EVALUASI PEMBELAJARAN


Oleh : ASEP JOLLY

  1. 1. Pengertian Evaluasi

Evaluasi dalam bahasa inggrisnya evaluation yang berarti suatu tindakan atau proses untuk menentukan nilai segala sesuatu yang ada hubungannya dengan pendidikan. Evaluasi bisa berarti pengukuran, pengujian atau penilaian yang kesemuanya memiliki tujuan untuk mengetahui keberhasilan siswa. Sedangkan alat evaluasi adalah sesuatu yang dapat digunakan untuk mempermudah seseorang untuk melakukan tugas atau mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Evaluasi bisa berupa tes atau non tes. Tes adalah seperangkat pertanyaan yang memiliki jawaban benar atau salah, bisa berupa tes diagnostik, formatif, dan tes sumatif, dan yang non tes antara lain berisi pertanyaan atau pernyataan yang tidak memiliki jawaban benar atau salah bisa berupa tes kepribadian, sikap dan tingkah laku, dan biasanya menggunakan teknik skala bertingkat (rating scale), kuisioner (questionair) daftar cocok ( check list), wawancara (interview), pengamatan (observation), atau riwayat hidup.

Dalam yang berjudul “ Evaluasi Pendidikan”. Drs Amier Daien Indrakusuma mengatakan : “tes adalah alat atau prosedur yang sistimatis dan objektif untuk memperoleh data-data atau keterangan yang diinginkan tentang seseorang dengan cara yang boleh dikatakan tepat dan cepat.”

Mukhtar Bukhori dalam buku yang berjudul “Teknik-Teknik Evaluasi “ : “tes adalah suatu percobaan yang diadakan untuk mengetahui ada adanya hasil-hasil pelajaran tertentu pada seorang murid atau kelompok murid.”

Kemudian definisi yang dikutip dari Webster Collegiate sebagai berikut : Test any series or exercises or other means of measuring the skill, knowledge,intelligence,capacities of aptitudes an individual or group. Jadi kurang lebih dalam bahasa Indonesianya tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok.”

Kutipan yang lebih sederhana dalam buku Encyclopedia Of Educational Evaluation yaitu test is comprehensive assessment of an individual or to an entire program evaluation effort bila diterjemahkan tes adalah penilaian yang komprehensif terhadap seorang individu atau keseluruhan usaha evaluasi program.

  1. 2. Tujuan Evaluasi
  2. a. Bagi Guru

1)   Untuk memahami tingkat prestasi dan kemampuan individu peserta didik

2)   Untuk membantu dalam menentukan program, metode dan materi yang akan diajarkan

3)   Untuk memperoleh hasil-hasil yang diharapkan

4)   Untuk mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik

5)   Untuk membantu mengambil keputusan dalam mengelompokkan peserta didik pada mata pelajaran tertentu

6)   Untuk membantu mengukur peserta didik secara objektif hasil yang dicapai sesuai dengan standar yang ditetapkan

  1. b. Bagi Siswa

1)         Untuk mengetahui apakah siswa sudah menguasai bahan secara menyeluruh

2)         Untuk menguasai penguatan bagi siswa apakah skor yang diperolehnya sudah tinggi sesuai dengan yang diharapkan

3) Untuk usaha perbaikan setelah mengikuti tes siswa akan mengetahui kelemahannya sebagai umpan balik (feed back)

4)         Untuk mengetahui seberapa jauh siswa mempunyai kesulitan yang dirasakan

  1. 3. Evaluasi Kompetensi Dasar

Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), evaluasi lazim disebut pengujian atau penilaian. Maksudnya untuk mengetahui seberapa jauh siswa telah memiliki kompetensi yang perlu dikembangkan dalam suatu sistem pengujian. Sistem pengujian yang harus dilakukan harus mencakup sistem pengujian terhadap seluruh kompetensi dasar dengan menggunakan indikator yang ditetapkan oleh guru. Sistem pengujian berbasis kompetensi yang direncanakan adalah sistem pengujian yang berkelanjutan. Dalam arti bahwa semua indikator dibuat butir soalnya, kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kemampuan dasar yang telah dimiliki dan yang belum, serta untuk mengetahui kesulitan siswa. Untuk hal tersebut maka digunakan berbagai teknik ujian yaitu : pertanyaan lisan dikelas, kuis, ulangan harian, tugas rumah, ulangan semester dan sebagainya yang disesuaikan dengan karakteristik mata pelajarannya. Penentuan teknik ujian yang digunakan berdasar pada kompetensi dasar yang ingin dinilai dan harus ditelaah oleh teman sejawat dalam mata pelajaran yang sama. Hasil ujian atau ulangan dianalisis, untuk menentukan tindakan perbaikan berikutnya bisa berupa pengayaan dan remedial

Pengembangan sistem pengujian berbasis kemampuan/kompetensi dasar mencakup hal-hal sebagai berikut :

1)      Standar Kompetensi : Kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan dalam setiap mata pelajaran. Hal ini memliki implikasi yang signifikan dalam perencanaan, metodologi dan pengelolaan pengujian

2)      Kemampuan Dasar : Kemampuan minimal dalam mata pelajaran yang harus dimiliki lulusan SMA

3)      Rencana Penilaian : Dikembangkan bersamaan dengan pengembangan silabus

4)      Proses Pengujian : Pemilihan dan pengembangan teknik pengujian, sistem pencatatan dan pengelolaan kelas

5)      Pencatatan dan Pelaporan : Pengelolaan sistem penilaian atau pembuatan laporan

  1. 4. Bentuk  Tes

Tingkat berfikir yang digunakan dalam mengerjakan tes harus mencakup mulai yang rendah sampai yang tinggi, dengan proporsi yang sebanding dengan jenjang  pendidikan. Pada jenjang pendidikan menengah tingkat berfikir yang terlibat sebaiknya terbanyak pada tingkat pemahaman, aplikasi dan analisis. Namun hal ini tergantung pada karakteristik mata pelajaran.

Bentuk tes yang digunakan di lembaga pendidikan dapat dikategorikan menjadi dua yaitu tes objektif (pilihan) dan non objektif (uraian). Dilihat dari penskorannya tes objektif bisa diperiksa oleh siapa saja akan menghasilkan skor yang sama. Tes non objektif penskorannya bisa dipengaruhi oleh pemeriksa atau pemberi skor.

Ada beberapa bentuk soal/tes yang dipakai dalam sistem pengujian berbasis kemampuan dasar. Bentuk  tes dapat digunakan adalah sebagai berikut :

1)      Pilihan ganda : Bentuk ini bisa mencakup banyak materi pelajaran, penskorannya objektif dan bisa dikoreksi dengan komputer. Namun membuat butir soal pilihan yang berkualitas baik, cukup sulit. Kelemahannya adalah peluang kerjasama antara peserta tes sangat besar. Oleh karena itu bentuk ini digunakan untuk ujian yang melibatkan banyak siswa dan waktu untuk mengkoreksi relatif singkat. Tingkat berfikir bisa diukur oleh pembuat soal

2)      Uraian objektif : bentuk ini memang cocok untuk mata pelajaran matematika, fisika atau kimia karena batasannya jelas dan hasil penskorannya objektif. Objektif disini berarti hasil penilaian terhadap suatu lembar jawaban akan sama walaupun diperiksa oleh orang yang berbeda asal memiliki latar belakang pendidikannya sesuai  dengan mata ujian. Tingkat berfikir yang diukur bisa sampai pada tingkat tinggi. Penskoran dilakukan secara analitik  yaitu setiap langkah pengerjaan diberi skor.

3)      Uraian non objektif/ uraian bebas : Bentuknya cocok untuk bidang studi atau mata pelajaran ilmu-ilmu sosial, meskipun hasil penskorannya cenderung subjektif, namun bila disediakan pedoman penskoran yang jelas, hasilnya diharapkan dapat lebih objektif. Tingkat berfikir yang diukur bisa tinggi.

4)      Jawaban singkat/isian singkat : Bentuk ini cocok digunakan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan pemahaman siswa. Jumlah materi yang diujikan bisa banyak, namun tingkat berfikir yang diukur cenderung rendah.

5)      Menjodohkan : Bentuk ini cocok untuk mengetahui fakta dan konsep. Cakupan materi bisa banyak, namun tingkat berfikir cenderung rendah.

6)      Performance : Bentuk ini cocok untuk mengukur kemampuan seseorang  dalam melakukan tugas tertentu, biasanya seperti praktek di laboratorium. Peserta tes diminta untuk mendemonstrasikan kemampuan dan keterampilan dalam bidang tertentu. Penilaian performance berdasarkan pada analisis pekerjaan.

7)      Portofolio : Bentuk ini cocok untuk mengetahui perkembangan untuk kerja siswa dengan menilai kumpulan karya-karyanya atau tugas pekerjaan siswa. Portofolio berarti kumpulan karya/tugas yang dikerjakan siswa. Karya-karya ini dipilih kemudian dinilai, sehingga dapat dilihat perkembangan kemampuan siswa. Cara ini bisa dilakukan dengan baik bila jumlah siswa yang dinilai tidak banyak.

  1. Jenis Tagihan

Dalam silabus dan kisi-kisi pengujian atau penilaian terkandung jenis tagihan. Apa sebenarnya yang dimaksud jenis tagihan dalam proses belajar mengajar itu. Jawabannya, untuk memperoleh data dan informasi sebagai dasar penentuan tingkat keberhasilan siswa dalam penguasaan kemampuan atau kompetensi  dasar  yang  diajarkan, sehingga perlu adanya berbagai jenis tagihan. Jenis tagihan yang dapat dipakai dalam sistem pengujian berbasis kemampuan dasar dapat berkait dengan ranah kognitif, afektif, ataupun psikomotor antara lain sebagai berikut :

1)      Kuis : Waktu yang diperlukan relatif singkat, kurang lebih 15 menit dan hanya menanyakan hal-hal yang prinsip saja dan bentuknya berupa isian singkat. Biasanya dilakukan sebelum pelajaran baru dimulai, manfaatnya untuk mengetahui penguasaan pelajaran yang belum dikuasai. Dalam hal ini guru sebaiknya menjelaskan aturan yang ada kaitannya dengan kuis yang akan dilakukan secara jelas dan singkat.

2)      Pertanyaan lisan di kelas : Materi yang ditanyakan berupa pemahaman terhadap konsep, prinsip atau teorema. Teknik bertanya yang baik adalah mengajukan atau memberi peluang pada siswa dikelas, untuk memberi waktu untuk berfikir, kemudian beri kesempatan kepada siswa untuk menjawab, atau memilih siswa secara acak untuk menjawab. Jawaban siswa benar atau salah, lemparkan kepada siswa lain untuk dimintakan pendapatnya terhadap jawaban tersebut. Guru sebagai fasilitator menyimpulkan tentang jawaban siswa yang benar. Pertanyaan lisan ini bisa dilakukan di kelas sesuai dengan tujuan dan kebutuhan yang hendak dicapai selama pembelajaran.

3)      Ulangan harian : Ulangan harian dilaksanakan secara periodik, misalnya 1 atau2 kali setiap materi pokok selesai diajarkan. Bentuk soal yang digunakan sebaiknya bentuk uraian objektif atau yang non objektif. Tingkat berfikir yang terlibat sebaiknya mencakup pemahaman, aplikasi, dan analisis.

4)      Tugas individu : Tugas ini dapat diberikan setiap minggu dengan bentuk tugas/soal uraian objektif dan non objektif. Tingkat berfikir yang terlibat sebaiknya aplikasi ,analisis, dan bila memungkinkan sampai sintesis dan evaluasi. Tugas individu untuk mata pelajaran tertentu dapat terkait dengan ranah psikomotor, seperti menugasi siswa untuk melakukan observasi lapangan.

5)      Tugas kelompok : Tugas ini digunakan untuk menilai kemampuan kerja kelompok. Bentuk soal yang di gunakan adalah uraian dengan tingkat berfikir yang tinggi yaitu aplikasi sampai evaluasi. Bila mungkin siswa-siswa diminta untuk menggunakan data sebenarnya atau melakukan pengamatan suatu gejala, atau merencanakan suatu proyek. Proyek pada umumnya menggunakan data sesungguhnya dari lapangan. Seperti halnya tugas individu, tugas kelompok dapat terkait dengan ranah psikomotor.

6)      Ulangan semester : Bentuk soal yang dipakai ulangan ini bisa berupa pilihan ganda, campuran pilihan ganda dan uraian, atau semuanya bentuk uraian. Materi yang diujikan pada kisi-kisi soal. Tingkat berfikir yang terlibat mulai dari pemahaman sampai dengan evaluasi. Ulangan semester bisa pula dikatakan ulangan kenaikan kelas. Cakupan materi harus mengacu pada ketentuan, materi yang esensial, memiliki nilai aplikatif, dan berkelanjutan.

7)      Laporan kerja praktik atau laporan pratikum : Bentuk ini dipakai untuk mata pelajaran yang  ada kegiatan pratikumnya, seperti  fisika, kimia, biologi.

8)      Response atau ujian praktik : Bentuk ini dipakai untuk mata pelajaran yang ada pratikumnya, seperti kimia, fisika, biologi dengan maksud untuk mengetahui penguasan akhir baik dari ranah kognitif maupun psikomotor. Mata pelajaran lain yang memungkinkan yaitu bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya, dengan maksud untuk mengetahui atau mengukur kemampuan ranah kognitif, efektif, dan psikomotornya, bagaimana siswa mampu berkomunikasi dengan bahasa tersebut.

9)      Ujian akhir : sampai saat ini, penyelanggaraan evaluasi pendidikan secara nasional di Indonesia diatur dalam bab XII undang-undang nomor 2 tahun 1989. Bagi pendidikan dasar dan menengah evaluasi merupakan suatu akhir suatu program dilakukan pada setiap empat/enam bulan sekali yang biasa disebut dengan ulangan umum atau sumatif. Sementara itu, pada catur wulan ketiga atau semester kedua dilakukan evaluasi secara menyeluruh. Hasil evaluasi ini, digunakan untuk menentukan tingkat yang harus diikuti oleh siswa. Ujian akhir semester/catur wulan dan akhir tahun ini sepenuhnya jadi tanggung jawab sekolah, namun ada juga beberapa sekolah yang bergabung menjadi satu dan hanya membuat satu macam soal untuk digunakan dibeberapa sekolah tersebut.

Apabila ujian akhir diselenggarakan secara nasional maka kisi-kisi dan soal di buat oleh pemerintah pusat. sehingga sekolah hanya sebagai pelaksanaanya saja. Demikian pula halnya dengan analisis  soal tes dan analisis hasil tes juga dilakukan oleh pusat. Namun apabila ujian akhir ini diselenggarakan oleh sekolah, maka tugas sekolah adalah menyusun kisi-kisi dan soal, melakukan analisis soal tes dan analisis hasil tes serta melakukan tindak lanjut berdasarkan analisis hasil-hasil tes. Butir soal dituliskan berdasarkan indikator, sedangkan indikator ditulis berdasarkan materi pembelajaran yang merupakan jabaran dari kemampuan dasar.

Tingkat berfikir yang terlibat dalam tagihan-tagihan yang dilakukan dalam sistem pengujian berbasis kemampuan dasar meliputi : tingkat berfikir yang berkait dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Deklaratif berisis tentang konsep, prinsip dan fakta-fakta sedang prosedural mencakup proses, strategi, aplikasi dan keterampilan.

  1. Kesahihan dan kehandalan Tes

Suatu tes yang baik harus memiliki bukti kesahihan dan kehandalan, hasilnya dapat dibandingkan dan ekonomis. Kesahihan tes dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu kesahihan isi, konstruk dan kriteria. Kesahihan isi dilihat dari bahan yang diujikan, kesahihan konstruk dilihat dari dimensi yang diukur, dan kesahihan kriteria dilihat dari daya prediksinya. Kesahihan isi dapat dilihat berdasarkan kisi-kisi tesnya, yaitu matriks yang menunjukkan bahan tes serta tingkat berfikir yang terlibat dalam mengerjakan tes. Pada sistem pengujian di sekolah, penekanan pada kesahihan menunjukkan seberapa jauh materi ujian sesuai dengan kemampuan dasar yang hendak diukur. Kesahihan konstruk diperoleh dari hasil analisis faktor yang diukur suatu tes. Bukti kesahihan konstruk diperoleh dari hasil penggunaan tes, yaitu data empiris. Kesahihan prediktif  juga memerlukan data empiris untuk dapat menghitung besarnya daya prediksi.

Kehandalan suatu tes memberikan informasi tentang besarnya kesalahan pengukuran. Kehandalan suatu tes dapat dikategorikan menjadi tiga yaitu konsistensi internal, stabilitas, dan antar penilaian. Besarnya indeks konsistensi internal diperoleh dari data hasil tes karena untuk mencari indeks ini cukup dilakukan satu kali tes. Indeks stabilitas merupakan tingkat kestabilan hasil pengukuran yang dilakukan paling tidak dua kali untuk orang yang sama dalam waktu yang berbeda dengan asumsi tidak efek dari tes tersebut. Kehandalan antar penilai diperoleh dari besarnya korelasi hasil penskoran dari dua orang terhadap lembar jawaban tes yang sama.

  1. 7. Langkah Pengembangan Tes

Ada Sembilan langkah yang harus ditempuh dalam mengembangkan tes hasil atau prestasi belajar  yaitu :

1)      Menyususn spesifikasi tes

2)      Menulis soal tes

3)      Menelaah soal tes

4)      Melakukan uji coba tes

5)      Menganalisis butir soal

6)      Memperbaiki tes

7)      Merakit  tes

8)      Melaksanakan tes

9)      Menafsirkan hasil tes

Langkah awal dalam pengembangan tes adalah menetapkan spesifikasi tes, yaitu berisi uraian yang menunjukkan keseluruhan karakteristik yang harus dimiliki suatu tes. Spesifikasi yang jelas akan mempermudah dalam menulis soal, dan siapa saja yang menulis soal akan menghasilkan tingkat kesulitan yang relative sama. Penyususnan spesifikasi tes mencakup kegiatan sebagai berikut :

1)      Menetukan tujuan tes

2)      Menyusun kisi-kisi

3)      Memilih bentuk tes

4)      Menentukan panjang atau jumlah tes

  1. 8. Kaidah-kaidah Penulisan Soal

Bentuk soal sebagaimana telah dijelaskan diatas, yang utama ada dua yaitu bentuk pilihan dan uraian dan secara spesifik kaidahnyapun berbeda-beda bergantung pada bentuk soal yang akan dibuat. Berikut adalah kaidah penulisan soal secara umum yang tidak boleh dilupakan oleh pembuat soal atau bisa pula dijadikan sebagai bahan control antara lain :

1)      Materi

  1. Soal harus sesuai dengan indikator, artinya soal harus menanyakan prilaku dan materi yang hendak diukur sesuai  dengan rumusan indikator dalam kisi-kisi
  2. Pengecoh harus berfungsi
  3. Setiap soal harus mempunyai satu jawaban yang benar, artinya satu soal hanya mempunyai satu kunci jawaban yang benar

2)      Konstruksi

  1. Pokok soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas. Artinya, kemampuan materi yang hendak diukur/ditanyakan harus jelas tidak menimbulkan pengertian atau penafsiran yang berbeda dari yang dimaksud oleh penulis. Setiap butir soal hanya mengandung satu persoalan/gagasan.
  2. Rumusan pokok soal dan jawaban harus merupakan pernyataan yang diperlukan saja. Artinya, apabila terdapat rumusan atau pernyataan yang tidak diperlukan maka rumusan atau pernyataan itu dihilangkan.
  3. Pokok soal jangan memberi  petunjuk ke arah jawaban yang benar. Artinya, pokok soal jangan sampai terdapat kata, kelompok kata, atau ungkapan yang dapat memberikan petunjuk ke arah yang benar.
  4. Pokok soal jangan mengandung pernyataan yang bersifat negatif ganda. Artinya pada pokok sosial jangan sampai terdapat dua kata atau lebih yang mengandung arti negatif. Hal ini untuk mencegah terjadinya kesalahan penafsiran siswa terhadap arti pernyataan yang dimaksud. Untuk keterampilan bahasa, penggunaan negatif ganda diperbolehkan bila aspek yang akan diukur justru pengertian negatif ganda itu sendiri.
  5. Pilihan jawaban harus homogen dan logis ditinjau dari sisi materi, terutama untuk soal pilihan ganda. Artinya semua pilihan jawaban harus berasal dari materi yang sama seperti yang ditanyakan oleh pokok soal, penulisannya harus setara dan semua pilihan jawaban harus berfungsi.
  6. Panjang rumusan pilihan harus relatif sama. Kaidah ini diperlukan karena adanya kecenderungan siswa memilih jawaban yang paling panjang karena seringkali jawaban yang lebih panjang itu lebihlengkap dan merupakan kunci jawaban.
  7. Pilihan jawaban jangan mengandung jawaban pernyataan semua pilihan jawaban diatas salah atau semua jawaban diatas benar. Artinya, dengan adanya pilihan seperti itu, maka secara materi pilihan jawaban kurang satu, karena pernyataan itu bukan merupakan materi yang ditanyakan dan pertanyaan itu menjadi tidak homogen.
  8. Pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu harus disusun berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka atau kronologis waktunya. Artinya pilihan jawaban yang berbentuk angka harus disusun berdasarkan besar kecilnya nilai angka, dari nilai angka paling kecil berurutan sampai nilai angka paling besar, dan sebaliknya. Demikian juga pilihan jawaban yang menunjukkan waktu harus disusun secara kronologis. Penyususnan secara berurutan dimaksudkan untuk memudahkan siswa melihat pilihan jawaban
  9. Gambar, grafik, Tabel, diagram, wacana dan sejenisnya yang terdapat pada soal harus jelas dan berfungsi. Artinya apa saja yang menyertai suatu soal yang ditanyakan harus jelas terbaca, dapat dimengerti oleh siswa. Apabila soal tetap bisa dijawab tanpa melihat gambar, grafik, tabel atau sejenisnya yang terdapat pada soal, berarti gambar, grafik atau tabel tersebut  berarti tidak berfungsi.
  10. Rumusan pokok soal tidak menggunakan ungkapan atau kata yang bermakna tidak pasti seperti : sebaiknya, umumnya, kadang-kadang. Artinya bahwa dalam merumuskan pokok soal jangan menggunakan kata atau ungkapan sebaiknya, umumnya, kadang-kadang atau kata yang tidak pasti (operasional) karena makna kata-kata itu bergantung pada keadaan dan situasi siswa yang bersangkutan.
  11. Butir soal jangan bergantung pada jawaban soal sebelumnya. Artinya ketergantungan pada soal sebelumnya menyebabkan siswa yang tidak dapat menjawab benar soal pertama tidak akan menjawab soal berikutnya.

3) Bahasa dan Budaya

  1. Setiap soal harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah  bahasa Indonesia atau bahasa asing yang digunakan dalam soal tersebut. Maksudnya, penggunaan kalimat atau pola kalimat, kosakata, tata bahasa, bahkan teknik penulisan huruf harus sesuai dengan kaidahnya.
  2. Bahasa yang digunakan harus komunikatif, sehingga pernyataannya mudah dimengerti oleh siswa atau pembelajar
  3. Jangan menggunakan bahasa yang berlaku setempat, jika soal akan digunakan untuk daerah lain atau nasional
  4. Pilihan jawaban jangan mengundang kata atau frase yang bukan merupakan satu kesatuan pengertian. Letakkan kata atau frase pada pokok soal.

Referensi

Zamroni. 2002. Pola Induk Sistem Pengujian Hasil KBM Berbasis Kemampuan Dasar Sekolah Menengah Umum (SMU).Direktorat Dikmenum, Dirjen Dikdasmen. Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.

Safari. 2003. Penulisan Butir Soal dan Analisisnya. Direktorat Dikmenum, Dirjen Dikdasmen.Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.

About these ads

Tentang suaidinmath

Tiada gading yang tak retak. Tetaplah semangat...karena perjalanan ribuan langkah dimulai dari satu langkah kecil. Mohon kontribusi untuk menambal retak dan menambah langkah kesempurnaan tulisan ini ...

Posted on 18 April 2010, in Pendidik. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. WOI MANO FORMAT ANALISIS HASIL UJIAN NYO,YANG LENGKAP LAH SAKETEK DA..

  2. insya allah ada dalam blog ini pa telususri terus .

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Mr.Wahid's Blog

Media Belajar Mengajar Inspirasi dan Kreativitas

SeNdiMat

Seminar Nasional Pendidikan Matematika

I Wayan Widana

This site is dedicated for mathematic learning development

Layanan Pendidik & Tenaga Kependidikan (PTK)

Laman Layanan Untuk Pendidik dan Tenaga Kependidikan

sejarahdompu

Just another WordPress.com site

SUAIDINMATH'S BLOG

Technology Based Education

tentang PENDIDIKAN

konseling, pembelajaran, dan manajemen pendidikan

SUKSES SELALU

NIKMATILAH HIDUP..BEKERJA DENGAN ENJOY...JANGAN LUPA BERDOA.

PTK THE FRONTIERS OF NEW TECHNOLOGY

Smile! You’re at the best WordPress.com site ever

educatinalwithptk

PTK The Frontiers Of New Technology

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 125 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: