PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH


BAHAN BELAJAR MANDIRI
Kelompok Kerja Kepala Sekolah
Penelitian Tindakan Sekolah
DIREKTORAT JENDERAL
PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN
TENAGA KEPENDIDIKAN
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL 2009

PENGANTAR
Bahan Belajar Mandiri (BBM) ini disusun dengan tujuan agar kepala sekolah/madrasah dapat belajar secara mandiri tanpa tergantung sebagai peserta diklat Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), fasilitator, waktu, dan tempat. Dengan tersusunnya BBM ini diharapkan kepala sekolah/madrasah dapat belajar secara mandiri di manapun dan kapanpun baik secara individual maupun secara kelompok di Kelompok Kerja Kepala Sekolah/Madrasah (KKKS).
Kami mengucapkan terimakasih kepada tim penyusun BBM atas dedikasi dan kerja kerasnya sehingga BBM ini dapat diselesaikan dengan baik dan tepat waktu. BBM ini tentu saja belum sempurna. Oleh sebab itu, saran-saran konstruktif dari pembaca sangatlah dinantikan dengan senang hati. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa meridhoi upaya-upaya kita dalam meningkatkan mutu tenaga kependidikan.

Jakarta, Agustus 2009
Direktur Tenaga Kependidikan

A. Latar Belakang
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala sekolah/madrasah menegaskan bahwa seorang kepala sekolah/madrasah harus memiliki lima dimensi kompetensi minimal yaitu: kompetensi kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi, dan sosial.
Kepala sekolah/madrasah adalah guru yang diberi tugas tambahan sebagai kepala sekolah/madrasah sehinnga ia pun harus memiliki kompetensi yang disyaratkan memiliki kompetensi guru yaitu: kompetensi paedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Salah satu indikator kompetensi profesional adalah kompetensi pengembangan profesi. Satu di antara pengembangan profesi adalah kemampuan dalam bidang penelitian dan pengembangan. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak kepala sekolah/madrasah yang perlu ditingkatkan kemampuannya dalam bidang penelitian dan pengembangan. Sebagian dari mereka masih ada yang belum memahami bagaimana membuat proposal yang baik, selanjutnya melakukan dan melaporkan hasil penelitiannya. Sebagian dari mereka ada pula yang sudah memahaminya tetapi belum melakukannya.

Untuk mengatasi hal tersebut, Direktorat Tenaga Kependidikan telah melaksanakan sosialisasi dan bimbingan teknik.
Sosialisasi dan bimbingan teknik tentang penelitian yang telah dilaksanakan selama ini ternyata masih belum memadai untuk menjangkau seluruh kepala sekolah/madrasah dalam waktu yang relatif singkat. Intensitas dan kedalaman penguasaan materi kurang dapat dicapai dengan kedua strategi ini karena terbatasnya waktu.
Berdasarkan kenyataan tersebut, maka upaya untuk meningkatkan kompetensi kepala sekolah/madrasah dilakukan melalui berbagai strategi. Salah satu strategi untuk menjangkau seluruh kepala sekolah/madrasah
dalam waktu yang cukup singkat adalah memanfaatkan forum Kelompok Kerja Kepala Sekolah/Madrasah (KKKS/M) sebagai wahana belajar bersama. Kepala sekolah/madrasah dalam forum tersebut dapat saling berbagi pengetahuan dan pengalaman guna bersama-sama meningkatkan kompetensi dan kinerjanya dalam suasana kesejawatan yang akrab.

BBM ini dimaksudkan dapat memberikan pemahaman, dan motivasi para kepala sekolah/madrasah untuk menyelesaikan permasalahan di sekolahnya melalui metode ilmiah yang antara lain berupa Penelitian
Tindakan Sekolah (PTS). Bila penyelesaian masalah di sekolah dibiasakan melalui PTS, maka kompetensi PTS kepala sekolah/madrasah akan meningkat dan berimplikasi pada peningkatan kualitas sekolah. Bahkan dampak lainnya pun akan meningkatan angka kredit kepala sekolah/madrasah/madrasah dalam proses kenaikan pangkat dan atau sertifikasi yang pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan.
Forum KKKS/M akan berjalan efektif apabila terdapat panduan, bahan kajian serta target yang ingin dicapai. Dalam konteks inilah Bahan Belajar Mandiri (BBM) ini disusun. BBM ini dimaksudkan sebagai bahan kajian kepala sekolah/madrasah dalam rangka meningkatkan kompetensi mereka.

B. Standar Kompetensi Kepala Sekolah/Madrasah
BBM ini disesuaikan dengan cakupan dimensi kompetensi kepala sekolah/madrasah /madrasah seperti yang terdapat dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala
Sekolah/madrasah. Dalam peraturan tersebut terdapat lima dimensi kompetensi yaitu: kepribadian, manajerial, supervisi, dan sosial. Setiap dimensi kompetensi memiliki kompetensi dasar yang harus dimiliki seorang kepala sekolah/madrasah. Secara rinci kompetensi-kompetensi dasar tersebut adalah sebagai berikut.
1. Dimensi Kompetensi Kepribadian
a. Berakhlak mulia, mengembangkan budaya dan akhlak mulia, menjadi teladan akhlak mulia bagi komunitas di sekolah/madrasah.
b. Memiliki integritas kepribadian sebagai pemimpin.
c. Memiliki keinginan yang kuat dalam pengembangan diri sebagai kepala sekolah/madrasah.
d. Bersikap terbuka dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi.
e. Mengendalikan diri dalam menghadapi masalah dalam pekerjaan sebagai kepala sekolah/madrasah.
f. Memiliki bakat dan minat jabatan sebagai pemimpin pendidikan.

2. Dimensi Kompetensi Manajerial
a. Menyusun perencanaan sekolah/madrasah untuk berbagai tingkatan perencanaan.
b. Mengembangkan organisasi sekolah/madrasah sesuai dengan kebutuhan.
c. Memimpin sekolah/madrasah dalam rangka pendayagunaan sumber daya manusia sekolah/madrasah secara optimal.
d. Mengelola perubahan dan pengembangan sekolah/madrasah menuju organisasi pembelajar yang efektif.
e. Menciptakan budaya dan iklim sekolah/madrasah yang kondusif dan inovatif bagi pembelajaran peserta didik.
f. Mengelola guru dan staf dalamr angka pendayagunaan sumber daya manusia secara optimal.
g. Mengelola sarana dan prasarana sekolah/madrasah dalam rangka pendayagunaan secara optimal.
h. Mengelola hubungan sekolah/madrasah dengan masyarakat dalam rangka pencarian dukungan ide, sumber belajar, dan pembiayaan sekolah/madrasah.
i. Mengelola peserta didik dalam rangka penerimaan peserta didik baru, penempatan, dan pengembangan kapasitas peserta didik.
j. Mengelola pengembangan kurikulum dan kegiatan pembelajaran sesuai dengan arah dan tujuan pendidikan nasional.
k. Mengelola keuangan sekolah/madrasah sesuai dengan prinsip pengelolaan yang akuntabel, tranparan, dan efisien.
l. Mengelola ketatausahaan sekolah/madrasah dalam mendukung pencapaian tujuan sekolah/madrasah.
m. Mengelola unit layanan khusus sekolah/madrasah dalam mendukung kegiatan pembelajaran dan kegiatan peserta didik di sekolah/madrasah.
n. Mengelola informasi dalam mendukung penyusunan program dan pengambilan keputusan.
o. Memanfaatkan kemajuan teknologi informasi bagi peningkatan
pembelajaran dan manajemen sekolah/madrasah.
PTS‐KKKS Page 4
p. Melakukan monitoring,evaluasi,dan pelaporan pelaksanaan program kegiatan sekolah/madrasah dengan prosedur yang tepat, serta merencanakan tindak lanjutnya.
3. Dimensi Kompetensi Kewirausahaan
a. Menciptakan inovasi yang berguna bagi pengembangan
sekolah/madrasah.
b. Bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sekolah/madrasah sebagai organisasi pembelajar yang efektif.
c. Memiliki motivasi yang kuat untuk sukses dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pemimpin sekolah/madrasah.
d. Pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam menghadapi kendala yang dihadapi sekolah/madrasah.
e. Memiliki naluri kewirausahaan dalam mengelola kegiatan
sekolah/madrasah sebagai sumber belajar peserta didik.

4. Dimensi Kompetensi Supervisi
a. Merencanakan program supervisi akademik dalam rangka peningkatan profesionalisme guru.
b. Melaksanakan supervisi akademik terhadap guru dengan pendekatan dan teknik supervisi yang tepat.
c. Menindaklanjuti hasil supervisi akademik terhadap guru dalam rangka peningkatan profesionalisme guru.

5. Dimensi Kompetensi Sosial
a. Bekerja sama dengan pihak lain untuk kepentingan sekolah/madrasah.
b. Berpartisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.
c. Memiliki kepekaan sosial terhadap orang atau kelompok lain.

C. Deskripsi BBM
BBM terdiri atas enam bagian yaitu:
1. dimensi kompetensi kepribadian,
2. dimensi kompetensi manajerial,
3. dimensi kompetensi kewirausahaan,
4. dimensi kompetensi supervisi,
5. dimensi kompetensi sosial, dan
6. penelitian tindakan sekolah

BBM nomor 1 sampai 5 disesuaikan dengan dimensi standar kompetensi kepala sekolah/madrasah. Sedangkan BBM nomor 6 merupakan pengkhususan dan pendalaman dimensi kompetensi penelitian dan
pengembangan. Hal ini penting untuk diprioritaskan karena peran kepala sekolah/madrasah sebagai agen perubahan di sekolah/madrasah. Dengan kemampuan ini diharapkan kepala sekolah/madrasah dapat meningkatkan mutu sekolah yang dibinanya. Setiap BBM di atas meliputi beberapa kegiatan belajar sebagai berikut.
Dimensi kompetensi kepribadian meliputi kegiatan belajar:
1. pengertian kepribadian kepala sekolah/madrasah,
2. kepala sekolah/madrasah sebagai teladan,
3. pentingnya integritas dan keterbukaan dalam kepemimpinan kepala sekolah/madrasah,
4. kompetensi emosional berpengaruh terhadap keefektifan kepemimpinan kepala sekolah/madrasah, dan
5. pengembangan diri sebagai pemimpin pendidikan.

Dimensi kompetensi manajerial meliputi kegiatan belajar:
1. pembuatan rencana kegiatan sekolah/madrasah,
2. pengorganisasian sekolah/madrasah,
3. manajemen perubahan di sekolah/madrasah,
4. manajemen SDM di sekolah/madrasah,
5. manajemen sarana dan prasarana sekolah/madrasah,
6. manajemen kesiswaan sekolah/madrasah,
7. manajemen kurikulum dan pembelajaran sekolah/madrasah, dan
8. manajemen keuangan sekolah.

Dimensi kompetensi kewirausahaan meliputi kegiatan belajar:
1. konsep dan latihan kewirausahaan,
2. konsep dan latihan inovasi,
3. konsep dan latihan bekerja keras,
4. konsep dan latihan motivasi kuat (komitmen) dan pantang menyerah,
5. konsep dan latihan kreativitas untuk selalu mencari solusi terbaik, dan
6. evaluasi diri memiliki naluri kewirausahaan.

Dimensi kompetensi supervisi meliputi kegiatan belajar:
1. Konsep dan latihan supervisi akademik,
2. konsep dan latihan perencanaan program supervisi akademik,
3. konsep dan latihan teknik-teknik supervisi akademik,
4. konsep dan latihan supervisi klinis, dan
5. konsep dan latihan tindak lanjut hasil supervisi akademik terhadap guru.

Dimensi kompetensi sosial meliputi kegiatan belajar:
1. Manajemen hubungan sekolah/madrasah dan masyarakat di sekolah/madrasah , dan
2. kerja sama/negosiasi dengan pihak lain.

BBM penelitian tindakan sekolah meliputi kegiatan belajar:
1. Konsep dan latihan PTS, dan
2. penyusunan proposal dan laporan PTS.

D. Langkah-langkah Mempelajari BBM
Bahan belajar ini dirancang untuk dipelajari oleh kepala sekolah/madrasah dalam forum KKKS/M. Oleh karena itu langkah-langkah yang harus dilakukan dalam mempelajari materi ini mencakup aktivitas individual dan kelompok. Secara umum aktivitas individual meliputi: (1) membaca materi, (2) melakukan latihan/tugasekolah/madrasah, memecahkan kasus pada setiap kegiatan belajar, (3) membuat rangkuman/kesimpulan, dan (4) melakukan refleksi, dan melakukan tindak lanjut. Sedangkan aktivitas
kelompok meliputi: (1) mendiskusikan materi, (2) bertukar pengalaman dalam melakukan latihan/memecahkan kasus, (3) melakukan seminar/diskusi hasil latihan/tugas yang dilakukan, dan (4) bersama-sama melakukan refleksi, membuat action plan, dan tindak lanjut. Langkah-langkah tersebut dapat

Dari gambar di atas tampak bahwa aktivitas kelompok selalu didahului oleh aktivitas individu. Dengan demikian, maka aktivitas individu adalah hal yang utama. Sedangkan aktivitas kelompok lebih merupakan forum untuk berbagi, memberikan pengayaan, dan penguatan terhadap kegiatan yang telah dilakukan individu masing-masing.

Dengan mengikuti langkah-langkah BBM di atas, diharapkan kepala sekolah/madrasah yang tergabung dalam KKKS/M dapat secara individu dan bersama-sama meningkatkan kompetensinya, yang pada gilirannya diharapkan berdampak pada peningkatan kompetensi yang dibinanya.
Aktivitas Individu Aktivitas Kelompok
Membaca Bahan
Belajar
Mediskusikan
Bahan Belajar
Melaksanakan
Latihan/Tugas/
Studi Kasus
Sharing Permasalahan
dan Hasil
Pelaksanaan
Latihan
Membuat
Rangkuman
Membuat
Rangkuman
Melakukan
Refleksi,
Membuat Action
Plan, dan
Tindak Lanjut
Melakukan
Refleksi,
Membuat Action
Plan, dan
Tindak Lanjut

Selamat belajar. Semoga sukses.

E. Tujuan BBM PTS
BBM PTS ini disusun dengan tujuan untuk:
1. dijadikan bahan bacaan, pelajaran, latihan, refleksi, diskusi, dan tindak lanjut dalam meningkatkan kompetensi PTS; dan
2. meningkatkan keefektifan kepemimpinan kepala sekolah/madrasah, peran kepala sekolah/madrasah, dan profesionalisme kepala sekolah/madrasah yang berdampak pada peningkatan kinerja guru.

F. Kegunaan BBM PTS
1. Sebagai bahan belajar individual bagi Kepala SD/MI tanpa terikat oleh fasiltator, waktu, dan tempat.
2. Sebagai BBM bagi KKKS/M.
3. Untuk membantu Kepala SD/MI dalam meningkatkan kompetensi PTS baik
secara individu maupun kelompok.

G. Standar Kompetensi PTS
Setelah mempelajari, mendiskusikan, mendalami, dan mempraktikkan BBM ini bersama teman sejawat di KKKS/M; Kepala SD/MI diharapkan mampu:
1. memahami konsep PTS,
2. membuat proposal PTS,
3. membuat laporan PTS, dan
4. membimbing guru dalam membuat PTS sebagai kegiatan pengembangan
profesi guru.

KEGIATAN BELAJAR 1
KONSEP PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH
A. Pengantar
Kepala sekolah/madrasah adalah guru yang diberi tugas tambahan sebagai kepala sekolah/madrasah. Oleh karena itu, ia perlu melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah ia laksanakan. Kemudian, ia perlu
pula memanfaatkan hasil refleksi tersebut untuk perbaikan dan pengembangan mata pelajaran. Dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah/madrasah dan pengelolaan sekolah/madrasah, ia dapat melakukan PTS sekaligus sebagai sarana pengembangan profesinya (Permendiknas No. 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru),

PTS merupakan penelitian yang berawal dari permasalahan sekolah, diselesaikan melalui tindakan spesifik dari gagasan peneliti untuk mengatasi permasalahan sekolah. Dengan demikian, yang pertama harus ada dalam setiap penelitian termasuk PTS bukanlah diawali dengan membuat judul tetapi diawali dengan menemukan adanya masalah.
Masalah-masalah yang akan dirumuskan adalah masalah-masalah aktual dan sangat penting dan mendesak untuk segera dipecahkan. Jika masalahmasalah itu tidak segera diatasi, dikhawatirkan akan berdampak negatif terhadap sekolah. Oleh karena itu, diperlukan tindakan spesifik yang diyakini benar-benar dapat mengatasi masalah-masalah tersebut.

Saat ini, penelitian paling banyak dilakukan oleh guru, kepala sekolah/madrasah dan pengawas sekolah/madrasah adalah penelitian tindakan. Jika penelitian tindakan dilakukan guru disebut Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Jika penelitian tindakan dilakukan oleh kepala sekolah/madrasah dan pengawas sekolah/madrasah disebut PTS. PTK bertujuan memecahkan masalah-masalah pembelajaran di kelas, sedangkan

PTS bertujuan untuk memecahkan masalah-masalah yang terjadi di sekolah.
.
B. Definisi PTS
PTS adalah penemuan sistematis yang dilaksanakan kepala sekolah/madrasah untuk memecahkan masalah di sekolah (Mills, 2003; Stringer, 2004; Glickman etr al., 2007; Hopkins,2008). Ruang lingkup PTS
mengacu pada delapan standar nasional pendidikan khususnya
Permendiknas Nomor 19 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah yang meliputi: (1) Perencanaan program sekolah/madrasah, (2) pelaksanaan program sekolah/madrasah, (3) pengawasan/evaluasi sekolah, (4) kepemimpinan, dan (5) sistem informasi
manajemen sekolah.

C. Manfaat PTS
Manfaat PTS bagi kepala sekolah/madrasah secara umum adalah untuk memecahkan masalah aktual secara ilmiah nyata yang terjadi di sekolah.
Masalah tersebut menjadi tanggung jawab kepala sekolah/madrasah. Manfaat PTS secara khusus adalah untuk: (1) meningkatkan kemampuan dan sikap profesional sebagai Kepala SD/MI; (2) menumbuhkembangkan budaya akademik di lingkungan SD/MI sehingga tercipta sikap proaktif di dalam
melakukan perbaikan mutu sekolah secara ilmiah; (3) meningkatkan mutu proses dan hasil pengelolaan SD/MI; (4) membuat Kepala SD/MI menjadi peka dan tanggap terhadap masalah-masalah pengelolaan sekolah yang muncul di SD/MI untuk melakukan refleksi dan kritis terhadap yang ia lakukan; (5) meningkatkan kinerja sekolah termasuk kinerja kepala sekolah, kinerja guru, dan hasil belajar siswa, (6) sebagai bahan PTS untuk membimbing guru dalam membuat PTK, dan (7) membuat karya ilmiah guna mendapatkan angka kredit point untuk kenaikan pangkat/jabatan dan atau serifikasi guru.

D. Ciri-ciri PTS
Ciri-ciri PTS yang paling utama adalah adalah sebagai berikut:
1. melakukan tindakan peningkatan,
2. kolaborasi peneliti dengan yang diteliti;
3. adanya masalah penting dan mendesak yang dihadapi Kepala SD/MI untuk segera dipecahkan;
4. adanya siklus, minimal dua siklus. Setiap siklus ada empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi;
5. dilakukan di wilayah kerja peneliti;
6. bertujuan meningkatkan kinerja sekolah/madrasah;
7. dilaksanakan sesuai jam kerja peneliti;
8. dilaksanakan secara berkelanjutan;
9. sesuai dengan tugas pokok dan fungsi Kepala SD/MI;
10. tidak mengganggu tugas pokok dan fungsi Kepala SD/MI;
11. kehadiran peneliti tidak mengganggu kegiatan orang yang diteliti;
12. .adanya niat untuk meningkatkan mutu profesional guru, dan kepala sekolah/madrasah, kinerja guru, kinerja kepala sekolah/madrasah, dan kinerja sekolah secara keseluruhan;
13. tertuju pada peningkatan mutu kinerja guru dan kepala sekolah/madrasah yang melaksanakan PTS itu sendiri;
14. tindakan sekolah yang diberikan kepala sekolah/madrasah kepada guru harus dapat dilihat dalam unjuk kerja subjek tindakan secara nyata yang dapat diamati oleh peneliti;
15. tindakan dilakukan pada situasi alami (pada keadaan yang sebenarnya) dan ditujukan untuk memecahkan permasalahan-permasalahan praktis dalam peningkatan kinerja guru dan/atau kepala sekolah/madrasah;
16. pemberian tindakan sekolah harus dilakukan sendiri oleh peneliti sendiri, tidak boleh minta bantuan orang lain;
17. bukan menjelaskan tentang materi, tetapi tentang cara, metode, prosedur, atau langkah-langkah;
18. tindakan sekolah yang diberikan pada subjek tindakan sekolah harus baru dan kreatif (tidak seperti biasanya);
19. tindakan sekolah harus bersifat dapat dilaksanakan (operasional) dan praktis (mudah) serta sesuai dengan kondisi kelas;
20. tindakan sekolah merupakan kesepakatan bersama antara peneliti dengan subjek tindakan, bukan paksaan;
21. ketika tindakan sekolah berlangsung, harus ada pengamatan secara sistematis terhadap proses dan hasil; dan
22. keberhasilan tindakan sekolah dibahas dalam kegiatan refleksi, dan hasilnya digunakan sebagai masukan bagi perencanaan siklus berikut.
E. Perbedaan PTS oleh Pengawas sekolah/madrasah, PTS oleh Kepala
sekolah/madrasah, dan PTK oleh Guru .
Sekolah/madrasah, Kepala Sekolah/madrasah, dan Guru

Peneliti Penelitian Tindakan
Subjek Penelitian
Objek Penelitian
Pengawas sekola/madra sah
Sekolah Kepala sekolah/madras ah/Madrasah
Guru
Tenaga kependidikan
Pengawas sekolah
Kompetensi kepala sekolah/madrasah /madrasah
Kompetensi guru
Kompetensi tenaga kependidikan. kepala sekolah/madrasah
Kompetesi diri sendiri
Kepala sekolah/ madrasah
Sekolah Guru
Tenaga
kependidikan Siswa
Kepalansekolah/madrasah
Kompetensi guru
Kompetensi tenaga
kependidikan
Kompetensi siswa
Kompetensi diri sendiri
Guru Kelas Siswa Pembelajaran

E. Perbedaan PTS dengan Bukan PTS
Perbedaan antara PTS dengan bukan PTS.

Dilaksanakan oleh Praktisi yaitu kepala sekolah/madrasah, pengawas sekolah/madrasah . Teoretisi yaitu ilmuan di luar sekolah.
Tujuan penelitian Memecahkan masalah, meningkatkan mutu Menguji teori/dan atau mengembangkan pengetahuan baru.

praktik
Tipe pengumpulan data
Kualitatif/dan atau
kuantitatif
Kualitatif/dan atau kuantitatif.
Maksud pengumpulan dan analisis data
Menemukan masalah
praktis, mengarahkan rencana tindakan,
hasil-hasil evaluasi.
Mendapatkan pemahaman terhadap gejala, dan menguji hipotesis.
Standar mutu penelitian
Hasil penelitian menyebabkan adanya perubahan Reviu metode dan
hasil oleh teman sejawat
Pemakai utama Warga
sekolah/madrasah
Peneliti lainnya,
profesional,
pemerintah, dan swasta.
(Glickman, 2008)

G. Langkah-langkah PTS
Langkah-langkah PTS yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Langkah-langkah PTS seperti gambar berikut

i
Pelaksanaan
Pengamatan
Refleksi
Perencanaan
Pelaksanaan
Pengamatan
Refleksi
Perencanaan

SIKLUS I
SIKLUS II
?
Keterangan :
Satu siklus meliputi empat langkah yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.
Perencanaan
Perencanaan adalah langkah awal yang dilakukan peneliti saat akan memulai tindakannya. Agar perencanaan mudah dipahami oleh objek yang melakukan tindakan, maka peneliti membuat panduan tindakan yang menggambarkan:
(a) apa yang harus dilakukan objek, yang melakukan tindakan kepala sekolah/madrasah /madrasah;
(b) kapan dan berapa lama dilakukan;
(c) di mana dilakukan;
(d) fasilitas yang diperlukan; dan
(e) jika tindakan sudah selesai, apa tindak lanjutnya.
Pelaksanaan (Tindakan)
Pelaksanaan adalah penerapan dari perencanaan. Hal-hal yang harus diperhatikan kepala sekolah/madrasah adalah:
(a) apakah ada kesesuaian antara pelaksanaan dengan perencanaan?.
(b) bagaimana kelancaran proses tindakan yang dilakukan objek yang melakukan tindakan?,
(c) bagaimanakah situasi proses tindakan?,
(d) apakah objek yang melakukan tindakan mampu melaksanakan tindakan dengan penuh semangat?, dan
(e) bagaimanakah hasil keseluruhan dari tindakan itu?
(f) PTS merupakan penelitian yang mengikutsertaan secara aktif peran guru dan siswa dalam berbagai tindakan
(g) Kegiatan refleksi (perenungan, pemikiran dan evaluasi) dilakukan berdasarkan pertimbangan rasional (menggunakan konsep teori) yang mantap dan valid guna melakukan perbaikkan tindakan dalam upaya
memecahkan masalah yang terjadi.
(h) Tindakan perbaikan terhadap situasi dan kondisi pembelajaran dilakukan dengan segera dan dilakukan secara praktis (dapat dilakukan dalam praktik pembelajaran)

Pengamatan
Pengamatan adalah pencermatan terhadap pelaksanaan tindakan. Halhal yang diamati adalah unsur-unsur dari proses tindakan dalam pelaksanaan di atas. Antara pelaksanaan dengan pengamatan bukan urutan karena waktu terjadinya bersamaan. Pengamatan harus menggunakan format pengamatan. Akan lebih baik jika pengamatan dilengkapi video untuk merekam peristiwa ketika guru sedang mengajar misalnya, kemudian dibahas bersama ketika
refleksi.
Siapakah yang dapat melakukan pengamatan? Pengamatan dilakukan dengan cara sebagai berikut.
(a) Pengamatan dapat dilakukan oleh orang lain, yaitu pengamat yang dimintaoleh peneliti untuk mengamati proses pelaksanaan tindakan, bertugas mengamati apa saja yang dilakukan oleh objek yang diteliti.
(b) Pengamatan dapat dilakukan oleh peneliti sendiri, yaitu apa yang sedang ia lakukan, sekaligus mengamati apa yang dilakukan oleh objek yang diteliti dan bagaimana proses berlangsung.

Alternatif a lebih baik daripada b karena hasil pengamatan lebih asli dan objektif.
Kesulitannya adalah peneliti harus mencari teman yang cermat dan dapat mengamati pelaksanaan; kesepakatan menentukan waktu yang sama.
Tahapan pengamatan dan pencatatan semua aktivitas PTS dilakukan bersamaan dengan saat pelaksanaan. Pengamatan dilakukan pada waktu tindakan sedang berjalan, jadi keduanya berlangsung dalam waktu yang sama.
Salah satu atau lebih kegiatan dari pengelolaan sekolah/madrasah yang dilakukan Kepala SD/MI menurut Permendiknas Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.

Pada tahapan ini, si peneliti melakukan pengamatan dan mencatat semua hal-hal yang diperlukan dan terjadi selama pekasanaan tindakan berlangsung. Pengumpulan data ini dilakukan dengan menggunakan format
observasi/penilaian yang telah disusun. Termasuk juga pengamatan secara cermat pelaksanaan skenario tindakan, dari waktu ke waktu dan dampaknya terhadap proses dan hasil belajar siswa. Data yang dikumpulkan dapat berupa data pengelolaan sekolah/madrasah. Instrumen yang umum dipakai adalah lembar observasi, dan cacatan lapangan yang dpakai untuk memperoleh data secara objektif yang tidak dapat terekam melalui lembar observasi, misalnya aktivitas siswa selama pemberian tindakan berlangsung, reaksi mereka, atau pentunjuk-petunjuk lain yang dapat dipakai sebagai bahan dalam analisis dan untuk keperluan refleksi. Sebagai contoh pada satu usulan PTS akan dikumpulkan data sebagai berikut : (1) data jumlah guru, (2) data kualifikasi guru, (3) data daftar hadir guru, data kinerja guru, sebagainya. Lembar observasi guna memperoleh data kedisipinan guru dan lapangan.

Data yang dikumpulkan hendaknya dicek untuk mengetahui keabsahannya. Berbagai teknik dapat dilakukan untuk tujuan ini, seperti misalnya teknik triangulasi, membandingkan data yang diperoleh dengan data
lain, atau kriteria tertentu yang telah baku, dan lain sebagainya. Data yang telah terkumpul memerlukan analisis untuk dapat mempermudah penggunaan maupun dalam penerikan kesimpulan. Untuk itu berbagai teknik analisis statitika dapat digunakan.

Refleksi
Tahapan ini dimaksudkan untuk mengkaji secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan, berdasakan data yang telah terkumpul, dan kemudian melakukan evaluasi guna menyempurnakan tindakan yang berikutnya. Refleksi dalam PTS mencakup analisis, sintesis, dan penilaian terhadap hasil pengamatan atas tindakan yang dilakukan. Jika terdapat masalah dari proses refleksi, maka dilakukan proses pengkajian ulang melalui siklus berikutnya yang meliputi kegiatan : perencanaan ulang, tindakan ulang, dan pengamatan ulang sehingga permasalahan dapat teratasi (Hopkins, 1993).
Refleksi adalah merenungkan hasil pengamatan. Kepala sekolah/madrasah /madrasah harus melibatkan objek yang melakukan tindakan. Mereka diminta untuk mengingat kembali peristiwa yang terjadi ketika
PTS berlangsung, serta mengemukakan perasaannya senang atau tidak mengemukakan pendapat dan usul-usul untuk perbaikan siklus berikutnya.
Dalam penilaian laporan PTS. Uraian refleksi ini sangat diperhatikan oleh pembaca, penilai, atau penguji, dicermati bagaimana peneliti melakukannya, dan tindak lanjut dari refleksi tersebut. Hal yang sangat diperhatikan pembaca, penilai, atau penguji adalah apakah hasil refleksi ini digunakan sebagai bahan untuk memperbaiki perencanaan pada siklus berikutnya atau tidak karena sangat penting untuk dijadikan masukan perbaikan perencanaan siklus berikutnya.

Kegiatan pada siklus kedua dapat berupa kegiatan yang sama dengan kegiatan sebelumnya bila ditujukan untuk mengulangi kesuksesan, atau untuk meyakinkan atau menguatkan hasil. Tapi umumnya kegiatan yang dilakukan pada siklus kedua mempunyai berbagai tambahan perbaikan dari tindakan terdahulu yang tentu saja ditujukan untuk memperbaiki berbagai hambatan atau kesulitan yang ditemukan dalam siklus pertama. Dengan menyusun rancangan untuk siklus kedua, maka kepala sekolah/madrasah /madrasah dapat melanjutkan dengan tahap kegiatan-kegiatan seperti yang terjadi dalam siklus pertama.

Jika sudah selesai dengan siklus kedua dan kepala sekolah/madrasah /madrasah belum merasa puas, dapat melanjutkan dengan siklus ketiga, yang cara dan tahapannya sama dengan siklus terdahulu. Tidak ada ketentuan tentang berapa kali siklus harus dilakukan. Banyaknya siklus tergantung dari kepuasan peneliti sendiri, namun ada saran, sebaiknya tidak kurang dari dua siklus. Tunjukkan siklus-siklus kegiatan penelitian dengan menguraikan indikator keberhasilan yang dicapai dalam setiap siklus sebelum pindah ke siklus lain.
Jumlah siklus diusahakan lebih dari satu siklus, meskipun harus diingat juga jadwal kegiatan belajar di sekolah. Untuk dapat membantu menyusun bagian ini, disarankan untuk terlebih dahulu menuliskan pokok-pokok rencana kegiatan

Siklus I Perencanaan :
Indentifikasi masalah dan penetapan alternatif
pemecahan masalah
Masalah: Sebagian guru (40%) masih rendah motivasi mengajarnya.
• Mengembangkan skenario peningkatan motivasi mengajar guru.
Alternatif tindakan:
1. Menerapkan pemberian penghargaan.
2. Menerapkan sanksi.
3. Menerapkan kode etik guru.
Tindakan • Menerapkan tindakan mengacu pada skenario motivasi guru
Pengamatan • Melakukan observasi dengan memakai format observasi
• Menilai hasil tindakan dengan menggunakan format motivasi.
Refleksi • Melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan yang meliputi evaluasi mutu, jumlah dan waktu dari setiap macam tindakan.
• Melakukan pertemuan untuk membahas hasil evaluasi tentang skenario, dll.
• Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai hasil evaluasi, untuk digunakan pada siklus berikutnya
• Evaluasi tindakan I
Siklus II
Perencanaan • Indentifikasi masalah dan penetapan alternatif pemecahan masalah.

• Pengembangan program tindakan II
Tindakan • Pelaksanaan program tindakan II
Pengamatan • Pengumpulan data tindakan II
Refleksi • Evaluasi Tindakan II
• Siklus- siklus berikutnya
• Kesimpulan, Saran, Rekomendasi
Bagaimana hubungan indikator keberhasilan dengan kegiatan pengamatan? Kegiatan pengamatan pada hakikatnya dilakukan untuk dapat mengetahui apakah tujuan PTS tercapai atau belum. Untuk itu sangat penting untuk menjabarkan terlebih dahulu apa indikator utama dari kegiatan PTS yang dirancangkan.

Berikut disajikan contoh indikator utama dan rinciannya, dari suatu kegiatan PTS, sebagai berikut.
Contoh Indikator Keberhasilan PTS
No. Indikator
1. keberhasilan PTS
Rincian (sub indikator) keberhasilan:
Guru yang rajin meningkat dari 60 orang menjadi 80 orang.
Semakin efektifnya waktu mengajar guru
Datang ke kelas tepat waktu.
Menyelesaikan tugas mengajar bersemangat.
Menggunakan waktu secara efektif , efisien untuk mengajar.
Menyelesaikan tugas mengajar tepat waktu.
Menunjukkan kemajuan dari waktu ke waktu
Guru selalu hadir di kelas.

2. Semakin efektifnya
suasana pembelajaran
Terciptanya suasana PAKEM.
Siswa tidak ada yang mengantuk.
Belajar melalui media pembelajaran lain (internet, perpustakaan, dll) dalam penyelesaikan tugas yang diberikan
3. Semakin efektifnya kegiatan PBM yang dilakukan siswa

Belajar dalam kelompok
Mengembangkan data dan bahan secara mandiri
Mengembangkan sifat kolaboratif satu dengan yang lain
Mengkontruksi, berkontribusi dan melakukan sintesis informasi

Belajar yang diarahkan oleh dan untuk diri sendiri
Bekerja secara mandiri
4 Meningkatnya kemampuan melakukan penilaian terhadap diri sendiri
Berupaya melakukan penilaian mandiri terhadap target waktu penyelesaian tugas yang telah
ditetapkan
Melakukan penilaian mandiri terhadap kuantitas dan kualitas tugas yang telah dikerjakan
Meningkatnya kehadiran guru
Dari rincian sub indikator di atas, dirancang format-format yang akan dipakai dalam pengumpulan data. Apabila dicermati sebagian terbesar dari data yang akan dikumpulan dari contoh di atas adalah data kuantitatif. Menggunakan data terkumpul tersebut dilakukan analisis dan refleksi terhadap tindakan yang
telah dilakukan.
H. Refleksi
Setelah Anda mempelajari konsep PTS di atas, apakah dengan langkahlangkah tersebut dapat meningkatkankan kompetensi PTK Anda?

Peran Anda sebagai kepala sekolah/madrasah untuk membimbing guru melaksanakan PTK?
Apakah dengan memahami langkah-langkah tersebut dapat meningkatkannpengembangan profesionalisme Anda?

Apakah akhirnya akan berdampak pada
peningkatan kinerja guru?

I. Melibatkan
Diskusikan pendapat Anda di KKKS/M!

J. Rangkuman
PTS adalah penemuan sistematis yang dilaksanakan kepala sekolah/madrasah untuk memecahkan masalah pengelolaan sekolah. Ruang lingkup PTS mengacu pada Permendiknas Nomor 19 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Sekolah/madrasah yang meliputi: (1) Perencanaan program sekolah/madrasah, (2) pelaksanaan program sekolah/madrasah, (3) pengawasan/evaluasi sekolah, (4) kepemimpinan, dan (5) sistem informasi

manajemen sekolah. Manfaat PTS bagi kepala sekolah/madrasah /madrasah secara umum adalah untuk memecahkan permasalahan pengelolaan yang terjadi di sekolah yang menjadi tanggung jawab kepala sekolah/madrasah . Ciri PTS yang paling utama adalah melakukan tindakan di samping 15 ciri lainnya.
Terdapat perbedaan antara penetian tindakan untuk pengawas seklah/madrasah, kepala sekolah/madrasah /madrasah, dan guru.

Langkahlangkah PTS meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.

KEGIATAN BELAJAR 2
MEMBUAT PROPOSAL DAN LAPORAN PTS
A. Pendahuluan
Penilaian Awal diri sendiri: Berilah tanda (V) pada pertanyaan di bawah ini.

Saya belum pernah melihatnproposal PTS apalagi membuatnya
.
Saya sudah pernah melihat proposal PTS tetapi belum tahu membuatnya
.
Saya pernah membuat propasl PTS
Saya mampu mengaja  orang lain membuat proposal PTS.
Saya belum pernah melihat
Laporan PTS apalagi membuatnya
.
Saya sudah pernah melihat laporan PTS tetapi belum tahu membuatnya
.
Saya pernah membuat lapoan PTS
Saya mampu mengajar orang lain membuat laporan PTS.
Hasil
Jika Anda mempelajari kegiatan belajar 2 ini, Anda mampu:
a. membuat proposal PTS,
b. membuat laporan PTS,
c. mengajari orang lain cara membuat proposal PTS, dan
d. mengajari orang lain cara membuat laporan PTS.
Mari kita mulai! Tindakan
Perhatikan bagian-bagian dari sistematika setiap proposal PTS berikut ini.
Judul
Kajian Teoretis
Perumusan Masalah
Latar Belakang
Tujuan dan Manfaat Penelitian
Metode Penelitian
Identifikasi Masalah
Daftar Pustaka
Pembatasan Masalah
B. Refleksi
Urutkan bagian-bagian di atas sehingga menghasilkan sistematika PTS yang logis.
C. Melibatkan
Diskusikan sistematika yang telah Anda buat di KKKS!
D. Pengantar
Langkah awal sebelum melakukan PTS adalah membuat proposal.
Proposal merupakan rencana langkah-langkah yang akan dilakukan dalam melaksanakan PTK. Bila proposal ini salah, maka pelaksanaan PTS pun akan salah pula. Oleh sebab itu, proposal harus dibuat dengan benar dahulu jika ingin melaksanakan PTS dengan benar pula. Jika PTS itu melalui bimbingan, pembimbing tidak akan mengizinkan peneliti mengambil data di lapangan sebelum proposal itu disetujuinya. Jika PTS itu didanai sponsor, maka proposal itu belum akan mendapatkan dananya selama proposalnya belum benar.

E. Cara Membuat Proposal PTS
Sistematika PTS pada umumnya adalah sebagai berikut.
A. Judul
B. Latar Belakang
C. Perumusan Masalah
D. Tujuan
E. Manfaat Penelitian
F. Acuan Teori
G. Metode Penelitian
H. Daftar Pustaka
Penjelasan Judul
Judul PTS minimal berisi informasi tentang:
1) apa yang akan ditingkatkan?,
2) menggunakan tindakan apa?, dan
3) siapa yang akan ditingkatkan?

Berikut disajikan berbagai contoh judul PTS, yang kesemuanya menuliskan tiga hal yang penting di atas. Di samping itu, judul harus tepat dengan tugas pokok dan fungsi kepala sekolah/madrasah /madrasah, singkat,
dan jelas (tidak membingungkan).

Contoh Judul PTS
Apa yang mau ditingkatkan mutunya..
Bagaimana tindakan yang akan dilakukan kepala sekolah/madrasah
Siapa yang akan ditingkatkan?
1. Perencanaan program sekolah
Studi banding ke sekolah lain yang lebih tinggi mutunya
Kepala sekolah/madrasah
2. Pelaksanaan program sekolah
Studi banding ke sekolah lain yang lebih tinggi mutunya
Kepala sekolah/madrasah
3. Pengawasan sekolah Pembinaan oleh pengawas sekolah Kepala sekolah/madrasah
4. Eavluasi kinerja sekolah Pembinaan oleh pengawas sekolahKepala sekolah/madrasah
5. Kepemimpinan Diskusi dengan KKKS Kepala sekolah/madrasah

Pembuatan dan pemanfaatan Sistem Informasi Manajemen (SIM)
Diklat SIM
Guru
Tenaga kependidikan
7 Kemampuan Guru dalam Melaksanaan Metode Demonstrasi disertai Tugas Terstruktur

Dilklat Guru
Mutu Guru dalam Mengevaluasi Hasil Belajar Siswa Melalui Lokakarya Guru
9 Kemampuan guru dalam Menyusun RPP Melalui Workshop Guru
10 Guru dalam memanfaatkan hasil penilaian untuk perbaikan mutu pendidikan Melalui Focus Group Discussion (FGD) Guru
11Kemauan dan KemampuanGuru dalam Mengunakan Metode Pembelajaran Kooperatif Melalui Kerja Kelompok Guru
12 Penerapakan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Melalui Pembinaan dalam Forum Diskusi Guru Guru
13 Membuat, mengelola dan menggunakan media
Melalui KKG Guru pendidikan dan pembelajaran
14 Kemampuan guru dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas Melalui Lokakarya PTK iIntensif Terstruktur Guru

Contoh judul PTS:
Upaya-upaya Meningkatkan Motivasi Mengajar Guru melalui Diklat Motivasi Berprestasi bagi Guru SDN 88 Yogyakarta.
Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru dalam Menggunakan Model Diskusi Partisipasi (MDP) melalui Pembinaan Kelompok pada SDN 88 Yogyakarta

Refleksi
Dapatkah Anda membuat judul tanpa mengetahui adanya masalah terlebih dahulu? Buatlah judul PTS Anda.
Melibatkan Diskusikan judul Anda di KKKS/M!.
Penjelasan latar belakang masalah
Dalam latar belakang masalah, peneliti menceritakan hal-hal yangmelatarbelakangi mengapa peneliti memilih judul tersebut. Peneliti dalam latar belakang masalah ini seolah-olah sebagai orang mata-mata yang sedang mengamati sekolah tempat terjadinya perkara. Untuk memunculkan alasanalasan memilih judul tersebut, peneliti dapat mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku tentang perkepalasekolahan, tetapi belum efektif pelaksanaannya. Latar belakang masalah dapat pula mengacu pada krisis pengelolaan sekolah. Dalam latar belakang ditampakkan secara tersurat atau tersirat masalah-masalah yang nantinya menjadi identifikasi masalah secara berurutan. Akhirnya, latar belakang ditutup dengan kalimat kunci yang menekankan pentingnya masalah tersebut untuk segera diteliti dan dampaknya jika penelitian itu ditunda-tunda.

Contoh inti latar belakang masalah
Perencanaan program sekolah belum lengkap. Hal ini ditunjukkan oleh dari empat hal yang harus direncanakan baru tiga hal yang dsudah direncanakan. Pelaksanaan program sekolah juga belum baik yang tampak dari belum dilaksanakan pengelolaan keuangan dengan baik. Dari 10 pelaksanaan program sekolah baru tujuh yang berjalan cukup baik. Demikian pula halnya dengan kepemimpinan kepala sekolah. Dari 8 tugas pokok yang harus dilakukan melalui kepemimpinan sekolah hanya berjalan separuhnya. Akibatnya, 22 dari 88 guru masih rendah motivasi mengajarmya. Ada lima hal yang harus dievaluasi ternyata sekolah belum terakreditasi. Sekolah juga belum memiliki sistem informasi yang dapat diandalkan. Sekolah belum mampu menggunakan sistem informasi manajemen sekolah dengan baik sehingga banyak data yang sulit ditemukan kembali. Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian tindakan sekolah perlu dilaksanakan agar pemecahan masalah tersebut dapat diatasi. Jika masalah ini tidak segera diatasi dikhawatirkan sekolah akan kehilangan peminatnya.

Refleksi
Renungkan gejala-gejala pengelolaan sekolah yang sedang terjadi di sekolah Anda. Kemudain buatlah latar belakang dengan menggunakan gejalagejala tersebut.

Melibatkan Diskusikan latar belakang yang Anda buat di KKKS/M!.
Penjelasan Identifikasi Masalah .

Identifikasi masalah berdasarkan masalah-masalah yang muncul di latar belakang masalah baik secara tersurat maupun tersirat. Urutannya pun sama seperti yang muncul di latar belakang masalah.

Contoh:
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah-masalah yang muncul dapat diidentifikasikan sebagai berikut.
1. Masih satu rencana program yang sekolah belum dibuat dengan baik (program sekolah).
2. Ada tiga pelaksanaan program sekolah yang belum dibuat sekolah.
3. Empat tugas kepemimpinan kepala sekolah belum berjalan.
4. 22 orang guru masih rendah motivasinya.
5. Satu dari empat evaluasi sekolah belum terpenuhi.
6. Sekolah belum memiliki sistem informasi yang dapat diandalkan.

Penjelasan pembatasan masalah
Pembatasan masalah adalah masalah-masalah yang dipilih untuk diteliti. Tidak semua masalah dapat diselesaikan sekaligus dengan satu kali penelitian.
Contoh:
Dari enam masalah yang diidentifikasikan di atas, masalahnya dibatasi pada rendahnya motivasi guru.

Penjelasan perumusan masalah
Perumusan masalah adalah usaha untuk menyatakan secara tersurat pertanyaan penelitian apa saja yang perlu dijawab atau dicarikan jalan pemecahannya. Perumusan masalah merupakan pertanyaan atau pertanyaan yang lengkap dan rinci mengenai ruang lingkup masalah yang akan diteliti didasarkan atas identifikasi masalah dan pembatasan masalah. Perumusan masalah yang baik berarti telah menjawab setengah rumusan masalah. Masalah yang telah dirumuskan dengan baik bukan saja membantu memusatkan pikiran, tetapi juga sekaligus mengarahkan cara berpikir kita. Menemukan masalah
adalah langkah awal setiap penelitian. Masalah yang baik adalah: (1) di bawah kewenangan kepala sekolah/madrasah /madrasah untuk memecahkannya, (2) bermanfaat bagi kemajuan sekolah, (3) praktis (mudah dan murah untuk dilaksanakan), dan (4) legalistis (ada dasar hukumnya). Tujuan utama PTS adalah untuk melakukan tindakan untuk memecahkan masalah mecahkan masalah. Oleh karena itu, perumusan masalah berkaitan dengan tujuan tersebut.

Contoh
Apakah dengan diklat motivasi berprestasi akan meningkatkan motivasi guru?

Penjelasan tujuan penelitian
Tujuan Penelitian: Penulisan tujuan PTS umumnya dimulai dengan kalimat
“PTS ini bertujuan untuk …………….. (tindakan tertentu, tuliskan dengan jelas nama tindakan tersebut), guna meningkatkan ….(tuliskan dengan rinci apa yang akan ditingkatkan), bagi guru di ….. (tuliskan subjek PTSnya)

Sedangkan penulisan manfaat PTS umumnya dimulai dengan kalimat “PTS ini diharapkan dapat memberikan manfaat berupa ……. (tuliskan manfaat PTS bagi guru….manfaatnya bagi siswa, dan lain-lain)

Contoh
Judul, “Upaya-upaya Meningkatkan Motivasi Mengajar Guru melalui Diklat Motivasi Berprestasi bagi Guru SDN 88 Yogyakarta”
Perumusan masalahnya, “Apakah dengan diklat motivasi berprestasi akan meningkatkan motivasi mengajar guru di SDN 88 Yogyakarta?”
Contoh tujuan PTS
PTS ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi mengajar guru melalui diklat motivasi berprestasi bagi guru di SMPN 88 Yogyakarta.

Contoh manfaat PTS
PTS ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi guru dalam meningkatkan motivasi mengajarnya. PTS ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi siswa dalam menerima pembelajaran. Penyelasan kajian teoretis Berisi konsep, prinsip, yang terkait dengan masalah/ yang diteliti sebagai dasar dalam pemecahan masalah. Acuan teori menguraikan kajian teori dan pustaka yang menumbuhkan gagasan yang mendasari usulan rancangan PTS.

Pada acuan teori, tuliskan berbagai teori (berdasar pada kajian kepustakaan) yang mendasari usulan rancangan PTK ini. Kemukakan juga teori, temuan dan bahan penelitian lain yang mendukung pilihan tindakan untuk mengatasi permasalahan penelitian tersebut. Untuk masalah PTS tentang masih rendahnya motivasi untuk memecahkan masalahnya pilih buku-buku motivasi berprestasi. Tulis minimal tiga pendapat tentang motivasi berprestasi. Kemudian simpulkan definisinya menurut Anda. Analisis perbedaan dan persamaan masing-masing pendapat.Analisis kelebihan dan kelemahan masing-masing pendapat. Putuskan Anda berpihak kepada pendapat siapa dan uraikan alasannya.

Contoh
Untuk mentasi masalah motivasi berprestasi antara lain kutip teori hirarki kebutuhan Maslow (1958), Teori Motivasi Berprestasi McClelland (1982), dan Teori Motivasi (Bush, 2008).

Penjelasan metode penelitian
Metode penelitian menjelaskan tentang apa yang akan ditingkatkan, bagaimana cara meningkatkan, dan siapa yang akan ditingkatkan, metode penelitian yang digunakan dan langkah-langkah PTS.

Contoh.
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi mengajar guru, Caranya dengan melaksanakan diklat motivasi berprestasi bagi guru SMPN 88 Yogyakarta.

Metode yang digunakan dengan langkah-langkah sebagai bedrikut
Jadwal penelitian adalah sebagai berikut.

Jadwal PTS
Kegiatan Waktu
1.Membuat proposal 1 sampai 31 Januari 2009
2.Menyeminarkan proposal 1 sampai 7 Februari 2009
3. Merevisi proposal 8 sampai 15 Februari 2009
4.Melaksanakan PTS 16 Februari sampai 16Mei 2009
5.Membuat draft laporan PTS 17 Mei sampai 31 Mei2009
6.Menyeminarkan hasil PTS 1 sampai 7 Juni 2009
7. Membuat laporan final PTS
8 sampai 15 Juni 2009

Cara menuliskan daftar pustaka
Banyak model pembuatan daftar pustaka tergantung siapa sponsornya.
Misalnya model American Psychology Association (APA). Cara membuat daftar pustaka mengacu pada model Pusat Pengembangan Bahasa Indonesia yang terdapat pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008).
Kriteria kepustakaan yang baik. Sedikitnya ada dua syarat utama harus dipenuhi oleh sumber bacaan yang akan digunakan dalam acuan teori; (1)adanya keterkaitan antara isi bacaan dengan masalah yang dibahas, dan (2) kemutahiran sumber bacaan, artinya sumber bacaan yang sudah kadaluwarsa harus ditinggalkan.
Nama pengarang. Tahun penerbitan. Judul buku dicetak miring. Kota penerbit: Penerbit.

Buku, artikel, dan sumber lain yang boleh dituliskan dalam daftar pustaka adalah acuan yang dikuti saja. Buku, artikel, dan sumber lain yang tidak dikutif tidak boleh dituliskan dalam daftar pustaka.

Hal yang sering tejadi adalah peneliti menuliskan sumber acuan yang tidak dikutip atau sebaliknya, acuan dikutip tetapi tidak ada di dalam daftar pustaka. Setiap acuan diketik satu spasi. Spasi acuan satu dengan lainnya berjarak 2 spasi.

Contoh
Husaini Usman & Purnomo Setyadi Akbar. 2009. Pengantar Metodologi Sosial. Edisi Ketiga. Jakarta: Bumi Aksara.
Husaini Usman. 2009. Manajemen: Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan.Edisi Ketiga. Jakarta: Bumi Aksara.

F. Latihan
Buatlah proposal PTK!

G. Refleksi
Renungkan apa manfaat proposal bagi peningkatan kompetensi, peran, dan profesionalisme Anda dan berdampak terhadap peningkatan kinerja guru.
H. Melibatkan Diskusikan proposal PTS yang Anda buat tersebut di KKKS/M!.

I. Sistematika laporan PTS
Bagian akhir dari PTS adalah membuat laporan hasil PTS. Tidak ada ketentuan baku dalam membuat laporan PTS. Walaupun demikian, berikut ini diberikan alternatif membuat laporan hasil PTS.

HALAMAN JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN
ABSTRAK
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL (kalau ada dan tabel lebih dari 5 buah)
DAFTAR GAMBAR (kalau ada dan gambar lebih dari 5 buah)
DAFTAR LAMPIRAN (kalau lebih dari 5 buah)

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Identifikasi Masalah
C. Pembatasan Masalah
D. Perumusan Masalah
E. Pemecahan Masalah
F. Tujuan dan Manfaat Penelitian

BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Teori Motivasi
B. Hasil-hasil penelitian terdahulu yang relevan

BAB III METODE PENELITIAN
A. Lokasi Penelitian
B. Perencanaan Tindakan
C. Pelaksanaan Tindakan
Siklus 1
1. Perencanaan
2. Pelaksanaan
3. Observasi
4. Refleksi
Siklus 2
1. Perencanaan
2. Pelaksanaan
3. Observasi
4. Refleksi
Siklus 3
1. Perencanaan
2. Pelaksanaan
3. Observasi
4. Refleksi

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
B. Pembahasan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
B. Saran

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Isi Bab 1 sampai Bab III hanya mengembangkan yang telah ditulis pada proposal PTS.

Sekarang bagaimana menulis Bab IV.
Cara Menulis Bab IV?
Bab IV terbagi atas dua subbab.

A. Hasil Penelitian dan

B.Pembahasan.

Hasil penelitian dan pembahasan serta mengemukakan gambaran tentang pelaksanaan tindakan. Hasil penelitian harus relevan dengan rumusan masalah. Akhir dari bab ini adalah pembahasan, yaitu pendapat peneliti tentang kelebihan dan kekurangan dari tindakan serta kemungkinannya untuk pengembangannya. Pembahasan yang baik didukung oleh teori-teori yang pernah dikutip di Bab II.

Contoh
Mengapa manusia ada yang malas dan ada yang rajin? Karena menurut teori X dan Y dari McGregor (1962) menyatakan manusia terdiri du atipe. Tipe X dan Tipe Y. Salah satu dari tipe Y adalah mau bekerja kalau diawasi. Sebaliknya, salah satu contoh tipe Y adalah manusia rajin bekerja atas kesadaran sendiri tanpa diawasi.

Cara untuk meningkatkan motivasi berprestasi antara lain menggunakan teori motivasi McClelland (1962) karena setiap manusia ingin berprestasi. Sejalan dengan pendapat McClelland tersebut, teori hirarkis kebutuhan Maslow (1958) menyatakan bahwa kebutuhan level empat manusia adalah ingin dihargai. Agar manusia mendapat penghargaan, maka ia harus menunjukkan prestasinya. Jadi, cara memotivasi manusia antara lain adalah dengan memberikan penghargaan. Penghargaan tidaklah selalu dalam bentuk uang.
Kemudahan dan berbagai fasilitas untuk mengurus kenaikan pangkat adalah salah satu penghargaan bukan dalam bentuk uang.

Cara Menulis Bab V
Bab V terdiri atas

A. Kesimpulan dan

B. Saran-saran.

Kesimpulan merupakan kritalisasi dari hasil penelitian dan pembahasan.
Kesimpulan merupakan jawaban terhadap pertanyaan yang muncul pada perumusan masalah. Oleh karena itu, kesimpulan harus relevan dengan perumusan masalah.

Saran-saran berisikan anjuran-anjuran kepada siapa dan bagaimana cara melakukannya. Cara melakukan saran-saran bersifat praktis (mudah diterapkan) dan logis yaitu berdasarkan kesimpulan. Oleh sebab itu, dalam saran dituliskan dengan tegas saran ditujukan kepada siapa dan apa saran operasionalnya. Isi Lampiran-lampiran
Lampiran-lampiran yang diperlukan untuk menunjang isi laporan.
Lampiran utama yang harus disertakan adalah (1) rancangan pelaksanaan PTK atau PTS seperti RPP, skenario pelaksanaan, bahan ajar, hand-out, diktat, dan lain, (2) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian, terutama lembar pengamatan yang digunkan selama PTS dilaksanakan. Misalnya lembar observasi, kuisener, tes, dan lain-lain, (3) contoh-contoh asli (atau foto kopi) hasil kerja dari siswa, atau guru dalam pengisian/pengerjaan instrumen, (4) dokumen pelaksanaan penelitian yang lain seperti foto-foto kegiatan PTS, daftar hadir, surat ijin penelitian, catatan harian, dan lain-lain.

Semua lampiran diberi nomor urut dan halaman.

Semua lampiran terkait dengan hasil penelitian pada Bab IV sehingga pada Bab IV sering tampak tulisan lihat Lampiran sekian. Misalnya hasil observasi lihat Lampiran 5. Foto-foto demikian pula disebutkan dalam Bab IV lihat foto nomor sekian. Jadi semua yang dilampirkan bersifat fungsional. TIdak tiba-tiba muncul di lampiran sebagai pajangan yang hanya mempertebal laporan tetapi tanpa ada kaitannya sama sekali dengan Bab IV Hasil Penelitian.

J. Persyaratan Laporan hasil PTS sebagai Karya Tulis lmiah (KTI)
Laporan hasil PTS sebagai KTI yang tidak memenuhi syarat akan ditolak oleh tim penilai antara lain dengan alasan sebagai berikut.
Syarat KTI yang baik adalah APIK singkatan dari Asli, Perlu, Ilmiah, dan Konsisten.
Asli artinya bukan plagiat, disusun dengan tidak jujur. Asli berarti ditulis sendiri oleh penulisnya. Syarat utama untuk mendapatkan angka kredit adalah kejujuran.

Contoh KTI yang tidak asli
Indikasi Alasan penolakan dan saran
1. Bentuk ketikan tidak sama.
2. Tempelan nama.
3. Data tidak konsisten
4. Lokasi Terdapat indikasi yang menunjukkan ketidakjujuran penulis sehingga keasliannya diragukan.
Saran:
Buat KTI baru karya sendiri, fokus pada tupoksi penulis dan masalah nyata di sekolah untuk meningkatkan
profesi kepala sekolah/madrasah /madrasah. Sistematikanya ikuti ketentuan sponsor yang berlaku.
Perlu artinya permasalahan yang dikaji diperlukan dan bermanfaat karena tujuan utama pengembangan profesi utk meningkatkan mutu kepalasekolah/madrasah /madrasah agar lebih profesional sehingga bukan
dengan permasalahan yang mengada-ada.

Contoh KTI yang tidak perlu
Indikasi Alasan penolakan dan saran
1. Masalah terlalu luas. Contoh
judul:
Kemampuan profesional kepala sekolah/madrasah /madrasah dalam meningkatkan mutu pendidikan.
Peranan Kepala sekolah/madrasah dalam melestarikan budaya bangsa.
Teknologi informasi dalam pendidikan.
2. Masalah tidak menunjukkan
peningkatan kinerja kepala sekolah/madrasah /madrasah dan kurang jelas manfaatnya.
Contoh:
Hubungan status orang tua dengan prestasi belajar siswa.
Hubungan IPA dengan Pancasila.
.Ganti dan sesuaikan dengan tugas pokok dan fungsi kepala sekolah/madrasah /madrasah.
Contoh KTI yang Tidak Ilmiah
Indikasi Alasan penolakan dan saran
1. Tidak menggunakan teori relevan.
2. Tidak sistematis
3. Objektif
Gunakan teori yang relevan.
Gunakan sistematika sponsor
Gunakan data apa adanya.

Contoh KTI yang Tidak Konsisten
Indikasi Alasan penolakan dan saran
Isi KTI menunjukkan:
1. Masalah yang dikaji tidak sesuai tupoksi kepala sekolah/madrasah
/madrasah dalam mengembangkan profesinya.
2. Masalah yang dikaji tidak sesuai dengan bidang keahlian kepala sekolah/madrasah/madrasah.
.
Membuat KTI baru sesuai dengan tupoksi kepala sekolah/madrasah /madrasah dalam mengembangkan profesinya.
Membuat KTI baru sesuai dengan bidang keahlian kepala sekolah/madrasah /madrasah.
K. Alasan-alasan Penolakan KTI.
Tabel . KTI dan Alasan Penolakan
No Hal-hal terdapat pada KTI
Alasan penolakan dan saran
1.
2
Plagiat atau mengupakan kedpada orang lain
KTI dinyatakan sebagai LaporanHasil PTS namun tidak jelas apa, bagaimana dan mengapa kegiatan tindakanyang dilakukan,
Ketidakjujuran sebagai peneliti dan pendidik. Berlaku jujurlah. Pendidik adalah benteng terakhir kejujuran.
Guru menjadi contoh siswanya. Kepala sekolah/madrasah /madrasah menjadi contoh warga sekolah. Cita-cita mulia untuk naik pangkat atau mendapat sertifikasi ternodai oleh ketidakjujuran dalam menhasilkan KTI..
KTI dinyatakan sebagai laporan Penelitian Tindakan
namun : tidak jelas apa, bagaimana dan mengapa kegiatan tindakan yang dilakukan, juga tidak jelas bagaimana peran hasil evaluasi dan refleksi pada penentuan siklus-siklus berikutnya.
Disarankan untuk membuat KTI baru, karya sendiri, yang berfokus pada “laporan” kegiatan nyata yang
bersangkutan sebagai kepala sekolah/madrasah ..

 

About these ads

5 Comments

  1. We’re a group of volunteers and starting a new scheme in our community. Your site provided us with valuable info to work on. You have done an impressive job and our entire community will be thankful to you.

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s