentang kecerdasan spiritual yang berkembang di barat, para intelektual Muslim sudah sejak lama mengembangkan masalah ini. Tidak saja melalui kajian keilmuan, tapi juga segi praktisnya dalam bentuk prosesi-prosesi spiritual. Lahirlah berbagai aliran tarikat dengan ciri khasnya masing-masing yang pada dasarnya berikhtiar untuk mencerdaskan spiritual melalui latihan-latihan yang ketat dan disiplin keras.

Kecerdasan spiritual yang bersumber dari hati itulah yang menjadi kunci setiap orang untuk dapat meraih surga. Baik surga dalam arti sebenarnya yaitu kehidupan kelak di akhirat yang kekal, atau pun kehidupan surgawi di dunia ini.

Segala sesuatu itu bersumber dari hati. Orang yang tak memiliki hati bersih tidak dapat masuk surga. Tidak dapat digapainya surga oleh orang yang memiliki hati kotor karena kekotoran hatinya itu mengakibatkan ia selalu berbuat hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT. Hati sangat menentukan tergapainya surga karena hati merupakan pusat kontrol kesadaran manusia. “Segala tingkah laku kita di dunia ini bersumber dari hati. Jika hatinya bersih, tentu orang itu akan melangkah di dunia ini dengan baik. Jadi keimanan itu bersumber dari hati yang kemudian terpancar dalam tingkah lakunya yang baik. Ia akan menjalankan setiap perintah Allah dan menjauhi segala larangannya. Jika telah begitu, maka surga telah digapainya baik di dunia maupun akhirat,” katanya.

Harta, kekuasaan dan hubungan antarsesama merupakan potensi untuk meraih surga. Jika orang yang memiliki semuanya itu berhati bersih, maka potensi itu akan membawanya ke surga. Tetapi jika tidak, justu itu akan membawanya ke neraka karena hanya dipakai untuk memenuhi hawa nafsunya yang berakibat timbulnya keangkaramurkaan di dunia ini.

KECERDASAN EMOSIONAL

Kecerdasan Emosional (EQ) tumbuh seiring pertumbuhan seseorang sejak lahir hingga meninggal dunia. Pertumbuhan EQ dipengaruhi oleh lingkungan, keluarga, dan contoh-contoh yang didapat seseorang sejak lahir dari orang tuanya. Kecerdasan Emosi menyangkut banyak aspek penting, yang agaknya semakin sulit didapatkan pada manusia modern, yaitu:

• empati (memahami orang lain secara mendalam)
• mengungkapkan dan memahami perasaan
• mengendalikan amarah
• kemandirian
• kemampuan menyesuaikan diri utk disukai
• kemampuan memecahkan masalah antar pribadi
• ketekunan
• kesetiakawanan
• keramahan
• sikap hormat

sedangkan dalam dunia industri dan di dunia kerja yang merupakan point yang penting adalah sebagai berikut :

• Self-Awareness :
Memahami keadaan diri
o Emotional awareness
o Self Confidence
• Self-Regulation
Mengendalikan diri
o Self control
o Adaptibility
• Motivation
Mengelola faktor-faktor pendorong untuk mencapai sasaran
o Achievement drive & Commitment
• Emphaty
Menyadari perasaan & memberi perhatian terhadap orang lain
o Understanding others
• Social Skill
Mengelola hubungan dengan orang lain agar tercapai sasaran yang dikehendaki
o Communication & Team capabilities

BERSAMBUNG ..

MENGELOLA SUASANA


MENGELOLA BINA SUASANA DAN DINAMIKA KELOMPOK
10 November 2008
Suksesnya sebuah aktifitas pelatihan di tentukan oleh beberapa factor, salah satu diantaranya adalah terciptanya suasana yang nyaman dan mennyenangkan bagi peserta pelatihan. Terkadang Suasana awal sangat menentukan bagi proses belajar selanjutnya. Ada istilah yang populer � kesan pertama begitu menggoda selanjutnya �� � terserah anda �. Artinya membangun suasana di awal merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam sebuah proses pelatihan.

Mengapa suasana perlu dibangun ??

•  Biasanya dalam sebuah training peserta memiliki latar belakang yang berbeda. Walaupun hadir dengan tujuan yang sama. Ia miliki baju baju berbeda, usia, jabatan,lama bekerja, kemampuan, perilaku,gender sehingga diawal sering kali terjadi kekakuan.

•  Terkadang setiap peserta hadir dalam pelatihan memiliki tujuan yang berbeda. Maka harus di rumuskan tujuan bersama.

•  Ibarat nya setiap peserta memiliki bongkahan es yang masing �masing harus di pecahkan. Inilah makna Ice breaking .

•  Suasana yang tidak terbangun diawal menyebabkan seorang Trainer sulit untuk menyesuaikan materi yang akan dibawa.

•  Peserta merasa Jenuh, Bosan dan menganggap materi tidak menarik

Tujuan Mengelola suasana training ( ice breaking )

    1. membangun keakraban sesama peserta
    2. membangun keakraban antara peserta dan trainer
    3. menghilangkan personal block yang ada
    4. membuat daya tarik peserta terhadap materi yang akan diberikan
    5. menghantarkan peserta untuk nyaman mengikuti materi training
    6. menghantarkan peserta agar focus dan konsentrasi di setiap materi yang akan didapatkan

APLIKASI MENGELOLA SUASANA

•  salam yang menarik , yel yel

•  senam tubuh dan senam otak

•  Energizer

•  pertanyaan tebak � tebakan

•  adanya role playing /pembagian peran untuk peserta

•  Games / permainan kebersamaan , melatih konsentrasi dll

•  bernyanyi bersama.

•  Pembagian reward / hadiah

•  menceritakan kisah kisah menarik , lucu atau yang mengesankan

•  memberikan pertanyaan yang sesuai dengan materi yang sudah diberikan

Suasana yang tidak terbangun diawal menyebabkan seorang Trainer sulit untuk menyesuaikan materi yang akan dibawa.

Peserta merasa Jenuh, Bosan dan menganggap materi tidak menarik

Hindari peserta bosan dalam mengikuti materi training

Ciri ciri kebosanan peserta

•  main handphone

•  ngobrol

•  sibuk sendiri ( main pulpen , kertas dll )

•  ngantuk dan tidur

•  peserta keluar masuk ruangan

•  tidak memperhatikan pembicaraan

Dalam kelompok akan terjadi proses kelompok artinya : selama proses belajar , bekerja , mencari pengalaman bersama, terjadi interasksi diantara anggota kelompok dengan mengalami berbagai macam dinamika. Kelompok yang baik adalah ketika dinamika berjalan dengan baik dan terjadi produktivitas sehingga kelompok memiliki kinerja dan performa yang tinggi.

CONTOH SERTIFIKASI PENGAWAS


DAFTAR ISI

Halaman

I.  DAFTAR ISI               ………………………………………………….     1

II. INSTRUMEN PORTOFOLIO YANG TELAH DIISI

  1. Halaman Identitas   ………………………………………………….     2
  1. Komponen Portofolio        …………………………………………      3

III.BUKTI FISIK (DOKUMEN PORTOFOLIO)

  1. Kualifikasi Akademik          ………………………………………………….     12
  1. Pendidikan dan Pelatihan  ………………………………………….     21
  1. Pengalaman Mengajar  …………………………………………….        24
  1. Perencanaan & Pelaksanaan Pembelajaran    ………………….     25
  1. Penilaian dari Atasan dan Pengawas     ………………………….     27
  1. Prestasi Akademik    ………………………………………………….     28
  1. Karya Pengembangan Profesi       ………………………………….     33
  1. Keikutsertaan dalam Forum Ilmiah       ………………………….     35
  1. Pengalaman menjadi Pengurus Organisasi di Bidang

Kependidikan atau Sosial ……………………………………….         38

10. Penghargaan yang Relevan dengan Bidang Pendidikan   ….     40

II.INSTRUMEN FORTOFOLIO YANG TELAH DI ISI

  1. IDENTITAS PESERTA
1. Nomor Peserta : 09230592110145
2. Nama Lengkap : DRS.SUAIDIN
3. Pola Sertifiksi : PENILAIAN PORTOFOLIO
4. Bidang Kepengawasan yang Disertifiksi : PENGAWAS SMA (Matematika)
5. NUPTK : 5440741643200052
6. NIP : 19630108 198703 1 013
7. Pangkat/Golongan : Pembina IV/A
8. Masa Kerja Sebagai Guru : 11 tahun 06 bulan
9. Masa Kerja Sebagai Kepala Sekolah 07 tahun 04 bulan
10. Masa Kerja dalam jabatan Pengawas : 03 tahun 04 bulan
11. Jenis Kelamin : Laki-laki
12. Tempat, Tanggal Lahir Dompu, 08-01-1963
13. Pendidikan Terakhir/Program Studi : S1/Pendidikan Matematika
14. Beban Kerja Perminggu : 24 Jam
15. Inststansi :
  1. Nama Instansi
: Dinas Dikpora Kab.Dompu
  1. Alamat Instansi
:

:

Jln.Soeksrno Hatta,No17a
  1. Kecamatan
: Dompu
  1. Kabuaten/Kota
: Dompu
  1. Proinsi
: NTB
  1. Nomor telepon instansi
0373 21040-21182
16. Jumlah sekolah binaan 20

Dompu,                     2009

Mengetahui:
Kepala Dinas Dikpora Kabupaten Dompu

Drs.Gaziamansyuri

NIP.19649090199103 1 011

Penyusun,

DRS.SUAIDIN

NIP. 19630108 198703 1 013

2.  INSTRUMEN  PORTOFOLIO

  1. KUALIFIKASI AKADEMIK :
NO JENJANG PERGURUAN

TINGGI

FAKULTAS JURUSAN/

PRODI

TAHUN

LULUS

SKOR
a. S1/Akta IV IKIP UJUNG PANDANG FPMIPA Pendidikan Matematika 1986

  1. PENDIDIKAN DAN PELATIHAN :
NO NAMA/JENIS

DIKLAT

TEMPAT WKT

PELAKSANAAN/

(.Jam)

PENYELENGARA SKOR
a. Latihan Kerja Guru (LKG)/Sanggar PKG matematika  thn 1991 Ujung Pandang 140 Jam Kanwil depdikbud Prop Sulsel
b. Penataran Tutor Daerah  Prog Penyetaraan D3 Gr SMP thn 1992 / TOT Mataram 82 Jam Kanwil depdikbud Prop NTB
c. Penataran Tutor Daerah Prog Penyetaraan D3 Gr SMP thn 1993/TOT Mataram 84 Jam Kanwil depdikbud Prop NTB
d. Penataran Tutor daerah Prog Penyetaraan D3 Gr SMP thn 1994 Mataram 89 Jam Kanwil depdikbud Prop NTB
e. Penataran Tutor daerah Prog Penyetaraan D3 Gr SMP thn 1995 Mataram 66 Jam Kanwil depdikbud Prop NTB
f. MGMP Matematika thn 1993 Dompu 30 Jam Depdikbud
g. Latiah Kerja Guru (LKG)matematikan thn 1994 Dompu 37  Jam Depdikbud
h. Pelatihan Keterampilan Membuat dan Memanfaatkan  Media pendidikan thn 1993 M ataram 50 jam Dijen Dikdasmen Direktorat Sarana Pendidikan
i. Pelatihan CAKEP SMU thn 1996 Denpasar Bali 100 jam Direktorat Pendidikan Menengah Umum Jakarta
j. MGMP Matematika tgl 15 Nop 1995 sd 31 januari 1996 Mataram 84  Jam Kanwil Depdikbud  NTB
k. Pelatihan Kepala SMU tgl 27 sd 10 okt 1999 Mataram 140 Jam Kanwil depdikbud NTB
l. Orientasi Pendais Bagi kepala Sekolah / Wakil kepala sekolah, tgl 26 juli sd 28 juli 2001 mataram 40 Jam Dijen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam
m. Peranatan Tertulis Tipe A dengan Sisitim Belajar Mandiri bagi Guru SMU Mata tataran Karya Tulis Ilmiah thn PPPG Tertulis Bandung 600 jam Dirjen Dikdasmen PPPG tertrulis jakarta pusat
n. Pelatihan Asesor Visitasi Akreditasi Sekolah/Madrasah thn 2006  (Lulus) Mataram 40 Jam Badan Akreditasi Sekolah PrpopinsiNTB
o. Pelatihan Pengawas sekolah tg 31 Okt sd 4 Nop 2007 Dompu 81  Jam Dinas Diknas Kab.Dompu
p. Pelatihan PTK  Tkt SMP thn 2007 Dompu 40  Jam DBEP-ADB Dinas Diknas Kab.Dompu
q. Diklt Peningkatan Profesionalisme Pengawas Sekolah Dompu 54 jam Proyek DBEP-ADB Kab.Dompu
r. TOT (Training Of Trainer) Region-2 Seri-1 Program WDD/WSD –AIBEP Indonesia-Australia tgl. 10  sd 17 Agustus 2008 Htl Jayakarta  Kota Mataram 54 Jam MCPM-AIBEP Jakarta
s. TOT (Training Of Trainer) Region-2 Seri-2 Program WDD/WSD –AIBEP tgl. 19 sd 26 oktober 2008 Hotel Jaayajarta  Kota Mataram 54  Jam MCPM-AIBEP Jakarta
t. Pelatihan Kelompok Kerja Rencana Pengembangan Sekolah (KKRPSP) Seri – D tgl 8 sd 10 april thn 2008 Hotel Lambitu Kota Bima 30  jam Distrik Koordinator-AIBEP –Kab.Bima
u. Pelatihan (KKRPSP) Seri .E tgl 9 sd 13 Juni thn 2008 Hotel Lambitu Kota Bima 30  jam Distrik Koordinator-AIBEP –Kab.Bima
v. Pelatihan Kelompok Kerja Rencana Pengembangan Sekolah (KKRPSP) Seri – B tgl 3 sd 2 pebruari thn 2009 Hotel Lambitu Kota Bima 30 jam Distrik Koordinator-AIBEP –Kab.Bima
w. Worshop Penyusunan Standar Pelayanan Minimal (SPM)  Kab.Dompu th 2008 Hotel Rinjani Dompu 31 jam Dinas Diknas Kab.Dompu
x. Diklat Nasional “Pemanfaatan Media dan teknologi dalam Pembelajaran tgl 10 maret ”th 2008 Dompu 10  Jam Learnig Center UIN Alaudin Makassar
y Diklat Nasional “Pemanfaatan Media dan teknologi dalam Pembelajaran tgl 11 maret ”th 2008 Dompu 10  Jam Learnig Center UIN Alaudin Makassar

  1. PENGALAMAN BERTUGAS
NO NAMA

SEKOLAH/INSTANSI

BIDANG STUDI/

BIDANG KEPENGAWASAN

LAMA BERTUGAS

(mulai tahun..s.d tahun…)

a. Guru SMAN Kalukku Matematika 01 maret 19987 s/d 01 mei  1991
b. Guru SMAN 2 Dompu Matematika O1 mei 1991 s/d 18 agustus 1998
c. Kepala SMAN 2 Kempo Matematika 18 agstus 1998 s/d 14 sept 2002
d. Kepala SMAN 1 Kempo Matematika 14 sep 2002 s/d 5 sept 2005
e. Guru SMAN 1 manggelewa Matematika 5 sep 2005 s/d 20 januari 2006
f. Pengawas SMP/SMA matematika 20 januari 2006 s/d sekarang
Kumulatif lama mengajar :      22      tahun        2      bulan

Skor : ………….

  1. PERENCANAAN DAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
  1. Rencana Program Kepengawasan

1)   Program Tahunan

No Jenis Rencana Tahun Jumlah Sekolah Binaan Skor
1. Program Tahunan 2008/2009 20

2)   Program Semester

No Jenis Program Tahun Jumlah Sekolah Binaan Skor
a. Program Semster I 2008 20
b. Program Semester II 2009 20
Rata – Rata

3)   Rencana Kepengawasan Akademik (RKA)

No Aspek Yang Dsupervisi Semester/

Tahun

Jumlah Sekolah Binaan Skor
a. Penyusunan Silabus II/2007 20
b. Peningkatan KBM I/2008 20
c. Penyusunan RPP II/2009 20
Rata – Rata Skor

4)   Rencana Kepengawasan Manajerial ( RKM )

No Aspek Yang Dsupervisi Semester/

Tahun

Jumlah Sekolah Binaan Skor
a. Memantau 8 SNP II/2007 20
b. Membimbing kaesek menyRPS I/2008 20
c. Menilai KTSP II/2009 20
Rata – rata skor
  1. Perencanaan Pembelajaran
NO MATA PELAJARAN MATERI / KOMPETENSI SMT TAHUN SKOR
1 Matematika Peluang (aturan perkalian,permutasi,

Kombinasi dan peluang suatu kejadian)

3 2009
2 Matematika Statistik (menyajikan data dalam tabel dan diagram) 5 2007
3 Matematika Limit Fungsi 4 2008
Rata-rata skor
  1. Laporan Pelaksanaan Tugas Kepengawasan

Dokumen hasil penilaian Asesor dengan menggunakan format Penilaian yang tercantum dalam bagian II.

  1. PENILAIAN DARI ATASAN DAN PENGAWAS

Dokumen hasil penilaian dari atasan dan pengawas tentang
kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial guru di dalam amplop

tertutup.

Skor penilaian atasan ( diambil dari amplop tertutup ) :……

(diisi penilai )

  1. PRESTASI AKADEMIK :
    1. Lomba dan Karya Akademik :
No Nama Lomba/ Kejuaraan Waktu Pelaksanaan Tingkat Penyelenggara Skor
1 Juara I Lomba Pengawas Berprestasi 2008 Kabupaten Dinas Diknas Kab.Dompu
2 Juara II Lomba Pengawas Prestasi 2008 Propinsi Dinas Dikpora NTB
3 Juara I Lomba Pengawas Prestasi 2009 Kabupaten Dinas diknas kab.dompu
  1. Karya Monumental
No Nama/Jenis Karya Bulan/Tahun Diusulkan Wilayah Skor
  1. Sertifikat Keahlian/Kteterampilan dan/atau pencapaian skor TOEFL
No Nama Sertifikat Keahlian Waktu Perolehan Tingkat Lembaga Yang mengeluarkan Skor
  1. Pembimbingan Teman sejawat :
No Mata Pelajaran/Bidang studi Instruktur/Guru Inti/Tutor/Pemandu Tempat Skor
1). Pelatihan Kelompok Kerja Rencana Pengembangan Sekolah (KKRPSP Seri – C BEP-AIBEP  2009 Instruktur/Panitia Hotel La Mbitu Kota Bima
2). Bintek KTSP dan CTL Rayon 2 SMP kab.Dompu thn 2009 Fasilitator SMPN 2 Dompu
3. Bintek KTSP SMA  tgl 2 s.d 5 januari 2009, yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan SMA jakarta Fasilitator/Instruktur SMAN 1 Dompu
4. Bintek KTSP SMA Rayon Kempo dan Pekat 29 sd 30 Agsts 2008 Fasilitator/Instruktur SMAN 1 Kempo
5. Worshop MGMP Tkt SMAN Kab.Dompu tgl 17 sd 19 juli 2008 Fasilitator SMAN 1 Woja
6. Bintek KTSP SMA  Kab.dompu, tgl 27 s.d 30 Juli 2008, yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan SMA jakarta Fasilitator Daerah SMAN 1 Dompu
7. MGMP  Guru Mata Pelajaran  SMA  tgl 18 sd 20 januari Thn 2008 Fasilitator/narasumber SMAN 1 Kempo
8. MGMP  dalam Pengembangan KTSP Guru SMP semster ganjil tgl 18 sd 20 juni thn 2007 Fasilitator SMPN 3 Woja
9. MGMP  SMP Smester Genap tgl 2 sd 4 januari2008 Fasilitator SMPN 3 Woja
10. MGMP  Guru Mata Pelajaran  Tkt. SMA Semester ganjil tgl 23 sd 26 januari Thn 2008 Fasilitator/narasumber SMAN 1 Pekat
11. MGMP  Guru Mata Pelajaran Surayon 3  SMA kab Dompu 10 sd 13 januari 2007 Fasilitator/narasumber SMAN 1 Manggelewa
L2. Worshop peningkatan Kompetensi dan Kinerja Pengawas thn 2007 Fasilitator Aula Diknas Dompu
13 Whorshop pemberdayaan komite sekolah 22 sd 23 juli 2007 instruktur Dompu
14. MGMP  Guru Mata Pelajaran  SMPN 2 Woja Semester Genap tal 9 sd 11 januari Thn 2008 Fasilitator/narasumber SMPN 2 Woja
15. MGMP  Guru Mata Pelajaran Rayon 3 SMP kab.Dompu 2007/2008 Fasilitator/ SMPN 1 HU’U
16. MGMP  Guru Mata Pelajaran Rayon 1 kab.Dompu 2006 Fasilitator/ SMPN 1 Dompu
17. MGMP  Guru Mata Pelajaran Rayon 2 kab.Dompu tgl 22 sd 26 november 2006 Fasilitator/ SMPN 1 Kempo
18. Diklat Guru BK SMP/MTs Kab.Dompu tgl 1 sd 3 Nop 2007 Fasilitator/penyaji AULA SKB Dompu
19. Worshop Revitalisasi MKKS  SMP/MTs Kab.Dompu 2007 Narasumber Gedung DW Dompu
20. MGMP  Guru Mata Pelajaran Rayon 2 kab.Dompu 2008 Fasilitator/ SMPN 2 Kempo
21. Tutor Daerah Penyetaraan D3 Guru matematika SMP kab.Dompu thn 1992/1993 Tutor Dompu
22. Tutor Daerah Penyetaraan D3 Guru matematika SMP kab.Dompu thn 1993/1994 Tutor Dompu
23. Tutor Daerah Penyetaraan D3 Guru matematika SMP kab.Dompu thn 1994/1995 Tutor Dompu
24. Membimbing Guru Yunior   thn 1993/1994 Membimbing 2 orang guru SMAN 2 Dompu
25. Membimbing Guru Yunior    thn 2000/2001 Membimbing 3 orang guru SMAN 2  Kempo
26. Membimbing Guru Yunior    thn 1994/1995 Membimbing 2 orang guru SMAN 2 Dompu
27. Melaksanakan visitasi akreditasi 5 (lima) Sekolah/Madrasah  SMA dan MA di Pulau Sumbawa tgl 10 sd 18 Oktober 2008 Asesor Sumbawa
28. Melaksanakan visitasi akreditasi 4(emat ) Sekolah/Mdarasah TK,SD/MI,MTs  di Prpopinsi NTB tgl 2 sd 14 Juni 2008 Asesor Dompu
29. Melaksanakan visitasi akreditasi 5(lima) Sekolah/Madrasah TK/SD/SMP  di Propinsi NTB tgl 20 Sept sd 06  Okt 2007 Asesor Dompu
  1. Pembimbingan Siswa :

1).Pembimbing siswa sampai mendapat juara (penghargaan) :

No Nama Kejuaraan Tingkat Tempat dan Waktu Skor
a. Juara III Lomba prestasi dan Kreatifitas siswa Kabupaten Dompu,10 juli 2005

2).Pembimbing siswa tidak mencapai juara :

No Nama Kejuaraan Tingkat Tempat dan Waktu Skor
a. Juara V lomba Prestasi dan kreatifitas siswa Kabupaten Dompu tgl.10 juli 2005
  1. KARYA PENGEMBANGAN PROFESI :
    1. Karya Tulis :
No Judul Jenis Penerbit Tahun Skor
1. Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan SMP/SMA Melalui Sektor Guru Artikel Pendidikan MEDIKOM Jakarta 1992
2. Konsep Kebijakan dan Pengembangan Peningkatan Mutu Tenaga Kependidikan Makalah Presentasi Rakor Kebijakan Peningkatan Mutu Tendik Regional IV (Bali,NTB,NTT,Jawa timur) 2006
3. Gema Al-Amin Salah Satu Wadah Pembentukan Sikap Intelektual Mahasiswa Artkel Gema Al-Amin Edisi 3,Maret 2008 2008
4. Beberapa Permasalahan dalam Upaya Meningkatkan (Increace) KBM, Pembelajaran Tuntas , Kaitannya Dengan Prestasi Belajar Siswa Di Sekolah Makalah Disampaikan Pada Pertemuan MKKS SMP/SMA Kab.Dompu Dokumen MKKS 1998
5. Peranan Kewibawaan Guru dalam Upaya Pembinaan Siswa Di Sekolah Makalah Seminar Pendidikan HUT PGRI Dokumen PGRI 1999
6. Strategi Penerapan Manajemen pendidikan Berbasis Sekolah ( MBS) di Sekolah Makalah MKKS Kab.Dompu Dokumen MKKS 2003
7 Biologi dalam Persepsi Al-Quran Ditinjau dari Sudut IMTAQ Karya Tulis Dokumen Panitia 1999
  1. Penelitian :
No Judul Tahun Sumber Dana Status

Ketua/Anggota

Skor
1 Membandingkan Prestasi Belajar siswa Dengan Menggunakan Soal Pilihan Ganda dan Uraian Pada mata Pelajaran matematika Di SMUN 1 Kempo Kariya Ilmiah Komite Tunggal
2 Implementasi Pembelajaran Cooperative Learning dalam Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Pada SMAN 2 Kempo 2008 Mandiri Tunggal
3 Meningkatkan Kemampuan Komunikasi dan Pemecahan Masalah Matematika Melalui Pembelajaran Think-Talk-Write Dalam Kelompok Kecil Pada SMPN 1 Kempo 2008 Mandiri Ketua
4 Draff RAPERDA Sistim Penyelenggaraan Pendidikan Kab.Dompu 2008 Ras Dinas Diknas kab.dompu Sekertaris
  1. Reviewwer Buku atau Penulis Soal Ujian /EBTANAS :
No N a m a    K e g i a t a n Tahun Skor
  1. Media dan Alat Pembelajaran :
No Jenis Media/Alat Tahun Sumber Dana Status

(Ketua/Ang)

Skor
1 LKS/MODUL 2008 MANDIRI tunngal
2 MODUL/LKS 2009 MANDIRI TUNGGAL
3 LKS 2009 MANDIRI TUNGGAL
  1. Karya Teknologi /Seni ( TTG , patung, rupa, tari, lukis , sastra, dll )
No Nama Karya Seni Tahun Deskripsi Karya (penjelasan singkat tentang karya seni ) Skor
  1. KEIKUTSERTAAN DALAM FORUM ILMIAH:
No Jenis kegiatan Tahun Peran Tingkat Skor
a. Seleksi Guru/kepala sekolah berprestasi 2009 Tim penilai kabupaten
b. Seminar * Sertifikasi guru Menuju Guru Yang Profesional”22 desember  2008 2008 Peserta Kabupaten
c. Pemilihan/Lomba Pengawas Prestasi dan berdedikasi 2008 Pesrta Propinsi
d. Pelatihan Asesor SMA/MA Thn 2008 2008 peserta propinsi
e. Diklat Penyusunan Program kerja Tim Penggkaji kurikulum KTSP 2008 Peserta Kabupaten
f. Rakor Kebijakan Program Subsidi, Harlindung, serta Peningkatan Mutu Tenaga Kependidikan 2006 Peserta Nasional
g. Worshop Pemberdayaan TIM MBS Kabupaten Dompu 06sd 07 Juli 2007 2007 Peserta Kabupaten
h. Worshop pemberdayaan komite sekolah 22 sd 23 juli 2007 2007 Instrukutr Kabupaten
i. Diklat Pemantapan kinerja Pengawas 23 sd 25 juni 2007 2007 Panitia Pengarah kaabupaten
j. Pelatihan Ketermapilan Komputer dan pengelolan informasi (KKPI) bagi Pengawas Sekolah tgl 19 sd 24 November 2007 2007 Peserta Propinsi
k. Seminar Akreditasi Sekolah/madrasah thn 2008 2008 Pesrta Propinsi
l. Study banding Pencarian data persiapan Penysysnan draf PERDA Pendidikan  kab.Dompu 2008 Sekertaris Tim Penyusun perda Pendidikan Popinsi
m. Seminar dan Evaluasi akhir ProgramKemitraan Kepala Sekolah angkaan V th 2007 2007 Pesrta Nasional
n. Pelatihan pendidikan tgl

19 sd 20 Juni

2006

2006 Hamarta % Partnes Comunications traines & Consultants Kabupaten
o. Seminar pendidikan 1999 Peserta Kabupaten
p. Penataran Perpustakaan SMA 1988 Kanwil Depdikbud SULSEL Propinsi
q. Seminar

Pendidikan

1992 Peserta propinsi
r. Raat koordinasi TIM MBS tgl 7 juli 2007 2007 pserta kabupaten
s. Worshop Pembahasan draf PERDAPendidikan

29 m2i 2008

2008 pesrta kabupaten
t. DiklatPemantapan kinerja dan program pengembangan KTSP bagi engawas  tgl 23 sd 25 juni 2007 2007 Peserta kabupaten
u. Rakor Wajar Dikdasmen 12 thn tgl 21 april 2008 2008 Peserta Kabupaten
v Worshop TOT PJP dan Fasilitator Propinsi/kab/kota Diklat Bintek KTSP 2009 2009 Peserta Regonal
  1. PENGALAMAN MENJADI PENGURUS ORGANISASI DI BIDANG
    PENDIDIKAN DAN SOSIAL
  1. Pengalaman Organisasi :
No Jenis Organisasi Tahun Jabatan Tingkat Skor
1 WDD/WSD AIBEP  Indonesia-Australia 2008 sd sekarang District Coordinator(DC) Nasional
2 Pengurus UPA kab.Dompu 2009 Anggota Propinsi
3 Pengurus UPA kab.Dompu 2008 Anggota Propinsi
4 Pengurus  Sub Kegiatan Visi tasi Akreditasi S/M Kab.Dpu 2007 Anggot Propinsi
5 Pengurus MKPS kab.Dompu 2007 sd sekarng Sekertaris I kabupaten
6 Pengurus KKPS SMA sda Anggota kabupaten
7 TIM MBS kab.Dompu 2007 sd sekarang Anggota Kabupaten
8 Tim Pengkaji Kurikulum Kab Dompu 2008 sd sekarang Anggota Kabupaten
9 Pengurus MKKS SMA 2002 sd 2006 Sie Bid Bina Program Kabupaten
10 Pengurus PGRI cabang Dompu barat 1992 sd 1997 Sekertaris Kecamatan
11 Pengurus UNIT KORPRI Dinas Diknas 2007 sd 2012 anggota Kabupaten
12 Pengurus ranting gerakan Pramuka Kecamatan kalukku Sulsel 1991 sd 1995 Sie teknik Operasional kepramukaan Kecamatan
  1. Pengalaman mendapat tugas tambahan :
No Jabatan Tahun..s.d tahun.. Nama Sekolah

/instansi

Skor
1 Kepala Sekolah 1998 sd 2002 Kepala SMA 2 Kempo
2 Kepala Sekolah 2002 sd 2995 Kepala SMAN 1 Kempo
3 Wakil Kepala Sekolah 1994/1995

1996/1997

1997/1998

SMAN 2 Dompu

SMAN 2 Dompu

SMAN 2 Dompu

4 Pembina IMO 1993/1994

1994/1995

SMAN 2 Dompu

SMAN 2 Dompu

5 Pembina Pramuka 1995/1996 SMAN 2 Dompu
6 Pembina LKIR 1995/1996 SMAN 2 Dompu
7 Pembina Perpustakaan 1995/1996 SMAN 2 Dompu
8 Guru Pikket 1992/1993 SMAN 2 dompu
9 Anggota Tim Penilai RABPS dana Gratis  Kabupaten 2008/2009 Dinas Dikpora Kab.Domu
10 Angota Tim Penilaia wawasan Wiyatamandala 2007 Diknas Domu
11 Dosen STAI Al-Amin Dompu 2007 sd sekarang Stai Al-Amin Dompu
12 Penguji UKM ( Ujian Kualifikasi Mutu) Prog D2 PGTK dan S1 PAI 2008/2009 STAI Al-Amin Domu
  1. PENGHARGAAN YANG RELEVAN DENGAN BIDANG PENDIDIKAN
  1. Penghargaan :
No Jenis Penghargaan Pemberi

Penghargaan

Tingkat Tahun Skor
1. Piagam Pengawas Berpreastasi/berdedikasi Kepala Dinas (An.Bupati Dompu) Kabupaten 2008
2. Piagam Pengawas berprestasi/berdedikasi Gubernur NTB Propinsi 2008
3. Piagam Pengawas berprestasi . berdedikasi Bupati Dompu Kabupaten 2009
4 Piagam

Pengelolaan Sekolah

Kepala Dinas Diknas dompu kabupaten 2007
5 Piagam Kirab Remaja Nasional III, 1993 Yayasan Tiara Indonesia Nasional 1993
6 Piagam Juara II Lomba wawasan Wiyata Mandala Tkt SMP/SMA/SMK Kepala dinAS Diknas kab.dompu Kabupaten 2005
7 Piagam Juara II Lomba wawasan Wiyata Mandala Tkt SMP/SMA/SMK Kepala Dinas Diknas kab.dompu Kabupaten 2000
8 Piagam Finalis Peserta lomba kayra tulis Peningkatan IMTAQ tkt Nasional Direktorat Dikdasmen Bagpro Peningkatan Wawasan Guru jakarta Nasional 2000
9 Paiagam Juara III Nasional Lomba menanam jagung Hibrida Teknologi Modren Tkt SMU (sebagai Pembimbing ) Menko Kesra dan Taskin RI , menteri Pertanian RI, Ketua kwarnas Gerakan Pramuka Nasional 1999
10 Peserta lomba Keberhasilan guru dalam Pembelajaran Tk,Nasional ke -2 Dirjen Pendidikan dasar dan menengah Diertur pend Guru dan tenaga Teknis Nasional 1996
11 Penelitian dan pencarian data Raperda Pendidikan Dompu Kepala Dinas Dikpora Kabupaten 2008

b. Penugasan di daerah khusus :

No Lokasi Jenis Daerah Khusus Lama Bertugas           ( mulai th… s.d th…  ) Skor

Dengan ini saya menyatakan bahwa pernyataan dan dokumen di dalam Portofolio ini benar-benar hasil karya saya sendiri, dan jika di kemudian hari ternyata pernyataan dan dokumen saya tidak benar, saya bersedia menerima sanksi dan dampak hukum sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dompu ,                          2009.

Peserta Sertifikasi ,

DRS.SUAIDIN

NIP.19630108 198703 1 013

SISTEMATIKA
PROGRAM TAHUNAN PENGA

HALAMAN JUDUL (SAMPUL)

HALAMAN PENGESAHAN

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

I. PENDAHULUAN

A.  Latar belakang

B. Landasan (Dasar Hukum)

C. Visi, Misi, dan Strategi

Pengawasan,

D. Ruang Lingkup Pengawasan  (Pembinaan, Pemantauan, Penilaian)

E. Tujuan dan Sasaran

II. IDENTIFIKASI HASIL PENGAWASAN DAN KEBIJAKAN DALAM BIDANG PENDIDIKAN

A.  Deskripsi Hasil Pengawasan  Tahun Sebelumnya

B. Masalah dalam Pengawasan

C. Kebijakan dalam Bidang

Pendidikan

III. DESKRIPSI PROGRAM PENGAWASAN

(aspek/unsur/sub unsur pengawasan, butir kegiatan, tujuan, sasaran, indikator keberhasilan/target, metode kerja/teknik supervisi,    dan jadwal pelaksanaan)

A.  Program Penilaian

B. Program Pembinaan

1. Supervisi Akademik

2. Supervisi Manajerial

C. Program Pemantauan

IV. PENUTUP

Rencana Kepengawasan
Aspek Akademik

  • Rencana kepengawasan aspek akademik à (3 action/kegiatan aspek yang berbeda dari program semester yang dikumpul)
  1. ASPEK/ MASALAH: Membina/ Memantau/ Menilai
  2. TUJUAN:
  3. INDIKATOR KEBERHASILAN:

D.  STRATEGI/Metode Kerja (Teknik Supervisi):

  1. SKENARIO KEGIATAN :

1. Pertemuan awal……

2. Observasi…….

3. Pertemuan akhir……

F. SUMBER DAYA YANG DIPERLUKAN (DANA/FASILITAS dll)

G. PENILAIAN DAN INSTRUMEN

H. RENCANA TINDAK LANJUT

RENCANA PENGAWASAN AKADEMIK/MANAJERIAL

Sekolah             :                                  Pengawas sekolah      :
Kepala Sekolah/Guru/Tendik:             Tahun Pelajaran          :
Alamat Sekolah:                                   Semester                    :

Aspek/

Masalah

(1)

Tujuan

(2)

Indikator Keberhasilan

(3)

Strategi/Metode Kerja/Teknik Supervisi

(4)

Skenario Kegiatan

(5)

Sumber Daya yang diperlukan

(6)

Penilaian dan instrumen

(7)

Rencana

Tindak Lanjut

(8)

LAPORAN HASIL PENGAWASAN:

SISTEMATIKA LAPORAN (24 item x 5 =120

  • BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

B. Aspek/Masalah

C.Tujuan dan sasaran  Pengawasan

D.Ruang lingkup

  • BAB II         KERANGKA PIKIR PEMECAHAN MASALAH
  • BAB III        PENDEKATAN DAN METODE
  • BAB IV        HASIL PENGAWASAN

A. Hasil Pengawasan(Akademik dan  Manajerial)

B. Pembahasan Hasil

  • BAB V PENUTUP

A. Simpulan

B. Rekomendasi

EVALUASI DIRI SEKOLAH


Evaluasi Diri Sekolah

1.     Pengantar

Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dan Departemen Agama (Depag) telah menunjukkan komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah-sekolah di Indonesia melalui  Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP).

SPMP mendefinisikan penjaminan mutu sebagai ‘serangkaian proses dan sistem yang saling terkait untuk mengumpulkan, menganalisa dan melaporkan data  kinerja pendidik dan tenaga kependidikan, program dan lembaga. Proses penjaminan mutu mengidentifikasi  pencapaian kinerja dan prioritas untuk perbaikan, menyediakan data untuk pembuatan keputusan berbasis bukti dan membantu membangun budaya perbaikan yang berkelanjutan. Pencapaian mutu pendidikan berdasarkan SPMP dikaji berdasarkan Standar Nasional Pendidikan (SNP). Model ini mengetengahkan pengkajian mutu dan metode analisa data seperti diagram dibawah ini:

Sebagai komponen yang vital dalam SPMP, EDS dipandang sebagai dasar bagi penyusunan rencana pengembangan sekolah untuk peningkatan mutu dan sebagai penyedia informasi penting

dalam sistem manajemen data. Karena itulah EDS menjadi bagian yang integral  dalam penjaminan dan peningkatan mutu. EDS adalah suatu proses yang memberikan tanggung jawab kepada para pemangku kepentingan untuk mengevaluasi kemajuan sekolah mereka sendiri dan mendorong sekolah untuk menetapkan prioritas  kebutuhan perbaikan. Walaupun ini merupakan pendekatam berbasis sekolah, tetapi proses ini juga mengisyaratkan adanya keterlibatan  dan dukungan dari orang-orang yang bekerja dalam berbagai tingkatan, dan hal ini tentu saja membantu terjaminnya transparansi dan validasi proses.

EDS penting karena para pemangku kepentingan:

  • Merasa memiliki dan mempunyai tanggung jawab untuk pengembangan sekolah mereka sendiri.
  • Mengetahui apakah sekolah mereka telah memenuhi standar nasional dan apakah mereka telah memenuhi kebutuhan setempat dan kebutuhan  peserta didik mereka
  • Menggunakan informasi yang dikumpulkan untuk menyusun rencana pengembangan sekolah menuju peningkatan mutu berkelanjutan
  • Menyediakan informasi bagi sistem untuk memungkinkan diberikannya dukungan yang terarah dan memadai berdasarkan kebutuhan mereka.

2.     Tujuan  EDS

a)     Menilai pencapaian kinerja mutu pendidikan  berdasarkan indikator kunci untuk  mengetahui keberhasilan yang dicapai dan mengidentifikasi hal-hal yang membutuhkan perbaikan

b)     Menyusun rencana dan menetapkan prioritas  untuk perbaikan dan pengembangan sekolah berdasarkan informasi yang terkumpul

c)      Menyediakan informasi mengenai pencapaian kinerja sekolah  melalui sistem manajemen data  tingkat kabupaten/kota, propinsi, dan nasional.

  1. 3. Latar Belakang

EDS dikembangkan berdasarkan upaya yang sudah berjalan dalam sistem ini, khususnya yang terkait dengan perencanaan pengembangan sekolah dan manajemen berbasis sekolah, serta dikaitkan dengan inisiatif-inisiatif berikut ini yang memang sudah berjalan, seperti:

Undang-Undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen

Peraturan Pemerintah No.78 tahun 2008 tentang Guru

Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 mengenai Standar Nasional Pendidikan

Peraturan Pemerintah No.65 tahun 2005 tentang Standar Pelayanan Minimal

Delapan Standar Nasional Pendidikan dan peraturan pemerintah terkait

Akreditasi sekolah

Permendiknas  No. 7 dan 8 tahun 2007 mengenai LPMP dan P4TK

Permendiknas No. 12  tahun 2007 mengenai Pengawas

Permendiknas No. 50 tahun 2007 mengenai standar manajemen pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah propinsi dan kabupaten

Renstra Depdiknas 2005-2009

Renstra Depag 2005-2009

Rencana Pengembangan Sekolah

EDS bukanlah proses yang bersifat birokratis atau mekanistis, melainkan suatu proses dinamis yang melibatkan semua pemangku kepentingan sekolah. EDS perlu dikaitkankan pada proses perencanaan sekolah dan dipandang sebagai bagian yang penting dalam siklus kinerja sekolah. Sebagai kerangka kerja untuk perubahan dan perbaikan, proses ini secara mendasar menyikapi 3 pertanyaan kunci dibawah ini:

  • Seberapa baik kinerja sekolah? Dengan EDS akan diperoleh informasi  mengenai pengelolaan sekolah yang telah memenuhi SNP untuk digunakan sebagai dasar penyusunan RPS/RKS dan RAPBS/RKAS.
  • Bagaimana mengetahui kinerja sekolah sesungguhnya? Dengan EDS akan diperoleh informasi tentang kinerja sekolah yang sebenarnya dan informasi tersebut diverifikasi dengan bukti-bukti fisik yang sesuai.
  • Bagaimana memperbaiki kinerja sekolah? Sekolah menggunakan informasi yang dikumpulkan dalam EDS untuk menetapkan apa yang menjadi prioritas bagi peningkatan sekolah dan digunakan untuk mempersiapkan RPS/RKS dan RAPBS/RKAS.

Sekolah menjalankan proses ini setiap tahunnya dengan menggunakan seperangkat indikator kinerja untuk melakukan pengkajian secara obyektif terhadap kinerjanya dan karakter daerah yang dilakukan berdasarkan indikator kunci dalam delapan SNP. Informasi tambahan mengenai tingkat pencapaian sekolah dalam memenuhi kebutuhan semua peserta didiknya dan kapasitas sekolah untuk perbaikan dan tingkat dukungan yang dibutuhkan juga menjadi perhatian penting EDS . Data dapat juga dikaitkan dengan kebutuhan lokal dan informasi khusus terkait dengan sekolah. Informasi kuantitatif seperti tingkat penerimaan siswa baru, hasil ujian, tingkat pengulangan dan lain-lain, beserta informasi kualitatif seperti pendapat dan penilaian profesional para pemangku kepentingan di sekolah akan dikumpulkan guna mendapatkan gambaran secara menyeluruh. Semua informasi ini kemudian digunakan sebagai dasar untuk mempersiapkan  rencana pengembangan sekolah.

Selama berjalannya proses, diharapkan dapat dikembangkan visi dan misi yang jelas mengenai harapan para pemangku kepentingan terhadap sekolah mereka. Untuk dapat membangun visi dan misi bersama mengenai mutu ini, maka perlu bagi semua pemangku kepentingan untuk terlibat dalam proses untuk menyepakati nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang akan ditetapkan. Visi bersama akan membawa pada arah yang lebih jelas kedepan.

Yang juga penting adalah bahwa bukti-bukti yang terpilih untuk menunjukkan pencapaian adalah bukti yang dapat digunakan untuk melakukan evaluasi. Hal ini dapat dicapai dengan menggunakan kisaran indikator dan sumber informasi termasuk data, pendapat dan hasil observasi.

Triangulasi bukti ini menjamin bahwa konsistensi akan terus diperiksa  dan  indikator-indikator yang ada dipandang dari berbagai sudut untuk memberikan informasi mengenai apa yang sebenarnya sedang terjadi. Hal ini penting mengingat apa yang dituliskan dalam dokumen tidak selalu  merupakan hal yang sebenarnya terjadi. Misalnya, rencana mengajar yang tertulis tidak selalu merupakan bukti bagaimana pembelajaran itu dilaksanakan, dokumen kurikulum bukan merupakan bukti bahwa kurikulum disampaikan dengan utuh, dan sarana belajar dapat “dihitung” tapi tidak  selalu digunakan secara efektif.

Karena itu  sekolah akan mengukur dampak dari berbagai kegiatan penting terhadap peserta didik dan  kegiatan belajar mereka, setiap tahun sekolah juga memeriksa hasil dan dampak dari kegiatan belajar mengajar dan upaya sekolah dalam memenuhi kebutuhan peserta didik. Yang harus dicatat adalah banyak aspek yang saling berkaitan, dimana kelebihan dan kelemahan dalam satu aspek akan mempengaruhi aspek lain. Hal  yang sangat penting dalam proses ini adalah sekolah  menggunakan EDS  untuk memprioritaskan bidang yang memerlukan peningkatan dan menyiapkan rencana pengembangan/peningkatan sekolah. Proses ini kemudian menjadi bagian dari siklus pengembangan dan peningkatan yang berkelanjutan.

Dengan melibatkan semua pemangku kepentingan sekolah (kepala sekolah, guru, peserta didik, orang tua, komite sekolah, anggota masyarakat yang relevan, pengawas sekolah), diharapkan bahwa tujuan dan nilai yang jelas dapat dipadukan pada proses ini sehingga akan menjadi bagian dari etos sekolah. Yang perlu diingat, informasi yang didapatkan harus dianggap penting dan tidak lagi  sebagai beban atau hanya sekedar sebagai daftar data yang perlu dikumpulkan karena diminta oleh pihak luar. Proses ini harus merupakan satu refleksi dan berkaitan dengan perubahan dan perbaikan.  Karena itu EDS hanya akan berguna jika  dapat membawa sekolah pada peningkatan pengalaman pendidikan dan hasilnya bagi para peserta didik. Dengan demikian sekolah akan menjadi pemain inti dalam peningkatan mutu dan memberikan penjaminan mereka sendiri terhadap mutu yang mereka berikan.

  1. 4. Manfaat EDS

a) Bagi sekolah

  • Sekolah dapat mengidentifikasikan kekuatan  dan kelemahan untuk merencanakan pengembangan
  • Sekolah dapat mengidentifikasi hambatan,tantangan, dan peluang serta mendiagnosis hal-hal yang perlu dilakukan untuk perbaikan.
  • Sekolah memiliki data yang akurat sebagai dasar  pengembangan dan peningkatan mutu di masa mendatang
  • Sekolah dapat mengidentifikasikan peluang untuk meningkatkan mutu pendidikan yang disediakan, mengkaji apakah inisiatif peningkatan tersebut berjalan dengan baik dan menyesuaikan diri.
  • Sekolah dapat memberikan laporan formal kepada pemangku kepentingan demi meningkatkan akuntabilitas sekolah

b) Bagi lembaga lain dalam sistem

  • Menyediakan data dan informasi untuk pengambilan kebijakan pendidikan, perumusan program dan perencanaan anggaran pada tingkat kabupaten/kota, propinsi dan nasional
  • Mengidentifikasi bidang prioritas untuk meningkatkan sarana dan prasarana
  • Mengidentifikasi tingkatan dan jenis dukungan yang dibutuhkan
  • Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan/pengembangan pendidik dan tenaga kependidikan
  • Mengidentifikasi keberhasilan sekolah berdasarkan berbagai indikator kunci.
  1. 5. EDS dan kaitannya  dengan Penjaminan dan Peningkatan Mutu

Diagram di bawah ini menunjukkan keterkaitan antara kegiatan untuk penjaminan dan peningkatan mutu dan juga menunjukkan alur informasi dan urutan kegiatan.

  1. 6. Proses Evaluasi Diri Sekolah

Proses ini memberikan dasar bagi penyusunan RPS/RKS, termasuk Pengembangan Sekolah Terpadu/Whole School Development (WSD) dari Basic Education Program (BEP).

Diagram berikut ini menunjukkan sistem untuk EDS, termasuk peran dan tanggung jawab utama.

Keterangan terperinci mengenai hal ini dijelaskan dalam bagian setelah diagram di bawah ini:

6.1. Pelatihan

Sebelum pelaksanaan EDS perlu pelatihan tentang  prinsip-prinsip dan metodologi EDS. Pelatihan ini mempersiapkan TPS agar dapat melaksanakan evaluasi secara obyektif yang menjamin validitas dan menggunakan informasi yang dikumpulkan sebagai dasar  penyusunan RPS/RKS.

Pelatihan ini dilaksanakan dengan menggunakan tahapan berikut ini:

  1. Tim teknis kabupaten/kota, LPMP, dan BDK dilatih melalui ToT (training of trainers)
  2. Koordinator kabupaten/kota (posisi ini sudah ada di kabupaten/kota yang tercakup dalam program WSD BEP dan telah menerima pelatihan dalam perencanaan pengembangan sekolah) dan pengawas sekolah terpilih dilatih sebagai pelatih oleh LPMP
  3. Koordinator kabupaten/kota dan pengawas sekolah terpilih melatih TPS

LANJUTKAN

6.2. Melengkapi Proses EDS

Setelah pelaksanaan pelatihan, kepala sekolah bekerja sama dengan pengawas sekolah akan menetapkan dan mengawasi TPS. Tim ini harus melibatkan masing-masing seorang wakil dari komite sekolah, guru, orang tua, dan perwakilan lain dari kelompok masyarakat atau kelompok agama yang memang dipandang layak untuk diikutsertakan.

Tim ini akan menggunakan instrumen yang disediakan untuk memberikan profil mengenai situasi sekolah dan mengkaji kinerja berdasarkan indikator pencapaian. Informasi yang didapatkan kemudian akan dianalisa dan digunakan oleh TPS untuk mengidentifikasi kelebihan dan bidang yang memerlukan perbaikan, serta merencanakan program tahunan. Pengawas sekolah harus dilibatkan secara penuh untuk mendukung sekolah baik dalam melengkapi evaluasi tersebut dan untuk mengimpelementasikan rencana perbaikan yang dikembangkan berdasarkan hasil dari proses ini. Keterlibatan pengawas sekolah juga akan mendorong terciptanya transparansi dan keandalan data yang dikumpulkan, dan membantu sekolah untuk melangkah maju dalam program perbaikan mereka. Pengawas sekolah dan kepala sekolah akan menjadi pemain inti dalam pelibatan semua pemangku kepentingan untuk mendapatkan gambaran yang realistis mengenai sekolah yang berdasarkan itu  perbaikan dapat dilakukan,  dan bukan hanya sekedar sebagai  data yang menunjukkan pencapaian standar.

6.2.1. Menggunakan Instrumen

Evaluasi instrumen ini didasarkan pada standar nasional dan akan memberikan dua tujuan untuk menyediakan informasi bagi rencana pengembangan sekolah, seiring dengan pemutakhiran sistem EMIS nasional. Agar proses ini relevan dengan sekolah maka hanya aspek-aspek dari 8 standar nasional yang paling terkait  yang akan diikut sertakan. Bidang dan pertanyaan inti yang disediakan dalam instrumen tersebut akan merefleksikan luasnya bidang yang penting bagi sekolah, dan ini  telah dipilih sebab bidang-bidamg itulah yang dapat dikembangkan oleh sekolah dan karenanya dapat digumakan dalam merencanakan perbaikan sekolah. Karena itulah maka telah diantisipasi agar sekolah dapat mengidentifikasi proses ini dan tidak memandangnya sekedar sebagai kegiatan pengisian formulir saja. Yang penting untuk ditekankan disini adalah sekolah harus melaporkan situasi nyata yang ada di sekolah mereka dan kemudian, saat proses ini diulang, mereka harus mampu menunjukkan adanya perbaikan seiring dengan waktu yang berjalan. Mohon lihat Instrumen EDS.

Berlandaskan pemakaian analisa SWOT yang dipakai sekarang untuk  perencanaan pengembangan sekolah, Sekolah akan diharuskan mengevaluasi kekuatan dan kelemahan mereka terhadap berbagai judul dan pertanyaan yang disediakan. Proses ini juga berangkat dari upaya yang telah berjalan melalui program WSD BEP dan inisiatif lainnya dalam hal perencanaan pengembangan sekolah. Sekolah akan mengevaluasi keseluruhan keefektifan mereka dengan cara menjawab pertanyaan inti berikut ini dan berdasarkan bidang umum dibawah ini:

  1. 1. Standards Sarana dan prasarana

1.1.                     Apakah sarana sekolah sudah memadai?

1.2.                     Apakah sekolah dalam kondisi terpelihara baik?

2.   Standar Isi

2.1.               Apakah kurikulum sudah sesuai dan relavan ?

2.2.               Bagaimana sekolah menyediakan apa yang dibutuhkan dalam pengembangan pribadi peserta didik ?

3.   Standar Proses

3.1.                     Apakah silabus silabus sudah sesuai dan relevan?

3.2.                     Apakah RPP ditencanakan untuk mencapai pembelajaran yang efektif?

3.3.                     Apakah sumber belajar untuk pembelajaran dapat diakses dan dipergunakan secara tepat?

3.4.                     Apakah Pembelajaran menerapkan prinsip-prinsip PAKEM/CTL?

3.5.                     Apakah sekolah memenuhi kebutuhan sarana peserta didik ?

3.6.                     Bagaimana cara sekolah mempromosikan dan mempertahankan etos pencapaian prestasi?

4.   Standar Penilaian

4.1.                     Sistem apakah yang sudah tersedia untuk memberikan penilaian  bagi peserta didik, baik dalam bidang akademik maupun non akademik ?

4.2.                     Bagaimana penilaian berdampak pada proses belajar?

4.3.                     Apakah orang tua terlibat dalam proses belajar anak mereka?

5.   Standar Kompetensi Lulusan

5.1.                     Apakah peserta didik dapat mencapai prestasi akademik yang diharapkan?

5.2.                     Apakah peserta didik dapat mengembangkan potensi secara penuh sebagai anggota masyarakat ?

6.   Standar Pengelolaan

6.1.                     Apakah kinerja pengelolaan berdasarkan kerja tim dan kemitraan yang kuat, dengan visi dan misi yang jelas dan diketahui oleh semua pihak?

6.2.                     Apakah ada tujuan dan rencana untuk perbaikan yang memadai ?

6.3.                     Dampak rencana pengembangan sekolah terhadap peningkatan hasil belajar

6.4.                     Bagaimanakah cara pengumpulan dan penggunaan data yang handal  dan valid?

6.5.                     Bagaimana cara mendukung dan memberikan kesempatan pengembangan profesi bagi para pendidik dan tenaga kependidikan?

6.6.                     Bagaimana cara masyarakat sekitar mengambil bagian dalam kehidupan sekolah?

7.   Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan

7.1.                     Apakah pemenuhan jumlah pendidik dan tenaga kependidikan lainnya sudah memadai ?

8.   Standar Pembiayaan

8.1.                     Bagaimana sekolah mengelola keuangan?

8.2.                     Upaya apakah yang telah dilaksanakan oleh sekolah untuk mendapatkan tambahan dukungan pembiayaan lainnya?

8.3.                     Bagaimana cara sekolah menjamin kesetaraan akses?

Evaluasi ini akan didasarkan pada seperangkat indikator bagi setiap judul, yang dikaitkan dengan standar nasional, dan sekolah akan memberi peringkat kinerja mereka berdasarkan skala nilai sampai dengan 4 seperti di bawah ini:

4 – Sangat baik (sangat utama, kekuatan utama)

3 – Baik (kekuatan yang penting, tetapi masih ada ruang untuk perbaikan)

2 – Cukup (ada beberapa kekuatan dan kelemahan, tetapi masih sangat bisa ditingkatkan)

1 – Tidak memuaskan (banyak kelemahan utama dan membutuhkan perbaikan besar)

Hasil evaluasi akan memberikan dasar bagi rencana pengembangan sekolah dan perencanaan perbaikan.


6.2.2. Sumber Bukti

Saat melaksanakan evaluasi, sekolah perlu menunjukkan pencapaian mereka dibandingkan dengan indikator kinerja. Mereka perlu mengumpulkan data dan informasi dengan menggunakan berbagai jenis metode untuk memberikan pembuktian yang akan mendukung hasil evaluasi mereka. Hal ini mencakup observasi dan konsultasi dengan kelompok perwakilan pemangku kepentingan termasuk komite sekolah, orang tua, guru, peserta didik dan kelompok yang relevan lainnya. Pembuktian ini dapat diberikan dari berbagai sumber, termasuk:

a)     Data kuantitatif seperti:

  • Prestasi peserta didik dalam Ujian Nasional
  • Kemajuan peserta didik dalam mencapai target yang telah ditetapkan
  • Kemajuan secara keseluruhan terhadap target yang telah ditetapkan
  • Jumlah peserta didik
  • Jumlah putus sekolah peserta didik
  • Tingkat kehadiran peserta didik
  • Tingkat kemajuan dan penempatan di luar sekolah
  • Jumlah guru
  • Kualifikasi guru

b)     Informasi kualitatif dari opini berbagai individu dan kelompok seperti:

  • Wawancara individual dengan guru dan pegawai lainnya
  • Wawancara individual dengan orang tua peserta didik
  • Wawancara/ diskusi dengan peserta didik
  • Diskusi kelompok
  • Kelompok terarah
  • Kelompok kerja
  • Kuesioner dan survey untuk mengukur tingkat kepuasan dan mendapatkan saran untuk meningkatkan keefektifan
  • Respon tertulis dan komentar terperinci
  • Pertemuan tim pada semua tingkatan

c)      Informasi kualitatif dan kuantitatif sebagai hasil dari observasi langsung terhadap proses belajar mengajar seperti:

  • Membayangi individu peserta didik
  • Ikut dalam kelas selama satu hari penuh
  • Mengamati pelajaran
  • Merekam dengan video cara mengajar sendiri
  • Pertukaran kelas antar guru
  • Observasi antar sesama guru

d)     Informasi kualitatif dan kuantitatif dari berbagai dokumen seperti:

  • Hasil kerja peserta didik
  • Laporan pada orang tua
  • Catatan atau buku harian pekerjaan
  • Program studi atau skema kerja
  • Rencana mengajar guru
  • Laporan kemajuan mengenai rencana pengembangan sebelumnya
  • Bahan pelajaran untuk berbagai tingkatan kemampuan
  • Kebijakan dan panduan sekolah
  • Notulen rapat


6.3. Rencana Pengembangan Sekolah

TPS akan menganalisa informasi yang dikumpulkan dan akan menggunakannya untuk mengidentifikasi dan memprioritaskan bidang yang membutuhkan perhatian, yang kemudian akan menjadi dasar bagi rencana pengembangan sekolah. Proses ini  akan berkontribusi untuk mengimplementasikan kebijakan pemerintah yang menyatakan bahwa sekolah harus melengkapi rencana tahunan pengembangan sekolah .

Berdasarkan informasi yang dikumpulkan, rencana pengembangan sekolah akan berisikan prioritas perbaikan dalam jumlah kecil dan dapat dikelola oleh sekolah dengan hasil yang telah ditentukan dan berfokus pada peningkatan pencapaian dan pembelajaran. Kesemuanya ini harus dapat diobservasi dan diukur sejauh mungkin. Rencana ini akan berisikan tanggung jawab untuk pengimplementasian yang telah dijelaskan, dilengkapi dengan kerangka waktu, batast waktu dan ukuran keberhasilan. Sekolah akan didorong untuk mencari solusi dan membuat perubahan dengan cara melakukan upaya yang bedasarkan kekuatan mereka, dan hal ini diketahui akan bergantung pada pengembangan kemampuan strategis kepala sekolah dan pengawas sekolah.

Yang telah diantisipasi adalah bahwa dengan mengacu pada kisaran luas data dan informasi yang bisa didapatkan dari EDS, hasilnya bukan saja  perencanaan akan lebih tepat, tetapi juga  evaluasi kemajuan di masa mendatang dapat ditingkatkan dikarenakan adanya data andal yang dapat dijadikan sebagai acuan. Hal ini akan lebih mempermudah  sekolah dalam  mengemukakan perbaikan yang telah mereka capai seiring dengan waktu.

6.4. Pelaporan Hasil Temuan

Sekolah akan mempersiapkan  laporan dalam format terpisah untuk diserahkan kepada kantor Dinas Pendidikan kabupaten sebagai informasi dan akan dimasukkan dalam sistem EMIS. (Lihat Format Laporan EDS).

Laporan sekolah mengenai temuan mereka akan divalidasikan secara internal oleh pengawas sekolah dan divalidasikan secara eksternal oleh Kelompok Kerja Pengawas Sekolah pada tingkan kecamatan dengan dukungan dari staf penjaminan mutu LPMP. Untuk mencegah terjadinya luapan pekerjaan, kegiatan ini harus dilaksanakan berdasarkan sampling saja, dimana laporan setiap sekolah divalidasikan paling tidak satu kali setiap lima tahun. Hal ini dapat berjalan berdampingan dengan siklus lima tahun akreditasi sekolah yang memungkinkan validasi laporan sekolah sebanyak dua kali dalam jangka waktu lima tahun. Validasi dapat dilaksanakan lebih sering bagi sekolah yang dianggap memang memerlukan perhatian khusus, baik dikarenakan keraguan keandalan data, atau dikarenakan kinerja sekolah itu sendiri. Setelah divalidasi, laporan temuan akan dikirimkan kepada kantor Dinas Pendidikan  kabupaten untuk dianalisa dan informasinya digunakan untuk perencanaan peningkatan mutu dan untuk dimasukkan dalam sistem EMIS nasional.

Informasi dalam database nasional dapat diakses oleh seluruh kantor Diknas nasional dan propinsi melalui sistem EMIS online untuk memberikan informasi mengenai perencanaan dan kegiatan peningkatan mutu. Kegiatan ini akan difasilitasi dan dimonitor oleh LPMP dalam peran baru mereka.

7.   Langkah Kedepan

  • Mengembangkan model yang lebih terperinci dalam kerjasama dengan Depdiknas dan Depag
  • Menyepakati konsep pada tingkat nasional, propinsi, kabupaten dan sekolah
  • Bekerja sama dengan perwakilan kelompok pemangku kepentingan untuk mengembangkan instrumen yang akan digunakan oleh sekolah – berdasarkan 8 standar nasional tetapi mencakup informasi lain yang relevan dan penting. Ini untuk memprioritaskan dan mentargetkan informasi yang paling berguna bagi pengembangan tingkat sekolah.
  • Dalam sebuah lokakarya dengan perwakilan guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, kantor Dinas Pendidikan kabupaten dan staf LPMP meriviu dan merevisi indikator dan mengembangkan tingkatan pencapaian terhadap standar ini
  • Memfinalisasi instrumen dan mempersiapkan bahan-bahan pelatihan untuk menjamin bahwa sekolah akan menerima dukungan dalam tugas mereka dan bahwa informasi yang dikumpulkan digunakan untuk memberikan informasi perencanaan sekolah, kabupaten, propinsi dan nasional. Pelatihan akan dikembangkan berdasarkan waktu dan sumber daya yang tersedia
  • Menyediakan pelatihan pada semua tingkatan untuk melengkapi EDS  dan untuk mulai melekatkan proses ini dalam sistem, khususnya untuk mendorong perubahan pola pikir yang dibutuhkan untuk proses ini
  • Proses ini akan dilakukan secara pilot di 12 sekolah di masing-masing dari 3 kabupaten
  • Hasil dari program rintisan tersebut akan diriviu dan direvisi

Program rintisan  akan diperluas untuk mencakup lebih banyak sekolah dengan harapan dapat mencapai cakupan nasional

ANALISIS MODEL PENDIDIKAN ORANG DEWASA


ANALISIS MODEL PENDIDIKAN ORANG DEWASA

Dipersiapkan oleh:

SUAIDIN

  1. I. PENDEKATAN PEMBELAJARAN

Pendekatan yang dimaksud di sini adalah perspektif yang digunakan dalam mendesain pembelajaran dengan memanfaatkan metode, media, dan teknik pembelajaran yang dipilih. Adapun model, adalah contoh aplikasi desain pembelajaran tersebut.

Memperhatikan bahwa peserta pelatihan adalah orang dewasa, maka pendekatan yang dilakukan adalah berdasarkan pendidikan orang dewasa, yang disebut Andragogi. Pengertian Andragogi adalah  seni dan ilmu tentang cara menolong orang dewasa untuk belajar. Andragogi, bebeda dengan model pembelajaran yang dikembangkan terdahulu yang berdasarkan pedagogi; yaitu seni dan ilmu tentang cara menolong anak – anak  untuk belajar.

Untuk menganalisis model pembelajaran orang dewasa secara lebih jelas, berikut ini terlebih dahulu dibedakan antara kedua pendekatan tersebut, yang dapat dibagi ke dalam empat dasar perbandingan, yaitu :

Perbandingan Pedagogi Androgogi
Konsep Siswa
  • Peran siswa bersifat tergantung (dependent)
  • Guru diharapkan dapat memegang tanggung jawab penuh untuk menentukan apa yang harus dipelajari, kapan terjadinya dan bagaiman cara pembelajaran, serta hasil yang ingin dicapai seperti apa
  • Pern siswa “self directedness
  • Guru bertanggung jawab untuk mendorong dan membimbing proses belajar
  • Secara psikologis seseorang memiliki kebutuhan untuk mengarahkan dirinya sendiri, meski kadang kala pada situasi tertentu masih tergantung pada gurunya
Role of Learner Experience (pengalaman siswa)
  • Pengalaman siswa kurang dihargai, mungkin hanya digunakan pada awal saja dan untuk seterusnya pengalaman yang diperoleh siswa kebanyakan diperoleh dari guru, textbook, audiovisual, atau ahli – ahli lainnya.
  • Tekhnik utama pengajaran adalah tekhnik transmittal, seperti melalui kuliah, membaca
  • Pengelaman siswa dijadikan sumber pembelajaran yang kaya untuk dirinya maupun orang lain
  • Siswa mendapat substansi belajar daripengalaman mereka sendiri, jadi mereka tidak bersifat pasif
  • Teknik pengajaran yang digunakan adalah : Experiental Techniques
Kesiapan Belajar
  • Kesiapan belajar ditentukan oleh pihak di luar siswa, seperti masyarakat dan sekolah.
  • Sebagian besar siswa memiliki usia sebaya dan akan memiliki kesiapan yang sama untuk belajr hal – hal yang sama
  • Program pembelajaran terorganisir ke dalam kuri -kulum yang standar dengan tahapan kemajuan yang seragam bagi semua siswa
  • Siswa dikatakan siap belajar apabila mereka memiliki kebutuhan untuk mempelajari hal–hal yang ingin mereka pelajari, dalam rangka mengatasi masalah di kehidupnyasecara memuaskan
  • Pendidik bertanggung jawab untuk menciptakan kondisi dansarana, serta prosedur untuk membantu siswa memenuhi keingin tahuannya
  • Program pembelajaran dibuat berdasarkan kemungkinan untuk diaplikasikan dalam kehidupan, dan tahapan pembelejarannya dibuat tergantung dari kesiapan siswa untuk belajar
Orientasi Belajar
  • Orientasi belajar bersifat “subject oriented”
  • Siswa memandang pendidikan sebagai proses memperoleh isi dari subjek materi yang diajarkan
  • Siswa menilai bahwa materi tersebut akan berguna di kemudian hari
  • Orientasi belajar bersifat : “ performance centered”
  • Siswa memandang pendidikan sebagai proses perkmbangan kompetensi yang dapat meningkatkan atau mencapai potensi yang sepenuhnya dalam hidup
  • Mereka ingin mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang didapat kedalam kehidupan nyata secara efektif

  1. II. MENETAPKAN TUJUAN PEMBELAJARAN

Tujuan belajar secara umum mengandung unsur:

  1. tingkah laku yang terobservasi

kalimat yang dapat digunakan sebagai pemandu misalnya : “will be able to”

Sebagai contoh : seseorang dapat bertingkah laku asertif.

  1. terdapat kriteria atau dapat diukur keberhasilannya.

kalimat yang dapat digunakan sebagai pemandu misalnya : “ how often, how many, how much, how high, how fast”.

sebagai contoh : dari lima situasi yang mengharuskannya bersifat asertif , dia dapat melakukan tiga tingkah laku yang menggambarkan bahwa ia seorang yang asertif.

  1. kondisi di mana suatu tingkah laku dapat ditampilkan

kalimat yang dapat digunakan sebagai pemandu misalnya : “without reference to the manual”

sebagai contoh : “di hadapan pimpinan dan koleganya” seorang perempuan dapat menunjukkan sifat asertifnya.

Cara lain yang dapat digunakan untuk melihat hasil belajar adalah : dengan metode yang digunakan oleh Bloom, bahwa ada tiga domain yang berperan, di mana tujuan belajar dapat ditetapkan pada: perolehan pengetahuan baru, perubahan sifat dan keterampilan/perilaku baru.

Ketiga domain tersebut adalah :

  1. Cognitive

Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang meliputi : pengetahuan, pemahaman, analisa, sintesa dan evaluasi.

  1. Afektif

Berkenaan dengan hasil belajar yang menyangkut perubahan sikap, nilai, minat dan emosi.

  1. Psikomotor

Berkenaan dengan hasil belajar yang menyangkut keterampilan dan tampilnya tingkah laku yang diharapkan.

Penetapan tujuan pembelajaran perlu ditentukan apakah tahapan hanya sampai pada peningkatan pengetahuan/wawasan, pada perubahan/perbaikan perilaku.  Karena tingkatan sasaran yang ingin dicapai akan berpengaruh pada durasi pembelajaran dan penggunaan metode – metodenya.

  1. III. METODE PELATIHAN

Ada berbagai macam metode training, namun hanya beberapa yang akan dibahas, sesuai dengan keperluan pembekalan materi yang disampaikan.  Metode– metode di bawah ini bertujuan membantu siswa/peserta mendapatkan “insight” (pemahaman yang mendalam) dan memungkinkan siswa/peserta mengalami/merasakan sendiri aplikasi dari materi yang diberikan.

  1. Ceramah : menyampaikan materi secara verbal oleh instruktur, di mana ceramah pada umumnya bersifat satu arah.  Sehingga peran siswa cenderung pasif.  Agar dapat menimbulkan komunikasi dua arah, instruktur memberikan pertanyaan – pertanyaan dan mencari umpan balik
  2. Self Asessment : melakukan penilaian terhadap diri sendiri berkenaan dengan materi yang dibahas.  Penilaian diri meliputi, misalnya : perasaan, kecenderungan minat, sikap dan perilaku, kondisi diri dan lain – lain.  Untuk mempersiapkan alat self assessment, perlu :
  • Menyusun alat yang memancing materi yang diajarkan dari diri peserta pelatihan. Dapat dilakukan dengan mulai membuat pertanyaan ataupun pernyataan yang menyangkut materi dalam aplikasinya
  • Membuat standar pengisian dan penilaian
  1. Diskusi kelompok : melakukan diskusi terhadap materi tertentu yang dijadikan tujuan pemahaman dalam pelatihan.  Disini peserta saling berbagi pemikiran, ide, serta dapat memberikan dukungan atau bantahan terhadap suatu komentar, yang pada ahirnya mencapai satu kesepakatan dalam kelompok.  Dalam pelaksanaan diskusi kelompok  seharusnya memperhatikan:
  • Diberikan materi dasar untuk didiskusikan, lalu dilakukan analisa terhadap suatu topic
  • Ditentukan tujuan yang ingin didapat
  • Ditentukan waktunya
  1. Permainan (Games) : melakukan suatu permainn untuk melihat perbandingan hasil belajar dari beberapa kelompok peserta pelatihan.  Metode ini biasanya menggugah motivasi peserta untuk belajar.  Cara – cara yang dilakukan untuk membuat games antara lain :
  • Menetukan tujuan games/permainan serta waktu yang akan digunakan
  • Menentukan aturan main yang akan diterapkan
  • Mempersiapkan alat yang akan digunakan
  1. Bermain Peran : memainkan peran tertentu sesuai dengan tujuan dari pendalaman materi yang telah diajarkan.  Dengan metode ini, peserta dapat melihat/mencontoh langsung sikap/perilaku yang diharapkan ataupun tidak diharapkan.  Peserta berkesempatan mengalami sendiri kondisi yang diharapkan tampil.  Metode bermain peran dapat dilakukan dengan :
  • Menetapkan tujuan
  • Membuat materi yang akan diperankan
  • Menentukan prosedur pelaksanaannya
  • Menentukan waktu lamanya peran dimainkan

  1. IV. KETERAMPILAN FASILITATOR

Peran seorang fasilitator adalah sebagai “delivery agent” dari sistim pembelajaran.  Oleh karena itu fasilitator perlu mempunyai keterampilan – keterampilan tertentu agar proses belajar dapat berlangsung dengan dinamis dan terciptanya hubungan timbal balik antara fasilitator dengan peserta, sehingga peserta termotivasi untuk aktif.

  1. 1. Menguasai Materi

Dalam mempersiapkan untuk berperan menjadi fasilitator maka seseorang harus menguasai materi yang akan diberikan, dengan cara :

  1. Memahami substansi materi
  2. Hafal garis besar materi
  3. Membuat rangkuman hasil materi
    1. 2. Keterampilan Komunikasi
    2. a. Pengertian Komunikasi

Komunikasi adalah proses pengiriman pesan dari pemberi pesan kepada penerima pesan.

  1. b. Proses Komunikasi
  1. c. Jenis komunikasi

Adapun jenis komunikasi antara lain :

1.  Komunikasi Verbal         :  menggunakan bahasa

2.  Komunikasi Non Verbal : yang ditandai dengan respon yang tidak menggunakan bahasa, seperti menggunakan gerak tubuh, sikap tubuh, ekspresi wajah, intonasi, volume suara, kecepatan bicara dan lain – lain.

Bahasa tubuh :

-          Tidak disadari

-          Mempunyai arti yang lebih luas

-          Lebih cepat dipahami

-          Pesan/arti yang spontan/jujur.

  1. Komunikasi yang Efektif

Agar terjadi dua arah yang efektif, maka seorang fasilitator efektif perlu :

1.  Membuat rencana komunikasi

Hal–hal apa yang ingin dikomunikasikan dan kepada siapa komunikasi tersebut diarahkan. Hal ini berkaitan dengan mengkomunikasikan materi yang ingin disampaikan kepada peserta pelatihan.

2.  Memahami kondisi peserta

Perlu disadari adanya latar belakang pendidikan, pengalaman, sosio kultur dari peserta yang berbeda–beda maka cara penyampaian materi pun harus disesuaikan dengan kondisi–kondisi tersebut agar tidak terjadi miss comunication

3.  Menggunakan umpan balik

Untuk memastikan apakah peserta telah memahami informasi yang disampaikan, adanya proses Tanya jawab antara fasilitator dengan peserta  menandakan telah terjadinya komunikasi dua arah.

4.  memakai komunikasi non verbal

Penggunaan komunikasi non verbal yang tepat dapat menguatkan pesan yang disampaikan fasilitator kepada para peserta, sehingga para peserta dapat betul–betul memahami apa yang ingin disampaikan oleh si fasilitator.

  1. e. Pendengar Aktif

Mendengar efektif adalah melibatkan para peserta pelatihan, tidak hanya sekedar memberi perhatian, namun peserta juga harus aktif, berempati dan bersikap mendukung terhadap si pembicara, sehingga mengisyaratkan bahwa “Saya mengerti, silahkan dilanjutkan”.  Pendengar yang memiliki respon seperti itu dapat dikategorikan sebagai pendengar yang aktif.

Tingkah laku yang berkaitan dengan pendengar aktif antara lain:

-                Membuat kontak mata

-                Menampilkan ekspresi wajah yang sesuai dan menganggukkan kepala

-                Menegaskan kembali (paraphrase)

-                Tidak menginterupsi pembicara

  1. 3. Gerak Fisik Fasilitator

a.   Fasilitator sebaiknya berdiri dengan tidak terhalang oleh kursi, meja taupun podium yang mungkin menghambat terjadinya komunikasi dua arah

b.   Sebaiknya fasilitator berkeliling (sewaktu kegiatan diskusi kelompok, games, role play) untuk mengetahui apakah proses pembelajaran berlangsung sesuai dengan yang diharapkan.

c.   fasilitator sebaiknya bergerak di antara peserta untuk melakukan control, memotivasi dan mereinforce (memberi penguatan) sikap dan perilaku peserta.

  1. 4. Memiliki Sifat Empati dan Asertif

Empati :

Upaya untuk mengerti dan memahami kondisi dan cara berfikir orang lain dari sudut pandang orang tersebut, tanpa melibatkan sisi penilaian dan emosi.

Fasilitator perlu memiliki sifat empati terhadap siswa agar proses pembelajaran betul – betul berdasarkan kesiapan dari siswa.

Manfaat dari sifat empati dalam pelatiahan :

  1. Fasilitator dapat mengetahui apakah siswa telah mengerti atu belum materi yang disampaikan.
  2. Kegiatan diskusi kelompok, bermain peran atau games, dapat disesuaikan dengan sasaran pencapaian dari aspek Cognitive, afektif dan psikomotor.
  3. Siswa merasa terdorong untuk terus berpartisipasi aktif selama kegiatan pelatihan berlangsung.
  4. Memungkinkan siswa merasa terbantu dalam memenuhi kebutuhan selama proses pelatihan berlangsung.
  1. V. FASILITAS PENUNJANG PEMBELAJARAN
    1. Media untuk pengajaran
      1. a. Whiteboard

-          alat yang paling mendasar dan sederhana

-          mudah didapat dan mudah penggunaannya

-          memiliki fungsi yang kurang optimal

  1. b. Flipchart
  2. c. OHP/INFOCUS

-          harga relative mahal

-          memiliki fungsi yang cukup optimal

  1. Mike

-          untuk memperjelas suara fasilitator

-          membantu peserta untuk dapat mendengar suara fasilitator secara konsisten dan stabil atas ceramah/ materi/instruksi yang diberikan

-          untuk ruangan yang relative besar, peralatan ini mutlak digunakan

  1. Dan fasilitas pendukung lainnya (seperti : film, simulator, audio tape, slide, dll)
  2. Penataan ruang pelatihan
  3. Kriteria ruang pelatihan

-          Fleksibel

Mudah diubah setting fisiknya sehingga dapat digunakan multiple fungsi (ceramah, diskusi kelompok, panggung untuk roleplay dan games)

-          Terisolasi

Jauh dari kebisingan dan gangguan lainnya

-          Penerangan/ pencahayaan

Ruang pelatihan perlu mendapat penerangan /pencahayaan yang optimal

  1. Tatanan fisik ruang pelatihan

-          sebaiknya tatanan tidak seperti ruang kelas

-          memudahkan peserta untuk saling berinteraksi

-          tidak mengesankan adanya jarak antara fasilitator dan peserta

-          memudahkan fasilitator untuk berkomunikasi dengan setiap peserta dan sebaliknya.

  1. Materi yang dibutuhkan untuk games dan roleplay → tergantung jenis games dan roleplay.
  2. VI. MODUL MATERI

Tujuan dibuat modul agar proses pelatihannya berjalan sesuai target yang diterapkan.

Modul :

Mata Kuliah/Materi    :
Bahan                         :

( Materi, fasilitas pendukung metode yang digunakan, fasilitas penunjang pelatihan beserta jumlahnya)

Tujuan umum             :

(Kompetensi Dasar)

Tujuan Khusus           :

(Indikator)

Materi                         :

( Rincian/ bab materi yang akan dibahas)

Uraian Materi             :

dan Waktu

  1. VII. EVALUASI KEGIATAN

Tujuan evaluasi kegiatan dapat ditinjau berdasarkan kegunaannya yaitu :

  1. Evaluasi Program :

Bertujuan untuk perbaikan/ peningkatan program pelatihan, yang terdiri dari :

-          menetapkan tujuan pelatihan

-          subjek materi

-          metode pelatihan

-          teknik mengajar

-          proses pembelajaran

-          fasilitator

  1. Evaluasi Oprasional :

Bertujuan untuk perbaikan/peningkatan operasional penyelenggaraan pelatihan yang meliputi :

-          identifikasi kebutuhan penyelenggaraan pelatihan

-          proses perencanaan

-          pengelolaan administrasi

-          orang – orang yang terlibat dalam penyelenggaraan pelatihan, meliputi : panitia, pakar pelatihan, petugas administrasi dan lain – lain.

-          Fasilitas fisik (ruang kelas dan alat penunjang)

-          Humas

Salah satu cara yang paling evektif dan efisien untuk mendapatkan umpan balik tentang kegiatan pmbelajaran yaitu dengan cara Questionare: formulir pertanyaan yang harus diisi oleh setiap peserta yang mencerminkan ekspresi perasaan, taraf kepuasan dan pandapat tentang kegiatan pelatihan.

Evaluasi kegiatan, biasa dilakukan pada sesi akhir dari suatu program pelatihan.  Data yang diperoleh digunakan untuk menganalisa program dan sebagai masukan untuk mendesain program pelatihan selanjutnya.

Daftar Pustaka

Robbins, Spephen P., Organizational Behavior-Concepts, Controversies and Application, Prentice Hal International, New Jarsey, 1991.

Laird, Duncan, Approaches to Training and Development, Addison-Wesley Pup., Massachhusetts, 1985

Knowles, Malcom S., The Adult Learner, Gulf Publishing, Texaz, 1998

Courtney, Sean, 1992. Why Adults Learn—Towards a Theory of Participation in Adult Education, London and New York, Routledge.

Djiwandono,  Sri Esti Wuryani, 2002. Psikologi Pendidikan,  Jakarta, Grasindo.

M. Smith, Robert, 1982. Learning How to Learn—Applied  Theory for Adults, New York, Cambridge The Adult Education Education Company.

Soemanto, Wasty, 1998,Psikologi Pendidikan, Jakarta: PT.  Rineka Cipta.

Sukaji, Soetarlinah 2000, Psikologi Pendidikan dan Psikologi sekolah, Depok, LPSP 3, Fakultas Psikologi UI.

PENERAPAN  STRATEGI  PEMBELAJARAN  APLIKATIF

Dipersiapkan oleh:

Djunaidatul Munawaroh

Melvin Silbermen melengkapi pernyataan Confucius mengenai tiga macam cara belajar yang berbeda—belajar dengan mendengar, dengan melihat, dan dengan melakukan—dengan menyatakan:

What I hear, I forget (apa yang saya dengar, saya lupa).

What I hear, see, and ask questions about or discuss with someone else, I begin to understand (apa yang saya dengar, lihat, pertanyakan atau diskusikan dengan orang lain, saya mulai memahami).

What I hear, see, discuss and do, I ackquire knowledge and skill (apa yang saya dengar, lihat, diskusikan dan saya lakukan, saya mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan).

What I teach to another, I master (apa yang saya ajarkan kepada orang lain, saya menguasainya).

Cara belajar yang demikian akan dapat melayani banyak siswa yang tentu berbeda-beda gaya belajarnya. Bobbi DePorter dan Mike Hernacki menyebutkan tiga tipe orang dengan gaya belajar yang berbeda yaitu:

(1) tipe visual; Orang-orang tipe visual lebih mengingat apa yang dilihat dari pada apa yang didengar, pembaca cepat dan tekun, tidak begitu terganggu oleh kebisingan, akan tetapi dia mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis.

(2) tipe auditorial; orang-orang verbal lebih mampu belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang dilihat atau dibaca, senang membaca dengan suara keras dan mendengarkan, sulit untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita, suka berbicara, berdiskusi dan menjelaskan sesuatu secara panjang lebar, dan bermasalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan visualisasi.

(3) tipe kinestetik; orang-orang kinestetik lebih mampu belajar dengan praktik, banyak menggunakan isyarat tubuh, berkeinginan untuk melakukan segala sesuatu, menyukai permainan yang menyibukkan, berorientasi pada fisik dan banyak bergerak, dan tidak dapat duduk diam untuk waktu yang lama.

Tipologi di atas tidak berarti setiap orang hanya memiliki satu gaya belajar, akan tetapi dia memiliki kecenderungan untuk lebih mampu belajar dan menguasai suatu pengetahuan atau ketampilan dengan metode belajar yang sesuai dengan tipe dirinya. Karena itulah guru sedapat mungkin menerapkan metode-metode belajar yang dapat memfasilitasi keberagaman tipe belajar dan membuat siswa aktif.

Active Learning juga didasarkan atas asumsi bahwa :

  1. Pembelajaran hanya bisa terjadi jika siswa merasa terlibat aktif secara mental maupun fisik.
  2. Setiap siswa memiliki potensi untuk bisa dikembangkan dengan menggunakan berbagai metode belajar—melalui diskusi, presentasi, peragaan, melakukan, dsb.
  3. Peran guru lebih sebagai fasilitator pembelajaran. Paradigma pembelajaran sekarang ini adalah Student Centered Learning, pembelajaran berpusat pada siswa; dan tidak mengikuti paradigma banking concept yang mengandaikan siswa ibarat tabung kosong yang hanya pasif menerima pelajaran. Siswa didorong untuk bisa memperoleh pengetahuan dengan caranya sendiri.

Berikut ini adalah contoh-contoh praktis kegiatan pembelajaran yang mampu membuat siswa aktif, inovatif, kreatif, dan senang (PAIKEM).

A. Jigsaw Learning

Teknik pembelajaran yang memiliki kesamaan dengan teknik “pertukaran dari kelompok” (group-to-group exchange), dengan suatu perbedaan penting: setiap peserta didik mengajarkan sesuatu.

Ini adalah alternatif menarik, ketika ada materi pelajaran yang banyak, dapat dipelajari dengan disingkat atau “dipotong”, dengan ketentuan tidak ada bagian yang harus diajarkan sebelum bagian yang lain.

Setiap kali peserta didik mempelajari sesuatu yang dipadukan dengan materi yang telah dipelajari oleh peserta didik lain, dibuat sebuah kumpulan pengetahuan yang bertalian.

Langkah-langkah:

1. Pilihlah materi belajar yang dapat dipisah menjadi bagian-bagian. Satu bagian dapat disingkat menjadi beberapa alenia atau beberapa halaman. Contohnya, antara lain:

  • Materi tentang syarat sah salat, syarat wajib salat, dan hal-hal yang membatalkan salat.
  • Materi tentang meneladani ketabahan dari kisah  Nabi Ayub AS.

2. Hitunglah jumlah bagian materi belajar dan jumlah peserta didik. Bagikan tugas yang berbeda kepada kelompok peserta yang berbeda. Contoh : misalnya sebuah kelas terdiri atas 12 orang peserta. Anggaplah anda dapat membagi materi pelajaran dalam tiga bagian, kemudian anda dapat membentuk tiga kwartet atau kelompok belajar yang terdiri dari empat orang dengan tugas membaca, berdiskusi, dan mempelajari materi yang ditugaskan kepada mereka.

3. Setelah selesai, bentuklah kelompok ”Jigsaw Learning”. Setiap kelompok mempunyai seseorang wakil dari masing-masing kelompok dalam kelas. Setiap anggota masing-masing kwartet menghitung 1,2,3, dan 4. kemudian bentuklah kelompok peserta didik ”Jigsaw Learning” dengan jumlah sama. Hasilnya akan terdapat 4 kelompok yang terdiri dari 3 orang (trio). Dalam setiap trio akan ada seorang peserta yang mempelajari bagian 1, seorang untuk bagian 2, dan seorang lagi bagian 3.

4. Mintalah anggota kelompok “Jigsaw” untuk mengajarkan materi yang telah dipelajari kepada yang lain.

5.  Kumpulkan kembali peserta didik ke kelas besar untuk memberi ulasan dan sisakan pertanyaan guna memastikan pemahaman yang tepat.

Variasi

1. Berikan tugas baru, seperti menjawab pertanyaan kelompok tergantung akumulasi pengetahuan anggota kelompok jigsaw.

2. Berikan tanggung jawab kepada peserta didik yang lain guna mempelajari kecakapan daripada informasi kognitif. Mintalah peserta didik mengajari peserta lain kecakapan yang telah mereka pelajari.

B. Everyone Is a Teacher Here (Setiap Orang adalah Guru)

Ini merupakan sebuah strategi yang mudah memperoleh partisipasi kelas yang besar dan tanggung jawab individu. Strategi ini memberikan kesempatan kepada setiap peserta didik untuk bertindak sebagai seorang ”pengajar” terhadap peserta didik lain.

Langkah-langkah:

1.  Bagikan kartu indeks kepada setiap peserta didik. Mintalah para peserta menulis sebuah pertanyaan yang mereka miliki tentang materi pelajaran yang sedang dipelajari di dalam kelas atau topik khusus yang akan mereka diskusikan di kelas. Contoh : guru menetapkan tugas bagi kelas untuk diskusi/membahas tentang kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail AS, dengan membagikan kartu indeks guru meminta peserta didik menulis sebuah pertanyaan tentang kisah tersebut. Pertanyaan tersebut dikumpulkan, kemudian dibagikan lagi untuk direspons.

2. Kumpulkan kartu, kocok dan bagikan satu pada setiap siswa. Mintalah siswa membaca diam-diam pertanyaan atau topik pada kartu dan pikirkan satu jawaban.

3. Panggilah sukarelawan yang akan membaca dengan keras kartu yang mereka peroleh dan memberi jawaban.

4. Setelah diberi jawaban, mintalah siswa lain di dalam kelas untuk menambahkan apa yang telah disumbang sukarelawan.

5. Lanjutkan selama masih ada sukarelawan.

Variasi

1. Pegang kartu yang Anda kumpulkan, bentuklah sebuah panel responsden. Baca setiap kartu dan ajaklah diskusi. Putarlah anggota panel secara berkala.

2. Mintalah peserta didik menulis sebuah opini atau observasi yang mereka miliki pada kartu tentang materi pelajaran. Mintalah peserta lain setuju atau tidak dengan opini atau observasi tersebut.

C. Team Quiz (Menguji Tim)

Teknik ini meningkatkan kemampuan tanggung jawab peserta didik terhadap apa yang mereka pelajari melalui cara yang menyenangkan dan tidak menakutkan.

Langkah-langkah:

1. Pilihlah topik yang dapat dipresentasikan dalam tiga bagian.

2.  Bagilah peserta didik menjadi 3 tim.

3. Jelaskan bentuk sesinya dan mulailah presentasi. Batasi presentasi sampai 10 menit atau kurang.

4. Minta tim A sebagai pemimpin kuis, untuk menyiapkan kuis yang berjawaban singkat. Kuis ini tidak memakan waktu lebih dari 5 menit untuk persiapan. Tim B dan C memanfaatkan waktu untuk meninjau catatan mereka.

5. Tim A menguji anggota tim B. Jika Tim B tidak bisa menjawab, Tim C diberi kesempatan untuk menjawabnya.

6. Tim A melanjutkan ke pertanyaan selanjutnya kepada anggota Tim C, dan ulangi prosesnya.

7. Ketika kuis selesai, lanjutkan dengan bagian kedua pelajaran Anda, dan tunjuklah Tim B sebagai pemimpin kuis.

8. Setelah Tim B menyelesaikan ujian tersebut, lanjutkan dengan bagian ketiga dan tentukan tim C sebagai pemimpin kuis.

Variasi:

1.  Berikan kesempatan kepada tim ini untuk menyiapkan pertanyaan kuis dari yang mereka seleksi ketika mereka menjadi pemimpin kuis.

2.  Lakukan satu pelajaran yang berkelanjutan. Bagilah peserta didik ke dalam dua tim. Di akhir pelajaran, biarkan kedua tim saling memberi kuis satu sama lain.

D. Poster Session (Membahas Poster)

Metode presentasi alternatif ini merupakan sebuah cara yang tepat untuk menginformasikan kepada peserta didik secara cepat, menangkap imajinasi mereka, dan mengundang pertukaran ide di antara mereka. Teknik ini juga merupakan sebuah cara cerita dan grafik yang memungkinkan peserta didik mengekspresikan persepsi dan perasaan mereka tentang topik yang sekarang sedang didiskusikan dalam sebuah lingkungan yang tidak menakutkan.

Langkah-langkah:

1. Mintalah setiap peserta didik menyeleksi sebuah topik yang dikaitkan dengan topik umum atau yang sedang didiskusikan/dipelajari.

2. Mintalah peserta didik mempersiapkan gambaran visual konsep mereka pada sebuah poster atau papan pengumuman (Anda tentukan ukurannya). Isi poster tersebut harus jelas, agar pengamat dapat dengan mudah memahami tanpa penjelasan tertulis atau lisan. Akan tetapi, peserta didik boleh saja memilih mempersiapkan satu halaman hand-out untuk mendampingi poster yang menerangkan lebih detil dan menayangkan bacaan lanjut.

3. Selama sesi kelas berlangsung, mintalah peserta didik memasang gambaran presentasi, dan dengan bebas berkeliling di ruangan memandang serta mendiskusikan poster yang lain. Contoh: pelajaran tentang makanan dan minuman yang diharamkan. Topik yang diberi mencakup :

  • Jenis-jenis makanan/minuman haram
  • Akibat mengkonsumsi makanan/minuman haram terhadap diri semdiri
  • Akibat mengkonsumsi makanan/minuman haram terhadap orang lain
  • Cara-cara menghindari makanan/minuman haram.

Salah satu peserta menggambarkan akibat mengkonsumsi makanan/minuman haram dengan membuat poster yang menunjukkan gambaran berikut :

  • Seseorang yang memiliki badan dengan perut buncit
  • Seseorang sedang meminum minuman beralkohol terlibat pertengkaran
  • Seseorang yang sakit kepala

Di bawah masing-masing gambar di atas ada satu paragraf singkat yang menjelaskan bagaimana dan mengapa seseorang yang mengkonsumsi makanan/minuman haram bisa menunjukkan gejala atau terlibat dalam perkara yang digambarkan dalam poster.

4. Lima belas menit sebelum kelas selesai, berundinglah dengan seluruh kelas dan diskusikan keuntungan apa yang mereka peroleh dari kegiatan ini.

Variasi:

1. Anda boleh memilih untuk membentuk tim ke dalam 2 atau 3 bentuk daripada membuat tugas individual, terutama jika topiknya terbatas.

2. Lanjutkan sesi gambar dengan diskusi panel dengan menggunakan beberapa peraga sebagai panelis.

E. Information Search (Pencarian Informasi)

Metode ini sama dengan ujian open book. Tim mencari informasi (normalnya dilakukan dalam pelajaran dengan teknik ceramah) yang menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya. Metode ini khususnya sangat membantu dalam materi yang membosankan.

Langkah-langkah:

1. Buatlah kelompok pertanyaan yang bisa dijawab dengan cara mencari informasi yang dapat dijumpai di sumber materi yang telah Anda buat untuk peserta didik. Sumber informasi bisa mencakup :

  • Selebaran
  • Dokumen
  • Buku teks
  • Buku panduan
  • Komputer mengakses informasi

2. Berilah pertanyaan-pertanyaan tentang topik

3. Biarkan peserta didik mencari informasi dalam tim kecil.

Persaingan sehat bisa membantu untuk mendorong partisipasi.

4. Tinjau kembali jawaban selagi di kelas. Kembangkan jawaban untuk memperluas jangkauan belajar.

Variasi:

1. Buatlah pertanyaan yang memaksa peserta didik untuk menyimpulkan jawaban dari sumber informasi yang ada, daripada menggunakan pertanyaan yang bisa langsung dengan pencarian.

2. Daripada mencari jawaban pertanyaan, berilah peserta didik tugas yang berbeda seperti satu kasus untuk dipecahkan, latihan yang bisa mencocokkan butir-butir soal, atau menyusun acak kata. Jika tidak diacak, tunjukkan istilah penting yang terdapat pada sumber informasi.

F. Index Card Match/Make a Match (Mencocokkan Kartu Indeks)

Ini adalah cara menyenangkan lagi aktif untuk meninjau ulang materi pelajaran. Ia membolehkan peserta didik untuk berpasangan dan memainkan kuis dengan kawan sekelas.

langkah-langkah:

1. Pada kartu indeks terpisah, tulislah pertanyaan tentang apa pun yang diajarkan didalam kelas. Buatlah kartu pertanyaan yang cukup untuk menyamai setengah jumlah siswa.

2. Pada kartu terpisah, tulislah jawaban bagi setiap pertanyaan-pertanyaan tersebut.

3. Campurlah dua lembar kartu dan kocok beberapa kali sampai benar-benar tercampur.

4. Berikan satu kartu kepada setiap peserta didik. Jelaskan bahwa ini adalah latihan permainan. Sebagian memegang pertanyaan review dan sebagian lain memegang jawaban.

5. Perintahkan kepada peserta didik untuk menemukan kartu permainannya. Ketika permainan dibentuk, perintahkan peserta didik yang bermain untuk mencari tempat duduk bersama (beritahu mereka jangan menyatakan kepada peserta didik lain apa yang ada pada kartunya).

6. Ketika semua pasangan permainan telah menempati tempatnya, perintahkan setiap pasangan menguji peserta didik yang lain dengan membaca keras pertanyaannya dan menantang teman sekelas untuk menginformasikan jawaban kepadanya.

Variasi:

1. Kembangkan kartu yang memuat kalimat dengan kata yang hilang yang harus dijodohkan dengan kartu yang memuat kata yang hilang. Misalnya, Rasul penerima kitab Taurat adalah  ______Nabi Musa AS.

2. Kembangkan kartu yang memuat pertanyaan dengan beberapa kemungkinan jawaban, misalnya, ”siapa saja yang termasuk Nabi/Rasul Ulul Azmi?” Jodohkanlah semua itu dengan kartu yang memuat bermacam-macam jawaban yang sesuai. Ketika setiap pasangan menyampaikan kuis kelompok, mintalah mereka mendapatkan beberapa jawaban dari peserta didik lain.

G.  Explisit Instruction (Pengajaran Langsung)

Pembelajaran langsung khusus dirancang untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang dapat diajarkan  dengan pola selangkah demi selangkah. Contoh: melafalkan ayat, menghafal/membaca al-Qur’an surat pendek, praktik salat.

Langkah-langkah:

  1. Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa
  2. Mendemonstrasikan pengetahuan dan ketrampilan
  3. Membimbing pelatihan
  4. Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik
  5. Memberikan kesempatan untuk latihan lanjutan

H. Card Sort (Memilah dan Memilih Kartu)

Ini merupakan kegiatan kolaboratif yang bisa digunakan untuk mengajarkan konsep, penggolongan sifat, fakta tentang suatu obyek, atau mengulangi informasi. Gerakan fisik yang diutamakan dapat membantu untuk memberi energi kepada kelas yang telah letih.

Langkah-langkah:

1. Berilah masing-masing peserta didik kartu indeks yang berisi informasi atau contoh yang cocok dengan satu atau lebih kategori.

Berikut contohnya :

  • Termasuk kiamat
  • Puasa wajib
  • Dakwah Nabi Muhammad di Makkah
  • Dibaca Idhhar

2. Mintalah peserta didik untuk berusaha mencari temannya di ruang kelas dan menemukan orang yang memiliki kartu dengan kategori sama (Anda bisa mengumumkan kategori tersebut sebelumnya atau biarkan peserta mencarinya).

3. Biarkan peserta didik dengan kartu kategorinya yang sama menyajikan sendiri kepada orang lain.

4. Selagi masing-masing kategori dipresentasikan, buatlah beberapa poin mengajar yang Anda rasa penting.

Variasi:

1. Mintalah setiap kelompok untuk membuat presentasi mengajar tentang kategori tersebut.

2. Pada awal kegiatan, bentuklah tim. Berilah masing-masing tim satu set kartu yang lengkap. Pastikan kartu tersebut dikocok, sehingga kartu kategori yang mereka sortir tidak jelas. Mintalah setiap tim untuk menyortir kartu ke dalam kategori. Setiap tim bisa memperoleh nilai untuk nomor kartu yang disortir dengan benar.

  1. I. Role Playing (Bermain Peran)

Langkah-langkah:

  1. Guru menyusun/menyiapkan skenario yang akan ditampilkan
  2. Menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario dalam waktu beberapa hari sebelum KBM
  3. Guru membentuk kelompok siswa yang anggotanya 5 orang
  4. Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai
  5. Memanggil para siswa yang sudah ditunjuk untuk melakonkan skenario yang sudah dipersiapkan
  6. Masing-masing siswa berada di kelompoknya sambil mengamati skenario yang sedang diperagakan
  7. Setelah selesai ditampilkan, masing-masing siswa diberikan lembar kerja untuk membahas penampilan masing-masing kelompok.
  8. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya
  9. Guru memberikan kesimpulan secara umum
  10. Evaluasi
  11. Penutup

J. Talking Stick

Langkah-langkah:

  1. Guru menyiapkan sebuah tongkat
  2. Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca dan mempelajari materi.
  3. Setelah selesai membaca materi/buku pelajaran dan mempelajarinya, siswa menutup bukunya.
  4. Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada siswa, setelah itu guru memberikan pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya, demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru
  5. Guru memberikan kesimpulan
  6. Evaluasi
  7. Penutup

Jakarta, 4 Juli 2009