Monthly Archives: April 2010

KECERDASAN SPIRITUAL DAN EMOSIONAL


MELEJITKAN KECERDASAN SPIRITUAL DAN KECERDASAN EMOSIONAL
KECERDASAN SPIRITUAL

“Untuk menjadi manusia yang andal, seseorang tidak hanya perlu memiliki kecerdasan intelektual dan emosi, melainkan juga kecerdasan spiritual. Kecerdasan spiritual itu merupakan kemampuan seseorang untuk menyelaraskan hati dan budi sehingga ia mampu menjadi seseorang yang berkarakter dan berwatak positif”. Demikian dikatakan oleh mantan Menteri Luar Negeri (Menlu) Alwi Shihab dalam sebuah forum diskusi yang diselenggarakan oleh Center for Corporate Leadership, di Jakarta, bertema “Mengkaji Lebih Jauh tentang Spiritual Intelligence”.

Alwi menambahkan bahwa spiritualitas itu mengarahkan manusia pada pencarian hakikat kemanusiaannya. Menurut dia, hakikat manusia itu dapat ditemukan dalam perjumpaan manusia dengan Allah. “Potensi fitrah membantu manusia untuk mencari something out there that are unknown (sesuatu di luar sana yang tidak diketahui). Allah itu amat bernilai, tetapi tersembunyi. Tetapi, rahmat Allah mengatasi batas-batas buatan manusia sehingga manusia paham tentang Allah. Dikatakan cerdas karena manusia senantiasa ingat pada Allah ketika ia melakukan karyanya,” kata Alwi Shihab.

Merupakan fenomena baru ketika sekelompok orang asyik bertafakur mengikuti wejangan-wejangan kesufian dan melakukan prosesi-prosesi spiritual tertentu di tengah ingar bingarnya kehidupan kota besar. Gejala itu dari hari ke hari semakin sering ditemukan, baik di mesjid-mesjid tradisional maupun di mesjid yang berada di perumahan elit. Gejala itu diterima sebagai suatu kenyataan bahwa pengembangan potensi akal saja tidak cukup untuk menciptakan kedamaian, kebahagiaan, dan kesejahteraan batin. Rasio tidak bisa diandalkan untuk memecahkan keresahan batin, kegoncangan jiwa, dan rasa takut. Padahal tiada hari bagi manusia kecuali menghadapi masalah kebatinan itu.

Untuk keperluan itu, dunia barat mengembangkan kajian kejiwaan yang kemudian melahirkan teori “Kecerdasan Emosi”. Pada kenyataannya, kecerdasan emosi saja tidak cukup untuk keperluan itu. Masih ada misteri yang harus diungkap lagi . Dari sinilah muncul “kecerdasan spritual”. Mendahului segala teori tentang kecerdasan spiritual yang berkembang di barat, para intelektual Muslim sudah sejak lama mengembangkan masalah ini. Tidak saja melalui kajian keilmuan, tapi juga segi praktisnya dalam bentuk prosesi-prosesi spiritual. Lahirlah berbagai aliran tarikat dengan ciri khasnya masing-masing yang pada dasarnya berikhtiar untuk mencerdaskan spiritual melalui latihan-latihan yang ketat dan disiplin keras.

Kecerdasan spiritual yang bersumber dari hati itulah yang menjadi kunci setiap orang untuk dapat meraih surga. Baik surga dalam arti sebenarnya yaitu kehidupan kelak di akhirat yang kekal, atau pun kehidupan surgawi di dunia ini.

Segala sesuatu itu bersumber dari hati. Orang yang tak memiliki hati bersih tidak dapat masuk surga. Tidak dapat digapainya surga oleh orang yang memiliki hati kotor karena kekotoran hatinya itu mengakibatkan ia selalu berbuat hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT. Hati sangat menentukan tergapainya surga karena hati merupakan pusat kontrol kesadaran manusia. “Segala tingkah laku kita di dunia ini bersumber dari hati. Jika hatinya bersih, tentu orang itu akan melangkah di dunia ini dengan baik. Jadi keimanan itu bersumber dari hati yang kemudian terpancar dalam tingkah lakunya yang baik. Ia akan menjalankan setiap perintah Allah dan menjauhi segala larangannya. Jika telah begitu, maka surga telah digapainya baik di dunia maupun akhirat,” katanya.

Harta, kekuasaan dan hubungan antarsesama merupakan potensi untuk meraih surga. Jika orang yang memiliki semuanya itu berhati bersih, maka potensi itu akan membawanya ke surga. Tetapi jika tidak, justu itu akan membawanya ke neraka karena hanya dipakai untuk memenuhi hawa nafsunya yang berakibat timbulnya keangkaramurkaan di dunia ini.

KECERDASAN EMOSIONAL

Kecerdasan Emosional (EQ) tumbuh seiring pertumbuhan seseorang sejak lahir hingga meninggal dunia. Pertumbuhan EQ dipengaruhi oleh lingkungan, keluarga, dan contoh-contoh yang didapat seseorang sejak lahir dari orang tuanya. Kecerdasan Emosi menyangkut banyak aspek penting, yang agaknya semakin sulit didapatkan pada manusia modern, yaitu:

• empati (memahami orang lain secara mendalam)
• mengungkapkan dan memahami perasaan
• mengendalikan amarah
• kemandirian
• kemampuan menyesuaikan diri utk disukai
• kemampuan memecahkan masalah antar pribadi
• ketekunan
• kesetiakawanan
• keramahan
• sikap hormat

sedangkan dalam dunia industri dan di dunia kerja yang merupakan point yang penting adalah sebagai berikut :

• Self-Awareness :
Memahami keadaan diri
o Emotional awareness
o Self Confidence
• Self-Regulation
Mengendalikan diri
o Self control
o Adaptibility
• Motivation
Mengelola faktor-faktor pendorong untuk mencapai sasaran
o Achievement drive & Commitment
• Emphaty
Menyadari perasaan & memberi perhatian terhadap orang lain
o Understanding others
• Social Skill
Mengelola hubungan dengan orang lain agar tercapai sasaran yang dikehendaki
o Communication & Team capabilities

BERSAMBUNG ..

MENGELOLA SUASANA


MENGELOLA BINA SUASANA DAN DINAMIKA KELOMPOK
10 November 2008
Suksesnya sebuah aktifitas pelatihan di tentukan oleh beberapa factor, salah satu diantaranya adalah terciptanya suasana yang nyaman dan mennyenangkan bagi peserta pelatihan. Terkadang Suasana awal sangat menentukan bagi proses belajar selanjutnya. Ada istilah yang populer � kesan pertama begitu menggoda selanjutnya �� � terserah anda �. Artinya membangun suasana di awal merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam sebuah proses pelatihan.

Mengapa suasana perlu dibangun ??

•  Biasanya dalam sebuah training peserta memiliki latar belakang yang berbeda. Walaupun hadir dengan tujuan yang sama. Ia miliki baju baju berbeda, usia, jabatan,lama bekerja, kemampuan, perilaku,gender sehingga diawal sering kali terjadi kekakuan.

•  Terkadang setiap peserta hadir dalam pelatihan memiliki tujuan yang berbeda. Maka harus di rumuskan tujuan bersama.

•  Ibarat nya setiap peserta memiliki bongkahan es yang masing �masing harus di pecahkan. Inilah makna Ice breaking .

•  Suasana yang tidak terbangun diawal menyebabkan seorang Trainer sulit untuk menyesuaikan materi yang akan dibawa.

•  Peserta merasa Jenuh, Bosan dan menganggap materi tidak menarik

Tujuan Mengelola suasana training ( ice breaking )

    1. membangun keakraban sesama peserta
    2. membangun keakraban antara peserta dan trainer
    3. menghilangkan personal block yang ada
    4. membuat daya tarik peserta terhadap materi yang akan diberikan
    5. menghantarkan peserta untuk nyaman mengikuti materi training
    6. menghantarkan peserta agar focus dan konsentrasi di setiap materi yang akan didapatkan

APLIKASI MENGELOLA SUASANA

•  salam yang menarik , yel yel

•  senam tubuh dan senam otak

•  Energizer

•  pertanyaan tebak � tebakan

•  adanya role playing /pembagian peran untuk peserta

•  Games / permainan kebersamaan , melatih konsentrasi dll

•  bernyanyi bersama.

•  Pembagian reward / hadiah

•  menceritakan kisah kisah menarik , lucu atau yang mengesankan

•  memberikan pertanyaan yang sesuai dengan materi yang sudah diberikan

Suasana yang tidak terbangun diawal menyebabkan seorang Trainer sulit untuk menyesuaikan materi yang akan dibawa.

Peserta merasa Jenuh, Bosan dan menganggap materi tidak menarik

Hindari peserta bosan dalam mengikuti materi training

Ciri ciri kebosanan peserta

•  main handphone

•  ngobrol

•  sibuk sendiri ( main pulpen , kertas dll )

•  ngantuk dan tidur

•  peserta keluar masuk ruangan

•  tidak memperhatikan pembicaraan

Dalam kelompok akan terjadi proses kelompok artinya : selama proses belajar , bekerja , mencari pengalaman bersama, terjadi interasksi diantara anggota kelompok dengan mengalami berbagai macam dinamika. Kelompok yang baik adalah ketika dinamika berjalan dengan baik dan terjadi produktivitas sehingga kelompok memiliki kinerja dan performa yang tinggi.

CONTOH SERTIFIKASI PENGAWAS


DAFTAR ISI

Halaman

I.  DAFTAR ISI               ………………………………………………….     1

II. INSTRUMEN PORTOFOLIO YANG TELAH DIISI

  1. Halaman Identitas   ………………………………………………….     2
  1. Komponen Portofolio        …………………………………………      3

III.BUKTI FISIK (DOKUMEN PORTOFOLIO)

  1. Kualifikasi Akademik          ………………………………………………….     12
  1. Pendidikan dan Pelatihan  ………………………………………….     21
  1. Pengalaman Mengajar  …………………………………………….        24
  1. Perencanaan & Pelaksanaan Pembelajaran    ………………….     25
  1. Penilaian dari Atasan dan Pengawas     ………………………….     27
  1. Prestasi Akademik    ………………………………………………….     28
  1. Karya Pengembangan Profesi       ………………………………….     33
  1. Keikutsertaan dalam Forum Ilmiah       ………………………….     35
  1. Pengalaman menjadi Pengurus Organisasi di Bidang

Kependidikan atau Sosial ……………………………………….         38

10. Penghargaan yang Relevan dengan Bidang Pendidikan   ….     40

II.INSTRUMEN FORTOFOLIO YANG TELAH DI ISI

  1. IDENTITAS PESERTA
1. Nomor Peserta : 09230592110145
2. Nama Lengkap : DRS.SUAIDIN
3. Pola Sertifiksi : PENILAIAN PORTOFOLIO
4. Bidang Kepengawasan yang Disertifiksi : PENGAWAS SMA (Matematika)
5. NUPTK : 5440741643200052
6. NIP : 19630108 198703 1 013
7. Pangkat/Golongan : Pembina IV/A
8. Masa Kerja Sebagai Guru : 11 tahun 06 bulan
9. Masa Kerja Sebagai Kepala Sekolah 07 tahun 04 bulan
10. Masa Kerja dalam jabatan Pengawas : 03 tahun 04 bulan
11. Jenis Kelamin : Laki-laki
12. Tempat, Tanggal Lahir Dompu, 08-01-1963
13. Pendidikan Terakhir/Program Studi : S1/Pendidikan Matematika
14. Beban Kerja Perminggu : 24 Jam
15. Inststansi :
  1. Nama Instansi
: Dinas Dikpora Kab.Dompu
  1. Alamat Instansi
:

:

Jln.Soeksrno Hatta,No17a
  1. Kecamatan
: Dompu
  1. Kabuaten/Kota
: Dompu
  1. Proinsi
: NTB
  1. Nomor telepon instansi
0373 21040-21182
16. Jumlah sekolah binaan 20

Dompu,                     2009

Mengetahui:
Kepala Dinas Dikpora Kabupaten Dompu

Drs.Gaziamansyuri

NIP.19649090199103 1 011

Penyusun,

DRS.SUAIDIN

NIP. 19630108 198703 1 013

2.  INSTRUMEN  PORTOFOLIO

  1. KUALIFIKASI AKADEMIK :
NO JENJANG PERGURUAN

TINGGI

FAKULTAS JURUSAN/

PRODI

TAHUN

LULUS

SKOR
a. S1/Akta IV IKIP UJUNG PANDANG FPMIPA Pendidikan Matematika 1986

  1. PENDIDIKAN DAN PELATIHAN :
NO NAMA/JENIS

DIKLAT

TEMPAT WKT

PELAKSANAAN/

(.Jam)

PENYELENGARA SKOR
a. Latihan Kerja Guru (LKG)/Sanggar PKG matematika  thn 1991 Ujung Pandang 140 Jam Kanwil depdikbud Prop Sulsel
b. Penataran Tutor Daerah  Prog Penyetaraan D3 Gr SMP thn 1992 / TOT Mataram 82 Jam Kanwil depdikbud Prop NTB
c. Penataran Tutor Daerah Prog Penyetaraan D3 Gr SMP thn 1993/TOT Mataram 84 Jam Kanwil depdikbud Prop NTB
d. Penataran Tutor daerah Prog Penyetaraan D3 Gr SMP thn 1994 Mataram 89 Jam Kanwil depdikbud Prop NTB
e. Penataran Tutor daerah Prog Penyetaraan D3 Gr SMP thn 1995 Mataram 66 Jam Kanwil depdikbud Prop NTB
f. MGMP Matematika thn 1993 Dompu 30 Jam Depdikbud
g. Latiah Kerja Guru (LKG)matematikan thn 1994 Dompu 37  Jam Depdikbud
h. Pelatihan Keterampilan Membuat dan Memanfaatkan  Media pendidikan thn 1993 M ataram 50 jam Dijen Dikdasmen Direktorat Sarana Pendidikan
i. Pelatihan CAKEP SMU thn 1996 Denpasar Bali 100 jam Direktorat Pendidikan Menengah Umum Jakarta
j. MGMP Matematika tgl 15 Nop 1995 sd 31 januari 1996 Mataram 84  Jam Kanwil Depdikbud  NTB
k. Pelatihan Kepala SMU tgl 27 sd 10 okt 1999 Mataram 140 Jam Kanwil depdikbud NTB
l. Orientasi Pendais Bagi kepala Sekolah / Wakil kepala sekolah, tgl 26 juli sd 28 juli 2001 mataram 40 Jam Dijen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam
m. Peranatan Tertulis Tipe A dengan Sisitim Belajar Mandiri bagi Guru SMU Mata tataran Karya Tulis Ilmiah thn PPPG Tertulis Bandung 600 jam Dirjen Dikdasmen PPPG tertrulis jakarta pusat
n. Pelatihan Asesor Visitasi Akreditasi Sekolah/Madrasah thn 2006  (Lulus) Mataram 40 Jam Badan Akreditasi Sekolah PrpopinsiNTB
o. Pelatihan Pengawas sekolah tg 31 Okt sd 4 Nop 2007 Dompu 81  Jam Dinas Diknas Kab.Dompu
p. Pelatihan PTK  Tkt SMP thn 2007 Dompu 40  Jam DBEP-ADB Dinas Diknas Kab.Dompu
q. Diklt Peningkatan Profesionalisme Pengawas Sekolah Dompu 54 jam Proyek DBEP-ADB Kab.Dompu
r. TOT (Training Of Trainer) Region-2 Seri-1 Program WDD/WSD –AIBEP Indonesia-Australia tgl. 10  sd 17 Agustus 2008 Htl Jayakarta  Kota Mataram 54 Jam MCPM-AIBEP Jakarta
s. TOT (Training Of Trainer) Region-2 Seri-2 Program WDD/WSD –AIBEP tgl. 19 sd 26 oktober 2008 Hotel Jaayajarta  Kota Mataram 54  Jam MCPM-AIBEP Jakarta
t. Pelatihan Kelompok Kerja Rencana Pengembangan Sekolah (KKRPSP) Seri – D tgl 8 sd 10 april thn 2008 Hotel Lambitu Kota Bima 30  jam Distrik Koordinator-AIBEP –Kab.Bima
u. Pelatihan (KKRPSP) Seri .E tgl 9 sd 13 Juni thn 2008 Hotel Lambitu Kota Bima 30  jam Distrik Koordinator-AIBEP –Kab.Bima
v. Pelatihan Kelompok Kerja Rencana Pengembangan Sekolah (KKRPSP) Seri – B tgl 3 sd 2 pebruari thn 2009 Hotel Lambitu Kota Bima 30 jam Distrik Koordinator-AIBEP –Kab.Bima
w. Worshop Penyusunan Standar Pelayanan Minimal (SPM)  Kab.Dompu th 2008 Hotel Rinjani Dompu 31 jam Dinas Diknas Kab.Dompu
x. Diklat Nasional “Pemanfaatan Media dan teknologi dalam Pembelajaran tgl 10 maret ”th 2008 Dompu 10  Jam Learnig Center UIN Alaudin Makassar
y Diklat Nasional “Pemanfaatan Media dan teknologi dalam Pembelajaran tgl 11 maret ”th 2008 Dompu 10  Jam Learnig Center UIN Alaudin Makassar

  1. PENGALAMAN BERTUGAS
NO NAMA

SEKOLAH/INSTANSI

BIDANG STUDI/

BIDANG KEPENGAWASAN

LAMA BERTUGAS

(mulai tahun..s.d tahun…)

a. Guru SMAN Kalukku Matematika 01 maret 19987 s/d 01 mei  1991
b. Guru SMAN 2 Dompu Matematika O1 mei 1991 s/d 18 agustus 1998
c. Kepala SMAN 2 Kempo Matematika 18 agstus 1998 s/d 14 sept 2002
d. Kepala SMAN 1 Kempo Matematika 14 sep 2002 s/d 5 sept 2005
e. Guru SMAN 1 manggelewa Matematika 5 sep 2005 s/d 20 januari 2006
f. Pengawas SMP/SMA matematika 20 januari 2006 s/d sekarang
Kumulatif lama mengajar :      22      tahun        2      bulan

Skor : ………….

  1. PERENCANAAN DAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
  1. Rencana Program Kepengawasan

1)   Program Tahunan

No Jenis Rencana Tahun Jumlah Sekolah Binaan Skor
1. Program Tahunan 2008/2009 20

2)   Program Semester

No Jenis Program Tahun Jumlah Sekolah Binaan Skor
a. Program Semster I 2008 20
b. Program Semester II 2009 20
Rata – Rata

3)   Rencana Kepengawasan Akademik (RKA)

No Aspek Yang Dsupervisi Semester/

Tahun

Jumlah Sekolah Binaan Skor
a. Penyusunan Silabus II/2007 20
b. Peningkatan KBM I/2008 20
c. Penyusunan RPP II/2009 20
Rata – Rata Skor

4)   Rencana Kepengawasan Manajerial ( RKM )

No Aspek Yang Dsupervisi Semester/

Tahun

Jumlah Sekolah Binaan Skor
a. Memantau 8 SNP II/2007 20
b. Membimbing kaesek menyRPS I/2008 20
c. Menilai KTSP II/2009 20
Rata – rata skor
  1. Perencanaan Pembelajaran
NO MATA PELAJARAN MATERI / KOMPETENSI SMT TAHUN SKOR
1 Matematika Peluang (aturan perkalian,permutasi,

Kombinasi dan peluang suatu kejadian)

3 2009
2 Matematika Statistik (menyajikan data dalam tabel dan diagram) 5 2007
3 Matematika Limit Fungsi 4 2008
Rata-rata skor
  1. Laporan Pelaksanaan Tugas Kepengawasan

Dokumen hasil penilaian Asesor dengan menggunakan format Penilaian yang tercantum dalam bagian II.

  1. PENILAIAN DARI ATASAN DAN PENGAWAS

Dokumen hasil penilaian dari atasan dan pengawas tentang
kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial guru di dalam amplop

tertutup.

Skor penilaian atasan ( diambil dari amplop tertutup ) :……

(diisi penilai )

  1. PRESTASI AKADEMIK :
    1. Lomba dan Karya Akademik :
No Nama Lomba/ Kejuaraan Waktu Pelaksanaan Tingkat Penyelenggara Skor
1 Juara I Lomba Pengawas Berprestasi 2008 Kabupaten Dinas Diknas Kab.Dompu
2 Juara II Lomba Pengawas Prestasi 2008 Propinsi Dinas Dikpora NTB
3 Juara I Lomba Pengawas Prestasi 2009 Kabupaten Dinas diknas kab.dompu
  1. Karya Monumental
No Nama/Jenis Karya Bulan/Tahun Diusulkan Wilayah Skor
  1. Sertifikat Keahlian/Kteterampilan dan/atau pencapaian skor TOEFL
No Nama Sertifikat Keahlian Waktu Perolehan Tingkat Lembaga Yang mengeluarkan Skor
  1. Pembimbingan Teman sejawat :
No Mata Pelajaran/Bidang studi Instruktur/Guru Inti/Tutor/Pemandu Tempat Skor
1). Pelatihan Kelompok Kerja Rencana Pengembangan Sekolah (KKRPSP Seri – C BEP-AIBEP  2009 Instruktur/Panitia Hotel La Mbitu Kota Bima
2). Bintek KTSP dan CTL Rayon 2 SMP kab.Dompu thn 2009 Fasilitator SMPN 2 Dompu
3. Bintek KTSP SMA  tgl 2 s.d 5 januari 2009, yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan SMA jakarta Fasilitator/Instruktur SMAN 1 Dompu
4. Bintek KTSP SMA Rayon Kempo dan Pekat 29 sd 30 Agsts 2008 Fasilitator/Instruktur SMAN 1 Kempo
5. Worshop MGMP Tkt SMAN Kab.Dompu tgl 17 sd 19 juli 2008 Fasilitator SMAN 1 Woja
6. Bintek KTSP SMA  Kab.dompu, tgl 27 s.d 30 Juli 2008, yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan SMA jakarta Fasilitator Daerah SMAN 1 Dompu
7. MGMP  Guru Mata Pelajaran  SMA  tgl 18 sd 20 januari Thn 2008 Fasilitator/narasumber SMAN 1 Kempo
8. MGMP  dalam Pengembangan KTSP Guru SMP semster ganjil tgl 18 sd 20 juni thn 2007 Fasilitator SMPN 3 Woja
9. MGMP  SMP Smester Genap tgl 2 sd 4 januari2008 Fasilitator SMPN 3 Woja
10. MGMP  Guru Mata Pelajaran  Tkt. SMA Semester ganjil tgl 23 sd 26 januari Thn 2008 Fasilitator/narasumber SMAN 1 Pekat
11. MGMP  Guru Mata Pelajaran Surayon 3  SMA kab Dompu 10 sd 13 januari 2007 Fasilitator/narasumber SMAN 1 Manggelewa
L2. Worshop peningkatan Kompetensi dan Kinerja Pengawas thn 2007 Fasilitator Aula Diknas Dompu
13 Whorshop pemberdayaan komite sekolah 22 sd 23 juli 2007 instruktur Dompu
14. MGMP  Guru Mata Pelajaran  SMPN 2 Woja Semester Genap tal 9 sd 11 januari Thn 2008 Fasilitator/narasumber SMPN 2 Woja
15. MGMP  Guru Mata Pelajaran Rayon 3 SMP kab.Dompu 2007/2008 Fasilitator/ SMPN 1 HU’U
16. MGMP  Guru Mata Pelajaran Rayon 1 kab.Dompu 2006 Fasilitator/ SMPN 1 Dompu
17. MGMP  Guru Mata Pelajaran Rayon 2 kab.Dompu tgl 22 sd 26 november 2006 Fasilitator/ SMPN 1 Kempo
18. Diklat Guru BK SMP/MTs Kab.Dompu tgl 1 sd 3 Nop 2007 Fasilitator/penyaji AULA SKB Dompu
19. Worshop Revitalisasi MKKS  SMP/MTs Kab.Dompu 2007 Narasumber Gedung DW Dompu
20. MGMP  Guru Mata Pelajaran Rayon 2 kab.Dompu 2008 Fasilitator/ SMPN 2 Kempo
21. Tutor Daerah Penyetaraan D3 Guru matematika SMP kab.Dompu thn 1992/1993 Tutor Dompu
22. Tutor Daerah Penyetaraan D3 Guru matematika SMP kab.Dompu thn 1993/1994 Tutor Dompu
23. Tutor Daerah Penyetaraan D3 Guru matematika SMP kab.Dompu thn 1994/1995 Tutor Dompu
24. Membimbing Guru Yunior   thn 1993/1994 Membimbing 2 orang guru SMAN 2 Dompu
25. Membimbing Guru Yunior    thn 2000/2001 Membimbing 3 orang guru SMAN 2  Kempo
26. Membimbing Guru Yunior    thn 1994/1995 Membimbing 2 orang guru SMAN 2 Dompu
27. Melaksanakan visitasi akreditasi 5 (lima) Sekolah/Madrasah  SMA dan MA di Pulau Sumbawa tgl 10 sd 18 Oktober 2008 Asesor Sumbawa
28. Melaksanakan visitasi akreditasi 4(emat ) Sekolah/Mdarasah TK,SD/MI,MTs  di Prpopinsi NTB tgl 2 sd 14 Juni 2008 Asesor Dompu
29. Melaksanakan visitasi akreditasi 5(lima) Sekolah/Madrasah TK/SD/SMP  di Propinsi NTB tgl 20 Sept sd 06  Okt 2007 Asesor Dompu
  1. Pembimbingan Siswa :

1).Pembimbing siswa sampai mendapat juara (penghargaan) :

No Nama Kejuaraan Tingkat Tempat dan Waktu Skor
a. Juara III Lomba prestasi dan Kreatifitas siswa Kabupaten Dompu,10 juli 2005

2).Pembimbing siswa tidak mencapai juara :

No Nama Kejuaraan Tingkat Tempat dan Waktu Skor
a. Juara V lomba Prestasi dan kreatifitas siswa Kabupaten Dompu tgl.10 juli 2005
  1. KARYA PENGEMBANGAN PROFESI :
    1. Karya Tulis :
No Judul Jenis Penerbit Tahun Skor
1. Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan SMP/SMA Melalui Sektor Guru Artikel Pendidikan MEDIKOM Jakarta 1992
2. Konsep Kebijakan dan Pengembangan Peningkatan Mutu Tenaga Kependidikan Makalah Presentasi Rakor Kebijakan Peningkatan Mutu Tendik Regional IV (Bali,NTB,NTT,Jawa timur) 2006
3. Gema Al-Amin Salah Satu Wadah Pembentukan Sikap Intelektual Mahasiswa Artkel Gema Al-Amin Edisi 3,Maret 2008 2008
4. Beberapa Permasalahan dalam Upaya Meningkatkan (Increace) KBM, Pembelajaran Tuntas , Kaitannya Dengan Prestasi Belajar Siswa Di Sekolah Makalah Disampaikan Pada Pertemuan MKKS SMP/SMA Kab.Dompu Dokumen MKKS 1998
5. Peranan Kewibawaan Guru dalam Upaya Pembinaan Siswa Di Sekolah Makalah Seminar Pendidikan HUT PGRI Dokumen PGRI 1999
6. Strategi Penerapan Manajemen pendidikan Berbasis Sekolah ( MBS) di Sekolah Makalah MKKS Kab.Dompu Dokumen MKKS 2003
7 Biologi dalam Persepsi Al-Quran Ditinjau dari Sudut IMTAQ Karya Tulis Dokumen Panitia 1999
  1. Penelitian :
No Judul Tahun Sumber Dana Status

Ketua/Anggota

Skor
1 Membandingkan Prestasi Belajar siswa Dengan Menggunakan Soal Pilihan Ganda dan Uraian Pada mata Pelajaran matematika Di SMUN 1 Kempo Kariya Ilmiah Komite Tunggal
2 Implementasi Pembelajaran Cooperative Learning dalam Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Pada SMAN 2 Kempo 2008 Mandiri Tunggal
3 Meningkatkan Kemampuan Komunikasi dan Pemecahan Masalah Matematika Melalui Pembelajaran Think-Talk-Write Dalam Kelompok Kecil Pada SMPN 1 Kempo 2008 Mandiri Ketua
4 Draff RAPERDA Sistim Penyelenggaraan Pendidikan Kab.Dompu 2008 Ras Dinas Diknas kab.dompu Sekertaris
  1. Reviewwer Buku atau Penulis Soal Ujian /EBTANAS :
No N a m a    K e g i a t a n Tahun Skor
  1. Media dan Alat Pembelajaran :
No Jenis Media/Alat Tahun Sumber Dana Status

(Ketua/Ang)

Skor
1 LKS/MODUL 2008 MANDIRI tunngal
2 MODUL/LKS 2009 MANDIRI TUNGGAL
3 LKS 2009 MANDIRI TUNGGAL
  1. Karya Teknologi /Seni ( TTG , patung, rupa, tari, lukis , sastra, dll )
No Nama Karya Seni Tahun Deskripsi Karya (penjelasan singkat tentang karya seni ) Skor
  1. KEIKUTSERTAAN DALAM FORUM ILMIAH:
No Jenis kegiatan Tahun Peran Tingkat Skor
a. Seleksi Guru/kepala sekolah berprestasi 2009 Tim penilai kabupaten
b. Seminar * Sertifikasi guru Menuju Guru Yang Profesional”22 desember  2008 2008 Peserta Kabupaten
c. Pemilihan/Lomba Pengawas Prestasi dan berdedikasi 2008 Pesrta Propinsi
d. Pelatihan Asesor SMA/MA Thn 2008 2008 peserta propinsi
e. Diklat Penyusunan Program kerja Tim Penggkaji kurikulum KTSP 2008 Peserta Kabupaten
f. Rakor Kebijakan Program Subsidi, Harlindung, serta Peningkatan Mutu Tenaga Kependidikan 2006 Peserta Nasional
g. Worshop Pemberdayaan TIM MBS Kabupaten Dompu 06sd 07 Juli 2007 2007 Peserta Kabupaten
h. Worshop pemberdayaan komite sekolah 22 sd 23 juli 2007 2007 Instrukutr Kabupaten
i. Diklat Pemantapan kinerja Pengawas 23 sd 25 juni 2007 2007 Panitia Pengarah kaabupaten
j. Pelatihan Ketermapilan Komputer dan pengelolan informasi (KKPI) bagi Pengawas Sekolah tgl 19 sd 24 November 2007 2007 Peserta Propinsi
k. Seminar Akreditasi Sekolah/madrasah thn 2008 2008 Pesrta Propinsi
l. Study banding Pencarian data persiapan Penysysnan draf PERDA Pendidikan  kab.Dompu 2008 Sekertaris Tim Penyusun perda Pendidikan Popinsi
m. Seminar dan Evaluasi akhir ProgramKemitraan Kepala Sekolah angkaan V th 2007 2007 Pesrta Nasional
n. Pelatihan pendidikan tgl

19 sd 20 Juni

2006

2006 Hamarta % Partnes Comunications traines & Consultants Kabupaten
o. Seminar pendidikan 1999 Peserta Kabupaten
p. Penataran Perpustakaan SMA 1988 Kanwil Depdikbud SULSEL Propinsi
q. Seminar

Pendidikan

1992 Peserta propinsi
r. Raat koordinasi TIM MBS tgl 7 juli 2007 2007 pserta kabupaten
s. Worshop Pembahasan draf PERDAPendidikan

29 m2i 2008

2008 pesrta kabupaten
t. DiklatPemantapan kinerja dan program pengembangan KTSP bagi engawas  tgl 23 sd 25 juni 2007 2007 Peserta kabupaten
u. Rakor Wajar Dikdasmen 12 thn tgl 21 april 2008 2008 Peserta Kabupaten
v Worshop TOT PJP dan Fasilitator Propinsi/kab/kota Diklat Bintek KTSP 2009 2009 Peserta Regonal
  1. PENGALAMAN MENJADI PENGURUS ORGANISASI DI BIDANG
    PENDIDIKAN DAN SOSIAL
  1. Pengalaman Organisasi :
No Jenis Organisasi Tahun Jabatan Tingkat Skor
1 WDD/WSD AIBEP  Indonesia-Australia 2008 sd sekarang District Coordinator(DC) Nasional
2 Pengurus UPA kab.Dompu 2009 Anggota Propinsi
3 Pengurus UPA kab.Dompu 2008 Anggota Propinsi
4 Pengurus  Sub Kegiatan Visi tasi Akreditasi S/M Kab.Dpu 2007 Anggot Propinsi
5 Pengurus MKPS kab.Dompu 2007 sd sekarng Sekertaris I kabupaten
6 Pengurus KKPS SMA sda Anggota kabupaten
7 TIM MBS kab.Dompu 2007 sd sekarang Anggota Kabupaten
8 Tim Pengkaji Kurikulum Kab Dompu 2008 sd sekarang Anggota Kabupaten
9 Pengurus MKKS SMA 2002 sd 2006 Sie Bid Bina Program Kabupaten
10 Pengurus PGRI cabang Dompu barat 1992 sd 1997 Sekertaris Kecamatan
11 Pengurus UNIT KORPRI Dinas Diknas 2007 sd 2012 anggota Kabupaten
12 Pengurus ranting gerakan Pramuka Kecamatan kalukku Sulsel 1991 sd 1995 Sie teknik Operasional kepramukaan Kecamatan
  1. Pengalaman mendapat tugas tambahan :
No Jabatan Tahun..s.d tahun.. Nama Sekolah

/instansi

Skor
1 Kepala Sekolah 1998 sd 2002 Kepala SMA 2 Kempo
2 Kepala Sekolah 2002 sd 2995 Kepala SMAN 1 Kempo
3 Wakil Kepala Sekolah 1994/1995

1996/1997

1997/1998

SMAN 2 Dompu

SMAN 2 Dompu

SMAN 2 Dompu

4 Pembina IMO 1993/1994

1994/1995

SMAN 2 Dompu

SMAN 2 Dompu

5 Pembina Pramuka 1995/1996 SMAN 2 Dompu
6 Pembina LKIR 1995/1996 SMAN 2 Dompu
7 Pembina Perpustakaan 1995/1996 SMAN 2 Dompu
8 Guru Pikket 1992/1993 SMAN 2 dompu
9 Anggota Tim Penilai RABPS dana Gratis  Kabupaten 2008/2009 Dinas Dikpora Kab.Domu
10 Angota Tim Penilaia wawasan Wiyatamandala 2007 Diknas Domu
11 Dosen STAI Al-Amin Dompu 2007 sd sekarang Stai Al-Amin Dompu
12 Penguji UKM ( Ujian Kualifikasi Mutu) Prog D2 PGTK dan S1 PAI 2008/2009 STAI Al-Amin Domu
  1. PENGHARGAAN YANG RELEVAN DENGAN BIDANG PENDIDIKAN
  1. Penghargaan :
No Jenis Penghargaan Pemberi

Penghargaan

Tingkat Tahun Skor
1. Piagam Pengawas Berpreastasi/berdedikasi Kepala Dinas (An.Bupati Dompu) Kabupaten 2008
2. Piagam Pengawas berprestasi/berdedikasi Gubernur NTB Propinsi 2008
3. Piagam Pengawas berprestasi . berdedikasi Bupati Dompu Kabupaten 2009
4 Piagam

Pengelolaan Sekolah

Kepala Dinas Diknas dompu kabupaten 2007
5 Piagam Kirab Remaja Nasional III, 1993 Yayasan Tiara Indonesia Nasional 1993
6 Piagam Juara II Lomba wawasan Wiyata Mandala Tkt SMP/SMA/SMK Kepala dinAS Diknas kab.dompu Kabupaten 2005
7 Piagam Juara II Lomba wawasan Wiyata Mandala Tkt SMP/SMA/SMK Kepala Dinas Diknas kab.dompu Kabupaten 2000
8 Piagam Finalis Peserta lomba kayra tulis Peningkatan IMTAQ tkt Nasional Direktorat Dikdasmen Bagpro Peningkatan Wawasan Guru jakarta Nasional 2000
9 Paiagam Juara III Nasional Lomba menanam jagung Hibrida Teknologi Modren Tkt SMU (sebagai Pembimbing ) Menko Kesra dan Taskin RI , menteri Pertanian RI, Ketua kwarnas Gerakan Pramuka Nasional 1999
10 Peserta lomba Keberhasilan guru dalam Pembelajaran Tk,Nasional ke -2 Dirjen Pendidikan dasar dan menengah Diertur pend Guru dan tenaga Teknis Nasional 1996
11 Penelitian dan pencarian data Raperda Pendidikan Dompu Kepala Dinas Dikpora Kabupaten 2008

b. Penugasan di daerah khusus :

No Lokasi Jenis Daerah Khusus Lama Bertugas           ( mulai th… s.d th…  ) Skor

Dengan ini saya menyatakan bahwa pernyataan dan dokumen di dalam Portofolio ini benar-benar hasil karya saya sendiri, dan jika di kemudian hari ternyata pernyataan dan dokumen saya tidak benar, saya bersedia menerima sanksi dan dampak hukum sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dompu ,                          2009.

Peserta Sertifikasi ,

DRS.SUAIDIN

NIP.19630108 198703 1 013

SISTEMATIKA
PROGRAM TAHUNAN PENGA

HALAMAN JUDUL (SAMPUL)

HALAMAN PENGESAHAN

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

I. PENDAHULUAN

A.  Latar belakang

B. Landasan (Dasar Hukum)

C. Visi, Misi, dan Strategi

Pengawasan,

D. Ruang Lingkup Pengawasan  (Pembinaan, Pemantauan, Penilaian)

E. Tujuan dan Sasaran

II. IDENTIFIKASI HASIL PENGAWASAN DAN KEBIJAKAN DALAM BIDANG PENDIDIKAN

A.  Deskripsi Hasil Pengawasan  Tahun Sebelumnya

B. Masalah dalam Pengawasan

C. Kebijakan dalam Bidang

Pendidikan

III. DESKRIPSI PROGRAM PENGAWASAN

(aspek/unsur/sub unsur pengawasan, butir kegiatan, tujuan, sasaran, indikator keberhasilan/target, metode kerja/teknik supervisi,    dan jadwal pelaksanaan)

A.  Program Penilaian

B. Program Pembinaan

1. Supervisi Akademik

2. Supervisi Manajerial

C. Program Pemantauan

IV. PENUTUP

Rencana Kepengawasan
Aspek Akademik

  • Rencana kepengawasan aspek akademik à (3 action/kegiatan aspek yang berbeda dari program semester yang dikumpul)
  1. ASPEK/ MASALAH: Membina/ Memantau/ Menilai
  2. TUJUAN:
  3. INDIKATOR KEBERHASILAN:

D.  STRATEGI/Metode Kerja (Teknik Supervisi):

  1. SKENARIO KEGIATAN :

1. Pertemuan awal……

2. Observasi…….

3. Pertemuan akhir……

F. SUMBER DAYA YANG DIPERLUKAN (DANA/FASILITAS dll)

G. PENILAIAN DAN INSTRUMEN

H. RENCANA TINDAK LANJUT

RENCANA PENGAWASAN AKADEMIK/MANAJERIAL

Sekolah             :                                  Pengawas sekolah      :
Kepala Sekolah/Guru/Tendik:             Tahun Pelajaran          :
Alamat Sekolah:                                   Semester                    :

Aspek/

Masalah

(1)

Tujuan

(2)

Indikator Keberhasilan

(3)

Strategi/Metode Kerja/Teknik Supervisi

(4)

Skenario Kegiatan

(5)

Sumber Daya yang diperlukan

(6)

Penilaian dan instrumen

(7)

Rencana

Tindak Lanjut

(8)

LAPORAN HASIL PENGAWASAN:

SISTEMATIKA LAPORAN (24 item x 5 =120

  • BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

B. Aspek/Masalah

C.Tujuan dan sasaran  Pengawasan

D.Ruang lingkup

  • BAB II         KERANGKA PIKIR PEMECAHAN MASALAH
  • BAB III        PENDEKATAN DAN METODE
  • BAB IV        HASIL PENGAWASAN

A. Hasil Pengawasan(Akademik dan  Manajerial)

B. Pembahasan Hasil

  • BAB V PENUTUP

A. Simpulan

B. Rekomendasi

EVALUASI DIRI SEKOLAH


Evaluasi Diri Sekolah

1.     Pengantar

Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dan Departemen Agama (Depag) telah menunjukkan komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah-sekolah di Indonesia melalui  Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP).

SPMP mendefinisikan penjaminan mutu sebagai ‘serangkaian proses dan sistem yang saling terkait untuk mengumpulkan, menganalisa dan melaporkan data  kinerja pendidik dan tenaga kependidikan, program dan lembaga. Proses penjaminan mutu mengidentifikasi  pencapaian kinerja dan prioritas untuk perbaikan, menyediakan data untuk pembuatan keputusan berbasis bukti dan membantu membangun budaya perbaikan yang berkelanjutan. Pencapaian mutu pendidikan berdasarkan SPMP dikaji berdasarkan Standar Nasional Pendidikan (SNP). Model ini mengetengahkan pengkajian mutu dan metode analisa data seperti diagram dibawah ini:

Sebagai komponen yang vital dalam SPMP, EDS dipandang sebagai dasar bagi penyusunan rencana pengembangan sekolah untuk peningkatan mutu dan sebagai penyedia informasi penting

dalam sistem manajemen data. Karena itulah EDS menjadi bagian yang integral  dalam penjaminan dan peningkatan mutu. EDS adalah suatu proses yang memberikan tanggung jawab kepada para pemangku kepentingan untuk mengevaluasi kemajuan sekolah mereka sendiri dan mendorong sekolah untuk menetapkan prioritas  kebutuhan perbaikan. Walaupun ini merupakan pendekatam berbasis sekolah, tetapi proses ini juga mengisyaratkan adanya keterlibatan  dan dukungan dari orang-orang yang bekerja dalam berbagai tingkatan, dan hal ini tentu saja membantu terjaminnya transparansi dan validasi proses.

EDS penting karena para pemangku kepentingan:

  • Merasa memiliki dan mempunyai tanggung jawab untuk pengembangan sekolah mereka sendiri.
  • Mengetahui apakah sekolah mereka telah memenuhi standar nasional dan apakah mereka telah memenuhi kebutuhan setempat dan kebutuhan  peserta didik mereka
  • Menggunakan informasi yang dikumpulkan untuk menyusun rencana pengembangan sekolah menuju peningkatan mutu berkelanjutan
  • Menyediakan informasi bagi sistem untuk memungkinkan diberikannya dukungan yang terarah dan memadai berdasarkan kebutuhan mereka.

2.     Tujuan  EDS

a)     Menilai pencapaian kinerja mutu pendidikan  berdasarkan indikator kunci untuk  mengetahui keberhasilan yang dicapai dan mengidentifikasi hal-hal yang membutuhkan perbaikan

b)     Menyusun rencana dan menetapkan prioritas  untuk perbaikan dan pengembangan sekolah berdasarkan informasi yang terkumpul

c)      Menyediakan informasi mengenai pencapaian kinerja sekolah  melalui sistem manajemen data  tingkat kabupaten/kota, propinsi, dan nasional.

  1. 3. Latar Belakang

EDS dikembangkan berdasarkan upaya yang sudah berjalan dalam sistem ini, khususnya yang terkait dengan perencanaan pengembangan sekolah dan manajemen berbasis sekolah, serta dikaitkan dengan inisiatif-inisiatif berikut ini yang memang sudah berjalan, seperti:

Undang-Undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen

Peraturan Pemerintah No.78 tahun 2008 tentang Guru

Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 mengenai Standar Nasional Pendidikan

Peraturan Pemerintah No.65 tahun 2005 tentang Standar Pelayanan Minimal

Delapan Standar Nasional Pendidikan dan peraturan pemerintah terkait

Akreditasi sekolah

Permendiknas  No. 7 dan 8 tahun 2007 mengenai LPMP dan P4TK

Permendiknas No. 12  tahun 2007 mengenai Pengawas

Permendiknas No. 50 tahun 2007 mengenai standar manajemen pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah propinsi dan kabupaten

Renstra Depdiknas 2005-2009

Renstra Depag 2005-2009

Rencana Pengembangan Sekolah

EDS bukanlah proses yang bersifat birokratis atau mekanistis, melainkan suatu proses dinamis yang melibatkan semua pemangku kepentingan sekolah. EDS perlu dikaitkankan pada proses perencanaan sekolah dan dipandang sebagai bagian yang penting dalam siklus kinerja sekolah. Sebagai kerangka kerja untuk perubahan dan perbaikan, proses ini secara mendasar menyikapi 3 pertanyaan kunci dibawah ini:

  • Seberapa baik kinerja sekolah? Dengan EDS akan diperoleh informasi  mengenai pengelolaan sekolah yang telah memenuhi SNP untuk digunakan sebagai dasar penyusunan RPS/RKS dan RAPBS/RKAS.
  • Bagaimana mengetahui kinerja sekolah sesungguhnya? Dengan EDS akan diperoleh informasi tentang kinerja sekolah yang sebenarnya dan informasi tersebut diverifikasi dengan bukti-bukti fisik yang sesuai.
  • Bagaimana memperbaiki kinerja sekolah? Sekolah menggunakan informasi yang dikumpulkan dalam EDS untuk menetapkan apa yang menjadi prioritas bagi peningkatan sekolah dan digunakan untuk mempersiapkan RPS/RKS dan RAPBS/RKAS.

Sekolah menjalankan proses ini setiap tahunnya dengan menggunakan seperangkat indikator kinerja untuk melakukan pengkajian secara obyektif terhadap kinerjanya dan karakter daerah yang dilakukan berdasarkan indikator kunci dalam delapan SNP. Informasi tambahan mengenai tingkat pencapaian sekolah dalam memenuhi kebutuhan semua peserta didiknya dan kapasitas sekolah untuk perbaikan dan tingkat dukungan yang dibutuhkan juga menjadi perhatian penting EDS . Data dapat juga dikaitkan dengan kebutuhan lokal dan informasi khusus terkait dengan sekolah. Informasi kuantitatif seperti tingkat penerimaan siswa baru, hasil ujian, tingkat pengulangan dan lain-lain, beserta informasi kualitatif seperti pendapat dan penilaian profesional para pemangku kepentingan di sekolah akan dikumpulkan guna mendapatkan gambaran secara menyeluruh. Semua informasi ini kemudian digunakan sebagai dasar untuk mempersiapkan  rencana pengembangan sekolah.

Selama berjalannya proses, diharapkan dapat dikembangkan visi dan misi yang jelas mengenai harapan para pemangku kepentingan terhadap sekolah mereka. Untuk dapat membangun visi dan misi bersama mengenai mutu ini, maka perlu bagi semua pemangku kepentingan untuk terlibat dalam proses untuk menyepakati nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang akan ditetapkan. Visi bersama akan membawa pada arah yang lebih jelas kedepan.

Yang juga penting adalah bahwa bukti-bukti yang terpilih untuk menunjukkan pencapaian adalah bukti yang dapat digunakan untuk melakukan evaluasi. Hal ini dapat dicapai dengan menggunakan kisaran indikator dan sumber informasi termasuk data, pendapat dan hasil observasi.

Triangulasi bukti ini menjamin bahwa konsistensi akan terus diperiksa  dan  indikator-indikator yang ada dipandang dari berbagai sudut untuk memberikan informasi mengenai apa yang sebenarnya sedang terjadi. Hal ini penting mengingat apa yang dituliskan dalam dokumen tidak selalu  merupakan hal yang sebenarnya terjadi. Misalnya, rencana mengajar yang tertulis tidak selalu merupakan bukti bagaimana pembelajaran itu dilaksanakan, dokumen kurikulum bukan merupakan bukti bahwa kurikulum disampaikan dengan utuh, dan sarana belajar dapat “dihitung” tapi tidak  selalu digunakan secara efektif.

Karena itu  sekolah akan mengukur dampak dari berbagai kegiatan penting terhadap peserta didik dan  kegiatan belajar mereka, setiap tahun sekolah juga memeriksa hasil dan dampak dari kegiatan belajar mengajar dan upaya sekolah dalam memenuhi kebutuhan peserta didik. Yang harus dicatat adalah banyak aspek yang saling berkaitan, dimana kelebihan dan kelemahan dalam satu aspek akan mempengaruhi aspek lain. Hal  yang sangat penting dalam proses ini adalah sekolah  menggunakan EDS  untuk memprioritaskan bidang yang memerlukan peningkatan dan menyiapkan rencana pengembangan/peningkatan sekolah. Proses ini kemudian menjadi bagian dari siklus pengembangan dan peningkatan yang berkelanjutan.

Dengan melibatkan semua pemangku kepentingan sekolah (kepala sekolah, guru, peserta didik, orang tua, komite sekolah, anggota masyarakat yang relevan, pengawas sekolah), diharapkan bahwa tujuan dan nilai yang jelas dapat dipadukan pada proses ini sehingga akan menjadi bagian dari etos sekolah. Yang perlu diingat, informasi yang didapatkan harus dianggap penting dan tidak lagi  sebagai beban atau hanya sekedar sebagai daftar data yang perlu dikumpulkan karena diminta oleh pihak luar. Proses ini harus merupakan satu refleksi dan berkaitan dengan perubahan dan perbaikan.  Karena itu EDS hanya akan berguna jika  dapat membawa sekolah pada peningkatan pengalaman pendidikan dan hasilnya bagi para peserta didik. Dengan demikian sekolah akan menjadi pemain inti dalam peningkatan mutu dan memberikan penjaminan mereka sendiri terhadap mutu yang mereka berikan.

  1. 4. Manfaat EDS

a) Bagi sekolah

  • Sekolah dapat mengidentifikasikan kekuatan  dan kelemahan untuk merencanakan pengembangan
  • Sekolah dapat mengidentifikasi hambatan,tantangan, dan peluang serta mendiagnosis hal-hal yang perlu dilakukan untuk perbaikan.
  • Sekolah memiliki data yang akurat sebagai dasar  pengembangan dan peningkatan mutu di masa mendatang
  • Sekolah dapat mengidentifikasikan peluang untuk meningkatkan mutu pendidikan yang disediakan, mengkaji apakah inisiatif peningkatan tersebut berjalan dengan baik dan menyesuaikan diri.
  • Sekolah dapat memberikan laporan formal kepada pemangku kepentingan demi meningkatkan akuntabilitas sekolah

b) Bagi lembaga lain dalam sistem

  • Menyediakan data dan informasi untuk pengambilan kebijakan pendidikan, perumusan program dan perencanaan anggaran pada tingkat kabupaten/kota, propinsi dan nasional
  • Mengidentifikasi bidang prioritas untuk meningkatkan sarana dan prasarana
  • Mengidentifikasi tingkatan dan jenis dukungan yang dibutuhkan
  • Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan/pengembangan pendidik dan tenaga kependidikan
  • Mengidentifikasi keberhasilan sekolah berdasarkan berbagai indikator kunci.
  1. 5. EDS dan kaitannya  dengan Penjaminan dan Peningkatan Mutu

Diagram di bawah ini menunjukkan keterkaitan antara kegiatan untuk penjaminan dan peningkatan mutu dan juga menunjukkan alur informasi dan urutan kegiatan.

  1. 6. Proses Evaluasi Diri Sekolah

Proses ini memberikan dasar bagi penyusunan RPS/RKS, termasuk Pengembangan Sekolah Terpadu/Whole School Development (WSD) dari Basic Education Program (BEP).

Diagram berikut ini menunjukkan sistem untuk EDS, termasuk peran dan tanggung jawab utama.

Keterangan terperinci mengenai hal ini dijelaskan dalam bagian setelah diagram di bawah ini:

6.1. Pelatihan

Sebelum pelaksanaan EDS perlu pelatihan tentang  prinsip-prinsip dan metodologi EDS. Pelatihan ini mempersiapkan TPS agar dapat melaksanakan evaluasi secara obyektif yang menjamin validitas dan menggunakan informasi yang dikumpulkan sebagai dasar  penyusunan RPS/RKS.

Pelatihan ini dilaksanakan dengan menggunakan tahapan berikut ini:

  1. Tim teknis kabupaten/kota, LPMP, dan BDK dilatih melalui ToT (training of trainers)
  2. Koordinator kabupaten/kota (posisi ini sudah ada di kabupaten/kota yang tercakup dalam program WSD BEP dan telah menerima pelatihan dalam perencanaan pengembangan sekolah) dan pengawas sekolah terpilih dilatih sebagai pelatih oleh LPMP
  3. Koordinator kabupaten/kota dan pengawas sekolah terpilih melatih TPS

LANJUTKAN

6.2. Melengkapi Proses EDS

Setelah pelaksanaan pelatihan, kepala sekolah bekerja sama dengan pengawas sekolah akan menetapkan dan mengawasi TPS. Tim ini harus melibatkan masing-masing seorang wakil dari komite sekolah, guru, orang tua, dan perwakilan lain dari kelompok masyarakat atau kelompok agama yang memang dipandang layak untuk diikutsertakan.

Tim ini akan menggunakan instrumen yang disediakan untuk memberikan profil mengenai situasi sekolah dan mengkaji kinerja berdasarkan indikator pencapaian. Informasi yang didapatkan kemudian akan dianalisa dan digunakan oleh TPS untuk mengidentifikasi kelebihan dan bidang yang memerlukan perbaikan, serta merencanakan program tahunan. Pengawas sekolah harus dilibatkan secara penuh untuk mendukung sekolah baik dalam melengkapi evaluasi tersebut dan untuk mengimpelementasikan rencana perbaikan yang dikembangkan berdasarkan hasil dari proses ini. Keterlibatan pengawas sekolah juga akan mendorong terciptanya transparansi dan keandalan data yang dikumpulkan, dan membantu sekolah untuk melangkah maju dalam program perbaikan mereka. Pengawas sekolah dan kepala sekolah akan menjadi pemain inti dalam pelibatan semua pemangku kepentingan untuk mendapatkan gambaran yang realistis mengenai sekolah yang berdasarkan itu  perbaikan dapat dilakukan,  dan bukan hanya sekedar sebagai  data yang menunjukkan pencapaian standar.

6.2.1. Menggunakan Instrumen

Evaluasi instrumen ini didasarkan pada standar nasional dan akan memberikan dua tujuan untuk menyediakan informasi bagi rencana pengembangan sekolah, seiring dengan pemutakhiran sistem EMIS nasional. Agar proses ini relevan dengan sekolah maka hanya aspek-aspek dari 8 standar nasional yang paling terkait  yang akan diikut sertakan. Bidang dan pertanyaan inti yang disediakan dalam instrumen tersebut akan merefleksikan luasnya bidang yang penting bagi sekolah, dan ini  telah dipilih sebab bidang-bidamg itulah yang dapat dikembangkan oleh sekolah dan karenanya dapat digumakan dalam merencanakan perbaikan sekolah. Karena itulah maka telah diantisipasi agar sekolah dapat mengidentifikasi proses ini dan tidak memandangnya sekedar sebagai kegiatan pengisian formulir saja. Yang penting untuk ditekankan disini adalah sekolah harus melaporkan situasi nyata yang ada di sekolah mereka dan kemudian, saat proses ini diulang, mereka harus mampu menunjukkan adanya perbaikan seiring dengan waktu yang berjalan. Mohon lihat Instrumen EDS.

Berlandaskan pemakaian analisa SWOT yang dipakai sekarang untuk  perencanaan pengembangan sekolah, Sekolah akan diharuskan mengevaluasi kekuatan dan kelemahan mereka terhadap berbagai judul dan pertanyaan yang disediakan. Proses ini juga berangkat dari upaya yang telah berjalan melalui program WSD BEP dan inisiatif lainnya dalam hal perencanaan pengembangan sekolah. Sekolah akan mengevaluasi keseluruhan keefektifan mereka dengan cara menjawab pertanyaan inti berikut ini dan berdasarkan bidang umum dibawah ini:

  1. 1. Standards Sarana dan prasarana

1.1.                     Apakah sarana sekolah sudah memadai?

1.2.                     Apakah sekolah dalam kondisi terpelihara baik?

2.   Standar Isi

2.1.               Apakah kurikulum sudah sesuai dan relavan ?

2.2.               Bagaimana sekolah menyediakan apa yang dibutuhkan dalam pengembangan pribadi peserta didik ?

3.   Standar Proses

3.1.                     Apakah silabus silabus sudah sesuai dan relevan?

3.2.                     Apakah RPP ditencanakan untuk mencapai pembelajaran yang efektif?

3.3.                     Apakah sumber belajar untuk pembelajaran dapat diakses dan dipergunakan secara tepat?

3.4.                     Apakah Pembelajaran menerapkan prinsip-prinsip PAKEM/CTL?

3.5.                     Apakah sekolah memenuhi kebutuhan sarana peserta didik ?

3.6.                     Bagaimana cara sekolah mempromosikan dan mempertahankan etos pencapaian prestasi?

4.   Standar Penilaian

4.1.                     Sistem apakah yang sudah tersedia untuk memberikan penilaian  bagi peserta didik, baik dalam bidang akademik maupun non akademik ?

4.2.                     Bagaimana penilaian berdampak pada proses belajar?

4.3.                     Apakah orang tua terlibat dalam proses belajar anak mereka?

5.   Standar Kompetensi Lulusan

5.1.                     Apakah peserta didik dapat mencapai prestasi akademik yang diharapkan?

5.2.                     Apakah peserta didik dapat mengembangkan potensi secara penuh sebagai anggota masyarakat ?

6.   Standar Pengelolaan

6.1.                     Apakah kinerja pengelolaan berdasarkan kerja tim dan kemitraan yang kuat, dengan visi dan misi yang jelas dan diketahui oleh semua pihak?

6.2.                     Apakah ada tujuan dan rencana untuk perbaikan yang memadai ?

6.3.                     Dampak rencana pengembangan sekolah terhadap peningkatan hasil belajar

6.4.                     Bagaimanakah cara pengumpulan dan penggunaan data yang handal  dan valid?

6.5.                     Bagaimana cara mendukung dan memberikan kesempatan pengembangan profesi bagi para pendidik dan tenaga kependidikan?

6.6.                     Bagaimana cara masyarakat sekitar mengambil bagian dalam kehidupan sekolah?

7.   Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan

7.1.                     Apakah pemenuhan jumlah pendidik dan tenaga kependidikan lainnya sudah memadai ?

8.   Standar Pembiayaan

8.1.                     Bagaimana sekolah mengelola keuangan?

8.2.                     Upaya apakah yang telah dilaksanakan oleh sekolah untuk mendapatkan tambahan dukungan pembiayaan lainnya?

8.3.                     Bagaimana cara sekolah menjamin kesetaraan akses?

Evaluasi ini akan didasarkan pada seperangkat indikator bagi setiap judul, yang dikaitkan dengan standar nasional, dan sekolah akan memberi peringkat kinerja mereka berdasarkan skala nilai sampai dengan 4 seperti di bawah ini:

4 – Sangat baik (sangat utama, kekuatan utama)

3 – Baik (kekuatan yang penting, tetapi masih ada ruang untuk perbaikan)

2 – Cukup (ada beberapa kekuatan dan kelemahan, tetapi masih sangat bisa ditingkatkan)

1 – Tidak memuaskan (banyak kelemahan utama dan membutuhkan perbaikan besar)

Hasil evaluasi akan memberikan dasar bagi rencana pengembangan sekolah dan perencanaan perbaikan.


6.2.2. Sumber Bukti

Saat melaksanakan evaluasi, sekolah perlu menunjukkan pencapaian mereka dibandingkan dengan indikator kinerja. Mereka perlu mengumpulkan data dan informasi dengan menggunakan berbagai jenis metode untuk memberikan pembuktian yang akan mendukung hasil evaluasi mereka. Hal ini mencakup observasi dan konsultasi dengan kelompok perwakilan pemangku kepentingan termasuk komite sekolah, orang tua, guru, peserta didik dan kelompok yang relevan lainnya. Pembuktian ini dapat diberikan dari berbagai sumber, termasuk:

a)     Data kuantitatif seperti:

  • Prestasi peserta didik dalam Ujian Nasional
  • Kemajuan peserta didik dalam mencapai target yang telah ditetapkan
  • Kemajuan secara keseluruhan terhadap target yang telah ditetapkan
  • Jumlah peserta didik
  • Jumlah putus sekolah peserta didik
  • Tingkat kehadiran peserta didik
  • Tingkat kemajuan dan penempatan di luar sekolah
  • Jumlah guru
  • Kualifikasi guru

b)     Informasi kualitatif dari opini berbagai individu dan kelompok seperti:

  • Wawancara individual dengan guru dan pegawai lainnya
  • Wawancara individual dengan orang tua peserta didik
  • Wawancara/ diskusi dengan peserta didik
  • Diskusi kelompok
  • Kelompok terarah
  • Kelompok kerja
  • Kuesioner dan survey untuk mengukur tingkat kepuasan dan mendapatkan saran untuk meningkatkan keefektifan
  • Respon tertulis dan komentar terperinci
  • Pertemuan tim pada semua tingkatan

c)      Informasi kualitatif dan kuantitatif sebagai hasil dari observasi langsung terhadap proses belajar mengajar seperti:

  • Membayangi individu peserta didik
  • Ikut dalam kelas selama satu hari penuh
  • Mengamati pelajaran
  • Merekam dengan video cara mengajar sendiri
  • Pertukaran kelas antar guru
  • Observasi antar sesama guru

d)     Informasi kualitatif dan kuantitatif dari berbagai dokumen seperti:

  • Hasil kerja peserta didik
  • Laporan pada orang tua
  • Catatan atau buku harian pekerjaan
  • Program studi atau skema kerja
  • Rencana mengajar guru
  • Laporan kemajuan mengenai rencana pengembangan sebelumnya
  • Bahan pelajaran untuk berbagai tingkatan kemampuan
  • Kebijakan dan panduan sekolah
  • Notulen rapat


6.3. Rencana Pengembangan Sekolah

TPS akan menganalisa informasi yang dikumpulkan dan akan menggunakannya untuk mengidentifikasi dan memprioritaskan bidang yang membutuhkan perhatian, yang kemudian akan menjadi dasar bagi rencana pengembangan sekolah. Proses ini  akan berkontribusi untuk mengimplementasikan kebijakan pemerintah yang menyatakan bahwa sekolah harus melengkapi rencana tahunan pengembangan sekolah .

Berdasarkan informasi yang dikumpulkan, rencana pengembangan sekolah akan berisikan prioritas perbaikan dalam jumlah kecil dan dapat dikelola oleh sekolah dengan hasil yang telah ditentukan dan berfokus pada peningkatan pencapaian dan pembelajaran. Kesemuanya ini harus dapat diobservasi dan diukur sejauh mungkin. Rencana ini akan berisikan tanggung jawab untuk pengimplementasian yang telah dijelaskan, dilengkapi dengan kerangka waktu, batast waktu dan ukuran keberhasilan. Sekolah akan didorong untuk mencari solusi dan membuat perubahan dengan cara melakukan upaya yang bedasarkan kekuatan mereka, dan hal ini diketahui akan bergantung pada pengembangan kemampuan strategis kepala sekolah dan pengawas sekolah.

Yang telah diantisipasi adalah bahwa dengan mengacu pada kisaran luas data dan informasi yang bisa didapatkan dari EDS, hasilnya bukan saja  perencanaan akan lebih tepat, tetapi juga  evaluasi kemajuan di masa mendatang dapat ditingkatkan dikarenakan adanya data andal yang dapat dijadikan sebagai acuan. Hal ini akan lebih mempermudah  sekolah dalam  mengemukakan perbaikan yang telah mereka capai seiring dengan waktu.

6.4. Pelaporan Hasil Temuan

Sekolah akan mempersiapkan  laporan dalam format terpisah untuk diserahkan kepada kantor Dinas Pendidikan kabupaten sebagai informasi dan akan dimasukkan dalam sistem EMIS. (Lihat Format Laporan EDS).

Laporan sekolah mengenai temuan mereka akan divalidasikan secara internal oleh pengawas sekolah dan divalidasikan secara eksternal oleh Kelompok Kerja Pengawas Sekolah pada tingkan kecamatan dengan dukungan dari staf penjaminan mutu LPMP. Untuk mencegah terjadinya luapan pekerjaan, kegiatan ini harus dilaksanakan berdasarkan sampling saja, dimana laporan setiap sekolah divalidasikan paling tidak satu kali setiap lima tahun. Hal ini dapat berjalan berdampingan dengan siklus lima tahun akreditasi sekolah yang memungkinkan validasi laporan sekolah sebanyak dua kali dalam jangka waktu lima tahun. Validasi dapat dilaksanakan lebih sering bagi sekolah yang dianggap memang memerlukan perhatian khusus, baik dikarenakan keraguan keandalan data, atau dikarenakan kinerja sekolah itu sendiri. Setelah divalidasi, laporan temuan akan dikirimkan kepada kantor Dinas Pendidikan  kabupaten untuk dianalisa dan informasinya digunakan untuk perencanaan peningkatan mutu dan untuk dimasukkan dalam sistem EMIS nasional.

Informasi dalam database nasional dapat diakses oleh seluruh kantor Diknas nasional dan propinsi melalui sistem EMIS online untuk memberikan informasi mengenai perencanaan dan kegiatan peningkatan mutu. Kegiatan ini akan difasilitasi dan dimonitor oleh LPMP dalam peran baru mereka.

7.   Langkah Kedepan

  • Mengembangkan model yang lebih terperinci dalam kerjasama dengan Depdiknas dan Depag
  • Menyepakati konsep pada tingkat nasional, propinsi, kabupaten dan sekolah
  • Bekerja sama dengan perwakilan kelompok pemangku kepentingan untuk mengembangkan instrumen yang akan digunakan oleh sekolah – berdasarkan 8 standar nasional tetapi mencakup informasi lain yang relevan dan penting. Ini untuk memprioritaskan dan mentargetkan informasi yang paling berguna bagi pengembangan tingkat sekolah.
  • Dalam sebuah lokakarya dengan perwakilan guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, kantor Dinas Pendidikan kabupaten dan staf LPMP meriviu dan merevisi indikator dan mengembangkan tingkatan pencapaian terhadap standar ini
  • Memfinalisasi instrumen dan mempersiapkan bahan-bahan pelatihan untuk menjamin bahwa sekolah akan menerima dukungan dalam tugas mereka dan bahwa informasi yang dikumpulkan digunakan untuk memberikan informasi perencanaan sekolah, kabupaten, propinsi dan nasional. Pelatihan akan dikembangkan berdasarkan waktu dan sumber daya yang tersedia
  • Menyediakan pelatihan pada semua tingkatan untuk melengkapi EDS  dan untuk mulai melekatkan proses ini dalam sistem, khususnya untuk mendorong perubahan pola pikir yang dibutuhkan untuk proses ini
  • Proses ini akan dilakukan secara pilot di 12 sekolah di masing-masing dari 3 kabupaten
  • Hasil dari program rintisan tersebut akan diriviu dan direvisi

Program rintisan  akan diperluas untuk mencakup lebih banyak sekolah dengan harapan dapat mencapai cakupan nasional

ANALISIS MODEL PENDIDIKAN ORANG DEWASA


ANALISIS MODEL PENDIDIKAN ORANG DEWASA

Dipersiapkan oleh:

SUAIDIN

  1. I. PENDEKATAN PEMBELAJARAN

Pendekatan yang dimaksud di sini adalah perspektif yang digunakan dalam mendesain pembelajaran dengan memanfaatkan metode, media, dan teknik pembelajaran yang dipilih. Adapun model, adalah contoh aplikasi desain pembelajaran tersebut.

Memperhatikan bahwa peserta pelatihan adalah orang dewasa, maka pendekatan yang dilakukan adalah berdasarkan pendidikan orang dewasa, yang disebut Andragogi. Pengertian Andragogi adalah  seni dan ilmu tentang cara menolong orang dewasa untuk belajar. Andragogi, bebeda dengan model pembelajaran yang dikembangkan terdahulu yang berdasarkan pedagogi; yaitu seni dan ilmu tentang cara menolong anak – anak  untuk belajar.

Untuk menganalisis model pembelajaran orang dewasa secara lebih jelas, berikut ini terlebih dahulu dibedakan antara kedua pendekatan tersebut, yang dapat dibagi ke dalam empat dasar perbandingan, yaitu :

Perbandingan Pedagogi Androgogi
Konsep Siswa
  • Peran siswa bersifat tergantung (dependent)
  • Guru diharapkan dapat memegang tanggung jawab penuh untuk menentukan apa yang harus dipelajari, kapan terjadinya dan bagaiman cara pembelajaran, serta hasil yang ingin dicapai seperti apa
  • Pern siswa “self directedness
  • Guru bertanggung jawab untuk mendorong dan membimbing proses belajar
  • Secara psikologis seseorang memiliki kebutuhan untuk mengarahkan dirinya sendiri, meski kadang kala pada situasi tertentu masih tergantung pada gurunya
Role of Learner Experience (pengalaman siswa)
  • Pengalaman siswa kurang dihargai, mungkin hanya digunakan pada awal saja dan untuk seterusnya pengalaman yang diperoleh siswa kebanyakan diperoleh dari guru, textbook, audiovisual, atau ahli – ahli lainnya.
  • Tekhnik utama pengajaran adalah tekhnik transmittal, seperti melalui kuliah, membaca
  • Pengelaman siswa dijadikan sumber pembelajaran yang kaya untuk dirinya maupun orang lain
  • Siswa mendapat substansi belajar daripengalaman mereka sendiri, jadi mereka tidak bersifat pasif
  • Teknik pengajaran yang digunakan adalah : Experiental Techniques
Kesiapan Belajar
  • Kesiapan belajar ditentukan oleh pihak di luar siswa, seperti masyarakat dan sekolah.
  • Sebagian besar siswa memiliki usia sebaya dan akan memiliki kesiapan yang sama untuk belajr hal – hal yang sama
  • Program pembelajaran terorganisir ke dalam kuri -kulum yang standar dengan tahapan kemajuan yang seragam bagi semua siswa
  • Siswa dikatakan siap belajar apabila mereka memiliki kebutuhan untuk mempelajari hal–hal yang ingin mereka pelajari, dalam rangka mengatasi masalah di kehidupnyasecara memuaskan
  • Pendidik bertanggung jawab untuk menciptakan kondisi dansarana, serta prosedur untuk membantu siswa memenuhi keingin tahuannya
  • Program pembelajaran dibuat berdasarkan kemungkinan untuk diaplikasikan dalam kehidupan, dan tahapan pembelejarannya dibuat tergantung dari kesiapan siswa untuk belajar
Orientasi Belajar
  • Orientasi belajar bersifat “subject oriented”
  • Siswa memandang pendidikan sebagai proses memperoleh isi dari subjek materi yang diajarkan
  • Siswa menilai bahwa materi tersebut akan berguna di kemudian hari
  • Orientasi belajar bersifat : “ performance centered”
  • Siswa memandang pendidikan sebagai proses perkmbangan kompetensi yang dapat meningkatkan atau mencapai potensi yang sepenuhnya dalam hidup
  • Mereka ingin mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang didapat kedalam kehidupan nyata secara efektif

  1. II. MENETAPKAN TUJUAN PEMBELAJARAN

Tujuan belajar secara umum mengandung unsur:

  1. tingkah laku yang terobservasi

kalimat yang dapat digunakan sebagai pemandu misalnya : “will be able to”

Sebagai contoh : seseorang dapat bertingkah laku asertif.

  1. terdapat kriteria atau dapat diukur keberhasilannya.

kalimat yang dapat digunakan sebagai pemandu misalnya : “ how often, how many, how much, how high, how fast”.

sebagai contoh : dari lima situasi yang mengharuskannya bersifat asertif , dia dapat melakukan tiga tingkah laku yang menggambarkan bahwa ia seorang yang asertif.

  1. kondisi di mana suatu tingkah laku dapat ditampilkan

kalimat yang dapat digunakan sebagai pemandu misalnya : “without reference to the manual”

sebagai contoh : “di hadapan pimpinan dan koleganya” seorang perempuan dapat menunjukkan sifat asertifnya.

Cara lain yang dapat digunakan untuk melihat hasil belajar adalah : dengan metode yang digunakan oleh Bloom, bahwa ada tiga domain yang berperan, di mana tujuan belajar dapat ditetapkan pada: perolehan pengetahuan baru, perubahan sifat dan keterampilan/perilaku baru.

Ketiga domain tersebut adalah :

  1. Cognitive

Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang meliputi : pengetahuan, pemahaman, analisa, sintesa dan evaluasi.

  1. Afektif

Berkenaan dengan hasil belajar yang menyangkut perubahan sikap, nilai, minat dan emosi.

  1. Psikomotor

Berkenaan dengan hasil belajar yang menyangkut keterampilan dan tampilnya tingkah laku yang diharapkan.

Penetapan tujuan pembelajaran perlu ditentukan apakah tahapan hanya sampai pada peningkatan pengetahuan/wawasan, pada perubahan/perbaikan perilaku.  Karena tingkatan sasaran yang ingin dicapai akan berpengaruh pada durasi pembelajaran dan penggunaan metode – metodenya.

  1. III. METODE PELATIHAN

Ada berbagai macam metode training, namun hanya beberapa yang akan dibahas, sesuai dengan keperluan pembekalan materi yang disampaikan.  Metode– metode di bawah ini bertujuan membantu siswa/peserta mendapatkan “insight” (pemahaman yang mendalam) dan memungkinkan siswa/peserta mengalami/merasakan sendiri aplikasi dari materi yang diberikan.

  1. Ceramah : menyampaikan materi secara verbal oleh instruktur, di mana ceramah pada umumnya bersifat satu arah.  Sehingga peran siswa cenderung pasif.  Agar dapat menimbulkan komunikasi dua arah, instruktur memberikan pertanyaan – pertanyaan dan mencari umpan balik
  2. Self Asessment : melakukan penilaian terhadap diri sendiri berkenaan dengan materi yang dibahas.  Penilaian diri meliputi, misalnya : perasaan, kecenderungan minat, sikap dan perilaku, kondisi diri dan lain – lain.  Untuk mempersiapkan alat self assessment, perlu :
  • Menyusun alat yang memancing materi yang diajarkan dari diri peserta pelatihan. Dapat dilakukan dengan mulai membuat pertanyaan ataupun pernyataan yang menyangkut materi dalam aplikasinya
  • Membuat standar pengisian dan penilaian
  1. Diskusi kelompok : melakukan diskusi terhadap materi tertentu yang dijadikan tujuan pemahaman dalam pelatihan.  Disini peserta saling berbagi pemikiran, ide, serta dapat memberikan dukungan atau bantahan terhadap suatu komentar, yang pada ahirnya mencapai satu kesepakatan dalam kelompok.  Dalam pelaksanaan diskusi kelompok  seharusnya memperhatikan:
  • Diberikan materi dasar untuk didiskusikan, lalu dilakukan analisa terhadap suatu topic
  • Ditentukan tujuan yang ingin didapat
  • Ditentukan waktunya
  1. Permainan (Games) : melakukan suatu permainn untuk melihat perbandingan hasil belajar dari beberapa kelompok peserta pelatihan.  Metode ini biasanya menggugah motivasi peserta untuk belajar.  Cara – cara yang dilakukan untuk membuat games antara lain :
  • Menetukan tujuan games/permainan serta waktu yang akan digunakan
  • Menentukan aturan main yang akan diterapkan
  • Mempersiapkan alat yang akan digunakan
  1. Bermain Peran : memainkan peran tertentu sesuai dengan tujuan dari pendalaman materi yang telah diajarkan.  Dengan metode ini, peserta dapat melihat/mencontoh langsung sikap/perilaku yang diharapkan ataupun tidak diharapkan.  Peserta berkesempatan mengalami sendiri kondisi yang diharapkan tampil.  Metode bermain peran dapat dilakukan dengan :
  • Menetapkan tujuan
  • Membuat materi yang akan diperankan
  • Menentukan prosedur pelaksanaannya
  • Menentukan waktu lamanya peran dimainkan

  1. IV. KETERAMPILAN FASILITATOR

Peran seorang fasilitator adalah sebagai “delivery agent” dari sistim pembelajaran.  Oleh karena itu fasilitator perlu mempunyai keterampilan – keterampilan tertentu agar proses belajar dapat berlangsung dengan dinamis dan terciptanya hubungan timbal balik antara fasilitator dengan peserta, sehingga peserta termotivasi untuk aktif.

  1. 1. Menguasai Materi

Dalam mempersiapkan untuk berperan menjadi fasilitator maka seseorang harus menguasai materi yang akan diberikan, dengan cara :

  1. Memahami substansi materi
  2. Hafal garis besar materi
  3. Membuat rangkuman hasil materi
    1. 2. Keterampilan Komunikasi
    2. a. Pengertian Komunikasi

Komunikasi adalah proses pengiriman pesan dari pemberi pesan kepada penerima pesan.

  1. b. Proses Komunikasi
  1. c. Jenis komunikasi

Adapun jenis komunikasi antara lain :

1.  Komunikasi Verbal         :  menggunakan bahasa

2.  Komunikasi Non Verbal : yang ditandai dengan respon yang tidak menggunakan bahasa, seperti menggunakan gerak tubuh, sikap tubuh, ekspresi wajah, intonasi, volume suara, kecepatan bicara dan lain – lain.

Bahasa tubuh :

-          Tidak disadari

-          Mempunyai arti yang lebih luas

-          Lebih cepat dipahami

-          Pesan/arti yang spontan/jujur.

  1. Komunikasi yang Efektif

Agar terjadi dua arah yang efektif, maka seorang fasilitator efektif perlu :

1.  Membuat rencana komunikasi

Hal–hal apa yang ingin dikomunikasikan dan kepada siapa komunikasi tersebut diarahkan. Hal ini berkaitan dengan mengkomunikasikan materi yang ingin disampaikan kepada peserta pelatihan.

2.  Memahami kondisi peserta

Perlu disadari adanya latar belakang pendidikan, pengalaman, sosio kultur dari peserta yang berbeda–beda maka cara penyampaian materi pun harus disesuaikan dengan kondisi–kondisi tersebut agar tidak terjadi miss comunication

3.  Menggunakan umpan balik

Untuk memastikan apakah peserta telah memahami informasi yang disampaikan, adanya proses Tanya jawab antara fasilitator dengan peserta  menandakan telah terjadinya komunikasi dua arah.

4.  memakai komunikasi non verbal

Penggunaan komunikasi non verbal yang tepat dapat menguatkan pesan yang disampaikan fasilitator kepada para peserta, sehingga para peserta dapat betul–betul memahami apa yang ingin disampaikan oleh si fasilitator.

  1. e. Pendengar Aktif

Mendengar efektif adalah melibatkan para peserta pelatihan, tidak hanya sekedar memberi perhatian, namun peserta juga harus aktif, berempati dan bersikap mendukung terhadap si pembicara, sehingga mengisyaratkan bahwa “Saya mengerti, silahkan dilanjutkan”.  Pendengar yang memiliki respon seperti itu dapat dikategorikan sebagai pendengar yang aktif.

Tingkah laku yang berkaitan dengan pendengar aktif antara lain:

-                Membuat kontak mata

-                Menampilkan ekspresi wajah yang sesuai dan menganggukkan kepala

-                Menegaskan kembali (paraphrase)

-                Tidak menginterupsi pembicara

  1. 3. Gerak Fisik Fasilitator

a.   Fasilitator sebaiknya berdiri dengan tidak terhalang oleh kursi, meja taupun podium yang mungkin menghambat terjadinya komunikasi dua arah

b.   Sebaiknya fasilitator berkeliling (sewaktu kegiatan diskusi kelompok, games, role play) untuk mengetahui apakah proses pembelajaran berlangsung sesuai dengan yang diharapkan.

c.   fasilitator sebaiknya bergerak di antara peserta untuk melakukan control, memotivasi dan mereinforce (memberi penguatan) sikap dan perilaku peserta.

  1. 4. Memiliki Sifat Empati dan Asertif

Empati :

Upaya untuk mengerti dan memahami kondisi dan cara berfikir orang lain dari sudut pandang orang tersebut, tanpa melibatkan sisi penilaian dan emosi.

Fasilitator perlu memiliki sifat empati terhadap siswa agar proses pembelajaran betul – betul berdasarkan kesiapan dari siswa.

Manfaat dari sifat empati dalam pelatiahan :

  1. Fasilitator dapat mengetahui apakah siswa telah mengerti atu belum materi yang disampaikan.
  2. Kegiatan diskusi kelompok, bermain peran atau games, dapat disesuaikan dengan sasaran pencapaian dari aspek Cognitive, afektif dan psikomotor.
  3. Siswa merasa terdorong untuk terus berpartisipasi aktif selama kegiatan pelatihan berlangsung.
  4. Memungkinkan siswa merasa terbantu dalam memenuhi kebutuhan selama proses pelatihan berlangsung.
  1. V. FASILITAS PENUNJANG PEMBELAJARAN
    1. Media untuk pengajaran
      1. a. Whiteboard

-          alat yang paling mendasar dan sederhana

-          mudah didapat dan mudah penggunaannya

-          memiliki fungsi yang kurang optimal

  1. b. Flipchart
  2. c. OHP/INFOCUS

-          harga relative mahal

-          memiliki fungsi yang cukup optimal

  1. Mike

-          untuk memperjelas suara fasilitator

-          membantu peserta untuk dapat mendengar suara fasilitator secara konsisten dan stabil atas ceramah/ materi/instruksi yang diberikan

-          untuk ruangan yang relative besar, peralatan ini mutlak digunakan

  1. Dan fasilitas pendukung lainnya (seperti : film, simulator, audio tape, slide, dll)
  2. Penataan ruang pelatihan
  3. Kriteria ruang pelatihan

-          Fleksibel

Mudah diubah setting fisiknya sehingga dapat digunakan multiple fungsi (ceramah, diskusi kelompok, panggung untuk roleplay dan games)

-          Terisolasi

Jauh dari kebisingan dan gangguan lainnya

-          Penerangan/ pencahayaan

Ruang pelatihan perlu mendapat penerangan /pencahayaan yang optimal

  1. Tatanan fisik ruang pelatihan

-          sebaiknya tatanan tidak seperti ruang kelas

-          memudahkan peserta untuk saling berinteraksi

-          tidak mengesankan adanya jarak antara fasilitator dan peserta

-          memudahkan fasilitator untuk berkomunikasi dengan setiap peserta dan sebaliknya.

  1. Materi yang dibutuhkan untuk games dan roleplay → tergantung jenis games dan roleplay.
  2. VI. MODUL MATERI

Tujuan dibuat modul agar proses pelatihannya berjalan sesuai target yang diterapkan.

Modul :

Mata Kuliah/Materi    :
Bahan                         :

( Materi, fasilitas pendukung metode yang digunakan, fasilitas penunjang pelatihan beserta jumlahnya)

Tujuan umum             :

(Kompetensi Dasar)

Tujuan Khusus           :

(Indikator)

Materi                         :

( Rincian/ bab materi yang akan dibahas)

Uraian Materi             :

dan Waktu

  1. VII. EVALUASI KEGIATAN

Tujuan evaluasi kegiatan dapat ditinjau berdasarkan kegunaannya yaitu :

  1. Evaluasi Program :

Bertujuan untuk perbaikan/ peningkatan program pelatihan, yang terdiri dari :

-          menetapkan tujuan pelatihan

-          subjek materi

-          metode pelatihan

-          teknik mengajar

-          proses pembelajaran

-          fasilitator

  1. Evaluasi Oprasional :

Bertujuan untuk perbaikan/peningkatan operasional penyelenggaraan pelatihan yang meliputi :

-          identifikasi kebutuhan penyelenggaraan pelatihan

-          proses perencanaan

-          pengelolaan administrasi

-          orang – orang yang terlibat dalam penyelenggaraan pelatihan, meliputi : panitia, pakar pelatihan, petugas administrasi dan lain – lain.

-          Fasilitas fisik (ruang kelas dan alat penunjang)

-          Humas

Salah satu cara yang paling evektif dan efisien untuk mendapatkan umpan balik tentang kegiatan pmbelajaran yaitu dengan cara Questionare: formulir pertanyaan yang harus diisi oleh setiap peserta yang mencerminkan ekspresi perasaan, taraf kepuasan dan pandapat tentang kegiatan pelatihan.

Evaluasi kegiatan, biasa dilakukan pada sesi akhir dari suatu program pelatihan.  Data yang diperoleh digunakan untuk menganalisa program dan sebagai masukan untuk mendesain program pelatihan selanjutnya.

Daftar Pustaka

Robbins, Spephen P., Organizational Behavior-Concepts, Controversies and Application, Prentice Hal International, New Jarsey, 1991.

Laird, Duncan, Approaches to Training and Development, Addison-Wesley Pup., Massachhusetts, 1985

Knowles, Malcom S., The Adult Learner, Gulf Publishing, Texaz, 1998

Courtney, Sean, 1992. Why Adults Learn—Towards a Theory of Participation in Adult Education, London and New York, Routledge.

Djiwandono,  Sri Esti Wuryani, 2002. Psikologi Pendidikan,  Jakarta, Grasindo.

M. Smith, Robert, 1982. Learning How to Learn—Applied  Theory for Adults, New York, Cambridge The Adult Education Education Company.

Soemanto, Wasty, 1998,Psikologi Pendidikan, Jakarta: PT.  Rineka Cipta.

Sukaji, Soetarlinah 2000, Psikologi Pendidikan dan Psikologi sekolah, Depok, LPSP 3, Fakultas Psikologi UI.

PENERAPAN  STRATEGI  PEMBELAJARAN  APLIKATIF

Dipersiapkan oleh:

Djunaidatul Munawaroh

Melvin Silbermen melengkapi pernyataan Confucius mengenai tiga macam cara belajar yang berbeda—belajar dengan mendengar, dengan melihat, dan dengan melakukan—dengan menyatakan:

What I hear, I forget (apa yang saya dengar, saya lupa).

What I hear, see, and ask questions about or discuss with someone else, I begin to understand (apa yang saya dengar, lihat, pertanyakan atau diskusikan dengan orang lain, saya mulai memahami).

What I hear, see, discuss and do, I ackquire knowledge and skill (apa yang saya dengar, lihat, diskusikan dan saya lakukan, saya mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan).

What I teach to another, I master (apa yang saya ajarkan kepada orang lain, saya menguasainya).

Cara belajar yang demikian akan dapat melayani banyak siswa yang tentu berbeda-beda gaya belajarnya. Bobbi DePorter dan Mike Hernacki menyebutkan tiga tipe orang dengan gaya belajar yang berbeda yaitu:

(1) tipe visual; Orang-orang tipe visual lebih mengingat apa yang dilihat dari pada apa yang didengar, pembaca cepat dan tekun, tidak begitu terganggu oleh kebisingan, akan tetapi dia mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis.

(2) tipe auditorial; orang-orang verbal lebih mampu belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang dilihat atau dibaca, senang membaca dengan suara keras dan mendengarkan, sulit untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita, suka berbicara, berdiskusi dan menjelaskan sesuatu secara panjang lebar, dan bermasalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan visualisasi.

(3) tipe kinestetik; orang-orang kinestetik lebih mampu belajar dengan praktik, banyak menggunakan isyarat tubuh, berkeinginan untuk melakukan segala sesuatu, menyukai permainan yang menyibukkan, berorientasi pada fisik dan banyak bergerak, dan tidak dapat duduk diam untuk waktu yang lama.

Tipologi di atas tidak berarti setiap orang hanya memiliki satu gaya belajar, akan tetapi dia memiliki kecenderungan untuk lebih mampu belajar dan menguasai suatu pengetahuan atau ketampilan dengan metode belajar yang sesuai dengan tipe dirinya. Karena itulah guru sedapat mungkin menerapkan metode-metode belajar yang dapat memfasilitasi keberagaman tipe belajar dan membuat siswa aktif.

Active Learning juga didasarkan atas asumsi bahwa :

  1. Pembelajaran hanya bisa terjadi jika siswa merasa terlibat aktif secara mental maupun fisik.
  2. Setiap siswa memiliki potensi untuk bisa dikembangkan dengan menggunakan berbagai metode belajar—melalui diskusi, presentasi, peragaan, melakukan, dsb.
  3. Peran guru lebih sebagai fasilitator pembelajaran. Paradigma pembelajaran sekarang ini adalah Student Centered Learning, pembelajaran berpusat pada siswa; dan tidak mengikuti paradigma banking concept yang mengandaikan siswa ibarat tabung kosong yang hanya pasif menerima pelajaran. Siswa didorong untuk bisa memperoleh pengetahuan dengan caranya sendiri.

Berikut ini adalah contoh-contoh praktis kegiatan pembelajaran yang mampu membuat siswa aktif, inovatif, kreatif, dan senang (PAIKEM).

A. Jigsaw Learning

Teknik pembelajaran yang memiliki kesamaan dengan teknik “pertukaran dari kelompok” (group-to-group exchange), dengan suatu perbedaan penting: setiap peserta didik mengajarkan sesuatu.

Ini adalah alternatif menarik, ketika ada materi pelajaran yang banyak, dapat dipelajari dengan disingkat atau “dipotong”, dengan ketentuan tidak ada bagian yang harus diajarkan sebelum bagian yang lain.

Setiap kali peserta didik mempelajari sesuatu yang dipadukan dengan materi yang telah dipelajari oleh peserta didik lain, dibuat sebuah kumpulan pengetahuan yang bertalian.

Langkah-langkah:

1. Pilihlah materi belajar yang dapat dipisah menjadi bagian-bagian. Satu bagian dapat disingkat menjadi beberapa alenia atau beberapa halaman. Contohnya, antara lain:

  • Materi tentang syarat sah salat, syarat wajib salat, dan hal-hal yang membatalkan salat.
  • Materi tentang meneladani ketabahan dari kisah  Nabi Ayub AS.

2. Hitunglah jumlah bagian materi belajar dan jumlah peserta didik. Bagikan tugas yang berbeda kepada kelompok peserta yang berbeda. Contoh : misalnya sebuah kelas terdiri atas 12 orang peserta. Anggaplah anda dapat membagi materi pelajaran dalam tiga bagian, kemudian anda dapat membentuk tiga kwartet atau kelompok belajar yang terdiri dari empat orang dengan tugas membaca, berdiskusi, dan mempelajari materi yang ditugaskan kepada mereka.

3. Setelah selesai, bentuklah kelompok ”Jigsaw Learning”. Setiap kelompok mempunyai seseorang wakil dari masing-masing kelompok dalam kelas. Setiap anggota masing-masing kwartet menghitung 1,2,3, dan 4. kemudian bentuklah kelompok peserta didik ”Jigsaw Learning” dengan jumlah sama. Hasilnya akan terdapat 4 kelompok yang terdiri dari 3 orang (trio). Dalam setiap trio akan ada seorang peserta yang mempelajari bagian 1, seorang untuk bagian 2, dan seorang lagi bagian 3.

4. Mintalah anggota kelompok “Jigsaw” untuk mengajarkan materi yang telah dipelajari kepada yang lain.

5.  Kumpulkan kembali peserta didik ke kelas besar untuk memberi ulasan dan sisakan pertanyaan guna memastikan pemahaman yang tepat.

Variasi

1. Berikan tugas baru, seperti menjawab pertanyaan kelompok tergantung akumulasi pengetahuan anggota kelompok jigsaw.

2. Berikan tanggung jawab kepada peserta didik yang lain guna mempelajari kecakapan daripada informasi kognitif. Mintalah peserta didik mengajari peserta lain kecakapan yang telah mereka pelajari.

B. Everyone Is a Teacher Here (Setiap Orang adalah Guru)

Ini merupakan sebuah strategi yang mudah memperoleh partisipasi kelas yang besar dan tanggung jawab individu. Strategi ini memberikan kesempatan kepada setiap peserta didik untuk bertindak sebagai seorang ”pengajar” terhadap peserta didik lain.

Langkah-langkah:

1.  Bagikan kartu indeks kepada setiap peserta didik. Mintalah para peserta menulis sebuah pertanyaan yang mereka miliki tentang materi pelajaran yang sedang dipelajari di dalam kelas atau topik khusus yang akan mereka diskusikan di kelas. Contoh : guru menetapkan tugas bagi kelas untuk diskusi/membahas tentang kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail AS, dengan membagikan kartu indeks guru meminta peserta didik menulis sebuah pertanyaan tentang kisah tersebut. Pertanyaan tersebut dikumpulkan, kemudian dibagikan lagi untuk direspons.

2. Kumpulkan kartu, kocok dan bagikan satu pada setiap siswa. Mintalah siswa membaca diam-diam pertanyaan atau topik pada kartu dan pikirkan satu jawaban.

3. Panggilah sukarelawan yang akan membaca dengan keras kartu yang mereka peroleh dan memberi jawaban.

4. Setelah diberi jawaban, mintalah siswa lain di dalam kelas untuk menambahkan apa yang telah disumbang sukarelawan.

5. Lanjutkan selama masih ada sukarelawan.

Variasi

1. Pegang kartu yang Anda kumpulkan, bentuklah sebuah panel responsden. Baca setiap kartu dan ajaklah diskusi. Putarlah anggota panel secara berkala.

2. Mintalah peserta didik menulis sebuah opini atau observasi yang mereka miliki pada kartu tentang materi pelajaran. Mintalah peserta lain setuju atau tidak dengan opini atau observasi tersebut.

C. Team Quiz (Menguji Tim)

Teknik ini meningkatkan kemampuan tanggung jawab peserta didik terhadap apa yang mereka pelajari melalui cara yang menyenangkan dan tidak menakutkan.

Langkah-langkah:

1. Pilihlah topik yang dapat dipresentasikan dalam tiga bagian.

2.  Bagilah peserta didik menjadi 3 tim.

3. Jelaskan bentuk sesinya dan mulailah presentasi. Batasi presentasi sampai 10 menit atau kurang.

4. Minta tim A sebagai pemimpin kuis, untuk menyiapkan kuis yang berjawaban singkat. Kuis ini tidak memakan waktu lebih dari 5 menit untuk persiapan. Tim B dan C memanfaatkan waktu untuk meninjau catatan mereka.

5. Tim A menguji anggota tim B. Jika Tim B tidak bisa menjawab, Tim C diberi kesempatan untuk menjawabnya.

6. Tim A melanjutkan ke pertanyaan selanjutnya kepada anggota Tim C, dan ulangi prosesnya.

7. Ketika kuis selesai, lanjutkan dengan bagian kedua pelajaran Anda, dan tunjuklah Tim B sebagai pemimpin kuis.

8. Setelah Tim B menyelesaikan ujian tersebut, lanjutkan dengan bagian ketiga dan tentukan tim C sebagai pemimpin kuis.

Variasi:

1.  Berikan kesempatan kepada tim ini untuk menyiapkan pertanyaan kuis dari yang mereka seleksi ketika mereka menjadi pemimpin kuis.

2.  Lakukan satu pelajaran yang berkelanjutan. Bagilah peserta didik ke dalam dua tim. Di akhir pelajaran, biarkan kedua tim saling memberi kuis satu sama lain.

D. Poster Session (Membahas Poster)

Metode presentasi alternatif ini merupakan sebuah cara yang tepat untuk menginformasikan kepada peserta didik secara cepat, menangkap imajinasi mereka, dan mengundang pertukaran ide di antara mereka. Teknik ini juga merupakan sebuah cara cerita dan grafik yang memungkinkan peserta didik mengekspresikan persepsi dan perasaan mereka tentang topik yang sekarang sedang didiskusikan dalam sebuah lingkungan yang tidak menakutkan.

Langkah-langkah:

1. Mintalah setiap peserta didik menyeleksi sebuah topik yang dikaitkan dengan topik umum atau yang sedang didiskusikan/dipelajari.

2. Mintalah peserta didik mempersiapkan gambaran visual konsep mereka pada sebuah poster atau papan pengumuman (Anda tentukan ukurannya). Isi poster tersebut harus jelas, agar pengamat dapat dengan mudah memahami tanpa penjelasan tertulis atau lisan. Akan tetapi, peserta didik boleh saja memilih mempersiapkan satu halaman hand-out untuk mendampingi poster yang menerangkan lebih detil dan menayangkan bacaan lanjut.

3. Selama sesi kelas berlangsung, mintalah peserta didik memasang gambaran presentasi, dan dengan bebas berkeliling di ruangan memandang serta mendiskusikan poster yang lain. Contoh: pelajaran tentang makanan dan minuman yang diharamkan. Topik yang diberi mencakup :

  • Jenis-jenis makanan/minuman haram
  • Akibat mengkonsumsi makanan/minuman haram terhadap diri semdiri
  • Akibat mengkonsumsi makanan/minuman haram terhadap orang lain
  • Cara-cara menghindari makanan/minuman haram.

Salah satu peserta menggambarkan akibat mengkonsumsi makanan/minuman haram dengan membuat poster yang menunjukkan gambaran berikut :

  • Seseorang yang memiliki badan dengan perut buncit
  • Seseorang sedang meminum minuman beralkohol terlibat pertengkaran
  • Seseorang yang sakit kepala

Di bawah masing-masing gambar di atas ada satu paragraf singkat yang menjelaskan bagaimana dan mengapa seseorang yang mengkonsumsi makanan/minuman haram bisa menunjukkan gejala atau terlibat dalam perkara yang digambarkan dalam poster.

4. Lima belas menit sebelum kelas selesai, berundinglah dengan seluruh kelas dan diskusikan keuntungan apa yang mereka peroleh dari kegiatan ini.

Variasi:

1. Anda boleh memilih untuk membentuk tim ke dalam 2 atau 3 bentuk daripada membuat tugas individual, terutama jika topiknya terbatas.

2. Lanjutkan sesi gambar dengan diskusi panel dengan menggunakan beberapa peraga sebagai panelis.

E. Information Search (Pencarian Informasi)

Metode ini sama dengan ujian open book. Tim mencari informasi (normalnya dilakukan dalam pelajaran dengan teknik ceramah) yang menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya. Metode ini khususnya sangat membantu dalam materi yang membosankan.

Langkah-langkah:

1. Buatlah kelompok pertanyaan yang bisa dijawab dengan cara mencari informasi yang dapat dijumpai di sumber materi yang telah Anda buat untuk peserta didik. Sumber informasi bisa mencakup :

  • Selebaran
  • Dokumen
  • Buku teks
  • Buku panduan
  • Komputer mengakses informasi

2. Berilah pertanyaan-pertanyaan tentang topik

3. Biarkan peserta didik mencari informasi dalam tim kecil.

Persaingan sehat bisa membantu untuk mendorong partisipasi.

4. Tinjau kembali jawaban selagi di kelas. Kembangkan jawaban untuk memperluas jangkauan belajar.

Variasi:

1. Buatlah pertanyaan yang memaksa peserta didik untuk menyimpulkan jawaban dari sumber informasi yang ada, daripada menggunakan pertanyaan yang bisa langsung dengan pencarian.

2. Daripada mencari jawaban pertanyaan, berilah peserta didik tugas yang berbeda seperti satu kasus untuk dipecahkan, latihan yang bisa mencocokkan butir-butir soal, atau menyusun acak kata. Jika tidak diacak, tunjukkan istilah penting yang terdapat pada sumber informasi.

F. Index Card Match/Make a Match (Mencocokkan Kartu Indeks)

Ini adalah cara menyenangkan lagi aktif untuk meninjau ulang materi pelajaran. Ia membolehkan peserta didik untuk berpasangan dan memainkan kuis dengan kawan sekelas.

langkah-langkah:

1. Pada kartu indeks terpisah, tulislah pertanyaan tentang apa pun yang diajarkan didalam kelas. Buatlah kartu pertanyaan yang cukup untuk menyamai setengah jumlah siswa.

2. Pada kartu terpisah, tulislah jawaban bagi setiap pertanyaan-pertanyaan tersebut.

3. Campurlah dua lembar kartu dan kocok beberapa kali sampai benar-benar tercampur.

4. Berikan satu kartu kepada setiap peserta didik. Jelaskan bahwa ini adalah latihan permainan. Sebagian memegang pertanyaan review dan sebagian lain memegang jawaban.

5. Perintahkan kepada peserta didik untuk menemukan kartu permainannya. Ketika permainan dibentuk, perintahkan peserta didik yang bermain untuk mencari tempat duduk bersama (beritahu mereka jangan menyatakan kepada peserta didik lain apa yang ada pada kartunya).

6. Ketika semua pasangan permainan telah menempati tempatnya, perintahkan setiap pasangan menguji peserta didik yang lain dengan membaca keras pertanyaannya dan menantang teman sekelas untuk menginformasikan jawaban kepadanya.

Variasi:

1. Kembangkan kartu yang memuat kalimat dengan kata yang hilang yang harus dijodohkan dengan kartu yang memuat kata yang hilang. Misalnya, Rasul penerima kitab Taurat adalah  ______Nabi Musa AS.

2. Kembangkan kartu yang memuat pertanyaan dengan beberapa kemungkinan jawaban, misalnya, ”siapa saja yang termasuk Nabi/Rasul Ulul Azmi?” Jodohkanlah semua itu dengan kartu yang memuat bermacam-macam jawaban yang sesuai. Ketika setiap pasangan menyampaikan kuis kelompok, mintalah mereka mendapatkan beberapa jawaban dari peserta didik lain.

G.  Explisit Instruction (Pengajaran Langsung)

Pembelajaran langsung khusus dirancang untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang dapat diajarkan  dengan pola selangkah demi selangkah. Contoh: melafalkan ayat, menghafal/membaca al-Qur’an surat pendek, praktik salat.

Langkah-langkah:

  1. Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa
  2. Mendemonstrasikan pengetahuan dan ketrampilan
  3. Membimbing pelatihan
  4. Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik
  5. Memberikan kesempatan untuk latihan lanjutan

H. Card Sort (Memilah dan Memilih Kartu)

Ini merupakan kegiatan kolaboratif yang bisa digunakan untuk mengajarkan konsep, penggolongan sifat, fakta tentang suatu obyek, atau mengulangi informasi. Gerakan fisik yang diutamakan dapat membantu untuk memberi energi kepada kelas yang telah letih.

Langkah-langkah:

1. Berilah masing-masing peserta didik kartu indeks yang berisi informasi atau contoh yang cocok dengan satu atau lebih kategori.

Berikut contohnya :

  • Termasuk kiamat
  • Puasa wajib
  • Dakwah Nabi Muhammad di Makkah
  • Dibaca Idhhar

2. Mintalah peserta didik untuk berusaha mencari temannya di ruang kelas dan menemukan orang yang memiliki kartu dengan kategori sama (Anda bisa mengumumkan kategori tersebut sebelumnya atau biarkan peserta mencarinya).

3. Biarkan peserta didik dengan kartu kategorinya yang sama menyajikan sendiri kepada orang lain.

4. Selagi masing-masing kategori dipresentasikan, buatlah beberapa poin mengajar yang Anda rasa penting.

Variasi:

1. Mintalah setiap kelompok untuk membuat presentasi mengajar tentang kategori tersebut.

2. Pada awal kegiatan, bentuklah tim. Berilah masing-masing tim satu set kartu yang lengkap. Pastikan kartu tersebut dikocok, sehingga kartu kategori yang mereka sortir tidak jelas. Mintalah setiap tim untuk menyortir kartu ke dalam kategori. Setiap tim bisa memperoleh nilai untuk nomor kartu yang disortir dengan benar.

  1. I. Role Playing (Bermain Peran)

Langkah-langkah:

  1. Guru menyusun/menyiapkan skenario yang akan ditampilkan
  2. Menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario dalam waktu beberapa hari sebelum KBM
  3. Guru membentuk kelompok siswa yang anggotanya 5 orang
  4. Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai
  5. Memanggil para siswa yang sudah ditunjuk untuk melakonkan skenario yang sudah dipersiapkan
  6. Masing-masing siswa berada di kelompoknya sambil mengamati skenario yang sedang diperagakan
  7. Setelah selesai ditampilkan, masing-masing siswa diberikan lembar kerja untuk membahas penampilan masing-masing kelompok.
  8. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya
  9. Guru memberikan kesimpulan secara umum
  10. Evaluasi
  11. Penutup

J. Talking Stick

Langkah-langkah:

  1. Guru menyiapkan sebuah tongkat
  2. Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca dan mempelajari materi.
  3. Setelah selesai membaca materi/buku pelajaran dan mempelajarinya, siswa menutup bukunya.
  4. Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada siswa, setelah itu guru memberikan pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya, demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru
  5. Guru memberikan kesimpulan
  6. Evaluasi
  7. Penutup

Jakarta, 4 Juli 2009

PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN BERBASIS LESSON STUDY


PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN BERBASIS LESSON STUDY

Disampaikan OlehTim Fasilitator Pusat

Pada PelatihanPeningkatan Kompetensi Pengawas SD dan SMP

Dalam Membimbing Guru

DIREKTORAT TENAGA KEPENDIDIKAN

DIREKTORAT JENDERAL PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

DEPDIKNAS

2009

LESSON STUDY

Oleh : Asep Jolly (Pengawas Bahasa Jepang)

Apa yang dimaksud dengan Lesson Study?

Lesson Study adalah model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkesinambungan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar.

Lesson Study berasal dari Jepang. Di Indonesia berkembang melalui IMSTEP ( Indonesia Mathematics & Science Teacher Education Project ), dan yang telah melakukan hal tersebut adalah UPI, UNY, dan UNM sejak tahun 2001. Kemudian program SISTEMS (Strengthening In-service Teacher Training of Mathematics and Science Education Junior High Scondary Level) yang dilaksanakan di Sumedang, Bantul, dan Pasuruan tahun 2006.

Mengkaji Pembelajaran melalui 3 tahapan:

Gambaran Umum Lesson Study

  1. Mempertimbangkan tujuan pembelajaran dan perkembangan siswa, serta merencanakan pembelajaran untuk mengumpulkan data.
  2. Mengobservasi pembelajaran dalam rangka Lesson Study.
  3. menggunakan data hasil observasi untuk melakukan refleksi tentang pembelajaran secara mendalam dan lebih luas.
  4. Melakukan perencanaan ulang dengan topik yang sama untuk melakukan open lesson pada kelas berbeda.

Tujuan Utama Lesson Study

  1. Meningkatkan pengetahuan tentang materi ajar, pembelajaran, motivasi untuk selalu berkembang, kualitas rencana pembelajaran, dan kemampuan guru untuk mengobservasi aktifitas belajar
  2. Menguatkan hubungan kolegalitas.
  3. Menguatkan hubungan antara pembelajaran sehari-hari dengan tujuan jangka panjang.

Dari tujuan tersebut, diharapkan ada perbaikan atau peningkatan kualitas pembelajaran

Mengapa disebut Lesson Study?

Lesson Study mendukung UU No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen untuk meningkatkan kompetensi-kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial.

Lesson Study mendukung implementasi PP 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 19: “Proses Pembelajaran harus interaktif , inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi untuk aktif, kreatif, mandiri, sesuai bakat, minat, dan perkembangan fisik & psikologis peserta didik.”

Tidak ada pembelajaran yang sempurna, sehingga akan ada celah untuk melakukan perbaikan dan inovasi.

Lesson Study membuat guru menjadi lebih terbuka menerima masukan guna perbaikan pembelajaran.

Lesson Study dapat meningkatkan budaya akademik, kemampuan kolaborasi, kemampuan melakukan evaluasi diri serta dapat memotivasi guru untuk melakukan inovasi pembelajaran. Selain itu, melalui lesson study guru dimungkinkan menghasilkan buku ajar dan karya ilmiah berbasis penelitian kelas.

Bagaimana melakukan Lesson Study?

Perencanaan dilakukan secara kolaboratif berdasarkan permasalahan di kelas untuk mengembangkan model pembelajaran yang berpusat pada siswa malalui hands-on & minds-on activity, daily life, dan local materials.

Seorang guru dari anggota kelompok melakukan pembelajaran atau mengajar, sementara anggota lainnya mengamati. Pengamatan dapat dilakukan oleh orang lain selain anggota kelompoknya. Pengamat tidak diperkenankan menganggu/ membantu siswa selama proses pembelajaran.

Guru, pengamat, dan orang lain melakukan sharing lesson learn tentang aktifitas siswa. Pengamat saling belajar dari pembelajaran dan hasil sharing digunakan merevisi rencana pembelajaran. (Dikutip dari MyDriana_23)

Lesson Study merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang dilaksanakan secara kolaboratif dan berkelanjutan oleh sekelompok guru.   Tujuan utama Lesson Study yaitu untuk : (1) memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar; (2) memperoleh hasil-hasil tertentu yang bermanfaat bagi para guru lainnya dalam melaksanakan pembelajaran; (3) meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif. (4) membangun sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya.

Manfaat yang yang dapat diambil Lesson Study, diantaranya: (1) guru dapat mendokumentasikan kemajuan kerjanya, (2) guru dapat memperoleh umpan balik dari anggota lainnya, dan (3) guru dapat mempublikasikan dan mendiseminasikan hasil akhir dari Lesson Study. Lesson Study dapat dilakukan melalui dua tipe yaitu berbasis sekolah dan berbasis MGMP. Lesson Study dilakukan berdasarkan tahapan-tahapan secara siklik, yang terdiri dari: (1) perencanaan (plan); (b) pelaksanaan (do); refleksi (check); dan tindak lanjut (act).

Konsep dan praktik Lesson Study pertama kali dikembangkan oleh para guru pendidikan dasar di Jepang, yang dalam bahasa Jepang-nya disebut dengan istilah kenkyuu jugyo. Makoto Yoshida adalah orang yang dianggap berjasa besar dalam mengembangkan kenkyuu jugyo di Jepang. Keberhasilan Jepang dalam mengembangkan Lesson Study tampaknya mulai diikuti pula oleh beberapa negara lain, termasuk di Amerika Serikat yang secara gigih dikembangkan dan dipopulerkan oleh Catherine Lewis yang telah melakukan penelitian tentang Lesson Study di Jepang sejak tahun 1993. Sementara di Indonesia pun saat ini mulai gencar disosialisasikan untuk dijadikan sebagai sebuah model dalam rangka meningkatkan proses pembelajaran siswa, bahkan pada beberapa sekolah sudah mulai dipraktikkan. Meski pada awalnya, Lesson Study dikembangkan pada pendidikan dasar, namun saat ini ada kecenderungan untuk diterapkan pula pada pendidikan menengah dan bahkan pendidikan tinggi.

Lesson Study bukanlah suatu strategi atau metode dalam pembelajaran, tetapi merupakan salah satu upaya pembinaan untuk meningkatkan proses pembelajaran yang dilakukan oleh sekelompok guru secara kolaboratif dan berkesinambungan, dalam merencanakan, melaksanakan, mengobservasi dan melaporkan hasil pembelajaran. Lesson Study bukan sebuah proyek sesaat, tetapi merupakan kegiatan terus menerus yang tiada henti dan merupakan sebuah upaya untuk mengaplikasikan prinsip-prinsip dalam Total Quality Management, yakni memperbaiki proses dan hasil pembelajaran siswa secara terus-menerus, berdasarkan data. Lesson Study merupakan kegiatan yang dapat mendorong terbentuknya sebuah komunitas belajar (learning society) yang secara konsisten dan sistematis melakukan perbaikan diri, baik pada tataran individual maupun manajerial. Slamet Mulyana (2007) memberikan rumusan tentang Lesson Study sebagai salah satu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan pada prinsip-psrinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar. Sementara itu, Catherine Lewis (2002) menyebutkan bahwa:

“lesson study is a simple idea. If you want to improve instruction, what could be more obvious than collaborating with fellow teachers to plan, observe, and reflect on lessons? While it may be a simple idea, lesson study is a complex process, supported by collaborative goal setting, careful data collection on student learning, and protocols that enable productive discussion of difficult issues”.

Bill Cerbin & Bryan Kopp mengemukakan bahwa Lesson Study memiliki 4 (empat) tujuan utama, yaitu untuk : (1) memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar; (2) memperoleh hasil-hasil tertentu yang dapat dimanfaatkan oleh para guru lainnya, di luar peserta Lesson Study; (3) meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif. (4) membangun sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya.

Dalam tulisannya yang lain, Catherine Lewis (2004) mengemukakan pula tentang ciri-ciri esensial dari Lesson Study, yang diperolehnya berdasarkan hasil observasi terhadap beberapa sekolah di Jepang, yaitu:

a)      Tujuan bersama untuk jangka panjang. Lesson study didahului adanya kesepakatan dari para guru tentang tujuan bersama yang ingin ditingkatkan dalam kurun waktu jangka panjang dengan cakupan tujuan yang lebih luas, misalnya tentang: pengembangan kemampuan akademik siswa, pengembangan kemampuan individual siswa, pemenuhan kebutuhan belajar siswa, pengembangan pembelajaran yang menyenangkan, mengembangkan kerajinan siswa dalam belajar, dan sebagainya.

b)      Materi pelajaran yang penting. Lesson study memfokuskan pada materi atau bahan pelajaran yang dianggap penting dan menjadi titik lemah dalam pembelajaran siswa serta sangat sulit untuk dipelajari siswa.

c)      Studi tentang siswa secara cermat. Fokus yang paling utama dari Lesson Study adalah pengembangan dan pembelajaran yang dilakukan siswa, misalnya, apakah siswa menunjukkan minat dan motivasinya dalam belajar, bagaimana siswa bekerja dalam kelompok kecil, bagaimana siswa melakukan tugas-tugas yang diberikan guru, serta hal-hal lainya yang berkaitan dengan aktivitas, partisipasi, serta kondisi dari setiap siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Dengan demikian, pusat perhatian tidak lagi hanya tertuju pada bagaimana cara guru dalam mengajar sebagaimana lazimnya dalam sebuah supervisi kelas yang dilaksanakan oleh kepala sekolah atau pengawas sekolah.

d)     Observasi pembelajaran secara langsung. Observasi langsung boleh dikatakan merupakan jantungnya Lesson Study. Untuk menilai kegiatan pengembangan dan pembelajaran yang dilaksanakan siswa tidak cukup dilakukan hanya dengan cara melihat dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (Lesson Plan) atau hanya melihat dari tayangan video, namun juga harus mengamati proses pembelajaran secara langsung. Dengan melakukan pengamatan langsung, data yang diperoleh tentang proses pembelajaran akan jauh lebih akurat dan utuh, bahkan sampai hal-hal yang detail sekali pun dapat digali. Penggunaan videotape atau rekaman bisa saja digunakan hanya sebatas pelengkap, dan bukan sebagai pengganti.

Berdasarkan wawancara dengan sejumlah guru di Jepang, Caterine Lewis mengemukakan bahwa Lesson Study sangat efektif bagi guru karena telah memberikan keuntungan dan kesempatan kepada para guru untuk dapat: (1) memikirkan secara lebih teliti lagi tentang tujuan, materi tertentu yang akan dibelajarkan kepada siswa, (2) memikirkan secara mendalam tentang tujuan-tujuan pembelajaran untuk kepentingan masa depan siswa, misalnya tentang arti penting sebuah persahabatan, pengembangan perspektif dan cara berfikir siswa, serta kegandrungan siswa terhadap ilmu pengetahuan, (3) mengkaji tentang hal-hal terbaik yang dapat digunakan dalam pembelajaran melalui belajar dari para guru lain (peserta atau partisipan Lesson Study), (4) belajar tentang isi atau materi pelajaran dari guru lain sehingga dapat menambah pengetahuan tentang apa yang harus diberikan kepada siswa, (5) mengembangkan keahlian dalam mengajar, baik pada saat merencanakan pembelajaran maupun selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran, (6) membangun kemampuan melalui pembelajaran kolegial, dalam arti para guru bisa saling belajar tentang apa-apa yang dirasakan masih kurang, baik tentang pengetahuan maupun keterampilannya dalam membelajarkan siswa, dan (7) mengembangkan “The Eyes to See Students” (kodomo wo miru me), dalam arti dengan dihadirkannya para pengamat (obeserver), pengamatan tentang perilaku belajar siswa bisa semakin detail dan jelas.

Berkenaan dengan tahapan-tahapan dalam Lesson Study ini, dijumpai beberapa pendapat. Menurut Wikipedia (2007) bahwa Lesson Study dilakukan melalui empat tahapan dengan menggunakan konsep Plan-Do-Check-Act (PDCA). Sementara itu, Slamet Mulyana (2007) mengemukakan tiga tahapan dalam Lesson Study, yaitu : (1) Perencanaan (Plan); (2) Pelaksanaan (Do) dan (3) Refleksi (See). Sedangkan Bill Cerbin dan Bryan Kopp dari University of Wisconsin mengetengahkan enam tahapan dalam Lesson Study, yaitu:

a)      Form a Team: membentuk tim sebanyak 3-6 orang yang terdiri guru yang bersangkutan dan pihak-pihak lain yang kompeten serta memilki kepentingan dengan Lesson Study.

b)      Develop Student Learning Goals: anggota tim memdiskusikan apa yang akan dibelajarkan kepada siswa sebagai hasil dari Lesson Study.

c)      Plan the Research Lesson: guru-guru mendesain pembelajaran guna mencapai tujuan belajar dan mengantisipasi bagaimana para siswa akan merespons.

d)     Gather Evidence of Student Learning: salah seorang guru tim melaksanakan pembelajaran, sementara yang lainnya melakukan pengamatan, mengumpulkan bukti-bukti dari pembelajaran siswa.

e)      Analyze Evidence of Learning: tim mendiskusikan hasil dan menilai kemajuan dalam pencapaian tujuan belajar siswa

f)       Repeat the Process: kelompok merevisi pembelajaran, mengulang tahapan-tahapan mulai dari tahapan ke-2 sampai dengan tahapan ke-5 sebagaimana dikemukakan di atas, dan tim melakukan sharing atas temuan-temuan yang ada.

Untuk lebih jelasnya, dengan merujuk pada pemikiran Slamet Mulyana (2007) dan konsep Plan-Do-See (Check-Act) (PDCA), di bawah ini akan diuraikan secara ringkas tentang empat tahapan dalam penyelengggaraan Lesson Study sebagai berikut:

1) Perencanaan (Plan)

Dalam tahap perencanaan, para guru yang tergabung dalam Lesson Study berkolaborasi untuk menyusun RPP yang mencerminkan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Perencanaan diawali dengan kegiatan menganalisis kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran, seperti kompetensi dasar, cara membelajarkan siswa, mensiasati kekurangan fasilitas dan sarana belajar, dan sebagainya, sehingga dapat mengetahui berbagai kondisi nyata yang akan digunakan untuk kepentingan pembelajaran. Selanjutnya, secara bersama-sama pula dicarikan solusi untuk memecahkan permasalahan yang ditemukan.

2) Pelaksanaan (Do)

Pada tahapan yang kedua, terdapat dua kegiatan utama yaitu: (1) kegiatan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh salah seorang guru yang telah disepakati atau atas permintaan sendiri untuk mempraktikkan RPP yang telah disusun bersama, dan (2) kegiatan pengamatan atau observasi yang dilakukan oleh anggota atau komunitas Lesson Study yang lainnya (baca: guru, kepala sekolah, atau pengawas sekolah, atau undangan lainnya yang bertindak sebagai pengamat/observer)

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam tahapan pelaksanaan, diantaranya:

  1. Guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah disusun bersama.
  2. Siswa diupayakan dapat menjalani proses pembelajaran dalam setting yang wajar dan natural, tidak dalam keadaan under pressure yang disebabkan adanya program Lesson Study.
  3. Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, pengamat tidak diperbolehkan mengganggu jalannya kegiatan pembelajaran dan mengganggu konsentrasi guru maupun siswa.
  4. Pengamat melakukan pengamatan secara teliti terhadap interaksi siswa-siswa, siswa-bahan ajar, siswa-guru, siswa-lingkungan lainnya, dengan menggunakan instrumen pengamatan yang telah disiapkan sebelumnya dan disusun bersama-sama.
  5. Pengamat harus dapat belajar dari pembelajaran yang berlangsung dan bukan untuk mengevalusi guru.
  6. Pengamat dapat melakukan perekaman melalui video camera atau photo digital untuk keperluan dokumentasi dan bahan analisis lebih lanjut dan kegiatan perekaman tidak mengganggu jalannya proses pembelajaran.
  7. Pengamat melakukan pencatatan tentang perilaku belajar siswa selama pembelajaran berlangsung, misalnya tentang komentar atau diskusi siswa dan diusahakan dapat mencantumkan nama siswa yang bersangkutan, terjadinya proses konstruksi pemahaman siswa melalui aktivitas belajar siswa. Catatan dibuat berdasarkan pedoman dan urutan kegiatan pembelajaran siswa yang tercantum dalam RPP.

3) Refleksi (Check)

Tahapan ketiga merupakan tahapan yang sangat penting karena upaya perbaikan proses pembelajaran selanjutnya akan bergantung dari ketajaman analisis para perserta berdasarkan pengamatan terhadap pelaksanaan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Kegiatan refleksi dilakukan dalam bentuk diskusi yang diikuti seluruh peserta Lesson Study yang dipandu oleh kepala sekolah atau peserta lainnya yang ditunjuk. Diskusi dimulai dari penyampaian kesan-kesan guru yang telah mempraktikkan pembelajaran, dengan menyampaikan komentar atau kesan umum maupun kesan khusus atas proses pembelajaran yang dilakukannya, misalnya mengenai kesulitan dan permasalahan yang dirasakan dalam menjalankan RPP yang telah disusun.

Selanjutnya, semua pengamat menyampaikan tanggapan atau saran secara bijak terhadap proses pembelajaran yang telah dilaksanakan (bukan terhadap guru yang bersangkutan). Dalam menyampaikan saran-saranya, pengamat harus didukung oleh bukti-bukti yang diperoleh dari hasil pengamatan, tidak berdasarkan opininya. Berbagai pembicaraan yang berkembang dalam diskusi dapat dijadikan umpan balik bagi seluruh peserta untuk kepentingan perbaikan atau peningkatan proses pembelajaran. Oleh karena itu, sebaiknya seluruh peserta pun memiliki catatan-catatan pembicaraan yang berlangsung dalam diskusi.

4) Tindak Lanjut (Act)

Dari hasil refleksi dapat diperoleh sejumlah pengetahuan baru atau keputusan-keputusan penting guna perbaikan dan peningkatan proses pembelajaran, baik pada tataran individual, maupun menajerial.

Pada tataran individual, berbagai temuan dan masukan berharga yang disampaikan pada saat diskusi dalam tahapan refleksi (check) tentunya menjadi modal bagi para guru, baik yang bertindak sebagai pengajar maupun observer untuk mengembangkan proses pembelajaran ke arah lebih baik.

Pada tataran manajerial, dengan pelibatan langsung kepala sekolah sebagai peserta Lesson Study, tentunya kepala sekolah akan memperoleh sejumlah masukan yang berharga bagi kepentingan pengembangan manajemen pendidikan di sekolahnya secara keseluruhan. Kalau selama ini kepala sekolah banyak disibukkan dengan hal-hal di luar pendidikan, dengan keterlibatannya secara langsung dalam Lesson Study, maka dia akan lebih dapat memahami apa yang sesungguhnya dialami oleh guru dan siswanya dalam proses pembelajaran, sehingga diharapkan kepala sekolah dapat semakin lebih fokus lagi untuk mewujudkan dirinya sebagai pemimpin pendidikan di sekolah.

Kelemahan/masalah yang terjadi dengan lesson study di Indonesia:

  1. Belum seragamnya pemahaman tentang lesson study. Terjadinya deviasi dalam memahami kegiatan lesson study, tidak jarang menimbulkan perbedaan pendapat. Sebagian pihak memandang inovasi pembelajaran harus berawal dari ide guru atau kelompok guru itu sendiri, sebagian lain berpandangan harus dibawah bimbingan dosen yang dinilai pakar. Hal ini telah melahirkan tindakan yang berbeda, yang satu membiarkan guru merencakan sendiri, ketika akan implementasi baru melaporkan. Yang kedua, adalah dosen secara aktif membimbing guru calon penyaji sampai dalam hal menyiapkan media maupun baha-bahan pembelajarannya. Guru seolah-olah hanyalah ‘wayang’ yang memainkan ide ‘dalang’.
  2. Prihal kesiapan bekerja sama. Kadangkala muncul pada saat membuat keputusan siapa yang akan menjadi penyaji pembelajaran yang siap diobservasi. Jarang guru yang mengajukan diri, karena masih ada perasaan bahwa sebagai penyaji harus menyiapkan sendiri pembelajaran yang biasa tidak dilakukannya, harus berkorban dana maupun tenaga untuk konsultasi dengan dosen mitra, terkadang harus meninggalkan putra didiknya. Hal ini yang kadang bila kurang dukungan pimpinan sekolahnya membuat guru kurang tertarik. Perasaan lain adalah bahwa seorang penyaji harus siap korban perasaan saat dikritik oleh sesame temannya.
  3. Koordinasi. Walaupun sudah melalui tahap sosialisasi, secara teoritis bahwa keinginan meningkatkan mutu pembelajaran seharusnya ke luar dari niat para guru (sekolah atau MGMP), tetapi mengingat kesibukan kegiatan sekolah terkadang niat ini terlupakan. Biala tidak diingatkan, sekolah lupa sehingga tidak mendorong gurunya untuk melaksanakan kegiatan ini. Walaupun sudah direncanakan, terkadang sulit mencari peluang atau kesempatan yang sesuai antara kegiatan sekolah dengan kegiatan dosen itu sendiri. Sehingga kadangkala saat implrmrntasi observer dating terlambat. Karena harus mengajar dulu dan banyak alasan lainnya. Hal ini berdampak pada saat kegiatan refleksi.
  4. Ketersediaan sarana dan dukungan finansial. Untuk bisa berjalannya kegiatan ini, buat kesepakan bersama bahwa biaya kebutuhan guru harus ditanggung sekolah dan kebtuhan pihak dosen ditanggung oleh pihak fakultas. Tetapi kenyataan di lapangan sering menemui kendala, guru malu untuk meminta sekedar yang tak seberapa tapi diperlukannya. Juga pihak jurusan/dosen belum mempunyai anggaran khusus untuk hal tersebut. Selain dana, juga fasilitas di sekolah. Bila guru ingin melaksanakan pembelajaran yang menuntut eksperimen kelompok jumlah set alat yang tersedia biasanya tidak memadai untuk jumlah siswa sekitar 40 orang (8 kelompok). Terkadang hanya tersedia setengahnya. Untuk itulah biasanya dibantu dengan meminjam. Kondisi bangku di ruangan kelas sekolah umumnya tidak mendukung mobilitas dan interaksi siswa. Bangku yang tersedia umumnya statis dan sempit, apalagi dihadiri banyak observer sehingga menambah sesak dan pengap.
  5. Cara menyampaikan pendapat dalam kegiatan refleksi. Walaupun sudah diingatkan saat sosialisasi bahwa focus observasi adalah cara belajar siswa, tidak mengeritik guru secara langsung, tapi karena belum terbiasa masih sering muncul kritikan langsung kepada prilaku guru. Hal ini yang kadang-kadang menyebabkan kecil hati bagi penyaji.

Daftar Referensi

Asep Jolly,2008, Model Praktek Lesson Study di Kabupaten Bandung, Bahan Pelatihan Guru Bahasa Jepang. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bandung.

Bill Cerbin & Bryan Kopp. A Brief Introduction to College Lesson Study. Lesson Study Project. online: http ://www.uwlax.edu/sotl/lsp/index2.htm

Catherine Lewis (2004) Does Lesson Study Have a Future in the United States?. Online: http://www.sowi-online.de/journal/2004-1/lesson_lewis.htm

Lesson Study Research Group online: http://www.tc.edu/lessonstudy/whatislessonstudy.html

Nelson, L. M. 1999. “Collaborative problem solving”. Dalam Reigeluth, C. M.(Ed.): Instructional-design theories and models: A new paradigm of instructional Theory”, volume II. 241-292. London: Lawrence Erlbaum Associates, Publishers.

Slamet Mulyana. 2007. Lesson Study (Makalah). Kuningan: LPMP-Jawa Barat

Wikipedia.2007. Lesson Study. Online: http://en.wikipedia.org/wiki/Lesson_study

RENCANA KEPENGAWASAN AKADEMIK

Pembinaan Lesson Study/kenkyuu jugyou

  1. A. ASPEK/MASALAH:

Menilai              :   Aktualisasi pembelajaran dengan Lesson Study

Membina                :   Guru persiapan dan pelaksanaan pembelajaran lesson study

Memantau               :   Proses pembelajaran dengan Lesson Study

Alokasi Waktu              :   3 x 60 (1 jam eksplorasi Lesson Study, 30 menit diskusi rencana, 40 menit simulasi/pelaksanaan, 40 menit rafleksi, 10 menit menyimpulkan)

Standar Kompetensi         :   Pengembangan profesi akademik “Lesson Study

Kompetensi Dasar        :  Merencanakan dan melaksanakan Lesson Study sebagai upaya untuk perbaikan pembelajaran.

  1. B. TUJUAN

Membina, mengarahkan, mengeksplorsi tentang  Lesson Study dengan  berpartisipatif, elaboratif, konfirmatif beserta peserta diklat.

  1. C. INDIKATOR KEBERHASILAN:
  2. Merencanakan, melaksanakan, merefleksi Lesson Study
    1. Menguasai konsep dan prinsip-prinsip Lesson Study
    2. Memilih pendekatan dan metode yang tepat untuk memecahkan masalahyang terjadi selama proses pembelajaran melalui Lesson Study.
    1. Mengevaluasi hasil simulasi Lesson Study
  1. STRATEGI/Metode Kerja
  • Ceramah, eksplorasi, tanya jawab, diskusi, simulasi Lesson Study, Partisipasi,
  • Elaborasi, komunikasi, konfirmasi

E. SUMBER DAYA YANG DIPERLUKAN (DANA,FASILITAS dll)

  1. Sumber belajar
  • Buku-buku  Lesson Study (UPI: 2006)
  • Hand out Lesson Study
  1. Alat/Media
  • Instrumen
  • Laptop
  • LCD
  • Alat tulis lainnya

3.   Dana    : Sekolah/ APBD/ APBN(PMPTK)

  1. F. SKENARIO KEGIATAN

1.   Pendahuluan

a.  Menyapa dan perkenalan dengan peserta pelatihan

b.  Menginformasikan, mengkondisikan peserta pelatihan.

  1. Menyampaikan tujuan pembinaan berkaitan dengan Lesson Study.

2.  Kagiatan Inti

  1. Menjelaskan konsep Lesson Study.
  2. Memberi peluang kepada peserta untuk bertanya atau memberikan pendapat.
  3. Mendiskusikan materi yang akan disimulasikan dengan model, observer, dan pembelajar dari peserta diklat
  4. Merencanakan simulasi Lesson Study
  5. Melaksanakan simulasi Lesson Study.
  1. Pasca kegiatan

a.  Merefleksi hasil proses Lesson Study bersama peserta pelatihan.

b.  Menyimpulkan hasil simulasi Lesson Study bersama peserta pelatihan

  1. Penilaian
    1. Penilaian:

Produk hasil latihan/simulasi

b.   Instrumen:

Dengan format-format (Terlampir)

5.  Penutup

  1. Menyimpulkan materi pelatihan
    1. Memberi tugas individu untuk melaksanakan simulasi di daerah/sekolah masing- masing

G. TINDAK LANJUT

Hasil pelatihan ini bisa ditindak lanjuti melalui pemantauan atau supervisi ke sekolah.

  1. EVALUASI DAN PERBAIKAN (diisi setelah proses pelatihan dilaksanakan)

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

SOAL/INSTRUMEN EVALUASI LESSON STUDY

  1. Berdasarkan sejarah, lesson study berasal dari Negara mana?

………………………………………………………………………………………….

  1. Coba tuliskan 3 tahapan lesson study?

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

  1. Aapa tujuan dari lesson study ?

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

  1. Mengapa disebut lesson study?

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

  1. Bagaimana pengalaman saudara dengan lesson study?

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

CATATAN/REKOMENDASI OBSERVER

KETIKA LESSON STUDY

Nama Sekolah  :  ……………………………………………

Mata Pelajaran  :  ……………………………………………

Kelas                 :  ……………………………………………

Waktu                :  ……………………………………………

Hari/Tanggal      :  ……………………………………………

  1. Materi Pembelajaran:

……………………………………………………………………………………….

……………………………………………………………………………………….

  1. Metode:

……………………………………………………………………………………….

  1. Langkah-langkah Pembelajaran:

-          Pendahuluan

………………………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………………….

……………………………………………………………………………………….

-          Kegiatan inti (pengenalan, latihan dasar, penerapan)

……………………………………………………………………………………….

……………………………………………………………………………………….

…………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………..

………………………………………………………………………………………..

………………………………………………………………………………………..

Penilaian:

・  Metode Penilaian:

…………………………………………………………………………………

・  Bentuk/Jenis Instrumen:

………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………….

・Instrumen/Soal:

………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………….

Kunci Jawaban dan skor penilaian:

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

-          Penutup:

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

Catatan Kesimpulan:

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

……Observer ,

……………………………

PEDOMAN PENYUSUNAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS (CLASSROOM ACTION RESEARCH)


PEDOMAN PENYUSUNAN

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

(CLASSROOM ACTION RESEARCH)

Oleh :

DRS.SUAIDIN

BAB I

PENDAHULUAN

A. Pengertian Penelitian Tindakan Kelas

Dalam literatur berbahasa Inggris, PTK disebut dengan Classroom Action Research. Saat ini PTK sedang berkembang dengan pesatnya di negera-negara maju seperti Inggris, Amerika, Australia dan Canada. Para ahli penelitian pendidikan akhir-akhir ini menaruh perhatian yang sangat besar terhadap PTK. Apabila dicermati, kecenderungan baru ini mengemuka karena jenis penelitian ini mampu menawarkan pendekatan dan prosedur baru yang lebih menjanjikan dampak langsung dalam bentuk perbaikan dan peningkatan profesionalisme guru dalam mengelola proses belajar mengajar di kelas atau implementasi berbagai program di sekolah dengan mengkaji berbagai indikator keberhasilan proses dan hasil pembelajaran yang terjadi pada siswa atau keberhasilan proses dan hasil implementasi berbagai program sekolah. Dengan kata lain, sebagaimana dikemukakan di atas, bahwa melalui PTK para guru dan siswa langsung memperoleh teori  yang dibangunnya sendiri, bukan yang diberikan oleh pihak lain sebagaimana yang telah diisyaratkan di atas, maka guru menjadi seorang praktisi dalam berteori.

Pengertian PTK atau action research seperti yang dikemukakan oleh Stephen Kemmis yang dikutip dalam D. Hopkins (1993) bahwa PTK dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan (guru), yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan itu, serta memperbaiki kondisi di mana praktek-praktek pembelajaran tersebut dilakukan. Untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut, PTK itu dilaksanakan berupa proses pengkajian berdaur (cyclical) yang terdiri dari 4 tahapan yaitu merencanakan, melakukan tindakan, mengamati dan merefleksi.

Planning                       Action                       Observation                  Reflection

Setelah dilakukan refleksi atau perenungan yang mencakup analisis, sintesis dan penilaian terhadap hasil pengamatan terhadap proses serta hasil tindakan tadi, biasanya muncul permasalahan atau pemikiran baru yang perlu mendapat perhatian, sehingga pada gilirannya perlu dilakukan perencanaan ulang, tindakan ulang, dan pengamatan ulang, serta diikuti pula dengan refleksi ulang. Demikian tahapan-tahapan ini dilakukan sampai sesuatu permasalahan dianggap teratasi, untuk kemudian biasanya diikuti oleh kemunculan permasalahan lain yang juga harus diperlakukan serupa. Hal yang demikian disebut dengan siklus dalam PTK.

B. Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas

Karakteristik PTK adalah sebagai berikut:

  1. Situasional artinya kegiatan PTK dipicu oleh permasalahan praktis yang dihayati dalam pelaksanaan tugas sehari-hari oleh guru sebagai pengelola program pembelajaran di kelas atau sebagai jajaran staf pengajar di kelas. PTK itu bersifat practice driven dan action driven dalam arti PTK bertujuan memperbaiki praktis secara langsung dalam pembelajaran sehingga dikatakan juga penelitian praktis (practice inquiry).
  2. Kontekstual artinya upaya penyelesaian atau pemecahannya demi peningkatan mutu pendidikan, prestasi siswa, profesi guru dan mutu sekolah tidak terlepas dari konteksnya dengan merefleksi diri yaitu sebagai praktisi dalam pelaksanaan tugas-tugas kesehariannya sekaligus secara sistemik meneliti dirinya sendiri.
  3. Bersifat kolaboratif dan parsitipatif antara guru, siswa dan individu lain yang terkait dalam proses pembelajaran yaitu suatu satuan kerja sama secara langsung. Kolaboratif diartikan sebagai kerja sama saling tukar menukar ide untuk melakukan aksi dalam rangka memecahkan masalah yang dihadapi.
  4. Bersifat self-evaluatif (evaluatif dn reflektif) yaitu kegiatan memodifikasi praktis yang dilakukan secara kontinu, dievaluasi dalam situasi yang ada dan terus berjalan, dengan tujuan akhir dapat meningkakan perbaikan dalam praktik yang dilakukan guru.
  5. Bersifat fleksibel dan adaptif (luwes dan mnyesuaikan) memungkinka adanya perubahan selama dalam percobaan. Adanya penyesuaian menjadikan prosedur yang cocok untuk berkerja di kelas yang dimiliki banyak kendala yang melatarbelakangi masalah-masalah di sekolah.
  6. Sifat dan sasaran PTK adalah situasional-spesifik, tujuannya untuk pemecahan masalah praktis. Dengan demikian temuan-temuannya berguna dalam dimensi praktis tidak dapat digeneralisasikan sehinga tidak secara langsung memiliki andil pada usaha pengembangan ilmu. Kajian permasalahan, prosedur pengumpulan data dan pengolahannya dilakukan secermat mungkin dengan mendasarkan pada keteguhan ilmiah.

C. Prinsip-Prinsip Penelitian Tindakan Kelas

1. Pekerjaan utama guru adalah mengajar, maka pelaksanaan PTK tidak boleh menggangu atau menghambat kegiatan pemblajaran. Ada 3 catatan yang harus di perhatikan dalam prinsip pertama ini yaitu:

  1. Dalam mencobakan sesuatu tindakan pembelajaran baru, selalu ada kemungkinan bahwa setidak-tidaknya ada pada awal-awalnya prestasi belajar siswa kurang sesuai dari yang dikehendaki, bahkan kurang dari yang diperoleh dengan cara lama, karena itu bagaimanapun, tidakan perbaikan itu masih dalam taraf dicobakan. Guru harus menggunakan pertimbangan serta tanggungjawab profesionalnya dalam menimbang-nimbang jalan keluar yang akan ditempuhnya dalam rangka memberikan yang terbaik bagi siswanya.
  2. Interaksi dari siklus tindakan juga dilakukan dengan mempertimbangkan keterlaksanaan kurikulum secara keseluruhan, khususnya dari segi pembentukan pemahaman yang mendalam yang ditandai oleh kemampuan menerapkan pengetahuan yang dipelajari melalui analisis, sintesis, dan evaluasi informasi.
  3. Penetapan siklus dalam PTK mengacu kepada penguasaan yang ditargetkan pada tahap perancangan, dan sama sekali tidak mengacu kepada kejenuhan informasi.
  4. Metodologi yang digunakan harus reliabel artinya terencana dengan cermat sehingga tidakan dapat dirumuskan dalam suatu hipotesis tindakan yang dapat diuji dilapangan.
  5. Permasalahan yang dipilih harus menarik, nyata, tidak menyulitkan, dapat dipecahkan, berada dalam jangkauan peneliti untuk melakukan perubahan dan peneliti merasa terpangil untuk meningkakan prestasi belajar siswa.
  6. Metode pengumpulan data yang digunakan tidak terlalu menuntut baik dari kemampun guru itu sendiri ataupun dari segi waktu.
  7. Dalam penyelenggaraan PTK, guru harus selalu bersikap konsisten menaruh kepedulian tinggi terhadap prosedur etika yang berkaitan dengan pekerjaannya. Artinya dalam melaksanakan PTK hafrus diketahui oleh pimpinan lembaga terkait, disosialisasikan kepada rekan-rekan dalam lembaga kancah, dilakukan sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah serta dilaporkan hasilnya sesuai dengan tata krama penyusunan karya tulis akademik.

D. Tujuan Penelitian Tindakan kelas

  1. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksanakan agar guru atau tenaga kependidikan dapat memperbaiki mutu kinerja atau meningkatkan proses pembelajaran secara berkesinambungan, yang pada dasarnya melekat pada terlaksananya misi profesional pendidikan yang diemban oleh guru. Dengan demikian PTK merupkan saklah satu cara yang strategis dalam memperbaiki kinerja guru dalam meningkatkan layanan pendidikan atau pembelajaran.
  2. Penelitian indakan Kelas (PTK) untuk mengembangkan kemampuan/ketrampilan guru untuk menghadapi permasalahan yang nyata dalam proses pembelajaran di kelasnya dan di sekolahnya sendiri.
  3. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dapat digunakan sebagai alat untuk memasukkan novasi pembelajaran kedalam sistem yang ada karena sulit dilakukan oleh upaya pembeharuan yang dilakukan pada umumnya.

E. Manfat Penelitian Tindakan Kelas

Dengan tertumbuhnya budaya meneliti yang merupakan dampak bahwa dari pelaksanaan PTK yang bersinambungan, maka banyak manfaat yang dapat dipetik yang secara keseluruhan dapat diberi label inovasi pembelajaran karena para guru semakin diberdayakan untuk mengambil berbagai prakarsa profesional secara mandiri.

Di pihak lain, prakarsa untuk selalu mencoba hal-hal baru, itu terjadi karena guru pekerja sebagai profesiuonal, guru tidak mudah berpuas diri dengan rutinitas, melainkan selalu dipacu oleh dorongan untuk berbuat lebih baik.

Bentuk lain dari inovasi pembelajaran berkenaan dengan pengembangan kurikulum adalah PTK, hal ini dapat dilakukan oleh guru karena dapat dimanfaatkan secara efektif oleh guru untuk  keperluan pengembangan kurikulum dalam arti luas. Dengan kata lain, sebagai pengajar guru juga harus bertanggung jawab terhadap pengembangan kurikulum pada tingkat kelas dan mungkin juga pada tingkat sekolah. Untuk pengembangan kurikulum pada tingkat kelas, PTK sangat memberika manfaat jika hasilnya digunakan sebagai salah satu sumber masukan.

F. Perbedaan Penelitian Konvensional dengan Penelitian Tindakan Kelas

No. Aspek Penelitian Konvensional PTK
1. Masalah Masalah dan hasil pengamatan dari pihak lain Masalah yang dirasakan dan dihadapi peneliti sendiri dalam melaksanakan tugas
2. Tujuan Menguji hipotesis, membuat generalisasi, mencari explanasi Melakukan perbaikan, peningkatan dalam pembelajaran untuk menuju peningkatan
3. Manfaat/Kegunaan Tidak langsung dan sifatnya sebagai saran Langsung dapat dirasakan dan dinikmati oleh konsumen/subjek penelitian
4. Teori Digunakan sebagai dasar perumusan hipotesis Digunakan sebagai dasar untuk memilih aksi/soilusi tindakan berikutnya
5. Metodologi Menuntut paradigma penelitian yang jelas. Langkah kerja punya kecendrungan linear dan analisa data hanya dapat dilakukan setelah data terkumpul Bersifat fleksibel, langkah kerja bersifat siklik dan setiap siklik terdiri dari tahapan-tahaman. Analisis terjadi sretiap siklus

G. Model-Model Penelitian Tindakan Kelas

Beberapa model atau desain Penelitian Tindakan Kelas adalah:

1. Model Kurt Lewin

Model Kurt Lewin menjadi acuan dari berbagai model penelitian tindakan, karena Kurt Lewin yang pertama kali memperkenalkan penelitian tindakan (action research). Dengan demikian Penelitian Tindakan Kelas yang lain ada yang mengacu pada model Kurt Lewin.

Komponen pokok dalam penelitian tindakan model Kurt Lewin yaitu:

  • Perencanaan (planning)
  • Tindakan (acting)
  • Pengamatan (observing)
  • Refleksi (reflecting)

Hubungan keempat konsep pokok tersebut digmbarkan dalam diagram berikut:

Acting

(Tindakan)

Planning                                                                        Observing

(Perencanaan)                                                                   (Pengamatan)

Reflecting

(Refleksi)

2. Model Kemmis & Taggart

Konsep dasar yang diperkenalkan oleh Kurt Lewin dan dikembangkan oleh Kemmis & Mc Taggart adalah komponen acting dan dengan obseving dijadikan menjadi suatu kesatuan karena menurut Kemmis & Mc.Taggart (1988) pada kenyataannya kedua komponen tersebut merupakan dua kegiatan yang tidak dapat dpisahkan karena kedua kegiatan harus dilakukan dalam satu kesatuan waktu. Begitu berlangsungnya suatu kegiatan dilakukan, kegiata observasi harus dilakukan sesegera mungkin. Bentuk model Penelitian Tindakan Kelas oleh Kemmis &Taggart seperti terdapat pada bentuk berikut:

Perencanaan

Refleksi                                                            SIKLUS I

Tindakan dan

Pengamatan

Perencanaan

Refleksi                                                           SIKLUS II

Tidakan dan

Pengamatan

Model Kemmis & Taggart bila dicermati pada hakekatnya berupa perangkat-perangkat atau untaian-untaian dengan suatu perangkat terdiri dari empat 4 komponen yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Untaian-untaia tersebut dipandang sebagai suatu siklus. Oleh karena itu siklus adalah putaran kegiatan yang terdiri dari perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Banyaknya  siklus dalam penelitian tindakan kelas tergantung dari permasalahan yang perlu dipecahkan, namun gambaran di atas hanya menunjukkan dua siklus. Jika suatu penelitian mengkaitkan materi pelajaran dengan tujuan pembelajaran dengan sendirinya jumlah siklus untuk setiap mata pelajaran melibatkan lebih dari dua siklus.

3. Model Hopkins

Berdasarkan desain model-model Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dari Kurt Lewin, Kemmis & Taggart, Hopkins menyusun desain atau model penelitian tindakan seperti skema berikut:

Implementasi                         Evaluasi

Perencanaan, Tindakan

Target, Tugas

Kriteria,

Keberhasilan

Menopang Komitmen

Cek Kemajuan

Mengatasi Problem

Perencanaan                                                                                    Cek Hasil

Konstruksi

Pengambilan Stok

Audit                                                   Pelaporan

Ambil Start

Dari beberapa model atau desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di atas dapat di ambil dan dicermati salah satu dari bentuk model (umumnya yang telah banyak dilakukan) adalah desain model Kemmis & Taggart.

BAB II

PROSEDUR PELAKSANAAN

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

A. Merasakan Adanya Masalah

Pertanyaan yang mungkin timbul bagi peneliti semula adalah: ”Bagaimana memulai Penelitian Tindakan Kelas ?”. Untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut pertama-tama yang harus dilakukan guru adalah perasaan ketidakpuasan terhadap praktek pembelajaran yang dilakukannya selama ini. Manakala guru merasa puas dengan hasil yang diperoleh selama ini terhadap apa yang dilakukannya dalam proses pembelajaran di kelas, meskipun sebenarnya banyak hambatan yang dialami dalam pengelolaan proses pembelajaran, sulit kiranya seorang guru untuk memunculkan pertanyaan seperti di atas yang kemudian memicu untuk dimulainya sebuah penelitian tindakan kelas (Suyanto, 1997).

Oleh sebab itu agar guru dapat menerapkan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dalam upaya untuk memperbaiki atau meningkatkan layanan pembelajaran secara lebih profesional, ia dituntut keberaniannya untuk mengatakan sejujurnya khususnya kepada dirinya sendiri mengenai sisi-sisi lemah proses pembelajaran dalam rangka mengidentifikasi permasalahan.

Dengan kata lain, permasalahan yang diangkat dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) harus benar-benar merupakan masalah-masalah yng dihadapi oleh guru dalam praktek pembelajaran yang dikelolanya, bukan permasalahan yang dialami atau disarankan oleh orang lain.

Bidang kajian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dirasakan adanya masalah adalah:

  1. Masalah belajar siswa di sekolah (termasuk dalam tema ini antara lain masalah belajar siswa di kelas, kesalahan-kesalahan pembelajaran miskonsepsi).
  2. Desain dan strategi pembealajaran di kelas (termasuk dalam tema ini antara lain masalah pengelolaan dan prosedur pembelajaran, implementasi dan inovasi dalam metode pembelajaran, interaksi di dalam kelas, partisipasi orang tua dalam proses belajar siswa).
  3. Alat bantu, media, dan sumber belajar (termasuk dalam tema ini adalah masalah penggunaan media, perpustakaan, dan sumber belajar baik di dalam maupun di luar kelas, peningkatan hubungan antara sekolah dan masyarakat).
  4. Sistem asessmen dan evaluasi proses dan hasil pembelajaran (termasuk dalam tema ini adalah masalah evaluasi awal dan hasil pembelajaran, pengembangan instrumen asessmen berbasis kompetensi).
  5. Pengembangan pribadi peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan lainnya (termasuk dalam tema ini adalah peningkatan kemandirian dan tanggungjawab peserta didik, peningkatan keefektifan hubungan antara pendidik, peserta didik dan orang tua dalam proses belajar mengajar, peningkatan konsep diri peserta didik).
  6. Masalah kurikulum (termasuk tema ini adalah implementasi KBK, urutan penyajian materi pokok, interaksi guru – siswa, siswa – materi ajar, dan siswa – lingkungan belajar}.

B. Identifikasi Masalah

Menurut Hopkins (1993), untuk mendorong pikiran – pikiran dalam mengembangkn fokus Penelitian Tindakan Kelas kita bisa bertanya kepada diri sendiri, misalnya:

  • Saya berkeinginan memperbaiki ……………..
  • Berapa orangkah yang merasa tidak puas tentang ……..
  • Saya dibingungkan oleh …………….
  • Saya memilih untuk mengujicobakan metode yang baru, di kelas ……
  • Dan seterusnya.

Jika mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi permasalahan, maka guru dapat meminta bantuan pada rekan sesama guru, berdiskusi misalnya dengan dosen mitra LPTK dan sebagainya.

Sebenarnya setiap harinya tiada putus-putusnya guru banyak menghadapi masalah. Oleh karena itu bila guru kesulitan untuk mengidentifikasi masalah untuk Penelitian Tindakan Kelas sungguh ironis.

Beberapa saran yang dapat dilakukan dalam mengidentifikasi masalah:

  1. Guru menuliskan semua kejadian yang memerlukan perhatian terutama berkaitan dengan pembelajaran, misalnya: penyampaian materi, daya tangkap siswa, intensitas waktu, sikap siswa, motivasi siswa dan lain-lain.
  2. Semua kejadian yang ada seperti tersebut di atas dikelompokkan atau diidentifikasikan menurut jenis permasalahannya.
  3. Urutkan dari klasifikasi ringan sampai yang berat dari jenis masing-masing klasifikasi.

C. Analisis Masalah

Menurut Abimanyu (1995) arahan yang perlu diperhatikan dalam pemilihan permasalahan untuk Penelitian Tindakan Kelas adalah sebagai berikut:

  1. Topik yang melibatkan guru dalam serangkaian aktivitas yang memang diprogramkan oleh sekolah.
  2. Jangan memilih masalah yang berada diluar kemampuan guru untuk mengatasinya.
  3. Pilih dan tetapkan permasalahan yang skalanya cukup kecil dan terbatas.
  4. Usahakan untuk bekerja secara kolaboratif dengan guru mata pelajaran yang sejenis dalam pengembangan fokus penelitian.
  5. Kaitkan Penelitian Tindakan Kelas yang akan dilakukan dengan prioritas-prioritas yang ditetapkan dalam rencana pengembangan sekolah.

D. Perumusan Maalah

Setelah menetapkan fokus permasalahan serta menganalisanya menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, maka selanjutnya guru perlu merumuskan permasalahan secara jelas, spesifik dan operasional. Perumusan masalah yang jelas akan membuka peluang bagi guru untuk menenapkan tindakan perbaikan (alternatif solusi) yang perlu dilakukannya. Ingatlah bahwa tidak semua identifikasi masalah dapat diambil untuk dijadikan rumusan masalah, guru boleh memilih satu atau dua dari identifikasi masalah yang akan dijadikan fokus dalam melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas.

Rumusan masalah sebaiknya menggunakan kalimat tanya, dengan mengajukan alternatif tindakan yang akan dilakukan dan hasil positif yang diantisipasi dengan mengajukan indikator keberhasilan (ketuntasan SKBM) yang telah ditetapkan oleh sekolah tempat melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas. Rumusan masalah harus dikaitkan dengan rumusan hipotesis tindakan, sehingga jawaban dari rumusan masalah dapat terjawab secara teoritis.

E. Merumuskan Hipotesis Tindakan

Langkah selanjutnya setelah merumuskan masalah adalah mengkaji teori-teori yang berkenaan dengan masalah yang diajukan. Hasil-hasil penelitian yang elevan akan memperkuat dalam merumuskan hipotesis tindakan. Perlu diketahui bahwa hipotesis tindakan bukanlah hipotesis hubngan sebab akibat antar variabel, perbedaan antar variabel, tetapi memuat tindakan-tindakan yang diusulkan untuk menghasilkan perbaikan dalam pendidikan.

Menurut Soedarsono (1997) beberapa hal yang perlu diperhtikan dalam merumuskan hipotesis tindakan adalah sebagai berikut:

  1. Rumuskan alternatif tindakan perbaikan berdasarkan hasil kajian. Dengan kata lain alternatif tindakan perbaikan hendaknya mempunyai landasan yang mantap secara konseptual.
  2. Setiap alternatif tindakan perbaikan yang dipertimbangkan perlu dikaji ulang dan dievaluasi dari segi relevansinya, dengan tujuan, kebaikan teknis serta keterlaksanaannya. Di samping itu perlu ditetapkan cara penilaiannya sehingga dapat memanipulasi pengumpulan serta analisa data secara cepat namun tepat selama program tindakan perbaikan diimplementasikan.
  3. Pilih alternatif tindakan secara prosedur implementasi yang dinilai paling menjanjikan hasil optimal namun masih tetap ada dalam jangkauan kemampuan guru untuk melakukannya dalam kondisi dan situasi sekolah yang aktual.
  4. Pikirkan dengan seksama perubahan-perubahan yang secara implisit dijanjikan melalui hipotesis tindakan itu, baik yang berupa proses dan hasil belajar siswa maupun teknik mengajar guru.

F. Analisa data

Analisa data adalah proses menyeleksi, menyederhanakan, memfokuskan, mengabstraksikan, mengorganisasikan data secara sistematis dan rasional untuk menampilkan bahan-bahan yang dapat digunakan untuk menyusun jawaban terhadap tujuan Penelitian Tindakan Kelas.

Analisa data dapat dilakukan melalui tiga tahap yaitu:

1. Reduksi data

Reduksi data adalah proses penyederhanaan yang dilakukan melalui seleksi, pemfokusan, dan pengabstraksikan data mentah menjadi informasi yang bermakna.

  1. Paparan data

Paparan data adalah proses penampilan data secara lebih sederhana dalam bentuk paparan naratif, representasi tabulasi termasuk dalam bentuk format matriks, refresentasi grafis, dan sebagainya.

  1. Penyimpulan

Penyimpulan adalah proses pengambilan intisari dari sajian data yang telah terorganisir tersebut dalam bentuk pernyataan kalimat dan/atau formulasi singkat dan padat tetapi mengandung pengertian luas.

G. Refleksi

Refleksi dalam Penelitian Tindakan Kelas adalah upaya untuk mengkaji apa yang telah dan/atau tidak terjadi, apa yang telah dihasilkan atau apa yang belum berhasil dituntaskan dengan tindakan perbaikan yang telah dilakukan. Hasil refleksi itu digunakan untuk menetapkan langkah-langkah lebih lanjut dalam upaya mencapai tujuan dalam Penelitian Tindakan Kelas. Dengan kata lain refleksi merupakan pengkajian terhadap keberhasilan atau kegagalan dalam mencapai tujuan sementara, dan untuk menentukan tindak lanjut dalam rangka mencapai tujuan akhir yang mungkin ditetapkan dalam rangka pencapaian berbagai tujuan sementara lainnya.

BAB III

PENYUSUNAN PROPOSAL

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)

A. Judul Penelitian

Judul Penelitian Tindakan Kelas (PTK) hendaknya singkat, jelas dan sederhana namun secara tersirat telah menampilkan sosok PTK, bukan sosok penelitian konvensional. Dengan kata lain judul hendaknya singkat dan spesifik tetapi cukup menggambarkan masalah yang akan diteliti dan tindakan untuk mengatasi masalahnya.

B. Bidang Kajian

Tuliskan bidang kajian penelitian (misalnya Matematika, Bhs. Inggris, PS dan sebagainya).

C. Pendahuluan

1. Latar Belakang Masalah

Dalam latar belakang masalah hendaknya diuraikan urgensi penanganan masalah yang diajukan itu melalui PTK. Penelitian dilakukan untuk memecahkan permasalahan pendidikan dan pembelajaran. Kemukakan secara jelas bahwa masalah yang akan diteliti merupakan sebuah masalah yang nyata terjadi disekolah dan diagnosis dilakukan oleh guru. Masalah yang akan diteliti adalah sebuah masalah yang penting dan mendesak untuk dipecahkan serta dapat dilaksanakan dilihat dari segi ketersediaan waktu, biaya dan daya dukung lainnya yang dapat memperlancar penelitian. Uraikan permasalahan yang ada hendaknya didahului oleh identifikasi masalah, dilanjutkan dengan analisis masalah yang dideskripsikan secara cermat akar penyebab dari masalah tersebut.

Secara garis besar latar belakang masalah berisi uraian:

  1. fakta-fakta pendukung,
  2. argumen-argumen teoritik tentang tindakan yang akan dipilih,
  3. hasil penelitian terdahulu (jika ada) dan
  4. alasan pentingnya penelitian ini dilaksanakan.

2. Perumusan Masalah

Rumuskan masalah penelitian dalam bentuk suatu rumusan Penelitian Tindakan Kelas, yang dipilih dari identifikasi masalah. Rumusan masalah dibuat dalam bentuk kalimat tanya, karena hal ini akan menjadi fokus pengamatan dalam penelitian dan dikaitkan dengan rumusan hipotesis tindakan.

3. Pemecahan masalah

Dalam bagian ini dikemukakan cara yang diajukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Alternatif pemecahan masalah yang diajukan hendaknya mempunyai landasan konseptual yang mantap yang bertolak dari hasil analisis masalah. Uraikan alternatif tindakan yang akan dilakukan untuk memecahkan masalah. Pendekatan dan konsep yang digunakan untuk menjawab masalah yang diteliti hendaknya sesuai dengan kaedah Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

4. Tujuan Penelitian

Tujuan Penelitrian Tindakan Kelas (PTK) hendaknya dirumuskan dengan singkat dan jelas. Perumusan tujuan harus konsisten dengan hakekat permasalahan yang dikemukakan pada rumusan masalah.

5. Manfaat Penelitian

Kemukakan manfaat atau sumbangan yang diperoleh dari hasil penelitian baik manfaat secara teoritis maupuin secara praktis yaitu baik yang menyangkut: siswa, guru pelaksana penelitian maupun guru pada umumnya, sekolah, pengembang kurikulum, Lembaga pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK).

D. Kajian Teoritis dan Perumusan Hipotesis Tindakan

Uraikan dengan jelas kajian teori yang menumbuhkan gagasan yang mendasari usulan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Kemukakan teori, temuan, dan hasil penelitian lain yang relevan dengan penelitian tindakan, sehingga mendukung penelitian yang akan dilakukan. Uraian ini digunakan unuk menyusun kerangka berfikir atau konsep yang akan digunakan dalam penelitian. Pada bagian akhir dikemukakan rumusan hipotesis tindakan yang merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah yang diajukan.

E. Metodologi Penelitian

1. Rancangan / Model Penelitian

Rancangan atau model penelitian tidakan dapat dipilih dari beberapa model penelitian tindakan yang telah dikemukakan di atas, pilih model sesuai dengan rencana dindakan. Jelaskan jumlah siklus yang akan digunkan.

2. Setting Penelitian

Pada bagian ini dijelaskan tentang lokasi penelitian, karakteristik subjek penelitian dan karakteristik mata pelajaran juga dijelaskan.

3.  Rencana tindakan

Pada bagian ini digambarkan rencana tindakan untuk meningkatkan mutu pembelajaran, seperti:

  1. Perencanaan, yaitu persiapan yang dilakukan sehubungan dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) seperti pembuatan skenario pembelajaran, pengadaan alat-alat dalam rangka implementasi PTK, instrumen, serta alat observasi lain yang terkait dengan pelaksanaan tindakan perbaikan yang telah ditetaaapkan sebelumnya.
  2. Implementasi tindakan, yaitu diskripsi tindakan yang akan digelar, skenario kerja tindakan perbaikan, dan prosedur tindakan yang akan ditetapkan.
  3. Observasi dan interpretasi, yaitu uraian tentang prosedur perekaman dan penafsiran data mengenai proses dan hasil produk dari implemntasi tindakan perbaikan yang dirancang.
  4. Analisis dan refleksi, yaitu uraian tentang prosedur analisis terhadap hasil pemantauan dan refleksi berkenaan dengan dampak tindakan perbaikan yang akan digelar, personel yang dilibatkan, serta kriteria dan rancangan bagi tindakan berikutnya (siklus selanjutnya).

F. Jadwal Penelitian

Berisi penjelasan kegiatan yang akan dilakukan, waktu, dimulainya pelaksanaan sampai pelaporan. Biasanya ditampilkan dalam bentuk matriks kegiatan.

G. Rencana Anggaran

Rencana anggaran biaya dan disusun secara cermat meliputi : tahapan persiapan, pelaksanaan penelitian dan pelaporan. Kegiatan dalam persiapan meliputi pertemuan antara anggota tim peneliti (tim kolaborasi) untuk menyusun dan menetapkan jadwal penelitian dan pembagia kerja, menyusun instrumen penelitian, menetapkan indikator ketercapaian (sesuai SKBM), menetapkan format analisa data, lembar observasai, dan analisis data.

Kegiatan pelaksanaan penelitian mencakup implementasi tindakan perbaikan, pelaksanaan tindakan perbaikan, observasi, dan refleksi. Kegiatan penulisan pelaporan meliputi penyusunan konsep laporan, perbaikan, penyusunan konsep laporan akhir, seminar hasil penelitian, dan sebagainya.

H. Daftar Pustaka

Menunjukkan pustaka yang betul-betul digunakan dalam penyusunan proposal dan disusun secara alfabetis.

I. Lampiran-Lampiran

Lampirkan hal-hal yang terkait dengan Penelitian Tindakan Kelas, yaitu:

  1. Data hasil analisis
  2. Lembar instrumen dan lembar observasi
  3. Biodata peneliti/Curriculum Vitae
  4. Daftar tabel jika diperlukan
  5. Dan lain-lain.

BAB IV

SISTEMATIKA PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Sistematika  pelaporan  hasil  Penelitian Tindakan  Kelas  (PTK)  terdiri dari 5 bab sebagai berikut:

BAB I                   PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah
  2. Rumusan Masalah
  3. Tujuan Penelitian
  4. Manfaat Penelitian

BAB II                 KERANGKA TEORITIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS TINDAKAN

  1. Kerangka Teoritis
  2. Hasil Penelitian yang Relevan
  3. Kerangka Berfikir
  4. Perumusan Hipotesis Tindakan

BAB III                METODOLOGI PENELITIAN

  1. Rancangan/Model Penelitian
  2. Setting Penelitian
  3. Rencana penelitian Tindakan
  4. Metode Pengumpulan Data
  5. Analisis Data
  6. Jadwal Kegiatan
  7. Anggaran/Biaya Penelitian

BAB IV                HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Hasil Penelitian
    1. Deskripsi Hasil Observasi Tindakan
    2. Deskripsi hasil Tindakan

B. Pembahasan

BAB V                 SIMPULAN DAN SARAN

  1. SIMPULAN
  2. SARAN

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

DAFTAR PUSTAKA

Abimanyu,S. 1996. Penelitian Praktis Untuk Perbaikan Pembelajaran. Jakarta: Dirjen Dikti Proyek Pendidikan Guru SD

Akbar Ali, 2005. Meningkatkat Prestasi Belajar matematika Melalui Pendekatan Pembelajaran Kontekstual Pada Siswa SMP Negeri 2 Suralaga. Selong: STKIP HAMZANWADI

Depdiknas, 1999. Penelitian Tindakan Kelas (PTK): Bahan Pelatihan Dosen LPTK dan Guu Sekolah Menengah. Jakarta: Dirjen Dikti

Depdiknas, 2004. Materi Pelatihan Terintegrasi mata Pelajaran Matematika Jilid 3. Jakarta: Balitbang

Depdiknas, 2004. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta: Balitbang

Depdiknas, 2005. Penelitian Peningkatan Pembelajaran Di LPTK. Jakarta: Dirjen Dikti Bagian PPKM

Hariyanto, 2001. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) : Baha Pelathan Dosen LPTK. Mataram: Unram

Hopkins, D. 1993. A Teacher,s Guide Top ClassroomResearch. Buchingham: Open University Press

Kemmis, Stephen & Mc. Taggart Robin, 1988. The Action Research Planner. Victoria: Deakim University

Soedarsono, 1997. Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: Dirjen dikti BP3 GSD Yogyakarta

Suyanto, 1997. Pengenalan Penelitian Tindakan Kelas (Pedoman Pelaksanaan penelitian Tindakan Kelas). Yogyakarta: Dirjen Dikti BP3 GSD Yogyakarta

BIODATA KETERANGAN PERORANGAN 1. Nama Le…


BIODATA

KETERANGAN PERORANGAN

1. Nama Lengkap Drs.Suaidin Usman
2. NIP 19630801 198703 1 013
3. Jabatan Pengawas SMP/SMA/SMK
4. Pangkat dan Golongan /TMT Pembina IV/c
5. Jabatan Pengawas,TMT Pengawas Madya,20-01-2005
6. Tempat dan tanggal Lahir Dompu, 08-01-1963
7. Jenis Kelamin Laki-Laki
8. Agama Islam
9. Kantor Dinas Dikpora Dab.Dompu
10. Alamat Kantor Jl.soekano Hatta No.17A Dompu NTB
11. Telp/fax 037321040
12. Status Perkawinan KAWIN
13. Alamat

a.Jalan

b.Kelurahan

c.Kecamatan

d.Kabupaten

e.Propinsi

Imambonjol

Kandai Dua lingk Polo RT.04/RW.02

Woja

Dompu

NTB

14. Telepon

a.Rumah

b.HP

c.e-mail

037321218

085239756500

suaidin@yahoo.com

Nama Istri            : Puji Astuti

Pekerjaan Istri      : PNS

Jabatan                 : Guru SD

ANAK

NO NAMA USIA PENDIDIKAN
1

2

3

4

MIKHRATUNNISA

MIFTAH FAUZAN

MUHAMMAD IRDHI

FAUZUL ADHIM

20 THN

16 THN

13 THN

8 THN

UNRAM SEMESTER – V

SMA KELAS II

SMP KELAS II

SD KELAS III

  1. RIWAYAT PENDIDIKA
NO TINGKAT PENDIDIKAN JURUSAN TAHUN INSTITUSI PENDIDIKAN
1. SD SDN 1975 SDN 8 DOMPU
2. SMP SMPN 1979 SMPN 1 DOMPU
3. SLTA SMAN IPA 1982 SMAN 1 DOMPU
4. PERGURUAN TINGGI S1/AKTA.IV PEND.MATEMATIKA 1986 IKIP NEGERI UJUNG PANDAMG
  1. PENDIDIKAN DAN  PELATIHAN
NO NAMA/JENIS

DIKLAT

WKT

PELAKSANAAN

TAHUN PENYELENGARA TEMPAT
1 Worshop TOT PJP dan Fasilitator Propinsi/kab/kota Diklat Bintek KTSP 2009 37 jam 2009 Dierektorat Pembinaan SMA Nusa Dua Bali
2. Diklat Penyusunan Program kerja Tim Penggkaji kurikulum KTSP 2008 Dinas Diknas kab.dompu Dompu
3. Pelatihan Asesor SMA/MA Thn 2008 4 hari

(setara 40 jam)

2008 BAP S/M PROPINSI NTB MATARAM
4. Diklat Nasional “Pemanfaatan Media dan teknologi dalam Pembelajaran tgl 11 maret ”th 2008 10  Jam 2008 Learnig Center UIN Alaudin Makassar Dompu
5. Diklat Nasional “Pemanfaatan Media dan teknologi dalam Pembelajaran tgl 10 maret ”th 2008 10  Jam 2008 Learnig Center UIN Alaudin Makassar Dompu
6. Worshop Penyusunan Standar Pelayanan Minimal (SPM)  Kab.Dompu th 2008 31 jam 2008 Dinas Diknas Kab.Dompu Hotel Rinjani Dompu
7. Pelatihan (KKRPSP) Seri .E tgl 9 sd 13 Juni thn 2008 30  jam 2008 Distrik Koordinator-AIBEP –Kab.Bima Hotel Lambitu Kota Bima
8. Pelatihan Kelompok Kerja Rencana Pengembangan Sekolah (KKRPSP) Seri – D tgl 8 sd 10 april thn 2008 30  jam 2008 Distrik Koordinator-AIBEP –Kab.Bima Hotel Lambitu Kota Bima
9. TOT (Training Of Trainer) Region-2 Seri-2 Program WDD/WSD –AIBEP tgl. 19 sd 26 oktober 2008 7 hari

(Setara

60  Jam)

2008 MCPM-AIBEP Jakarta Hotel Jaayajarta  Kota Mataram
10. TOT (Training Of Trainer) Region-2 Seri-1 Program WDD/WSD –AIBEP Indonesia-Australia tgl. 10  sd 17 Agustus 2008 7 hari  (Setara

60  Jam)

2008 MCPM-AIBEP Jakarta Htl Jayakarta  Kota Mataram
11. Peserta Diklat Pemantapan kinerja dan program pengembangan KTSP bagi engawas  tgl 23 sd 25 juni 2007 3 hari (setara 30 jam) 2007 Diknas kabupaten

dompu

DOMPU
12. Peserta Diklt Peningkatan Profesionalisme Pengawas Sekolah 54 jam Proyek DBEP-ADB Kab.Dompu Dompu
13. Peserta  Pelatihan Ketermapilan Komputer dan pengelolan informasi (KKPI) bagi Pengawas Sekolah 6 hari  (setara 60 jam) 2007 AMICOM MATARAM MATARAM
14. Diklat Pemantapan kinerja Pengawas 23 sd 25 juni 2007 3 hari

(setara 30 jam)

2007 Diknas kab.dompu Dompu
15. Pelatihan PTK  Tkt SMP thn 2007 40  Jam 2007 DBEP-ADB Dinas Diknas Kab.Dompu Dompu
16. Pelatihan Pengawas sekolah tg 31 Okt sd 4 Nop 2007 81  Jam 2007 Dinas Diknas Kab.Dompu Dompu
17. Pelatihan pendidikan tgl

19 sd 20 Juni

2006

2 hari (setara 20 jam) 2006 Hamarta % Partnes Comunications traines & Consultants DOMPU
18. Pelatihan Asesor Visitasi Akreditasi Sekolah/Madrasah thn 2006  (Lulus) 40 Jam 2006 Badan Akreditasi Sekolah PrpopinsiNTB Mataram
19 Pelatihan Peningkatan Profesionalisme Pengawas Sekolah 54 jam 2005 Dinas Diknas Kab.Dompu Dompu
20. Orientasi Pendais Bagi kepala Sekolah / Wakil kepala sekolah, tgl 26 juli sd 28 juli 2001 40 Jam 2001 Dijen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam mataram
21. Peranatan Tertulis Tipe A dengan Sisitim Belajar Mandiri bagi Guru SMU Mata tataran Karya Tulis Ilmiah thn 600 jam 2000 Dirjen Dikdasmen PPPG tertrulis jakarta pusat PPPG Tertulis Bandung
22. Pelatihan Kepala SMU tgl 27 sd 10 okt 1999 140 Jam 1999 Kanwil depdikbud NTB Mataram
23. Diklat /Penataran Perpustakaan SMA 1988 Kanwil Depdikbud SULSEL UJUNG PANDANG
24. MGMP Matematika tgl 15 Nop 1995 sd 31 januari 1996 84  Jam 1996 Kanwil Depdikbud  NTB Mataram
25. Pelatihan CAKEP SMU thn 1996 100 jam 1996 Direktorat Pendidikan Menengah Umum Jakarta Denpasar Bali
26. Penataran Tutor daerah Prog Penyetaraan D3 Gr SMP thn 1995 66 Jam 1995 Kanwil depdikbud Prop NTB Mataram
27. Latiah Kerja Guru (LKG)matematikan thn 1994 37  Jam 1994 Depdikbud Dompu
28. Penataran Tutor daerah Prog Penyetaraan D3 Gr SMP thn 1994 89 Jam 1994 Kanwil depdikbud Prop NTB Mataram
29. Pelatihan Keterampilan Membuat dan Memanfaatkan  Media pendidikan thn 1993 50 jam 1993 Dijen Dikdasmen Direktorat Sarana Pendidikan M ataram
30. Penataran Tutor Daerah Prog Penyetaraan D3 Gr SMP thn 1993/TOT 84 Jam 1993 Kanwil depdikbud Prop NTB Mataram
31 MGMP Matematika thn 1993 30 Jam 1993 Depdikbud Dompu
32 Penataran Tutor Daerah  Prog Penyetaraan D3 Gr SMP thn 1992 / TOT 82 Jam 1992 Kanwil depdikbud Prop NTB Mataram
33 Latihan Kerja Guru (LKG)/Sanggar PKG matematika  thn 1991 140 Jam 1991 Kanwil depdikbud Prop Sulsel Ujung Pandang
  1. RIWAYAT PEKERJAAN
NO JABATAN LAMA BERTUGAS

….sd….

TEMPAT KETERANGAN
1 Guru 1987 s/d   1991 SMAN KALUKKU

Mamuju Sulsel

2. Wakasek Kurikulum 1987 s/d   1991 SMAN KALUKKU Mamuju Sulsel
3. Guru O1 mei 1991 s/d 18 agustus 1998 SMAN 2 Dompu
4. WakaseK KBM 1994 sd 1998 SMAN 2 Dompu
5 Pembina IMO 1993/1994

1994/1995

SMAN 2 Dompu

SMAN 2 Dompu

6 Pembina Pramuka 1995/1996 SMAN 2 Dompu
7. Pembina LKIR 1995/1996 SMAN 2 Dompu
8. Pembina Perpustakaan 1995/1996 SMAN 2 Dompu
9 Guru Pikket 1992/1993 SMAN 2 dompu
10 Kepala Sekolah 1998 sd 2002 SMAN 2 KEMPO
11 Kepala Sekolah 2002 sd 2005 SMAN 1 Kempo
12 Guru 2005 SMAN 1 Manggelewa
13 Pengawas 2005 sd sekarang Dinas Diknas Dompu
14 TIM Pengkaji Kurikulum 2008 sd sekarang Dompu
15 Anggota Tim Penilai RABPS dana Gratis  Kabupaten 2008/2009 Dinas Dikpora Kab.Domu
16 Angota Tim Penilaia wawasan Wiyatamandala 2007 Diknas Domu
17 Dosen STAI Al-Amin Dompu 2006 sd sekarang Stai Al-Amin Dompu
18 Penguji UKM ( Ujian Kualifikasi Mutu) Prog D2 PGTK dan S1 PAI 2008/2009 STAI Al-Amin Domu
  1. PENGALAMAN
    1. KUNJUNGAN  KE LUAR NEGERI
NO NEGARA YG DITUJU THN TUJUAN KUNJUNGAN LAMA KUNJUNGAN DIBIAYAI OLEH
  1. KEIKUTSERTAAN DALAM FORUM ILMIAH:
No Jenis kegiatan Peran Tahun Tingkat
1 BIMTEK KTSP Kab.Dompu yang diselenggarakan oleh Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Jakarta Fasilitator Nasional/Pusat 2009 Kab.Dompu
2. Pesera Seleksi Pengawas berprestasi tkt propinsi NTB peserta 2009 Subdin Dikti Dikpora Propinsi NTB
3 BIMTEK KTSP SMP

Tgl 1 s/d 4 Juni 2009 di SMPN 3 Woja

Instruktur/fasilitator 2009 Kabupaten
4 BIMTEK KTSP SMP

Tgl 24 s/d 27 Juni 2009 di SMPN 1 Kempo

Instruktur/fasilitator 2009 Kabupaten
5 BIMTEK KTSP SMP

Tgl 29 juni s/d 1 Juli 2009 di SMPN 4 Woja

Instruktur/fasilitator 2009 Kabupaten
6. Melaksanakan visitasi akreditasi 7 (lima) Sekolah/Madrasah  SMA dan MA di Pulau Sumbawa tgl 25 mei sd 11 juni  2008 Asesor 2009 BAP S/M NTB
7. Tim Seleksi Guru/kepala sekolah berprestasi Tk Kab.Dompu Tim Penilai 2009 Dinas Dikpora Kab.Dompu
8. Instruktur pada Pelatihan Kelompok Kerja Rencana Pengembangan Sekolah (KKRPSP Seri – D – BEP-AIBEP Ind-Australia Instruktur/fasilitator 2009 Aibep MCPM jakarta

Distrik BIMA-Dompu

9. Instruktur pada Pelatihan Kelompok Kerja Rencana Pengembangan Sekolah (KKRPSP Seri – C BEP-AIBEP Ind-Australia Instruktur/fasilitator 2009 Aibep MCPM jakarta

Distrik BIMA-Dompu

10 Instruktur Pelatihan Kelompok Kerja Rencana Pengembangan Sekolah (KKRPSP) Seri – B tgl 3 sd 2 pebruari thn 2009 Instruktur/fasilitator 2009 Distrik

Bima Dompu

11 Worshop Bimtek KTSP SMA  tgl 10 s.d 12 JULI 2009, yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan SMA jakarta Fasilitator/Instruktur

2009

Region-2

Di SMAN 1 WOJA

12 Worshop Bimtek KTSP SMA  tgl 2 s.d 5 januari 2009, yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan SMA jakarta Fasilitator/Instruktur 2009 Regioj-2

SMAN 1 Dompu

13 Worshop Bimtek KTSP dan CTL Rayon 2 SMP kab.Dompu thn 2009 Fasilitator

2009

SMPN 2 Dompu
14 Melaksanakan visitasi akreditasi 4(emat ) Sekolah/Mdarasah TK,SD/MI,MTs  di Prpopinsi NTB tgl 2 sd 14 Juni 2008 Asesor

2008

Propinsi

di Dompu

15 Melaksanakan visitasi akreditasi 5 (lima) Sekolah/Madrasah  SMA dan MA di Pulau Sumbawa tgl 10 sd 18 Oktober 2008 Asesor 2008 Propinsi

Di Sumbawa

16 MGMP  Guru Mata Pelajaran Rayon 2 kab.Dompu 2008 Fasilitator/ 2008 SMPN 2 Kempo
17 MGMP  Guru Mata Pelajaran Rayon 3 SMP kab.Dompu 2007/2008 Fasilitator/ 2008 SMPN 1 HU’U
18 MGMP  Guru Mata Pelajaran  SMPN 2 Woja Semester Genap tal 9 sd 11 januari Thn 2008 Fasilitator/narasumber 2008 SMPN 2 Woja
19. MGMP  Guru Mata Pelajaran  Tkt. SMA Semester ganjil tgl 23 sd 26 januari Thn 2008 Fasilitator/narasumber 2008 SMAN 1 Pekat
20. MGMP  SMP Smester Genap tgl 2 sd 4 januari2008 Fasilitator 2008 SMPN 3 Woja
21. MGMP  Guru Mata Pelajaran  SMA  tgl 18 sd 20 januari Thn 2008 Fasilitator/narasumber 2008 SMAN 1 Kempo
22. Bimtek KTSP SMA  Kab.dompu, tgl 27 s.d 30 Juli 2008, yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan SMA jakarta Fasilitator Daerah 2008 Region-2 SMAN 1 Dompu
23. Worshop MGMP Tkt SMAN Kab.Dompu tgl 17 sd 19 juli 2008 Fasilitator 2008 SMAN 1 Woja
24. Bimtek KTSP SMA Rayon Kempo dan Pekat 29 sd 30 Agsts 2008 Fasilitator/Instruktur 2008 SMAN 1 Kempo
25. Rakor Wajar Dikdasmen 12 thn tgl 21 april 2008 Pesreta 2008 Kabupaten
26. Worshop Pembahasan draf PERDAPendidikan

29 m2i 2008

peserta 2008 kabupaten
27. Pemilihan/Lomba Pengawas Prestasi dan berdedikasi Propinsi  NTB Peserta 2008 Propinsi
28. Study banding Pencarian data persiapan Penysysnan draf PERDA Pendidikan  kab.Dompu Sekertaris Tim Penyusun draff perda Pendidikan

Kab.Dompu

2008 Popinsi
29. Seminar Akreditasi Sekolah/madrasah thn 2008 Peserta 2008 Propinsi
30. Seminar * Sertifikasi guru Menuju Guru Yang Profesional”22 desember  2008 Peserta 2008 Kabupaten
31. Melaksanakan visitasi akreditasi 5(lima) Sekolah/Madrasah TK/SD/SMP  di Propinsi NTB tgl 20 Sept sd 06  Okt 2007 Asesor 2007 Propinsi
32. Worshop Revitalisasi MKKS  SMP/MTs Kab.Dompu 2007 Narasumber 2007 Kab. Dompu
33. Diklat Guru BK SMP/MTs Kab.Dompu tgl 1 sd 3 Nop 2007 Fasilitator/penyaji 2007 Kab. Dompu
34. Whorshop pemberdayaan komite sekolah 22 sd 23 juli 2007 instruktur 2007 Kab.Dompu
35. Worshop peningkatan Kompetensi dan Kinerja Pengawas thn 2007 Fasilitator 2007 Kab. Dompu
36. MGMP  Guru Mata Pelajaran Surayon 3  SMA kab Dompu 10 sd 13 januari 2007 Fasilitator/narasumber 2007 SMAN 1 Manggelewa
37. Seminar dan Evaluasi akhir ProgramKemitraan Kepala Sekolah angkaan V th 2007 Pesrta 2007 Nasional

Di Bogor

38. MGMP  dalam Pengembangan KTSP Guru SMP semster ganjil tgl 18 sd 20 juni thn 2007 Fasilitator 2007 SMPN 3 Woja
39. Rapat koordinasi TIM MBS tgl 7 juli 2007 pserta 2007 kabupaten
40. Seminar dan Evaluasi akhir ProgramKemitraan Kepala Sekolah angkaan V th 2007 Pesrta 2007 Nasional
41. Worshop Pemberdayaan TIM MBS Kabupaten Dompu 06sd 07 Juli 2007 Peserta 2007 Kabupaten
42. Rakor Kebijakan Program Subsidi, Harlindung, serta Peningkatan Mutu Tenaga Kependidikan Peserta/pemakala 2006 Nasional
43. MGMP  Guru Mata Pelajaran Rayon 2 kab.Dompu tgl 22 sd 26 november 2006 Fasilitator/instruktur 2006 SMPN 1 Kempo
44 MGMP  Guru Mata Pelajaran Rayon 1 kab.Dompu 2006 Fasilitator/instruktur 2006 SMPN 1 Dompu
45 Membimbing Guru Yunior    thn 2000/2001 Membimbing 3 orang guru 2001 SMAN 2  Kempo
46 Seminar pendidikan Peserta 1999 Kab.Dompu
47 Tutor Daerah Penyetaraan D3 Guru matematika SMP kab.Dompu thn 1994/1995 Tutor 1994 Kab.Dompu
48 Tutor Daerah Penyetaraan D3 Guru matematika SMP kab.Dompu thn 1993/1994 Tutor 1993 Kab.Dompu
49 Tutor Daerah Penyetaraan D3 Guru matematika SMP kab.Dompu thn 1992/1993 Tutor 1992 Kabupaten Dompu
50 Seminar

Pendidikan

Peserta 1992 Propinsi

NTB

  1. PENGALAMAN MENJADI PENGURUS ORGANISASI DI BIDANG
    PENDIDIKAN DAN SOSIAL
  1. Pengalaman Organisasi Semasa Mengukuti Pendidikan (sebelum bekerja):
NO Nama Organisasi yg di ikuti Kedudukan dalam organisasi Tahun Tempat Nama piminan organisasi
1 HMJ matematika Sekertaris 1983 sd 1986 IKIP UJUNG PANDANG Ilham Minggi
2 IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH (IMM) Sekertaris II 1983 sd 1986 UJUNG PANDANG AMBO ENDRE

ABDULLAH

3 MEDIA TEROPONG MATEMATIKA ( METROMAT) Sekertaris Redaktur 1983 sd 1986 IKIP UJUNG PANDANG DARWIS
4 Badan Pertimbangan Mahasiswa(BPM) ANGGOTA 1984 SD 1986 IKIP UJUNG PANDANG MUSTAMIN
  1. Semasa Bekerja Sebagai Guru/Pengawas
No Jenis Organisasi Kedudukan dalam organisasi Tahun Tempat Nama Pimpinan Organisasi
1 Pengurus UPA kab.Dompu Anggota 2009 Dompu DRS.H.MUTASYIM BURERAT
2 Pengurus UPA kab.Dompu Anggota 2008 Dompu DRS.H.MUTASYIM BURERAT
3 Tim Penilai RABPS dana Gratis  Kabupaten Anggota 2008

Dompu

Drs.Gaziamasyuri
4 Tim Penilaia wawasan Wiyatamandala Anggota 20007 Dompu Drs.Gaziamasuiri
WDD/WSD AIBEP  Indonesia-Australia District Coordinator

(DC)

2008 sd sekarang REGION DOMPU-NTB MCPM AIBEP JAKARTA
5. Dosen STAI Al-Amin Dompu Dosen 2007 sd sekarang STAI AL-Amin Dompu Drs.M.Amin,MM
6. Penguji UKM ( Ujian Kualifikasi Mutu) Prog D2 PGTK dan S1 PAI Anggota 2008 sd sekarang STAI AL-Amin Dompu Drs.M.Amin,MM
Tim Pengkaji Kurikulum Kab Dompu Sekertaris 2008 sd sekarang Dompu Drs.Gaziamansyri
7 Pengurus UNIT KORPRI Dinas Diknas Anggota 2007 sd 2012 Dompu DRS.GAZIAMASYURI
8 TIM MBS kab.Dompu Anggota 2007 sd sekarang Dompu DRS.GAZIAMANSYURI
9 Pengurus KKPS SMP/SMA Anggota sda Dompu ANWAR A.BAKAR,SPD
10 Pengurus MKPS kab.Dompu Sekertaris I 2007 sd sekarng Dompu ANWAR A.BAKAR,SPD
11 Pengurus  Sub Kegiatan Visi tasi Akreditasi S/M Kab.Dpu Anggota 2007 MATARAM DRS.H.MUTASYIM BURERAT
12 Pengurus MKKS SMA Sie Bid Bina Program 2002 sd 2006 Dompu DRS.NURDIN AW
13 Pengurus PGRI cabang Dompu barat Sekertaris 1992 sd 1997 Dompu DRS.NURDIN UMAR
14 Pengurus ranting gerakan Pramuka Kecamatan kalukku Sulsel Sie teknik Operasional kepramukaan 1991 sd 1995 Dompu SAMA ILA
  1. KARYA TULIS ILMIAH
  2. Karya Tulis
No Judul Jenis Penerbit Tahun
1. Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan SMP/SMA Melalui Sektor Guru Artikel Pendidikan MEDIKOM Jakarta 1992
2. Beberapa Permasalahan dalam Upaya Meningkatkan (Increace) KBM, Pembelajaran Tuntas , Kaitannya Dengan Prestasi Belajar Siswa Di Sekolah Makalah Disampaikan Pada Pertemuan MKKS SMP/SMA Kab.Dompu Dokumen MKKS 1998
3. Peranan Kewibawaan Guru dalam Upaya Pembinaan Siswa Di Sekolah Makalah Seminar Pendidikan HUT PGRI Dokumen PGRI Dompu 1999
4 Biologi dalam Persepsi Al-Quran Ditinjau dari Sudut IMTAQ Karya Tulis Dokumen Panitia 1999
5 Gema Al-Amin Salah Satu Wadah Pembentukan Sikap Intelektual Mahasiswa Artkel Gema Al-Amin Edisi 3,Maret 2008 2008
  1. Penelitian :
No Judul Tahun Sumber Dana Status

Ketua/Anggota

1

Membandingkan Prestasi Belajar siswa Dengan Menggunakan Soal Pilihan Ganda dan Uraian Pada mata Pelajaran matematika Di SMUN 1 Kempo 200 Komite Tunggal
2 Implementasi Pembelajaran Cooperative Learning dalam Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Pada SMPN 2 Kempo 2008 DBEP-ADB KAB.DOMPU Tunggal
3 Meningkatkan Kemampuan Komunikasi dan Pemecahan Masalah Matematika Melalui Pembelajaran Think-Talk-Write Dalam Kelompok Kecil Pada SMPN 1 Kempo 2008 DBEP ADB KAB.DOMPU Ketua
4 Draff RAPERDA Sistim Penyelenggaraan Pendidikan Kab.Dompu 2008 Ras Diknas kab.DPU Sekertaris
5 Optimalisasi Penggunaan Lembar Kerja Siswa Dengan Pendekatan Konstruktivis Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas VIII reguler SMP Negeri 1 Kempo 2009 Mandiri Ketua
6 PENERAPAN PEMBELAJARAN BERORIENTASI “OPEN ENDED” BERBANTUAN LKS UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA SMP NEGERI 1 KEMPO

2009 Mandiri Ketua
  1. PENGHARGAAN
No Jenis Penghargaan Tahun Pemberi

Penghargaan

1 Piagam Pengawas berprestasi  berdedikasi Juara I tkt kabupaten Dompu 2009 Bupati Dompu
2. Piagam Pengawas berprestasi/berdedikasi Juara II Tkt Propinsi 2008 Gubernur NTB
3. Piagam Pengawas Berpreastasi/berdedikasi Juara I  Tkt Kabupaaten Dompu 2008 Kepala Dinas (An.Bupati Dompu)
4. Piagam Penelitian dan pencarian data Raperda Pendidikan Dompu 2008 Kepala Dinas Dikpora Kab.Dompu
5. Piagam

Pengelolaan Sekolah

2007 Kepala Dinas Diknas dompu
6. Piagam Finalis Peserta lomba kayra tulis Peningkatan IMTAQ tkt Nasional 2000 Direktorat Dikdasmen Bagpro Peningkatan Wawasan Guru jakarta
7. Piagam Juara II Lomba wawasan Wiyata Mandala Tkt SMP/SMA/SMK 2000 Kepala Dinas Diknas kab.dompu
8. Paiagam Juara III Nasional Lomba menanam jagung Hibrida Teknologi Modren Tkt SMU (sebagai Pembimbing peserta ) 1999 Menko Kesra dan Taskin RI , menteri Pertanian RI, Ketua kwarnas Gerakan Pramuka
9. Peserta lomba Keberhasilan guru dalam Pembelajaran Tk,Nasional ke -2 1996 Dirjen Pendidikan dasar dan menengah Diertur pend Guru dan tenaga Teknis
10 Piagam Kirab Remaja Nasional III, 1993 1993 Yayasan Tiara Indonesia

Demikian keterangan ini dibuat dengan sebenar-benarnya.

Dompu,     Juli 2009

Drs.Suaidin Usman

NIP.19630108 198703 1 013

DAFTAR ALOKASI ANGGARAN PENGAWAS KAB.DOMPU TH 2009


DAFTAR  USUL ALOKASI ANGGARAN
PENGAWAS SATUAN PENDIDIKAN SMP/SMA/SMK
KABUPATEN DOMPU TAHUN ANGARAN 2009
NO URAIAN VOL SAT HARGA SATAUAN JUMLAH
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Belanja Alat Tulis Kantor 3,202,500
Kertas HVS 40 rim 30,000 1,200,000
Buku Pola Besar 23 bh 15,000 345,000
Buku Pola Kecil 23 bh 7,500 172,500
Map Biasa 50 bh 500 25,000
Map Plastik 23 bh 5,000 115,000
Map Teko 5 bh 15,000 75,000
Reksel Kecil 2 bh 20,000 40,000
Anak Reksel 15 bh 3,000 45,000
Amplop Biasa 12 ktk 10,000 120,000
Tinta komputer 24 bh 35,000 840,000
Lem kertas 10 bh 2,500 25,000
Spidol Kecil 1 ktk 15,000 15,000
spidol Besar 2 ktk 25,000 50,000
Sapu ijuk 2 bh 15,000 30,000
bantal stempel 1 bh 10,000 10,000
tinta stempel 2 btl 10,000 20,000
Pelubang kertas 1 bh 15,000 15,000
Tip Exs 4 ktk 15,000 60,000
2 Belanja Sarana Prasarana. 18,300,000
Laptop standar 1 bh 7,000,000 7,000,000
LCD 1 bh 8,000,000 8,000,000
Papan Data 2 lbr 150,000 300,000
Camera Digital 1 bh 1,500,000 1,500,000
Lemari Olimpik 1 bh 1,500,000 1,500,000
3 Penilaian Lomba Wiyata Mandala
SMP/SMA/SMK 29,440,000
Kec.Dompu/Woja :
23 org x 4 kl x 2 kec 184 oh 32,500 5,980,000
Kec.Hu’u/Kempo/Pajo/Kilo/Manggelewa
23 org x 4kl x 5 kec 460 oh 36,000 16,560,000
Kec.Pekat
23 org x 4 kl x 1 kec 92 oh 75,000 6,900,000
4 Penilaian Kinerja SMP/SMA/SMK 29,440,000
Kec.Dompu/Woja :
23 org x 4 kl x 2 kec 184 oh 32,500 5,980,000
Kec.Hu’u/Kempo/Pajo/Kilo/Manggelewa
23 org x 4kl x 5 kec 460 oh 36,000 16,560,000
Kec.Pekat
23 org x 4 kl x 1 kec 92 oh 75,000 6,900,000
5 Monev Dana Gratis SMA/SMK 29,440,000
Kec.Dompu/Woja :
23 org x 4 kl x 2 kec 184 oh 32,500 5,980,000
Kec.Hu’u/Kempo/Pajo/Kilo/Manggelewa
23 org x 4kl x 5 kec 460 oh 36,000 16,560,000
Kec.Pekat
23 org x 4 kl x 1 kec 92 oh 75,000 6,900,000
6 Bantuan biaya Akreditasi Sekolah 1 kgt 30,000,000 30,000,000
(untuk sosialisasi dan Pelatihan Asesor  UPA)
7 Perawatan Kendaraan bermotor
23 org x 12 bulan 276 bln 200,000 55,200,000
8 Perawatan Komputer 2 kl 1,000,000 2,000,000
9 Foto Copy Instrumen
23 x 12 bulan 276 bln 50,000 13,800,000
10 Rapat Rutin Evaluasi Keg Pengawas 12 bln 750,000 9,000,000
11 Perjalanan Dinas Dalam Daerah 332,580,000
Kec.Dompu/Woja :
23 org x 4kl x 2 kec x12 bln 2208 ok 32,500 71,760,000
Kec.Hu’u/Kempo/Pajo/Kilo/Mgglewa
23 org x 4kl x 5 kec x 12 bl 5520 ok 36,000 198,720,000
Kec.Pekat
23 org x 3kl x 1 kec x 12 bulan 828 ok 75,000 62,100,000
JUMLAH 552,402,500
Disetujui Oleh: Dompu, Desember 2008
Kepala Dinas Diknas Kab.Dompu Korwas SMP/SMA Kab.Dompu
Drs.Gaziamansyuri
Pembina TkI/Ivb Anwar A.Bakar,SPd
NIP.131967780 NIP.130797274
Catatan : Cadangan 2 orang.

PEDOMAN PEMBERIAN BANTUAN BIAYA PENINGKATAN KULAIFIKASI


PEDOMAN
PEMBERIAN BANTUAN BIAYA
PENINGKATAN KUALIFIKASI AKADEMIK GURU
KE S-1/D-IV
DIREKTORAT JENDERAL
PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
2009
Pedoman Bantuan Peningkatan Kualifikasi Guru Tahun 2009 i
KATA PENGANTAR
Salah satu tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu
Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Ditjen PMPTK) sebagai bagian integral
Depdiknas adalah meningkatkan kualitas pendidikan melalui peningkatan
kualifikasi akademik minimum guru. Melalui peningkatan kualifikasi akademik
guru yang sesuai dengan bidang tugasnya, diharapkan akan membawa dampak
terhadap terlaksananya proses pembelajaran yang menciptakan suasana
pembelajaran yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis,
yang pada akhirnya akan meningkatkan mutu pendidikan secara keseluruhan.
Pedoman ini disusun sebagai acuan bagi pelaksana pemberian bantuan biaya
biaya peningkatan kualifikasi akademik guru tahun 2009, antara lain berisi
persyaratan guru penerima bantuan biaya, proses rekrutmen dan penyaluran
dana, pelaporan, jadwal pelaksanaan, dan pengendalian program.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada semua pihak yang telah terlibat
dalam penyusunan buku pedoman ini, semoga buku pedoman ini dapat
bermanfaat bagi para pengelola baik di tingkat pusat maupun daerah.
Jakarta, Januari 2009
Direktur Jenderal,
Dr. Baedhowi
NIP. 130803888
ii Pedoman Bantuan Peningkatan Kualifikasi Guru Tahun 2009
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Landasan Hukum 2
C.Tujuan 2
D. Kerangka Program 2
E.Sasaran 2
BAB II MEKANISME PEMBERIAN BANTUAN BIAYA
A. Pengertian Bantuan biaya 3
B. Sifat Bantuan biaya 3
C. Prinsip Pemberian Bantuan biaya 3
D. Sumber dan Alokasi Dana 4
E. Kriteria Penerima Bantuan biaya 4
F. Tahapan Pemberian Bantuan biaya 5
G. Hak dan Kewajiban Penerima Bantuan biaya 7
H. Mekanisme Penyaluran Dana Bantuan biaya 8
I. Penghentian Pemberian Bantuan biaya 10
Pedoman Bantuan Peningkatan Kualifikasi Guru Tahun 2009 iii
J. Waktu Pelaksanaan 11
BAB III PENGENDALIAN PROGRAM
A. Cakupan Pengendalian 12
B. Pengelolaan Data Guru Penerima Bantuan biaya 13
C. Pemantauan dan Evaluasi Program 14
D. Pelaporan 15
E. Proses Pelaporan Pelaksanaan Pembayaran Dana
Bantuan biaya Peningkatan Kualifikasi akademik 16
BAB IV PENUTUP
Lampiran-lampiran
iv Pedoman Bantuan Peningkatan Kualifikasi Guru Tahun 2009
Pedoman Bantuan Peningkatan Kualifikasi Guru Tahun 2009 1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 7
mengamanatkan bahwa guru sebagai tenaga yang profesional, wajib
memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikat yang sesuai
dengan kewenangan mengajar. Pasal 9 menyatakan bahwa kualifikasi
akademik sebagaimana dimaksud diperoleh melalui pendidikan tinggi
jenjang S-1/D-IV. Hal tersebut lebih ditegaskan pada Peraturan Pemerintah
RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 29
yang menyatakan bahwa pendidik pada pendidikan anak usia dini (PAUD),
SD/MI, SMP/Mts, SMA/MA, SDLB/SMPLB/SMALB dan SMK/MAK masingmasing
memiliki:
a. Kualifikasi akademik minimal S-1/D-IV;
b. Latar belakang pendidikan tinggi yang sesuai dengan mata pelajaran
yang diampu;
c. Sertifikat profesi pendidik sesuai dengan peruntukannya.
Berdasarkan data Ditjen PMPTK pada tahun 2008, secara nasional dari
2.245.952 guru yang berkualifikasi akademik minimal S-1/D-IV adalah
837.460 (37,3 %), dan selebihnya 1.408.492 (62,7%) adalah guru yang
belum memiliki kualifikasi akademik S-1/D-IV. Guru yang belum memiliki
kualifikasi akademik S-1/D-IV tersebut perlu ditingkatkan kualifikasi
akademiknya supaya sesuai dengan yang diamanatkan undang-undang.
Pemerintah Pusat melalui Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat
Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan pada tahun
2009 memprogramkan bantuan biaya peningkatan kualifikasi akademik ke
S-1/D-IV bagi guru pada semua jenjang pendidikan. Untuk itu diperlukan
2 Pedoman Bantuan Peningkatan Kualifikasi Guru Tahun 2009
Pedoman Pelaksanaan Pemberian Bantuan Biaya Peningkatan Kualifikasi
akademik Guru Ke S-1/D-IV.
B. Landasan Hukum
1. Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional,
2. Undang-undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen,
3. Peraturan pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan.
4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 tahun 2008
tentang Guru;
C. Tujuan
Pedoman ini disusun sebagai acuan bagi semua pihak yang terkait dengan
pelaksanaan pemberian bantuan biaya peningkatan kualifikasi akademik
guru ke S-1/D-IV.
D. Kerangka Program
Program bantuan biaya peningkatan kualifikasi akademik guru ke S-1/D-IV
ditujukan pada guru yang sedang meningkatkan kualifikasi akademiknya ke
S-1/D-IV. Sumber dana bantuan biaya peningkatan kualifikasi akademik
guru adalah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Ditjen
PMPTK yang dialokasikan pada Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA)
Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) masing-masing provinsi
tahun anggaran 2009. Penyaluran bantuan biaya dilaksanakan oleh LPMP
dengan cara dikirim langsung ke rekening Bank/Pos masing-masing guru
penerima.
Pedoman Bantuan Peningkatan Kualifikasi Guru Tahun 2009 3
E. Sasaran
Sasaran program bantuan biaya peningkatan kualifikasi akademik tahun
2009 ini adalah 190.000 guru yang sedang menempuh pendidikan di
jenjang S-1/D-IV.
4 Pedoman Bantuan Peningkatan Kualifikasi Guru Tahun 2009
Pedoman Bantuan Peningkatan Kualifikasi Guru Tahun 2009 5
BAB II
BANTUAN BIAYA PENINGKATAN KUALIFIKASI AKADEMIK GURU
A. Pengertian Bantuan biaya
Bantuan biaya peningkatan kualifikasi akademik guru ke S-1/D-IV adalah
pemberian bantuan biaya sejumlah dana dari Pemerintah kepada guru PNS
dan bukan PNS yang berada di bawah binaan Depdiknas pada semua
satuan pendidikan baik negeri maupun swasta untuk memperoleh
kualifikasi akademik Strata satu (S-1) atau Diploma empat (D-IV).
Pemberian bantuan biaya peningkatan kualifikasi akademik bagi guru ini
bertujuan:
1. Mendorong guru untuk mengikuti pendidikan lanjutan sampai
memperoleh ijasah S-1/D-IV;
2. Meningkatkan pengetahuan, kemampuan, dan kinerja guru dalam
proses pembelajaran;
3. Mempercepat proses peningkatan kualitas pendidikan melalui
peningkatan mutu guru.
B. Sifat Bantuan biaya
Bantuan biaya ini merupakan subsidi bagi guru yang sedang melanjutkan
pendidikan ke jenjang S-1/D-IV. Pemberian dana tersebut tidak
dimaksudkan untuk membiayai seluruh keperluan studi.
C. Prinsip Pemberian Bantuan biaya
1. Terbuka
Bantuan biaya ini diberikan secara terbuka kepada semua guru yang
sedang menempuh pendidikan ke jenjang S-1/D-IV dan memenuhi
6 Pedoman Bantuan Peningkatan Kualifikasi Guru Tahun 2009
persyaratan yang ditentukan. Pengumuman dan pendaftaran untuk
mendapatkan bantuan biaya serta penetapan guru penerima bantuan
biaya dilakukan oleh LPMP provinsi masing-masing berkoordinasi
dengan Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota.
2. Langsung
Bantuan biaya peningkatan kualifikasi akademik guru diberikan secara
langsung kepada guru melalui transfer ke rekening bank/Pos milik guru
yang bersangkutan.
3. Mengutamakan mutu
Guru yang akan menerima bantuan biaya ini adalah guru yang sedang
melanjutkan pendidikan ke jenjang S-1/D-IV di perguruan tinggi yang
memiliki izin operasional dari Ditjen Pendidikan Tinggi.
4. Tidak meninggalkan tugas mengajar
Guru yang menerima bantuan biaya peningkatan kualifikasi akademik
tidak meninggalkan tugas mengajar.
D. Sumber dan Alokasi Dana
Pembiayaan bantuan biaya peningkatan kualifikasi akademik guru
bersumber dari dana APBN Tahun Anggaran 2009 yang dialokasikan pada
DIPA LPMP masing-masing provinsi.
Bantuan biaya peningkatan kualifikasi akademik guru diberikan sebesar Rp.
2.000.000,- (dua juta rupiah) per orang per tahun.
E. Kriteria Penerima Bantuan biaya
Bantuan biaya peningkatan kualifikasi akademik ini diberikan kepada guru
yang memenuhi kriteria sebagai berikut.
1. Guru penerima bantuan biaya pada tahun 2007 dan 2008 yang masih
menyelesaikan studinya dan memiliki indeks prestasi (IP) minimal 2,0.
Pedoman Bantuan Peningkatan Kualifikasi Guru Tahun 2009 7
2. Guru di luar kategori seperti pada butir 1 di atas, yang terdaftar dan
aktif mengikuti kuliah di perguruan tinggi yang memperoleh izin
operasional dari Ditjen Pendidikan Tinggi dengan ketentuan sebagai
berikut:
a. Guru PNS/bukan PNS (GTY, honorer pada sekolah negeri) yang
mengajar pada satuan pendidikan binaan Depdiknas baik di
sekolah negeri atau sekolah swasta yang mendapat ijin
operasional dari Pemerintah/Pemerintah Daerah.
b. Menempuh pendidikan pada bidang studi yang sesuai dengan
latar belakang pendidikannya atau sesuai dengan mata pelajaran
yang diampu.
c. Belum memiliki ijazah S-1/D-IV.
d. Sehat jasmani dan rohani yang dibuktikan dengan surat
keterangan dokter.
e. Tidak sedang memperoleh beasiswa pendidikan untuk
peningkatan kualifikasi akademik dari instansi/unit lain.
f. Tidak sedang menjalani hukuman baik disiplin maupun hukuman
pidana/perdata.
g. Mempunyai Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan
(NUPTK).
F. Tahapan Pemberian Bantuan biaya
1. Penetapan dan Pendistribusian Kuota
a. Kuota Provinsi dihitung secara proporsional berdasarkan jumlah
guru yang belum memiliki kualifikasi akademik S-1/D-IV di provinsi
masing-masing terhadap jumlah guru yang belum memiliki
kualifikasi akademik S-1/D-IV secara nasional, dikalikan dengan
kuota nasional.
8 Pedoman Bantuan Peningkatan Kualifikasi Guru Tahun 2009
b. Kuota kabupaten/kota dihitung secara proporsional berdasarkan
jumlah guru yang belum memiliki kualifikasi akademik S-1/D-IV di
kabupaten/kota, dikalikan dengan kuota provinsi.
Data kuota penerima bantuan biaya peningkatan kualifikasi akademik
guru untuk masing-masing provinsi dan kabupaten/kota disajikan pada
lampiran.
2. Koordinasi dan Sosialisasi Pelaksanaan Bantuan biaya Peningkatan
Kualifikasi akademik
LPMP melaksanakan koordinasi dan sosialisasi pelaksanaan pemberian
bantuan biaya dengan Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota
dengan melibatkan narasumber dari Ditjen PMPTK. Agenda koordinasi
dan sosialisasi adalah penyampaian kebijakan Ditjen PMPTK tentang
pemberian bantuan biaya peningkatan kualifikasi akademik guru,
informasi kuota per kabupaten/kota, informasi kriteria calon penerima
bantuan biaya, mekanisme pemberian bantuan biaya, dan penyusunan
jadwal pelaksanaan pemberian bantuan biaya, pemantauan dan
pelaporan.
3. Penetapan dan Pengusulan Calon Penerima Bantuan biaya
Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota menyampaikan informasi dan
kebijakan peningkatan kualifikasi akademik dan pemberian bantuan
biaya ini kepada guru di wilayahnya masing-masing. Selanjutnya Dinas
Pendidikan Kabupaten/Kota melakukan pendaftaran guru calon
penerima bantuan biaya sesuai dengan kriteria dan menetapkan guru
calon penerima bantuan biaya sesuai dengan kuota. SK dan lampiran
daftar guru calon penerima bantuan biaya (hard copy dan soft copy)
dikirimkan ke LPMP setempat untuk diproses lebih lanjut dengan
menggunakan format terlampir.
Pengusulan guru calon penerima bantuan biaya peningkatan kualifikasi
akademik dilakukan dengan langkah-langkah berikut:
1) Kepala sekolah mengajukan daftar nama guru yang diusulkan
sebagai calon penerima dana bantuan biaya Peningkatan
Pedoman Bantuan Peningkatan Kualifikasi Guru Tahun 2009 9
Kualifikasi Akademik Guru kepada Dinas Pendidikan
Kabupaten/Kota masing-masing. Pengajuan calon penerima
bantuan biaya peningkatan kualifikasi akademik SI/D-IV harus
disertai dengan persyaratan administratif, yaitu :
– Fotokopi ijasah terakhir,
– Fotokopi SK Pengangkatan sebagai guru baik bagi guru PNS
maupun guru bukan PNS,
– Fotokopi kartu mahasiswa dan/atau surat keterangan aktif
sebagai mahasiswa dari perguruan tinggi tempat menempuh
pendidikan,
– Surat keterangan sehat dari dokter,
– Fotokopi rekening bank/Pos milik guru yang bersangkutan.
2) Masing–masing Kepala Sekolah mengajukan usulan calon
penerima bantuan biaya kepada Dinas Pendidikan
Provinsi/Kabupaten/Kota menggunakan format terlampir.
3) Berdasarkan daftar usulan yang diajukan oleh Kepala Sekolah,
Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota melakukan seleksi
dengan berpedoman pada kriteria dan kuota penerima bantuan
biaya sebagaimana yang tercantum pada Buku Pedoman ini.
4) Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota melakukan seleksi
dengan menggunakan urutan prioritas sebagai berikut:
a) Semester tertinggi
b) Bidang studi yang relevan dengan mata pelajaran yang
diampu
c) Prestasi akademik
d) Masa kerja
e) Usia
5) Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota mengusulkan calon
penerima bantuan biaya ke LPMP dalam bentuk cetakan dan file
dalam CD dengan menggunakan format terlampir.
10 Pedoman Bantuan Peningkatan Kualifikasi Guru Tahun 2009
4. Penerbitan Surat Keputusan Penerima Bantuan biaya
Kepala LPMP yang bersangkutan menerbitkan Surat Keputusan
Penerima Bantuan Biaya Peningkatan Kualifikasi Akademik, tembusan
disampaikan kepada Dirjen PMPTK dan Kepala Dinas Pendidikan
Provinsi/Kabupaten/Kota.
5. Penyaluran Bantuan biaya
LPMP menyalurkan secara langsung bantuan biaya peningkatan
kualifikasi akademik kepada guru melalui nomor rekening bank/Pos
milik guru yang bersangkutan.
Tahapan kegiatan pemberian bantuan biaya peningkatan kualifikasi
akademik ditunjukkan dalam gambar 1.
Pedoman Bantuan Peningkatan Kualifikasi Guru Tahun 2009 11
Penentuan
Kuota Provinsi
Monitoring dan
pengendalian
KEPALA KAB/KOTA LPMP PUSAT
SEKOLAH
GURU
Pelaporan
Menerima
bantuan
Penentuan Kuota
Kab/Kota
Sosialisasi ke
Kab/Kota
Sosialisasi ke
guru
Mendata Guru yang
belum S1/D4
Melengkapi
persayaratan
Menyalurkan
bantuan
Membuat SK
Penerima bantuan
Mengusulkan guru
calon penerima
bantuan
Mengusulkan guru
penerima bantuan
Gambar 1. Tahapan Kegiatan Pemberian Bantuan Biaya Peningkatan
Kualifikasi Akademik
12 Pedoman Bantuan Peningkatan Kualifikasi Guru Tahun 2009
G. Hak dan Kewajiban Penerima Bantuan biaya
1. Hak Penerima Bantuan Biaya
Guru penerima bantuan biaya peningkatan kualifikasi akademik guru
mempunyai hak:
a. Menerima informasi program
b. Menerima bantuan biaya sebesar Rp. 2.000.000,- (dua juta rupiah)
per tahun selama yang bersangkutan menempuh pendidikan atau
paling lama seperti ditentukan dalam tabel 1 berikut.
Tabel 1. Jangka Waktu Pemberian Bantuan biaya.
Ijasah Terakhir
Semester yg diikuti
saat menerima
bantuan biaya
Maksimum lama
menerima bantuan
biaya (tahun)
1 – 2 5
3 – 4 4
5 – 6 3
7 – 8 2
SMA/SPG/SMK/SGO
atau sederajat
9 – 10 1
1 – 2 4
3 – 4 3
5 – 6 2
D1
7 – 8 1
1 – 2 3
3 – 4 2
D2/PGSLP atau
sederajat
5 – 6 1
D3/PGSLA atau 1 – 2 2
sederajat 3 – 4 1
2. Kewajiban Penerima Bantuan biaya
a. Memiliki komitmen, disiplin, dan dedikasi tinggi dalam mengikuti
pendidikan dibuktikan dengan indeks prestasi yang meningkat.
b. Tidak meninggalkan tugas mengajar di sekolah.
c. Menyelesaikan pendidikan tepat waktu.
Pedoman Bantuan Peningkatan Kualifikasi Guru Tahun 2009 13
H. Penghentian Pemberian Bantuan biaya
Pemberian bantuan biaya kepada guru penerima dihentikan apabila guru
memenuhi salah satu atau beberapa hal berikut:
1. Telah menyelesaikan studinya
2. Melampaui jangka waktu yang telah ditentukan dalam table 1
3. Meninggal dunia
4. Berhenti dari jabatan guru
5. Tidak memenuhi persyaratan kehadiran dalam perkuliahan
6. Indeks prestasi (IP) tidak memenuhi standar minimal yang ditetapkan
7. Menerima hukuman disiplin dari dinas pendidikan kabupaten/kota
8. Dinyatakan bersalah karena tindak pidana oleh pengadilan dan telah
memiliki kekuatan hukum tetap
9. Berhenti dari program atas kemauan sendiri
14 Pedoman Bantuan Peningkatan Kualifikasi Guru Tahun 2009
I. Waktu Pelaksanaan
Jadwal pelaksanaan diatur sebagai berikut:
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 Penyusunan Pedoman
2 Sosialisasi Program
3
Pendaftaran Calon Penerima
Bantuan di Dinas
Pendidikan Kab./Kota
4
Seleksi Calon Penerima
Bantuan Peningkatan
Kualifikasi di Dinas
Pendidikan Kab./Kota
5
Pengecekan data usulan
calon penerima bantuan
oleh LPMP
6
Penyerahan Data Calon
penerima subsidi oleh Dinas
Pendidikan Kab/Kota
kepada LPMP.
7 Penerbitan SK Penerima
Bantuan
8 Penyaluran Dana Bantuan.
9 Monitoring dan Evaluasi
10 Pelaporan
No.
Kegiatan Tahun 2009 Bulan KePedoman
Bantuan Peningkatan Kualifikasi Guru Tahun 2009 15
BAB III
PENGENDALIAN PROGRAM
Pengendalian program pemberian bantuan biaya peningkatan kualifikasi
akademik guru ini dimaksudkan untuk menjamin terlaksananya pemberian
bantuan biaya kepada guru yang berhak menerima sesuai dengan jadwal dan
tepat sasaran. Tolok ukur keberhasilan program pemberian bantuan biaya
peningkatan kualifikasi akademik guru meliputi: cakupan pengendalian,
pemantauan program, pembatalan pemberian bantuan biaya dan pelaporan.
A. Cakupan Pengendalian
Cakupan atau ruang lingkup pengendalian program merupakan kegiatankegiatan
strategis yang perlu mendapatkan perhatian melalui monitoring
dan evaluasi untuk mengidentifikasi permasalahan maupun tingkat
keberhasilan program pemberian bantuan biaya peningkatan kualifikasi
akademik.
Cakupan pengendalian program pemberian tunjangan/bantuan biaya
kualifikasi akademik guru meliputi:
1. Rekrutmen Calon Penerima Bantuan biaya;
2. Kesiapan teknis administratif LPMP dalam menyalurkan bantuan biaya
kepada guru penerima;
3. Jadwal Persiapan dan Pelaksanaan Program;
4. Mekanisme dan Prosedur Penyaluran Dana Bantuan biaya;
5. Permasalahan dan upaya pemecahannya;
6. Pelaporan
16 Pedoman Bantuan Peningkatan Kualifikasi Guru Tahun 2009
B. Pemantauan dan Evaluasi Program
Pemantauan dan evaluasi program Pemberian Bantuan biaya Peningkatan
Kualifikasi akademik Guru perlu dilakukan sebagai bagian dari pengendalian
program secara menyeluruh. Laporan hasil pemantauan dan evaluasi
program merupakan bahan masukan kepada pimpinan sebagai bahan
kebijakan selanjutnya.
C. Pelaporan
Pelaporan merupakan bentuk pertanggungjawaban Pelaksanaan Pemberian
Bantuan biaya Peningkatan Kualifikasi akademik Guru oleh LPMP. Laporan
disampaikan kepada Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan
Tenaga Kependidikan dengan tembusan kepada Sesditjen PMPTK, Direktur
Profesi Pendidik, dan Direktur Pembinaan Pendidikan dan Pelatihan.
Sistematika laporan sesuai dengan kebijakan Setditjen. PMPTK yang
meliputi: Latar Belakang, Tujuan, Sasaran, Hasil yang Diharapkan,
Mekanisme dan Prosedur, Hasil Pelaksanaan Program (akademik dan
bantuan biaya), Permasalahan dan Upaya yang Dilakukan, Kesimpulan dan
Saran. Laporan yang dikirimkan dilampiri dengan daftar guru penerima
bantuan biaya peningkatan kualifikasi akademik dan data lain yang
diperlukan.
Pedoman Bantuan Peningkatan Kualifikasi Guru Tahun 2009 17
BAB IV
PENUTUP
Pedoman ini merupakan acuan umum yang mengikat bagi pelaksana
pemberian bantuan biaya peningkatan kualifikasi akademik bagi guru TK, SD,
SMP, SMA, SMK, dan PLB negeri atau swasta yang sedang dan akan mengikuti
pendidikan S-1/D-IV baik PNS maupun bukan PNS binaan Depdiknas.
Keberhasilan pelaksanaan pemberian bantuan biaya ini juga menjadi harapan
bagi pembangunan pendidikan, dan pembinaan profesionalitas guru menuju
tercapainya “Insan Indonesia Cerdas dan Kompetitif”. Di samping itu tingkat
keberhasilan program pemberian bantuan biaya peningkatan kualifikasi
akademik guru sangat bergantung pada pemahaman, kesadaran, keterlibatan
dan upaya sungguh-sungguh dari segenap unsur pelaksana program.
Ketentuan-ketentuan yang belum tercantum dalam pedoman ini dapat
dilakukan kebijakan tambahan sesuai dengan kondisi dan kewenangan masingmasing
yang tidak bertentangan dengan pedoman ini dan ketentuan lain yang
berlaku.
18 Pedoman Bantuan Peningkatan Kualifikasi Guru Tahun 2009
Pedoman Bantuan Peningkatan Kualifikasi Guru Tahun 2009 19 20 Pedoman Bantuan Peningkatan Kualifikasi Guru Tahun 2009
Pedoman Bantuan Peningkatan Kualifikasi Guru Tahun 2009 21 22 Pedoman Bantuan Peningkatan Kualifikasi Guru Tahun 2009
Pedoman Bantuan Peningkatan Kualifikasi Guru Tahun 2009 23
Lampiran 7:
24 Pedoman Bantuan Peningkatan Kualifikasi Guru Tahun 2009
KUOTA BANTUAN BIAYA PENINGKATAN KUALIFIKASI AKADEMIK TAHUN 2009
NO. INSTANSI Dikdas Dikmnen Total
1 LPMP DKI JAKARTA 3.366 1.301 4.667
2 LPMP JAWA BARAT 19.066 517 19.583
3 LPMP JAWA TENGAH 29.214 1.125 30.339
4 LPMP D.I. YOGYAKARTA 4.506 385 4.891
5 LPMP JAWA TIMUR 27.741 2.169 29.910
6 LPMP N A D 3.251 362 3.613
7 LPMP SUMATERA UTARA 9.464 724 10.188
8 LPMP SUMATERA BARAT 2.776 493 3.269
9 LPMP RIAU 3.037 548 3.585
10 LPMP JAMBI 2.757 334 3.091
11 LPMP SUMATERA SELATAN 4.422 430 4.852
12 LPMP LAMPUNG 7.005 575 7.580
13 LPMP KALIMANTAN BARAT 7.887 445 8.332
14 LPMP KALIMANTAN TENGAH 4.102 333 4.435
15 LPMP KALIMANTAN SELATAN 4.622 442 5.064
16 LPMP KALIMANTAN TIMUR 1.727 275 2.002
17 LPMP SULAWESI UTARA 3.892 322 4.214
18 LPMP SULAWESI TENGAH 2.566 323 2.889
19 LPMP SULAWESI SELATAN 6.362 720 7.082
20 LPMP SULAWESI TENGGARA 2.354 311 2.665
21 LPMP MALUKU 1.933 286 2.219
22 LPMP BALI 4.055 265 4.320
23 LPMP NUSA TENGGARA BARAT 3.157 357 3.514
24 LPMP NUSA TENGGARA TIMUR 4.144 414 4.558
25 LPMP PAPUA 1.394 406 1.800
26 LPMP BENGKULU 2.852 338 3.190
27 LPMP MALUKU UTARA 857 224 1.081
28 LPMP BANTEN 4.208 415 4.623
29 LPMP KEPULAUAN BANGKA BELITUNG 1.167 237 1.404
30 LPMP GORONTALO 2.133 175 2.308
Jumlah 176.017 15.251 191.268

Pagar Alam dot Com

Berbagi Informasi Pendidikan dan Pembelajaran Matematika

Mr.Wahid's Blog

Media Belajar Mengajar Inspirasi dan Kreativitas

SeNdiMat

Seminar Nasional Pendidikan Matematika

I Wayan Widana

This site is dedicated for mathematic learning development

Layanan Pendidik & Tenaga Kependidikan (PTK)

Laman Layanan Untuk Pendidik dan Tenaga Kependidikan

sejarahdompu

Just another WordPress.com site

SUAIDINMATH'S BLOG

Technology Based Education

tentang PENDIDIKAN

konseling, pembelajaran, dan manajemen pendidikan

SUKSES SELALU

NIKMATILAH HIDUP..BEKERJA DENGAN ENJOY...JANGAN LUPA BERDOA.

PTK THE FRONTIERS OF NEW TECHNOLOGY

Smile! You’re at the best WordPress.com site ever

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 139 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: