PEDOMAN PENYUSUNAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS (CLASSROOM ACTION RESEARCH)


PEDOMAN PENYUSUNAN

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

(CLASSROOM ACTION RESEARCH)

Oleh :

DRS.SUAIDIN

BAB I

PENDAHULUAN

A. Pengertian Penelitian Tindakan Kelas

Dalam literatur berbahasa Inggris, PTK disebut dengan Classroom Action Research. Saat ini PTK sedang berkembang dengan pesatnya di negera-negara maju seperti Inggris, Amerika, Australia dan Canada. Para ahli penelitian pendidikan akhir-akhir ini menaruh perhatian yang sangat besar terhadap PTK. Apabila dicermati, kecenderungan baru ini mengemuka karena jenis penelitian ini mampu menawarkan pendekatan dan prosedur baru yang lebih menjanjikan dampak langsung dalam bentuk perbaikan dan peningkatan profesionalisme guru dalam mengelola proses belajar mengajar di kelas atau implementasi berbagai program di sekolah dengan mengkaji berbagai indikator keberhasilan proses dan hasil pembelajaran yang terjadi pada siswa atau keberhasilan proses dan hasil implementasi berbagai program sekolah. Dengan kata lain, sebagaimana dikemukakan di atas, bahwa melalui PTK para guru dan siswa langsung memperoleh teori  yang dibangunnya sendiri, bukan yang diberikan oleh pihak lain sebagaimana yang telah diisyaratkan di atas, maka guru menjadi seorang praktisi dalam berteori.

Pengertian PTK atau action research seperti yang dikemukakan oleh Stephen Kemmis yang dikutip dalam D. Hopkins (1993) bahwa PTK dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan (guru), yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan itu, serta memperbaiki kondisi di mana praktek-praktek pembelajaran tersebut dilakukan. Untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut, PTK itu dilaksanakan berupa proses pengkajian berdaur (cyclical) yang terdiri dari 4 tahapan yaitu merencanakan, melakukan tindakan, mengamati dan merefleksi.

Planning                       Action                       Observation                  Reflection

Setelah dilakukan refleksi atau perenungan yang mencakup analisis, sintesis dan penilaian terhadap hasil pengamatan terhadap proses serta hasil tindakan tadi, biasanya muncul permasalahan atau pemikiran baru yang perlu mendapat perhatian, sehingga pada gilirannya perlu dilakukan perencanaan ulang, tindakan ulang, dan pengamatan ulang, serta diikuti pula dengan refleksi ulang. Demikian tahapan-tahapan ini dilakukan sampai sesuatu permasalahan dianggap teratasi, untuk kemudian biasanya diikuti oleh kemunculan permasalahan lain yang juga harus diperlakukan serupa. Hal yang demikian disebut dengan siklus dalam PTK.

B. Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas

Karakteristik PTK adalah sebagai berikut:

  1. Situasional artinya kegiatan PTK dipicu oleh permasalahan praktis yang dihayati dalam pelaksanaan tugas sehari-hari oleh guru sebagai pengelola program pembelajaran di kelas atau sebagai jajaran staf pengajar di kelas. PTK itu bersifat practice driven dan action driven dalam arti PTK bertujuan memperbaiki praktis secara langsung dalam pembelajaran sehingga dikatakan juga penelitian praktis (practice inquiry).
  2. Kontekstual artinya upaya penyelesaian atau pemecahannya demi peningkatan mutu pendidikan, prestasi siswa, profesi guru dan mutu sekolah tidak terlepas dari konteksnya dengan merefleksi diri yaitu sebagai praktisi dalam pelaksanaan tugas-tugas kesehariannya sekaligus secara sistemik meneliti dirinya sendiri.
  3. Bersifat kolaboratif dan parsitipatif antara guru, siswa dan individu lain yang terkait dalam proses pembelajaran yaitu suatu satuan kerja sama secara langsung. Kolaboratif diartikan sebagai kerja sama saling tukar menukar ide untuk melakukan aksi dalam rangka memecahkan masalah yang dihadapi.
  4. Bersifat self-evaluatif (evaluatif dn reflektif) yaitu kegiatan memodifikasi praktis yang dilakukan secara kontinu, dievaluasi dalam situasi yang ada dan terus berjalan, dengan tujuan akhir dapat meningkakan perbaikan dalam praktik yang dilakukan guru.
  5. Bersifat fleksibel dan adaptif (luwes dan mnyesuaikan) memungkinka adanya perubahan selama dalam percobaan. Adanya penyesuaian menjadikan prosedur yang cocok untuk berkerja di kelas yang dimiliki banyak kendala yang melatarbelakangi masalah-masalah di sekolah.
  6. Sifat dan sasaran PTK adalah situasional-spesifik, tujuannya untuk pemecahan masalah praktis. Dengan demikian temuan-temuannya berguna dalam dimensi praktis tidak dapat digeneralisasikan sehinga tidak secara langsung memiliki andil pada usaha pengembangan ilmu. Kajian permasalahan, prosedur pengumpulan data dan pengolahannya dilakukan secermat mungkin dengan mendasarkan pada keteguhan ilmiah.

C. Prinsip-Prinsip Penelitian Tindakan Kelas

1. Pekerjaan utama guru adalah mengajar, maka pelaksanaan PTK tidak boleh menggangu atau menghambat kegiatan pemblajaran. Ada 3 catatan yang harus di perhatikan dalam prinsip pertama ini yaitu:

  1. Dalam mencobakan sesuatu tindakan pembelajaran baru, selalu ada kemungkinan bahwa setidak-tidaknya ada pada awal-awalnya prestasi belajar siswa kurang sesuai dari yang dikehendaki, bahkan kurang dari yang diperoleh dengan cara lama, karena itu bagaimanapun, tidakan perbaikan itu masih dalam taraf dicobakan. Guru harus menggunakan pertimbangan serta tanggungjawab profesionalnya dalam menimbang-nimbang jalan keluar yang akan ditempuhnya dalam rangka memberikan yang terbaik bagi siswanya.
  2. Interaksi dari siklus tindakan juga dilakukan dengan mempertimbangkan keterlaksanaan kurikulum secara keseluruhan, khususnya dari segi pembentukan pemahaman yang mendalam yang ditandai oleh kemampuan menerapkan pengetahuan yang dipelajari melalui analisis, sintesis, dan evaluasi informasi.
  3. Penetapan siklus dalam PTK mengacu kepada penguasaan yang ditargetkan pada tahap perancangan, dan sama sekali tidak mengacu kepada kejenuhan informasi.
  4. Metodologi yang digunakan harus reliabel artinya terencana dengan cermat sehingga tidakan dapat dirumuskan dalam suatu hipotesis tindakan yang dapat diuji dilapangan.
  5. Permasalahan yang dipilih harus menarik, nyata, tidak menyulitkan, dapat dipecahkan, berada dalam jangkauan peneliti untuk melakukan perubahan dan peneliti merasa terpangil untuk meningkakan prestasi belajar siswa.
  6. Metode pengumpulan data yang digunakan tidak terlalu menuntut baik dari kemampun guru itu sendiri ataupun dari segi waktu.
  7. Dalam penyelenggaraan PTK, guru harus selalu bersikap konsisten menaruh kepedulian tinggi terhadap prosedur etika yang berkaitan dengan pekerjaannya. Artinya dalam melaksanakan PTK hafrus diketahui oleh pimpinan lembaga terkait, disosialisasikan kepada rekan-rekan dalam lembaga kancah, dilakukan sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah serta dilaporkan hasilnya sesuai dengan tata krama penyusunan karya tulis akademik.

D. Tujuan Penelitian Tindakan kelas

  1. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksanakan agar guru atau tenaga kependidikan dapat memperbaiki mutu kinerja atau meningkatkan proses pembelajaran secara berkesinambungan, yang pada dasarnya melekat pada terlaksananya misi profesional pendidikan yang diemban oleh guru. Dengan demikian PTK merupkan saklah satu cara yang strategis dalam memperbaiki kinerja guru dalam meningkatkan layanan pendidikan atau pembelajaran.
  2. Penelitian indakan Kelas (PTK) untuk mengembangkan kemampuan/ketrampilan guru untuk menghadapi permasalahan yang nyata dalam proses pembelajaran di kelasnya dan di sekolahnya sendiri.
  3. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dapat digunakan sebagai alat untuk memasukkan novasi pembelajaran kedalam sistem yang ada karena sulit dilakukan oleh upaya pembeharuan yang dilakukan pada umumnya.

E. Manfat Penelitian Tindakan Kelas

Dengan tertumbuhnya budaya meneliti yang merupakan dampak bahwa dari pelaksanaan PTK yang bersinambungan, maka banyak manfaat yang dapat dipetik yang secara keseluruhan dapat diberi label inovasi pembelajaran karena para guru semakin diberdayakan untuk mengambil berbagai prakarsa profesional secara mandiri.

Di pihak lain, prakarsa untuk selalu mencoba hal-hal baru, itu terjadi karena guru pekerja sebagai profesiuonal, guru tidak mudah berpuas diri dengan rutinitas, melainkan selalu dipacu oleh dorongan untuk berbuat lebih baik.

Bentuk lain dari inovasi pembelajaran berkenaan dengan pengembangan kurikulum adalah PTK, hal ini dapat dilakukan oleh guru karena dapat dimanfaatkan secara efektif oleh guru untuk  keperluan pengembangan kurikulum dalam arti luas. Dengan kata lain, sebagai pengajar guru juga harus bertanggung jawab terhadap pengembangan kurikulum pada tingkat kelas dan mungkin juga pada tingkat sekolah. Untuk pengembangan kurikulum pada tingkat kelas, PTK sangat memberika manfaat jika hasilnya digunakan sebagai salah satu sumber masukan.

F. Perbedaan Penelitian Konvensional dengan Penelitian Tindakan Kelas

No. Aspek Penelitian Konvensional PTK
1. Masalah Masalah dan hasil pengamatan dari pihak lain Masalah yang dirasakan dan dihadapi peneliti sendiri dalam melaksanakan tugas
2. Tujuan Menguji hipotesis, membuat generalisasi, mencari explanasi Melakukan perbaikan, peningkatan dalam pembelajaran untuk menuju peningkatan
3. Manfaat/Kegunaan Tidak langsung dan sifatnya sebagai saran Langsung dapat dirasakan dan dinikmati oleh konsumen/subjek penelitian
4. Teori Digunakan sebagai dasar perumusan hipotesis Digunakan sebagai dasar untuk memilih aksi/soilusi tindakan berikutnya
5. Metodologi Menuntut paradigma penelitian yang jelas. Langkah kerja punya kecendrungan linear dan analisa data hanya dapat dilakukan setelah data terkumpul Bersifat fleksibel, langkah kerja bersifat siklik dan setiap siklik terdiri dari tahapan-tahaman. Analisis terjadi sretiap siklus

G. Model-Model Penelitian Tindakan Kelas

Beberapa model atau desain Penelitian Tindakan Kelas adalah:

1. Model Kurt Lewin

Model Kurt Lewin menjadi acuan dari berbagai model penelitian tindakan, karena Kurt Lewin yang pertama kali memperkenalkan penelitian tindakan (action research). Dengan demikian Penelitian Tindakan Kelas yang lain ada yang mengacu pada model Kurt Lewin.

Komponen pokok dalam penelitian tindakan model Kurt Lewin yaitu:

  • Perencanaan (planning)
  • Tindakan (acting)
  • Pengamatan (observing)
  • Refleksi (reflecting)

Hubungan keempat konsep pokok tersebut digmbarkan dalam diagram berikut:

Acting

(Tindakan)

Planning                                                                        Observing

(Perencanaan)                                                                   (Pengamatan)

Reflecting

(Refleksi)

2. Model Kemmis & Taggart

Konsep dasar yang diperkenalkan oleh Kurt Lewin dan dikembangkan oleh Kemmis & Mc Taggart adalah komponen acting dan dengan obseving dijadikan menjadi suatu kesatuan karena menurut Kemmis & Mc.Taggart (1988) pada kenyataannya kedua komponen tersebut merupakan dua kegiatan yang tidak dapat dpisahkan karena kedua kegiatan harus dilakukan dalam satu kesatuan waktu. Begitu berlangsungnya suatu kegiatan dilakukan, kegiata observasi harus dilakukan sesegera mungkin. Bentuk model Penelitian Tindakan Kelas oleh Kemmis &Taggart seperti terdapat pada bentuk berikut:

Perencanaan

Refleksi                                                            SIKLUS I

Tindakan dan

Pengamatan

Perencanaan

Refleksi                                                           SIKLUS II

Tidakan dan

Pengamatan

Model Kemmis & Taggart bila dicermati pada hakekatnya berupa perangkat-perangkat atau untaian-untaian dengan suatu perangkat terdiri dari empat 4 komponen yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Untaian-untaia tersebut dipandang sebagai suatu siklus. Oleh karena itu siklus adalah putaran kegiatan yang terdiri dari perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Banyaknya  siklus dalam penelitian tindakan kelas tergantung dari permasalahan yang perlu dipecahkan, namun gambaran di atas hanya menunjukkan dua siklus. Jika suatu penelitian mengkaitkan materi pelajaran dengan tujuan pembelajaran dengan sendirinya jumlah siklus untuk setiap mata pelajaran melibatkan lebih dari dua siklus.

3. Model Hopkins

Berdasarkan desain model-model Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dari Kurt Lewin, Kemmis & Taggart, Hopkins menyusun desain atau model penelitian tindakan seperti skema berikut:

Implementasi                         Evaluasi

Perencanaan, Tindakan

Target, Tugas

Kriteria,

Keberhasilan

Menopang Komitmen

Cek Kemajuan

Mengatasi Problem

Perencanaan                                                                                    Cek Hasil

Konstruksi

Pengambilan Stok

Audit                                                   Pelaporan

Ambil Start

Dari beberapa model atau desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di atas dapat di ambil dan dicermati salah satu dari bentuk model (umumnya yang telah banyak dilakukan) adalah desain model Kemmis & Taggart.

BAB II

PROSEDUR PELAKSANAAN

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

A. Merasakan Adanya Masalah

Pertanyaan yang mungkin timbul bagi peneliti semula adalah: ”Bagaimana memulai Penelitian Tindakan Kelas ?”. Untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut pertama-tama yang harus dilakukan guru adalah perasaan ketidakpuasan terhadap praktek pembelajaran yang dilakukannya selama ini. Manakala guru merasa puas dengan hasil yang diperoleh selama ini terhadap apa yang dilakukannya dalam proses pembelajaran di kelas, meskipun sebenarnya banyak hambatan yang dialami dalam pengelolaan proses pembelajaran, sulit kiranya seorang guru untuk memunculkan pertanyaan seperti di atas yang kemudian memicu untuk dimulainya sebuah penelitian tindakan kelas (Suyanto, 1997).

Oleh sebab itu agar guru dapat menerapkan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dalam upaya untuk memperbaiki atau meningkatkan layanan pembelajaran secara lebih profesional, ia dituntut keberaniannya untuk mengatakan sejujurnya khususnya kepada dirinya sendiri mengenai sisi-sisi lemah proses pembelajaran dalam rangka mengidentifikasi permasalahan.

Dengan kata lain, permasalahan yang diangkat dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) harus benar-benar merupakan masalah-masalah yng dihadapi oleh guru dalam praktek pembelajaran yang dikelolanya, bukan permasalahan yang dialami atau disarankan oleh orang lain.

Bidang kajian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dirasakan adanya masalah adalah:

  1. Masalah belajar siswa di sekolah (termasuk dalam tema ini antara lain masalah belajar siswa di kelas, kesalahan-kesalahan pembelajaran miskonsepsi).
  2. Desain dan strategi pembealajaran di kelas (termasuk dalam tema ini antara lain masalah pengelolaan dan prosedur pembelajaran, implementasi dan inovasi dalam metode pembelajaran, interaksi di dalam kelas, partisipasi orang tua dalam proses belajar siswa).
  3. Alat bantu, media, dan sumber belajar (termasuk dalam tema ini adalah masalah penggunaan media, perpustakaan, dan sumber belajar baik di dalam maupun di luar kelas, peningkatan hubungan antara sekolah dan masyarakat).
  4. Sistem asessmen dan evaluasi proses dan hasil pembelajaran (termasuk dalam tema ini adalah masalah evaluasi awal dan hasil pembelajaran, pengembangan instrumen asessmen berbasis kompetensi).
  5. Pengembangan pribadi peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan lainnya (termasuk dalam tema ini adalah peningkatan kemandirian dan tanggungjawab peserta didik, peningkatan keefektifan hubungan antara pendidik, peserta didik dan orang tua dalam proses belajar mengajar, peningkatan konsep diri peserta didik).
  6. Masalah kurikulum (termasuk tema ini adalah implementasi KBK, urutan penyajian materi pokok, interaksi guru – siswa, siswa – materi ajar, dan siswa – lingkungan belajar}.

B. Identifikasi Masalah

Menurut Hopkins (1993), untuk mendorong pikiran – pikiran dalam mengembangkn fokus Penelitian Tindakan Kelas kita bisa bertanya kepada diri sendiri, misalnya:

  • Saya berkeinginan memperbaiki ……………..
  • Berapa orangkah yang merasa tidak puas tentang ……..
  • Saya dibingungkan oleh …………….
  • Saya memilih untuk mengujicobakan metode yang baru, di kelas ……
  • Dan seterusnya.

Jika mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi permasalahan, maka guru dapat meminta bantuan pada rekan sesama guru, berdiskusi misalnya dengan dosen mitra LPTK dan sebagainya.

Sebenarnya setiap harinya tiada putus-putusnya guru banyak menghadapi masalah. Oleh karena itu bila guru kesulitan untuk mengidentifikasi masalah untuk Penelitian Tindakan Kelas sungguh ironis.

Beberapa saran yang dapat dilakukan dalam mengidentifikasi masalah:

  1. Guru menuliskan semua kejadian yang memerlukan perhatian terutama berkaitan dengan pembelajaran, misalnya: penyampaian materi, daya tangkap siswa, intensitas waktu, sikap siswa, motivasi siswa dan lain-lain.
  2. Semua kejadian yang ada seperti tersebut di atas dikelompokkan atau diidentifikasikan menurut jenis permasalahannya.
  3. Urutkan dari klasifikasi ringan sampai yang berat dari jenis masing-masing klasifikasi.

C. Analisis Masalah

Menurut Abimanyu (1995) arahan yang perlu diperhatikan dalam pemilihan permasalahan untuk Penelitian Tindakan Kelas adalah sebagai berikut:

  1. Topik yang melibatkan guru dalam serangkaian aktivitas yang memang diprogramkan oleh sekolah.
  2. Jangan memilih masalah yang berada diluar kemampuan guru untuk mengatasinya.
  3. Pilih dan tetapkan permasalahan yang skalanya cukup kecil dan terbatas.
  4. Usahakan untuk bekerja secara kolaboratif dengan guru mata pelajaran yang sejenis dalam pengembangan fokus penelitian.
  5. Kaitkan Penelitian Tindakan Kelas yang akan dilakukan dengan prioritas-prioritas yang ditetapkan dalam rencana pengembangan sekolah.

D. Perumusan Maalah

Setelah menetapkan fokus permasalahan serta menganalisanya menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, maka selanjutnya guru perlu merumuskan permasalahan secara jelas, spesifik dan operasional. Perumusan masalah yang jelas akan membuka peluang bagi guru untuk menenapkan tindakan perbaikan (alternatif solusi) yang perlu dilakukannya. Ingatlah bahwa tidak semua identifikasi masalah dapat diambil untuk dijadikan rumusan masalah, guru boleh memilih satu atau dua dari identifikasi masalah yang akan dijadikan fokus dalam melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas.

Rumusan masalah sebaiknya menggunakan kalimat tanya, dengan mengajukan alternatif tindakan yang akan dilakukan dan hasil positif yang diantisipasi dengan mengajukan indikator keberhasilan (ketuntasan SKBM) yang telah ditetapkan oleh sekolah tempat melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas. Rumusan masalah harus dikaitkan dengan rumusan hipotesis tindakan, sehingga jawaban dari rumusan masalah dapat terjawab secara teoritis.

E. Merumuskan Hipotesis Tindakan

Langkah selanjutnya setelah merumuskan masalah adalah mengkaji teori-teori yang berkenaan dengan masalah yang diajukan. Hasil-hasil penelitian yang elevan akan memperkuat dalam merumuskan hipotesis tindakan. Perlu diketahui bahwa hipotesis tindakan bukanlah hipotesis hubngan sebab akibat antar variabel, perbedaan antar variabel, tetapi memuat tindakan-tindakan yang diusulkan untuk menghasilkan perbaikan dalam pendidikan.

Menurut Soedarsono (1997) beberapa hal yang perlu diperhtikan dalam merumuskan hipotesis tindakan adalah sebagai berikut:

  1. Rumuskan alternatif tindakan perbaikan berdasarkan hasil kajian. Dengan kata lain alternatif tindakan perbaikan hendaknya mempunyai landasan yang mantap secara konseptual.
  2. Setiap alternatif tindakan perbaikan yang dipertimbangkan perlu dikaji ulang dan dievaluasi dari segi relevansinya, dengan tujuan, kebaikan teknis serta keterlaksanaannya. Di samping itu perlu ditetapkan cara penilaiannya sehingga dapat memanipulasi pengumpulan serta analisa data secara cepat namun tepat selama program tindakan perbaikan diimplementasikan.
  3. Pilih alternatif tindakan secara prosedur implementasi yang dinilai paling menjanjikan hasil optimal namun masih tetap ada dalam jangkauan kemampuan guru untuk melakukannya dalam kondisi dan situasi sekolah yang aktual.
  4. Pikirkan dengan seksama perubahan-perubahan yang secara implisit dijanjikan melalui hipotesis tindakan itu, baik yang berupa proses dan hasil belajar siswa maupun teknik mengajar guru.

F. Analisa data

Analisa data adalah proses menyeleksi, menyederhanakan, memfokuskan, mengabstraksikan, mengorganisasikan data secara sistematis dan rasional untuk menampilkan bahan-bahan yang dapat digunakan untuk menyusun jawaban terhadap tujuan Penelitian Tindakan Kelas.

Analisa data dapat dilakukan melalui tiga tahap yaitu:

1. Reduksi data

Reduksi data adalah proses penyederhanaan yang dilakukan melalui seleksi, pemfokusan, dan pengabstraksikan data mentah menjadi informasi yang bermakna.

  1. Paparan data

Paparan data adalah proses penampilan data secara lebih sederhana dalam bentuk paparan naratif, representasi tabulasi termasuk dalam bentuk format matriks, refresentasi grafis, dan sebagainya.

  1. Penyimpulan

Penyimpulan adalah proses pengambilan intisari dari sajian data yang telah terorganisir tersebut dalam bentuk pernyataan kalimat dan/atau formulasi singkat dan padat tetapi mengandung pengertian luas.

G. Refleksi

Refleksi dalam Penelitian Tindakan Kelas adalah upaya untuk mengkaji apa yang telah dan/atau tidak terjadi, apa yang telah dihasilkan atau apa yang belum berhasil dituntaskan dengan tindakan perbaikan yang telah dilakukan. Hasil refleksi itu digunakan untuk menetapkan langkah-langkah lebih lanjut dalam upaya mencapai tujuan dalam Penelitian Tindakan Kelas. Dengan kata lain refleksi merupakan pengkajian terhadap keberhasilan atau kegagalan dalam mencapai tujuan sementara, dan untuk menentukan tindak lanjut dalam rangka mencapai tujuan akhir yang mungkin ditetapkan dalam rangka pencapaian berbagai tujuan sementara lainnya.

BAB III

PENYUSUNAN PROPOSAL

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)

A. Judul Penelitian

Judul Penelitian Tindakan Kelas (PTK) hendaknya singkat, jelas dan sederhana namun secara tersirat telah menampilkan sosok PTK, bukan sosok penelitian konvensional. Dengan kata lain judul hendaknya singkat dan spesifik tetapi cukup menggambarkan masalah yang akan diteliti dan tindakan untuk mengatasi masalahnya.

B. Bidang Kajian

Tuliskan bidang kajian penelitian (misalnya Matematika, Bhs. Inggris, PS dan sebagainya).

C. Pendahuluan

1. Latar Belakang Masalah

Dalam latar belakang masalah hendaknya diuraikan urgensi penanganan masalah yang diajukan itu melalui PTK. Penelitian dilakukan untuk memecahkan permasalahan pendidikan dan pembelajaran. Kemukakan secara jelas bahwa masalah yang akan diteliti merupakan sebuah masalah yang nyata terjadi disekolah dan diagnosis dilakukan oleh guru. Masalah yang akan diteliti adalah sebuah masalah yang penting dan mendesak untuk dipecahkan serta dapat dilaksanakan dilihat dari segi ketersediaan waktu, biaya dan daya dukung lainnya yang dapat memperlancar penelitian. Uraikan permasalahan yang ada hendaknya didahului oleh identifikasi masalah, dilanjutkan dengan analisis masalah yang dideskripsikan secara cermat akar penyebab dari masalah tersebut.

Secara garis besar latar belakang masalah berisi uraian:

  1. fakta-fakta pendukung,
  2. argumen-argumen teoritik tentang tindakan yang akan dipilih,
  3. hasil penelitian terdahulu (jika ada) dan
  4. alasan pentingnya penelitian ini dilaksanakan.

2. Perumusan Masalah

Rumuskan masalah penelitian dalam bentuk suatu rumusan Penelitian Tindakan Kelas, yang dipilih dari identifikasi masalah. Rumusan masalah dibuat dalam bentuk kalimat tanya, karena hal ini akan menjadi fokus pengamatan dalam penelitian dan dikaitkan dengan rumusan hipotesis tindakan.

3. Pemecahan masalah

Dalam bagian ini dikemukakan cara yang diajukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Alternatif pemecahan masalah yang diajukan hendaknya mempunyai landasan konseptual yang mantap yang bertolak dari hasil analisis masalah. Uraikan alternatif tindakan yang akan dilakukan untuk memecahkan masalah. Pendekatan dan konsep yang digunakan untuk menjawab masalah yang diteliti hendaknya sesuai dengan kaedah Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

4. Tujuan Penelitian

Tujuan Penelitrian Tindakan Kelas (PTK) hendaknya dirumuskan dengan singkat dan jelas. Perumusan tujuan harus konsisten dengan hakekat permasalahan yang dikemukakan pada rumusan masalah.

5. Manfaat Penelitian

Kemukakan manfaat atau sumbangan yang diperoleh dari hasil penelitian baik manfaat secara teoritis maupuin secara praktis yaitu baik yang menyangkut: siswa, guru pelaksana penelitian maupun guru pada umumnya, sekolah, pengembang kurikulum, Lembaga pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK).

D. Kajian Teoritis dan Perumusan Hipotesis Tindakan

Uraikan dengan jelas kajian teori yang menumbuhkan gagasan yang mendasari usulan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Kemukakan teori, temuan, dan hasil penelitian lain yang relevan dengan penelitian tindakan, sehingga mendukung penelitian yang akan dilakukan. Uraian ini digunakan unuk menyusun kerangka berfikir atau konsep yang akan digunakan dalam penelitian. Pada bagian akhir dikemukakan rumusan hipotesis tindakan yang merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah yang diajukan.

E. Metodologi Penelitian

1. Rancangan / Model Penelitian

Rancangan atau model penelitian tidakan dapat dipilih dari beberapa model penelitian tindakan yang telah dikemukakan di atas, pilih model sesuai dengan rencana dindakan. Jelaskan jumlah siklus yang akan digunkan.

2. Setting Penelitian

Pada bagian ini dijelaskan tentang lokasi penelitian, karakteristik subjek penelitian dan karakteristik mata pelajaran juga dijelaskan.

3.  Rencana tindakan

Pada bagian ini digambarkan rencana tindakan untuk meningkatkan mutu pembelajaran, seperti:

  1. Perencanaan, yaitu persiapan yang dilakukan sehubungan dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) seperti pembuatan skenario pembelajaran, pengadaan alat-alat dalam rangka implementasi PTK, instrumen, serta alat observasi lain yang terkait dengan pelaksanaan tindakan perbaikan yang telah ditetaaapkan sebelumnya.
  2. Implementasi tindakan, yaitu diskripsi tindakan yang akan digelar, skenario kerja tindakan perbaikan, dan prosedur tindakan yang akan ditetapkan.
  3. Observasi dan interpretasi, yaitu uraian tentang prosedur perekaman dan penafsiran data mengenai proses dan hasil produk dari implemntasi tindakan perbaikan yang dirancang.
  4. Analisis dan refleksi, yaitu uraian tentang prosedur analisis terhadap hasil pemantauan dan refleksi berkenaan dengan dampak tindakan perbaikan yang akan digelar, personel yang dilibatkan, serta kriteria dan rancangan bagi tindakan berikutnya (siklus selanjutnya).

F. Jadwal Penelitian

Berisi penjelasan kegiatan yang akan dilakukan, waktu, dimulainya pelaksanaan sampai pelaporan. Biasanya ditampilkan dalam bentuk matriks kegiatan.

G. Rencana Anggaran

Rencana anggaran biaya dan disusun secara cermat meliputi : tahapan persiapan, pelaksanaan penelitian dan pelaporan. Kegiatan dalam persiapan meliputi pertemuan antara anggota tim peneliti (tim kolaborasi) untuk menyusun dan menetapkan jadwal penelitian dan pembagia kerja, menyusun instrumen penelitian, menetapkan indikator ketercapaian (sesuai SKBM), menetapkan format analisa data, lembar observasai, dan analisis data.

Kegiatan pelaksanaan penelitian mencakup implementasi tindakan perbaikan, pelaksanaan tindakan perbaikan, observasi, dan refleksi. Kegiatan penulisan pelaporan meliputi penyusunan konsep laporan, perbaikan, penyusunan konsep laporan akhir, seminar hasil penelitian, dan sebagainya.

H. Daftar Pustaka

Menunjukkan pustaka yang betul-betul digunakan dalam penyusunan proposal dan disusun secara alfabetis.

I. Lampiran-Lampiran

Lampirkan hal-hal yang terkait dengan Penelitian Tindakan Kelas, yaitu:

  1. Data hasil analisis
  2. Lembar instrumen dan lembar observasi
  3. Biodata peneliti/Curriculum Vitae
  4. Daftar tabel jika diperlukan
  5. Dan lain-lain.

BAB IV

SISTEMATIKA PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Sistematika  pelaporan  hasil  Penelitian Tindakan  Kelas  (PTK)  terdiri dari 5 bab sebagai berikut:

BAB I                   PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah
  2. Rumusan Masalah
  3. Tujuan Penelitian
  4. Manfaat Penelitian

BAB II                 KERANGKA TEORITIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS TINDAKAN

  1. Kerangka Teoritis
  2. Hasil Penelitian yang Relevan
  3. Kerangka Berfikir
  4. Perumusan Hipotesis Tindakan

BAB III                METODOLOGI PENELITIAN

  1. Rancangan/Model Penelitian
  2. Setting Penelitian
  3. Rencana penelitian Tindakan
  4. Metode Pengumpulan Data
  5. Analisis Data
  6. Jadwal Kegiatan
  7. Anggaran/Biaya Penelitian

BAB IV                HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Hasil Penelitian
    1. Deskripsi Hasil Observasi Tindakan
    2. Deskripsi hasil Tindakan

B. Pembahasan

BAB V                 SIMPULAN DAN SARAN

  1. SIMPULAN
  2. SARAN

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

DAFTAR PUSTAKA

Abimanyu,S. 1996. Penelitian Praktis Untuk Perbaikan Pembelajaran. Jakarta: Dirjen Dikti Proyek Pendidikan Guru SD

Akbar Ali, 2005. Meningkatkat Prestasi Belajar matematika Melalui Pendekatan Pembelajaran Kontekstual Pada Siswa SMP Negeri 2 Suralaga. Selong: STKIP HAMZANWADI

Depdiknas, 1999. Penelitian Tindakan Kelas (PTK): Bahan Pelatihan Dosen LPTK dan Guu Sekolah Menengah. Jakarta: Dirjen Dikti

Depdiknas, 2004. Materi Pelatihan Terintegrasi mata Pelajaran Matematika Jilid 3. Jakarta: Balitbang

Depdiknas, 2004. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta: Balitbang

Depdiknas, 2005. Penelitian Peningkatan Pembelajaran Di LPTK. Jakarta: Dirjen Dikti Bagian PPKM

Hariyanto, 2001. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) : Baha Pelathan Dosen LPTK. Mataram: Unram

Hopkins, D. 1993. A Teacher,s Guide Top ClassroomResearch. Buchingham: Open University Press

Kemmis, Stephen & Mc. Taggart Robin, 1988. The Action Research Planner. Victoria: Deakim University

Soedarsono, 1997. Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: Dirjen dikti BP3 GSD Yogyakarta

Suyanto, 1997. Pengenalan Penelitian Tindakan Kelas (Pedoman Pelaksanaan penelitian Tindakan Kelas). Yogyakarta: Dirjen Dikti BP3 GSD Yogyakarta

About these ads

4 Comments

  1. Ping-balik: 2010 in review « Suaidinmath's Blog

Tinggalkan Balasan, sampaikan gagasan Anda di ruang komentar ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s